Anda di halaman 1dari 2

Morfologi sel seperti dijelaskan di atas maka sel tersebut mengalami Jejas reversible penyebab utamanya adalah : Hipoksia

menimbulkan gangguan produksi ATP oleh mitokondria ; deplesi ATP dapat membewa efek multiple yang awalnya bersifat reversible, yaitu :
1. Kegagalan transport membran Na+/K+-ATPase menyebabkan natrium masuk ke dalam

sel sementara kalium keluar dari dalam sel; terdapat pula peningkatan influx Ca2+ di samping pelepasan Ca2+ dari simopanan intra sel. Kenaikan netto solute tersebut disertai dengan isosmotik jumlah air, pembengkakan sel, dan pelebaran Retikulum Endoplasma. Pembengkakan sel juga meningkat kerena beban osmotic akibat akumulasi produk pemecahan metabolic. 2. Metabolism energy dalam sel berubah. Pada hipoksia, sel menggunakan glikolisis anaerob untuk memproduksi energy(metabolism glukosa yang berasal dari glikogen). Akibatnya, simpanan glikogen akan cepat habis disertai akumulasi asam laktat serta pemimbunan pH intrasel.
3. Berkurangnya sintesis protein akibat pelepasan ribosom dari Retikulum Endoplasma

kasar.

DASAR PATOLOGI PENYAKIT Jakarta EGC

a.

Atrofi fisiologis Terjadi mulai awal kehidupan embriologik, sebagai begian dari proses morfogenesis, sampai memasuki umur lanjut, dimana hasil yang didapat merupakan eksistensi yang merugikan. (Misal notokord, duktus tiroglosal)

b.

Atrofi patologis Ada beberapa kondisi patologi dimana atrofi dapat terjadi .
1. Berkurangnya fungsi. Sebagai hasil dari berkurangnya fungsi, misalnya pada

tungkai yang tidak digunakan karena patah tulang, akan dapat ditemukan secara jelas atrofi otot (karena berkurangnaya ukuran serabut otot), diperlukan fisioterapi yang ekstensif, untuk mengembalikan otot ke bentuk semula atau untuk mencegah

terjadinya atrofi. Pada kasus yabg eksterm dari disuse atrofi tungkai, atrofi tulang dapat berakhir ke osteoporosis dan kelemahan tulang.
2. Hilangnya persarafan(denervasi). Hilangnya persarafan pada otot, menyebabkan

terjadinya atrofi otot, seperti yang terlihat pada pemotongan saraf atau pada poliomyelitis.
3. Hilangnya suplai darah. Sebagai hasil anoksia jaringan, yg juga bias karena

lambat dan berkurangnya aliran darah.. atrofi epidermal terlihat, sebagai contoh, pada kulit tungkai bawah. Penderita dengan hambatan pada aliran darahnya yang berhubungan dengan varises vena atau penyempitan pembuluh darah akibat aterom.
4. Atrofi tekanan. Baik karena factor eksogen ( atrofi kulit dan jaringan lunak daerah

sacrum pada penderita yg tiduran lama) atau factor endogen (atrofi dinding pembuluh darah karena desaka tumor). Pada kondisi ini, sebab utamanya adalah terjadinya hipoksia jaringan setempat.
5. Kekurangan makanan. Kekurangan makanan dapat menyebabkan terjadinya atrofi

jaringan lemak, usus dan pancreas (keadaan eksterm) dan otot.


6. Hilangnya rangsangan endokrin. Atrofi pada organ tujuan hormone dapat terjadi

apabila rangsangan endokrin tidak mencukupi. Sebagai contoh, kelenjar adrenal menjadi atrofi kerana berkurangnya sekresi ACTH.
7. Atrofi Hormonal. Bentuk atrofi ini dapat dilihat pada kulit sebagai akibat aksi

penghambat pertumbuhan kortikosteroid. Pemberian kortikosteroid topical konsentari tinggi pada kulit, dapat menyebabkan atrofi dermis dan epidermis, yang terlihat buruk. Semua steroid, bila digunakan secara topical dapat juga terserap melalui kulit dan menyebabkan efek samping sistemik seperti atrofi adrenal pada penggunaan kortikosteroid.(UNDERWOOD,1999) PATOLOGI UMUM DAN SISTEMIK