Anda di halaman 1dari 51

TUGAS MAKALAH MATA KULIAH PENGEMBANGAN KEPRIBADIAN AGAMA ISLAM MANUSIA, MAKNA, DAN SEJARAH AGAMA ISLAM

DISUSUN OLEH: Home Group 5 Aisha Andini (1206204582) Fitriana Bahtiar (1206260702) Gusti Ruri (1206217540) Nurul A. Wulandari(1206243066) Septi Niawati (1206212294) Sita Arlini (1206244245)

FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA 2012

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan Makalah Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Agama Islam dengan pokok bahasan manusia, makna, dan sejarah Islam ini. Ini adalah salah satu kajian yang sangat menarik karena kita sebagai mahasiswa diberikan sebuah kesempatan untuk memaparkan lebih lanjut masing-masing opininya mengenai agama Islam, hubungannya dengan manusia, serta sejarahnyake dalam sebuah tulisan. Kami juga berterimakasih pada pihak-pihak serta berbagai sumber bacaan yang mendukung terciptanya makalah yang mewakili ide kami ini. Semoga apa yang telah kami susun sedemikian rupa ini dapat bermanfaat bagi orang banyak. Selain itu, kami juga meminta maaf apabila terdapat kesalahan-kesalahan di dalam makalah ini. Kami sadar, makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran terhadap makalah ini agar bisa kami perbaiki lebih lanjut.

Depok, 7 Maret 2012

Tim Penulis

MANUSIA, MAKNA, DAN SEJARAH AGAMA ISLAM 1. Manusia dan Agama


1.1 Hubungan Manusia dan Agama A. Manusia dan Alam Semesta Alam adalah segala sesuatu yang dapat ditangkap oleh pancaindra, perasaan dan pikiran kendati pun samar-samar. Sunatullah atau hukum Allah yang menyebabkan alam semesta selaras, serasi dan seimbang, dipatuhi sepenuhnya oleh makhluk yang menjadi unsur alam semesta itu. Sifat utama Sunatullah : Pasti

QS. Al-Furqan ayat 2, artinya : yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan Dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya. QS. Ath-Thalaaq ayat 3, artinya : dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.

Tetap

Sifat sunatullah yang tetap, tidak berubah-ubah. QS. Al-Anam ayat 115, artinya : telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al-Quran) sebagai kalimat yang benar dan adil. tidak ada yang dapat merubah rubah kalimat-kalimat-Nya dan Dia lah yang Maha Mendengar lagi Maha mengetahui. QS. Al-Isra ayat 77, artinya : (kami menetapkan yang demikian) sebagai suatu ketetapan terhadap Rasul-Rasul Kami yang Kami utus sebelum kamu dan tidak akan kamu dapati perubahan bagi ketetapan Kami itu.

3. Objektif QS. Al-Anbiya ayat 105, artinya : dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hambaKu yang saleh. Saleh artinya baik/benar. Orang yang baik dan benar adalah orang yang bekerja menurut Sunatullah yang menjadi ukuran kebaikan/kebenaran itu. Orang yang berkarya sesuai/menuruti Sunatullah adalah orang yang saleh.

B. Manusia menurut Agama Islam QS. Al-Araf ayat 179, artinya : dan Sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tandatanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka Itulah orang-orang yang lalai. Manusia adalah makhluk yang sangat menarik. Al-Quran tidak menggolongkan manusia ke dalam kelompok binatang selama manusia mempergunakan akal, pemikiran, kalbu, jiwa, raga serta pancaindra secara baik dan benar. Asal-usul manusia Dalam QS Al An'am ayat 2, artinya : Dialah yang menciptakan kamu dari tanah, sesudah itu ditentukannya ajal (kematianmu), dan ada lagi suatu ajal yang ada pada sisi-Nya (yang Dia sendirilah mengetahuinya), kemudian kamu masih ragu-ragu (tentang berbangkit itu).

Beberapa ciri manusia : 1. Makhluk yang paling unik QS. At Tiin ayat 4, artinya : Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Berdasarkan ayat tersebut, manusia merupakan mekhluk yang paling sempurna, namun manusia juga memiliki banyak kelemahan, seperti yang ditunjukkan pada ayat-ayat berikut.

QS. Yunus ayat 12, artinya : dan apabila manusia ditimpa bahaya Dia berdoa kepada Kami dalam Keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, Dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah Dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. QS. Ibrahim ayat 34, artinya : dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). QS. Al-Maarij ayat 19-21, artinya : Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, 2. Manusia mempunyai potensi beriman kepada Allah QS. Al A'raaf ayat 172 dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah aku ini Tuhanmu? mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). 3. Manusia diciptakan Allah untuk mengabdi kepada-Nya

QS. Adz Dzariyaat ayat 56, artinya : dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. 4. Manusia diciptakan Allah untuk menjadi khalifah-Nya di bumi QS. Al Baqarah ayat 31, artinya : dan Dia mengajarkan kepada Adam Nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada Para Malaikat lalu berfirman: Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!

QS. Al Ahzab ayat 72, artinya: Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gununggunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu Amat zalim dan Amat bodoh, 5. Manusia dilengkapi perasaan dan kemauan 6. Secara individual manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya QS. Ath Thuur ayat 21: dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya. 7. Berakhlak

C. Kebutuhan Manusia terhadap agama Manusia telah dibekali akal, naluri dan pancaindra oleh Allah. Namun, tiga hal tersebut masih belum cukup kuat bagi manusia untuk menemukan apa sebenarnya fungsi dan tujuan hidupnya di dunia ini. Manusia diciptakan oleh Allah untuk beribadah, maka manusia memerlukan agama sebagai pedoman hidupnya yang utama. Akal, naluri dan pancaindra mungkin dapat menuntun manusia untuk dapat berpikir secara logis. Tiga hal ini juga masih belum cukup memadai sebagai penuntun manusia menemukan kebenaran. Untuk itu, agama kembali berperan sebagai pedoman utama dalam menemukan kebenaran yang hakiki. Agama atau din memuat petunjuk-petunjuk Allah bagi manusia. Di antara petunjuk petunjuk itu, yang paling utama adalah bahwa manusia diwajibkan beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan Allah. Selain itu, agama juga memuat tata cara tentang bagaimana beribadah kepada Allah. Manusia jelas membutuhkan Allah sebagai penciptanya, untuk itu, manusia perlu mengenal agama agar tetap dapat terhubung dengan Allah. Alam semesta diciptakan Allah dengan luas yang tak terhingga, termasuk di dalamnya terdapat makhluk gaib seperti jin dan malaikat. Untuk dapat memahaminya, tentu manusia membutuhkan agama sebagai pedoman hidup sekaligus mendampingi proses berpikirnya ketika menggunakan akal, naluri dan pancaindra. Jika manusia hanya menggunakan akal, naluri dan pancaindra dengan mengesampingkan agama, manusia bisa saja terjebak pada sebuah kesesatan.

Sebaliknya, dengan didampingi pemahaman agama yang benar, akal yang sehat akan membuat seseorang menyadari bahwa di balik individu yang memiliki segudang potensi, dibalik alam semesta yang sangat mengagumkan, pastilah ada yang lebih agung lagi sebagai penciptanya. Orang yang sampai pada kesimpulan ini adalah orang yang berhasil memakai akalnya secara benar dan sehat, seperti yang telah dialami Ibrahim as (QS 6:74-79). Disamping orang seperti ini, terdapat pula orang-orang yang tersesat karena akalnya sendiri. Mereka telah mengabaikan agamanya atau mungkin keliru, sehingga banyak bermunculan kepercayaan seperti animisme, dinamisme, dll. Islam Sebagai Pedoman Allah menciptakan alam semesta beserta segala kelengkapannya dengan luas dan batasan yang tak terhingga. Setelah segalanya selesai dibuat dengan lengkap, Allah mulai menciptakan manusiayang kemudian berperan sebagai khalifah di bumi. Penciptaan manusia menurut Penciptanya merupakan ahsani taqwim (sebaik-baik kejadian). Manusia dilengkapi dengan berbagai macam potensi baik yang bersifat positif maupun negatif. Namun, yang paling membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lain adalah akal. Akal itulah yang membuat manusia mampu berpikir logis bahwa dibalik alam semesta ini pasti ada Yang Maha Sempurna yaitu Sang Pencipta. Tapi, tidak semua manusia mampu ,menggunakan akalnya secara benar. Untuk itulah diciptakan agama sebagai pedoman hidup serta Rasul sebagai pemandu. Karena mencakup segala aspek kehidupan, Islam menjadi satu-satunya agama sekaligus sistem yang layak dijadikan pedoman hidup. Kelengkapan cakupan aspek kehidupan Islam desebutkan secara rinci dalam Al Quran, yaitu: keyakinan, moral, tingkah laku, perasaan, pendidikan, sosial, politik, ekonomi, militer, dan perundang-undangan. 1. Keyakinan

Sebagai agama, Islam mengandung konsep keyakinan bahwa Allah Swt. adalah satusatunya Tuhan. Dia Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, tiada mengantuk, dan tidak pula tidur. Sebagai panduan bagi seorang muslim atas keyakinan ini, Allah menyatakan diri-Nya untuk diyakini seperti dinyatakan dalam Al Quran (QS Al Baqarah, 2: 255). 2. Moral dan Akhlak

Sebagai agama, Islam mengajarkan penganutnya untuk berkahlak. Yang dimaksud akhlak sendiri dalam Islam adalah Al Quran. Hal ini seperti dicontohkan Rasulullah saw. Artinya, Al Quran adalah akhlak Rasulullah saw. yang memuat panduan akhlak dan perlu diikuti oleh manusia agar mendapatkan rahmat Allah dan kesejahteraan di dunia dan akhirat. 3. Tingkah Laku

Tingkah laku atau perilaku mewujud melalui aspek gerakan. Hal ini sangat diwarnai dan ditentukan oleh akidah dan akhlak seseorang. Oleh karena itu, akhlak dan perilaku seseorang saling berkaitan dan memberikan gambaran satu sama lain. Hal ini seperti disabdakan oleh Rasulullah saw. bahwa sekiranya hati seseorang khusuk, khusyuk pula anggota badannya. 4. Perasaan

Sebagai agama, Islam juga memperhatikan perasaan manusia. Dalam Islam, seluruh perasaan: suka dan duka, cinta dan benci, sedih dan gembira, halus dan kasar, sensitif atau tidak berbanding lurus dengan akidah pemeluknya. Oleh karena itu, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah saw., kesempurnaan iman dan Islam seseorang dalam berperasaan adalah ketika ia berperasaan karena Allah: mencintai karena Allah, membenci karena Allah, dan seterusnya. 5. Pendidikan

Islam juga mengajarkan bagaimana melakukan pendidikan dan pengajaran kepada manusia. Ada sekian banyak ayat Al Quran dan hadits yang meminta umat Islam untuk belajar. Pendidikan yang dimaksud dalam Islam tidak saja bersifat formal dan terbatas di sekolah, tetapi juga pada setiap waktu, tempat, dan kesempatan. 6. Sosial

Kesempurnaan Islam juga dilengkapi ajarannya mengenai hubungan antarmasyarakat. Al Quran demikian rinci menyampaikan hal-hal tersebut. Sebagai contoh, Al Quran menyebutkan bagaimana aturan hubungan antara laki-laki dan perempuan, larangan memperolok-olok orang lain, larangan mengejek orang lain, dan perintah untuk tidak sombong. Islam juga membahas mengenai karakteristik masyarakat Islam yang di dalamnya diatur nilai-nilai Islam. 7. Politik

Manusia diciptakan Allah sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Oleh karena itu, kehidupannya tidak akan bisa lepas dari politik. Islam kemudian mengatur urusan-urusan politik ini sebagai bagian dari strategi dan dakwah. Tujuannya adalah untuk menegakkan hukum-hukum Allah di muka bumi. 8. Ekonomi

Ekonomi adalah aspek sangat penting dalam Islam selain politik. Tujuannya ekonomi dalam Islam adalah agar kesejahteraan di masyarakat dapat terwujud. Oleh karena itu, aturanaturan perekonomian dalam Islam banyak memuat mengenai riba (yang menghancurkan kesejahteraan), urusan utang-piutang, bukti tertulis dalam perniagaan, dan lain-lain. 9. Militer

Islam mewajibkan kepada setiap penyeru kebenaran untuk bersiap siaga, menyiapkan kekuatan, dan berjuang membela kebenaran dan memerangi kebatilan. Hal ini diajarkan Islam untuk melawan pihak-pihak yang menyeru dan melakukan kebatilan. Mereka adalah kaum yang didorong oleh nafsu untuk menciptakan kehancuran. 10. Peradilan dan Hukum Islam mewajibkan kepada umatnya untuk berbuat adil, bahkan kepada diri dan keluarganya sendiri. Oleh karena itu, untuk mewujudkan hal tersebut, Islam mengatur urusan hukum dan peradilan. Urusan yang berkaitan dengan hukum dan peradilan dalam Islam harus berlandaskan aturan Allah. Tanpa hal tersebut, keadilan sulit terwujud karena hukum hanya menjadi permainan belaka.

1.2 Manusia Menurut Tinjauan Islam A. Hakikat Manusia

Manusia dari bahasa Sansekerta: manu, Latin : mens=berpikir, berakal budi, homo=seorang yang dilahirkan dari tanah; humus=tanah. Jadi manusia adalah seseorang yang dilahirkan dari tanah yang memiliki akal budi.

Dalam memahami hakekat manusia ada beberapa pendekatan mengenai hal tersebut yang diutarakan manusia, yaitu :

a. Materialisme antropologik, hakikat manusia adalah jasad yang tersusun dari bahanbahan material yang berasal dari dunia anorganik. b. Materialisme biologic, hakikat manusia adalah organism hidup dan mempersatukan segala pembawaaan dan kegiatan badan pada dirinya. c. Idealisme antropologik, hakikat manusia adalah makhluk yang memiliki kehidupan spiritual-intelektual yang tidak bergantung pada materi. Manusia gabungan dari berbagai prinsip yang menyusunnya secara utuh. d. Homo Valens (manusia berkeinginan), teori psikoanalisis, manusia adalah makhluk yang memiliki unsure animal (hewan), rasional (akali), dan moral (nilai). Dimana memiliki perilaku interaksi antara komponen biologis (id), psikologis (ego), dan sosial (superego). e. Homo Mechanicus (manusia mesin), teori behaviorisme, semua tingkah laku manusia merupakan hasil dari proses pembelajaran akan lingkungannya. f. Homo Sapiens (makhluk berpikir), teori kognitif, makhluk yang selalu memahami lingkungannya, berpikir untuk mempertahankan, meningkatkan dan mengaktualisasikan diri. Sedangkan dalam Al-Quran, hakekat manusia dibedakan menurut sisi dan fungsinya yang beraneka, yaitu : a. Aspek historis = Bani Adam, manusia berasal dari satu nenek moyang, yaitu Nabi Adam a.s QS Al Araf (7):26-27 b. Aspek biologis = Al Basyar, sebagaimana hewan dan tumbuhan, manusia juga makan, minum dan berkembang biak. QS Al Mukminun (23): 33-34. c. Aspek sosiologis = An Nas, manusia suka berkelompok sehingga manusia juga makhluk sosial setelah makhluk individu. QS Al Baqarah (2): 21. Hakikatnya manusia juga memiliki persamaan dengan makhluk hidup yaitu naluri, fitrah atau instink (kebutuhan) untuk makan, minum dan berkembangbiak, lalu memiliki pancaindra. Tetapi manusia disempurnakan dengan Qalb (gabungan IQ dan EQ) QS AlAraf (7): 178-179. B. Martabat Manusia

Manusia memiliki karakter yang unik. Dibandingkan dengan makhluk lain, manusia memiliki perbedaan yang sangat menonjol dibandingkan makhluk lain. Perbedaan itu adalah kemampuan manusia yang mampu melahirkan kebudayaan Kebudayaan hanya dimiliki oleh manusia. Selain itu manusia juga mampu bergerak dalam ruang apapun. Mengenai kelebihan manusia atas makhluk lainnya diperjelas dalam Q.S 17 (Al-Isra:70)

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Selain itu, manusia diberi akal, pikiran dan qalb sehingga dapat mamahami ilmu yang diturunkan Allah berupa Al-Quran. Dengan ilmu inilah manusia menciptakan budaya. Allah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya (QS 95 : At-Tiin: 4). Dengan beberapa kelebihan yang manusia miliki, ada sesuatu yang paling mulia dalam hidup seorang manusia, terutama bagi manusia yang menjadi khalifah di Bumi yang tetap bersandar pada ajaran Allah, maka manusia tersebut merupakan golongan manusia bermartabat di Bumi ini. (Q.S Al-Anam: 165).

Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Oleh karena itu manusia akan selalu mulia dan lebih istimewa dari makhluk lainnya karena memang secara Al-Quran di jabarkan Allah menciptakan manusia dengan semua kemuliaan dan keistimewaan yang sebenarnya akan selalu demikian apabila manusia mau

mempertahankan dan menjalankan kehidupannya sesuai dengan apa yang diajarkan oleh AlQuran. C. Sejarah Manusia di Muka Bumi

Kehidupan di alam semesta ini tidak luput karena Allah swt yang menciptakan segalanya. Seperti kita sebagai manusia merupakan salah satu ciptaan Allah di alam semesta ini. Sejarah adanya manusia di muka bumi tentu saja merupakan polemic berbeda-beda dari teori penciptaan, seperti teori evolusi perkembangan hewan menjadi manusia dari Darwin ataupun teori lainnya.

Sebagai orang beriman, kita mengetahui bahwa manusia adalah ciptaan Allah swt dari dua unsure, yakni unsur jasmani dan unsure rohani. Unsur jasmani manusia diciptakan dari tanah dan unsur-unsur yang tertera dalam surat Al-Muminun 23:12-14. Dimana artinya adalah

12. Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. 13. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). 14. Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah ini kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami bungkus dengan daging.Kemudian kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk)lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.

Sedangkan dari unsur rohani, Allah swt meniupkan roh-Nya pada jasmani tiap manusia setelah dijadikan bentuk rupanya sebagai insan dengan cara yang mungkin tidak masuk akal dan tidak bisa dipikirkan atau dicari kebenarannya. Setidaknya apa yang diterangkan dalam AlQuran mengenai hal ini kita percaya bahwa itu adalah kuasa Allah swt yang sahih.

Secara historis Islam, Nabi Adam nerupakan manusia pertama yang diturunkan di muka bumi. Keinginan-Nya lah Dia menciptakan satu makhluk di muka bumi untuk dijadikan Khalifah, wakil Allah di muka bumi. Sifat-sifat khalifah ini akan menjadi pantulan cahaya dari sifat Allah dan posisinya lebih tinggi daripada malaikat.

Adam diberikan kemampuan efektif dari karunia Ilahi, memiliki potensi reseptif luar biasa atas fakta-fakta dunia makhluk, dan ini seperti yang dinyatakan dalam Al Quran, Dan Dia mengajarkan kepada Adam semua nama,. Maksudnya mengajarkan sifat alami dari nama-nama dan konsep dari hal yang dimaksud. (QS Al Baqarah2:30-39).

Adam dan istrinya, Hawa, harus mendiami lingkungan (Bumi) karena ia telah melanggar perintah Allah dan mengikuti hasutan Iblis di dalam surge. Adam menjalani hidup untuk memperoleh beberapa pengalaman agar dia dapat mengenal kawan dan lawan, menanamkan nilai moral kebaikan dan keburukan, belajar hidup di bumi itu hal-hal yang Adam a.s dan keturunannya setelah beliau perlukan bagi masa depan, kehidupan yang kita jalani saat ini.

D. Tugas Manusia Sebagai Khalifah di Muka Bumi

Manusia diserahi tugas kehidupan yang merupakan amanah Allah yang harus dipertanggung jawabkan dihadapan-Nya. Tugas kehidupan yang dipikul manusia di muka bumi adalah tugas kekhalifahan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil Allah di muka bumi untuk mengelola dan memelihara alam ciptaan Allah berdasarkan ketentuan Allah. Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan, Manusia menjadi khalifah memegang mandat Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif yang memungkinkan dirinya mengolah serta mendayagunakan apapun yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya.

Sebagai wakil Tuhan, Tuhan mengajarkan kepada manusia kebenaran dalam segala ciptaan-Nya dan melalui pemahaman serta penguasaan terhadap hukum-hukum kebenaran yang terkandung dalam ciptaan-Nya, manusia dapat menyusun konsep baru, serta melakukan rekayasa membentuk wujud baru dalam kebudayaan.

Sebagai khalifah, manusia diberi kewenangan berupa kebebasan memilih dan menentukkan sehingga kebebasannya melahirkan kreativitas yang dinamis. Adanya kebebasan manusia di muka bumi adalah karena kedudukannya untuk memimpin, sehingga pemimpin tidak tunduk kepada siapapun, kecuali kepada Allah yang memberikan kepemimpinan. Oleh karena itu

kebebasan manusia sebagai khalifah bertumpu pada landasan tauhidullah, sehingga kebebasan yang dimiliki tidak menjadikan manusia bertindak sewenang-wenang. Kebebasan manusia dengan kekhalifahannya merupakan implementasi dari ketundukan dan ketaatan. Ia tidak tunduk kepada siapapun kecuali kepada Allah, karena ia hamba Allah yang hanya tunduk dan taat kepada Allah.

Kekuasaan manusia sebagai wakil Tuhan dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuanketentuan yang telah digariskan oleh yang mewakilkannya, yaitu hukum-hukum Tuhan, baik yang tertulis dalam kitab suci al-Quran, maupun yang tersirat dalam kandungan alam semesta (al-kaun). Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakilkannya adalah wakil yang mengkhianati kedudukan dan peranny, serta mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu, ia meminta pertanggung jawaban terhadap penggunaan kewenangannya di hadapn yang diwakilinya sebagaimana firman Allah dalam QS. Fathir (35):39, yang artinya adalah : Dialah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah di muka bumi. Barang siapa yang kafir, maka (akibat)kekafirannya menimpa dirinya sendiri.

E. Tugas Manusia Sebagai Hamba Allah Manusia tidaklah diciptakan tanpa tujuan. Selain tugasnya sebagai khalifah di muka bumi, manusia juga bertugas sebagai hamba Allah. Manusia diciptakan untuk dikembalikan semula kepada Allah dan setiap manusia akan dipertanggungjawabkan di atas setiap usaha dan amal yang dilakukan selama ia hidup di dunia. Apabila pengakuan terhadap kenyataan dan hakikat wujudnya hari pembalasan telah dibuat maka tugas yang diwajibkan ke atas dirinya perlu dilaksanakan. Tugas manusia sebagai hamba Allah secara khusus meliputi perkara yang berkaitan dengan kehidupan. Tugas-tugas tersebut antara lain seperti berikut : a. Mengabdikan diri kepada Allah, beriman kepada Allah dan melalukan amal soleh dalam bentuk yang sempurna. Adapun cara mengabdi kepada Allah dimulai dengan mempelajari ilmu-ilmu Allah sebagaimana perintah Allah. b. Sebagai hamba, manusia perlu melaksanakan amanah Allah, memelihara serta mengawal agama Allah serta ajaran Allah SWT. Pengertian amanah berarti menempatkan sesuatu

pada tempatnya yang wajar, salah satu contohnya, sesuatu kedudukan tidak diberikan kecuali kepada orang yang betul-betul berhak dan yang betul-betul mampu menunaikan tugas dan kewajibannya dengan benar. c. Ke arah melaksanakan amanag sebagai khalifah Allah, manusia hendaklah menyadari dan memahami bahwa kewajiban berdakwah dengan menyebarkan dan memperluas agama Islam ke arah menegakkan syiar Islam serta meninggikan kalimah Allah dia atas muka bumi ini, dengan berperan menegakkan amar makruf serta mencegah kemungkaran. Apabila tugas menyeru kepada Islam dilakukan secara meluas dan menyeluruh dan dapat member kesadaran dan keinsafan niscaya akan dapat mewujudkan manusia yang faham akan tanggungjawab dan menjadi manusia yang bertanggungjawab. d. Bertanggungjawab menjauh dan memelihara diri dan keluarga dari masuk ke dalam neraka. Begitulah secara umum tugas manusia sebagai hamba Allah SWT. Oleh karena itu kita sebagai khalifah dan hamba Allah haruslah selalu berpegang teguh dengan Al Quran dan Al Hadist.

F. Hak dan Kewajiban Manusia Menurut Islam

Setiap manusia memiliki haknya semenjak dilahirkan di dunia oleh Allah SWT. Dapat dikatakan juga hak yang diberikan adalah nikmat dari-Nya. Seperti hak untuk hidup, berarti kehidupan adalah nikmat yang tidak dapat tergantikan sehingga kita pun harus mensyukurinya. Oleh karena itu manusia tidak boleh melakukan bunuh diri. Namun, dibalik semua hak-haknya, manusia juga diberikan pertanggungjawabannya oleh Allah SWT. Sebagai manusia, kita adalah makhluk Allah SWT sehingga mereka harus mematuhi peraturan dan larangan dari Allah SWT serta menyembahnya sebagai Tuhan Yang Maha Esa.

Allah SWT telah begitu banyak memberikan hak kepada manusia. Islam sangat menjunjung tinggi hak manusia. Beberapa hak yang dimaksud antara lain seperti : 1. Hak untuk hidup 2. Hak untuk memiliki keturunan dan berkeluarga 3. Hak untuk memilih jalan hidupnya

4. Hak privasi 5. Hak persamaan derajat di mata Allah SWT 6. Hak mendapatkan kesejahteraan ekonomi 7. Hak sebagai pewaris dan diwariskan harta keluarga

Masih begitu banyak lagi hak yang dijunjung tinggi dalam Islam. Dari sini, kita tahu bahwa kita berkewajiban untuk saling menghargai hak orang lain sehingga tidak saling merugikan. Maka sebetulnya, dapat dikatakan bahwa hak dan kewajiban adalah dua tapi satu, yaitu hak untuk berkewajiban dan hak untuk melaksanakan kewajiban.

G. Penggolongan Manusia Manusia diciptakan Allah beraneka ragam di dunia ini. Serta memiliki penggolongan yang berbeda-beda berdasarkan faktor keibadahannya. Manusia terbagi menjadi beberapa golongan antara lain muttaqi, muhsin, muslim, mumin, kafir, musyrik, munafik serta fasiq. a. Muttaqi, artinya orang yang bertaqwa, yaitu orang yang cinta dan hormat kepada Allah. Dengan terus merasakan kehadiran-Nya dimana saja berada, sehingga akan selalu menjaga diri dari perbuatan dosa dan selalu mendapat dorongan dari imannya untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya. b. Muhsin, artinya orang yang berbuat baik, yaitu orang mukmin (beriman) dan melakukan perbuatan baik atau amal shaleh. Nabi melukiskan muhsin adalah orang-orang yang berbuat ihsan. Yakni beribadah dan menjauhi larangan-Nya karena seakan-akan Allah selalu melihat dirinya. c. Mumin, artinya adalah orang yang beriman, yaitu orang yang percaya kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Hari Kemudian dan Qadha dan Qadar. Dimana ia selalu mengucapkannya, mengiakan dalam hati dan mengamalkan dengan perbuatan. d. Muslim, artinya orang Islam, yaitu orang yang tunduk patuh, berserah diri semata-mata kepada Allah. Tidak menyembah selain kepada Allah. e. Kafir, artinya orang yang tidak percaya. Ingkar dan menolak kebenaran. f. Musyrik, orang-orang yang menyekutukan Allah seperti mengambil atau menganggap ada Tuhan selain Allah, menganggap adanya makhluk yang setara dengan Allah ataupun percaya bahwa Allah dengan manusia tidak ada bedanya.

g. Munafiq, yakni orang yang bermuka dua. Di lahir ia mengatakan beriman, tapi dihatinya tidak . h. Fasiq, orang yang melakukan dosa, padahal dia mengerti bahwa perbuatannya adalah melanggar hukum, aturan dan ketentuan Allah. 2. Makna Agama Islam 2.1 Penegertian dan Karakteristik Ajaran Islam A. Makna Agama Islam Salah satu diantara keistimewaan agama Islam yaitu namanya. Berbeda dengan agama lain, nama agama ini bukan berasal dari nama pendirinya atau nama tempat penyebarannya. Tapi, nama Islam menunjukkan sikap dan sifat pemeluknya terhadap Allah. Yang memberi nama Islam juga bukan seseorang, bukan pula suatu masyarakat, tapi Allah Taala, Pencipta alam semesta dan segala isinya. Jadi, Islam sudah dikenal sejak sebelum kedatangan Nabi Muhammad saw. dengan nama yang diberikan Allah. Nama Islam bagi agama ini diberikan oleh Allah SWT sendiri. Dia juga menyatakan hanya Islam agama yang diridhai-Nya dan siapa yang memeluk agama selain Islam kehidupannya akan merugi di akhirat nanti. Islam juga dinyatakan telah sempurna sebagai ajaran-Nya yang merupakan rahmat dan karunia-Nya bagi umat manusia, sehingga mereka tidak memerlukan lagi ajaran-ajaran selain Islam. Islam berasal dari kata salima yuslimu istislaam artinya tunduk atau patuh selain yaslamu salaam yang berarti selamat, sejahtera, atau damai. Menurut bahasa Arab, pecahan kata Islam mengandung pengertian: islamul wajh (ikhlas menyerahkan diri kepada Allah), istislama (tunduk secara total kepada Allah), salaamah atau saliim (suci dan bersih), salaam (selamat sejahtera), dan silm (tenang dan damai). Sementara sebagai istilah, Islam memiliki arti: tunduk dan menerima segala perintah dan larangan Allah yang terdapat dalam wahyu yang diturunkan Allah kepada para Nabi dan Rasul yang terhimpun di dalam Alquran dan Sunnah. Manusia yang menerima ajaran Islam disebut muslim. Seorang muslim mengikuti ajaran Islam secara total dan perbuatannya membawa perdamaian dan keselamatan bagi manusia. Dia terikat untuk mengimani, menghayati, dan mengamalkan Alquran dan Sunnah.

Secara etimologis, kata islam berasal dari tiga akar kata, yaitu, Aslama artinya berserah diri atau tunduk patuh, yakni berserah diri atau tunduk patuh pada aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah Swt. Salam artinya damai atau kedamaian, yakni menciptakan rasa damai dalam hidup (kedamaian jiwa atau ruh). Salamah artinya keselamatan, yakni menempuh jalan yang selamat dengan mengamalkan aturan-aturan hidup yang ditetapkan oleh Allah Swt. Adapun secara terminologis, Islam adalah agama yang diturunkan dari Allah Swt kepada umat manusia melalui penutup para Nabi (Nabi Muhammad saw). Untuk lebih memahami makna islam, perlu dipahami pula makna taslim. Taslim (berserah diri) ada tiga tingkatan, yaitu, Taslim fisik adalah menyerah secara fisik karena dikalahkan oleh lawan yang memiliki fisik lebih kuat. Taslim akal adalah menyerah karena kelemahan dalil, logika, dan argumentasi. Taslim hati, biasanya disebabkan oleh fanatisme, jaga gengsi, takut kehilangan pengikut, atau memang hatinya kufur walaupun akalnya sudah taslim. Secara terminologis (istilah, maknawi) dapat dikatakan, Islam adalah agama wahyu berintikan tauhid atau keesaan Tuhan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad Saw sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku bagi seluruh manusia, di mana pun dan kapan pun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia. Dengan demikian Islam adalah agama Allah yang diwahyukan kepada Rasul-rasul-Nya untuk diajarkankan kepada manusia. Dibawa secara berantai (estafet) dari satu generasi ke generasi selanjutnya dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Islam adalah rahmat, hidayat, dan petunjuk bagi manusia dan merupakan manifestasi dari sifat rahman dan rahim Allah swt.

B.

Karakter Agama Islam

Di dunia ini terdapat bermacam-macam agama dan setiap ajaran memiliki karakteristik tersendiri yang membedakannya dari agama lain. Agama yang didakwahkan secara sungguhsungguh akan melahirkan perdamaian dunia. Tidak mudah membahas karakteristik agama Islam karena lingkup bahasannya sangat luas. Agama Islam mencakup semua aspek kehidupan umatnya. Untuk membahas karakter ajaran islam, perlu dikaji secara rinci karena Islam agama yang diridhai Allah untuk dunia dan seluruh umat di hari kiamat.

Islam adalah agama yang memiliki karakteristik spesial dan khusus karena ia diturunkan dari Yang Maha Sempurna, Allah SWT menurunkan agama Islam untuk menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya dan semata-mata untuk meninggikan hamba-hambaNya, karena Ia tidak memiliki kepentingan atas manusia. Allah SWT menurunkan surat al- Maidah ayat 3 sebagai penjelasan bahwa telah sempurnanya agama Islam; Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu dan telah Kuridhai Islam itu agama bagimu. Dimulai dari dua kata itu sendiri; karakter dan ajaran Islam. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), definisi karakter adalah sesuatu yang memiliki sifat/cirinya yang khas. Islam adalah agama yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, dan berdasarkan kitab suci AlQuran yang diturunkan ke bumi melalui wahyu Allah SWT. Sedangkan secara etimologi, atau dari segi bahasa, Islam berasal dari bahasa Arab yakni salima yang artinya sentosa dan selamat. Kata salima lalu digubah menjadi aslama yang berarti berserah diri pada kedamaian. Abuddin Nata, seorang penulis buku Metodologi Studi Islam memaparkan karakter agama Islam terkait beberapa aspek kehidupan; dari segi agama, ibadah, aqidah, ilmu dan kebudayaan, pendidikan, sosial, ekonomi, dan kesehatan. Pertama dari segi agama, ajaran Islam mempunyai karakter toleransi dan saling menghargai (tidak memaksakan kehendak). Mengapa dikatakan demikian? Kitab suci Islam yakni Al-Quran dengan tegas mengakui kehadiran ajaran-ajaran lain sebelum Islam kecuali yang berdasarkan ajaran syirik. Sebagaimana dituliskan dalam Al-Quran bahwa adanya kontinuitas ajaran beragama dan dapat kita yakini dengan cara beriman kepada semua Nabi dan Rasul tanpa membeda-bedakan mereka. Dari segi ibadah/muamalah, karakter ajaran Islam yang tidak memperkenankan kita mencampurkan akal manusia dengan perintah ibadah. Maksudnya bukan dalam beribadah kita tidak perlu pakai akal, tapi begini, dalam hukum Islam ditetapkan tidak boleh ada kreativitas sebab yang membentuk suatu ibadah dalam Islam dinilai sebagai bidah yang dianggap seperti kesesatan. Contohnya pada hal bilangan waktu shalat atau pada ketentuan ibadah haji yang telah ditetapkan Allah SWT dan Rasul- Nya. Berlanjut pada karakter ajaran Islam dari segi aqidah. Karakter ajaran Islam dari segi aqidah diyakini bersifat baik dalam isi dan prosesnya. Dalam Islam, diyakini Tuhan yang wajib disembah hanya Allah SWT. Karakter ajaran Islam di bidang ilmu dan kebudayaan adalah

terbuka tetapi juga selektif. Di satu sisi, Islam terbuka atas masukan dan informasi baru dari luar akan tetapi juga memilah-milah ilmu yang sejalan dengan Islam. Islam dikatakan sebagai paradigma terbuka, Islam juga adalah rantai peradaban dunia. Bisa kita lihat, banyak warisan-warisan ilmu yang berakar pada Islam. Misalnya warisan ilmu kedokteran di Cina, matematika di India, sistem pemerintahan di Persia, logika Yunani, dan lain-lain. Islam adalah agama yang mendukung penuh pendidikan untuk semua manusia, porsi pendidikan pun tidak pandang genre (laki-laki atau perempuan). Bahkan di dalam kitab suci AlQuran dijelaskan beberapa metode belajar sebagai dukungan terhadap pendidikan, contohnya metode ceramah dan diskusi. Ajaran Islam juga mendukung penuh semua kegiatan yang menuju pada kesejahteraan manusia. Selanjutnya dalam buku tulisan Kaelany yang berjudul Islam Agama Universal yang pada salah satu bab juga membahas karakter ajaran Islam. Pak Kaelany menuliskan beberapa karakter ajaran islam. Salah satunya adalah Islam agama yang rasional dan praktis. Selain menjadi ajaran yang rasional, dalam Islam juga terdapat keseimbangan serta kesatuan antara kebendaan dan kerohanian. Meskipun sebagian petunjuk yang terdapat di Al-Quran bersifat umum, tapi petunjuknya selalu mengarahkan kearah yang positif. Hal ini menjadikan Islam berkarakter baik dalam menunjukkan arah kehidupan manusia. Islam juga ajaran yang seimbang, seimbang antara perintah untuk individu dan masyarakat. Selain itu, Islam adalah agama universal yang bersifat tetap dan tidak berubah-ubah. 2.2 Sumber Ajaran Islam A. Al-Quran Al-Quran adalah sumber ajaran Islam yang utama. Al-Quran adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW. Al-Quran dijaga dan dipelihara oleh Allah SWT, sesuai dengan firmannya sebagai berikut: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al=Quran dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS 15:9) Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran. Kalau sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS 4:82)

Al-Quran menyajikan tingkat tertinggi dari segi kehidupan manusia. Sangat mengaggumkan bukan saja bagi orang mukmin, melainkan juga bagi orang-orang kafir. AlQuran pertama kali diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan (Nuzulul Quran). Wahyu yang perta kali turun tersebut adalah Surat Alaq, ayat 1-5. Al-Quran memiliki beberapa nama lain, antara lain adalah Al-Quran (QS. Al-Isra: 9), Al-Kitab (QS. Al-Baqoroh: 1-2), Al-Furqon (QS. Al-Furqon: 1), At-Tanzil (QS> As-Syuara: 192), Adz-Dzikir (Surat Al-Hijr: 1-9). Kandungan Al-Quran, antara lain adalah: Pokok-pokok keimanan (tauhid) kepada Allah, keimanan kepada malaikat, rasulrasul, kitab-kitab, hari akhir, qodli-qodor, dan sebagainya. Prinsip-prinsip syariah sebagai dasar pijakan manusia dalam hidup agar tidak salah jalan dan tetap dalam koridor yang benar bagaiman amenjalin hubungan kepada Allah (hablun minallah, ibadah) dan (hablun minannas, muamalah). Janji atau kabar gembira kepada yang berbuat baik (basyir) dan ancaman siksa bagi yang berbuat dosa (nadzir). Kisah-kisah sejarah, seperti kisah para nabi, para kaum masyarakat terdahulu, baik yang berbuat benar maupun yang durhaka kepada Tuhan. Dasar-dasar dan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan: astronomi, fisika, kimia, ilmu hukum, ilmu bumi, ekonomi, pertanian, kesehatan, teknologi, sastra, budaya, sosiologi, psikologi, dan sebagainya. Keutamaan Al-Quran ditegaskan dalam Sabda Rasullullah, antara lain: Sebaik-baik orang di antara kamu, ialah orang yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya Umatku yang paling mulia adalah Huffaz (penghafal) Al-Quran (HR. Turmuzi) Orang-orang yang mahir dengan Al-Quran adalah beserta malaikat-malaikat yang suci dan mulia, sedangkan orang membaca Al-Quran dan kurang fasih lidahnya berat dan sulit membetulkannya maka baginya dapat dua pahala (HR. Muslim). Sesungguhnya Al-Quran ini adalah hidangan Allah, maka pelajarilah hidangan Allah tersebut dengan kemampuanmu (HR. Bukhari-Muslim). Bacalah Al-Quran sebab di hari Kiamat nanti akan datang Al-Quran sebagai penolong bagai pembacanya (HR. Turmuzi).

Al-Quran sebagai Kalamullah. Al-Quran adalah wahyu harfiah dari Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan bahasa Arab dan membacanya adalah ibadah. Sebagai Kalamullah, Al-Quran dalam bentuk aslinya berada dalam indu Al-Kitab (Lauh Mahfuzh) dalam lindungan Tuhan. Lalu diturunkan kepada Nabi dalam bahasa kaumnya (bahasa Arab). Tuhan dalam menyampaikan firman-Nya kepada mansusia dialkukan dengan tiga cara, yaitu: Dengan wahyu (langsung ke dalam hati Nabi) Di belakang tabir (wahyu diserap oleh indera Nabi tanpa melihat pemberi wahyu) Dengan mengutus malaikat (Jibril) yang membacakan wahyu.

Fungsi Al-Quran antara lain adalah:

Menerangkan dan menjelaskan (QS. 16:89; 44:4-5) Al-Quran kebenaran mutlak (Al-Haq) (QS. 2: 91, 76) Pembenar (membenarkan kitab-kitab sebelumnya) (QS. 2: 41, 91, 97; 3: 3; 5: 48;

6: 92; 10: 37; 35: 31; 46: 1; 12: 30) Sebagai Furqon (pembeda antara haq dan yang bathil, baik dan buruk) Sebagai obat penyakit (jiwa) (QS. 10: 57; 17:82; 41: 44) Sebagai pemberi kabar gembira Sebagai hidayah atau petunjuk (QS. 2:1, 97, 185; 3: 138; 7: 52, 203, dll) Sebagai peringatan Sebagai cahaya petunjuk (QS. 42: 52) Sebagai pedoman hidup (QS. 45: 20) Sebagai pelajaran

Al-Quran sebagai Mukjizat Mukjizat memiliki arti melemahkan, mengalahkan, atau membuat tidak kuasa. AlQuran sebagai mukjizat berarti ia dapat mengalahkan atai melemahkan sehingga tida ada

seorangpun yang kuasa melawannya. Mukjizat tersebut dapat berupa keindahan susunan bahasanya dan dari kedalaman isinya. Dari segi bahasa, Al-Quran, tidak ada seorang pun yang dapat menandinginya. Hal ini membuktikan bahwa Al-Quran bukanlah buatan manusia, melainkan murni wahyu dari Allah SWT. Terhadap orang-orang yang tidak percaya kepada Al-Quran, Tuhan menantang mereka secara bertahap: Menantang mereka untuk menyusun karangan semacam Al-Quran secara Kalau tak bisa, silakan menyusun sepuluh surat saja semacam Al-Quran Kalau tak bisa, silakan menyusun satu surat saja Jika tidak bisa juga, Tuhan menantang manusia unti membuat sesuatu seperti atau

keseluruhan -

lebih kurang sama dengan surat Al-Quran Bagaimanapun usahanya, manusia tidak akan bisa dan pasti tidak akan mampu untuk menyaingi Al-Quran. Dari segi isi, susunan bahasa, sastra, dan keindahannya, apa yang ada dalam Al-Quran bukan sekadar tanpa makna. Makna-makna yang terkandung dalam AlQuran begitu luas. Ayat-ayatnya selalu memberikan kemungkinan arti yang tak terbatas, dan selalu terbuka untuk menerima interpretasi baru. Al-Quran telah disesuaikan (sudah pasti disesuaikan) bagi seluruh zaman. Al-Quran berisi petunjuk agama atau syariat, dan mengandung mukjizat, tuntunan hidup di dunia dan hidup sesudah mati, serta berita-berita gaib, seperti berita tentang manusia akan dibangkitkan di hari akhirat. Al-Quran juga

mengandung keterangan tentang isyarat-isyarat ilmiah. Seluruh ilmu pengetahuan dan teknologi pada dasarnya berasal dari Al-Quran. Keutamaan membaca Al-Quran, yaitu membacanya adalah ibadah. Bagi orang yang membaca Al-Quran akan mendapat pahala yang telah dijanjika Allah SWT. Menurut Ali Bin Abi Thalib, membaca Al-Quran dalah 50 kebajikan untuk tiap-tiap hurufnya apabila dibaca waktu melaksanakan sholat, 25 kebajikan apabila di luar sholat (dalam keadaan berwudhu), dan 10 kebajikan apabila tidak berwudhu. Bukan hanya membaca, mendengarkan orang yang membaca Al-Quran pun akan mendapat kan pahala. Selain membaca dan mendengar, belajar dan mengajarkan membaca Al-Quran pun adalah suatu kebajikan.

B. As-Sunnah Secara termilogi ilmu Islam antara al-hadist dan al-sunnah memiliki arti yang identik. Sunnah memiliki arti segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Muhammmad SAW dalam bentuk qaul (ucapan), fiil (perbuatan), taqrir (penetapan). Pengertian sunnah tersebut sama dengan Al-Hadist yang artinya berita atau kabar. Namun dilain pihak terdapat pendapat yang menyebutkan bahwa antara Al-Sunnah dengan Al-Hadist memiliki pengertian yang berbeda. Al-Sunnah diartikan sebagai perbuatan, perkataan dan keizinan Nabi SAW yang asli, sedangkan Al-Hadist adalah catatan tentang perbuatan, perkataan dan keizinan Nabi yang sampai pada kita sekarang ini. Penulisan Al-Hadist dimulai setelah Nabi wafat. Pada masa itu banyak bermunculan riwayat tentang hadist. Namun para sahabat hanya menerima periwayatan yang benar-benar terpecaya yaitu dari orang-orang yang tetap berpegang pada sunnah Rasulullah dan menolak hadist dari para ahli bidah. Pada abad ke-1,ketika orang-orang mengumpulkan dan menulis kembali hadist Nabi terdapat banyak sekali hadist. Maka dari itu, untuk menguji validasi dan kebenaran dari suatu hadist itu para muhadditsin (pengumpul dan periwayat hadist) menyeleksinya dengan memperhatikan jumlah dan kualitas jaringan periwayat hadist tersebut yang dikenal dengan sanad ( rangkaian periwayatan, orang-orang yang meriwayatkan hadist, sejak orang yang mengabarkan, menceritakan kepada penulis hadist sampai ke periwayat sebelumnya hingga bersambung kepada Nabi Muhammad SAW ). Pada masa ini para sahabat bersikap membatasi periwayatan hadist, teliti dalam menyampaikan dan menerima riwayat hadist, dan kritis terhadap meteri hadist. Pada abad ke-2 Hijriah, hadist mulai dibukukan atas himbauan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pengkodifikasi ini diperkasai oleh Muhammad ibn Muslim ibn Syihab al-Zuhri. Pada abad ke-3 Hijriah merupakan masa keemasan perkembangan penulisan AL-Hadist, mulai ditemukan perumusan-perumusan Yahya ibn Main (w.234H/848M). Pada abad ke-4 dan ke-5 Hijriah mulai ditulis secara khusus kitab-kitab yang membahas tentang ilmu hadist yang bersifat komprehensif. Dan abad setelahnya bermuncullanlah karyadan kaedah-kaedah penulisan AL-Hadist, seperti tentang Tarikh al-Rijal (Sejarah dan Riwayat Hidup para perawi hadist) yang ditulis oleh

karya di bidang ilmu hadist yang sampai saat ini masih menjadi referensi dalam pembahasan ilmu hadist. As-Sunnah memiliki berbagai macam dan dapat ditinjau dari berbagai aspek, yaitu AsSunnah yang ditinjau dari segi bentuknya, segi jumlah orang-orang yang menyampaikan hadist (sanad), segi kualitas, dan segi diterima atau tidaknya. As- Sunnah ditinjau dari segi bentuknya memiliki 3 macam yaitu, Fili ( perbuatan Nabi ), Qauli ( perkataan Nabi ) dan Taqriri ( keizinan atau persetujuan Nabi ) seperti sahabat yang disaksikannya dan kemudian Nabi menentukan sikapnya. As-Sunnah jika dilihat dari segi jumlah orang yang menyampaikannya terdiri dari: 1. Mutawatir Hadist yang diriwayatkan oleh banyak orang sehingga sulit jika mereka bersepakat untuk berkata dusta. Sebagai contoh hadist mengenai cara shalat, Nabi mengatakan shallu kama raaitumuni ushalli shalatlah anda sebagaimana anda melihat saya shalat. Hadits tersebut dapat berkembang karena pada waktu itu sahabat-sahabat Nabi mendengarkan perkataan beliau tersebut dan meneruskan kabar tersebut kepada keluarganya seta kerabat-kerabatnya. Untuk menempatkan hadist ini diperlukan syarat-syarat seperti periwayatan disampaikan berdasarkan tanggapan panca indra, jumlah rawi-rawinya, dan adanya keseimbangan jumlah antara rawi-rawi. 2. Mansyur Hadist yang diriwayatkan orang orang dalam jumlah yang banyak, namun tidak sebanyak rawi pada mutawatir 3. Ahad Suatu hadist yang tidak memenuhi syarat-syarat mutawatir, seperti mengenai tentang shalat sunnah Nabi, jual-beli,mandi, pergaulan Nabi dll. As-Sunnah ditinjau dari segi kualitasnya yaitu 1. Shahih

Hadist yang sehat, diriwayatkan oleh orang-orang yang baik dan kuat hafalannya, materinya baik serta persambungan sanadnya dapat dipertanggung jawabkan. 2. Hasan

Hadist yang memenuhi persyaratan hadits shahih namun dari segi hafalan pembawanya yang kurang baik.

3.

Dhair

Hadist yang lemah karena terdapat masalah dalam sanadnya yaitu sanadnya terputus atau Karena salah satu pembawanya kurang baik. 4. Maudhu Merupakan sebuah hadist palsu yang dibuat oleh seseorang dan dikatakan sebagai sabda atau perbuatan Nabi. As-Sunnah ditinjau dari diterima atau tidaknya, yaitu terdiri dari Maqbul ( hadist yang dapat diterima ) Mardud ( hadist yang ditolak ) As-Sunnah memiliki kedudukan-kedudukan penting dalam kehidupan ini, yaitu Sunnah yang merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Al-Quran. Kedudukan-kedudukan tersebut 1) setiap mukmin wajib taat kepada Allah dan RasulNya, 2) seseorang yang menyalahi Sunnah akan mendapat siksa, 3) menjadikan Sunnah sebagai sumber hokum tanda orang yang beriman. Sunnah berhubungan juga terhadap AL-Quran yaitu Al-Sunnah berfungsi sebagai

penafsir, pensyarah, penjelas terhadap Al-Quran. Contoh hadist yang hanya memperkokoh pernyataan A-Quran yaitu pada surat Al-Baqarah 2:185 Sumuu li ruyatihi (puasalah kamu karena melihat bulan). Seiring dengan berjalannya waktu, muncullah kegiatan pemalsuan hadist, untuk itu diperlukannya kehati-hatian dalam penerimaan hadist yaitu dengan cara: 1) melakukan pembahasan terhadap sanad serta melakukan penelitian terhadap perawi, 2) melakukan perjalan untuk mencari sumber hadist langsung dari perawi aslinya, 3) melakukan perbandingan antara riwayat suatu hadist dengan hadist yang lebih kuat. Perbedaan Kedudukan Al-Sunnah dengan Al-Quran dalam Menetapkan Sesuatu

Walaupun Al-Quran dan Al-Sunnah memiliki kesamaan sebagai sumber ajaran agama Islam, namun ternyata keduanya memiliki perbedaan, yaitu: a. Segala hal yang ditetapkan Al-Quran memiliki nilai yang absolute, sedangkan Al-

Sunnah tidak semuanya absolute, ada yang bersifat nisbi (zhanni, tidak perlu dan tidak boleh dipergunakan. b. Sikap seorang muslim terhadap Al-Quran adalah keyakinan, sedangkan Al-

Sunnah sebagian besar adalah zhanny ( dugaan-dugaan yang kuat ).

Kita tidak dapat menggunakan Al-Quran sebagai satu-satunya sebuah petunjuk dalam menjalani hidup ini. Seperti yang diperintahkan Allah SWT dalam Al-Quran kepada kita agar menaati-Nya dan menaati Rasul-Nya (QS 3:31-31), untuk itu kita perlu Al-Sunnah sebagai sumber hukum dan ajaran setelah Al-Quran. Sebagai pedoaman hidup dan sumber ajaran Islam, AL-Hadist harus kita terima dengan kritis. Para ulama Ahli Hadist menghasilkan rumusan-rumusan. Untuk meneliti skeshahihan suatu matan, diperlukan penelitian terhadap matan tersebut. Langkah-langkah kegiatan penelitian suatu matan hadist antara lain: 1. Meneliti matan dengan melihat kualitas sanadnya ( Muhaddistin )

Matan dan sanad memiliki kedudukan yang sama. Suatu matan akan mempunyai arti apabila matannya telah memenuhi syarat. Tanpa adanya sanad, maka suatu matan tidak dapat dinyatakan sebagai berasal dari Rasulullah. Suatu Hadist yang memiliki sanad yang shahih belum tentu memiliki matan yang shahih pula. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa factor, antara lain: a. b. c. Karena telah terjadi kesalahan dalam penelitian matan Terjadinya kesalahan dalam penelitian sanad Matan hadist yang bersangkutan telah mengalami periwayatan secara makna yang

ternyata mengalami kesalahpahaman.. Tolak ukur suatu matan dinyatakan maqbul yaitu: a. b. c. d. e. f. Tidak bertentangan dengan akal sehat Tidak bertentangan dengan Al-Quran Tidak bertentangan dengan hadist mutawatir Tidak bertentangan dengan amalan yang telah menjadi kesepakatan Tidak bertentangan dengan dalil yang telah pasti Tidak bertentangan dengan hadist ahad

2.

Meneliti susunan matan yang semakna

Apabila terdapat perbedaan lafal pada matan hadist yang semakna, itu terjadi karena dalam periwayatan hadist telah terjadi periwayatan hadist secara semakna. Menurut ulama

hadist perbedaan lafal yang tidak mengakibatkan perbedaan makna, asal sanadnya sama-sama shahih, maka hal tersebut tetap dapat ditoleransi.

3.

Meneliti kandungan matan

Dalam meneliti kandungan matan, hal yang pertama harus dilakukan yaitu membandingkan kandungan matanyang sejalan dengan yang lainnya. Setelah lafalnya diteliti, maka diteliti pula matannya, diperhatikan pula matan-matan dan dalil-dalil lain yang punya topic atau masalah yang sama. Apabila terdapat matan dengan topic yang sama, maka matan tersebut peelu dditeliti sanadnya. Apabila memenuhi syarat, maka kegiatan muqaranah ( perbandingan ) kandungan matan tersebut dilakukan. Sampai saat ini terdapat 6 karya-karya yang disebut shahih, antara lain: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Jami Shahih Bukhari (oleh Abu Abdullah Muhammad Al-Bukhari) Shahih Muslim (oleh Abu Husain Asakir al-din Muslim) Sunan Abu Dawud ( oleh: Abu Dawud Al-Sijistani) Jami Al-Tirmizi ( oleh: Abu Isa Muhammad Al-Tirmizi ) Sunan Al-NasaI ( oleh: Abu Al-Rahman Al-Nasai ) Sunan Ibn Majah ( oleh: Abu Abdullah Muhammad Ibn Majah )

C. Rayu atau Ijtihad Ijtihad diambil dari kata ijtihada-yajtahidu-ijtihadan yang artinya upaya sungguhsunguh yang dilakukan seseorang dalam memahami sesuatu. Karena ijtihad merupakan kerja pikiran yang menggunakan akal sehat, maka ijtihad disebut dengan rayu (penglihatan). Sebelum melakukan ijtihad terdapat syarat-syarat yang penting dilakukan yaitu: 1. Mengetahui Nash Al-Quran dan As-Sunnah 2. Mengetahui soal-soal ijma 3. Mengerti dan menguasai bahasa arab 4. Mengetahui ushul Fiqh 5. Mengetahui nasikh dan mansukh

6. Memiliki ilmu-ilmu penunjang lainnya

Ijtihad memiliki arti yang penting dalam memahami agama dari sumbernya, karena tidak semua orang dapat menggali pengertian Al-Quran. Kesungguhan memahami AlQuran dan As-sunnah dilakukan oleh para mujtahid dengan memahami secara tersirat dan tersurat dalam nash ( Al-Quran dan As-Sunnah ) dengan memperhatikan jiwa, rahasia hukum, alasan-alasan, unsure kemaslahatan yang terkandung dalam kedua sumber tersebut. Dalam menghadapi pemasalahan yang muncul saat ini seperti, masalah muamalah, pergailan antar umat telah menimbulkan berbagi persoalan yang rumit, oleh karena itu, ijtihad sangat penting dalam menyelesaikan permasalahan ini.

3. Asal Usul dan Perkembangan Agama Islam 3.1 Perkembangan Islam di Masa Nabi
A. Arab Zaman Jahiliyah

Pada zaman sebelum Muhammad dilahirkan, Arab adalah bangsa yang memiliki peradaban jahiliyah atau bodoh. Pada masa ini masyarakat Arab menyembah berhala dan minum minuman keras. Watak mereka sombong, angkuh, dan keras. Fase kehidupan bangsa Arab tanpa bimbingan wahyu Ilahi dan hidayah sangatlah panjang. Oleh sebab itu, di antara mereka banyak ditemukan tradisi yang sangat buruk. Berikut ini adalah contoh beberapa tradisi buruk masyarakat Arab Jahiliyah. - Perjudian atau maisir. Ini merupakan kebiasaan penduduk di daerah perkotaan di Jazirah Arab, seperti Mekkah, Thaif, Shana, Hijr, Yatsrib, dan Dumat al Jandal. - Minum arak (khamr) dan berfoya-foya. Meminum arak ini menjadi tradisi di kalangan saudagar, orang-orang kaya, para pembesar, penyair, dan sastrawan di daerah perkotaan. - Nikah Istibdha, yaitu jika istri telah suci dari haidnya, sang suami mencarikan untuknya lelaki dari kalangan terkemuka, keturunan baik, dan berkedudukan tinggi untuk menggaulinya.

- Mengubur anak perempuan hidup-hidup jika seorang suami mengetahui bahwa anak yang lahir adalah perempuan. Karena mereka takut terkena aib karena memiliki anak perempuan. - Membunuh anak-anak, jika kemiskinan dan kelaparan mendera mereka, atau bahkan sekedar prasangka bahwa kemiskinan akan mereka alami. - Ber-tabarruj (bersolek). Para wanita terbiasa bersolek dan keluar rumah sambil menampakkan kecantikannya, lalu berjalan di tengah kaum lelaki dengan berlengak-lenggok, agar orang-orang memujinya. - Lelaki yang mengambil wanita sebagai gundik, atau sebaliknya, lalu melakukan hubungan seksual secara terselubung. - Prostitusi. Memasang tanda atau bendera merah di pintu rumah seorang wanita menandakan bahwa wanita itu adalah pelacur. - Fanatisme kabilah atau kaum. - Berperang dan saling bermusuhan untuk merampas dan menjarah harta benda dari kaum lainnya. Kabilah yang kuat akan menguasai kabilah yang lemah untuk merampas harta benda mereka. - Orang-orang yang merdeka lebih memilih berdagang, menunggang kuda, berperang, bersyair, dan saling menyombongkan keturunan dan harta. Sedang budak-budak mereka diperintah untuk bekerja yang lebih keras dan sulit.

B. Masa Kecil Nabi Rosul tidak menyusu pada ibunya,melainkan disusukan kepada orang lain,yaitu kepada Halimatussadiyah selama dua tahun.Pada nabi berusia tiga tahunan,ada yang melihat bahwa ada dua orang datang pada Nabi dan membelah perutnya serta mengambil sesuatu dari dalamnya. Ketika Nabi berusia 6 tahun, Aminah membawanya ke Medinah untuk diperkenalkan kepada saudara-saudara kakeknya dari pihak Keluarga Najjar serta berziarah kemakam ayahnya.Tetapi ditengah perjalanan tepatnya di Abwa Aminah mengalami sakit dan akhirnya meninggal dunia. Nabi kemudian di bawah asuhan kakeknya, Abdl-Muttalib. Tetapi orang tua itu juga meninggal tak lama kemudian, dalam usia delapanpuluh tahun, sedang Muhammad waktu itu baru berumur delapan tahun. Sekali lagi Muhammad dirundung kesedihan karena kematian kakeknya itu, seperti yang sudah dialaminya ketika ibunya meninggal. Begitu sedihnya dia, sehingga selalu ia menangis sambil mengantarkan keranda jenazah sampai ketempat peraduan terakhir.Kemudian pengasuhan Muhammad di pegang oleh Abu Talib. Sekalipun dalam kemiskinannya itu, tapi Abu Talib mempunyai perasaan paling halus dan terhormat di kalangan Quraisy. Dan tidak pula mengherankan kalau Abdl-Muttalib menyerahkan asuhan Muhammad

kemudian kepada Abu Talib. Abu Talib mencintai kemenakannya itu sama seperti AbdlMuttalib juga. Karena kecintaannya itu ia mendahulukan kemenakan daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad yang luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati, itulah yang lebih menarik hati pamannya. Ketika usia Nabi baru duabelas tahun, ia turut dalam rombongan kafilah dagang bersama Abu Talib ke negeri Syam. Diceritakan, bahwa dalam perjalanan inilah ia bertemu dengan rahib Bahira, dan bahwa rahib itu telah melihat tanda-tanda kenabian padanya sesuai dengan petunjuk cerita-cerita Kristen. Rahib itu menasehatkan keluarganya supaya jangan terlampau dalam memasuki daerah Syam, sebab dikuatirkan orang-orang Yahudi yang mengetahui tandatanda itu akan berbuat jahat terhadap dia.Muhammad yang tinggal dengan pamannya, menerima apa adanya. Ia melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh mereka yang seusia. C. Diangkatnya Muhammad Menjadi Nabi

Muhammad pertama kali diangkat menjadi rasul pada malam hari, tepatnya tanggal 17 Ramadhan/ 6 Agustus 611 M, ketika itu malaikat Jibril datang dan membacakan surah pertama dari Quran yang disampaikan kepada Muhammad, yaitu surah Al-Alaq. Kemudian nabi diperintahkan untuk membaca ayat tersebut, namun ia menolak dan berkata ia tidak bisa membaca. Malaikat Jibril mengulangi sampai tiga kali dan meminta agar Muhammad membaca, tetapi jawabannya tetap sama. Jibril berkata:

"Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(Al-Alaq 96: 1-5)" Muhammad berusia 40 tahun 6 bulan dan 8 hari ketika ayat pertama sekaligus pengangkatannya sebagai rasul disampaikan kepadanya menurut perhitungan tahun qomariyah (penanggalan berdasarkan bulan), atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut perhitungan tahun syamsiah atau tahun masehi (penanggalan berdasarkan matahari).

D.

Dakwah di Mekkah

Setelah turunnya surat Al-Muddatsir yang membangkitkan semangat Nabi, beliau memulai dakwahnya di sekitar Mekkah. Ada dua jenis dakwah yang beliau lakukan selama di Mekkah, yaitu a. Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi

Dakwah ini dilakukan pada masa-masa awal beliau diangkat menjadi Nabi. Dakwah dengan metode ini adalah menghampiri rumah-rumah kerabat yang beliau percaya untuk diajak memeluk Islam. Orang-orang pertama yang memeluk Islam disebut Assabiqunal Awwalun, di antaranya Siti Khadijah, Zaid bin Harits, Ali bin Abi Thalib. Dakwah secara sembunyi-sembunyi dilakukan oleh Nabi Muhammad selama kurang lebih tiga tahun. b. Dakwah Secara Terang-Terangan

Setelah mendapat wahyu untuk menyebarkan ajaran agama Islam secara terang-terangan (QS Al-Hijr : 94-95), Nabi akhirnya meluaskan Islam dengan terang-terangan. Oleh karena itu, kaum kafir Quraisy mengetahui kegiatan dakwah Nabi dan dengan keras menentangnya. Sejak saat itu pula dimulai pergulatan politik dan pertarungan pemikiran antara Islam dan kekufuran, antara yang haq dan yang batil. Cobaan lain yang Rasulullah terima pada masa ini adalah meninggalnya paman kesayangannya, Abu Thalib dan istri tercintanya, Siti Khadijah. Hal ini sangat memukul mental Rasulullah, dan kaum Quraisy langsung melonjak begitu kedua pilar Rasulullah itu tumbang.

E.

Dakwah di Madinah

Dakwah Rasulullah periode Madinah, dimulai dari peristiwa Hijrah. Hijrah tersebut merupakan peristiwa terpenting dalam sejarah Madinah sehubungan dengan pembangunan agama Islam. Di kota ini Nabi Muhammad mendirikan Masjid Nabawy dan sekaligue mempersaudarakan Kaum Muhajirin dan Kaum Ansar. Dakwah Rasulullah SAW periode Madinah berlangsung selama sepuluh tahun, yakni dari semenjak tanggal 12 Rabiul Awal tahun pertama hijriah sampai dengan wafatnya Rasulullah SAW, tanggal 13 Rabiul Awal tahun ke-11 hijriah. Materi dakwah yang disampaikan Rasulullah SAW pada periode Madinah, selain ajaran Islam yang terkandung dalam 89 surat Makiyah dan Hadis periode Mekah, juga ajaran Islam yang terkandung dalm 25 surat Madaniyah dan hadis periode Madinah. Adapaun ajaran Islam periode Madinah, umumnya ajaran Islam tentang masalah sosial kemasyarakatan. Mengenai objek dakwah Rasulullah SAW pada periode Madinah adalah orang-orang yang sudah masuk Islam dari kalangan kaum Muhajirin dan Ansar. Juga orang-orang yang belum masuk Islam seperti kaum Yahudi penduduk Madinah, para penduduk di luar kota Madinah yang termasuk bangsa Arab dan tidak termasuk bangsa Arab. Dakwah Rasulullah SAW yang ditujukan kepada orang-orang yang sudah masuk Islam (umat Islam) bertujuan agar mereka mengetahui seluruh ajaran Islam baik yang

diturunkan di Mekah ataupun yang diturunkan di Madinah, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka betul-betul menjadi umat yang bertakwa. Selain itu, Rasulullah SAW dibantu oleh para sahabatnya melakukan usaha-usaha nyata agar terwujud persaudaraan sesama umat Islam dan terbentuk masyarakat madani di Madinah. Mengenai dakwah yang ditujukan kepada orang-orang yang belum masuk Islam bertujuan agar mereka bersedia menerima Islam sebagai agamanya, mempelajari ajaranajarannya dan mengamalkannya, sehingga mereka menjadi umat Islam yang senantiasa beriman dan beramal saleh, yang berbahagia di dunia serta sejahtera di akhirat. Tujuan dakwah Rasulullah SAW yang luhur dan cara penyampaiannya yang terpuji, menyebabkan umat manusia yang belum masuk Islam banyak yang masuk Islam dengan kemauan dan kesadarn sendiri. namun tidak sedikit pula orang-orang kafir yang tidak bersedia masuk Islam, bahkan mereka berusaha menghalang-halangi orang lain masuk Islam dan juga berusaha melenyapkan agama Islam dan umatnya dari muka bumi. Mereka itu seperti kaum kafir Quraisy penduduk Mekah, kaum Yahudi Madinah, dan sekutu-sekutu mereka. Setelah ada izin dari Allah SWT untuk berperang, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Hajj, 22:39 dan Al-Baqarah, 2:190, maka kemudian Rasulullah SAW dan para sahabatnya menyusun kekuatan untuk menghadapi peperangan dengan orang kafir yang tidak dapat dihindarkan lagi. Peperangan-peperangan yang dilakukan oleh Rasulullah SAW dan para pengikutnya itu tidaklah bertujuan untuk melakukan penjajahan atau meraih harta rampasan perang, tetapi bertujuan untuk: Membela diri, kehormatan, dan harta. Menjamin kelancaran dakwah, dan memberi kesempatan kepada mereka yang hendak menganutnya. Untuk memelihara umat Islam agar tidak dihancurkan oleh bala tentara Persia dan Romawi.

Peperangan yang dilakukan Rasulullah selama periode dakwah di Madinah, antara lain perang Badar, Perang Uhud, dan Perang Khandaq. Setelah Rasulullah SAW dan para pengikutnya mampu membangun suatu negara yang merdeka dan berdaulat, yang berpusat di Madinah, mereka berusaha menyiarkan dan memasyhurkan agama Islam, bukan saja terhadap para penduduk Jazirah Arabia, tetapi juga keluar Jazirah Arabia, maka bangsa Romawi dan Persia menjadi cemas dan khawatir kekuaan mereka akan tersaingi Penyebaran Islam, yang meski pada awalnya banyak tantangan, pada periode awal ini berjalan sangat pesat. Dalam waktu 30 tahun Islam telah menyebar ke seluruh Semenanjung

Arabia, Palestina, Suria, Irak, Persia, dan Mesir. Hal ini karena Islam selalu disebarkan dengan cara damai melalui jalan dakwah dan tidak memaksakan ajaran-ajaran Islam pada penduduknya. Hal ini sesuai dengan prinsip dasar Islam yang tidak membenarkan adanya pemaksaan dalam agama (QS 2:256) F. Kepemimpinan Khulafaurrasyidin

Khulafaurrasyidin menurut istilah adalah pemimpin umat dan kepala negara yang telah mendapat petunjuk dari Allah SWT. untuk meneruskan perjuangan Nabi Muhammad saw. Masa pemerintahan khulafaurrasyidin adalah empat khalifah pertama sesudah wafatnya Rasulullah SAW : Abu Bakar Ash-Shidiq (632 634 M) Ia adalah sahabat nabi yang paling setia dan terdepan dalam membela Nabi Muhammad dan para pemeluk Islam. Ia juga orang yang ditunjuk Nabi SAW untuk menemani hijrah ke Yatsrib (Madinah). Ketika Nabi SAW sakit keras, Abu Bakar adalah orang yang ditunjuk untuk menggantikan beliau sebagai imam dalam shalat. Karena hal ini kemudian dianggap sebagai petunjuk agar Abu Bakar nantinya yang akan menggantikan kepemimpinan Islam sesudah Nabi SAW wafat. Umar bin Khattab (634 644 M) Pengangkatan Umar menjadi khalifah adalah berdasarkan surat wasiat yang ditinggalkan oleh Abu Bakar. Ketika Abu Bakar sakit dan merasa ajalnya sudah dekat, ia bermusyawarah dengan para pemuka sahabat, kemudian mengangkat Umar ibn Khatthab sebagai penggantinya dengan maksud untuk mencegah kemungkinan terjadinya perselisihan dan perpecahan di kalangan umat Islam. Kebijaksanaan Abu Bakar tersebut ternyata diterima masyarakat yang segera secara beramai- ramai membaiat Umar. Umar menyebut dirinya Khalifah Rasulillah (pengganti dari Rasulullah). Ia juga memperkenalkan istilah Amir al-Mu'minin (petinggi orangorang yang beriman). Utsman bin Affan (644 655 M) Pengangkatan Utsman tidak seperti pengangkatan khalifah sebelumnya,Ustman diangkat menjadi khalifah setelah diadakan musyawarah oleh para sahabat yang ditunjuk oleh Umar melalui surat wasiatnya. Hal tersebut dilakukan setelah Uhtmar bin Khattab tidak dapat memutuskan bagaimana cara terbaik menentukan khalifah penggantinya. Segera setelah peristiwa penikaman dirinya oleh Fairuz, seorang majusi persia, Umar mempertimbangkan untuk tidak memilih pengganti sebagaimana dilakukan Rasulullah. Umar menunjuk enam orang Sahabat sebagai Dewan Formatur yang bertugas memilih Khalifah baru. Keenam Orang itu adalah Abdurrahman bin Auf, Saad bin Abu Waqash, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi tholib.

Ali bin Abi Thalib (655 661 M) Setelah Utsman wafat, masyarakat beramai-ramai membaiat Ali ibn Abi Thalib sebagai khalifah. Namun demikian, kemudian timbullah persoalan ketika Ali mulai mengeluarkan kebijakasanaan baru sebagai khalifah. Ali menon-aktifkan para gubernur yang diangkat oleh Utsman. Dia yakin bahwa pemberontakan-pemberontakan terjadi karena keteledoran mereka. Dia juga menarik kembali tanah yang dihadiahkan Utsman kepada penduduk dengan menyerahkan hasil pendapatannya kepada negara, dan memakai kembali sistem distribusi pajak tahunan di antara orang-orang Islam sebagaimana pernah diterapkan Umar. 3.2 Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia A. Masyarakat Nusantara Pra-Islam

Sebelum Islam masuk ke Indonesia, telah ada kerajaan-kerajaan yang memerintah diantaranya adalah kerajaan Sriwijaya yang berpusat di Palembang, Jambi, Riau dan sekitarnya. Lalu di Jawa ada kerajaan Tarumanegara, kerajaan Kalingga, kerajaan Majapahit, kerajaan Kediri dan kerajaan Singasari. Kehidupan masyarakatnya sendiri pada zaman kerajaan Hindu-Budha sudah terlihat maju baik dari segi pemerintahannya, juga dari segi toleransi beragamanya. Khususnya pada zaman kerajaan Majapahit, hal ini dibuktikan dengan dibentuknya badan-badan yang mengurus keagamaan Hindu dan Budha. Selain itu, walaupun berbeda agama, Hayam Wuruk yg beragama Hindu, dapat bekerja sama dengan baik dengan Gajah Mada yang beragama Budha. Perbedaan agama tidak menghalangi kerjasama diantara keduanya. Gambaran toleransi kehidupan beragama di kerajaan Majapahit ini digambarkan dalam kitab sutasoma karya Empu Tantular. Keadaan sosial ekonomi rakyat pun juga cukup baik. Sistem pertanian sangat maju dengan pengairan yang teratur dan pengolahan yang baik. Mereka juga memiliki bandar dagang yang besar. Namun, kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu-Budha ini mulai runtuh ketika raja yang mengantarkan kerajaan tersebut pada masa keemasan wafat dan tidak ada tokoh lain yang cakap dan berwibawa untuk menggantikannya. Hal lain juga karena adanya perang-perang yang terjadi yang melemahkan sistem pemerintahan kerajaan tersebut. Sebab lain yang menyebabkan keruntuhan kerajaan Pra-Islam baik Hindu maupun Budha adalah karena

masuknya ajaran Islam secara damai dan dengan ajarannya yang logis mudah diterima masyarakat. Pada masa-masa kerajaan Hindu-Budha ini, peninggalan-peninggalan yang masih bisa dilihat dan dirasakan sampai sekarang adalah adanya agama Hindu dan Budha itu sendiri. Diketahui bahwa agama hindu-Budha diperkirakan telah memasuki Indonesia sejak abad ke-2 sampai 5 Masehi dan mulai berkembang pesat sejak abad ke-7 Masehi. Juga candi-candi, stupa, arca dan wihara. B. Proses Masuknya Islam Diduga Islam pertama kali diperkenalkan oleh para musafir dan pedagang muslim yang berasal dari Arab, Persia dan India. Agama islam ini masuk ke Nusantara secara bertahap dan berkesinambungan sehingga menyebar ke Sumatra, Jawa, kalimantan, Sulawesi dan tempattempat lainnya. Nilai-nilai ajaran Islam disampaikan diantaranya melalui perdagangan, perkawinan, pendidikan dan kesenian. a. Islamisasi Melalui Kegiatan Perdagangan

Para pedagang dari Gujarta, Arab, dan Persia yang datang ke Nusantara berdagang sambil berupaya mengambil simpati dari masyarakat setempat. Mereka mendekati orang-orang yang berperan penting dalam dunia perdagangan dan para penduduk. Melalui upaya itu, transaksi dapat berjalan lancar dan sedikit demi sedikit memperkenalkan Islam kepada mereka.

b.

Islamisasi Melalui Perkawinan

Mereka orang-orang yang mampu dalam perekonomiannya, mengawini anak-anak bangsawan pribumi. Dengan begitu agama Islam berkembang di lingkungan mereka. Ketka Raja atau para bangsawan memeluk Islam, penduduk setempat pun banyak yang mengikutinya.

c.

Islamisasi Melalui Pendidikan

Para muballigh menyelenggarakan pesnatren-pesantren untuk membentuk orang-orang yang kelak berpotensi menjadi ulama. Kemudian orang tersebut akan menyebarkan agama Islam ke pelosok-pelosok melalui kegiatan dakwah dan pengajian.

d.

Islamisasi Melalui Kesenian

Melalui seni, contohnya seni pahat, seni ukir, tari dan wayang, dakwah Islam dilakukan. Dengan begitu, masyarakat akan tertarik untuk mempelajari agama Islam. Contohnya adalah Sunan Kalijaga yang berdakwah melalui pertunjukkan wayang dengan memasukkan unsur Islam kedalamnya. Mulai abad ke-3 H, kerajaan-kerajaan Islam mulai bermunculan diantaranya kerajaan Samudra Pasai di Aceh sebagai kerajaan Islam pertama di Indonesia. Semakin kesini, kerajaan Islam semakin bermunculan yakni pada abad ke 13 samapi ke 17. Kerajaan-kerajaan tersebut adalah kerajaan Demak, Ternate, Gowa dan juga kerajaan Tallo. Sama seperti kerajaankerajaan Hindu-Budha, Kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia juga memiliki masa kejayaannya masing-masing. Dan sama seperti kerajaan Hindu-Budha, pada akhirnya kerajaan-kerajaan Islam tersebut mengalami keruntuhan dengan berbagai penyebab seperti karena banyak daerah yang melepaskan diri atau karena penguasa kerajaan yang kurang cakap. Di Nusantara sendiri, khususnya di wilayah Pulau Jawa ada kelompok yang sangat berperan penting bagi perkembangan Islam yaitu wali songo atau 9 wali. Para wali ini banyak yang bertugas sebagai penasihat atau pembantu sultan karena selain memegang peranan penting di bidang keagamaan, mereka juga berperan di bidang pemerintahan. C. Masuknya Islam di Indonesia Ada 3 teori yang menjelaskan tentang proses masuknya Islam ke Indonesia: 1. Teori Gujarat, teori ini dipelopori oleh Snouck Hurgronje, menyatakan bahwa

agama Islam masuk ke nusantara pada abad ke-13 Masehi yang dibawa oleh para pedagang dari Kambay (Gujarat), India 2. Teori Persia, teori ini dipelorpori oleh P. A. Husein Hidayat, menyatakan bahwa

agama Islam dibawa oleh para pedagang dari Persia (sekarang Iran) karena adanya beberapa kesamaan antara masyarakat Islam Indonesia dengan Persia 3. Teori Mekkah, teori ini menyanggah bahwa Islam baru masuk ke Indonesia abad

ke-13 Masehi. Teori ini mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia langsung dari Mekkah, sebagai pusat agama islam sejak abad ke-7 Masehi, Teori ini didasari oleh berita yang menyatakan bahwa pada abad ke-7 sudah terdapat sebuah perkampungan muslim di pantai barat Sumatera.

Proses masuknya Islam ke Indonesia dilakukan secara damai dan baik-baik. Adapun caracara yang dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Melalui cara perdagangan. Indonesia dilalui oleh jalur perdagangan laut yang

menghubungkan antara Cina dan daerah lain di Asia. Letak Indonesia yang sangat strategis ini membuat lalu lintas perdagangan di Indonesia sangat padat karena dilalui oleh para pedagang dari seluruh dunia, termasuk pedagang muslim. Pada perkembangan selanjutnya, para pedagang muslim ini banyak yang tinggal dan mendirikan perkampungan islam di nusantara. 2. Melalui perkawinan. Bagi masyarakat pribumi, para pedagang muslim dianggap

sebagai kalangan terpandang. Hal ini menyebabkan banyak penguasa pribumi untuk menikahkan anak gadis mereka dengan para pedagang ini. Sebelum menikah, sang gadis akan menjadi muslim terlebih dahulu. 3. Melalui pendidikan. Pendidikan dilakukan di pesantren/pomdok yang dibimbing

oleh ulama atau kyai. Para santri yang sudah lulus akan pulang ke kampong halamannya dan mendakwahkan Islam di kampong halamannya masing-masing

D. PERKEMBANGAN ISLAM DI NUSANTARA Beberapa hal yang menyebabkan agama Islam terus berkembang pesat di Indonesia diantaranya sebagai berikut: 1. Adanya perkawinan antara pedagang Arab, Persia, dan Gujarat dengan para

penduduk Indonesia 2. Adanya sistem pendidikan pondok pesantren yang memungkinkan masyarakat

Indonesia untuk lebih mudah menuntut ilmu tentang Islam 3. Kerja keras dan perjuangan yang gigih para ulama dan mubaligh dalam

menyebarluaskan Islam di Indonesia 4. Metode penyampaian mengena di hati masyarakat karena proses islamisasi

disesuaikan dengan latar kebudayaan yang dimiliki Indonesia 5. 6. Ajaran Islam sederhana dan mudah dimengerti Syarat masuk Islam mudah, yaitu hanya dengan membaca kalimat syahadat

7.

Di dalam agama Islam tidak mengenal sistem kasta, sehingga tidak ada perbedaan

antara satu dengan yang lain E. PERKEMBANGAN ISLAM DI JAWA Pada awal abad ke 7 masehi, telah ada utusan raja arab untuk datang ke tanah jawa dengan maksud memperluas ajaran agama islam melalui perdagangan serta berziarah ke ekrajaan kaliangga. Maka ahun kunjungan itu disebut Ta Ceh.dan penyebaran islam di pulau jawa tak luput dari peran wali songo. 1. Maulana maik ibrahim

Maulana malik ibrsahim merupakan bangsa arab keturunan Rasulullah SAW yang diutus untuk menyebarkan islam di pulau jawa. Ia mengajarakna islam kepada murid-muridnya di daerah Gresik, jawa timur. Ia pun wafat di gresik pada 12 rabiul awal 882 Hijriah ( 9 april 1419 ). Sampai sekarang malana malik ibrahim dikenal sebagai sunan gresik

2.

Raden Rahmat ( sunan ampel )

Ia merupakan putra dari putri campa dan ayahnya seorang penyair islam dari tanah arab. Kakak dari ibu raden rahmat ialah darawati yang diperistrikan oleh angkawijaya raja majapahit. Campa sendiri merupakan nama kerjaan di ach, raden rahmat dikirim neneknya ke pulau jawa dan singgah di palembang selama 2 bulan, lalu ia menikah dengan putri bupati tuban dan memiliki anak bernama makhdum ibrahim atau sunan bonang.

3.

Makhdum ibrahim atau sunan bonang

Ia merupakan putra dari sunan ampel dan sepupu dari sunan kalijaga. Dia berdakwah dengan cara unik yaitu musik gamelan berupa gending. Ia berdakwah di daerah tuban. Ia berhasil menyusutkan kepercayaan hindu di daerah tersebut yang leah lama tumbuh. Dan hasilnya salah satu murid dari sunan bonang ialah raja kerajaan demak yaitu raden fatah.

4.

Sunan giri

Sunan giri ini memiliki nama asli yaitu raden paku, putra dari maulana ishak. Ia mendirikan pesantren yang santrinya kebanyakan dari golongan ekonomi rendah. Santri dari

sunan giri inibanyak disebar ke beragai daerah di pulau jawa. Sunan giri wafat di gresik pada tahun 1506.

5.

Sunan drajat

Sunan drajat merupakan putra dari sunan ampel. Memiliki cara dakwah dengan bergotong royong dan menyantuni fakir miskin. Ia menciptakan tembang jawa untuk mempererat tali silaturahmi masyarakat jawa. Dan sampai sekarangpun masyarakat jawa masih menyukai tembang jawa ini. Sunan drajat lahir di di ampel dan wafat di gresik.

6.

Sunan kalijaga

Nama suna kalijaga berasal dari bahasa arab qadi zaka yang berarti membersihkan atau yang enegakkan kebersihan dan kesucian. Nama aslinya yaitu raden mas syahid putra dari bupati tuban, raden sahur tumenggung wilwatikta. Cara sunan kalijaga dalam berdakwah yaitu dengan gamelan dan wayang jawa. Ia juga menciptakan berbagai cerita wayang seperti wayang purwa, wayang kulit yang diapadu dengankisah-kisah yang bernafaskan islami. 7. Sunan kudus

Nama asli dari sunan kudus yaitu jafar sadiq yang memiliki keahlian dalam ilmu fiqih, hadits, tafsir, serta logika, ia berdakwah di sekitar kudus. Karena ilmunya yang kuat maka sunan kudus mendapat julukan waliyul ilmi atau orang yang kuat ilmunya. Dalam dakwah sunan kudus menggunakan pendekatan kultural dengan menciptakan cerita agama dan gending seperti gending gensing maksumambang dan mijil

8.

Sunan muria

Dalam dakwahnya sunan muria bergaul dengan para petani, pedagang, nelayan di daerah gunung muria. Sunan muria merupakan putra dari sunan kalijagadenga nama asli raden umar said. 9. Sunan gunung jati

Sunan gunung jati berdakwah di daerah cirebon, majalengka, kuningan, sunda kelapa, kawali. Ia merupakan cucu dari raja pajajaran, prabu siliwangi, ia lahir di mekkah 1448 M. Ia dikenal sebagai sunan gunung jati karena wafat di daerah gunung jati, cirebon Kesembilan sunan itu disingkat dengan nama ngabodrat mukaku gumagi ( nga- bo drat mu ka ku gu ma- gi ) yang merupakan singkatan dari nama2 beliau. Selain walisongo, islam tersiar di pulau jawa melalui kerajaan islam yang ada di jawa seperti kerajaan demak, kerajaan mataram dan kesultanan panjang dan kita sebagai penerus agama yang diridhoi Allah ini sudah seharusnya menjaga dan mensyiarkan agama ini ke seluruh penjuru dunia. Awal Perkembangan Islam dan Lahirnya Organisasi-Organisasi Islam Perkembangan Islam di Indonesia bisa dibilang sebagai sebuah bagian dari sejarah panjang Indonesia yang paling signifikan. Dikabarkan bahwa jauh sebelum Islam diterima oleh masyarakat lokal di Nusantara, para pedagang Muslim telah hadir di wilayah Nusantara. Namun, kapan tepatnya, dan bagaimana Islam masuk ke Indonesia telah menjadi perdebatan di kalangan para cendekiawan. Ada dua penyebab umum tentang bagaimana Islam masuk ke Indonesia; masyarakat asli Indonesia berhubungan dengan Islam dan kemudian masuk Islam dan/atau pendatang dari luar (Arab, Cina, India dan lain-lain) yang memang telah beragama Islam kemudian tinggal di wilayah Nusantara, lalu menikah, atau dengan mengadopsi cara hidup orang Indonesia dan kemudian menjadi orang Jawa, orang Melayu dan sebagainya. Namun berdasarkan kesimpulan yang diambil dalam seminar Masuknya Islam di Indonesia yang berlangsung pada tanggal 17 s.d. 20 Maret 1963 di Medan, Islam pertama kali masuk ke wilayah Indonesia semenjak abad ke-7 Masehi atau abad pertama Tahun Hijriah. Meskipun Islam telah menyentuh pada masa itu Islam baru mulai menyeluruh Nusantara pada abad ke-13 Masehi dan sudah menyebar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Nusa Tenggara, Sulawesi dll. Semenjak itu masyarakat Muslim dari berbagai wilayah di Nusantara ikut serta secara aktif dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia serta melawan penjajah. Cara yang

dilakukan mulai dari mengangkat senjata sampai tergabung dalam organisasi organisasi Islam maupun partai politik. Pada abad 16 sampai abad 20, umat Islam menghadapi tantangan para penjajah dan mengadakan perlawanan bagi fase penjajahan. Contohnya ketika fase persaingan dagang. Kala itu Kerajaan Islam di Demak melawan Portugis di Malaka (1512). Selain itu Sultan Khairuddin dan Sultan Babullah yang melawan Portugis di Ternate. Lalu Aceh melawan Portugis di Malaka, dan Sultan Hasanuddin dari Gowa dan Tallo yang melawan VOC. Kemudian ketika fase penetrasi dan agresi. Sultan Agung (Mataram) menyerang Batavia pada 1627 dan 1629; Sultan Ageng Tirtayasa bersama Syekh Yusuf dari Mataram yang melawan penetrasi VOC ke Banten pada 1680; Kesultanan Aceh melawan agresi Hindia Belanda pada 1873 sebagai awal dari perjuangan Aceh yang terus menerus melakukan perlawanan terhadap Belanda. Selanjutnya pada fase perluasan daerah jajahan. Masyarakat melakukan perlawanan pada penjajah seperti ketika Perang Diponegoro dari 1825 sampai 1830. Contoh lain adalah ketika terjadinya Perang Padri di Sumatra Barat. Contoh yang lain adalah ketika fase penindasan. Pada 1886, terjadi Geger Cilegon yaitu sebuah pemberontakan yang dipelopori oleh petani dibawah bimbingan kaum ulama. Peristiwa itu menjadi sebuah contoh dari peran ulama yang sangat besar di berbagai wilayah di Nusantara. Islam selalu mengajarkan umat untuk mencintai tanah airnya sendiri. Hal itu menjadi sebuah pemicu bagi umat untuk melakukan perlawanan terhadap bangsa penjajah serta melahirkan banyak pemimpin pemimpin Muslim besar di Indonesia dan salah satu penyebab dari lahirnya masa Pergerakan Nasional (19001945). Pada 16 Oktober 1905, berdirilah Sarekat Dagang Islam yang dirintis oleh Haji Samanhudi di Surakarta yang kemudian pada tanggal 10 September 1912, Sarekat Dagang Islam berganti nama menjadi Sarekat Islam. Organisasi tersebut pada awalnya bertujuan sebagai wadah para pedagang Muslim dan Pribumi. Kemudian organisasi tersebut tidak hanya bergerak dalam bidang ekonomi namun juga dalam bidang politik.

Sarekat Islam dipandang sebagai pelopor pergerakan partai Islam yang banyak menanamkan kesadaran politik kebangsaan. Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, umat Islam memberikan berbagai kontribusi penting baik melalui organisasi kemasyarakatan maupun melalui partai politik. Partai partai kebangsaan dan/atau politik lain yang berlandaskan Islam diantaranya; Persatuan Muslimin Indonesia (Permi, 1930), Partai Islam Indonesia (PII), Muhammadiyah (1912), Persatuan Islam (Persis, 1923), Persatuan Umat Islam (PUI, 1925), Nahdlatul Ulama (NU, 1929), Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI, 1937) serta partai politik Masyumi yang seelumnya merupakan Majelis Syuro (1945). Sampai saat ini, umat Islam masih turut mengisi kemerdekaan. Dalam mengisi kemerdekaan, umat Islam bersama pemerintah berusaha membangun Negara di bidang ekonomi, sosial budaya keamanan, dan lain lain. Selain itu umat Islam juga berperan dalam mencerdaskan bangsa melalui lembaga sosial, pendidikan, dan sebagainya. F. Perkembangan Islam di Indonesia pada Masa Pendudukan Jepang Perkembangan islam pada masa pemerintahan Jepang berbeda dengan saat masa pemerintahan Belanda dikarenakan perbedaan kebijakan antara Jepang dan Belanda. Di masa pendudukan Jepang ini, islam dapat lebih berperan dalam kehidupan kenegaraan walaupun tak sedikit pula tekanan dari Jepang. Perkembangan islam ini dapat dilihat dari keterlibatan umat islam di dalam organisasi politik dan militer baik bentukan Indonesia maupun Jepang. Berikut ini adalah kebijakan dari Jepang yang berengaruh terhadap pendidikan islam di Indonesia: 1. Mengubah Kantoor Voor Islamistischen Zaken pada masa Belanda yang dipimpin

oleh kaum orientalis menjadi Sumubi yang dipimpin oleh tokoh islam sendiri, yaitu K.H. Hasyim Asyari 2. 3. Pondok pesantren sering mendapatkan kunjungan dan bantuan pemerintah Jepang. Mengizinkan pembentukan barisan Hizabullah yang mengajarkan latihan dasar

seni kemiliteran bagi pemuda Islam dibawah pimpinan K.H. Zainal Arifin 4. Mengizinkan berdirinya Sekolah Tinggi Islam di Jakarta dibawah asuhan K.H.

Wahid Hasyim, Kahar Muzakkir, dan Bung Hatta. 5. Diizinkannya ulama dan pemimpin nasionalis membentuk barisan pembela tanah

air (PETA) yang menjadi cikal bakal TNI di zaman kemerdekaan.

6.

Diizinkannya Majelis Islam Ala Indonesia (MIAI) terus beroperasi, sekalipun

kemudian dibubarkan dan diganti oleh Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) yang menyertakan dua ormas besar Islam, yaitu Muhammadiyah dan NU.

G. Perkembangan Islam di Indonesia Pada Masa Kini Sejak Indonesia resmi merdeka, Indonesia telah dinobatkan sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, dengan jumlah penganut agama islam sebanyak 220juta orang. Perkembangan islam secara garis besar dapat dilihat dari 5 bidang, yaitu: 1. Islamisasi daerah-daerahnya

Islami sasi di daerah-daerah Indonesia mulai dilakukan sejak abad ke-11 dan sejak itu islamisasi di Indonesia berkembang dengan pesat.

2.

Politik umat islam pada masa mengisi kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka, Indonesia menganut sistem demokrasi sehingga saat ini banyak sekali partai-partai yang ada, diantaranya terdapat beberapa partai Islam. 3. Peran pemerintah dalam perkembangan islam

Kebijakan pemerintah yang berperan penting dalam pembinaan kehidupan beragama, antara lain: 4. Mendirikan Departemen Agama pada 3 Januari 1945 Menetapkan UU No. 1 tahun 1974 tentang undang-undang perkawinan Menyelenggarakan pengurusan Ibadah haji dari tanah air Membentuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) Melembagakan Musabaqah Tilawatil Quran Mendirikan dan meresmikan masijd istiqlal sebagai masjid yang sepenuhnya

dibiayai oleh negara Membentuk badan Amil Zakat Ikut membina kerukanan hidup umat beragama Membentuk Yuridis Formal sebagai hukum islam Pendidikan dan kebudayaan

Sistem madrasah merupakan usaha pembaruan sistem pendidikan islam tanpa menghilangkan sistem pesantren. Sejak tahun 1940 pun lembaga pendidikan tinggi islam di Indonesia mulai didirikan dan berkembang dengan cukup pesat. Dalam bidang kebudayaan, islam mempunyai peran penting, antara lain: 5. Bangunan masjid yang berpengaruh besar terhadap kehidupan penduduk. Terselenggaranya perayaan hari-hari besar Islam Berkembangnya seni islam seperti kaligrafi dan seni baca Al-Quran Bahasan Indonesia yang merupakan serapan dari bahasa Arab. Pemikiran dan Pembaharuan.

Pembaharuan pemikiran islam menggema di Indonesia sejak awal abad 20 melalui berbagai media. Tokoh-tokoh yang berperan penting dalam pembaharuan ini adalah K.H. Ahmad Dahlan, Syekh Ahmad Sorkati, Dr. H. Abdul Karim Amarullah, K.H. Hasim Asari, dan lain-lain. Pembaruan pemikiran islam masih terus akan berkembang dan memunculkan tokoh-tokoh lainnya dari berbagai kalangan.

H. Islamisasi dan Peran Pemerintah dalam Perkembangan Islam di Indonesia


Islamisasi di Indonesia

Sebelum ajaran Islam sampai di Indonesia, pada awalnya, sebagian besar penduduk Indonesia menganut agama Hindu dan Budha. Ajaran-ajaran agama tersebut dibawa oleh para pedagang dari China dan India yang singgah di Indonesia dalam perjalanan mereka berdagang melewati Samudera Pasifik dan Hindia. Sama halnya dengan datangnya ajaran Hindu dan Budha di Indonesia, proses masuknya Islam di Nusantara juga melalui perantara pedagang, terutama yang berasal dari Gujarat dan Arab. Ajaran Islam ternyata sangat diterima dengan baik oleh mayoritas penduduk Indonesia pada saat itu. Hal ini dikarenakan ajaran Islam masuk ke Indonesia secara damai dan tanpa ada pergolakan apapun. Islam mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai kebaikan yang sebelumnya tidak ada pada penduduk Indonesia. Dengan cara demikian banyak penduduk yang simpati dan menaruh perhatian yang lebih terhadap agama Islam. Banyak sekali bentuk Islamisasi yang terjadi di Indonesia. Diantaranya yaitu : i) Melalui Perdagangan

Kesibukan lalu lintas perdagangan abad ke-7 M hingga ke-16 M, serta letak Indonesia yang strategis dalam jalur perdagangan menjadikan para pedagang muslim ikut berpartisipasi didalamnya. Penyebaran Islam melalui jalur perdagangan ini sangat menguntungkan, karena para raja dan bangsawan turut ambil bagian dalam proses ini. Mereka berhasil mendirikan masjid-masjid dan mendatangkan para pemuka agama dari negerinya sehingga jumlahnya semakin bertambah banyak.

ii)

Melalui Pernikahan

Secara ekonomi status sosial para pedagang muslim lebih tinggi dibanding penduduk pribumi. Sehingga puteri-puteri pribumi tertarik untuk menjadi istri saudagar muslim tersebut. Sebelum dinikahkan, tentunya mereka harus masuk Islam terlebih dahulu. Dengan pernikahan ini keturunan semakin banyak dan lingkungan semakin luas. Jalur pernikahan lebih menguntungkan ketika anak saudagar muslim menikah dengan anak bangsawan atau anak raja. Sebagaimana yang terjadi antara Sunan Ampel dengan Nyai Manila. iii) Melalui Tasawuf

Tasawuf mengajarkan akan kelembutan budi. Mereka mengajarkan ilmu tasawuf yang digabungkan dengan budaya yang sudah ada. Ajaran tasawuf yang dikembangkan berupa memanfaatkan kekuatan magis dan memiliki kemampuan menyembuhkan orang lain. Tentunya atas izin Allah swt. iv) Melalui Pendidikan

Jalur ini dengan cara mendirikan pondok pesantren. Para penduduk pribumi dididik oleh para ulama dengan pendidikan yang kuat dan diberi bekal segala ilmu agama. S etelah dirasa cukup, mereka disuruh kembali ke daerahnya dan diharuskan menyebarkan ilmu yang telah didapatkan dipesantren. v) Melalui Kesenian

Yang paling terkenal adalah seni pertunjukan wayang. Dimana semua tokoh-tokoh Hindu dalam pewayangan diganti namanya dengan istilah Islam. Hal ini yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Selain itu juga bisa melalui seni kaligrafi, seni ukir dan seni bangunan.

vi)

Melalui Politik

Saluran ini dengan cara mengislamkan rajanya terlebih dahulu. Kemudian baru rakyatnya mau memeluk agama Islam. Karena sabda raja adalah sabda Tuhan. I. Peran Pemerintah dalam Perkembangan Islam di Indonesia Dalam perkembangan Islam di Nusantara tentu tidak luput dari peran sentral pemerintah sebagai pemegang kebijakan di negeri ini. Salah satu peranannya adalah pendirian MUI (Majelis Ulama Indonesia). Secara historis, pendirian MUI ini merupakan momentum yang sangat tepat, dikarenakan pada saat itu Indonesia berada pada fase kebangkitan kembali setelah tiga puluh tahun merdeka dan energi para pemuda telah terkuras untuk perjuangan politik. Oleh sebab itu, permasalahan rohani umat menjadi tidak terpikirkan. Pada saat itulah MUI hadir untuk membenahi akhlak dan moralitas bangsa yang sudah memprihatinkan. Pada bidang hukum, pemerintah dalam hal ini telah membentuk UU tentang perkawinan yang di dalamnya diatur segala sesuatu tentang perkawinan baik tentang syarat-syarat perkawinan, perceraian dan sebagainya yang dilihat dari sudut pandang syariat Islam. Pemerintah juga telah membentuk pengadilan agama dan Kantor Urusan Agama untuk melayani kebutuhan masyarakat Indonesia berdasarkan Syariat Islam dan perundang-undangan yang berlaku. Karena pada dasarnya pelanggaran hukum Islam tidak bisa diselesaikan dengan hukum yang konvensional. Kemudian dalam hal Fastabiqul Khairat, pemerintah telah mendirikan sebuah ajang tingkat nasional Musabaqah Tilawatil Al-Quran.MTQ Nasional ini merupaka agenda rutin setiap tahun dimana masing-masing provinsi mengirimkan perwakilan terbaik mereka. Dalam kegiatan tersebut, persaudaraan adalah juga merupakan poin utama. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia, pemerintah Indonesia juga mewadahi sarana untuk peribadatan penduduk muslim. Diantaranya yaitu dalam hal mengurus ibadah haji setiap tahunnya dan mengadakan Badan Amil Zakat Infaq dan Shadaqah (BAZIS). J. Islam Dalam Bidang Pendidikan dan Kebudayaan Di indonesia islam memiliki peranan sangat penting dalam hal kebudayaan dan

pendidikan. Sejak islamisasi baik pesantren maupun surau memiliki pengaruh besar terutama sebagai benteng islam . di mulai dari tempat pusat menuntut ilmu sampai tempat diskusi atau perencanaan politik islam untuk dakwah islam yang lebih meluas. Bahkan sampai detik ini pun

di beberapa daerah fungsi surau sebagai benteng utama pendidikan masih dapat di temukan secara terbuka. Namun kemudian saat ini perkembangan sistem pendidikan berbasis islam telah berkembang seperti madrasah , tsanawiyah , madrasah aliyah , ataupun boarding school berbasis islam yang di bangun oleh pemerintah tanpa menghilangkan sistem pesantren. Di samping itu pelajaran agama islam telah menjadi mata pelajaran pokok di sekolah sekolah baik negeri maupun swasta, bahkan di universitas pun ada contohnya di universitas indonesia. Betapa pentingnnya dalam sendi kehidupan pendidikan islam itu.Kemudian saat ini telah berdiri pula lembaga pendidikan tinggi islam di seluruh indonesia contohnya IAIN , UIN syarif Hidayatullah dll yang di kelola oleh negara dan swasta. Namun saat ini mutu pendidikan islam secara umum masih tertinggal di banding mutu pendidikan secara umum. Karena pelaksanaan pendidikan islam yang di laksanakan oleh lembaga pendidikan islam yang ada masih kurang terencana dan terkonsep. Banyak faktornya baik dari penuntut ilmu , pemberi ilmu , sarana maupun biaya dan lingkungan. Evaluasipun kurang terumuskan secara matang. Namun disisi lain ilmu pendidikan islam memiliki kaitan erat dengan berbagai disiplin ilmu baik itu filsafat , iptek, budaya, seni , sosiologi dll. Namun saat ini telah berkembang pendekatan multidisiplioner dalam berbagai bidang tersebut. Dengan begitu saat ini berkembang pula pendidikan islam yang utuh dan terintegrasi . Selain menyinggung bidang pendidikan , dalam kebudayaan agama islam juga memiliki peranan dalam kebudayaan indonesia. Kebudayaan yang di definisikan sebagai tata nilai aturan dan norma hukum serta pola pikir dan sebagainya itu adalah hasil akumulasi berbagai nilai yang menjadi satu membentuk kebudayaan. Dan seperti yang masing masing kita ketahui begitu banyaknya kebudayaan indonesia alias begitu beragamnya kebudayaan indonesia . namun terdapat susupan keislaman di dalamnya dari sebaian besar nilai nilai yang terkandung dalam kebudayaan indonesia. Pertama kebudayaan yang lebih condong ke perilaku dan sikap seseorang contoh kentalnya adalah budaya mendahulukan tangan kanan ketika berinteraksi dengan seseorang. Di Indonesia seseorang yang menerima dengan tangan kiri dianggap kurang baik atau kurang sopan , ini merupakan salah satu contoh budaya islam yang masih melebur kuat sampai kini

dalam budaya moral indonesia. Contoh lain adalah menghormati yang tua dengan bersalaman, atau budaya senyum sapa salam. Kedua kebudayaan dalam bidang arsitektur , terlihat gamblang pada bangunan masjid sebagai tempat ibadah yang merupakan pusat agama islam berpengaruh besar pada kehidupan penduduk secara keseluruhan. Ketiga adalah pada perayaan hari-hari besar islam ikut termaktub dalam kalender negara, bahkan di beri label merah untuk memperingatinya. Dari masyarakan tingkat pusat sampai ke kampung kampung seperti maulid nabi, isra miraj , idul fitri , idul adha , 1 muharram dll. Keempat berkembangnya seni seni islam seperti kaligrafi yang saat ini begitu eksis di kalangan masyarakat sangat familiar bahkan di jadikan suatu mata kuliah di universitas indonesia , contoh lainnya adalah marawis atau yang saat ini modern dan sangat eksis terdengar di kalangan masyarakat adalah nasyid. Bahkan nasyid tingkat international pun ada dan di minati oleh masyarakat. Ada lagi seni membaca al-quran atau yang sering di sebut MTQ yang saat ini sampai tingkat nasional pun ada perlombaannya . Kelima adalah dari segi bahasa indonesia sendiri , menyerap sebagian besar bahasa alquran atau bahasa arab, sehingga bahasa arab itu terabadikan di bahasa indonesia, seperti : kursi majelis , musyawarah , adil ,makmur , masjid , kitab , madrasah , ilmu , safari , pesiar, dll. Masih banyak lagi sebenarnya , bahkan karena begitu kentalnya budaya islam di salah satu kota di indonesia yaitu aceh , sampai peraturan daerahnya menerapkan peraturan berbasis islami. Pembaharuan Pemikiran Islam Pembaharuan pemikiran islam menggema atau menyebar keseluruh indonesia pada permulaan abad ke-20 baik melalui media cetak seperti majalah , buku-buku, organisasi , maupun ulama ulama yang belajar di Negara Arab. Di antara gerakan pembaru yang mempunyai pengaruh besar di abad 20 adalah yang tersebet sebagai berikut ini KH. Ahmad Dahlan , syekh Ahmad sorkati , Dr. H. Abdul karim Amrullah , KH Hasyim As ari dll. Pembaharuan pemikiran Islam, sebagai tema yang tak lekang, selama kehidupan Muslim, sebagian besar masih di bawah rata-rata masyarakat modern. Bahasa singkatnya, Ummat Nabi Muhammad SAW, kehidupannya masih terpuruk. Di Indonesia, Nurcholish Madjid di tahun

1970-an, telah menjadi salah satu tokoh pembaharu dalam pemikiran Islam. Di era yang hampir sama, tokoh lain yang muncul ketika itu diantaranya Harun Nasution dan Kuntowijoyo. Namun, Nurcholish lah yang banyak mendapat serangan. Mulai dianggap sebagai gerakan pemikiran pinggiran hingga muncul anggapan sebagai kelompok penyimpang. Apa yang fundamental dalam pembaruan pemikiran adalah pembaruan makna-makna, atau pengungkapan kembali ajaran Islam dengan makna-makna baru Sampai sekarang pemikiran islam dalam pembaharuan terus berkembang di indonesia dengan memunculkan tokoh tokohnya di pemerintahan , cendikiawan , dan lembaga lembaga keaagamaan swasta. Seperti telah berdirinya Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia ( ICMI) suatu wadah yang menghimpun cendikiawaan muslim di Indonesia . Dengan berbagai kekusutan masalah di negara indonesia ini terutama secara moral begitu berat rasanya. Namun kehadiran agama islam ini lah yang akan mendasari segalanya yang akan membuka jalan keluar untuk menunjukkan jalan untuk keluar dari segala permasalahan yang ada . dengan perkembangan pemikiran islam inilah yang akan menjadi salah satu caranya. Karena tiap zaman masalah yang ada berbeda maka pemikiran islam yang ada juga harus berkembang. Karena seperti yang kita rasakan permasalahan makin kompleks . seiring perkembangan teknologi , ilmu pengetahuan , fashion , dan sebagainya. Jika para pemikir islam masih menggunakan metode lama tentu tidak akan sesuai. Karena mungkin akan kurang ampuh untuk mengatur pola tingkah manusia yang makin berkembang terutama dalam hal ilmu pengetahuan. Ketika seseorang menemukan suatu pemikiran lama islam yang kurang sesuai bukan berarti , pemikiran itu tidak berlaku lagi. Namun makna makna keislaman ini yang cukup di kaji ulang . baik dalam bidang pendidikan , maupun politik yang saat ini cukup terlihat gamblang di depan mata kita. Pembaharuan dalam pemikiran islam inilah yang akan menjaga eksistensi islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin . mencakup segala bidang tanpa menyalahi bidang yang di maknai.

DAFTAR PUSTAKA HD, Kaelany. 2008. Islam Agama Universal. Jakarta: Midada Rahma Press. Ricklefs, M.C. 2001. A History of Modern Indonesia since c.1200, 3rd Edition. London: Macmillan Nata Abuddin . 2009. Ilmu Pendidikan Islam dengan Pendekatan

Multidisiplioner.Jakarta : Rajawali Press. Kurnia, Anwar, 2011, Sejarah 1, Yudhistira Imani, Allamah Kamal Faqih.2003. Tafsir Nurul Quran Jilid 1, Jakarta : Penerbit AlHuda. Tim Pendidikan Dep. Agama FISIP UT. 2004. Pendidikan Agama Islam, Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. Din, Haron. 1990. Manusia dan Islam Jilid 1, Kuala Lumpur : Dewan Bahasa dan Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia. Gymnastiar, Abdullah. 2002. Menjadi Muslim Prestatif. Bandung : MQS Pustakan Grafika Husein, Jahidin. 2010.Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Dongpong Karya. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern, (cetakan ke 1), Jakarta : Pustaka Amami.