Anda di halaman 1dari 12

DISAMPAIKAN PADA DARUL ARQOM DASAR IMM KOMISARIAT CARDIOVASCULAR FAKULTAS ILMU KESEHATAN

IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH CABANG MALANG 2009


I. Musyawarah

Musyawarah berasal dari kata syawara-yusyawiru yang berarti saling memberi dan meminta nasihat atau saran. Dari kata kerja itu juga muncul arti mengambil madu dari sarang lebah. Dengan demikian, esensi musyawarah adalah proses pengambilan keputusan yang terbaik tentang suatu masalah. Musyawarah sangat dibutuhkan ketika menghadapi masalah rumit. Keputusan yang merupakan hasil musyawarah akan memberikan keuntungan bagi banyak pihak karena telah melewati proses tukar pendapat dan saran antarperserta musyawarah. Musyawarah hendaknya dijadikan kebiasaan sebelum menetapkan keputusan. Hal ini agar setiap keputusan tidak berakhir dengan penyesalan dan semaksimal mungkin dapat memenuhi keinginan orang banyak. Musyawarah/permusyawaratan untuk mufakat pada dasarnya merupakan kesepahaman atau kata sepakat antara pihak-pihak yang berbeda pendapat sehingga dapat dihindari pemungutan suara dan diharapkan kedua belah pihak yang berbeda pendapat dapat tidak bertikai dan mendapat jalan tengah. Dalam bermusyawarah, setiap orang harus menjunjung etika, menghargai pendapat orang lain, mengakui kelemahan diri sendiri, dan mengakui kelebihan orang lain. Orang yang bermusyawarah harus mampu menahan diri dari sikap ingin menang sendiri. Pertukaran pendapat dan argumentasi dalam musyawarah hanya dimaksudkan untuk meraih kebaikan. Karenanya, tidak ada kelompok yang kalah atau menang. Kemenangan adalah ketika keputusan terbaik telah dihasilkan oleh musyawarah. Di sinilah pentingnya pemahaman setiap peserta terhadap fungsi dan esensi musyawarah yang lebih mengedepankan sikap saling pengertian daripada perdebatan yang berkepanjangan. Hal ini sesuai dengan firman Allah Surat Ali Imron ayat 159 :

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu Telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepadaNya.(Q.S. Ali Imron : 159 )

Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapanglapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(Q.S. Al Mujaadilah : 11) II. Permusyawaratan dalam Organisasi IMM Sebagai Organisasi

Otonom Muhammadiyah Sebagaimana organisasi pada umumnya, Persyarikatan Muhammadiyah beserta ortomnya memiliki mekanisme dalam bermusyawarah untuk menyelesaikan suatu permasalahan tertentu. Tentu saja halini disesuaikan dengan anatomi konstitusi yang telah disepakati dalam organisasi muhammadiyah. Dalam urusan permusyawaratan ini telah dengan jelas diterangkan dalam Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah atau IMM. Pada dasarnya permusyawaratan pada organisasi IMM sesuai dengan ART BAB VI tentang Permusyawaratan, ada 3 macam: Muktamar Acara Pokok Muktamar : a. Laporan Dewan Pimpinan Pusat tentang : 1). Kebijaksanaan Pimpinan Pusat. 2). Organisasi. 3) Keuangan. 4) Pelaksanaan keputusan Muktamar /Tanwir. b. Penyusunan program IMM periode berikutnya. c. Pemilihan Dewan Pimpinan Pusat. d. Masalah-masalah umum IMM yang bersifat urgen. e. Rekomendasi. Tanwir Acara Pokok Tanwir : a. Laporan kebijakan Dewan Pimpinan Pusat dalam memimpin dan melaksanakan keputusan Muktamar / Tanwir. b. Masalah-masalah mengenai kepentingan umum organisasi yang tidak dapat ditangguhkan sampai berlangsungnya Muktamar. c. Mempersiapkan tempat dan acara yang akan datang. Muktamar Luar biasa Muktamar Luar Biasa diadakan untuk membicarakan masalah-masalah yang sifatnya di luar wewenang Tanwir dan tidak dapat ditangguhkan sampai berlangsungnya Muktamar.

Sesuai dengan anatomi organisasi keorganisasaian yang disesuaikan dengan tingkatan kepemimpinan, dalam ART IMM-pun di atur agenda dan mekanisme persidangan khususnya pada bab VI tentang permusyawaratan yang disesuaikan dengan kepentingan organisasi. Sebagai contoh agenda permusyawaratan Dewan Pimpinan Daerah sebagai berikut : Acara Pokok Musyawarah Daerah a. Laporan Dewan Pimpinan Daerah tentang : 1. Kebijaksanaan Dewan Pimpinan Daerah. 2. Organisasi 3. Keuangan 4. Pelaksanaan keputusan Muktamar, Tanwir, Musyawarah Daerah serta instruksi dan ketentuan Dewan Pimpinan Pusat. b. Penyusunan Program IMM periode berikutnya. c. Pemilihan Dewan Pimpinan Daerah. d. Masalah-masalah umum IMM bersifat urgen dalam daerah. e. Rekomendasi. III. Persidangan Persidangan adalah forum pertemuan formal organisasi yang jabarkan dalam bentuk rapat atau pertemuan resmi pimpinan organisasi atau pihak yang terkait dalam persidangan tersebut. Seperti halnya musyawarah, esensi dari persidangan adalah mencapai suatu kesepakatan dalam suatu forum yang mengadakan sidang tersebut. Akan tetapi persidangan merupakan tatanan teknis pada suatu musyawarah, sehingga dengan adanya teknis persidangan diharapkan permusyawaratan dapat terstruktur dengan rapi atau dapat teragendakan serta dapat memaksimalkan akomodasi terhadap seluruh peserta permusyawaratan sehingga tercapai tujuan dari suatu permusyawaratan. Adapun komposisi dari teknis persidangan adalah sebagai berikut : 3.1. PESERTA Peserta adalah orang-orang yang berhak mengikuti jalannya sidang, baik karena diundang ataupun karena haknya sebagai anggota organisasi yang melaksanakan sidang, peserta dibagi menjadi dua: a. Utusan atau Perwakilan Peserta sidang yang mempunyai hak suara dan hak bicara selama dalam persidangan, hak bicara peserta diperbolehkan untuk menyampaikan pendapat, ide, maupun keberatan dengan seizin

pimpinan sidang. Dam mempunyai hak untuk memilih bila terjadi voting, serta memilih dan dipilih dalam pemilihan. b. Peninjau Peserta sidang yang hanya mempunyai hak bicara, dalam hal ini termasuk juga para undangan yang menghadiri jalannya sidang, tentunya dengan seizin pimpinan sidang dan tidak mempunyai hak suara, serta hak memilih dan dipilih. 3.2. PIMPINAN SIDANG Pimpinan sidang atau presidium adalah pimpinan peserta yang diberi kepercayaan oleh peserta lain dalam suatu forum persidangan untuk memimpin persidangan. Etika pimpinan sidang adalah berhak untuk memimpin jalannya sidang, berbicara, memobilisasi, bersikap adil, tegas, dan cerdas. 3.3. PERANGKAT PERSIDANGAN a. Tema b. Jumlah Peserta c. Tempat Pelaksana d. Jumlah Sidang e. Agenda Acara
f. Draft Persidangan

g. Draft Berita acara h. Palu Sidang i. Kertas suara


j.

Serta keperluan logisnya

3.4. PEMAKAIAN PALU SIDANG a. Satu kali ketukan Merupakan isyarat untuk memutuskan suatu ketetapan yang merupakan bagian dari keseluruhan dari yang akan diputuskan setelah x 15. terjadi kesepakatan forum. Isyarat ini juga dapat digunakan untuk skorsing sidang dalam waktu kurang dari atau 1

b.

Dua kali ketukan

Merupakan isyarat untuk memutuskan suatu ketetapan yang bersifat menyeluruh, dan digunakan untuk serah terima wewenang dan palu sidang kepada pmpinan sidang yang lain, serta dapat juga digunakan untuk skorsing sidang dalam waktu diatas 1 x 15menit. c. Tiga kali ketukan

Digunakan untuk membuka dan menutup persidangan secara resmi, atau skorsing dalam waktu 1 x 24 jam d. Ketukan lebih dari tiga kali (tanpa batas)

Digunakan untuk meminta perhatian forum atau menenangkan dan menertipkan forum. 3.5. INTERUPSI Intrupsi digunakan oleh peserta sidang sebagai alat untuk

menyampaikan pendapat atau aspirasi kepada forum persidangan dengan seizin pimpinan sidang. Adapun intrupsi yang digunakan adalah :
1.

Interupsi Point of Information (Informasi) Digunakan apabila peserta merasa adanya ketidak tahuan atau untuk meluruskan dan melancarkan persidangan dan memberi penjelasan.

2.

Interupsi Point of Order (Order) Digunakan sebagai usulan atau memberi pendapat yang baru dengan disertai argumen atau penjelasan.

3.

Interupsi Point of Clarification (Klarifikasi) Digunakan untuk memperbaiki kesalah pahaman dalam penafsiran peserta sidang maupun pimpinan sidang.

4.

Interupsi Point of Jastification (Jastifikasi) Digunakan untuk sekala pernyataan sikap ego terhadap suatu pendapat, demi mempertahankan pendapat dan argumennya.

3.6. PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN Dalam mengambil sebuah keputusan ada tiga proses : a. Kesepakatan Bila forum mempunyai pemikiran dan pendapat yang sama dalam membahas suatu hal, tapi jika tidak terjadi kesepakatan maka dilakukan proses lobying.

b. berbeda

Lobying pendapat dan keinginan untuk mencapai suatu

Adalah proses perlindungan, ada dua atau lebih pihak yang kesepakatan, atau disebut juga tawar-menawar, dan apabila tidak terjadi kesepakatan kembali, maka dilakukan proses voting. c. Voting

Adalah proses pengambilan kesepakatan dengan mencari dukungan yang lebih banyak, atau bisa dikatakan proses demokrasi. Secara teknis voting dapat dilakukan dengan 2 cara : i. ii. Terbuka / Aklamasi Tertutup

IV. KESIMPULAN Dalam kehidupan bersosial berkomunikasi untuk menyampaikan suatu pendapat atau informasi yang lainnya merupakan ssuatu yang sangat vital. Dan dalam kebersamaan pula dibutuhkan tidak hanya sekedar perwujudan estetika dan etika dalam penyampaian suatu pendapat untuk kepentingan bersama dan kemufakatan. Akan tetapi, dibutuh suatu mekanisme yang pasti dan tertata serta disesuaikan dengan etika keorganisasian. Sehingga esensi dari permusyawaratan adalah bagaimana dalam penyampaian suatu aspirasi pada suatu kelompok masyarakat atau massa dalam suatu organisasi dapat semaksimal mungkin terakomodasi sehingga pencapaian kemufakatan dapat dilakukan.

Lampiran Anggaran Rumah Tangga IMM (Muktamar XIII - Lampung) .


BAB VI PERMUSYAWARATAN Pasal 18 Muktamar 1. Muktamar diadakan atas undangan Dewan Pimpinan Pusat. 2. Dewan Pimpinan Pusat bertanggung jawab atas pelaksanaan Muktamar. 3. Undangan, acara dan materi Muktamar sedapat mungkin sampai kepada yang bersangkutan sebulan sebelumnya. 4. Muktamar dihadiri oleh : A. Peserta 1) BPH Dewan Pimpinan Pusat. 2) Wakil Dewan Pimpinan Daerah masing-masing 4 (empat) orang. 3) Wakil Pimpinan Cabang masing-masing 2 (dua ) orang. B. Peninjau 1) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pimpinan Organisasi Otonom Muhammadiyah Tingkat Pusat, masing-masing 2 (dua) orang. 2) Mereka yang diundang oleh Dewan Pimpinan Pusat. 5. Setiap peserta Muktamar berhak 1 (satu ) suara. 6. Isi dan susunan acara Muktamar ditetapkan oleh Tanwir. 7. Acara Pokok Muktamar : A. Laporan Dewan Pimpinan Pusat tentang : 1). Kebijaksanaan Pimpinan Pusat. 2). Organisasi. 3) Keuangan. 4) Pelaksanaan keputusan Muktamar /Tanwir. B. Penyusunan program IMM periode berikutnya. C. Pemilihan Dewan Pimpinan Pusat. D. Masalah-masalah umum IMM yang bersifat urgen. E. Rekomendasi. 8. Ketentuan tentang tata tertib Muktamar dibuat oleh Dewan Pimpinan Pusat dan disahkan oleh Muktamar. 9. Pada waktu berlangsungnya Muktamar dapat diselenggarakan acara atau kegiatan pendukung yang tidak mengganggu jalannya Muktamar.

10.

Selambat-lambatnya sebulan setelah Muktamar, Dewan Pimpinan Pusat harus menyampaikan hasil Keputusan Muktamar kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk mendapatkan pengesahan. 11. Apabila sampai satu bulan sesudah penyerahan hasil keputusan Muktamar belum ada jawaban dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, maka keputusan dianggap sah. 12. Selambat-lambatnya dua bulan setelah Muktamar, keputusan Muktamar harus ditanfidzkan oleh Dewan Pimpinan Pusat dan selanjutnya disosialisasi ke Dewan Pimpinan Daerah se-Indonesia. 13 Keputusan Muktamar mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Dewan Pimpinan Pusat dan tetap berlaku sampai diubah atau dibatalkan oleh Muktamar berikutnya. Pasal 19 Tanwir 1. Tanwir diadakan atas undangan Dewan Pimpinan Pusat. 2. Dewan Pimpinan Pusat bertanggungjawab atas penyelenggaraan Tanwir. 3. Undangan, acara dan materi Tanwir sedapat mungkin sampai kepada yang bersangkutan sebulan sebelumnya. 4. Tanwir dihadiri oleh : A. Peserta 1) Anggota Dewan Pimpinan Pusat 2) Badan Pimpinan Tingkat Pusat yang jumlahnya ditentukan oleh Dewan Pimpinan Pusat. 3) Wakil Dewan Pimpinan Daerah masing masing 4 (empat) orang. B. Peninjau Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pimpinan Organisasi Otonom Muhammadiyah Tingkat Pusat, masing-masing 1 (satu) orang. Setiap anggota Tanwir berhak 1 (satu) suara. Isi dan susunan acara Tanwir ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Pusat. Acara Pokok Tanwir : a. Laporan kebijakan Dewan Pimpinan Pusat dalam memimpin dan melaksanakan keputusan Muktamar / Tanwir. b. Masalah-masalah mengenai kepentingan umum organisasi yang tidak dapat ditangguhkan sampai berlangsungnya Muktamar. c. Mempersiapkan tempat dan acara yang akan datang. Ketentuan tentang tata tertib Tanwir dibuat oleh Dewan Pimpinan Pusat dan disahkan oleh Tanwir. Pada waktu berlangsungnya Tanwir dapat diselenggarakan acara atau kegiatan pendukung yang tidak mengganggu jalannya Tanwir. Selambat-lambatnya sebulan setelah Tanwir, Dewan Pimpinan Pusat harus menyampaikan hasil Keputusan Tanwir kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk mendapatkan pengesahan. Apabila sampai satu bulan sesudah penyerahan hasil keputusan Tanwir belum ada jawaban dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah, maka keputusan dianggap sah. Selambat-lambatnya dua bulan setelah Tanwir, keputusan Tanwir harus ditanfidzkan oleh Dewan Pimpinan Pusat dan selanjutnya disosialisasi ke Dewan Pimpinan Daerah se-Indonesia. Keputusan Tanwir mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Dewan Pimpinan Pusat dan tetap berlaku sampai diubah atau dibatalkan oleh Tanwir atau Muktamar kemudian. Pasal 20 Muktamar Luar Biasa Muktamar Luar Biasa diadakan untuk membicarakan masalah-masalah yang sifatnya di luar wewenang Tanwir dan tidak dapat ditangguhkan sampai berlangsungnya Muktamar. Muktamar Luar Biasa dihadiri oleh anggota Muktamar sebagaimana ditetapkan dalam Anggaran Rumah Tangga pasal 18 ayat 4 sub A point 1dan 2. Undangan Muktamar Luar Biasa disampaikan secepat mungkin kepada yang bersangkutan.

5. 6. 7.

8. 9. 10. 11. 12. 13.

1. 2.

3.

4. 5.

Muktamar Luar Biasa dianggap sah apabila di hadiri oleh +1 dari jumlah DPD se-Indonesia. Segala ketentuan dalam Anggaran Rumah Tangga pasal 18 yang tidak bertentangan dengan pasal 20 ayat (1), (2) dan (3), berlaku untuk Muktamar Luar Biasa. Pasal 21 Musyawarah Daerah Musyawarah Daerah diadakan atas undangan Dewan Pimpinan Daerah. Dewan Pimpinan Daerah bertanggung jawab atas penyelenggaraan Musyawarah Daerah. Undangan, acara dan materi Musyawarah Daerah sedapat mungkin sampai kepada yang bersangkutan, sebulan sebelumnya. Musyawarah Daerah dihadiri oleh : A. Peserta : 1) BPH Dewan Pimpinan Daerah. 2) Wakil Pimpinan Cabang masing-masing 4 (empat) orang . 3) Wakil Pimpinan Komisariat masing-masing 2 (dua) orang. 4) Wakil Dewan Pimpinan Pusat 1 (satu) orang. B. Peninjau 1) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah, Pimpinan Organisasi Otonom Muhammadiyah tingkat Wilayah, masing-masing 2 (dua) orang. 2) Mereka yang diundang oleh Dewan Pimpinan Daerah. Setiap peserta Musyawarah Daerah berhak satu suara. Isi dan susunan acara Musyawarah Daerah ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Daerah. Acara Pokok Musyawarah Daerah A. Laporan Dewan Pimpinan Daerah tentang : 1. Kebijaksanaan Dewan Pimpinan Daerah. 2. Organisasi 3. Keuangan 4. Pelaksanaan keputusan Muktamar, Tanwir, Musyawarah Daerah serta instruksi dan ketentuan Dewan Pimpinan Pusat. B. Penyusunan Program IMM periode berikutnya. C. Pemilihan Dewan Pimpinan Daerah. D. Masalah-masalah umum IMM bersifat urgen dalam daerah. E. Rekomendasi. Ketentuan tentang tata tertib Musyawarah Daerah dibuat oleh Dewan Pimpinan Daerah dan disahkan oleh Dewan Pimpinan Daerah. Pada waktu berlangsungnya Musyawarah Daerah dapat diselenggarakan acara atau kegiatan pendukung yang tidak mengganggu jalannya Musyawarah Daerah. Selambat-lambatnya sebulan setelah Musyawarah Daerah, Dewan Pimpinan Daerah harus menyampaikan hasil Musyawarah Daerah kepada Dewan Pimpinan Pusat untuk mendapatkan pengesahan. Apabila sampai satu bulan sesudah penyerahan hasil keputusan Musyawarah Daerah belum ada jawaban dari Dewan Pimpinan Pusat maka keputusan dianggap sah. Selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah Musyawarah Daerah, keputusan Musyawarah Daerah harus ditanfidzkan oleh Dewan Pimpinan Daerah dan selanjutnya disosialisasikan ke Pimpinan Cabang di wilayah masing-masing. Keputusan Musyawarah Daerah mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Dewan Pimpinan Daerah dan tetap berlaku sampai diubah atau dibatalkan oleh Musyawarah Daerah berikutnya. Pasal 22 Musyawarah Cabang Musyawarah Cabang diadakan atas undangan Pimpinan Cabang. Pimpinan Cabang bertanggung jawab atas penyelenggaraan musyawarah Cabang. Undangan, acara dan materi Musyawarah Cabang sedapat mungkin sampai kepada yang bersangkutan, 15 (lima belas) hari sebelumnya. Musyawarah Cabang dihadiri oleh : A. Peserta : 1) BPH Pimpinan Cabang.

1. 2. 3. 4.

5. 6. 7.

8. 9. 10. 11. 12. 13.

1. 2. 3. 4.

2) Badan Pimpinan tingkat Cabang dan jumlahnya ditentukan Pimpinan Cabang. 3) Wakil Pimpinan Komisariat jumlahnya ditentukan oleh Pimpinan Cabang dengan memperhatikan usulan dari Komisariat. 4) Wakil Dewan Pimpinan Daerah 1 (satu) orang. B. Peninjau Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Pimpinan Organisasi Otonom Muhammadiyah tingkat cabang, masing-masing 2 (dua) orang. 5. Setiap peserta Musyawarah Cabang berhak satu suara. 6. Isi dan susunan acara Musyawarah Cabang ditetapkan oleh Pimpinan Cabang, 7. Acara Pokok Musyawarah Cabang. A. Laporan Pimpinan Cabang tentang : 1. Kebijaksanaan Pimpinan Cabang. 2. Organisasi. 3. Keuangan 4. Pelaksanaan keputusan Muktamar, Tanwir, Musyawarah Daerah, Musyawarah Cabang serta instruksi dan ketentuan Pimpinan di atasnya. B. Penyusunan Program IMM periode berikutnya. C. Pemilihan Pimpinan Cabang. D. Masalah-masalah umum IMM bersifat urgen dalam Cabang. E. Rekomendasi. 8. Ketentuan tentang tata tertib Musyawarah Cabang dibuat oleh Pimpinan Cabang dan disahkan oleh Musyawarah Cabang. 9. Pada waktu berlangsungnya Musyawarah Cabang dapat diselenggarakan acara atau kegiatan pendukung yang tidak mengganggu jalannya musyawarah Cabang. 10. Selambat-lambatnya sebulan setelah Musyawarah Cabang, Pimpinan Cabang harus menyampaikan hasil Musyawarah Cabang kepada Dewan Pimpinan Daerah untuk mendapatkan pengesahan. 11. Apabila sampai satu bulan sesudah penyerahan hasil keputusan Musyawarah Cabang belum ada jawaban dari Dewan Pimpinan Daerah maka keputusan dianggap sah. 12. Selambat-lambatnya 2 (dua) bulan setelah Musyawarah Cabang, keputusan Musyawarah Cabang harus ditanfidzkan oleh Pimpinan Cabang dan selanjutnya disosialisasikan ke Pimpinan Komisariat di wilayah masing-masing. 13. Keputusan Musyawarah Cabang mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Pimpinan Cabang dan tetap berlaku sampai diubah atau dibatalkan oleh Musyawarah Cabang berikutnya. Pasal 23 Musyawarah Komisariat Musyawarah Komisariat diadakan atas undangan Pimpinan Komisariat. Pimpinan Komisariat bertanggung jawab atas penyelenggaraan Musyawarah Komisariat. Undangan, acara dan materi Musyawarah Komisariat sedapat mungkin sampai kepada yang bersangkutan, 7 (tujuh) hari sebelumnya. Musyawarah Komisariat dihadiri oleh : A. Peserta : 1) Anggota Pimpinan Komisariat. 2) Seluruh anggota komisariat. 3) Wakil Pimpinan Cabang 1(satu) orang B. Peninjau Mereka yang diundang oleh Pimpinan Komisariat. Setiap peserta Musyawarah Komisariat berhak satu suara. Isi dan susunan acara Musyawarah Komisariat ditetapkan oleh Pimpinan Komisariat. Acara Pokok Musyawarah Komisariat. A. Laporan Pimpinan Komisariat tentang : 1. Kebijaksanaan Pimpinan Komisariat. 2. Organisasi. 3. Keuangan 4. Pelaksanaan keputusan Muktamar, Tanwir, Musyawarah Daerah, Musyawarah Cabang serta instruksi dan ketentuan Pimpinan di atasnya.

1. 2. 3. 4.

5. 6. 7.

8. 9. 10. 11. 12. 13.

B. Penyusunan Program IMM periode berikutnya. C. Pemilihan Pimpinan Komisariat. D. Masalah-masalah umum IMM bersifat urgen dalam Komisariat. E. Rekomendasi. Ketentuan tentang tata tertib Musyawarah Komisariat dibuat oleh Pimpinan Komisariat dan disahkan oleh Musyawarah Komisariat. Pada waktu berlangsungnya Musyawarah Komisariat dapat diselenggarakan acara atau kegiatan pendukung yang tidak mengganggu jalannya Musyawarah Komisariat. Selambat-lambatnya 15 (lima belas) hari setelah Musyawarah Komisariat, Pimpinan Komisariat harus menyampaikan hasil Musyawarah Komisariat kepada Pimpinan Cabang untuk mendapatkan pengesahan. Apabila sampai 15 (lima belas) hari sesudah penyerahan hasil keputusan Musyawarah Komisariat belum ada jawaban dari Pimpinan Cabang maka keputusan dianggap sah. Selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah Musyawarah Komisariat, keputusan Musyawarah Komisariat harus ditanfidzkan oleh Pimpinan Komisariat. Keputusan Musyawarah Komisariat mulai berlaku setelah ditanfidzkan oleh Pimpinan Komisariat dan tetap berlaku sampai diubah atau dibatalkan oleh Musyawarah Komisariat berikutnya. Pasal 24 Keputusan Musyawarah Keputusan Permusyawaratan diusahakan diambil dengan musyawarah untuk mufakat. Apabila keputusan permusyawaratan terpaksa dilakukan dengan pemungutan suara, maka keputusan diambil dengan suara terbanyak mutlak, yaitu setengah lebih satu dari jumlah peserta yang memberikan hak suara. Pemungutan suara atas seseorang atau masalah yang penting dapat dilakukan secara tertulis dan rahasia, atau secara langsug. Apabila dalam pemungutan suara terdapat jumlah suara yang sama banyak, maka pemungutan suara diulangi dengan memberi kesempatan masing-masing pihak untuk menambah penjelasan. Apabila setelah tiga kali pemungutan suara ternyata hasilnya tetap sama atau tidak memenuhi syarat pengambilan keputusan pembicaraan dihentikan tanpa suatu keputusan, atau diserahkan kepada pimpinan di atasnya, sedangkan untuk Muktamar/Tanwir diserahkan kepada Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Apabila keputusan telah diambil, maka seluruh peserta musyawarah harus menerima keputusan tersebut dengan ikhlas dan tetap bertawakal kepada Allah SWT.

1. 2. 3. 4.

5.