Anda di halaman 1dari 24

I.

TUJUAN PRAKTIKUM TRANSMISI

Setelah melaksanakan praktikum transmisi ini diharapkan mahasiswa mampu: 1. Mengetahui SOP (Standing Operation Procedure) bekerja diatas transmisi dalam keadaan tidak bertegangan. 2. Mengetahui peralatan-peralatan keselamatan (safety gear) yang digunakan dalam pekerjaan diatas transmisi. 3. Mengetahui macam-macam dan mampu menerapkan tali temali / simpul dalam melaksanakan pekerjaan yang akan digunakan dalam pekerjaan diatas transmisi dan tiang JTM (Jaringan Tegangan Menengah). 4. Memahami aspek-aspek K2 (Keselamatan Ketenagalistrikan) dan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) di lapangan saat bekerja di jaringan transmisi.

II. 2.1. PENGERTIAN UMUM

DASAR TEORI TRANSMISI

Secara etimologis yang dimaksud transmisi adalah pengiriman, jaringan atau penyaluran. Sedangkan penyaluran dapat diartikan : proses, perbuatan, cara menyalurkan. Dalam konteks pembahasan ini, yang dimaksud transmisi (penyaluran) adalah penyaluran energi listrik, sehingga mempunyai maksud : proses dan cara menyalurkan energi listrik dari satu tempat ke tempat lainnya, misalnya : Dari pembangkit listrik ke gardu induk. Dari satu gardu induk ke gardu induk lainnya. Dari gardu induk ke jaring tegangan menengah dan gardu distribusi. Dari jaring distribusi tegangan menengah ke jaring tegangan rendah dan instalasi pemanfaatan. Lebih spesisifik lagi dalam pembahasan ini akan difokuskan pada Transmisi Tegangan Tinggi atau Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) yang ada di Indonesia. Pembahasannya bersifat praktis sesuai pengalaman dan pelaksanaan pekerjaan di lapangan, dengan harapan para profesionalis di bidang pemasangan (konstruktor) instalasi listrik akan lebih mudah dalam mempelajari dan memahaminya.

2.2. FUNGSI TRANSMISI Sebagaimana disebutkan dimuka bahwa transmisi tenaga listrik benfungsi untuk menyalurkan energi listrik dari suatu tempat ke tempat lainnya.

Sedangkan transmisi tegangan tinggi, adalah : Berfungsi menyalurkan energi listrik dari satu gardu induk ke gardu induk lainnya. Terdiri dari konduktor yang direntangkan antara tiang-tiang (tower) melalui isolatorisolator, dengan sistem tegangan tinggi. Standar tegangan tinggi yang berlaku di Indonesia adalah : 30 kV, 70 kV, 150 kV dan 500 kV (Tegangan Ekstra Tinggi - TET). Beberapa hal yang perlu diketahui : Transmisi 30 KV dan 70 KV yang ada di Indonesia, secara berangsur-angsur mulai ditiadakan (tidak digunakan). Transmisi 70 KV dan 150 KV ada di Pulau Jawa dan Pulau lainnya di Indonesia. Sedangkan transmisi 275 KV dikembangkan di Sumatera. Transmisi 500 KV ada di Pulau Jawa.

2.3. JENIS TRANSMISI BERDASARKAN KUALIFIKASI TEGANGAN Selama ini ada pemahaman dari para profesionalis ketenagalistrikan, bahwa yang dimaksud transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dengan menggunakan tegangan tinggi. Bahkan ada yang memahami bahwa transmisi adalah proses penyaluran energy listrik dengan menggunakan tegangan tinggi dan melalui saluran udara (over head line). Sebenarnya transmisi adalah proses penyaluran energi listrik dari satu tempat ke tempat lainnya, yang besaran tegangannya adalah tegangan ultra tinggi (UHV), tegangan ekstra tinggi (EHV), tegangan tinggi (HV), tegangan menengah (MHV), dan tegangan rendah (LV). Di Indonesia, kosntruksi transmisi terdiri dari : Menggunakan kabel udara dan kabel tanah, untuk tegangan rendah, tegangan menengah dan tegangan tinggi. Menggunakan kabel udara untuk tegangan ekstra tinggi. Berikut ini disampaikan pembahasan tentang transmisi ditinjau dari kualifikasi tegangannya : SALURAN UDARA TEGANGAN EKSTRA TINGGI (SUTET) 200 KV 500 KV Pada umumnya digunakan pada pembangkitan dengan kapasitas di atas 500 MW. Tujuannya adalah agar drop tegangan dan penampang kawat dapat direduksi secara maksimal, sehingga diperoleh operasional yang efektif dan efisien. Permasalahan mendasar pembangunan SUTET adalah : konstruksi tiang (tower) yang besar dan tinggi, memerlukan tapak tanah yang luas, memerlukan isolator yang banyak, sehingga pembangunannya membutuhkan biaya yang besar. Masalah lain yang timbul dalam pembangunan SUTET, adalah masalah social yang akhirnya berdampak pada masalah pembiayaan, antara lain : 2.3.1.

Timbulnya protes dari masyarakat yang menentang pembangunan SUTET. Permintaan ganti rugi tanah untuk tapak tower yang terlalu tinggi. Adanya permintaan ganti rugi sepanjang jalur SUTET. Dan lain sebagainya.

Pembangunan transmisi ini cukup efektif untuk jarak 100 km sampai dengan 500 km. 2.3.2. SALURAN UDARA TEGANGAN TINGGI (SUTT) 30 KV 150 KV Tegangan operasi antara 30 KV sampai dengan 150 KV. Konfigurasi jaringan pada umumnya single atau double sirkuit, dimana 1 sirkuit terdiri dari 3 phasa dengan 3 atau 4 kawat. Biasanya hanya 3 kawat dan penghantar netral digantikan oleh tanah sebagai saluran kembali. Apabila kapasitas daya yang disalurkan besar, maka penghantar pada masingmasing phasa terdiri dari dua atau empat kawat (Double atau Qudrapole) dan berkas konduktor disebut Bundle Conductor. Jika transmisi ini beroperasi secara parsial, jarak terjauh yang paling efektif adalah 100 km. Jika jarak transmisi lebih dari 100 km, maka tegangan jatuh (drop voltage) terlalu besar, sehingga tegangan ini di ujung transmisi menjadi rendah. Untuk mengatasi hal tersebut, maka sistem transmisi dihubungkan secara ring system atau interconnection system. Ini sudah diterapkan di Pulau Jawa dan akan dikembangkan di Pulaupulau besar lainnya di Indonesia. 2.3.3. SALURAN KABEL TEGANGAN TINGGI (SKTT) 30 KV 150 KV

SKTT dipasang di kota kota kota-besar di Indonesia (khususnya di Pulau Jawa), dengan beberapa pertimbangan : Di tengah kota besar tidak memungkinkan dipasang SUTT, karena sangat sulit mendapatkan tanah untuk tapak tower. Untuk ROW juga sangat sulit dan pasti timbul protes dari masyarakat, karena padat bangunan dan banyak gedung-gedung tinggi. Pertimbangan keamanan dan estetika. Adanya permintaan dan pertumbuhan beban yang sangat tinggi.

Jenis kabel yang digunakan : Kabel yang berisolasi (berbahan) poly etheline atau kabel jenis Cross Link Poly Etheline (XLPE). Kabel yang isolasinya berbahan kertas yang diperkuat dengan minyak (oil paper impregnated). Inti (core) kabel dan pertimbangan pemilihan :

Single core dengan penampang 240 mm2 300 mm2 tiap core. Three core dengan penampang 240 mm2 800 mm2 tiap core. Pertimbangan fabrikasi. Pertimbangan pemasangan di lapangan. Kelemahan SKTT : Memerlukan biaya yang lebih besar jika dibanding SUTT. Pada saat proses pembangunan memerlukan koordinasi dan penanganan yang kompleks, karena harus melibatkan banyak pihak, misal : pemerintah kota (Pemkot) sampai dengan jajaran terbawah, PDAM, Telkom, Perum Gas, Dinas Perhubungan, Kepolisian, dan lain-lain.

Panjang SKTT pada tiap haspel (cable drum), maksimum 300 meter. Untuk desain dan pesanan khusus, misalnya untuk kabel laut, bisa dibuat tanpa sambungan sesuai kebutuhan.

Pada saat ini di Indonesia telah terpasang SKTT bawah laut (Sub Marine Cable) dengan tegangan operasi 150 KV, yaitu : Sub marine cable 150 KV Gresik Tajungan (Jawa Madura). Sub marine cable 150 KV Ketapang Gilimanuk (Jawa Bali).

Beberapa hal yang perlu diketahui : Sub marine cable ini ternyata rawan timbul gangguan. Direncanakan akan didibangun sub nmarine cable Jawa Sumatera. Untuk Jawa Madura, saat ini sedang dibangun SKTT 150 KV yang dipasang (diletakkan) di atas Jembatan Suramadu.

2.4. PERTIMBANGAN PEMBANGUNAN TRANSMISI TEGANGAN TINGGI

Adanya pertambahan dan pertumbuhan beban pada instalasi pemanfaatan. Karena pembangkit tenaga listrik pada umumnya lokasinya jauh dari pusat-pusat beban, sehingga untuk menyalurkan energi listrik harus dibangun transmisi tegangan tinggi. Pemilihan transmisi SUTT mempertimbangkan beberapa hal, antara lain : Biaya investasi (biaya pembagunan) jauh lebih murah jika disbanding transmisi SKTT.

Untuk penyaluran yang jaraknya jauh, SUTT lebih mudah, lebih cepat dan lebih praktis dalam pelaksanaan pembangunannya. Koordinasi pada saat pelaksanaan pembangunan, lebih mudah, dan tidak melibatkan banyak pihak jika dibandingkan dengan SKTT. Pada saat beroperasi, jika terjadi gangguan mudah dalam perbaikannya. Route SUTT bisa melewati berbagai kondisi geografis, misal : dataran rendah (tanah rata), pegunungan, sungai, persawahan, perbukitan, dan lainlain. Untuk di Pulau Jawa, transmisi SUTT 150 KV telah terpasang secara terintegrasi melalui sistem interkoneksi (interconnection system). Sedangkan di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi sedang dikembangkan menjadi system interkoneksi.

2.5. KETENTUAN JARAK AMAN / RUANG BEBAS (ROW)

Transmisi tenaga listrik yang bertegangan tinggi (SUTET, SUTT, SKTT, SKLTT), memiliki resiko tinggi terhadap keamanan dan kesehatan lingkungan, terutama menyangkut masalah besarnya tegangan dan pengaruh medan listrik yang ditimbulkannya. Satu hal penting yang harus diperhatikan dan dipenuhi, adalah ketentuan jarak aman/ ruang bebas (ROW) pada daerah yang dilalui oleh jalur transmisi tegangan tinggi. Dengan terpenuhinya jarak/ aman / ruang bebas (ROW) di sepanjang jalur transmisi tegangan tinggi, maka : Keamanan dan kesehatan lingkungan dapat terpenuhi dengan baik. Dampak secara teknik, keamanan, kesehatan dan sosial, dapat diterima oleh masyarakat. Pada jalur SUTT yang lama pada umumnya sepanjang jalur SUTT tidak boleh didirikan bangunan. Tetapi saat ini di sepanjang jalur SUTT banyak didirikan bangunan, dengan pertimbangan selama jarak aman/ ruang bebas (ROW) dipenuhi, maka keselamatan dan kesehatan lingkungan akan terpenuhi pula.

2.6. KONSTRUKSI DAN PERLENGKAPAN TRANSMISI 2.6.1. TIANG 2.6.1.1. JENIS-JENIS KONSTRUKSI TIANG/MENARA TRANSMISI

2.6.1.2.TIPE DAN FUNGSI TIANG TRANSMISI

2.6.2. GAYA-GAYA YANG BEKERJA PADA TIANG 2.6.2.1. BEBAN KERJA NORMAL berat lengannya konduktor Beban tiang & lengannya, konduktor, isolator & asesorisnya. Tekanan angin datar tegaklurus arah saluran pada tiang dan panjang saluran kedua sisi tiang. Tekanan angin searah saluran pada tiang, isolator & asesoris.

Gaya tarik kerja maksimum dari seluruh konduktor.

2.6.2.2. BEBAN KHUSUS KERENA TIMBUL KETIDAKSEIMBANGAN GAYA DARI KONDUKTOR Tiang harus diperhitungkan pula terhadap kemungkinan timbulnya gaya torsi karena ketidak seimbangan, oleh gaya-tarik-kerja maksimum dari satu konduktor. Tiang tipe D : 50% gaya tarik kerja maksimum dari satu konduktor pada satu sisi, tanpa tekanan angin. Tiang tipe A, H dan E : 100% gaya-tarik-kerja maksimum dari satu konduktor pada satu sisi, tanpa tekanan angin. Gaya torsi maksimum yang dapat terjadi pada tiang dan lengannya karena ketidak seimbangan gaya tsb.diatas.

2.6.3. ISOLATOR

2.6.3.1. CONTOH BEBERAPA JENIS ISOLATOR

2.6.3.2. JUMLAH ISOLATOR MENURUT TEGANGAN SALURAN Jumlah Isolator Standar (10"x 5")

Catatan : * = tipe khusus. Sumber : T & D Westinghous. Keterangan : isolator kondisi ringan, sedang, berat (baris atas-bawah), tergantung pada : intensitas petir, tahanan kaki tiang dan polusi

2.6.3.3. PERLENGKAPAN ISOLATOR

2.6.4. JARAK BEBAS 2.6.4.1. JARAK ANTAR KONDUKTOR

2.6.4.2. JARAK BEBAS UNTUK MACAM-MACAM LINTASAN Jarak hantaran udara tegangan tinggi dengan bagian benda di sekitarnya sekurang-kurangnya harus memenuhi angka-angka seperti dalam tabel berikut :

Untuk perlindungan terhadap bahaya kebakaran, maka jarak minimum antara gedung dengan proyeksi-proyeksi hantaran paling luar pada bidang datar yang melewati bagian bawah kaki tiang adalah : 20 m bagi pondasi yang letaknya terdekat dengan SUTT 20 m bagi pompa pompa/tangki bensin diukur sampai bagian yang menonjol terdekat dengan SUTT. 50 m bagi tempat penimbunan bahan bakar diukur dari sisi tangki terdekat dengan SUTT.

2.6.4.3.CONTOH JARAK BEBAS PADA SALURAN 500 Kv SIRKIT TUNGGAL Contoh Jarak-bebas pada Saluran 500 kV Sirkuit Tunggal :

2.6.5. KONDUKTOR 2.6.5.1. JENIS KONDUKTOR

2.6.5.2. PENGARUH GETARAN KARENA ANGIN PADA KONDUKTOR Angin dan getaran pada konduktor: Angin yang bertiup terus menerus menimbulkan getaran dan goyangan pada konduktor yang dapat menyebabkan kelelahan pada ujung klem, dan lama kelamaan merusak konduktor. Untuk itu bagian konduktor pada klem tumpu/gantung diperkuat dengan potongan kawat yang disebut "armor-rods" dan memasang alat peredam getaran "stockbridge damper" diujung

III.

TEKNIK TALI TEMALI

Beberapa jenis simpul yang dipelajari dalam teknik tali temali yang nantinya digunakan untuk membantu memudahkan pekerjaan pada tiang/menara transmisi antara lain: 1. Simpul Reef Knot Digunakan untuk menyambung dua utas tali yang sama besar dan dalam kondisi tidak licin/tidak basah. Gambar:

2. Simpul Sheet Bend Simpul anyam yang digunakan untuk menyambung tali yang berbeda ukuran dan tidak basah/kering.

3. Simpul Pangkal Seperti sebutannya Simpul Pangkal, demikian juga dengan kenyataannya bahwa simpul ini umumnya ditempatkan pada pangkal. bagian dimana pada bagian ujungnya diperlukan untuk menahan, suatu tarikan yang bersifat tetap. Artinya kita bermaksud menahan suatu beban dalam beberapa waktu, kita dapat menambatkannya pada suatu patok atau bagian lain yang cukup kuat, cara itu dapat menggunakan cara ikatan atau simpul pangkal seperti yang tampak dalam gambar berikut :

4. Simpul Clove Hitch Simpul ini diberikan nama sebagaimana diatas, karena digambarkan sebagai Kelopak Bunga Cengkeh. Namun bila kita tangkap maksud yang dikandungnya adalah Ikatan

Bunga Cengkeh, dan kita perhatikan sebenarnya pola pengikatan seperti itu adalah sama dengan pola ikatan atau simpul pangkal. Gambar:

5. Simpul Tarik Penggunaan simpul jenis ini adalah untuk ikatan - ikatan yang sedikitnya dapat dikendalikan dari bawah, dimana tujuannya adalah agar setiap keadaan dimana dibutuhkan dapat dilepaskan oleh petugas dari bagian bawah. Demikian juga halnya oleh petugas yang berada diatas tiang / tower dapat melepaskan ikatan. Namun mengingat kondisi ini sangat membahayakan, maka setiap penggunaan simpul macam ini harus selalu dalam pengawasan yang ketat, sehingga hanya petugas yang ditunjuk baik dari bagian bawah ataupun dari bagian atas saja yang dibenarkan membukanya. Sebab jika tidak, akan membahayakan jatuhnya peralatan yang berakibat rusaknya peralatan serta kecelakaan bagi petugas yang ada dibawahnya.

6. Simpul bergerak atau dikenali sebutan Bowline Simpul ini pada dasarnya hampir sama dengan laso dimana ikatannya berada diujung tali, namun ia tidak lagi bersifat menjepit melainkan mengunci pada ikatan yang tetap, sehingga tidak lagi dikhawatirkan akan merusak barang yang diikat serta barang yang

diikat itu sendiri dapat bebas bergerak-gerak. Dilapangan umumnya lebih dikenal dengan simpul Mata Itik. Simpul ini mempunyai dua bentuk yakni :

6.1. Simpul Bowline

6.2. Simpul Double Bowline

7. Simpul atau lebih dikenal dengan Tali Laso Simpul macam demikian umumnya diperlukan pada saat kita memerlukan suatu ikatan yang sifatnya sedikit menjepit tetapi tidak bersifat ikatan, simpul mati dimana tetap mudah melepaskan ikatannya. Mengingat sifatnya yang demikian, tentunya kita tahu persis sifat dari bentuk benda mana yang dapat dan boleh diikat. Dengan cara demikian misalnya benda-benda yang berkaitan dan tidak rusak akibat terjepit sedemikian rupa. Gambar:

IV.

PERALATAN KERJA dan PERALATAN K3

4.1. PERALATAN KERJA PADA TIANG/TRANSMISI Peralatan kerja yang dibutuhkan untuk pekerjaan pada tiang/transmisi menyesuaikan dengan jenis pekerjaan yang akan dilakukan. Pada praktek transmisi yang dilakukan oleh praktikan di lokasi praktek hanya melakukan simulasi memanjat tower/menara transmisi saja tanpa melakukan pekerjaan pemeliharaan ataupun penggantian komponen di tower. Apabila suatu saat dilakukan pekerjaan misalnya penggantian isolator suspense 150kV dengan metode Hot Stick dalam keadaan bertegangan maka langkah-langkah dan prosedur kerja serta hal penting yang harus diketahui adalah sebagai berikut: 4.1.1. Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB) Penggantian Isolator Suspensi pada SUTT 150 kV dengan Metode Hot Stick dalam keadaan bertegangan ini termasuk Pekerjaan Dalam Keadaan Bertegangan (PDKB). Dengan adanya PDKB ini, maka proses penggantian

isolator pada SUTT tidak perlu dalam keadaan padam listrik. Sehingga kerugian material yang ditanggung PT. PLN dapat diminimalisir. 4.1.2. Teknik Memanjat Tower Lattice Untuk mengganti isolator suspensi pada suatu Tower Lattice, dibutuhkan kemampuan yang mumpuni dalam hal memanjat. Terdapat teknik tertentu untuk melakukan suatu pemanjatan. Petugas yang berwenang biasanya memanjat dengan menggunakan 2 (dua) cara yaitu : Pemanjatan tower melalui step bolt Pemanjatan tower melalui rangka diagonal

4.1.2.1. Pemanjatan Tower Melalui Step Bolt Step bolt adalah salah satu peralatan tower yang berbentuk mur baut yang terpasang teratur mulai dari kaki tower sampai puncak tower untuk

keperluan pemanjatan petugas ke tower bagian atas baik ke puncak tower, cross arm atau pada tempat lainnya.

Gambar Pemanjatan Tower Melalui Step Bolt 4.1.2.2. Pemanjatan Tower Melalui Rangka Diagonal Dengan menggunakan lanyard petugas melalui step bolt, pemanjatan tower tidak harus

dengan cara ini pemanjatan tower transmisi dapat

dilakukan melalui rangka-rangka tower yaitu melalui diagonal dan leveler sampai ke tempat yang ditentukan untuk bekerja. Cara ini utamanya diperlukan apabila besi-besi step bolt yang mestinya terpasang tidak ada pada tempatnya sehingga pemanjatan melalui step bolt tidak dapat

dilakukan dengan aman dan nyaman. 4.1.3. Metode Penggantian Isolator Secara umum, penggantian isolator pada SUTT bertegangan dapat dilakukan dengan dalam keadaan

menggunakan 2 metode, yaitu

metode Hot Stick dan metode Barehand. Keduanya akan dijelaskan pada subbab berikut.

4.1.3.1. Metode Hot Stick Metode ini merupakan metode yang pertama kali dilakukan untuk

penggantian isolator dalam keadaan bertegangan. Pada metode ini, pekerja (linesman) tidak menyentuh peralatan yang bertegangan secara langsung dengan tangan. Melainkan dengan menggunakan peralatan-peralatan yang bersifat isolatif. Peralatan ini sengaja dibuat bersifat isolatif karena

digunakan untuk memisahkan dua tegangan yang berbeda, yaitu tegangan kawat fasa dan tegangan orang yang mengganti isolator (ground). Dengan adanya peralatan ini dan jika melakukannya dalam jarak aman, maka dapat dipastikan orang yang melakukan pekerjaan penggantian isolator ini dalam keadaan aman.

Gambar metode Hot Stick 4.1.3.2. Metode Barehand Metode ini merupakan pengembangan dari metode

Hot Stick.

Digunakannya metode ini adalah karena penggunaan dari metode Hot Stick tidak efektif lagi untuk sistem transmisi dengan tegangan ekstra tinggi. Hal ini dikarenakan, semakin tinggi tegangan maka sistem isolasi juga akan semakin tebal. Semakin tebalnya sistem isolasi suatu peralatan, maka akan semakin berat pula peralatan tersebut untuk dibawa. Oleh karenanya, dikembangkanlah metode Barehand. Pada metode ini, pekerja (linesman) akan dialiri tegangan yang sama dengan tegangan kawat fasa. Samanya tegangan pada tubuh si pekerja dengan kawat fasa ini

dikarenakan pekerja (linesman) ini menggunakan pakaian yang konduktif yang dapat mengalirkan tegangan.

Gambar metode Barehand Metode ini didasari oleh konsep yang sederhana, yaitu merpati yang tidak mati walaupun hinggap di kawat transmisi. Merpati yang tidak tersengat listrik ini disebabkan karena kedua kaki dari merpati tersebut hanya berpijak pada satu kawat saja. Berbeda jika satu kaki merpati berpijak pada kawat fasa, dan kaki lainnya berpijak pada kawat ground, maka dapat dipastikan. 4.1.4. Peralatan Kerja

4.1.5. Prosedur Kerja Secara Umum


1. Menyiapkan dan merangkai alat 2. Pekerja (linesman) mulai memanjat tower dengan bantuan live line rope 3. Alat yang telah dipersiapkan dan dirangkai didasar tower tadi, dinaikkan ke puncak tower dengan menggunakan handline 4. Memasang alat-alat tersebut sesuai posisinya sehingga mampu menggantikan isolator untuk menopang konduktor yang ditopangnya. 5. Mengaitkan sisi hot end dari isolator dengan handline 6. Melepaskan salah satu sisi (hot end) dari isolator 7. Melepaskan sisi isolator yang lain (cold end) dari tower sehingga isolator terlepas

8. Menurunkan isolator dari puncak tower ke dasar tower dengan bantuan handline 9. Setelah sampai didasar, isolator diganti dengan isolator yang baru 10. Setelah itu, isolator baru tersebut dinaikkan menuju ke puncak tower lagi dengan menggunakan bantuan handline 11. Begitu sampai dipuncak tower, memasang sisi cold end pada tower 12. Memasang sisi hot end pada isolator 13. Melepas handline dari isolator 14. Menurunkan alat-alat yang digunakan untuk menopang isolator dengan handline 15. Para pekerja turun dari puncak tower dan melakukan evaluasi

4.2. Peralatan K3 dan APD (Alat Pelindung Diri) Fungsi APD : Mengurangi akibat / resiko dari suatu kecelakaan APD bukan untuk mencegah kecelakaan, pemakaian apd tidak menjamin pemakaian bebas dari kecelakaan, karena : Kecelakaan ada sebabnya, pencegahan kecelakaan hanya bisa dilaksanakan jika sebab-sebab kecelakaan dihilangkan. Adanya gerakan tak sadar / reflek dari pemakainya. APD mempunyai kemampuan terbatas.

Peralatan-peralatan APD yang digunakan untuk pekerjaan pada tiang/transmisi antara lain: 1. Full body harness Berfungsi sebagai pengaman personil dari bahaya jatuh. Gambar:

2. Layard Berfungsi sebagai pengaman personil saat memanjat & menuruni tower. Gambar:

3. Safety Helmet Berfungsi sebagai pelindung kepala dari benturan pada bagian keras dan benda jatuh. Gambar:

4. Safety Shoes Berfungsi untuk melindungi kaki dari bahaya terbentur serta tertimpa material tajam. Gambar:

5. Sarung tangan kulit/katun Berfungsi untuk melindungi tangan. Gambar:

6. Kacamata Berfungsi untuk melindungi mata dari bahaya sinar ultraviolet langsung serta material kecil (debu).

7. Keyker/Teropong Berfungsi sebagai alat bantu visual untuk memeriksa bagian-bagian tower yang kurang jelas dari posisi jarak tertentu.

8. Peralatan komunikasi Berfungsi sebagai alat komunikasi 2 (dua) arah.