Anda di halaman 1dari 26

UNWANTED PREGNANCY

OLEH :

Adetyas Neny L
Dhea Ramadhani Wahyu Astuti I Wening Dwijayanti Wilda Okky S Yuliati Dwi P S
PRODI DIII KEBIDANAN SEMARANG POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SEMARANG 2009/2010

Unwanted Pregnancy
yaitu kehamilan yang tidak diinginkan oleh orang tua si janin baik ayah maupun ibu karena alasan psikologis maupun fisik.

Faktor Penyebab Unwanted Pregnancy


1. Ketidaktahuan atau minimnya pengetahuan tentang

perilaku seksual yang dapat menyebabkan


kehamilan. 2. Tidak mengutamakan alat kontrasepsi, terutama untuk perempuan yang telah menikah. 3. Kegagalan alat kontrasepsi 4. Kehamilan yang diakibatkan oleh pemerkosaan

5. Kondisi kesehatan tubuh yang tidak

mengizinkan kehamilan
6. Persoalan ekonomi

7. Alasan karir atau masih sekolah


8. Kehamilan karena incest

9. Kondisi janin yang dianggap cacat berat atau


berjenis kelamin yang tidak diinginkan

Dampak Unwanted Pregnancy


1. Bila Kehamilan di pertahankan RESIKO FISIK

BAGI IBU

a. Rahim (uterus) baru siap melakukan fungsinya setelah umur 20 th, karena baru pada usia ini fungsi hormonal melewati masa kerjanya yang maksimal. b. Sistem hormonal belum stabil maka terjadi ketidak teraturnya menstruasi hal yang sama terjadi bila remaja tersebut tersebut mengalami kehamilan ketidak teraturan tersebut membuat kehamilan menjadi tidak stabil, mudah terjadi perdarahan, terjadilah abortus atau kematian janin.

c.

Terlalu dininya usia kehamilan dan persalinan memperpanjang kehamilan rentang reproduksi aktif.
Lebih cenderung mengakibatkan anemia.

d.

e.

Kehamilan remaja (pada usia 16 tahun jarang menghasilkan bayi yang sehat). Remaja yang hamil lebih sering keracunan kehamilan seperti mual muntah yang hebat, TD tinggi, kejang-kejang bahkan kematian.

f.

BAGI BAYI

Bila kehamilan diteruskan dari sudut pandang kesehatan akan mengakibatkan masalah diantaranya : bayi lahir prematur, pertumbuhan janin kurang sempurna, Bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) dapat mengakibatkan retardasi mental, tuli kerusakan otak, kejang-kejang dan kebutaan

BAGI KELUARGA Tidak begitu nyata atau terlihat, keluarga yang tidak menginginkan bayi di dalam rahim anaknya beberapa orang akan mendukung anaknya untuk melakukan aborsi baik itu dengan memberi jamu, ke dukun aborsi, ataupun dengan yang lainnya, mencoba menutupi bahwa anaknya hamil, dengan cara memberi pakaian anaknya seperti orang tidak hamil, bisa juga orang tua memberi suatu makanan yang bias menyebabkan gugur seperti nanas muda.

RESIKO PSIKIS
BAGI IBU

Pada calon ibu akan merasa malu, bersalah, berdosa, depresi dan pesimis jika hal tersebut tidak segera ditangani dengan baik, maka bisa menjadi gangguan kejiwaan yang lebih parah.
Bagi yang menerima dengan berat hati harus diperhitungkan dampak psikologis yang timbul, agar dapat dicarikan penyelesaian dan upaya mengantisipasi selama berlangsungnya kehamilan dan proses persalinan.

BAGI BAYI

Pasca persalinan juga bisa terpengaruh.

Keengganan merawat dan memberikan air


susu kepada bayinya sering ditemui. Produksi air susu juga bisa menurun. Kesemuanya akan berdampak pada kualitas kesehatan bayi, mentalnya, yaitu pada

pertumbuhannya nanti bias terhambat, baik


itu komunikasi, menjadi penakut maupun yang lainnya.

BAGI KELUARGA
Merasa malu, depresi karena kehamilan yang

terjadi ini sangat tidak dikehendaki misalnya


saja kehamilan diluar nikah dan akibat perkosaan, ada rasa kecewa pada anaknya karena ibu dan keluarga masih mengharapkan mampu meraih cita-cita atau melakukan hal lain sebelum hamil. Norma-norma ketimuran hamil diluar nikah juga merupakan aib yang sangat buruk bagi keluarga.

2. Kehamilan akibat seks bebas pada remaja


Perasaan melarikan diri dari tanggung jawab dan ingin melakukan aborsi dan bunuh diri untuk menutupi rasa malu akan kehamilannya. Adanya tekanan batin dan rasa berdosa kepada Tuhan dan keluarga menjadikan dia depresi yang mempengaruhi tumbuh kembang janin. Mencoba menghilangkan perasaan ingin muntah karena malu dan ingin menjadi dirinya lebih tegar. Karena stress, emosi meningkat.

3. Kehamilan akibat kegagalan KB

perubahan fisik dan psikologisnya meliputi :

Merasa dengan kehamilannya akan mengganggu kariernya.


Takut dengan kehamilannya suaminya akan berpaling, dikarenakan suaminya tidak bergairah dan tidak tertarik kepada istrinya yang mengalami perubahan fisik sewaktu kehamialn dan frekuensi hubungan seksual menjadi semakin jarang.

4. Kehamilan karena perkosaan

Perubahan fisik dan psikologisnya meliputi : Menjadi depresi karena merasa berdosa.
Ingin aborsi Percobaan bunuh diri.

RESIKO SOSIAL

Bagi remaja yang masih sekolah mereka terancam untuk dikeluarkan dari sekolah atau berhenti atas kemauannya sendiri karena malu. Selain itu akan mempermalukan keluarga karena menjadi bahan pembicaraan masyarakat. mereka akan merasa keamanannya terancam, resiko kehamilan yang tidak sempurna dan resiko akan diasingkan oleh lingkungan sekitar.

Bagi pasangan suami istri yang usianya sudah tua antara 35 tahun lebih, mereka akan merasa malu karena pandangan masyarakat aneh, hal ini dikarenakan terjadi pada wanita kita adalah mereka telah menyerap dan menerima ide reproduksi sehat yaitu usia ideal melahirkan bagi wanita adalah 20-35 th.

RESIKO EKONOMI
Bagi remaja merawat kehamilan, melahirkan dan membesarkan anak membutuhkan biaya besar, padahal kebanyakan dari mereka belum bekerja dan masih duduk di bangku sekolah. bagi ayah kehamilan terjadi pada pasanganya adalah berarti beban tanggung jawab pada dirinya.

2. Bila Kehamilan diakhiri Aborsi yang ditangani oleh orang yang kurang terlatih akan berakibat buruk : - perdarahan - kerusakan alat reproduksi dan infeksi - kematian

Bahaya dan kerugian dari pada unwanted pregnancy adalah


Remaja / calon ibu tidak mengurus kehamilannya dengan baik, sehingga sulit dijamin adanya kualitas kesehatan bayi yang baik.

Perasaan kasih sayang yang tulus dan kuat dari ibu kepada bayi sulit diharapkan dan diperoleh sehingga memungkinkan masa depan anak akan terlantar.
Mengakhiri kehamilannya dengan melakukan "Aborsi"

Sikap Penerimaan terhadap UWP


1. Segera menerima dan meneruskan kehamilan sampai melahirkan dengan wajar. 2. Sebagian remaja ingin mengakhiri kehamilan yang tidak diinginkan dengan cara-cara yang tidak aman a. Meminum ramuan atau jamu, baik yang dibuat sendiri maupun yang dibeli. b. Memijat peranakannya atau mencoba mengeluarkan janin dengan bantuan dukun pijat. c. Meminum obat-obatan baik yang diberikan oleh dokter maupun bidan.

Mulanya menolak, tetapi kemudian menerimanya dengan beban psikologis yang mengganggu kehamilan dan proses persalinan. Tetap menolak dan berupaya untuk tidak meneruskan kehamilan (aborsi).

Pencegahan Unwanted Pregnancy


Cara yang paling efektif adalah tidak melakukan hubungan seksual sebelum nikah. Memanfaatkan waktu luang dengan melakukan kegiatan positif seperti OR, seni dan keagamaan. Hindari perbuatan-perbuatan yang akan menumbulkan dorongan seksual, seperti meraba-raba tubuh pasangannya dan menonton video porno. Memperoleh informasi tentang manfaat dan penggunaan alat-alat kontrasepsi. Mendapatkan keterangan tentang kegagalan alat kontrasepsi dan cara penggunaanya. Untuk pasangan remaja yang sudah menikah sebaiknya memakai cara KB yang kegagalannya rendah seperti sterilisasi, susuk KB, IUD, Suntikan.

Peran Bidan dan Pendekatan dalam menangani Unwanted Pregnancy


1. 2. 3. Menangani sesegera mungkin jika terjadi komplikasi yang dapat mengancam jiwa ibu dan janin memberi penertian pada ibu hamil untuk menghindari ketegangan emosional. memberi pengertian untuk menghindari sikap penolakan terhadap janin, bahwa sikap menolak terhadap kehamilan akan berpeluang terhadap kecacatan sikap dan perilaku anaknya kelak dalam hidupnya sebab, dengan adanya sikap penolakan maka akan berpengaruh terhadap cara pengasuhan yang semena-mena. Memberikan pendidikan sex education sedini mungkin pada WUS. Memberikan penyuluhan pada orangtua untuk lebih memperhatikan pergaulan putra putri mereka.

4. 5.

Cara yang dilakukan remaja untuk menghindari hubungan seks sebelum menikah?
Remaja harus dapat menahan diri pada saat berpacaran.
Remaja perlu memahami bahwa seks bukannya satusatunya cara untuk mengungkapkan kasih sayang kepada pasangan. Hindari sikap-sikap yang dapat menimbulkan rangsangan, seperti menyentuh bagian tubuh yang mudah terangsang sehingga menimbulkan gairah dan hawa nafsu berhubungan seks.

Risiko hubungan seks pranikah a. Terjadinya kehamilan yang tidak diinginkan (KTD), hal ini membuat remaja terpaksa menikah, padahal mereka belum siap mental, sosial dan ekonominya.

b. Putus sekolah (Drop Out), jika remaja tersebut masih sekolah. c. Pengguguran kandungan (Aborsi), jika hal ini dilakukan oleh orang yang kurang terlatih dapat terjadi pendarahan, bahkan bisa menyebabkan kematian. d. Terkena penyakit menular seksual (PMS / HIV / AIDS), khususnya remaja yang sering berganti-ganti pasangan apalagi yang berhubungan seks dengan pejajah seks.

THANKS FOR YOUR ATTENTION