Anda di halaman 1dari 14

SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok bahasan Sub pokok bahasan Waktu Sasaran Tempat

: Struma (gondok) : pencegahan pada penyakit gondok : 15 menit : Orang tua dan anak : RSUD Ngudi Waluyo Ungaran

I. Tujuan Intruksional umum : Setelah mengikuti penyuluhan kesehatan ini keluarga mampu memahami tentang penyakit gondok (struma) II. Tujuan instruksional khusus : Setelah mengikuti penyuluhan ini pasien dan keluarga pasien diharapkan dapat : 1. Menyebutkan pengertian dan penyebab struma (gondok) 2. Mengetahui tanda dan gejala struma (gondok) 3. Mengetahui cara pencegahan struma (gondok) III. Materi Terlampir IV. Media Leaflet flipchart

V. Metode Ceramah dan Tanya jawab

VI. Strategi pembelajaran No 1. Tahap Pembukaan Waktu 3 Menit Kegiatan perawat - Memberikan salam - Menjelaskan tujuan tentang pemberian penkes 2 Inti 7 menit Menjelaskan materi Menyebutkan pengertian dan penyebab Demam berdarah Menyebutkan tanda demam berdarah Menjelaskan cara penyebaran demam berdarah Menjelaskan cara pencagahan demam berdarah Memberikan Menjawab Bertanya tentang hal yang belum jelas Mendengarkan Bersama perawat menyimpulkan materi Mengevaluasi dengan cara memberikan pertanyaan kepada keluarga pasien tentang materi yang telah di berikan. Menjelaskan bahwa kegiatan penkes telah selesai dan mengucapkan salam Membalas salam Menjawab pertanyaan dengan benar kesenpatan bertanya 3 Penutup 5 menit pertanyaan Menyimpulkan materi Kegiatan pasien - Membalas salam Memberikan respon dan mendengarkan. Memperhatikan dan mendengarkan materi yang disampaikan.

penutup

VII.

Evaluasi Bentuk Waktu : Somatif : 2 Menit

Soal evaluasi : 1. Apa pengertian dan penyebab penyakit struma (gondok)? 2. Sebutkan tanda tanda penyakit struma (gondok)! 3. Sebutkan cara pencegahan penyakit struma (gondok)! VIII. Referensi

Tambayong, Jan. 2000. Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta:EGC. Chalampa, Bams. 2010. Askep pada Penyakit Goiter. Disitasi dari

http://bamschalampa-askep.blogspot.com/2010/10/asuhan-keperawatan-padapenyakit-goiter.html. pada tanggal 11 Januari 2013. Rahza, Putri. 2010. Patofisiologi Goiter Gondok. Disitasi

dari http://putrisayangbunda.blog.com/2010/08/29/patofisiologi-goitergondok.html. pada tanggal 11 Januari 2013 Santoso, Agung. 2009. Asuhan Keperawatan Pasien Struma. Disitasi dari http://nersgoeng.blogspot.com/2009/05/asuhan-keperawatan-pasienstruma.html. pada tanggal 11 Januari 2013

Materi Penyuluhan

STRUMA (GONDOK)
A. DEFINISI Struma (gondok) disebut juga goiter adalah suatu pembengkakan pada leher oleh karena pembesaran kelenjar tiroid akibat kelainan glandula tiroid dapat berupa gangguan fungsi atau perubahan susunan kelenjar dan morfologinya. Struma adalah reaksi adaptasi terhadap kekurangan yodium yang ditandai dengan pembesaran kelenjar tyroid. (Djoko Moelianto, 1993). B. ETIOLOGI Berbagai faktor diidentifikasikan sebagai penyebab terjadinya hipertropi kelenjar tiroid termasuk didalamnya defisiensi yodium, goitrogenik glikosida agent (zat atau bahan ini dapat mensekresi hormon tiroid) seperti ubi kayu, jagung, lobak, kangkung, kubis bila dikonsumsi secara berlebihan, obat-obatan anti tiroid, anomali, peradangan dan tumor/neoplasma. Hipotiroidisme dapat terjadi akibat malfungsi kelenjar tiroid, hipofisis, atau hipotalamus. Apabila disebabkan oleh malfungsi kelenjar tiroid, maka kadar HT yang rendah akan disertai oleh peningkatan kadar TSH dan TRH karena tidak adanya umpan balik negative oleh HT pada hipofisis anterior dan

hipotalamus. Apabila hipotiroidisme terjadi akibat malfungsi hipofisis, maka kadar HT yang rendah disebabkan oleh rendahnya kadar TSH. TRH dari hipotalamus tinggi karena. tidak adanya umpan balik negatif baik dari TSH maupun HT. Hipotiroidisme yang disebabkan oleh malfungsi hipotalamus akan menyebabkan rendahnya kadar HT, TSH, dan TRH. Penyebab Goiter adalah: 1) Auto-imun (dimana tubuh menghasilkan antibodi yang menyerang komponen spesifik pada jaringan tersebut). Tiroiditis Hasimotos juga disebut tiroiditis otoimun, terjadi akibat adanya otoantibodi yang merusak jaringan kelenjar tiroid. Hal ini menyebabkan penurunan HT disertai peningkatan kadar TSH dan TRH akibat umpan balik negatif yang minimal, Penyebab tiroiditis otoimun tidak diketahui, tetapi tampaknya terdapat kecenderungan genetic untuk mengidap penyakit ini. Penyebab yang paling sering ditemukan adalah tiroiditis Hashimoto.Pada tiroiditis Hashimoto, kelenjar tiroid seringkali membesar dan hipotiroidisme terjadi beberapa bulan kemudian akibat rusaknya daerah kelenjar yang masih berfungsi. Penyakit Graves. Sistem kekebalan menghasilkan satu protein, yang disebut tiroid stimulating imunoglobulin (TSI). Seperti dengan TSH, TSI merangsang kelenjar tiroid untuk memperbesar memproduksi sebuah gondok. 2) Penyebab kedua baik tersering yodium adalah radioaktif pengobatan maupun terhadap

hipertiroidisme

pembedahan

cenderung menyebabkan hipotiroidisme. 3) Obat-obatan tertentu yang dapat menekan produksi hormon tiroid.

4) Peningkatan tiroid

Thyroid

Stimulating

Hormone

(TSH)

sebagai

akibat dari kecacatan dalam sintesis hormon normal dalam kelenjar

5) Gondok endemik adalah hipotiroidisme akibat defisiensi iodium dalam makanan. Gondok adalah pembesaran kelenjar tiroid. Pada defisiensi iodiurn terjadi gondok karena sel-sel tiroid menjadi aktif berlebihan dan hipertrofik dalarn usaha untuk menyerap sernua iodium yang tersisa dalam darah. Kadar HT yang rendah akan disertai kadar TSH dan TRH yang tinggi karena minimnya umpan balik. Kekurangan yodium jangka panjang dalam makanan, menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid yang kurang aktif (hipotiroidisme goitrosa). 6) Kurang iodium dalam diet, sehingga kinerja kelenjar tiroid berkurang dan menyebabkan dibutuhkan pembengkakan. Yodium sendiri untuk membentuk hormon tyroid yang nantinya akan

diserap di usus dan disirkulasikan menuju bermacam-macam kelenjar. Kelenjar tersebut diantaranya: a. Choroid b. Ciliary body c. Kelenjar mammae d. Plasenta e. Kelenjar air ludah f. Mukosa lambung g. Intenstinum tenue h. Kelenjar gondok Sebagian besar unsur yodium ini dimanfaatkan di kelenjar gondok. Jika kadar yodium di dalam kelenjar gondok kurang, dipastikan seseorang akan mengidap penyakit gondok.

7) Beberapa disebabkan oleh tumor

(Baik dan jinak tumor kanker)

Multinodular Gondok. Individu dengan gangguan ini memiliki satu atau lebih nodul di dalam kelenjar tiroid yang menyebabkan pembesaran. Hal ini sering terdeteksi sebagai nodular pada kelenjar perasaan pemeriksaan fisik. Pasien dapat hadir dengan nodul tunggal yang besar dengan nodul kecil di kelenjar, atau mungkin tampil sebagai nodul beberapa ketika pertama kali terdeteksi. Kanker Tiroid. Thyroid dapat ditemukan dalam nodul tiroid meskipun kurang dari 5 persen dari nodul adalah kanker. Sebuah gondok tanpa nodul bukan merupakan resiko terhadap kanker. Karsinoma tiroid dapat, tetapi tidak selalu, menyebabkan hipotiroidisme. Namun, terapi untuk kanker yang jarang dijumpai ini antara lain adalah tiroidektomi, pemberian obat penekan TSH, atau terapi iodium radioaktif untuk mengbancurkan jaringan tiroid. Semua pengobatan ini dapat menyebabkan hipotiroidisme. Pajanan ke radiasi, terutama masa anak-anak, adalah penyebab kanker tiroid. Defisiensi iodium juga dapat meningkatkan risiko pembentukan kanker tiroid karena hal tersebut merangsang proliferasi dan hiperplasia sel tiroid. 8) Kerusakan genetik, yang lain terkait dengan luka atau infeksi di tiroid, Tiroiditis. Peradangan dari kelenjar tiroid sendiri dapat mengakibatkan pembesaran kelenjar tiroid. 9) Kehamilan, Sebuah hormon yang disekresi selama kehamilan yaitu gonadotropin dapat menyebabkan pembesaran kelenjar tiroid. C. MANIFESTASI KLINIS 1. Pembengkakan, mulai dari ukuran sebuah nodul kecil untuk sebuah benjolan besar, di bagian depan leher tepat di bawah Adams apple. 2. Perasaan sesak di daerah tenggorokan.

Gejala utama :

3. Kesulitan bernapas (sesak napas), batuk, mengi (karena kompresi batang tenggorokan). 4. Kesulitan menelan (karena kompresi dari esofagus). 5. Suara serak. 6. Distensi vena leher. 7. Pusing ketika lengan dibangkitkan di atas kepala 8. Kelainan fisik (asimetris leher) Dapat juga terdapat gejala lain, diantaranya : 1. Tingkat peningkatan denyut nadi 2. Detak jantung cepat 3. Diare, mual, muntah 4. Berkeringat tanpa latihan 5. Agitasi

D.

PENCEGAHAN Pencegahan primer adalah langkah yang harus dilakukan untuk

Pencegahan Primer menghindari diri dari berbagai faktor resiko. Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya struma adalah : 1. Memberikan edukasi kepada masyarakat dalam hal merubah pola perilaku makan dan memasyarakatkan pemakaian garam yodium 2. Mengkonsumsi makanan yang merupakan sumber yodium seperti ikan laut 3. Mengkonsumsi beryodium setelah makanan 4. Iodisai air minum untuk wilayah tertentu dengan resiko tinggi. Cara ini memberikan keuntungan yang lebih dibandingkan dengan garam karena dapat terjangkau daerah luas dan terpencil. Iodisasi yodium dengan tidak cara memberikan garam dimasak, dianjurkan memberikan

garam sebelum memasak untuk menghindari hilangnya yodium dari

dilakukan dengan yodida diberikan dalam saluran air dalam pipa, yodida yang diberikan dalam air yang mengalir, yodida dalam sediaan air minum. 5. Memberikan kapsul minyak beryodium (lipiodol) pada penduduk di daerah endemik berat dan endemik sedang. Sasaran pemberiannya adalah semua pria berusia 0-20 tahun dan wanita 0-35 tahun, termasuk wanita hamil dan menyusui yang tinggal di daerah endemis berat dan endemis sedang. Dosis pemberiannya bervariasi sesuai umur dan kelamin. 6. Memberikan suntikan yodium dalam minyak (lipiodol 40%) diberikan 3 tahun sekali dengan dosis untuk dewasa dan anak-anak di atas 6 tahun 1 cc dan untuk anak kurang dari 6 tahun 0,2-0,8 cc. 7. Hindari mengkonsumsi secara berlebihan makanan-makanan yang mengandung goitrogenik glikosida agent yang dapat menekan sekresi hormone tiroid seperti ubi kayu, jagung, lobak, kankung, dan kubis. Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder adalah upaya mendeteksi secara dini suatu penyakit, mengupa yakan yaitu : a. Inspeksi Inspeksi dilakukan oleh pemeriksa yang berada di depan penderita yang berada pada posisi duduk dengan kepala sedikit fleksi atau leher sedikit terbuka. Jika terdapat pembengkakan atau nodul, perlu diperhatikan beberapa komponen yaitu lokasi, ukuran, jumlah nodul, bentuk (diffus atau noduler kecil), gerakan ada pembengkakan. b. Palpasi saat pasien diminta untuk menelan dan palpasi pada permukaan orang yang telah sakit agar sembuh, menghambat progresifitas penyakit yang dilakukan melalui beberapa cara dan penambahan

Pemeriksaan dengan metode palpasi dimana pasien diminta untuk duduk, leher dalam posisi fleksi. Pemeriksa berdiri di belakang pasien dan meraba tiroid dengan menggunakan ibu jari kedua tangan pada tengkuk penderita. c. Tes Fungsi Hormon Status fungsional kelenjar tiroid dapat dipastikan dengan perantara tes-tes fungsi tiroid untuk mendiagnosa penyakit tiroid diantaranya kadar total tiroksin dan triyodotiroin serum diukur dengan radioligand assay. Tiroksin bebas serum mengukur kadar tiroksin dalam sirkulasi yang secara metabolik aktif. Kadar TSH plasma dapat diukur dengan assay radioimunometrik. Kadar TSH plasma sensitif dapat dipercaya sebagai indikator fungsi tiroid. Kadar tinggi pada pasien hipotiroidisme sebaliknya kadar akan berada di bawah normal pada pasien peningkatan autoimun (hipertiroidisme). Uji ini dapat digunakan pada awal penilaian pasien yang diduga memiliki penyakit tiroid. Tes ambilan yodium radioaktif (RAI) digunakan untuk mengukur kemampuan kelenjar tiroid dalam menangkap dan mengubah yodida. d. Foto Rontgen leher Pemeriksaan ini dimaksudka n untuk melihat struma telah menekan atau menyumbat trakea (jalan nafas). e. Ultrasonografi (USG) Alat ini akan ditempelkan di depan leher dan gambaran gondok akan tampak di layar TV. USG dapat memperlihatkan ukuran gondok dan kemungkinan adanya kista/nodul yang mungkin tidak terdeteksi waktu pemeriksaan leher. Kelainan-kelainan yang dapat didiagnosis dengan USG antara lain kista, adenoma, dan kemungkinan karsinoma. f. Sidikan (Scan) tiroid Caranya dengan menyuntikan sejumlah substansi radioaktif bernama technetium-99m dan yodium
125 131

/yodium

ke dalam

pembuluh darah. Setengah jam kemudian berbaring di bawah suatu

kamera canggih tertentu selama beberapa menit. Hasil pemeriksaan dengan radioisotop adalah teraan ukuran, bentuk lokasi dan yang utama adalh fungsi bagian-bagian tiroid. g. Biopsi Aspirasi Jarum Halus Dilakukan khusus menyebabkan bahaya pada keadaan yang mencurigakan suatu penyebaran sel-sel ganas. Kerugian keganasan. Biopsi aspirasi jarum tidak nyeri, hampir tidak pemeriksaan ini dapat memberikan hasil negatif palsu karena lokasi biopsi kurang tepat. Selain itu teknik biopsi kurang benar dan pembuatan preparat yang kurang baik atau positif palsu karena salah intrepertasi oleh ahli sitologi.

A. Struma terhadap

PENGERTIAN adalah reaksi adaptasi yang kekurangan yodium

2. Kelainan simetris) 3. Perasaan tenggorokan. 4. Kesulitan napas),

fisik sesak

leher di

tidak daerah (sesak

ditandai dengan pembesaran kelenjar tyroid. (Djoko Moelianto, 1993). B. PENYEBAB

bernapas mengi menelan

batuk,

(karena (karena

tekanan batang tenggorokan). 5. Kesulitan 6. Suara serak. tekanan dari esofagus). 7. pembesaran vena leher. 8. Pusing ketika lengan diangkat di atas kepala Dapat juga terdapat gejala lain,

Autoimun Efek pengobatan Obat-obatan Peningkatan


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN STIKES NGUDI WALUYO UNGARAN 2013

TSH

(Tyroid

stimulating hormone) Kekurangan yodium Tumor Kerusakan genetic Kehamilan C. Gejala utama : 1. Pembengkakan, mulai dari ukuran sebuah nodul kecil untuk sebuah benjolan besar, di bagian depan leher tepat di bawah Adams TANDA TANDA

diantaranya : 1. Tingkat peningkatan denyut nadi 2. Detak jantung cepat 3. Diare, mual, muntah 4. Berkeringat tanpa latihan 5. Agitasi/gelisah

D.

CARA PENCEGAHAN

Kemudian tinggal membagi/menambahkan sesuai banyakny air yang akan diabatisasi. Abatisasi di ulang tiap 3 bulan sekali.