Anda di halaman 1dari 7

http://aiichabara.blogspot.com/2012/02/stilistika.

html
BAB I PENDAHULUAN Stilistika merupakan satu cabang ilmu baru dalam linguuistik terapan. Kajian ini berhubungan erat dengan bidang sastra. Linguis dan sastrawan bahkan saling mendukung. Oleh karena itu stilistika sangat penting dikuasai oeh mahasiswa linguistik dan mahasiswa sasra baik strata 1 maupun strata 2 dan 3. Di Indonesia, istilah stilistika telah diperkenalkan oleh Slamet Mulyana pada tahun 1956 dalam bukunya, Peristiwa Bahan dan Peristiwa Sastra. Istilah stilistika ini kemudian dikembangkan oleh H.B.Jassin dalam bukunya, Tiga Penyair dan Daerahnya, Gunung Agung, 1978. Sampai dengan Aminuddin (almarhum) dalam bukunya Stilistika Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra, IKIP Semarang Press,1995. Sebenarnya jauh sebelumnya, Plato dan Aristoteles telah membahas stilistika pada 427-317 SM dan 384-322 SM. Di Rusia, pada 1916 juga sudah terdapat pembahasan stilistika. Di Amerika Serikat, terbit buku Chomsky, Syntactic Structures yang mempunyai dampak dalam pandangan baru dalam stilistika. Di Inggris pada 1973, terbit buku Stylistics karya G.Turner. Lalu 1980, Michael Cumuning dan Robert Simons menerbitkan buku Linguisics; for Students of Literature, A Stylistics Introduction of the study of Literatures pada 1985, Widdowson menerbitkan buku Stylistics and Teaching Literature. Di Malaysia, sejak 1966 Umar Yunus memperkenalkan istilah stilistika. Ia termasuk pakar stilistika. Ia telah mendalami stilistika lebih empat puluh tahun. Bukunya ada dua, yaitu Dari Kata ke Ideologi 1985, Stilistika : Suatu Pengantar 1989. Kemudian dikembangkan oleh Yusuf Shannon Ahmad dkk. Bengkel stilistika juga diadakan di perguruan tinggi. Stilistika tampak semakin demikian maju. Stilistika telah menjadi disiplin ilmu sejak abad 19. Dunia sastra kita telah diperkaya oleh karya-karya pengarang baru yang makin jelas sosok kepribadiannya. Sosok kepribadian pengarang yang jelas sebaiknya diimbangi dengan keahlian menggunakan bahasa dalam menciptakan karya sastra. Menggunakan bahasa untuk menyampaikan gagasan dan imajinasi dalam proses penciptaan karya sastra sangat diperlukan oleh setiap pengarang. Hal ini menyiratkan bahwa karya sastra merupakan peristiwa bahasa (Sudjiman 1993:1). Dengan demikian, unsur bahasa merupakan sarana yang penting dan diperhitungkan dalam penyelidikan suatu karya sastra. Suatu karya sastra baru dapat dinikmati apabila telah disampaikan atau dinyatakan melalui bahasa. Karya sastra menggunakan bahasa sebagai media (Greene 1969:35), sedangkan sastra merupakan pengungkapan baku dari apa yang telah disaksikan orang dalam kehidupan, apa yang telah direnungkan dan dirasakan orang mengenai segi-segi kehidupan yang paling menarik minat secara langsung lagi kuat dari seorang pengarang atau penyair (Hudson dalam Tarigan 1961:10). Secara singkat dapat dikatakan bahwa bahasa merupakan wahana ekspresi dalam karya sastra. Bahasa memiliki pesan keindahan sekaligus membawa makna dalam karya sastra. Novel merupakan salah satu jenis karya sastra. Oleh karena itu, novel juga menggunakan bahasa sebagai medianya. Menarik tidaknya bahasa yang digunakan dalam karya sastra tergantung pada kecakapan sastrawan dalam menggunakan katakata yang ada. Kehalusan perasaan sastrawan dalam menggunakan kata-kata sangat diperlukan. Di samping itu, perbedaan arti dan rasa sekecil-kecil pun harus dikuasai

pemakainya. Oleh karena itu, pengetahuan tentang leksikografi seorang sastrawan sangat mutlak diperlukan. Wellek dan Warren (1995:14) mengungkapkan bahwa ada perbedaan utama antara bahasa sastra, bahasa sehari-hari, dan bahasa ilmiah. Pemakaian bahasa sehari- hari lebih beragam, sementara bahasa sastra adalah hasil dari penggalian dan peresapan secara sistematis dari seluruh kemungkinan yang dikandung oleh bahasa itu. Wellek dan Warren (1995:15) menyatakan bahwa, bahasa sastra lebih bersifat khas. Bahasanya penuh ambiguitas, homonim, dan sangat konotatif, sedangkan bahasa ilmiah cenderung menyerupai sistematika atau logika simbolis dan bersifat denotatif. Maka tidak mengherankan jika bahasa sastra bersifat menyimpang dari kaidah-kaidah ketatabahasaan. Keistimewaan pemakaian bahasa dalam karya sastra sangat menonjol, karena salah satu keindahan suatu karya sastra dapat dilihat dari bahasanya. Tanpa keindahan bahasa, karya sastra menjadi hambar. Keistimewaan bahasa dalam karya sastra terjadi karena adanya konsep licential poetika (kebebasan penyair atau pengarang dalam menggunakan bahasa), atau pengarang mempunyai maksud tertentu. Kebebasan seorang sastrawan untuk menggunakan bahasa yang menyimpang dari bentuk aturan konvensional guna menghasilkan efek yang dikehendaki sangat diperbolehkan. Dalam memilih penggunaan bahasa, misalnya, Sujdiman (1993:19-20) mengatakanbahwa sastrawan dapat memilih antara (1) mengikuti kaidah bahasa secara tradisional konvensional, (2) memanfaatkan potensi dan kemampuan bahasa secara inovatif, atau (3) menyimpang dari konvensi yang berlaku. Adanya konsep licentia poetica dapat membuat bahasa sastra memiliki sosok yang berbeda dengan bahasa nonsastra. Hal itu sejalan dengan pendapat Teeuw (melalui Sudjiman 1993:16) yang mengatakan bahwa ada dua prinsip universal utama yang berfungsi dalam kode bahasa sastra, yaitu prinsip ekuivalensi atau kesepadanan dan prinsip deviasi atau penyimpangan. Ungkapan kebahasaan seperti yang terlihat dalam sebuah novel merupakan suatu bentuk kinerja kebahasaan seseorang. Ia merupakan pernyataan lahiriah dari sesuatu yang bersifat batiniah. Hal itu sejalan dengan teori kebahasaan Chomsky (melalui Flower 1997:6) yang membedakan adanya perbedaan struktur lahir dan struktur batin. Struktur lahir adalah wujud bahasa yang kongret yang dapat diobservasi. Ia merupakan suatu perwujudan bahasa. Struktur batin, dipihak lain, merupakan makna abstrak kalimat (bahasa) yang bersangkutan, merupakan struktur makna yang ingin diungkapan. Penyimpangan penggunaan bahasa berupa penyimpangan terhadap kaidah bahasa, seperti banyaknya pemakaian bahasa daerah, pemakaian unsur-unsur daerah, dan pemakaian bahasa asing atau unsur-unsur asing. Penyimpangan terhadap kaidah kebahasaan tersebut diduga dilakukan untuk tujuan tertentu sehingga perlu dikaji. Penggunaan bahasa yang menyimpang seperti banyaknya penggunaan bahasa daerah dalam khasanah novel Indonesia pada darsawarsa ini banyak ditemukan. Kecenderungan penggunaan bahasa daerah biasanya untuk memunculkan warna daerah atau untuk memperoleh tujuan tertentu. Warna lokal atau warna daerah adalah ciri khusus yang secara detail tampak dalam cerita fiksi seperti, tempat kejadian, adat kebiasaan, dan dialek suatu daerah. Hal ini terjadi karena pengaruh kebudaya lokal, baik bahasa, sistem religi maupun adat yang secara sadar atau tidak oleh pengarang digunakan untuk tujuan tertentu. Pengarang berusaha menciptakan berbagai macam teknik untuk menarik perhatian pada kata-kata dalam karya sastra. Bahasa merupakan alat yang digunakan pengarang untuk mengungkapkan kembali pengamatan terhadap fenomena kehidupan dalam

bentuk cerita. Oleh karena itu seorang pengarang harus dapat menggunakan bahasa yang menarik dalam mengepresikan gagasannya, karena faktor bahasa merupakan peran penting dalam daya pikat karya sastra. Pengkajian bahasa dalam karya sastra selalu dikaitkan dengan keindahan atau estetika bahasa. Menurut Aminudin (2000:77) cara pengarang menyampaikan gagasannya lewat media bahasa yang indah dan harmonis. Terdapatnya bahasa yang indah dalam kehidupan sastra kita dikenal dengan bahasa klise (Aminudin 1997:25). Dengan bahasa klise yang ditampilkan dalam karya sastra, pembaca akan memperoleh makna estetika karya tersebut.

BAB II PEMBAHASAN Metodologi Penelitian Stilistika Sastra Kerancuan sering muncul dalam memaknai metodologi penelitian dengan metode penelitian. Metodologi penelitian mencakup metode landasan berpikir. Sedangkan metode penelitian lebih sempit lagi, lebih operasional ke langkah-langkah penelitian. Oleh karena itu metodologi lebih luas daripada metode penelitian. Di bawah ini dibahas pengertian metodologi penelitian stilistika sastra, jenis sastra, jenis metode penelitian berupa kuantitatif dan kualitatif dan pendekatan penelitian stilistika, langkahlangkah analisis penelitian stilistika, kekuatan dan kelemahannya. Landasan Pikir Penelitian stilistika sastra didasarkan asumsi bahwa bahasa sastra mempunyai tugas kehidupan peranan yang sangat penting dalam kehidupan karya sastra. Bahasa memiliki pesan keindahan sekaligus membawa makna. Bahasa tidak dapat dilepaskan dari sastra. Tidak ada bahasa tidak ada sastra. Seorang sastrawan mempergunakan sekaligus menentukan kepiawaian estetikanya.

Penelitian stilistika sebenarnya masih jarang dilakukan. Jika pun ada biasanya masih sepotongsepotong dan kurang memadai. Kemungkinan hal ini terjadi karena stilistika merupakan bagian dari estetika karya sastra. Oleh karena itu sering sampingan saja. Jarang sekali penelitian stilistika yang lebih fokus. Penelitian stilistika sebenarnya akan mengungkapkan aspek-aspek estetik pembentuk karya sastra. Stilistika adalah ilmu yang mempelajari gaya bahasa suatu karya sastra. Studi ini memamg berbau linguistik. Stilistika akan membangun aspek keindahan karya sastra. Semakin pandai sastrawan memanfaatkan stilistika, karya sastra yang dihasilkan akan semakin menarik. Demikian juga, kemahiran sastrawan menggunakan stilistika akan menentukan bobot karya sastranya. Stilistika adalah penggunaan gaya bahasa secara khusus dalam karya sastra. Gaya bahasa itu mungkin disengaja atau timbul serta merta ketika sastrawan mengungkapkan idenya. Gaya bahasa itu meupakan aspek seni dalam sastra yang dipengaruhi oleh nurani. Melalui gaya bahasa, sastrawan menuangkan ekspresinya. Bagaimanapun rasa jengkel dan senang jika dibungkus dengan gaya bahasa akan semakin indah. Dengan demikian gaya bahasa adalah pembungkus ide yang akan menghaluskan wacana sastra. Gaya bahasa sastra memang berbeda dengan gaya bahasa dalam pembicaraan sehari-hari. Gaya bahasa sastra adalah ragam khusus yang digunakan untuk memperindah teks sastra. Gaya bahasa sastra digolongkan menjadi dua secara garis besar. Pertama stilistika deskriptif, yaitu mendekati gaya bahasa sebagai keseluruhan ekspresi kejiwaan yang terkandung dalam suatru bahasa dan meneliti nilai-nilai ekspresi khusus yang terkandung dalam suatu bahasa, yaitu secara fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik. Kedua, stilistika genetis, yaitu gaya bahasa individual yang mengandung penggunaan unsur gaya bahasa sebagai suatu ungkapan yang khas pribadi. Gaya bahasa sering menjadi faktor penentu diterimanya sebuah karya sastra oleh publik berikutnya maupun oleh kritikus sastra. Penelitian stilistika hendaknya sampai pada tingkat makna gaya bahasa sastra. Namun ada dua hal, yakni makna denotatif (makna lugas) dan makna konotatif (makna khas). Kedua makna ini saling berhubungan. Pemakaian keduanya perlu memperhatikan deskripsi mental dan deskripsi fisikal bahasa. Deskripsi ini akan tampak melalui pilihan kata, yaitu ketepatan dan kesesuaian kosakata. Pemakaian kosakata yang tepat mendukung keindahan karya sastra (Muhammad, 1988 : 17 33) Stilistika kiasan ada dua macam. Pertama , gaya retorik, yang meliputi eufimisme, paradoks, tantologi, polisindeton, dan sebagainya. Kedua, gaya kiasan, yaitu banyak ragamnya meliputi alegori, personifikasi, simile, sarkasme, dan sebagainya. Baik gaya retorik maupun gaya kiasan perlu diperhatikan oleh peneliti stilistika karena keduanya seringkali jalin menjalin lebih kental dalam teks sastra, sastrawan juga jarang secara jelas memaparkan dalam karyanya. Tidak sedikit sastrawan yang sengaja menyembunyikan gaya bahasanya.

Metode Penelitian Stilistika Sastra Dalam penelitian stilistika karya sastra dua metode penelitian digunakan yaitu metode kuantitatif dan metode kualitatif. Keduanya diuraikan di bawah ini. Dalam metode penelitian kuantitatif dalam stilistika digunakan untuk menghitung pemunculan tanda-tanda linguistik/bahasa mengetahui, tanda linguistik/bahasa, mengetahui ciri pembeda stil sebuah teks dari teks lainnya, mengukur tingi rendahnya kemunculan bahasa yang wajar-baku.

Dalam metode penelitian kuantitatif stilistika sastra dapat memberikan bukti-bukti konkret dengan menopang deskripsi stilistika yang dilakukan terhadap karya sastra. Dalam metode penelitian kualitatif stilistika sastra dilakukan untuk menemukan makna dan fungsi stilistika itu dalam karya sastra secara total dari karya sastra yang diteliti. Fungsi stilistika dapat ditemukan melalui hal yang terbesit dari peranan stilistika dalam membangun karya sastra. Dengan metode penelitian kualitatif stilistika sastra akan ditentukan kemampuan sastrawan/pengarang mengekspresikan kualitas penggunaan stil. Dengan ungkapan lain ditentukan bobot stilistika sastrawan dalam karya sastranya. Kedua metode penelitian di atas dapat digabungkan untuk lebih menemukan keberadaan stilistika dalam karya sastra. Konsepsi dan Kriteria Pendekatan Penelitian Stilistika Sastra Dalam metode penelitian sastra semi (1999 : 81-85), menguraikan konsepsi dan kaitan pendekatan penelitian stilistika sastra. Ada 11 konsepsi dan kriteria yang dikemukakannya. Pendekatan stilistika beranggapan bahwa kemampuan sastrawan mengeksploitisasi bahasa dalam segala dimensi merupakan suatu puncak kreativitas yang dinilai sebagai bakat. Oleh sebab itu, penghargaan paling tinggi diberikan kepada penulis yang mempunyai kemampuan menggunakan bahasa dengan gaya yang meminta dan memukau. Aplikasi dari pendekatan stilistika tidak hanya tertuju pada analisis pemakaian unsur bahasa yang indah dan menarik, tetapi juga terhadap keterandalan sastrawan dalam mengekspresikan gagasan lewat bahasa secara kreatif. Walaupun tekanan diletakkan pada analisis pemakaian bahasa dan aspek pembahasannya dalam karya sastra, juga dilakukan analisis keseluruhan karya terutama menyangkut tema, pemikiran, dan aspek makna yang mempunyai sangkut paut langsung dengan pemakaian unsur bahasa. Analisis kebahasaan melalui pendekatan ini berbeda dengan analisis kebahasaan dengan menggunakan pendekatan struktural. Di dalam pendekatan stilistika, kajian bahasa harus lebih mendalam, sampai kepada menggunakan bahasa simbolik, kemampuan pemilihan kata, hingga penemuan berbagai kemungkinan penafsiran. Analisis ditujukan pula ke arah membuka tabir kekaburan yang sering dijumpai pada karya-karya abstrak, absurd, dan karya eksperimental yang lain. Dengan begitu pendekatan ini dapat memberi faedah yang besar untuk membantu khalayak pembaca mendapatkan interpretasi yang lebih tepat. Analisis ditujukan pula kepada corak penulisan yang bersifat individual, yang khas bagi pengarang, gaya bahasa yang mewakili dirinya. Mekanisme dan teknik penulisan bisa sama bagi banyak pengarang, tetapi corak yang merupakan napas dan penjiwaan yang diberikan penulis disebabkan kekhasannya dalam pemakaian bahasa berbeda antara satu pengarang dengan pengarang lainnya. Setiap penulis yang telah mapan tentu mempunyai gaya penulisan sendiri. Justru pada gaya inilah yang membedakan penulis yang satu dengan penulis lainnya. Tentu saja bagi setiap pengarang berbeda mengenai bobot gaya yang dimilikinya, ada yang telah kuat, ada yang baru menemukan bentuk, ada yang masih lemah, dan ada yang masih mencari-cari gaya yang lebih serasi. Analisis gaya kepengarangannya tidak hanya menyangkut gaya perorangan pengarang, tetapi juga dapat dilakukan analisis terhadap gaya kelompok pengarang, gaya umum yang berlaku pada suatu periode tertentu, misalnya gaya penulisan pada sastrawan angkatan Pujangga Baru. Analisis gaya kepengarangan ini dapat pula menyangkut perubahan gaya yang terjadi pada diri seorang sastrawan yang disebabkan oleh adanya proses pematangan diri atau disebabkan oleh adnya arahan dan falsafah yang dianutnya, atau disebabkan oleh alasan-alasan lain yang perlu ditemukan oleh peneliti.

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

Analisis kebahasaan diarahkan juga pada masalah pemakaian kata dalam kalimat, kalimat dalam paragraf, paragraf dalam wacana, serta bagaimana itu dijalin penulis sehingga menjadikannya menjadi sesuatu yang menggugah dan mengikat. Tidak dapat pula dihindari analisis mengenai pemakaian ragam bahasa, dialek, atau laras bahasa. Walaupun hal ini lebih terkait dengan masalah sosiolinguistik, namun dalam analisis stilistika itu tidak dapat dikesampingkan, bahkan dapat dikatakan perlu karena dalam berbagai dialog antartokoh terjadi pemakaian berbagai variasi bahasa. Analisis kebahasaan dapat, dan kadang-kadang harus, dikaitkan dengan anlisi perwatakan, sebab bagaimanapun tokoh akan menggambarkan watak, kepribadian, cara berpikir dan falsafah hidupnya. Bisa terjadi seorang pengarang lupa memperlihatkan hubungan watak tokoh dengan bahasa yang digunakan sehingga kelihatan kontradiktif. Dalam analisis kebahasaan ini dapat pula ditelaah dan akhirnya diketahui hubungan watak penulis dengan gaya bahasa yang digunakannya. Penulis yang melankolis akan memperlihatkan bahasa yang beralun-alun; penulis yang berperilaku tegas dan lugas akan terlihat pula pada bahasanya yang senang menggunakan kalmat-kalimat pendek. Keterandalan penulis memilih kata yang tepat dan menggugah merupakan segi lain yang harus dianalisis. Keberhasilan seorang penulis atau pengarang tidak hanya tergantung kepasa kecemerlangan menemukan gagasan, tetapi lebih dari itu, ditentukan oleh kemampuannya melakukan pilihan kata. Analisis stilistika dikaitkan pula pada analisi tentang pemahaman pembaca terhadap karya sastra. Apakah pembaca dapat menangkap bahasa yang digunakan penulis. Apakah eksperimen penulis mengenai pemakaian bahasa tidak menimbulkan salah penafsiran oleh pembaca? Kalau terjadi kesukaran pemahaman disebabkan oleh pemakaian bahasa atau gaya bahasa yang digunakan oleh penulis perlu diteliti faktor apa yang menyebabkan hal itu terjadi. Bila pembaca merasa mudah mengikuti dan memahami bahasa yang digunakan penulis perlu pula dijelaskan apa upaya yang dilakukan penulis sehingga hal itu terjadi. Metode atau Langkah Kerja Penelitian Stilistika Sastra Di dalam mengaplikasikan kriteria-kriteria yang telah dikemukakan di atas, perlu diikuti metode atau langkah kerja seperti berikut : Yang pertama-tama yang harus ditetapkan penelitian dalam melakukan analisis stilistika ini adalah dari mana harus dimulai apakah dari segi bunyi, kata, frasa, kalimat, paragraf, wacana, atau sebaliknya dari segi keseluruhan wacana kemudian berkembang ke arah aspek yang lebih kecil. Dari mana harus dimulai terserah kepada peneliti menetapkan. Dalam hubungan ini, peneliti juga dapat menetapkan aspek yang mana saja yang mau diteliti. Terhadap karya puisi memang tidak dapat dihindari analisis bunyi. Karena bunyi-bunyi mempunyai peran yang sangat besar dalam menciptakan kepuitisan sebuah puisi. Yang dianalisis menyangkut masalah asonansi, aliterasi, rima dan variasi bunyi yang diupayakan penulis untuk mencapai efek estetika. Analisis tentang masalah pemilihan kata merupakan hal yang penting pula karena pemilihan kata dan pemanfaatannya secara tepat merupakan dunia kesastraan. Pengalaman bathiniah penulis akan menjadi kenyataan sastra setelah dijelmakan ke dalam kata yang terpilih dengan cermat. Menurut teori simbolisme, setiap kata itu dapat menimbulkan asosiasi dan menimbulkan tanggapan di luar arti yang sebenarnya bila didukung oleh penggunaan rima dan ritma. Pembahasan mengenai penggunaan kalimat lebih ditujukan kepada masalah variasi kalimat yang disesuaikan dengan kondisi peristiwa. Di samping itu, aspek deviasi merupakan hal yang diutamakan pula karena aspek deviasi ini menimbulkan gaya dan kesan indah., juga dapat memberi penekanan,

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

bahkan deviasi atau penyimpangan yang terjadi dalam puisi disebabkan oleh dorongan kreativitas. Bahkan di dalam puisi sudah lumrah terjadi pengabaian kaidah sintaksis. Oleh sebab itu, mempersoalkan kalimat dalam puisi harus dalam kaitan menafsirkan larik-larik puisi sebagai suatu kesatuan sintaksis. Di dalam analisis stilistika dilakukan pula kajian makna karena hakikat pemakaian bahasa akhirnya juga untuk menghasilkan makna. Harus dikaji apakah karya absurd yang banyak menggunakan perlambangan justru analisis mengenai hal ini amat perlu. Analisis dapat dimulai dari menganalisis struktur luar dengan menggunakan teori transformasi generatif, atau dengan upaya yang lain misalnya dengan mengaitkannya dengan persoalan, pemikiran, atau dengan premis lain yang dapat dijumpai. Analisis ditujukan pula kepada penulis mendramatisasi bahasa sehingga mencapai efek keindahan. Bahasa yang didramatisasi ini disebut juga dengan bahasa figuratif atau disebut juga dengan majas. Majas seringkali membuat puisi menjadi prismatis yang memancarkan banyak makna. Analisis tentang gaya individual pengarang juga dilakukam dengan tujuan melihat jenis gaya yang paling dominan yang dipergunakannya, mengapa dia menggunakan gaya yang demikian, adalah pilihan kata dan penataan kalimat memperlihatkan keistimewaan, dan bagaimana pemakaian bahasa itu mampu mendukung gagasan. Kekuatan dan Kelemahan Penelitian Stilistika Sastra Pendekatan stilistika ini mempunyai kekuatan (1) dapat mengkaji masalah pemakaian bahasa secara lebih mendalam, (2) dengan menggunakan pendekatan ini dapat dilihat di mana kekuatan sebuah karya sastra : dari segi bahasa, dari segi gagasan, atau karena perpaduan keduanya secara harmonis. Kelemahannya (1) menurut kuatnya dasar linguistik agar dapat melakukan telaah secara lebih teliti dan rapi, (2) kalau kurang waspada mudah tergelincir menjadi kajian linguistik dan terlepas dari kajian sastra.

BAB III PENUTUP DAFTAR BACAAN Purba, Antilan.2009. Stilistika Sastra Indonesia : Kaji Bahasa Karya Sastra. Medan : USU Press Syarifuddin, Imam. 2006. Diksi dan Majas serta Fungsinya dalam Novel Jangan Beri Aku Narkoba Karya Alberthiene Endah. Skripsi Strata 1 Universitas Negeri Semarang Kurniawan, Eva Dwi. 2008. Resensi Buku : Metodologi Penelitian Sastra. (http://kritiksastra.blogspot.com). Indonesia