Anda di halaman 1dari 30

Judul

Perkembangan Moral Anak Tunggal Pada Usia 15 18 Tahun

Nama/Npm Pembimbing

: :

Riri Suciati / 10503158 Prof. Dr. A. M. Heru Basuki, Msi

ABSTRAKSI Mengasuh, membesarkan dan mendidik anak merupakan satu tugas mulia yang tidak lepas dari berbagai halangan dan tantangan. Didalam psikologi perkembangan banyak dibicarakan bahwa dasar kepribadian seseorang terbentuk pada masa anak-anak. Proses-proses perkembangan yang terjadi dalam diri seorang anak ditambah dengan apa yang dialami dan diterima selama masa anakanaknya secara sedikit demi sedikit memungkinkan ia tumbuh dan berkembangan menjadi manusia dewasa. Moral adalah ajaran tentang baik buruk suatu perbuatan dan kelakuan akhlak, kewajiban, dan sebagainya. Dalam moral diatur segala perbuatan yang dinilai baik dan perlu dilakukan, serta sesuatu perbuatan yang dinilai tidak baik dan perlu dihindari. Moral berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk membedakan antara perbuatan yang benar dan yang salah. Dengan demikian, moral juga mendasari dan mengendalikan seseorang dalam bersikap dan bertingkahlaku. Ada tiga tingkat perkembangan moral yang berurutan, dimana setiap tingkat perkembangan moral terdiri dari dua tahap perkembangan moral. Jadi ada enam tahap perkembangan moral yaitu tahap pra-konvesional, tahap konvensional dan tahap pasca konvensional. Dikatakan juga bahwa setiap orang akan mengalami perkembangan moral secara bertahap dari tahap satu sampai dengan tahap enam. Namun tidak semua orang dapat mencapai tahap yang ke enam. Setiap perkembangan moral menunjukan arah / orientasi tertentu, individu yang berada pada tahap tertentu akan memberikan jawaban atau argumentasi yang sesuai dengan orientasinya. semakin tampak perbuatan-perbuatan moralnya yang bertanggungjawab. Semakin seseorang mendekati tahapan tersebut, semakin seseorang berada pada tahap moral yang lebih tinggi. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran dan penjelasan yang mendalam mengenai bagaimana moral dari subjek anak tunggal usia 15 18 tahun, mengapa moral subjek seperti itu, bagaimana moral dari subjek. Pada penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian studi kasus karena metode kualitatif sesuai untuk digunakan pada masalah-masalah yang bertujuan untuk mengeksplorasi kehidupan seseorang atau tingkah laku seseorang dalam kehidupannya sehari-hari dan dengan menggunakan pendekatan penelitian studi kasus karena terdapat permasalahan yang kompleks pada subyek yang ingin diteliti dan dengan metode tersebut penulis i

mengharapkan dapat memperoleh hasil yang memuaskan tentang semua hal yang berkaitan dengan penelitian ini. Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah seorang remaja perempuan berusia 15 - 18 tahun. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan metode wawancara dan observasi pada subjek dan significant other. Dalam proses wawancara dan observasi, peneliti dilengkapi dengan pedoman wawancara dan pedoman observasi serta alat perekam untuk membantu proses pengumpulan data. Setelah dilakukannya penelitian maka dapat disimpulkan bahwa pada kasus subjek, Subjek menilai suatu perbuatan itu baik bila ia dapat menyenangkan orang lain,itu terlihat dari subjek yang selalu mau membantu teman-temannya hanya karena subjek ingin mereka selalu menjadi temannya. Subjek melihat aturan sosial yang dan sebagai sesuatu yang harus dijaga dan dilestarikan, itu terlihat dari subjek yang sangat menjaga hubungan sosial yang subjek jalin terutama dengan teman-temannya. Sesuai dengan Adatahap kedua dari perkembangan moral yang dikemukakan oleh Lawrence E Kohlberg yaitu tahap konvensional Pada tahap ini sudah mulai terjadi internalisasi nilai moral walaupun belum sepenuhnya terinternalisasi. Individu masih menggunakan standar eksternal (hadiah atau hukuman) namun juga telah memiliki standar internal tertentu. Kata Kunci : Konvensional, Tahap Perkembangan Moral

A.

Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan periode

dan brook, 1978). Masalah-masalah yang ditimbulkan seringkali tidak hanya dirasakan oleh remaja itu sendiri tapi juga oleh orangtua dan orang lain diluar lingkungan keluarga juga tidak terbatas pada suatu negara atau kebudayaan tertentu saja. Masa remaja adalah masa transisi atau peralihan, karena remaja belum memperoleh status orang dewasa

kehidupan

manusia

yang

selalu

menarik untuk dibahas. Dalam masa itu berbagai masalah dan perubahan yang serius mulai muncul. Dari yang bersifat fisik seperti pertumbuhan badan yang cepat (termasuk organorgan seksual) sampai hal-hal yang lebih bersifat psikis seperti usaha penemuan identitas diri, mulai timbul aspirasi masa depan dan bahkan kecenderungan yang bertambah untuk berontak pada otoritas (Jerstld, Brook

tetapi tidak lagi memiliki status kanak-kanak (Calon dalam Haditono, dkk, 2002). Aspek perkembangan

dalam masa remaja yang secara global

ii

berlangsung antara umur 12 dan 21 tahun dengan pembagian 12-15 tahun: masa remaja awal 15-18 tahun: masa remaja pertengahan 18-21 tahun: masa remaja akhir (dalam Haditono, dkk, 2002). Keluarga merupakan suatu sistem kesatuan yang terdiri dari ayah, ibu serta anak yang kesemuanya saling mempengaruhi dan dipengaruhi satu sama lain. Keluarga juga merupakan tempat dimana anak memperoleh kasih sayang dan perhatian (Landis, 1997). Suatu keluarga dikatakan sebagai keluarga dengan anak tunggal jika didalamnya terdiri dari orangtua (ayah dan ibu) dengan satu orang anak (Landis, 1997). Hal yang sama juga dikemukakan oleh Gunarsa S.D & Y. Gunarsa D (2003), anak tunggal dalam keluarga diartikan bahwa dalam suatu keluarga yang terdiri dari suami dan isteri hanya memiliki seorang anak saja. Tapi sangat berbeda dengan yang dikemukakan oleh Hadibroto (2002) mengenai anak tunggal, ia mengatakan anak bisa dikatakan

anak pertama dengan anak kedua berkisar lima tahun atau lebih. Dia terbiasa dengan fasilitas dan perhatian yang berlimpah dari semua orang sebelum akhirnya dia mendapatkan adik baru makanya anak yang

mengalami situasi seperti di atas bisa juga dikatakan sebagai anak tunggal (Hadibroto, 2002) Dalam (attachment) teori kompetensi kelekatan sosial

ternyata dipengaruhi oleh pengalaman awal kelekatan, terutama secure

attachment. Anak tunggal mempunyai orangtua yang dapat mencurahkan lebih banyak waktu dan memusatkan lebih banyak perhatian pada mereka. Anak tunggal lebih banyak bercakapcakap dengan orangtua mereka, lebih banyak menghabiskan waktu berdua dengan orangtua mereka (Falbo & Polit, dalam Papalia & Olds 2007). Memiliki anak tunggal bukan tanpa tantangan. Tantangan utama adalah perlunya keyakinan kuat untuk tidak terpengaruh pandangan oleh negatif pandangantentang anak

tunggal (Gracinia, 2004).

sebagai anak tunggal bila jarak antara

iii

Anak tunggal mungkin kurang baik dalam mengembangkan perasaan dan mengharapkan kerjasama dan minat sosial, memiliki sifat parasit dan mengharapkan memanjakan dan orang lain

konflik ini, anak tidak mengenal bagaimana berhubungan dengan anak. Seorang anak tunggal tidak atau kurang mengalami pertentangan-

petentangan yang biasanya terjadi di antara saudara-saudara kandung.

melindunginya

(Adler dalam Awisol, 2004). Anak tunggal cenderung memperlihatkan tingkahlaku sosial yang negatif.

Perselisihan, rasa iri hati, menolong, pendekatan pribadi yang selalu

terdapat dalam keluarga tidak pernah dialaminya. Seolah-olah kehidupan anak tunggal tersebut begitu

Mereka kurang menaruh rasa hormat kepada orang yang lebih tua, tidak mau bekerjasama, dan tidak memiliki keterampilan untuk merawat diri

menyenangkan karena perlindungan yang terus-menerus diberikan oleh orang-orang dewasa yang berada

sendiri (Heng Keng, 1995). Lain halnya dengan Falbo (dalam Berk, 1994), menyatakan bahwa anak

disekelilingnya. Oleh karena itulah sering dialami adanya kelemahan dalam hubungan antar pribadi di luar lingkungan rumahnya. (Gunarsa S.D & Y. Gunarsa D, 2003). Istilah moral terlalu bebas

tunggal memperoleh skor harga diri yang tinggi dan mempunyai motivasi untuk berprestasi yang tinggi.

Menurut Berk (1994), bahwa anak tunggal ditakdirkan menjadi anak yang hanya berpusat pada dirinya sendiri. Hal ini disebabkan karena anak tunggal tidak mengalami

digunakan sehingga arti sebenarnya seringkali tidak diperhatikan atau diabaikan. Perilaku moral berarti

perilaku yang sesuai dengan kode moral kelompok sosial. Moral berasal dari kata latin mores, yang berarti tata cara, kebiasaan, dan adat. Perilaku moral moral dikendalikan peraturan konsep-konsep perilaku telah

hubungan yang khas dengan saudara kandung, baik hubungan kedekatan, maupun hubungan konflik. Tanpa mengalami hubungan kedekatan dan

iv

menjadi kebiasaan bagi anggota suatu budaya dan yang menentukan pola perilaku yang diharapkan dari seluruh anggota kelompok. Perilaku tak

Kemudian remaja juga belajar bahwa peraturan dipertahankan persetujuan pengaplikasikannya sosial bersifat diciptakan dan

berdasarkan dan relatif

bermoral ialah perilaku yang tidak sesuai dengan harapan sosial. Perilaku demikian tidak disebabkan

bagi setiap orang maupun situasi (Rice, 1993). Perkembangan moral remaja

ketidakacuhan akan harapan sosial melainkan ketidaksetujuan dengan

banyak dipengaruhi oleh lingkungan dimana ia hidup. Tanpa masyarakat (lingkungan), aspek moral remaja tidak dapat berkembang. Nilai-nilai moral yang dimiliki remaja lebih merupakan sesuatu yang diperoleh dari luar. Remaja belajar dan diajar oleh lingkungannya mengenai

standar sosial atau kurang adanya perasaan wajib menyesuaikan diri. Perilaku bermoral atau tidak bermoral lebih disebabkan ketidakacuhan

terhadap harapan kelompok sosial daripada pelanggaran sengaja

terhadap standar kelompok. Beberapa diantara perilaku anak kecil lebih bersifat bermoral daripada tidak

bagaimana ia harus bertingkah laku yang baik dan tingkahlaku yang bagaimana yang dikatakan salah atau tidak baik. Lingkungan ini dapat berarti orangtua, saudara-saudara, guru-guru (Gunarsa S.D & dan Y.

bermoral (Hurlock E.B, 1978). Anak yang sudah menginjak masa remaja membuat penilaian moral

berdasarkan equity, yaitu penetapan hukuman individu berdasarkan untuk atas kemampuan mengambil perilakunya.

teman-teman, sebagainya

Gunarsa D, 2003). Kohlberg mengajukan suatu teori perkembangan moral. Ia mengatakan bahwa ada tiga tingkat perkembangan moral yang berurutan, dimana setiap tingkat perkembangan moral terdiri

tanggungjawab

Remaja sudah tidak lagi terpaku pada fakta yang bersifat kongkrit tetapi sudah mampu mempertimbangkan yang ada.

berbagai

kemungkinan

dari dua tahap perkembangan moral. Jadi ada enam tahap perkembangan moral. Dikatakan juga bahwa setiap orang akan mengalami perkembangan moral secara bertahap dari tahap satu sampai dengan tahap enam. Namun tidak semua orang dapat mencapai tahap yang ke enam. Kohlberg juga menjelaskan perkembangan bahwa moral setiap menunjukan individu

semakin seseorang berada pada tahap moral yang lebih tinggi (dalam Monks & dkk, 2002). Kohlberg meneliti penilaian

moral dalam perkembangannya, jadi apa yang dianggap baik (seharusnya dilakukan) dan tidak baik (tidak pantas dilakukan) oleh anak tahap yang berbeda-beda.. Kohlberg

melukiskan perkembangan moral anak dalam 6 tahap. Dalam tingkatan nol anak menganggap baik apa yang sesuai dengan permintaan dan

arah / orientasi tertentu,

yang berada pada tahap tertentu akan memberikan argumentasi jawaban yang sesuai atau dengan

keinginannya. Tingkatan kedua yang oleh Kohlberg disebut pra-

orientasinya. Kohlberg menetapkan tahapan perkembangan moral ini

konvensional. Anak menganggap baik atau buruk atas dasar akibat yang ditimbulkan oleh suatu tingkahlaku: hadiah atau hukuman (tahap 1). Dalam tahap pra-konvensional yang berikutnya (tahap 2) anak mengikuti apa yang dikatakan baik atau buruk untuk memperoleh hadiah atau

dengan jalan menanyakan alasan / argumentasi seseorang dalam

melakukan atau memilih suatu yang dilihat oleh Kohlberg adalah seseorang jawabkan juga mengatakan

bagaimana mempertanggung tindakannya. Ia

bahwa semakin tinggi tingkat atau tahap perkembangan moral seseorang, akan semakin tampak moralnya perbuatanyang Semakin

menghindari hukuman. Hal ini disebut hedonisme instrumental. Sifat timbal balik disini memegang peranan, tetapi masih dalam arti moral balas

perbuatan

bertanggungjawab.

dendam. Kedua tahap ini sesuai waktu dengan tahap pra-konvensional.

seseorang mendekati tahapan tersebut,

vi

Kemudian tahap operasional formal memulailah juga perkembangan moral yang sebenarnya. Dalam hubungan ini Kohlberg membedakan antara

tingkat konvensional (tahap 3 dan 4). Bila dihadapkan kasus yang seperti berikut ini : misalnya, jika sejak kecil pada seorang anak diterapkan sebuah nilai moral yang mengatakan bahwa korupsi itu tidak baik. Pada masa remaja mengapa membiarkan subur. Hal ia akan dunia korupsi ini tentu mempertanyakan sekelilingnya itu tumbuh akan

tingkatan konvensional (tahap 3 dan 4) dan tingkatan pasca-konvensional (tahap 5 dan 6). Dalam tahap 3 akan dinilai baik apa yang dapat

menyenangkan dan disetujui oleh orang lain dan buruk apa yang ditolak oleh orang lain. Menjadi anak manis masih sangat penting dalam periode ini. Dalam tahap 4 ini tumbuh semacam kesadaran akan aturan yang ada karena dianggap berharga tetapi dengan belum dapat secara terakhir untuk tahap

saja

menimbulkan konflik nilai bagi sang remaja. Konflik nilai dalam diri remaja ini lambat laun akan menjadi sebuah masalah besar, jika remaja tidak menemukan jalan keluarnya. Kemungkinan remaja untuk tidak lagi mempercayai ditanamkan nilai-nilai oleh orangtua yang atau

mempertanggungjawabkan pribadi. disebut Tingkatan yang

pasca-konvensional bahwa dalam

pendidik sejak masa kanak-kanak akan sangat besar jika orangtua atau pendidik tidak mampu memberikan penjelasan yang logis, apalagi jika lingkungan mendukung sekitarnya penerapan tidak nilai-nilai

menunjukan

operasional formal moral akhirnya akan berkembang sebagai pendirian pribadi jadi lebih daripada konvensional baik tidak

tergantung pendapat

pendapatyang ada

tersebut (Papalia, D.E. & Olds, S.W. 1995).

(dalam Monks & dkk, 2002). Colby and Kohlberg dalam

Masalah di atas menarik peneliti untuk meneliti perkembangan moral anak tunggal usia 15 18 tahun.

Lickona (1976) mengatakan bahwa individu yang berada pada tahap

vii

Dimana usia 15 18 tahun itu adalah masa remaja pertengahan. Mengapa remaja karena kehidupan moral

dan bagaimana proses perkembangan moral dari anak tunggal pada usia 15 18 tahun.

merupakan problematik yang pokok dalam masa remaja (Furter, 1976 dalam Monks, 2002) problematik anak tunggal remaja sangatlah 1. Manfaat Teoritis Penelitian digunakan mengembangkan B. Pertanyaan Penelitian Bagaimana perkembangan moral dari anak tunggal pada usia 15 18 tahun? Mengapa perkembangan moral khususnya psikologi psikologi psikologi ini dapat untuk ilmu sosial, D. Manfaat penelitian

berbeda dengan anak remaja yang lain.

perkembangan kepribadian.

Penelitian ini dapat digunakan sebagai awal untuk penelitian berikutnya berhubungan perkembangan moral khususnya yang dengan anak

anak tunggal pada usia subjek seperti itu? Bagaimana proses perkembangan moral dari anak tunggal pada subjek?

tunggal pada usia 15 18 tahun.

C. Tujuan Penelitian Tujuan dari dilakukan penulisan atau penelitian ini untuk memperoleh gambaran dan penjelasan yang

2. Manfaat Praktis Hasil diharapkan masukan penelitian dapat seta ini

dijadikan

pemahaman

mendalam mengenai bagaimana moral dari anak tunggal pada usia 15 18 tahun, mengapa moral anak tunggal pada usia 15 18 tahun seperti itu,

yang bermanfaat bagi yang membaca terutama anak

tunggal pada usia 15 18 tahun, Penelitian ini dapat juga

viii

sebagai

masukan

bagi

kelompok

sosial.

Jadi,

suatu

orangtua dan pendidik untuk dapat membantu anak-anaknya terutama bagi anak tunggal karena setiap anak

tingkahlaku dikatakan bermoral apabila tingkahlaku itu sesuai dengan nilai-nilai moral yang berlaku dalam kelompok sosial dimana anak itu hidup. b. Karakteristik Perkembangan Moral Karakteristik-karakteristik dibawah ini mungkin dapat

membutuhkan pengasuhan dan pengarahan yang tepat dan harmonis untuk bisa

berkembang dengan baik.

B. Tinjauan Pustaka
1. Perkembangan Moral a. Pengertian Moral Perkembangan istiadat, moral tata adalah cara

membantu anda memahami arti manusia yang baik (Wahyuning W, Jash, Rachmadiana M.H,

2003), yaitu: 1) Setia, jujur dan dapat

kebiasaan,

kehidupan yang berkaitan dengan aturan dan konvensi tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam berinteraksi

dipercaya 2) Baik hati, penyayang, empati, peka dan toleran 3) Pekerja keras, bertanggung

dengan orang lain. Berkaitan juga dengan untuk kemampuan membedakan seseorang antara

jawab dan memiliki disiplin diri 4) Mandiri, mampu menghadapi tekanan kelompok 5) Murah hati, memberi dan tidak mementingkan diri sendiri 6) Memperhatikan dan memiliki penghargaan tentang otoritas yang hukum sah, peraturan dan

perbuatan yang benar dan yang salah. Dengan demikian, moral juga melandasi dan

mengendalikan seseorang dalam bersikap dan bertingkahlaku.

Perilaku moral berarti perilaku yang sesuai dengan kode moral

ix

7) Menghargai diri sendiri dan hak orang lain 8) Menghargai kehidupan,

perkembangan Kohlberg walaupun yang

moral

dari

menyatakan masih

individu

kepemilikan alam, orang yang lebih tua dan orang tua 9) Santun dan memiliki adab kesopanan 10) Adil dalam pekerjaan dan permainan 11) Murah mampu balas hati dan pemaaf, bahwa ada

menggunakan standar eksternal (hadiah atau hukuman) namun juga telah memiliki standar E

internal

tertentu

(Lawrence

Kohlberg dalam Monks & dkk, 2002) . Apabila dianalisis

karakteristik perilaku moral dari Wahyuning Rachmadiana karakteristik W, M.H, perilaku Jash, ternyata moral

memahami dendam tidak

gunanya 12) Selalu ingin melayani,

tersebut sesuai dengan standar moral internal dari tahap

memberikan sumbangan pada keluarga, masyarakat, negara, agama dan sekolah 13) Pemberani 14) Tenang, damai dan tentram

konvensional Kohlberg. Dengan demikian Wahyuning karakteristik W, moral Jash,

Rachmadiana M.H, tersebut dapat digunakan untuk menggambarkan

Wahyuning Rachmadiana menyusun

W, M.H (

Jash, 2003) moral

ciri-ciri

perkembangan

moral

tahap konvensional. c. Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Moral Faktor keluarga Faktor yang paling

karakteristik

yang bersifat umum, dan cocok dengan tahap konvensional tahapan moral dari

berdasarkan perkembangan

mempengaruhi penilaian moral adalah keluarga. Rice (1993) menyatakan bahwa semua

Kohlberg. Dikatakan cocok karena karakteristik tahap konvensional

penelitian

mengenai

anak. Hubungan orangtua anak yang dianggap

perkembangan moral anak dan remaja menekankan

penting (prioritas tinggi) dalam jangka waktu yang lama (durasi tinggi), dengan emosi tinggi) kontak serta dan

pentingnya peran orang tua dan keluarga. Terdapat

beberapa faktor keluarga yang berhubungan secara signifikan dengan pembelajaran moral pada anak (Zelkowitz, 1987, dalam Rice, 1993): 1. Tingkat penerimaan kepercayaan kehangatan, dan yang

dikarakteristikan kedekatan (intensitas jumlah

komunikasi yang maksimal (frekuensi tinggi),

memiliki efek positif pada perkembangan moral anak. 2. frekuensi komunikasi orangtua dan anak Teori role modeling bahawa interaksi dan antara

ditunjukan terhadap anak. Anak mengagumi orangtua sehingga cenderung dan yang meniru hangat,

menumbuhkan

mengatakan

sifat yang baik pada anak. Teori differential

identifikasi anak terhadap orangtua frekuensi orangtua-anak. dipengaruhi interaksi Orangtua

assosiation dari Sutherland dan Cressey (1966, dalam Rice, 1993) menjelaskan bahwa prioritas, dan durasi, frekuensi orangtua

yang sering berinteraksi secara intensif dengan

intensitas dari anak

anaknya cenderung lebih mempunyai terhadap anaknya. pengaruh kehidupan Interaksi

hubungan

memfasilitasi

pembelajaran moral dan perilaku kriminal pada

orangtua-anak memberikan

xi

kesempatan pembahasaan dan terutama dilakukan demokratis mutual. dan

untuk nilai-nilai

internalisasi nilai dan standar terutama penjelasan pada anak, ketika disertai

norma-norma, bila interaksi secara bersifat

dengan afeksi sehingga anak cenderung untuk menerima. menginginkan membutuhkan orangtua. c. Adil dan sesuai serta menghindari kekerasan Orangtua menggunakan kekerasan menyimpang dari tujuan disiplin, yang Remaja dan arahan

3. Tipe dan tingkat disiplin yang dijalankan orangtua Hasil menunjukan penelitian bahwa

disiplin mempunyai efek yang positif terhadap

pembelajaran moral ketika: a. Konsisten, baik

intraparent (konsisten dalam disiplin melakukan maupun

yaitu, mengembangkan hati nurani, sosialisasi, dan (Herzberger kooperasi and

interparent (konsisten antara kedua orangtua) b. Kontrol terutama

Tennen, 1985, dalam Rice, 1993). Orangtua yang terlalu permisif juga menghambat

dilakukan secara verbal melalui penjelasan

guna mengembangkan kontrol internal pada anak. Orangtua yang melakukan penjelasan verbal secara jelas dan resional menghasilkan

perkembangan sosialisasi dan moral anak tidak bantuan karena mereka

memberikan untuk

xii

mengembangkan kontrol anak. d. Bersifat demokratis, dalam diri

ekonomi

yang

berbeda

membantu perkembangan moral (Kohlberg, 1996,

dalam Rice, 1993). d. Tahap-tahap Perkembangan Moral Adapun tahap-tahap

bukan permisif ataupun autokratik. 4. Contoh yang diberikan

orangtua bagi anak Hasil menunjukan penelitian bahwa

perkembangan moral yang sangat dikenal ke seluruh dunia adalah yang dikemukakan oleh Lawrence E Kohlberg (dalam Monks & dkk, 2002) membagi perkembangan

perilaku menyimpang ayah berkorelasi secara

signifikan dengan perilaku devian anak pada masa remaja Sangatlah orangtua dan dewasa. bagi

moralitas ke dalam 3 tingkatan yang menjadi masing-masing 2 stadium dibagi hingga 6

penting untuk

keseluruhannya

menjadi

menjadi

stadium, sebagai berikut: a) Pra-Konvensional Pada tahap ini belum terjadi internalisasi nilai moral pada diri individu. pada Individu label

sosok yang bermoral jika ingin memberikan model positif bagi anak mereka untuk ditiru. 5. Kesempatan untuk mendiri yang disediakan orangtua Pengaruh penting perkembangan Kontak sosial peer juga bagi anak. dengan

berespon

baik/buruk dan benar/salah, namun dilakukan konsekuensi intepretasi tersebut

berdasarkan fisik (hadiah,

hukuman dan exchange of favors) maupun kekuatan fisik yang dimiliki pemberi label.

orang-orang dari budaya dan latar belakang sosial

xiii

Sarwono (2001) mengatakan bahwa tahap ini biasanya

kebutuhan

dirinya

atau

orang lain yang disenangi. Sesuatu apabila dianggap benar

dimiliki oleh anak-anak yang berusia di bawah sembilan tahun dan sebagian remaja serta orang dewasa yang

memberikan

kepuasan bagi dirinya dan terkadang bagi orang lain. Membangun hubungan

penalaran moralnya terlambat atau kurang berkembang. 1. Orientasi Terhadap

resprokal secara pragmatis (kalau kamu membantu saya maka saya membantu kamu). b) Konvensional Pada tahap ini sudah mulai terjadi internalisasi nilai moral walaupun belum sepenuhnya terinternalisasi. Individu masih menggunakan standar (hadiah atau

Kepatuhan dan Hukuman Suatu tingkahlaku

dinilai benar bila tidak dihukum dan salah bila perlu dihukum. Seseorang harus patuh pada otoritas karena otoritas tersebut

berkuasa. 2. Orientasi atau Instrumental Masih mendasarkan Naif Egoistis

eksternal

Hedonisme

hukuman) namun juga telah memiliki tertentu. standar Sarwono internal (2001)

pada orang atau kejadian di luar diri individu, namun sudah alasan memperhatikan perbuatannya,

menambahkan bahwa tahap ini dimiliki oleh remaja dan

sebagian besar orang dewasa dalam masyarakat. 3. Orientasi Anak Baik Anak menilai suatu

misalnya mencuri dinilai salah, tetapi masih bisa dimaafkan bila alasannya adalah untuk memenuhi

perbuatan itu baik bila ia dapat menyenangkan orang

xiv

lain,

bila

ia

dapat

mengekplorasi

kemungkinan

dipandang sebagai anak wanita atau anak laki-laki yang baik yaitu ia dapat berbuat seperti apa yang diharapkan oleh orang lain atau oleh masyarakat. 4. Orientasi Pelestarian

yang ada, dan mengambil keputusan berdasarkan kode moral (2001) personal. menyatakan Sarwono bahwa

tahap ini tidak dimiliki oleh semua orang dewasa,

melainkan hanya terjadi pada sebagian dari mereka. 5. Orientasi Legalistik Memahami merupakan (perjanjian) orang dan bahwa kontrol antara diri Kontrol

Otoritas dan Aturan Sosial Anak melihat aturan sosial yang dan sebagai sesuatu yang harus dijaga dan dilestarikan. Seorang dipandang bermoral bila ia melakukan tugasnya dan dengan demikian dapat

masyarakat.

Individu harus memenuhi kewajiban-kewajibannya tetapi masyarakat menjamin sebaliknya harus kesejahteraan

melestarikan aturan dan sistem sosial. c) Pasca-Konvensional Pada tahap ini nilai moral telah terinternalisasi sepenuhnya

individu. Peraturan dalam masyarakat subjektif. 6. Orientasi yang Mendasarkan Atas Prinsip dan adalah

dan tidak berdasarkan standar orang lain. Kontrol terhadap perilaku bersifat internal dan memiliki persepsi bahwa

konflik antara dua standar sosial mungkin saja terjadi. Individu menyadari adanya

Konsensia Sendiri Peraturan dan norma adalah pula subjektif begitu

alternatif dari jalur moral,

batasan-batasannya

xv

adalah subjektif dan tidak pasti. Dengan demikian 2. Subjek Penelitian Karakteristik subjek dalam

maka ukuran tingkahlaku moral adalah konsensia

penelitian ini adalah anak tunggal usia 15 18 tahun. Sementara itu subjek penelitian dalam penelitian ini terdiri dari satu orang subjek dengan 1 orang significant others.

orang sendiri, prinsipnya sendiri lepas daripada

segala norma yang ada. Kohlberg menyebut prinsip ini sebagai prinsip moral yang norma dasarnya konsensia sendiri. universal, moral ada suatu yang dalam orangnya

3. Tahap-tahap Persiapan a. Tahap Persiapan, peneliti membuat pedoman wawancara dan pedoman observasi yang disusun berdasarkan beberapa teori yang relevan dengan masalah. Selanjutnya peneliti akan

C. Metode Penelitian

mencari

calon

subjek

dengan telah

karakteristik 1. Pendekatan Kualitatif Dalam penelitian ini peneliti

sebagaimana

disebutkan dalam subjek penelitian. Setiap perkembangan dilaporkan dan dikonsultasikan pembimbing. b. Tahap pelaksanaan, Peneliti terjun langsung ke lapangan untuk kepada dosen

menggunakan pendekatan kualitatif, dimana peneliti bertujuan agar yang

mendapatkan

pemahaman

mendalam dari masalah yang peneliti teliti dan memberikan gambaran

melakukan observasi dan wawancara secara terpisah. Setelah itu, peneliti memindahkan hasil rekaman

melalui pengamatan yang dilakukan dalam latar (setting) yang alamiah (naturalistic) bukan hasil perlakuan (treatment) atau manipulasi variabel yang dilibatkan.

berdasarkan wawancara dan hasil observasi ke dalam bentuk verbatim tertulis, kemudian peneliti melakukan

xvi

analisis data dan interpretasi data sesuai dengan langkah-langkah yang dijabarkan pada bagian teknik analisis data. Terakhir peneliti membuat

semacam

pedoman

yang

mencantumkan isu-isu yang harus diliput tanpa menentukan peneliti urutan juga

pertanyaan,

diskusi dan kesimpulan dari seluruh hasil penelitian.

mengembangkan pedoman tersebut berdasarkan kondisi di lapangan. Hal ini dilakukan agar lebih efektif dalam

4. Teknik Pengumpulan Data Sesuai dengan sifat penelitian kualitatif yang terbuka dan luwes, metode dan tipe pengumpulan data dalam penelitian kualitatif sangat beragam, disesuaikan dengan

menggali informasi yang diperlukan.

5. Alat Bantu yang Digunakan dalam Penelitian Dalam penelitian, informasi atau data yang dibutuhkan bisa dalam bentuk verbal dan non verbal. Oleh sebab itu dalam melakukan observasi dan wawancara peneliti memerlukan beberapa digunakan alat bantu yang sarana dapat untuk

masalah, tujuan penelitian, serta sifat objek yang diteliti. Dalam penelitian ini observasi yang dilaksanakan oleh peneliti adalah pengamatan tidak berperan serta atau non partisipan, karena peneliti tidak terlibat aktivitas secara subjek, langsung peneliti dengan hanya

sebagai

mempermudah proses jalannya suatu penelitian. Beberapa sarana atau

instrumen yang digunakan adalah menggunakan media perekam suara, catatan atau tulisan tangan, pedoman wawancara, dan pedoman observasi.

mengamati sesuai waktu yang telah ditentukan atau yang telah dibuat peneliti dengan kesepakatan subjek. Meskipun demikian, informasi atau data yang diperoleh tetap memenuhi kriteria atau standar yang diinginkan. Sedangkan dengan pendekatan wawancara yaitu

6. Keakuratan Penelitian Untuk mencapai keakuratan dalam suatu penelitian dengan metode

pedoman

umum,

kualitatif, ada beberapa teknik yang

xvii

digunakan dan salah satu teknik tersebut Triangulasi adalah adalah triangulasi. suatu teknik

Setelah maksud dan tujuan telah di ketahui oleh calon subjek maka peneliti menjelaskan lebih rinci

pemeriksaan keakuratan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Triangulasi dapat dibedakan menjadi emapat macam yaitu

mengenai penelitian yang dilakukan peneliti agar subjek lebih mengerti dan merasa nyaman dengan peneliti sehingga penelitian dapat berjalan dengan baik. Sebelum data, proses peneliti

pengambilan

triangulasi data, pengamat, teori, dan metodologis.

mempersiapkan pedoman wawancara, pedoman observasi, dan

memepersiapkan alat-alat penelitian 7. Teknik Analisa Data Data yang diperoleh akan di analisa dengan menggunakan teknik analisa data kualitatif. adalah Adapun tahapan berupa tape recorder, kertas dan alat tulis. Hal ini dilakukan agar proses pengumpulan data dapat berjalan

dengan baik dan lancar.

tersebut

mengorganisasikan 2. Pelaksanaan Penelitian Kegiatan wawancara dalam penelitian ini dilakuakn pada tanggal 5 Mei 2008

data, mengelompokkan data, analisis kasus, dan menguji asumsi.

D. Hasil Dan Analisis

dan

wawancara

dengan

subjek

dilaksanakan 1. Persiapan Penelitian

dirumah

significant

other. Sedangkan kegiatan wawancara dengan significant other, yaitu ibu

Pertama kali yang dilakukan oleh peneliti sebelum proses pengambilan data dilakukan, peneliti terlebih

subjek dilakukan pada tanggal 7 Mei 2008 dan dilakukan dirumah

significant other Kegiatan observasi dalam penelitian ini dilakukan pada tanggal 5 Mei 2008

dahulu mencari anak tunggal yang berusia 15 18 tahun.

xviii

2008

yang

dilakukan

dirumah

mengerjakan tugas kelompok dan pendapatnya ditolak tidak

significant other

membuat dia marah tetapi malah 3. Hasil Observasi dan Wawancara a. Gambaran Umum Subjek menerima dan mau mendengarkan pendapat teman-teman yang lain Subjek tidak meninggalkan teman Subjek adalah seorang anak berusia 19 tahun, dengan tinggi sekitar 110 cm dan berat kira-kira 27 kg. Kulit subjek sawo matang dan rambutnya pendek. satu kelompoknya. kapan dan Subjek waktunya meski

memahami bermain

belajar

terkadang masih suka diingatkan. Subjek lebih memilih untuk

belajar meski ternyata dia lebih E. Penutup 1. Simpulan a. Gambaran perkembangan moral anak tunggal pada tahun Pada terungkap kasus bahwa subjek, bila usia 15 18 suka bermain sementara padahal sebenarnya subjek lebih suka

bermain dari pada belajar. Subjek bila mengerjakan tugas dikerjakan dengan baik, maksimal dan serius. Bila tidak ada yang dimengerti maka subjek akan menanyakan kepada yang mengerti. Dikerjakan dan dikumpulkan tepat pada

subjek

mendapat tugas kelompok akan mengerjakannya dengan teman

kelompoknya tidak individu dan subjek untuk orangnya menentang aktif. bila berani ada

waktunya sesuai dengan ibu/bapak guru perintahkan dan selalu dicoba kerjakan sendiri dulu baru

ketidakcocokan dalam kelompok belajarnya. Dia tidak merasa takut bila nantinya dikeluarkan dari kelompoknya. Subjek dalam

ditanyakan mana yang subjek tidak bisa. Subjek pun membuat jadwal untuk kepentingan

sekolahnya. Subjek suka sesuatu yang terorganisir. Subjek dalam

mengemukakan pendapat dalam

xix

membuat suatu keputusan itu pasti subjek laksanakan keputusan yang sudah di ambil. Subjek

membela diri juga berani untuk mengatakan siapa sebenarnya

yang bersalah. Subjek pernah dimintai tolong dibantukan

mempunyai banyak teman baik itu laki-laki mapun perempuan dan teman dekat subjek ini ada yang di sekolah maupun di rumah. Untuk menyenangkan teman dekatnya subjek mau menemani kemana saja, melakukan apa saja selama itu masih sebatas wajar. Subjek menjaga dengan baik curhatan teman-temannya. subjek sudah Teman-teman percaya kepada

mengerjakan tugas tetapi subjek hanya membantu sebatas

menerangkan saja tidak membantu mengerjakan semua. Subjek

sangat perhatian bila orangtua maupun teman sedang sakit.

Terutama dengan orangtua subjek tidak berani meninggalkan dan selalu kepikiran. Subjek pun mau menghibur bila orangtua maupun teman yang sedang bersedih

subjek dan subjek menjaga dengan cara tidak membocorkannya ke orang lain. Subjek menjaga

dengan cara menceritakan hal-hal yang lucu. Subjek mau memberi sumbangan bila melihat pengemis maupun pengamen. Subjek pun mau memberi bantuan kepada teman yang sedang kesusahan dalam hal keuangan. Subjek bila bertemu mau mencium tangan, memberi salam dan berbicara pelan, sopan kepada orang yang lebih tua.Subjek pernah melanggar peraturan di sekolah yaitu datang telat tetapi belum di pernah luar

dengan baik bila ada teman yang menitipkan barang kepadanya.

Subjek bersedia waktu dimintai tolong bawakan barang padahal waktu itu subjek pun sedang membawa banyak barang. Subjek pernah berbohong tetapi kemudian subjek mengatakan sejujurnya

kepada orang yang bersangkutan. Subjek juga pernah disalahkan atas sesuatu yang tidak subjek lakukan dan subjek berani untuk

melanggar

peraturan

xx

sekolah. waktu

Subjek bila

datang

tepat dengan bila

Subjek mengerjakan tugas dengan baik, maksimal dan serius karena subjek orang yang teliti dan ingin mendapat hasil bagus juga tidak ada yang meremehkan subjek. Subjek mau menyerahkan tugas tepat waktu karena subjek sangat teliti. Bila diminta serahkan tugas

janjian

temannya.

Tetapi

subjek

janjian dengan teman-temannya yang ternyata berbeda arah tujuan pergi maka subjek lebih memilih teman-temannya yang mengikuti maunya dia. Berdasarkan pembahasan

besok pasti besok diserahin dan dikerjakan dengan baik Menurut subjek dia bila ada masalah

diatas, ada kesesuaian antara kasus subjek dengan teori menurut

whayuning W, Jash, Rachmadiana M.H (2003) tentang karakteristik perkembangan moral.

langsung menceritakannya kepada temannya sementara menurut

significant other, subjek bila ada tugas yang sulit selalu dicoba dulu

b.

Faktor-faktor

yang

baru meminta bantuan temannya yang bisa. Subjek bila dimintai bantuan untuk mengerjakan tugas oleh temannya dia hanya

menyebabkan perkembangan moral anak tunggal pada tahun Pada kasus subjek, usia 15 18

membantu sebatas menerangkan saja tidak membantu mengerjakan karena dia merasa temannya itu harus belajar sendiri jadi bila ada tugas yang sama temannya bisa mengerjakan sendiri. Subjek selalu melakukan penjadwalan untuk

terungkap bahwa subjek tetap menerima dan gabung meski

pendapatnya di tolak oleh teman kelompoknya karena mungkin saja mereka mempunyai pendapat yang lebih baik dan dalam kelompok harus ada kesepakatan bersama juga karena subjek merasa mereka semua adalah teman subjek.

urusan sekolahannya seperti kapan mengerjakan dan menyerahkan

tugas karena subjek tidak mau ada

xxi

yang terlewatkan nantinya. Subjek dalam membuat keputusan itu pasti subjek laksanakan karena dia tidak mau mengikuti keputusan orang lain dan lagi pula membuat keputusan mebutuhkan

dia

mau

mengatakan bahwa dia

yang telah

sejujurnya

berbohong karena dia tidak mau nantinya sementara kehilangan menurut temannya significant

other, subjek mau mengatakan yang sebenarnya karena subjek tahu bahwa dia salah dan dia harus mengatakan yang sebenarnya.

pertimbangan panjang jadi jangan sampai menjadi percuma. Subjek bila janjian selalu datang tepat pada waktunya karena subjek tidak mau membuat orang

Subjek lebih memilih temannya yang mengikuti maunya dia

menunggu dan dia tidak mau menunggu. Subjek mau menemani kemana saja dan melakukan apa saja untuk teman dekatnya itu karena subjek sudah merasa sangat dekat dan sangat perduli dengan teman terutama dengan teman dekatnya. Menurut subjek dia mau menjaga barang milik temannya yang dititipkan kepadanya karena subjek tidak mau nantinya

karena subjek tidak mau pergi jalan bila temanya tidak mengikuti maunya membantu dia. Subjek mau

bila dimintai tolong

bawakan barang padahal subjek juga lagi bawa barang banyak karena subjek merasa kalau bisa dibantu kenapa tidak. Subjek mau membantu bila dimintai tolong

bawakan barang padahal subjek juga lagi bawa barang banyak karena subjek merasa kalau bisa dibantu kenapa tidak. Subjek

dirugikan dengan dijauhin oleh teman-temannya. Tetapi menurut significant other, subjek mau

sangat perhatian sekali bila ada orangtua maupun teman yag sakit karena subjek orangtua adalah orang menjadi terpenting dan sudah sebagai

karena dia merasa sesama teman harus saling menjaga. Apalagi menjaga barang yang dititipkan itu seperti amanah. Menurut subjek

kewajibannya

xxii

anak merawat dan menjaga saat mereka sakit. Dengan teman

jauh dan rawan macet tetapi subjek belum pernah melanggar peraturan diluar sekolah. Berdasarkan pembahasan

subjek tidak tega bila melihat teman yang sedang sakit. Subjek mau menghibur bila orangtua maupun teman yang sedang

diatas, ada kesuaian antara kasus subjek dengan teori menurut

bersedih karena subjek tidak mau melihat orangtua maupun

Zelkowitz (1987, dalam Rice, 1993) tentang faktor yang

temannya bersedih. Subjek mau memberi sumbangan kepada

mempengaruhi moral.

perkembangan

pengemis dan pengamen karena subjek dibantu. merasa Subjek mereka pun perlu mau c. Bagaimana perkembangan moral anak tunggal pada tahun Pada kasus subjek, usia 15 18

membantu teman yang sedang kesusahan dalam hal keuangan karena subjek merasa temannya perlu dibantu. Subjek mau

terungkap bahwa subjek waktu masih kecil lebih banyak

mencium tangan, memberi salam dan berbicara pelan, lembut, sopan bila bertemu dengan orang yang lebih tua karena untuk

mendengarkan dan mengikuti apa yang dibilang sama teman

kelompoknya. Subjek tidak berani untuk berpindah kelompok yang sudah dipilihkan oleh ibu/bapak guru meski subjek tidak merasa cocok. Bila subjek menolak

menghormati dan karena takut dikira sombong sementara

menurut significan other karena untuk tetap menjalin hubungan baik. Subjek pernah melakukan pelanggaran didalam sekolah yaitu telat datang kesekolah karena jarak rumah ke sekolah lumayan

permintaan teman kelompoknya subjek bergabung Dibandingkan nanti tidak boleh mereka. waktu

dengan dengan

subjek sekarang, subjek sudah bisa

xxiii

mengemukakan

pendapat

dan

kecil

menjaga

dengan

baik

lebih aktif dalam mengerjakan tugas kelompok, sama-sama Tetapi

curhatan teman-temannya karena subjek merasa takut sekali

menemukan

solusinya.

kehilangan

teman-temannya

subjek juga tidak suka ganti-ganti kelompok. Subjek mau melakukan apa saja yang teman dekatnya suruh karena subjek tidak mau nantinya teman dekatnya itu

apalagi dengan teman yang sangat dekat dengannya. Subjek takut nanti mereka pada menjauhinya. Dan sampai saat ini belum pernah ada keluhan dari teman-temannya tentang bocornya curhatan yang diceritakan ke subjek. Subjek yang sekarang mau menjaga dengan baik karena curhatan menurut teman-temannya subjek untuk

menjauhi dan tidak mau main lagi sama subjek hanya karena subjek menolak permintaan teman

dekatnya itu dan karena subjek merasa dia adalah teman dekatnya dan subjek tidak merasa keberatan dimintain melakukan apa saja untuk teman dekatnya. Subjek merasa melakukan senang saja dapat untuk

menceritakan rahasia kita ke orang itu butuh keberanian dan bila orang sudah percaya sama kita harus jaga kepercayaan itu. Subjek yang sekarang mau membantu bila dimintai bantukan bawakan

sesuatu

temannya. Subjek saat dimintai tolong untuk menjagai barang milik temannya subjek benarbenar menjaganya dengan baik karena subjek merasa harus

barang yang padahal saat itu subjek sedang dalam keadaan membawa banyak barang juga karena subjek merasa dia teman subjek kalau bisa dibantu kenapa tidak dibantu. Subjek bila

menjaganya dan subjek tidak mau dirugikan nanti, dirugikan seperti dijauhin hanya karena subjek tidak dapat menjaga barang milik

orangtua maupun teman yang sakit subjek sangat perhatian. Alasan subjek mau menjaga dan merawat

temannya itu. Subjek waktu masih

xxiv

orangtua yang sedang sakit karena itu sudah menjadi kewajiban bila

keputusan dan keputusan itu pasti dilakukan oleh subjek. Subjek waktu masih kecil maupun subjek yang sekarang bila mendapat

seorang

anak.

Sementara

dengan teman itu bentuk kasih sayang sebagai seorang teman. Subjek baik dia waktu masih kecil maupun sekarang mau

tugas selalu di coba dikerjakan sendiri dulu baru setelah ada yang tidak bisa ditanyakan kepada yang bisa dan mengerti. Subjek waktu masih kecil belum bisa membuat keputusan tetapi subjek yang

mengerjakan tugas dengan baik, serius dan maksimal karena takut nanti mendapat hasil yang tidak bagus. Subjek baik dia waktu masih kecil mau mengumpulkan tugas tepat pada waktunya karena takut nanti dimarahin oleh

sekarang sudah bisa membuat keputusan dan keputusan itu pasti dilakukan oleh subjek.Subjek baik masih sekarang kecil bila maupun yang

ibu/bapak guru dan subjek yang sekarang mau mengumpulkan

mengemukakan

pendapat saat diskusi kelompok subjek tidak merasa keberatan saat pendapatnya ditolak karena subjek merasa mungkin mereka punya pendapat yang lebih baik. Subjek waktu masih kecil saat melihat pengamen dan pengemis dijalan subjek selalu memberi sumbangan karena subjek merasa kasihan dan ingin bantu. Subjek yang sekarang mau memberi sumbangan kepada pengemis dan pengamen karena subjek merasa harus menolong sama sesamanya. Subjek baik

tugas tepat pada waktunya karena subjek orangnya teliti dan tidak mau orang lain meremahkannya. Subjek waktu masih kecil maupun subjek yang sekarang bila

mendapat tugas selalu di coba dikerjakan setelah ada sendiri yang dulu tidak baru bisa

ditanyakan kepada yang bisa dan mengerti. Subjek waktu masih kecil belum bisa membuat yang

keputusan

tetapi

subjek

sekarang sudah bisa membuat

xxv

waktu masih kecil maupun subjek yang sekarang mau membantu teman yang sedang kesusahan dalam keuangan karena subjek merasa teman harus dibantu.

bahwa

dia

yang

melakukan

kesalahan itu. Alasannya karena subjek merasa tidak enak sama teman dan subjek pun tidak mau nanti temannya membencinya.

Subjek waktu masih kecil belum bisa mengatur kapan waktunya belajar bermain. dan kapan waktunya suka

Subjek yang sekarang merasa perlu menceritakan yang

sebenarnya karena subjek merasa tidak enak dan temannya sudah sangat baik sekali selama temanan sama subjek. Subjek merasa takut bila temannya marah dan tidak mau temanan lagi sama subjek hanya bohong. karena subjek sudah

Subjek

masih

diingatkan oleh mamanya. Tetapi Subjek memilih yang sekarang meski lebih dia

belajar

menyukai bermain karena subjek sudah tahu pentingnnya belajar untuk masa depannya nanti.

Menurut

Significant

Subjek waktu masih kecil bila janjian dengan temanya selalu datang tepat waktu karena subjek merasa malu. Sama teman-

Other, subjek waktu masih kecil berani untuk mengatakan yang sebenarnya. bahwa dia Subjek yang mengakui melakukan

temannya. Begitupun subjek yang sekarang selalu datang tepat waktu karena subjek tidak mau membuat orang lain menunggu. Adanya ketidaksesuaian

kesalahan itu

karena subjek

merasa bersalah. Subjek yang sekarang mau mengatakan yang sebenarnya karena subjek tahu bahwa dia salah dan dia harus mengatakannya yang sebenarnya. Subjek waktu masih kecil belum berani untuk membela diri saat subjek disalahkan atas sesuatu yang tidak subjek lakukan karena

antara jawaban subjek dengan significant other. Subjek waktu masih kecil saat melakukan

kesalahan awalnya subjek diam tetapi kemudian subjek mengakui

xxvi

subjek merasa tidak enak. Subjek yang sekarang mau membela diri saat disalahkan atas sesuatu yang tidak subjek lakukan karena

belum sendiri.

bisa

membuat

jadwal

Subjek yang sekarang

sudah bisa mengatur jadwalnya sendiri. Berdasarkan pembahasan

subjek merasa itu sangat perlu karena subjek tidak bersalah dan subjek tidak suka orang menuduh yang macam-macam. Subjek waktu masih kecil lebih memilih untuk tetap gabung dengan teman kelompok yang sebenarnya tidak cocok. Menurut subjek waktu dia kecil akan melapornya ke ibu/bapak guru tetapi menurut significant other subjek lebih memilih nurut dan ga banyak tingkah. Tetapi subjek yang sekarang baik menurut 2. Saran

diatas, ada kesesuaian antara kasus subjek dengan teori menurut

Lawrence E Kohlberg (dalam Monks & dkk, 2002) tentang tahap-tahap perkembangan moral.

a. Untuk subjek Sebaiknya subjek memilih teman secara bijaksana karena umumnya anak tunggal bergaul lebih baik dengan orang yang jauh lebih tua atau yang jauh lebih muda daripada dirinya sendiri. Usahakan untuk memperoleh eksposur dengan kedua kelompok tersebut, karena mereka adalah

subjek maupun significant other, subjek mau tetap gabung karena subjek merasa itu adalah tugas kelompok dan harus dikerjakan secara kelompok juga. Subjek waktu masih kecil sudah membuat jadwal untuk kegiatan dan tugas sekolahnya tetapi itu masih suka diingatkan Sementara oleh menurut mamanya. significant

pribadi-pribadi yang cocok dengan subjek sehingga kemungkinan terjadi pertikaan dengan mereka sangat kecil. b. Untuk keluarga subjek Sebaiknya orangtua, terutama bagi orangtua yang memiliki anak tunggal juga bagi orangtua yang baru

other subjek waktu masih kecil

memiliki anak pertama dan belum

xxvii

dikaruniai anak lagi agar jangan terlena terhadap dengan perilaku toleransi anak semu tunggal.

atau subjek anak tunggal yang hanya mempunyai bapak/ibu saja.

Karena orangtua terkadang menutup mata dari ketidakberesan perilakunya atau justru membiarkan diri orangtua terbawa arus pandangan negatif

DAFTAR PUSTAKA Basuki, H. 2006. Penelitian kualitatif untuk ilmu-ilmu kamanusian dan budaya. Jakarta: Universitas Gunadarma. Berk, L.E. 1994. Child Development. Singapore: Allyn and Bacon. Bull, N.J. 1970. Moral Judgment From Childhood To Adolescene. London: Routledege & Kegan Paul. Conger, JJ. 1991. Adolescene And Youth: Psychological Development In A Changing World. USA: Harper Collins Publisher, Inc. Fatimah, E. 2006. Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik). Bandung: CV Pustaka Setia. Gerungan, W.A. 2002. Psikologi Sosial. Bandung: PT. Refika Aditama. Gracinia, J. 2004. Mengasuh Anak Tunggal. Jakarta: PT. Alex Media Komputindo. Gulo, W. 2002. Metode Penelitian. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

tentang anak tunggal. Tidak dapat dipungkiri, memang banyak anak tunggal yang kemudian tumbuh

menjadi anak yang bermasalah tetapi anak tunggal pun bisa anak sangat yang

berpotensi

menjadi

berprestasi. Karena semua anak yang dibesarkan dengan cara yang salahlah yang sangat berpotensi untuk menjadi anak yang bermasalah. Tidak perduli apakah anak itu anak sulung, anak tengah, anak bungsu, anak kembar, semua berpotensi untuk menjadi anak yang bermasalah. c. Kepada penelitian selanjutnya Diharapkan pada penelitian

selanjutnya, peneliti bisa mengambil kriteria subjek dengan latar belakang yang lebih beragam lagi seperti subjek anak tunggal yang berasal dari

keluarga dengan taraf ekonomi tinggi

xxviii

Gunarsa, S.D. 2003. Psikologi Perkembangan Anak & Remaja. Jakarta: Gunung Mulia. Hadibroto. 2002. Misteri Perilaku Anak Sulung, Tengah, Bungsu & Tunggal. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Haricahyono, C. 1995. Dimensidimensi Pendidikan Moral. Semarang: IKIP Semarang Press. Hart, D & Carlo, G. 2005. Moral Development In Adolescent. Journal of Research On Adolescent, 15 (3), 223-233. Heng, K.C. 1995. Understanding Children. Kuala Lumpur: Pelanduk Publications. Hetherington, M.E. & Parke, R.D. 1993. Child Psychology: A Contemporary Viewpoint. New York: McGraw-Hill, Inc. Hofman, I, Paris, S.,& Hall, E. 1994. Development Psychology Today. New York: McGrawHill, Inc. Horrocks, J.E. 1976. Developmental Psychology (6th Ed. ). USA: Wads Worth Group. Hurlock, E.B. 1978. Child Development Sixth Edition. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama.

Kartono, K. 2000. Hygiene Mental. Bandung: Mandar Maju. Kohlberg, L. 1984. Essy On Moral Development: The Psychology Of Moral Development. New York: Harper & Row Publisher, inc Landis, P.H. 1997. Your Marriage And Family Living. New York: McGraw-Hill Book Company. Marshall, C. & Rossman, G.B. 1995. Designing Qualitative Research. California: SAGE Plubication, Inc. Moleong, L.J. 2004. Metodelogi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Monks, F.J. & Knoers, 2002. Psikologi Perkembangan: Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Muuss, R.E, 1990. Adolescent Behaviour And Society (4th Ed.). USA: McGraw-Hill, Inc. .

Pagliuso, S. 1976. Understanding Stages Of Moral Development A Programmed Learning. Workbook. New York: Paulist Press. Papalia D.E,. 2007. Human th Development (10 Ed.). New York: McGraw-Hill Companies, Inc.

xxix

Poerwandari, E.K. 2005. Pendekatan Kualitatif Untuk Penelitian Perilaku Manusia. Jakarta: Universitas Indonesia. Rice, F.P. 1993. The Adolescen: Development, Relationships, And Culture (9th Ed.). USA: Allyn and Bacon. Santrock, J.W. 2005. Adolescene (10th Ed.). New York: McGraw-Hill Companies, inc. Sarwono, S.W. 1993. Psikologi Remaja. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. Shaffer, D.R, 2002. Developmental Psychology (6th Ed.). USA: Wads Worth Group Mifflin Company. Sinolongan, A.Em 1997. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Toko Gunung Agung. Wahyuning W, Jash, Rachmadiana M.H. 2003. Mengkomunikasikan Moral Kepada Anak. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo

xxx