Effi.setyoadi@gmail.

com

Fatwa MUI - Rokok
User Rating: Poor / 27
Rate

Best

Sepakat Bersilang Pendapat Ijtima' Ulama III gagal menyepakati hukum umum merokok. Terbelah antara makruh dan haram. Kesepakatan haram tercapai hanya pada kondisi dan subjek spesifik: di muka umum, wanita hamil, dan anak-anak. Pengurus MUI juga haram merokok. Fatwa rokok jadi sorotan pokok agenda Ijtima' Ulama Komisi Fatwa se-Indonesia III di Padang Panjang, Sumatera Barat, Sabtu-Minggu pekan lalu. Meski digelar 12 tema bahasan, mulai kelompok masalah strategis kebangsaan, masalah fikih kontemporer, hingga masalah hukum dan perundangundangan, di empat lokasi terpisah, isu rokok paling menyedot perhatian peserta, peninjau, dan media. Sejak tingkat sidang komisi sampai sidang pleno, hukum merokok sengaja ditaruh pada bagian akhir karena ditaksir bakal menyita perdebatan paling alot. Inilah satu-satunya tema yang menuai ancaman walkout dari beberapa peserta bila rokok diharamkan mutlak. Sebaliknya, tekanan agar rokok diharamkan total juga tak kalah garang. Pro-kontra tentang haramnya rokok berporos pada debat tentang kadar manfaat dan bahaya (madharat), baik secara personal maupun sosial. Bagi penyokong rokok haram, betapapun memiliki manfaat, madharat-nya dinilai lebih serius, baik bagi kesehatan pribadi perokok maupun lingkungan perokok pasif sekitarnya. Secara ekonomi, gaya hidup perokok dinilai mendorong ekonomi biaya tinggi (israf) dan mubazir. Tengku Zulkarnain, peserta dari organisasi Mathlaul Anwar, paling gencar dan panjang lebar meyakinkan peserta betapa mengerikannya bahaya rokok. Di sisi lain, bagi penolak haramnya rokok, dampak buruk rokok juga diakui, tetapi tidak bisa dipukul rata. Sifatya kasuistis dan relatif. Kadar bahayanya masih dalam dosis yang belum bisa dikualifikasi ''haram mutlak''. Manfaat rokok, bagi mereka, tidak bisa disepelekan. Terutama manfaat sosial-ekonomi, seperti

pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur. hukum rokok tidak sampai haram mutlak. Makruh tahrim sempat diusulkan sebagai jalan tengah antara makruh dan haram. tapi bahayanya lebih besar (Al-Baqarah: 219). Menimbang bahaya rokok lebih besar dari manfaatnya. status khamr belum haram. menyebutkan bahwa status rokok tergantung dua elemen. menggiring peserta untuk bersepakat pada tiga hal: rokok tidak wajib. Alasan hukum ('illat) haramnya minuman keras bukan karena besarnya madharat. bila hanya mudhir. dan kiprah sosial industri rokok. ''bahaya harus dibuang'' (al-dharar yuzal) dan kaidah ''mencegah bahaya harus didahulukan ketimbang mewujudkan maslahat'' (dar'ul mafasid muqaddam 'ala jalbil mashalih). dan . dan haram. Maka. Diakui. Abdurrahman Nafis. Paling maksimal ''makruh tahrim''. Konsep makruh tahrim dikenal dalam Madzhab Hanafiyah. mengacu pada lima macam gradasi hukum dalam Islam: wajib. Pengerucutan diawali dengan menyisir kesepakatan. Sekretaris MUI Jakarta. Ali Mustafa Yaqub. Substansinya sama dengan haram. menambahkan variabel lain yang membuat barang konsumsi dikategorikan haram. Awalnya boleh. Prof. mubah. Amin Suma. Imam Besar Masjid Istiqlal. Pada saat ayat yang menyebut besarnya madharat khamr turun.penyerapan tenaga kerja. maka rokok otomatis haram mutlak. Tapi. Diusulkan. pasokan pendapatan negara. ditinggalkan berpahala). tidak sunat. Tapi argumen tersebut dibantah peserta lain. Bila dalam dosis wajar dan tidak terlalu berbahaya. juga najis. yang tidak sampai memabukkan? Analasis demikian pernah disampaikan MUI Jawa Timur ketika diminta menilai disertasi tentang rokok di Universitas Airlangga. baru haram. kata Abdurrahman. Larangan mutlak baru muncul ketika turun suratAl-Maidah ayat 90. ulama sepakat. dan Prof. Rokok tidak sampai memabukkan dan tidak najis. tapi tidak didukung dengan nash (ayat Al-Quran dan hadis Nabi) yang eksplisit menyebut haram. Dianalogikan dengan kandungan formalin dan zat kimia lainnya dalam makanan. melainkan karena sifatnya yang memabukkan (muskir). Ketua Badan Amil Zakat Nasional. Perdebatan pada detik-detik akhir sidang komisi memang dikerucutkan pada dua opsi tersebut. tapi sekadar ''membahayakan''. Didukung pula dengan sejumlah kaidah fikih. hukum dasarnya makruh (dikerjakan tak berdosa. Bila muskir. tidak bisa langsung disimpulkan haram. Aspek kesehatan dan ekonomi rokok itu kemudian dikaji dengan seperangkat konsep teoretik tentang mekanisme penggalian status hukum Islam (istinbath). Antara lain. Premis ini dianalogikan pada ayat Al-Quran yang berbicara tentang minuman keras(khamr). Surabaya. makruh. minuman keras memiliki manfaat. Selain memabukkan. Tapi. Apakah mengandung sifat ''memabukkan'' (muskir) atau ''membahayakan'' (mudhir) saja. Didin Hafiduddin. Cholil Nafis. statusnya halal. Kadar bahanya pun bersifat kasuistis. Pimpinan sidang komisi. Alasan ini dikemukakan Prof. hukumnya haram. kelangsungan hidup petani tembakau. bila melampaui standar sehingga sampai mematikan. kemudian dilarang secara terbatas: jangan menunaikan salat dalam keadaan mabuk (AnNisa: 43). Yakni makruh yang mendekati haram. Ada peserta yang menggunakan argumen general. Rokok dinilai tidak ''memabukkan''. Tergantung kadar bahayanya. sunat.

pimpinan Perguruan Diniyyah Putri. Pendukung rokok haram juga meningkatkan tekanan. sesuai dengan situasi tiap-tiap daerah. Tepuk tangan langsung bergemuruh.'' kata Hasanuddin. Beberapa peserta lain masih mengacungkan tangan keberatan. Tapi palu sidang sudah diketokkan. tekanan dua faksi makin kencang. Mereka hanya berbeda pendapat tentang tingkat larangan: makruh dan haram. enam orang bependapat makruh. Tim perumus melaporkan.'' kata Fauziah. Suasana kembali memanas ketika masuk sidang pleno. sekretaris tim perumus. Dalam suasana tegang. . Dilaporkan pula. bisa dijadikan pijakan untuk mengharamkan rokok. Tim perumus mengusulkan jalan tengah. Maka. ''Untuk apa kita berkumpul di sini kalau tidak berani memutuskan rokok haram. minta peserta memikirkan nasib ribuan keluarga yang ekonominya bergantung pada industri rokok.tidak mubah. Namun implementasinya bertahap. Dalam Syafi'iyah. identifikasi jumhur setuju haram tidak valid. Pleno diminta menetapkan ''hukum asal'' merokok adalah haram. Puncak tekanan pendukung haramnya rokok terjadi ketika tuan rumah. ''Peserta sepakat memberikan amanah kepada MUI Pusat untuk menetapkan fatwa haram atau makruhnya merokok. yang bertugas menyiapkan laporan sidang komisi ke sidang pleno. Ia menolak penyerahan kepada MUI Pusat. minta waktu bicara. membantah bahwa makna umum dari ayat umum tidak bisa dijadikan pijakan dalil. Fauziah Fauzan. katanya. Ahmad Rofiq. paling tinggi hukum rokok itu makruh. Ketua MUI Sumatera Barat Bidang Fatwa. Dibentuklah tim perumus. ayat umum yang berisi larangan menceburkan diri dalam kerusakan atau larangan bunuh diri. Ia berorasi panjang lebar menantang keberanian peserta Ijtima' Ulama. seluruh peserta Komisi B-1 sepakat. tidak akan bertanggung jawab duniaakhirat bila rokok diharamkan. Sebagian besar diam. MUI Jawa Tengah dan Nusa Tenggara Barat menyampaikan ancaman tertulis. Sejumlah peserta berteriak setuju. Sehingga hukum rokok tinggal sisa dua: makruh atau haram. Disertai catatan tambahan. terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Setelah dilokalisasi jadi dua pilihan. karena Ijtima' Ulama dipandang lebih tinggi dari Komisi Fatwa MUI Pusat. Prof. dari seluruh pendapat tertulis yang diterima tim perumus. Buya Gusrizal Gazahar. ''rokok dilarang''. 34 orang berpendapat haram. Sekretaris MUI Jawa Tengah. ia mengusulkan. Cholil Nafis dari MUI Jakarta menilai. petunjuk makna ayat umum (dilalah 'aammah) mengandung konklusi makna pasti (qath'y).'' Hasanuddin menambahkan. Mengingat tidak ada dalil yang eksplisit dan spesifik mengharamkan rokok. ''Jumhur atau mayoritas peserta berpendapat bahwa merokok adalah haram. Ia meminta konsistensi peserta yang mayoritas penganut Mazhab Syafi'iyah. Laporan tim perumus menuai reaksi. pimpinan rapat komisi menawarkan solusi dengan menyerahkan kesimpulan akhir kepada MUI Pusat. misalnya.

untuk anak-anak haram. kita katakan. Meski kuantitas pendukung rokok haram terlihat banyak.KH Azis Masyhuri. ''Untuk sementara. ''Pengurus MUI merokok. makruh dan haram sama-sama kuat. ''Haram!'' Palu pun diketokkan. Kedua. ''Khilaf!'' kata ini paling lantang terdengar dari peserta.'' ujarnya. Akan ada pembahasan lebih lanjut dalam pertemuan yang akan datang. dalam pengambilan konklusinya (istidlal). ''Pengurus MUI juga haram merokok?'' tanyanya kepada forum. masih sambil terbahak. Haramnya pengurus MUI merokok baru eksplisit dikemukan Ma'ruf setelah dikonfirmasi secara terbuka oleh Fauziah Fauzan. Setuju?'' Peserta kompak sepakat. Tapi Ma'ruf tidak langsung menjelaskan ketokan palu itu atas pilihan mana. ''Setuju khilaf?'' tanya Kiai Ma'ruf. tuan rumah acara. Beberapa peserta bertanya-tanya. ''Bagaimana kalau pengurus MUI merokok?'' tanya peserta. ''Untuk wanita hamil juga haram. mengapa semudah itu diputuskan bahwa pengurus MUI haram merokok. ini khilaf antara haram dan makruh. Setuju?'' Tak ada keberatan. hukum rokok tidak diputuskan (tawaquf) dan akan dibahas dalam forum lain. dan di muka umum dikaji secara mendalam sebelumnya. Karena itulah. Pertama. juga mengoreksi laporan tim perumus. Sedangkan penolak rokok haram memakai analisis detail (tafshil). ''Dari sisi argumen. tidak ada dalam sidang komisi. Jombang. pengasuh Pesantren Denanyar. Tiba-tiba terdengar suara spontan. ''Urusan rokok sudah selesai!'' kata Ma'ruf. sayup-sayup di tengah peserta. sidang komisi bersepakat ''tidak memutuskan'' (mawquf). menurut Azis. ''Ada usulan supaya ada hukum merokok di depan umum. serta mengecek ada tidaknya muatan muskir dan najis. menakar kadar ''bahaya'' rokok secara proporsional. kata Azis. rokok untuk pengurus MUI merupakan usulan spontan. Setuju?'' Tak ada penolakan. mengurai 'illat hukum dengan cermat.'' katanya. ''Ketiga. Dok! Ma'ruf mengetokkan tangan ke meja. Sebagian besar pendukung rokok haram. Dalam suasana kalut. menurut Azis. Jawa Timur. tapi lama-lama kencang. KH Ma'ruf Amin yang memimpin sidang pleno akhirnya menawarkan dua kesimpulan. hukum rokok khilaf antara makruh dan haram. hanya menggunakan petunjuk makna umum (dilalah 'aammah) dari ayat umum yang tidak spesifik mengharamkan rokok. Laporan tim perumus bahwa komisi bersepakat ''rokok dilarang''. puas. Bila rokok untuk anak-anak. Sumber : GATRA 4 FEBRUARI 2009 . ''Diusulkan. Kiai Ma'ruf langsung tertawa. suara paling lantang yang terdengar dari peserta. tidak bisa dikatakan bahwa pendukung rokok makruh lemah. hukumnya haram.'' Ma'ruf menambahkan. hukumnya haram atau khilaf?'' tanyanya. Palu diketokkan. wanita hamil.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful