Anda di halaman 1dari 15

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Lobster (Spiny lobster) merupakan salah satu komoditas perikanan perairan karang yang mempunya nilai ekonomis penting. Pada beberapa tahun terakhir permintaan pasar baik lokal maupun ekspor relatif tinggi. Produksi lobster di Indonesia, pada tahun 1998, masih tergolong rendah. Data statistik menunjukkan produksi lobster di selatan Jawa pada tahun 1998 baru dimanfaatkan sekitar 710 ton dengan tingkat pemanfaatan 44,38 % (Aziz et al., 1998). Usaha penangkapan lobster yang belum optimal ini, menurut Moosa dan Aswandy (1984) diperkirakan karena kurangnya informasi tentang potensi lobster di suatu perairan. Namun dalam kurun waktu 10 tahun, hasil tangkapan lobster diduga sudah mulai mengalami penurunan.

Lobster dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain substrat, suhu, salinitas, cahaya dan kekeruhan. Herrnkind (1980) dalam Cobb and Phillips (1980) menyebutkan bahwa faktor cahaya sangat mempengaruhi kehidupan lobster. Hal ini disebabkan oleh sifat nokturnal lobster itu sendiri sehingga aktifitas lobster dimulai sebelum matahari terbenam, semakin meningkat dan pada akhirnya aktifitas tersebut akan menurun menjelang matahari terbit.

Selain itu, Able (1980)menyatakan bahwa sebagian besar hewan air memanfaatkan bulan sebagai acuan untuk melakukan aktifitas ruaya secara vertikal atau horizontal maupun aktifitas yang lain. Lobster seperti hewan air lainnya dalam aktifitasnya banyak dipengaruhi oleh adanya perubahan fase bulan. Walaupun Herrkind (1980) dalam penelitiannya di perairan Atlantik Utara memperoleh data yang menunjukkan bahwa tingkat cahaya pada bulan purnama (pada permukaan) mengakibatkan tekanan yang berarti bagi aktifitas Panulirus argus.

Upaya pemanfaatan sumber daya ikan dilakukan dengan menggunakan berbagai tingkatan teknologi, baik teknologi tingkat tinggi (moderen), tingkat madya dan tradisional. Pemanfaatansumber daya ikan yang dilakukan masyarakat nelayan kebanyakan dilakukan diperairan pantai dan didominasi oleh kegiatan perikanan tangkap skala kecil yang sangat besar dalam jumlah unit penangkapan dan jumlah nelayan.

Kegiatan Perikanan tangkap skala kecil cenderung statis dalam upaya pengembangan teknologi yang digunakan. Kondisi ini akan mempengaruhi produktivitas usaha yang dijalankan, seperti menurunnya hasil tangkapan per upaya penangkapan, kualitas hasil tangkapan dan nilai jual yang rendah, sehingga secara keseluruhan dapat mengurangi keragaan usaha yang dilakukannya.

Perairan pacitan merupakan perairan yang sebagian besar memiliki ombak cukup besar dan dasar batu berkarang. Perairan yang memiliki substrat demikian sangat disenangi lobster untuk pertumbuhannya. Selain kondisi oseanografisnya seperti ombak yang besar serta perairan yang jernih sangat mendukung kelangsungan hidup lobster terutama pada saat pertumbuhan

1.2.

Tujuan Penelitian

Kajian ini memiliki tujuan untuk:

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Lobster

2.1.1. Biologi Lobster Lobster panulirud yang disebut juga udang karang atau udang barong termasuk jenis udang besar dan mudah dibedakan dengan udang-udag yang lain. Hampir seluruh tubuhnya diselubungi dengan kerangka kulit yang keras dan ber zat kapur berduri-duri tajam. Sungutnya tumbuh sempurna dengan sungut kedua melebihi panjang tubuhnya (Ditjen Perikanan, 1989).

Klasifikasi Udang karang (Abele, 1982) adalah sebagai berikut: Phylum : Arthropoda : : Mandibulata Crustacea

Subphylum Superkelas Kelas :

Malacostraca

Sub kelas : Superordo : Ordo :

Eumalacostraca Eucarida Decapoda Pleocymata Palinura : Palinuroidea

Sub ordo : Infra ordo : Super famili Famili Genus Spesies : : :

Palinuridae Panulirus Panulirus spp

2.1.2 Reproduksi dan daur Hidup Lobster Lobster dari genus Panulirus mempunyai daur hidup yang amat kompleks. Telur yang dibuahi menetas menjadi burayak dengan beberapa macam tingkatan yang berbeda-beda pada tiap jenis. Pengetahuan tentang tingkatan-tingkatan burayak masih sangat kurang terutama terhadap jenisjenis yang hidup di perairan tropik. Lamanya waktu yang dijalani oleh tiap jenis dalam daur hidupnya berbeda-beda. Umumnya jenis-jenis yang hidup di perairan tropik mempunya daur hidup dengan waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan jenis-jenis yang hidup di perairan sub tropik (Moosa dan Aswandy, 1984). Biasanya lobster keluar dari tempat tinggalnya ke perairan yang dalam untuk bertelur atau kawin. Pembuahan lobster secara eksternal, dimulai setelah lobster betina melakukan moulting. Menurut Subani (1984), proses yang terjadi yaitu: lobster jantan meletakkan cairan kental dari liang kelamin (liang sperma) pada lubang peneluran betina. Kemudian cairan tersebut mengeras membentuk semacam kantong sperma. Setelah kejadian tersebut, lobster betina mulai mengeluarkan butir-butir telur yang berwujud cairan kental kemudian melekat pada kaki-kaki renangnya. Selanjutnya, lobster betina merobek kantong sperma dengan ujung kaki-jalan kelima yang berupa capit semu (Pseudo claw), dan dengan demikian terjadi pembuahan. Menurut Nontji (1987), jumlah telur yang dihasilkan tiap ekor lobster betina bisa mencapai lebih dari 400.000 butir. Lobster membawa telur yang telah dibuahi selama kira-kira 20 hari. Telur menetas menjadi burayak dan kemudian masuk pada stadium berikutnya yang disebut phyllosoma. Larva phyllosoma menyukai cahaya dan hidup bergerombol di dekat permukaan air. Bentuk larva phyllosoma sangat berbeda degan bentuk dewasanya, yaitu pipih seperti daun, sehingga mudah terbawa arus.

Siklus hidup lobster terdiri dari 5 fase yaitu mulai dari dewasa yang memproduksi sperma atau telur, menetas menjadi filosoma (larva), kemudian berubah menjadi puerulus (post larva), tumbuh menjadi juvenil dan dewasa (Phillips et el. 1980). Marga Panulirus mempunyai daur hidup yang majemuk, pengetahuan tentang tingkatan hidup larva masih sangat kurang terutama terhadap jenis-jenis yang hidup di perairan tropik (Romimohtarto dan Juwana, 2005). Menurut Ditjen Perikanan (1992), larva lobster yang dilepaskan di daerah continental shelf akan terbawa arus samudra sampai sejauh 1.500 km. Setelah melawati stadium phyllosoma, pertumbuhan berikutnya menjadi stadium puerulus. Bentuknya menyerupai lobster dewasa, namun berzat kapur. Puerulus sudah mulai aktif berenang dan terbawa arus laut menuju ke daerah pembesaran (weed bed) pada perairan dangkal (Subani, 1977). Berdasarkan penelitian Mossa dan Aswandy (1984), lama kehidupan sebagai puerulus diperkirakan 10-14 hari dan mencapai ukuran kira-kira 5-7 cm. Pada stadium dewasa, lobster mempunyai ukuran total lebih dari 20 cm dan sering berganti kulit (Molting) karena proses pertumbuhannya. lama proses moulting sekitar 15 menit. Pergantian kulit biasanya terjadi pada malam hari di dalam goa=goa karang yang terlindung (Purnomo, 1988). Subani (1984) menyatakan bahwa pergantian kulit lobster dewasa (matang telur dan memijah) terjadi sekitar 4 -5 bulan sekali. Sedangkan lobster muda sering mengalami moulting sebanyak 14-17 kali selama satu tahun. Lobster jantan lebih sering melakukan moulting daripada betina. Literatur resmi FAO (1991), menyebutkan bahwa panjang baku maksimum Panulirus homarus dapat mencapai 31 cm, panjang karapas 12 cm, rata-rata panjang total antara 20-25cm. Panjang baku panulirus longipes dapat mencapai 20-25 cm, panjang karapas maksimum 12 cm dengan ratarata 8-10 cm. panulirus ornatus merupakan yang terbesar, dapat mencapai panjang baku 50 cm, tetapi pada uuumnya 30-35 cm. Panulirus polyphagus dapat mencapai panjang baku 40 cm, umumnya mencapai 20-25 cm. panulirus penicillatus dapat mencapai panjang baku maksimum 40 cm tetapi rata-rata panjang baku dewasa 30 cm. panulirus versicolor dapat mencapai panjang baku 40 cm tetapi rata-rata yang dicapai pada umumnya kurang dari 30 cm.

Lobster berukuran benih atau komsumsi merupakan komoditas perikanan yang bernilai ekonomi penting, masih berasal dari penangkapan di laut. Eksploitasi lobster kurang terkendali atau tangkap lebih telah menyebabkan penurunan produktivitas sumberdaya perairan (Chubb, 2000), dan sebagai sumberdaya yang dapat diperbaharui (Kittaka dan Booth, 2000). Kelestarian dan produksi dapat ditingkatkan dengan pengelolaan yang taat pada asas keberlanjutan dengan memberi kesempatan induk memijah, menjaga jumlah minimal induk di setiap area dan memperbaiki habitat. Tetapi hal tersebut sulit diwujudkan karena keterbatasan dalam pengontrolan eksploitasi dan pertumbuhan lobster relatif lambat.. Lobster laut sangat beragam jenisnya dan mempunyai spesifikasi perkembangan dan tabiat hidup berbeda. Salah satu jenis lobster yang potensial adalah lobster mutiara (Panulirus ornatus), hidup di perairan IndoPasifik, daerah lintang rendah (Phillips et al., 1980). Jenis lobster tersebut pertumbuhannya paling tinggi jika dibandingkan dengan lobster tropis lainnya seperi P. versicolor, P. homarus dan P. polyphagus (Vijayakumaran dan Radhakrishnan, 1997), di alam dapat ditemukan bobot badan 4,2 kg/ekor (Yusnaini et al., 2006), bahkan dapat mencapai ukuran 6,5 kg/ekor, puerulus (3-5 g) dapat mencapai 300 g dalam waktu setahun (Tam, 1980).

2.1.3 Penyebaran Lobster di Indonesia Udang hasil tangkapan di laut perairan Indonesia terdiri dari beberapa jenis udang, termasuk udang penaeid. Menurut Dall et al. ( 1990) jenis udang penaeid yang ada di perairan Indonesia termasuk jenis udang penaeid Sub-region Indo-Malaysian pada region Indo-West Pacific yang

jumlahnya sebanyak 85 species. Jenis udang yang terdapat di Indonesia menurut Naamin et al. (1992) sebanyak 83 jenis udang dan salah satu di antaranya adalah lobster yang banyak tertangkap di perairan Indonesia. Daerah penyebaran udang, termasuk lobster di perairan Indonesia menurut Naamin (1979) adalah di perairan sepanjang pantai barat Sumatera, Selat Malaka, pantai timur Sumatera, pantai utara Jawa, pantai selatan Jawa, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, Teluk Bintuni, Kepulauan Aru dan Laut Arafura. Penyebaran udang di perairan selatan Jawa menurut Naamin dan Sudrajat (1973) adalah di perairan sepanjang pantai dari Pengandaran (Ciamis Jawa Barat), Teluk Penyu Cilacap dan Karang Bolong Gombong (Jawa Tengah) sampai Selatan Yogyakarta dan Pacitan (Jawa Timur).

2.1.4 Jenis kelamin Lobster

Jenis kelamin lobster bisa ditentukan dengan mudah secara morfologis. Pada udang betina, pada dasar kaki jalan yang ketiga terdapat lubang peneluran. Selain itu sepasang kaki jalannya yang kelima memiliki capit semu (Pseudo claw). Guna capit semu adalah untuk menyobek kantung sperma pada waktu pemijahan. kaki renangnya terdiri dari dua lembar daun, dimana lembaran sisi luar (outer branch) lebih lebar dari lembaran sisi dalam (inner branch). Lembaran sisi dalam ini bercagak dua dan berbulu-bulu panjang. kegunaannya adalah sebagai tepat menempel telur sebelum menetas menjadi larva.

Pada lobster jantan, ujung kaki jalannya (periopod) semua hanya terdapat kuku runcing. kaki renangnya hanya ada satu lembar daun saja, sedangkan lembaran kedua sama sekali tidak tumbuh (gereduceerd). Pada pangkal kaki kelima terdapat seperti tinjolan lipatan kulit liang kelamin (liang sperma), yaitu tempat dimana sperma nantinya dapat dikeluarkan pada waktu pemijahan (Subani, 1971).

2.1.5 Tingkah laku Lobster


Lobster merupakan binatang yang secara periodik tiap hari berlindung pada waktu tidak aktif. Tempat berlindungnya antara lain karang, kumpulan rumput laut atau pada celah-celah dalam substrat lembut (Khanker, 1964 dalam Cobb and Phillips, 1980). Selain substrat, faktor lingkungan lain yang mempengaruhi hidup lobster adalah suhu, salinitas, cahaya dan kekeruhan (Herrnkind, 1980 dalam Cobb and Phillips, 1980).

Lobster hidup dalam air yang memiliki kisaran suhu sekitar 11-29C. Suhu optimum untuk bertumbuh dan bertahan hidup sekitar 25-28 C, tergantung jenis spesiesnya. Pada suhu 30 C atau lebih akan mengakibatkan gangguan bagi lobster dalam perkembangannya.

Hampir sepanjang hidupnya, lobster memilih tempat di batu-batu karang, baik yang masih hidup maupun yang telah mati, di sepanjang pantai atau di teluk-teluk (Subani, 1983). Lobster mempunyai pola kebiasaan hidup pada malam hari, yaitu keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Sedangkan pada siang hari lobster bersembunyi diantara batu karang. Karena lobster tidak aktif bergerak mencari makan, makanannya pun terdiri dari binatang-binatang yang hidupnya menetap pada dasar perairan di sekitarnya, seperti sebangsa keong-keongan, kerang-kerangan, sebangsa bulu babi, teripang (ketimun laut), bangkai ikan, moluska dan lain-lain (Ditjen Perikanan, 1992).

Aktifitas nokturnal lobster dimulai beberapa jam sebelum matahari tenggelam dan aktifitas semakin meningkat pada saat gelap. Selanjutnya aktifitas semakin berkurang setelah beberapa jam dari matahari terbit (Herrnkid, 1980 dalam Cobb and Phillips, 1980).

Selain itu Herrnkind (1980) juga menyebutkan bahwa tingkat cahaya pada bulan penuh (purnama) mengakibatkan tekanan yang berarti bagi aktifitas Panulirus. Dalam penelitiannya menunjukkan bahwa rata-rata hasil tangkapan mencapai minimal pada saat blan penuh dan setengah penuh dan mencapai maksimal pada saat bulan baru.

2.2 Jenis dan Kelimpahan Lobster

Hasil penelitian yang dilakukan LON/P3O menunjukkan bahwa dari sebelas jenis lobster yang ada di perairan Indo-pasifik barat, enam diantaranya terdapat di Indonesia, yaitu panulirus homarus, Panulirus penicillatus, panulirus longipes, Panulirus polyphagus, Panulirus versicolor, dan Panulirus ornatus. Sedangkan pada waktu penelitian, jenis panulirus polyphagus tidak ditemukan di daerah penelitian.

Penelitian krustasea dalam pengumpulannya mencapai 95 jenis dari daerah-daerah sepanjang pantai Utara maupun Selatan pulau Jawa. Jenis udang karang yang bernilai ekonomik, terbanyak diketemukan di Teluk Sentoro/Pacitan/Jawa Timur yang ke-seluruhannya berjumlah 8 jenis yaitu Panulirus Homarus, P. Pennicillatus, P. Longipa, P. Ornatus, P. Versocolor dan P. Modo.

Adapun ciri-ciri masing-masing jenis spiny lobster yang ditemukan pada waktu penelitian disajikan pada tabel berikut.

Tabel Jenis Lobster dan ciri-cirinya

Nama latin
P homarus

Nama daerah
Lobster Hijau

Ciri-ciri Jenis
Punggung/abdomen berwarna kehijauan atau kecoklatan dengan bintik-bintik terang tersebar di seluruh permukaan segmen perut, antena berwarna coklat gelap, kumis belang hitam-putih atau coklat tua. kaki bercak-bercak putih Punggung/abdomen berwarna hijau kehitaman. Pejantan biasanya memiliki corak warna lebih gelap daripada betinanya. Pada bagian perut terdapat bintik yang tidak begitu jelas. Pada kaki jalannya terdapat sejumlah garis putih memanjang pada tiap-tiap ruas kaki. Kepalanya besar, termasuk jenis ganas, kanibalisme tinggi. Jenis yang bagus terdapat garis coklat di tubuhnya. Punggung/abdomen berwarna dasar merah coklat gelap sampai cerah atau kemerahan, dengan bintik putih menyebar di seluruh permukaan tubuh. Kumis belang hitam putih. Punggung/abdomen berwarna biru kehijauan sampai biru kekuningan. Rua-ruas pada perut berwarna kegelapan pada bagia tengah, sedangan bagian sisinya mempunyai bercak putih. Punggung/abdomen berwarna dasar hijau terang dengan garis putih melintang yang diapit garis hitam. Pada lobster yag masih muda warna dasarnya kebiruan. Antena berwarna merah jambu di bagian pangkalnya dan warna yag serupa juga terlihat pada sisi bagian kepala.

P. penicillatus

Lobster batu / Hitam

P longipes

Lobster merah

P ornatus

Lobster mutiara

P versicolor

Lobster batik

Sumber: Ijah Muljanah (1994) dan Hardhono (1989)

Sedangkan penyebaran masing-masing jenis lobster tersebut Indonesia menurut Ditjen Perikanan (1989) adalah sebagai berikut:

di

a.

Panulirus homarus : Hidup di perairan yang dangkal sampai


kedalaman beberapa belas meter dan tinggal di lubang-lubang batuan. Hidup dalam kelompok yang bisa berjumlah banyak. Spesies ini banyak ditemukan pada daerah yang berombak besar karena jenis ini toleran terhadap gelombang dan pergolakan air/turbulensi (Cobbs and Phillips, 1980). Selain itu, distribusi P homarus berkorelasi dengan penyebaran makanan utama mereka yakni remis Perra perra. Di Indonesia banyak ditemukan di perairan Aceh, Sumatera Barat, selatan dan barat Jawa barat, Selatan Jawa, perairan Sulawesi Selatan dan Ambon.

b.

Panulirus penicillatus : Hidup di perairan dangkal di sebelah


luar terumbu karang, yaitu bagian yang selalu menerima hempasan ombak keras. Di Indonesia banyak ditemukan di pantai barat Sumatera, selatan Jawa, perairan timur Flores, utara Timor dan perairan Sulawesi Utara.

c.

Panulirus longipes : Cobbs dan Phillips (1980) berpendapat


bahwa jenis ini dapat ditemukan di berbagai habitat, mulai dari perairan dengan zona karang yang jernih (>18 meter) sampai perairan dangkal keruh ( 1 meter). Namun demikian, habitat yang disukai jenis ini adalah perairan dalam dekat tubir. Di Indonesia banyak ditemukan di perairan Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Ambon, pangandaran dan selatan Madura.

d.

Panulirus versicolor: Hidup pada perairan terumbu karang


sampai kedalaman beberapa meter. Biasanya mendiami tempattempat yang terlindung diantara batu-batu karang dan jarang terdapat dalam kelompok yang berjumlah banyak.Jenis ini menghindari kondisi habitat yang mengalami Turbulensi maupun arus tidal yang kuat (Cobbs and Phillips, 1980). Di Indonesia banyak terdapat di perairan barat Sumatra, Selatan jawa, perairan Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Sulewesi Utara, halmahera, dan lainnya.

e.

Panulirus ornatus : Hidup di perairan batuan atau terumbu karang yang agak dangkal (1-4 meter) dan juga ditemukan pada perairan yang dasarnya berlumpur, mengalami turbulensi dan airnya keruh.

2.3 Alat Tangkap Lobster


Lobster merupakan binatang yang secara periodik tiap hari berlindung pada waktu tidak aktif. Tempat berlindungnya antara lain karang, kumpulan rumput laut atau pada celah-celah batu. Operasi penangkapan lobster dilakukan di perairanpantai dengan teknologi dan cara penangkapan yang bervariasi. Penangkapan lobster yang dilakukan oleh nelayan termasuk dalam kegiatan perikanan tangkap skala kecil. Moosa dan Aswandy (1984) menyatakan bahwa penangkapan lobster pada umumnya masih menggunakan cara yang sederhana dan merupakan usaha sampingan. Menurut Sondita (1992), alat tangkap yang banyak digunakan untuk penangkapan lobster meskipun setelah penangkapan jaring sering sobek dan rusak diakibatkan karena jaring tersangkut pada karang. Seringkali jaring baru hanya digunakan sekali saja. Oleh karena itu, nelayan memanfaatkan jaring bekas, dengan atau tanpa modifikasi, sehingga banyak jenis jaring yang digunakan. Jenis alat tangkap yang kebanyakan digunakan adalah perangkap jaring yang disebut dengan jaring gilnetdasar monofilamen (sirang), perangkap krendet (jodang) dan perangkap bubu (pot) yang belum berkembang secara luas di Indonesia. Alat tangkap tersebut menggunakan berbagai jenis umpan sebagai bahan atraktor untuk keberhasilan memperoleh hasil tangkapan lobster. Alat tangkap perangkap yang digunakan untuk menangkap lobster bersifat pasif dan proses tertangkapnya lobster akan mempengaruhi kualitas hasil tangkapannya. Kondisi lobster yang tertangkap dengan perangkap jaring gillnet dasar monofilamen dan perangkap krendet adalah terperangkap dan terbelit oleh jaring. Selama proses terperangkap, lobster akan berusaha untuk melepaskan diri dan hal ini dapat menyebabkan kondisi lobster tidak lengkap karena dapat saja terjadi bahwa ada bagian dari anggota tubuhnya yang terputus atau kondisi lobster sudah tidak utuh lagi. Alattangkap tersebut tidak memiliki fungsi pelindung bagi lobster saat terperangkap pada alat tangkap terhadap predator yang memangsanya.

2.4 Musim penangkapan Lobster


Musim penangkapan lobster biasanya jatuh bersamaan dengan musim penangkapan ikan. Namun untuk lobster dikenal ada dua siklus musim, yaitu siklus musim lima tahunan dan siklus musim tahunan (Muljanah, 1994). Musim lobster siklus lima tahunan merupakan musim besar yang terjadi setiap 4-5 tahun sekali. Siklus ini pernah dialami pada tahun 1986 yang

diikuti tahun 1991 dan 1996, dan diperkirakan tahun 2001. Pada musim besar yang tertangkap sangat banyak dan berlangsung tiap bulan sepanjang tahun. Musim lobster tahunan berlangsung sekitar 6 bulan per tahun. Biasanya berlangsung antara bulan Juli - Desember bahkan sampai bulan januari yag biasanya bersamaan dengan musim hujan. Musim puncak berlangsung bulan Agustus - September, sedangkan januari sampai dengan April atau Mei terjadi musim paceklik, biasanya pada musim paceklik ombak besar sehingga nelayan sulit melaut.

2.5 Pemanfaatan Lobster


Pemanfaatan lobster hasil tangkapan dapat dalam kedaan hidup atau mati. Untuk lobster yang masih hidup biasanya dijual ke pengumpul untuk selanjutnya dikirim keluar daerah dan diekspor. Sementara lobster yang mati digunakan untuk kebutuhan konsumsi lokal. harga lobster mati jauh lebih rendah dibandingkan lobster hidup (Muljanah, 1994).

PERIKAN AN LOBSTER

UPAYA PENGEMBANGAN PELUANG - Sumber daya lobster cukup besar - Harga lobster cukup tinggi - Pasar sangat terbuka (lokal/ekspor) - Teknologi alat tangkap dan pembudidayaan mulai berkembang

PERIKANAN SKALA KECIL KENDALA Kurangnya pertimbangan aspek efisiensi dan efektivitas kegiatan tangkap - Permintaan ekspor tidak pernah terpenuhi karena hasil tangkapan yang kurang - Ukuran lobster yang tertangkap kebanyakan dibawah ukuran konsumsi - Lobster hasil tangkapan dapat saja dalam kondisi ada anggota tubuh yang terputus atau cacat

KAJIAN

Mekanisme Produksi Lobster secara Berkelanjutan

2.6 Permasalahan pemanfaatan Lobster


Pemanfaatan lobster hasil tangkapan dapat dalam kedaan hidup atau mati. Untuk lobster 2.6.1. Belum ada pengaturan paerah penangkapan. Pada umumnya daerah penelitian udang penaeid di perairan Pacitan dan sekitarnya tersebut sebagaimana pada Tabel 1 diatas adalah perairan Pacitan dan sekitarnya tanpa dibedakan antara perairan Pacitan dan sekitarnya bagian barat dengan perairan Pacitan dan sekitarnya bagian timur. Perbedaan daerah penyebaran dan daerah penangkapan dalam evaluasi pemanfaatan sumber daya udang tersebut diatas dikarenakan belum adanya persamaan persepsi para peneliti untuk perairan tersebut sehingga hasil evaluasinya berbeda diantara penelitipeneliti tersebut. Untuk itu perlu diseragamkan perbedaan persepsi daerah penyebaran dan daerah penangkapan lobster di perairan tersebut untuk mendapatkan hasil evaluasi yang sesuai dengan situasi di lapangan. 2.6.2. Pengembangan upaya penangkapan yang terkendali Untuk pengembangan pemanfaatan udang, termasuk Lobster di perairan Pacitan dan sekitarnya perlu dilakukan secara hati -hati agar tidak melampui daya dukung perairan (MSY) dan upaya penangkapan yang optimum sehingga kelestarian sumber daya udang dapat terpelihara dan pada akhirnya akan terjadi kesinambungan usaha untuk waktu yang akan datang. Untuk itu diperlukan upaya pengelolaan sumber daya udang yang disesuaikan dengan situasi perkembangan pemanfaatannya dan kondisi lingkungan perairan. Diharapkan pengelolaan tersebut dapat diaplikasikan di lapangan dan dapat dimengerti semua pihak yang berkepentingan terhadap pemanfaatan sumber daya udang tersebut, terutama para nelayan yang menangkap udang di perairan Pacitan dan sekitarnya. 2.6.3. Periode waktu evaluasi pemanfaatan tidak sesuai dengan daur hidup udang lobster. Untuk kegiatan evaluasi sumber daya perikanan sebaiknya dilakukan sesuai dengan periode waktu daur hidup sumber daya perikanan tersebut, termasuk sumber daya udang. Untuk daur hidup udang di daerah tropis menurut Dall et al. (1990) diperkirakan hanya 1 -2 tahun dan untuk jenis penaeid, termasuk udang lobster sering kali kurang dari 1,5 tahun. Sedangkan umur udang penaeid menurut Staples et al. (1981) diperkirakan relatif pendek yaitu berkisar antara 12 18 bulan dan menurut Garcia and Le Reste (1981) mengemukakan umur maksimum udang penaeid adalah 2 tahun.

Sehubungan dengan umur udang tersebut diatas, maka periode waktu kegiatan evaluasi pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya udang, termasuk data potensi sumber daya udang relatif sama dengan waktu daur hidupnya yaitu sekitar 2 tahun. Data evaluasi pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya udang yang ada sekarang berdasarkan data potensi sumber daya udang yang sudah berusia sekitar 10 tahun, sehingga sangat mendesak untuk dilakukan evaluasi lagi yang disesuaikan dengan perubahan -perubahan lingkungannya, terutama perubahan situasi pemanfaatannya.

2.6.4. Kerangka Penelitian. Didalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya udang lobster di perairan Pacitan dan sekitarnya diupayakan agar pemanfaatan sumber daya udang lobster dapat berkelanjutan sehingga pemanfaatannya disesuaikan dengan potensi sumber daya udang lobster serta upaya optimum yang diperbolehkan beroperasi di perairan tersebut. Untuk itu dalam penelitian ini akan dievaluasi dan dianalisis faktor-faktor sebagai berikut : (1) Melakukan assessment besarnya MSY sumber daya udang lobster di perairan tersebut. (2) Menentukan upaya penangkapan optimal untuk mencapai MSY sumber daya udang lobster di perairan tersebut. (3) Menentukan status pemanfaatan sumber daya udang lobster di perairan tersebut yang dilengkapi dengan strategi pengelolaannya. Sumber daya udang lobster di perairan Pacitan dan sekitarnya ini dimanfaatkan oleh para nelayan dari beberapa daerah, seperti dari Blitar, Pacitan dan Trenggalek, sehingga dalam pengembangan pemanfaatan sumber daya udang lobster yang optimum di perairan Pacitan dan sekitarnya yang berkelanjutan harus memperhatikan beberapa faktor, antara lain : (1) Situasi pemanfaatan sumber daya udang lobster di perairan Pacitan dan sekitarnya untuk masing masing daerah. (2) Pemanfaatan sumber daya udang lobster di perairan Pacitan dan sekitarnya yang optimum untuk masing-masing daerah. (3) Fasilitas sarana dan prasarana perikanan yang mendukung perkembangan kegiatan penangkapan udang lobster pada masing - masing perairan Pacitan dan sekitarnya. Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut diatas dapat digambarkan alur kerangka penelitian sebagai berikut sebagai berikut

BAHAN DAN METODE 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan selama tiga bulan dari bulan Februari sampai dengan Mei 2013, dengan mengambil lokasi di perairan Selatan Kabupaten Pacitan Jawa Timur.

3.2 Metode Pengumpulan Data. Data dan informasi pada penelitian ini dapat digolongkan menjadi data dan informasi primer serta data dan informasi skunder. Data dan Informasi primer diperoleh langsung di lapangan yaitu di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) selama bulan maret sampai bulan Mei tahun 2013 dan di laut pada saat survei laut pada tanggal 25 Mei 2013. Sedangkan data dan informasi diperoleh dari instansi terkait seperti Dinas Perikanan dan Kelautan Daerah, Pelabuhan Perikanan dan instansi terkait lainnya serta hasil penelitian yang sudah ada di Perguruan Tinggi, Balai Penelitian Perikanan Laut, LIPI dan instansi penelitian lainnya. Data dan informasi primer terdiri dari : 1) Jenis dan ukuran serta jumlah produksi lobster yang tertangkap. 2) Jenis dan ukuran alat tangkap udang; jenis dan ukuran kapal penangkapan udang serta produktivitasnya. 3) Daerah penangkapan udang dan musim penangkapan udang. 4) Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan penangkapan udang.

Data dan informasi sekunder terdiri dari : 1) Produksi udang yang tertangkap. 2) Jenis dan ukuran alat tangkap serta jenis dan ukuran kapal penangkapan udang. 3) Daerah penangkapan dan musim penangkapan udang. 4) Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan penangkapan udang. 5) Peraturan perundangan yang mengatur kegiatan pemanfaatan dan penangkapan udang.