Anda di halaman 1dari 1

Hiperemesis gravidarum Hiperemesis gravidarum didefinisikan sebagai vomitus yang berlebihan atau tidak terkendali selama masa hamil,

yang menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, atau difisiensi nutrisi, dan kehilangan berat badan. Insiden kondisi ini sekitar 3,5 per 1000 kelahiran. Walaupun kebanyakan kasus ringan dan hilang seiring perjalanan waktu, satu dari setiap 1000 wanita hamil akan menjalani rawat inap. Hiperemesis gravidum umumnya sembuh dengan sendirinya (self-limiting), tetapi penyembuhan berjalan lambat dan relaps yang sering umum terjadi. Kondisi ini paling sering diantara wanita primigravida dan cenderung terjadi lagi pada kehamilan berikutnya. Factor-faktor predisposisi lain meliputi usia ibu kurang dari 20 tahun, obesitas, gestasi multijanin, dan penyakit trofoblastik (molatidahidosa) Feldman, 1989; Singer, Brandt, 1991). Etiolgi hiperemesis gravidarum masih belum diketahui. Beberapa teori penyebab hiperemesis gravidarum diajukan, tetapi tidak satupun member penjelasan yang adekuat tentang gangguan ini (Abell, Riely, 1992). Hiperemesis gravidarum dapat disebabkan kadar esterogen eterogen yang tinggi dan hipertiroidisme, yang mungkin disebabkan oleh peningkatan kadar gonadotropin korionik manusia (Chin, dkk, 1990; Goodwin Montero , Mostman, 1992). Faktor-faktor psikologis dapat merupakan penyebab hiperemesi gravidarum. Ambivalen terhadap kehamilan dan perasaan yang saling berkonflik tentang peran di masa depan sebagai ibu, perubahan tubuh dan perubahan gaya hidup dapat menjadi penyebab episode vomitus. Wanita yang pola reaksi normalnya terhadap stress mencakup gangguan pencernaan sering kali mengalami hiperemitus gravidarum. Namun, pada beberapa wanita sebab-sebab psikologis tidak dapat diidentivikasi. Pada kasus-kasus hiperemesis gravidarum yang ekstrem, vomitus yang persisten menyebabkan penurunan berat badan dan dehidrasi yang menyebabkan ketidakseimbangan elektrolit dan cairan. Dehidrasi menyebabkan hipovolemia, yang dimanifestasikan sebagai hipotensi, takikardia, peningkatan hematokrit dan BUN, serta penurunan haluaran urin. Vomitus menyebabkan penurunan cairan asam lambung juga kandungan alkaline dari bagian saluran cerna yang lebih dalam. Hal ini menyebabkan terjadinya asidosis metabolic. Penurunan nutrisi ibu yang ekstrem atau kelaparan menyebabkan hipoproteinemia dan hipovitaminesis. Ikterik dan hemoragi akibat defisiensi vitamin C dan B-Kompleks menyebabkan perdarahan dari permukaan mukosa. Pada kasus-kasus ekstrem ini, embrio dan janin dapat mati dan ibu dapat meninggal akibat perubahan metabolic yang menetap (irreversible). Penatalaksanaan konservatif pada wanita yang mengalami hiperemesis gravidarum meliputi upaya hidrasi intravena, pemberian suplemen vitamin, sedasi, pemberian antiemetic dan pada beberapa kasus tindakan psikoterapi. Untuk beberapa kasus yang lebih berat, nutrisi enteral atau parenteral dibutuhkan untuk mengoreksi penurunan nutrisi maternal (Charlin, 1993).