Anda di halaman 1dari 91

PRAKTIKUM I Topik Tujuan : Bakteri : Untuk mengetahui berbagai macam dan bentuk bakteri

Hari/Tanggal : Senin / 13 Oktober 2010 Tempat : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin

I.

ALAT DAN BAHAN A. Alat yang dipergunakan dalam praktikum ini adalah: 1. Mikroskop 2. Jarum ose 3. Pipet tetes 4. Gelas kimia 5. Kaca benda 6. Kaca penutup 7. Kain planel / tissue 8. Baki

B. Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah: 1. Aquadest 2. Kentang rebus yang dibasikan 3. Nasi yang dibasikan 4. Kue lapis yang dibasikan 5. Agar-agar yang dibasikan 6. Tape singkong

Laporan Akhir BTR

II. CARA KERJA 1. Menyiapkan alat dan bahan. 2. Meambil lendir pada bahan yang dibasikan dengan menggunakan jarum oase yang telah disterilkan. 3. Meletakkan preparat pada kaca benda, lalu tetesikan dengan sedikit air dan kemudian tutup dengan kaca penutup. 4. Mengamati dengan mikroskop. 5. Menggambar bentuk-bentuk bakteri yang terlihat pada mikroskop.

III. TEORI DASAR Bakteri dipelajari dalam ilmu Barteriologi, karena belum memiliki membran inti yang disebut prokarion. Berdasarkan ukurannya, bakteri tergolong jasad renik/mikroba, umumnya uniselular (tunggal), dan tidak berklorofil, serta berkembang biak dengan cara membelah diri, yaitu pembelahan biner dan berkoloni dalam biakan hidup. Bakteri hidup bebas (kosmopolit) baik ditanah, didalam air, bahan makanan manusia, hewan dan tumbuhan. Bentuk bakteri ada bermacam-macam, seperti bentuk peluru, bola, batang, bengkok seperti koma / secrop dan spiral. Bentuk tubuhnya merupakan salah satu dasar dalam klasifikasi bakteri. Tubuh yang berupa sel tunggal itu mempunyai dinding sel yang jelas. Dinding sel tidak mengandung selulosa tetapi tersusun atas hemiselulosa dan senyawa-senyawa pectin yang mengandung dan lebih mendekati dinding sel hewan dari pada sel tumbuhan pada umumnya. Adanya selulosa dalam dinding sel hanya perkecualian, dinding itu dilapisi oleh selaput gelatin yang menyebabkan dinding sel itu dalam larutan air menjadi belendir. Pada umumnya bakteri bergerak pasif, tapi dalam keadaan tertentu dapat membentuk flagel, sehingga dapat bergerak aktif dalam media air. Sedangkan untuk jumlah dan letak alat geraknya sangat berbeda, seperti :

Laporan Akhir BTR

1. 2. 3. 4. 5.

Monotrik , terdapat satu flagel pada satu kutubnya. Diatrik /sub polar, terdapat dua flagel dalam masing-masing kutub. Ampitrik, terdapat dua flagel masing-masing. Peritrik, terdapat banyak flagel di seluruh permukaan tubuh. Atrik, tidak memiliki flagel. Bakteri umumnya hidup di tempat-tempat yang lembab dan ada juga di

tempat kering dan suhu tinggi. 1. Thermophyl, hidup pada suhu minimum 30C, suhu optimum 50-55C dan suhu maksimum 90-100C. 2. Mesophyl, suhu minimum 20C, suhu optimum 25-40C, dan suhu maksimum 50C. 3. Psycophyl, suhu minimum 0C, suhu optimum 15-20C, dan suhu maksimum 30C. 4. Criophyl, suhu sangat minimum.

Berdasarkan cara hidupnya, bakteri dibagi menjadi 2 yaitu : 1. Penyediaan makanan Autotrof = Kemoautotrof dan fotoautotrof Heterotrof = Saprofit dan parasit (fakultatif, obligot, dan pathogen) 2. Kebutuhan oksigen Aerob = Menggunakan oksigen (aerob obligot dan aerob fakultatif) Anaerob = Tidak menggunakan oksigen

Secara umum bakteri dikelompokkan menjadi 3 bentuk, yaitu : 1. Kokus (Coccus); berbentuk bulat seperti bola atau juga hampir menyerupai ellips. a. b. c. d. Monococcus, bila bakteri sendiri-sendiri atau tidak berkoloni. Diplococcus, bakteri berbentuk koloni yang terdiri dari 2 coccus. Staphylococcus, bakteri berkoloni dan berbentuk seperti rantai. Sarcina, koloni berbentuk seperti kubus.

Laporan Akhir BTR

2.

Basil (bacillus); berbentuk batang atau tongkat. a. Monobacillus, apabila bakterinya sendiri-sendiri. b. Diplobacillus, apabila 2 buah basil bergandengan. c. Streptobacillus, koloni seperti rantai.

3.

Spiral (spirillum); berbentuk bengkok atau menyerupai spiral. a. Vibrio, berbentuk menyerupai tanda koma. b. Spirochaeta, bentuknya menyerupai per atau gas.

IV. HASIL PENGAMATAN 1. Pada agar-agar yang dibasikan : ( Perbesaran 400x ) Keterangan : 1. Monococcus 2. Diplococcus

2. Pada kue lapis yang dibasikan : ( Perbesaran 400x ) Keterangan : 1. Sarcina 2. Monococcus 3. Diplococus

Laporan Akhir BTR

3. Pada nasi yang dibasikan : ( Perbesaran 400x ) Keterangan : 1. Monococcus 2. Monobasil 3. Diplococcus 4. Sarcina

4. Pada kentang rebus yang dibasikan : ( Perbesaran 400x ) Keterangan : 1. Diplococcus 2. Monococcus

5. Pada tape singkong : ( Perbesaran 400x ) Keterangan : 1. Monococcus 2. Monobasil

Laporan Akhir BTR

Menurut literatur :

Sumber : www.geogle.co.id/images?hl=id&biw=1024&bih=6 05&gbv=2&tbs=isch%3AI&sa=1&q=bakteri diakses tanggal 16 Oktober 2010

Bentuk-bentuk Bakteri Basil

Sumber:

www.geogle.co.id/images?hl=id&biw=1024&bih=605&gbv=2&tb s=isch%3AI&sa=1&q=bakteri diakses tanggal 16 Oktober 2010

Laporan Akhir BTR

V. ANALISIS DATA Dari hasil pengamatan dengan perbesaran 400x menggunakan

mikroskop, diketahui dan ditemukan berbagai macam bentuk bakteri yang bermacam-macam pada bahan makanan yang telah dibasikan : 1. Agar-agar basi Dari hasil pengamatan menggunakan medium agar-agar yang telah dibasikan, dimana terdapat lendir yang agak kental berwarna bening dan mengeluarkan bau yang tidak sedap (asam menyengat). Pada lendir tersebut yang dilihat dengan menggunakan mikroskop, dengan perbesaran 400x terdapat bakteri dengan berbagai macam bentuk, yaitu : monococcus (bakteri berbentuk bulat sendiri-sendiri), diplococcus (bakteri berbentuk bulat bergandengan) dan basil yang berbentuk seperti batang.

2. Kue lapis basi Dari hasil pengamatan menggunakan medium kue lapis yang telah dibiarkan selama beberapa hari dalam keadaan terbuka juga terdapat lendir berwarna bening yang sangat kental dan mengeluarkan bau yang tidak sedap (asam menyengat). Dengan mengamati lendir yang terdapat pada bahan tersebut menggunakan mikroskop, dengan perbesaran 400x dapat dilihat bakteri dengan berbagai macam bentuk, yaitu : monococcus (bakteri berbentuk bulat sendirisendiri), diplococcus (bakteri berbentuk bulat bergandengan) dan basil yang berbentuk batang. Pada pengamatan ini yang paling banyak terdapat adalah bakteri yang berbentuk basil. Ukuran bakteri ini juga ada yang berukuran pendek ada juga yang berukuran sangat panjang.

3. Nasi basi Dari hasil pengamatan menggunakan medium nasi yang telah dibiarkan selama beberapa hari dalam keadaan terbuka. Nasi menjadi lembek karena kadar airnya meningkat, sehingga terdapat lendir yang sangat kental berwarna putih seperti susu dan mengeluarkan bau yang tidak sedap (asam

Laporan Akhir BTR

menyengat). Warna nasi berubah dari putih bersih menjadi putih kekuningkuningan. Dengan mengamati lendir pada bahan tersebut melalui mikroskop, perbesaran 400x, dapat dilihat berbagai bentuk bakteri, yaitu : monococcus (bakteri berbentuk bulat sendiri-sendiri), diplococus (bakteri berbentuk bulat dan bergandengan), basil yang berbentuk batang dan sarcina (bakteri yang berbentuk rantai seperti buah anggur). Pada pengamatan ini bakteri yang paling banyak ditemukan adalah monococus.

4. Kentang rebus basi Dari hasil pengamatan menggunakan medium kentang rebus basi terdapat lendir yang berwarna kuning, kentang rebus menjadi lembek karena kadar air meningkat dan mengeluarkan bau yang tidak sedap (asam menyengat). Dengan mengamati lendir pada bahan tersebut menggunakan mikroskop dengan perbesaran 400x, terlihat berbagai macam bentuk bakteri, yaitu : monococcus (bakteri berbentuk bulat sendiri-sendiri) dan diplococus dan basil. Pada pengamatan ini yang paling banyak di temukan adalah bakteri yang berbentuk basil.

5. Tape singkong basi Dari hasil pengamatan pada medium susu yang dibiarkan beberapa hari dalam keadaan terbuka, susu terpisah menjadi 2 bagian. Bagian bawah berupa air yang berwarna bening kekuning-kuningan dan bagian atas berupa gumpalan busa yang lembek, berwarna putih susu dan mengeluarkan bau asam menyengat. Dengan mengamati busa pada bahan tersebut melalui mikroskop, perbesaran 400x28, dilihat berbagai macam bentuk bakteri, yaitu : monococcus (bakteri berbentuk bulat sendiri-sendiri, basil (bakteri yang berbentuk batang). Proses ini disebabkan oleh bakteri-bakteri yang dibawa oleh angin menghinggapi medium yang diletakkan dalam keadaan terbuka. Setelah itu bakteri-bakteri tersebut berproses dengan mengeluarkan lendir, sehingga dalam kurun waktu yang lama, medium menjadi basi.

Laporan Akhir BTR

Pada makanan yang basi banyak ditemukan bakteri yang bersifat saprofit, dimana sisa-sisa tumbuhan atau hewan sebagai substrat dan sumber kebutuhan hidupnya Struktur tubuh dari bakteri itu sendiri adalah sebagai berikut : 1. Kapsul, yang berfungsi untuk pertahanan diri atau sebagai pelindung terhadap lingkungan yang kurang menguntungkan dan sebagai alat untuk melekat pada permukaan bahan makanan, sel atau organisme inang. Kapsula adalah merupakan bagian tubuh terluar dari bakteri yang berupa selaput lendir. 2. Flagelum, yang berfungsi sebagai alat gerak. 3. Dinding sel, yang berfungsi sebagai pelindung isi sel; tersusun dari peptidoglikan. 4. Membran sel, yang berfungsi untuk mengatur keluar masuknya zat. 5. Mesosome, yang berfungsi untuk menyediakan energi bagi bakteri. 6. Lamela fotosintetik, yang berfungsi untuk fotosintesis. 7. Sitoplasma, yang berfungsi sebagai tempat berlangsungnya reaksi metabolik. Sitoplasma adalah merupakan isi dari bakteri yang mengandung materi genetic dan ribosom. 8. DNA, yang berfungsi untuk mengontrol sintesis protein dan pembawa sifat. 9. Plasmid, yang berfungsi sebagai pembawa gen tertentu yang dapat ditransformasikan ke sel lain (ditularkan). 10. Ribosom, yang berfungsi sebagai tempat sintesa protein. 11. Endospora, yang berfungsi sebagai pertahanan diri dari kondisi yang tidak menguntungkan. Bentuk suatu sel bakteri ada kalanya mengalami penyimpangan yang disebabkan oleh faktor lingkungan, misalnya jenis bakteri tertentu akan berbentuk batang dan bulat pada suhu kamar (25 270C), tetapi apabila dieramkan pada suhu 370C, selsel tersebut akan menjadi lebih besar sepert mata pena atau gada dan pupil mata. Selain itu, perlu diketahui juga bahwa ada bakteri tertentu yang memiliki bentuk tidak teratur (pleomorfik), contohnya Corynebacterium diphteriae.

Laporan Akhir BTR

VI. KESIMPULAN Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat dibuat beberapa kesimpulan, yaitu : 1. Bakteri termasuk dalam Kingdom Monera yang merupakan organisme bersel tunggal (uniseluler), prokariotik, tidak berklorofil, mikroskopis dan

berkembang biak dengan cara membelah diri. (hidup secara heterotrof). 2. Bentuk bakteri terbagi menjadi 3 macam yaitu kokus (coccus), basil (bacillus) dan spiral (spirilllum). 3. Ciri bakteri : ukuran 0,5 1 mikron x 10 mikron; dapat hidup di berbagai lingkungan; dinding sel tersusun atas peptidoglikan; ada yang berflagel; dapat membentuk spora. 4. Balteri berbentuk bulat seperti bola (coccus), yaitu : a. Monococcus : berbentuk bulat tunggal. b. Diplococcus c. Tetracoccus : berbentuk bulat bergandengan dua-dua. : berbentuk bulat berkelompok empat-empat.

d. Streptococcus : berbentuk bulat bergandengan membentuk rantai. e. Stafilococcus : berbentuk bulat, menggerombol seperti buah anggur. f. Sarcina : berbentuk bulat, berkelompok seperti kubus.

5. Bakteri berbentuk seperti basil (bacillus), yaitu : a. Monobacillus : berbentuk satu batang tunggal. b. Diplobacillus : berbentuk batang bergandengan dua-dua. c. Streptobasil : berbentuk batang, bergandengan membentuk rantai.

6. Bakteri yang ditemukan pada pengamatan ini adalah bakteri yang berbentuk coccus / bulat.

Laporan Akhir BTR

10

VII. DAFTAR PUSTAKA Amintarti,Sri dkk. 2010. Penuntun Praktikum Botani Tumbuhan Rendah. FKIP PMIPA Unlam. Banjarmasin.

Pujiyanto, Sri. 2004. KHAZANAH PENGETAHUAN BIOLOGI. PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri. Solo.

Tjitrosomo, Siti Sutarmi. 1983. Botani Tumbuhan 4. Angkasa. Bandung.

Laporan Akhir BTR

11

PRAKTIKUM II Topik Tujuan : Algae Mikro : Untuk mengetahui berbagai macam Alga

Hari / Tanggal : Rabu / 20 Oktober 2010 Tempat : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin

I. ALAT DAN BAHAN A. Alat yang digunakan : 1. Mikroskop 2. Kaca benda 3. Kaca penutup 4. Gelas kimia 5. Kain planel / tissue 6. Pipet tites B. Bahan yang digunakan : 1. Air comberan 2. Air sawah 3. Air sumur 4. Air selokan 5. Spirogyra sp

II. CARA KERJA 1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan. 2. Untuk spirogyra, ambil sehelai dan letakkan pada kaca benda dan beri sedikit air, lalu tutup dengan kaca penutup. 3. Mengambil air yang tersedia dengan menggunakan pipet tites dan letakkan pada kaca benda. 4. Kemudian tutup kaca benda dengan kaca penutup secara perlahan-lahan. 5. Meletakkan preparat dibawah mikroskop dan mengamatinya.

Laporan Akhir BTR

12

III. TEORI DASAR Alga termasuk ke dalam divisio Thallophyta, karena tubuhnya belum dapat dibedakan antara bagian akar, batang maupun daun. Alga ada yang tersususn dari satu sel dan ada juga yang tersusun dari banyak sel. Setiap selnya sudah memiliki plastida dan inti sel. Dalam plastida terdapat zat-zat warna derivat klorofil. Dengan adanya derivat klorofil maka tumbuhan alga berasimilasi sehingga bersifat autotrof. Alga selalu menempati habitat yang lembab atau basah. Jenis alga yang hidup di air terurama tubuhnya terdiri atas satu sel dan dapat bergerak aktif, yang merupakan penyusun plankton/fitoplankton. Sedangkan yang melekat pada suatu benda yang ada didalam air misal kayu, batu maka disebut bentos. Jenis alga yang bergerak aktif dilengkapi dengan alat untuk bergerak yaitu berupa bulu cambuk atau flagel. Klasifikasinya antara lain didasarkan pada morfologi sel-sel reproduksi pigmen dalam plastida dari sel yang vegetatif dan macam cadangan makanan. Disamping klorofil alga juga dapat mengandung pigmen lain yang berbeda-beda tergantung dari divisionya dan pigmen-pigmen ini terkandung dalam plastida. Diantara tumbuhan alga ada yang dalam daur hidupnya memperlihatkan pergiliran keturunan (metagenesis). Bila keturunan yang haploid (gametofit) dibandigkan dengan keturunan yang diploid (saprofit) dapat ditemukan hal-hal berikut gametofit sama bentuk dan ukurannya dengan saprofit misalnya pada ganggang hijau Cladophora glomerata. Gametofit lebih kecil dari pada saprofitnya terdapat alga pirang (Laminaria clostuani) dan gametofit lebih besar dari saprofitnya pada alga Cutleria multifida. Gametofit dan saprofit ada yang hidup bebas. Satu sama lain seperti terdapat pada Cladophora, dan ada juga yang menumpang pada saprofit atau sebaliknya. Alga merupakan sumber nabati berbagai sumber kebutuhan hidup manusia. Ada yang dapat langsung dimakan misalnya beberapa jenis alga hijau, ada yang menghasilkan bahan obat (alga pirang dan alga merah), ada pula yang

Laporan Akhir BTR

13

menghasilkan agar-agar (berbagai jenis alga merah), dan ada pula yang menghasilkan misal soda, yodium, dan lain-lain. IV. HASIL PENGAMATAN 1. Pada air comberan dengan perbesaran mikroskop 10 x10 : Paramecium sp Keterangan : 1. Dinding sel 2. Rambut getar

Spirogyra sp Keterangan : 1. Dinding sel 2. Kloroplas

2. Pada air sawah dengan perbesaran mikroskop 10 x 10 : Euglena viridis

Keterangan : 1. Flagel 2. Kloroplas

Laporan Akhir BTR

14

3. Pada air sumur dengan perbesaran mikroskop 10 x 10 : Paramaecium caudatum Keterangan : 1. Dinding sel 2. Rambut getar

4. Pada air selokan dengan perbesaran mikroskop 10 x 10 : Paramecium caudatum Keterangan : 1. Dinding sel 2. Kloroplas

Ulothrix sp Keterangan : 1. Dinding sel 2. Kloroplas

Spirogyra sp Keterangan : 1. Dinding sel 2. Kloroplas

Laporan Akhir BTR

15

Menurut Literatur : Spirogyhra sp Ulothrix sp

Sumber : Sumber : http://www.spirogirasp.org.uk/mag/imgs ep01/wlfig13.jpg. Diakses: 24 Oktober.2010 http://www.ulutrixzonata.org.uk/mag/im gsep01/wlfig13.jpg. Diakses: 24 Oktober.2010

Paramecium caudatum Euglena viridis

Sumber : Sumber : http://taggart.glg.msu.edu/bot335/euglen a.gif Diakses: 24 Oktober.2010 http://www.biologycorner.com/resources /paramecium.gif Diakses: 24 Oktober.2010

Laporan Akhir BTR

16

V. ANALISIS DATA 1. Paramaecium caudatum Paramaecium termasuk ke dalam hewan bersel satu yang tubuhnya besar. Dapat terlihat dengan mata biasa sebagai titik yang bergerak-gerak. Jika dilihat di bawah mikroskop, bentuknya kelihatan seperti sandal. Seluruh permukaan tubuhnya penuh dengan rambut getar (cilia), yang merupakan ciri utama kelas Ciliata dan ordo Holotrichida. Gerakan rambut getar ini menyebabkan hewan sandal ini dapat berenang cepat di dalam air. Jika hewan tersebut bergerak, bagian ujung tubuhnya yang tumpul selalu terdapat di depan, sedangkan ujung tubuh yang lancip selalu berada di bagian belakang. Dekat bagian tubuh yang lancip terdapat lekukan ke dalam yang merupakan lubang mulut sel yang di sebelah dalamnya berhubungan dengan suatu corong, berakhir dengan rongga makanan Paramaecium berkembang biak dengan jalan pembelahan diri dan konjugasi. Pada pengamatan kami, paramaecium ini terdapat dalam semua air (medium biakan). Klasifikasi : Kingdom Phylum Sub phylum Classis Ordo Familia Genus Species Sumber 2. Euglena viridis Euglena viridis mempunyai alat gerak berupa flagel sehingga oleh ahli zoology dimasukkan dalam Phylum Protozoa, tetapi karena mempunyai klorofil maka dimasukkan dalam kelas Chlorophyceae. Cara : Animalia : Protozoa : Invertebrata : Cilliata : Holotrichida : Parameciidae : Paramaecium : Paramaecium caudatum : (Hegner, 1968)

Laporan Akhir BTR

17

perkembangbiakannya dengan membelah diri. Banyak ditemukan di air sawah yang tenang. Pernapasan pada Euglena viridis dilakukan melalui permukaan membran, pergerakannya berlangsung karena flagellum. Permukaan tubuhnya dilapisi oleh lapisan kutikula sehingga hewan ini mempunyai bentuk tetap. Klasifikasi : Kingdom Divisio Class Ordo Famili Genus Species : Plantae : Chlorophyta : Chlorophyceae : Euglenales : Euglenaceae : Euglena : Euglena viridis

Sumber : ( Hegner ; 1968 )

3. Ulothrix zonata Pada pengamatan air kolam dan air comberan ditemukan jenis alga hijau Ulothrix sp. Alga ini sel-selnya pendek dan kloroplasnya berbentuk pita dan membentuk koloni yang berupa benang dan tumbuh interkalar.. Pangkal tubuhnya yang terdiri atas suatu sel rizoid yang sempit, panjang dan biasanya tidak berwarna melekat pada substratnya. Zoospora yang masing-masing mempunyai 4 bulu cambuk, satu kloroplas dan satu bintik mata keluar dari salah satu sel dalam benang itu melalui suatu lubang pada dinding samping. Yang mula-mula berkeliaran di sekitar induknya lalu menempel pada suatu alas dan tumbuh membentuk koloni baru. Dalam satu sel benang tadi juga terbentuk Isogamet yang berfungsi sebagai gametangium, tetapi dari satu terbentuk lebih banyak. Bentuk isogamet yang mirip zoospora tapi lebih kecil dan punya dua bulu cambuk. Gamet ini akan kawin dengan gamet lain yang berbeda muatannya. Zigot yang dihasilkan dinamakan planozigot. Planozigot yang mula-mula masih berenang dengan empat bulu Cambuknya lalu membulat, menarik ke dalam bulu-bulu cambuknya dan membentuk suatu membran.

Laporan Akhir BTR

18

Akhirnya dengan pembelahan reduksi zigot itu menghasilkan empat sel kembara, yang dua tumbuh menjadi individu (+) dan yang dua lagi tumbuh menjadi individu(-). Sehingga dapat dikatakan bahwa sel gamet pada Ulothrix adalah haploid. Klasifikasi : Kingdom Divisio Class Ordo Famili Genus Species : Plantae : Chlorophyta : Chlorophyceae : Ulothrichales : Ulothrichaceae : Ulothrix : Ulothrix zonata

Sumber : ( Gembong, Tjitrosoepomo.1994 )

4. Spirogyra sp Dari pengamatan yang dilakukan pada spirogyra sp, diketahui bahwa tubuhnya tersusun atas sel-sel yang membentuk untaian memanjang seperti benang sehingga mudah dikenal . Dalam tiap sel terdapat kloroplas berbentuk pita spiral dan sebuah inti dengan banyak pirenoid. Alga jenis ini tumbuh dan mengembang di atas air tawar. Reproduksi vegetatif dengan fragmentasi, sedangkan reproduksi seksual dengan konjugasi. Klasifikasi : Kingdom : Plantae Divisio Klass Ordo Famili Genus Spesies : Thallophyta : Conjugatae : Zygnematales : Zygnemataceae : Spirogyra : Spirogyra sp

Laporan Akhir BTR

19

VI. KESIMPULAN 1. Alga termasuk tumbuhan yang berklorofil dengan jaringan tubuh yang tidak berdiferensiasi membentuk akar, batang dan daun. 2. Alga berkembang biak dengan cara aseksual (isogamet, anisogamet, dan lain-lain) dan ada juga yang aseksual (Fragmentasi, pembelahan dan lainlain). 3. Spirogyra sp, merupakan alga yang tubuhnya tersusun atas sel-sel yang membentuk untaian memanjang seperti benang.

VIII. DAFTAR PUSTAKA Amintarti, Sri. dan Aulia Ajizah. 2010. Penuntun Praktikum Botani Tumbuhan Rendah. FKIP UNLAM Banjarmasin. Yudianto,Suroso Adi. 992. Pengantar Cryptogamae.TARSITO.Bandung Syamsuri, Istamar. 2004. BIOLOGI. Erlangga. Malang.

Laporan Akhir BTR

20

PRAKTIKUM III Topik Tujuan : Alga lanjutan : Untuk mengamati simbiosis antara alga pada tumbuhan lain

Hari/Tanggal : Rabu / 27 Oktober 2010 Tempat : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin

I.

ALAT DAN BAHAN A. Alat yang dipergunakan dalam praktikum ini adalah : 1. Mikroskop 2. Pipet tetes 3. Gelas kimia 4. Kaca benda 5. Kaca penutup 6. Kain planel / tissue 7. Baki

B. Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah : 1. Salvinia sp 2. Pechtia sp 3. Bintil akar pakis haji

II. CARA KERJA 1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan. 2. Mengiris akar pakis haji pada bagian berbintil, kemudian meletakkan bintil tersebut pada kaca benda setelah itu tekan bintil akar pakis haji dengan menggunakan pensil lalu memberi air secekupnya. 3. Untuk Salvinia sp dan Pechtia sp. Mengambil akar secukupnya, kemudian meletakkan pada kaca benda lalu digilas dengan pensil bulat, lalu diberi sedikit air kemudian ditutup dengan kaca penutup.

Laporan Akhir BTR

21

4. Meletakkan preparat dibawah mikroskop dan mengamatinya. 5. Menggambar semua hasil pengamatan yang telah dilakukan.

III. TEORI DASAR Alga termasuk ke dalam division Thallophyta, karena tubuhnya belum dapat dibedakan antara bagian akar, batang maupun daun. Alga ada yang tersususn dari satu sel dan ada juga yang tersusun dari banyak sel. Setiap selnya sudah memiliki plastida dan inti sel. Dalam plastida terdapat zat-zat warna derivat klorofil. Dengan adanya derivat klorofil maka tumbuhan alga berasimilasi sehingga bersifat autotrof. Alga selalu menempati habitat yang lembab atau basah. Jenis alga yang hidup di air terurama tubuhnya terdiri atas satu sel dan dapat bergerak aktif, yang merupakan penyusun plankton/fitoplankton. Sedangkan yang melekat pada suatu benda yang ada didalam air misal kayu, batu maka disebut bentos. Jenis alga yang bergerak aktif dilengkapi dengan alat untuk bergerak yaitu berupa bulu cambuk atau flagel. Klasifikasinya antara lain didasarkan pada morfologi sel-sel reproduksi pigmen dalam plastida dari sel yang vegetatif dan macam cadangan makanan. Disamping klorofil alga juga dapat mengandung pigmen lain yang berbeda-beda tergantung dari divisionya dan pigmen-pigmen ini terkandung dalam plastida. Diantara tumbuhan alga ada yang dalam daur hidupnya memperlihatkan pergiliran keturunan (metagenesis). Bila keturunan yang haploid (gametofit) dibandigkan dengan keturunan yang diploid (saprofit) dapat ditemukan hal-hal berikut gametofit sama bentuk dan ukurannya dengan saprofit misalnya pada ganggang hijau Cladophora glomerata. Gametofit lebih kecil dari pada saprofitnya terdapat alga pirang (Laminaria clostuani) dan gametofit lebih besar dari saprofitnya pada alga Cutleria multifida. Gametofit dan saprofit ada yang hidup bebas. Satu sama lain seperti terdapat pada Cladophora, dan ada juga yang menumpang pada saprofit atau sebaliknya.

Laporan Akhir BTR

22

IV. HASIL PENGAMATAN 1. Salvinia sp ( Perbesaran 10x10 ) Keterangan : 1. Dinding sel 2. Alga benang 3. Akar salvinia

2. Pechtia sp ( Perbesaran 10x10 ) Keterangan : 1. Akar 2. Alga hijau 3. Dinding sel

3. Bintil akar pakis haji ( Perbesaran 10x10 ) Keterangan : 1. Akar 2. Alga hijau 3. Dinding sel

Laporan Akhir BTR

23

Menurut literatur : 1. Salvinia sp Keterangan : 1. Alga benang 2. Dinding sel 3. Kloroplas

2. Pechtia sp Keterangan : 1. Dinding sel 2. Kloroplas

3. Bintil akar pakis haji Keterangan : 1. Akar 2. Alga biru 3. Dinding sel

Laporan Akhir BTR

24

V. ANALISIS DATA 1. Pada Salvinia sp Dari hasil pengamatan, ditemukan beberapa jenis alga pada salvinia sp, antara lain adalah alga benang, salah satu alga hijau berbentuk benang. Alga ini berkembang biak secara aseksual dengan membentuk zoospora. Gamet yang dihasilkan kawin dengan gamet dari kolono lain. Jadi koloni yang satu adalah (+) dan yang lain (-), jadi pada perkembangannya, alga benang, ulothrix adalah haploid. Anggota alga hijau ada yang bersel tunggal dan ada pula yang bersel banyak. Berwujud berkas, lembaran, atau membentuk koloni. Spesies alga hijau yang bersel tunggal ada yang dapat berpindah tempat, tetapi ada pula yang menetap. Sel-sel alga hijau bersifat eukariotik. Dalam kloroplas terdapat butiran padat yang disebut pirenoid yang berfungsi untuk pembentukan tepung. Klasifikasi : Kingdom Divisio Classis Ordo familia Genus Species : Plantae : Chlorophyta : Chlorophceae : Ulothrichales : Ulothrichaceae : Ulothrix : Ulothrix zonata.

Sumber : (Tjitrosoepoemo, 1989) 2. Pada Pechtia sp Pada akar pechtia sp ini ditemukan jenis alga Cladophora sp, dan alga berwarna hijau. Dari pengamatan tersebut dapat diketahui bahwa sel-selnya berinti banyak, kloroplas berbentuk jala dengan pirenoid-pirenoid. Membentuk koloni berupa benang-benang yang bercabang menjadi suatu berkas, hidup dalam air tawar yang mengalir atau dalam air laut, dan biasanya berkas benang-benang itu melekat pada suatu substrat. Cladophora berkembang biak secara vegetatif dengan zoospora dan generatif dengan isogami.

Laporan Akhir BTR

25

Klasifikasi : Kingdom Divisio Classis Ordo Familia Genus Spesies : Plantae : Chlorophyta : Chlorophyceae : Cladohorales : Cladophoraceae : Cladophora : Cladophora sp.

Sumber : (Tjitrosoepoemo, 1989) 3. Pada bintil akar pakis haji Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan pada bintil akar pakis haji ditemukan jenis alga Anabaena. Alga ini adalah salah satu alga biru berbentuk tunggal atau kelompok tanpa spora Anabaena cycadae termasuk suku Nostocaceae karena mempunyai sifat dapat menambah nitrogen dari udara. Alga ini berkoloni membentuk rantai dan melakukan pembiakan secara aseksula dengan pembelahan sel. Klasifikasi : Kingdom Divisio Classis Ordo Familia Genus Spesies : Plantae : Cynarophyta : Cyanophyceae : Nastocatales : Nostocaceae : Anabaena : Anabaena cycadae.

Sumber : (Inge Brisyam, 1992)

Laporan Akhir BTR

26

VI. KESIMPULAN 1. Alga termasuk dalam divisio Thallophyta karena tubuhnya tidak dapat dibedakan mana akar, batang dan daun. Tubuhnya yang berupa tallus itu kadang-kadang mirip dengan tumbuhan tingkat tinggi. 2. Cara perkembangbiakan alga antara lain secara generatif dengan konjugasi membentuk zoospora, dan secara vegetatif dengan sel kembara. 3. Pada akar salvinia sp, ditemukan jenis alga ulothrix zonata. Alga ini berwarna hijau berbentuk benang. 4. Pada akar pechtia sp, ditemukan jenis alga Cladophora sp. Alga berwarna hijau sel-selnya berinti banyak. 5. Pada bintil akar pakis haji, ditemukan jenis alga Anabaena cycadae, perkembangbiakannya secara aseksual dengan pembelahan sel .

Laporan Akhir BTR

27

PRAKTIKUM IV Topik Tujuan : Alga Makroskopis : Mengamati berbagai bentuk awetan Alga

Hari / Tanggal : Rabu / 03 November 2010 Tempat : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin

I. ALAT DAN BAHAN A. Alat yang digunakan : 1. Lup 2. Baki 3. Penjepit 4. Kaca arloji 5. Alat tulis B. Bahan yang digunakan : 1. Berbagai awetan Alga II. CARA KERJA 1. Menyiapkan alat dan bahan. 2. Mengambil awetan dengan menggunakan penjepit dan meletakkan pada kaca arloji. 3. Mengamati awetan dengan menggunakan lup. 4. Menggambar awetan dan memberi nama pada setiap awetan serta keterangannya.

III. TEORI DASAR Alga pada umumnya hidup diair, baik diair tawar maupun di air laut serta tempat-tempat lembab. Tubuh alga menunjukkan keanekaragaman yang sangat banyak, tetapi semua selnya selalu jelas memiliki plastida dan inti. Dalam plastida terdapat klorofil dan pigmen lain yang kadang-kadang lebih menonjol, sehingga memudahkan untuk mengelompok dan memberi nama berdasarkan pigmen

Laporan Akhir BTR

28

tersebut. Sehingga kita mengenal istilah ganggang hijau, ganggang merah, ganggang biru, ganggang coklat, dan ganggang keemasan. Hampir semua

ganggang termasuk plantae kecuali ganggang biru. Alga merupakan sumber daya nabati berbagai bahan kebutuhan manusia, ada yang langsung dipakai sayuran dari jenis alga hijau. Ada yang menghasilkan bahan obat dari jenis alga pirang dan merah. Selain itu ada yang menghasilkan soda, magnet, yodium dan lain-lain. Bila kita berada dilingkungan pantai karang pada batas air pasang, maka kita akan menemukan alga hijau yang kadang disebut Selada laut, karena berupa lembaran yang dikenal dengan Ulva sp. Alga hijau ini dapat tumbuh subur dipantai karang yang merupakan tempat air tawar mengalir kelaut. Ulva ini dapat dimakan. Perkembangan Ulva memperlihatkan pergiliran keturunan yang isomorf, sedangkan pergiliran keturunan yang sesugguhnya terjadi pada alga merah (Rhodophyta), alga coklat (Phaeophyta), Pterodophyta, Bryophyta dan

Spermatophyta dalam bentuk gametofit dan sporofit. Sebagian alga merah (Rhodophyta) hidup di laut, tapi ada juga beberapa jenisnya yang hidup di air tawar. Bentuk alga merah ini bermacam-macam. Ada yang hidup sebagai bentos, yang melekat pada substratnya dengan pelekat-pelekat benang atau cakram pelekat, dinding sel memiliki dua lapisan dalam yang terdiri atas selulosa, dan lapisan luar yang terdiri atas pektin dan berlendir. Alga merah penghasil agar-agar di antaranya adalah Gigartina papilata, Euchema spinosum, Gelidium lichenidea dan Cartilagenium. IV. HASIL PENGAMATAN 1. Gigartina papilata 2. Keterangan : 1. Tekstur 2. Permukaan 3. Bentuk 4. Habitat : Kaku : Licin : Thallus : Air laut

Laporan Akhir BTR

29

5. Ukuran 2. Padina sp. Keterangan : 1. Bentuk 2. Permukaan 3. Tekstur 4. Ukuran 5. Habitat

: 6 cm

: Thallus : Licin : Lembek : 4 cm : Air laut

3. Sargassum cymosuma Keterangan : 1. Bentuk : Thallus

2. Permukaan : Kasar 3. Tesktur 4. Ukuran 5. Habitat : Kaku : 6,5 cm : Air laut

4. Codium sp Keterangan : 1. Bentuk menggarpu 2. Permukaan 3. Tekstur : Bulat atau

: Kasar : Keras

Laporan Akhir BTR

30

4. Ukuran 5. Habitat

: 12 cm : Air laut

5. Ulva sp. Keterangan : 1. Bentuk 2. Permukaan 3. Tekstur 4. Ukuran 5. Habitat : Thallus : Licin : Lembek : 5,5 cm : Air laut

6. Gracilaria sp Keterangan : 1. Bentuk : Thallus

2. Permukaan : Kasar 3. Tekstur 4. Ukuran 5. Habitat : Lembek : 4 cm : Air laut

Laporan Akhir BTR

31

Menurut literatur : 1. Gigartina Papilata

2. Padina sp

3. Sargassum cymosum

Laporan Akhir BTR

32

4. Codium sp

5. Ulva sp

6. Gracilaria sp

Laporan Akhir BTR

33

V. ANALISIS DATA a. Ulva sp. Klasifikasi : Kingdom Divisio Classis Ordo Familia Genus Species : Plantae : Chlorophyta : Chlorophyceae : Ulothrichales : Ulvaceae : Ulva : Ulva sp.

(Sumber : Gembong, 1989) Alga makroskopis ini berwarna putih. Thallusnya berbentuk lembaran, dari permukaannya terasa licin. Spesies ini biasanya hidup dilaut. Tekstur spesies ini lembek dan memiliki ukuran 5,5 cm. Berdasarkan literatur, alga ini berwarna hijau karena memiliki klorofil sehingga termasuk dalam kelas Chlorophyceae. Alga ini dikenal dengan nama Selada Laut, karena bentuknya yang berupa lembaran seperti selada bokor. Perkembangbiakan alga ini secara vegetatif dan secara generatif. Secara vegetatif dengan zoospora berflagel empat, sedangkan secara generatif dengan membentuk zigospora. Warna ulva sp ini berwarna putih pada saat diamati, mungkin karena pengaruh dari cairan yang mengawetkan alga ini, sehingga mempengaruhi warna alga yang telah diawetkan dengan warna alga aslinya. b. Padina sp. Klasifikasi : Kingdom Divisio Classis Ordo Familia Genus : Plantae : Phaeophyta : Phaenophyceae : Dictyotales : Dictyataceae : Padina

Laporan Akhir BTR

34

Species

: Padina sp.

(Sumber : Gembong, 1989) Berdasarkan hasil pengamatan, bentuknya thallus, permukaannya licin, teksturnya lembek, memiliki ukuran 4 cm dan habitatnya dilaut. Pada permukaannya tersebut terdapat pola garis. Bentuk tubuhnya seperti telinga. Berdasarkan hasil literatur, alga ini berwarna coklat dan putih. Kiloidnya berbentuk seperti jamur atau telinga. Spora tidak mempunyai bulu cambuk dan sporangium beruang satu, mengeluarkan empat tettraspora. Sporofit dan gametofit bergiliran dan beraturan dan keduanya mempunyai thallus yang berbentuk pita bercabang-cabang menggarpu pada sisi gamet jantan terdapat satu bulu cambuk. Pembiakan yaitu seksualitas dan secara oogonium. oogami. Alat

perkembangbiakannya

anteridium

Anteridiumnya

berbentuk seperti kotak-kotak dan oogoniumnya tersusun secara berkelompok dan terdapat pada tumbuhan yang berlainan. c. Gigartina papilata. Klasifikasi : Kingdom Divisio Classis Ordo Familia Genus Species : Plantae : Rhodophyta : Rhodophyceae : Nemastomiales : Gigartinaceae : Gigartina : Gigartina papilata.

(Sumber : Gembong, 1989) Berdasarkan hasil pengamatan, bentuknya thallus berwarna hijau keputihan. Mempunyai permukaan yang licin dan bentuknya berupa lembaran. Habitat dari alga ini adalah diair laut. Teksturnya kaku, dan memiliki ukuran 6 cm. Spesies ini mempunyai daur hidup berfase dua. Pada thallusnya banyak mengandung zat pektin, selain mengandung zat floridean thallusnya berbentuk pipih dan mempunyai warna kemerahan.

Laporan Akhir BTR

35

d. Gracillaria sp Klasifikasi : Kingdom Divisio Sub divisio Classis Ordo Familia Genus Species : Plantae : Thallophyta : Rhodophyta : Rhodophyceae : Nemastomiales : Nemastomiceae : Gracillaria : Gracillaria sp

(Sumber : Gembong, 1989) Berdasarkan hasil pengamatan, bentuk tubuhnya thallus silindris, permukaan tubuhnya kasar, tekstur tubuhnya lembek. Panjang tubuhnya 4 cm dan habitatnya dillaut. Gracillaria merupakan ganggang yang mempunyai nilai ekonomis karena menghasilkan agar-agar. e. Codium sp. Klasifikasi : Divisio Classis Ordo Familia Genus Species : Thallophyta : Phaeophyceae : Fucales : Codiaceae : Codium : Codium sp.

(Sumber : Gembong, 1989) Berdasarkan hasil pengamatan, bentuk tubuhnya bulat atau menggarpu tangan, memiliki permukaan yang kasar, tekstur tubuhnya keras, memiliki ukuran 12 cm dan habitatnya dilaut.

Laporan Akhir BTR

36

f. Sargassum cymosum. Klasifikasi : Kingdom Divisio Classis Ordo Familia Genus Species : Plantae : Phaeophyta : Phaeophceae : Fucales : Fucaceae : Sargassum : Sargassum cymosum

(Sumber : Gembong, 1989) Berdasarkan hasil pengamatan, diketahui bahwa bentuk tubuh sargassum berupa lembaran pipih, seperti daun dengan pertulangan menyirip. Memiliki ukuran tubuh 6,5 cm, dengan permukaan tubuh yang kasar dan tekstur tubuhnya kaku. Habitatnya dilaut. Sargassum ini bisa dimanfaatkan untuk membuat sayuran.

VI. KESIMPULAN 1. Alga hidup ditempat yang basah atau di air tawar atau air laut. Alga juga merupakan tumbuhan perintis. 2. Alga makroskopis mempunyai bentuk tubuh yang bermacam-macam. Ada yang berbentuk lembaran pipih, filamen (benang), batang, silindris bercabang, maupun seperti tumbuhan tingkat tinggi. 3. Peranan alga dalam kehidupan diantaranya : sebagai salah satu sumber makanan (sayuran dan agar-agar), sebagai obat, penghasil monit dan yodium. 4. Perkembangbiakan alga secara seksual dan aseksual.

Laporan Akhir BTR

37

PRAKTIKUM V Topik Tujuan : Jamur Mikroskopis : Untuk mengamati morfologi jamur yang termasuk kedalam kelas Phycomycetes, anak kelas Ascomycetes.

Hari / Tanggal : Rabu / 10 November 2010 Tempat : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin

I. ALAT DAN BAHAN A. Alat yang digunakan : 1. Mikroskop 2. Kaca benda 3. Kaca penutup 4. Pipet tetes 5. Gelas kimia 6. Baki

B. Bahan yang digunakan : 1. Biakan jamur pada tongkol jagung 2. Biakan jamur pada tempe 3. Biakan jamur pada roti 4. Biakan jamur pada tape / ragi 5. Biakan jamur pada kaki lalat yang sudah mati 6. Biakan jamur pada bayam busuk 7. Aquadest

Laporan Akhir BTR

38

II. CARA KERJA 1. Menyiapkan alat dan bahan. 2. Mengambil jamur yang ada pada bahan satu persatu untuk diamati dibawah mikroskop. 3. Meletakkan jamur pada kaca benda, kemudian teteskan dengan air, lalu tutup dengan kaca penutup. 4. Meletakkan kacabenda dibawah mikroskop, kemudian mengamati serta menggambar bentuk jamur yang didapat.

III. TEORI DASAR Jamur merupakan tumbuhan yang tergolong heterotrof yang memperoleh makanan dari makhluk lain. Ciri-ciri jamur yaitu bersel satu atau bersel banyak, eukariotik, dinding sel dari kitin (kecuali Oomycotina), tidak berklorofil, memperoleh nutrisi dengan menyerap (baik sebagai saprofit atau parasit), menyiapkan makanan dalam bentuk glikogen dan memiliki keturunan yang diploid yang singkat (kecuali Oomycotina). Sebagai organisme saprofitik jamur mendapat bahan makanan dari bahan organik yang sudah mati (sampah, bangkai hewan, dan lain-lain), jamur yang bersifat parasitik mendapatkan bahan makanannya dari bahan organik yang masih menjadi bagian dari inangnya yang hidup. Bagian tubuh jamur yang berperan untuk menyerap bahan makanan dari bahan organik tempat hidupnya disebut mesilium dan tiap filamen dari miselium disebut hifa. Jamur termasuk dalam Mycota yang terbagi dalam 5 sub divisio : Domycotina, Zygomycotina, Ascomycotina, Basidiomycotina, dan Deuteromycotina. Phylum Mycotina terbagi dalam 4 kelas yakni Ascomycotina, Basidiomycotina, Phycomycetes, dan Mycomycetes. Habitat jamur adalah pada tempat-tempat yang lembab, basah dan mengandung zat-zat organik sebab jamur tidak dapat membuat makanan sendiri. Pada tubuh jamur memiliki ciri khas yaitu berupa benang-benang yang disebut

Laporan Akhir BTR

39

hifa, hanya golongan Sacromycetes yang tubuhnya berupa sel tunggal. Hifa pada jamur ada yang bersekat dan ada pula yang tidak, keadaan ini merupakan ciri khas dari suatu kelas jamur. IV. HASIL PENGAMATAN 1. Jamur pada tongkol jagung Perbesaran 10x10 Keterangan : 1. Sporangium 2. Sporangiosfor 3. Gelembung udara

Aspergillus flavus

2. Jamur pada tempe Perbesaran 10x10 Keterangan : 1. Sporangium


P

2. Kotak spora

Rhizopus sp

Laporan Akhir BTR

40

3. Jamur pada roti Perbesaran 10x10 Keterangan : 1. Hifa 2. Kotak spora

Rhizopus sp 4. Jamur pada tape/ragi Perbesaran 10x10 Keterangan : 1. Askuspora 2. Sporangiofor

Saccharomyces cerevisiae

5. Jamur pada kaki lalat

Laporan Akhir BTR

41

6. Jamur pada bayam Perbesaran 10x10 Keterangan : 1. Hifa 2. Sporangium

Phytopthora infestans

Menurut literatur : 1. Jamur pada tongkol jagung Aspergillus Flavus Keterangan : 1. Sporangium 2. Sporangiofor 3. Gelembung udara

Laporan Akhir BTR

42

2. Jamur pada tempe Rhizopus sp Keterangan : 1. Sporangium 2. Kotak spora 3. Gelembung udara

3. Jamur pada roti Rhizopus sp Keterangan : 1. Hifa 2. Kotak spora

4. Jamur pada tape/ragi Saccharomyces cerevisiae Keterangan : 1. Askuspora 2. Sporangiofor

Laporan Akhir BTR

43

5. Jamur pada bayam busuk Phytopthora infestans Keterangan : 1. Hifa 2. Sporangium

V. ANALISIS DATA 1. Jamur pada tongkol jagung Klasifikasi : Kingdom Divisio Sub divisio Classis Ordo Familia Genus Species : Plantae : Mycota : Eumycotina : Ascomycetes : Eucotuales : Aspergilluceae : Aspergillus : Aspergillus flavus

Sumber : (Gembong, Tjitrosoepomo. 1985) Dari hasil pengamatan pada tongkol jagung ditemukan jamur jenis Asperghillus flavus. Jamur ini mengandung racun flavus atau alfatoksin, warnanya kuning kecoklatan. Jamur ini biasanya ditemukan pada tempat-tempat yang lembab sebagai saprofit pada bahan-bahan organik. Perkembangbiakan secara

Laporan Akhir BTR

44

vegetatif berupa lendir, sporanya pada keadaan kurang air akan membentuk kista dan di tempat lembab akan tumbuh menjadi amoeba lendir dan spora kembara. Peleburan dua sel kembara berlangsung dengan penggabungan dua ujung yang tidak berflagel, kemudian tumbuh menjadi amoeba lendir. 2. Jamur pada tempe Klasifikasi : Kingdom Divisio Classis Ordo Familia Genus Species : Plantae : Mycota : Phycomycetes : Zygomycetales : Mucoraceae : Rhizopus : Rhizopus sp

Sumber : (Gembong, Tjitrosoepomo. 1989) Dari hasil pengamatan pada tempe, ditemukan jamur jenis Rhizopus sp. Jamur ini memiliki hifa yang tidak bersekat. Miselium luas, bercabang dan tidak bersepta. Perkembang biakan aseksual dengan pembentukan sporangiospora dalam sporangium, sedangkan perkembangbiakan seksualnya dengan cara cabang pendek Rhizopus dan individu berjenis positif dan bercabang pendek. Rhizopus dan individu lain berjenis negatif pada ujungnya. Setelah bertemu akan terbentuk sekat dinding dibawah ujung cabang hifa. Gamet dari kedua ujung rhizopus kemudian bertemu dan melebur membentuk zigot. Zigot akan berkembang menjadi zigospora. 3. Jamur pada roti Klasifikasi : Kingdom : Plantae

Laporan Akhir BTR

45

Divisio Classis Ordo Familia Genus Species

: Mycota : Phycomycetes : Zygomycetales : Mucoraceae : Rhizopus : Rhizopus sp

Sumber : (Gembong, Tjitrosoepomo. 1989) Dari hasil pengamatan pada roti yang berjamur ditemukan jenis jamur yang sama dengan jamur tempe, yaitu Rhizopus sp. Jamur ini mempunyai hifa yang tidak bersekat, miselium luas, bercabang dan tidak bersepta.

Perkembangbiakannya ada dua macam, yaitu secara aseksual dan seksual. 4. Jamur pada tape / ragi Klasifikasi : Kingdom Divisio Classis Ordo Familia Genus Species : Plantae : Thallophyta : Ascomycetes : Endomycetales : Saccharomycetaceae : Saccharomyces : Saccharomyces cerevisiae

Sumber : (Gembong, Tjitrosoepomo. 1993) Dari hasil pengamatan pada air tape, ditemukan jamur Saccharomyces cerevisiae yang berbentuk bulat. Jamur ini biasa disebut khamir. Struktur tubuhnya uniseluler. Dinding selnya antara lain tidak terdapat reaksi selulosa atau pun kitin melainkan antara lain mengandung fosfor glikoprotein. Pada makanan

Laporan Akhir BTR

46

tertentu jamur ini bisa memperlihatkan hifa, namun hifa itu tidak tetap dan dapat terputus-putus menjadi sel-sel yang terpisah-pisah. Perkembang biakan generatifnya dengan konjugasi dua sel (gametangia) menjadi sel-sel vegetatif yang diploid (2n) dan tidak membentuk askus (berbentuk kantong panjang berisi askospora). Kemudian sel-sel vegetatif yang diploid itu membiak dengan pertunasan (blastospora). Sel-sel tersebut akhirnya dapat bersifat seperti askus, mengadakan pembelahan meiosis yang menghasilkan 4 sel askospora haploid (n) yang merupakan spora generatif. Jadi, terdapat dua sporofit tanpa gametofit karena spora langsung melakukan kopulasi. Namun adakalanya juga askospora berubah dulu menjadi sel vegetatif yang haploid, dan kemudian mengadakan kopulasi, jadi dalam hal ini ada gametofit dan sporofit atau disebut juga dengan adanya pergiliran keturunan. 6. Jamur pada bayam busuk Klasifikasi : Kingdom Divisio Classis Ordo Familia Genus Species : Plantae : Thallophyta : Oomycetes : Peronosporales : Pyhiaceae : Phytophora : Phytopthora infenstans

Sumber : (Gembong, Tjitrosoepomo. 1985) Dari hasil pengamatan, pada bayam yang telah busuk ditumbuhi jamur Phytopthora infenstans. Jamur ini hidup sebagai parasit. Hifanya bersekat dan bercabang. Pada lentisel bayam akan terdapat hifa dari jamur ini yang pada ujungnya terdapat sporangium. Inti sel jamur ini prokariotik. Dinding selnya

Laporan Akhir BTR

47

terdiri dari selulosa yang bersatu. Dalam perkembang biakannya akan menghasilkan spora berflagel ganda dan oospora.

VI. KESIMPULAN 1. Fungi atau jamur termasuk tumbuhan Thallophyta karena belum dapat dibedakan antara akar, batang dan daunnya. Tubuh jamur mempunyai ciri yang khas yaitu berupa benang-benang yang disebut hifa. 2. Jamur memiliki ciri-ciri yaitu tidak memiliki klorofil, bersifat heterotrof, hidup sebagai saprofit dan parasit, hidup ditempat yang lembab, tubuh terdiri atas hifa, filamen bercabang atau tidak, berkembang biak secara aseksual dan seksual. 3. Pada tongkol jagung ditemukan jamur jenis Asperghillus flavus. Jamur ini mengandung racun flavus atau alfatoksin, warnanya kuning kecoklatan. Jamur ini biasanya ditemukan pada tempat-tempat yang lembab sebagai saprofit pada bahan-bahan organik.. 4. Pada tempe ditemukan jamur Rhizopus sp, jamur ini memiliki hifa yang tidak bersekat. 5. Pada roti ditemukan jamur Rhizopus sp. 6. Pada tape / ragi ditemuksn jenis jamur Saccharomyces cereviceae, yang berbentuk bulat. Struktur tubuh jamur ini uniseluler. 7. Pada bayam busuk ditemukan jenis jamur Phytophora infenstans, jamur ini mempunyai hifa yang bersekat dan bercabang.

Laporan Akhir BTR

48

PRAKTIKUM VI Topik Tujuan : Jamur Makroskopis : Untuk mengenal morfologi jamur pada kelas Basidiomycetes dan Deuteromycetes Hari / Tanggal : Rabu / 24 November 2010 Tempat : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin

I. ALAT DAN BAHAN A. Alat-alat yang digunakan : 1. Mikroskop 2. Kaca benda 3. Kaca penutup 4. Pipet tetes 5. Gelas kimia 6. Kain planel / tissue 7. Nampan / baki

B. Bahan-bahan yang digunakan : 1. Jamur kayu 2. Jamur merang 3. Jamur kuping 4. Jamur papan 5. Aquadest

Laporan Akhir BTR

49

II. CARA KERJA 1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan. 2. Menggambar bentuk jamur seutuhnya sebelum dilakukan pengamatan 3. Menyiapkan preparat dan iris secara membujur setipis mungkin. Letakkan pada kaca bendaa dan tutup dengan kaca penutup. 4. Mengambil bagian tudung jamur merang satu helai yang tipis, letakkan diatas kaca benda, tetesi dengan sedilit air lalu tutup dengan kaca penutup. 5. Mengamati preparat di bawah mikroskop dan menggambar hasil pengamatan.

III. TEORI DASAR Basidiomycetes dapat dianggap sebagai bagian kelanjutan dari

ascomycetes karena terjadinya basidium berikut basidiospora mirip dengan askus dan askuspora pada Ascomycotina, sehingga dikatakannya ada homologi antara basidium dengan askus. Antara basodiospora dengan askospora ada perbedaanya, yaitu: askuspora terjadi di dalam askus sedangkan basidiospora terjadi di luar basidium. Askuspora tidak memiliki tangkai sedangkan basidiospora ada yang bertangkai panjang. Ciri-cir dari basidiospora yaitu memiliki hifa yang bersekat dengan satu atau dua inti, spora generatif berupa spora basidium (basidiospora) yang dibentuk dalam basidium, spora vegetatifnya beruap konidium (konidiospora) dan umumnya memilki tubuh buah yang besar yang disebut basidiokarp. Tubuh dari Basidiomycetes terdiri dari hifa yang bersekat-sekat dan berkelompok menjadi semacam jaringan. Pembiakan vegetatif dengan konidia tidak menonjol. Pada umumnya tidak ada alat untuk perkembangbiakkan generatifnya, sehingga untuk hal ini lazimnya berlangsung somatogami. Untuk daur hidup dari Basidiomycotina tersebut dimulai dari pertumbuhan spora basidium atau konidium menjadi miselium primer yang berinti satu.

Laporan Akhir BTR

50

Persatuan antar dua hifa berbeda (positif dan negative) tanpa diikuti dengan kariogami membentuk sel dikariotik yang akan tumbuh menjadi miselim sekunder (miselium dikariotik). Dalam daur hidup tersebut turunan haploid lebih dominant dari turunan yang diploid. Contoh dari Basidiomycetes yang dapat dimakan adalah jamur kuping (Auricularia polytrica), jamur sitake (Lintenus edodus), jamur merang (Volvarella volvaceae) dan Lycoperdon. IV. HASIL PENGAMATAN 1. Jamur kayu, Morfologinya Ganoderma sp Keterangan : 1. Basidiospora 2. Rhizoid

2. Jamur merang, Morfologinya Volvariella volvaceae Keterangan : 1. Kumpulan hifa 2. Rhizoid

Laporan Akhir BTR

51

3. Jamur kuping, Morfologinya Auricularia polytricha Keterangan : 1. Rhizoid 2. Thallus

4. Jamur papan, Morfologinya Ganoderma sp Keterangan : 1. Potongan papan 2. Thallus 3. Rhizoid

Menurut hasil pengamatan dimikroskop : 1. Jamur kayu, Anatominya Perbesaran 10x10 Keterangan : 1. Jaringan hifa longgar 2. Jaringan hifa padat

Laporan Akhir BTR

52

2. Jamur merang, Anatominya Perbesaran 10x10 Keterangan : 1. Jaringan hifa longgar 2. Jarngan hifa padat

3. Jamur kuping, Anatominya Perbesaran 10x10 Keterangan : 1. Selubung 2. Jaringan hifa padat 3. Jaringan hifa longgar

4. Jamur papan, Anatominya Perbesaran 10x10 Keterangan : 1. Jaringan hifa longgar 2. Jaringan hifa padat 3. Rhizoid

Laporan Akhir BTR

53

Menurut literatur : 1. Jamur Kayu Ganoderma sp Keterangan : 1. Basidiospora 2. Rhizoid

2. Jamur merang Volvariella volvaceae Keterangan : 1. Kumpulan hifa 2. Rhizoid

Laporan Akhir BTR

54

3. Jamur kuping Polytricha auriculata Keterangan : 1. Thallus 2. Rhizoid

4. Jamur papan Ganoderma sp Keterangan : 1. Basidiospora 2. Thallus

V. ANALISIS DATA 1. Jamur kayu (Ganoderma sp) Klasifikasi : Kingdom Divisio Classis Sub classis : Fungi : Basidiomycota : Basidiomycetes : Homobasidiomycetidae

Laporan Akhir BTR

55

Ordo Familia Genus Spesies

: Polyporales : Polyporaceae : Ganoderma : Ganoderma sp

Sumber : (Birsyam. 1992) Dari hasil pengamatan Ganoderma sp bisa ditemukan pada kayu yang sudah mati sebagai saproba. Jamur ini berbentuk setengah lingkaran, tubuh buahnya tebal berdaging berwarna putih kekuningan dan tepi tubuhnya berwarna lebih tua. Lebar tubuh buah jamur ini berkisar 5-75 cm. Jamur ini menghasilkan basidiospora yang mempunyai hifa bersekat dan bentuk basidiokarpnya seperti kulit mengkilat, bentuk tubuh buahnya terdiri dari garis-garis. Tubuh buah tidak mempunyai batang. Tubuh buah jamur ini dapat berumur beberapa tahun dengan tiap-tiap kali membentuk lapisan-lapisan himenofora baru. Himenefora merupakan buluh-buluh (pori) yang dilihat dari luar berupa lubang-lubang berwarna putih, kekuningan atau coklat, sisi dalam tubuhnya dilapisi dengan himenium. 2. Jamur merang (Volvariella volvacea) Klasifikasi : Kingdom Divisio Classis Sub classis Ordo Familia Genus Spesies : Fungi : Basidiomycota : Basidiomycetes : Homobasidiomycetidae : Agaricales : Volvariellaceae : Volvariella : Volvariella volvacea

Laporan Akhir BTR

56

Sumber : (Birsyam. 1992) Dari hasil pengamatan Volvariella volvacea dapat ditemukan di tanah dan menempel pada kayu yang telah mati atau lapuk. Jamur ini memiliki tangkai. Memiliki warna putih dan setelah tua berwarna kuning, terutama pada bagian tepi tubuh buah jamur. Jamur ini banyak tumbuh di musim hujan, tubuh buahnya seperti payung yang banyak mengandung lemak dan glikogen dan banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Jamur ini mempunyai hifa yang bersekat. Hifa atau miselium itu digunakan sebagai alat perkembangbiakan secara somatogami yang akan menghasilkan sel / individu baru. Sedangkan tiap sel dari individu ini berinti satu. Perkembangbiakan jamur dimulai dari perkecambahan spora yang terjadi dua macam miselium yang bersekat dan satu inti dalam tiap sel. Jika dua sel vegetatif yang berlainan jenis kelamin bertemu maka dua sel itu menjadi satu (somatogami). Dan terjadilah satu sel dengan sepasang inti di dalamnya. Jadi pada miselium yang tumbuh dari basidiospora itu tidak dihasilkan alat kelamin yang khusus. 3. Jamur kuping (Auricularia polytricha) Klasifikasi : Kingdom Divisio Classis Ordo Familia Genus Spesies : Fungi : Basidiomycota : Basidiomycetes : Agariacales : Auriculariacea : Auricularia : Auricularia polytricha

Sumber : (Birsyam. 1992)

Laporan Akhir BTR

57

Dari hasil pengamatan Auricularia polytricha tumbuh di alam bebas pada batang pohon yang basah dan lembab. Jamur ini hidupnya secara saprofit pada bagian tumbuhan yang telah mati dan ada juga hidup sebagai parasit pada lumut. Jamur ini berwarna coklat tua dan berbentuk mirip sekali dengan daun telinga manusia dan sisi atasnya mempunyai himenium. Tubuh jamur ini kenyal jika dalam keadaan segar dan menjadi keras seperti tulang jika kering. Jamur ini mempunyai diameter 2-15 cm, tipis berdaging. Permukaan luar steril, sering kali berurat, berambut kecil-keci, cokelat muda sampai cokelat, menjadi kehitaman jika mengering. Basidiumnya dibagi dalam 4 sel sekat-sekat melintang. Pada pangkal basidiumnya terdapat suatu badan yang membesar yang dinamakan probasidium atau hipobasidium dan merupakan sel terakhir hifa dikariotik. Dalam probasidium terjadi peleburan inti dan baru kemudian dari probasidium dibentuk basidium yang bersekat yang didahului oleh pembelahan reduksi. Probasidium ada yang berdinding tipis ada juga yang tebal. 4. Jamur pada papan (Ganoderma sp) Klasifikasi : Kingdom Divisio Classis : Fungi : Basidiomycota : Basidiomycetes

Sub classis : Homobasidiomycetidae Ordo Familia Genus Spesies : Polyporales : Polyporaceae : Ganoderma : Ganoderma sp

Sumber : (Birsyam. 1992 ) Dari hasil pengamatan Ganoderma sp ditemukan menempel pada papan atau akar-akar kayu. Jamur ini berbentuk payung. Tubuh buahnya cembung dan

Laporan Akhir BTR

58

berukuran bisa mencapai 20 cm. Tepi tubuh buahnya berombak, licin dan berlendir. Warnanya bermacam-macam, ada yang abu-abu, putih kekuningan, merah kekuningan dan ungu. Tangkainya berbentuk silindris dengan panjang bisa mencapai 10 cm dan diameternya hingga 4 cm.

VI. KESIMPULAN 1. Jamur termasuk tumbuhan talus, karena tumbuhan ini belum dapat dibedakan antara akar, batang, dan daunnya. 2. Habitat jamur adalah pada tempat yang lembab atau kayu-kayu yang sudah lapuk maupun ditempat yang lain yang banyak zat organiknya sebagi parasit atau saprofit. 3. Perbedaan antara basodiospora dengan askospora yaitu askospora terjadi di dalam askus dan tidak memiliki tangkai sedangkan basidiospora terjadi di luar basidium dan mempunyai tangkai (panjang). 4. Contoh dari Basidiomycetes yang dapat dimakan adalah jamur merang dan jamur kuping, sedangkan yang tidak dapat dimakan adalah jamur kayu dan jamur papan.

Laporan Akhir BTR

59

PRAKTIKUM VII Topik Tujuan antara alga dan jamur Hari / Tanggal : Rabu / 01 Desember 2010 Tempat : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin : Lichenes : Untuk mengamati morfologi dan anatomi Lichenes, simbiosis

I. ALAT DAN BAHAN A. Alat-alat yang digunakan : 1. Lup 2. Mikroskop 3. Kaca benda 4. Kaca penutup 5. Silet / cutter 6. Pipet tetes 7. Gelas kimia 8. Kain planel / tissue 9. Nampan / baki

B. Bahan-bahan yang digunakan : 1. Lumut kerak pada pohon dan pada batuan

II. CARA KERJA 1. Menyiapkan alat dan bahan. 2. Menggambar morfologi Lichenes dengan lup dan gamabar.

Laporan Akhir BTR

60

3. Mengiris bagian lumut kerak dengan cara melintang, lalu meletakkan diatas kaca benda, tetesikan dengan air dan menutup dengan kaca penutup. 4. Mengamati di bawah mikroskop dan menggambar hasil pengamatan. III. TEORI DASAR Ada satu jenis tumbuhan yang tumbuhnya merupakan perpaduan dari tanaman ganggang dan jamur yang menjadi satu kesatuan (bersimbiosis), tumbuhan ini disebut lumut kerak (lichens), yang mudah dijumpai disegala tempat, biasanya dikulit batang kayu, dipohon-pohon dan ada pula yang tumbuh dibatu atau tembok. Tanaman ini sering dinamakan tumbuhan pelopor sebab mampu tumbuh disegala tempat. Menurut habitatnya, lichenes berdasarkan talusnya dapat dibedakan menyerupai bentuk lembaran dan seperti semak. Untuk bentuk lembaran biasanya melekat dengan benang-benang menyerupai rhizod pada substratnya dengan seluruh sisi bawah tallus. Pada bentuk seperti semak memiliki ujung tallus yang bebas diudara. Kebanyakan lichenes berkembangbiak secara vegetatif dengan sebagian tallus terpisah dan kemudian tumbuh menjadi individu baru. Pada beberapa lichenes, pembiakan berlangsung dengan perantaraan soredium yaitu kelompok kecil sel-sel ganggang sedang membelah dan diselubungi benang-benang misellium. Dengan robeknya dinding tallus soledium tersebar ditiup angin sehingga membentuk individu baru. Soredium merupakan bintil yang tumbuh dipermukaan taluus. Bintil ini sudah lengkao mengandung satu sampai beberapa alga yang dikelilingi misellium.

Laporan Akhir BTR

61

IV. HASIL PENGAMATAN 1. Lichenes hijau, morfologinya Keterangan : 1. Warna 2. Bentuk : Hijau : Semak

Anatominya

2. Lichenes putih Keterangan : 1. Warna 2. Bentuk : Putih : Lembaran

Laporan Akhir BTR

62

Anatominya Keterangan : 1. Alga putih

Menurut literatur : 1. Parmelia subrudecta (Hijau)

Keterangan : 1. Warna : Hijau 2. Bentuk : Semak

Laporan Akhir BTR

63

2. Parmelia acetabulum (putih)

Dokumentasi sendiri :

(Sumber : Http://www.images-google.co.id) Di Akses : 05 Desember 2010 Lembaran

Keterangan : 1. Warna : Putih 2. Bentuk :

V. ANALISIS DATA 1. Parmelia subrudecta (Hijau) Klasifikasinya : Kingdom Divisio Class Ordo Familia Genus Species : Plantae : Lichenes : Ascolichenes : Lecanorales : Leconoceae : Parmelia : Parmelia subrudecta

Sumber : (Tjitrosoepoemo, Gembong.1991)

Laporan Akhir BTR

64

Dari hasil pengamatan pada Lichenes Parmelia subrudecta merupakan simbiosis antara jamur dari kelas Ascomycetes dan alga dari kelompok cholorophyta. Diketahui talus Lichenes ini berwarna hijau yang termasuk ke dalam tipe squamulose dan merupakan kelas Ascolichenes. Pada penampang melintang dari parmelia subrudecta ini terlihat bahwa lichenes ini terdiri atas alga Chlorophyta dan jamur Ascomycota, cara perkembangbiakannya yaitu dengan fragmentasi tallus dan membentuk soredium atau askokarp. 2. Parmelia acetabulum (Putih) Klasifikasinya : Kingdom Divisio Class Ordo Familia Genus Species : Plantae : Lichenes : Ascolichenes : Lecanorales : Parmeliaceae : Parmelia : Parmelia acetabulum

Sumber : (Alexopoulos, C.J,dkk.2002.Introductory Mycology) Dari hasil pengamatan pada Lichenes Parmelia acetabulum, diketahui bahwa Lichenes ini juga terdiri atas alga Chlorophyata dan jamur Ascomycota, tipe talus Lichenes ini berbentuk crustose yaitu berupa kerak yang menempel pada substrat. Berkembang biak dengan cara fragmentasi tallus dan membentuk soredium atau askokarp.

Laporan Akhir BTR

65

VI. KESIMPULAN 1. Tipe thallus terbagi 3, yaitu : a. Crustose ; berupa kerak yang menempel pada substrat b. Foliose ; seperti helai daun c. Squamulose ; seperti sisik 2. Lichenes adalah sekelompok organisme yang berbentuk dari simbiosis antara alga dan jamur yang merupakan simbiosis mutualisme yang artinya saling menguntungkan. 3. Habitat dari lichenes biasanya pada pohon, tanah, batu karang, dan terutama didaerah tundra, diatas cadas, bahkan ditepi pantai dan diatas gunung yang tinggi. 4. Komponen penyusun simbiosis terdiri dari Chlorophytha dan golongan alga dan basidiomycetes serta golongan Ascomycetes dari golongan jamur. 5. Lichenes dapat tumbuh jika spora yang dilepaskan menyerupai jenis alga yang sama dengan alga pada thallus induknya.

Laporan Akhir BTR

66

PRAKTIKUM VIII Topik Tujuan : Lumut : Untuk mengetahui morfologi gamet (n) dan sporofit (2n) lumut dari kelas Hepaticeae dan Musci Hari / Tanggal : Rabu / 08 Desember 2010 Tempat : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin

I. ALAT DAN BAHAN A. Alat-alat yang digunakan : 1. Mikroskop 2. Kaca pembesar 3. Baki

B. Bahan-bahan yang digunakan : 1. Lumut daun 2. Lumut hati

II. CARA KERJA 1. Menyiapkan alat dan bahan yang digunakan. 2. Menggambar dan mengamati bentuk morfologi dari lumut hati dengan menggunakan lup. 3. Menggambar dan mengamati bentuk lumut daun dengan menggunakan lup. 4. Menggambar hasil pengamatan, memberi keterangan pada gambar dengan jelas bahas hasil pengamatan dan simpulkan.

Laporan Akhir BTR

67

III. DASAR TEORI Ciri-ciri lumut (Bryophyta) yaitu berklorofil, belum memiliki akar, daun dan batang sejati, berspora, sudah membentuk embrio, memiliki gametofit yang dominan dan memiliki alat pembiakan yang multi sel. Sel-sel alat pembiakan tersebut membentuk selubung luar yang steril dan didalamnya terdapat gamet. Struktur yang demikian penting agar gamet terlidung dan tidak kekeringan. Alat kelamin betina (arkegonium) bentuknya seperti botol dan berisi satu ovum, alat kelamin jantan (anteridium) bentuknya lonjong bertangkai pendek dan menghasilkan banyak spermatozoid. Berdasarkan letak alat kelaminnya, lumut dibagi menjadi dua yaitu lumut berumah satu (jika pada satu individu terdapat anteridium dan arkegonium) dan lumut berumah dua (jika pada satu individu hanya terdapat anteridium saja atau arkegonium saja, sehingga ada lumut jantan dan lumut bertina). Berdasarkan habitus (perawakan) lumut ada dua yaitu : 1. Lumut daun (musci) Bentuk talusnya seperti tumbuhan kecil yang mempunyai batang semu tegak dan lembaran daun yang tersusun spiral. Baik batang maupun daun belum memiliki jaringan pengangkut. Pada bagian dasar batang semu terdapat rhizoid yang berupa benang dan halus yang berfungsi sebagai akar. Pada bagian pucuk terdapat alat pembiakan seksual berupa anteridium dan arkegonium. Contohnya Sphagnum yang hidup dirawa dan merupakan komponen pembentuk tanah gambut. 2. Lumut hati (Hepaticae) Bentuk talusnya pipih sepeti lembaran daun. Pada permukaan ventral terdapat rhizoid dan pada permukaan dorsal terdapat kuncup. Anteridium memiliki tangkai yang disebut anteridiosfor dan tangkai arkegonium disebut arkegoniofor. Lumut hati dapat dipakai sebagai indikator daerah lembab dan basah.

Laporan Akhir BTR

68

IV. HASIL PENGAMATAN 1. Lumut Daun, Morfologinya Keterangan : 1. Bentuk : telur seperi batang, semu tegak

2.

Lumut Hati, Morfologinya Keterangan : 1. Bentuk : pipih, lembaran daun

Laporan Akhir BTR

69

Menurut literatur : 1. Lumut Daun

2. Lumut hati

(sumber : www.botany.ubc.ca)

V. ANALISIS DATA Klasifikasi Marchantia polymorpha : Kingdom Divisio Classis Ordo Familia : Plantae : Bryophyta : Hepaticae : Marchantiales : Marchantiaceae

Laporan Akhir BTR

70

Genus Spesies

: Marchantia : Marchantia polymorpha

Sumber : (Birsyam.1992) Marchantia polymorpha hidup terestrial (di darat) di tempat yang lembab. termasuk dalam kelas Hepaticae (lumut hati), bentuknya pipih seperti pita, berupa lembaran berwarna hijau dengan percabangan menggarpu. Talusnya berlembar-lembar seperti hati, agak tebal, berdaging dan mempunyai rusuk tengah yang menonjol tidak begitu jelas. Pada sisi atas talus terdapat lapisan kutikula sehingga tidak bisa dilalui air. Talus jika dilihat dari atas seperti berpetak-petak, di bawah petak-petak tersebut terdapat suatu ruang udara, dan di tengah-tengahnya terdapat liang udara yang menghbungkan ruang udara dengan dunia luar. Liang udara berbentuk seperti tong dan mempunyai dinding yang lebih tinggi dari permukaan talus agar air tidak masuk. Dinding liang itu terdiri atas 4 cincin dan masing-masing cincin terdiri atas 4 sel. Pada sisi bawah talus terdapat selapis sel-sel yang menyerupai daun yang disebut sisik-sisik perut atau sisik-sisik ventral. Pada lumut hati ini, akar yang sebenarnya tidak ada, tumbuhan ini melekat dengan perantaraan Rhizoid (akar semu), oleh karena itu tumbuhan lumut merupakan bentuk peralihan antara tumbuhan bertalus (Thallophyta) dengan tumbuhan berkormus (Cormophyta). Rhizoid ini terdapat pada sisi bawah talus. Rhizoid bersifat fototrop negatif dan dinding selnya memiliki penebalan ke dalam yang berbentuk seperti sekat-sekat tidak sempurna. Selain membantu melekatkan talus pada substrat, rhizoid juga berfungsi untuk menyerap air dan unsur hara. Lumut ini mempunyai klorofil sehingga sifatnya autotrof. Akar dan batang pada lumut ini tidak mempunyai pembuluh angkut (xilem dan floem). Pembiakan vegetatif dari gametofit dengan pembentukan tunas-tunas di dalam lekukan-lekukan yang disebut kupula. Pembiakan aseksual dengan spora yang terbentuk di dalam sporangium.

Laporan Akhir BTR

71

Pada tumbuhan lumut terdapat Gametangia (alat-alat kelamin) yaitu: a. Alat kelamin jantan disebut anteridium yang menghasilkan spermatozoid yang didukung oleholeh anteridiofor. b. Alat kelamin betina disebut arkegonium yang menghasilkan ovum yang didukung oleh arkegoniofor. Pembuahan berlangsung dalam cuaca hujan. Percikan air hujan menyebabkan cairan yang mengandung spermatozoid terlempar dari anteridiofor ke arkegoniofor. Sel-sel epidermis arkegoniofor mempunyai papila dan membentuk sistem kapilar pada permukaannya sehingga spermatozoid mudah tergelincir ke dalam arkegonium. Gerakan spermatozoid ke arah ovum merupakan gerak kemotaksis, karena adanya rangsangan zat kimia berupa lendir yang dihasilkan oleh sel telur. Setelah pembuahan (peleburan spermatozoid dan ovum di dalam arkegonium) yang menghasilkan zigot selesai, zigot tersebut berkembang menjadi badan pembentuk spora atau sporofit. Pada lumut ini, sporofit selalu tumbuh dan berkembang di dalam gametofit betina, sehingga tidak terlihat secara langsung. Sporogonium adalah badan penghasil spora, dengan bagian-bagian : - Vaginula (kaki) - Seta (tangkai) - Apofisis (ujung seta yang melebar) - Kotak spora : Kaliptra (tudung) dan Kolumela (jaringan dalam kotak spora yang tidak ikut membentuk spora). Spora lumut bersifat haploid (n).

VI. KESIMPULAN 1. Bryophyta merupakan jenis tumbuhan rendah yang beradaptasi dengan lingkungan darat dan umumnya menyukai tempat-tempat lembab. 2. Bryophyta belum memiliki pertulangan daun, akar sejati, berkas pembuluh angkut serta hanya berkembangbiak dengan spora.

Laporan Akhir BTR

72

PRAKTIKUM IX Topik Tujuan pada paku air Hari / Tanggal : Rabu / 08 Desember 2010 Tempat : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP UNLAM Banjarmasin : Paku air dan paku darat : Mengamati stuktur pergiliran generasi gametofit dan saprofit

I. ALAT DAN BAHAN A. Alat-alat yang digunakan : 1. Mikroskop 2. Kaca benda 3. Kaca penutup 4. Gelas kimia 5. Pipet tetes

B. Bahan-bahan yang digunakan : 1. Paku sayur (Nephrolepis sp) 2. Suplir (Adiantum sp) 3. Paku air (Salvinia natans) 4. Paku kawat (Lycopodium cernum) 5. Tumbuhan paku awetan

II. CARA KERJA 1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan. 2. Menggambar bentuk morfologi tiap-tiap paku yang ada. 3. Mengamati letak sorus pada tiap tumbuhan paku yang ada.

Laporan Akhir BTR

73

4. Mengerik sorus yang ada pada tumbuhan paku dan meletakkan diataa kaca benda lalu teteskan dengan air dan tutup dengan kaca penutup. 5. Menggambar bentuk-bentuk sorus yabg ada pada tiap-tiap tumbuhan paku.

III. DASAR TEORI Paku-pakuan (Pteridophyta) mempunyai kloropil, akar sejati, memiliki ikatan pembuluh, berkembangbiak dengan spora dan memiliki saprofit yang dominan, ujung daun muda umunya menggulung, mengalami pergiliran keturunan (metagenesis). Pada tumbuhan paku pada umumnya memiliki saprofit, akar, batang dan daun. Akarnya berupa serabut, batang berupa rhizoma dan daunnya ada dua macam yaitu tropofil (daun yang berfungsi untuk fotosintesis) dan sporofil (daun yang fertile) banyak terdapat sporangium (kotak spora). Sejumlah sporangium mengelopak membentuk sorus dan sorus yang masih muda yang dikelilingi oleh selaput yang disebut indusium. Sporangium memiliki sejumlah sel penutup berdinding tebal dan membentuk cincin yang disebut annulus. Pada tumbuhan paku, generasi gametofit berumur pendek dan berupa protalium. Protaliumnya berbentuk seperti jantung, akar berupa rhizoid dan menghasilkan anteridium dan arkegonium. Pada saat udara kering maka annulus mengkerut dan sporangium akan pecah pada bagian stomium dan spora keluar. Spora akan tumbuh menjadi protalium (gametofit). Prota lium menghasilkan anteridium dan arkegonium. Anteridium menghasilkan spermatozoid dan arkegonium menghasilkan sel telur. Peleburan antar sel telur dengan spermatozoid membentuk zigot yang kemudian tumbuh menjadi embrio. Embrio akan tumbuh menjadi saprofit yang merupakan tumbuhan utama. Berdasarkan jenis spora yang dihasilkan, tumbuhan paku dibedakan menjadi 3 macam yaitu :

Laporan Akhir BTR

74

a. Paku homospor : menghasilkan spora yang ukuran dan jenisnya sama. Spora dihasilkan oleh sporangium yang terdapat pada sporofil, contohnya : Lycopodium (paku kawat) b. Paku heterospor : menghasilkan dua macam spora yaitu mikrospora dan megaspora. Sporangium tersusun dalam strobilus di puncak batang. Pada strobilus terdapat dua macam daun penghasil spora yaitu mikrosporofil dan megasporofil. Pada mikrosporofil terdapat microsporangium yang

menghasilkan mikrospora dan pada megasporofil terdapat megasporangium yang menghasilkan megaspora. Mikrospora bagian dalamnya tumbuh menjadi protalium jantan yang menghasilakan anteridium dan di dalamnya terdapat spermatozoid. Sedang megaspora bagian dalamnya akan tumbuh menjadi protalium betina yang menghasilkan arkegonium yang menghasilkan atau berisi sebuah ovum. Pembuahan ovum oleh spermatozoid menghasilkan zigot yang akan tumbuh menjadi tumbuhan paku baru. Contohnya : semanggi c. Paku peralihan : menghasilkan spora yang ukurannya sama tetapi dapat tumbuh menjadi protalium jantan dan protalium betina. Spora dihasilkan oleh sporangium yang tersusun dalam strobilus di puncak batang. Contohnya : paku ekor kuda Tumbuhan paku primitif mempunyai akar, batang, dan daun dengan percabangan yang selalu dikotom, daunnya tersusun spiral (kecil-kecil) yang disebut mikrofil. Spora dihasilkan oleh sporangium yang terdapat pada sporofil dan tersusun membentuk strobilus di puncak batang.

Laporan Akhir BTR

75

IV. HASIL PENGAMATAN 1. Paku Sayur (Nephrolepis sp) Keterangan : 1. Daun 2. Batang 3. Akar

2. Suplir (Adinatum sp) Keterangan : 1. Akar 2. Batang 3. Daun 4. Sorus

3. Paku air (Salvinia natans) Keterangan : 1. Daun 2. Batang

Laporan Akhir BTR

76

4. Paku kawat (Lycopodium cernuum) Keterangan : 1. Daun 2. Batang 3. Akar 4. Sorus

5. Davalllia denticulata (Brum) Mett Keterangan : 1. Daun 2. Batang 3. Akar 4. Sorus

Laporan Akhir BTR

77

6. Hymenolepis spicata Keterangan : a. Daun b. Akar

7. Drynaria quercifolia Keterangan : 1. Daun 2. Sorus

8. Polypodium sp Keterangan : 1. Daun 2. Akar 3. Batang

Laporan Akhir BTR

78

9. Cyclophorus sp

Keterangan : 1. Daun 2. Akar

10. Phymatosoros scolopendria Keterangan : 1. Daun 2. Batang 3. Akar 4. Sorus

Menurut Literatur : 1. Paku Sayur (Nephrolepis sp) Keterangan : 1. Daun 2. Batang

Laporan Akhir BTR

79

Sumber : http://www.google.co.id/imglanding?q=nephrolepis+sp&hl=id&client=firefo x-a&rls=org. Diakses (20 Desember 2010) 2. Suplir (Adinatum sp) Keterangan : 1. Batang 2. Daun 3. Sorus

Sumber : http://www.google.co.id/imglanding?q=adiantum+sp&hl=id&client=firefoxa&rls=org. Diakses (20 Desember 2010)

Keterangan : 1. Daun 2. Batang 3. Akar 4. Sorus

Laporan Akhir BTR

80

3. Paku air (Salvinia natans) Keterangan : 1. Daun 2. Akar

Sumber : http://www.google.co.id/imglanding?q=salvinia+natans&hl=id&client=firefoxa&rls=org. Diakses (20 Desember 2010) 4. Paku kawat (Lycopodium cernuum) Keterangan : 1. Daun 2. Batang 3. Akar 4. Sorus

Sumber : http://www.google.co.id/imglanding?q=lycopodium+cernuum&hl=id&client=f irefox-a&rls=org. Diakses (20 Desember 2010) 5. Davalllia denticulata (Brum) Mett Keterangan : 1. Daun 2. Batang 3. Akar

Laporan Akhir BTR

81

4. Sorus

6. Hymenolepis spicata Keterangan : 1. Daun 2. Akar

7. Drynaria quercifolia Keterangan : 1. Daun 2. Sorus 3. Batang 4. Akar

Sumber

http://www.google.co.id/imglanding?q=drynaria+quercifolia&hl=id&client=fir efox-a&rls=org. Diakses (20 Desember 2010)

Laporan Akhir BTR

82

8. Polypodium sp Keterangan : 1. Daun 2. Akar 3. Batang

9. Cyclophorus sp

Keterangan : 1. Daun 2. Akar

10. Phymatosoros scolopendria Keterangan : 1. Daun 2. Batang 3. Akar 4. Sorus

Laporan Akhir BTR

83

V. ANALISIS DATA 1. Salvinia natans Klasifikasi : Kingdom Divisio Classis Subcalssis Ordo Familia Genus Spesies : Plantae : Pteridophyta : Filicinae : Hydropterides : Salviniales : Salviniaceae : Salvinia : Salvinia natans

(Sumber: Tjitrosoepomo. 1989) Paku ini merupkan jenis paku air yang termasuk ke dalam suku Salviniaceae, habitatnya di air atau rawa, mengapung dengan bebas pada permukaan air. hanya sedikit bercabang-cabang. Sorusnya terkumpul pada

pangkal daun yang terendam air masing-masing berisi satu sorus dan mempunyai dinding yang homolog dengan indusium. Sporangia dibentuk dalam

sporakarpium. Tiap sporakarpia terdapat ketiak-ketiak daun atau pada daun yang tenggelam. Sporakarpium yang berisi satu sorus itu hanya mengandung makro atau mikrosporangium saja. 2. Nephrolepis cordifolia Klasifikasi : Kingdom Divisio Class Sub class : Plantae : Pteridophyta : Filicinae : Leptosporangiatae (Filices)

Laporan Akhir BTR

84

Ordo Familia Sub Familia Genus Species

: Polypodiales : Polypodiaceae : Davalieae : Nephrolepis : Nephrolepis cordifolia

(Sumber: Tjitrosoepomo. 1989) Sorus bulat atau bangun garis, pada sisi bawah daun, sepanjang tepi atau agak jauh sejajar dengan tepi itu. Indusium sesuai dengan bentuk sorus. Daun yang mati tidak terlepas dari rimpang, biasanya berbentuk panjang, relatif sempit, menyirip dan sampai lama tetap tumbuh memanjang serta mempunyai hidatoda pada sisi atas daun. Rimpang berdiri tegak dan sering ditunjang oleh akar-akar yang kadang-kadang dapat mengeluarkan cabangnya dan dapat juga dengan umbi. Spesies ini dapat ditemuka pada kawasan tepi sungai di dalam hutan primer. 3. Adiantum cuneatum Klasifikasi : Kingdom Divisio Class Sub class Ordo Familia Sub Familia Genus Species : Plantae : Pteridophyta : Filicinae : Leptosporangiatae (Filices) : Polypodiales : Polypodiaceae : Pterideae : Adiantum : Adiantum cuneatum

(Sumber: Tjitrosoepomo. 1989)

Laporan Akhir BTR

85

Sorus terletak pada tepi daun, sorusnya berbentuk bangun ginjal., jorong atau bangun garis yang terletak pada bagian tepi yang terlipat dan dapat berfungsi sebagai indusium untuk menutup sporangium (kotak spora). Tangkai daun dan poros-poros daun hitam coklat dan mengkilat. Sporangia tertancap pada helaian daun yang sesungguhnya. Daun majemuknya berbentuk macam-macam dan sering kali menyirip ganda sampai beberapa kali lipat dengan urat-urat daun yang bebas.

4. Lycopodium scandens Klasifikasi : Kingdom Divisio Classis Ordo Familia Genus Species : Plantae : Pterydopyta : Lycopodiinae : Lycopodiales : Polypodiaceae : Lycopodium : Lycopodium scandens

Sumber (Gembong.Tjitrosoepomo ; 1984) Batang mempunyai berkas pengangkut yang masih sederhana, tumbuh tegak atau berbaring dengan cabang-cabang yang menjulang ke atas. Daun-daun berambut berbentuk garis atau jarum, yang dianggap homolog dengan mikrofil Psilophytinae dan hanya mempunyai satu tulang yang tidak bercabang. Mesofil masih sederhana, hanya beberapa jenis saja yang telah memperlihatkan diferensiasi dalam jaringan tiang dan jaringan bunga karang. Akar biasanya bercabang-cabang menggarpu.

Laporan Akhir BTR

86

5. Cycloporus nummularifolius Klasifikasi : Kingdom Divisio Class Sub class Ordo Familia Sub Familia Genus Species (Sumber : Plantae : Pteridophyta : Filicinae : Leptosporangiatae (Filices) : Polypodiales : Polypodiaceae : Polypodieae : Cycloporus : Cycloporus nummularifolius : Tjitrosoepomo. 1989)

Sorus bulat yang meliputi sisi bagian bawah dan atas daun atau seluruh daun tanpa indusium. Daun yang mati lepas dari rimpang, tunggal, bulat, sampai bentuk lanset yang muda dan penuh dengan rambut-rambut bintang. Urat-urat daun saling mendekat dan sukar diamati. Habitatnya pada batu-batu yang basah. 6. Polypodium sp. Klasifikasi : Kingdom Divisio Classis Ordo Familia Genus Species : Plantae : Pterydopyta : Filicinae : Filicales : Polypodiaceae : Polypodium : Polypodium sp

Laporan Akhir BTR

87

Sumber (Gembong.Tjitrosoepomo ; 1984) Paku ini merupkan jenis paku yang termasuk ke dalam suku Polypodiaceae. Polypodium sp. memiliki sorus yang terletak pada pada sisi bawah daun, berbaris atau tidak beraturan, tanpa indusium, bulat, memanjang, berbentuk garis atau tidak teratur bentuknya, kadang terbenam pada suatu cekungan. Habitatnya beraneka ragam dan tersebar di mana-mana.

7.Drynaria quercifolia Klasifikasi : Kingdom :Plantae

Subkingdom :Tracheobionta Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies (Sumber :Pteridophyta :Pteridopsida :Polypoditae :Polypodiales :Polypodiaceae : Drynaria : Drynaria quercifolia : Tjitrosoepomo. 1989)

Sorus bulat yang meliputi sisi bagian bawah dan atas daun atau seluruh daun tanpa indusium. Daun yang mati lepas dari rimpang, tunggal, bulat, sampai bentuk lanset yang muda dan penuh dengan rambut-rambut bintang. Urat-urat daun saling mendekat dan sukar diamati.

Laporan Akhir BTR

88

8.Davallia denticulate Klasifikasi Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies (Sumber : Pteridophyta : Pteridopsida : Polypoditae : Polypodiales : Polypodiaceae : Davallia : Davallia denticulate : Tjitrosoepomo. 1989)

Davallia denticulata memiliki daun berbentuk bulat memanjang dengan urat-urat yang bebas, susunan daunnya menyirip. Sorus pada sisi bawah daun di kanan kiri dan sejajar dengan ibu tulang daun, panjang bentuk garis, tanpa indusium. 9.Phymatosorus scolopendria Klasifikasi Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Species (Sumber : Pteridophyta : Pteridopsida : Polypoditae : Polypodiales : Polypodiaceae : Phymatosorus : Phymatosorus scolpendria : Tjitrosoepomo. 1989)

Laporan Akhir BTR

89

Batang mempunyai berkas pengangkut yang masih sederhana, tumbuh tegak atau berbaring dengan cabang-cabang yang menjulang ke atas. Mesofil masih sederhana, memperlihatkan diferensiasi dalam jaringan tiang dan jaringan bunga karang. Bagian-bagian batang yang berdiri tegak. 10.Hymenolepis spicata Klasifikasi Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Species (Sumber : Pteridophyta : Pteridopsida : Polypoditae : Polypodiales : Polypodiaceae : Hymenolepis : Hymenolepi spicatas : Tjitrosoepomo. 1989)

Tangkai daun dan poros-poros daun hitam coklat dan mengkilat. Sporangia tertancap pada helaian daun yang sesungguhnya. Daun majemuknya berbentuk macam-macam dan sering kali menyirip ganda sampai beberapa kali lipat dengan urat-urat daun yang bebas.

Laporan Akhir BTR

90

VI. KESIMPULAN 1. Tumbuhan paku adalah tumbuhan kormus yang menghasilkan spora yang sudah dapat dibedakan antara akar, batang dan daun. 2. Ciri-ciri umum tumbuhan paku, yaitu : Memiliki susunan daun yang umumnya membentuk bangun sayap (menyirip), Mempunyai klorofil (zat hijau daun), Habitatnya bermacam-macam, kebanyakan sebagai tumbuhan darat dan ada beberapa sebagai paku air, Cara hidupnya adalah saprofit dan epifit, dan Berdasarkan sifat sporanya dapat dibedakan dalam yang isospor, yang heterospor dan yang berbentuk peralihan. 3. Paku-paku yang diamati pada praktikum ini, yaitu : Salvinia natans, Nephrolepis cordifolia, Adiantum cuneatum, Lycopodium scandens,

3.

Cycloporus nummularifolius, Polypodium sp., Drynaria quercifolia,Devallia denticulata, Phymatosorus scolopendria, dan Hymenolepis spicata.$ 4. Fase gametofit pada tumbuhan paku masih membentuk thallus yang protalium dan sangat kecil bentuknya sehingga tidak mudah terlihat, sedangkan fase sporofitnya jelas terlihat yaitu yang dikenal dengan tumbuhan paku.

Laporan Akhir BTR

91