Anda di halaman 1dari 2

Pada tahun 2011 program Jamkesos ditingkatkan menjadi Program Jamkesta DIY (Jaminan Kesehatan Semesta provinsi DIY).

Peningkatan tersebut bertujuan untuk mengintegrasikan program jaminan kesehatan di DIY , yang saat ini kabupaten/kota dan provinsi memiliki program jaminan kesehatan masing-masing, yaitu provinsi memiliki jaminan kesehatan sosial (Jamkesos), sedangkan kabupaten/kota punya jaminan kesehatan daerah (Jamkesda). 78,08 % Penduduk DIY Sudah Memiliki Jaminan Kesehatan Total penduduk Yogyakarta sebanyak 3.597.900 jiwa yang sudah memiliki jaminan kesehatan sebanyak 2.809.376 jiwa atau 78, 08 % dengan rincian melalui Program Askes PNS 386.316 jiwa, Jamsostek 63.319 jiwa, Jamkesmas 942.129 jiwa, Jamkesta DIY ( Jamkesos 552.681 jiwa, Jamkesda 813.361), Asabri 24.093 jiwa dan Komersial 27.477 jiwa sehingga tinggal 899.198 jiwa yang belum memiliki Jaminan Kesehatan. Yang mampu membayar premi, yang kurang diberi subsidi Jamkesta DIY dperuntukkan untuk seluruh warga DIY, tidak hanya untuk masyarakat miskin, tetapi juga warga kategori mampu. Pelaksanaan program Jamkesta DIYmemakai pola kombinasi, yaitu melalui penarikan premi dan dibiayai pemerintah dari APBD. Penarikan premi ditujukan bagi warga mampu, sedangkanwarga miskin dijamin oleh Pemerintah. Saat ini kepesertaan Jamkesta DIY telah menjamin 320.000 jiwa masyarakat miskin dan tidak mampu melalui Pemerintah Provinsi dan 250.000 masyarakat rawan miskin/ tidak mampu yang dijamin bersama dengan pemerintah Kabupaten se DIY melalui kepesertaan Coordination Of Benefit (COB= berbagi manfaat jaminan kesehatan sosial) serta masyarakat mampu dengan program Jamkesta DIY Mandiri yang saat ini sudah terdaftar sebanyak 1.300 peserta Jamkesta DIY Mandiri. Pemerintah provinsi DIY menargetkan dari 899.198 jiwa yang belum memiliki Jaminan Kesehatan pada tahun 2014 dapat terjamin semua dengan ikut Jamkesta DIY Mandiri. Jamkesta DIY Mandiri Bentuk Subsidi Silang diantara peserta Masyarakat yang ingin menjadi peserta Jamkesta DIY Mandiri bisa mendaftarkan diri melalui kantor Jamkesos/Jamkesda yang ada di tiap kabupaten/kota. PesertaJamkesta DIY Mandiri membayar biaya premi Rp 7.500 per bulan atau Rp 90.000 per tahun, biaya tes kesehatan Rp 10.000 dan Rp 1.000 untuk kartu. Sesudah memenuhi kualifikasi dan syarat kepesertaan, warga dapat langsung mengambil kartu Jamkesta DIY Mandiri.

Untuk menjaga transparansi dan akuntabilitas, semua biaya premi disetorkan langsung kerekening Balai Penyelenggara Jamkesos di Bank BPD DIY.Peserta Jamkesta DIY Mandiri dapat meningkatkan nilai jaminan kesehatan dengan menambah biaya premi bahkan yang sudah ikut asuransi komersial tetap diperbolehkan menjadi peserta Jamkesta DIY Mandiri. Dengan pola kombinasi, beban APBD diharapkan menjadi lebih rendah. 1 orang sakit dibantu 167 orang sehat dalam Jamkesta DIY Mandiri Bentuk subsidi silang diantara peserta Jamkesta DIY Mandiri dapat di ilustrasikan sebagai berikut, seorang peserta dengan membayar premi sebesar Rp 90.000 per tahun akan mendapatkan nilai manfaat maksimal Rp 15 juta, dengan demikian apabila ada 1 orang peserta sakit akan dibantu dengan dukungan pendanaan dari peserta sehat sebanyak 167 peserta. Semua peserta Jamkesta DIY Mandirimendapat fasilitas jaminan biaya perawatan kesehatan di 37 rumah sakit seluruh DIY. Hampir semua jenis penyakit dapat dikaver Jamkesta dengan ketentuan di kelas III. Ke depan jika peserta menginginkan fasilitas pelayanan yang lebih bagus (kelas II), akan dilayani dengan penarikan premi yang lebih tinggi. Hak peserta Jamkesta DIY Mandiri mendapatkan pelayanan meliputi pelayanan Kesehatan dasar dan Pelayanan kesehatan lanjutan seperti: 1.Rawat jalan lanjutan ke spesialis Ike RS diberikan jaminan sebesar maximal Rp75.000,-/kali kunjungan. 2. Pelayanan rawat inap di RS Pemerintah & Swasta yang bekerjasama dengan pemerintah kota di kelas II (tarif pemerintah), dengan hari rawat inap maksimal 30 hari setiap anggota akan dijamin sebesar Rp 15.000.000,- maksimal dalam satu tahun. 3. Bagi peserta yang cuci darah jaminan diberikan 1 kali sebulan dan atau 12 kali setahun, tidak termasuk biaya perawatan jika harus dirawat di RS. 4. Pelayanan UGD sebesar maksimal Rp 200.000.