KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

STANDAR KOMPETENSI DOKTER

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Indonesian Medical Council Jakarta 2006

STANDAR KOMPETENSI DOKTER

Kedokteran .Jakarta : Konsil Jakarta : Konsil Kedokteran Indonesia. .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Edisi Pertama. 2006 105 hlm. Nopember 2006 Perpustakaan Nasional : Katalog Dalam Terbitan (KDT) Standar Kompetensi Dokter. 17.Studi dan pengajaran 610.71 Penerbit : Konsil Kedokteran Indonesia Jalan Hang Jebat III Blok F3 Telpon : 62-21-7206623. 2006 Cetakan Pertama..5 x 24 cm ISBN 979-15546-4-1 1. 7254788.-. 7206655 Fax : 62-21-7244379 Jakarta Selatan ii Standar Kompetensi Dokter .

November 2006 Hardi Yusa. Di lain pihak. baik buruknya pelayanan kesehatan ditentukan proses dari hulu. Buku Standar Pendidikan Profesi Dokter serta Standar Kompetensi disusun sebagai standar dalam penyelenggaraan pendidikan kedokteran. MARS Ketua Konsil Kedokteran Indonesia Standar Kompetensi Dokter iii . Kepada tim penyusun dan para kontributor. dr..KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA KATA SAMBUTAN KETUA KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Assalamu'alaikum Wr. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Jakarta. SpOG. tersedianya alat dan teknologi yang canggih akan mudah memperoleh informasi dengan cepat sehingga masyarakat sebagai pengguna sadar akan hak-haknya disamping kewajiban-kewajiban yang harus ia penuhi. Kemajuan yang pesat dalam bidang ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengetahuan dan teknologi ilmu kedokteran menuntut tersedianya sumber daya manusia yang handal dan terampil serta profesional dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Perlu kita sadari bahwa akhir-akhir ini dirasakan peningkatan keluhan masyarakat baik di media elektronik maupun media cetak terhadap tenaga dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan. Buku Standar Kompetensi Dokter ini merupakan bagian dari Standar Pendidikan Profesi Dokter. kami ucapkan selamat dan penghargaan atas dedikasi dan terbitnya buku Standar Kompetensi Dokter ini. Wb. yaitu pendidikan profesi kedokteran dan menjunjung etika kedokteran. Kita memahami bahwa pelayanan kesehatan merupakan proses hilir. Semua ini tentu tidak terlepas dari bagaimana proses pendidikan yang dijalani tenaga kesehatan tersebut sehingga benar-benar memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai sebelum terjun di tengah-tengah masyarakat.

Proses penyusunannya juga memakan waktu yang cukup lama dan melibatkan seluruh stakeholders antara lain Organisasi Profesi (IDI). Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan Nasional. organisasi profesi. Kolegium Dokter Indonesia (KDI). untuk dapat meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di tanah air kita. Standar Kompetensi Dokter ini sesungguhnya merupakan bagian dari Standar Pendidikan Profesi Dokter. Konsil Kedokteran menyambut gembira dengan di terbitkannya buku Standar Kompetensi Dokter. Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI). atas selesainya buku Standar Kompetensi Dokter. Ikatan Rumah iv Standar Kompetensi Dokter . saya mengucapkan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada Divisi Pendidikan Konsil Kedokteran Indonesia. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Selain dari itu. Buku ini mengacu pada perkembangan terkini dari paradigma pendidikan dokter. kolegium. Para Dekan Fakultas Kedokteran. Kolegium Dokter Indonesia (KDI). Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI). yang merupakan hasil karya dan kerja keras semua stakeholders. Departemen Pendidikan Nasional. Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Wb. Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI). Ikatan Rumah Sakit Pendidikan Indonesia (IRSPI). rumah sakit pendidikan.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA KATA SAMBUTAN KETUA KONSIL KEDOKTERAN Assalamu'alaikum Wr. Standar Kompetensi Dokter ini dapat dimanfaatkan oleh institusi pendidikan kedokteran. dan Departemen Kesehatan sebagai acuan dalam mengatur kewenangan praktik kedokteran. Puji dan Syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat. Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI). petunjuk dan kekuatan-Nya kepada kita semua. yang diuraikan lebih rinci untuk kemudahan dalam penyusunan kurikulum pendidikan dokter. dan kemudian disahkan oleh Konsil Kedokteran Indonesia sesuai dengan amanah Undang-Undang RI No. bimbingan. Sebagai Ketua Konsil Kedokteran. yang di fasilitasi oleh Konsil Kedokteran Indonesia.

SpOG (K) Ketua Konsil Kedokteran Registrar Standar Kompetensi Dokter v . Dr. dr. terutama kepada mereka yang duduk dalam Kelompok Kerja Pendidikan Divisi Pendidikan Konsil Kedokteran yang selama ini telah bekerja keras menyusun standar kompetensi dokter ini Semoga buku Standar Kompetensi Dokter ini bermanfaat bagi kita semua dan segala upaya yang telah dilakukan ini akan bermanfaat dalam upaya mencapai tujuan kita bersama Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh Prof.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Sakit Pendidikan Indonesia (IRSPI). Farid Anfasa Moeloek. Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan Nasional.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA KATA PENGANTAR Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pasal 26 ayat (2) huruf a menyatakan bahwa standar pendidikan profesi dokter disusun oleh asosiasi institusi pendidikan kedokteran dan ayat (3) menyatakan asosiasi institusi pendidikan kedokteran atau kedokteran gigi dalam menyusun standar pendidikan profesi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a berkoordinasi dengan organisasi profesi. Kolegium Dokter Indonesia. daftar penyakit dan daftar keterampilan klinis. Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) menyerahkan draft pertama Standar Pendidikan Profesi Dokter dan Standar Kompetensi Dokter. serta dilengkapi dengan daftar masalah. Kami menyadari bahwa Standar Kompetensi Dokter ini masih jauh dari sempurna. Departemen Pendidikan Nasional. Departemen Pendidikan Nasional memberi masukan dengan menyerahkan rancangan Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia ke III (KIPDI III) kepada Divisi Standar Pendidikan Konsil Kedokteran. seluruh kolegium spesialis. Ikatan Rumah Sakit Pendidikan. Kami menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya terhadap semua pihak yang telah bekerja keras untuk ikut serta menyusun Standar Kompetensi Dokter ini. karena itu standar ini akan selalu disempurnakan secara berkala berdasarkan masukan dari berbagai pihak maupun dari bukti-bukti empiris. komponen kompetensi dan hasil pembelajaran. kolegium. dan Departemen Kesehatan. Departemen Pendidikan Nasional yang difasilitasi oleh Konsil Kedokteran Indonesia sejak bulan Oktober 2005 hingga November 2006. telah berhasil disusun Standar Kompetensi Dokter ini. Departemen Kesehatan. Pada bulan Oktober 2005. Draft pertama terdiri dari area kompetensi dan penjabarannya ke dalam kompetensi inti. vi Standar Kompetensi Dokter . aspek kerangka konsep maupun dari aspek legalitas. asosiasi rumah sakit pendidikan. Melalui serangkaian pertemuan yang melibatkan seluruh institusi pendidikan kedokteran. Penyusunan Standar Kompetensi Dokter dimulai dari draft pertama ini yang dikembangkan dengan mengacu pada perkembangan terkini paradigma pendidikan dokter ditinjau dari aspek empiris.

Kolegium. Departemen Kesehatan maupun masyarakat dalam menyelenggarakan pendidikan dokter dan bermanfaat pula sebagai acuan dalam memberikan wewenang praktik. sehingga pelayanan kesehatan yang bermutu. rumah sakit pendidikan. adil dan merata dapat diwujudkan di tanah air kita. Jakarta. organisasi profesi. semoga Standar Kompetensi Dokter ini bermanfaat bagi institusi pendidikan kedokteran. efektif. efisien. Departemen Pendidikan Nasional.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Kami mohon maaf apabila selama proses penyusunan Standar Kompetensi Dokter ini terdapat hal-hal yang kurang berkenan. Akhir kata. November 2006 Penyusun Standar Kompetensi Dokter vii . proses penyusunan standar kompetensi dapat berlangsung lebih baik. Semoga di masa yang akan datang.

viii Standar Kompetensi Dokter .

........................................ Pengertian Standar Kompetensi Dokter............................................................. Area Kompetensi.... Kata Pengantar................ 3........... Sistematika.............................KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA DAFTAR ISI Sambutan Ketua Konsil Kedokteran Indonesia ............ : Sistematika Standar Kompetensi Dokter......... Daftar Penyakit........ Daftar Kepustakaan...................................................................... 3.................................... Bab I : Pendahuluan............................................. : Standar Kompetensi Dokter............ B........................................................................................................................................................ Rasional.................................................... 1..... Bab IV................................................................ Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Daftar Masalah (Keluhan/Gejala).. 2..................................... 4.. A......................................................................... Komponen Kompetensi.. SK Pengesahan Standar Kompetensi Dokter.......... Standar Kompetensi Dokter .............. iii iv vi ix xi xiii 1 1 1 2 5 7 11 11 11 12 15 15 15 17 35 37 43 83 ix Bab II : Kebijakan Pembangunan Kesehatan di Indonesia........................... Lampiran............................................................................................................................................................................................. Ucapan Terima Kasih.................. Penjabaran Kompetensi.................................. Bab III............................ Pendahuluan........ Daftar Keterampilan Klinis................................... Daftar Isi........................................................................ Manfaat Standar Kompetensi Dokter.............................................................................................. Landasan Hukum............................... 2.......... 1................................................................. Sambutan Ketua Konsil Kedokteran....................... C...........

x Standar Kompetensi Dokter .

2. dipandang perlu mengesahkan Standar Kompetensi Dokter Gigi dengan Keputusan Konsil Kedokteran Indonesia. Tambahan Lembaran Negara Nomor 4301). Tambahan lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4431). Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3495). Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 116. MEMUTUSKAN: Menetapkan : Kesatu : KEPUTUSAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA TENTANG PENGESAHAN STANDAR KOMPETENSI DOKTER. Menimbang : a. dan Institusi Rumah Sakit Pendidikan Indonesia (IRSPI) sesuai dengan pasal 7 ayat (2) undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran beserta penjelasannya. Standar Kompetensi Dokter xi . b. 3. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 78. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a dan sebagai pelaksanaan dari Pasal 8 huruf c UndangUndang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. bahwa telah disusun standar kompetensi dokter oleh Konsil Kedokteran Indonesia bersama dengan Kolegium Dokter Indonesia (KDI)Asosiasi Institusi Kedokteran Indonesia (AIPKI). Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA KEPUTUSAN KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA NOMOR 21A/KKI/KEP/IX/2006 TENTANG PENGESAHAN STANDAR KOMPETENSI DOKTER KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA.

Sp. badan akreditasi dan pihak-pihak lain yang terkait.OG. dr. Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. mahasiswa. lembaga pemerintah dan swasta. Keempat Kelima : : Keenam : Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 28 September 2006 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA HARDI YUSA. Standar Kompetensi Dokter merupakan standar minimal yang harus dimiliki pada saat menyelesaikan pendidikan kedokterannya. Dalam melaksanakan prakteknya seorang dokter setidaknya memiliki kompetensi rata-rata dokter yang sekualifikasi pada situasi dan kondisi yang sebanding. rumah sakit pendidikan. Standar Kompetensi Dokter sebagaimana dimaksud dalam Diktum Kedua diperuntukkan bagi semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan profesi dokter antara lain institusi pendidikan kedokteran .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Kedua Ketiga : : Mengesahkan Standar Kompetensi Dokter yang merupakan acuan dalam penyelenggaraan pendidikan profesi dokter. xii Standar Kompetensi Dokter . MARS KETUA.

dr. F. dr.OG (K) – Ketua Konsil Kedokteran Prof.Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter Siti Oetarini Sri Widodo..OG (K) – Ketua Divisi Standar Pendidikan Profesi Dokter Prof.I. PhD – Ketua Sub Pokja Pendidikan Dokter Prof. dr. Paul Tahalele. dr. Asril Aminullah.Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter Spesialis Dr. dimulai dari usulan draf-1 (pertama) hingga diterbitkannya buku Standar Kompetensi Dokter ini.P (K) .PA . Biran Affandi... Dr.B – Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter Spesialis Prof. Sp.B. Sp. MA. Dr.. Anwar Yusuf.Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter Spesialis Mulyono Soedirman. KGH..Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter Dasar Prof. dr. dr.. dr. Santoso. dr. Sp. Sp. Ratna Sitompul. dr.. PhD.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA UCAPAN TERIMA KASIH Konsil Kedokteran Indonesia menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu.. Hardyanto Soebono.Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter Spesialis Achmad Rudiyanto.. Sp. dr. Dr... Sp. KEMD .. dr.. MS . dr..A . Dr. dr.Ed.PD. dr. dr.M – Anggota Sub Pokja CPD Hardi Yusa. Sp. Sp. Wiguno Prodjosudjadi. Sp.. Sp. MARS – Ketua Konsil Kedokteran Indonesia Parni Hardi – Wakil Ketua Konsil Kedokteran Indonesia Standar Kompetensi Dokter xiii .. MARS . – Divisi Standar Pendidikan Profesi Dokter Titi Savitri Prihatiningsih.OG – Anggota Sub Pokja CPD Dr. PFK – Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter Sugito Wonodirekso. MMed.OT – Ketua Sub Pokja CPD Suryono S. Sp.PD. dr.OG.A.KK (K) .Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter M. Djauhari Widjajakusumah.. Moeloek. Sp. Sp.Anggota Sub Pokja Pendidikan Dokter Spesialis Dodi Firmanda. Meliana Zailani. dr. Kontributor o o o o o o o o o o o o o o o o o o o Prof. dr.. Sp.A (K) – Ketua Sub Pokja Pendidikan Dokter Spesialis Prof. Sp.

. SKM. dr..KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o Emmyr Faizal Moeis.Divisi Registrasi. dr. Dr..Divisi Registrasi. Dra. dr. Bandung A. MS .S. Konsil Kedokteran Kresna Adam. SE – Divisi Pembinaan. Hardyanto Soebono. Subijanto.. Dr. Konsil Kedokteran Gigi Dr. SpS .. dr. SpP (K)..A. Sp. Konsil Kedokteran Gigi Adrijati Rafly. SpKK (K) – Ketua Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia M.Dekan FK Universitas Padjadjaran. Semarang HM. PAK . dr.. MS .. PhD.Dekan FK Universitas Sumatera Utara H. MPH . dr. SpKK (K) . SpMK.BM ... drg. dr. Bratakoesoemah. Dr. MMR . drg.Dekan FK Universitas Indonesia..Dekan FK Universitas Diponegoro. Surakarta Prof.Dekan FK Universitas Gajah Mada... PFK ..KGA – Ketua Konsil Kedokteran Gigi Prof. MSc – Ketua Divisi Registrasi..Dekan FK Universitas Jenderal Sudirman.. Djauhari Widjajakusumah. Retno Hayati Sugiarto. Konsil Kedokteran I Putu Suprapta. T. Hardyanto Soebono. Fadil Oenzil. drg.. Mulyohadi Ali..PM – Divisi Standar Pendidikan Profesi Dokter Gigi Bambang Guntur Hamurwono.SpGK . FCCP . dr. Mkes . Mambodyanto.Ketua Divisi Pembinaan. Bahri Anwar. Konsil Kedokteran Ieke Irdjiati SA. Konsil Kedokteran Gigi Prof. dr. SpJP (K) . drg. dr.Dekan FK Universitas Airlangga. Konsil Kedokteran Gigi Abidinsyah Siregar. DHSM. Yogyakarta Dr. dr.KGA – Ketua Divisi Standar Pendidikan Profesi Dokter Gigi Afi Savitri Sarsito. Sp. – Divisi Pembinaan. dr. KGEH . dr. dr.Dekan FK Universitas 11 Maret. Efrida Warganegara. Sp. drg.Jakarta Prof. Dr.FK – Ketua Divisi Pembinaan. Aceh Prof. Sp.A. Sp. SH. drg.Ketua Kolegium Dokter Indonesia Syahrul.Dekan FK Universitas Syiah Kuala. Dr. MKes – Sekretaris Konsil Kedokteran Indonesia Prof..... Purwokerto Prof. Dr. SpPD. dr. Sp. dr.Wakil Ketua Konsil Kedokteran Indonesia Prof. dr. H. Andi Zainal. Palembang Dr. Surabaya xiv Standar Kompetensi Dokter .M. M. Dr. SpA (K) .. dr. dr.. Wijadi.Dekan FK Universitas Sriwijaya.M – Ketua Divisi Registrasi. Anon Surendro. H. Roosje Rosita Oewen. Oediyani Santoso.Dekan FK Universitas Lampung Meinaldi Rasmin. SpOG (K) . drg. Dinan S.. Padang Zarkasih Anwar. SpTHT (K) ..Dekan FK Universitas Riau Prof. MARS . Konsil Kedokteran Tini S Hadad. Sp.Dekan FK Universitas Andalas.

dr. dr. Wahyu Karhiwikarta. Banten Syafri Guricci. Jakarta H.Dekan FK Universitas Yarsi.Dekan FK Universitas Sam Ratulangi... .M. dr. dr.. Budhianto Suhadi. dr. dr...Dekan FK Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. dr. SpS . Riyani Wikaningrum..Dekan FK Universitas Kristen Krida Wacana. SpAnd .Dekan FK Universitas Malahayati. dr. Manado H.Dekan FK Universitas Jenderal Ahmad Yani. MSc – Dekan FK Universitas Trisakti. Wahyuning Ramelan.. . dr... Jakarta Hj. Dr.o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o Harijanto. SpOG(K) ..Dekan FK Universitas Lambung Mangkurat. H.. . dr. PhD – Dekan FK Universitas Hasanudin.. dr. MSc . Soedjono Aswin.FK Universitas Jambi I. MARS ..Dekan FK Universitas Islam Bandung Prof.N. dr. Malang Wasis Prajitno. Dr. dr. MSc . Jakarta Tom Surjadi. Dr. Bandung Prof.Dekan FK Universitas Mulawarman. Banjarmasin Emil Bachtiar Moerad. Kalimantan Timur Prof. dr... Teddy Rochantoro.Dekan FK Universitas Muhammadyah Surakarta .Dekan FK Universitas Mataram.Dekan FK Universitas Tanjung Pura. Dr. SpA (K) . dr. DMM. dr. Dr.. dr. SpKJ (K) . Jojo R Noor. dr. SpR .. Jakarta Buddy HW Utoyo.Dekan FK Universitas Tarumanegara. dr. Jakarta Djap Hadi Susanto.. dr. DTM&H . Bali H.Dekan FK Universitas “Veteran”.Dekan FK Universitas Katolik Atmajaya. SpOG . SpOG .Dekan FK Universitas Muhammadyah Jakarta Prof. Nugroho Abikusno. MSPH . Doddy Ario Kumboyo.Dekan FK Universitas Kristen Indonesia. SpFK (K) . SpP . Anom Murdhana dr. SpKO. Dr. dr.. Lampung H. RM. Cimahi Surja Tanurahardja.G.. Kalimantan Barat Irawan Yusuf.Dekan FK Universitas Cendrawasih.Dekan FK Universitas Pelita Harapan. Jakarta Satya Joewana. Makasar Prof. S.. Jakarta Prof. AIF . MS . dr.Dekan FK Universitas Maranatha. Warouw. MPH. MPH . Jayapura Dr.Dekan FK Universitas Jember Chris Adhiyanto. dr. MSc .Dekan FK Universitas Brawijaya. Jakarta Angkasa Sebayang.. Nusa Tenggara Barat Paulina Watofa. F..Dekan FK Universitas Udayana. . Hasyim Fachir..X.. dr. .. dr. Herri S Sastramihardja.

SpOT . Angela B.Ketua Kolegium Bedah Orthopaedi Indonesia Dr. SpU . Dr. dr.. SpB.Ketua Kolegium Parasitologi Klinik Prof. dr. MS. SpKK. SpTHT-KL ..Ketua Kolegium Bedah Plastik Indonesia Prof. dr.. Tulaar. SpRad. SpPA (K) . dr. dr. Farid Nur Mantu. SpBTKV . Triyono KSP .. dr. Padmo Santjojo..Ketua Kolegium Urologi Indonesia Samino. dr. SpPK . dr. dr.. SH. DMM. Hidung. dr. Dr. dr. Djoko Rahardjo. Armen Muchtar.Ketua Kolegium Telinga. SpJP . SpParK . dr.Ketua Kolegium Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Prof. dr. SpS (K) .Ketua Kolegium Kedokteran Okupasi Otto Maulana... Masrin Munir. Wahyuning Ramelan. dr.Ketua Kolegium Andrologi xvi Standar Kompetensi Dokter .Ketua Kolegium Kedokteran Nuklir Indonesia Prof. SpBP . dr.Ketua Kolegium Mikrobiologi Klinik Agnes Kurniawan. . Dr. Dr. SpPD-KE . Dr. SpBS . Rustadi Sosrosumihardjo. Soemilah Sastroamidjojo... dr.. Tenggorok dan KL Prof. SpGK .Ketua Kolegium Bedah Syaraf Bisono.Ketua Kolegium Bedah Anak Prof. SpKL .Ketua Kolegium Ilmu Kedokteran Fisik & Rehabilitasi Dr. Budi Sampurna.. PhD.. dr. MSc. dr. SpF – Ketua Kolegium Kedokteran Forensik Indonesia Prof. SpKP ...... Dr. Sumakmur PK. I Made Nasar. SpKJ (K) . dr. Imam Supardi.Ketua Kolegium Patologi Klinik Prof. SpB. Dr.Ketua Kolegium Gizi Klinik Prof. SpOK .Ketua Kolegium Kedokteran Penerbangan Indonesia Prof.. Siti Aisah.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o Prof.Ketua Kolegium Neurologi Prof. SpRM (K) ..Ketua Kolegium Radiologi Indonesia Prof. dr.Ketua Kolegium Kedokteran Kelautan Indonesia Soleh Nugraha. Johan S Masjhur. SpBA . dr..Ketua Kolegium Ofthalmologi H.. Dr... SpM (K) .Ketua Kolegium Patologi Anatomi Prof. Med Puruhito. Djoko Roesadi. Mardiono Marsetio. SpMK .. dr.Ketua Kolegium Psikiatri Indonesia Dr. SpAndr ..Ketua Kolegium Ilmu Penyakit Jantung & Pembuluh Darah Prof. SpFK . dr. dr.Ketua Kolegium Bedah Thoraks & Kardiovaskuler Prof. Dede Kusmana. SpKK (K) . dr..Ketua Kolegium Farmakologi Klinik Prof. Sasanto Wibisono. dr.

Dekan FK Universitas Hang Tuah.Yogyakarta Erwin Santosa. Dr. A. MARS – IDI Wilayah Jawa Barat Mohamad Isa. Nuzirwan Acang. SpA. dr.. SpOG (K) – Ketua Kolegium Obstetri dan Ginekologi Indonesia Prof. KBD . dr. dr. Soepratiknjo BS. PhD. Biran Affandi. Sp. Semarang Riana Rahmawati.Ketua Kolegium Ilmu Bedah Indonesia Arwin A...PD – IDI Wilayah Sumatera Barat Prof. Aryono J Pusponegoro.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o Prof. SpP (K) – Ketua Kolegium Paru Indonesia Prof. SpRad .. Wiguno Prodjosudjadi. dr.Dekan FK Universitas Muhammadyah Malang H.. Makasar Fanani. A.. SpPark . Nasihun. Taufiq R.Dekan FK Universitas Wijaya Kusuma.. dr. Chalik..Dekan FK Universitas Islam. . dr. dr. Mkes . dr. dr.Mkes .. Fachmi Idris.P . Dr. Soedarto Ronoatmodjo.PD. SpOG . Anwar Yusuf. Surabaya Adi Rahmat. KGH – IDI Wilayah Jawa Timur Bantuk Hadiyanto.. Aceh H. dr. Dr.A. SpA. dr. MSc – Wakil dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Prof. dr.. Mkes . Malang Fathoni Sadani. dr.Dekan FK Universitas Islam Sultan Agung. dr. PhD .. Akib. SpPD . PhD. Sp.Dekan FK Universitas Abulyatama. Aris Widodo.. SpFK . Dr. dr. Sumatera Utara Prof. dr..Dekan FK Universitas Islam Indonesia. SKM. dr..Dekan FK Universitas Islam. MKes – Wakil dari Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia Prof. dr. PhD . SpAn (K) – Ketua Kolegium Anestesiologi Standar Kompetensi Dokter xvii ..Dekan FK Universitas Methodis Indonesia. Basir Palu. Amir Muslim Malik.OG – IDI Wilayah Jawa Tengah Wawang S..Dekan FK Universitas Baiturrahmah... T... Roesli A Thaib.M.OG (K). H. Depary.. dr.KK – IDI Wilayah Sulawesi Utara Pranawa. Medan Prof. Mkes . Winsy Warrow.M. dr. KGH – Ketua Kolegium Ilmu Penyakit Dalam Prof. Sukarya.Padang H. SpB.Dekan FK Universitas Muslim Indonesia. dr. dr. .. Dr. dr. SpPD. Abdul Razak Datu. dr.A. MS. dr.. Sp. DTM&H. MHA – IDI Wilayah Sulawesi Selatan Prof. SpA (K) – Ketua Kolegium Ilmu Kesehatan Anak Indonesia Prof. Sp..Dekan FK Universitas Muhammadyah Yogyakarta Prof.. dr. Sp. Nusa Tenggara Barat Dr.. dr. dr.P – IDI Wilayah Kalimantan Selatan M. Sp.. Surabaya Sartono.Dekan FK Universitas Islam Al-Azhar.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA o o Hario Tilarso.BTK – Wakil dari Majelis Kolegium xviii Standar Kompetensi Dokter . Sp. SpKO – Ketua Kolegium Kedokteran Olah Raga Soerarso Hardjosuwito. dr. dr.B... Sp.

KIPDI II diterbitkan dan masih menitikberatkan pada penguasaan disiplin ilmu sehingga gambaran dokter yang akan dihasilkan belum terinci secara eksplisit. Rasional Sejak tahun 1982. Oleh karena itu proses penyusunan Standar Kompetensi Dokter ini melibatkan berbagai pihak pengandil secara intensif melalui serangkaian 1 Standar Kompetensi Dokter . karena menyesuaikan dengan perkembangan peraturan terkini yang tercantum pada SK Mendiknas No. Undang-Undang RI Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas. ikatan rumah sakit pendidikan. 2. Undang-Undang RI Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. telah disepakai bahwa KIPDI akan diperbarui setiap 10 tahun.045/U/2002.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA BAB I PENDAHULUAN 1. Pada tahun 1994. Standar Kompetesensi Dokter disusun untuk memperbarui KIPDI II tahun 1994 yang sudah saatnya diganti. kolegium. pendidikan dokter di Indonesia mengacu pada 'Kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia' atau KIPDI I yang menitikberatkan pada penguasaan disiplin ilmu. Landasan Hukum Standar Kompetensi Dokter ini disusun dalam rangka memenuhi amanah Undang-Undang RI Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pasal 8 yang mengatakan bahwa Konsil Kedokteran Indonesia memiliki wewenang untuk mengesahkan standar kompetensi dokter dan dokter gigi. dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Departemen Pendidikan Nasional dan Departemen Kesehatan. Format Standar Kompetensi Dokter berbeda dengan KIPDI sebelumnya. Sesuai dengan percepatan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan. Pasal 26 undang-undang tersebut menyatakan lebih lanjut bahwa Standar Pendidikan Profesi Kedokteran disusun oleh Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia dan berkoordinasi dengan organisasi profesi.

melakukan 'judgement'. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 35 tentang Standar Nasional Pendidikan mengatakan bahwa standar pendidikan nasional digunakan acuan dalam mengembangkan kurikulum. Draft standar kompetensi telah didistribusikan ke seribu alamat di seluruh Indonesia untuk mendapat masukan. 045/U/2002 kompetensi adalah 'seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas- 2 Standar Kompetensi Dokter . Kolegium Dokter Indonesia. Undang-Undang RI No. Pasal 38 ayat (3) mengatakan bahwa Kurikulum pendidikan tinggi dikembangkan oleh perguruan tinggi yang bersangkutan dengan mengacu pada standar nasional pendidikan untuk setiap program studi. kompetensi lulusan. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi. dan memperbaiki draft. 3. pengelolaan. sarana dan prasarana. Draft terakhir dirapatkan secara pleno oleh Konsil Kedokteran Indonesia. Standar Kompetensi Dokter ini merupakan standar nasional keluaran program studi dokter dan telah divalidasi oleh Perkumpulan Dokter Keluarga Indonesia. Pengertian Standar Kompetensi Dokter Menurut SK Mendiknas No. dan pembiayaan.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA pertemuan yang difasilitasi oleh Divisi Standar Pendidikan Profesi. pengelolaan. sarana dan prasarana. Konsil Kedokteran Indonesia. SubPokja Pendidikan Dokter yang dibentuk oleh Konsil Kedokteran Indonesia dengan SK Nomor 09/KKI/III/2006. mengkompilasi seluruh masukan. dan penilaian pendidikan yang harus ditingkatkan secara berencana dan berkala. tenaga kependidikan. Standar Kompetensi Dokter adalah standar output atau keluaran dari program studi dokter. Kolegium-Kolegium Spesialis terkait serta seluruh Bagian atau Departemen terkait dari seluruh institusi pendidikan kedokteran di Indonesia yang berjumlah 52 (lima puluh dua). Standar Kompetensi Dokter ini merupakan satu kesatuan dengan Standar Pendidikan Profesi Dokter. tenaga kependidikan. proses. pembiayaan.

Carraccio. Landasan kepribadian b. emotions. et. skills. Sikap dan perilaku dalam berkarya menurut tingkat keahlian berdasarkan ilmu dan keterampilan yang dikuasai e. Pemahaman kaidah berkehidupan masyarakat sesuai dengan keahlian dalam berkarya. Elemen-elemen kompetensi terdiri dari : a. technical skills. Kemampuan berkarya d. clinical reasoning. tampak bahwa pengertian kompetensi dokter lebih luas dari tujuan instruksional yang dibagi menjadi tiga ranah pendidikan. Epstein and Hundert (2002) memberikan definisi sebagai berikut : “Professional competence is the habitual and judicious use of communication. (2002) menyimpulkan bahwa : “Competency is a complex set of behaviorsbehaviours built on the components of knowledge. Dari beberapa pengertian di atas.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA tugas di bidang pekerjaan tertentu'. knowledge.al. psikomotor dan afektif. Standar Kompetensi Dokter 3 . Penguasaan ilmu dan keterampilan c. Tabel 1 memperlihatkan beda pokok antara tujuan instruksional dengan pernyataan kompetensi. values. yaitu pengetahuan. and reflection in daily practice to improve the health of the individual patient and community”. attitude and competence as personal ability”.

maka kurikulum program studi pendidikan dokter perlu disesuaikan. skill or attitude to be acquired and attitude objectives Generally discipline specific Context-free Professional values unaddressed Draws from multiple disciplines relevant to practice Related to an actual task in the fieldcontextualised Driven by professional practices and values Defines knowledge. Artinya. maka yang bersangkutan akan mampu : . 4 Standar Kompetensi Dokter . skill Integrates related knowledge. skill or attitude Defines a level of ability for an separately observable outcome Dengan dikuasainya standar kompetensi oleh seorang profesi dokter.mengerjakan tugas atau pekerjaan profesinya .Segera tanggap dan tahu apa yang harus dilakukan bilamana terjadi sesuatu yang berbeda dengan rencana semula . Model kurikulum yang sesuai adalah kurikulum berbasis kompetensi.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Table 1.Melaksanakan tugas dengan kondisi berbeda Dengan telah ditetapkannya keluaran dari program dokter di Indonesia berupa standar kompetensi.Menggunakan kemampuan yang dimiliki untuk memecahkan masalah di bidang profesinya . pengembangan kurikulum berangkat dari kompetensi yang harus dicapai mahasiswa. 2002) Instructional Objectives Competencies States an aspect of knowledge. Differences between instructional objectives and Competency Statement (Wilkerson.mengorganisasikan tugasnya agar pekerjaan tersebut dapat dilaksanakan .

Sehingga. dalam hal ini dokter. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan yang mengatakan bahwa kurikulum program studi menjadi wewenang institusi pendidikan kedokteran. tetapi dokter yang dihasilkan dari berbagai institusi diharapkan memiliki kesetaraan dalam hal penguasaan kompetensi. Berikut ini beberapa manfaat dari Standar Kompetensi Dokter bagi pihak pengandil terkait. Bagi institusi pendidikan kedokteran Sesuai dengan Undang-Undang RI No. agar dapat memberikan pelayanan kesehatan yang baik. Manfaat Standar Kompetensi Dokter Adanya Standar Kompetensi Dokter merupakan tonggak yang bersejarah bagi perkembangan pendidikan dokter di Indonesia. Bagi Pengguna Standar Kompetensi Dokter dapat dijadikan kerangka acuan utama bagi Departemen Kesehatan maupun Dinas Kesehatan Propinsi ataupun Kabupaten dalam pengembangan sumber daya manusia kesehatan. a. walaupun kurikulum berbeda. Standar Kompetensi Dokter 5 . maka Standar Kompetensi Dokter merupakan kerangka acuan utama bagi institusi pendidikan kedokteran dalam mengembangkan kurikulumnya masing-masing. Dengan Standar Kompetensi. Dengan demikian pihak Depkes dan Dinas Kesehatan dapat menyelenggarakan pembekalan atau pelatihan jangka pendek sebelum memberikan ijin Praktik.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 4. Depkes dan Dinas Kesehatan sebagai pihak yang akan memberikan lisensi dapat mengetahui kompetensi apa yang telah dikuasai oleh dokter dan kompetensi apa yang perlu ditambah. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas dan Peraturan Pemerintah No. b. sesuai dengan kebutuhan spesifik di tempat kerja.

e. Bagi Kolegium-Kolegium Spesialis Standar Kompetensi Dokter dapat dijadikan acuan dalam merumuskan kompetensi dokter spesialis yang merupakan kelanjutan dari pendidikan dokter. h. karena mahasiswa mengetahui sejak awal kompetensi yang harus dikuasai di akhir pendidikan. f. Program Adaptasi bagi Lulusan Luar Negeri Standar Kompetensi Dokter dapat digunakan sebagai acuan untuk menilai kompetensi dokter lulusan luar negeri. Bagi orang tua murid dan penyandang dana Dengan standar kompetensi dokter. Hal ini sebagai bentuk akuntabilitas publik d. Bagi Departemen Pendidikan Nasional dan Badan Akreditasi Nasional Standar Kompetensi Dokter dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi kriteria pada akreditasi program studi pendidikan dokter.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA c. orang tua murid dan penyandang dana dapat mengetahui secara jelas kompetensi yang akan dikuasai oleh mahasiswa. Dengan demikian proses pendidikan diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan efisien. 6 Standar Kompetensi Dokter . Bagi Kolegium Dokter Indonesia Standar Kompetensi Dokter dapat dijadikan acuan dalam menyelenggarakan program pengembangan profesi secara berkelanjutan. g. Bagi mahasiswa Standar Kompetensi Dokter dapat digunakan oleh mahasiswa untuk mengarahkan proses belajarnya.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut telah Standar Kompetensi Dokter 7 . Untuk dapat mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya perlu diselenggarakan berbagai upaya kesehatan dengan menghimpun seluruh potensi Bangsa Indonesia. poliklinik. balai pengobatan. Pelayanan pengobatan tradisional dan alternatif yang diselenggarakan adalah yang secara ilmiah telah terbukti keamanan dan khasiatnya (SK Menkes No. Subsistem upaya kesehatan menghimpun berbagai upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan upaya kesehatan perorangan (UKP) secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya (SK Menkes No.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA BAB II KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KESEHATAN DI INDONESIA Sistem Kesehatan Nasional 2004 ditetapkan menurut SK Menkes No. 131/MENKES/SK/II/2004). Salah satu contohnya adalah akupuntur. 131/MENKES/SK/II/2004. Wujud UKP strata pertama adalah berbagai bentuk pelayanan professional seperti praktik bidan. praktik dokter. Sistem Kesehatan Nasional (SKN) merupakan pedoman bagi semua pihak dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan di Indonesia. 131/MENKES/SK/II/2004). praktik dokter gigi. Sesuai dengan pengertian SKN. SKN adalah suatu tatanan yang menghimpun berbagai upaya Bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung. dan puskesmas. yang mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan dasar yang ditujukan kepada perorangan. praktik bersama. kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. maka subsistem pertama SKN adalah upaya kesehatan. praktik perawat. Yang dimaksud dengan UKP strata pertama adalah UKP tingkat dasar. Dalam UKP strata pertama juga termasuk pelayanan pengobatan tradisional dan alternatif. Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran. guna menjamin derajat kesehatan setinggi-tingginya sebagai perwujudan kesejahteraan umum seperti dimaksud dalam Pembukaan UUD 1945. rumah bersalin. serta pelayanan kebugaran fisik dan kosmetika.

kuratif dan rehabilitatif b. yang merupakan cerminan masyarakat. Pelayanan yang continue a. dari pendidikan yang berbasis penguasaan disiplin ilmu ke pendidikan yang berbasis kompetensi sesuai dengan kompetensi yang diperlukan pada upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan upaya kesehatan perorangan (UKP) strata pertama. promotif. perlu ada penyesuaian orientasi pendidikan dokter. 2005). Untuk melaksanakan visi tersebut. holistik. Gerakan Pembangunan Berwawasan Kesehatan yang telah dicanangkan sejak tahun 1999. dan dalam lingkungan sehat. Memandang manusia sebagai manusia seutuhnya 2. Preventif. dan dilaksanakan secara paripurna.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA diciptakan Visi Indonesia Sehat 2010. dan merupakan salah satu strategi pembangunan kesehatan nasional Indonesia menuju Indonesia Sehat 2010 (Depkes. pada UKM dan UKP strata pertama dibutuhkan pelayanan kesehatan yang memiliki karakteristik sebagai berikut : 1. Oleh karena itu. Pelayanan yang komprehensif dengan pendekatan holistik a. Mempunyai rekam medis yang diisi dengan cermat 8 Standar Kompetensi Dokter . berkesinambungan serta berkoordinasi dengan profesi kesehatan lainnya. Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan yang berlandaskan paradigma sehat tersebut maka diperlukan lulusan dokter yang dapat berperan serta dan merupakan ujung tombak dalam upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan upaya kesehatan perorangan (UKP) strata pertama yang mencakup pelayanan kesehatan professional terhadap semua spektrum usia dan semua jenis penyakit sedini mungkin. 2005). Sesuai dengan Paradigma Sehat. merupakan paradigma baru yang dikenal dengan Paradigma Sehat. serta memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. bangsa dan Negara Indonesia dengan ditandai oleh penduduknya yang hidup dengan perilaku sehat. salah satu misi Depkes adalah meningkatkan kinerja dan mutu upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan (Depkes. di seluruh wilayah Negara Kesehatan Republik Indonesia.

6. Selalu mempertimbangkan pengaruh keluarga. 8. Rekam medis yang lengkap dan akurat yang dapat dibaca orang lain b. Mengkonsultasikan atau merujuk pasien pada waktunya c. a. 5. lingkungan kerja. masyarakat dan lingkungannya yang dapat mempengaruhi penyakitnya. Kesadaran akan keterbatasan kemampuan dan kewenangan e. Untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan seperti dijelaskan di atas. Mencegah kecatatan Pelayanan yang koordinatif dan kolaboratif a. Penanganan personal pasien sebagai bagian integral dari keluarga Pelayanan yang mempertimbangkan faktor keluarga. 9. dan lingkungan tempat tinggal. b. Memanfaatkan keluarga. Kerjasama profesional dengan semua pengandil agar dicapai pelayanan bermutu dan kesembuhan optimal b. Penggunaan evidence-based medicine untuk pengambilan keputusan d. b. Standar Kompetensi Dokter 9 . komunitas. komunitas. Standar Pelayanan Medis c. Pelayanan yang menjunjung tinggi etika dan hukum Pelayanan yang sadar biaya dan sadar mutu Pelayanan yang dapat diaudit dan dipertanggungjawabkan yang merupakan perwujudan dari adanya : a. Memanfaatkan potensi pasien dan keluarganya seoptimal mungkin untuk penyembuhan. dan lingkungannya untuk membantu penyembuhan penyakitnya.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 3. Kesadaran untuk mengikuti perkembangan ilmu melalui belajar sepanjang hayat dan pengembangan profesi berkelanjutan. Mendiagnosis dan mengobati penyakit sedini mungkin b. 7. maka diperlukan lulusan dokter dengan kompetensi yang sesuai dengan peran dan tugas dokter dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan tersebut. Menjalin kerjasama dengan profesi dan instansi lain untuk kepentingan pasien agar proses konsultasi dan rujukan berjalan lancar Pelayanan yang mengutamakan pencegahan a. 4.

10 Standar Kompetensi Dokter .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Standar kompetensi dokter dirumuskan dengan mengacu pada peran dan tugas dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan pada UKM dan UKP strata pertama.

fungsi dan peran seorang dokter dalam UKM dan UKP Strata Pertama Standar Kompetensi Dokter 11 . Setiap area kompetensi ditetapkan definisinya. Tugas . yang diperinci lebih lanjut menjadi kemampuan. peran dan fungsi seorang dokter dalam Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) strata pertama.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA BAB III SISTEMATIKA STANDAR KOMPETENSI DOKTER 1. Sistematika Standar kompetensi terdiri dari 7 (tujuh) area kompetensi yang diturunkan dari gambaran tugas. Gambar berikut ini mengilustrasikan penjabaran kompetensi. fungsi dan peran seorang dokter dalam UKM dan UKP Strata Pertama Pendidikan dokter Kemampuan yang harus dikuasi agar kompeten dalam melaksanakan tugas. 2. yang disebut kompetensi inti. Setiap area kompetensi dijabarkan menjadi beberapa komponen kompetensi. peran dan fungsi seorang dokter dalam UKM dan UKP Strata Pertama Pengembangan Kurikulum Komponen kompetensi yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas. Pendahuluan Standar Kompetensi dokter yang disusun mengacu pada gambaran dokter yang dibutuhkan untuk mencapai Indonesia Sehat 2010 seperti dijelaskan pada Bab II sebelumnya.

mahasiswa kedokteran dipaparkan pada masalah-masalah tersebut dan diberi kesempatan berlatih menangani masalah tersebut. 12 Standar Kompetensi Dokter . Lampiran 1 daftar masalah berisikan berbagai masalah yang akan dihadapi dokter di UKM dan UKP strata pertama dan dokter harus mampu menangani masalah tersebut. susunan Standar digambarkan seperti berikut ini : Area Kompetensi Kompetensi Inti Komponen Kompetensi Kompetensi Dokter dapat Hasil Pembelajaran atau Kemampuan yang diharapkan di akhir pendidikan Lampiran 1 Daftar Masalah Lampiran 2 Daftar Penyakit Lampiran 3 Daftar Keterampilan Klinis 3. yaitu lampiran 1 daftar masalah. institusi pendidikan kedokteran perlu memastikan bahwa selama pendidikan.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Secara skematis. Lampiran Standar kompetensi ini dilengkapi dengan tiga lampiran. Oleh karena itu. lampiran 2 daftar penyakit dan lampiran 3 daftar keterampilan klinis. Fungsi utama lampiran ini adalah sebagai pedoman bagi institusi pendidikan kedokteran dalam mengembangkan kurikulum institusional. Lampiran memberikan garis besar cakupan dan isi kurikulum sebagai rujukan.

sehingga memudahkan bagi institusi pendidikan kedokteran untuk menentukan kedalaman dan keluasan (the depth and the breadth) dari isi kurikulum. Standar Kompetensi Dokter 13 . 3. Daftar penyakit ini memberikan arah bagi institusi pendidikan kedokteran untuk mengidentifikasikan isi kurikulum. Tujuan utama pendidikan dokter adalah mempersiapkan lulusan dokter yang dapat bekerja secara profesional pada upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) strata pertama. Lampiran 3 daftar keterampilan klinik berisikan keterampilan klinik yang perlu dikuasai oleh dokter di UKM dan UKP strata pertama di Indonesia. Dianjurkan untuk menerapkan strategi pembelajaran berfokus pada mahasiswa (student-centred learning). 4. Pendidikan dokter harus memberikan dasar yang kuat untuk melanjutkan ke pendidikan lanjut. Standar Kompetensi Dokter ini meliputi 80% dari total kurikulum suatu program studi. 5. Pada setiap penyakit telah ditentukan tingkat kemampuan yang diharapkan. Daftar ini memudahkan institusi pendidikan kedokteran untuk menentukan materi dan sarana untuk pembelajaran keterampilan klinik. Pembelajaran klinik (clinical teaching) pada UKM dan UKP strata pertama perlu diperbanyak. 6. Dianjurkan untuk menerapkan integrasi horisontal dan vertikal pada kurikulum. 2. Berikut ini beberapa prinsip pengembangan kurikulum berbasis kompetensi : 1.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Lampiran 2 daftar penyakit berisikan penyakit-penyakit yang merupakan diagnosis banding dari masalah yang dijumpai pada lampiran 1. Pada setiap keterampilan telah ditentukan tingkat kemampuan yang diharapkan.

14 Standar Kompetensi Dokter .

2. 3. Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya Berkomunikasi dengan sejawat Berkomunikasi dengan masyarakat Berkomunikasi dengan profesi lain Area Keterampilan Klinis 5. Area Kompetensi: 1. Komponen Kompetensi Area Komunikasi Efektif 1. 4. Moral. 2. 5. 3. 4.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA BAB IV STANDAR KOMPETENSI DOKTER A. 7. 6. dan ilmu kesehatan masyarakat sesuai dengan pelayanan kesehatan tingkat primer Standar Kompetensi Dokter 15 . perilaku. Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu biomedik. Komunikasi efektif Keterampilan Klinis Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran Pengelolaan Masalah Kesehatan Pengelolaan Informasi Mawas Diri dan Pengembangan Diri Etika. Memperoleh dan mencatat informasi yang akurat serta penting tentang pasien dan keluarganya Melakukan prosedur klinik dan laboratorium Melakukan prosedur kedaruratan klinis Area Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran 8. 7. Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien B. klinik. 6.

21. Merangkum dari interpretasi anamnesis. Mengelola penyakit. serta penjagaan. 10. Area Mawas Diri dan Pengembangan Diri 19. Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien 22. 15. 13. keadaan sakit dan masalah pasien sebagai individu yang utuh. tindakan pencegahan dan promosi kesehatan. 12. 14. pemeriksaan fisik. pemberian terapi. 20. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penegakan diagnosis. Moral. Menerapkan mawas diri Mempraktikkan belajar sepanjang hayat Mengembangkan pengetahuan baru Area Etika.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 9. dan pemantauan status kesehatan pasien Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi Memanfaatkan informasi kesehatan 17. uji laboratorium dan prosedur yang sesuai Menentukan efektivitas suatu tindakan Area Pengelolaan Masalah Kesehatan 11. bagian dari keluarga dan masyarakat Melakukan Pencegahan Penyakit dan Keadaan Sakit Melaksanakan pendidikan kesehatan dalam rangka promosi kesehatan dan pencegahan penyakit Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan Mengelola sumber daya manusia serta sarana dan prasarana secara efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan kedokteran keluarga Area Pengelolaan Informasi 16. 18. Memiliki Sikap profesional 16 Standar Kompetensi Dokter .

1. kekhawatiran. 27. Lulusan Dokter Mampu 1. Berkomunikasi dengan pasien serta anggota keluarganya 1. kolega dan profesi lain 1.2. Berperilaku profesional dalam bekerja sama Sebagai anggota Tim Pelayanan Kesehatan yang profesional Melakukan praktik kedokteran dalam masyarakat multikultural di Indonesia Memenuhi aspek medikolegal dalam praktik kedokteran Menerapkan keselamatan pasien dalam praktik kedokteran C.1. Penjabaran Kompetensi 1. 25. Bersambung rasa dengan pasien dan keluarganya · Memberikan salam · Memberikan situasi yang nyaman bagi pasien · Menunjukkan sikap empati dan dapat dipercaya · Mendengarkan dengan aktif (penuh perhatian dan memberi waktu yang cukup pada pasien untuk menyampaikan keluhannya dan menggali permasalahan pasien) · Menyimpulkan kembali masalah pasien. anggota keluarga. maupun harapannya · Memelihara dan menjaga harga diri pasien. 24. Kompetensi Inti Mampu menggali dan bertukar informasi secara verbal dan non verbal dengan pasien pada semua usia. masyarakat. hal-hal yang bersifat pribadi. dan kerahasiaan pasien sepanjang waktu Standar Kompetensi Dokter 17 . 26. Area Komunikasi efektif 1.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 23.

Mengumpulkan Informasi · Mampu menggunakan open-ended maupun closed question dalam menggali informasi (move from open to closed question properly) · Meminta penjelasan pada pasien pada pernyataan yang kurang dimengerti · Menggunakan penalaran klinik dalam penggalian riwayat penyakit pasien sekarang. Memahami Perspektif Pasien · Menghargai kepercayaan pasien terhadap segala sesuatu yang menyangkut penyakitnya · Melakukan eksplorasi terhadap kepentingan pasien.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Memperlakukan pasien sebagai mitra sejajar dan meminta persetujuannya dalam memutuskan suatu terapi dan tindakan 1. bingung. kekhawatirannya. riwayat keluarga. eforia.3. dan harapannya · Melakukan fasilitasi secara profesional terhadap ungkapan emosi pasien (marah. takut.2. gangguan psikis) · Mampu merespon verbal maupun bahasa non-verbal dari pasien secara profesional · Memperhatikan faktor biopsikososiobudaya dan normanorma setempat untuk menetapkan dan mempertahankan terapi paripurna dan hubungan dokter pasien yang professional 18 Standar Kompetensi Dokter . atau riwayat kesehatan masa lalu · Melakukan penggalian data secara runtut dan efisien · Tidak memberikan nasehat maupun penjelasan yang prematur saat masih mengumpulkan data 1. maupun pasien dengan hambatan komunikasi misalnya bisu-tuli. sedih. malu.

pilihan penanganan serta prognosis. operasi.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Menggunakan bahasa yang santun dan dapat dimengerti oleh pasien (termasuk bahasa daerah setempat) sesuai dengan umur. dan jujur tentang tujuan. lengkap. tingkat pendidikan ketika menyampaikan pertanyaan. · Memberikan edukasi dan promosi kesehatan kepada pasien maupun keluarganya · Memastikan mengkonfirmasikan bahwa informasi dan pilihan-pilihan tindakan telah dipahami oleh pasien · Memberikan waktu yang cukup kepada pasien untuk merenungkan kembali serta berkonsultasi sebelum membuat persetujuan · Menyampaikan berita buruk secara profesional dengan menjunjung tinggi etika kedokteran · Memastikan kesinambungan pelayanan yang telah dibuat dan disepakati Standar Kompetensi Dokter 19 . risiko prosedur diagnostik dan tindakan medis (terapi. atau menganjurkan rujukan untuk permasalahan yang sulit. memberi konsultasi. keperluan. prognosis. menjelaskan hasil diagnosis. Memberi Penjelasan dan Informasi · Mempersiapkan perasaan pasien untuk menghindari rasa takut dan stres sebelum melakukan pemeriksaan fisik · Memberi tahu adanya rasa sakit atau tidak nyaman yang mungkin timbul selama pemeriksaan fisik atau tindakannya · Memberi penjelasan dengan benar. rujukan) sebelum dikerjakan · Menjawab pertanyaan dengan jujur.4. jelas. 1. meringkas informasi. manfaat.

atau elektronik pada saat yang diperlukan demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran · Menulis surat rujukan dan laporan penanganan pasien dengan benar. Berkomunikasi dengan masyarakat · Menggunakan bahasa yang dipahami oleh masyarakat · Menggali masalah kesehatan menurut persepsi masyarakat · Menggunakan teknik komunikasi langsung yang efektif agar masyarakat memahami kesehatan sebagai kebutuhan · Memanfaatkan media dan kegiatan kemasyarakatan secara efektif ketika melakukan promosi kesehatan · Melibatkan tokoh masyarakat dalam mempromosikan kesehatan secara profesional 4. demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran · Melakukan presentasi laporan kasus secara efektif dan jelas. tertulis. dan memberi waktu cukup kepada profesi lain untuk menyampaikan pendapatnya · Memberi informasi yang tepat waktu dan sesuai kondisi yang sebenarnya ke perusahaan jasa asuransi kesehatan untuk pemrosesan klaim · Memberikan informasi yang relevan kepada penegak hukum atau sebagai saksi ahli di pengadilan (jika diperlukan) · Melakukan negosiasi dengan pihak terkait dalam rangka pemecahan masalah kesehatan masyarakat 20 Standar Kompetensi Dokter . Berkomunikasi dengan profesi lain · Mendengarkan dengan penuh perhatian. Berkomunikasi dengan sejawat · Memberi informasi yang tepat kepada sejawat tentang kondisi pasien baik secara lisan. demi kepentingan pasien maupun ilmu kedokteran 3.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 2.

Area Keterampilan Klinis 2.2. Kompetensi Inti Melakukan prosedur klinis sesuai masalah. Lulusan Dokter Mampu 1. medis. sosial serta riwayat lain yang relevan 2. Memperoleh dan mencatat informasi yang akurat serta penting tentang pasien dan keluarganya Menggali dan merekam dengan jelas keluhan-keluhan yang disampaikan (bila perlu disertai gambar). riwayat penyakit saat ini. Melakukan prosedur klinik dan laboratorium · Memilih prosedur klinis dan laboratorium sesuai dengan masalah pasien · Melakukan prosedur klinis dan laboratorium sesuai kebutuhan pasien dan kewenangannya · Melakukan pemeriksaan fisik dengan cara yang seminimal mungkin menimbulkan rasa sakit dan ketidaknyamanan pada pasien · Melakukan pemeriksaan fisik yang sesuai dengan masalah pasien · Menemukan tanda-tanda fisik dan membuat rekam medis dengan jelas dan benar · Mengidentifikasi.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 2. keluarga.1. kebutuhan pasien dan sesuai kewenangannya 2. serta tindakan prevensi sesuai dengan kewenangannya Standar Kompetensi Dokter 21 . memilih dan menentukan pemeriksaan laboratorium yang sesuai · Melakukan pemeriksaan laboratorium dasar · Membuat permintaan pemeriksaan laboratorium penunjang · Menentukan pemeriksaan penunjang untuk tujuan penapisan penyakit · Memilih dan melakukan keterampilan terapeutik.

dan ilmu kesehatan masyarakat sesuai dengan pelayanan kesehatan tingkat primer · Menjelaskan prinsip-prinsip ilmu kedokteran dasar yang berhubungan dengan terjadinya masalah kesehatan. akibat yang ditimbulkan. · Menjelaskan faktor-faktor non biologis yang berpengaruh terhadap masalah kesehatan. perilaku. Lulusan Dokter Mampu 1. menjelaskan dan merancang penyelesaian masalah kesehatan secara ilmiah menurut ilmu kedokteran kesehatan mutakhir untuk mendapat hasil yang optimum. · Mengembangkan strategi untuk menghentikan sumber penyakit.2. poin-poin patogenesis dan patofisiologis. Kompetensi Inti Mengidentifikasi. beserta patogenesis dan patofisiologinya. klinik. Menerapkan konsep-konsep dan prinsip-prinsip ilmu biomedik.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 3. serta risiko spesifik secara efektif · Menjelaskan tujuan pengobatan secara fisiologis dan molekular 1 Lihat Lampiran 3. 3. Area Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran 3. · Menjelaskan masalah kesehatan baik secara molekular maupun selular melalui pemahaman mekanisme normal dalam tubuh. sesuai dengan kewenangannya · Mengevaluasi dan melakukan tindak lanjut 3.1. Melakukan prosedur kedaruratan klinis1 · Menentukan keadaan kedaruratan klinis · Memilih prosedur kedaruratan klinis sesuai kebutuhan pasien atau menetapkan rujukan · Melakukan prosedur kedaruratan klinis secara benar dan etis. Daftar Ketrampilan Klinis Standar Kompetensi Dokter 22 .

Menentukan efektivitas suatu tindakan · Menjelaskan bahwa kelainan dipengaruhi oleh tindakan · Menjelaskan parameter dan indikator keberhasilan pengobatan. uji laboratorium dan prosedur yang sesuai · Menjelaskan (patofisiologi atau terminologi lainnya) data klinik dan laboratorium untuk menentukan diagnosis pasti. dosis. cara kerja obat. farmakologis. waktu paruh. fisiologis. ataupun perubahan tingkah laku · Menjelaskan indikasi pemberian obat. 3.based medicine. gizi. pemeriksaan fisik. Merangkum dari interpretasi anamnesis. Standar Kompetensi Dokter 23 . epidemiologis. diet. · Menjelaskan secara rasional dan ilmiah dalam menentukan penanganan penyakit baik klinik. fisiologi. · Menjelaskan prinsip-prinsip pengambilan keputusan dalam mengelola masalah kesehatan 2. olah raga. serta penerapannya pada keadaan klinik · Menjelaskan kemungkinan terjadinya interaksi obat dan efek samping · Menjelaskan manfaat terapi diet pada penanganan kasus tertentu · Menjelaskan perubahan proses patofisiologi setelah pengobatan. · Menjelaskan alasan hasil diagnosis dengan mengacu pada evidence. atau perubahan perilaku · Menjelaskan pertimbangan pemilihan intervensi berdasarkan farmakologi.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Menjelaskan berbagai pilihan yang mungkin dilakukan dalam penanganan pasien. · Menjelaskan perlunya evaluasi lanjutan pada penanganan penyakit.

keluarga. manfaat. holistik. · Memilih dan menerapkan strategi pengelolaan yang paling tepat berdasarkan prinsip kendali mutu. Daftar Penyakit) · Mengelola masalah kesehatan secara mandiri dan bertanggung jawab sesuai dengan tingkat kewenangannya (lihat lampiran 2. dan kolaboratif dalam konteks pelayanan kesehatan tingkat primer 4.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 4. Lulusan Dokter Mampu 1. patogenesis. Kompetensi Inti Mengelola masalah kesehatan pada individu. dan dapat dibaca 24 Standar Kompetensi Dokter . faktor psikologis. Area Pengelolaan Masalah Kesehatan 4. farmakologi. sosial. tepat. Mengelola penyakit. lengkap. tanpa atau sesudah terapi awal (lihat lampiran 2.2. berkesinambungan. ataupun masyarakat secara komprehensif. Daftar Penyakit) · Memberi alasan strategi pengelolaan pasien yang dipilih berdasarkan patofisiologi. patogenesis. dan keadaan pasien serta sesuai pilihan pasien · Melakukan konsultasi mengenai pasien bila perlu · Merujuk ke sejawat lain sesuai dengan Standar Pelayanan Medis yang berlaku.1. kendali biaya. koordinatif. bagian dari keluarga dan masyarakat · Menginterpretasi data klinis dan merumuskannya menjadi diagnosis sementara dan diagnosis banding · Menjelaskan penyebab. dan faktor-faktor lain yang sesuai · Membuat instruksi tertulis secara jelas. keadaan sakit dan masalah pasien sebagai individu yang utuh. serta patofisiologi suatu penyakit · Mengidentifikasi berbagai pilihan cara pengelolaan yang sesuai penyakit pasien.

tepat frekwensi dan cara pemberian. memperbaiki atau mengubah terapi dengan tepat · Menerapkan prinsip-prinsip pelayanan dokter keluarga secara holistik.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Menulis resep obat secara rasional (tepat indikasi. anggota keluarga dan masyarakat (Pencegahan primer adalah mencegah timbulnya penyakit. keadaan sakit atau permasalahannya (Pencegahan tertier adalah pencegahan yang digunakan untuk memperlambat progresi dari penyakitnya dan juga timbulnya komplikasi. memperbaiki dan mengubah terapi dengan tepat · Memprediksi. menerapkan dan memantau strategi pencegahan tertier yang tepat berkaitan dengan penyakit pasien. koordinatif. jelas. dan dapat dibaca · Mengidentifikasi berbagai indikator keberhasilan pengobatan. misalnya imunisasi) Standar Kompetensi Dokter 25 . kolaboratif. menerapkan dan memantau strategi pencegahan sekunder yang tepat berkaitan dengan pasien dan keluarganya (Pencegahan sekunder adalah kegiatan penapisan untuk mengidentifikasi faktor risiko dari penyakit laten untuk memperlambat atau mencegah timbulnya penyakit. misalnya diet pada penderita DM. komprehensif. pekerjaan. olah raga) · Mengidentifikasi. mengenali kemungkinan adanya interaksi obat dan efek samping. serta sesuai kondisi pasien). berkaitan dengan pasien. memberikan alasan. Melakukan Pencegahan Penyakit dan Keadaan Sakit · Mengidentifikasi. lengkap. memantau. tepat obat. memberikan alasan. dan lingkungan sosial sebagai faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya penyakit serta sebagai faktor yang mungkin berpengaruh terhadap pertimbangan terapi 2. menerapkan dan memantau kegiatan strategi pencegahan primer yang tepat. memonitor perkembangan penanganan. contoh pap smear. tepat dosis. dan berkesinambungan dalam mengelola penyakit dan masalah pasien · Mengidentifikasi peran keluarga pasien. memberi alasan. mantous test) · Mengidentifikasi.

kultur. dan lingkungan sosial sebagai faktor risiko terjadinya penyakit dan sebagai faktor yang mungkin berpengaruh terhadap pencegahan penyakit. kebijakan. sosial. dan budaya · Merencanakan dan melaksanakan pendidikan kesehatan dalam rangka promosi kesehatan di tingkat individu.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Mengidentifikasi peran keluarga pasien. · Menunjukkan pemahaman bahwa upaya pencegahan penyakit sangat bergantung pada kerja sama tim dan kolaborasi dengan professional di bidang lain 3. dan masyarakat · Bekerja sama dengan sekolah dalam mengembangkan “program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)” 4. ekonomi. pekerjaan. keluarga. Melaksanakan pendidikan kesehatan dalam rangka promosi kesehatan dan pencegahan penyakit · Mengidentifikasi kebutuhan perubahan perilaku dan modifikasi gaya hidup untuk promosi kesehatan pada berbagai kelompok umur. jenis kelamin. etnis. dan faktor lingkungan yang berpengaruh pada suatu masalah kesehatan · Melibatkan masyarakat dalam mengembangkan solusi yang tepat bagi masalah kesehatan masyarakat 26 Standar Kompetensi Dokter . Menggerakkan dan memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan · Memotivasi masyarakat agar mampu mengidentifikasi masalah kesehatan masyarakat · Menentukan insidensi dan prevalensi penyakit di masyarakat serta mengenali keterkaitan yang kompleks antara faktor psikologis.

pengadaan dan pemanfaatan pelayanan kesehatan masyarakat 5. Kompetensi Inti Mengakses. dan pengambil keputusan) · Menerapkan manajemen mutu terpadu dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan kedokteran keluarga · Mengelola sumber daya manusia · Mengelola fasilitas. Area Pengelolaan Informasi 5. Mengelola sumber daya manusia dan sarana – prasarana secara efektif dan efisien dalam pelayanan kesehatan primer dengan pendekatan kedokteran keluarga · Menjalankan fungsi managerial (berperan sebagai pemimpin. atau mengambil keputusan dalam kaitan dengan pelayanan kesehatan di tingkat primer Standar Kompetensi Dokter 27 . sarana dan prasarana 5. termasuk antisipasi terhadap timbulnya penyakit-penyakit baru · Menggerakkan masyarakat untuk berperan serta dalam intervensi kesehatan · Merencanakan dan mengimplementasikan intervensi kesehatan masyarakat. pemberi informasi. serta menganalisis hasilnya · Melatih kader kesehatan dalam pendidikan kesehatan · Mengevaluasi efektivitas pendidikan kesehatan · Bekerja sama dengan masyarakat dalam menilai ketersediaan.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Bekerja sama dengan profesi dan sektor lain dalam menyelesaikan masalah kesehatan dengan mempertimbangkan kebijakan kesehatan pemerintah.1. menilai secara kritis kesahihan dan kemamputerapan informasi untuk menjelaskan dan menyelesaikan masalah. mengelola.

Memahami manfaat dan keterbatasan teknologi informasi · Menerapkan prinsip teori teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penggunaannya. tindakan pencegahan dan promosi kesehatan.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 5. Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk membantu penegakan diagnosis. Memanfaatkan informasi kesehatan · Memasukkan dan menemukan kembali informasi dan database dalam praktik kedokteran secara efisien · Menjawab pertanyaan yang terkait dengan praktik kedokteran dengan menganalisis arsipnya · Membuat dan menggunakan rekam medis untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan 28 Standar Kompetensi Dokter .2. dengan memperhatikan secara khusus potensi untuk berkembang dan keterbatasannya 3. dan pemantauan status kesehatan pasien · Menggunakan teknologi informasi dan komunikasi (internet) dengan baik · Menggunakan data dan bukti pengkajian ilmiah untuk menilai relevansi dan validitasnya · Menerapkan metode riset dan statistik untuk menilai kesahihan informasi ilmiah · Menerapkan keterampilan dasar pengelolaan informasi untuk menghimpun data relevan menjadi arsip pribadi · Menerapkan keterampilan dasar dalam menilai data untuk melakukan validasi informasi ilmiah secara sistematik · Meningkatkan kemampuan secara terus menerus dalam merangkum dan menyimpan arsip 2. serta penjagaan. Lulusan Dokter Mampu 1. pemberian terapi.

personal. Lulusan Dokter Mampu 1. Kompetensi Inti · Melakukan praktik kedokteran dengan penuh kesadaran atas kemampuan dan keterbatasannya · Mengatasi masalah emosional.1. personal dan masalah yang berkaitan dengan kesehatannya yang dapat mempengaruhi kemampuan profesinya · Menyesuaikan diri dengan tekanan yang dialami selama pendidikan dan praktik kedokteran · Menyadari peran hubungan interpersonal dalam lingkungan profesi dan pribadi · Mendengarkan secara akurat dan bereaksi sewajarnya atas kritik yang membangun dari pasien. kesehatan.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 6. instruktur. sejawat. Menerapkan mawas diri · Menyadari kemampuan dan keterbatasan diri berkaitan dengan praktik kedokterannya dan berkonsultasi bila diperlukan · Mengenali dan mengatasi masalah emosional.2. dan penyelia · Mengelola umpan balik hasil kerja sebagai bagian dari pelatihan dan praktik · Mengenali nilai dan keyakinan diri yang sesuai dengan praktik kedokterannya Standar Kompetensi Dokter 29 . dan kesejahteraan yang dapat mempengaruhi kemampuan profesinya · Belajar sepanjang hayat · Merencanakan. Area Mawas Diri dan Pengembangan Diri 6. menerapkan dan memantau perkembangan profesi secara berkesinambungan 6.

merancang.1. · Berperan aktif dalam Program Pendidikan dan Pelatihan Kedokteran Berkelanjutan (PPPKB) dan pengalaman belajar lainnya · Menunjukkan sikap kritis terhadap praktik kedokteran berbasis bukti (Evidence-Based Medicine) · Mengambil keputusan apakah akan memanfaatkan informasi atau evidence untuk penanganan pasien dan justifikasi alasan keputusan yang diambil · Menanggapi secara kritis literatur kedokteran dan relevansinya terhadap pasiennya · Menyadari kinerja professionalitas diri dan mengidentifikasi kebutuhan belajarnya 3. Kompetensi Inti · Berperilaku professional dalam praktik kedokteran serta mendukung kebijakan kesehatan 30 Standar Kompetensi Dokter . Mengembangkan pengetahuan baru · Mengidentifikasi kesenjangan dari ilmu pengetahuan yang sudah ada dan mengembangkannya menjadi pertanyaan penelitian yang tepat · Merencanakan. dan mengimplementasikan penelitian untuk menemukan jawaban dari pertanyaan penelitian. Mempraktikkan belajar sepanjang hayat · Mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan yang baru.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 2. Moral. Area Etika. Medikolegal dan Profesionalisme serta Keselamatan Pasien 7. · Menuliskan hasil penelitian sesuai dengan kaidah artikel ilmiah · Membuat presentasi ilmiah dari hasil penelitiannya 7.

Lulusan Dokter Mampu 1.2. tanpa memandang status sosial · Berperan serta dalam kegiatan yang memerlukan kerja sama dengan para petugas kesehatan lainnya · Mengenali dan berusaha menjadi penengah ketika terjadi konflik · Memberikan tanggapan secara konstruktif terhadap masukan dari orang lain Standar Kompetensi Dokter 31 . Memiliki Sikap profesional · Menunjukkan sikap yang sesuai dengan Kode Etik Dokter Indonesia · Menjaga kerahasiaan dan kepercayaan pasien · Menunjukkan kepercayaan dan saling menghormati dalam hubungan dokter pasien · Menunjukkan rasa empati dengan pendekatan yang menyeluruh · Mempertimbangkan masalah pembiayaan dan hambatan lain dalam memberikan pelayanan kesehatan serta dampaknya · Mempertimbangkan aspek etis dalam penanganan pasien sesuai standar profesi · Mengenal alternatif dalam menghadapi pilihan etik yang sulit · Menganalisis secara sistematik dan mempertahankan pilihan etik dalam pengobatan setiap individu pasien 2.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Bermoral dan beretika serta memahami isu-isu etik maupun aspek medikolegal dalam praktik kedokteran · Menerapkan program keselamatan pasien 7. Berperilaku profesional dalam bekerja sama · Menghormati setiap orang tanpa membedakan status sosial · Menunjukkan pengakuan bahwa tiap individu mempunyai kontribusi dan peran yang berharga.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Mempertimbangkan aspek etis dan moral dalam hubungan dengan petugas kesehatan lain. gaya hidup. Berperan sebagai anggota Tim Pelayanan Kesehatan yang Profesional · Berperan dalam pengelolaan masalah pasien dan menerapkan nilai-nilai profesionalisme · Bekerja dalam berbagai tim pelayanan kesehatan secara efektif · Menghargai peran dan pendapat berbagai profesi kesehatan · Berperan sebagai manager baik dalam praktik pribadi maupun dalam sistem pelayanan kesehatan · Menyadari profesi medis yang mempunyai peran di masyarakat dan dapat melakukan suatu perubahan · Mampu mengatasi perilaku yang tidak profesional dari anggota tim pelayanan kesehatan lain 4. orientasi seksual. etnis. Aspek Medikolegal dalam praktik kedokteran Memahami dan menerima tanggung jawab hukum berkaitan dengan : · Hak asasi manusia · Resep obat 32 Standar Kompetensi Dokter . kecacatan dan status sosial ekonomi 5. Melakukan praktik kedokteran dalam masyarakat multikultural di Indonesia · Menghargai perbedaan karakter individu. gender. dan budaya dari pasien dan sejawat · Memahami heterogenitas persepsi yang berkaitan dengan usia. serta bertindak secara professional · Mengenali dan bertindak sewajarnya saat kolega melakukan suatu tindakan yang tidak profesional 3.

Kembangkan sistem pelaporan 5. Mendidik pasien dan keluarga 3. Belajar dan berbagi pengalaman tentang keselamatan pasien 7. Aspek keselamatan pasien dalam praktik kedokteran · Menerapkan standar keselamatan pasien : 1. Integrasikan aktifitas pengelolaan risiko 4. Libatkan dan berkomunikasi dengan pasien 6. Komunikasi yang merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien · Menerapkan 7 (tujuh) langkah keselamatan pasien : 1. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien 6. Cegah cidera melalui implementasi sistem keselamatan pasien Standar Kompetensi Dokter 33 . Penggunaan metoda peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program peningkatan keselamatan pasien 5. Memimpin dan mendukung staf 3. Hak pasien 2. Mendidik staf tentang keselamatan pasien 7. Bangun kesadaran akan nilai keselamatan pasien 2. menyatakan dan menganalisis segi etika dalam kebijakan kesehatan 6. Keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan 4. sakit atau surat kematian · Proses di pengadilan · Memahami UU RI No.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA · Penyalahgunaan tindakan fisik dan seksual · Kode Etik Kedokteran Indonesia · Pembuatan surat keterangan sehat. 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran · Memahami peran Konsil Kedokteran Indonesia sebagai badan yang mengatur praktik kedokteran · Menentukan.

34 Standar Kompetensi Dokter .

Rencana Strategis Departemen Kesehatan 20052009. Core Commitee. Vol. 2002.. AMM. (2001) Blue Print 2001: Training of Doctors in the Netherlands – Adjusted objectives of undergraduate medical education in the Netherlands. 130–135 Departemen Kesehatan (1999).. 77. pp.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA DAFTAR KEPUSTAKAAN Carraccio. Verbeek-Weel. Ferentz.. Rencana Pembangunanan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010.. (2002) Shifting Paradigms: From Flexner to Competencies.5. Standar Kompetensi Dokter 35 . K.D. 24. S. R. (2006) Is PBL compatible with Competency-based Curriculum? A paper presented in the National Scientific Meeting on Medical Education.. Institute for International Medical Education. Denpasar 5-7 June 2006. General Medical Council (2003). HJ. Departemen Pendidikan (2002). Englander. Tomorrows Doctors. 045/U/2002 tentang Kurikulum Pendidikan Tinggi. Sistem Kesehatan Nasional. C. Medical Teacher. Wolfsthal. Jakarta: Departemen Kesehatan Departemen Kesehatan (2005). SK Mendiknas No. and Martin. No. M. Metz. No. JCM. Huisjes. Unpublished. Jakarta: Departemen Kesehatan Departemen Kesehatan (2004). Academic Medicine. 2. Vol. C. (2002) Global minimum essential requirements in medical education. Jakarta: Departemen Kesehatan.. Jakarta: Depdiknas Epstein and Hundert (2001) in Kruithoff.

36 Standar Kompetensi Dokter .

mahasiswa perlu dipaparkan pada berbagai masalah. Daftar masalah individu berisikan keluhan.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Lampiran 1 Daftar Masalah (Keluhan/Gejala) Dalam melaksanakan praktik kedokteran. serta perlu dilatih bagaimana menyelesaikan masalah tersebut. Melalui penelusuran riwayat penyakit. pemeriksaan fisik. gejala maupun hal-hal yang membuat individu sebagai pasien atau klien mendatangi dokter atau institusi pelayanan kesehatan. lulusan dokter diharapkan memiliki kemampuan penyelesaian masalah yang lebih baik. yaitu daftar masalah individu dan daftar masalah komunitas. keluarga dan masyarakat. A. Daftar ini berisikan masalah. keluhan atau gejala yang akan dijumpai di pelayanan kesehatan primer. Daftar Masalah Individu Masalah yang sering dijumpai Demam Kejang Diare Batuk sesak napas sakit tenggorok sakit kepala Sakit dada Gatal-gatal Nyeri perut Standar Kompetensi Dokter 37 . Semakin banyak terpapar oleh berbagai jenis masalah. keluhan atau gejala yang banyak dijumpai pada tingkat pelayanan kesehatan primer berdasarkan alasan yang membawa pasien atau klien mendatangi dokter atau pelayanan kesehatan. Daftar masalah komunitas berisikan daftar masalah yang dirasakan oleh masyarakat di sekitar tempat dokter praktik dan berpotensi dapat menimbulkan masalah kesehatan di tingkat individu. keluhan atau gejala tersebut. Daftar ini tidak menunjukkan urutan prioritas masalah kesehatan. serta karakteristik pasien. dokter berangkat dari keluhan atau masalah pasien atau masalah klien. Daftar masalah individu perlu dikuasai oleh lulusan dokter. dokter melakukan analisis terhadap masalah kesehatan tersebut untuk kemudian menentukan tindakan dalam rangka penyelesaian masalah tersebut. Daftar masalah ini dibagi menjadi dua. keluarga dan lingkungannya. pemeriksaan tambahan. karena merupakan masalah dan keluhan yang paling sering dijumpai pada tingkat pelayanan kesehatan primer. Selama pendidikan dokter.

darah) Berdebar-debar ASI tidak keluar Benjolan payudara Luka puting Payudara mengencang Retraksi kulit dan puting Benjolan perut 38 Standar Kompetensi Dokter . berdahak.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Perut kembung Muntah Sulit Buang Air Besar atau sembelit Nyeri sendi Sakit punggung Pusing Kulit kuning Kulit bersisik Kulit merah dan nyeri Kulit berminyak Luka bakar Benjolan leher Wajah kaku Mata merah Mata gatal Mata berair Mata nyeri Belekan Gangguan penglihatan Timbilan Kelilipan Sakit telinga Kopoken (telinga bernanah) Tuli Telinga gatal Pilek (ingusan) Mimisan Bersin-bersin Gangguan penciuman Sakit dan sulit menelan Mulut kering Bau mulut Sakit gigi Sariawan Bibir pecah-pecah Bibir sumbing Batuk (kering.

nanah. nyeri. darah) Ambein Nyeri saat BAB Gatal daerah anus Perdarahan saat BAB Nyeri daerah anus Nyeri saat buang air kecil Anyang-anyangan Sering buang air kecil pada malam hari Kencing mengedan Kencing tidak puas Retensi urin Inkontinensia urin Akhir kencing menetes Pancaran kencing menurun Kencing bercabang Waktu kencing preputium melembung/ballooning Frekuensi urin Disuria Nokturia Urgensi Stranguria Kencing merah (hematuria) Kencing campur udara (pnematuria) Faecaluria Darah pada muara uretra Hemospermia Anuria Poliuria Oliguria Perubahan warna urin Nyeri buah zakar Buah zakar tidak teraba Disfungsi ereksi Keputihan Vagina (gatal.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Perut kram Sendawa Cegukan Nyeri ulu hati Nyeri sesudah makan Kelainan tinja (lendir. rasa terbakar) Gangguan menstruasi Gangguan menjelang menopause Gangguan menopause Standar Kompetensi Dokter 39 .

bengkak. kelainan bentuk) Nyeri pinggang Nyeri otot Gerakan terbatas Bengkak pada kaki dan tangan Kaku pada pagi hari Pusing dan pusing sebelah Hilang kesadaran Epilepsi Kejang Kesemutan Gerakan tidak teratur Gangguan gerak dan koordinasi Gangguan otot Gangguan jalan Lumpuh Gangguan bicara Pelupa Perubahan perilaku (termasuk perilaku agresif) Stress Depresi Cemas Susah tidur Pemarah Ngamuk Penurunan fungsi berpikir Perubahan emosi dan mood Gangguan fungsi seksual Pelecehan seksual Perkosaan Tanda-tanda kehamilan Hiperemesis Nyeri perut waktu hamil Perdarahan vagina waktu hamil Anyang-anyangan waktu hamil Kaki bengkak waktu hamil Kontrasepsi Sulit punya anak Kehamilan tidak diinginkan Persalinan prematur Ketuban pecah dini Berat lahir rendah 40 Standar Kompetensi Dokter .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Patah tulang Nyeri sendi Sendi (kaku.

Kontrasepsi mantap (suntik. Daftar Masalah Komunitas Masalah yang sering dijumpai Keluarga Berencana .Kesehatan reproduksi .Koordinasi di tingkat lapangan . pil.Gizi buruk .Angka kematian bayi Gizi . dst) Kesehatan Ibu dan Anak .Angka kematian ibu .15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Kurang gizi pada balita Tidak nafsu makan pada balita Lecet pada pantat Cengeng Gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada balita Kecelakaan pada balita Kejang demam Penyalahgunaan obat Gangguan belajar Tidak mau minum obat pada anak-anak Kelelahan Pingsan Perdarahan per vaginam Perdarahan trauma Perdarahan spontan Muntah darah Batuk darah Penurunan berat badan drastis Obesitas Gangguan komunikasi Nyeri dada Nyeri punggung Discharge urethra Gangguan perilaku B.Sosial ekonomi Standar Kompetensi Dokter 41 .

Tidak melaporkan penyakit KLB .Polio .HIV Aids .New emerging disease Imunisasi . asuransi kesehatan. .Revitalisasi posyandu .Tidak ada koordinasi yang baik antara puskesmas dengan rumah sakit. Sistem belum berjalan dengan baik Kesehatan Lingkungan * Bencana alam (banjir.Gaji rendah .Pembiayaan pelayanan kesehatan (bantuan langsung tunai. kebakaran hutan. JPKM.Revitalitasi puskesmas . dan sebagainya).KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Penyakit-penyakit diare dan penyakit infeksi lain .) * Bencana buatan manusia (limbah.Data terbatas (kurang lengkap) .Dana terbatas . gempa.Disiplin rendah . banjir lumpur panas) * Sanitasi * Pariwisata (travel medicine) Lain-lain Medical error Infeksi nosokomial Medical negligence Kejadian tidak diharapkan (KTD) Keselamatan pasien Masalah-masalah organisasi pelayanan kesehatan .Regulasi Pelayanan Kesehatan .Pengobatan tidak rasional .Medical supplies kurang .Hepatitis B Pelayanan Kesehatan . tanah longsor.Polindes .Kualitas SDM terbatas .Flu burung .Tidak berizin 42 Standar Kompetensi Dokter .Informasi ilmiah terbatas .

pada setiap penyakit yang dipilih. sesuai dengan kondisi rata-rata di Indonesia. Oleh karena itu. Level ini mengindikasikan overview level. keluarga dan masyarakat. Dokter segera merujuk. memberi penanganan awal atau memberi penanganan tuntas. serta merujuk ke spesialis yang relevan (bukan kasus gawat darurat). Apabila setelah lulus. organ dan tahapan usia. Dokter mampu merujuk pasien secepatnya ke spesialis yang relevan dan mampu menindaklanjuti sesudahnya. Bila menghadapi pasien dengan gambaran klinik ini dan menduga penyakitnya. Lulusan Dokter yang akan bekerja di tingkat pelayanan primer harus mempunyai tingkat kemampuan yang memadai agar mampu merujuk. Berikut ini tingkat kemampuan yang diharapkan akan dicapai di akhir pendidikan. ditetapkan tingkat kemampuan yang diharapkan akan dicapai di akhir pendidikan dokter berdasarkan perkiraan kewenangan yang akan diberikan ketika bekerja di tingkat pelayanan kesehatan primer. Tingkat Kemampuan 3 3a. data kematian serta case fatality rate di Indonesia pada tingkat pelayanan primer. Standar Kompetensi Dokter 43 . diharapkan pihak yang berwenang dapat memberikan pembekalan sebelum penempatan dokter. Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan. Dalam korespondensi. ia dapat mengenal gambaran klinik ini. Tingkat Kemampuan 2 Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). membuat diagnosis yang tepat. Tingkat kemampuan yang diharapkan dicapai pada akhir pendidikan dokter Tingkat Kemampuan 1 Dapat mengenali dan menempatkan gambaran-gambaran klinik sesuai penyakit ini ketika membaca literatur. dan tahu bagaimana mendapatkan informasi lebih lanjut. tingkat keseriusan problem yang ditimbulkan dan efeknya terhadap individu. dokter akan bekerja di daerah yang terpencil dengan kondisi pelayanan kesehatan yang minimal atau di daerah khusus sehingga membutuhkan kemampuan yang lebih.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Lampiran 2 Daftar Penyakit Daftar penyakit merupakan penyakit-penyakit yang dipilih menurut beban penyakit yang timbul berdasarkan perkiraan data kesakitan. Daftar penyakit dikelompokkan menurut sistem.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA 3b. Cardiovascular Cardiac disorders Angina pectoris Unstable angina Myocardial Infarction Imminent Myocardial Infarction Cardiac aneurysm Heart failure Cardiorespiratory arrest Mitral stenosis Mitral regurgitation Aortic stenosis Aortic regurgitation Other valvular heart diseases VSD ASD Sinus tachycardia Supraventricular tachycardia Atrial fibrillation Atrial flutter Supraventricular extrasystole Ventricular extrasystole BBB Other arrhythmias Endocarditis Pericarditis Myocarditis Cardiomyopathy 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 44 Standar Kompetensi Dokter . Dokter dapat memutuskan dan memberi terapi pendahuluan. serta merujuk ke spesialis yang relevan (kasus gawat darurat). Tingkat Kemampuan 4 Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray). Dokter dapat memutuskan dan mampu menangani problem itu secara mandiri hingga tuntas. Mampu membuat diagnosis klinik berdasarkan pemeriksaan fisik dan pemeriksaanpemeriksaan tambahan yang diminta oleh dokter (misalnya : pemeriksaan laboratorium sederhana atau X-ray).

secondary) Obstructed venous return Deep vein thrombosis Thrombophlebitis Lymph vessels Lymphangitis Lymphadenitis Lymphedema.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Aorta-arteries disorders Essential hypertension Secondary hypertension Pulmonary hypertension Raynaud's disease Arterial thrombosis Coarctation of the aorta Burger's disease Arterial embolism Atherosclerosis Subclavian steal syndrome Aortic aneurysm Dissecting aneurysm Claudicatio Cardiogenic shock Septic shock Hypovolemic shock Veins Varices (primary. primary and secondary Respiratory 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Uncomplicated Pulmonary Tuberculosis TBC with HIV TBC with pneumothorax Acute Bronchitis Bronchiolitis Bronchial asthma Status asmaticus Lung emphysema Atelectasis 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 45 .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Bronchiectasis COPD SARS Pneumonia Avian influenzae Lung abscess Pulmonary embolism Lung infarction Pleurisy TBC Pleurisy Cancer Pleurisy Lupus Pneumothorax Cystic fibrosis Aspiration pneumonia Gastrointestinal 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Mouth Cleft lip and palate Micrognatia and macrognatia Leukoplakia Candidiasis Mouth ulcers (aphthous. herpes) Glossitis Esophagus Esophageal atresia Achalasia Corrosive lesions of esophageus Esophageal varices Esophageal rupture Reflux esophaghitis Diaphragma Diaphramatic hernia Hiatus hernia 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 46 Standar Kompetensi Dokter .

direct and indirect Femoral hernia – Bedah Epigastric hernia Incisional hernia Umbilical hernia Acute abdomen Peritonitis Abscess in pouch of Douglas Ileus Perforation Salphingitis Acute appendicitis Appendicular abscess Mesenteric lymphadenitis Stomach and duodenum Gastritis Gastric/duodenal ulcer Gastrointestinal bleeding Zollinger-ellison syndrome Mallory-weiss syndrome Gastroenteritis Liver Fatty liver Hepatitis A Uncomplicated Hepatitis B Active Hepatitis C Cirrhosis hepatis Amoebic liver abscess Liver failure 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 47 .15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Abdominal wall and herniae Inguinal hernia.

ileum Intestinal atresia Meckel's diverticulum Umbilical fistula. anal prolapse Proctitis Hemorrhoids (peri)anal abscess Fistula Anal fissure Pedriatrics Esophageal atresia Intestinal atresia Anal atresia Diapragmatic hernia (congenital) Pyloric stenosis Gastro-esophageal reflux Gastro-enteritis Gastro-enteritis dengan dehidrasi Worms Dehydration Malabsorbsion Food intolerance 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 48 Standar Kompetensi Dokter .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Gall bladder. omphalocoele-gastroschisis Malrotation Enteritis Colon Irritable bowel syndrome Necrotizing enterocolitis Diverticulosis/diverticulitis Colitis Rectal. bile duct and pancreas Chole(docho)lithiasis Acute cholecystitis Hydrops of gall bladder Empyema of gall bladder Pancreatitis Jejunum.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Acute abdomen Ileus Peritonitis tuberculosis Peritonitis pancreatitis Intussussception Malrotation Umbilical hernia Meckell's diverticulum Crohn's disease Ulcerative colitis Hirschsprung's disease Biliary atresia Hepatitis Reye's syndrome Cirrhosis of the liver Food allergy Nefrourologi 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Acute renal failure Chronic renal failure Nephrotic syndrome Acute glomerulonephritis Chronic glomerulonephritis Interstitial nephritis Renal colic Urinary stone diseases or urinary calculi without colic Polycystic kidneys symptomatic Urinary tract infection Acute tubular necrosis Horse shoe kidney Uncomplicated Pyelonephritis Urinary incontinence Nocturnal and diurnal enuresis Prostatitis Male genitalia Hypospadia Epispadia Undescended testes/cryptorchidism 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 49 .

rectovaginal fistula) Foreign body 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 50 Standar Kompetensi Dokter .15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Retractile testes Torsion of testis Epididymitis Spermatocele Varicocele Hydrocele Phimosis Paraphimosis Ruptur uretra Ruptur kandung kencing Ruptur ginjal Striktura uretra Priapismus Penyakit peironi Ekstrophia vesicae Infertility Erection disorders Ejaculation disorders 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Vulva Vulvitis Dystrophy of vulva Cyst of bartholin. abscess of bartholin's gland Abscess of hair follicle or sebaceous gland Condylomata acuminata 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Vagina Congenital malformations Vaginitis Bacterial vaginosis Cyst of gartner Cystocoele Rectocoele Enterocoele Fistula (vesico-vaginal. uretero-vaginal.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Cervix Cervicitis Polyps Nabothian cyst 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Body of the uterus Congenital malformations Uterine prolaps Hematocolpos Endometriosis 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Adnexae Salpingitis Adhesions Ovarian cyst Polycystic ovarian disease Carcinoma of ovary Ectopic pregnancy Torsion tumour / ovarian cyst Rupture of ovarian cyst / tubo .ovarian abscess Uterine bleeding at ovulation 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Breasts Inflammations Mastopathy Hematology 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 Aplastic/hypoplastic anemia Iron deficiency anemia Macrocytic anemia Hemolytic anemia Hemoglobinopathy Anemia associated with chronic diseases Polycytemia Thrombocytopenia Thrombocytosis Hemophilia Von willebrand's disease DIC 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 51 .

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Agranulocytosis Haemorheologic disorders Antiphospholipid syndrome Immunology 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Autoimmune rheumatological and autoimmune orthopedic disorders Uncomplicated SLE Complicated SLE Scleroderma Polyarteritis nodosa Vasculitis Lupus Polymyalgia rheumatica Rheumatoid arthritis Immunological/allergic reactions Anaphylactic reaction Rheumatic fever Juvenile chronic arthritis Henoch-schoenlein purpura Erythema multiforme Atopy Steven johnson's syndrome Transplantation immunology Immunodeficiency -HIV Genetics/newborn/chromossal disoerder) 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Genetics/congenital disorders Down's syndrome Turner's syndrome Klinefelter's syndrome Gonadal xy-dysgenesis Testicular feminization Fragile x syndrome PKU (Phenyl Ketonuria) Galactosemia 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 52 Standar Kompetensi Dokter .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Glycogen storage disease Other storage diseases Spina bifida Anencephaly Hydrocephalus Cleft palate and/or lip Marfan's syndrome Disorders of newborns Hypothermia Bacteraemia and septicemia Respiratory stress syndrome Bronchopulmonary dysplasia Aspiration pneumonia Pneumo thorax Apnea attacks Jaundice of newborn Severe neonatal jaundice (kern icterus) Hypoglycemia Child of diabetic mother Neonatal convulsion Necrotizing enterocolitis Retinopathy of prematurity Anemia Rhesus incompatibility Blood group incompatibility Vitamine k defficiency Cerebral hemorrhage Conjuctivitis Infection of umbilicus Sudden infant death syndrome (sids) Endocrine. metabolic disorder and nutrition 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Endocrinological disorders IDDM NIDDM Complication of DM (acute and chronic) Hypoglycemia Diabetes incipidus 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 53 .

gigantism Growth hormone deficiency Hyperparathyroidism Hypoparathyroidism Hyperthyroidism Hypothyroidism Thyroiditis Cushing's disease Adrenal cortex failure Primary hyperaldosteroidism Phaeochromocytoma Precocious puberty Testicular feminization syndrome Hypogonadism Adrenogenital syndrome Addison's disease Multiple endocrinological neoplasia (men syndrome) Tumor with ectopic production of hormone Nutritional deficiency Marasmus Kwashiorkor Vitamin deficiencies Error of metabolism Hyperlipoproteinemia Porphyria Gout Obesity 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Central and peripheral neural system Loss of consciousness Metabolic Encephalopathy Comatous Brain death 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 54 Standar Kompetensi Dokter .15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Acromegaly.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Headache Tension headache Migraine Cranial arteritis Trigeminal neuralgia Cluster headache Cardio Vascular Diseases TIA Cerebral infarction Intracerebral hematoma Subarachnoid hemmorhage Hypertensive encephalopathy 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Cranial nerve and brain stem lesions Bels’ palsy Brain stem lesions 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 Disorder of vestibular system Menier's disease Benign paroxysmal positional vertigo Vertigo Central 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Memory deficit Vascular dementia Alzheimer's disease Pick's disease 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Movement Disorders Parkinson's disease Tremor Secondary parkinsonism Huntington disease Chorea sydenham Dystonia Hemifacial spasm 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 55 .

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Epilepsy and other seizures Focal epilepsy Generalized epilepsy Absence seizure Status epilepticus Narcolepsy Sleep apnea syndrome Demyelination diseases Multiple sclerosis Optic neuromyelitis (Devic's disease) Diseases of spine and spinal cord Amyotrphic lateral sclerosis (ALS) Complete spinal transection Brown sequard syndrome Cauda equina syndrome Neurogenic bladder Syringomyelia Myelopathy Dorsal root syndrome Medulla compression acute Radicular syndrome/HNP Spondilitis TB Neuromuscular diseases and neuropathy Horner syndrome Carpal tunnel syndrome Tarsal tunnel syndrome Neuropathy Peroneal palsy Guillain Barre syndrome Myasthenia gravis Polymyositis Duchenne muscular dystrophy Neurofibromatosis (von reckling hausen disease) 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 56 Standar Kompetensi Dokter .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Infectious diseases Meningitis Encephalitis Malaria cerebral Tetanus Cerebral Toxoplasmosis Tuberculoma Brain abscess HIV AIDS Congenital disorders Hydrocephalus Spina bifida Phenyl ketonuria Pediatrics neurologic disorders Meningitis Encephalitis Cerebral abscess Epilepsi Infantile spasms Petit mal epilepsy Febrile convulsion Duchene muscular dystrophy Poliomyelitis Cerebral palsy Kernicterus Mental Retardation Autism ADHD Neurobehaviour Disorders Amnesia Pasca trauma Afasia MCI (Mild Cognitive Impairment) VCI (Vascular Cognitive Impairment) 1 2 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 38 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 57 .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Trauma CNS Epidural hematom Subdural hematom SAH (Sub Arachnoid Hemorrhage) Trauma Medula Spinalis Tumor CNS Tumor primer Tumor sekunder Pain Nyeri Nosiseptif Nyeri neuropatik Gangguan visual Buta mendadak Diplopia Visual field disorders
Ear, nose and throat

1 1 1 1

2 2 2 2

3A 3A 3A 3A

3B 3B 3B 3B

4 4 4 4

1

2

3A

3B 3B

4

1 1

2 2

3A 3A

3B 3B

4 4

1 1 1

2 2 2

3A 3A 3A

3B 3B 3B

4 4 4

Ears, hearing and equilibrium Inflammation of auricle Herpes zoster oticus Pre-auricular fistula Foreign body in ear Wax (serumen) Otitis externa Acute otitis media Otitis media serous (glue ear) Chronic otitis media Perforated tympanic membrane Bullous myringitis Otosclerosis Tymphanosclerosis Cholesteatoma Presbyacusis Mastoiditis Labyrinthitis Benign postural vertigo Motion sickness

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A

3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B

4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

58

Standar Kompetensi Dokter

15

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Meniere's diseases Vestibular neuritis Acoustic neuroma Acute acoustic trauma Ear, other trauma Perceptive hearing loss Conductive hearing loss Congenital deafness Facial palsy or paralysis Noses and sinuses Epistaxis Furuncle of nose Acute rhinitis (common cold) Vasomotor rhinitis Allergic rhinitis Chronic rhinitis Rhinitis medicamentosa Acute frontal sinusitis Acute maxillary sinusitis Acute ethmoiditis Chronic sinusitis Deviation of nasal septum Choanal atresia Foreign body in nose

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A

3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B ? 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B

4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

Larynx and pharynx Pharyangitis Tonsilitis Hypertrophy of adenoids Pseudo-croop acute epiglotitis

1 1 1 1

2 2 2 2

3A 3A 3A 3A

3B 3B 3B 3B

4 4 4 4

Neck Medial and lateral branchial cyst and fistula Cystic hygroma Torticollis

1 1 1

2 2 2

3A 3A 3A

3B 3B 3B

Standar Kompetensi Dokter

59

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Thyroid glad and parathyroid glands Cyst Goitre Hyperthyroidism Hyperparathyroidism Hypoparathyroidism

1 1 1 1 1

2 2 2 2 2

3A 3A 3A 3A 3A

3B 3B 3B 3B 3B

4 4 4 4 4

Trachea Aspiration Foreign bodies Tracheitis
Eye

1 1 1

2 2 2

3A 3A 3A

3B 3B 3B

4 4 4

Conjunctiva Conjunctiva, foreign body Conjunctivitis, allergy Conjunctivitis, viral Conjunctivitis, bacterial Pterygium Subconjunctival haemorrhage

1 1 1 1 1 1

2 2 2 2 2 2

3A 3A 3A 3A 3A 3A

3B 3B 3B 3B 3B 3B

4 4 4 4 4 4

Eyelids Blepharitis Hordeolum Chalazion Eyelid laceration Entropion Trichiasis Lagophtalmos Epicanthus Ptosis Eyelid retraction Xanthelasma Lacrimal apparatus Dacryoadenitis Dacryocystitis Dacryostenosis Lacrimal duct, laceration

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2

3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A

3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B

4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4

1 1 1 1

2 2 2 2

3A 3A 3A 3A

3B 3B 3B 3B

4 4 4 4

60

Standar Kompetensi Dokter

foreign body Burn Keratitis Kerato-conjunctivitis sicca Corneal oedema Corneal dystrophy Keratoconus Eyeball Endophtalmitis Microphtalmos Buphtalmos Anterior chamber Hyphaema Hypopyon Iris and ciliary body Iridocyclitis. iritis Tumour of iris Glaucoma Glaucoma. congenital Simple glaucoma Acute glaucoma Secondary glaucoma Lens Cataract Aphakia Psudoaphakia (artificial lens) Lens dislocation 1 2 3A 3B 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 61 .15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Sclera Scleritis/episcleritis Cornea Erosion Cornea.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Refraction and accommodation Hypermetropia Myopia Astigmatism Presbyopia Anisometropia Vision and visual fields Amblyopia Diplopia Suppresion Night-blindness Scotoma Hemianopia. bitemporal and homonymous Loss of vision and blindness Retina Retinal detachment Retina. vessel occlusion or bleeding Degeneration of macula. age dependent Retinopathy of prematurity (rop) Diabetic retinopathy Hypertensive retinopathy Choroid Chorioretinitis Vitreous fluid Vitreous haemmorrhage Optic disc and optic nerve Optic disc cupping Papilloedema Optic atrophy Optic neuropathy Optic neuritis 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 1 2 3A 3B 4 1 2 3A 3B 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 62 Standar Kompetensi Dokter .

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Skin Eczematous dermatitis Contact dermatitis irritant Contact dermatitis allergica Atopic dermatitis (kecuali recalcitrant) Nummular dermatitis Lichen simplex chronicus Napkin eczema 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 Erythro-squamous lesions Psoriasis vulgaris Plamoplantar pustulosis Seborrheic dermatitis Pityriasis rosea Disorders of skin eccrine and sebaceous glads Acne vulgaris Rosacea Hidradenitis suppurativa Perioral dermatitis Miliaria 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Viral skin infections Verruca vulgaris Condyloma accuminata Molluscum contagiosum Herpes zoster 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Bacterial infections Impetigo Ulcerative impetigo (ecthyma) Superficial folliculitis Furuncle. carbuncle Erythrasma Erysipelas 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 63 .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Superficial fungal infections Tinea capitis Tinea barbae Tinea faciale Tinea corporis Tinea manus Tinea unguinum Tinea cruris Tinea pedis Tinea versicolor Mucocutaneous candidiasis 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Insect bites and infestations Pediculosis capitis Pediculosis pubis Scabies Insect bites reactions 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Vesicobullous diseases Pemphigus vulgaris Pemphigoid Dermatitis herpetiformis Toxic epidermal necrolysis Stevens-johnson's disease 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Allergic skin diseases Urticaria Angioedema Allergic vasculitis 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Autoimmune diseases Dermatomyositis Systemic sclerosis Scleroderma/morphea Lupus erythematosus 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 64 Standar Kompetensi Dokter .

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Disorders of hairs Alopecia areata Androgenic alopecia Trichotillomania Telogen eflluvium 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Disorders of keratinizations Ichthyosis vulgaris Other nonifectious inflammatory skin disorders Lichen planus Granuloma annulare Morphea Lichen sclerosus er atrphicus 1 2 3A 3B 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Drug reactions Exanthematous drug eruption Fixed drug eruption Pigmentary disorders Vitiligo Melasma Albinism Post-inflammatory hyperpigmentation Post-inflammatory hypopigmentation 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Infectious and tropical diseases Localized infections and abscesses Infections of the hand Paronychia Suppurative tenosynovitis Human bite Infections of the head and neck Suppurative parotitis Suppurative cervical adenitis Peritonsilar abscess Ludwig's angina Bezold abscess 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 65 .

mastoiditis.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Gram-positive cocci Staphylococcal and streptococcal infections Superficial infections. including folliculitis. hidradenitis suppurativa. otitis media. carbuncle. pertonsilar abscess . Osteomyelitis Staphylococcal pneumonia Staphylococcal bacteremia Streptococcal infection Rheumatic fever Sinusitis.THT Rheumatic heart disease Gram-negative cocci Meningococcal infection (neuro) Meningitis (neuro) Nasopharyngitis Gonococcal infections Gonorrhea Gram-negative bacilli Urinary tract infection (UTI) Typhoid fever Dysentry bacilli Cholera Pertussis Plague (Pes) Chancroid Toxin producing bacteria Diphteria (THT) Tetanus (pediatri) Mycobacterial diseases Tuberculosis kutis Leprosy Lepra reaction 1 2 3A 3B 4 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 66 Standar Kompetensi Dokter .

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Spirochetal diseases Syphilis Yaws Leptospirosis Deep fungal infections Actinomycosis Chromoblastomycosis Maduromycosis Viral infections Influenza avian influenza (THT) Viral gastroenteritis Poliomyelitis Rabies Morbilli Varicella Herpes zoster Herpes simplex Mumps CMV infections Dengue hemorrhagic fever (DHF) HIV-AIDS Protozoal infections Amebiasis Malaria Leishmaniasis dan tripanosomiasis Toxoplasmosis Giardiasis Trichomoniasis Worms infestations Hookworm diseases Strongyloidiasis Ascariasis Filariasis Schistosomiasis Cutaneus larva migran Taeniasis 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 67 .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Neoplasma Blood and lymph nodes Non-hodgkin's lymphoma Hodgkin's lymphoma Acute leukemia Chronic leukemia Myelodysplastic syndromes Multiple myeloma Langerhans' cell histiocytosis 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 Lung Bronchogenic carcinoma Bronchoalveolar carcinoma Neuroendocrine tumor (carcinoid tumor) Mesothelioma 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Head and neck Leukoplakia Polyps Nasopharynx carcinoma Pleomophic adenoma Warthins tumor Gatrointestinal Benign polyps Squamous cell carcinoma Adenocarcinoma Carcinoid tumor Lymphoma Liver .Hepatoma Liver cell adenoma Hepatocellular carcinoma Cholangiocarcinoma Pancreas Carcinoma of the pancreas 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 2 3A 3B 4 68 Standar Kompetensi Dokter .

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Kidney Cortical adenoma Renal cell carcinoma Wilm's tumor Male genitals Squamous cell carcinoma Seminoma Teratoma testis Benign prostatic hyperplasia Carcinoma of the prostate 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Female genitals Condyloma accuminata Cervical carcinoma Extramammary Paget's disease Endometrial hyperplasia Endometrial carcinoma Ovarial teratoma (dermoid cyst) Ovarian carcinoma Hydatidiform mole Choriocarcinoma Breast Fibrocystic change Fibroadenoma mammae Phyllodes tumor Breast carcinoma Paget's disease of the breast Gynecomastia Endocrine glands Somatotropic adenoma Prolactinoma Thyroid adenoma Thyroid carcinoma Thymus Thymoma 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 1 2 3A 3B 4 Standar Kompetensi Dokter 69 .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Skin Benign epithelial tumors Seborrheic keratosis Epithelial cyst Premalignant and malignant epithelial tumors Actinic keratosis Bowen's disease Squamous cell carcinoma Basal cell carcinoma Tumors of the dermis Xanthoma Hemangioma Lymphangioma Angiosarcoma Tumors of immigrant cells to the skin Mycosis fungoides Mastocytosis Langerhans' cell histiocytosis Tumors of melanocytic cells Lentigo Nevus pigmentosus Malignant melanoma 1 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Bone and soft tissue Osteoma Osteoid osteoma Osteoblastoma Osteosarcoma Osteochondroma Chondroblastoma Chondrosarcoma Fibrous dysplasia Fibrosarcoma and mfh Ewing sarcoma Giant cell tumor 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 70 Standar Kompetensi Dokter .

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Ganglion cyst Lipoma Liposarcoma Fibromatosis Desmoid tumor Fibroma Fribrosarcoma Benign fibrous histiocytoma Malignant fibrous histiocytoma (mfh) Rhabdomyosarcoma Leiomyoma Leiomyosarcoma Synovial sarcoma Central and peripheral nervous system Astrocytoma Oligodendroglioma Ependymoma Medulloblastoma Retinoblastoma Meningioma Neurofibroma Schwannoma 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 Psychiatry and mental health Developmental and behavioral disorders Mental deficiency Autistic disorder Disorder of intellectual skills Disorder of motor development Disorder of coodination Behavior and attention disorders 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 Eating disorders Anorexia nervosa Bulimia Pica Rumination in infancy 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Gender identity disorder Standar Kompetensi Dokter 71 .

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Tics Gilles de la tourette syndrome Chronic motor of vocal tic disorders Transient tic disorders 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Disorders of excression Functional encoperasis Functional enuresis 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 Speech disorders Uncoordinated speech Stammer Psych-organic syndromes and disorders due to drugs Intoxication Withdrawal syndrome Delirium Dementia Amnesic syndrome Other organic disorders 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 Misuse of psychoactive drugs Psychosis Schizophrenia Other psychoses including reactive psychosis and puerperal psychosis 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 Affective disorders Bipolar disorders Bipolar disorder. manic episode Bipolar disorder. depressive episode Cyclothymic disorder 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 72 Standar Kompetensi Dokter .

dissociative form) Multiple personality Fugu states Psychogenic amnesia Depersonalisation disorder or depersonalisation neurosis Dissociative disorder. noc 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Sexual disorders Paraphilia 1 2 3A 3B 4 Standar Kompetensi Dokter 73 . single episode and recurrent Dysthymic disorder (or neurotic depression) Depressive disorder not otherwise classified 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Anxiety disorders Panic disorder with agoraphobia Panic disorder without agoraphobia Agoraphobia without history of panic disorder Social phobia Simple phobia Obsessive compulsive disorder (neurosis) Post traumatic stress disorder Diffuse anxiety disorder Anxiety disorder not otherwise classified 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Somatic disorder Disorder of body sensation Conversion disorder (hysterical neurosis) Hypochondriasis (hypochondriacal neurosis) Somatisation disorder Somatoform pain disorder Undifferentiated somatoform disorder Somatoform disorder not otherwise classified Dissociative disorders (or hysterical neurosis.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Unipolar disorders Endogenous depression.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Sexual dysfunctions Disorder of sexual desire Disorder of sexual exitement Disorder of orgasm Sexual pain disorders Sexual dysfuctions. noc 1 2 3A 3B 4 Sleeping disorders Dyssomnia Insomnia Hypersomnia Sleep-wake cycle disturbances 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Parasomnia Nightmares Night terrors Sleep walking Disorder of impulse control Adjustment disorder Psychological factors affecting physical condition Personality disorders Paranoid personality Schizoid personalinty Schizotypal personality Antisocial personality Borderline personality Histerionic personality Narcisistic personality Avoidance personality Dependent personality 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 1 2 3A 3B 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 74 Standar Kompetensi Dokter . noc 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Other sexual disorders Sexual disorders.

neuropathic behavior Hyperkinetic syndrome Primary infantile autism Disorders of mother-child relationship Disorders due to social deprivation Neurotic disorder of chilhood Breath holding due to exitement 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 2 3A 3B 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 75 .15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Obsessive-compulsive personality Passive-aggressive personality Personality disorders. noc 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Side effects of psychoactive drug therapy Extrapyramidal side effects (eg. etc) Neuropsychiatric and psychosomatic disorders (pediatrics) Pseudoconstipation Encopresis Anorexia nervosa Bulemia Tics. psychoanalytic. Acute dystonia. parkinsonism) Anticholinergic side effects Sedative side effects Malignant neuroleptic syndrome 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Other items of knowledge Knowledge of forensic psychiatry Knowledge of indication for involuntary admission to hospital Knowledge of basic principles of methods used by different psychotherapeutic schools (eg. Rogerrian. tradive dyskenia.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Musculoskeletal system Bone and joints (pediatrics) Congenital dislocation of the hips Arthritis Genu varum (bow legs) Genu valgum (knock knee) Pes planus Scoliosis Kyphosis Lordosis Terthes disease Slipped epiphysis Osgood-schlatter diseasev Chondromalacia patellae Club foot Marfan's disease Osteogenesis imperfecta Bone cyst Achondroplasia Generalized disorders of the musculoskeletal system Rickets. acute Arthritis Trauma of joint cartilage Trauma of joint capsule Ganglion Primary bone tumors Bone metastasis Pathological fracture 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 1 ?1 ?1 ?1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 76 Standar Kompetensi Dokter . osteomalacia Osteoporosis Fibrous dysplasia Paget's disease Localized disorders of the musculoskeletal system Physical overload Aseptic necrosis of bone Osteomyelitis.

spondylosis Spondylitis. genu valgum Osteochondritis dissecans 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 77 . spondylodiscitis Hernia of nucleus pulposus Spondylolisthesis Spondylolysis Metastases from elsewhere Pathological fractures Fractures and dislocations of spine Spinal transaction 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Pelvic and lower extremities Congenital hip dislocation Hip dysplasia Femoral head necrosis Intermittent arthritis of the hip Fractures of pelvis Fractures of hip Dislocation of hip Ligamentous lesions of hip Arthritis of hip Fractures of femur Fractures. capsule.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Degenerative disorders of joints Arthrosis deformans Crystal arthropathy Rheumatoid arthritis Bechterew disease 1 1 1 1 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 Spine Spina bifida Sacrococcygeal teratoma Scoliosis Kyphosis Lordosis Spondylarthrosis. medial and lateral Abnormal patellear cartilage Genu varum. tendon and ligament lesions of knee Lesion of meniscus.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Arthritis of the knee Achilles tendonitis Rupture of achilles tendon Tarsal tunnel syndrome Instability of ankle In growing toe nail Pes planus Club foot Claw foot Hallux valgus Hammer toe Metatarsalgia Onychogryposis Anisomelia 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Traumatology Birth trauma Caput succedaneum Brachial plexus injury Fracture (clavicle. rib) 1 1 1 2 2 2 3A 3A 3A 3B 3B 3B 4 4 4 Trauma (Tergantung ringan sampai berat) Drowning Head injury Burning Poisoning Suffocation Bleeding Hypovolemic shock Dislocation of jaw Fracture of jaw Dislocation of knee Dislocation of patella Prepatellar bursitis Fractures of tibia Rib fractures/contusion Injury caused by rib fractures Sternal fractures Fractures of toes Crush injury to the heel (in children) 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 78 Standar Kompetensi Dokter . humerus.

tendon and ligament lesions of ankle Pneumothorax Hemothorax Injury to specific internal organs. ligament lesions of wrist Fractures. kidney. ligament lesions of elbow Fractures. capsule.g. tendon. ligament lesions of fingers and thumb Lateral epicondylitis (tennis elbow) Dislocation of distal radius Dislocation of wrist Progressive inflammation of finger following injury Olecranon bursitis Carpal tunnel syndrome Injury to finger tendon. etc Peripheral nerves Injury of peripheral nerves 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 1 2 3A 3B 4 Neck.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Fractures of fibula Whiplash Fractures. shoulder girdle and upper extremities Fractures of shoulder Dislocation of shoulder Ligamentous lesions of shoulder Instability of shoulder Frozen shoulder Fracture of clavicle Fracture of humerus Fracture of radius/ulna Fractures. capsule. e. tendon. Boutonniere-deformity Mallet finger Dupuytren's contracture Nail loss Subungual hematome Traumatic vessel injury 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 79 . capsule. such as liver. capsule. tendon. lung.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Accidents and emergency neurology Head injuries Diffuse brain damage Cerebral concussion and contusion Brain death Extradural hemorrhage Subdural hemorrhage Basilar fracture scalp Acute traumatic spinal transaction Injury of plexus and peripheral nerves 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Reproduction system Infection during pregnancy/delivery Syphillis Rubella CMV infection Toxoplasmosis AIDS Gonorrhoea Herpes virus infection type 2 Hepatitis B Drugs and harmful substance during pregnancy Mother taking tobacco Mother taking drugs of addiction 1 1 2 2 3A 3A 3B 3B 4 4 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 Pregnancy disorders Threatened abortion Incompleted spontaneous abortion Completed spontaneous abortion Hyperemesis gravidarum Blood group incompatibility Hydatidiform mole Intra-uterine infection Pregnancy induced hypertension Pregnancy induced diabetes mellitus Dysmaturity Placental insufficiency Placenta previa 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 80 Standar Kompetensi Dokter .

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Vasa previa Abruptio placenta . infant Retained placenta 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Postpartum Retained placental tissue Uterine inversion Postpartum haemorrhage Thrombo – embolism Blood group incompatibility 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 Standar Kompetensi Dokter 81 . fetal and passage Malpresentation of fetus Prolonged delivery Primary mild contractions – IMININ Secondary mild contractions Cord presentation / cord prolapse Hypoxia of fetus Failure to rotate / incorrect rotation Rupture of cervix Rupture of perineum Shoulder distortion.SOL Cervical incompetence Polyhydramnion Jaundice late in pregnancy Urinary tract infection Pyelitis in pregnancy Iron dificiency anaemia Megaloblastic anaemia Dead fetus 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 Delivery Premature contractions Premature delivery Rupture of uterus Postmature infant Premature rupture of membranes Unstable lie / malposition after 36 weeks Dystocia.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Puerperium Mastitis Cracked nipple Inverted nipple Endometritis Inflammation of pelvis (salpingitis. pelviperitonitis. perimetritis etc) Incontinence of urine Incontinence of faeces Deep venous thrombosis Thrombophlebitis Embolism Post-natal psychoses Post-natal depression Subinvolution of uterus 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3A 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 3B 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 4 82 Standar Kompetensi Dokter .

teori. Keterampilan klinis ini perlu dilatihkan sejak awal pendidikan dokter secara berkesinambungan hingga akhir pendidikan dokter. teori. Dalam melaksanakan praktik dokter. sehingga dapat menjelaskan kepada teman sejawat. komplikasi. prinsip maupun indikasi. komplikasi yang timbul. prinsip maupun indikasi. selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan keterampilan ini. Tingkat kemampuan 4 Mampu melakukan secara mandiri Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep. dan pernah menerapkan keterampilan ini beberapa kali di bawah supervisi serta memiliki pengalaman untuk menggunakan dan menerapkan keterampilan ini dalam konteks praktik dokter secara mandiri. lulusan dokter perlu menguasai keterampilan klinis yang akan digunakan dalam mendiagnosis maupun menyelesaikan suatu masalah kesehatan. dan sebagainya). Standar Kompetensi Dokter 83 . dan sebagainya). teori.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Lampiran 3 Daftar Keterampilan Klinis Keterampilan adalah kegiatan mental dan atau fisik yang terorganisasi serta memiliki bagian-bagian kegiatan yang saling bergantung dari awal hingga akhir. Selain itu. cara melakukan. dan sebagainya. cara melakukan. Daftar keterampilan klinis dikelompokkan menurut bagian atau departemen terkait. Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan keterampilan ini. teori. prinsip maupun indikasi. pasien maupun klien tentang konsep. komplikasi. knows how. dan sebagainya). Tingkat kemampuan 3 Pernah melakukan atau pernah menerapkan di bawah supervisi Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep. Berikut ini pembagian tingkat kemampuan menurut Piramid Miller : Tingkat kemampuan 1 Mengetahui dan Menjelaskan Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini. Tingkat kemampuan 2 Pernah Melihat atau pernah didemonstrasikan Lulusan dokter memiliki pengetahuan teoritis mengenai keterampilan ini (baik konsep. serta cara melakukan. Selama pendidikan pernah melihat atau pernah didemonstrasikan ketrampilan ini. does) yang diharapkan dicapai oleh mahasiswa di akhir pendidikan. shows. dan pernah menerapkan keterampilan ini beberapa kali di bawah supervisi. Pada setiap keterampilan klinik ditetapkan tingkat kemampuan menggunakan Piramid Miller (knows. cara melakukan. komplikasi. prinsip maupun indikasi.

nose. mouth and throat chvostek’s sign palpation of salivary glands throat swab palpation of thyroid gland palpation of trachea palpation of carotic arteria The spine inspection at rest inspection in motion percussion for tenderness palpation for tenderness palpation for pain on vertical pressure (eg pressing down on shoulders) assessment of lumbar flexion -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4- 84 Standar Kompetensi Dokter .KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Internal Medicine: Physical examination Level of expected ability General Survey assessment of mental status assessment of apparent state of health assessment of nutritional condition assessment of habitus and posture assessment of respiration palpation of pulse measurement of blood pressure measurement of jugular venous pressure measurement of height and weight inspection and palpation of skin inspection of mucous membranes palpation of lymph nodes Head/neck inspection of eyes.

colon. sounds. adnexae Examination of male genitalia Inspection of penis Inspection and palpation of scrotum -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4- -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- Standar Kompetensi Dokter 85 . perineum vaginal examination: palpation of vagina. lung bases. Traube’s area bladder dullness) palpation (abdominal wall. cardiac size auscultation of lungs auscultation of heart inspection of breasts palpation of breasts Abdomen Inspection auscultation (bowel. liver. spleen. uterus. rigidity) eliciting abdominal tenderness and rebound tenderness eliciting shifting dullness eliciting a fluid thrill eliciting renal tenderness Perineal examination inspection of perianal area rectal examination palpation of prostate palpation of pouch of Douglas palpation of adnexae palpation of sacrum inspection of glove Examination of female genitalia inspection of vulva. bruits) percussion (especially liver. aorta.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Thorax inspection at rest inspection during respiration palpation of respiratory expansion palpation of tactile fremitus palpation of apex beat percussion of lungs.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Extremities inspection of skin, nails, muscle tone inspection of joints assessments of capillary pulse assessments of capillary refill palpation of arterial pulses detection of bruits palpation of skin, tendons, joints assessments of range of motion of joints examination of sensory system examination of monitor system eliciting reflexes: knee reflex, ankle reflex, triceps reflex, biceps reflex, plantar response Diagnostic procedures Venapuncture arterial puncture finger prick preparation and examination of blood film preparation and examination of urinary sediment preparation and examination of sputum preparation and examination of stool Gram stain Ziehl Nielsen X-ray examination: plain film X-ray contrast examination CT-scan NMR/MRI scintigraphic examination Echography gastric endoscopy Proctoscopy kidney or liver biopsy tapping ascites pleural tap pathological examination of biopsy electrocardiography exercise ECG testing Phonocardiolography

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

86

Standar Kompetensi Dokter

15

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Doppler examination Holter examination cardiac catheterization automatic blood pressure measurement echocardiography lung function tests/spirometry histamine provocation test allergy tests hyperventilation provocation test perfusion/ventilation scan Bronchoscopy joint aspiration Therapeutic skills to advice a patient about life-style to prescribe a diet subcutaneous and intramuscular injection administration of insulin intravenous cannulation mouth to mouth resuscitation cardiac massage initiate resuscitation nasogastric tube Contraventil needle (needle decompression) WSD Endoscopy bladder catheter renal dialysis sclerotherapy for varicose veins

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

Neurology: Skills list
Physical examination Cranial nerve function assessment of sense of smell inspection of width of palpebral cleft inspection of pupils (size and shape) pupillary reaction to light pupillary reaction of close objects assessment of extra-ocular movements assessment of diplopia assessment of nystagmus
Standar Kompetensi Dokter

Level of expected ability

-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-

87

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

corneal reflex assessment of visual fields test visual acuity fundoscopy assessment of pupil assessment of facial symmetry assessment of strength of temporal and masseter muscles assessment of facial sensation assessment of facial movements assessment of taste assessment of hearing (lateralization, air and bone conduction) assessment of swallowing inspection of palate test gag reflex assessment of sternomastoid and trapezius muscles tongue, inspection at rest tongue, inspection and assessment of motor system (e.g. sticking out) The motor system inspection: posture, habitus involuntary movements assessment of passive stretch assessment of muscle strength assessment of strength of individual muscles Coordination inspection of gait (normal, on heels, on toes, hopping in one place, heel-to-toe) shallow knee bend Romberg’s test reaction to a push (balance) point-to-point testing: between index finger and nose point-to-point testing: heel on opposite knee, running down to big toe testing for dysdiadochokinesis The sensory system assessment of sense of pain assessment of sense of temperature assessment of light touch

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

-1-1-1-1-

-2-2-2-2-

-3-3-3-3-

-4-4-4-4-

-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-

-1-1-1-

-2-2-2-

-3-3-3-

-4-4-4-

88

Standar Kompetensi Dokter

15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA assessment of extinction phenomenon assessment of vibration assessment of position sense assessment of discriminative sensations (e. stereognosis) Radicullar sensation disorders Lasègue’s sign Higher functions assessment of level of consciousness by means of Glasgow coma scale assessment of orientation assessment of aphasia assessment of apraxia assessment of agnosia assessment of new learning ability assessment of memory assessment of concentration Reflexes Physiological Reflexes tendon reflexes (biceps. ankle reflex) plantar response abdominal reflexes cremaster reflex anal reflex Pathological Reflexes Hoffmann-Trömner sign Plantar response (Babinski Group) Primitive Reflexes snout reflex rooting reflex grasp reflex glabela reflex palmomental Reflex Others detections of neck stiffness assessment of fontanelles patrick’s and contra Patrick’s sign chvostek’s sign -1-1-1-1- -2-2-2-2- -3-3-3-3- -4-4-4-4- -1- -2- -3- -4- -1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1 -2-2-2-2- -3-3-4- -4-4-4-4- Standar Kompetensi Dokter 89 .g. triceps reflex knee reflex. reflex.

MRA Therapeutic skills Laminectomy therapeutic spinal tap opening the skull surgery for acoustic neuroma surgery of pituitary gland surgery for extradural haemorrhage surgery for subdural haemorrhage surgery for cerebral tumour surgery for carpal/tarsal tunnel syndrome surgery for intra cerebral aneurysm -1-1-1-1-1 -1-1-1- -1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-22-2 -2 -2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4- -4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- The spine Inspection at rest Inspection in motion Percussion for tenderness Palpation for tenderness Palpation for pain on vertical pressure Assessment of lumbar flections -1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4- 90 Standar Kompetensi Dokter . SSEP digital substraction angiography duplex-scan of vessels biopsy of muscle lumbar puncture lumbar puncture. EMNG ENG Brain mapping PET. SPECT visual evoked response examination. Queckenstedt test MRI.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Additional diagnostic investigations X-ray skull X-ray spine Seldinger angiography Myelography Caudography CT-scan of cerebrum EEG EMG. BAEP.

from a third person Psychiatric examination assessment of consciousness assessment of perception assessment of orientation assessment of intelligence assessment of memory assessment of thought (form and contents) assessment of affect assessment of mood assessment of actions assessment of desire impression. from the patient. general psychiatric history taking. social history psychiatric history taking.e. with partners) identifying problem with the family identifying problem in a crisis situation identifying problem after suicide attempt identifying problem with a group presenting psychiatric problem to colleagues Additional examination administering Mini Mental State Exam home visit psychological examination -1-1-1-1Level of expected ability -2-3-4-2-2-2-3-3-3-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1- -2-2-2- -3-3-3- -4-4-4- Standar Kompetensi Dokter 91 . biographical details psychiatric history taking. systematic description being aware of personal reactions evoked by seeing a patient assessment of suicidal risk Identifying problems identifying problem with the patient alone identifying problem with the couple (i. general.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Psychiatry: Skills list History taking psychiatric history taking. from the patient.

crying looking for congenital malformations palpation of fontanelles moro response palmar grasp reflex rooting reflex/suck reflex stepping reflexes vertical suspension positioning asymmetric tonic neck reflex anal reflex examination of hips -1-1-1-1Level of expected ability -2-3-4-2-3-4-2-3-4-2-3-4- -1- -2- -3- -4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- 92 Standar Kompetensi Dokter . arousal.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA recognition and interpretation of the repeating patterns in interaction To diagnose most likely according to DSM IIIR main criteria indication for psychiatric hospitalization Therapy consulting team. behaviour. participation consultation occupational therapy play therapy creative therapy psychomotor therapy electroconvulsion therapy (ECT) counselling therapy behaviour therapy psychotherapy hypnotherapy -1-1-1- -2-2-2- -3-3-3- -4-4-4- in -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- Paediatrics: Skills list History taking history taking from third party taking a feeding history history taking older child talking with anxious parents/ parents with a very ill child Physical examination general physical examination with special attention to age of patient Newborn and infant assessment of general condition.

peak flow meter cranial ultrasound EEG lumbar puncture echocardiography cardiac catheterization -1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- Surgery: Skill list Physical examination general physical examination digital rectal examination bimanual ginjal Orthopaedic examination assessment of muscle atrophy determination range of motion of head inspection shoulder / upper extremity test function of shoulder joint test function of muscles and elbow joint test function of wrist joint. examinations and operation of the child prescription of food for infant. metacarpal and finger joints inspection of posture of spine/pelvis inspection of scapula position -1-1-1Level of expected ability -2-3-4-2-3-4-2-3-4- -1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4- Standar Kompetensi Dokter 93 . In term a mother can understand assessment of vision ewing test finger prick venepuncture insertion of cannula (peripheral vein) insertion of cannula (central venous) rumple Leed Test intubation resuscitation oropharyngeal tube insertion lung function test.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA All ages physical and developmental assessment assessment of speech and language development weight measurement of body length measurement of head circumference measurement of blood pressure measurement of temperature measurement of body mass index Therapeutic skills.

burns. fractures) stop bleeding (direct pressure. pressure point. dislocation. epididymis spermatic duct transillumination of scrotum urethral swab Accident and emergency first aid assessment of consciousness by means of Glasgow coma scale external cardiac massage mouth-to-mouth/ nose resuscitation mask ventilation Intubation assessment and care external injuries (wounds.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA inspection of flexion and extension of back assessment of lumbar flexion palpation of spine. back muscles inspection of gait measurement of length of lower extremities hip: assessment of flexion and extension. testes. eversion Examination of patient with varicose veins Trendelenburg test Perthes test Examination of arterial vascular disorders posture tests of arterial insufficiency reactive hyperaemia test of arterial insufficiency capillary refill Examination of abdominal hernia inspection of groin during increased abdominal pressure palpation of hernia Examination of male genitalia palpation of penis. abduction and rotation knee : assessment of cruciate ligaments. distortion. inversion. adduction. pressure bandage) transport of casualty Heimlich manoeuvre apply a bandage fluid rescucitation -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- -1-1-1- -2-2-2- -3-3-3- -4-4-4- -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- -1-1-1- -2-2-2- -3-3-3- -4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- 94 Standar Kompetensi Dokter . sacro-iliac joints. collateral ligaments assessment of menisci feet : inspection of posture and shape feet : assessment of dorsal / plantar flexion. bleeding.

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Additional examination radiography (plane films) Arthrography Arteriography Scintiscan CT MRI ultrasound Endoscopy biopsy Uroflowmetry micturating cystography urodynamic examination Reflek bulbokavernos Therapeutic skills pre-operative preparation of operative field for minor surgery, asepsis, antisepsis, local anaesthesia preparation to watch/to assist in theatre scrub-up, gown up, put on sterile gloves etc) infiltration anaesthesia local nerve block incision and drainage of abscess wound cleaning wound debridement with scalpel and scissors wound stitching wound, removal of sutures wound care for burns apply a pressure dressing fracture repositioning, closed fracture stabilisation (without plaster) reduction of dislocation apply a sling nail bed cauterisation nail removal nasogastric suction nasogastric insertion urethral catheterization in male urethral catheterization in female Clean intermitten chatheterization (Neuropathic blader) Circumcision dorsumcircumcision Pungsi suprapubik
Standar Kompetensi Dokter

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

95

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

colostomy, changing the bag enema injection of varices with sclerosant venous cannulation administration of analgesics to attend oncological patient regarding social and psychological issues

-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-

Operative surgery Every doctor should have attended the theatre several times to observe different operations. This experience should give him/her an impression of what goes in surgery during operation, working with a team, the burden of surgery for a patient, and the relationship with pre-and postoperative care. Gynaecology / obstetrics : Skills list
Gynaecology Level of expected ability Physical examination general physical examination including breast inspection and palpation of external genitalia speculum examination: inspection of vagina and cervix bimanual examination : palpation of vagina, cervix, uterine corpus, ovaries rectal examination : palpation of pouch of Douglas, uterus combined recto-vaginal septum Additional diagnostic examination genital discharge : smell genital discharge : pH genital discharge : gram stain genital discharge : vaginal swab genital discharge : examination with saline genital discharge : examination with potassium hydroxide endocervical swab and cervical scraping colposcopy abdominal ultrasound examination of uterus vaginal ultrasound examination of uterus curettage suction curettage laparoscopy, diagnostic -1-1-1-1-1-1-2-2-2-2-2-2-3-3-3-3-3-3-4-4-4-4-4-4-

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

96

Standar Kompetensi Dokter

15

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA

Additional diagnostic tests for sub fertility physical examination of male genitalia assessment of results of semen examination basal temperature curve, instruction, assessment of results examination of cervical mucus, fern test post-coital test, obtaining material, preparing and assessing slide hystero salpingography insufflation of Fallopian tubes artificial insemination Therapy and prevention instructions for self-examination of breasts insertion of pessary insertion of urinary catheter electro-or crycoagulation cervix laparoscopy, therapeutic Contraception/ sterillization advise about contraception insertion I.U.D laparoscopic sterilization Obstetrics Selection of high-risk pregnancy for Hospitalization/ clinical care Pregnancy attending pregnant women inspection of abdomen of pregnant woman palpation : fundal height, Leopold’s manoeuvre, external assessment of position assessment of fetal heart rate internal examination in early pregnancy pelvic examination pregnancy test, urine CTG : performance and interpretation ultrasound examination amniocentesis chorionic biopsy

-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-

-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-

-1-1-1-

-2-2-2-

-3-3-3-

-4-4-4-

-1-

-2-

-3-

-4-

-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-

-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-

-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-

-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-

Standar Kompetensi Dokter

97

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Practical obstetrics Normal Delivery attending woman in labour CTG : performance and interpretation obstetric examination (assessment of cervix. lactation advice on hygiene discussing contraception inspection episiotomy scar inspection caesarean section scar -1-1-1- -2-2-2- -3-3-3- -4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4- 98 Standar Kompetensi Dokter . dilatation. presentation of fetus. membranes. after delivery repair of episiotomy and lacerations chemical induction of labour support delivery in breech presentation fetal blood sampling assisted vaginal delivery caesarean section manual removal of placenta Puerperium assist and check mother and newborn assessment of lochia palpation of position of fundus breasts : inspection. placenta: loose/ retained delivery of placenta examination of placenta and umbilical cord measure/estimate loss of blood. descent) artificial rupture of membranes insertion of catheter for intra-uterine pressure inspection and support of perineum local anaesthesia of perineum pudendal anaesthesia epidural anaesthesia episiotomy receive/ hold newborn aspiration of mouth/throat of newborn infant record Apgar score clamp cord/separation of placenta examination umbilical cord physical examination of newborn postpartum : examination fundal height.

as well as size. inspection with magnifying glass skin. compressive sclerotherapy varicose veins. excision of tumour cryotherapy on tumours warts. cryotherapy acne. incision/ drainage of abscess skin. ambulant compressive therapy on venous leg ulcer haemorrhoids masking therapy phototherapy Prevention contact tracing -1-1-1-1-1Level of expected ability -2-3-2-3-2-3-2-3-2-3-4-4-4-4-4- -1- -2- -3- -4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1- -2- -3- -4- Standar Kompetensi Dokter 99 . treatment of comedones wound care to apply a dressing varicose veins. inspection with UVA-light (Wood’s lamp) nails. inspection dermographism skin palpation Terminology of skin lesions skin lesions description with primary and secondary changes. expansion and configuration Additional examination of dermatological problems preparation and assessment of potassium hydroxide slide preparation and assessment of methylen blue slide preparation and assessment of gram stain urethral swab anal swab parasite identification punch biopsy patch test prick test colposcopy for condylomata acuminata proctoscopy Therapy of skin diseases skin. distribution.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Dermatology: Skills list Physical examination skin.

Schwabach) hearing tests. oesophagus. sinuses inspection of shape of nose and nostrils assessment of nasal obstruction testing sense of smell anterior rhinoscopy transillumination of frontal sinuses nasopharyngoscopy ultrasound of sinuses radiology of sinuses. with whispering voice tone audiometry speech audiometry audiological examination of children pneumatic otoscopy (Siegle) performance and interpretation of tympanometry vestibular examination ewing test electronystagmography Nose. neck test taste sensation inspection lips and oral cavity inspection tonsils assessment of mobility of tongue assessment of mobility of hypoglossal muscles palpation of salivary glands (submandibular. Rinne. equilibrium inspection of auricle. head mirror and laryngoscope) inspection of hypopharynx (with laryngoscope/ hypopharyngoscope) throat swab laryngoscopy.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Otorhinolaryngology (ENT): Skills list Diagnostic skills Ears. parotid) inspection of base of tongue (with laryngoscope) inspection of nasopharynx cavity (with nasopharyngoscope. tuning fork examination (Weber. speech. throat. indirect Level of expected ability -1-2-3-4-1-2-3-4-1-2-3-4-1-2-3-4-1-2-3-4-1-2-3-4-1-1-1-1-1-1-1-1-1-2-2-2-2-2-2-2-2-2-3-3-3-3-3-3-3-3-3-4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- 100 Standar Kompetensi Dokter . interpretation Mouth. hearing. position of ear and mastoid examination of external auditory meatus with otoscope examination of thympanic membrane with otoscope use of head mirror use of head light hearing tests.

removing of foreign body sinus lavage puncture of sinuses antroscopy tracheostomy intubation -1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- ENT Surgery Every doctor should have attended several operations on the ear. infant/ child Refraction assessment of refraction. objective (refractometry keratometer) Level of expected ability -2-3-4-2-3-4- -1-1- -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- Standar Kompetensi Dokter 101 .15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA laryngoscopy. subjective assessment of refraction. noses and throat during his training Ophthalmology : Skills list General ophthalmologic examination Vision assessment of vision assessment of vision. direct assessment of voice and speech speech assessment oesophagoscopy inspection of neck palpation of branchial lymph nodes palpation of thyroid gland Therapeutic skills politzerization test valsalva manoeuvre insert cotton wool probe in ear cleaning external auditory meatus with swab removal of wax with hook or curette syringing the ear paracentesis ear. removal of foreign body insertion of grommet to adjust hearing aid stopping a nose bleed packing the nose nose.

palpation Position of eyes position with corneal reflex images position with cover test eye movements. discrimination between normal and abnormal retina vessels. pre-auricular. inspection. examination binocular vision. inspection bye eversion of upper lid eyelash. inspection cornea. discrimination between normal and abnormal Intra-ocular pressure intra-ocular pressure. estimation by palpation intra-ocular pressure. inspection conjunctivae. inspection slit-lamp examination Fundi fundoscopy. direct reaction to light and convergence Media media of eye. Donders confrontation test visual fields. Amsler panes External inspection eyelids. inspection. inspection lymph nodes. inspection with fluorescein cornea. inspection Pupils. measurement by indentation tonometer (Schiötz) or non-contact-tonometer intra-ocular pressure. assessment Pupils Pupils. measurement by aplanation tonometer -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- -1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1- -2-2-2-2- -3-3-3-3- -4-4-4-4- -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1- -2-2-2- -3-3-3- -4-4-4- -1-1-1- -2-2-2- -3-3-3- -4-4-4- 102 Standar Kompetensi Dokter . inspection lens. bringing the fundus into focus optic disc.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Visual fields visual fields. determination of sensation anterior chamber. inspection by transillumination cornea. inspection eyelids. including fornix sclerae. inspection lacrimal apparatus. inspection iris. inspection.

visual evoked potentials (VEP/VER) eye. gonioscopy measurement of lacrimal production measurement of exophthalmos (Hertel) lacrimal ducts. echographic examination: ultrasonography (USG) Therapeutic skills eye drops instillation eye ointment application flood ocular tissue eye.g. surgery vitrectomy glaucoma surgery.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Additional general ophthalmological examination determination of refraction after cycloplegia (skiascopy) fundus contact lens examination. surgery squint. ectropion. removal of contact lens or eye prosthesis removal of eye lashes cornea.g. cryocoagulation : e. cyclocryocoagulation eyelid surgery (chalazion removal. rinse through (Anel) Special ophthalmological examination orthoptic examination perimetry contact lenses (examination) colour vision test electroretinography electro-oculography eye. laser therapy cataract. e. entropion. trabeculotomy corneal transplantation eye. removal of foreign body and debris Surgical therapy eye. eversion upper eyelid with swab (removal of foreign body) to apply eyes dressing eye. ptosis) detached retina. surgery -1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4- Standar Kompetensi Dokter 103 . fluorescein angiography (FAG) eye.

foot bandage. mucosa and subcutaneous tissue administration of drugs. intramuscular administration of drugs. hand bandage) The leg treatment of leg ulcers to apply a dressing (leg bandage. preparation of slide with saline and potassium hydroxide) The arm drainage of bursa. subcutaneous administration of drugs. intravenous administration of drugs. ankle bandage. ganglion to apply a dressing (sling. shoulder bandage. finger bandage. intracutaneous application of topical anaesthetics (drops.KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA General practice : Skills list The eye removal of foreign body (conjunctiva) removal of foreign body (cornea) The ear removal of wax syringe removal of foreign body (by syringing ear) External and internal genitalia endocervical swab examination of discharge (taking swab for culture. knee bandage) Skin. spray) administration of local anaesthetics administration of nerve block incision of abscess excision of warts wound care suture a wound treatment of burns removal of splinter disinfection -1-1-2-2-3-3-4-4-1-1-2-2-3-3-4-4-1-1Level of expected ability -2-3-4-2-3-4- -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- -1-1- -2-2- -3-3- -4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- 104 Standar Kompetensi Dokter .

Patient safety Standar Kompetensi Dokter 105 . secondary and tertiary prevention like vaccination. consultation) Reporting and making record Information processing and applying (especially from scientific literature) PUBLIC HEALTH MEDICINE (4) Prevention (vaccination policy included) Recognition of hazardous behaviour and life style Performing directed medical examination Assessment of absent due to illness Performance of environmental research Performance of several interventions in the domain of primary. blood finger prick determination of sedimentation rate determination of Hb determination of blood glucose concentration monospot test Laboratory investigation. urine testing for protein testing for glucose testing for bile testing for blood preparation of slide and microscopy of urine dip slide method (urine culture) pregnancy test testing for Sputum laboratory investigation. their environment or an institution. prevention of accident and set up a programme/ plan for individuals. periodical medical examination.15 KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA Laboratory investigation. social medical support and management. faeces occult blood protozoa intestinal helminth death certification -1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4- -1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1-1- -2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2-2- -3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3-3- -4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4-4- COMMUNICATION AND RECORDING (4) Formulating orally and in writing Educating. advising and coaching of individuals and groups Making a management plan Therapeutic consultation Drug prescription Oral and written communication with colleagues and other health care professional (referral.

106 Standar Kompetensi Dokter .