Anda di halaman 1dari 4

ELITISME 1.

Pengertian Elitisme Menurut tokoh Elitisme mendorong sekelompok orang merasa diri memiliki status sosialpolitik yang lebih tinggi daripada orang-orang lain, terutama rakyat kebanyakan. Elitisme ini tak kalah bahayanya, menurut Soekarno, karena melalui sistem feodal yang ada ia bisa dipraktikkan oleh tokoh-tokoh pribumi terhadap rakyat negeri sendiri. Kalau dibiarkan, sikap ini tidak hanya bisa memecah-belah masyarakat terjajah, tetapi juga memungkinkan lestarinya sistem kolonial maupun sikap-sikap imperialis yang sedang mau dilawan itu. Lebih dari itu, elitisme bisa menjadi penghambat sikap-sikap demokratis dalam masyarakat modern yang dicitacitakan bagi Indonesia merdeka. Soekarno muda melihat bahwa kecenderungan elitisme itu tercermin kuat dalam struktur bahasa Jawa yang dengan pola kromo dan ngoko-nya mendukung adanya stratifikasi sosial dalam masyarakat. Untuk menunjukkan ketidaksetujuannya atas stratifikasi demikian itu, dalam rapat tahunan Jong Java di Surabaya pada bulan Februari 1921, Soekarno berpidato dalam bahasa Jawa ngoko, dengan akibat bahwa ia menimbulkan keributan dan ditegur oleh ketua panitia. Upaya Soekarno yang jauh lebih besar dalam rangka menentang elitisme dan meninggikan harkat rakyat kecil di dalam proses perjuangan kemerdekaan tentu saja adalah pencetusan gagasan marhaenisme. Bertolak dari pertemuan pribadinya dengan petani Marhaen, Soekarno merasa terpanggil untuk memberi perhatian yang lebih besar kepada kaum miskin di Indonesia, serta kepada peranan mereka dalam perjuangan melawan kolonialisme yang kapitalistik itu. Kaum Marhaen ini, sebagaimana kaum proletar dalam gagasan Karl Marx, diharapkan akan menjadi komponen utama dalam revolusi melawan kolonialisme dan dalam menciptakan suatu tatanan masyarakat baru yang lebih adil. Dalam kaitan dengan usaha mengatasi elitisme itu ditegaskan bahwa Marhaneisme menolak tiap tindak borjuisme yang, bagi Soekarno, merupakan sumber dari kepincangan yang ada dalam masyarakat. Ia berpandangan bahwa orang tidak seharusnya berpandangan rendah terhadap rakyat. Kelompok elite metropolitan yang dituju oleh tulisan Soekarno itu sebenarnya jumlahnya amat kecil, dan kebanyakan dari mereka tinggal di kotakota dengan pengaruh Eropa, seperti misalnya Bandung, Surabaya, Medan atau Jakarta. Di satu pihak, kelompok elite ini mempunyai komitmen yang tinggi terhadap kemerdekaan Indonesia serta telah berpikir dalam rangka identitas nasional dan tidak lagi dalam rangka identitas regional seperti generasi pendahulunya. Di lain pihak, kelompok ini tidak melihat perlunya mengadakan suatu revolusi sosial yang akan secara total mengubah sistem yang ada, dengan segala corak kolonial-kapitalisnya. Yang lebih mendesak menurut para aktivis

generasi ini adalah melengserkan elite pemerintahan kolonial asing dan menggantinya dengan elite lokal yang dalam hal ini adalah diri mereka sendiri. Dengan kata lain, mereka menghendaki adanya revolusi nasional, tetapi bukan revolusi sosial. Dalam kaitannya dengan rakyat banyak, anggota kelompok elite ini merasakan perlunya dukungan rakyat dalam perjuangan melawan pemerintah kolonial. Pada saat yang sama mereka berupaya mengikis sikap-sikap tradisional rakyat yang mereka pandang sebagai penghalang bagi langkah menuju dunia modern, yakni dunia sebagaimana tercermin dalam kaum kolonialis Barat. Sumber, Dok KOMPAS 2. Faktor Faktor Penyebab Elitisme Berdasarkan keterangan di atas, kami dapat menyimpulkan bahwa factor penyebab elitisme antara lain : a. Adanya perasaan bersaing b. Keinginan untuk dapat diperhitungkan dalam komunitasnya c. Adanya prestige yang tinggi d. Adanya suatu penghargaan pada suatu status sosial 3. Dampak yang diakibatkan dari adanya elitisme a. Dampak Positif Timbulnya suatu motivasi untuk memperbaiki status sosial Mendapatkan penghargaan akan sesuatu yang dicapai

b. Dampak Negatif Adanya kesenjangan sosial pada tiap tiap strata. Berkurangnya keadilan Terjadinya diskriminasi dalam setiap aspek

INTERAKSI SOSIAL

Proses sosial adalah pengaruh dari segi kehidupan dari yang satu ke segi kehidupan yang lainnya. Misalnya, segi kehidupan ekonomi berpengaruh pada segi kehidupan politik, segi kehidupan begitu pula berpengaruh pada segi kehidupan hukum dan demikian pula sebaliknya.. Adanya aktivitas manusia yang dapat mempengaruhi aktivitas manusialainnya itulah yang sosial. Interaksi sosial adalah faktor utama yang mengakibatkan terjadinya aktivitas sosial. Alvin dan Helen Gouldner menjelaskan "Interaksi sebagai aksi dan reaksi diantara orang2" sedangkan Koentjaraningrat menjelaskan "Terjadinya interaksi apabial suatu individu berbuat sedemikian rupa sehingga menimbulkan reaksi dari individu atau indiidu2 lainnya" disebut interaksi sosial. Dengan demikian dapat diketahui bahwa bentuk utama dari Prosses sosial adlah Interaksi

Dengan demikain yang dimaksud dengan Interaksi Sosial adalah hubungan timabal balik dari individu ke individu lainnnya.

TUGAS PRAKTIKUM SOSIOLOGI PERTANIAN Oleh: Ichwal Januraga (105040101111131)

PROGRAM STUDI AGRIBISNIS UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010