Anda di halaman 1dari 8

BAB III PEMBAHASAN A.

Patofisiologi Masalah dan Hipotesis Keluhan utama yang terjadi pada pasien ini yaitu demam selama 5 hari. Juga disertai keluhan tambahan lainnya seperti batuk, pilek, nafsu makan yang berkurang, mata merah dan badan lemah. Demam, nafsu makan yang berkurang dan badan yang lemah merupakan beberapa gejala yang tidak spesifik dari suatu penyakit. Gejala ini merupakan suatu reaksi tubuh akibat adanya reaksi inflamasi yang menghasilkan endogen pirogen dan berpengaruh terhadap hipotalamus. Lalu mengapa dapat terjadi reaksi inflamasi ini? Halyang paling sering terjadi ialah karena adanya infeksi oleh bakteri maupun virus.Batuk dan pilek. Merupakan suatu gejala yang terdapat pada traktusrespiratorius. Batuk sebenarnya merupakan reflek fisiologis yang terjadi untuk mengeluarkan benda asing yang berada pada traktus respiratorius, begitu pula halnya dengan pilek yang merupakan suatu keadaan dimana pengeluaran sekret pada lubanghidung agak berlebih. Hal ini menjadi patologis, bila batuk dan pilek ini berlangsung lama dan mengalami perubahan, baik secara frekuensi maupun konsistensi. Yang perlu dipikirkan pada hipotesis ini ialah, apakah batuk dan flu yang terjadi pasien inimerupakan suatu penyakit yang berdiri sendiri yang tidak berhubungan dengan adanya panas atau merupakn suatu perjalanan penyakit yang bersamaan dengan demam. Begitu pula halnya dengan mata merah yang terjadi pada pasien ini.Maka hipotesis dari kasus ini ialah demam berdarah, demam typhoid, infeksi saluran pernafasan atas, dan infeksi virus maupun bakteri yang lainnya

B.Anamnesis dan Interpretasi Sebelumnya, identifikasi dari pasien sebaiknya dilengkapi, seperti agama, pekerjaan,suku ban gsa dan alamat tempat tinggal. Hal ini perlu dilakukan, karena dapatdijadikan suatu bahan observasi yang dapat mengeliminasi ataupun memperkuat darihipotesis yang telah dibuat. Adapun anamnesis yang dibutuhkan, untuk mempermudah,dapat dibagi menjadi beberapa topik utama, yaitu riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, riwayat sosial ekonomi. Riwayat penyakit sekarangperlu digali dengan tujuan untuk mengetahuisecara rinci perjalann dari keluhan utama tersebut. Hal yang perlu ditanyakan mengenai:

18

Demam: sifat demam yang suhunya naik turun (remiten atau intermiten) atau demam dengan suhu yang terus tinggi (kontinua) Batuk: berdahak atau tidak? Jika iya, apakah dahaknya berwarna atau tidak? Tidak nafsu makan dan kurang minum: Apakah pasien merasa lemas?(ditakutkan terjadi dehidrasi) Mata merah: apakah ada rasa nyeri pada mata?

Riwayat imunisasi perlu ditanyakan, apakah anak ini telah divaksinasi MMR atau belum. Riwayat sosial ekonomi termasuk mengenai lingkungan tempat tinggal perluditanyakan sebagai dasar pertimbangan atas tatalaksana/terapi yang akan dilakukan,sehingga dapat dicapai hasil yang optimal dan sebagai dasar pertimbangan atas penyakityang timbul karena masalah keadaan lingkungan, seperti bila ternyata pada lingkungantersebut juga terdapat orang-orang yang menderita penyakit dengan gejala yang samasehingga dapat menular.Hasil anamnesis sebagai berikut: 5 hari yang lalu anak mulai demam, timbul mendadak, naik turun, waktu malamdemam lebih tinggi disertai batuk pilek. Batuknya kering tidak berdahak, dantenggorokannya terasa sakit. Pilek disertai lendir encer, bening, tidak berdarah. Padahari berikutnya mata mulai berwarna merah disertai banyak keluar air mata. Pasienkemudian muntah 2 kali berisi makanan, jumlahnya tidak banyak, dan tidak berdarah. Makan dan minum berkurang dan di dalam mulut terdapat sariawan. Pada hari kedua pasien dikompres dengan air hangat, tetapi demam tidak berkurang. Pasien kemudian dibawa berobat ke Puskesmas, mendapat obat penurun panas, danobat batuk. Setelah minum obat penurun panas, panas turun tetapi kemudian naik lagi. Mulai hari keempat timbul bercak merah di leher dan orangtua khawatir maka esok harinya dibawa berobat ke RS Pendidikan Trisakti. Dari hasil anamnesis diatas, kelompok kami menginterpretasikan demam yang sudah 5 hari, timbul mendadak, dan polanya yang naik turun sebagai gejala dari infeksi virus. Pilek yang disertai lendir encer dan bening kami simpulkan akibat infeksi virus juga. Anak ini juga mengalami muntah sebanyak 2x dan masih berisi makanan yang belum dicerna, sehingga anak ini menjadi lemah. Sariawan pada anak ini, kami curigai sebagai sariawan biasa atau
19

bisa juga adanya bercak yang spesifik pada penyakit tertentu seperti kopliks spot pada morbili. Pada kulit anak ini juga ditemukan bercak merah di leher, mata merah dan keluar banyak air mata. Untuk menegakkan diagnosis, kelompok kamiha us melakukan pemeriksaan lanjutan baik fisik, lab, maupun penunjang untuk lebih memperjelas penyakit, karena dari hasil anamnesis belum cukup untuk mengarah kepada suatu penyakit. C.Pemeriksaan Fisik dan Interpretasi Pada pemeriksaan fisik didapatkan bahwa pasien tampak sakit sedang,kesadaran compos mentis, gizi kurang, anemia (-), ikterus (-), sianosis (-) dandispnoe (+) yang menandakan pasien mengalami sesak napas.

Tanda vital : Suhu 38oC menandakan subfebris (normal : 36oC-37,5oC). Nadi 120x/menit teratur yang menandakan takikardi, dimanauntuk usia 4 tahun nadi normal adalah 70-110x/menit. Isi tegangancukup, tekanan darah110/70 mmHg menandakan tekanan darah yangrendah dimana nilai normal tekanan darah pada usia 1-5 tahun adalah 95/65 mmHg, tekanan darah yang rendah pada pasien ini merupakansuatu kompensasi terhadap takikardi yang dialami pasien. Respiratory Rate 36x/menit teratur, menandakan takipnoe. Respiratory rate normal untuk usia 3-4 tahun adalah 20-30x/menit.

Data antropometri : BB 13,2 kg dan TB 98 cm, indeks masa tubuh pada pasien ini tidak dapat kami ukur karena pada identifitas pasien tidak dijelaskan jenis kelamin pasien tersebut namun diperkirakan pasien ini mengalami underwight.

Lingkar kepala pasien 49cm danlingkar lengan atas pasien 15 cm dapat dikatakan normal. Kepala pasien normosefal, rambut hitam tidak mudah tercabut. Mata (-), berair (+) menunjukkan konjungtivitis, agak cekung (+), anemia (-),strabismus nystagmus (-) dan refleks cahaya langsung dan tidak langsung (+).

Hidung sianosis (-), sekret (+) bening menandakan penyebabnyamerupakan infeksi virus, napas cuping hidung (+) menandakan pasienmengalami sesak napas yang mungkin disebabkan oleh sekret bening pada hidung atau saluran pernapasan.

Telinga sekret (-), nyeri tekan atau tarik (-). Bibir kering (+), sianosis (-), fisura (-), pada mukosa bukalis terdapatulkus kecil (+), ulkus ini disebutkoplik spot yang merupakan patognomonik d

20

ari penyakit campak. Faring hiperemis menandakan

infeksi akut, (-), toraks

tonsil simetris

tenang kanan

dan lidah tidak kotor (dapat menyingkirkankemungkinan demam typhoid). Bunyi jantung 1 dan 2 murni, murmur dankiri, retraksi subcosta (+) karena pasien mengalami sesak napas. Perkusi pekak, suara napas bronkovesikuler, ronchi basah halus di paru kanan dan kiri yang bisa terjadi karena sudah terdapat komplikasi berupa infeksi bronkopneumoni pada pasien.

sekunder

yaitu

Abdomen datar, nyeri tekan (-), shifting dullness (-), hati dan limpatidak teraba, bising usus terdengar biasa. Kulit tampak bercak makulopapula (+) diseluh tubuh, petechiae (-)dan ulcus (-).2

D.Pemeriksaan Laboratorium, Penunjang dan Interpretasinya Hb : 12,2 g/dl Ht : 36 % Leukosit :41.000 Trombosit :212.000 Gula darah sewaktu :108 Na :142 K : 3,5 Cl:108

Radiografi Paru Terdapat bercak infiltrat di paru kanan dan kiri, yang merupakan tanda dari komplikasi campak yaitu bronkopneumonia, dimana pada pasien ini jugaterdapat peningkatan frekuensi napas dan ronki basah halus yang merupakan gejala klinis dari bronkopneumonia.3 E.Diagnosis Setelah kelompok kami berdiskusi lebih lanjut, kami akhirnya menegakkan diagnosis atas kasus ini yaitu morbili dengan komplikasi bronkopneumonia, atas dasar gejala klinis,
21

terutama patognomonik pada pasien ini seperti adanyakonjungtivitis dan ulkus kecil pada mulut di daerah mukosa bukalis yang kami curigai sebagai kopliks spot. Berdasarkan pemeriksaan laboratorium kami menenumkan adanya leukopenia pada pasien ini yang merupakan salah satu petanda dari infeksi visrus. Terdapat bercak di paru kanan dan kiri, yang merupakan tanda dari komplikasi campak yaitu bronkopneumonia, dimana pada pasien ini juga terdapat peningkatan frekuensi nafas dan ronki basah halus yang merupakan gejala klinis dari bronkopneumonia.4

Diagnosis Banding 1. Rubella (Campak jerman) Gejala yang sangat mirip dengan morbili juga etiologinya yang sama-samainfeksi virus membuat Rubella sebagai diagnosis banding pada kasus ini.Patognomonik pada rubella yaitu adanya Forchheimer spot yang mirip dengan Koplik spot namun letaknya ada di palatum durum dan molle. 2. Demam Berdarah Dengue Dilihat dari gejala klinis seperti demamnya yang sudah 5 hari danpemeriksaan laboratorium pasien ini dicurigai terkena DBD, namun tidak ditemukan ptekie melainkan makulopa pula yang tidak ditemukan pada DBD. 3. Demam tifoid Demam yang sudah 5 hari dan pemeriksaan laboratorium darah yang menunjukkan leukopenia merupakan tanda dari demam tifoid. Namun, pada kasus ini tidak ditemukan kelainan pada saluran pencernaan yang merupakan gejala dari demam tifoid melainkan melainkan ditemukan kelainan pada saluran pernapasanya. 4. ISPA Didapatkannya gejala seperti sesak, pilek, dan demam memungkinkan ISPAkami jadikan salah satu diagnosis banding. Namun pada ISPA tidak ditemukanbercak makulopapular pada kulit. Bisa jadi gejala ISPA pada kasus ini terjadikarena infeksi sekunder. F.Patofisiologi kasus Virus masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernafasan dan menginvansi epitel dari saluran pernafasan tersebut. Kemudian ketika virus tersebut sampai menembus kapiler, maka akan ikut terbawa bersama aliran darah menuju RES. Dan di RES inilah virus akan
22

menginfeksi atau bereaksi dengan sel-sel pertahanan tubuh (sel darah putih)sehingga akan timbul gejala infeksi pada kulit, saluan pernafasan maupun organ lain.Demam terjadi akibat adanya reaksi antara virus dan sel darah putih yang terinfeksitersebut yang bertujuan untuk mengeliminasi virus dari dalam darah, yang dari reaksitersebut akan dikeluarkan berbagai sitokin dan endogen pirogen (seperti prostaglandin dan asam arakhidonat) yang kana menaikkan termostat tubuh.Sel yang terinfeksi tersebut akan terlihat sebagai multinucleated giant cells withwith inclusion bodies in the nucleus and cytoplasm yang dikenal dengan nama sel Warthin-Finkeldey. .Sel-sel ini ditemukan di saluran pernafasan dan juga jaringanlimfoid yang merupakan patognomonik untuk campak.Reaksi imunitas yang terhadap virus yang terjadi pada sel endotel di kapiler superfisial (dermal cappilaries ) berperan besar terhadap timbulnya Kopliks spot danruam di kulit.1 Invansi langsung terhadap sel limfosit T dan meningkatnya kadar suppresivecytokines(seperti interleukin-4) akan menimbulkan depresi terhadap imunitas selullar yang terjadi hanya sementara dan mengiringi penyakit ini. Infeksi pada saluran akanmenimbulkan batuk dancoryza. Dan bila terjadi kerusakan secara menyeluruh padasaluran pernafasan, dan hilangnya cilia, merupakan faktor predisposisi terjadinyainfeksi sekunder karena bakteri, seperti pneumonia dan otitis media.5

G. Penatalaksanaan 1.Medikamentosa
Untuk pengobatan yang bersifat simptomatik dapat di berikan

antipiretik

seperti

parasetamol 10 mg/kg BB.

Antitusif, ekspektoran dan antikovulsan dapat diberikan bila perlu Antivirus seperti ribavirin dapat juga diberikan bila perlu. Untuk bronkopneumonia dapat di berikan antibiotik standard karena belum diketahui penyebab pastinya, seperti ampisilin 100mg/kgBB/hari dalam 4 dosis intravena dikombinasikan dengan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari intravena dalam 4 dosis, sampai gejalasesak berkurang dan pasien dapat minum obat peroral. Antibioticdiberikan sampai tiga hari demam reda.

Vitamin A untuk mempercepat penyembuhan dan mencegahkomplikasi. Terapi suportif seperti istrahat yang cukup dapat mempercepatkesembuhan pasien.
23

2.Nonmedikamentosa.

Perbaikan nutrisi dengan makan makanan yang sehat.

H.Prognosis Ad vitam: dubia ad bonamAd fungsionam: ad bonam Ad sanationam: ad bonam Dalam kasus ini, kami memutuskan memberikan prognosa di atas didasarkan dari beberapa keadaan yang terdapat pada pasien tersebut, antara lain: riwayat tumbuh kembangnya yang berada dalam keadaan gizi yang kurang dan, perjalanan penyakitnya yang sudah berkomplikasi dalam bentuk bronkopneumoni. I.Pencegahan 1. Pencegahan Tingkat Awal (Priemordial Prevention) Pencegahan tingkat awal berhubungan dengan keadaan penyakit yang masih dalam tahap prepatogenesis atau penyakit belum tampak yang dapat dilakukan dengan memantapkan status kesehatan balita dengan memberikan makanan bergizi sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh.
2. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention) Pencegahan tingkat pertama ini

merupakan upaya untuk mencegah seseorangterkena penyakit campak, yaitu :

Memberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya pelaksanaan imunisasi campak untuk semua bayi. Imunisasi dengan virus campak hidup yang dilemahkan, yang diberikan padasemua anak berumur 9 bulan sangat dianjurkan karena dapat melindungisampai jangka waktu 4-5 tahun.3. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention)Pencegahan tingkat kedua ditujukan untuk mendeteksi penyakit sedinimungkin untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Dengan demikian pencegahanini sekurang-kurangnya dapat menghambat atau memperlambat progrefisitas penyakit, mencegah komplikasi, dan membatasi kemungkinan kecatatan, yaitu :

Mencegah perluasan infeksi. Anak yang menderita campak jangan masuk sekolah selama empat hari setelah timbulnya rash. Menempatkan anak padaruang khusus atau mempertahankan isolasi di rumah sakit dengan melakukan pemisahan penderita pada stadium kataral yakni dari hari pertama hingga harikeempat setelah timbulnya rash yang dapat mengurangi keterpajanan pasiendengan risiko tinggi lainnya.

Pengobatan simtomatik diberikan untuk mengurangi keluhan penderita yakniantipiretik untuk menurunkan panas dan juga obat batuk. Antibiotika hanyadiberikan bila terjadi infeksi sekunder untuk mencegah komplikasi.

24

Diet dengan gizi tinggi kalori dan tinggi protein bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh penderita sehingga dapat mengurangiterjadinya komplikasi campak yakni bronkhitis, otitis media, pneumonia,ensefalomielitis, abortus, dan miokarditis yang reversibel.4. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention)Pencegahan tingkat ketiga bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasidan kematian. Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan pada pencegahan tertier yaitu :

Penanganan akibat lanjutan dari komplikasi campak Pemberian vitamin A dosis tinggi karena cadangan vitamin A akan turunsecara cepat terutama pada anak kurang gizi yang akan menurunkan imunitasmereka

25