Anda di halaman 1dari 97

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA TERAPAN I PENENTUAN ANGKA PENYABUNAN Penyusun : Tyas Hastya C M W (101411029) (101411030) (101411031) (101411032)

Via Siti Masluhah Yuniar Widiyanti Yusuf Zaelana

I.

DASAR TEORI Lemak atau minyak adalah senyawa makromolekul berupa trigliserida, yaitu sebuah ester yang tersusun dari asam lemak dan gliserol. Jenis dan jumlah asam lemak penyusun suatu minyak atau lemak menentukan karakteristik fisik dan kimiawi minyak atau lemak. Disebut minyak apabila trigliserida tersebut berbentuk cair pada suhu kamar dan disebut lemak apabila berbentuk padat pada suhu kamar. Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida atau triasgliserol, yang berarti triester dari gliserol . Jadi lemak dan minyak juga merupakan senyawa ester . Hasil hidrolisis lemak dan minyak adalah asam karboksilat dan gliserol . Asam karboksilat ini juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan tidak bercabang. 1. Penamaan lemak dan Minyak Lemak dan minyak sering kali diberi nama derivat asam-asam lemaknya, yaitu dengan cara menggantikan akhiran -at pada asam lemak dengan akhiran -in , misalnya : - tristearat dari gliserol diberi nama tristearin - tripalmitat dari gliserol diberi nama tripalmitin Selain itu , lemak dan minyak juga diberi nama dengan cara yang biasa dipakai untuk penamaan suatu ester, misalnya: - triestearat dari gliserol disebut gliseril tristearat - tripalmitat dari gliserol disebut gliseril tripalmitat 2. Pembentukan Lemak dan Minyak Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida dari gliserol. Dalam

pembentukannya, trigliserida merupakan hasil proses kondensasi satu molekul gliserol dan tiga molekul asam lemak (umumnya ketiga asam lemak tersebut berbeda beda), yang

membentuk satu molekul trigliserida dan satu molekul air .

CH2OH

CH2OCR1 O

CHOH

+ 3R1COH

CHOCR2 O

+ 3 H 2O

CH2OH

CH2OCR3

Gliserol asam lemak trigliserida Bila R1=R2=R3 , maka trigliserida yang terbentuk disebut trigliserida sederhana (simple triglyceride), sedangkan bila R1, R2,R3, berbeda , maka disebut trigliserida campuran (mixed triglyceride). 3. Klasifikasi Lemak dan Minyak Lemak dan minyak dapat dibedakan berdasarkan beberapa penggolongan, yaitu: a. Berdasarkan kejenuhannya (ikatan rangkap) : Asam lemak jenuh Contoh-contoh dari asam lemak jenuh, antara lain: Nama asam Butirat Palmitat Stearat Struktur CH3(CH2)2CO2H CH3(CH2)14CO2H CH3(CH2)16CO2H Sumber Lemak susu Lemak hewani dan nabati Lemak hewani dan nabati

Asam lemak tak jenuh Contoh-contoh dari asam lemak tak jenuh, antara lain: Nama asam Struktur Sumber

Palmitoleat

CH3(CH2)5CH=CH(CH2)7CO2H

Lemak hewani dan nabati

Oleat

CH3(CH2)7CH=CH(CH2) 7CO2H

Lemak hewani dan nabati

Linoleat linolenat

CH3(CH2)4CH=CHCH2CH=CH(CH2)7CO2H Minyak nabati CH3CH2CH=CHCH2CH=CHCH2=CH (CH2) 7CO2H Minyak biji rami

Asam lemak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung ikatan tunggal pada rantai hidrokarbonnya. Asam lemak jenuh mempunyai rantai zig-zig yang dapat cocok satu sama lain, sehingga gaya tarik vanderwalls tinggi, sehingga biasanya berwujud padat. Sedangkan asam lemak tak jenuh merupakan asam lemak yang mengandung satu ikatan rangkap pada rantai hidrokarbonnya . asam lemak dengan lebih dari satu ikatan dua tidak lazim,terutama terdapat pada minyak nabati,minyak ini disebut poliunsaturat. Trigliserida tak jenuh ganda (poliunsaturat) cenderung berbentuk minyak. b. Berdasarkan sifat mengering Pengklasifiksian lemak dan minyak berdasarkan sifat mengering Sifat Minyak tidak mengering (non-drying oil) tipe Keterangan minyak zaitun, contoh: minyak

zaitun,minyak buah persik,minyak kacang - tipe minyak rape,contoh: minyak biji rape,minyak mustard - tipe minyak hewani contoh; minyak sapi

Minyak setengah mengering (semi drying oil)

Minyak yang mempunyai daya mengering yang lebih lambat. Contohnya: minyak biji kapas ,minyak bunga matahari

Minyak nabati mengering (drying oil)

Minyak

yang

mempunyai

sifat

dapat

mengering jika kena oksidasi , dan akan

berubah menjadi lapisan tebal , bersifat kental dan membentuk sejenis selaput jika dibiarkan di udara terbuka. Contoh: minyak kacang kedelai, minyak biji karet c. Berdasarkan sumbernya Pengklasifikasian lemak dan minyak berdasarkan sumbernya. Sumber Keterangan - biji-biji palawija. Contoh: minyak jagung,biji Berasal dari tanaman (minyak Nabati) kapas - kulit buah tanaman tahunan. Contoh: minyak zaitun,minyak kelapa sawit - biji-biji tanaman tahunan Contoh :kelapa,coklat,inti sawit - susu hewan peliharaan,contoh: lemak susu Berasal dari hewan(lemak hewani) - daging hewan peliharaan ,contoh: lemak sapi,oleosterin - hasil laut, contoh: minyak ikan sardin,minyak ikan paus d. Berdasarkan kegunaannya: Pengklasifikasian lemak dan minyak berdasarkan kegunaanya. Nama Minyak meneral(minyak bumi) Minyak nabati/hewani (minyak/lemak) Untuk obat-obatan Minyak atsiri(essential oil) Minyak ini mudah menguap pada temperature kamar,sehingga disebut juga minyak terbang 4. Dasar-dasar analisa lemak dan minyak Kegunaan Sebagai bahan bakar Bahan makan bagi manusia

Analisa lemak dan minyak yang umum dilakukan dapat dapat dibedakan menjadi tiga kelompok berdasarkan tujuan analisa, yaitu; Penentuan kuantitatif, yaitu penentuan kadar lemak dan minyak yang terdapat dalam bahan mkanan atau bahan pertanian. Penentuan kualitas minyak sebagai bahan makanan, yang berkaitan dengan proses

ekstraksinya,atau ada pemurnian lanjutan , misalnya penjernihan(refining) ,penghilangan bau(deodorizing), penghilangan warna(bleaching). Penentuan tingkat kemurnian minyak ini sangat erat kaitannya dengan daya tahannya selama penyimpanan,sifat gorengnuya,baunya maupun rasanya.tolak ukur kualitas iniadalah angka asam lemak bebasnya (free fatty acid atau FFA), angka peroksida ,tingkat ketengikan dan kadar air. Penentuan sifat fisika maupun kimia yang khas ataupun mencirikan sifat minyak tertentu. Data ini dapat diperoleh dari angka iodinenya,angka Reichert Meissel,angka polenske,angka krischner,angka penyabunan, indeks refraksi titik cair,angka kekentalan,titik percik,komposisi asam-asam lemak ,dan sebagainya. a. Analisa Lemak dan Minyak Penentuan Sifat Lemak Minyak Jenis-jenis lemak dan minyak dapat dibedakan berdasarkan sifat-sifatnya . Pengujian sifat-sifat lemak dan minyak ini meliputi: Penentuan angka penyabunan Angka penyabunan menunjukkan berat molekul lemak dan minyak secara kasar .Minyak yang disusun oleh asam lemak berantai karbon yang pendek berarti mempunyai berat molekul yang relatif kecil, akan mempunyai angka penyabunan yang besar dan sebaliknya bila minya mempunyai berat molekul yang besar ,mka angka penyabunan relatif kecil . angka penyabunan ini dinyatakan sebagai banyaknya (mg) NaOH menyabunkan satu gram lemak atau minyak. Angka penyabunan= Penentuan angka ester Angka ester menunjukkan jumlah asam organik yang bersenyawa sebagai ester. Angka ester dihitung dengan selisih angka penyabuanan dengan angka asam. Angka ester = angka penyabunan angka asam. yang dibutuhkan untuk

Penentuan angka iodine Penentuan iodine menunjukkan ketidakjenuhan asam lemak penyusunan lemak dan minyak. Asam lemak tidak jenuh mampu mengikat iodium dan membentuk senyawaan yang jenuh. Banyaknya iodine yang diikat menunjukkan banyaknya ikatan rangkap yang terdapat dalam asam lemaknya. Angka iodine dinyatakan sebagai banyaknya iodine dalam gram yang diikat oleh 100 gram lemak atau minyak. Angka titrasi = Penentuan angka Reichert-Meissel Angka Reichert-Meissel menunjukkan jumlah asam-asam lemak yang dapat larut dalam air dan mudah menguap. Angka ini dinyatakan sebagai jumlah NaOH 0,1 N dalam ml yang digunakan unutk menetralkan asam lemak yang menguap dan larut dalam air yang diperoleh dari penyulingan 5 gram lemak atau minyak pada kondisi tertentu. asam lemak yang mudah menguap dan mudah larut dalam air adalah yang berantai karbon 4-6. Angka Reichert-Meissel = 1,1 x (ts tb) Dimana ts = jumlah ml NaOH 0,1 N untuk titrasi sampel tb = jumlah ml NaOH 0,1 N untuk titrasi blanko

Penentuan Kualitas Lemak Faktor penentu kualitas lemak atau minyak,antara lain:

Penentu angka asam Angka asam menunjukkan banyaknya asam lemak bebas yang terdapat dalam suatu lemak atau minyak . angka asam dinyatakan sebagai jumlah miligram NaOH yang dibutuhkan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam satu gram lemak atau minyak. Angka asam = Penentuan angka peroksida Angka peroksida menunjukkan tingkat kerusakan dari lemak atau minyak. Angka peroksida =

Penentuan asam thiobarbiturat(TBA) Lemak yang tengik mengandung aldehid dan kebanyakan sebagai monoaldehid. Banyaknya monoaldehid dapat ditentukan dengan jalan destilasi lebih dahulu. Monoaldehid kemudian direaksikan dengan thiobarbiturat sehingga terbentuk senyawa kompleks berwarna merah. Intensitas warna merah sesuai dengan jumlah monoaldehid dapat ditentukan dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 528 nm. Angka TBA = mg monoaldehida/kg minyak Penentuan kadar minyak Penentuan kadar air dalam minyak dapat dilakukan dengan cara thermo gravimetrri atau cara thermovolumetri. Kadar air = x100%

5. Kegunaan Lemak dan Minyak Lemak dan minyak merupakan senyawaan organik yang penting bagi kehidupan makhluk hidup.adapun lemak dan minyak ini antara lain: 1. 2. 3. Memberikan rasa gurih dan aroma yang spesifik Sebagai salah satu penyusun dinding sel dan penyusun bahan-bahan biomolekul Sumber energi yang efektif dibandingkan dengan protein dan karbohidrat,karena lemak dan minyak jika dioksidasi secara sempurna akan menghasilkan 9 kalori/liter gram lemak atau minyak. Sedangkan protein dan karbohidrat hanya menghasilkan 4 kalori tiap 1 gram protein atau karbohidrat. Karena titik didih minyak yang tinggi, maka minyak biasanya digunakan untuk menggoreng makanan di mana bahan yang digoreng akan kehilangan sebagian besar air yang dikandungnya atau menjadi kering. 4. 5. 6. 7. 8. Memberikan konsistensi empuk,halus dan berlapis-lapis dalam pembuatan roti. Memberikan tekstur yang lembut dan lunakl dalam pembuatan es krim. Minyak nabati adalah bahan utama pembuatan margarine Lemak hewani adalah bahan utama pembuatan susu dan mentega Mencegah timbulnya penyumbatan pembuluh darah yaitu pada asam lemak esensial. 6. Sifat-sifat Lemak dan Minyak 6.1 Sifat-sifat fisika Lemak dan Minyak 1. Bau amis (fish flavor) yang disebabkan oleh terbentuknya trimetil-amin dari lecitin 2. Bobot jenis dari lemak dan minyak biasanya ditentukan pada temperature kamar

3. Indeks bias dari lemak dan minyak dipakai pada pengenalan unsur kimia dan untuk pengujian kemurnian minyak. 4. Minyak/lemak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (coastor oil), sedikit larut dalam alkohol dan larut sempurna dalam dietil eter,karbon disulfida dan pelarut halogen. 5. Titik didih asam lemak semakin meningkat dengan bertambahnya panjang rantai karbon 6. Rasa pada lemak dan minyak selain terdapat secara alami ,juga terjadi karena asam-asam yang berantai sangat pendek sebaggai hasil penguraian pada kerusakan minyak atau lemak. 7. Titik kekeruhan ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran lemak atau minyak dengan pelarut lemak. 8. Titik lunak dari lemak/minyak ditetapkan untuk mengidentifikasikan minyak/lemak 9. shot melting point adalah temperratur pada saat terjadi tetesan pertama dari minyak / lemak 10. slipping point digunakan untuk pengenalan minyak atau lemak alam serta pengaruh kehadiran komponen-komponennya 6.2 Sifat-sifat kimia Minyak dan Lemak 1. Esterifikasi Proses esterifikasi bertujuan untuk asam-asam lemak bebas dari trigliserida,menjadi bentuk ester. 2. Hidrolisa Dalam reaksi hidrolisis, lemak dan minyak akan diubah menjadi asamasam lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisi mengakibatkan kerusakan lemak dan minyak. Ini terjadi karena terdapat terdapat sejumlah air dalam lemak dan minyak tersebut. 3. penyabunan Reaksi ini dilakukan dengan penambhan sejumlah larutan basa kepada trigliserida. Bila penyabunan telah lengkap,lapisan air yang mengandung gliserol dipisahkan dan gliserol dipulihkan dengan penyulingan. 4. Hidrogenasi Proses hidrogenasi bertujuan untuk menjernihkan ikatan dari rantai karbon asam lemak pada lemak atau minyak . setelah proses hidrogenasi selesai , minyak didinginkan dan katalisator dipisahkan dengan disaring . Hasilnya adalah minyak yang bersifat plastis atau keras, tergantung pada derajat kejenuhan. 5. Oksidasi

Oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan lemak atau minyak . terjadinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau tengik pada lemak atau minyak. 7. Perbedaan Antara Lemak dan Minyak Perbedaan antara lemak dan minyak antara lain, yaitu: Pada temperatur kamar lemak berwujud padat dan minyak berwujud cair Gliserrida pada hewan berupa lemak (lemak hewani) dan gliserida pada tumbuhan berupa minyak (minyak nabati) Komponen minyak terdiri dari gliserrida yang memiliki banyak asam lemak tak jenuh sedangkan komponen lemak memiliki asam lemak jenuh

I.

DATA PENGAMATAN Standarisasi HCl Boraks (Na2B4O7.10H2O, Mr = 381,37 ) Parameter Berat (W) Volume (V) Kuantitas 4,022 gram 100 ml

Percobaan I II Rata-rata Angka penyabunan Percobaan I II. PERHITUNGAN A. Standarisasi W boraks = 4,022 gram 5,8 6,0 5,9

Volume HCl (mL)

Minyak (gram) 2,032

Volume HCl (b) ml 26,7

Volume HCl (a) ml 29

Mol boraks = W/Mr Normalitas boraks

= 4,022 gram / 381,37 = 0,0105 mol = x

= 0,2109 N

Konsentrasi HCl VHCl x NHCl = NHCl = = 0,894 N B. AngkaPenyabunan Vboraks x Nboraks

AP =

= 56,947 mg Pembahasan Pada modul praktikum kali ini praktikan melakukan percobaan dalam menentukan angka penyabunan atau disebut juga bilangan saponifikasi. Angka penyabunan ini dinyatakan sebagai banyaknya miligram basa (dalam percobaan ini menggunakan KOH) yang dibutuhkan untuk menyabunkan satu gram lemak atau minyak. Reaksi yang terjadi selama proses penyabunan atau saponifikasi yaitu : O || R C-O-CH2 O || R C O-K O O || || R - C O-CH + 3 KOH R C O-K + CHOH

CH2OH

O || R C O-CH2 (Trigliserida) (Kalium Hidroksida)

O || R C O -K (Sabun)

CH2OH (Gliserol)

Pada percobaan pertama, praktikan melakukan standarisasi HCl dengan cara menitrasi larutan standar boraks yang telah dibuat (sebagai analit) dengan HCl sebagai peniter dan bantuan indikator phenolptalein. Pada titrasi ini, volume Boraks yang dipakai sebanyak 25 mL lalu setelah dititrasi dengan HCl, didapat volume HCl pada saat mencapai titik ekivalen (terjadi perubahan warna) yaitu sekitar 5,9 mL. Kemudian melalui perhitungan didapat konsentrasi HCl sebesar 0,894 N. Percobaan selanjutnya yaitu merefluks campuran antara sampel minyak sebanyak 2,032 gram dengan larutan KOH-Alkohol sebanyak 25 mL selama 1 jam. Proses refluks bertujuan untuk mereaksikan sampel minyak dengan larutan KOH-Alkohol agar proses saponifikasi tersebut dapat berlangsung secara sempurna. Karena dalam proses saponifikasi tersebut, reaktan yang digunakan yaitu KOH-alkohol bersifat mudah menguap bila dipanaskan, sehingga untuk mencegah reaktan tersebut menguap selama proses pemanasan maka dilakukanlah proses refluks. Sedangkan ditambahkan alkohol pada KOH bertujuan sebagai pelarut untuk memudahkan pencampuran KOH dengan sampel minyak selama proses refluks. Kemudian campuran hasil refluks dititrasi dengan HCl yang telah distandarisasi. Metoda titrasi ini sangat penting dilakukan untuk mengetahui jumlah total lemak dan asam lemak dalam minyak. Titrasi yang dipakai adalah titrasi kembali, artinya KOH awal yang digunakan adalah berlebih kemudian kelebihan KOH yang tidak bereaksi dengan lemak dititrasi dengan HCl menggunakan indikator phenolptalein. Setelah dititrasi didapat volume HCl yang digunakan pada saat titik akhir (terjadi perubahan warna) yaitu 26,7 mL. Sedangkan titrasi untuk larutan KOH-Alkohol tanpa berisi minyak (berfungsi sebagai larutan blanko) mencapai titik akhir pada saat volume HCl yaitu 29 mL. Sehingga melalui perhitungan dapat ditentukan angka penyabunan dari percobaan ini sebesar 56,947 mg.

Angka penyabunan tersebut menunjukkan berat molekul lemak dan minyak secara kasar. Minyak yang disusun oleh asam lemak berantai karbon yang pendek berarti mempunyai berat molekul yang relatif kecil, akan mempunyai angka penyabunan yang besar dan sebaliknya bila minyak mempunyai berat molekul yang besar, maka angka penyabunan relatif kecil.

I. 1. 2.

KESIMPULAN Konsentrasi HCl setelah dilakukan standarisasi adalah 0,894 N. Diperlukan KOH sebanyak 183,2579 mg untuk setiap 1 gram minyak dalam proses saponifikasi DAFTAR PUSTAKA http://btagallery.blogspot.com/2010/02/blog-post_4540.html http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1320/1/tkimia-Netti.pdf http://www.scribd.com/doc/50182776/45/Penentuan-Bilangan-Penyabunan

Laporan Kimia Dasar II Reaksi Adisi Subtitusi

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang Reaksi subtitusi adalah penggantian suatu gugus atau atom dengan gugus atau atom lain. Pada reaksi subtitusi atom atau gugs atom yang terdapat dalam suatu molekul digantikan oleh atom atau gugus atom lain umumnya pada senyawa jenuh. Tetapi pada kondisi tertentu dapat juga terjadi pada senyawa tak tak jenuh. Reaksi adishi adalah penambahan masing-masing satu gugus kepada dua atom karbon yang mempunyai ikatain rangkap sehingga menghilangkan ikatan atau rangkapnya. Pada reaksi adisi, molekul senyawa yang memiliki ikatan rangkap menyerap atom atau gugus atom sehingga ikatan rangkap berubah menjadi ikatan tunggal seperti reaksi antara heksana dan iodin (I2). Berdasarkan prinsip diatas, maka reaksi-reaksi hidrokarbon diatas banyak digunakan untuk kepentingan industri antara lain untuk memproduksi bahan-bahan kimia organik, seperti industri

bahan pengawet makanan agar tidak mudah berbau tengik pada minyak cair. Contoh yaitu asitilena. Asitilena merupakan zat berupa gas, tidak berwarna, tidak berbau. Campuran gas asitiena dan oksigen digunakan untuk memperoleh suhu tinggi yang diperlukan untuk memotong dan mengelas logam. Oleh karena itu, praktikum ini dilakukan agar praktikan dapat mengerti dan memahami reaksi adisi dan reaksi subtitusi dan mengetahui perubahan reagen apabila reaksi tersebut terjadi. 1.2 Tujuan percobaan Mengetahui reaksi yang terjadi pada senyawa hidrokarbon Mengetahui mengapa benzena tidak dapat mengalami reaksi adisi Mengetahui hukum markovnikov

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


Alkana yang paling sederhana ialah metana. Semua alkana mempunyai rumus umum CnH2n+2 dengan n ialah banyaknya atom karbon. Alkana dengan rantai karbon yang tidak bercabang disebut alkana normal. Setiap anggota deret ini berbeda dengan yang berada di atasnya dan yang berada di bawahnya karena adanya gugus CH2 (disebut gugus metuana). Sederet senyawa yang anggotanya dibangun dengan mengulangi cara yang beraturan seperti ini dinamakan deret homolog (homologous series). Anggota-anggota deret seperti ini memiliki sifat kimia dan sifat fisika yang serupa, yang berubah berangsur-angsur jika ditambahkan atom karbon pada rantai. Pada masa awal ilmu kimia organik, setiap senyawa baru biasanya dinamai berdasarkan sumber atau penggunaannya. Misalnya limonena (dari jeruk limau), pinus). Aturan IUPAC untuk penamaan alkana. pinena (dari pohon

Nama umum untuk hidrokarbon jenuh asiklik ialah alkana. Akhiran ana digunakan untuk semua hidrokarbon jenuh.

Alkana tanpa cabang dinamai sesuai dengan banyaknya atom karbon. Untuk alkana dengan cabang, nama dasarnya ialah rantai lurus terpanjang yang terbentuk dari atom-atom karbon.

Gugus yang melekat pada rantai utama dinamakan substituen. Substituen jenuh yang hanya mengandung karbon dan hidrogen dinamakan gugus alkil. Gugus alkil dinamai dengan mengambil nama alkana yang mempunyai jumlah atom karbon yang sama dan mengubah akhiran ana menjadi il.

Rantai utama dinomori sehingga substituen pertama yang dijumpai di sepanjang rantai memperoleh nomor terendah. Setiap substituen kemudian diberi nama dan nomor atom karbon dilekatinya. Bila dua atau lebih gugus identik melekat pada rantai utama, digunakan awalan seperti oli, tri dan tetra. Setiap substituen harus dinamai dan dinomori meskipun dua substituen yang identik melekat pada karbon yang sama pada rantai utama.

Jika terdapat dua atau lebih jenis substituen, urutkan berdasarkan abjad, kecuali awalan seperti di dan tri yang tidak dianggap sewaktru pengurutan abjad.

Tanda baca merupakan hal penting bila menuliskan nama IUPAC. Nama IUPAC untuk hidrokarbaon ditulis sebagai satu kata. Nomor dipisahkan satu dengan lainnya dengan menggunakan tanda baca koma dan dipisahkan dengan huruf oleh tanda hubung. Tidak ada spasi di antara substituen yang dinamai terakhiran dan nama alkana induk yang mengikutinya (Harold Hart, 2003). Alkana tidak larut dalam air. Ini karena molekul air bersifat polar, sedangkan alkana bersifat non polar (semua ikatan C C dan C H nyaris kovalen murni). Ikatan O H dalam molekul air terpolarisasi dengan kuat berkat tingginya elektronegativitas oksigen. Senyawa yang mengandung hanya karbon, hidrogen dan suatu atom halogen, dapat dibagi dalam tiga kategori: alkil halida, aru halidah (dalam mana sebuah halogen terikat pada sebuah karbon dari suatu cincin aromatik) dan hauda vinilik (dalam nama sebuah halogen terikat pada sebuah karbon berikatan rangkap).

Contoh

: Alkil Halida (Rx) Aril Hauda (Arx) :

CH3I

(Iodometana)

Halida vinilik

CH = CHCl

Dalam reaksi kimia, struktur bagian alku (dari) suatu alku halida berperanan. Oleh karena itu perlu diperbedakan empat tipe alku halida: metil, primer, skunder dan tersier. Suatu metil halida ialah suatu struktur dalam nama satu hidrogen dari metana telah digantikan oleh sebuah halogen. Metil halida CH3F (Fluorometana) CH3Cl (Klomometana). Karbon ujung sebuah alku halide ialah atom karbon yang terikat pada halogen. Suatu akil halide primer (1o)(RCH2x) mempunyai satu gugus alkil terikat pada karbon ujung. Contoh CH3 CH2BR (erometana) (alku halide ditandai garis bawah). Suatu alku halide sekunder (2o)(R2CHx) mempunyai dua gugus alkil yang terikat pada karbon ujung dan suatu alku tersier (3o;)(R3Cx) mempunyai tiga gugus alkil yang terikat pada karbon ujung. Contoh alkil halide sekunder:

Atom karbon ujung suatu alkil halide mempunyai muatan positif parsial. Karbon ini rentan terhadap serangan oleh anion dan spesi lain yang mempunyai sepasang electron menyendiri dalam kulit luarnya. Dihasilkan reaksi substitusi = suatu reaksi dalam mana satu atom ion atau gugus disubstitusikan untuk (menggantikan) atom, ion atau gugus lain.

Contoh:

HO + CH3CH2 Br

==>

CH3CH2 OH + Br

Dalam reaksi substitusi akil halide, halide itu disebut gugus pergi suatu istilah yang berarti gugus apa saja yang dapat digeser dari ikatannya dengan suatu atom karbon, ion halide merupakan gugus pergi yang baik karena ion-ion ini merupakan basa yang sangat lemah. Basa kuat, bukat gugus pergi yang baik. Bila suatu alkil halide diolah dengan suatu basa kuat, dapat terjadi suatu reaksi eliminasi. Dalam reaksi ini sebuah molekul kehilangan atom-atom atau ion-ion dari dalam strukturnya. Produk organic suatu reaksi eliminasi suatu alkil halide adalah suatu alkena. Dalam tipe reaksi eliminasi ini, unsur H dan x keluar dari dalam alkil halide: oleh karena itu reaksi ini juga disebut dehidrohalogenasi (awalan de berarti minus atau hilangnya) (Ralp. J. Fessenden., 1982). Alkena mengandung sedikitnya satu ikatan rangkap dua karbon-karbon. Alkena mempunyai rumus umum CnH2n dengan n = 2,3, alkena yang paling sederhana C2H4, etilena, dimana kedua atom karbonnya terngridasasi Sp2 dan ikatan rangkap duanya terdiri dari satu ikatan sigma dan satu ikatan Pi, (Raymond Chang, 2005). Dalam penamaan alkena terdapat beberapa aturan yaitu: o Akhiran ena digunakan untuk menunjukkan ikatan rangkap karbon-karbon. Bila terdapat lebih dari satu ikatan rangkap, gunkan akhiran diena, -triena dan sturusnya. o Pilihlah rantai terpanjang yang mengandung baik karbon dengan ikatan rangkap maupun ikatan rangkap tiga. o Nomori rantai dari ujung terdekat dengan ikatan majuemuk, sehingga atom karbon pada ikatan itu memperoleh nomor terkecil. o Nyatakan posisi ikatan mejemuk menggunakan atom karbon dengan nomor terendah dari ikatan tersebut. o Jika terdapat lebih dari satu ikatan majemuk, nomori dari ujung terdekat dengan ikatan majemuk.

Tiga reaksi lazim alkena adalah reaksi dengan hydrogen, dengan klor dan dengan suatu hydrogen halide: Tiap reaksi adalah reaksi adiri. Dalam tiap kasus suatu pereaksi diadikan kepada alkena, tanpa terlepasnya atom-taom lain. Segera diketahui bahwa karakteristik utama senyawa tak jenuh ialah adisi pereaksi kepada ikatan-ikatan Pi. Dalam suatu reaksi adisi suatu alkena, ikatan Pi terputus dan pasangan elektronnya digunakan untuk membentuk dua ikatan sigma baru. Dalam tiap kasus, atom karbon Sp2 direhibridasi menjadi Sp3- senyawa yang mengandung ikatan Pi biasanya berenergi lebih tinggi dari pada senyawa yang sepa dan yang mengandung hanya ikatan sigma. Oleh karena itu suatu reaksi adisi biasanya eksoterm. Hidrogen halide mengadisi ikatan Pi alkena dan menghasilkan alkil halide. Jika sebuah alkena tak-simetris (yakni gugus-gugus yang terikat pada kedua karbon Sp2 tidak sama), akan terdapat kemungkinan diperoleh dua produk yang berlainan dari adisi Hx:

Dalam suatu adisi elektrofelik yang dapat menghasilkan dua produk, biasanya satu produk lebih melimpah dari pada produk yang lain. Dalam 1869, seorang ahli kima Rusia, Dalam adisi Hx kepada alkena tak simetris, H+ dari Hx menuju ke karbon berikatan-rangkap yang telah lebih banyak memiliki hydrogen.

Adisi HBr kepada alkena kadang-kadang berjalan mematuhi aturan Markovnikov, tetapi kadang-kadang tidak. (efek ini tak dijumpai dengan HCl atau HI) Benzena merupakan senyawa aromatic tersederhana dan senyawa yang telah seringkali dijumpai. Banyak senyawa benzene biasa mempunyai nama diri, yakni nama yang tak perlu bersistem. Benzena terdisubstitusi diberi nama dengan awalan orto, meta dan para dan tidak dengan nomor-nomor posisi satu sama lain dalam suatu cincin benzene: meta menandai hubungan 1,2; dan para berarti hubungan 1,4. Penggunaan orto, meta, dan para sebagai ganti nomor-nomor posisi hanya dipertahankan khusus untuk benzene terdisubstitusi (Keenan, 1986). Dalam senyawa hidrokarbon terdapat senyawa hidrokarbon jenuh dan tak jenuh.

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN


3.1 Alat dan bahan 3.1.1. Alat-alat Tabung reaksi Rak tabung reaksi Pipet teres Botol reagen Gelas ukur

3.1.2. Bahan-bahan Benzena Minyak goreng I2 n-heksan

ekstrak pandan Ekstrak mawar Ekstrak jahe

3.2 Prosedur kerja 3.2.1. Benzena + I2 Dimasukkan 10 tetes Benzena dalam tabung reaksi Dimasukkan 2 tetes I2 Dikocok, diamati perubahan yang terjadi

3.2.2. N-Heksan + I2 Dimasukkan 10 tetes N-Heksan dalam tabung reaksi Dimasukkan 2 tetes I2 Dikocok, diamati perubahan yang terjadi

3.2.3. Ekstrak pandan + I2 Dimasukkan 10 tetes Ekstrak pandan dalam tabung reaksi Dimasukkan 2 tetes I2 Dikocok, diamati perubahan yang terjadi

3.2.4. Ekstrak jahe + I2 Dimasukkan 10 tetes ekstrak jahe dalam tabung reaksi Dimasukkan 2 tetes I2 Dikocok, diamati perubahan yang terjadi

3.2.5. Ekstrak mawar + I2 Dimasukkan 10 tetes ekstrak mawar dalam tabung reaksi Dimasukkan 2 tetes I2 Dikocok, diamati perubahan yang terjadi

3.2.6. Minyak goreng + I2 Dimasukkan 10 tetes minyak goreng dalam tabung reaksi Dimasukkan 2 tetes I2 Dikocok, diamati perubahan yang terjadi

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil pengamatan Perlakuan Benzena + I2 - 10 tetes benzena dalam tabung reaksi - Ditambah 2 tetes I2 - Dikocok Larutan putih bening Larutan terbentuk 2 fase Larutan benzena (atas) warna merah menjadi bening agak merah muda Larutan I2 (bawah) menjadi kuning Pengamatan

N-Heksan + I2 - 10 tetes N-Heksan dalam tabung reaksi - Ditambah 2 tetes I2 - Dikocok Larutan putih bening Terbentuk 2 fase (fase padat dan fase cair) yang berwarna kuning muda

Ekstrak pandan + I2 - 10 tetes Ekstrak pandan dalam tabung reaksi - Ditambah 2 tetes I2 - Dikocok Larutan berwarna hijau pekat Warna larutan menjadi hijau kecoklatan

Ekstrak mawar + I2 - 5 tetes ekstrak mawar dalam tabung reaksi Warna larutan merah kecoklatan

- Ditambah 1 tetes I2 - Dikocok

Warna larutan menjadi lebih pudar

Ekstrak jahe + I2 - 5 tetes ekstrak jahe dalam tabung reaksi - Ditambah 1 tetes I2 - Dikocok Warna larutan kuning krem Warna larutan menjadi kuning krem kecoklatan Minyak goreng + I2 - 10 tetes minyak goreng dalam tabung reaksi - Ditambah 2 tetes I2 - Dikocok Warna larutan kuning muda Terbentuk 2 fase, fase atas (minyak goreng) berwarna kuning muda bening dan fase bawah (I2) berwarna kuning dan terdapat endapan 4.2. Reaksi 4.2.1. Benzena + I2

4.2.2. N-Heksan + I2

4.2.3. Ekstrak pandan + I2

4.2.4. Ekstrak mawar + I2

4.2.5. Ekstrak jahe + I2

4.2.6. Minyak goreng + I2

4.3. Pembahasan Reaksi adhisi merupakan reaksi penghilangan ikatan rangkap dari suatu senyawa karbon. Pada reaksi adhisi, molekul senyawa yang mempunyai ikatan rangkap menyerap atom sehingga

ikatan rangkap berubah menjadi ikatan jenuh setelah mengalami reaksi adisi akan menjadi senyawa jenuh. Contoh : CH8 CH + H2 CH2 = CH2 Reaksi subtitusi merupakan reaksi dimana atom atau gugus atom lain. Reaksi subtitusi umumnya terjadi pada senyawa yang jenuh (semua ikatan karbon-karbon merupakan ikatan tunggal) tetapi dengan kondisi tertentu dapat juga terjadi pada senyawa tak jenuh. Aturan markovnikov menyatakan bahwa apabila sebuah senyawa Hx diadisi kesebuah senyawa alkena asimetris, maka atom hidrogen akan terikat pada atom karbon yang sebelumnya mengikat lebih banyak atom hidrogen. Pada hukum anti markovnikov, jika pada reaksi adisi bila jumlah atom H pada kedua atom C ikatan rangkap berbeda, maka atom H akan berikatan pada atom karbon yang lebih sedikit atom H-nya. Prinsip percobaan reaksi adisi adalah apabila suatu rantai hidrokarbon dapat menerima tambahan atomatau gugus dari atomlain tanpa melebihi angka koordinasi maksimum dari atomnya sendiri , hal tersebut akan mengakibatkan putusnya ikatan rangkap menjadi ikatan tunggal. Prinsip percobaan reaksi subtitusi adalah reaksi penggantian, dimana satu atom hidrogen dari gugus alkana diganti oleh atom lain. Pada percobaan pertama dicampurkan benzena dengan Iodin (I2) dan larutan terbentuk menjadi 2 fase dan tidak ada endapan yang terbentuk. Hal ini menunjukkan bahwa benzena dapat bereaksi dengan Iodin. Pada fase atas (Benzena) larutan menjadi berwarna agak lembayung. Benzena merupakan senyawa yang mempunyai rantai terhubung yang sangat kokoh, sehingga sangat sulit untuk memutus ikatan rangkapnya, sehingga yang terjadi adalah reaksi subtitusi. Pada percobaan kedua decampurkan n-heksan dengan iodin (I2) dan larutan berwarna kuning muda. Hal ini terjadi karena perbedaan kepolaran, I2 merupakan larutan polar sedangkan n-heksan merupakan larutan non polar. Reaksi yang terjadi yaitu reaksi adisi. Dimana n-heksan menyerap I2 sehingga memutus ikatan rangkapnya, dan membuatnya menjadi ikatan tunggak. Pada percobaan kali ini terbentuk fase padat, hal ini dikarnakan sebagian reagen tidak ikut bereaksi.

Pada percobaan ketiga dicampurkan ekstrak pandan dengan iodin (I2). Pada reagen ini kedua larutan tidak saling bereaksi, sehingga hanya terjadi pemudaran warna karena bertambahnya jumlah larutan. Pada percobban keempat dicampurkan larutan ekstrak mawar dengan iodin (I2). Pada percobaan ini terjadi reaksi subtitusi, sehingga ekstrak mawar melepas oksigen dan menangkap iodin. Pada pecobaan kelima dicampurkan ekstrak jahe dengan iodin (I2), pada reagen ini tidak terjadi reaksi apapun, sehingga hanya terjadi pemudaran warna karena penambahan jumlah larutan. Pada percobaan keenam dicampurkan minyak goreng dengan I2 terjadi reaksi adisi . hal ini karena minyak goreng merupakan senyawa tak jenuh danikatan rangkap menyerap I2 sehingga terjadi pemutusan ikatan. Fungsi pengocokan yaitu agar suatu larutan dapat tercampur dan bereaksi, fungsi penambahan reagen I2 untuk memutuskan ikatan rangkap pada reaksi adisi dan pengoksidasi dengan melepas H2 pad reagen yang diuji yaitu benzena, n-heksan, ekstrak mawar, ekstrak pandan ekstrak jahe dan minyak goreng. Faktor kesalahan pada praktikum kali ini adalah reagen yang dibiarkan sudah lama dibiarkan terkena udara sehingga teroksidasi oleh udara tersebut dan menyebabkan hasil praktikum kurang maksimal.

BAB 5 PENUTUP
5.1. Kesimpulan - Reaksi-reaksi yang terjadi pada senyawa hidrokarbon ialah reaksi adisi dan subtitusi - Pada benzena tidak terjadi reaksi adisi karena benzena merupakan suatu senyawa yang rantainya terhubung sangat kokoh, sehingga sangat sulit untuk memutus ikatan rangkapnya.

- Aturan markovnikov menyatakan bahwa apabila sebuah senyawa Hx diadisi kesebuah senyawa alkena asimetris, maka atom hidrogen akan terikat pada atom karbon yang sebelumnya mengikat lebih banyak atom hidrogen. Pada hukum anti markovnikov, jika pada reaksi adisi bila jumlah atom H pada kedua atom C ikatan rangkap berbeda, maka atom H akan berikatan pada atom karbon yang lebih sedikit atom H-nya.

5.2. Saran Sebaiknya juga digunakan senyawa lain seperti Br2 agar dapat dibandingkan antara I2 dan Br2.

DAFTAR PUSTAKA

Fressenden, John R. 1982. Kimia Organik Edisi ke 3 Jilid 2. Erlangga: Jakarta Keenan, W Charles. 1986. Ilmu Kimia Untuk Untuk Universitas. Erlangga: Jakarta Raymond, Chang. 2005. Kimia Dasar Konsep 2. Erlangga: Jakarta Diposkan oleh Affif Riskani Noor di 01.00

Laporan Kimia Dasar II Aldehid Keton

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Aldehid dan keton adalah keluarga besar dari senyawa organik yang termasuk dalam kehidupan sehari-hari kita. Senyawa-senyawa ini menimbulkan bau wangi pada banyak buahbuahan dan parfum mahal. Contohnya, sinamaldehida (suatu aldehida) menyebabkan bau kayu manis (sinamon) dan siveton (suatu keton) yang digunakan untuk bau musky (menyengat, sumber asli dari semacam rusa) pada banyak parfum. Formaldehida merupakan komponen material dalam berbagai material dalam bangunan rumah. Keton testoteron dan estron banyak

dikenal sebagai hormon yang menimbulkan ciri seksual. Selain itu, kimia aldehida dan keton berperan dalam cara kita mencerna makanan dan cara kita melihat. Aldehid dan keton memiliki gugus karbonil, C O yang merupakan gugus fungsi

paling penting dalam kimia organik. Seperti yang telah dibahas di atas, senyawa ini penting dalam banyak proses biologi dan sering merupakan mata niaga yang penting. Rumus aldehid dan keton adalah sebagai berikut, Aldehid : RCH O Keton : RCR O Karena aldehid dan keton tidak mengandung hidrogen yang terikat pada oksigen, maka tidak dapat terjadi ikatan hidrogen seperti pada alkohol, Namur senyawa ini dapat membentuk ikatan hidrogen dengan atom hidrogen dari air dan alkohol, karena adanya ini kelarutan aldehid dan keton dalam air sejajar dengan alkohol. Yang melatar belakangi Percobaan ini untuk mengetahui bagaimana cara dan perbedaan dari aldehid dan keton. Serta untuk mengetahui reaksi-reaksi yang terjadi pada sampel jika ditambahkan dengan pereaksi fehling dan pereaksi benedict. atau RCOR atau RCOH

1.2. Tujuan Mengetahui perbedaan dari senyawa aldehid dan keton Mengetahui kegunaan aldehid dan keton Mengetahui kegunaan pereaksi fehling dan pereaksi benedict dalam percobaan.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

Aldehid dan keton dicirikan oleh adanya gugus karbonil. Aldehida memiliki sedikitnya satu atom hidrokarbon melekat pada atom karbon karbonil. Gugus sisanya dapat berupa atom hidrogen lain atau gugus organik alifatik atau aromatik. Gugus CHO yang merupakan ciri dari aldehida sering disebut gugus formil. Pada karbon, atom karbon karbonil terhubung dengan dua atom karbon lain.

2.1. Tata Nama Aldehida dan Keton

Dalam sistem IUPAC, akhiran penciri untuk aldehida ialah al (dari suku kata pertama aldehida. Contoh:

Karena aldehida telah lama dikenal, maka nama-nama umumnya sering digunakan dan biasanya dicantumkan di bawah nama IUPAC-nya. Untuk aldehida yang tersubstitusi, kita nomori rantai dimulai dengan karbon aldehida.

Untuk aldehida siklik, digunakan akhiran karbaldehida. Aldehida aromatik sering mempunyai nama umum.

Sekitar setengah dari asetal dehida yang diproduksi setiap tahun dioksidasi menjadi asam asetat. Sisanya digunakan untuk produksi 1-butanol dan bahan kimia komersial lainnya. Aseton yaitu keton paling sederhana, juga diproduksi secara besar-besaran, sekitar 2 miliar setiap tahun. Metode yang paling sering digunakan untuk sintesis komersialnya ialah oksidasi propena, oksidasi isopropil alkohol, dan oksidasi isopropil benzena.

Sekitar 30% aseton digunakan secara langsung, sebab aseton tidak saja bercampur sempurna dengan air tetapi juga merupakan pelarut yang baik untuk banyak zat organic (resin, cat, zat warna, dan cat kuku). Sisanya digunakan untuk pembuatan bahan kimia komersial lain, termasuk bifenol 1 A untuk resin epoksi. Kuionon merupakan golongan senyawa karbonil yang unik. Senyawa ini merupakan diketon terkonjugasi siklik. Semua kuinon berwarna, dan banyak di antaranya berupa pigmen alami yang digunakan sebagai zat warna. Alizarin adalah kuinon berwarna jingga-merah yang digunakan untuk mewarnai mantel dalam seragam merah tentara Inggris selama Revolusi Amerika. Vitamin K adalah kuinon yang diperlukan untuk pembekuan darah secara normal. (Ham,2006) Dalam sistem IUPAC, akhiran untuk keton adalah on (dari suku kata terakhir keton). Rantai dinomori sehingga karbon karbonil memiliki nomor terendah. Nama umum keton

dibentuk dengan menambahkan kata keton pada nama gugus alkil atau aril yang melekat pada karbon karbonil.

O CH3CCH3

O
3 4

CH3CH2CCH2CH3

O
2 3 4

CH3CCH2CH3 Contoh:

2.2. Beberapa aldehida dan keton yang sering dijumpai Formaldehida, yaitu aldehida yang sederhana, dibuat secara besar-besaran melalui oksidasi metanal.

Formaldehida berwujud gas (Td -21oC), tetapi gas ini tidak dapat disimpan dalam keadaan bebas karena akan mudah berpolimerisasi. Biasanya formaldehida dipasok sebagai larutan berair 37% yang disebut formalin. Dalam bentuk ini formalin digunakan sebagai desinfektan dan pengawet, namun sebagian besar formaldehida digunakan dalam pembuatan plastik, insulasi bangunan, papan partikel, dan kayu lapis. Asetaldehida mendidih di dekat suhu kamar (Td 20oC). senyawa ini dibuat melalui oksidasi etilena dengan bantuan Pd-Cu (Hart,Harold.2003). 2.3. Reaksi-Reaksi Aldehida 1. Oksidasi Aldehida adalah reduktor kuat, sehingga dapat mereduksi oksidator-oksidator lemah. Pereaksi Tollens dan Fehling merupakan contoh oksidator lemah yang merupakan pereaksi khusus untuk mengenali aldehida. Oksidasi aldehida menghasilkan asam karboksilat.

2. Reduksi (Adisi Hidrogen)

Ikatan rangkap CO dari gugus fungsi aldehida dapat diadisi gas hidrogen alkohol primer. Adisi hidrogen menyebabkan penurunan bilangan oksidasi atom karbon gugus fungsi oleh karena itu adisi hidrogen tergolong reduksi. 2.4. Reaksi-Reaksi Keton 1. Oksidasi Keton merupakan reduksi yang lebih lemah dari pada aldehida, zat-zat pengoksidasi lemah seperti pereaksi. Tollens dan pereaksi fehling tidak dapat mengoksidasi keton. Oleh karena itu, aldehida dan keton dapat dibedakan dengan menggunakan pereaksi-pereaksi tersebut. Aldehida + pereaksi tollens ==> cermin perak

Keton + pereaksi tollens ==> tidak ada reaksi Aldehida + pereaksi fehling ==> endapan merah bata Keton + pereaksi fehling ==> tidak ada reaksi 2.5. Aldehid dan Keton di Alam Aldehida dan keton sangat banyak di alam. Banyak aldehida dan keton memilki bau yang harum dan cita rasa, sehingga sifat ini dimanfaatkan dalam produk parfum dan produk konsumsi lainnya (contohnya sabun, pemutih, dan pengharum ruangan). Namum penggumpalan dan ekstraksi zat wangi ini dari bunga, tumbuhan kelenjar hewan sangat mahal. Chanel 5, yang memasuki pasar parfum pada tahun 1921 merupakan wangi-wangian pertama yang menggunakan bahan kimia organik sintetik. Sebagian besar pembuatan wewangian melakukan hal yang sama. H CO Formaldehida merupakan aldehid yang paling banyak diproduksi dan mempunyai banyak kegunaan, antara lain : untuk mengawetkan mayat, untuk membuat berbagai jenis plastik. Keton yang paling banyak penggunaannya adalah propanon, dengan nama dagang aseton. Fruktosa dapat berekasi dengan fehling karena fruktosa dapat mereduksi pereaksi fehling karena mengalami suatu proses yang disebut penataan ulang sehingga membentuk struktur aldosa dari gugus ketosa

Fungsi Penambahan fehling (A+B) pada sampel dalam percobaan ini adalah untuk menguji zat-zat yang bersifat mereduksi dengan ciri terbentuknya endapan berwarna kuning, hijau, atau merah bata sehingga dapat diketahui sampel mana yang termasuk senyawa keton. Gula pereduksi adalah gula yang bersifat mereduksi ion tembaga (Cu2O) pada pereaksi fehling atau ion perak pada pereaksi benedict. Contoh : glukosa, Fruktosa. Gula non pereduksi adalah gula yang tidak dapat mereduksi Cu2O atau ion perak. Contoh : sukrosa. Reaksi tautomerisasi adalah proses pengubahan dari keton menjadi aldehid. Ketosa yaitu monosakarida yang mengandung gugus keton (CO) dan beberapa gugus hidroksilat. Contoh : fruktosa. Sedangkan aldosa yaitu monosakarida yang memiliki satu gugus aldehida (CHO) dan beberapa gugus hidroksil. Contohnya : galaktosa, glukosa, manosa, ribosa. Aldehid dan keton memiliki banyak kegunaan, diantaranya : Aldehid Formaldehid : Bahan pengawet. Contoh biologi, bahan pengawet manusia, bahan pembuat berbagai jenis plastik termoset. Sinamaldehid : penyebab bau khas pada kayu manis Vanili : aroma pada vanili

Keton Aseton : pelarut plitur dan plastik Metiletil keton : pelarut koteks Muskon : bahan pembuat minyak wangi (Petrucci, 1958).

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN


3.1. Alat dan Bahan 3.1.1. Alat-Alat Tabung reksi Rak tabung Pipet tetes Water bath Penjepit tabung Hot plate Gelas kimia Botol reagen

3.1.2. Bahan-Bahan Pereaksi Fehling A Pereaksi Fehling B AgNO3 Na4OH Madu Galaktosa Sukrosa Ekstrak tebu Ekstrak kelengkeng Fruktosa Glukosa Aseton aquades

3.2. Prosedur Percobaan

3.2.1.

Uji fehling terhadap Madu, Galaktosa, Sukrosa, Ekstrak tebu ,Ekstrak kelengkeng , Aseton, dan Glukosa

Dimasukkan 5 tetes fehling A ke dalam tabung reaksi Ditambahkan 5 tetes fehling B Ditambahkan 10 tetes Madu Diulangi dengan mengganti Madu dengan Galaktosa, Sukrosa, Ekstrak tebu, Ekstrak kelengkeng, Aseton,dan Glukosa

Dipanaskan selama beberapa menit diatas Hot plate Diamati perubahan yang terjadi

3.2.2. Uji

Fehling

terhadap

Madu,Galaktosa,Sukrosa,Ekstrak

tebu,Ekstrak

kelengkeng,Aseton,dan Glukosa Dimasukkan 5 tetes AgNO3 ke dalam tabung reaksi Ditambahkan 5 tetes Na4OH Ditambahkan 10 tetes Madu Diulangi dengan mengganti Madu dengan Galaktosa, Sukrosa, Ekstrak tebu, Ekstrak kelengkeng, Aseton, Glukosa Dipanaskan selama beberapa menit diatas Hot plate Diamati perubahan yang terjadi

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil pengamatan 4.1.1. Tabel pengamatan pada percobaan Aldehid dan Keton No 1 Uji fehling Madu - Dimasukan 10 tetes fehling (A+B) - Warna larutan (awalnya biru) berubah - Ditambahkan 10 tetes Madu lalu menjadi merah bata dan terdapat dipanaskan 2 Galaktosa Dimasukkan 10 tetes fehling - Warna larutan (awalnya biru) berubah (A+B) menjadi kuning tua kecoklatan dan endapan merah bata Perlakuan Pengamatan

- Ditambahkan 10 tetes Galaktosa terdapat endapan merah bata lalu dipanaskan 3 Sukrosa Dimasukkan 10 tetes fehling - Warna larutan (awalnya biru) menjadi (A+B) hijau gelap dan terdapat endapan merah

- Ditambahkan 10 tetes sukrosa lalu bata dipanaskan 4 Ekstrak tebu Dimasukkan 10 tetes fehling - Warna larutan (awalnya biru) menjadi (A+B) orange kemerahan dan terdapat

- Ditambahkan ekstrak tebu lalu endapan merah bata dipanaskan 5 Fruktosa Dimasukkan 10 tetes fehling - Warna larutan (awalnya biru) menjadi (A+B) merah bata dan terdapat endapan merah

- Ditambahkan 10 tetes fruktosa bata

lalu dipanaskan 6 Ekstrak kelengkeng - Dimasukkan 10 tetes fehling (A+B) - Warna larutan (awalnya biru) menjadi hijau muda kecoklatan dan terdapat

- Ditambahkan 10 tetes ekstrak endapan merah bata kelengkeng lalu dipanaskan 7 Aseton - Dimasukkan 10 tetes fehling (A+B) - Ditambahkan 10 tetes Aseton 8 Glukosa - Dimasukkan 10 tetes fehling (A+B) - Warna larutan (awalnya biru) menjadi - Ditambahkan 10 tetes Glukosa lalu merah bata dan terdapat endapan merah dipanaskan 9 Uji tollens Madu Dimasukkan 10 tetes tollens - Warna larutan menjadi hitam pekat dan bata Warna larutan tidak berubah (tidak terjadi reaksi)

Ditambahkan 10 tetes Madu lalu terdapat kristal kaca dibawah tabung dipanaskan

10 -

Galaktosa Dimasukkan 10 tetes tollens Warna larutan menjadi coklat tua dan

Ditambahkan 10 tetes Galaktosa terbentuk kristal kaca dibagian dasar lalu dipanaskan

11 -

Sukrosa Dimasukkan 10 tetes tollens Warna larutan menjadi hitam

Ditambahkan 10 tetes Sukrosa kecoklatan dan terbentuk kristal kaca lalu dipanaskan dibagian dasar

12 -

Ekstrak tebu Dimasukkan 10 tetes tollens Warna larutan menjadi abu-abu

Ditambahkan 10 tetes Ekstrak kehitaman dan terbentuk kristal kaca tebu lalu dipanaskan dibagian dasar

13 -

Fruktosa Dimasukkan 10 tetes tollens Warna larutan menjadi abu-abu agak

Ditambahkan 10 tetes Fruktosa bening dan terbentuk kristal kaca lalu dipanaskan Ekstrak kelengkeng dibagian dasar

Dimasukkan 10 tetes tollens

Warna

larutan dan

menjadi

coklat endapan

Ditambahkan 10 tetes Ekstrak kehitaman kelengkeng lalu dipanaskan

terbentuk

kristal kaca dibagian dasar

15 16 -

Aseton Dimasukkan 10 tetes tollens Ditambahkan 10 tetes Aseton Glukosa Dimasukkan 10 tetes tollens Warna larutan menjadi abu-abu dan Warna tidak berubah (tidak terjadi reaksi)

Ditambahkan 10 tetes Glukosa terbentuk kristal kaca dibagian dasar lalu dipanaskan

4..2 Reaksi-Reaksi 4.2.1 Reaksi Tollens AgNO3 + 2NH4ON Ag (NH3)2 OH + H2O + No3- + H+ 4.2.2 Reaksi Fehling A + Fehling B

4.3 Pembahasan Pada percobaan kali ini dilakukan percobaan tentang Aldehid dan Keton. Aldehid dan Keton adalah suatu senyawa yang tersusun dari unsur unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. Keduanya dapat diperoleh dari oksidasi alkohol, aldehida dari alkohol primer dan keton dari alkohol sekunder. Aldehid dapat dioksidasi sedangkan keton tidak. Untuk mengetahui perbedaan antara aldehid dan keton dapat dilakukan uji fehling dan uji tollens. Prinsip dari uji fehling adalah suatu cara untuk mengidentifikasi suatu senyawa dengan mereaksikanya dengan pereaksi fehling AB dan ditandai dengan adanya endapan merah bata. Sedangkan pada uji tollens dengan cara direaksikan dengan pereaksi tollens dan ditandai dengan terbentuknya kristal kaca. Metode dari percobaan uji fehling, pertama direaksikan fehling A dan fehling B untuk mendapatkan fehling AB kemudian fehling AB direaksikan dengan sampel, yang dibantu dengan pemanasan untuk mempercepat reaksi yang apabila larutan terbentuk endapan merah bata, maka larutan sampel tersebut termaksud aldehid dan apabila tidak sampel termasuk keton.

Metode dari percobaan uji tollens pertama direaksikan AgNO3 dan Na4OH untuk mendapatkan tollens. kemudian tollens direaksikan dengan sampel yang dibantu dengan pemanasan untuk mempercepat apabila larutan terbentuk kristal kaca di tabung reaksi, maka larutan tersebut termasuk aldehid sedangkan apabila tidak sampel termasuk keton. Penggolongan karbohidrat berdasarkan hidrolisis dibagi menjadi monosakarida merupakan karbohidrat paling sederhana karena molekulnya hanya terdiri atas beberapa atom C dan tidak dapat diuraikan dengan cara hidrolisis menjadi karbohidrat lain contoh ketosa dan fruktosa, glukosa, galaktosa. Disakarida merupakan karbohidrat yang terbentuk dari dua molekul monosakarida yang berikatan melalui gugus OH dengan melepaskan molekul air contoh sukrosa, laktosa, maltosa. Polisakarida merupakan karbohidrat yang terbentuk dari banyak sakarida sebagai monomernya contoh selulosa, glikogen, dan amilum. Pada uji fehling setelah diamati didapat madu, galaktosa, sukrosa, ekstrak tebu, fruktosa,ekstrak kelengkeng, dan glukosa. Dapat bereaksi dengan pereaksi fehling yang ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata hal ini menunjukan bahwa sampel tersebut merupakan aldehid dan pada sampel aseton tidak terjadi reaksi yang menandakan bahwa aseton adalah keton. Pada uji tollens setelah diamati didapat madu, galaktosa, sukrosa, ekstrak tebu, fruktosa, ekstrak kelengkeng,dan glukosa dapat bereaksi dengan tollens yang ditandai dengan

terbentuknya kristal kaca ditabung reaksi. Hal ini juga menunjukan bahwa sampel-sampel tersebut tergolong aldehid dan aseton tidak dapat bereaksi dengan tollens yang menunjukan bahwa aseton adalah keton. Madu, ekstrak kelengkeng, ekstrak tebu tergolong dalam aldehid karena mengandung sukrosa. Faktor kesalahan dalam percobaan ini adalah pipet yang digunakan tidak bersih serta reagen yang sudah lama dibiarkan di udara mengakibatkan hasil yang didapat kurang maksimal.

BAB 5 PENUTUP

5.1. Kesimpulan Perbedaan aldehid dan keton : No. 1. Jenis Gugus fungsi O 2. Bila direduksi Menghasilkan alkohol primer 3. Bila dioksidasi Menghasilkan karboksilat 4. Pereaksi Tollens Aldehid HCH O Menghasilkan alkohol sekunder asam Tidak dioksidasi dapat Keton RCR

Menghasilkan cermin Tidak ada reaksi perak

5.

Pereaksi Fehling

Menghasilkan endapan merah bata

Tidak ada reaksi

Kegunaan aldehid dan keton

o Aldehid 1. Formaldehid, untuk mengawetkan contoh biologi dan mengawetkan mayat serta untuk membuat berbagai jenis plastik termoset 2. Sinamaldehid, penyebab bau pada kayu manis 3. Sebagai Komponen berbagai material dan bangunan rumah o Keton 1. Aseton, sebagai pelarut, khususnya untuk zat-zat yang kurang polar dan non polar 2. Beberapa keton siklik merupakan bahan pembuat parfum Dalam percobaan ini, pereaksi fehling digunakan untuk menguji zat-zat yang bersifat mereduksi, dengan ciri terbentuknya endapan berwarna kuning, hijau atau merah pada zat yang telah ditetesi dengan pereaksi fehling. Pereaksi benedict digunakan untuk uji kualitatif zat-zat yang bersifat mereduksi.

5.2. Saran Sebaiknya pada saat dilakukan pemanasan, tabung reaksi yang dipanaskan jangan diangkat terlalu sering untuk mempercepat reaksi yang terjadi.

DAFTAR PUSTAKA

HAM, Mulyono. 2006. Kamus Kimia. Jakarta : Bumi Aksara Hart, harold. 2003. Kimia Organik Edisi II. Jakarta : Erlangga Petrucci, Ralph. H. 1958. Kimia Dasar Jilid 3. Jakarta : Erlangga

Laporan Kimia Dasar I Stoikiometri

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Reaksi kimia biasanya antara dua campuran zat, bukannya antar dua zat murni. Suatu bentuk yang paling lazim dan campuran adalah larutan reaksi kimia tlah mempengaruhi kehidupan kita. Di alam sebagian besar reaksi berlangsung dalam larutan air. Sebagai contoh cairan tubuh kita, tumbuhan maupun hewan, merupak larutan dari berbagai jenis zat. Dalam tanah pun reaksi pada umumya berlangsung dalam lapisan tipis lerutan yang diabsorbsi pada padatan. Adapun contoh di kehidupan kita sehari-hari yang menggunakan reaksi kimia seperti, makanan yang kita konsumsi setiap saat setelah dicerna diubah menjadi tenaga tubuh. Nitrogen dan hydrogen bergabung membentuk ammonia yang digunakan sebagai pupuk. Bahan bakar dan plastik dihasilkan oleh minyak bumi, pati tanaman dalam daun disintesis dan dan O oleh pengaruh sinar matahari. Pelajaran yang berkaitan dengan reaksi kimia lazim dikenal sebagi stokiometri. Stokiometri adalah bagian ilmu kimia yang mempelajar hubungan kunatitatif antara zat yang berkaitan dalam reaksi kimia.

Bila senyawa dicampur untuk bereaksi maka sering tercampur secara kuantitatif stokiometri, artinya semua reaktan habis pada saat yang sama. Namun demikian terdapat suatu reaksi dimana salah satu reaktan habis, sedangkan yang lain masih tersisa. Reaktan yang habis disebut pereaksi pembatas. Dalam setiap persoalan stokiometri, perlu untuk menentukan reaktan yang mana yang terbatas untuk mengetahui jumlah produk yang dihasilkan. Oleh karena itu percobaan ini dilakukan. Diharapkan kita mengerti tentang pereaksi pembatas dan pereaksi sisa.

1.2. Tujuan Percobaan Untuk mengetahui titik maksimum dan titik minimum NaOH-HCl Untuk mengetahui titik maksimum dan titik minimum dari campuran NaOH Untuk menetukan reaksi stokiometri dan non stokiometri

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Pengertian stoikiometri Reaksi kimia telah mempengaruhi kehidupan kita. Sebagai contoh : makanan yang kita konsumsi setiap saat setelah dicerna berubah menjadi tenaga tubuh. Nitrogen dan Hidrogen bergabungn membentuk ammonia yang digunakan sebagai pupuk, bahan bakar dan plastic dihasilkan dari minyak bumi. Pati dalam tanaman dalam daun disintetis dari CO2 dan H2O oleh pengaruh energi matahari. Jadi dapat dikatakan bahwa stoikiometri adalah ilmu yang mempelajari kuantitas produk dan reaktan dalam reaksi kimia (Chang, 2003). Dengan kata lain stoikiometri adalah perhitungan kimia yang menyangkut hubungan kuantitatif zat yang terlibat dalam reaksi (Syukri S, 1999). 2.2. Hukum-hukum dasar ilmu kimia 2.2.1. Hukum kekekalan massa Hukum kekekalan massa ditemukan oleh Antonio Lauren Lavoisier (1785) yang berbunyi massa zat sebelum dan sesudah reaksi adalah sama. Contoh larutan A terdiri dari perak nitrat 3,40 gram dan 25 ml air ditambahkan kedalam larutan B yang terdiri dari 3,92 gram kalium

kromat dan 25 ml air. Pada pencampuran ini terjadi reaksi dan menghasilkan endapan coklat. Setelah selesai dan ditimbang ternyata bobot campuran larutan A dan B itu tetap, yaitu 57,32 gram. Berdasarkan hukum kekekalan massa cacah atom tiap unsur ( bersenyawa atau bebas) yang ada disebelah kiri tanda panah persis sama dengan cacah atom tiap unsur atau senyawa yang ada disebalah kanan. 2.2.2. Hukum perbandingan tetap Setelah munculnya hukum kekekalan massa, maka sekitar tahun 1800 Josep Louis Proust melakukan penelitian tentang hubungan massa unsur-unsur yang membentuk senyawa. Hasil penelitannya menunjukkan perbandingan massa unsur-unsur yang menbentuk suatu senyawa tetap. Kemudian lahir hukum proust atau hukum perbandingan tetap yang berbunyi: setiap senyawa terbentuk dari unsur-unsur dengan perbandingan tetap. 2.2.3. Hukum perbandingan ganda John Dalton tahun 1804 adalah orang yang pertama kali meneliti kasus adanya perbandingan tertentu suatu unsur-unsur yang dapat membentuk senyawa lebih dari satu, yang dikenal dengan nama hukum perbandingan tetap.Hukum Perbandingan Ganda berbunyi; bila dua macam unsur yang sama banyaknya, massa unsur berikutnya dalam senyawa-senyawa itu akan berbanding sebagai bilangan bulat positif dan sederhana. Contoh: pada senyawa antara nitrogen dan oksigen. Bobot (gram) Perbandingan massa oksigen Niroge Oksige untuk massa nitrogen tetap n n Nitrogen monoksida 14 16 1 x 16 Nitrogen dioksida 14 32 2 x 16 Nitrogen trioksida 14 40 3 x 16 Dari contoh di atas dapat dilihat bahwa untuk massa nitrogen tetap maka perbandingan oksigen dari ketiga tersebut adalah; 1 : 2 : 3 2.2.4. Hukum perbandingan volume Hubungan antara volume dari gas-gas dalam reaksi kimia telah diselidiki oleh Joseph Louis Gay-Lussac dalam tahun 1905. Hasil penelitian ini lahir hukum perbandingan tetap yang berbunyi: volume gas-gas yang bereaksi, volume gas-gas hasil reaksi , bila diukur pada suhu dan tekanan yang tetap akan berbanding sebagai bilangan bilangan bulat dan sederhana. 2.2.5. Hukum Avogadro Senyawa

Avogadro sangat tertarik mempelajari sifat gas dan pada tahun 1911 avogadro membuat hipotesis Avogadro yang berbunyi: pada suhu dan tekanan yang tetap, semua gas yang volumenya sama akan mengandung mokelul yang sama cacahnya (Syukri S 1999). 2.3. Persamaan kimia Persamaan kimia terdiri dari tiga hal yaitu pereaksi, anak panah dan hasil reaksi. Pereaksi adalah zat mula-mula yang terdapat sebelum terjadi reaksi. Hasil reaksi adalah zat apa saja yang dihasilkan selama reaksi kimia berlansung. Suatu reaksi kimia berimbang menujukkan rumus pereaksi kemudian anak panahdan hasil reaksi dengan jumlah atom dikiri dan di kanan anak panah sama. Persamaan kimia memberikan dua macam informasi penting yaitu tentang sifat reaktan dan produk. Sifat reaktan dan produk harus ditentukan secara percobaan. Persamaan reaksi sering ditunjukkan keadaan fisika reaktan dan produk (Sastrohamidjojo H, 2000). Keadaan Padat Cair Gas Larutan berair 2.3.1. Penulisan rumus kimia Rumus suatu zat menyatakan banyaknya atom yang menyusun zat tersebut. Ada beberapa jenis rumus antara lain: a. Rumus Unsur Rumus unsur kebanyakan unsur ditulis berdasarkan lambangnya baik yang monoatomik seperti Na, Ca, dan Fe, diatomik seperti; H2, Cl2, dan F2, maupun berupa poliatomik seperti S8 dan P4. b. Rumus Empiris Rumus empiris menyatakan perbandingan bilangan bulat terkecil dari atom-atom yang membentuk suatu senyawa, misalnya H2O2 mempunyai rumus empiris HO c. Rumus molekul Rumus molekul menyatakan banyaknya atom yang sebenarnya yang terdapat dalam molekul atau satuan terkecil dari suatu senyawaan. Symbol (p) (c) (g) (aq)

2.3.2. Menulis persamaan berimbang Untuk menulis suatu persamaan dapat dilakukan dengan dengan tiga cara yaitu sebagai berikut : 1. Tulis nama pereaksi, kemudian anak panah, dan kemudian hasil reaksi, (Metana + Oksigen karbon dioksida + air) 2. tulis ulang setiap pernyataan itu dengan menggunakan rumus tiap zat, (CH4 + O2 H2O) 3. berimbangkan persamaan dengan memilih koefisien bilangan bulat yang sesuai untuk setiap rumus, (CH4 + 2O2 CO2 + 2H2O) Apabila satuan rumus telah dikenali, ini merupakan cara sederhana untuk menentukan bobot rumus suatu senyawa. Bobot rumus adalah masa dari satuan rumus relatif terhadap massa yang ditentukan. 1200000 untuk atom karena bobot atom juga relatif terhadap , bobot rumus dapat ditentukan dengan penjumlahan bobot atom-atomnya. Bilasuatu senyawa menganding molekul-molekul diskrit, dapat juga didefinisikan bobot molekulnya. Bobot molekul adalah massa dari sebuah molekul terhadap massa yang ditentukan 1200000 untuk satuan atom (Ralph Petrucci, 1987). Bobot satu mol suatu zat disebut bobot molar. bobot molar dalam gram suatu zat secara numeris sama dengan bobot molekul dalam satuan massa atom. Untuk menafsirkan persamaan kimia dalam kuantitas zat yang dapat dipelajari dilaboratorium mula-mula semua kuantitas dinyatakan dalam mol. Hampir selalu terlalu terdapat pereaksi yang kurang banyak ketimbanag yang dibutuhkan agas semua pereaksi bersenyawa. Pereaksi pembatas adalah zat yang habis bereaksi saat reaksi kimia. Pereaksi sisa adalah zat yang masih tertinggal / bersisa pada reaksi kimia. Perhitungan yang didasarkan persamaan harus dimulai dari banyaknya pereaksi pembatas (keenan, 1984). Mol dari suatu zat adalah banyaknya susatu zat yang mengandung 6,022 1023 satuan. Konsep mol sangatlah penting dalam ilmu kimia karena berguna dalam menentukan jumlah partikelzat jika diketahui massa dan massa relatif. Dalam perhitungan hubungan antara massa dengan mol adalah CO2 +

Keterangan : n = jumlah mol (mmol)

M = massa zat (M) V = volume zat (ml) Konsep mol juga terdapat pada gas dan suhu dengan tekanan yang sama. Persamaan ini dikenal dengan persamaan gas ideal yang dinyatakan sebagai

atau

Keterangan : T = suhu n = jumlah mol P = tekanan gas V = volume R = tetapan gas (0,082) Terdapat banyak metode untuk menentukan presentase bobot dari unsur-unsur yang berbeda dalam suatu senyawa. Metode ini beraneka ragam tergantung pada mecam senyawa dan unsur yang menyusunnya. Dua metode klasik yaitu : a. Metode analisis pengendapan dapat digunakan bila berbentuk senyawa yang sedikit sekali larut. Misalnya suatu senyawa baru mengandung perak, maka dapat dilarutkan. Persentase perak dapat dihitung dengan :

atau

b. Metode analisis pembakaran digunakan secara meluas. Jika suatu zat mengandung karbon dan hydrogen. Contoh senyawa itu setelah ditimbang dapat dibakar dalam suatu tabung tertutup dalam suatu aliran oksigen, untuk menghasilkan karbon dioksida dan air. Produk pembakaran dikeluarkan dari tabung dengan aliran oksigen kedalam 2 bahan penyerap, satu penyerap air dan lainnya menyerap karbon dioksida (Keenan, 1984)

Dengan mengetahui beberapa sifat jenis reaksi, kita dapat menerangkan reaksi-reaksi kimia lebih mudah untuk dipahami. Jenis-jenis reaksi kimia antara lain : 1. Reksi pembakaran adalah suatu reaksi dimana unsur atau senyawa bergabing dengan oksigen membentuk senyawa yang mengandung oksigen sederhana. Misalnya (CO2, H2O, dan lain-lain) 2. Reaksi penggabungan (sintesis) adalah suatu reaksi dimana sebuah zat yang lebih kompleks terbentuk dari dua atau lebih zat yang lebih sederhana (baik unsur maupun senyawa). 3. Reaksi penguraian adalah suatu reaksi dimana suatu zat dipisah menjadi zat-zat yang lebih sederhana. 4. Reaksi penggantian adalah suatu reaksi dimana sebuah unsur memindahkan unsur lain dalam suatu senyawa. 2.4. Persamaan Reaksi Setara Persamaan reaksi setara adalah persamaan yang menunjukkan jumlah atom yang sama antara reaktan maupun produk. Contohnya : H2 + 1/2O2 H2O Jumlah atom hydrogen dan oksigen dalam reaktan maupun produk adalah sama. 2.4.1. Hukum boyle Hukum boyle berbunyi pada suhu dan jumlah mol yang sama, maka hasil kali tekanan dan volume selalu sama.

Keterangan : P = tekanan zat V = volume zat 2.4.2. Hukum Boyle Gay Lussac Hukum Boyle Gay Lussac berbunyi : untuk gas dengan massa tertentu, massa hasil kali volume dengan tekanan dibagi oleh suhu yang diukur dalam Kelvin adalah tetap. Untuk gas -gas yang jumlahnya sama, maka berlaku :

2.4.3. Hukum Dalton Hukum Dalton berbunyi : tekanan total dari campuran berbagai macam gas sama dengan jumlah tekanan parsial dan gas-gas yang saling bercampur tersebut.

Ptotal = P1 + P2 + P3

Ada dua jenis reaksi kimia yang dibedakan berdasarkan pana, yaitu : Reaksi eksoterm Reaksi eksoterm adalah reaksi kimia yang melepas kalor. Kalor yang berpindah dari system ke lingkungan. Perubahan entalpi bernilai negative. Reaksi endoterm Reaksi endoterm adalah reaksi kimia yang menyerap kalor. Kalor berpindah dari lingkungan ke system. Perubahan entalpi bernilai positif.

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN


3.1. Alat dan Bahan 3.1.1. Alat-alat Gelas kimi 100 ml Termometer Gelas ukur 25 ml Pipet tetes

3.1.2. Bahan-bahan Larutan NaOH 1 M Larutan HCL 1 M Larutan 1 M Akuades Tisu

3.2. Prosedur Percobaan 3.2.1. Sistem NaOH HCL

Dituang 2 ml NaOH 1 M kedalam gelas kimia Diukur suhu NaOH menggunakan termometer Dicuci/dibersihkan termometernya Dituang 6 ml HCL kedalam gelas ukur Diukur suhu HCL Dibersihkan kembali termometernya Digabungkan larutan NaOH dengan HCL ke dalam gelas kimia Diukur suhu campurannya Dilakukan kembali langkah itu pada 4 ml NaOH dan 4 ml HCL, lalu 6 ml NaOH dan 2 ml HCL

3.2.2. -

Sistem NaOH Dituang 2 ml NaOH 1 M kedalam gelas kimia Diukur suhu NaOH menggunakan termometer Dibersihkan termometernya Dituang 6 ml kedalam gelas ukur Diukur suhu Dibersihkan kembali termometernya Digabungkan larutan NaOH dengan ke dalam gelas kimia Diukur suhu campurannya Dilakukan kembali langkah itu pada 4 ml NaOH dan 4 ml , lalu 6 ml NaOH dan 2 ml

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Hasil Pengamatan 4.2.1. Stokiometri sistem NaOH HCL No. 1 2 NaOH 1 M 2 ml 4 ml HCL 1 M 6 ml 4 ml NaOH 30 30,5 HCL 30 29,5 campuran 30,6 32,1

6 ml

2ml

29

29

31

4.2.2. Stokiometri sistem NaOH No. 1 2 3 NaOH 1 M 2 ml 4 ml 6 ml 1M 6 ml 4 ml 2ml NaOH 30 30,5 29 30 29,5 29 campuran 30,6 32,1 31

4.2. Reaksi dan Perhitungan 4.2.1. Reaksi 4.2.2.1. NaOH + HCL NaCL + O 4.2.2.2. 2NaOH + 4.2.2. Perhitungan 4.2.2.1. Sistem stokiometri NaOH + HCL Diketahui : +O

V NaOH V HCL M NaOH M HCL

: 2 ml : 6 ml :1M :1M

Ditanya : Pereaksi pembatas Pereaksi sisa Jawab :

Diketahui :

V NaOH V HCL M NaOH M HCL

: 4 ml : 4 ml :1M :1M

Ditanya : Pereaksi pembatas Pereaksi sisa Jawab :

Diketahui :

V NaOH V HCL M NaOH M HCL

: 6 ml : 2 ml :1M :1M

Ditanya : Pereaksi pembatas Pereaksi sisa Jawab :

4.2.2.2. Stokiometri sistem NaOH + Diketahui :

V NaOH V M NaOH M

: 2 ml : 6 ml :1M :1M

Ditanya : Pereaksi pembatas Pereaksi sisa Jawab :

Diketahui :

V NaOH V M NaOH M :1M

: 4 ml : 4 ml :1M

Ditanya : Pereaksi pembatas Pereaksi sisa Jawab :

Diketahui :

V NaOH V M NaOH M

: 6 ml : 2 ml :1M :1M

Ditanya : Pereaksi pembatas Pereaksi sisa Jawab :

4.3. Grafik 4.2.1. Grafik Stokiometri Sistem NaOH - HCL

4.2.2. Grafik Stokiometri Sistem NaOH - H2SO4

4.4. Pembahasan

Stoikiometri adalah perhitungan kimia yang menyangkut hubungan kuantitatif zat yang terlibat dalam reaksi. Reaksi stoikiometri adalah suatu reaksi kimia dimana pereaksi dalam reaksi tersebur habis bereaksi, sehingga tidak ada mol sisa dalam pereaksi atau tidak ada pereaksi pembatas. Dala suatu reaksi juga terdapat reaksi eksoterm dan endoterm. Reaksi eksoterm apabila kalor berpindah dari system ke lingkungan sehingga suhu disekitar larutan menjadi panas sedangkan reaksi endoterm adalah apabila kalor berpindah dari lingkungan ke sisitem, sehingga suhu system menjadi lebih dingin. Apabila suatu larutan berbeda dicampurkan biasanya terjadi perubahan sifat fisik, seperti perubahan warna, suhu, bentuk, dan lain lain. Dalam parktikum ini yang dibahas adalah perubahan suhu. Suhu terendah dari suatu campuran disebut titik minimum sedangkan suhu tertinggi dari suatu campuran disebut titik maksimum. Biasanya titik maksimum didapat apabila reaksi tersebut adalah stoikiometri. Dalam suatu reaksi tidak semua reaktan habis. Terkadang dijumpai salah satu reaktan habis bereaksi duluan sehingga membatasi berlanjutnya reaksi, pereaksi ini disebut pereaksi pembatas. Dari adanya pereaksi pembatas maka terdapat reaksi yang belum bereaksi karena pereaksi yang lain sudah habis duluan, pereaksi yang bersisa ini disebut pereaksi sisa. Percobaan pertama dilakkan dengan 3 perlakuan yang berbeda. Perlakuan pertama yaitu dengan mencampurkan 2 ml NaOH 2 M dan 6 ml HCL 1 M dengan pengukuran thermometer didapat suhu NaOH adalah 30 , suhu HCL adalah 30 dan suhu campuran adalah 30,6 . Reaksi ini termasuk reaksi non stoikiometri karena NaOH telah habis bereaksi duluan dan HCL masih barsisa. Atau NaOH merupakan pereaksi pembatas dan HCL merupakan pereaksi sisa. Pada perlukuan yang kedua yaitu dengan mencampurkan 4 ml NaOH 1 M dan 4 ml HCL 1 M dalam pengukuran menggunakan thermometer didapat suhu NaOH = 30 , suhu HCL adalah 29,5 , dan suhu campurannya adalah 32,1 . Reaksi ini termasuk dalam reaksi stoikiometri karena kedua reaktan habis bereaksi. Dan pada perlakuan yang ketiga yaitu dengan mencampurkan 6 ml NaOH dan 2 ml HCL. Dalam pengukuran menggunakan thermometer didapat suhu NaOH = 29 , suhu HCL = 29 sedangkan suhu campurannya adalah 31 reaksi inimerupakan reaksi non stoikiometri karena terdapat pereaksi pembatas dan pereaksi sisa. Dimana pereaksi pembatasnya adalah HCL dan pereaksi sisanya adalah NaOH. Dari percobaan pertama didapat titik maksimumnya 32,1 yaitu pada saat keadaan reaksi stoikiometri dan didapat titik minimumya 30,6 .

Percobaan di atas menggunakan reagen NaOH yang bersifat basa dan larutan HCL yang bersifat asam yang apabila kedua larutan dicampurkan akan didapat garam NaCl yang kemudian diukur suhunya menggunakan thermometer agar dapat diketahui suhu setelah dicampurkan kemudian diaduk agar kedua larutan dihomogenkan. Pada pembuatan larutan 1 M digunakan akuades untuk mengencerkan larutan. Pada percobaan kedua digunakan reagen NaOH 1 M yang bersifat basa dan yang bersifat asam. Yang apabila dicampurkan akan menjadi garam dan juga digunakan akuades untuk mengencerkan larutan NaOH dan menjadi 1 M. percobaan kedua dilakukan dengan

mencampurkan larutan kemudian diaduk agar larutan menjadi homogen kemudian diukur suhunya agar dapat diketahui tinggi suhunya. Percobaan kedua juga dilakukan tiga perlakuan berbeda yang pertama yaitu mencampukan 2 ml NaOH dengan 6 ml dan didapat suhu NaOH adalah 28 , suhu dan suhu campurannya reaksi ini termasuk dalam reaksi non stokiometri karena terdapat NaOH sebagai pereaksi pembatas dan sebagai pereaksi sisa. Perlakuan kedua adalah dengan mencampurkan 4 ml NaOH dan 4 ml dan didapat suhu NaOH adalah , suhu adalah dan suhu campurannya adalah . Reaksi ini juga termasuk dalam reaksi non stokiometri karena terdapat NaOH sebagai pereaksi pembatas dan sebagai pereaksi sisa. Pada perlakuan ketiga dicampurkan 6 ml NaOH dan 2 ml dan didapat suhu NaOH adalah , suhu adalah dan suhu campurannya adalah . Reaksi ini juga merupakan reaksi non stokiometri karena terdapat NaOH sebagai pereaksi dan sebagai pereaksi pembatas. Dan pada percobaan kedua ini didapat titik maksimumnya adalah dan titik minimumnya adalah . Dari kedua percobaan diatas dapat kita buat garfik suhu terhadap jumlah volume masing masing reagen. Pada grafik 4.3.1 dapat kita lihat apabila semakin banyak pereaksi yang beraksi atau semakin sedikit pereaksi yang bersisa maka perubahan suhu semakin tinggi sehingga pada percampuran 4 ml NaOH 1 M dan 4 ml HCL 1 M merupakan suhu tertinggi karena reaksi tersebut merupakan reaksi stoikiometri. Dan pada grafik 4.3.2 juga membuktikan semakin sedikit konsentrasi pereaksi sisa semakin tinggi perubahan suhunya. Dan didapat tertinggi pada campuran 6 ml NaOH dan 2 ml . Dalam praktikum ini terdapat beberapa factor kesalahan yang membuat hasil percobaan kurang akurat yaitu ketika pengukuran suhu menggunakan thermometer.Thermometer mengenai dinding gelas kimia dan tangan pada saat memegang thermometer kurang ke atas, selain itu suhu ruangan yang kurang stabil serta pipet yang digunakan telah di gunakan pada larutan.

Dalam percobaan reagen dimasukkan kedalam gelas kimia, di ukur sesuai volume yang diperlukan. Dan diukur menggunakan thermometer, hal ini berfungsi agar mendapatkan suhu yang akurat dari masing masing reagen dengan volume yang berbeda. Lalu reagen dicampur dan diguncang sedikit agar reagennya tercampur. Kemudian diukur suhu campurannya dengan thermometer agar dapat diketahui suhu campuran tertinggi dan dapat ditentukan yang stoikiometri.

BAB 5 PENUTUP
5.1. Kesimpulan Titik maksimum dari campuran NaOH HCL adalah , sedangkan titik minimum dari campuran NaOH HCL adalah . Titik maksimum dari campuran NaOH adalah , sedangkan titik minimum dari campuran NaOH adalah Reaksi stokiometri adalah reaksi yang pereaksinya habis bereaksi membentuk hasil reaksi/produk. Contohnya pada stokiometri sistem NaOH HCL. Pada NaOH 4 ml dalam 1 M dan HCL 1 M pada 4 ml. sedangkanreaksi non stokiometri adalah reaksi yang pereaksinya tidak habis bereaksi membentuk hasil reaksi / produk. Contohnya pada stokiometri sistem NaOH .

5.2. Saran Sebaiknya bahan-bahan yang diujikan ditambah agar praktikan dapt mengetahui perbandingan laju reaksi dari larutan lainnya seperti dan .

DAFTAR PUSTAKA

Keenan. 1984. Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga Petrucci., Ralp. 1987. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga S, syukri. 1999. Kimia Dasar 1. Bandung: ITB Sastrohamidjojo, H. 2005. Kimia Dasar. Yogyakarta: UGM

Laporan Kimia Dasar I Laju Reaksi

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang Dalam kehidupan sehari-hari kita sering melihat reaksi-reaksi kimia dengan kecepatan yang berbeda-beda. Ada reaksi yang berlangsung sangat cepat seperti petasanyang meledak, ada juga reaksi yang berlangsung sangat lambat seperti pengkaratan besi. Reaksi kimia adalah proses perubahan zat reaksi menjadi produk. Seiring dengan bertambahnya waktu reaksi, maka jumlah pereaksinya akan semakin sedikit, sedangkan produk semakin banyak. Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai laju perubahan konsentrasi per satuan waktu. Waktu yang digunakan dapat berupa detik, menit, jam, hari, bulan, maupun tahun, tergantung pada lamanya reaksi berlangsung. Laju reaksi dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya yaitu konsentrasi, suhu, luas permukaan, tekanan dan katalis. Oleh karena itu percobaan ini dilakukan untuk mengetahui laju reaksi kimia yang ada dalam kehidupan dan bagaimana perlakuan untuk meningkatkan laju reaksi.

1.2. Tujuan percobaan Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi Untuk mengetahui pengaruh konsentrasi dan suhu terhadap laju reaksi Untuki menentukan persamaan laju reaksi kimia

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA


Dalam reaksi kimia terdapat perbedaan laju reaksi antara reaksi yang satu dengan reaksi yang lain. Misalnya ketika kita membakar kertas, reaksi berlangsung begitu cepat sedangkan

reaksi pembentukan minyak bumi memerlukan waktu yang sangat lama. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa reaksi kimia memiliki laju reaksi yang berbeda. Dalam ilmu kimia laju reaksi kimia dipelajari dalam kinetika kimia. Kinetika kimia adalah bagian dari ilmu kimia yang mempelajari tentang laju reaksi kimia, bagaimana cara menghitung laju suatu reaksi kimia dan berbagai hal yang mempengaruhinya. Cepat lambatnya suatu reaksi kimia yang berlangsung disebut laju reaksi. Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau produk per satuan waktu. Konsentrasi biasanya dinyatakan dalam mol per liter, tetapi untuk reaksi fase gas, satuan konsentrasi dapat diganti dengan satuan tekanan seperti atmosfer, millimeter merkurium, atau pascal. Satuan waktu yang digunakan dapat berupa detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun bergantung pada reaksi tersebut berjalan cepat atau lambat. Laju reaksi = Perubahan konsentrasi Satuan waktu Untuk mengukur laju reaksi, perlu dilakukan analisis secara langsung maupun tak langsung tak langsung banyaknya, produk yang terbentuk atau banyaknya reaksi yang tersisa setelah penggal waktu tertentu. Contoh : 2 NO2 (g) Laju pertambahan N2 (g) + 2 O2 (g) konsentrasi molar N2 dan O2.

Laju reaksi kimia dapat dinyatakan sebagai laju penguraian konsentrasi molar NO2 atau

Sesuai dengan perbandingan koefisien reaksinya, laju pembentukan O2 adalah setengah dari laju pengurangan NO2, yaitu :

Ada beberapa cara menentukan laju reaksi, salah satunya itu ditentukan melalui percobaan, yaitu dengan mengukur konsentrasi salah satu reaksi salah satu produk pada selang waktu yang berlangsung lambat ini dapat ditentukan dengan cara mengeluarkan sampel dari campuran reaksi lalu menganalisanya dengan contoh sebagai berikut : CH3 COOHs + H2O (Etil asesat) (Air) CH2 COOH + C2H5OH (Asam Asesat) (Etanol)

Reaksi tersebut sangat lambat berlangsungnya sehingga konsentrasi asam asetat yang dihasilkan dengan mudah dapat ditentukan dengan menggunakan suau larutan asam basa. Cara yang lebih umum adalah dengan menggunakan suatu alat yang dapat menunjukkan secara kontinu suatu perubahan yang menyertai reaksi. Untuk reaksi gas yang disertai perubahan mol, alat dirancang dapat mengukur perubahan bahan tekanan gas, contohnya sebagai berikut : 2NaO5 (g) 4NO2 (g) + O2 Reaksi tersebut disertai pertambahan jumlah mol gas yang menyebabkan pertambahan tekanan yang dapat dibaca dengan mometer semakin banyak N2O5 yang terurai semakin besar tekanannya, jika reaksi berlangsung pada volume dan suhu yang tetap maka pertambahan tekanan dapat dikatakan dengan tambahan mol dengan demikian laju penguraian NaO5 dapat ditentukan. Pada laju reaksi terdapat faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laju reaksi. Selain bergantung pada jenis zat yang beraksi laju reaksi dipengaruhi oleh : a. Konsentrasi Pereaksi Pada umumnya jika konsentrasi zat semakin besar maka laju reaksinya semakin besar, dan sebaliknya jika konsentrasi pula, dan sebaliknya jika sentrasi suatu zat semakin kecil maka laju reaksinya pun semakin kecil. Untuk beberapa reaksi, laju reaksinya pun semakin kecil. Untuk beberapa reaksi, laju reaksi dapat dinyatakan dengan persamaan matematik yang dikenal dengan hukum laju reaksi atau reaksi dinamakan orde reaksi. Menentukan orde reaksi dari suatu reaksi kimia pada prinsipnya menentukan seberapa besar pengaruh perubahan konsentrasi pereaksi terhadap laju reaksi. b. Luas Permukaan Suatu reaksi mungkin melibatkan pereaksi dalam bentuk padat, luas permukaan (total) zat padat akan bertambah jika ukurannya diperkecil. Semakin zat padat terbagi menjadi bagian kecil,

semakin cepat reaksi berlangsung. Bubuk zat padat biasanya menghasilkan reaksi yang lebih cepat dibandingkan sebuah bongkah zat padat dengan massa yang sama. Bubuk padat memiliki permukaan yang lebih besar dari pada sebuah bengkah zat padat. c. Suhu atau Temperatur Laju reaksi juga dapat di percepat atau diperlambat dengan mengubah suhunya. Ketika suhunya dinaikkan maka laju reaksi akan meningkat pula. Sebagai perkiraan kasar, sebagai perkiraan besar, sebagai reaksi berlangsung dengan suhu ruangan maka laju reaksi akan berlipat ganda setiap kenaikan 100C Perkiraan ini bukan keadaan yang mutlak dan tidak bisa diterapkan pada seluruh reaksi. Bahkan bila pun mendekati benar, laju reaksi akan berlipat ganda setiap 90C atau 110C atau setiap suhu tertentu. Angka dari derajat suhu yang diperlukan untuk melipat gandakan laju reaksi akan berubah secara bertahap seiring dengan meningkatnya suhu. Beberapa reaksi pada hakikatnya sangat cepat, sebagai contoh reaksi perpanasan melibatkan ion yang terlarut menjadi zat padat yang tidak larut, atau reaksi ion hidrogen dengan asam dan ion hidroksi dari Alkali didalam larutan, sehingga memanaskan salah satu dari contoh ini tidak memperoleh perbedaan laju reaksi yang baik di laboratorium maupun industri akan berlangsung lebih cepat apabila di panaskan d. Tekanan Bayak reaksi yang melibatkan pereaksi dalam wujud gas. Kelajuan dari reaksi seperti itu juga dipengaruhi oleh tekanan. Penambahan tekanan dengan memperkecil Volume akan memperbesar konsentrasi, dengan demikian dapat memperbesar laju reaksi. Peningkatan tekanan pada reaksi yang melibatkan gas pereaksi akan meningkatkan laju reaksi. Perubahan tekanan pada suatu reaksi yang melibatkan hanya zat padat maupun zat cair tidak memberikan perubahan apapun pada laju reaksi. Dalam proses pembuatan amonia dengan proses Haber, laju reaksi antara Hidrogen dan Nitrogen ditingkatkan dengan menggunakan tekanan yang sangat tinggi. alasan utama menggunakan tekanan tinggi adalah untuk meningkatkan persentasi amonia di dalam keseimbangan campuran, namun hal ini juga memberikan perubahan yang berarti pada laju reaksi juga. Industri yang melibatkan produksi berupa gas yang banyak dilangsungkan pada tekanan tinggi, misalnya pembuatan amonia yang menggunakan tekanan hingga 400 atm.

e.

Katalis Katalis adalah zat yang dapat mempercepat laju reaksi, tetapi zat itu sendiri tak mengalami perubahan yang kekal (tidak diskon asumsi atau tidak dihabiskan). Katalis dibagi 2 yaitu : - Katalis Positif. Katalis positif berfungsi untuk mempercepat laju reaksi dengan cara menurunkan energi pengaktifan, katalis positif disebut juga katalisator. - Katalis Negatif Katalis negatif berfungsi untuk memperkuat laju reaksi. Katalis negatif disebut juga inhibator. Adapun Jenis-jenis katalis yaitu : - Katalis homogen Wujud katalis homogen ini sama dengan wujud pereaksi. Jenis katalis ini umumnya ikut beraksi tetapi pada akhirnya akan kembali lagi ke bentuk semula. - Katalis Heterogen Wujud katalis homogen ini berbeda dari wujud pereaksi. Jenis katalis ini umumnya berupa logam-logam dan bereaksi yang dipercepat adalah reaksi gas-gas katalis ini tidak ikut bereaksi, tetapi melalui reaksi permukaan yaitu permukaan logam menyerap molekul-molekul udara hingga apabila dua molekul gas yang dapat bereaksi terserap maka gas-gas itu akan mudah bereaksi katalis ini kebanyakan digunakan dalam reaksi industri. - Katalis biokimia Katalis biokimia ini berfungsi untuk mempercepat reaksi-reaksi yang terjadi pada makhluk hidup. Katalis ini berupa enzim-enzim. Dalam laju reaksi terdapat pula teori tumbukan, reaksi berlangsung sebagai hasil tumbukan antara partikel pereaksi. Akan tetapi tidaklah setiap tumbukan antara partikel menghasilkan reaksi, melainkan hanya tumbukkan antar partikel yang memiliki energi yang cukup serta arah tumbukan yang tepat. Sehingga dapat dikatakan bahwa laju reaksi dapat bergantung pada 3 hal, yaitu:

Frekuensi Tumbukan Fraksi tumbukan yang melibatkan partikel dengan energi cukup Fraksi partikel dengan energi cukup yang tumbuhannya dengan arah yang tepat. Tumbukan yang menghasilkan reaksi disebut dengan tumbukan efektif, energi minimum yang harus dimiliki oleh partikel pereaksi sehingga menghasilkan tumbukan efektif yang disebut

juga energi pengaktifan untuk memahami arti dari energi pengaktifan perlu diperhatikan pelanpelan benda yang ada di sekitar kita yang dapat terbakar. Adapun persamaan laju reaksi dan orde reaksi yaitu sebagai berikut: mA + nB pC = qD Persamaan laju : V = K [A] x [B]x Dengan ketetapan rumus : - K - X - Y - m,n,p,q : Ketetapan Jenis Reaksi : Orde Reaksi terhadap pereaksi A : Orde reaksi terhadap pereaksi B : Koefisien masing-masing zat yang terlihat dalam reaksi

Ketetapan jenis reaksi (K) adalah salah satu tetapan yang harganya bergantung pada jenis pereaksi dan suhu., setiap reaksi mempunyai harga K tertentu pada suhu tertentu. Harga K berubah jika suhu berubah, kenaikan suhu dan katalisator umumnya dan memperbesar harga K.

BAB 3 METODOLOGI PERCOBAAN


3.1. Alat dan Bahan 3.1.1. Alat-alat Gelas Kimia 100 ml Gelas ukur Pipet Stopwatch Termometer Hot plate Kertas Pulpen Penjepit tabung

3.1.2. Bhan-bahan Larutan Na2S2O3 0,1 M Larutan Na2S2O3 0,2 M Larutan HCl 1 M Larutan HCl 2 M Aquadest

3.2. Prosedur Percobaan 3.2.1. Pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi Dimasukkan 2 ml Na2S2O3 0,1 M dalam gelas kimia Disiapkan kertas putih yang diberi tanda X Dimasukkan 3 ml HCl 1 M dalam Na2S2O3 0,1 M Dicatat waktu yang dibutuhkan hingga tanda X menghilang Diulangi prosedur yang sama dengan menggunakan Na2S2O3 0,1 M HCl 2 M dan Na2S2O3 0,2 M HCl 2 M 3.2.2. Pengaruh Suhu (40o) terhadap Laju Reaksi Disiapkan gelas kimia dan diisi dengan 2 ml larutan Na2S2O3 0,2M. Dipanaskan hingga suhunya 40o C (gunakan termometer), kemudian letakkan diatas kertas yang telah diberi tanda silang Dimasukkan 3 ml larutan HCl 2 M kedalam gelas kimia tersebut dan catat waktu yang dibutuhkan sejak penambahan larutan HCl hingga tanda silang tidak terlihat lagi dari atas Diulangi prosedur diatas menggunakan Na2S2O3 0,1 M HCl 2 M dan Na2S2O3 0,1 M HCl 1 M

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil percobaan 4.1.1 Pengaruh Konsentrasi Terhadap Laju Reaksi

No

[Na2S2O3] 2 [HCl] 3 ml ml

Waktu

1 2 3 4.1.2

0,1 M 0,1 M 0,2 M

1M 2M 2M

277 s 151 s 52 s

Pengaruh Suhu Terhadap Laju Reaksi No [Na2S2O3] 2 [HCl] 3 ml ml 1 2 3 0,2 M 0,2 M 0,1 M 2M 1M 1M 43 s 50 s 95 s Waktu

4.2. Reaksi Na2S2O3(aq) + 2HCl (aq) 2 NaCl (aq) + S(s) + H2O(l) + S02 4.3. Perhitungan 4.3.1 Pengaruh Konsentrasi Terhadap Laju Reaksi

4.3.2

Pengaruh suhu terhadap laju reaksi

4.4. Pembahasan Laju reaksi adalah capat lambatnya suatu reaksi kimia berlangsung. Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau produk per satuan waktu. Dalam laju reaksi terdapat orde, yaitu banyaknya faktor konsentrasi zat yang mempengaruhi laju reaksi. Dalam laju reaksi kimia terdapat bilangan orde reaksi. Diantaranya 0, 1 dan 2. Reaksi orde nol adalah reaksi yang laju reaksinya tidak dipengaruhi oleh konsentrasi reaktan. Reaksi orde satu adalah reaksi yang lajureaksinya hanya dipengaruhi oleh konsentrasi reaktan pangkat satu sehingga didapat grafik linear pada grafik perbandingan konsentrasi reaktan dengan laju reaksi.

Reaksi orde dua adalah reaksi yang laju reaksinya dipengaruhi oleh konsentrasi reaktan kuadrat. Sehingga didapatkan grafik berbentuk kurfa pada grfik pebandingan konsentrasi reaktan dengan laju reaksi. Didalam laju reaksi terdapat konstanta laju reaksi. Yaitu tetapan dalam perhitungan laju reaksi. Barapapun konsentrasi yang digunakan selalu digunakan tetapan ini. Konstanta laju reaksi ini hanya dipengaruhi oleh jenis pereaksi dan suhu. Praktikum kali ini dilakukan dua percobaan, yaitu pengaruh konsentrasi dan suhu pada terhadap laju reaksi kimia . pada percobaan pertama dilakukan percobaan pengaruh konsentrasi terhadap laju reaksi kimia. Ketika digunakan 2 ml Na2S2O3 0,1 M dicampur dengan 3 ml HCl 1 M reaksi berlangsung hingga warna larutan menjadi keruh dan tak terlihat lagi tanda silang dikertas dalam 277 s. Ketika digunakan 2 ml Na2S2O3 0,1 M dicampur dengan 3 ml HCl 2 M reaksi berlangsung hingga warna larutan menjadi keruh dan tak terlihat lagi tanda silang dikertas dalam 151 s. Ketika digunakan 2 ml Na2S2O3 0,2 M dicampur dengan 3 ml HCl 2 M reaksi berlangsung hingga warna larutan menjadi keruh dan tak terlihat lagi tanda silang dikertas dalam 52 s. Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa semakin besar konsentrasi yang digunakan maka semakin laju pula reaksi berlangsung. Percobaan kedua adalah pengaruh suhu terhadap laju reaksi. Pada percobaan ini suhu dinaikkan hingga 40oC. Ketika digunakan 2 ml Na2S2O3 0,2 M dicampur dengan 3 ml HCl 2 M reaksi berlangsung hingga warna larutan menjadi keruh dan tak terlihat lagi tanda silang dikertas dalam 43 s. Ketika digunakan 2 ml Na2S2O3 0,2 M dicampur dengan 3 ml HCl 1 M reaksi berlangsung hingga warna larutan menjadi keruh dan tak terlihat lagi tanda silang dikertas dalam 50 s. Ketika digunakan 2 ml Na2S2O3 0,1 M dicampur dengan 3 ml HCl 1 M reaksi berlangsung hingga warna larutan menjadi keruh dan tak terlihat lagi tanda silang dikertas dalam 95 s. Dari percaobaan ini dan percobaan pertama terdapat perbedaan perlakuan. Yaitu pada percobaa pertama digunakan suhu ruang sedangkan pada percobaan kedua digunakan suhu 40oC, Dan dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi suhu, maka semakin laju pula suatu reaksi berlangsung. Dalam percobaan laju reaksi ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi, yaitu : Konsentrasi pereaksi Pengruh konsentrasi terhadap adalah semakin besar konsentrasi maka semakin laju pula suatu reaksi. Karna dengan bertambahnya konsentrasi maka jumlah partikel juga bertambah sehingga kemungkinan terjadi tumbukan antar partikel semakin besar. Luas permukaan

Pengaruh luas permukaan adalah semakin halus atau kecil ukuran reaktan (padatan) yang digunakan maka semakin laju reaksi kimaia terjadi . karena dengan semakin kecilnya ukuran partikel maka akan menyebabkan kemungkinan terjadi tumbukan semakin besar. Suhu atau temperature Pengaruh suhu adalah dengan bertambahnya suhu, maka semakin laju reaksi kimia. Karena dengan bertambahnya suhu maka partikel zat reaktan akan semakin cepat bergerak atau dengan kata lain kemingkinan terjadi tumbuakan antar partikel semakin besar. Tekanan Pengaruh tekanan biasanya melibatkan pereaksi dalam wujud gas. Penambahan tekanan dengan memperkecil volume akan memperbesar konsentrasi. Dengan demikian dapat meningkatkan laju reaksi. Katalis Pengaruh katalis adalah untik menurunkan energy aktivasi suatu reaksi kimia. Energi aktivasi adalah sejumlah energi minimal yang harus dimiliki agar suatu reaksi kimia dapat berlangsung. Katalis adalah zat yang dicampurkan dalam reaktan namun pada akhir reaksi zat katalis tidak berubah menjadi zat lain. Dalam percobaan ini terdapat beberapa perlakuan diantaranya yaitu pencampuran dan pemanasan. Pencampuran dilakukan agar masing-masing reaktan dapat bercampur dan dapat terjadi reaksi. Pemanasan dilakukan agar reaktan dapat dinaikkan suhunya sesuai yang diinginkan dan mempercepat laju reaksi. Dalam laju reaksi juga terdapat pula teori tumbukan, reaksi berlangsung sebagai hasil tumbukan antara pertikel pereaksi. Reaksi kimia tidak dihasilkan oleh setiap tumbukan tersebut, melainkan hanya tumbukan yang memiliki energi yang cukup dan arah yang tepat saja. Tumbukan dipengaruhi oleh konsentrasi, luas permukan, suhu. Pada konsentrasi, apabila konsentrasi semakin besar, maka semakin banyak jumlah partikel, sehingga kemungkinan terjadi tumbukan semakin besar. Pada suhu, apabila suhu bertambah maka partikel reaktan bergerak cepat sehingga tumbukan sering terjadi. Pada luas permukaan, semakin kecil ukuran partikel padatan dalam reaksi maka kemungkinan tumbukan antara partikel reaktan semakin besar. Tumbukan yang menghasilkan reaksi disebut tumbukan evektif. Energi minimum yang harus dimiliki partikel pereaksi sehingga dapat dihasilkan tumbukan yang evektif disebut energi aktivasi.

Pada percobaan ini waktu yang ditentukan hingga tanda X tertutup. Yang menyebabkan tanda X tertutup adalah terbentuknya produk berupa senyawa sulfur yang mengendap berwarna putih buram. Dalam percobaan ini terdapat beberapa faktor kesalahan yaitu ketidak tepatan dalam pengukuran waktu denperbedaan persepsi dalam menentukan tanda silang sudah tak terlihat atau belum.

BAB 5 PENUTUP
5.1. Kesimpulan Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi adalah : Suhu Luas permukaan Konsentrasi Tekanan Katalis Dari percobaan ini didapat pengaruh konsentrasi dan suhu. Pengaruh konsentrasi yaitu apabila konsentrasi suatu reaktan semakin besar, maka laju reaksi juga meningkat. Dan pengaruh suhu yaitu apabila suhu dinaikkan maka laju suatu reaksi juga meningkat. Dalam percobaan pengaruh konsentrasi dengan suhu ruang didapat persamaan :

Dalam percobaan pengaruh konsentrasi dengan suhu reaktan 40oC didapat persamaan :

5.2. Saran-saran

Sebaiknya dalam setiap percobaan laju reaksi menggunakan persepsi tingkat kekeruhan larutan yang sama, meskipun tanda silang tidak benar-benar tak terlihat. Sehingga dapat mengefisiensikan waktu dan hasil yang lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA Keenan Kleinfelter, Wood. 1989. Kimia untuk Universitas Jilid 1 . Jakarta : Erlangga Sukamto. 1989. Kimia Fisika. Jakarta : PT Bhineka Cipta Wood, Charles. 1996. Ilmu Kimia untuk Universitas. Jakarta : Erlang

Laporan Kimia Dasar II Asidi-Alkalimetri


BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Asidi-alkalimetri merupakan titrasi yang berhubungan dengan asam dan basa. Secara sederhana, asam merupakan larutan yang memiliki pH diatas 7 sedangkan basa merupakan larutan yang memiliki pH kurang dari 7. Apabila kedua larutan tersebut memiliki kekuatan yang sama, maka bila dicampurkan dengan volume yang sama, akan didapat larutan yang memiliki pH netral. Titrasi merupakan salah satu cara untuk mengetahui konsentrasi dari larutan standar sekunder, yaitu larutan yang dimana konsentrasinya didapat dengan cara pembakuan. Yang dubantu dengan larutan standar sekunder atau larutan yang konsentrasinya dapat diketehui secara langsung dari hasil penimbangan, yang ditambahkan indikator pH sebagai penentu tingkat keasaman suatu larutan. Kesetimbangan asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia, seperti biologi, kedokteran dan pertanian. Titrasi yang menyangkut asam dan basa sering disebut asidimetri-alkalimetri. Sedangkan untuk titrasi atau pengukuran lain-lain sering juga dipakai akhiran ometri menggantikan imetri. Kata

metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu atau proses atau seni mengukur. Pengertian asidimetri dan alkalimetri secara umum ialah titrasi yang menyangkut asam dan basa. Asidi-alkalimetri dapat digunakan untuk beberapa larutan. Oleh karena itu praktikum ini dilakukan agar dapat memahami konsep adisi-alkalimetri serta mengetahui konsentrasi larutan yang dianalisa.

1.2 Tujuan percobaan Mengetahui konsentrasi NaOH standar Mengetahui konsentrasi CH3COOH perdagangan Mengetahui volume titran (C2H2O4) untuk menetralkan NaOH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam, basa dan garam. Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat, yang bila dilarutkan dalam air, mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. Sebenarnya ion hidrogen (proton) tak ada dalam larutan air. Setiap proton bergabung dengan satu molekul air dengan cara berkoordinasi dengan sepasang elektron bebas yang terdapat pada oksigen dari air, dan terbentuk ion-ion hidronium : H+ + H2O H3O+ Basa, secara paling sederhana dapat didefinisikan sebagai zat, yang bila dilarutkan dalam air, mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif. Hidroksida-hidroksida logam yang larut, seperti natrium hidroksida atau kalium hidroksida hampir sempurna berdisosiasi dalam larutan air yang encer :

Karena itu basa-basa ini adalah basa kuat. Di lain pihak larutan air amonia, merupakan suatu basa lemah. Bila dilarutkan dalam air, amonia membentuk amonium hidroksida, yang berdisosiasi menjadi ion amonium dan ion hidroksida :

Karena itu, basa kuat merupakan elektrolit kuat, sedang basa lemah merupakan elektrolit lemah. Tetapi tak ada pembagian yang tajam antara golongan-golongan ini, dan sama halnya dengan asam, adalah mungkin untuk menyatakan kekuatan basa secara kuantitatif. Menurut definisi yang kuno, garam adalah hasil reaksi antara asam dan basa. Prosesproses semacam ini disebut netralisasi. Definisi ini adalah benar, dalam artian, bahwa jika sejumlah asam dan basa murni ekuivalen dicampur, dan larutannya diuapkan, suatu zat kristalin tertinggal, yang tak mempunyai ciri-ciri khas suatu asam maupun basa. Zat-zat ini dinamakan garam oleh ahli-ahli kimia zaman dulu (G. Shevla, 1985). Reaksi netralisasi dapat dipakai untuk menentukan konsentrasi larutan asam atau basa. Caranya dengan menambahkan setetes demi setetes larutan basa kepada larutan asam. Setiap basa yang diteteskan bereaksi dengan asam, dan penetesan dihentikan pada saat jumlah mol H + setara dengan mol OH-. Pada saat itu larutan bersifat netral dan disebut titik ekuivalen. Cara seperti ini disebut titrasi, yaitu analisis dengan mengukur jumlah larutan yang diperlukan untuk bereaksi tepat sama dengan larutan lain. Analisis ini disebut juga analisis volumetri, karena yang diukur adalah volume larutan basa yang terpakai dengan volume tertentu larutan asam (Syukri, S. 1999). Larutan basa yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam buret (pipa panjang berskala) dan jumlah yang terpakai dapat diketahui dari tinggi sebelum dan sesudah titrasi. Larutan asam yang akan dititrasi dimasukkan ke dalam gelas kimia (erlenmeyer), dengan mengukur volumnya terlebih dulu dengan memakai pipet gondok. Untuk mengamati titik ekuivalen dipakai indikator yang perubahan warnanya di sekitar titik ekuivalen. Saat terjadi perubahan warna itu disebut titik akhir (Syukri, S. 1999). Berikut syarat-syarat yang diperlukan agar titrasi yang dilakukan berhasil : Konsentrasi titran harus diketahui. Larutan seperti ini disebut larutan standar. Reaksi yang tepat antara titran dan senyawa yang dianalisis harus diketahui.

Titik stoikhiometri atau ekivalen harus diketahui. Indikator yang memberikan perubahan warna, atau sangat dekat pada titik ekivalen yang sering digunakan. Titik pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir.

Volume titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen harus diketahui setepat mungkin (Hardjono Sastrohamidjojo. 2005) Proses titrasi asam-basa sering dipantau dengan penggambaran pH larutan yang dianalisis sebagai fungsi jumlah titran yang ditambahkan. Gambar yang diperoleh tersebut disebut kurva pH, atau kurva titrasi.

- KURVA TITRASI Larutan yang dititrasi dalam asidimetri-alkalimetri mengalami perubahan pH. Misalnya bila larutan asam dititrasi dengan basa, maka pH larutan mula-mula rendah dan selama titrasi terus menerus naik. Bila pH ini diukur dengan pengukur pH (pH-meter) pada awal titrasi, yakni sebelum ditambah basa dan pada waktu-waktu tertentu setelah titrasi dimulai, maka kalau pH dialurkan lawan volume titran, kita peroleh grafik yang disebut kurva titrasi. Bila suatu indikator pH kita pergunakan untuk menunjukkan titik akhir titrasi, maka : 1. Indikator harus berubah warna tepat pada saat titran menjadi ekivalen dengan titrat agar tidak terjadi kesalahan titrasi. 2. Perubahan warna itu harus terjadi dengan mendadak, agar tidak ada keragu-raguan tentang kapan titrasi harus dihentikan. Untuk memenuhi pernyataan (1), maka trayek indikator harus mencakup pH larutan pada titik ekivalen, atau sangat mendekatinya; untuk memenuhi pernyataan (2), trayek indikator tersebut harus memotong bagian yang sangat curam dari kurva (Khopkar, 2003). Titrasi asidimetri-alkalimetri menyangkut reaksi dengan asam dan atau basa diantaranya: Asam kuat dan basa kuat Reaksi untuk titrasi asam kuat-basa kuat adalah Untuk menghitung [H+] pada titik tertentu dalam titrasi, kita harus menentukan jumlah H+ yang tetap tinggal pada titik tersebut dibagi dengan volume total larutan.

(Hardjono. 2005) Asam kuat dan basa lemah Meskipun istilah penetralan lazim digunakan untuk reaksi apa saja antara asam dengan basa, tak selalu akan dihasilkan larutan yang benar-benar netral. Memang larutan netral hanya diperoleh bila asam dan basa itu sama kuatnya. Pada hakekatnya titrasi basa lemah dengan asam kuat dapat dipahami seperti cara kerja sebelumnya. Yang perlu diperhatikan adalah tentang komponen utama dalam larutan dan kemudian memutuskan apakah reaksi terjadi menuju sempurna (Keenan, dkk. 1984). Asam lemah dan basa kuat Reaksi dalam larutan air dari asam lemah seperti asam asetat, HC2H3O2, dengan basa kuat NaOH dapat dinyatakan oleh persamaan berikut: Pemaparan lama :

Pemaparan baru :

Larutan natrium asetat yang dihasilkan agak bersifat basa, karena ion asetat berfungsi sebagai basa dalam larutan air (Keenan, dkk. 1984). Asam lemah dan basa lemah Sebagai contoh akhir dari penetralan, perhatikan reaksi dalam larutan air dari asam asetat yang lemah itu dengan basa lemah amonia. Larutan amonium asetat, yang dihasilkan, praktis netral. Ini karena kuat asam ion NH4+ tepat diimbangi oleh basa kuat dari ion C2H3O2-. Sebagai ringkasan, reaksi asam dan basa yang sama kekuatannya, akan menghasilkan larutan netral. Asam dan basa yang bereaksi dapat keduanya kuat maupun keduanya lemah. - Indikator Asam Basa Indikator asam basa ialah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. Misalnya biru bromtimol (bb); dalam larutan asam ia berwarna kuning, tetapi dalam lingkungan basa warnanya biru. Warna dalam keadaan asam dinamakan warna asam dari

indikator (kuning untuk bb), sedang warna yang ditunjukkan dalam keadaan basa disebut warna basa. Akan tetapi harus dimengerti, bahwa asam dan basa disini tidak berarti pH kurang atau lebih dari tujuh. Asam berarti pH lebih rendah dan basa berarti pH lebih besar dari trayek indikator atau trayek perubahan warna yang bersangkutan. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range pH yang berbeda (Khopkar. 2003) Kebanyakan indikator asam basa adalah molekul kompleks yang bersifat asam lemah dan sering disingkat dengan HIn. Mereka memberikan satu warna berbeda bila proton lepas (Hardjono Sastrohamidjojo. 2005) Contoh : Fenolftalein, indikator yang lazim dipakai, tak berwarna dalam bentuk Hin-nya dan berwarna pink dalam bentuk In, atau basa. Struktur Fenolftalein, sering disingkat PP, adalah sebagai berikut :

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Alat dan Bahan 3.1.1. Alat-alat Labu ukur 250ml Erlenmeyer 250ml Buret

Pipe volume 10ml Labu ukur 100ml Gelas kimia

Statif dan klem Corong 3.1.2. Bahan-bahan Asam cuka perdagangan NaOH 0,1 N (Natrium Hidroksida) Asam oksalat dehidrat 0,1 N Aquades Indikator PP

3.2. Prosedur Percobaan 3.2.1.Asidimetri Dimasukkan asam oksalat dehidrat 0,1 N kedalam buret Dicampurkan 10ml NaOH dan 10ml akuades di dalam tabung gelas kimia, lalu diguncangguncang Ditetesi dengan indikator PP sebanyak 3 tetes kedalam gelas kimia yang berisi NaOH dan akuades Warna larutan menjadi merah lembayung

- Ditetesi latutan dengan asam oksalat dehidrat hingga larutan menjadi jernih, sambil diguncangguncang 3.2.2.Alkalimetri Dimasukkan NaOH 0,1 N kedalam buret - Dituang 10ml asam cuka perdagangan yang telah diencerkan terlebih dahulu kedalam gelas kimia - Ditetesi indikator PP sebanyak 3 tetes kedalam gelas kimia berisi asam cuka - Ditetesi larutan asam cuka dengan NaOH 0,1 N hingga warna larutan menjadi merah lembayung.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan


Perlakuan Asidimetri Dicampurkan 10ml NaOH dan 10ml akuades Ditetesi Indikator PP 3 tetes Ditittrasi dengan asam oksalat dehidrat 10,15ml Dihitung konsentrasi NaOH - Didapat 0,05075 N Alkalimetri Dimasukkan 10ml asam cuka yang telah - Larutan bening diencerkan kedalam tabung reaksi Ditetesi indikator PP 3 tetes Dititrasi dengan NaOH 15,5 ml Dihitung konsentrasi asam cuka - Larutan tetap bening - Warna larutan menjadi merah lembayung - Didapat 0,155 N - Larutan menjadi 20ml dan berwarna bening - Warna larutan menjadi merah lembayung - Warna larutan menjadi bening kembali Keterangan

4.2. Reaksi-reaksi 4.2.1. Naoh + Indikator PP

4.2.2. Asam oksalat Indikator PP

4.3. Perhitungan

4.1. Pembahasan Titrasi merupakan cara reaksi netralisasi yang dipakai untuk menetukan konsentrasi larutan asam atau basa dengan menambahkan setetes demi setetes larutan basa kepada larutan asam.

Titik ketika melakukan titrasi dimana titrasi yang diteteskan cukup untuk membuat reaksi yang sempurna yang disebut titik equivalen yang ditandai oleh perubahan warna pada indikator. Titik akhir titrasi merupakan titk pada saat indikator berubah warna. Larutan standar primer adalah larutan yang kadarnya dapat diketahui secara langsung dari hasil penimbangan. Contohnya K2Cr2O7 dan Na2B4O7. Syarat-syarat larutan standar primer adalah 1. Sangat murni atau mudah dimurnikan 2. Stabil dalam keadaan biasa, setidak-tidaknya selama ditimbang 3. Sedapat mungkin mempunyai berat ekivalen tinggi untuk mengurangi kesalahan penimbangan 4. Dalam titrasi akan bereaksi menurut syarat-syarat reaksi titrasi 5. Mempunyai rumus molekul yang pasti Larutan standar primer berfungsi untuk membakukan konsentrasi larutan tertentu, yaitu larutan yang ketetapan konsentrasinya sukar diperoleh melalui pembuatannya secara langsung. Larutan dimana konsentrasinya diperoleh dengan cara pembakuan disebut larutan standar sekunder yaitu contohnya AgNO3, NaOH, KmnO4, Na2SO4 dan Ca(OH)2. Larutan yang dapat digunakan sebagai larutan standar sekunder memiliki syarat sebagai berikut: 1. Larutan sukar dibuat secara kuantitatif 2. Tidak memiliki kemurnian yang tinggi 3. Larutannya tidak stabil Asidimetri ialah penentuan kadar suatu basa dengan menggunakan asam sebagai standar primer. Alakalimetri ialah penentuan kadar suatu asam dengan menggunakan basa sebagai standar primer. Bila kita mengukur berapa ml larutan asam bertitar tertentu yang diperlukan untuk menetralkan larutan basa yang kadar atau titernya belum diketahui maka dilakukan asidimetri. Pada percobaan yang pertama yaitu asidimetri, dengan titrasi NaOH dan asam cuka perdaganyan ketika CH3COOH ditetesi dengan indikator PP, warna larutan menjadi merah lembayung. Hal ini menunjukkan bahwa larutanm bersifat basa, kemudian dititrasi dengan H2C2O4, warna larutan menjadi bening pada titik ekivalen dengan volume 10,15ml karena

titrannya berupa asam. Hal ini menunjukkan bahwa pH larutan dibawah 8, karena indikator PP dapat mendeteksi larutan dengan pH 8,0 9,6. Pada percobaan yang kedua yaitu alkalimetri, dengan titrasi NaOH dan asam cuka perdagangan. Ketika CH3COOH ditetesi dengan indikator PP, warna larutan tidak berubah atau masih bening. Hal ini dikarnakan indikator PP tidak bereaksi dengan asam. Setelah ditetesi dengan NaOH warna larutan menjadi merah lembayung, karna telah terjadi titrasi sempurna. Sehingga indikator PP memberikan warna pada saat volume NaOH yang dibutuhkan mencapaititik ekuivalen. Faktor kesalahan yang telah terjadi adalah Ketika titrasi, volume titran yang diteteskan melebihi dari volume yang diharuskan, karena kurang memperhatikan perubahan warna larutan, sehingga didapat hasila yang kurang akurat. Alat yang digunakan tidak benar-bersih, sehingga zat pada larutan tercampur zat lain. Kesalahan praktikan dalam membaca meniskus bawah buret. Titik ekivalen adalah titik dalam tirasi dimana titran yang ditambahkan cukup untuk bereaksi secara tepat dengan senyawa yang ditentukan. Indikator PP adalah zat yang digunakan sebagi indikator suatu larutan basa, apabila zat ini bereaksi dengan OH- maka akan menghasilkan warna merah lembayung, sedangkan pada larutan asam tidak. Titran adalah zat penitrasi yang merupakan larutan baku yang dimasukkan kedalam buret yang telah ditera. Sedangkan titrat adalah zat yang dititrasi yang ditempatkan dalam wadah (gelas kimia atau erlenmeyer). Pada percobaan asidimetri zat yang berfungsi sebagai titran adalah asam oksalat sedangkan natrium hidroksida sebagai titrat. Pada percobaan alkalimetri yang berfungsi sebagai titran adalah NaOH, sedangkan titratnya adalah asam cuka perdagangan.

BAB 5 PENUTUP 5.1 Kesimpulan Konsentrasi NaOH standar yang digunakan dalam percobaan adalah 0,05075 N Konsentrasi CH3COOH perdagangan yang dipakai dalam percobaan ini adalah 0,155 N

Untuk menetralkan NaOH, volume titran (C2H2O4) yang digunakan ad lah 10,15ml, pada NaOH 20ml

5.2

Saran Dalam percobaan sebaiknya ditambah titrasi asam kuat-basa kuat, asam kuat-basa lemah sehingga dapat diketahui perbandingannya.

DAFTAR PUSTAKA Kenaan, dkk. 1984. Kimia untuk Universitas. Jakarta : Erlangga Keenan, W Kleinferter. 1980. Kimia untuk Universitas. Jakarta : Erlangga Khopkar, S M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Universitas Indonesia Sastrohamidjojo, Handjono. 2005. Kimia Dasar. Yogjakarta : Gajah Mada University Press Shevla, G. 1985. Vogel Analisis Anorgami Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta : PT. Kalman Media Pustaka S, Syukri. 1999. Kimia Dasar Jilid 3. Bandung : ITB Hardjono, S. 2005. Kimia Dasar. Yogyakarta : UGM

Laporan Kimia Dasar II Asidi-Alkalimetri


BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Asidi-alkalimetri merupakan titrasi yang berhubungan dengan asam dan basa. Secara sederhana, asam merupakan larutan yang memiliki pH diatas 7 sedangkan basa merupakan larutan yang memiliki pH kurang dari 7. Apabila kedua larutan tersebut memiliki kekuatan yang sama, maka bila dicampurkan dengan volume yang sama, akan didapat larutan yang memiliki pH netral.

Titrasi merupakan salah satu cara untuk mengetahui konsentrasi dari larutan standar sekunder, yaitu larutan yang dimana konsentrasinya didapat dengan cara pembakuan. Yang dubantu dengan larutan standar sekunder atau larutan yang konsentrasinya dapat diketehui secara langsung dari hasil penimbangan, yang ditambahkan indikator pH sebagai penentu tingkat keasaman suatu larutan. Kesetimbangan asam basa merupakan suatu topik yang sangat penting dalam kimia dan bidang-bidang lain yang mempergunakan kimia, seperti biologi, kedokteran dan pertanian. Titrasi yang menyangkut asam dan basa sering disebut asidimetri-alkalimetri. Sedangkan untuk titrasi atau pengukuran lain-lain sering juga dipakai akhiran ometri menggantikan imetri. Kata metri berasal dari bahasa Yunani yang berarti ilmu atau proses atau seni mengukur. Pengertian asidimetri dan alkalimetri secara umum ialah titrasi yang menyangkut asam dan basa. Asidi-alkalimetri dapat digunakan untuk beberapa larutan. Oleh karena itu praktikum ini dilakukan agar dapat memahami konsep adisi-alkalimetri serta mengetahui konsentrasi larutan yang dianalisa.

1.2 Tujuan percobaan Mengetahui konsentrasi NaOH standar Mengetahui konsentrasi CH3COOH perdagangan Mengetahui volume titran (C2H2O4) untuk menetralkan NaOH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Zat-zat anorganik dapat diklasifikasikan dalam tiga golongan penting : asam, basa dan garam. Asam secara paling sederhana didefinisikan sebagai zat, yang bila dilarutkan dalam air, mengalami disosiasi dengan pembentukan ion hidrogen sebagai satu-satunya ion positif. Sebenarnya ion hidrogen (proton) tak ada dalam larutan air. Setiap proton bergabung dengan satu molekul air dengan cara berkoordinasi dengan sepasang elektron bebas yang terdapat pada oksigen dari air, dan terbentuk ion-ion hidronium :

H+ + H2O H3O+ Basa, secara paling sederhana dapat didefinisikan sebagai zat, yang bila dilarutkan dalam air, mengalami disosiasi dengan pembentukan ion-ion hidroksil sebagai satu-satunya ion negatif. Hidroksida-hidroksida logam yang larut, seperti natrium hidroksida atau kalium hidroksida hampir sempurna berdisosiasi dalam larutan air yang encer :

Karena itu basa-basa ini adalah basa kuat. Di lain pihak larutan air amonia, merupakan suatu basa lemah. Bila dilarutkan dalam air, amonia membentuk amonium hidroksida, yang berdisosiasi menjadi ion amonium dan ion hidroksida :

Karena itu, basa kuat merupakan elektrolit kuat, sedang basa lemah merupakan elektrolit lemah. Tetapi tak ada pembagian yang tajam antara golongan-golongan ini, dan sama halnya dengan asam, adalah mungkin untuk menyatakan kekuatan basa secara kuantitatif. Menurut definisi yang kuno, garam adalah hasil reaksi antara asam dan basa. Prosesproses semacam ini disebut netralisasi. Definisi ini adalah benar, dalam artian, bahwa jika sejumlah asam dan basa murni ekuivalen dicampur, dan larutannya diuapkan, suatu zat kristalin tertinggal, yang tak mempunyai ciri-ciri khas suatu asam maupun basa. Zat-zat ini dinamakan garam oleh ahli-ahli kimia zaman dulu (G. Shevla, 1985). Reaksi netralisasi dapat dipakai untuk menentukan konsentrasi larutan asam atau basa. Caranya dengan menambahkan setetes demi setetes larutan basa kepada larutan asam. Setiap basa yang diteteskan bereaksi dengan asam, dan penetesan dihentikan pada saat jumlah mol H+ setara dengan mol OH-. Pada saat itu larutan bersifat netral dan disebut titik ekuivalen. Cara seperti ini disebut titrasi, yaitu analisis dengan mengukur jumlah larutan yang diperlukan untuk bereaksi tepat sama dengan larutan lain. Analisis ini disebut juga analisis volumetri, karena yang diukur adalah volume larutan basa yang terpakai dengan volume tertentu larutan asam (Syukri, S. 1999). Larutan basa yang akan diteteskan (titran) dimasukkan ke dalam buret (pipa panjang berskala) dan jumlah yang terpakai dapat diketahui dari tinggi sebelum dan sesudah titrasi. Larutan asam yang akan dititrasi dimasukkan ke dalam gelas kimia (erlenmeyer), dengan mengukur volumnya terlebih dulu dengan memakai pipet gondok. Untuk mengamati titik

ekuivalen dipakai indikator yang perubahan warnanya di sekitar titik ekuivalen. Saat terjadi perubahan warna itu disebut titik akhir (Syukri, S. 1999). Berikut syarat-syarat yang diperlukan agar titrasi yang dilakukan berhasil : Konsentrasi titran harus diketahui. Larutan seperti ini disebut larutan standar. Reaksi yang tepat antara titran dan senyawa yang dianalisis harus diketahui. Titik stoikhiometri atau ekivalen harus diketahui. Indikator yang memberikan perubahan warna, atau sangat dekat pada titik ekivalen yang sering digunakan. Titik pada saat indikator berubah warna disebut titik akhir. Volume titran yang dibutuhkan untuk mencapai titik ekivalen harus diketahui setepat mungkin (Hardjono Sastrohamidjojo. 2005) Proses titrasi asam-basa sering dipantau dengan penggambaran pH larutan yang dianalisis sebagai fungsi jumlah titran yang ditambahkan. Gambar yang diperoleh tersebut disebut kurva pH, atau kurva titrasi. - KURVA TITRASI Larutan yang dititrasi dalam asidimetri-alkalimetri mengalami perubahan pH. Misalnya bila larutan asam dititrasi dengan basa, maka pH larutan mula-mula rendah dan selama titrasi terus menerus naik. Bila pH ini diukur dengan pengukur pH (pH-meter) pada awal titrasi, yakni sebelum ditambah basa dan pada waktu-waktu tertentu setelah titrasi dimulai, maka kalau pH dialurkan lawan volume titran, kita peroleh grafik yang disebut kurva titrasi. Bila suatu indikator pH kita pergunakan untuk menunjukkan titik akhir titrasi, maka : 1. Indikator harus berubah warna tepat pada saat titran menjadi ekivalen dengan titrat agar tidak terjadi kesalahan titrasi. 2. Perubahan warna itu harus terjadi dengan mendadak, agar tidak ada keragu-raguan tentang kapan titrasi harus dihentikan. Untuk memenuhi pernyataan (1), maka trayek indikator harus mencakup pH larutan pada titik ekivalen, atau sangat mendekatinya; untuk memenuhi pernyataan (2), trayek indikator tersebut harus memotong bagian yang sangat curam dari kurva (Khopkar, 2003). Titrasi asidimetri-alkalimetri menyangkut reaksi dengan asam dan atau basa diantaranya: Asam kuat dan basa kuat Reaksi untuk titrasi asam kuat-basa kuat adalah

Untuk menghitung [H+] pada titik tertentu dalam titrasi, kita harus menentukan jumlah H+ yang tetap tinggal pada titik tersebut dibagi dengan volume total larutan.

(Hardjono. 2005) Asam kuat dan basa lemah Meskipun istilah penetralan lazim digunakan untuk reaksi apa saja antara asam dengan basa, tak selalu akan dihasilkan larutan yang benar-benar netral. Memang larutan netral hanya diperoleh bila asam dan basa itu sama kuatnya. Pada hakekatnya titrasi basa lemah dengan asam kuat dapat dipahami seperti cara kerja sebelumnya. Yang perlu diperhatikan adalah tentang komponen utama dalam larutan dan kemudian memutuskan apakah reaksi terjadi menuju sempurna (Keenan, dkk. 1984). Asam lemah dan basa kuat Reaksi dalam larutan air dari asam lemah seperti asam asetat, HC2H3O2, dengan basa kuat NaOH dapat dinyatakan oleh persamaan berikut: Pemaparan lama :

Pemaparan baru :

Larutan natrium asetat yang dihasilkan agak bersifat basa, karena ion asetat berfungsi sebagai basa dalam larutan air (Keenan, dkk. 1984). Asam lemah dan basa lemah Sebagai contoh akhir dari penetralan, perhatikan reaksi dalam larutan air dari asam asetat yang lemah itu dengan basa lemah amonia. Larutan amonium asetat, yang dihasilkan, praktis netral. Ini karena kuat asam ion NH4+ tepat diimbangi oleh basa kuat dari ion C2H3O2-. Sebagai ringkasan, reaksi asam dan basa yang sama kekuatannya, akan menghasilkan larutan netral. Asam dan basa yang bereaksi dapat keduanya kuat maupun keduanya lemah. - Indikator Asam Basa

Indikator asam basa ialah zat yang dapat berubah warna apabila pH lingkungannya berubah. Misalnya biru bromtimol (bb); dalam larutan asam ia berwarna kuning, tetapi dalam lingkungan basa warnanya biru. Warna dalam keadaan asam dinamakan warna asam dari indikator (kuning untuk bb), sedang warna yang ditunjukkan dalam keadaan basa disebut warna basa. Akan tetapi harus dimengerti, bahwa asam dan basa disini tidak berarti pH kurang atau lebih dari tujuh. Asam berarti pH lebih rendah dan basa berarti pH lebih besar dari trayek indikator atau trayek perubahan warna yang bersangkutan. Perubahan warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. Berbagai indikator mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan akibatnya mereka menunjukkan warna pada range pH yang berbeda (Khopkar. 2003) Kebanyakan indikator asam basa adalah molekul kompleks yang bersifat asam lemah dan sering disingkat dengan HIn. Mereka memberikan satu warna berbeda bila proton lepas (Hardjono Sastrohamidjojo. 2005) Contoh : Fenolftalein, indikator yang lazim dipakai, tak berwarna dalam bentuk Hin-nya dan berwarna pink dalam bentuk In, atau basa. Struktur Fenolftalein, sering disingkat PP, adalah sebagai berikut :

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Alat dan Bahan 3.1.1. Alat-alat

Labu ukur 250ml Erlenmeyer 250ml Buret

Pipe volume 10ml Labu ukur 100ml Gelas kimia

Statif dan klem Corong 3.1.2. Bahan-bahan Asam cuka perdagangan NaOH 0,1 N (Natrium Hidroksida) Asam oksalat dehidrat 0,1 N Aquades Indikator PP

3.2. Prosedur Percobaan 3.2.1.Asidimetri Dimasukkan asam oksalat dehidrat 0,1 N kedalam buret Dicampurkan 10ml NaOH dan 10ml akuades di dalam tabung gelas kimia, lalu diguncangguncang Ditetesi dengan indikator PP sebanyak 3 tetes kedalam gelas kimia yang berisi NaOH dan akuades Warna larutan menjadi merah lembayung

- Ditetesi latutan dengan asam oksalat dehidrat hingga larutan menjadi jernih, sambil diguncangguncang 3.2.2.Alkalimetri Dimasukkan NaOH 0,1 N kedalam buret - Dituang 10ml asam cuka perdagangan yang telah diencerkan terlebih dahulu kedalam gelas kimia - Ditetesi indikator PP sebanyak 3 tetes kedalam gelas kimia berisi asam cuka - Ditetesi larutan asam cuka dengan NaOH 0,1 N hingga warna larutan menjadi merah lembayung.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengamatan


Perlakuan Asidimetri Dicampurkan 10ml NaOH dan 10ml akuades Ditetesi Indikator PP 3 tetes Ditittrasi dengan asam oksalat dehidrat 10,15ml Dihitung konsentrasi NaOH - Didapat 0,05075 N Alkalimetri Dimasukkan 10ml asam cuka yang telah - Larutan bening diencerkan kedalam tabung reaksi Ditetesi indikator PP 3 tetes Dititrasi dengan NaOH 15,5 ml Dihitung konsentrasi asam cuka - Larutan tetap bening - Warna larutan menjadi merah lembayung - Didapat 0,155 N - Larutan menjadi 20ml dan berwarna bening - Warna larutan menjadi merah lembayung - Warna larutan menjadi bening kembali Keterangan

4.2. Reaksi-reaksi 4.2.1. Naoh + Indikator PP

4.2.2. Asam oksalat Indikator PP

4.3. Perhitungan

4.1. Pembahasan Titrasi merupakan cara reaksi netralisasi yang dipakai untuk menetukan konsentrasi larutan asam atau basa dengan menambahkan setetes demi setetes larutan basa kepada larutan asam.

Titik ketika melakukan titrasi dimana titrasi yang diteteskan cukup untuk membuat reaksi yang sempurna yang disebut titik equivalen yang ditandai oleh perubahan warna pada indikator. Titik akhir titrasi merupakan titk pada saat indikator berubah warna. Larutan standar primer adalah larutan yang kadarnya dapat diketahui secara langsung dari hasil penimbangan. Contohnya K2Cr2O7 dan Na2B4O7. Syarat-syarat larutan standar primer adalah 1. Sangat murni atau mudah dimurnikan 2. Stabil dalam keadaan biasa, setidak-tidaknya selama ditimbang 3. Sedapat mungkin mempunyai berat ekivalen tinggi untuk mengurangi kesalahan penimbangan 4. Dalam titrasi akan bereaksi menurut syarat-syarat reaksi titrasi 5. Mempunyai rumus molekul yang pasti Larutan standar primer berfungsi untuk membakukan konsentrasi larutan tertentu, yaitu larutan yang ketetapan konsentrasinya sukar diperoleh melalui pembuatannya secara langsung. Larutan dimana konsentrasinya diperoleh dengan cara pembakuan disebut larutan standar sekunder yaitu contohnya AgNO3, NaOH, KmnO4, Na2SO4 dan Ca(OH)2. Larutan yang dapat digunakan sebagai larutan standar sekunder memiliki syarat sebagai berikut: 1. Larutan sukar dibuat secara kuantitatif 2. Tidak memiliki kemurnian yang tinggi 3. Larutannya tidak stabil Asidimetri ialah penentuan kadar suatu basa dengan menggunakan asam sebagai standar primer. Alakalimetri ialah penentuan kadar suatu asam dengan menggunakan basa sebagai standar primer. Bila kita mengukur berapa ml larutan asam bertitar tertentu yang diperlukan untuk menetralkan larutan basa yang kadar atau titernya belum diketahui maka dilakukan asidimetri. Pada percobaan yang pertama yaitu asidimetri, dengan titrasi NaOH dan asam cuka perdaganyan ketika CH3COOH ditetesi dengan indikator PP, warna larutan menjadi merah lembayung. Hal ini menunjukkan bahwa larutanm bersifat basa, kemudian dititrasi dengan H2C2O4, warna larutan menjadi bening pada titik ekivalen dengan volume 10,15ml karena

titrannya berupa asam. Hal ini menunjukkan bahwa pH larutan dibawah 8, karena indikator PP dapat mendeteksi larutan dengan pH 8,0 9,6. Pada percobaan yang kedua yaitu alkalimetri, dengan titrasi NaOH dan asam cuka perdagangan. Ketika CH3COOH ditetesi dengan indikator PP, warna larutan tidak berubah atau masih bening. Hal ini dikarnakan indikator PP tidak bereaksi dengan asam. Setelah ditetesi dengan NaOH warna larutan menjadi merah lembayung, karna telah terjadi titrasi sempurna. Sehingga indikator PP memberikan warna pada saat volume NaOH yang dibutuhkan mencapaititik ekuivalen. Faktor kesalahan yang telah terjadi adalah Ketika titrasi, volume titran yang diteteskan melebihi dari volume yang diharuskan, karena kurang memperhatikan perubahan warna larutan, sehingga didapat hasila yang kurang akurat. Alat yang digunakan tidak benar-bersih, sehingga zat pada larutan tercampur zat lain. Kesalahan praktikan dalam membaca meniskus bawah buret. Titik ekivalen adalah titik dalam tirasi dimana titran yang ditambahkan cukup untuk bereaksi secara tepat dengan senyawa yang ditentukan. Indikator PP adalah zat yang digunakan sebagi indikator suatu larutan basa, apabila zat ini bereaksi dengan OH- maka akan menghasilkan warna merah lembayung, sedangkan pada larutan asam tidak. Titran adalah zat penitrasi yang merupakan larutan baku yang dimasukkan kedalam buret yang telah ditera. Sedangkan titrat adalah zat yang dititrasi yang ditempatkan dalam wadah (gelas kimia atau erlenmeyer). Pada percobaan asidimetri zat yang berfungsi sebagai titran adalah asam oksalat sedangkan natrium hidroksida sebagai titrat. Pada percobaan alkalimetri yang berfungsi sebagai titran adalah NaOH, sedangkan titratnya adalah asam cuka perdagangan.

BAB 5 PENUTUP 5.1 Kesimpulan Konsentrasi NaOH standar yang digunakan dalam percobaan adalah 0,05075 N Konsentrasi CH3COOH perdagangan yang dipakai dalam percobaan ini adalah 0,155 N

Untuk menetralkan NaOH, volume titran (C2H2O4) yang digunakan ad lah 10,15ml, pada NaOH 20ml

5.2

Saran Dalam percobaan sebaiknya ditambah titrasi asam kuat-basa kuat, asam kuat-basa lemah sehingga dapat diketahui perbandingannya.

DAFTAR PUSTAKA Kenaan, dkk. 1984. Kimia untuk Universitas. Jakarta : Erlangga Keenan, W Kleinferter. 1980. Kimia untuk Universitas. Jakarta : Erlangga Khopkar, S M. 2003. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta : Universitas Indonesia Sastrohamidjojo, Handjono. 2005. Kimia Dasar. Yogjakarta : Gajah Mada University Press Shevla, G. 1985. Vogel Analisis Anorgami Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta : PT. Kalman Media Pustaka S, Syukri. 1999. Kimia Dasar Jilid 3. Bandung : ITB Hardjono, S. 2005. Kimia Dasar. Yogyakarta : UGM