Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TIDAK MENULAR DIABETES MELLITUS

Disusun oleh kelompok 1 :

Adrianus Hanto Dian Untari N Dwi Lestari Puput Cahya N

(2011058)

Agung Wahyudi (2011060) (2011074) (2011078) (2011103)

Teguh Kurnianto (2011101)

AKADEMI PEREKAM MEDIK DAN INFORMATIKA KESEHATAN (APIKES) CITRA MEDIKA SURAKARTA 2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Makalah Epidemiologi Penyakit Tidak Menular Diabetes Mellitus dengan baik. Adapun penulisan makalah ini dibuat sebagai tugas mata kuliah Epidemiologi. Di dalam tugas penulisan makalah ini tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada : 1. Tominanto, S.Kom, M.Cs selaku Direktur APIKES Citra Medika Surakarta 2. Linda Widyaningrum, A.Md. PK selaku pembimbing akademik 3. Parlan, S.KM selaku pembimbing mata kuliah Epidemiologi 4. Rekan - Rekan mahasiswa yang telah banyak membantu dalam penyusunan makalah ini Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan seperti yang di harapkan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca yang sifatnya membangun demi memperbaiki kesalahan- kesalahan yang ada. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih pada semua pihak dan semoga makalah ini bermanfaat dan menambah wawasan pengetahuan bagi penulis dan pembaca pada umumnya.

Surakarta,

September 2012

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................ i KATA PENGANTAR .............................................................................. ii DAFTAR ISI DAFTAR TABEL BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ................................................................. 1 B. Rumusan Masalah............................................................. 2 C. Tujuan ............................................................................... 2 D. Manfaat............................................................................. 2 BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Diabetes Mellitus............................................ 3 B. Tanda dan Gejala Diabetes Milletus................................. 4 C. Faktor Penyebab Diabetes Milletus.................................. 5 D. Tipe Diabetes Mellitus...................................................... 6 E. Komplikasai Dari Penyakit Diabetes Mellitus.. 7 F. Pengobatan Diabetes Mellitus.......................................... . 11 G. Tinjauan Epidemiologi Diabetes Melitus BAB III PENUTUP A. Kesimpulan ...................................................................... 18 B. Saran................................................................................. 18 DAFTAR PUSTAKA 14 iii iv

DARTAR TABEL

Tabel 2.1 Pravalensi kejadian DM di beberapa negara tahun 2010 dan 2030

15

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dewasa ini, perhatian terhadap penyakit tidak menular makin hari makin meningkat, karena semakin meningkatnya frekuensi kejadiannya yang terjadi pada masyarakat. Tiga penyebab utama kematian menurut WHO (1990), yaitu penyakit jantung koroner, diare dan stroke. Meskipun penyakit Diabetes Mellitus tidak termasuk dalam ketiga penyebab utama kematian tersebut, namun penderita DM yang menyebabakan kematian secara keseluruhan juga besar. Selama ini epidemiologi kebanyakan berkecimpung dalam menangani masalah penyakit menular, bahkan kebanyakan terasa bahwa epidemiologi hanya menangani masalah penyakit menular. Namun dengan adanya perkembangan sosio-ekonomi dan kultural bangsa dan dunia kemudian menuntut epidemiologi untuk memberikan perhatian kepada penyakit tidak menular karena sudah mulai meningkatkan sesuai dengan perkembangan masyarakat. Pentingnya pengetahuan tentang penyakit Diabetes Mellitus

dilatarbelakangi kecenderungan semakin meningkatnya prevalensi penyakit Diabetes Mellitus dalam masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia. Sebagian besar masyarakat Indonesia yang menderita penyakit ini adalah lansia, yang disebabkan karena pola makan dan pola hidup yang tidak sesuai. Dan sebagian pula terdapat sebagian dari mereka yang sudah menyadari bahwa dirinya sudah positif terkena penyaikit ini, namun kebanyakan dari mereka enggan untuk mengobati dan mengatasi penyakit mereka dari awal. Namun bagi kalangan masyarakat Indonesia dengan ekonomi rendah, banyak yang kurang bahkan tidak mengetahui tentang penyakit Diabetes Mellitus baik dari segi pencegahan, gejala, maupun cara penanganan dan penaggulangannya. Diharapkan pembuatan makalah ini dapat membantu dan dijadikan sebagai pengetahuan bagi para pembaca.

B. Rumusan Masalah 1. Apakah pengertian diabetes itu ? 2. Apakah patofisiologi diabetes mellitus ? 3. Apakah tanda dan gejala diabetes mellitus itu ? 4. Apakah faktor penyebab diabetes milletus ? 5. Apa saja tipe diabetes milletus itu ? 6. Apakah komplikasi dari penyakit diabetes mellitus ? 7. Bagaimana cara pengobatan diabetes mellitus ? 8. Bagaimanakah tinjauan epidemiologi diabetes melitus ? C. Tujuan Tujuan dari penulisan makalah ini yaitu untuk memenuhi tugas mata kuliah Epidemiologi. D. Manfaat Manfaat dari penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui mengenai tinjauan epidemiologi Diabetes Mellitus di Indonesia.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Diabetes Mellitus Penyakit Diabetes Mellitus (DM) yang juga dikenal sebagai penyakit kencing manis atau penyakit gula darah adalah golongan penyakit kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar gula dalam darah sebagai akibat adanya gangguan sistem metabolisme dalam tubuh, dimana organ pankreas tidak mampu memproduksi hormon insulin sesuai kebutuhan tubuh. Sekitar tahun 1960, diabetes melitus hanya diartikan sebagai penyakit metabolisme yang dikelompokkan ke golongan hiperglikemia atau gula darah yang lebih dari normal (gula darah normal 80-120 mg/dl). Kadar gula dalam darah penderita diabetes saat puasa adalah lebih dari 126 mg/dl dan saat tidak puasa lebih dari 200 mg/dl. Oleh karenanya, diabetes melitus disebut juga penyakit gula. Dengan adanya glukosuria yaitu adanya gula di dalam air seni maka penyakit ini dikenal pula dengan nama penyakit kencing manis. Kedua hal ini disebabkan karena ketidakmampuan sel dalam mempergunakan karbohidrat untuk menghasilkan tenaga. Dewasa ini, diketahui bahwa diabetes melitus bukan hanya dianggap sebagai gangguan tentang metabolisme karbohidrat. Namun juga menyangkut tentang metabolisme protein dan lemak. Apabila penyakit ini dibiarkan tak terkendali maka akan menimbulkan komplikasi-komplikasi yang dapat berakibat fatal, termasuk penyakit jantung, ginjal, kebutaan, amputasi, dan mudah mengalami aterosklerosis. Faktor utama pada diabetes ialah insulin, suatu hormon yang dihasilkan oleh sel khusus di pancreas. Insulin memberi sinyal kepada sel tubuh agar menyerap glukosa. Insulin, bekerja dengan hormone pancreas lain yang disebut glukagon, juga mengendalikan jumlah glukosa dalam darah. Apabila tubuh menghasilkan terlampau sedikit insulin atau jika tubuh tidak menanggapi insulin dengan tepat terjadilah diabetes. Diabetes biasanya dapat dikendalikan dengan makanan yang rendah kadar gulanya, obat yang di minum, atau suntukan insulin secara teratur.

Meskipun begitu, penyakit ini lama kelamaan minta korban juga, terkadang menyebabkan komplikasi seperti kebutaan dan stroke.

B. Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita DM atau kencing manis yaitu dilihat langsung dari efek peningkatan kadar gula darah, dimana peningkatan kadar gula dalam darah mencapai nilai 160 - 180 mg/dL dan air seni (urine) penderita kencing manis yang mengandung gula (glucose), sehingga urine sering dilebung atau dikerubuti semut. Penderita kencing manis umumnya menampakkan tanda dan gejala dibawah ini meskipun tidak semua dialami oleh penderita : 1. Jumlah urine yang dikeluarkan lebih banyak (Polyuria) 2. Sering atau cepat merasa haus/dahaga (Polydipsia) 3. Lapar yang berlebihan atau makan banyak (Polyphagia) 4. Frekwensi urine meningkat/kencing terus (Glycosuria) 5. Kehilangan berat badan yang tidak jelas sebabnya 6. Kesemutan/mati rasa pada ujung syaraf ditelapak tangan & kaki 7. Cepat lelah dan lemah setiap waktu 8. Mengalami rabun penglihatan secara tiba-tiba 9. Apabila luka/tergores (korengan) lambat penyembuhannya 10. Mudah terkena infeksi terutama pada kulit. Sedangkan komplikasi diabetes mellitus menyebabkan penderita mudah terserang penyakit seperti berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Penglihatan kabur Penyakit jantung Penyakit ginjal Gangguan kulit dan syaraf Pembusukan Gairah sex menurun Jika tidak cepat ditangani, dalam jangka panjang penyakit diabetes bisa menimbulkan berbagai komplikasi. Maka bagi penderita diabet jangan sampai lengah untuk selalu mengukur kadar gula darahnya, baik ke

laboratorium atau gunakan alat sendiri. Bila tidak waspada maka bisa berakibat pada gangguan pembuluh darah antara lain : 1. Gangguan pembuluh darah otak (stroke), 2. Pembuluh darah mata (gangguan penglihatan), 3. Pembuluh darah jantung (penyakit jantung koroner), 4. Pembuluh darah ginjal (gagal ginjal), serta 5. Pembuluh darah kaki (luka yang sukar sembuh/gangren). Kondisi kadar gula yang drastis menurun akan cepat menyebabkan seseorang tidak sadarkan diri bahkan memasuki tahapan koma. Gejala kencing manis dapat berkembang dengan cepat waktu ke waktu dalam hitungan minggu atau bulan, terutama pada seorang anak yang menderita penyakit diabetes mellitus tipe 1. Lain halnya pada penderita diabetes mellitus tipe 2, umumnya mereka tidak mengalami berbagai gejala diatas. Bahkan mereka mungkin tidak mengetahui telah menderita kencing manis.

C. Faktor Penyebab Diabetes Milletus Penyakit diabetes mellitus belum diketahui dengan pasti penyebabnya, namun kegemukan atau overweight diduga merupakan salah satu faktor pencetusnya. Penyakit diabetes yang timbul akibat kegemukan ini biasanya terjadi pada usia lanjut alias umur diatas 40 tahun. Diabetes mellitus dapat disebabkan adanya riwayat keturunan, namun diabetes bukan 100% penyakit turunan. Penyakit diabetes dapat dipicu karenan gaya hidup yang buruk. Setiap orang dapat terkena penyakit diabetes mellitus, baik tua maupun muda. Waspada bagi anda yang memiliki orang tua yang merupakan pengidap diabetes, karena anda akan juga memiliki bakat gula darah jika tidak menjalankan gaya hidup yang baik / sehat. Penyebab diabetes mellitus bisa dipengaruhi berbagai macam cara : 1. Genetik atau Faktor Keturunan Diabetes mellitus cenderung diturunkan atau diawariskan, bukan ditularkan. Anggota keluarga penderita diabetes mellitus (diabetisi) memiliki kemungkinan lebih besar terserang penyakit ini dibandingkan dengan anggota keluarga yang tidak menderita Diabetes mellitus. Para ahli

kesehatan juga menyebutkan diabetes mellitus merupakan penyakit yang terpaut kromosom seks atau kelamin. Biasanya kaum laki-laki menjadi penderita sesungguhnya, sedangkan kaum perempuan sebagai pihak yang membawa gen untuk diwariskan kepada anak-anaknya. 2. Virus dan Bakteri Virus penyebab diabetes mellitus adalah rubela, mumps, dan human coxsackievirus B4. Melalui mekanisme infeksi sitolitik dalam sel beta, virus ini mengakibatkan destruksi atau perusakan sel. Bisa juga, virus ini menyerang melalui reaksi otoimunitas yang menyebabkan hilangnya otoimun dalam sel beta. Diabetes mellitus akibat bakteri masih belum bisa dideteksi. Namun, para ahli kesehatan menduga bakteri cukup berperan menyebabkan diabetes mellitus. 3. Bahan Toksik atau Beracun Bahan beracun yang mampu merusak sel beta secara langsung adalah alloxan, pyrinuron (rodentisida), dan streptozoctin (produk dari sejenis jamur). Bahan lain adalah sianida yang berasal dari singkong. 4. Nutrisi Nutrisi yang berlebihan (overnutrition) merupakan faktor resiko pertama yang diketahui menyebabkan diabetes mellitus. Semakin berat badan berlebih atau obesitas akibat nutrisi yang berlebihan, semakin besar kemungkinan seseorang terjangkit diabetes mellitus.

D. Tipe Diabetes Milletus Terdapat 2 tipe diabetes mellitus berdasarkan penyebab perjalanan klinik dan terapinya, antara lain: 1. Diabetes Mellitus Tipe 1 Diabetes tipe 1 adalah diabetes yang bergantung pada insulin dimana tubuh kekurangan hormon insulin, dikenal dengan istilah Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM). Hal ini disebabkan hilangnya sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau Langerhans pankreas. Diabetes tipe 1 banyak ditemukan pada balita, anak-anak dan remaja.

Sampai saat ini, Diabetes Mellitus tipe 1 hanya dapat di obati dengan pemberian therapi insulin yang dilakukan secara terus menerus berkesinambungan. Riwayat keluarga, diet dan faktor lingkungan sangat mempengaruhi perawatan penderita diabetes tipe 1. Pada penderita diebetes tipe 1 haruslah diperhatikan pengontrolan dan memonitor kadar gula darahnya, sebaiknya menggunakan alat test gula darah. Terutama pada anak-anakn atau balita yang mana mereka sangat mudah mengalami dehidrasi, sering muntah dan mudah terserang berbagai penyakit. 2. Diabetes mellitus tipe 2 Diabetes tipe 2 adalah dimana hormon insulin dalam tubuh tidak dapat berfungsi dengan semestinya, dikenal dengan istilah Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Hal ini dikarenakan berbagai kemungkinan seperti kecacatan dalam produksi insulin, resistensi terhadap insulin atau berkurangnya sensitifitas (respon) sell dan jaringan tubuh terhadap insulin yang ditandai dengan meningkatnya kadar insulin di dalam darah. Ada beberapa teori yang mengutarakan sebab terjadinya resisten terhadap insulin, diantaranya faktor kegemukan (obesitas). Pada penderita diabetes tipe 2, pengontrolan kadar gula darah dapat dilakukan dengan beberapa tindakan seperti diet, penurunan berat badan, dan pemberian tablet diabetik. Apabila dengan pemberian tablet belum maksimal respon penanganan level gula dalam darah, maka obat suntik mulai

dipertimbangkan untuk diberikan. E. Komplikasai Dari Penyakit Diabetes Mellitus Penderita diabetes mellitus rentan menderita : 1. Kardiopati diabetik Kardiopati diabetik adalah gangguan jantung akibat diabetes. Glukosa darah yang tinggi dalam jangka waktu panjang akan menaikkan kadar kolesterol dan trigliserida darah. Lama-kelamaan akan terjadi aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah. Maka bagi para penderita diabet perlu pemeriksaan kadar kolesterol dan trigliserida darah secara rutin. Dari pengalaman saya untuk menurunkan kadar gula darah

sekaligus menormalkan kadar kolestrol dan trigliserida sebenarnya sangat mudah. Yang pertama sebenarnya pola makan malam. Upayakanlah tidak makan nasi pada malam hari. Gantilah dengan makan kentang atau bisa juga pisang kepok rebus atau bisa juga konsumsi sayur dan buah-buahan. Penyempitan pembuluh darah koroner menyebabkan infark jantung dengan gejala antara lain nyeri dada. Karena diabetes juga merusak sistem saraf, rasa nyeri kadang-kadang tidak terasa. Serangan yang tidak terasa ini disebut silent infraction atau silent heart attack. Kematian akibat kelainan jantung dan pembuluh darah pada penderita diabetes kira-kira dua hingga tiga kali lipat lebih besar dibanding bukan penderita diabetes., pengendalian kadar gula dalam darah belum cukup untuk mencegah gangguan jantung pada penderita diabetes. Sebagaimana rekomendasi Asosiasi Diabetes Amerika (ADA) serta perkumpulan sejenis di Eropa atau Indonesia (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia/Perkeni), penderita diabetes diharapkan mengendalikan semua faktor secara bersama-sama untuk mendapatkan hasil yang optimal. Tekanan darah harus diturunkan secara agresif di bawah 130/80 mmHg, trigliserida di bawah 150 mg/dl, LDL (kolesterol buruk) kurang dari 100 mg/dl, HDL (kolesterol baik) di atas 40 mg/dl. Hal ini memberi proteksi lebih baik pada jantung. 2. Gangren dan impotensi Penderita diabetes yang kadar glukosanya tidak terkontrol respons imunnya menurun. Akibatnya, penderita rentan terhadap infeksi, seperti infeksi saluran kencing, infeksi paru serta infeksi kaki. Banyak hal yang menyebabkan kaki penderita diabetes mudah kena infeksi, terkena knalpot, lecet akibat sepatu sesak, luka kecil saat memotong kuku, kompres kaki yang terlalu panas. Infeksi kaki mudah timbul pada penderita diabetes kronis dan dikenal sebagai penyulit gangren atau ulkus. Jika dibiarkan, infeksi akan mengakibatkan pembusukan pada bagian luka karena tidak mendapat aliran darah. Pasalnya, pembuluh darah penderita diabetes banyak tersumbat atau menyempit. Jika luka membusuk, mau tidak mau bagian yang terinfeksi harus diamputasi. Penderita diabetes yang terkena

gangren perlu dikontrol ketat gula darahnya serta diberi antibiotika. Penanganan gangren perlu kerja sama dengan dokter bedah. Untuk mencegah gangren, penderita diabetes perlu mendapat informasi mengenai cara aman memotong kuku serta cara memilih sepatu. Impotensi juga menjadi momok bagi penderita diabetes, impotensi disebabkan pembuluh darah mengalami kebocoran sehingga penis tidak bisa ereksi. Impotensi pada penderita diabetes juga bisa disebabkan oleh faktor psikologis atau gabungan organis dan psikologis. 3. Nefropati diabetik Nefropati diabetik adalah gangguan fungsi ginjal akibat kebocoran selaput penyaring darah. Sebagaimana diketahui, ginjal terdiri dari jutaan unit penyaring (glomerulus). Setiap unit penyaring memiliki

membran/selaput penyaring. Kadar gula darah tinggi secara perlahan akan merusak selaput penyaring ini. Gula yang tinggi dalam darah akan bereaksi dengan protein sehingga mengubah struktur dan fungsi sel, termasuk membran basal glomerulus. Akibatnya, penghalang protein rusak dan terjadi kebocoran protein ke urin (albuminuria). Hal ini berpengaruh buruk pada ginjal. Menurut situs Nephrology Channel, tahap

mikroalbuminuria ditandai dengan keluarnya 30 mg albumin dalam urin selama 24 jam. Jika diabaikan, kondisi ini akan berlanjut terus sampai tahap gagal ginjal terminal. Karena itu, penderita diabetes harus diperiksa kadar mikroalbuminurianya setiap tahun. Penderita diabetes tipe 1 secara bertahap akan sampai pada kondisi nefropati diabetik atau gangguan ginjal akibat diabetes. Sekitar lima sampai 15 persen diabetes tipe 2 juga berisiko mengalami kondisi ini. Gangguan ginjal, menyebabkan fungsi ekskresi, filtrasi dan hormonal ginjal terganggu. Akibat terganggunya pengeluaran zat-zat racun lewat urin, zat racun tertimbun di tubuh. Tubuh membengkak dan timbul risiko kematian. Ginjal juga memproduksi hormon eritropoetin yang berfungsi mematangkan sel darah merah. Gangguan pada ginjal menyebabkan penderita mengalami anemia. Pengobatan progresif sejak dini bisa menunda bahkan menghentikan progresivitas penyakit. Repotnya

penderita umumnya baru berobat saat gangguan ginjal sudah lanjut atau terjadi makroalbuminuria (300 mg albumin dalam urin per 24 jam). Pengobatan meliputi kontrol tekanan darah. Tindakan ini dianggap paling penting untuk melindungi fungsi ginjal. Biasanya menggunakan

penghambat enzim pengonversi angiotensin (ACE inhibitors) dan atau penghambat reseptor angiotensin (ARBs). Selain itu dilakukan

pengendalian kadar gula darah dan pembatasan asupan protein (0,6-0,8 gram per kilogram berat badan per hari). Penderita yang telah sampai tahap gagal ginjal memerlukan hemodialisis atau transplantasi ginjal. Gejala nefropati diabetes baru terasa saat kerusakan ginjal telah parah berupa bengkak pada kaki dan wajah, mual, muntah, lesu, sakit kepala, gatal, sering cegukan, mengalami penurunan berat badan. Penderita nefropati harus menghindari zat yang bisa memperparah kerusakan ginjal, misalnya pewarna kontras yang digunakan untuk rontgen, obat antiinflamasi nonsteroid serta obat-obatan yang belum diketahui efek sampingnya. 4. Retinopati diabetik Diabetes juga dapat menimbulkan gangguan pada mata. Yang terutama adalah retinopati diabetik. Keadaan ini, disebabkan rusaknya pembuluh darah yang memberi makan retina. Bentuk kerusakan bisa bocor dan keluar cairan atau darah yang membuat retina bengkak atau timbul endapan lemak yang disebut eksudat. Selain itu terjadi cabang-cabang abnormal pembuluh darah yang rapuh menerjang daerah yang sehat. Retina adalah bagian mata tempat cahaya difokuskan setelah melewati lensa mata. Cahaya yang difokuskan akan membentuk bayangan yang akan dibawa ke otak oleh saraf optik. Bila pembuluh darah mata bocor atau terbentuk jaringan parut di retina, bayangan yang dikirim ke otak menjadi kabur. Gangguan penglihatan makin berat jika cairan yang bocor mengumpul di fovea, pusat retina yang menjalankan fungsi penglihatan sentral. Akibatnya, penglihatan kabur saat membaca, melihat obyek yang dekat serta obyek yang lurus di depan mata. Pembuluh darah yang rapuh bisa pecah, sehingga darah mengaburkan vitreus, materi jernih seperti

agar-agar yang mengisi bagian tengah mata. Hal ini menyebabkan cahaya yang menembus lensa terhalang dan tidak sampai ke retina atau mengalami distorsi. Jaringan parut yang terbentuk dari pembuluh darah yang pecah di korpus vitreum dapat mengerut dan menarik retina, sehingga retina lepas dari bagian belakang mata. Pembuluh darah bisa muncul di iris (selaput pelangi mata) menyebabkan glaukoma. Risiko terjadinya retinopati diabetik cukup tinggi. Sekitar 60 persen orang yang menderita diabetes 15 tahun atau lebih mengalami kerusakan pembuluh darah pada mata. Pemeriksaan dilakukan dengan oftalmoskop serta angiografi fluoresen yaitu foto rontgen mata menggunakan zat fluoresen untuk mengetahui kebocoran pembuluh darah. Pengobatan dilakukan dengan bedah laser oftalmologi. Yaitu, penggunaan sinar laser untuk menutup pembuluh darah yang bocor, sehingga tidak terbentuk pembuluh darah abnormal yang rapuh. Selain itu bisa dilakukan vitrektomi yaitu tindakan mengeluarkan vitreus yang dipenuhi darah dan

menggantinya dengan cairan jernih. Penderita retinopati hanya boleh berolahraga ringan dan harus menghindari gerakan membungkuk sampai kepala di bawah. Menderita diabetes bukan berarti kiamat. Penderita diabetes bisa hidup secara wajar dan normal seperti orang- orang yang bukan penderita diabetes. Bedanya, penderita diabetes harus disiplin mengontrol kadar gula darah agar tidak meningkat di atas normal untuk jangka waktu panjang.

F. Pengobatan Diabetes Mellitus Perencanaan makan, olahraga serta usaha menurunkan berat badan adalah dasar dari bagaimana penderita diabetes millitus menghadapi penyakitnya. Tanpa perencanaan makan dan kedisiplinan menjalani misalnya, mustahil kiranya penderita dapat mengatasi penyakitnya. Bahkan diabetes millitus yang masih dalam tahap ringan dapat ditanggulangi/ disembuhkan hanya dengan pola makan saja. Bila seluruh usaha diatas telah dijalankan dengan baik tetapi kadar gula darah masih belum berada pada batas normal, barulah penderita memerlukan obat.

Obat

untuk penderita diabetes mellitus dikenal sebagai obat

hipoglikemik atau obat penurun kadar glukosa dalam darah. Walaupun efektif dan mudah dipakai, penggunaan obat ini harus sesuai dosis atau berdasarkan petunjuk dokter. Bila dosis terlalu rendah komplikasi kronis akan muncul lebih dini. Sedang dosis yang berlebih atau cara pemakaian yang salah dapat menimbulkan hipoglikemia. Pengobatan dapat dilakukan dengan cara pengobatan medis yaitu pengobatan dengan disiplin kedokteran. Obat medis dapat dibagi dalam beberapa golongan : a) Sulfonilurea Golongan ini dapat menurunkan kadar glukosa darah yang tinggi dengan cara merangsang keluarnya insulin dari sel b Pankreas. Dengan demikian bila pankreas sudah rusak dan tidak dapat memproduksi insulin lagi maka obat ini tidak dapat digunakan. Karena itu obat ini tidak berguna bagi penderita diabetes millitus tipe 1. Namun, akan berkhasiat bila diberikan pada pasien diabetes millitus tipe 2 yang mempunyai berat badan normal. Penggunaan obat golongan sulfonilurea pada yang gemuk dan obesitas harus hati-hati. Karena mungkin kadar insulin dalam darah sudah tinggi (hiperinsulinemia). Hanya saja insulin yang ada tidak dapat bekerja secara efektif. Pada penderita diabetes mellitus dengan obesitas, pemberian obat golongan ini akan memacu pankreas mengeluarkan insulin lebih banyak lagi. Akibatnya keadaan hiperinsulmnemia menjadi lebih tinggi. Ini berbahaya karena dapat menimbulkan berbagai macam penyakit. b) Biguanid Obat golongan biguanid bekerja dengan cara meningkatkan kepekaan tubuh terhadap insulin yang diproduksi oleh tubuh sendiri. Obat ini tidak merangsang peningkatan produksi insulin sehingga pemakaian tunggal tidak menyebabkan hipoglikemia. Obat golongan biguanid dianjurkan sebagai obat tunggal pada penderita diabetes mellitus dengan obesitas (BBR>120%). Untuk penderita diabetes mellitus yang gemuk (BBR>110%) pemakaiannya dapat dikombinasikan dengan obat golongan sulfonilunea. Efek samping yang sering terjadi dari pemakaian obat golongan biguanid adalah gangguan saluran cerna pada hari-hari pertama

pengobatan. Untuk menghindarinya, disarankan dengan dosis rendah dan diminum saat makan atau sesaat sebelum makan. Wanita hamil dan menyusui tidak dianjurkan memakai obat golongan ini. c) Acarbose Acarbose bekerja dengan cara memperlambat proses pencernaan karbohidrat menjadi glukosa. Dengan demikian kadar glukosa darah setelah makan tidak meningkat tajam. Sisa karbohidrat yang tidak tercerna akan dimanfaatkan oleh bakteri di usus besar, dan ini menyebabkan perut menjadi kembung, sering buang angin, diare, dan sakit perut.Pemakaian obat ini bisa dikombinasi dengan obat golongan sulfonilurea atau insulin, tetapi bila terjadi efek hipoglikemia hanya dapat diatasi dengan gula murni yaitu glukosa atau dextrose. Gula pasir tidak bermanfaat.Acarbose hanya mempengaruhi kadar gula darah sewaktu makan dan tidak mempengaruhi setelah itu. Obat ini tidak diberikan pada penderita dengan usia kurang dan 18 tahun, gangguan pencernaan kronis, maupun wanita hamil dan menyusui. Acarbose efektif pada pasien yang banyak makan karbohidrat dan kadar gula darah puasa lebih dari 180 mg/dl. d) Insulin Insulin diinjeksikan sebagai obat untuk menutupi kekurangan insulin tubuh (endogen) karena kelenjar sel b pankreas tidak dapat mencukupi kebutuhan yang ada. Pengobatan dengan insulin berdasarkan kondisi masing-masing penderita dan hanya dokter yang berkompeten memilih jenis serta dosisnya. Untuk itu insulin digunakan pada pasien diabetes millitus tipe 1. Penderita golongan ini harus mampu meyuntik insulin sendiri. Untuk sebagian penderita diabetes millitus tipe 2, juga membutuhkan pemakaian insulin. Indikasi berikut menunjukkan bahwa penderita perlu menggunakan insulin. a. Kencing manis dengan komplikasi akut seperti misalnya ganggren. b. Ketoasidosis dan koma lain pada penderita. c. Kencing manis pada kehamilan yang tidak terkendali dengan perencanaan makan. d. Berat badan penderita menurun cepat.

e. Penyakit diabetes mellitus yang tidak berhasil dikelola dengan tablet hipoglikemik dosis maksimal. f. Penyakit disertai gangguan fungsi hati dan ginjal yang berat. Ada berbagai jenis insulin, yaitu: 1. Insulin Kerja Cepat (Short acting insuline) 2. Insulin Kerja Sedang (Intermediate acting insuline) 3. Insulin Premiks (Premixing insuline) yang merupakan campuran Short acting insuline dan Intermediate acting insuline. 4. Insulin yang memiliki daya kerja 24 jam (Long acting insuline).

G. Tinjauan Epidemiologi Diabetes Melitus 1. Diabetes Mellitus Secara Global Pada tahun 1992, lebih dari 100 juta penduduk dunia menderita DM dan pada tahun 2000 jumlahnya meningkat menjadi 150 juta yang merupakan 6% dari populasi dewasa. Amerika Serikat jumlah penderita Diabetes Mellitus padatahun 1980 mencapai 5,8 juta orang dan pada tahun 2003 meningkat menjadi13,8 juta orang. Indonesia menempati urutan keempat dengan jumlah penderita diabetes terbesar di dunia setelah India, Cina dan Amerika Serikat. Dengan prevalensi 8,4% dari total penduduk, diperkirakan pada tahun 1995 terdapat 4,5 juta pengidap diabetes dan pada tahun 2025 diperkirakan meningkat menjadi 12,4 juta penderita.

NO 1 2 3 4 5 6 7 8

Rangking Negara Th.2000 India Cina Amerika Serikat Indonesia Jepang Pakistan Federasi Rusia Brazil

Penderita DM (Juta) 31,7 26,8 17,7 8,4 6,8 5,2 4,6 4,6

Rangking Negara Th.2030 India Cina Amerika Serikat Indonesia Pakistan Brazil Banglades Jepang

Penderita DM (Juta) 79,4 42,3 30,3 21,3 13,9 11,3 11,1 8,9

9 10

Italia Banglades

4,3 3,2

Filipina Mesir

7,8 6,7

Tabel 2.1 Pravalensi kejadian DM di beberapa negara tahun 2010 dan 2030

2. Diabetes Mellitus Di Indonesia a. Frekuensi Jumlah kasus baru kunjungan rawat inap rumah sakit pada tahun 2007 adalah 28.095 kasus. Keseluruhan DM menyebabkan 4162 kematian atau CFR sebesar 7,02%. Riskesdas tahun 2007 melakukan wawancara dan pemeriksaan kadar gula darah pada sejumlah sampel usia 15 tahun dan diperoleh hasil yaitu prevalensi total DM pada penduduk perkotaan sebesar5,7 % namun hanya 1,5% yang telah mengetahui dirinya DM sebelum pemeriksaan. Jumlah pasien rawat inap di RS di Indonesia dengan diagnosis DM tahun 2007 sebanyak 56.378 pasien dengan CFR 7,38% ,kasus baru pada rawat jalan sebanyak 28.095 kasus. b. Distribusi 1. Distribusi menurut orang Berdasarkan proses timbulnya penyakit Diabetes Mellitus dapat disimpulkan bahwa orang yang berisiko mengalami Diabetes Mellitus adalah mereka yang memiliki riwayat Diabetes dari keluarga. Pasien Diabetes Mellitus tipe 2 umumnya dewasa usia 40an dan mengalami kegemukan (obesitas) dan tidak aktif dan jarang berolahraga. Sedangkan pada Diabetes Mellitus tipe 1 biasanya terdapat pada anak-anak dan remaja, salah satu penyebabnya adalah seringnya mengkonsumsi fast food. Ibu yang melahirkan bayi dengan berat lebih dari 4 kg juga berisiko mengalami Diabetes Mellitus. Apabila dipresentasikan berdasarkan jumlah penderita dengan jumlah penduduk, maka pada usia sebelum 20 tahun angka kejadian DM diperkirakan 0,19% dan diatas usia 20 tahun diperkirakan mencapai 8,6%, sedang pada usia di atas 65 tahun 20,1

%. Bila melihat prosentasi tersebut, bisa dibilang cukup sebesar. Sedangkan untuk jenis kelamin tidak mengalami perbedaan yang signifikan. 2. Distribusi menurut tempat Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007, angka prevalensi diabetes mellitus tertinggi terdapat di provinsi Kalimantan Barat dan Maluku Utara (masing-masing 11,1 persen), diikuti Riau (10,4 persen) dan NAD (8,5 persen). Sementara itu, prevalensi diabetes mellitus terendah ada di provinsi Papua (1,7 persen), diikuti NTT (1,8 persen), Prevalensi Toleransi Glukosa Terganggu tertinggi di Papua Barat (21,8 persen), diikuti Sulbar (17,6 persen) dan Sulut (17,3 persen), sedangkan terendah di Jambi (4 persen), diikuti NTT (4,9 persen). Angka kematian akibat DM terbanyak pada kelompok usia 45-54 tahun di daerah perkotaan sebesar 14,7 persen, sedangkan di daerah pedesaan sebesar 5,8 persen. 3. Distribusi menurut waktu. Lamanya seseorang menderita penyakit dapat memberikan gambaran mengenai tingkat patogenesitas penyakit tersebut.

Peningkatan angka kesakitan Diabetes Mellitus dari waktu ke waktu lebih benyak disebabkan oleh faktor herediter, life style (kebiasaan hidup) dan faktor lingkungannya. Komplikasi Diabetes Mellitus dengan penyakit lain terkait dengan lamanya seseorang menderita Diabetes Mellitus, semakin lama seseorang menderita Diabetes Mellitus maka komplikasi penyakit Diabetes Mellitus juga akan lebih mudah terjadi. c. Faktor yang mempengaruhi Di duga faktor yang mempengaruhi banyaknya penderita Diabetes Mellitus di Indonesia saat ini adalah pola hidup masyarakat yang sudah tidak sehat lagi, misalnya sering makan makanan yang cepat saji dan mengandung banyak gula serta tidak di imbangi dengan olahraga, terutama di daerah perkotaan. Oleh sebab itu tidak heran

apabila Indonesia menempati urutan ke empat negara yang menderita Diabetes Mellitus terbanyak.

BAB III PENUTUP

A. KESIMPULAN Kesimpulan yang dapat diambil dari makalah kencing manis atau diabetes mellitus yaitu sebagai berikut: 1. Penyakit kencing manis atau diabetes mellitus (DM) adalah penyakit akibat terganggunya proses metabolisme gula darah di dalam tubuh, sehingga kadar gula dalam darah menjadi tinggi. 2. Terdapat dua tipe diabetes mellitus yaitu diabetes mellitus tipe 1 dan diabetes mellitus tipe 2. 3. Kegemukan atau overweight merupakan salah satu faktor penyebab terbesar timbulnya penyakit diabetes mellitus. 4. Kadar gula dalam darah penderita diabetes saat puasa adalah lebih dari 126 mg/dl dan saat tidak puasa atau normal lebih dari 200 mg/dl. 5. Indonesia saat ini menjadi negara peringkat empat dengan jumlah penderita diabetes mellitus atau kencing manis terbesar. B. SARAN Beberapa saran yang dapat penulis sampaikan pada makalah kencing manis atau diabetes mellitus yaitu sebagai berikut: 1. Lakukan pola hidup yang sehat yaitu dengan makan makanan yang sehat dan seimbang serta olahraga yang teratur untuk mencegah terjadinya penyakit Diabetes Melltus. 2. Waspadai kenaikan berat badan lebih dari berat badan ideal. 3. Pada seseorang yang menderita diabetes mellitus sebaiknya melakukan perubahan gaya hidup (pola hidup). 4. Penderita diabetes mellitus tipe 2 sebaiknya melakukan diet olah raga dan menjaga keberseihan diri untuk menghindari komplikasi gangren bila telah mengalami diabetes mellitus lanjut.

DAFTAR PUSTAKA

Endocrine Disturbances in Patients Critical Illness, A. M Setia Putra, Bag. Endokrinologi, RSCM,Jakarta. Diabetes Melitus tipe 1 Haryudi Aji Cahyono Sub Bagian Endokrinologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUB / RS Saiful Anwar Malang 2007 Http://www.infopenyakit.com/2008/03/penyakit-diabetes-mellitus-dm.html Diabetes-mellitus-dm.blogspot.com http://www.scribd.com/doc/69919267/Epidemiologi-Diabetes-Mellitus-DM