Anda di halaman 1dari 4

Akankah Ada Perang Nuklir?

DITULIS OLEH M. HAMDAN BASYAR RABU, 28 APRIL 2010 09:37

Tak terbayangkan bila dalam waktu dekat ada perang nuklir. Pasti bagian wilayah itu, atau bahkan dunia, akan hancur berantakan. Kiamatkah? Puluhan tahun silam, tepatnya pada Perang Dunia II, ketika bom atom Amerika Serikat dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki, Jepang, telah memaksa negara sakura itu tunduk kalah pada tentara sekutu. Selesailah Perang Dunia II.

Kemudian dunia ditata dengan adanya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ada Dewan Keamanan PBB yang sering mengeluarkan resolusi untuk menyelesaikan konflik antar negara. Ada International Atomic Energy Agency (IAEA) yang mengawasi perkembangan nuklir dunia. Dan ada badan PBB lainnya yang bertugas mengatur berbagai hal berkaitan kehidupan manusia. Dengan demikian diharapkan tidak ada lagi perang dunia baru.

Tetapi, perkembangan dunia menunjukkan kekhawatiran adanya perang dunia. Terlihat ada berbagai konflik melanda belahan dunia. Timur Tengah adalah salah satu wilayah yang menjadi hot spot konflik. Israel telah mengembangkan senjata nuklir. Iran melakukan pengayaan uranium yang dituduh akan dijadikan senjata nuklir. Sementara wilayah sekitarnya, seperti India dan Pakistan sudah melakukan uji coba senjata nuklir.

Apakah perang nuklir sudah dekat?

*** Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, seakan menjawab pertanyaan itu. Pada 12 April 2010, dia beserta presiden, perdana menteri, dan pejabat tinggi dari 47 negara berkumpul di Washington, AS. Dalam Pertemuan Puncak Keamanan Nuklir itu, Obama mengatakan bila teroris dapat memperoleh senjata nuklir, maka akan membahayakan keamanan AS. Oleh karena itu, dia menggalang dukungan dunia untuk memastikan semua bahan nuklir tidak jatuh ke tangan teroris. Secara eksplisit, Obama menyebut Al Qaidah atau kelompok teroris lainnya dapat mengubah dunia, bila mereka menguasai bahan nuklir.

Dalam komunike yang ditandatangani pada 13 April 2010 itu, antara lain, disebutkan bahwa dalam empat tahun mendatang seluruh material nuklir tidak dapat diakses oleh kelompok yang disebut teroris. Untuk itu, seluruh dunia diharapkan ikut mendukung program pencegahan bahaya nuklir.

Walaupun tidak disebutkan secara eksplisit, tetapi salah satu negara yang disasar oleh pertemuan tersebut adalah Iran. Negara kaum Mullah itu dianggap oleh AS sebagai pendukung teroris, maka dianggap membahayakan dunia bila mereka menguasai teknologi nuklir, apalagi mempunyai senjata

nuklir.

*** Rupanya Iran tidak mau kalah dibandingkan Amerika Serikat. Belum seminggu diselenggarakan Pertemuan Puncak Keamanan Nuklir di Washington, negeri kaum Mullah itu mengadakan pertemuan tandingan. Hajatan itu bertajuk Konferensi Perlucutan Senjata Nuklir yang diadakan di Teheran, pada 17-18 April 2010.

Ketika membuka konferensi itu, pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Ali Khomenei, menuding Amerika Serikat sebagai negara penebar teror ke berbagai negara dengan dalih senjata nuklir. Lebih lanjut, Khamenei mengatakan semestinya Amerika Serikat tidak menutup mata terhadap Israel yang diyakini banyak kalangan telah memiliki senjata nuklir. Israel juga harus dilarang mengembangkan senjata nuklir. Kebijakan nuklir AS yang berstandar ganda itu akan membahayakan dunia. Kalau kondisinya terus menerus seperti itu, Ayatullah Khamenei mendorong beberapa negara untuk menarik diri dari Traktat Non-Proliferasi Nuklir (Non Proliferation Treaty/NPT).

Teheran mengklaim konferensi itu dihadiri oleh 60 negara, termasuk Cina, Rusia, Perancis, serta sejumlah organisasi internasional lainnya. Teheran tampaknya marah atas kebijakan AS terbaru soal penggunaan senjata nuklir, awal April 2010. AS menyatakan tidak akan menyerang negara yang tak memiliki nuklir, kecuali terhadap Iran dan Korea Utara.

Kepala Organisasi Nuklir Iran, Ali Akbar Salehi, mengatakan, konferensi itu juga bermaksud untuk memberikan masukan, sebagai persiapan bagi pertemuan peninjauan kembali NPT, yang dijadwalkan digelar di New York, AS, pada bulan Mei 2010. Presiden Iran, Ahmadinejad, mengatakan semestinya revisi NPT dilakukan oleh negara-negara independen yang tidak memiliki senjata nuklir.

Memang, sejauh ini berbagai resolusi yang dikeluarkan oleh DK PBB untuk menghentikan pengembangan kemampuan nuklir Iran, dianggap tidak efektif. Sebagai negara penandatangan NPT, Iran merasa berhak untuk mengembangkan nuklirnya untuk kepentingan damai.

*** Apapun alasannya, perlombaan senjata nuklir atau senjata pemusnah massal lainnya akan membahayakan kehidupan dunia. Bila salah satu pihak terlanjur menggunakan senjata nuklir, maka bukan mustahil pihak lain yang merasa dirugikan akan membalasnya dengan senjata nuklir. Akibatnya, kehancuran kedua belah pihak.

Untuk menghindari perang nuklir, dibutuhkan suatu komitmen bersama antara berbagai negara, baik yang memiliki senjata nuklir maupun yang tidak memilikinya. Dibutuhkan suatu kearifan dari para

pemimpin dunia untuk menyadari bahaya senjata nuklir. Semestinya keadilan ditegakkan. Badan dunia yang bertugas mengawasi nuklir (International Atomic Energy Agency/IAEA) seharusnya dapat menginspeksi semua negara yang diduga mempunyai senjata nuklir. Dengan demikian, tidak ada lagi perlakuan diskriminatif terhadap negara-negara yang diduga mengembangkan fasilitas nuklirnya; tidak ada lagi satu negara dihukum, sedangkan yang lain dibiarkan.

*** Bila manusia telah terhindarkan dari bahaya senjata nuklir, apakah nuklir tidak dapat digunakan lagi? Berbagai negara mengembangkan energi listrik yang berbasis nuklir. Menurut beberapa kajian, energi listrik dari bahan nuklir lebih murah, dibandingkan dengan batu bara maupun gas. Tabel berikut menjelaskan hal itu.

Biaya Pembangkit Listrik (Sen/Kwh) NEGARA Belanda Finlandia Jepang Jerman Kanada Korea Selatan Prancis Republik Ceko Rumania Slowakia Swiss Amerika Serikat NUKLIR 3,58 2,76 4,80 2,86 2,60 2,34 2,54 2,30 3,06 3,13 2,88 3,01 BATUBARA 3,64 4,95 3,52 3,11 2,16 3,33 2,94 4,55 4,78 2,71 GAS 6,04 5,21 4,90 4,00 4,65 3,92 4,97 5,59 4,36 4,67

Sumber: Republika, 20 April 2010

Dengan demikian, energi nuklir masih tetap dapat digunakan untuk kepentingan damai. Perang nuklir dapat terhindarkan dan nuklir digunakan untuk memasok kebutuhan energi listrik yang setiap tahun bertambah.

Memang tidak mudah untuk memahamkan kebanyakan masyarakat dunia bahwa nuklir dapat digunakan secara damai. Bayangan kelam dan seram bom atom di Hiroshima dan Nagasaki (Agustus 1945), belum hilang. Ditambah lagi, peristiwa ledakan reaktor nuklir Chernobyl (26 April 1986) yang masih menyisakan sejarah kelam nuklir.

Maka, tidak mengherankan ketika akan dikembangkan PLTN di Muria, Jawa Tengah, banyak

masyarakat sekitarnya yang menolak. (M. Hamdan Basyar)