Anda di halaman 1dari 154

PEMBANGUNAN STREAMING SERVER BERBASIS OPEN SOURCE DI SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI GARUT

Laporan Tugas Akhir

Disusun Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mata Kuliah Tugas Akhir

Disusun oleh : RICKARD ELSEN (0706072)

TEKNIK INFORMATIKA SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI GARUT 2011

LEMBAR PENGESAHAN PEMBANGUNAN SERVER STREAMING BERBASIS OPEN SOURCE DI STT-GARUT


Disusun oleh : RICKARD ELSEN (0706072)

Laporan Tugas Akhir ini telah disetujui Panitia Sidang Tugas Akhir sebagai kelengkapan Tugas Akhir, Tahun Ajaran 2011/2012

Menyetujui :

Pembimbing I

Pembimbing II

Prof. H. M. Ali Ramdhani NIDN : 2006117101

Rinda Cahyana, M.T. NIDN : 0403107803

Mengetahui, Ketua Jurusan Teknik Informatika

Eri Satria, M.Si. NIDN : 0029127501

RICKARD ELSEN, 0706072 Pembangunan Streaming Server Berbasis Open Source di STT-Garut Di bawah bimbingan Prof. H. M. Ali Ramdhani dan Rinda Cahyana, M.T. 73 Halaman / 21 Gambar 7 Tabel 6 Lampiran / 11 Daftar Pustaka Abstrak
Sekolah Tinggi Teknologi Garut (STT-Garut) merupakan institusi penyelenggara pendidikan tinggi di wilayah Garut yang mengkhususkan cakupan pendidikannya di bidang keteknikan. STT-Garut memiliki 4 jurusan yaitu Teknik Industri (S1), Teknik Informatika (S1), Teknik Komputer (D3), dan Teknik Sipil (S1). Salah satu misi dari STT-Garut adalah menghasilkan lulusan berkualitas dan mampu berkompetisi pada sektor manufaktur dan jasa. Dengan latar belakang keteknikan, mahasiswa STT-Garut selalu mencari bahan-bahan kuliah dari berbagai sumber seperti internet. Namun, bandwidth yang disediakan terbatas sehingga kegiatan mencari bahan kuliah mejadi terganggu. Maka dari itu, muncul ide untuk membangun streaming server yang mampu menayangkan video, gambar, dan dokumen yang bersifat edukatif sesuai dengan perkuliahan. Dalam proses penelitian, kerangka kerja yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa metoda penelitian yaitu metoda pengumpulan data dalam melakukan analisis kebutuhan, metoda Component-Based Development dalam melakukan studi komponen, desain sistem, dan implementasi sistem, serta metoda Blackbox dalam melakukan evaluasi. Streaming server saat ini telah dibangun menggunakan teknologi open source dan freeware. Alasan pemilihan aplikasi open source adalah gratis dan bisa dimodifikasi sesuai kebutuhan. Aplikasi open source yang digunakan di sisi server adalah CentOS sebagai sistem operasi, Apache Web Server sebagai aplikasi penyalur konten, Drupal sebagai antarmuka, PHP sebagai bahasa pemrograman web, MySQL sebagai aplikasi basis data, dan DHTML sebagai modul menu untuk Drupal. Dari sisi pengguna, aplikasi yang dogunakan adalah aplikasi open source dan/atau freeware yaitu web browser sebagai aplikasi decoder dengan manggunakan plugin Adobe Flash Player dan Adobe Acrobat Reader. Kinerja situs telah diuji dengan melakukan demo situs dan benchmark terhadap server. Dari demo situs, terlihat bahwa situs mampu menyelesaikan smua permintaan dengan munculnya konten ketika menu diklik. Dari hasil benchmark, didapat kesimpulan bahwa server memadai untuk menyajikan konten streaming pada situs meskipun kinerjanya belum bisa dibilang bagus. Dari hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa jaringan komputer lokal STT-Garut cocok untuk diadakan streaming server yang didalamnya terdapat konten video, gambar, dan dokumen. Kata Kunci : Streaming Server, Server Open Source, Konten Edukasi, Jaringan Komputer

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb. Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Alloh SWT. karena atas berkat dan rahmat-Nya laporan ini dapat disusun sedemikian rupa. Tidak lupa pula semoga shalawat serta salam selalu dilimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Sekolah Tinggi Teknologi Garut (STT-Garut) merupakan salah satu lembaga pendidikan tinggi di pada wilayah bidang Garut yang mengkhususkan menunjang cakupan kegiatan pembelajarannya keteknikan. Demi

pembelajaran, berbagai sarana dan prasarana pun dibangun seperti perpustakaan, jaringan komputer lokal, pembelian jurnal berbayar, dan lain-lain. Hal inilah yang menginspirasi saya untuk membangun streaming server berbasis open source di STT-Garut sebagai sarana pembelajaran baru yang berisi konten edukasi yang mendukung kegiatan belajar mengajar selama perkuliahan. Konten dalam streaming server ini sendiri disesuaikan dengan mata kuliah yang ada pada masing2 jurusan di STT-Garut. Dalam penyusunan laporan ini, banyak pihak yang ikut membantu. Maka dari itu, saya ucapkan banyak terima kasih kepada : Alloh S.W.T., atas berkah yang diberikan tiada henti Keluarga, atas dukungan moril maupun materil Rektor STT-Garut, Bapak Prof. H. M. Ali Ramdhani atas kesediannya mengizinkan saya melakukan penelitian di STT-garut dan kesediannya menjadi Pembimbing 1. Kepala USI, Bapak Rinda Cahyana, M.T. atas kesediannya memberikan banyak saran dalam penelitian dan kesediannya menjadi Pembimbing 2.

ii

Ketua jurusan Teknik Informatika, Bapak Eri Satria, M.Si. atas dukungannya dalam proses penulisan karya tulis ini.

Deni Heryanto, Yosep Bustomi, Ade Sutedi, dan Sri Rahayu selaku asisten kepala USI atas bantuannya selama penelitian berlangsung.

Teman-teman mahasiswa Teknik Informatika 2007 karena telah menciptakan suasana belajar yang mneyenangkan.

Seluruh civitas STT-Garut atas dukungan yang diberikan.

Saya yakin dalam penulisan laporan ini tedapat kesalahan dan kekurangan. Maka dari itu, saya meminta kritik dan saran atas laporan ini agar kesalahan dan kekurangan yang ada tidak terulang dalam penyusunan laporan di masa yang akan dating. Mohon maaf apabila terdapat kata-kata yang menyinggung atau kurang berkenan di hati Anda. Akhir kata, semoga Alloh SWT. selalu memberkati kita semua. Amin. Wassalamualaikum Wr. Wb.

iii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN ABSTRAK............................................................................................................ i KATA PENGANTAR............................................................................................ ii DAFTAR ISI......................................................................................................... iv DAFTAR GAMBAR............................................................................................. vii DAFTAR TABEL.................................................................................................. viii DAFTAR LAMPIRAN......................................................................................... ix DAFTAR ISTILAH............................................................................................... x DAFTAR SINGKATAN........................................................................................ xii DAFTAR SIMBOL............................................................................................... xiii BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1 1.1 1.2 1.3 1.4 1.5 1.6 2.1 2.2 2.3 Latar Belakang.......................................................................................... 1 Identifikasi Masalah.................................................................................. 4 Tujuan........................................................................................................ 5 Batasan Masalah........................................................................................ 6 Metoda Penelitian...................................................................................... 6 Sistematika Penulisan................................................................................ 6 Pengertian Streaming................................................................................. 8 Lapisan Protokol TCP/IP........................................................................... 11 Pengalamatan Internet Protocol (IP)......................................................... 15

BAB II LANDASAN TEORI............................................................................... 8

2.3.1 Format Alamat IP...................................................................................... 16 2.3.2 Pembagian Kelas IP................................................................................... 16 2.3.3 Subnet Mask.............................................................................................. 18 2.3.3.1 Desimal Bertitik........................................................................................ 19 2.3.3.2 Panjang Prefix Jaringan............................................................................. 20 2.4 2.4.1 Transport Protocol.................................................................................... 21 User Datagram Protocol (UDP)............................................................... 22

iv

2.4.2 2.4.3 2.5 3.1 3.1.1 3.1.2 3.1.3 3.2 3.2.1 3.2.2 3.2.3 3.2.4 3.2.5 4.1 4.2 4.2.1 4.2.2 4.2.3

Transmission Control Protocol (TCP)....................................................... 24 Real-time Transport protocol (RTP).......................................................... 27 Perangkat Lunak Bebas dan Open Source................................................. 31 Metodologi Penelitian............................................................................... 35 Pengumpulan Data.................................................................................... 35 Component-Based Development............................................................... 36 Blackbox ................................................................................................... 38 Skema Kerja Penelitian............................................................................. 41 Analisis Kebutuhan................................................................................... 41 Studi Komponen........................................................................................ 42 Desain Sistem............................................................................................ 43 Implementasi Sistem................................................................................. 43 Evaluasi..................................................................................................... 43 Pendefinisian Kebutuhan........................................................................... 45 Studi Komponen........................................................................................ 46 Komponen yang Dimiliki STT-Garut........................................................ 46 Komponen yang Belum Dimiliki STT-Garut............................................ 48 Pemilihan Komponen................................................................................ 48

BAB III METODOLOGI PENELITIAN.............................................................. 35

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN............................................................... 45

4.2.3.1 Komponen Utama...................................................................................... 48 4.2.3.2 Komponen Tambahan................................................................................ 50 4.3 4.4 4.4.1 4.4.2 4.4.3 4.4.4 4.4.5 Desain Sistem............................................................................................ 51 Implementasi Desain................................................................................. 55 Instalasi CentOS dan Aktivasi Servis Apache........................................... 55 Instalasi dan Konfigurasi MySQL............................................................ 56 Instalasi dan Konfigurasi PHP.................................................................. 56 Instalasi dan Konfigurasi Drupal.............................................................. 57 Pengaturan dan Penambahan Konten........................................................ 59

4.4.5.1 Penambahan Konten Video....................................................................... 60 4.4.5.2 Penambahan Konten Gambar.................................................................... 63 4.4.5.3 Penambahan konten Dokumen.................................................................. 65

4.5 4.5.1 4.5.2 4.5.3 4.5.4 5.1 5.2

Evaluasi..................................................................................................... 68 Task Testing............................................................................................... 68 Behavioral Testing..................................................................................... 69 Questioner................................................................................................. 70 Hambatan yang Muncul dalam Proses Penelitian..................................... 72 Kesimpulan................................................................................................ 74 Saran.......................................................................................................... 75

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN................................................................ 74

DAFTAR PUSTAKA............................................................................................ xiv

vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Proses streaming secara singkat........................................................ 8 Gambar 2.2 Protokol pada Tiap Layer.................................................................. 15 Gambar 2.3 Pembagian Kelas IP........................................................................... 17 Gambar 2.4 Cara kerja TCP, UDP, dan RTP......................................................... 21 Gambar 3.1 Component-Based Development........................................................ 36 Gambar 3.2 Testing blackbox................................................................................ 40 Gambar 3.3 Skema tahap proses penelitian........................................................... 41 Gambar 3.4 Skema tahap proses penelitian secara rinci....................................... 44 Gambar 4.1 Layout jaringan komputer lokal STT-Garut...................................... 47 Gambar 4.2 Layout streaming server.................................................................... 52 Gambar 4.3 Arsitektur sistem streaming server STT-Garut.................................. 53 Gambar 4.4 Layout situs streaming server berbasis web...................................... 54 Gambar 4.5 Hirarki menu pada situs streaming.................................................... 54 Gambar 4.6 Halaman verifikasi kebutuhan yang belum lengkap.......................... 58 Gambar 4.7 Hirarki menu pada situs..................................................................... 59 Gambar 4.8 Tampilan konten video pada situs streaming..................................... 62 Gambar 4.9 Tampilan konten video sebelum diinstal plugin................................ 63 Gambar 4.10 Tampilan konten gambar pada situs streaming................................ 64 Gambar 4.11 Tampilan konten dokumen pada situs streaming............................. 67 Gambar 4.12 Tampilan konten dokumen sebelum diinstall plugin....................... 67 Gambar 4.13 Evaluasi situs................................................................................... 68

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Pembagian Kelas IP............................................................................... 17 Tabel 2.2 Contoh Alamat....................................................................................... 18 Tabel 2.3 Jumlah Network ID dan Host ID Tiap Kelas......................................... 18 Tabel 2.4 Subnet pada Tiap Kelas.......................................................................... 20 Tabel 2.5 Subnet prefix pada Tiap Kelas............................................................... 20 Tabel 4.1 Komponen yang belum dimiliki STT-Garut.......................................... 48 Tabel 4.2 Hasil benchmark terhadap streaming server......................................... 69 Tabel 4.3 Daftar pertanyaan pada kuesioner......................................................... 71 Tabel 4.4 Hasil jawaban partisipan........................................................................ 71

viii

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A....................................................................................................... 76 LAMPIRAN B....................................................................................................... 80 LAMPIRAN C....................................................................................................... 90 LAMPIRAN D...................................................................................................... 91 LAMPIRAN E....................................................................................................... 93 LAMPIRAN F....................................................................................................... 99 LAMPIRAN G.....................................................................................................104 LAMPIRAN H.....................................................................................................109

ix

DAFTAR ISTILAH

Istilah Server

Deskripsi Sebuah sistem komputer yang menyediakan jenis layanan tertentu dalam sebuah jaringan komputer. Cara menyalurkan konten kepada pengguna yang memungkinkan konten dieksekusi sebelum selesai diunduh secara utuh. Salah satu metodologi yang menitikberatkan pada komponen yang sedang dan akan digunakan. Salah satu metoda evaluasi yang mengesampingkan proses yang rinci terjadi dan hanya berkonsentrasi pada input dan output aplikasi. Lapis protokol yang paling banyak digunakan dan menjadi standar jaringan komputer saat ini. Alamat yang digunakan sebagai identifikasi host dalam jaringan komputer. Ssekumpulan aturan yang membagi lingkup jaringan pada sekelompok alamat tertentu. Protokol yang digunakan untuk streaming media yang bersifat real-time. Protokol yang digunakan untuk streaming media yang bersifat real-time yang merupakan penyempurnaan dan pengkhususan dari UDP. Protokol yang digunakan untuk streaming media yang bersifat on-demand karena keutuhan konten merupakan prioritas utama. Salah satu bahasa pemrograman web yang paling populer dan paling banyak digunakan saat ini. Aplikasi pembangkit konten web yang beroperasi dengan basis data dalam melakukan pengelolaan web. Sifat aplikasi yang bersifat terbuka yang berarti pengguna tidak hanya bebas untuk menggunaan tapi juga bebas untuk mempelajari, memodifikasi, dan meredistribusi hasil modifikasinya.

HPM 2

Streaming

ComponentBased Development Blackbox

TCP/IP Alamat IP Subnet Mask UDP RTP

11 15 18 11 11

TCP

11

PHP CMS

50 49

Open Source

Istilah LAN MAN Internet Router Switch

Deskripsi Area jaringan komputer lokal dengan cakupan kecil seperti jaringan kampus. Area jaringan komputer lokal dengan cakupan satu kota. Aea jaringan komputer dengan cakupan seluruh dunia. Sistem yang memungkinkan jaringan yang berbeda mampu berkomunikasi satu sama lain. Salah satu alat jaringan yang berfungsi sebagai media sambungan antar host dan memperluas jangkauan jaringan komputer lokal. Perangkat lunak yang berfungsi sebagai pengelola layanan dan perangkat keras.

HPM 47 47 1 13 47

Sistem Operasi

3 50

Repositori Global Pustaka aplikasi online yang dibangun oleh pengelola distribusi Linux sebagai fasilitas yang mampu melakukan instalasi aplikasi secara online. Drupal Salah satu CMS berbasis PHP yang bersifat open source yang populer saat ini karena banyak situs besar dunia seperti situs gedung putih Amerika menggunakan CMS ini. Bahasa pemrograman web sederhana dan statis yang menjadi standar penayangan konten web di dunia saat ini. hampir seluruh bahasa pemrograman web melakukan kompilasi dan translasi kode ke HTML. Salah satu jenis multimedia yang merupakan gabungan dari animasi, gambar, teks, dan suara. Salah satu teknik evaluasi sistem dengan memberikan perlakuan konstan yang terus menerus terhadap sistem sehingga diketahui kinerja sistem tersebut.

48

HTML

59

Video Benchmark

2 44

HPM : Halaman pertama muncul istilah yang dimaksud.

xi

DAFTAR SINGKATAN

Singkatan CTR STT-Garut CBD UDP RTP RTCP TCP IP TCP/IP PHP CMS LAN MAN HTML UPT USI AP RHEL GNU XML

Kepanjangan Computer Technology Research Sekolah Tinggi Teknologi Garut Component-Based Development User Datagram Protocol Real-time Transfer Protocol Real-time Transfer Control Protocol Transmission Control Protocol Internet Protocol Transmission Control Protocol over Internet Protocol Personal Homepage PHP (rekursif) Content Management System Local Area Network Metro Area Network Hyper Text Markup Language Unit Pengembangan Teknik UPT Sistem Informasi Access Point RedHat Enterprise Linux GNU Not Unix (rekursif) Extensible Markup Language

HPM 3 4 6 11 11 29 11 15 11 50 49 47 47 59 41 41 47 49 49 51

HPM : Halaman pertama muncul singkatan yang dimaksud.

xii

DAFTAR SIMBOL

Simbol

Deskripsi Input atau output proses utama

HPM 44

Proses utama

44

Anak proses di dalam proses utama

44

Arah proses/input/output

44

HPM : Halaman pertama muncul simbol yang dimaksud.

xiii

DAFTAR PUSTAKA

Ayuliana. 2009. Blackbox Testing. http://rifiana.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/26083/Teknik+Pengujian+ perangkat+Lunak+-+Black+Box.pdf (diakses pada tanggal 3 Oktober 2011 pukul 19.21) Elsen, R. 2011. Analisis Pengelolaan Hotspot di Sekolah Tinggi Teknologi Garut. Sekolah Tinggi Teknologi Garut Follansbee, J. 2004. Get Streaming! Quick Step to Delivering Audio and Video Online. Focal Press Masyarakat Digital Gotong Royong. 2008. Pengantar Sistem Operasi Komputer : Jilid Pertama. http://bebas.vlsm.org/v06/Kuliah/SistemOperasi/BUKU/SistemOperasi-4.X1.pdf (diakses pada tanggal 28 September 2011 pukul 11.21) Mishra, S. & Sharma, R. C. 2005. Interactive Multimedia in Education and Training. Idea Group Publishing Norris, M., Davis, R. & Pengelly, A. 2000. Component Based Network System Engineering. Artech House Simpson, W. 2008. Video Over IP IPTV, Internet Video, H.264, P2P, Web TV, and Streaming: A Complete Guide to Understanding the Technology. Focal Press Sofana, I. 2010. CISCO CCNA & Jaringan Komputer. Bandung: Infomatika Sugeng, W. 2010. Jaringan Komputer dengan TCP/IP. Bandung: Modula Suyanto, M. 2005. Kelebihan Multimedia. http://amikom.ac.id/research/index.php/karyailmiahdosen/article/view/1672 (diakses pada tanggal 16 Agustus 2011 pukul 16.41) www01.http://compnetworking.about.com/od/workingwithipaddresses/Working_ with_IP_Addresses_and_Subnets.htm (diakses pada tanggal 13 Februari 2011 pukul 18.36)

xiv

xv

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Pesatnya teknologi saat ini memicu perkembangan yang pesat pula pada banyak aspek kehidupan. Saat ini, hampir semua kegiatan yang dilakukan bersentuhan dengan teknologi. Manusia zaman sekarang tidak akan mampu hidup tanpa menggunakan teknologi. Ketergantungan ini berimbas pada paradigma dan pola pikir hidup yang dianut oleh manusia saat ini, sehingga teknologi bukan lagi menjai alat bantu melainkan suatu kebutuhan pokok yang harus ada. Salah satu penemuan terbesar dalam sejarah teknologi informasi adalah jaringan komputer, baik yang menghubungkan komputer-komputer lokal dalam suatu lingkup kecil hingga yang mencakup skala dunia yang disebut internet. Dengan memanfaatkan jaringan komputer, kegiatan berbagi-pakai sumber daya menjadi semakin mudah. Sumber daya seperti berkas dan printer bisa dibagi dan digunakan oleh pengguna lain yang berada dalam satu jaringan. Bila dihubungkan antara perubahan paradigma dan pola pikir manusia dengan jaringan komputer, kita dapat menemukan bahwa pengguna saat ini benar-benar memanfaatkan sumber daya yang dibagikan tersebut. Contohnya satu kantor hanya memiliki satu buah printer karena printer tersebut sudah cukup dan dapat digunakan oleh semua orang yang ada di kantor tersebut. Dalam kasus ini, jaringan komputer merupakan salah satu komponen inti dalam melakukan kegiatan operasional organisasi sehingga keberadaan jaringan komputer sudah bukan lagi menjadi kebutuhan tambahan operasional semata. Perubahan paradigma dan pola pikir berimbas pada cara manusia melakukan kegiatan yang dilakukannya secara rutin. Beberapa aspek seperti aspek sosial, aspek budaya, aspek ilmu pengetahuan, dan aspek-aspek lainnya dibuah sedemikian rupa sehingga teknologi menyusup dan menjadi bagian dalam

kehidupan sehari-hari. Contohnya dalam aspek sosial. Saat ini marak muncul jejaring sosial yang menawarkan layanan pertemanan secara online via internet. Orang-orang tidak perlu lagi bertemu secara langsung dan berkomunikasi secara verbal untuk dapat menjadi teman. Facebook, MySpace, Yahoo Messenger, Youtube, dan yang terbaru Google+ adalah beberapa contoh situs jejaring sosial yang menawarkan layanan yang bermacam-macam untuk mendukung hubungan secara online tersebut. Pemanfaatan jaringan komputer membuat beberapa masalah yang dirasa sulit kini menjadi lebih mudah. Saat ini pengguna bisa menyimpan datanya di server luar, dan dengan memanfaatkan jaringan komputer dia bisa memodifikasi berkasnya tersebut dimanapun dan kapanpun selama terhubung ke jaringan. Dengan penyimpanan online ini, pengguna tidak perlu takut berkasnya dimodifikasi oleh aplikasi pengganggu seperti virus, atau ketakutan kehilangan data akibat salah dalam melakukan pengelolaan harddisk. Selain berkas yang disimpannya, pengguna pun bisa mengakses berkas yang dibagi-pakai oleh pengguna lain. Pengguna bisa menonton video, mendengarkan musik, menonton televisi, dan membaca dokumen secara online tanpa harus menyimpan berkas-berkas tersebut ke media penyimpanan. Teknologi ini disebut streaming. Teknologi streaming sangat cocok untuk diterapkan dalam bidang edukasi karena format-format yang didukung teknologi ini (seperti video, audio, dokumen, dan gambar) yang merupakan komponen multimedia bisa digunakan sebagai sarana belajar mengajar tambahan di lingkungan kampus. Berikut pendapat mengenai pembelajaran interaktif menggunakan mulimedia : When computer-based interactive multimedia emerged in the 1990s, innovative educators began considering what implications this new media might have if it was applied to teaching and learning environments. Within a relatively short time frame, the emerging multimedia and associated communications technologies infiltrated almost every aspect of society. (Mishra dan Sharma,2004).

Berdasarkan argumen di atas, multimedia dan teknologi komunikasi saat ini telah menyusup di hampir semua aspek sosial sejak multimedia interaktif berbasis komputer muncul pada sekitar tahun 1990. Saat itu pula para pengajar yang inovatif mencoba untuk menerapkan multimedia dalam proses pembelajaran dan mencari tahu hasilnya jika multimedia diterapkan pada proses pembelajaran. Pesatnya multimedia dijadikan sebagai media edukasi dikarenakan multimedia mampu memberikan nilai lebih dalam proses belajar mengajar. Kelebihan multimedia adalah menarik indera dan menarik minat, karena merupakan gabungan antara pandangan, suara dan gerakan. Lembaga riset dan penerbitan komputer, yaitu Computer Technology Reseach (CTR) , menyatakan bahwa orang hanya mampu mengingat 20 % dari yang dilihat dan 30 % dari yang didengar. Tetapi orang dapat mengingat 50 % dari yang dilihat dan didengar dan 80 % dari yang dilihat, didengar dan dilakukan sekaligus (Suyanto, 2005). Maka multimedia sangatlah efektif dalam proses belajar mengajar, sehingga multimedia menjadi media yang ampuh untuk pengajaran dan pendidikan. Gabungan beberapa unsur multimedia, yaitu suara, teks, gambar, dan animasi, adalah video. Video adalah teknologi untuk menangkap, merekam, memproses, mentransmisikan dan menata ulang gambar bergerak. Video lebih bersifat atraktif dan interaktif sehingga penyampaian informasi menjadi lebih menarik. Penggunaan video dalam proses belajar mengajar sudah dilakukan sejak lama, sejak perangkat komputer sudah tidak lagi menjadi perangkat yang relatif mahal. Dukungan sistem operasi dan beberapa aplikasi multimedia terhadap format video menyebabkan video menjadi media yang lumrah dimainkan selain audio. Akibatnya, banyak sekali hal yang memanfaatkan video seperti iklan, bisnis, presentasi, penyampaian informasi, dan edukasi. Berikut pendapat mengenai video : Video (motion or sequences of still graphics) can be used to show action and processes and to illustrate events that users cannot see directly or clearly in real time. Video, when used skillfully and artistically, can also emotionally move observers and can produce impacts affecting attitudes similar to inperson observation of real events. (Mishra dan Sharma, 2004).

Berdasarkan argumen di atas, video bisa digunakan untuk menampilkan aksi dan proses dan untuk mengilustrasikan kejadian yang tidak bisa dilihat secara langsung atau dengan jelas oleh penonton. Dan jika digunakan dengan kemampuan tinggi dan atraktif, video bisa juga mengubah penonton secara emosional dan dapat menghasilkan efek yang mempengaruhi perilaku. Sama seperti menonton kejadian nyata. Sekolah Tinggi Teknologi Garut (STT-Garut) merupakan institusi penyelenggara pendidikan tinggi di wilayah Garut yang mengkhususkan cakupan pendidikannya di bidang keteknikan. STT-Garut memiliki 4 jurusan yaitu Teknik Industri (S1), Teknik Informatika (S1), Teknik Komputer (D3), dan Teknik Sipil (S1). Salah satu misi dari STT-Garut adalah menghasilkan lulusan berkualitas dan mampu berkompetisi pada sektor manufaktur dan jasa. Tentunya berbagai upaya dilakukan oleh STT-Garut untuk mencapai misi tersebut. Peningkatan kualitas lulusan salah satunya dipengaruhi oleh sarana dan prasarana yang mendukung proses pembelajaran, baik itu dari sisi kegiatan belajar mengajar oleh dosen, mahasiswa, maupun staff di STT-Garut. STT-Garut telah meiliki sarana pendukung seperti perpustakaan dan internet. Infrastuktur jaringan komputer yang dimiliki STT-Garut sudah mencakup seluruh wilayah kampus sehingga bisa diakses oleh seluruh civitas akademik STT-Garut. Dengan dukungan infrastruktur jaringan yang mumpuni, STT-Garut bisa memanfaatkan infrastruktur jaringan komputer tersebut sebagai media pembelajaran. Mahasiswa banyak yang mengakses internet untuk mencari bahan pembelajaran tambahan dalam perkuliahan. Namun, bandwidth internet kampus terbatas sehingga sebagian civitas kesulitan terhubung ke internet jika lalu lintas internet sedang penuh. Akan lebih baik jika bahan pembelajaran tersebut dikases melalui server lokal sehingga masalah pada bandwidth teratasi. Maka dari itu, saya merasa perlu melakukan Pembangunan Streaming Server Berbasis Open Source di Sekolah Tinggi Teknologi Garut sebagai sarana pembelajaran di lingkungan STT-Garut. 1.2 Identifikasi Masalah

a. STT-Garut telah memiliki infrastruktur jaringan komputer yang mumpuni sehingga bisa dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan belajar mengajar.

Namun kebanyakan mahasiswa masih mencari bahan pembelajaran di internet sehingga kebutuhan akan bandwidth semakin besar. Masalah yang muncul adalah bagaimana agar konten yang mahasiswa cari di internet bisa dipindah ke jaringan lokal? Dan apakah jaringan komputer lokal STT-Garut cocok untuk dibangun situs yang mampu menayangkan konten video kepada mahasiswa? b. Video telah dimanfaatkan sebagai media pendukung pembelajaran oleh mahasiswa STT-Garut yaitu dengan mengunduh atau menonton secara online video pembelajaran di internet. Namun, STT-Garut belum memiliki infrastruktur untuk berbagi video dalam jaringan komputer lokal sehingga lalu lintas internet kampus seringkali penuh dikarenakan ukuran berkas video yang relatif besar. Masalah yang muncul adalah bagaimana membangun sebuah server yang bisa menayangkan video pembelajaran yang relevan dengan kegiatan belajar mengajar selama perkuliahan? Bagaimana pula kinerja situs yang dibangun? c. Penggunaan video dimaksudkan sebagai media pembelajaran tambahan sehingga tetap tidak bisa menggantikan buku sebagai sumber literatur resmi. Maka dari itu, berbagi dokumen dirasa perlu agar mahasiswa tetap bisa menggunakan dokumen tersebut sebagai sumber literatur. Masalah yang muncul adalah bagaimana caranya agar konten dokumen bisa ditampilkan pula pada server yang akan dibangun? d. Berbagi gambar dirasa perlu karena gambar mampu memberikan abstraksi mengenai suatu kejadian atau proses yang bisa didefinisikan sendiri oleh yang mengamatinya. Masalah yang muncul adalah bagaimana agar konten gambar bisa ditampilkan pada server? 1.3 Tujuan

Membangun streaming server berbasis open source di STT-Garut sebagai sarana pendukung pembelajaran selain yang telah dimiliki oleh jurusan-jurusan yang ada di STT-Garut.

1.4

Batasan Masalah

Agar pembahasan tidak meluas, penulis membatasi kegiatan penelitian dan pembahasan dalam karya tulis ini hanya pada : a. Pembangunan streaming server di STT-Garut dari segi infrastruktur, b. Jenis streaming server yang dibangun adalah on-demand, c. Pengadaan sebagian konten pembelajaran sebagai sampel, d. Antarmuka web standar untuk mengakses streaming server, dan e. Tidak membahas secara rinci cara kerja aplikasi yang digunakan. 1.5 Metoda Penelitian

Adapun metoda penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah : a. Analisis kebutuhan, yaitu mendefinisikan kebutuhan-kebutuhan STT-Garut terhadap sistem yang akan dibangun. Menggunakan metoda pengumpulan data. b. Studi komponen, yaitu memilih dan memilah komponen yang akan digunakan berdasarkan pada komponen yang telah dimiliki dan belum dimiliki STTGarut. Menggunakan metoda Component-Based Development (CBD) c. Desain sistem, yaitu merancang sistem yang akan dibangun. Menggunakan metoda Component-Based Development (CBD) d. Implementsi, yaitu menerapkan desain yang telah dibuat menjadi sistem utuh yang dapat digunakan. Menggunakan metoda Component-Based Development (CBD) e. Evaluasi, yaitu pemeriksaan kecacatan dan kinerja sistem yang telah dibangun. Menggunakan metoda Blackbox. Metodologi penelitian akan dibahas pada Bab III. 1.6 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan laporan tugas akhir ini, secara garis besar adalah sebagai

berikut: BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini berisikan latar belakang dari penelitian, identifikasi masalah, tujuan penelitian, batasan masalah, metodologi penelitian, dan sistematika penulisan. BAB II LANDASAN TEORI Menjelaskan tentang teori-teori serta komponen-komponen yang

digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang akan diteliti. BAB III METODOLOGI PENELITIAN Bab ini mejelaskan tentang langkah-langkah penelitian dan metoda-

metoda yang digunakan dalam langkah-langkah tersebut. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Bab ini berisi pembahasan hasil tahap-tahap proses penelitian. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini berisi kesimpulan yang dihasilkan dari pembahasan masalah yang telah dilakukan sebelumnya, serta saran-saran yang mungkin dapat berguna.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Streaming Menurut Follansbee (2004), media streaming seringkali dikaitkan dengan transfer data audio dan video, padahal streaming bisa diaplikasikan pada hampir semua jenis data seperti gambar statistik dan teks. Data berubah secara teratur dan logis. Streaming biasanya mengandung interpretasi dari data-data tersebut (audio, video, gambar, dan teks) yang bersifat real-time oleh beberapa aplikasi yang disebut player. Banyak dari media streaming beroperasi pada model client/server. Sebuah client meminta data dari server pada jaringan komputer, dan server mengirim data tersebut, yang telah diinterpretasikan oleh client. Paa media streaming, data audio dan video akan di-encode dalam suatu format khusus yang memisahkan data menjadi ukuran yang bisa dikelola. Setelah server mengirim data, client menyatukan data tersebut dan menampilkannya sebagai audio atau informasi visual yang bisa dimengerti.

Gambar 2.1 Proses streaming secara singkat (Sumber : Follansbee, 2004) Secara singkat, streaming dimulai dengan proses capture, yaitu mengambil atau membuat objek. Setelah itu, objek yang telah dibuat di- encode, yaitu membentuk sebuah berkas yang mendukung media streaming. Lalu proses akhirnya adalah broadcast, yaitu menampilkan berkas yang tadi telah di-capture dan di-encode

melalui aplikasi tertentu seperti browser atau player. Media streaming memiliki beberapa keuntungan bagi organisasi, yaitu : a. Cost-effective method of communication : Organisasi menghemat biaya dengan mengurangi biaya dari distribusi media. Sebagai contoh, seseorang memerlukan biaya sekitar $10 (sekitar Rp. 90.000,-) untuk melakukan duplikasi kaset VHS (Video Home System, salah satu standar kaset rekaman untuk merekam video dengan kamera resolusi standar. Populer di tahun 1990an sebelum Compact Disk (CD) ditemukan) yang berisi video pelatihan ke kantor-kantor cabang. Jika dia bekerja pada perusahaan yang beroperasi secara global, maka biaya yang dibutuhkan akan menjadi ratusan bahkan ribuan dolar untuk poduksi satu video. tetapi jika video tersebut disimpan dalam streaming server, dan mengundang para karyawan untuk menontonnya secara online, secara virtual semua biaya duplikasi dan dsitribusi akan hilang. b. Faster time to market : Distribusi audio dan video pada media fisik, seperti CD, membawa masalah lain yaitu waktu, Distribusi ini bisa memakan waktu berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan untuk mendistribusikan video dalam kaset VHS contohnya. Bagaimanapun, sekali audio atau video diproduksi, Anda bisa menempatkannya pada streaming server dalam hitungan menit atau jam. Anda menyimpan tautan ke video tersebut pada website Anda, sebarkan pada para penonton, dan mereka akan datang kepada Anda. c. Create more options for communications : Lingkungan media saat ini lebih bervariasi daripada sebelumnya. Orang-orang mendapatkan informasi dari koran, majalah, radio, jaringan televisi, website, PDA, bahkan handphone. Media streaming merespon keinginan pengguna dalam hal variasi media. Menambahkan media streaming sebagai saluran komunikasi memberikan Anda kesempatan yang lebih baik untuk menggapai pelanggan. d. Tracking and profiling : Ketika Anda klik tautan media streaming, informasi tentang klik tersebut disimpan pada log server media streaming. Pengelola media streaming tersebut menggunakan log tersebut untuk informasi tentang 9

bagaimana konten streaming digunakan. Anda bisa kemudian mengasah strategi berdasarkan pada informasi hasil dari log tersebut. e. Global delivery : Sinyal radio dan televisi memiliki batas secara geografis. Bahkan penyiaran skala besar masih terbatas pada geografi dan batasan internasional. Sebuah satelit hanya mencakup sebagian dari dunia. Tetapi setiap komputer di suatu negara atau di suatu benua bisa menikmati stream audio dan video selama mereka terhubung ke internet. Batasan geografis dan politik menjadi tidak berlaku lagi. f. Use network infrastructure more efficiently : Menawarkan fasilitas unduh (download) masih menjadi cara yang populer dalam mendistribusikan berkas media, dan ini mungkin benar menurut Anda. Bagaimanapun, kegiatan mengunduh (terutama pada situasi lalu lintas penuh) bisa menggangu jaringan dan memperlambat seluruh proses bisnis yang bergantung pada internet. Sistem media streaming mengelola penggunaan bandwidth pada jaringan dan sumber daya lain dengan cara tertentu yang tidak akan berpengaruh negatif terhadap aktifitas yang berhubungan dengan internet. Berikut beberapa contoh pemanfaatan media streaming terhadap external audience (bersifat umum) dan internal audience (bersifat khusus) : a. External audiences Online radio stations Market analyst calls Movie trailers Entertainment videos Infomercials Virtual tours of real estate b. Internal audiences Private access to industry conferences Executive communications Employee training

10

Product demonstrations Jenis dari streaming ada 2, yaitu : a. Live Streaming. Jenis ini melakukan streaming kejadian secara real-time sehingga pengguna hanya bisa mengakses konten streaming yang disediakan. Contoh penggunaan streaming jenis ini adalah televisi online dan radio online. Dalam implementasinya, jenis streaming ini menggunakan Real-Time Transport Protocol (RTP) pada User Datagram Protocol (UDP) karena pada streaming jenis ini ketepatan waktu siar menjadi prioritas utama. b. On-Demand Streaming. Jenis ini melakukan streaming terhadap kejadian yang telah di-encode menjadi format tertentu dan disimpan di server sehingga pengguna dapat memilih konten yang ingin mereka akses. Contoh penggunaan streaming jenis ini adalah pada situs Youtube (video), Scribd (dokumen), dan TinyPic (gambar). Dalam implementasinya, jenis streaming ini menggunakan Transmission Control Protocol (TCP) karena keutuhan konten yang dikirim dari server ke client adalah prioritas utama. 2.2 Lapisan Protokol TCP/IP

Menurut Sofana (2010) protokol adalah sekumpulan aturan dalam komunikasi data. Protokol mengatur bagaimana terjadinya hubungan dan perpindahan data antara dua atau lebih komputer. Protokol dapat diterapkan pada perangkat lunak, perangkat keras, atau kombinasi keduanya. Pada tingkatan yang terendah, protokol mendefinisikan koneksi perangkat keras. Sebagian besar potokol memiliki karakteristik berikut : a. Melakukan deteksi apakah ada koneksi fisik atau tidak yang dilakukan oleh komputer atau mesin lain. b. Melakukan handshaking. c. Menjadi negosiator berbagai macam karakteristik koneksi. d. Mengatur bagaimana mengawali dan mengakhiri suatu pesan.

11

e. Menentukan format pesan. f. Melakukan error detection dan error correction saat terjadi kerusakan pesan. g. Mengakhiri suatu koneksi. Secara umum, format protokol meliputi : a. Format informasi b. Perwaktuan (timing) c. Urutan (sequencing) d. Kontrol kesalahan (error control) Pada masa Advanced Research Project Agency Network (ARPANET), protokol yang digunakan untuk komunikasi adalah Network Communication Protocol (NCP). Semakin lama, ukuran ARPANET semakin membesar dan NCP tidak sanggup menampung node komputer yang lebih besar. Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) kemudian mendanai pembuatan protokol komunikasi yang lebih umum. Protokol ini diberi nama Transmission Control Protocol/Internet Protocol (TCP/IP). Departemen Pertahanan Amerika menyatakan TCP/IP menjadi standar untuk jaringannya pada tahun 1982. Protokol ini kemudian diadopsi menjadi standar ARPANET pada tahun 1983. perusahaan Bolt Beranek Newman (BBN) membuat protokol TCP/IP supaya dapat berjalan di atas komputer dengan sistem operasi UNIX. Pada saat itulah dimulai perkawinan antara UNIX dan TCP/IP. TCP/IP memiliki karakteristik yang membedakannya dari protokol-protokol komunikasi yang lain, di antaranya : a. Bersifat standar, terbuka, dan tidak bergantung pada perangkat keras atau sistem operasi tertentu. b. Bebas dari jaringan fisik tertentu, memungkinkan integrasi berbagai jenis jaringan (ethernet, token ring, dial-up). c. Mempunyai skema pengalamatan yang umum bagi setiap device yang terhubung dengan jaringan.

12

d. Menyediakan berbagai layanan bagi user. Berikut penjelasan singkat masing-masing layer protokol TCP/IP beserta fungsinya. a. Lapisan pertama adalah Network Access Layer. Pada lapisan ini, didefinisikan bagaimana penyaluran data dalam bentuk frame-frame data pada media fisik yang digunakan secara andal. Lapisan ini biasanya memberikan service untuk deteksi dan koreksi kesalahan dari data yang ditransmisikan. Beberapa contoh protokol yang digunakan pada lapisan ini adalah X.25 untuk jaringan publik, ethernet untuk jaringan ethernet, dan lain sebagainya. b. Lapisan kedua adalah Internet Layer. Lapisan ini bertugas menjamin agar suatu paket yang dikirimkan dapat menemukan tujuannya. Lapisan ini memiliki peran penting terutama dalam mewujudkan internetworking yang meliputi wilayah luas (worldwide internet). Beberapa tugas penting pada lapisan ini adalah : Addressing, yakni melengkapi setiap paket data dengan alamat internet atau yang dikenal dengan Internet Protocol Address (IP Address). Karena pengalamatan berada pada level ini, maka jaringan TCP/IP independen dari jenis media, sistem operasi, dan komputer yang digunakan. Routing, yakni menentukan rute ke mana paket data akan dikirim agar mencapai tujuan yang diinginkan. Routing merupakan fungsi penting dari Internet Protocol (IP). Proses routing sepenuhnya ditentukan oleh jaringan. Pengirim tidak memiliki kendali terhadap paket yang dikirimkannya. Router-router pada jaringan TCP/IP-lah yang menentukan penyampaian paket data dari pengirim ke penerima. c. Lapisan ketiga adalah Transport Layer. Pada lapisan ini didefinisikan caracara untuk melakukan pengiriman data antara end-to-end host. Lapisan ini menjamin bahwa informasi yang diterima pada sisi penerimaakan sama dengan informasi yang dikirim oleh pengirim. Lapisan ini memiliki

13

beberapa fungsi penting, antara lain : Flow Control. Pengiriman data yang telah dipecah menjadi paket-paket data harus diatur sedemikian rupa agar pengirim tidak sampai mengirimkan data dengan kecepatan yang melebihi kemampuan penerima dalam menerima data. Error Detection. Pengirim dan penerima juga melengkapi data dengan sejumlah informasi yang bisa digunakan untuk memeriksa apakah data yang dikirimkan telah bebas dari kesalahan. Jika ditemukan kesalahan pada paket data yang diterima, maka penerima tidak akan menerima data tersebut. Pengirim akan mengirim ulang paket data yang mengandung kesalahan tadi. Dengan demikian, adata dijamin bebas dari kesalahan (error free) pada saat diteruskan ke lapisan aplikasi. Konsekuensi dari mekanisme ini adalah timbulnya delay yang cukup berarti. Namun selama aplikasi tidak bersifat real-time, delay ini tidak menjadi masalah karena yang lebih diutamakan adalah data yang bebas dari kesalahan. Ada 2 buah protokol yang digunakan pada layer ini, yaitu Transmission Control Protocol (TCP) dan User Datagram Protocol (UDP). TCP digunakan oleh aplikasi-aplikasi yang membutuhkan keandalan data. Sedangkan UDP digunakan untuk aplikasi yang tidak menuntut keandalan data tinggi. Beberapa aplikasi lebih sesuai menggunakan UDP sebagai protokol Transport. Contohnya aplikasi database yang hanya bersifat query dan response, atau aplikasi lain yang sensitif terhadap delay seperti video conference. Aplikasi seperti ini dapat mentolelir sedikit kesalahan karena gambar atau suara masih tetap bisa dimengerti. TCP memiliki fungsi flow control dan error detection dan bersifat connection oriented. Sebaliknya UDP bersifat connectionless, tidak ada mekanisme pemeriksaan data dan flow control, sehingga UDP disebut juga unreliable protocol. d. Lapisan keempat adalah Application Layer. Sesuai dengan namanya, lapisan ini mendefinisikan aplikasi-aplikasi yang dijalankan pada jaringan. Cukup banyak protokol yang telah dikembangkan pada lapisan ini. Contohnya

14

adalah Simple Mail Transfer Protocol (SMTP) untuk pengiriman electronic mail (e-mail), File Transfer Protocol (FTP) untuk transfer file, Hyper Text Transfer Protocol (HTTP) untuk aplikasi berbasis web atau world wide web (www), Network News Transfer Protocol (NNTP) untuk distribusi news group, dan sebagainya.

Gambar 2.2 Protokol pada Tiap Layer (Sumber : Sofana, 2010) 2.3 Pengalamatan Internet Protocol (IP)

Alamat IP digunakan untuk mengidentifikasi interface jaringan pada host komputer. Untuk memudahkan kita dalam membaca dan mengingat suatu alamat, maka umumnya penamaan yang digunakan adalah berdasarkan bilangan desimal atau sering disebut sebagai notasi dottet decimal. IP memiliki sifat yang dikenal sebagai unreliable, connectionless, datagram delivery service. Alamat IP merupakan bilangan biner 32 bit yang dipisahkan oleh tanda pemisah berupa titik setiap 8 bit. Tiap 8 bit ini disebut dengan oktet. Bentuk alamat IP adalah sebagai berikut : xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx.xxxxxxxx Dimana x dapat diisi dengan angka 0 atau 1.

15

Alamat IP dapat dibagi menjadi 2 bagian, yaitu : Network ID Host ID

Network ID merupakan alamat jaringan. Sedangkan Host ID merupakan alamat host atau komputer. Jika diibaratkan alamat asli, Network ID merupakan nama jalan, sedangkan Host ID adalah nomor rumah. Contoh : Jl. Otista No. 72. Jl. Otista adalah Network ID sedangkan No. 72 adalah Host ID. Penentuan Network ID dan Host ID ditentukan oleh kelas IP yang dipakai dalam pengalamatan IP. 2.3.1 Format Alamat IP Alamat IP merupakan kombinasi bilangan biner sebanyak 32 bit yang menjadi ciri host atau komputer yang terhubung ke jaringan. Akan tetapi karena penggunaan bilangan biner dirasa cukup sulit untuk diingat, maka dibuatlah penggunaan bentuk desimal yang merupakan hasil konversi dari bentuk biner. Sebagai contoh adalah : a. Alamat IP dalam bilangan biner : 11000000.10101000.00000001.00000010 b. Alamat IP dalam bilangan desimal : 192.168.1.2 Karena dibagi menjadi 4 oktet, maka pada tiap oktet dari kiri ke kanan biasanya diberi inisialisasi dengan menggunakan huruf a, b, c, dan d. Contoh : Alamat IP : 11000000.10101000.00000001.00000010 atau 192.168.1.2 a : 11000000 atau 192 b : 10101000 atau 168 c : 00000001 atau 1 d : 00000010 atau 2 2.3.2 Pembagian Kelas IP Alamat IP dibagi menjadi 5 kelas, yaitu kelas A, kelas B, kelas C, kelas D, dan kelas E. Tetapi, kelas yang paling banyak digunakan adalah kelas A, kelas B, dan

16

kelas C saja karena kelas D digunakan untuk alamat multicast yang tidak memiliki network ID dan host ID. Sedangkan kelas E digunakan untuk penggunaan khusus. Berikut adalah gambar pembagian kelas dari alamat IP :

Gambar 2.3 Pembagian Kelas IP (Sumber : Sugeng, 2010) Untuk lebih jelasnya lagi dalam pembagian kelas IP, maka dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.1 Pembagian Kelas IP
Bit Format Inisial (a) 0... 0nnnnnnn.hhhhhhhh. hhhhhhhh.hhhhhhhh 10... Range a Jumlah Kelas 126 16.384 Kelas Bagian Bagian Network Host A B C D E a a,b a,b,c a,b,c a,b,c b,c,d c,d d d d Penggunaan

0 - 127

Untuk jaringan besar Untuk jaringan menengah Untuk jaringan kecil Cadangan : IP Multicasting Cadangan : Eksperimen

10nnnnnn.nnnnnnnn. 128 - 191 hhhhhhhh.hhhhhhhh

110... 110nnnnn.nnnnnnnn.n 192 - 233 2.097.152 nnnnnnn.hhhhhhhh 1110... 1110xxxx.xxxxxxxx.x 224 - 247 xxxxxxx.xxxxxxxx 1111... 1111xxxx.xxxxxxxx.x 248 - 255 xxxxxxx.xxxxxxxx -

Sumber : Sugeng, 2010

17

Pada kelas A, alamat yang dimulai dengan network ID 0 dan 127 tidak bisa digunakan karena network ID 0 digunakan untuk alamat broadcast sedangkan network ID 127 digunakan untuk alamat loopback (127.0.0.1). sedangkan untuk setiap kelas yaitu kelas A, kelas B, dan kelas C alamat host 0 dan 255 tidak bisa digunakan karena merupakan alamat broadcast. Contoh : Tabel 2.2 Contoh Alamat Alamat yang bisa digunakan 10.0.0.1 1.2.3.4 200.200.200.200 100.0.0.100 Sumber : Elsen, 2011 Untuk keperluan alokasi alamat IP yang digunakan untuk private network (jaringan pribadi), yang tidak digunakan dalam alamat public network (jaringan publik, atau alamat pada jaringan internet), menurut Request for Comment (RFC) 1587 diatur sebagai berikut : Tabel 2.3 Jumlah Network ID dan Host ID Tiap Kelas Alamat Dari 10.0.0.0 172.16.0.0 192.168.0.0 Sampai 10.255.255.255 172.31.255.255 192.168.255.255 A B C Kelas Jumlah Network 1 16 256 Jumlah Host per Network 16.277.214 65.534 254 Alamat yang tidak bisa digunakan 0.2.3.66 10.0.0.0 10.0.0.255 127.3.2.1

Sumber : Sugeng, 2011 2.3.3 Subnet mask Subnet mask adalah istilah teknologi informasi dalam bahasa Inggris yang

18

mengacu kepada angka biner 32 bit yang digunakan untuk membedakan network ID dengan host ID, menunjukkan letak suatu host, apakah berada di jaringan lokal atau jaringan luar RFC 950 mendefinisikan penggunaan sebuah subnet mask yang disebut juga sebagai sebuah address mask sebagai sebuah nilai 32-bit yang digunakan untuk membedakan network identifier dari host identifier di dalam sebuah alamat IP. Bit-bit subnet mask yang didefinisikan, adalah sebagai berikut: a. Semua bit yang ditujukan agar digunakan oleh network identifier diset ke nilai 1. b. Semua bit yang ditujukan agar digunakan oleh host identifier diset ke nilai 0. Setiap host di dalam sebuah jaringan yang menggunkan TCP/IP membutuhkan sebuah subnet mask meskipun berada di dalam sebuah jaringan dengan satu segmen saja. Entah itu subnet mask default (yang digunakan ketika memakai network identifier berbasis kelas) ataupun subnet mask yang dikustomisasi (yang digunakan ketika membuat sebuah subnet atau supernet) harus dikonfigurasikan di dalam setiap node TCP/IP. Ada dua metode yang dapat digunakan untuk merepresentasikan subnet mask, yakni: 2.3.3.1 Desimal Bertitik Sebuah subnet mask biasanya diekspresikan di dalam notasi desimal bertitik (dotted decimal notation), seperti halnya alamat IP. Setelah semua bit diset sebagai bagian network identifier dan host identifier, hasil nilai 32-bit tersebut akan dikonversikan ke notasi desimal bertitik. Perlu dicatat, bahwa meskipun direpresentasikan sebagai notasi desimal bertitik, subnet mask bukanlah sebuah alamat IP. Subnet mask default dibuat berdasarkan kelas-kelas alamat IP dan digunakan di dalam jaringan TCP/IP yang tidak dibagi ke dalam beberapa subnet. Tabel di bawah ini menyebutkan beberapa subnet mask default dengan menggunakan

19

notasi desimal bertitik. Formatnya adalah:


<alamat IP www.xxx.yyy.zzz>, <subnet mask www.xxx.yyy.zzz>

Tabel 2.4 Subnet pada Tiap Kelas Kelas A B C Subnet mask (biner) 11111111.00000000.00000000.00000000 11111111.11111111.00000000.00000000 11111111.11111111.11111111.00000000 Subnet mask (desimal) 255.0.0.0 255.255.0.0 255.255.255.0

Sumber : Elsen, 2011 2.3.3.2 Panjang Prefiks Jaringan Karena bit-bit network identifier harus selalu dipilih di dalam sebuah bentuk yang berdekatan dari bit-bit ordo tinggi, maka ada sebuah cara yang digunakan untuk merepresentasikan sebuah subnet mask dengan menggunakan bit yang mendefinisikan network identifier sebagai sebuah network prefix dengan menggunakan notasi network prefix seperti tercantum di dalam tabel di bawah ini. Notasi network prefix juga dikenal dengan sebutan notasi Classless Inter-Domain Routing (CIDR) yang didefinisikan di dalam RFC 1519. Formatnya adalah sebagai berikut:
/<jumlah bit yang digunakan sebagai network identifier>

Tabel 2.5 Subnet prefix pada Tiap Kelas Kelas A B C Subnet mask (biner) 11111111.00000000.00000000.00000000 11111111.11111111.00000000.00000000 11111111.11111111.11111111.00000000 Subnet mask (desimal) 255.0.0.0 255.255.0.0 255.255.255.0 Prefix Length /8 /16 /24

Sumber : Elsen, 2011

20

2.4

Transport Protocol

Transport protocol digunakan untuk mengontrol transmisi paket data yang berhubungan dengan IP. Terdapat 3 protokol utama yang biasa digunakan dalam mentranspor video real-time : a. User Datagram Protocol (UDP). Merupakan salah satu protokol IP yang paling sederhana dan paling cepat. UDP biasanya digunakan untuk video dan data lain yang sangat sensitif dalam masalah waktu. b. Transmission Control Protocol (TCP). Merupakan salah satu protokol IP yang sangat baik dan digunakan secara luas untuk tranfer data. Banyak perangkat yang terhubung ke internet memiliki kemampuan untuk mendukung TCP over IP (disingkat TCP/IP). c. Real-Time Transport Protocol (RTP). Merupakan protokol yang

dikembangkan secara khusus untuk mendukung transfer data secara real-time, seperti video streaming. Dalam hirarki jaringan, ketiga protokol tersebut dipertimbangkan untuk beroperasi di atar protokol IP karena protokol-protokol tersebut berpengaruh pada layanan transpor paket IP (datagram) untuk menjamin data berpindah ke komputer lain (host). Protokol-protokol tersebut juga menyediakan layanan kepada fungsi lain di dalam setiap host (seperti aplikasi pengguna) dan juga dipertimbangkan untuk berada di bawah fungsi-fungsi tersebut pada hirarki protokol jaringan.

Gambar 2.4 Cara kerja TCP, UDP, dan RTP (Sumber : Simpson, 2008)

21

2.4.1 User Datagram Protocol (UDP) UDP adalah adalah sebuah mekanisme transfer data yang connectionless yang mampu mendukung aliran data berkecepatan tinggi. UDP secara berkala digunakan ketika overhead dari pengaturan hubungan sebuah koneksi (seperti yang dilakukan TCP) tidak dibutuhkan. Sebagai contoh, UDP digunakan untuk pesan yang disebar dari satu perangkat ke perangkat lain dalam bagian jaringan. UDP adalah protokol connectionless, yang berarti tidak ada mekanisme untuk mengatur hubungan jaringan antara pengirim dan penerima. Pengirim UDP dengan sederhana membentuk datagram dengan tujuan soket yang benar (alamat IP dan nomor port) dan menyerahkannya ke IP untuk diangkut. Tentu saja ini juga berarti bahwa tidak ada koordinasi antara pengirim UDP dan penerima UDP untuk memastiukan bahwa data terkirim dengan tepat. Dengan penjelasan tersebut, koordinasi yang kurang ini menunjukan UDP tidak cocok untuk transfer data video, karena data video yang hilang bisa menggangu terhadap kemampuan penerima untuk menampilkan rangkaian yang benar dari gambar utuh. Jika bagian dari data untuk sebuah gambar hilang, penerima yang ideal akan perlu untuk melakukan : a. Mengenali data yang hilang. b. Mengirim pesan balik pada pengirim untuk memberi tahu data mana yang dibutuhkan untuk dikirim ulang c. Menerima dan memproses data yang dikirim ulang d. Memastikan bahwa 3 poin di atas terjadi sebelum gambar ditampilkan. Banyak format video stream yang juga mengandung mekanisme untuk mendeteksi dan mengoreksi kesalahan. Sebagai contoh, aliran transpor MPEG bisa mengandung bit untuk koreksi kesalahan Reed-Solomon. Ketika bit tersebut disisipkan, decoder MPEG bisa mengoreksi kesalahan bit dan terkadang mampu menciptakan kembali paket yang hilang, membuat proses transfer ulang paket menjadi tidak dibutuhkan. Ketika kemampuan ini tersedia, UDP adalah pilihan

22

logis untuk transpor protocol, karena tidak menambahkan overhead yang tidak perlu untuk streaming yang telah memiliki fungsi koreksi kesalahan. Secara keseluruhan, UDP adalah transport protocol yang sederhana dan beroverhead rendah yang bisa sangat berguna untuk lalu lintas video. UDP memiliki sejarah panjang, dan banyak perangkat IP yang mendukung UDP. Ketika video stream mengandung perlindungan kesalahan sendiri, ketika jalur transmisi terkontrol dengan baik dan digunakan secara ringan, dan khususnya ketika end-toend delay harus diminimalisir, UDP bisa menjadi pilihan bagus untuk transpor video. Kelebihan UDP : a. Very low overhead : Header paket untuk UDP adalah salah satu yang terkecil dari semua protokol yang menggunakan IP. b. Simple port addressing scheme : Skema ini memungkinkan seluruh data mencapai soket khusus untuk diteruskan secara langsung ke aplikasi yang menggunakan soket tersebut. Hal ini juga menghilangkan ketergantungan pada transport protocol (dalam kasus ini adalah UDP) untuk terus memperhatikan beberapa koneksi berbeda yang menuju port yang sama. c. Very fast setup time : Pada UDP. host yang mengirim tidak perlu melakukan persiapan koneksi untuk memulai transmisi data. Hal ini memungkinkan pengirim untuk memulai transmisi tanpa harus menunggu koneksi siap. d. Low delays : UDP tidak melakukan buffer terhadap data untuk menunggu validasi data. Jadi, satu sumber besar dari penundaan sistem telah tereliminasi. e. Flexible Architecture : Karena UDP tidak memerlukan komunikasi dua arah, maka UDP bisa beroperasi dalam jaringan satu arah (seperti sattelite broadcast). Ditambah lagi UDP bisa digunakan untuk aplikasi multicast dimana satu sumber melayani beberapa tujuan. f. Wide availability : UDP tersedia pada banyak perangkat yang menggunakan IP.

23

Kekurangan UDP : a. Unreliable transport : Pada UDP, tidak ada mekanisme dasar untuk melakukan transmisi data kembali secara otomatis terhadap data yang rusak atau hilang. b. Firewall blocking : Beberapa administrator Firewall mengonfigurasi sistem mereka untuk melakukan blocking terhadap lalu lintas UDP. Hal ini dikarenakan UDP memungkinkan hacker untuk menginjeksi paket data berbahaya ke dalam aliran UDP. c. No built-in communication back-channel between the receiver and the sender : Hal ini berarti bahwa pengirim tidak memiliki cara otomatis untuk menerima umpan balik dari penerima (berhubungan dengan pemberitahuan apakah paket terkirim atau tidak). d. No automatic rate control function : Hal ini merupakan tanggung jawab dari aplikasi pengirim untuk memastikan bahwa data yang telah dialirkan tidak melebihi kapasitas dari sambungan. 2.4.2 Transmission Control Protocol (TCP) Transmission Control Protocol (TCP) adalah protokol yang bersifat connectionoriented yang menyediakan layanan komunikasi data dengan realibilitas sangat tinggi. TCP adalah protokol yang paling banyak digunakan pada internet dan banyak intranet. TCP disebut bersifat connection-oriented yang artinya TCP memerlukan koneksi telah diatur sedemikian rupa antara pengirim dan penerima sebelum melakukan transmisi data apapun. Walaupun pengirim dan penerima data bisa melakukan inisisasi terhadap sambungan, tetapi pesan valid harus dikirim antara keduanya sebelum koneksi siap digunakan. Sebuah snadar khusus bernama handshake telah didefinisikan untuk TCP dalam pengaturan koneksi. Salah satu fitur alami TCP adalah kemampuannya untuk mengendalikan error pada saat transmisi, khususnya paket yang hilang. TCP menghitung dan mengawasi jalur dari setiap byte dari data yang mengalir melewati koneksi. menggunakan area dalam header dari setiap paket yang dinamakan Sequence

24

Identifier. Pada setiap paket, sequence identifier mengindikasikan nomor sekuensial dari bit pertama pada paket tersebut. Jika satu paket hilang atau datang tidak sesuai dengan pesanan, maka sequence identidier pada paket berikutnya yang akan datang tidak akan sesuai dengan angka yang dibuat receiver dari semua bit yang telah diterima sebelumnya. Melalui sebuah sistem yang menjelaskan dengan lugas dari flag kendali dan sebuah area pada header TCP yang disebut Acknowledgment Identifier, penerima pada jalur TCP akan memberitahu pengirim bahwa beberapa data hilang dan perlu untuk ditransmisikan kembali. Inilah bagaimana TCP memastikan bahwa penerima mendapatkan setiap bit yang ingin ditransmisikan oleh pengirim. Sistem ini sangat bagus untuk mentransmisikan data yang tidak bisa mentolelir kerusakan, seperti e-mail dan kode program yang bisa dieksekusi. Fitur lainnya dari TCP adalah kemampuan untuk mengendalikan data yang mengalir melewati koneksi. Penerima bertanggung jawab untuk menyediakan sebuah penyangga (buffer) untuk menerima data untuk menginformasikan pengirim tentang status dari data dalam penyangga tersebut sebelum paket tersebut diterima. Pengirim bertanggung jawab untuk memastikan bahwa penyangga penerima tidak berlebihan (overflow) dan untuk mempercepat atau memperlambat rate data sesuai dengan perubahan kondisi. Aktifitas ini dikelola melalui penggunaan counter data dan acknowledgment messages yang berjalan antara penerima dan pengirim. Sayangnya, beberapa dari mekanisme tersebut yang membuat TCP berguna untuk transmisi data bisa menganggu transpor video. Perlu diingat bahwa data untuk sebuah video tidak hanya memerlukan sampai dengan selamat tetapi juga sampai tepat waktu. Jadi, sebuah mekanisme yang mentransmisi ulang paket yang hilang bisa menjadi merugikan karena 2 alasan : a. Jika sebuah paket ditransmisi ulang tetapi datang terlambat untuk ditampilkan. hal ini bisa membuat penerima kehabisan waktu ketika melakukan pemeriksaan dan kemudian data akan dibuang. b. Ketika paket ditransmisi ulang, paket-paket tersebut bisa memakan tempat pada

25

bandwidth jaringan yang diperlukan untuk mengirim data baru. Selain itu, mekanisme pengendalian aliran data yang terdapat pada TCP bisa mengganggu transpor video. Jika paket hilang sebelum paket tersebut terkirim ke penerima, TCP bisa masuk ke dalam mode dimana kecepatan transmisi akan berkurang. Ini merupakan kebijakan yang pantas, kecuali ketika sinyal video realtime perlu dikirim. Mengurangi kecepatan transmisi ke bawah kebutuhan minimum untuk stream video bisa mencegah penyatuan seluruh gambar pada video. Dengan kehilangan paket pada real-time video streaming, kebijakan yang lebh baik adalah untuk mengacuhkan paket yang hilang dan menjaga data dikirim dengan kecepatan yang diperlukan untuk menjaga konten dari video (dan audio). TCP menggunakan port dan soket yang berbeda dari UDP. Pada TCP, setiap koneksi diatur berdasarkan kecocokan soket, yaitu sebuah alamat IP dan nomor port pada akhir dari koneksi (pengirim dan penerima). ketika 2 koneksi berbagi soket yang sama pada satu host, TCP memerlukan kedua host dari setiap koneksi memiliki soket yang berbeda. Hal inilah yang memungkinkan satu server web untuk mengendalikan banyak client dalam satu waktu secara simultan. Dan ini berbeda dengan UDP yang menggabungkan semua data menuju satu soket. Kelebihan TCP : a. Automatic data retransmission : TCP memiliki mekanisme otomatis untuk memastikan bahwa semua bit data tang ditransmisikan oleh pengirim sampai ke penerima. jika data hilang atau rusak di tengah jalan, TCP akan mentransmisi ulang data tersebut. b. Data byte sequence numbers : Nomor tersebut memungkinkan aplikasi yang menerima data untuk memeriksa apakah data hilang atau paket tiba tidak sesuai pesanan dari saat ketika paket dikirim. c. Multiple connections to a single port : TCP menjaga jalur pesan berdasarkan kecocokan soket sehingga banyak koneksi yang terjadi secara simultan bisa dilakukan dari satu port pada satu host untuk beberapa mesin. Hal ini memungkinkan banyak client untuk mengakses server melalui satu port yang

26

dipakai. d. Universal availability : Banyak perangkat yang digunakan dalam jaringan IP mendukung TCP. Kekurangan TCP : a. Connection setup required : Proses pengaturan koneksi harus diselesaikan sebelum komunikasi dapat mengalir di TCP. Pada jaringan dengan delay antar host (end-to-end) yang lama, proses pengaturan koneksi dua arah (back-andforth handshake) bisa mengahbiskan waktu yang relatif lama. b. Flow control can harm video : Mekanisme pengendalian aliran secara otomatis yang dimiliki TCP akan memperlambat kecepatan transmisi data ketika terdapat kesalahan dalam oneki. Jika tingkat kecepatan jatuh di bawah tingkat kecepatan minimum yang dibutuhkan oleh sinyal video, maka penerima sinyal video akan menghentikan operasi. c. Retransmission not useful : Jika paket ditransmisi ulang. paket-paket tersebut mungkin akan terlambat tiba untuk digunakan. Hal ini bisa berpengaruh pada lalu lintas lainnya yang akan tiba pada kurun waktu tertentu. d. No multicasting : Multicasting tidak didukung, artinya bahwa koneksi yang disiapkan secara terpisah perlu untuk dibangun oleh pengirim untuk setiap penerima. Jaringan satu arah tidak bisa digunakan, karena TCP mensyaratkan handshaking. e. Delay reduces throughput : Pada jaringan dengan delay antar host (end-to-end) yang lama, TCP bisa mengurangi throughput jaringan secara drastis, karena waktu yang dipakai untuk menunggu paket yang telah valid. 2.4.3 Real-time Transport Protocol (RTP) Real-time Transport Protocol (RTP) dimaksudkan untuk aplikasi multimedia yang bersifat real-time, seperti suara dan video yang melalui internet. RTP didesain secara khusus untuk membawa sinyal ketika waktu merupakan hal yang utama.

27

Sebagai contoh, pada banyak sinyal real-time, jika tingkat pengiriman paket jatuh di bawah ambang batas kritis, maka menjadi hal yang tidak mungkin untuk menyatukannya menjadi sinyal output yang dapat digunakan pada penerima. Untuk sinyal terebut, kehilangan paket masih bisa ditolelir jika dibanding dengan keterlambatan pengiriman. RTP dibuat untuk jenis sinyal seperti ini, untuk menyediakan sejumlah fungsi yang berguna untuk transpor video dan audio secara real-time melalui internet. Sebuah contoh dari sinyal real-time yang bukan video yang cocok dengan RTP adatah percakapan suara. Seperti kebanyakan pengguna telepon mobil (handphone) bisa buktikan, suatu gangguan noise yang kadang-kadang terjadi tidak terlalu mengganggu percakapan yang sedang terjadi. Jelas jika telepon mobil didesain untuk menghentikan komunikasi dan menyiarkan ulang (rebroadcast) paket data suara setiap kali kesalahan terjadi, maka sistem akan secara konstan dihentikan dan secara logika tidak berguna. Begitu juga dengan video, gangguan pendek lebih baik daripada sinyal yang sempurna yang secara kontinyu diberhentikan (stop) dan dimulai kembali (restart) untuk membiarkan bit yang hilang untuk disiarkan kembali (rebroadcast). RTP dibangun dengan filosofi yang sama, kesalahan data atau kehilangan paket yang kadang terjadi tidak akan secara otomatis ditransmisi ulang. Jelasnya, RTP tidak mencoba untuk mengatur jumlah bit yang digunakan aplikasi pengirim. RTP tidak mempunyai fungsi penurunan kecepatan seperti yang dimiliki TCP untuk mengendalikan jaringan yang terlalu penuh. RTP digunakan pada aplikasi-aplikasi yang bervariasi, termasuk standar konferensi video H.323 yang populer. Salah satu dari fitur RTP yang bagus adalah bahwa RTP mendukung konferensi dengan banyak pengguna dengan mengizinkan pengguna berbeda dalam konferensi untuk tetap mengawasi partisipan seperti mereka bergabung atau keluar. RTP juga bisa mendukung multicasting. RTP juga menyediakan fungsi time-stamping yang mengizinkan banyak stream dari satu sumber untuk disinkronkan. Setiap penyatuan dari payload (video, audio, dan suara) memiliki cara yang spesifik untuk dipetakan ke dalam RTP. Setiap tipe payload diangkut secara terpisah oleh RTP, yangmemungkinkan penerima untuk

28

menerima hanya bagian audio dari percakapan video. Hal ini bisa sangat berguna untuk koneksi jaringan dengan kecepatan rendah. Setiap sumber memasukkan time-stamps ke dalam header paket yang sedang dikirim, yang bisa diproses oleh penerima untuk memulihkan streams clock signal yang dibutuhkan untuk memainkan audio dan video secara benar (bersamaan). RTP bukanlah protokol transpor sebenarnya, seperti UDP dan TCP, seperti yang diilustrasikan pada gambar 2.3. Faktanya, RTP didesain untuk menggunakan UDP sebagai mekanisme transpor. Artinya, RTP menambahkan header pada tiap paket, yang kemudian dikirim ke UDP untuk proses selanjutnya (dan header lainnya). Real-time Transfer Control Protocol (RTCP) digunakan besama dengan RTP. Kapanpun sebuah koneksi RTP dibuat, sebuah koneksi RTCP juga perlu dibuat. Koneksi ini dibuat menggunakan port tetangga UDP yang kedua (jika koneksi RTP menggunakan port 1380, maka koneksi RTCP menggunakan port 1381) RTP menyediakan fungsi-fungsi di bawah ini : a. Memungkinkan sinkronisasi antara tipe media yang berbeda, seperti audio dan video. RTCP mengangkut informasi time-stamp yang digunakan oleh penerima untuk menyesuaikan waktu pada tiap stream RTP yang berbeda sehingga sinyal audio dan video tersebut dapat mencapai kondisi lip-sync (kondisi dimana audio dan video telah sinkron). b. Menyediakan laporan status kualitas penerimaan pada pengirim. Hal ini mencakup data yang telah terkirim dari setiap penerima, memberikan statistik mengenai bagaimana data pengirim diterima. c. Menyediakan identifikasi pengirim pada sesi RTP sehingga penerima baru bisa bergabung dan mengenali stream mana yang mereka perlu untuk dibawa dalam rangka berpartisipasi secara penuh. d. Menyediakan identifikasi partisipan lain pada sesi RTP. Sejak setiap penerima diminta secara periodik untuk mengidentifikasi dirinya sendiri menggunakan RTCP, setiap partisipan (pengirim atau penerima) bisa memeriksa penerima

29

mana yang aktif. Ini bukanlah mekanisme keamanan sesungguhnya, untuk keperluan keamanan, beberapa bentuk enkripsi atau mekanisme pengendalian akses lain harus digunakan. Setiap penerima juga diminta untuk memaintain jumlah dari nomor dari penerima aktif lain pada sesi tersebut. Jumlah ini digunakan untuk menghitung seberapa sering setiap penerima harus mengirim laporan. Ketika lebih banyak lagi penerima bergabung dalam sesi ini, setiap penerima perlu untuk tidak mengirim laporan sering-sering, sehingga tidak menggangu jaringan atau penerima lain. Aturan yang digunakan dalam perhitungan adalah bahwa trafik RTCP harus tidak lebih dari 5% dari trafik stream RTP. Secara keseluruhan, RTP menambahkan banyak fungsi di atas UDP, tanpa menambah fungsi yang tidak diinginkan dari TCP. Sebagai contoh, RTP tidak secara otomatis menurunkan bandwidth transmisi jika terjadi kehilangan paket. Sebaliknya, RTP menyediakan informasi untuk aplikasi pengirim untuk mengetahui congestion (jaringan yang penuh) terjadi. Aplikasi selanjutnya bisa menurunkan encoding jumlah bit video (mengorbankan sedikit kualitas) atau bisa juga hanya mengacuhkan laporan jika hanya sedikit penerima yang terpengaruh oleh congestion. RTP juga mendukung multicasting yang bisa menjadi cara yang lebih efisien untuk transpor video melalui jaringan. Kelebihan RTP : a. Multiple formats : Dukungan yang telah tersedia untuk banyak jenis stream audio dan video, memungkinkan aplikasi dengan mudah untuk berbagi-pakai video dan banyak jenis berbeda dari audio menggunakan format yang bagus. b. Packet sequence numbers : Nomor ini memungkinkan aplikasi penerima data untuk memeriksa apakah paket hilang atau tiba di luar rangkaian, memperingatkan aplikasi penerima untuk merangkai ulang, mengkoreksi kesalahan, atau keperluan untuk melakukan tambal-sulam. c. Multicasting support : Stream RTP bisa didistribusikan menggunakan multicasting, sehingga satu sumber video bisa melayani beberapa tujuan secara

30

simultan. d. Embedded sync data : Sinkronisasi antara banyak jenis stream memungkinkan sinyal multimedia (video, audio, dan lain-lain) untuk ditransmisikan secara terpisah dan disatukan kembali ke waktu yang didasarkan pada waktu pada penerima. a. Multiple stream speeds : Perangkat penerima bisa memilih untuk melakukan decode hanya pada sebagian dari keseluruhan program, sehingga perangkat dengan koneksi jaringan berkecepatan rendah bisa memilih untuk melakukan decode hanya pada bagian audio dari program. Kekurangan RTP : a. Firewall issues : Beberapa Firewall mungkin akan menahan trafik RTP, karena paket UDP memang sudah rutin pada banyak instalasi. b. No priorities : Tidak mekanisme yang dibuat ke dalam RTP yang memastikan waktu transpor dari paket (seperti priotitas antrian). c. Limited deployment : Tidak semua peangkat jaringan mendukung RTP, sehingga harus diperhatikan benar untuk memastikan bahwa jaringan dikonfigurasi dengan baik sebelum menggunakan protokol ini. 2.5 Perangkat Lunak Bebas dan Open Source

Bebas pada kata perangkat lunak bebas tepatnya adalah bahwa para pengguna bebas untuk menjalankan suatu program, mengubah suatu program, dan mendistribusi ulang suatu program dengan atau tanpa mengubahnya. Berhubung perangkat lunak bebas bukan perihal harga, harga yang murah tidak menjadikannya menjadi lebih bebas, atau mendekati bebas. Jadi jika anda mendistribusi ulang salinan dari perangkat lunak bebas, anda dapat saja menarik biaya dan mendapatkan uang. Mendistribusi ulang perangkat lunak bebas merupakan kegiatan yang baik dan sah; jika anda melakukannya, silakan juga menarik keuntungan.

31

Perangkat lunak bebas ialah perangkat lunak yang mengizinkan siapa pun untuk menggunakan, menyalin, dan mendistribusikan, baik dimodifikasi atau pun tidak, secara gratis atau pun dengan biaya. Perlu ditekankan, bahwa kode sumber dari program harus tersedia. Jika tidak ada kode program, berarti bukan perangkat lunak. Perangkat Lunak Bebas mengacu pada kebebasan para penggunanya untuk menjalankan, menggandakan, menyebarluaskan, mempelajari, mengubah dan meningkatkan kinerja perangkat lunak. Tepatnya, mengacu pada empat jenis kebebasan bagi para pengguna perangkat lunak: a. Kebebasan untuk menjalankan programnya untuk tujuan apa saja. b. Kebebasan untuk mempelajari bagaimana program itu bekerja serta dapat disesuaikan dengan kebutuhan anda. Akses pada kode program merupakan suatu prasyarat. c. Kebebasan untuk menyebarluaskan kembali hasil salinan perangkat lunak tersebut sehingga dapat membantu sesama anda. d. Kebebasan untuk meningkatkan kinerja program, dan dapat menyebarkannya ke khalayak umum sehingga semua menikmati keuntungannya. Akses pada kode program merupakan suatu prasyarat juga. Suatu program merupakan perangkat lunak bebas, jika setiap pengguna memiliki semua dari kebebasan tersebut. Dengan demikian, anda seharusnya bebas untuk menyebarluaskan salinan program itu, dengan atau tanpa modifikasi (perubahan), secara gratis atau pun dengan memungut biaya penyebarluasan, kepada siapa pun dimana pun. Kebebasan untuk melakukan semua hal di atas berarti anda tidak harus meminta atau pun membayar untuk izin tersebut. Perangkat lunak bebas bukan berarti tidak komersial. Program bebas boleh digunakan untuk keperluan komersial. Pengembangan perangkat lunak bebas secara komersial pun bukan merupakan hal yang aneh; dan produknya ialah perangkat lunak bebas yang komersial. Walau pun perangkat lunak (PL) memegang peranan yang penting, pengertian

32

publik terhadap Hak atas Kekayaan Intelektual Perangkat Lunak (HaKI) masih relatif minim. Kebinggungan ini bertambah dengan peningkatan pemanfaatan dari Perangkat Lunak Bebas (PLB) Free Software dan Perangkat Lunak Sumber Terbuka (PLST) Open Source Software (OSS). PLB ini sering disalahkaprahkan sebagai PLST, walau pun sebetulnya terdapat beberapa berbedaan yang mendasar diantara kedua pendekatan tersebut. Pada dasarnya, PLB lebih mengutamakan hal fundamental kebebasan, sedangkan PLST lebih mengutamakan kepraktisan pemanfaatan PL itu sendiri. Konsep Perangkat Lunak Kode Terbuka ( Open Source Software) pada intinya adalah membuka kode sumber (source code) dari sebuah perangkat lunak. Konsep ini terasa aneh pada awalnya dikarenakan kode sumber merupakan kunci dari sebuah perangkat lunak. Dengan diketahui logika yang ada di kode sumber, maka orang lain semestinya dapat membuat perangkat lunak yang sama fungsinya. Open source hanya sebatas itu. Artinya, tidak harus gratis. Kita bisa saja membuat perangkat lunak yang kita buka kode-sumber-nya, mempatenkan algoritmanya, medaftarkan hak cipta, dan tetap menjual perangkat lunak tersebut secara komersial (alias tidak gratis). Definisi open source yang asli seperti tertuang dalam OSD (Open Source Definition) yaitu: a. Free Redistribution b. Source Code. c. Derived Works d. Integrity of the Authors Source Code e. No Discrimination Against Persons or Groups f. No Discrimination Against Fields of Endeavor g. Distribution of License h. License Must Not Be Specific to a Product i. License Must Not Contaminate Other Software j. License Must Be Technology-Neutral Beberapa bentuk model bisnis yang dapat dilakukan dengan Open Source:

33

a. Support/seller, pendapatan diperoleh dari penjualan media distribusi, branding, pelatihan, jasa konsultasi, pengembangan custom, dan dukungan setelah penjualan. b. Loss leader, suatu produk Open Source gratis digunakan untuk menggantikan perangkat lunak komersial. c. Widget Frosting, perusahaan pada dasarnya menjual perangkat keras yang menggunakan program open source untuk menjalankan perangkat keras seperti sebagai driver atau lainnya. d. Accecorizing, perusahaan mendistribusikan buku, perangkat keras, atau barang fisik lainnya yang berkaitan dengan produk Open Source, misal penerbitan buku O Reilly. e. Service Enabler, perangkat lunak Open Source dibuat dan didistribusikan untuk mendukung ke arah penjualan service lainnya yang menghasilkan uang. f. Brand Licensing, Suatu perusahaan mendapatkan penghasilan dengan penggunaan nama dagangnya. g. Sell it, Free it, suatu perusahaan memulai siklus produksinya sebagai suatu produk komersial dan lalu mengubahnya menjadi produk open Source. h. Software Franchising, ini merupakan model kombinasi antara brand licensing dan support/seller.

34

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Metoda yang Digunakan

Metodologi yang digunakan merupakan gabungan dari beberapa metodologi berikut ini. 3.1.1 Pengumpulan Data Data-data yang didapat dan dimanfaatkan dalam penulisan karya ilmiah ini delakukan dengan tiga cara, yaitu : a. Wawancara, merupakan suatu kegiatan yang secara langsung berhubungan dengan suatu obyek (orang) yang bersangkutan guna mendapatkan informasi dari orang tersebut. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi terkait yang berhubungan dengan penelitian secara langsung sesuai dengan pengalaman pribadi orang yang diwawancara. b. Observasi, yaitu teknik pengumpulan data dengan cara melakukan suatu kunjungan penelitian terhadap obyek yang bersangkutan. Hal ini dimaksudkan guna melihat secara langsung obyek-obyek yang akan diamati secara real-time, sehingga didapatkan suatu informasi yang jelas mengenai hal-hal yang diamati dari sistem yang sedang berjalan. c. Studi Pustaka, berfungsi sebagai kerangka acuan mengenai suatu landasan teori dari obyek yang sedang diteliti guna mndapat penjelasan yang berkaitan dengan pe4rmasalahan yang sedang dibahas sehingga didapatkan suatu informasi yang jelas yang mengacu pada suatu teori yang ada dan akhirnya bisa ditarik kesimpulannya.

35

3.1.2 Component-Based Development (CBD) Component-Based Development (CBD) adalah salah satu metoda pengembangan yang berbasiskan pada komponen-komponen yang digunakan pada sistem. Didefinisikan oleh Norris, Davis, dan Pengelly. Gambaran tentang proses yang dilakukan pada CBD adalah sebagai berikut :

Gambar 3.1 Component-Based Development (Sumber : Norris, Davis, dan Pengelly, 2000) a. System design and specification, yaitu tahap pengumpulkan informasi yang dibutuhkan untuk rekayasa sistem dan melakukan analisa kebutuhan. Juga memilah dan memilih perangkat yang akan digunakan untuk rekayasa sistem setelah dilakukan analisa. Beberapa hal yang dilakukan dalam tahapan ini adalah : Menganalisa bisnis Menelaah kebutuhan Pemilihan komponen Spesifikasi sistem

36

Pencarian komponen awal Memilih arsitektur Menganalisa dan mendesain sistem

b. Product Engineering, yaitu tahap pengefisienan pembangunan sistem dengan cara memanfaatkan komponen yang telah dimiliki dan melakukan pemilihan komponen yang sesuai agar sistem yang dibangun menjadi efektif. Beberapa hal yang dilakukan dalam tahap ini adalah : Mengklasifikasikan komponen Mengidentifikasi komponen yang telah ada Mengidentifikasi komponen komersial Mencocokan antara desain dan spesifikasi agar cocok dengan komponen yang ada. Spesifikasi komponen yang tidak ada Memeriksa penggunaan potensial lainnya dan abstraksi desain

c. Component Design, Building, and Procurement, yaitu tahap mendesain komponen-komponen yang ada untuk dibangun. Pengadaan komponen ini memanfaatkan komponen yang telah ada dan/atau membeli komponen yang belum ada. Beberapa hal yang dilakukan dalam tahap ini adalah : Mendesain komponen Membangun dan memeriksa komponen Membeli komponen Menyetujui komponen Mengadaptasi komponen Memanfaatkan komponen

d. System Assembly and Delivery, yaitu merangkai seluruh komponen yang telah didefinisikan sebelumnya menjadi satu kesatuan sistem. Beberapa hal yang

37

dilakukan dalam tahap ini adalah : Merangkai komponen Mengintegrasikan komponen Mengkonfigurasi komponen

e. Component Maintenance, yaitu berhubungan dengan pemeliharaan dan perawatan sistem setelah dibangun. Beberapa hal yang dilakukan dalam tahap ini adalah : Mengukur dan mengevaluasi penggunaan komponen Abstraksi komponen baru Menjaga komponen yang ada Mengelola inventori dan penggunaan komponen Pembaharuan sistem dengan versi baru dari komponen Mencabut komponen

3.1.3 Blackbox Metode ujicoba blackbox memfokuskan pada keperluan fungsional dari software. Karena itu ujicoba blackbox memungkinkan pengembang software untuk membuat himpunan kondisi input yang akan melatih seluruh syarat-syarat fungsional suatu program. Ujicoba blackbox bukan merupakan alternatif dari ujicoba whitebox, tetapi merupakan pendekatan yang melengkapi untuk menemukan kesalahan lainnya, selain menggunakan metode whitebox. Ujicoba blackbox berusaha untuk menemukan kesalahan dalam beberapa kategori, diantaranya : a. Fungsi-fungsi yang salah atau hilang b. Kesalahan interface c. Kesalahan dalam struktur data atau akses database eksternal

38

d. Kesalahan performa e. kesalahan inisialisasi dan terminasi Tidak seperti metode whitebox yang dilaksanakan diawal proses, ujicoba blackbox diaplikasikan dibeberapa tahapan berikutnya. Karena ujicoba blackbox dengan sengaja mengabaikan struktur kontrol, sehingga perhatiannya difokuskan pada informasi domain. Ujicoba didesain untuk dapat menjawab pertanyaanpertanyaan berikut : a. Bagaimana validitas fungsionalnya diuji? b. Jenis input seperti apa yang akan menghasilkan kasus uji yang baik ? c. Apakah sistem secara khusus sensitif terhadap nilai input tertentu ? d. Bagaimana batasan-batasan kelas data diisolasi? e. Berapa rasio data dan jumlah data yang dapat ditoleransi oleh sistem? f. Apa akibat yang akan timbul dari kombinasi spesifik data pada operasi sistem? Dengan mengaplikasikan ujicoba blackbox, diharapkan dapat menghasilkan sekumpulan kasus uji yang memenuhi kriteria berikut : a. Kasus uji yang berkurang, jika jumlahnya lebih dari 1, maka jumlah dari ujikasus tambahan harus didesain untuk mencapai ujicoba yang cukup beralasan b. Kasus uji yang memberitahukan sesuatu tentang keberadaan atau tidaknya suatu jenis kesalahan, daripada kesalahan yang terhubung hanya dengan suatu ujicoba yang spesifik Karakteristik khusus untuk sistem real-time memberikan tantangan tersendiri ketika ujicoba dilaksanakan. Ketergantungannya dengan waktu, sifat alami dari beberapa aplikasi yang tidak sinkron, menambah kesulitan baru dan potensial sebagai elemen untuk ujicoba dengan waktu beragam. Belum ada uji kasus yang komprehensif yang dikembangkan untuk sistem real-time, tetapi 4 langkah

39

strategi berikut dapat dilaksanakan : a. Task Testing, yaitu dengan mengujicobakan setiap task secara independen. Dalam hal ini metode whitebox dan blckbox testing dapat digunakan untuk menemukan kesalahan logika dan kesalahan fungsional, tetapi untuk kesalahan ketepatan waktu dan prilaku software (timing or behavioral errors), tidak dapat terdeteksi. b. Behavioral Testing, dengan menggunakan model sistem dengan CASE tool, memungkinkan untuk mensimulasikan prilaku sistem real-time dan menentukannya sebagai konsekwensi dari peristiwa eksternal. Aktivitas analisis ini dapat dilaksanakan sebagai dasar untuk desain kasus uji yang diadakan ketika sebuah sistem real-time berhasil dibuat. Setiap kesalahan yang terjadi diuji secara individual, dan prilaku executable sistem diperiksa. Prilaku software diperiksa untuk menentukan apakah terdeteksi kesalahan prilaku sistem c. Intertask Testing, ketika sebuah kesalahan dari individual task berhasil diisolasi, ujucoba berlanjut kepada kesalahan pada waktu yang terkait. Task yang tidak sinkron yang berkomunikasi dengan task lainnya diuji dengan beberapa data dan pemrosesan untuk menentukan apakah kesalahan antar task akan terjadi. Sebagai tambahan task yang berkomunikasi via antrian pesan atau penyimpanan data, diujikan untuk menemukan kesalahan ukuran penyimpanan d. System Testing, software dan hardware telah disatukan dan diujikan dalam uji sistem sebagai satu kesatuan. Uji ini dilakukan untuk menemukan kesalahan pada software/hardware interface.

Gambar 3.2 Testing blackbox (Sumber : Ayuliana, 2009).

40

3.2

Skema Kerja Penelitian

Dalam pembangunan streaming server berbasis open source di STT-Garut, metodologi penelitian yang digunakan digambarkan dalam skema berikut :

Gambar 3.3 Skema tahap proses penelitian 3.2.1 Analisis Kebutuhan

Analisis kebutuhan merupakan tahap mencari kebutuhan yang didefinisikan langsung oleh staff atau pengurus yang berkaitan. Dalam tahap ini, metoda yang digunakan adalah metoda pengumpulan data dengan melakukan wawancara kepada bapak Rinda Cahyana, M.T. Selaku Kepala Unit Pengembana Teknik (UPT) Sistem Informasi (SI) STT-Garut. Input dari proses ini adalah permintaan

41

langsung dari Kepala UPT SI (USI) mengenai sistem yang akan dibangun. Proses yang terjadi adalah : a. Wawancara dengan mengajukan pertanyaan kepada Kepala USI mengenai perlu tidaknya membangun streaming server. b. Menerima permintaan dari Kepala USI tentang apa-apa yang menjadi tambahan dalam streaming server yang akan dibangun. Dan output yang dihasilkan dari tahapan ini adalah : a. Kebutuhan STT-Garut terhadap sistem b. Skema sistem yang diinginkan STT-Garut 3.2.2 Studi Komponen Studi komponen merupakan tahap menelaah komponen-komponen yang akan digunakan dalam membangun sistem. Dalam tahap ini, metoda yang digunakan adalah CBD. Input dari proses ini adalah skema sistem yang diinginkan STTGarut. Proses yang terjadi adalah : a. Memeriksa komponen-komponen yang dimiliki STT-Garut b. Menelaah apa saja yang diperlukan dalam membangun streaming server yang disesuaikan dengan komponen yang telah dimiliki STT-Garut c. Memilih komponen yang akan digunakan, disesuaikan dengan komponen yang dimiliki STT-Garut. Dan output yang dihasilkan dari tahapan ini adalah : a. Komponen-komponen yang dimiliki STT-Garut b. Komponen-komponen yang belum dimiliki STT-Garut c. Komponen-komponen yang digunakan untuk membangun sistem

42

3.2.3 Desain Sistem Desain sistem adalah tahap merancang sistem yang akan dibangun. Dalam tahap ini, metoda yang digunakan adalah CBD. Input dari proses ini adalah : a. Skema sistem yang diinginkan STT-Garut b. Hasil dari pemilihan komponen-komponen yang akan digunakan dalam membangun sistem. Proses yang terjadi adalah : a. Merancang streaming server dari segi infrastruktur dan aplikasi b. Menentukan bagaimana hirarki penyajian streaming server Dan output yang dihasilkan adalah rancangan sistem yang meliputi rancangan infrastruktur dan penyajian situs. 3.2.4 Implementasi Desain

Implementasi sistem adalah tahap menerapkan hasil rancangan sistem menjadi sistem utuh. Dalam tahap ini, metoda yang digunakan adalah CBD. Input dari proses ini adalah rancangan sistem. Proses yang terjadi adalah : a. Instalasi streaming server di STT-Garut b. Menentukan alamat IP atau domain untuk mengakses streaming server c. Membangun antarmuka untuk mengakses streaming server Dan output yang dihasilkan adalah streaming server STT-Garut yang telah dibangun dan dapat digunakan. 3.2.5 Evaluasi Sistem Evaluasi sistem adalah tahap memeriksa kinerja sistem untuk mencari kecacatan yang dimiliki sistem. Dalam tahap ini, metoda yang digunakan adalah Black-box dengan melakukan task testing dan behavioral testing. Input dari proses ini adalah

43

sistem yang telah dibangun. Proses yang terjadi adalah : a. Melakukan demo terhadap streaming server STT-Garut b. Memastikan fungsi streaming server berjalan baik c. Melakukan benchmark kualitas situs dari sisi pengguna Dan output yang dihasilkan adalah : a. Kinerja sistem b. Hambatan-hambatan yang terjadi selama membangun sistem.

Gambar 3.4 Skema tahap proses penelitian secara rinci

44

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1

Pendefinisian Kebutuhan

Teknologi di STT-Garut dikelola oleh sebuah Unit Pengembangan Teknik (UPT) yang bernama UPT Sistem Informasi (USI). Saat ini, USI dikepalai oleh bapak Rinda Cahyana, M.T. Pendefinisian kebutuhan dilakukan dengan melaukan wawancara yang mencakup kegiatan sebagai berikut : a. Menyampaikan ide pembangunan streaming server di STT-Garut sebagai sarana pembelajaran civitas akademika STT-Garut. b. Memenuhi permintaan kepala USI yang berhubungan dengan pembangunan streaming server. Dari hasil wawancara dengan bapak Rinda Cahyana, M.T., didapat kebutuhan informasi sebagai berikut : a. Meminta konten streaming yang disediakan di server tidak hanya video, tetapi juga dokumen dan gambar karena STT-Garut telah memiliki sumber daya dokumen dan gambar. b. Meminta agar konten streaming hanya bisa diakses melalui situs streaming, tidak bisa diunduh oleh pengguna. Dengan demikian disimpulkan bahwa : a. STT-Garut membutuhkan streaming server sebagai sarana pembelajaran bagi civitas akademika b. Konten streaming server yang disediakan adalah video, dokumen, dan gambar. c. Konten bersifat tertutup, hanya bisa diakses melalui situs dan tidak dapat diunduh.

45

4.2

Studi Komponen

Menurut Folansbee (2004), dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam membangun streaming server diperlukan komponen-komponen berikut ini : a. Perangkat keras, berhubungan dengan media fisik yang diperlukan. Perangkat keras ini terbagi menjadi 2 yaitu : Jaringan, yaitu media keterhubungan antara client dan server. Perangkat pemrosesan, yaitu media encoder dan decoder konten yang akan di-stream. Contohnya komputer, smartphone, transmitter, dan satelit. b. Perangkat lunak, berhubungan dengan media virtual yang diperlukan. Perangkat lunak ini terbagi menjadi 3, yaitu : Sistem operasi, yaitu pengelola perangkat keras yang digunakan. Juga sebagai jembatan antara aplikasi yang dipakai dengan perangkat keras yang digunakan. Aplikasi penyalur konten, yaitu layanan yang memungkinkan konten streaming dibagikan kepada pengguna yang mengakses. Aplikasi decoder, yaitu aplikasi yang digunakan pengguna untuk mengakses media streaming yang disediakan. c. Antarmuka, berhubungan dengan bagaimana streaming server disajikan kepada pengguna. 4.2.1 Komponen yang Dimiliki STT-Garut STT-Garut telah memiliki jaringan yaitu jaringan komputer lokal yang menghubungkan komputer-komputer yang ada di lingkungan kampus. Berikut layout jaringan komputer lokal STT-Garut :

46

Gambar 4.1 Layout jaringan komputer lokal STT-Garut (Sumber : Elsen, 2011) Komputer yang akan dijadikan streaming server adalah komputer yang digunakan sebagai Web+DNS Server. Pengguna mengakses server ini dari 3 jalur, yaitu jalur Office (private LAN), Student (Public LAN) dan MAN (Public LAN). Pengguna yang mengakses dari jalur Office dan Student akan tersambung ke alamat 192.168.10.6 melalui Core Router dan Distribution Switch. Sedangkan yang melalui jalur MAN akan tersambung ke alamat 192.168.11.6 melalui Access Point (AP) InterYamusa, MAN Bridge, Distribution Switch, MAN Router, Distribution Switch, Core Router, dan Load Balancing. Fungsi masing-masing perangkat dan spesifikasi komputer yang digunakan dapat dilihat pada Lampiran A.

47

4.2.2 Komponen yang Belum Dimiliki STT-Garut Pada dasarnya, komponen yang dibahas disini bukanlah yang benar-benar tidak dimiliki oleh STT-Garut. STT-Garut mungkin telah memiliki komponen ini, namun sudah dipakai oleh perangkat lain atau memang belum ada sama sekali. Komponen-komponen tersebut adalah : a. Sistem operasi. STT-Garut belum memiliki sistem operasi yang akan digunakan pada streaming server. b. Aplikasi penyalur konten. STT-Garut belum memiliki aplikasi untuk menyalurkan konten streaming kepada pengguna. c. Aplikasi decoder. Aplikasi ini berada pada sisi pengguna sebagai media penayangan konten. d. Antarmuka. Belum ada antarmuka untuk penayangan konten streaming. 4.2.3 Pemilihan Komponen 4.2.3.1 Komponen Utama Tabel 4.1 Komponen yang belum dimiliki STT-Garut No 1. 2. 3. 4. Jenis Sistem Operasi Aplikasi penyalur konten Aplikasi decoder Antarmuka Nama CentOS Apache Web Server Web Browser Drupal Sifat Open Source Open Source Open Source/Freeware Open Source

Berdasarkan pada komponen yang sudah dan belum dimiliki STT-Garut, maka ditetapkan bahwa streaming server yang akan dibangun adalah web-based menggunakan aplikasi open source. Alasan penggunaan web-based adalah karena STT-Garut telah memiliki infrastruktur jaringan komputer yang mumpuni dan komputer server. Alasan penggunaan aplikasi open source adalah agar tidak perlu ada biaya tambahan dalam membangun streaming server, hanya memanfaatkan

48

komponen yang telah dimiliki STT-Garut. Berikut komponen yang dipilih untukkomponen-komponen yang belum dimiliki STT-Garut : a. Sistem operasi menggunakan CentOS. CentOS merupakan salah satu distribusi GNU/Linux yang bersifat open source. 99% CentOS merupakan duplikasi dari RedHat Enterprise Linux (RHEL) yang merupakan sistem operasi yang paling terkenal sebagai sistem operasi server di dunia. Alasan penggunaan CentOS selain gratis adalah kompatibilias CentOS dengan banyak aplikasi server karena merupakan duplikasi dari RHEL sehingga apa yang didukung RHEL didukung pula oleh CentOS. b. Aplikasi penyalur konten menggunakan Apache Web Server. Apache merupakan salah satu proyek open source yang paling berhasil. Sekitar 70% web server dunia menggunakan Apache sebagai aplikasi web server. Banyak proyek web server berkiblat pada proyek Apache. Contohnya Nginx, aplikasi web server yang sedang naik daun saat ini. Alasan penggunaan Apache Web Server selain gratis adalah kompatibilitas dengan banyak aplikasi server seperti aplikasi basis data dan kompiler bahasa pemrograman web. c. Aplikasi decoder menggunakan web browser. Banyak contoh web browser yang beredar di pasaran seperti Mozilla Firefox, Internet Explorer, Chromium Browser, Google Chrome, Safari, Opera, dan Flock. Web browser ini berfungsi sebagai penayang konten web. Alasan penggunaan web browser adalah karena seluruh sistem operasi di dunia telah menyertakan aplikasi web browser dalam paket instalasi sehingga bisa dibilang bahwa seluruh komputer pasti memiliki web browser. Contohnya kebanyakan distribusi GNU/Linux yang menyertakan Mozilla Firefox, Microsoft Windows yang menyertakan Internet Explorer, dan Apple Mac yang menyertakan Safari. d. Antarmuka menggunakan Drupal. Drupal merupakan Content Management System (CMS) yang bersifat open source. Proyek drupal dimulai tahun 2000 dan saat itu masih bernama drop. Sejak tahun 2001, nama drop diubah menjadi Drupal. Drupal telah banyak dipakai pada situs-situs besar seperti situs White House milik pemerintahan Amerika Serikat. Alasan penggunaan

49

drupal selain gratis adalah karena Drupal merupakan CMS paling ringan. Dengan ukuran sekitar 3 MB, Drupal telah memiliki fasilitas yang banyak dimiliki CMS lain seperti Joomla. Dengan ukuran yang kecil itu membuat waktu kompilasi Drupal menjadi lebih cepat sehingga tidak teralu banyak menggunakan sumber daya kompilasi di server. 4.2.3.2 Komponen Tambahan Komponen-komponen tambahan merupakan komponen yang diperlukan oleh komponen utama agar bisa bekerja optimal. Berikut komponen-komponen tambahan yang akan digunakan : a. Repositori Global. Merupakan pustaka aplikasi yang dipublikasikan secara global. Berfungsi sebagai sumber aplikasi yang ingin diinstal pada CentOS secara online melalui internet. Aplikasi yang berada pada repositori global merupakan aplikasi-aplikasi open source yang telah mendukung sistem operasi tertentu. Repositori global yang digunakan oleh CentOS adalah : CentOS 6 Repository dari pengembang CentOS, Extra Package for Enterprise Linux (EPEL) dari Fedora Project, RPM Fusion Repository (Free and Non-Free) dari RPM Fusion, dan RPM Forge dari Repo Forge.

b. Aplikasi basis data menggunakan MySQL. MySQL merupakan aplikasi basis data yang bersifat open source. MySQL diperlukan oleh Drupal untuk mengelola konten web. Konten dan informasi lainnya akan disimpan pada basis data sehingga tidak terjadi penumpukan berkas web pada media penyimpanan. c. Pemrograman web menggunakan PHP. PHP merupakan bahasa pemrograman web yang paling banyak digunakan. PHP diperlukan oleh Apache Web Server untuk menampilkan konten pada Drupal yang merupakan CMS berbasis PHP. PHP memiliki banyak fasilitas sehingga tidak semua fasilitas PHP akan diinstal. Fasilitas yang akan digunakan adalah :

50

Php-gd, php-xml, dan php-mbstring. Ketiga fasilitas ini diperlukan untuk meningkatkan kinerja drupal. Php-gd berfungsi untuk pengaturan gambar dinamis yang berhubungan dengan resolusi. Php-xml berfungsi untuk meningkatkan kemampuan translasi Extensible Markup Language (XML). Php-mbstring berfungsi untuk meningkakan kemampuan translasi kode unicode, berhubungan dengan font dan kode unicode lainnya.

Php-mysql, php-mcrypt dan phpmyadmin. Kedua fasilitas ini diperlukan untuk pengelolaan basis data MySQL melalui web. Php-mysql berfungsi sebagai himpunan perintah yang mampu mentranslasikan isi MySQL ke dalam bentuk PHP. Php-mcrypt berfungsi untuk mealakukan enkripsi terhadap data-data rentan seperti password dan penanganan cookies pada browser. Phpmyadmin berfungsi sebagai antarmuka pengelolaan basis data MySQL berbasis web.

d. DHTML. Salah satu modul untuk Drupal yang mendukung drop-down menu sehingga setiap memilih menu tidak perlu dilakukan page refresh. Dengan mengurangi pembukaan halaman, server tidak akan terlalu banyak melakukan kompilasi kode sehingga kinerja server terjaga. e. Adobe plug-in. Dipakai di sisi pengguna sebagai komponen yang mendukung streaming video dan dokumen. Adobe plug-in yang digunakan adalah Adobe Flash Player dan Acrobat Reader. 4.3 Desain Sistem Berdasarkan pada layout jaringan di STT-Garut, desain sistem streaming server adalah sebagai berikut :

51

Gambar 4.2 Layout streaming server Pada dasarnya, layout streaming server di atas merupakan pemisahan atau pengkhususan layout dari layout jaringan STT-Garut dengan tujuan agar terlihat jelas komponen apa saja dalam infrastruktur jaringan komputer STT-Garut yang berhubungan dengan streaming server. Untuk mengakses streaming server melalui jaringan komputer lokal STT-Garut, pengguna harus terdaftar karena jaringan kompuler lokal STT-Garut menerapkan otentikasi pengguna yang berhak mengakses jaringan komputer. Setelah terdaftar dan terhubung ke jaringan lokal, pengguna harus memiliki web browser yang telah terinstal pada sistem operasi yang dipakainya. Jika web browser telah terinstal, maka yang perlu dilakukan pengguna selanjutnya adalah menginstal plugin Adobe Flash Player dan Adobe Acrobat Reader untuk bisa mengakses konten dokumen dan video dari streaming server. Untuk mengakses streaming server, pengguna harus masuk ke alamat http://stream.sttgarut.ac.id/ dan harus terhubung ke jaringan komputer lokal STTGarut karena situs ini hanya bisa diakses melalui jaringan lokal. Berikut skema arsitektur sistem pada streaming server STT-Garut :

52

Gambar 4.3 Arsitektur sistem streaming server STT-Garut Dari arsitektur di atas, DHTML dipasang sebagai modul dalam drupal. Drupal dikendalikan oleh Apache yang menggunakan PHP untuk melakukan kompilasi kode dan pengendalian MySQL. Seluruh aplikasi ini diinstal pada sistem operasi CentOS yangterinstal pada komputer streaming server. Melalui jaringan komputer lokal STT-Garut, komputer pengguna yang telah terinstall sistem operasi dan terdapat browser web akan bisa mengakses konten video menggunakan Adobe Flash Player dan konten dokumen menggunakan Adobe Acrobat Reader. Dan berikut adalah desain antarmuka penyajian konten streaming server berbasis web :

53

Gambar 4.4 Layout situs streaming server berbasis web Berikut hirarki menu pada situs streaming STT-Garut :

Gambar 4.5 Hirarki menu pada situs streaming

54

a. Jurusan, menampilkan jurusan-jurusan yang ada di STT-Garut yaitu Teknik Informatika, Teknik Industri, Teknik Sipil, dan Teknik Komputer. b. Semester, menunjukan semester yang ada pada tiap jurusan yaitu 8 semester untuk jenjang S1 dan 6 semester pada jenjang D3. c. Mata kuliah, menunjukan mata kuliah pada masing-masing jurusan tiap semester. d. Pembahasan, menunjukan bahasan-bahasan mata kuliah yang dipelajari di perkuliahan. 4.4 Implementasi Desain

4.4.1 Instalasi CentOS dan Aktivasi Servis Apache Aplikasi Apache telah masuk dalam paket instalasi CentOS Live CD sehingga tidak perlu dilakukan instalasi lagi, hanya tinggal mengaktifkan servis Apache yang bernama HTTP Daemon (httpd) menggunakan perintah berikut ini : service httpd start Instalasi dilakukan ke dalam harddisk lokal yang terpasang di komputer server. Beberapa repository harus diinstal karena CentOS hanya menggunakan repository CentOS. Repository yang diinstal adalah : a. EPEL b. RPM Fusion c. RPM Forge Kendala yang terjadi adalah fasilitas Kernel Crash Dumper (kdump) yang berfungsi untuk melakukan normalisasi jika terjadi deadlock tidak bisa diaktifkan karena memori yang terpasang pada komputer server adalah 512 MB. Sedangkan kdump baru bisa diaktifkan pada komputer yang terpasang memori lebih dari 1 GB. Langkah-langkah instalasi secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran B.

55

4.4.2

Instalasi dan konfigurasi MySQL

Seperti telah dijelaskan pada subbab 3.2.3.2 bahwa MySQL dibutuhkan oleh Drupal untuk menyimpan informasi situs. Instalasi MySQL dilakukan secara online melalui repositori yang telah dipasang sebelumnya. Instalasi dilakukan menggunakan perintah berikut : yum -y install mysql mysql-server mysql adalah aplikasi dasar untuk MySQL seperti servis mysql, penanganan basis data, dan lain-lain. Sedangkan mysql-server merupakan aplikasi tambahan agar servis mysql bisa diakses secara client-server. Pada awal instalasi, akun pengguna root pada mysql tidak menggunakan kata sandi sebagai otentikasi. Maka dari itu, pendefinisian kata sandi dilakukan di luar instalasi. Selain itu, belum terdapat pengguna lain selain root yang bisa digunakan untuk mengelola basis data. Jika pengelola hanya satu orang, maka hal ini bukanlah masalah. Langkah-langkah instalasi secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran C. 4.4.3 Instalasi dan konfigurasi PHP

Seperti telah dijelaskan pada subbab 3.2.3.2 bahwa PHP digunakan oleh Drupal sebagai bahasa pemrograman yang dipakai. Instalasi PHP dilakukan secara online melalui repositori yang telah dipasang sebelumnya. Instalasi dilakukan menggunakan perintah berikut : yum -y install php php-xml php-gd php-mbstring phpmyadmin php-mysql phpmcrypt Setelah instalasi, phpmyadmin tidak bisa langsung digunakan karena memerlukan blowfish secret sebagai otentikasi cookies pada browser. Blowfish secret harus kita masukan pada berkas config.inc.php yang terdapat pada folder /usr/share/phpmyadmin. Username dan password phpmyadmin menggunakan username dan password MySQL sehingga tidak perlu lagi mendefiniskan password untuk phpmyadmin.

56

PHP, secara default, hanya mengizinkan berkas yang diunggah tidak lebih dari 2 MB. Hal ini akan sangat menyulitkan untuk melakukan impor dari situs yang kita backup sebelumnya. Pengaturan ini bisa diubah dengan mengubah variabel upload_max_filesize dan post_max_size pada php.ini di direktori /etc menjadi 12M (atau sesuai kebutuhan dalam satuan MB). Langkah-langkah instalasi secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran D. 4.4.4 Instalasi dan Konfigurasi Drupal

Instalasi Drupal dilakukan secara offline dengan terlebih dahulu mengunduh berkas instalasi Drupal dari http://www.drupal.org/. Drupal yang digunakan adalah Drupal versi 7.8 dalam bentuk berkas yang dikompresi ke dalam bentuk tarball-gzip (tar.gz). Untuk menginstal Drupal, terlebih dahulu harus dibuat sebuah basis data pada MySQL untuk menyimpan data-data konten pada web oleh Drupal. Direktori standar yang digunakan oleh web server Apache sebagai tempat menyimpan data-data yang akan di-publish di web adalah /var/www/html sehingga berkas instalasi Drupal harus diekstrak disini. Setelah selesai mengunduh Drupal, berkas disimpan diekstrak ke direktori /var/www/html. Seperti dijelaskan pada subbab 3.2.3.2 bahwa Drupal akan dipasang modul DHTML. Modul DHTML diunduh melalui situs http://www.drupal.org/. Cara instalasinya hanya dengan mengekstrak hasil unduhan ke direktori /var/www/html/modules. Setelah instalasi selesai, Drupal tidak langsung memenuhi semua kebutuhan yang diperlukan dari sisi ketersediaan berkas dan direktori. Kita harus membuat sebuah direktori bernama files pada direktori sites/default yang digunakan untuk menyimpan berkas yang berhubungan dengan pengaturan (custom) situs. Juga pada folder yang sama kita harus mengubah nama default.settings.php menjadi settings.php lalu mengubah permission pada direktori files dan berkas settings.php agar bisa dibaca dan ditulis oleh servis httpd. Jika instalasi telah selesai dilakukan, maka permission berkas settings.php harus diubah menjadi hanya bisa dibaca.

57

Langkah-langkah instalasi secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran E.

Gambar 4.6 Halaman verifikasi kebutuhan yang belum lengkap Setelah itu, langkah selanjutnya adalah mengatur hirarki menu pada situs. Berdasarkan pada desain, hirarki menu dimulai dengan jurusan terlebih dahulu. Namun, karena konten yang ada saat ini hanya satu mata kuliah saja, yaitu Algoritma dan Pemrograman, maka penerapan hirarki menu yang dimulai dari jurusan tidak akan dipakai. Tetapi akan langsung dimulai dari mata kuliah.

58

Gambar 4.7 Hirarki menu pada situs 4.4.5 Pengaturan dan Penambahan Konten

Drupal mendukung masukan konten dalam bentuk html penuh. Artinya, konten yang ditampilkan bisa kita ubah dan sesuaikan dengan keinginan pengelola konten. Karena situs yang akan dibuat adalah situ streaming on-demand, maka pertama kali harus dibuat direktori tempat menyimpan berkas yang akan distream di situs. Dalam kasus ini, direktori dibuat dan dinamai uxbl. Direktori ini akan digunakan untuk menyimpan berkas video, gambar, dan dokumen. Pemberian nama uxbl pada folder dimaksudkan agar nama folder menjadi tidak biasa sehingga pengguna akan lebih sulit untuk menebak direktori penyimpanan berkas. Selain itu, direktori ini harus didaftarkan pada robots.txt untuk mencegah pengguna mengindeks isi direktori jika ternyata direktori ini ditemukan oleh pengguna dengan menambahkan daftar folder yang dilarang untuk diindeks. Format penulisannya adalah sebagai berikut : Disallow: /uxbl/

59

4.4.5.1 Penambahan Konten Video Agar bisa menampilkan stream video, diperlukan sebuah player dari sisi server sebagai penyaji konten video. Player ini diunduh dari link berikut : http://img.movavi.com/suite/tutorials/streaming/flv/flvplayer.swf Nama flvplayer.swf diganti menjadi jdb89.swf dengan maksud agar nama berkas tidak dikenali oleh user. Setelah itu, membuat konten pada Drupal yang isinya merupakan kode html penuh. Salah satu contoh sebagai berikut :
<html> <body> <center> <objectclassid="clsid:d27cdb6eae6d11cf96b8444553540000" codebase="http://fpdownload.macromedia.com/pub/shockwave/cab s/flash/swflash.cab#version=7,0,0,0"> <embed src="jdb89.swf" FlashVars="file=uxbl/cd807xh.flv" quality="high" salign="tl" bgcolor="#ffffff" width="520" height="350" name="fullscreen" align="middle" allowScriptAccess="sameDomain" type="application/x shockwaveflash" pluginspage="http://get.adobe.com/flashplayer/"/> </object> </center> </body> </html>

Karena jenis konten merupakan html penuh, maka konten dimulai dengan <html> dan diakhiri dengan </html>. Isi dari konten dimulai dari <body> sampai </body>. Isi antara <center> dan </center> akan ditampilkan di tengah halaman. Object merupakan fasilitas yang berhubungan dengan aplikasi pendukung pihak ketiga yang memiliki atribut berikut : a. classid, merupakan nomor ID kelas yang menunjukan ActiveX Flash Player sehingga browser dengan mudah mengenali bahwa konten membutuhkan plugin Flash Player. b. Codebase, merupakan link yang merujuk pada situs unduh ActiveX Flash

60

Player sehingga browser bisa langsung mengunduhnya jika belum terinstal. Embed merupakan fasilitas untuk menyimpan berkas ke dalam konten web berdasarkan pada objek yang memiliki atribut berikut : a. src, menunjukan lokasi berkas yang akan disimpan dalam konten web. b. FlashVars, menunjukan variabel tambahan untuk flash. Didalamnya terdapat variabel file untuk menunjukan lokasi video yang akan ditampilkan. c. Quality, menunjukan kualitas video yang dimainkan. Nilai high berarti berkas dimainkan dengan kualitas tertinggi yang memungkinkan. d. Salign, menunjukan posisi awal konten disimpan. Nilai tl artinya top-left berarti posisi konten berada di atas kiri. e. Bgcolor, menunjukan warna latar belakang yang didefinisikan dalam angka heksadesimal dengan menggunakan sistem RGB. Angka dimulai dengan karakter #. Nilai #ffffff menunjukan warna latar belakang berwarna hitam. f. Width dan height, menunjukan panjang dan lebar konten dalam satuan piksel atau persentase. Nilai width 520 dan height 350 berarti konten memiliki panjang 520 piksel dan lebar 350 piksel. g. Name, menunjukan cara konten dimainkan. Nilai fullscreen berarti konten dimainkan dengan ukuran disesuaikan dengan width dan height. h. Align, menunjukan posisi konten. Nilai middle berarti konten berada di tengah. i. AllowScriptAccess, menunjukan permission dalam hal akses konten. Nilai sameDomain berarti yang bisa mengakses konten hanya domain yang sama dengan domain situs. j. Type, menunjukan aplikasi yang akan memainkan berkas. Nilai application/xshockwave-flash menunjukan aplikasi yang memainkan berkas adalah aplikasi Flash Player.

61

k. Pluginspage, menunjukan lokasi situs tempat mengunduh plugin yang diperlukan. Pengguna memerlukan plugin pada browser yaitu Adobe Flash Player. Nilai pada atribut ini diisi dengan alamat situs tempat mengunduh Adobe Flash Player. Pertama kali web browser membuka konten, web browser akan mengenali konten karena object classid telah didefinisikan dan merujuk pada Flash Player ActiveX. Lalu, jika codebase belum terinstal, maka web browser akan mengunduh sesuai alamat yang tertera pada codebase dan instalasi hanya dilakukan sekali. Cara ini hanya berlaku bagi Internet Explorer 6. sedangkan untuk browser lain seperti Mozilla Firefox, Internet Explorer 7 dan Google Chrome tidak perlu melakukan instalasi codebase. Tampilan konten berdasarkan kode html adalah sebagai berikut

Gambar 4.8 Tampilan konten video pada situs streaming Konten di atas merupakan tampilan dari jdb89.swf yang merupakan player dari video yang akan di-stream berukuran 520x350 piksel dan berlatar belakang hitam karena nilai bgcolor adalah #ffffff (ffffff merupakan nilai RGB untuk hitam pekat). Web browser akan melakukan pemanggilan plugin Flash Player karena variabel type berisi application/x-shockwave-flash. Ketika tombol play diklik, maka video cd807xh.flv yang terdapat pada direktori uxbl akan di-load dan

62

dimainkan dengan kualitas high (kualitas tertinggi yang memungkinkan) dan dengan ukuran penuh (fullscreen) seukuran jdb89.swf. Jika ternyata plugin belum terinstal, maka konten tidak akan tampil dan pengguna akan dipandu untuk mengunduh plugin ke alamat yang tertera pada variabel pluginspage.

Gambar 4.9 Tampilan konten video sebelum diinstal plugin 4.4.5.2 Penambahan Konten Gambar Untuk menambah konten gambar, diperlukan kode html penuh yang salah satu contohnya sebagai berikut :
<html> <body> <img src="/uxbl/sttg.jpg" width="475" height="476" alt="STTGarut"title="STTGarut"/> </body> </html>

Karena jenis konten merupakan html penuh, maka konten dimulai dengan <html> dan diakhiri dengan </html>. Isi dari konten dimulai dari <body> sampai

63

</body>. Img merupakan fasilitas untuk menyimpan gambar ke dalam konten web yang memiliki atribut berikut : a. src, menunjukan lokasi berkas yang akan disimpan dalam konten web. b. Width dan height, menunjukan panjang dan lebar konten dalam satuan piksel atau persentase. c. Alt, menunjukan nama gambar dalam tampilan konten web. d. Title, menunjukan pesan yang akan muncul jika kursor berada di wilayah gambar dan diam dalam waktu agak lama. Ketika konten diakses, gambar sttg.jpg yang terdapat pada direktori uxbl akan diload dan ditampilkan dengan ukuran 475x476 piksel dengan nama STT-Garut (pada variabel alt). Jika kursor berada pada area gambar agak lama, maka akan muncul pesan mengambang bertuliskan STT-Garut (pada variabel title)

Gambar 4.10 Tampilan konten gambar pada situs streaming 4.4.5.3 Penambahan Konten Dokumen Streaming dokumen dilakukan dengan melakukan embed dokumen pada situs dengan menambahkan konten dalam bentuk html penuh. Salah satu contoh sebagai berikut :

64

<html> <body> <object width="700" height="600" type="application/pdf" data="/uxbl/cnjd8fh? #zoom=60&scrollbar=1&toolbar=0&navpanes=1"id="pdf_content"> <p> Mohon install <a href="http://get.adobe.com/reader/">Adobe Acrobat Reader Plugin</a>untukmembacadokumenini.</p> </object> </body> </html>

Karena jenis konten merupakan html penuh, maka konten dimulai dengan <html> dan diakhiri dengan </html>. Isi dari konten dimulai dari <body> sampai </body>. Object merupakan fasilitas yang berhubungan dengan aplikasi pendukung pihak ketiga yang memiliki atribut berikut : a. Width dan height, menunjukan panjang dan lebar konten dalam satuan piksel atau persentase. b. Type, menunjukan aplikasi yang akan memainkan berkas. Nilai application/pdf menunjukan aplikasi yang memainkan berkas adalah aplikasi Acrobat Reader. c. data, menunjukan lokasi berkas yang akan disimpan dalam konten web bersama dengan pengaturan atribut type. Atribut untuk data dan type adalah sebagai berikut : Zoom, menunjukan persentase ukuran tampilan berkas aslinya yang ditampilkan pada konten. Nilai 60 menunjukan bahwa berkas diperkecil ukuran tampilannya menjadi 60% dari ukuran sebenarnya Scrollbar, menunjukan fasilitas scroll untuk perpindahan halaman dokumen. Nilai 1 berarti fasilitas ini diaktifkan. Toolbar, menunjukan fasilitas pengelolaan berkas. Nilai 0 berarti fasilitas ini tidak diaktifkan karena dalam toolbar terdapat fasilitas penyimpanan berkas sehingga tidak boleh diaktifkan.

65

Navpanes, menunjukan fasilitas navigasi dalam pembacaan dokumen seperti bookmark dan attachment. Nilai 1 berarti fasilitas ini diaktifkan. d. Id, menunjukan konten yang ditampilkan. pdf_content menunjukan bahwa konten yang ditampilkan adalah berkas PDF. e. Isi dari <p> hingga </p> merupakan pesan yang akan muncul jika konten dokumen tidak bisa ditampilkan karena plugin belum terinstal di komputer pengguna. Untuk menampilkan dokumen, perlu plugin tambahan pada browser di sisi pengguna yaitu Adobe Acrobat Reader sehingga dalam pesan terdapat tautan untuk mengunduh plugin tersebut. Ketika web browser mengakses konten, web browser akan mengenali jenis konten berdasarkan variabel id yang berisi pdf_content. Lalu web browser akan memanggil plugin Acrobat Reader karena variabel type berisi application/pdf dengan ukuran 700x600 piksel. Setelah plugin terpanggil, maka berkas dokumen cnjd8fh yang terdapat pada direktori uxbl akan di-load oleh plugin dengan pemberasan 60% dari ukuran aslinya. Untuk konten ini, scrollbar dan navpanes yang merupakan fasilitas dari Acrobat Reader akan diaktifkan sedangkan tollbar akan dinonaktifkan. Dokumen baru akan tampil jika plugin telah terinstal. Maka, harus ada sebuah panduan bagi pengguna jika ternyata plugin belum terinstal. Kalimat antara <p. dan </p> adalah kalimat yang akan muncul jika konten tidak bisa ditampilkan. Maka, panduan untuk mengunduh plugin disimpan pada bagian ini.

66

Gambar 4.11 Tampilan konten dokumen pada situs streaming

Gambar 4.12 Tampilan konten dokumen sebelum diinstall plugin

67

4.5

Evaluasi

4.5.1 Task Testing Dalam langkah evaluasi task testing, dilakukan pengujian situs dari sisi pengguna. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah situs dapat diakses sesuai dengan yang telah diatur sebelumnya dalam pengelolaan situs. Evaluasi situs dilakukan dengan membuka alamat http://192.168.10.6/ lalu melakukan uji coba seperti berikut ini :

Gambar 4.13 Evaluasi situs Dari hasil evaluasi di atas, dapat disimpulkan bahwa situs berjalan dengan baik karena semua konten ketika diklik akan bereaksi dan memberikan timbal balik kepada pengguna. Timbal baliknya berupa konten yang terbuka atau memberi tahu pengguna bahwa konten belum ada.

68

4.5.2 Behavioral Testing Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui kinerja server dalam melayani pengguna menggunakan Apache Benchmark dengan perlakuan berbeda pada tiap tahap evaluasi. Dari hasil survey pengguna berdasarkan log pada Mikrotik Routerboard, menunjukan waktu paling sibuk terjadi pada hari Rabu antara pukul 12.00 hingga 14.00. Dan pada hari tersebut, jumlah pengguna terbanyak yang aktif dalam 1 waktu adalah 67 pengguna. Dalam melakukan evaluasi ini, angka 67 dibultkan menjadi 70 dan dijadikan konstanta dalam melakukan evaluasi. Evaluasi dilakukan dengan memberikan 5 perlakuan yang berbeda, yaitu dengan membedakan jumlah permintaan yang terjadi dalam satu waktu secara bersamaan (concurrency). Proses benchmark dapat dilihat pada Lampiran F. Dari hasil evaluasi, didapat hasil berikut : Tabel 4.2 Hasil benchmark terhadap streaming server No 1 2 3 4 5 n 70 70 70 70 70 c 1 2 3 4 5 L 9520 9520 9520 9520 9520 t 18,831 9,623 9,621 9,726 9,892 Cr 70 70 70 70 70 r/s 3,72 7,27 7,28 7,20 7,08 t/rc 269,015 274,956 412,313 555,797 706,568 t/r 269,015 137,478 137,438 138,949 141,314 Lr 540 294 554 721 895

Keterangan : n : Jumlah permintaan yang dikirim ke server c : Jumlah permintaan yang dikirim pada satu waktu sekaligus (concurrency) L : Besar data yang diunduh dari server dalam melakukan benchmark dalam satuan byte t : waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan benchmark dalam satuan detik Cr : Permintaan yang terselesaikan selama benchmark (Complete request) r/s : jumlah permintaan yang berhasil dieksekusi tiap detik

69

t/rc : Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan 1 permintaan concurrency dalam satuan milidetik. t/r : waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan 1 permintaan tanpa concurrency dalam satuan milidetik. Lr : waktu yang dibutuhkan paling lama dalam melayani sebuah permintaan dalam satuan milidetik. Dari hasil di atas, didapat kesimpulan sebagai berikut : a. Server lebih andal dalam melakukan pelayanan bersifat multicasting dibandingkan dengan singlecasting. Terbukti dengan concurrency 1, server melayani lebih lambat dibanding dengan concurrency >1. b. Server paling responsif melayani concurrency 2. Terlihat bahwa dengan concurrency 2, waktu terlama yang dibutuhkan server untuk melayani permintaan adalah yang paling kecil dibanding dengan concurrency lain. c. Server mampu mengeksekusi semua permintaan yang masuk. Terbukti dengan berbagai perlakuan yang diterima server, permintaan yang terselesaikan sama dengan jumlah permintaan yang diberikan. Hal ini menunjukan tidak ada permintaan yang gagal dieksekusi. d. Server paling andal melayani concurrency 3. Terbukti dengan jumlah permintaan yang berhasil dieksekusi dalam satu detik adalah yang terbanyak dibandingkan dengan concurrency lainnya. 4.5.3 Questioner

Questioner sempat disebar ke pengguna untuk mengetahui respon pengguna secara langsung ketika mengakses streamjng server. Jumlah questioner yang disebar hanya 5, tetapi diberikan kepada mahasiswa yang sedang mengakses jaringan komputer STT-Garut. Respon pengguna melalui questioner dapat dilihat pada Lampiran G. Berikut daftar pertanyaan dan opsi jawaban pada questioner :

70

Tabel 4.3 Daftar pertanyaan pada questioner No Pertanyaan Opsi Jawaban

( ) Sangat baik ( ) Baik Bagaimana performa yang Anda rasakan saat ( ) Biasa mengakses situs streaming STT-Garut? ( ) Kurang baik ( ) Jelek Setelah mengakses situs streaming STT-Garut, Anda akan melihat Main Menu dan Menu (2). Setelah mencoba menu-menu tersebut, menu manakah yang paling Anda suka ? ( ) Main Menu ( ) Menu (2) ( ) Keduanya ( ) Tidak Ada

( ) Video Edukasi ( ) Radio Online Konten apa saja yang Anda inginkan untuk ( ) Video Hiburan ditampilkan pada situs streaming STT-Garut? ( ) Dokumen Edukasi (jawaban boleh lebih dari 1) ( ) Gambar Edukasi ( ) Konten Sharing ( ) Sangat Perlu Apakah situs streaming STT-Garut perlu untuk ( ) Perlu dijadikan situs berbagi video, dokumen, dan gambar ( ) Biasa antar mahasiswa dan dosen STT-Garut? ( ) Kurang Perlu ( ) Tidak Perlu

Dari jawaban langsung pengguna, didapat jawaban sebagai berikut : Tabel 4.4 Hasil jawaban partisipan Jawaban questioner 1 Biasa Keduanya Konten Sharing 2 Baik Main Menu 3 Sangat Baik Menu (2) 4 Keduanya Video Hiburan, Konten Sharing Sangat Perlu 5 Keduanya Video Hiburan, Konten Sharing Sangat Perlu

No. 1 2 3

Video Edukasi, Semua Opsi Dokumen Edukasi, Konten Sharing Perlu

Tidak Perlu Sangat Perlu

Dari hasil hasil jawaban pengguna terhadap tiap pertanyaan pada questioner, dapat disimpulkan :

71

a. Pengguna belum memiliki acuan standar mengenai performa. Terlihat dengan banyaknya variasi jawaban yang muncul bahkan ada sebagian yang tidak menjawab pertanyaan tentang performa streaming server. b. Pengguna menyukai kedua menu yang ditampilkan. Terlihat dari dipilihnya semua menu oleh pengguna, baik melalui jawaban Keduanya, Main Menu, ataupun Menu (2). Perbedaan antara Main Menu dan Menu (2) dapat dilihat pada Lampiran H. c. Semua pengguna menginginkan fasilitas Konten Sharing. Terlihat dengan dipilihnya opsi ini oleh seluruh partisipan. d. Fasilitas berbagi konten antar mahasiswa dan dosen dirasa perlu dilakukan. Terlihat dari mayoritas jawaban partisipan adalah Sangat Perlu meskipun ada partisipan yang menjawab Perlu dan Tidak Perlu. 4.5.4 Hambatan yang Muncul dalam Proses Penelitian

Streaming server merupakan server yang sibuk karena harus terus menerus melakukan translasi kode setiap kali mendapat permintaan dari pengguna. Belum lagi streaming server seringkali melakukan proses handshaking ketika konten akan di-stream ke pengguna. Dengan kesibukannya itu, tentu streaming server memerlukan komputer server yang handal. Maka ada baiknya untuk komputer server yang digunakan saat ini untuk di-upgrade dari sisi processor dan memory. Saat ini, processor yang digunakan adalah Intel Xeon 5110 1,6 GHz dual core dan memory yang digunakan adalah 512 MB. Dengan spesifikasi tersebut, performa server bisa dibilang cukup memadai namun belum bisa disebut memiliki performa baik. Terlebih untuk masalah memory. Karena memory yang kecil, fasilitas Kernel Crash Dumper (kdump) yang terdapat pada CentOS tidak dapat diinstal karena fasilitas ini meminta memory minimal 1 GB. Padahal kdump sangat diperlukan untuk melakukan pengelolaan layanan ketika terjadi deadlock. Penulis sempat menyebar questioner kepada beberapa mahasiswa STT-Garut sebagai sampel mengenai streaming server. Banyak dari sampel menginginkan fasilitas berbagi-pakai. Artinya konten yang terdapat pada situs streaming

72

merupakan hasil kontribusi civitas akademika STT-Garut dan dapat diakses oleh semua civitas akademika STT-Garut. Mirip seperti Youtube dan Scribd. Namun saat ini situs streaming masih belum memiliki fasilitas tersebut karena beberapa ketebatasan yang ada seperti tidak adanya server e-mail dan halaman unggah berkas pada situs.

73

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

5.1

Kesimpulan

Dari hasil penelitian yang dilakukan, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : a. Jaringan komputer lokal STT-Garut cocok menjadi lokasi situs streaming karena selain civitas akademika STT-Garut bisa mengakses melalui jalur Office dan Student, masyarakat sekitar kampus juga bisa mengakses melalui jalur Metro Area Network (MAN). b. Komponen yang digunakan adalah komponen yang telah dimiliki STT-Garut yaitu jaringan komputer lokal dan komputer server, serta komponen lain yang belum dimiliki STT-Garut menggunakan teknologi bersifat open source dan freeware yaitu sistem operasi menggunakan CentOS, aplikasi penyalur konten menggunakan Apache Web Server, antarmuka menggunakan Drupal, dan komponen lain yang berkaitan dengan komponen-komponen tersebut baik dari sisi server maupun pengguna. c. Konten yang ditampilkan pada situs streaming STT-Garut adalah konten edukasi yang berhubungan dengan kegiatan perkuliahan. Isi konten disesuaikan dengan mata kuliah yang ada pada masing-masing jurusan. Jenis konten yang ditampilkan adalah video, gambar, dan dokumen. d. Konten bersifat tertutup. Artinya tidak ada fasilitas yang memudahkan

pengguna mengunduh konten seperti tautan terhadap berkas yang ditampilkan dan izin mengindeks direktori tempat berkas-berkas yang ditampilkan disimpan. e. Dalam pembangunan streaming server di STT-Garut tidak ada direct cost (biaya langsung) yang dikeluarkan karena selain menggunakan perangkat yang telah dimiliki STT-Garut juga karena pemilihan perangkat lain dan teknologi

74

yang digunakan bersifat open source dan freeware. f. Streaming server STT-Garut berjalan dengan baik dan memiliki performa yang cukup memadai. Pendapat ini bedasarkan pada hasil evaluasi yang dilakukan terhadap situs streaming STT-Garut. Tidak ada menu yang gagal diakses dan tidak ada permintaan yang gagal dieksekusi. 5.2 Saran

Sepeti telah dijelaskan pada subbab 4.5.3 bahwa komputer server memiliki spesifikasi yang kurang untuk dijadikan komputer server. Sangat disarankan untuk menganti processor yang dipakai saat ini dengan processor baru yang mamiliki kemampuan lebih tinggi dan menambah jumlah memory agar fasilitas kdump bisa diaktifkan dan performa server menjadi lebih baik. Situs streaming STT-Garut masih menggunakan antarmuka standar dan belum mendapat kustomasi di beberapa titik. Karena masalah antarmuka ini tidak dibahas secara rinci pada karya tulis ini, maka penulis merasa tidak perlu untuk melakukan kustomasi terlalu jauh terhadap tampilan situs. Tetapi sangat disarankan untuk mengubah tampilan situs mejadi lebih baik, atraktif, dan interaktif. Sepeti telah dijelaskan pada subbab 4.5.3 bahwa kebanyakan mahasiswa yang mengisi questioner menginginkan fasilitas berbagi-pakai. Situs streaming yang sekarang dibangun bisa dikembangkan ke arah sana dengan menambahkan fasilitas unggah berkas, membangun server e-mail untuk otentikasi dan informasi pengguna, dan mengubah tampilan situs saat ini ke arah automated indexing and generating yang memungkinkan setiap berkas yang diunggah langsung tampil di halaman muka situs.

75

LAMPIRAN A SPESIFIKASI KOMPONEN YANG TELAH DIMILIKI STT-GARUT

Layout jaringan komputer lokal STT-Garut (Sumber : Elsen, 2011) Berikut merupakan fungsi dari masing-masing alat di atas : a. Modem. Berfungsi untuk menyambungkan LAN ke internet. Alasan STTGarut menggunakan modem adalah kebutuhan akan data dan informasi yang relatif tinggi sehingga pemenuhan informasi tidak hanya didapat melalui buku tetapi juga dari informasi yang ada di internet.

76

b. Load Balancing. Berfungsi untuk menyatukan dua jaringan berbeda menjadi satu sehingga bisa diakses sekaligus oleh jaringan. Berbeda dengan router yang hanya menyambungkan jaringan tetapi hanya fungsi transparansi antar jaringan. Load balancing benar-benar menyatukan jaringan. Alasan STTGarut menggunakan load balancing adalah karena STT-Garut memiliki rencana membangun jaringan kota sehingga apabila telah terealisasi maka jaringan STT-Garut harus memiliki 2 gateway, yaitu gateway ke internet dan gateway ke server jaringan kota. c. Core router. Berfungsi untuk menyambungkan antar jaringan yang berbeda. Di router inilah seluruh pengelolaan jaringan dilakukan seperti hotspot, pembagian bandwidth, pembagian jaringan, otentikasi pengguna, dan lainlain. Alasan STT-Garut menggunakan core router adalah untuk pengelolaan jaringan di STT-Garut termasuk hotspot dan bandwidth. d. Distribution Switch. Berfungsi sebagai switch utama yang mendistribusikan koneksi ke switch, router, dan server lainnya. Merupakan swich inti pada jaringan di STT-Garut. Alasan STT-Garut menggunakan distribution switch adalah agar sebaran jaringan menjadi terpusat guna memudahkan dalam pengelolaan dan pemeliharaan jaringan. e. MAN Router. Berfungsi sebagai pengatur jaringan kota. MAN router pada jaringan STT-Garut difungsikan seperti load balancing, dimana MAN router menyatukan antara WAN 1 dengan WAN 2. Alasan STT-Garut menggunakan MAN router adalah untuk berbagi koneksi dan seumberdaya antara STTGarut dengan Yayasan Al-Musaddadiyah. Juga sebagai keperluan penelitian dalam penerapan jaringan kota. f. MAN Bridge. Berfungsi sebagai Access point (AP) yang dijadikan sebagai Bridge untuk menyambungkan antara jaringan local STT-Garut dengan jaringan Yayasan Al-Musaddadiyah yaitu InterYamusa Birdge + AP. Alasan STT-Garut menggunakan MAN bridge adalah karena jarak antara STT-Garut dan Yayasan Al-Musaddadiyah relatif jauh sehingga perlu sebuah jembatan jaringan. AP dipilih karena jika dengan kabel akan memakan biaya dan waktu

77

yang tidak sedikit. g. Office Switch. Berfungsi sebagai switch yang mendistribusikan koneksi ke staff dan dosen di STT-Garut. Koneksi dari switch ini bersifat privat karena hanya staff dan dosen yang boleh mengakses jaringan ini. Alasan STT-Garut menggunakan office switch adalah untuk memisahkan jaringan office dengan student. Juga untuk menyatukan seluruh perangkat yang terhubung ke jaringan office guna memudahkan dalam pengelolaan dan pemeliharaan. h. Student Switch. Berfungsi sebagai switch yang mendistribusikan koneksi ke seluruh civitas STT-Garut. Koneksi dari switch ini bersifat public sehinggan siapapun yang telah mendaftarkan perangkatnya bisa mengakses jaringan ini. Alasan STT-Garut menggunakan student switch adalah untuk memisahkan jaringan office dengan student. Juga untuk menyatukan seluruh perangkat yang terhubung ke jaringan student guna memudahkan dalam pengelolaan dan pemeliharaan. i. Database (DB) Server. Berfungsi sebagai server untuk menyimpan semua data dan informasi STT-Garut. Alasan STT-Garut menggunakan DB server adalah untuk menyimpan seluruh data tentang civitas STT-Garut seperti data tentang mahasiswa, dosen, absensi, staff, keuangan, dan lain-lain. j. Web + DNS Server. Berfungsi sebagai server yang melayani informasi seputar STT-Garut berbasis web dan merupakan server DNS yang mampu melakukan translasi alamat. Alasan STT-Garut menggunakan web dan dns server adalah sebagai server penyimpan data tentang STT-Garut yang akan ditampilkan dalam situs STT-Garut dan sebagai pengelola akses ke internet agar situs-situs yang tidak diizinkan diakses tidak dapat diakses melalui jaringan STT-Garut. k. File Server. Berfungsi sebagai media penyimpanan data STT-Garut dan bisa diakses oleh civitas STT-Garut melalui layanan File Transfer Protocol (FTP). Alasan STT-Garut menggunakan file server adalah karena kebutuhan akan data seperti dokumen, ebook, perangkat lunak, dan lain-lain, dan untuk

78

kebutuhan backup data jika ruang hardisk tidak mencukupi dan ada data penting yang harus tetap tersimpan. STT-Garut telah memiliki perangkat pemrosesan agar konten streaming bisa diakses oleh pengguna yaitu komputer server dengan merk HP jenis Proliant tipe ML150-G2. Berikut spesifikasi komputer server tersebut. a. Processors: Intel Xeon 5110 1,6 GHz dual core processors with 2MB level 2 cache standard (dual processor capability). Processors include support for Hyper- Threading and Extended Memory 64 Technology (EM64T), Intel E7320 chipset, 800MHz Front Side Bus b. Memory: 512 MB of PC2700 DDR SDRAM standard (expandable to 8 GB) c. Storage Controller: Slot-based Single Channel Ultra320 SCSI Adapter or 4 port SATA Adapter (depending upon model) d. Internal Drive Support: Support for up to 6 Ultra320 SCSI hard drives. Support for up to 6 SATA hard drives with optional 6 Port SATA RAID Controller. Internal U320 SCSI storage capacity of up to 880GB (6 x 146GB U320 SCSI drives). Internal SATA storage capacity of up to 2TB (4 x 500GB SATA drives) or up to 3TB (6 X 500GB SATA drives) with optional 6 Port SATA RAID Controller e. Network Controller: Broadcom 5721 PCI-Express Gigabit NIC (embedded) 10/100/1000 WOL (Wake on LAN) f. Expansion Slots: Six expansion slots: four 64-bit/66-MHz PCI-X (3 available), one x4 PCI-Express, and one 32-bit/33MHz PCI g. USB Ports: Three USB 2.0 ports:- (2 rear, 1 Internal) h. Redundancy: 600W Non-Hot Plug Power Supply

79

LAMPIRAN B PROSES INSTALASI CENTOS

Instalasi CentOS pada komputer server dilakukan menggunakan Centos versi 6.0 Live CD. Langkah-langkah instalasi CentOS adalah sebagai berikut : a. Mengatur first boot pada bios sehingga booting pertama kali adalah CD-ROM b. Klik Install to Hard Drive lalu pilih bahasa dan layout keyboard c. Mengatur hostname dari komputer menjadi sttgarut.local d. Mengisi zona waktu menjadi Asia/Jakarta (GMT +7) e. Menentukan password root f. Mengatur partisi untuk sistem operasi. Harddisk yang telah terpasang di komputer server memiliki kapasitas 250 GB. 50 GB untuk /, 170 GB untuk /var, 16 GB untuk /home, dan 2473 MB untuk swap area.

80

81

82

83

84

85

g. Mengatur boot loader GRUB untuk memilih sistem operasi ketika komputer dinyalakan. Karena hanya CentOS yang terinstal, maka pengaturan ini tidak perlu diubah. h. Tunggu hingga proses instalasi selesai, lalu hidupkan ulang komputer. i. Atur lagi first boot pada bios sehingga booting pertama kali adalah harddisk. j. Menyetujui End User License Aggreement (EULA) yang diberikan oleh CentOS. k. Membuat akun baru dengan mengisi : Username, nama pengguna untuk folder pada /home dan pengoperasian Command line Interface (CLI). Diisi dengan stream Full Name, nama pengguna lengkap yang akan muncul pada tampilan login CentOS dan panel. Diisi dengan Streaming Server. Password, kata sandi otentikasi pengguna yang wajib diisi.

86

Mengatur waktu.Karena waktu telah sesuai, maka langkah ini dilewati. Mengatur Kernel Dumper (kdump, fasilitas dari RedHat dan CentOS untuk penanggulangan jika terjadi masalah pada istem operasi seperti kondisi deadlock atau system hang). Fasilitas ini hanya akan tersedia pada komputer dengan memori lebih dari 1 GB.

Login sebagai pengguna seperti yang telah dibuat sebelumnya (kecuali sebagai root).

l. Setelah masuk pada sistem operasi, buka terminal dengan membuka Menu System Tools Terminal m. Login sebagai root pada terminal dengan mengetikan perintah : su root n. Memasukan kata sandi root seperti yang telah didefinisikan sebelumnya.

87

o. Menginstal repository EPEL dengan mengetikkan perintah berikut : rpm -ivh http://download.fedoraproject.org/pub/epel/6/i386/epel-release-6-

5.noarch.rpm Menginstal repository RPMFusion, dengan mengetikkan perintah berikut : rpm release-6-0.1.noarch.rpm rpm -ivh http://download1.rpmfusion.org/nonfree/el/updates/testing/6/i386/rpmfusionnonfree-release-6-0.1.noarch.rpm p. Menginstal repository RPMForge, dengan mengetikkan perintah berikut : rpm -ivh http://pkgs.repoforge.org/rpmforge-release/rpmforge-release-0.5.22.el6.rf.i686.rpm q. Mengaktifkan servis Apache. Apache telah terinstal dan masuk paket instalasi CentOS dengan nama HTTP Daemon (httpd). Pengaktifan servis httpd dilakukan dengan mengetikan perintah berikut : service httpd start r. Buka browser internet pada Menu Internet Firefox lalu ketikan alamat localhost pada address bar. Hal ini dimaksudkan untuk menguji apakah servis httpd berjalan dengan baik pada komputer. s. Melakukan pembaharuan sistem dengan masuk ke menu System Tools Software Updates. Klik Update untuk melakukan seluruh pembaharuan yang diperlukan CentOS. Atau dengan mengetikan perintah pada terminal sebagai berikut : yum -y update -ivh

http://download1.rpmfusion.org/free/el/updates/testing/6/i386/rpmfusion-free-

88

t. Memasukan httpd ke dalam daftar servis yang akan diaktifkan saat komputer dinyalakan, dengan mengetikkan perintah berikut (sebagai root) : chkconfig --level 235 httpd on

89

LAMPIRAN C INSTALASI MYSQL

Instalasi MySQL dilakukan secara online melalui repository yang telah dipasang sebelumnya. Instalasi dilakukan melalui terminal dengan mengetikan perintah berikut : yum -y install mysql mysql-server mysql adalah aplikasi dasar untuk MySQL seperti servis mysql, penanganan basis data, dan lain-lain. Sedangkan mysql-server merupakan aplikasi tambahan agar servis mysql bisa diakses secara client-server. Pada awal instalasi, akun pengguna root pada mysql tidak menggunakan kata sandi sebagai otentikasi. Maka dari itu, pendefinisian kata sandi dilakukan di luar instalasi dengan mengetikan perintah berikut (sebagai root) : mysqladmin -u root password 'XXX' ; XXX diisi oleh password baru

Mengaktifkan servis MySQL yaitu mySQL Daemon (mysqld) dengan cara mengetikan perintah pada terminal (sebagai root) : service mysqld start Ketikan lagi perintah mysql pada terminal. Hal ini dimaksudkan untuk menguji apakan servis mysql berjalan dengan baik. Lalu mengaktifkan servis mysql ketika komputer dihidupkan dengan mengetikan perintah berikut ini (sebagai root) : chkconfig --level 235 mysqld on

90

LAMPIRAN D INSTALASI PHP

Instalasi PHP dilakukan secara online melalui repository. Instalasi delakukan melalui terminal dengan menegtikkan perintah berikut (sebagai root) : yum -y install php php-xml php-gd php-mbstring Seperti telah dijelaskan pada subbab sebelumnya bahwa PHP dan beberapa fasilitas yang diinstal diperlukan oleh Drupal. Mengubah pengaturan besar data yang diunggah melalui PHP. PHP secara otomatis mengatur data maksimum yang dapat diunggah adalah 2 MB. Namun, aturan ini akan menyulitkan proses import database dari situs yang di backup sebelumnya. Pada kasus ini, besar data maksimum akan diubah menjadi 12 MB. Caranya dengan mengetikan perintah berikut (sebagai root) : gedit /etc/php.ini setelah muncul jendela editor teks, tekan Ctrl+F untuk melakukan pencarian query lalu ketikan upload_max_filesize lalu ubah nilai 2M menjadi 12M. Setelah itu, ketikan post_max_size lalu ubah nilai 8M menjadi 12M Menginstal phpmyadmin, fasilitas PHP untuk mengelola MySQL via web, dengan mengetikkan perintah (sebagai root) : yum -y install php-mysql phpmyadmin Mengatur blowfish secret, yaitu salah satu variabel yang diperlukan phpmyadmin dalam pengaturan keamanan terutama dalam mengelola cookie. Cookie adalah data tersimpan dalam browser yang berhubungan dengan data-data terenksipsi yang aman. Data yang disimpan dalam cookie adalah username dan password akun, berguna untuk pengaturan sesi pengguna dalam mengelola data-data terenkripsi. Blowfish secret tidak secara otomatis diisi, tetapi haus diisi oleh

91

pengguna dengan cara mengmasukan sembarang kata ke dalam berkas config.inc.php yang terdapat pada folder /usr/share/phpmyadmin. Mematikan lalu mengaktifkan kembali servis httpd agar php dapat digunakan pada server web, dengan mengetikkan perintah berikut pada terminal (sebagai root) : service httpd restart

92

LAMPIRAN E INSTALASI DRUPAL

Instalasi Drupal dilakukan secara offline dengan terlebih dahulu mengunduh berkas instalasi Drupal dari http://www.drupal.org/. Drupal yang digunakan adalah Drupal versi 7.8 dalam bentuk berkas yang dikompresi ke dalam bentuk tarball-gzip (tar.gz). Untuk menginstal Drupal, terlebih dahulu harus dibuat sebuah basis data pada MySQL untuk menyimpan data-data konten pada web oleh Drupal dengan mengetikan perintah berikut : mysql -u root create database drupal; exit Direktori standar yang digunakan oleh web server Apache sebagai tempat menyimpan data-data yang akan di-publish di web adalah /var/www/html sehingga berkas instalasi Drupal harus diekstrak disini. Setelah selesai mengunduh Drupal, berkas disimpan di folder /home/stream dan mengekstrak berkas tersebut lalu menyalin ke direktori /var/www/html dengan mengetikkan perintah berikut : tar -xzvf drupal-7.8.tar.gz su root ; lalu masukkan password root

chmod 777 /var/www/html exit cp -r drupal-7.8/* /var/www/html/ cd /var/www/html/sites/default

93

mkdir files cp default.settings.php settings.php su root ; lalu masukkan password root

chmod 777 files chmod 777 settings.php exit Memulai instalasi Drupal melalui browser menggunakan Firefox dengan mengetikkan localhost pada address bar. Proses instalasi Drupal adalah sebagai berikut : Mengatur profil, berhubungan dengan fasilitas bawaan yang akan diinstal. Pilih standard agar seluruh fasilitas bawaan diinstal.

Memilih bahasa yang akan digunakan. Karena belum diinstal modul bahasa lain, maka pilihannya hanya ada English saja.

94

Verifikasi kebutuhan. Halaman ini akan tampil jika masih ada kebutuhan yang belum ada pada sistem. Penuhi seluruh kebutuhan Drupal.

Mengatur basis data yang digunakan. Diisi dengan basis data yang telah dibuat sebelumnya yaitu drupal dengan username root dan password diisi pasword root. Pada bagian Advance tidak ada yang diubah karena secara otomatis hostname basis data akan diisi localhost.

95

Melakukan instalasi bedasarkan pengaturan yang telah dibuat sebelumnya.

Mengatur informasi situs. Informasi yang diisi adalah sebagai berikut : Sitename diisi STTG Streaming Site. Email address diisi stream@sttgarut.local.

96

username administrator diisi stream dan mendefinisikan password untuk pengguna stream.

Default Country diisi Indonesia. Default Time Zone diisi Asia/Jakarta.

97

Instalasi selesai dan situs sudah bisa dikonfigurasi. Setelah ini, Drupal meminta konten untuk dipromsikan pada halaman depan situs. Permintaan drupal ini akan hilang jika konten telah dibuat.

98

LAMPIRAN F APACHE BENCHMARK

Proses benchmark yang dilakukan pada tahap evaluasi menggunakan Apache Benchmark menggunakan perintah berikut : ab -n 70 -c X http://192.168.10.6/ dimana n merupakan jumlaj permintaan dan X adalah jumlah concurrency. Nilai pada X ini bervariasi antara 1 sampai 5 untuk memberikan perlakuan yang berbeda terhadap server. Berikut hasil benchmark menggunakan Apache Benchmark :
[ainx@ainx~]$abn70c1http://192.168.10.6/ ThisisApacheBench,Version2.3<$Revision:655654$> Copyright 1996 Adam Twiss, Zeus Technology Ltd, http://www.zeustech.net/ LicensedtoTheApacheSoftwareFoundation,http://www.apache.org/ Benchmarking192.168.10.6(bepatient).....done ServerSoftware:Apache/2.2.15 ServerHostname:192.168.10.6 ServerPort:80 DocumentPath:/ DocumentLength:9520bytes ConcurrencyLevel:1 Timetakenfortests:18.831seconds Completerequests:70 Failedrequests:0 Writeerrors:0 Totaltransferred:693840bytes HTMLtransferred:666400bytes Requestspersecond:3.72[#/sec](mean) Timeperrequest:269.015[ms](mean) Timeperrequest:269.015[ms](mean,acrossallconcurrent requests) Transferrate:35.98[Kbytes/sec]received ConnectionTimes(ms) minmean[+/sd]medianmax Connect:000.000 Processing:26126934.3262540 Waiting:24224934.2242520

99

Total:26126934.3262540 Percentageoftherequestsservedwithinacertaintime(ms) 50%262 66%262 75%262 80%263 90%285 95%287 98%323 99%540 100%540(longestrequest) [ainx@ainx~]$abn70c2http://192.168.10.6/ ThisisApacheBench,Version2.3<$Revision:655654$> Copyright 1996 Adam Twiss, Zeus Technology Ltd, http://www.zeustech.net/ LicensedtoTheApacheSoftwareFoundation,http://www.apache.org/ Benchmarking192.168.10.6(bepatient).....done ServerSoftware:Apache/2.2.15 ServerHostname:192.168.10.6 ServerPort:80 DocumentPath:/ DocumentLength:9520bytes ConcurrencyLevel:2 Timetakenfortests:9.623seconds Completerequests:70 Failedrequests:0 Writeerrors:0 Totaltransferred:693840bytes HTMLtransferred:666400bytes Requestspersecond:7.27[#/sec](mean) Timeperrequest:274.956[ms](mean) Timeperrequest:137.478[ms](mean,acrossallconcurrent requests) Transferrate:70.41[Kbytes/sec]received ConnectionTimes(ms) minmean[+/sd]medianmax Connect:000.000 Processing:2682755.6273294 Waiting:2452524.8250265 Total:2682755.6273294 Percentageoftherequestsservedwithinacertaintime(ms) 50%273 66%275 75%277 80%280 90%283 95%287 98%289

100

99%294 100%294(longestrequest) [ainx@ainx~]$abn70c3http://192.168.10.6/ ThisisApacheBench,Version2.3<$Revision:655654$> Copyright 1996 Adam Twiss, Zeus Technology Ltd, http://www.zeustech.net/ LicensedtoTheApacheSoftwareFoundation,http://www.apache.org/ Benchmarking192.168.10.6(bepatient).....done ServerSoftware:Apache/2.2.15 ServerHostname:192.168.10.6 ServerPort:80 DocumentPath:/ DocumentLength:9520bytes ConcurrencyLevel:3 Timetakenfortests:9.621seconds Completerequests:70 Failedrequests:0 Writeerrors:0 Totaltransferred:693840bytes HTMLtransferred:666400bytes Requestspersecond:7.28[#/sec](mean) Timeperrequest:412.313[ms](mean) Timeperrequest:137.438[ms](mean,acrossallconcurrent requests) Transferrate:70.43[Kbytes/sec]received ConnectionTimes(ms) minmean[+/sd]medianmax Connect:001.5013 Processing:27240872.2400554 Waiting:25037867.7379508 Total:27240872.0400554 Percentageoftherequestsservedwithinacertaintime(ms) 50%400 66%451 75%465 80%477 90%504 95%522 98%548 99%554 100%554(longestrequest) [ainx@ainx~]$abn70c4http://192.168.10.6/ ThisisApacheBench,Version2.3<$Revision:655654$> Copyright 1996 Adam Twiss, Zeus Technology Ltd, http://www.zeustech.net/ LicensedtoTheApacheSoftwareFoundation,http://www.apache.org/

101

Benchmarking192.168.10.6(bepatient).....done ServerSoftware:Apache/2.2.15 ServerHostname:192.168.10.6 ServerPort:80 DocumentPath:/ DocumentLength:9520bytes ConcurrencyLevel:4 Timetakenfortests:9.726seconds Completerequests:70 Failedrequests:0 Writeerrors:0 Totaltransferred:693840bytes HTMLtransferred:666400bytes Requestspersecond:7.20[#/sec](mean) Timeperrequest:555.797[ms](mean) Timeperrequest:138.949[ms](mean,acrossallconcurrent requests) Transferrate:69.66[Kbytes/sec]received ConnectionTimes(ms) minmean[+/sd]medianmax Connect:001.207 Processing:31855183.1559721 Waiting:29751078.7520670 Total:31855183.3559721 Percentageoftherequestsservedwithinacertaintime(ms) 50%559 66%588 75%597 80%621 90%651 95%673 98%713 99%721 100%721(longestrequest) [ainx@ainx~]$abn70c5http://192.168.10.6/ ThisisApacheBench,Version2.3<$Revision:655654$> Copyright 1996 Adam Twiss, Zeus Technology Ltd, http://www.zeustech.net/ LicensedtoTheApacheSoftwareFoundation,http://www.apache.org/ Benchmarking192.168.10.6(bepatient).....done ServerSoftware:Apache/2.2.15 ServerHostname:192.168.10.6 ServerPort:80 DocumentPath:/ DocumentLength:9520bytes

102

ConcurrencyLevel:5 Timetakenfortests:9.892seconds Completerequests:70 Failedrequests:0 Writeerrors:0 Totaltransferred:693840bytes HTMLtransferred:666400bytes Requestspersecond:7.08[#/sec](mean) Timeperrequest:706.568[ms](mean) Timeperrequest:141.314[ms](mean,acrossallconcurrent requests) Transferrate:68.50[Kbytes/sec]received ConnectionTimes(ms) minmean[+/sd]medianmax Connect:013.2023 Processing:420698109.6703895 Waiting:372642102.9644839 Total:420698109.8703895 Percentageoftherequestsservedwithinacertaintime(ms) 50%703 66%755 75%774 80%795 90%847 95%867 98%892 99%895 100%895(longestrequest)

103

LAMPIRAN G QUESTIONER

104

105

106

107

108

LAMPIRAN H MAIN MENU DAN MENU (2) Tampilan Main Menu merupakan menu drop-down dimana menu akan muncul setelah link menu diklik. Dalam Main Menu, seluruh isi menu (dari menu utama sampai bahasan) disajikan dalam drop-down sehingga seluruh link menuju bahasan akan tampil pada Main Menu.

Tampilan Main Menu Tampilan Menu (2) merupakan menu drop-down dimana menu akan muncul setelah link menu diklik. Dalam menu (2), hanya menu utama yang disajikan dalam link menu. Bahasan yang terdapat pada tiap menu utama akan disajikan dalam bentuk multitab.

Tampilan Menu (2)

109

110

LAMPIRAN A SPESIFIKASI KOMPONEN YANG TELAH DIMILIKI STT-GARUT

Layout jaringan komputer lokal STT-Garut Berikut merupakan fungsi dari masing-masing alat di atas : 1. Modem. Berfungsi untuk menyambungkan LAN ke internet. Alasan STTGarut menggunakan modem adalah kebutuhan akan data dan informasi yang relatif tinggi sehingga pemenuhan informasi tidak hanya didapat melalui buku tetapi juga dari informasi yang ada di internet. 2. Load Balancing. Berfungsi untuk menyatukan dua jaringan berbeda menjadi satu sehingga bisa diakses sekaligus oleh jaringan. Berbeda dengan router yang hanya menyambungkan jaringan tetapi hanya fungsi transparansi antar jaringan. Load balancing benar-benar menyatukan jaringan. Alasan STT-

Garut menggunakan load balancing adalah karena STT-Garut memiliki rencana membangun jaringan kota sehingga apabila telah terealisasi maka jaringan STT-Garut harus memiliki 2 gateway, yaitu gateway ke internet dan gateway ke server jaringan kota. 3. Core router. Berfungsi untuk menyambungkan antar jaringan yang berbeda. Di router inilah seluruh pengelolaan jaringan dilakukan seperti hotspot, pembagian bandwidth, pembagian jaringan, otentikasi pengguna, dan lainlain. Alasan STT-Garut menggunakan core router adalah untuk pengelolaan jaringan di STT-Garut termasuk hotspot dan bandwidth. 4. Distribution Switch. Berfungsi sebagai switch utama yang mendistribusikan koneksi ke switch, router, dan server lainnya. Merupakan swich inti pada jaringan di STT-Garut. Alasan STT-Garut menggunakan distribution switch adalah agar sebaran jaringan menjadi terpusat guna memudahkan dalam pengelolaan dan pemeliharaan jaringan. 5. MAN Router. Berfungsi sebagai pengatur jaringan kota. MAN router pada jaringan STT-Garut difungsikan seperti load balancing, dimana MAN router menyatukan antara WAN 1 dengan WAN 2. Alasan STT-Garut menggunakan MAN router adalah untuk berbagi koneksi dan seumberdaya antara STTGarut dengan Yayasan Al-Musaddadiyah. Juga sebagai keperluan penelitian dalam penerapan jaringan kota. 6. MAN Bridge. Berfungsi sebagai Access point (AP) yang dijadikan sebagai Bridge untuk menyambungkan antara jaringan local STT-Garut dengan jaringan Yayasan Al-Musaddadiyah yaitu InterYamusa Birdge + AP. Alasan STT-Garut menggunakan MAN bridge adalah karena jarak antara STT-Garut dan Yayasan Al-Musaddadiyah relatif jauh sehingga perlu sebuah jembatan jaringan. AP dipilih karena jika dengan kabel akan memakan biaya dan waktu yang tidak sedikit. 7. Office Switch. Berfungsi sebagai switch yang mendistribusikan koneksi ke staff dan dosen di STT-Garut. Koneksi dari switch ini bersifat privat karena

hanya staff dan dosen yang boleh mengakses jaringan ini. Alasan STT-Garut menggunakan office switch adalah untuk memisahkan jaringan office dengan student. Juga untuk menyatukan seluruh perangkat yang terhubung ke jaringan office guna memudahkan dalam pengelolaan dan pemeliharaan. 8. Student Switch. Berfungsi sebagai switch yang mendistribusikan koneksi ke seluruh civitas STT-Garut. Koneksi dari switch ini bersifat public sehinggan siapapun yang telah mendaftarkan perangkatnya bisa mengakses jaringan ini. Alasan STT-Garut menggunakan student switch adalah untuk memisahkan jaringan office dengan student. Juga untuk menyatukan seluruh perangkat yang terhubung ke jaringan student guna memudahkan dalam pengelolaan dan pemeliharaan. 9. Database (DB) Server. Berfungsi sebagai server untuk menyimpan semua data dan informasi STT-Garut. Alasan STT-Garut menggunakan DB server adalah untuk menyimpan seluruh data tentang civitas STT-Garut seperti data tentang mahasiswa, dosen, absensi, staff, keuangan, dan lain-lain. 10. Web + DNS Server. Berfungsi sebagai server yang melayani informasi seputar STT-Garut berbasis web dan merupakan server DNS yang mampu melakukan translasi alamat. Alasan STT-Garut menggunakan web dan dns server adalah sebagai server penyimpan data tentang STT-Garut yang akan ditampilkan dalam situs STT-Garut dan sebagai pengelola akses ke internet agar situs-situs yang tidak diizinkan diakses tidak dapat diakses melalui jaringan STT-Garut. 11. File Server. Berfungsi sebagai media penyimpanan data STT-Garut dan bisa diakses oleh civitas STT-Garut melalui layanan File Transfer Protocol (FTP). Alasan STT-Garut menggunakan file server adalah karena kebutuhan akan data seperti dokumen, ebook, perangkat lunak, dan lain-lain, dan untuk kebutuhan backup data jika ruang hardisk tidak mencukupi dan ada data penting yang harus tetap tersimpan.

STT-Garut telah memiliki perangkat pemrosesan agar konten streaming bisa diakses oleh pengguna yaitu komputer server dengan merk HP jenis Proliant tipe ML150-G2. Berikut spesifikasi komputer server tersebut. Processors: Intel Xeon 5110 1,6 GHz dual core processors with 2MB level 2 cache standard (dual processor capability). Processors include support for Hyper- Threading and Extended Memory 64 Technology (EM64T), Intel E7320 chipset, 800MHz Front Side Bus Memory: 512 MB of PC2700 DDR SDRAM standard (expandable to 8 GB) Storage Controller: Slot-based Single Channel Ultra320 SCSI Adapter or 4 port SATA Adapter (depending upon model) Internal Drive Support: Support for up to 6 Ultra320 SCSI hard drives. Support for up to 6 SATA hard drives with optional 6 Port SATA RAID Controller. Internal U320 SCSI storage capacity of up to 880GB (6 x 146GB U320 SCSI drives). Internal SATA storage capacity of up to 2TB (4 x 500GB SATA drives) or up to 3TB (6 X 500GB SATA drives) with optional 6 Port SATA RAID Controller Network Controller: Broadcom 5721 PCI-Express Gigabit NIC (embedded) 10/100/1000 WOL (Wake on LAN) Expansion Slots: Six expansion slots: four 64-bit/66-MHz PCI-X (3 available), one x4 PCI-Express, and one 32-bit/33MHz PCI USB Ports: Three USB 2.0 ports:- (2 rear, 1 Internal) Redundancy: 600W Non-Hot Plug Power Supply

LAMPIRAN B PROSES INSTALASI CENTOS Instalasi CentOS pada komputer server dilakukan menggunakan Centos versi 6.0 Live CD. Langkah-langkah instalasi CentOS adalah sebagai berikut : 1. Mengatur first boot pada bios sehingga booting pertama kali adalah CD-ROM 2. Klik Install to Hard Drive lalu pilih bahasa dan layout keyboard 3. Mengatur hostname dari komputer menjadi sttgarut.local 4. Mengisi zona waktu menjadi Asia/Jakarta (GMT +7) 5. Menentukan password root 6. Mengatur partisi untuk sistem operasi. Harddisk yang telah terpasang di komputer server memiliki kapasitas 250 GB. 50 GB untuk /, 170 GB untuk /var, 16 GB untuk /home, dan 2473 MB untuk swap area.

7. Mengatur boot loader GRUB untuk memilih sistem operasi ketika komputer dinyalakan. Karena hanya CentOS yang terinstal, maka pengaturan ini tidak perlu diubah. 8. Tunggu hingga proses instalasi selesai, lalu hidupkan ulang komputer. 9. Atur lagi first boot pada bios sehingga booting pertama kali adalah harddisk. 10. Menyetujui End User License Aggreement (EULA) yang diberikan oleh CentOS. 11. Membuat akun baru dengan mengisi : Username, nama pengguna untuk folder pada /home dan pengoperasian Command line Interface (CLI). Diisi dengan stream Full Name, nama pengguna lengkap yang akan muncul pada tampilan login CentOS dan panel. Diisi dengan Server Streaming. Password, kata sandi otentikasi pengguna yang wajib diisi.

Mengatur waktu.Karena waktu telah sesuai, maka langkah ini dilewati. Mengatur Kernel Dumper (kdump, fasilitas dari RedHat dan CentOS untuk penanggulangan jika terjadi masalah pada istem operasi seperti kondisi deadlock atau system hang). Fasilitas ini hanya akan tersedia pada komputer dengan memori lebih dari 1 GB.

Login sebagai pengguna seperti yang telah dibuat sebelumnya (kecuali sebagai root).

12. Setelah masuk pada sistem operasi, buka terminal dengan membuka Menu System Tools Terminal 13. Login sebagai root pada terminal dengan mengetikan perintah : su root 14. Memasukan kata sandi root seperti yang telah didefinisikan sebelumnya.

15. Menginstal repository EPEL dengan mengetikkan perintah berikut : rpm -ivh http://download.fedoraproject.org/pub/epel/6/i386/epel-release-6-

5.noarch.rpm Menginstal repository RPMFusion, dengan mengetikkan perintah berikut : rpm release-6-0.1.noarch.rpm rpm -ivh http://download1.rpmfusion.org/nonfree/el/updates/testing/6/i386/rpmfusionnonfree-release-6-0.1.noarch.rpm 16. Menginstal repository RPMForge, dengan mengetikkan perintah berikut : rpm -ivh http://pkgs.repoforge.org/rpmforge-release/rpmforge-release-0.5.22.el6.rf.i686.rpm 17. Mengaktifkan servis Apache. Apache telah terinstal dan masuk paket instalasi CentOS dengan nama HTTP Daemon (httpd). Pengaktifan servis httpd dilakukan dengan mengetikan perintah berikut : service httpd start 18. Buka browser internet pada Menu Internet Firefox lalu ketikan alamat localhost pada address bar. Hal ini dimaksudkan untuk menguji apakah servis httpd berjalan dengan baik pada komputer. 19. Melakukan pembaharuan sistem dengan masuk ke menu System Tools Software Updates. Klik Update untuk melakukan seluruh pembaharuan yang diperlukan CentOS. Atau dengan mengetikan perintah pada terminal sebagai berikut : yum -y update -ivh

http://download1.rpmfusion.org/free/el/updates/testing/6/i386/rpmfusion-free-

20. Memasukan httpd ke dalam daftar servis yang akan diaktifkan saat komputer dinyalakan, dengan mengetikkan perintah berikut (sebagai root) : chkconfig --level 235 httpd on

LAMPIRAN C INSTALASI MYSQL Instalasi MySQL dilakukan secara online melalui repository yang telah dipasang sebelumnya. Instalasi dilakukan melalui terminal dengan mengetikan perintah berikut : yum -y install mysql mysql-server mysql adalah aplikasi dasar untuk MySQL seperti servis mysql, penanganan basis data, dan lain-lain. Sedangkan mysql-server merupakan aplikasi tambahan agar servis mysql bisa diakses secara klien-server. Pada awal instalasi, akun pengguna root pada mysql tidak menggunakan kata sandi sebagai otentikasi. Maka dari itu, pendefinisian kata sandi dilakukan di luar instalasi dengan mengetikan perintah berikut (sebagai root) : mysqladmin -u root password 'XXX' ; XXX diisi oleh password baru

Mengaktifkan servis MySQL yaitu mySQL Daemon (mysqld) dengan cara mengetikan perintah pada terminal (sebagai root) : service mysqld start Ketikan lagi perintah mysql pada terminal. Hal ini dimaksudkan untuk menguji apakan servis mysql berjalan dengan baik. Lalu mengaktifkan servis mysql ketika komputer dihidupkan dengan mengetikan perintah berikut ini (sebagai root) : chkconfig --level 235 mysqld on

LAMPORAN D INSTALASI PHP Instalasi PHP dilakukan secara online melalui repository. Instalasi delakukan melalui terminal dengan menegtikkan perintah berikut (sebagai root) : yum -y install php php-xml php-gd php-mbstring Seperti telah dijelaskan pada subbab sebelumnya bahwa PHP dan beberapa fasilitas yang diinstal diperlukan oleh Drupal. Mengubah pengaturan besar data yang diunggah melalui PHP. PHP secara otomatis mengatur data maksimum yang dapat diunggah adalah 2 MB. Namun, aturan ini akan menyulitkan proses import database dari situs yang di backup sebelumnya. Pada kasus ini, besar data maksimum akan diubah menjadi 12 MB. Caranya dengan mengetikan perintah berikut (sebagai root) : gedit /etc/php.ini setelah muncul jendela editor teks, tekan Ctrl+F untuk melakukan pencarian query lalu ketikan upload_max_filesize lalu ubah nila 2M menjadi 12M. Menginstal phpmyadmin, fasilitas PHP untuk mengelola MySQL via web, dengan mengetikkan perintah (sebagai root) : yum -y install php-mysql phpmyadmin Mengatur blowfish secret, yaitu salah satu variabel yang diperlukan phpmyadmin dalam pengaturan keamanan terutama dalam mengelola cookie. Cookie adalah data tersimpan dalam browser yang berhubungan dengan data-data terenksipsi yang aman. Data yang disimpan dalam cookie adalah username dan password akun, berguna untuk pengaturan sesi pengguna dalam mengelola data-data terenkripsi. Blowfish secret tidak secara otomatis diisi, tetapi haus diisi oleh pengguna dengan cara mengmasukan sembarang kata ke dalam berkas config.inc.php yang terdapat pada folder /usr/share/phpmyadmin.

Mematikan lalu mengaktifkan kembali servis httpd agar php dapat digunakan pada server web, dengan mengetikkan perintah berikut pada terminal (sebagai root) : service httpd restart

LAMPIRAN E INSTALASI DRUPAL Instalasi Drupal dilakukan secara offline dengan terlebih dahulu mengunduh berkas instalasi Drupal dari http://www.drupal.org/. Drupal yang digunakan adalah Drupal versi 7.8 dalam bentuk berkas yang dikompresi ke dalam bentuk tarball-gzip (tar.gz). Untuk menginstal Drupal, terlebih dahulu harus dibuat sebuah basis data pada MySQL untuk menyimpan data-data konten pada web oleh Drupal dengan mengetikan perintah berikut : mysql -u root create database drupal; exit Direktori standar yang digunakan oleh web server Apache sebagai tempat menyimpan data-data yang akan di-publish di web adalah /var/www/html sehingga berkas instalasi Drupal harus diekstrak disini. Setelah selesai mengunduh Drupal, berkas disimpan di folder /home/stream dan mengekstrak berkas tersebut lalu menyalin ke direktori /var/www/html dengan mengetikkan perintah berikut : tar -xzvf drupal-7.8.tar.gz su root ; lalu masukkan password root

chmod 777 /var/www/html exit cp -r drupal-7.8/* /var/www/html/ cd /var/www/html/sites/default mkdir files

cp default.settings.php settings.php su root ; lalu masukkan password root

chmod 777 files chmod 777 settings.php exit Memulai instalasi Drupal melalui browser menggunakan Firefox dengan mengetikkan localhost pada address bar. Proses instalasi Drupal adalah sebagai berikut : Mengatur profil, berhubungan dengan fasilitas bawaan yang akan diinstal. Pilih standard agar seluruh fasilitas bawaan diinstal.

Memilih bahasa yang akan digunakan. Karena belum diinstal modul bahasa lain, maka pilihannya hanya ada English saja.

Verifikasi kebutuhan. Halaman ini akan tampil jika masih ada kebutuhan yang belum ada pada sistem. Penuhi seluruh kebutuhan Drupal.

Mengatur basis data yang digunakan. Diisi dengan basis data yang telah dibuat sebelumnya yaitu drupal dengan username root dan password diisi pasword root. Pada bagian Advance tidak ada yang diubah karena secara otomatis hostname basis data akan diisi localhost.

Melakukan instalasi bedasarkan pengaturan yang telah dibuat sebelumnya.

Mengatur informasi situs. Informasi yang diisi adalah sebagai berikut : Sitename diisi STTG Streaming Site. Email address diisi stream@sttgarut.local.

username administrator diisi stream dan mendefinisikan password untuk pengguna stream.

Default Country diisi Indonesia. Default Time Zone diisi Asia/Jakarta.

Instalasi selesai dan situs sudah bisa dikonfigurasi. Setelah ini, Drupal meminta konten untuk dipromsikan pada halaman depan situs. Permintaan drupal ini akan hilang jika konten telah dibuat.

QUESTIONER SITUS STREAMING STT-GARUT


Nama Jurusan : : NPM Angkatan : :

Bagaimana performa yang Anda rasakan saat mengakses situs streaming STT-Garut? ( ) Sangat baik Alasan : ( ) Baik ( ) Biasa ( ) Kurang baik ( ) Jelek

Setelah mengakses situs streaming STT-Garut, And akan melihat Main Menu dan Menu (2). Setelah mencoba menu-menu tersebut, menu manakah yang paling Anda suka ? ( ) Main Menu Alasan : ( ) Menu (2) ( ) Keduanya ( ) Tidak Ada

Konten apa saja yang Anda inginkan untuk ditampilkan pada situs streaming STT-Garut? (jawaban boleh lebih dari 1) ( ) Video Edukasi ( ) Dokumen Edukasi Alasan : ( ) Radio Online ( ) Gambar Edukasi ( ) Video Hiburan ( ) Konten Sharing

( ) ........................................................................................................................

Apakah situs streaming STT-Garut perlu untuk dijadikan situs berbagi video, dokumen, dan gambar antar mahasiswa dan dosen STT-Garut? ( ) Sangat Perlu Alasan : ( ) Perlu ( ) Biasa ( ) Kurang Perlu ( ) Tidak Perlu

Terima Kasih telah bertartisipasi dalam pengembangan situs streaming STT-Garut Tanda Tangan

________________

Anda mungkin juga menyukai