Anda di halaman 1dari 35

3

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai negara yang subur dan kaya akan sumberdaya alam. Sebagai negara dengan luas wilayah laut lebih dari 70%,Indonesia memiliki keanekaragaman hayati laut yang sangat

melimpah.Meskipun dilaut terdapat kehidupan yang sangat beragam, tetapi bisanya biota laut hanya dikelompokkan kedalam tiga kategori utama yakni: plankton, nekton, dan bentos. Pengelompokkan ini tidak ada kaitanya dengan jenis menurut klasifikasi ilmiah ,ukuran atau mereka tumbuhtumbuhan dan hewan, tetapi hanya didasarkan pada kebiasaan hidup mereka secara umum (Romimohtarto, 2001). Plankton adalah biota yang hidup mengapung,menghanyut berenang sangat lemah. Plankton terdiri dari fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton merupakan plankton yang hidupnya mirip dengan tumbuhan. Sedangkan zooplankton merupakan plankton yang hidupnya mirip dengan hewan. Plankton merupakan salah satu bagian dari Algae (ganggang). Ganggang mempunyai ciri-ciri bentuk dan ukuran yang beraneka ragam, ada yang mikroskopis, bersel satu, berbentuk benang/ pita, atau bersel banyak bebentuk lembaran (Nonjti, 2008). Dalam perairan, ganggang merupakan penyusun fitoplankton yang biasanya melayang-layang didalam air, tetapi dapat juga hidup melekat didasar perairan. Ganggang yang hidup melekat didasar perairan dinamakan bentik, sedangkan yang melayang-layang dipermukaan perairan disebut neustonik (Nonjti, 2008). Plankton tidak saja penting bagi penghidupan ikan, secara langsung maupun tidak langsung, akan tetapi penting pula bagi segala macam hewan yang hidup didalam perairan, baik air tawar, air payau, maupun air laut (Nonjti, 2006).

Romimohtarto dan Juwana (1999) menyatakan bahwa plankton merupakan biota di laut yang teramat beranekaragam dan terpadat di laut, menyusul kemudian benthos. Banyak biota laut yang di alam daur hidupnya menempuh lebih dari satu cara hidup. Pada saat mereka menjadi larva atau juwana (juvenil), mereka hidup sebagai plankton (Nonjti, 2008). Plankton mempunyai peranan yang sangat penting di dalam ekosistem bahari. Salah satunya yaitu fitoplankton yang berperan sebagai produsen primer yang dapat mensuplai kebutuhan zat organik di laut, dan zooplankton yang berfungsi sebagai konsumen primer yang menghubungkan produser primer dengan tingkat pakan yang lebih tinggi yaitu hewan-hewan besar (Arinardi, dkk, 1997). Masih banyak manfaat plankton selain yang disebutkan di atas antara lain sebagai penangan limbah, sebagai bahan makanan, sebagai indeks kesuburan, dll. Selain bermanfaat plankton juga dapat merugikan baik bagi manusia maupun bagi biota lainnya, misalnya adanya red tide oleh beberapa jenis plankton yang sangat membahayakan (Arinardi, dkk, 1997). Oleh karena beragamnya jenis planton baik fitoplankton maupun zooplankton, perlu dipelajari berbagai jenis plankton pada berbagai macam perairan atau habitatnya. Karena planktonologi merupakan basio-

pengetahuan dalam Biologi-Perikanan, Limnologi, dan Marine-Biologi (Nyabbaken, 1992).

1.2. Tujuan dan Manfaat Praktikum Praktikum ini bertujuan agar : 1. Mahasiswa dapat mengetahui definisi dan terminologi Fitoplankton 2. Mahasiswa dapat dapat memahami peran fitoplankton dalam produktifitas primer.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Plankton 2.1.1 Pengertian Plankton adalah suatu organisme yang berukuran kecil yang hidupnya terombang ambing oleh arus air. Mereka terdiri dari makhluk hidup sebagai hewan (zooplankton) ataupun sebagai tumbuhan (fitoplankton).Kelompokkelompok organisme yang hanyut bebas dalam laut dan sangat lemah daya renangnya dinamakan plankton. Kemampuan berenang organisme-organisme planktonik demikian lemah sehingga mereka sama sekali dikuasai oleh gerakan-gerakan air. Plankton dapat dibagi menjadi dua golongan, yakni : fitoplankton terdiri dari tumbuhan laut yang bebas melayang dan hanyut dalam laut serta mampu berfotosintesisi; dan zooplancton ahila hewa-hewan laut yang planktonik. (Nybbaken,1982)Arinardi, dkk (1997)

mengelompokkan plankton berdasarkan ukuran, habitat, serta daur hidupnya. Berdasarkan ukurannya, plankton dapat dibagi ke dalam beberapa kelompok yang dapat di lihat pada tabel.1. (Dussart, 1965 dalam Omori Ikeda, 1984).

2.1.2 Pengelompokkan plankton berdasarkan ukurannya.

Kelompok
Plankton non-net* Ultrananoplankton Nanoplankton Mikroplanton

Ukuran

Biota utama

2 m 2 20 m 20 200 m

Bakteria Fungi, Flagellata, dan Diatom kecil Sebagian besar fitoplankton,

Foraminifera, Ciliata, Rotifera , dan Nauplius Copepoda Plankton net* Mesoplankton 200 m 2 mm Cladocera, Copepoda, dan Larvaceae

Makroplankton

2 20 mm 20 200 mm

Pteropoda, Chaetognatha.

Copepoda,

Euphausiid,

Mikronekton

Chepalopoda,Euphausiid, Myetopid.

Sargestid,

Megaloplankton

20 mm

Scyphozoa, Thaliaceae .

Masih ada dua isilah lagi bagi plankton, yaitu yang bersangkut-paut dengan daur hidup organisme planktonik. Suatu organisme akuatik yang seluruh daur hidupnya bersifat planktonik termasuk golongan holoplankton. Kemudian, meroplankton ialah organisme-organisme akuatik yang hanya sebagian dari daur hidupnya bersifat plantonik. Termasuk dalam golongan meroplankton ialah berbagai larva hewan laut yang pada stadium dewasa hidup sebagai bentos atau nekton. (Nybbaken,1982)

2.1.3 Pengelompokan plankton berdasarkan habitat Pengelompokan plankton berdasarkan habitat adalah sebagai berikut: A. Plankton bahari (haliplankton) a. Plankton oseanik : plankton yang hidup di luar paparan benua. b. Plankton neritik: plankton yang hidup diatas paparan benua (mulutsungai, perairan pantai, dan perairan lepas pantai). c. Plankton air payau : plankton yang hidup di perairan salinitas rendah (0,5 30m). B. Plankton air tawar (limnoplankton) a. Plankton Heleoplankton : plankton yang hidup di kolam. b. Plankton Potamoplankton : plankton yang hidup di sungai. (Nybbaken,1992) 2.1.4 Pengelompokkan plankton berdasarkan daur hidupnya Semua plankton yang hidup di perairan dengan salinitas kurang dari 0,5 m, Sedangkan pengelompokkan plankton berdasarkan daur hidupnya adalah sebagai berikut : A. Plankton tetap (holoplankton) Biota yang seluruh daur hidupnya dilalui sebagai plankton.

Contoh : Chaetognatha dan Copepoda. B. Plankton sementara (meroplankton) Biota yang sebagian hidupnya dilalui sebagai plankton, misalnya pada stadia telur dan larva berbagai jenis ikan, cumi dan kerang kerangan. (Nybbaken,1992) 2.1.5 Pengelompokan plankton berdasarkan distribusi plankton Plankton terdapat mulai dari lingkungan air tawar hingga ke tengah samudera. Dari perairan tropis hingga ke peraiaran kutub. Boleh dikatakan tak ada permukaan laut yang tidak di huni oleh plankton. Sebaran plankton dibagi menjadi 2 arah yaitu sebaran horizontal dan sebaran vertical (Nontji ,2008). 1. Sebaran horizontal Plankton Neritik Plankton neritik (neritic plankton) hidup di perairan pantai dengan salinitas yang relative rendah. Kadang-kadang masuk sampai ke peraian payau di depan muara dengan salinitas 5-10 psu (practical salinity unit, dulu digunakan istilah atau permil, g/kg). akibat pengaruh lungkungan yang terus menerus berubah disebabkan arus dan pasang surut, komposisi plankton neritik ini sangat kompleks, bisa merupoakan campuran plankton laut dan plankton asal perairan air tawar. Beberapa diantaranya malah telah dapat beradaptasi dengan lingkungan estuaria yang payau (Nontji, 2008). Plankton Oseanik Plankton oseanik hidup diperairan lepas pantai hingga ke tengah samudra. Karena itu plankton oseanik ditemukan pada perairan yang salinitasnya tinggi. Karena luasnya wilayah perairan oseanik ini, maka banyak jenis plankton tergolong dalam kelompok ini (Nontji, 2008). Penggolongan seperti diatas tidaklah terlalu kaku, karena ada juga plankton yang hidup mulai dari perairan neritik hingga oseanik hingga dapat disebut neritik oseanik (Nontji, 2008).

Persebaran atau distribusi horizontal plankton memang sangat ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan seperti suhu, salinitas, dan arus. Oleh sebab itu kehadiran plankton jenis tertentu dapat digunakan sebagai indikator akan massa air atau arus laut. Di English Channel misalnya, bila kaetognat Sagitta setosa merajai, itu mengindikasikan massa air dari laut utara yang bersalinitas rendah telah masuk ke selat ini. Sebaliknya bila Sagitta ellegans yang merajai, itu mengindikasikan massa air bersalinitas tinggi dari samudra atlantik merambah masuk sampai ke selat ini. Demikian pula ubur-ubur Cyanea capilata dapat dijadikan indicator adanya arus air dingin, sedangkan Physalia physalis sebagai indicator arus air hangat.contoh lain misalnya copepod Eurytemora affinis telah menyesuaikan diri untuk hidup diperairan estuaria dengan salinitas rendah, dan karena keberadaannya dapat dijadikan indicator perairan estuaria. Di Indonesia ditemukan copepod Labidocera muranoi dari perairan mangrove, yang mungkin dapat pula dijadikan indicator perairan dengan salinitas rendah (Nontji, 2008). 2. Sebaran Vertikal Plankton hidup di laut mulai dari lapisan yang tipis di permukaan sampai pada kedalaman yang sangat dalam. Dilihat dari sebaran vertikalnya plankton, Nontji (2008) membaginya menjadi : Epiplankton Epiplankton adalah plankton yang hidup di lapisan permukaan sampai kedalaman sekitar 100m. Lapisan laut teratas ini kira-kira sedalam sinar matahari dapat menembus. Namun dari kelompok epiplankton ini ada juga yang hidup di lapisan yang sangat tipis di permukaan yang langsung berbatasan dengan udara. Plankton semacam ini disebut neuston. Contoh yang menarik adalah fitoplankton Trichodesmium, yang merupakan sianobakteri berantai panjang yang hidup di permukaan dan mempunya keistimewaan dapat mengikat nitrogen langsung dari udara. Neuston yang hidup pada kedalaman sekitar 0-10cm disebut hiponeuston. Ternyata lapisan tipis

ini mempunyai arti yang penting karena bisa mempunyai komposisi jenis yang kompleks. (Nontji, 2008). Dari kelompok neuston ini ada juga yang mengambang dipermukaan dengan sebagian tubuhnya dalam air dan sebagian lain lagi tersembul ke udara. Yang begini disebut pleuston. Contoh pleuston yang menarik adalah ubur-ubur api, yang Physalia physalis, yang lazim juga diberi julukan Portuguese man of war bagian atasnya menggelembung mencuat dari permukaan bagaikan layar yang dapat di tiup angin yang menghayutkan plankton tersebut. Sebenarnya uburubur api ini merupakan hewan koloni. (Nontji, 2008). Setiap individu terbentuk dari empat koloni, masing-masing berbeda fungsinya namun semuanya berada dalam hubungan kerja yang harmonis. Kelompok pertama membentuk pelampung dan layar, kelompok kedua membentuk umbai-umbai tentakel yang panjang dilengkapi nemanocist atau sel penyengat yang ampuh untuk menangkap mangsa, kelompok ketiga mencernakan makanan, dan kelompok empat untuk melaksanakan pembiakan. Physalia physalis ini disebut ubur-ubur api karena bila tersentuh akan dapat menyengat kulit kita hingga melepuh dengan rasa panas bagaikan disundut api. Ada lagi pleuston yang juga menarik yakni Janthina, yang merupakan keong laut yang hidup menggantung di lapisan film permukaan dengan busa yang dihasilkannya bagaikan pelampung. (Nontji, 2008).

Mesoplankton Mesoplankton yakni plankton yang hidup di lapisan tengah, pada

kedalaman sekitar 100-400m. Pada lapisan ini intensitas cahaya sudah sangat redup sampai gelap. Oleh sebab itu di lapisan ini fitoplankton, yang memerlukan sinar matahari untuk fotosintesis, umumnya sudah tidak dijumpai. Lapisan ini dan lebih dalam didominasi oleh zooplankton. Beberapa copepod sepeti Eucheuta marina tersebar secara vertical sampai lapisan ini atau lebih dalam. Dari kelompok

10

eufausid juga banyak terdapat di lapisan ini, misalnya thysanopoda, eufhausida, Thysanoessa, nematoscelis. Tetapi eufaosid ini juga dapat melakukan migrasi vertical sampai lapisan di atasnya. (Nontji, 2008). Hypoplankton Hypoplankton adalah plankton yang hidupnya pada kedalaman lebih dari 400m. termasuk dalam kelompok ini adalah batiplankton yang hidup pada kedalaman >600m, dan abisoplankton yang hidup di lapisan yang paling dalam,sampai 3000-4000m. Sebagai contoh, dari kelompok eufaosid, Betheuphaosia ambylops, dan Thysanopoda adalah jenis tipikal laut dalam yang menghuni perairan pada kedalaman lebih dari 1500m. sedangkan dari kelompok kaetognat Eukrohnia hamat, Eukrohnia bathypelagica termasuk yang hidup pada kedalaman lebih dari 1000m. (Nontji, 2008).

2.2 Fitoplankton 2.2.1 Pengertian Fitoplanton Fitoplankton adalah termasuk bentuk biota tanaman ; dimana bentuk biota tanaman tersebut bersifat autotrophic dan menyumbang secara langsung terhadap keberadaan pakan di permukaan air dengan

mengembangkan protoplasmanya dan cadangan makanan secara langsung dari karbon dioksida dan larutan garam di laut( Newell and Newell , 1977). Menurut Sachlan (1982) dan Arinardi dkk (1997) yang dimaksud dengan phytoplankton adalah plankton nabati. Selanjutnya Sumich dan Dudley (1992) mendefinisikan phytoplankton adalah biotra primer. mikroskopik, Lebih lanjut

mengapung bebas

dan merupakan produser

ditambahkan bahwa phytoplankton adalah biota laut photosintetik, sebagai produser primer ekosistem laut, dan berada pada rantai pertama dari jaring jaring makanan. (www.ulfana.multiply.com ). Fitoplankton adalah komponen autotrof plankton. Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti

11

matahari

dan

kimia.

Komponen

autotrof

berfungsi

sebagai

produsen.(www.ulfana.multiply.com ). Plankton nabati atau fitoplankton adalah terdiri dari tumbuh-tumbuhan atau tumbuh-tumbuhan yang hidup sebagai plankton. (Rohmimohtarto, 2001). Nama fitoplankton diambil dari istilah Yunani, phyton atau "tanaman" dan "planktos", berarti "pengembara" atau "penghanyut". Sebagian besar fitoplankton berukuran terlalu kecil untuk dapat dilihat dengan mata telanjang. Akan tetapi, ketika berada dalam jumlah yang besar, mereka dapat tampak sebagai warna hijau di air karena mereka mengandung klorofil dalam sel-selnya (walaupun warna sebenarnya dapat bervariasi untuk setiap spesies fitoplankton karena kandungan klorofil yang berbeda beda atau memiliki tambahan pigmen seperti phycobiliprotein)

(www.ulfana.multiply.com ).

2.2.2 Fitoplankton Sebagai Produsen Primer Fitoplankton memperoleh energi melalui proses yang dinamakan fotosintesis sehingga mereka harus berada pada bagian permukaan permukaan (disebut sebagai zona euphotic) lautan, danau atau kumpulan air yang lain. Melalui fotosintesis, fitoplankton menghasilkan banyak oksigen yang memenuhi atmosfer Bumi. Kemampuan mereka untuk mensintesis sendiri bahan organiknya menjadikan mereka sebagai dasar dari sebagian besar rantai makanan di ekosistem lautan dan di ekosistem air tawar. (www.ulfana.multiply.com). Disamping cahaya, fitoplankton juga sangat tergantung dengan ketersediaan nutrisi untuk pertumbuhannya. Nutrisi-nutrisi ini terutama makronutrisi seperti nitrat, fosfat atau asam silikat, yang ketersediaannya diatur oleh kesetimbangan antara mekanisme yang disebut pompa biologis dan upwelling pada air bernutrisi tinggi dan dalam. Akan tetapi, pada beberapa tempat di Samudra Dunia seperti di Samudra bagian Selatan, fitoplankton juga dipengaruhi oleh ketersediaan mironutrisi besi. Hal ini menyebabkan beberapa ilmuan menyarankan penggunaan pupuk besi untuk

12

membantu mengatasi karbondioksida akibat aktivitas manusia di atmosfer. (www.ulfana.multiply.com). Walaupun hampir semua fitoplankton adalah fotoautotrof obligat, ada beberapa fitoplankton yang miksotrofik dan ada juga spesies tak berpigmen yang merupakan heterotrof (yang ini dinamakan sebagai zooplankton). Jenis-jenis ini, yang paling dikenal adalah dinoflagellata seperti genus Noctiluca dan Dinophysis, memperoleh karbon organiknya dengan memakan organisme atau material detritus

lainnya.(www.ulfana.multiply.com). Fitoplankton merupakan salah satu organisme laut fotosintetik. Kandungan protein ganggang fotosintetik bersel tunggal (sedikit) mencapai 10-65% dari berat kering. Alga hijau Chorella dan Sceredesmus mengandung 55% protein. Sedangkan, Spirulina menunjukkan kandungan protein sampai 65%. (Nontji, 1993). Fitoplankton adalah produsen utama di perairan. Untuk mensintesa bahan organik, Fitoplankton memerlukan sinar matahari. Oleh karena itu phytoplankton banyak ditemukan di permukaan air hingga kedalaman beberapa meter dari permukaan air yang masih dijangkau sinar matahari yang disebut daerah eupotik. Juga ditemukan di daerah kontinental shelf, dan didaerah sepanjang pantai dimana terdapat proses upwelling dan daerahdaerah kaya bahan organik. Kandungan phytoplankton yang tinggi tidak selalu menguntungkan. Ledakan populasi oleh jenis dapat menghasilkan zat racun yang dapat menimbulkan bahaya. (Nontji, 1993). Meskipun Fitoplankton membentuk sejumlah besar biomassa di laut, kelompok ini diwakili oleh beberapa filum saja. Sebagian besar bersel satu dan mikroskopis, dan mereka termasuk filum Chrysophyta, yakni alga kuning-hijau yang meliputi Diatom dan Cocolithopore. Selain itu, terdapat beberapa jenis alga biru-hijau (Cyanophyta), alga hijau (Cholorophyta), dansatu kelompok besar dari Dinoflagellata (Pyrrophyta). (Nontji, 1993).

13

2.2.3 Klasifikasi Fitoplankton Klasifikasi dari Fitoplankton menurut Sze ( 1986 ) dan Boney ( 1989 ) adalah sebagai berikut :

Kingdom Divisi

: Plantae : Cyanophyta

Klas Ordo Species Ordo Ordo Species Species Species

: Cyanophyceae : Chroococcales :Chroococcus turgidus : Chamaesiphonales : Nostocales : Gloeocapsa sp. : Merismopedia sp. : Microcystis sp.

Divisi

: Chlorophyta

Klas Genus Genus Genus Genus Species Species Species Species Species Genus Genus Genus

: Chlorophyceae : Chlamydomonas : Haematococcus : Coccomonas : Pteromonas : Ankistrodesmis sp : Scenedesmus sp : Dictyosphaerium sp : Pediastrum sp : Hydrodictyon sp : Spirotaenia : Xanthidium : Micrasterias

14

Klas Species Species Species

: Prasino : Pyramimonas grossi : Platymonas sp : Halosphaera viridis

Divisi

: Chrysophyta

Klas Genus Genus Species

: Chrysophyceae : Mallomonas : Uroglena : Dictyocha speculum

Klas Genus Genus Genus Species

: Prymnesiophyceae : Chrysochromulina : Hymenomonas : Emiliana : Phaeocystis sp

Klas

: Bacillariophyceae / Diatomophyceae Species Genus Species Genus Genus Genus Genus Genus Species : Coscinodiscus grani : Lithodesmium : Biddulphia rhombus : Rhizosolenia : Cymbella : Thalassiosira : Stephanopyxis : Cyclotella : Skeletonema sp

15

Divisi Klas Species Species Genus Species Species Species Genus

: Pyrrophyta : Dynophyceae : Prorocentrum sp : Exuviella marina : Gymnodinium : Ceratium tripos : Ceratium sp : Protoperidinium sp : Dinophysis

Divisi

: Cryptophyta

Klas Genus

: Cryptophyceae : Cryptomonas

Divisi

: Euglenophyta

Klas Genus

: Euglenophyceae : Euglena (www.ITIS.gov)

2.3 Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Fitoplankton Menurut Goldman (1983), pertumbuhan dan perkembangan fitoplankton bersifat dinamis yaitu dapat bloom atau sangat rendah. Di negeri 4 musim pertumbuhan fitoplankton meledak karena merespon pada musim dan tersedianya hara. Sehingga terjadi peledakan pada musim semi dan musim gugur. Sedangkan pada musim dingin populasinya sedikit. Sebaliknya di perairan tropika, selama hara tersedia pertumbuhannya bersifat kontinum. Di perairan tropika sepanjang tahun sinar matahari selalu optimal. Di danau yang dalam penyinaran matahari menyebabkan suhu permukaan lebih tinggi. Hal ini akan menyebabkan

16

fitoplankton dapat tumbuh melakukan proses fotosintesis secara optimal. Hal ini akan menyebabkan terjadinya perbedaan kemelimpahan fitoplankton antara permukaan dan dasar perairan karena tidak terjadi pengadukan (Goldman dan Horne 1983; Nybakken 1993). Fitoplankton terdistribusi di semua perairan, baik di perairan darat maupun perairan laut, serta di estuari. Fitoplankton terdistribusi secara vertikal pada perairan yang dalam. Distribusi fitoplankton secara vertikal bisa mencapai kedalaman 150 m. Akan tetapi distribusi fitoplankton yang paling melimpah adalah di kedalaman 20 m, hal ini karena intensitas cahaya matahari yang sampai pada jeluk ini hanya sekitar 50 %. Fitoplankton juga melakukan migrasi vertikal (vertical migration). Fitoplankton pada siang hari akan naik ke permukaan untuk menyerap cahaya matahari sebagai sumber energi untuk melakukan fotosintesis, sedangkan pada malam hari akan turun ke dasar perairan dan melakukan proses respirasi. sebaliknya zooplankton pada siang hari akan turun ke dasar permukaan air dan pada malam hari akan naik ke permukaan air (Brounstein et al. 1997; Goldman dan Horne 1983; Nybakken 1993). Tipe dan kemelimpahan fitoplankton di estuari sangat berubah-ubah mengikuti perubahan arus, salinitas, dan suhu air. Air yang memiliki turbiditas yang tinggi menghalangi penetrasi cahaya yang membatasi produktifitas primer dari fitoplankton. Di estuari yang kecil, jenis fitoplankton yang terdapat di dalamnya merupakan dari jenis perairan laut yang masuk keluar estuari karena adanya pasang surut. Sedangkan di estuari yang luas, komunitas fitoplankton yang ada di dalamnya konstan dan merupakan jenis asli estuari tersebut. Dalam pertumbuhan fitoplankton, sangat dipengaruhi oleh faktor fisik dan kimia lingkungan (Castro dan Huber 2000). Fitoplankton membutuhkan berbagai unsure untuk pertumbuhannya. Beberapa unsure ini dibutuhkan dalam jumlah relative besar dan disebut hara makro (macro-nutrient) misalnya C (karbon), H (Hidrogen), O (oksigen), N (nitrogen), P (Fosfor), Si (Silikon), S (sulfur), Mg (magnesium), K (kalium), dan Ca (kalsium). (Nontji,2008)

17

2.4 Faktor fisik dan kimia yang mempengaruhi pertumbuhan phytoplankton Cahaya Cahaya matahari merupakan faktor yang sangat penting bagi kehidupan fitoplankton. Proses fotosintesis hanya mungkin dapat dilakukan oleh fitoplankton jika intensitas cahaya matahari mencukupi. Ini berarti fitoplankton sangat membutuhkan cahaya matahari dalam proses hidupnya. Jeluk air yang ditembus oleh cahaya dan jeluk tempat fotosintesis berlangsung dipengaruhi oleh penyerapan cahaya dalam kolum air, panjang gelombang cahaya, transparansi, pantulan dari permukaan air, letak lintang, dan musim. Intensitas cahaya diatas 50 % dan dibawah 50 % kemelimpahan fitoplankton sangat sedikit. Hal ini akan menyebabkan proses fotosintesis tidak berjalan dengan maksimal. Ada dua hal yang yang mendukung fenomena ini yaitu, pada intensitas cahaya yang tinggi, fotosintesis pada alga mengalami penurunan. Hal ini disebabkan karena intensitas cahaya yang tinggi akan merusakkan klorofil, sehingga proses fotosintesis akan mengalami gangguan dan tidak berjalan dengan baik. Begitu pula sebaliknya jika intensitas cahaya sangat rendah, maka proses fotosintesisnya juga tidak berjalan dengan baik, karena jumlah cahaya yang tidak mencukupi untuk melakukan proses fotosintesis (Castro dan Huber 2000; Goldman dan Horne 1983; Lionard 2005; Nybakken 1993). Menurut Lerman (1986), di perairan samudra intensitas cahaya (sinar biru) dapat masuk sampai ke kedalaman 100 m. Perairan pantai atau paparan benua intensitas cahaya dapat masuk sampai ke kedalaman 20 m. Sedangkan di estuari secara umum adalah 1-6 m (Gambar 3). Akan tetapi hal ini juga sangat berkaitan erat dengan turbiditas estuari tersebut. Semakin tinggi turbiditasnya maka penetrasi cahaya yang masuk semakin sedikit, begitu juga sebaliknya. Setiap jenis fitoplankton memiliki perbedaan intensitas cahaya yang dibutuhkan untuk melakukan proses fotosintesis (Cabrita et al, 1999; Castro dan Huber 2000; Lerman 1986; Nybakken 1993; Sumich 1999).

Salinitas

18

Salinitas di estuari berfluktuatif secara dramatis dari waktu ke waktu. Ketika air laut dengan salinitas sekitar 35 bercampur dengan air tawar yang berasal dari sungai dengan salinitas 0 . Proses percampuran ini kemudian membentuk gradien salinitas yaitu 5-30 yang merupakan nilai salinitas di estuari normal. Untuk dapat bertahan hidup di ekosistem estuari yang memiliki banyak variabel, fitoplankton yang hidup di estuari harus dapat beradaptasi dan bertoleransi dengan adanya fluktuasi salinitas. Distribusi dan kemelimpahan fitoplankton di estuari secara kontinyu berubah akibat adanya perubahan salinitas dalam waktu yang singkat, seperti pada saat masuknya aliran air tawar, pasang surut, dan masuknya air karena hujan. Sedangkan dalam jangka waktu yang lama, seperti naik dan turunnya permukaan air laut karena mencairnya es di kutub (Castro dan Huber 2000; Lerman 1986; Nybakken 1993; Sumich 1999). Air laut yang asin selalu berada di bawah, dan mengalir membentuk lapisan garam. Lapisan garam ini bergerak mundur seterusnya mengikuti ritme pasang surut. Lapisan garam akan bergerak naik ke permukaan estuari pada saat pasang dan kemudian kembali pada saat surut. Jika suatu area yang mengalami pasang surut pada siang hari, maka organisme akan mengalami dua kali perubahan salinitas (Castro dan Huber 2000; Nybakken 1993; Sumich 1999). Turbiditas Jumlah partikel-partikel suspensi yang terdapat dalam air di estuari pada setiap tahunnya adalah sangat besar, oleh sebab itu turbiditas di estuari sangat tinggi. Tingginya turbiditas terjadi pada saat tingginya suplai air dari sungai. Secara umum turbiditas rendah di sekitar mulut estuari, dimana jumlah air laut lebih besar. Pengaruh turbiditas adalah menyebabkan penetrasi cahaya yang masuk ke dalam air sangat rendah. Hal ini akan menyebabkan penurunan proses fotosintesis yang dilakukan oleh fitoplankton. Pada akhirnya hal ini akan mengurangi produktivitas estuari tersebut (Castro dan Huber 2000, Nybakken 1993, and Sumich 1999. Nutrien Tidak hanya carbon dioxida, air dan sinar matahari yang dibutuhkan untuk melakukan proses fotosintesis. Banyak nutrien yang dibutuhkan fitoplankton

19

untuk pertumbuhan dan reproduksi terutamanitrat (NO3-), ammonium (NH4+) dan phosphat (PO43-). Produktifitas primer yang dilakukan oleh fitoplankton sangat membutuhkan nutrien dalam jumlah besar. Nutrien yang paling banyak dibutuhkan adalah nitrogen dan phosphat. Nitrogen dibutuhkan untuk membuat asam amino dan asam nukleat, sedangkan phosphat diperlukan untuk membuat tenaga (ATP). Sehingga nutrien merupakan faktor pembatas bagi pertumbuhan dan perkembangan fitoplankton. Selain nitrogen dan phosphat, fitoplankton juga membutuhkan bahan organik yang lainnya yaitu C, H, O, dan vitamin. Di lokasi yang nutriennya melimpah akan direspon dengan melimpahnya fitoplankton (Castro dan Huber 2000; Cloern 1999; Lerman 1986; Nybakken 1993; Sumich 1999; dan Wetzel 2001). Fitoplankton memiliki mekanisme respon terhadap phosphat. Pada saat konsentrasi phosphat di perairan rendah maka fitoplankton akan mengeluarkan enzim alkaline phosphatases. Enzim ini dikeluarkan untuk membebaskan phosphat dari molekul organik. Ketika di perairan konsentrasi phosphatnya tinggi maka fitoplankton akan merespon dengan mekanisme luxury consumption. Mekanisme ini adalah mengambil PO4 dari perairan dan menyimpan phosphat tersebut dalam sel dalam bentuk granula PO4, dan akan digunakan jika kondisi phosphat di lingkungan sedikit atau kurang. Genus fitoplankton yang dapat melakukan Luxury consumption adalah Asterionella, Selenastrum, dan Cyclotella (Goldman dan Horne 1983). Tingginya input hara yang masuk ke dalam sistem akan merangsang produktifitas primer. Di lain pihak, tingginya suplai hara yang masuk ke dalam sistem yang melebihi ambang batas akan meyebabkan terjadinya peledakan fitoplankton. Sungai membawa dalam jumlah besar partikel sedimen dan material yang lainnya masuk ke dalam estuari. Sebagian besar estuari didominasi oleh partikel sedimen. Partikel sedimen ini di bawa oleh air laut dan air sungai. Partilek sedimen yang masuk ke dalam estuari mengandung banyak bahan organik. Material bahan organik ini merupakan sumber makanan yang melimpah bagi kehidupan organisme estuari. Air laut selalu membawa suspensi material atau substrat masuk ke dalam estuari. Ketika di estuari, gerakan air yang lemah akan menjaga berbagai partikel untuk tetap berada di dalam suspensi. Hasilnya

20

pertikel-partikel ini akan memberi kontribusi pada formasi dari substrat lumpur atau pasir yang berada di dasar estuari (Castro dan Huber 2000; Gameiro et al. 2004; Nybakken 1993; Sumich 1999; Twomey et all, 2005). Suhu Suhu merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton. Intensitas cahaya dibutuhkan untuk meningkatkan pertumbuhan fitoplankton, sepanjang meningkatnya suhu. Reaksi fotosintesis pada fitoplankton memiliki batasan intensitas cahaya. Reaksi ini memiliki suhu tersendiri, kecuali suhu di bawah 5
0

C. Interaksi antara cahaya dan temperatur akan memberikan

gambaran profil vertikal dari distribusi fitoplankton. Fitoplankton terdistribusi berdasarkan intensitas cahaya dan suhu. Suhu minimal fitoplankton dapat melakukan proses fotosintesis adalah 5
0

C. Semakin tinggi suhu dan semakin

tinggi intensitas cahaya, maka proses fotosintesis semakin tinggi. Suhu maksimal fitoplankton melakukan fotosintesis adalah 300 C. Ini menggambarkan fitoplankton terdistribusi di gradien suhu dari 5-30
0

C (Wetzel 2000).

BAB III MATERI DAN METODE

21

3.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum 3.1.1. Praktikum I Hari / Tanggal : Kamis, 3 November 2011 Pukul Tempat : pukul 15.00 - 16.00 WIB : Laboratorium Biologi Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang 3.1.2. Praktikum II Hari / Tanggal : Kamis, 3 Nopember 2011 Pukul Tempat : pukul 14.00 - 15.00 WIB : Laboratorium Biologi Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang 3.1.3. Praktikum III Hari / Tanggal : Kamis, 10 Nopember 2011 Pukul Tempat : pukul 15.00 - 16.00 WIB : Laboratorium Biologi Jurusan Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Semarang

3.2 Alat dan Bahan 3.2.1. Alat

No

Nama Alat

Gambar

Keterangan

Alat untuk melihat objek yang 1 Mikroskop terlalu kecil untuk dilihat dengan mata kasar.

22

Alat

yang

digunakan

untuk

mengambil sampel dari plankton 2 Pipet Tetes yang terdapat dalam gelas

beker,dan kemudian diteteskan keatas kaca preparat.

Botol Sampel

Untuk

menampung

sampel

Zooplankton

Sedgewick rafter

Sebagai media tempat plankton diletakkan

Buku Identifikasi

Media untuk menentukan dari jenis plankton yang sudah

ditemukan dengan mikroskop.

alat 6 Alat Tulis

yang

digunakan

untuk

menunjang lancarnya dan rapinya dari pembuatan laporan sementara dari praktikum planktonologi.

untuk 7 Tissue

mengeringkan

atau

membersihkan kaca preparat yang sudah dicuci dengan aquades

3.2.2. Bahan

23

No

Nama Bahan

Gambar

Keterangan

Formalin 4 %

Sebagai

cairan

untuk

mengawetkan sampel plantkon

Lugol

Sebagai

cairan

untuk

mengawetkan sampel plantkon

Sampel Plankton

Bahan utama dari praktikum planktonologi ini,yang diambil dan kemudian diidentifikasi

Larutan yang digunakan untuk 4 Aquades mencuci dari kaca preparat yang sudah digunakan untuk mengidentifikasi plankton

3.3 Cara Kerja 1. Siapkanlah mikroskop dan peralatan praktikum 2. Ambillah sampel fitoplankton dengan menggunakan pipet tetes sebanyak 1 ml 3. Kemudian taruhlah kedalam sedgwick rafter ditutup dengan paper glass, jangan sampai ada gelembung udara dalam sedgewick rafter 4. Taruh sedgewick rafter ke atas meja pengamatan pada mikroskop 5. Nyalakan lampu mikroskop 6. Amatilah sampel fitoplankton dengan pembesaran mikroskop 10 X Gambar fitoplankton yang ditemukan dan definisikan nama

24

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil 4.1.1 Nitzschia Kingdom Divisi Kelas Ordo Family Genus : Plantae : Chrysophyta : Bacillariophyceae : Pennales : Bacillariaceae : Nitzschia

www.itis.gov 4.1.2 Thalassionema Kingdom Divisi Kelas Ordo Family Genus : Plantae : Bacillariophyta : Bacillariophyceae : Pennales : Diatomaceae : Thalassionema www.sith.itb.ac.id

4.1.3. Pleurosigma Kingdom Divisi Kelas Ordo Family Genus : Plantae : Chrysophyta : Bacillaryophiceae : Pennales : Naviculaceae : Pleurosigma

25

4.1.4 Navicula

Kingdom Divisi Kelas Ordo Family Genus

: Plantae : Bacillariophyta : Bacillariophyceae : Naviculales : Naviculaceae : Navicula

www.itis.gov 4.1.5 Coscinodiscus Kingdom Divisi Kelas Ordo Family Genus : Plantae : Chrysophyta : Bacillariophyceae : Centrales : Coscinodiscoceae : Coscinodiscus

www.itis.gov 4.1.6 Gymnodium Kingdom Divisi Kelas Ordo Family Genus 4.1.7 Lauderia Kingdom Division Class Order Family :Plantae :Bacillariophyta :Bacillariophyceae :Centrales :Thalassiosiraceae : Plantae : Pyrrophycophyta : Dinophyceae : Gymnodiniales : Gymnodiniaceae : Gymnodinium

26

Genus 4.1.8 Streptotheca Kingdom Division Class Order Family Genus 4.1.9 Microcystis Kingdom Division Class Order Family Genus 4.1.10 Amphora Kingdom Divisio Class Order Family Genus 4.1.11 Noctiluca

: Lauderia :Plantae :Bacillariophyta :Coscinodiscophyceae :Hemiaulales Round :Streptothecaceae :Streptotheca

: Plantae : Phaeophyta : Phaeophyceae : Laminariales : Lessoniaceae : Microcystis

: Plantae : Bacillariophyta : Bacillariophyceae : Pennales : Cymbellaceae : Amphora

Kingdom Division Class Order Family Genus

: Plantae : Pyrrophycophyta : Dinophyceae : Noctilucales : Noctilucaceae : Noctiluca

27

4.1.12 Synedra Kingdom : Plantae Divisi : Bacillariophyta Kelas : Bacillariophyceae Bangsa : Pennales Suku : Diatomaceae

Marga : Synedra

4.2 Pembahasan 4.2.1 Nitzschia Ciri Morfologi dan Karakteristik Fitoplankton ini memiilki bentuk simetris dan terlihat seperti pita. Kenampakannya bening dan terliha transparan. Bersifat Uniseluler dan memilki 2 buah flagel terletak pada bagian ujungnya yang tumpul. Organelnya terdiri dari inti di tengah sel, kloroplas yang terlihat jelas dan tersebar di pinggiran sel, memiliki 2 valve yang tidak sigmoid dan tidak memiliki central nodule sejati, valve memiliki sayap luar dan berlunas, kedua valve mempunyai raphe sejati, celah raphe memiliki barisan pori pori bulat yang mencolok. (www.bataricacelico.blogspot.com) Deskripsi Nitzschia merupakan diatom Epipelik yang bersifat soliter. Dapat bergerak dengan menggunakan raphe. Mempunyai bentuk linear jika dilihat dari girdlenya. Terlihat linear dengan permukaan yang cembung jika dilihat dari katupnya. Nitzschia termasuk estuarin intertidal spesias. Temperatur optimal 240C dan salinitas maksimal 360/oo. Ukuran : Apical axis = 27 (32) 39 m, Transapical axis = 4 (4.7) 5,5 m. (Raymont, 1963) Nitzscia memiliki pigmen berwarna coklat keemasan dan berbentuk seperti pita.mempunyai frustula dengan tabung longitudinal

28

pada

setiap

theca.Berreproduksi

dengam

cara

seksual

dan

aseksual.Hidup pada daerah laut lepas atau daerah intertidal dapat ditemukan pada kedalaman 77 m dpl.Bentuk diatom pinnate

diatoms,dinding bersilikat dengan sel kompak. (Nybbaken,1992) Nitzschia kebanyakan ditemukan di perairan lebih dingin, dan berhubungan dengan kedua Kutub Utara dan Antartika kutub es laut dimana sering ditemukan menjadi diatom dominan. frigida ditemukan tumbuh pesat bahkan pada temperatur antara -4 dan -6 derajat Celcius. Beberapa spesies Nitzchia juga extremophiles oleh penyok toleransi tinggi salinitas, misalnya, beberapa spesies halophile Nitzchia ditemukan di Pans Makgadikgadi di Botswana. Genus ini biasa ditemukan di daerah yang tropis, yang temperatur rata-ratanya seperti di daerah pantai. (Nybbaken,1992)

4.2.2 Thalassionema Ukuran frustule yang cenderung menjadi lebih panjang dan langsing. diatom yang berbentuk tabung ukuran selnya akan menjadi lebih besar, perluasan ini akan meningkatkan volume sel. Peningkatan volume sel ini merupakan salah satu bentuk adaptasi morfologi diatom agar dapat lebih mudah menyerap nutrient dari lingkungan yang memiliki kandungan nutrient yang sedikit. Tingginya kandungan Silika, Nitrogen dan Phospat pada stasiun VI (Tabel 3) diperkirakan memiliki pengaruh yang besar terhadap ukuran frustule diatom. Diatom sangat membutuhkan Silika dalam pembentukan dinding sel diatom. Silika terlibat dalam pembentukan protein dan karbohidrat. Selain itu Silika berperan penting dalam pembelahan sel untuk pembentukan dinding sel damn metabolisme tubuh. Selian itu, N dan P merupakan nutrient penting dalam pertumbuhan diatom. konsentrasi N dan P turut mempengaruhi siklus Si diperiaran. Nitrogen sangat dibutuhkan dalam penyusunan klorofil dan Phosphat berperan dalam pembentukan protein dan metabolism organisme (Herawati, 2008). Diatom mempunyai kemampuan adaptasi yang sangat cepat dengan kondisi lingkungan tempat hidupnya (Dixit et al., 1992 cit. Mills et al., 2002). Faktor lingkungan ini dapat mempengaruhi

29

variasi bentuk dari valve diatom karena dinding sel diatom tersebut bersifat fleksibel (Mann, 1994 cit. Pappas and Stoemer, 2003).

4.2.3. Pleurosigma Ciri Morfologi dan Karakteristik Memiliki bentuk menggembung pada bagian tengah dan

meruncing di kedua ujungnya. Terdapat garis hijau di bagian tengah dengan titik hijau di tengah yang sangat menonjol. Kloroplas tersebar. Banyak terdapat pyrenoids ditiap chloroplast Memiliki 2 atau 4 chloroplast memanjang, kadang sangat rumit dan terletak dibawah permukaan valve. Raphe dan valve sigmoid. Kedua valve memiliki raphe sejati. Valve agak pipih. (www.en.wikipedia.org) Deskripsi Plankton ini berbentuk elips agak memanjang dan pada tubuhnya terlihat satu simetris yang membagi tubuh phytoplankton ini menjadi dua bagian yang sama.permukaan katub kurang lebih rata,sigmoid,hampir lurus,terdapat 2 atau 4 pemanjangan kloroplas,sering kali terlihat kusut dan terdapat dibawah permukaan kutub.bersifat soliter,temperature optimal 270C dan salinitas maksimal 36 , (Nontji. 1993) Permukaan katup kurang lebih rata, sigmoid, atau hampir lurus. Raphe berbentuk lurus atau hampir lurus dan terpusat. Terdapat 2 atau 4 pemanjangan kloroplas, seringkali terlihat kusut dan terdapat di bawah permukaan katup. Berada di dasar perairan (epipelik) dan dapat berjalan lambat. Tersebar dari tropis sampai kekutub. Bersifat soliter. Temperatur optimal 270C dan salinitas maksimal 360/oo. Ukuran : Apical axis = 142 (175) 240 m, Transapical axis = 11 (12,5) 15 m. (Raymont, 1963)

4.2.4 Navicula Ciri Morfologi dan Karakteristik

30

Termasuk ke dalam jenis pennate diatom. Berbentuk seperti perahu dan sering disebut sebagai perahu mikroba. Organisme eukariotik ini sangat mungkin mendominasi suatu perairan. (www.en.wikipedia.org) Deskripsi Navicula, spesies yang paling sederhana bentuknya kira-kira ada 100 spesies, tiap spesies ditentukan oleh faktor panjang-lebar dan macam-macam garis yang ada pada tutupnya (raphe side) atau sculpture yang ada di sisinya (lateral side atau girdle side). Navicula selalu terlihat mirip dengan bentuk perahu. (www.en.wikipedia.org) Navicula adalah genus berbentuk kapal mikroba (mikroorganisme) yang merupakan jenis fitoplankton atau algae - air, eukariotik, terutama fotosintesis organisme, mulai dari ukuran sel tunggal. Navicula genus diatom terdiri lebih dari 10.000 spesies. Navicula is Latin for "small ship". Navicula adalah bahasa Latin untuk "Kapal kecil".

(www.en.wikipedia.org) Navicula adalah pennate, diatom raphed dengan sel berbentuk perahu yang mungkin ada secara tunggal atau dalam pita. Katup yang simetris baik apically dan transapically, dan mungkin bulat, akut, atau berbentuk kepala berakhir. Daerah sentra sering jelas diperluas. Para striae lineate terdiri dari areolae diatur memanjang paralel dengan sumbu apeks. Namun, areolae mungkin sulit untuk melihat di banyak taksa, khususnya dalam hidup. (www.en.wikipedia.org) Navicula , Navicula adalah genus diatom terbesar, dengan lebih dari 10.000 spesies, varietas, dan bentuk seperti banyak diatom rafebantalan lainnya, mengeluarkan lendir dari rafe untuk mengaktifkan selsel untuk meluncur sepanjang substrat. (www.en.wikipedia.org)

4.2.5 Coscinodiscus Ciri Morfologi dan Karakteristik Sel yang soliter berbentuk bulat sempurna, cangkang berbentuk segi delapan, memiliki banyak kloroplas, permukaan sel berbentu flat/datar,

31

pada bagian tepi berwarna hijau dan memiliki ruang antar dinding. (www.en.wikipedia.org) Deskripsi Sel-sel bersatu membentuk rantai dan pada umumnya berbentuk lonjong atau oval pada irisan melintang serta mempunyai ujung-ujung yang hampir pipih. Sel kurang lebih berbentuk segiempat persegi panjang (apabila dilihat dari girdlenya). Sel biasanya berbentuk elips, jarang ada dengan bentuk lingkaran (apabila dilihat dari katupnya). Sepasang tulang belakang tipis dan panjang ditemukan pada setiap ujung frustula, dan juga penyatuan dengan sel tetangga membentuk menjadi rantai. Bersifat pelagic, dan sel bergabung membentuk rantai. Ukuran : Diameter = 5 (11,5) 15 m, Pervelar axis = 6,8 (8,6) 17 m. (Raymont, 1963)

4.2.6 Gymnodium Gymnodium merupakan contoh dinoflagellat yang tubuhnya tidak

tersusun oleh pelat-pelat. Banyak dijumpai hidup di air tawar dan air laut, merupakan dinoflagellata yang cingulumnya terletak di tengah-tengah dan melingkari sel sempurna dan berakh pada permukaan ventral. Ceratium hidup di air laut maupun di air tawar, mempunyai tiga prosesus dinding sehingga berbentuk seperti terompet, yang satu pada akhir tubuh sedangkan yang dua di tempat tubuh lain yang tidak digunakan untuk berlabuh. Histiophysis mempunyai bentuk seperti kendi dan Ornithocercus mempunyai bentuk seperti layar atau sayap. Alga yang termasuk alga api ini disebut Dinoflagellata, dengan tubuh yang tersusun atas satu sel memiliki dinding sel dan dapat bergerak aktif dengan menggunakan dua flagel yang bersifat uniseluler. Ciri yang utama adalah adanya celah dan alur disebelah luar yang masing-masing mengandung satu flagel, dinding selnya terdiri atas dua belahan, ada yang homogen dan kontinyu dan ada juga yang dinding selnya terdiri atas keping-keping. Mayoritas dari dinofagellata berasal dari lautan, tetapi ada beberapa ratus spesies yang lain yang berada di air

32

segar. Dinoflagellata adalah komponen yang penting dari plankton, khusunya pada kondisi hangat . Ganggang api umumnya merupakan organisme uniseluler yang bersifat fotosintetik dan ada ganggang api tertentu pada tahap tertentu dalam siklus hidupnya bersifat parasit. Ganggang api memiliki dinding sel dengan lempenganlempengan selulosa. Ganggang api pada umumnya memiliki dua flagellum yang terletak di samping (lateral) atau di ujung (apikal) selnya. Kebanyakan hidup di laut dan sebagian kecil di air tawar, misalnya Peridinium dan Ceratium. Spesie yang hidup di laut memiliki sifat fosforesensi yaitu memiliki fosfor yang memancarka cahaya. Dinoflagellata memiliki dua cara perkembangbiakan, yaitu secara: 1. Vegetatif, yaitu dengan pembelahan sel yang bergerak, jika sel memiliki panser maka sel akan pecah. Dapat juga dengan cara protoplas membelah membujur , lalu keluarlah dua sel telanjang yang dapat mengembara kemudian masing-masing membuat panser lagi. Setelah mengalami waktu istirahat zigot yang mempunyai dinding mengadakan pembelahan reduksi, mengeluarkan sel kembar yang telanjang. 2. Sexual/generative, yaitu dalam sel terbentuk 4 isogamet yang masingmasing dapat mengadakan perkawinan dengan isogamet dari individu lain. 4.2.7 Lauderia Sel-sel sedikit cekung dan di ujung dan dinding sel, meskipun tipis, yang halus lurik. Kadang-kadang ditemukan dengan band kabisat menonjol antara selsel. Ukuran lebar 40um, 40um volume yang panjang. Genus Lauderia berbentuk rantai lurus dengan ruang yang sangat kecil antara sel-sel. Setiap sel i pendek dan silinder. Sel memiliki banyak kloroplas. Centric diatom. Sel membentuk rantai, dan dipisahkan oleh proses tersumbat pada bagian marjinal katup. Permukaan katup memiliki rusuk radial samar.

33

4.2.8 Streptotecha Hidup dalam laut, merupakan salah satu penyusun plankton. Memiliki alur yang memusat (central) pada permukaan cawannya. Hal ini berkaitan dengan cara hidupnya yakni supaya memudahkan untuk melayang di dalam air, terdapat alatalat melayang yang berupa duri atau sayap, atau dengan perantaraan lender. Perkembangbiakannya dapat membelah diri, oogami, serta pembentukan auksospora. 4.2.9 Mycrocystis Tubuh menyerupai tumbuhan tinggi. Mempunyai klorofil a dan c, pigmen tambahan xantofil dan fikosantin. Habitat sebagian besar di laut. Reproduksi aseksual dengan fragmentasi, zoospora. Reproduksi seksual dengan oogami, sel telur dihasilkan oleh oogonia, dan sperma dihasilkan oleh anteridia. Contoh: Laminaria sp (penghasil asam alginat yang dibutuhkan untuk produksi tekstil, makanan, dan kosmetik), Sargassum sp, Fucus, Turbinaria decurens, Macrocystis.

4.2.10 Amphora Alga kersik yang memiliki alur ke arah yang menyirip (pinnae), berbentuk batang, seperti perahu atau pahat. Organisme ini bergerak merayap maju mundur, yang mungkin karena pergeseran anatra alas dan arus plasma ekstraseluler pada rafe. Organisme ini pula biasanya melekat pada tumbuh-tumbuhan air. Perkembangbiakan seksual berlangsung dengan cara isogami.

4.2.11 Noctiluca 1. Berukuran besar 1-2 milimeter berbentuk seperti bola 2. tidak memiliki kloroplas, sehingga mencari makanan dengan cara heterotrof yaitu memakan phytoplankton. 3. memiliki vakula yang besar dan berguna untuk pelampung selain itu dapat bersimbiosis dengan alge hijau. 4. memiliki tentakel panjang dan berfungsi sebagai penangkap makanan, alat gerak dan mempertahankan diri. 5. hidupnya di air laut

34

6. tidak menghasilkan toksin tetapi menghasilkan cahaya yang disebut sebagai bioluminescent Contoh genus Noctiluca, species yang terkenal adalah Noctiluca Scintilan atau istilah lain noctiluca miliaris. Ciri-ciri species noctiluca miliaris

Hidupnya dilaut, biasa disebut kembang api laut karena menghasilkan cahaya atau disebut bioluminescent. Bila blooming akan terlihat jelas cahayanya.

Bersifat heterotrof dengan memakan phytoplankton, memiliki vakuola yang banyak dimana setiap vakuola memiliki berbeda plankton biasanya dari genus Thalassiosira dan Chaetoceros (Diatom).

Noctiluca membentuk zoospora dimana berbentuk topi berwarna emas di salah satu sisi sel noctilu ca terdiri beribu-ribu zoospora yang kecilkecil.

4.2.12 Synedra Genus Synedra telah lama ada, bentuknya jarum-seperti sel-sel yang ada di koloni tunggal atau memancarkan. Di koloni-koloni sel ini terkelompok bersama di satu titik dengan sebuah bantal lendir yang disekresikan dari pori-pori pada bidang masing-masing sel. Spesies tertentu memiliki dua tanduk yang pendek atau duri menonjol dari wajah tepat di atas katup bidang pori. Katup yang tertutup oleh barisan bulat atau memanjang areola. Sel-sel muncul persegi panjang bila dilihat dari pandangan korset atau samping. Setiap sel memiliki dua panjang, seperti piring plastida. Genus ini araphid, berarti sel-sel tidak memiliki struktur raphe pada katup kedua. Namun, satu spesies laut dapat meluncur dengan mensekresi lendir dari lekukan pada kedua ujung sel. Baru-baru ini, Synedra telah dibagi, dan beberapa spesies telah pindah ke tiga genera baru.

35

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 KESIMPULAN Dari hasil analisa sampel fitoplankton, didapatkan dua belas jenis fitoplankton yang sebagian besar dari divisi Bacillariophyta sebanyak 7 genus, yaitu Nitzchia ,Navicula, Lauderia, streptotecha, Amphora, Synedra. Sedangkan divisi Chrysophyta sebanyak 2 genus yaitu Pleurosigma dan Coscinodiscus. Pada divisi Pyrrophycophyta ada 2 genus yaitu gymnodium, noctiluca. Dan pada divisi Phaeophyta, ada 1 genus yaitu mycrocystis. Genus yang saya temukan dalam praktikum Fitoplankton ini adalah: Nitzschia, Thalassionema, Navicula, Gymnodium,
Pleurosigma, Coscinodiscus, synedra, pridinium, Streptotheca, Microcystis, Lauderia, Noctiluca.

Biddulphia, dan Skeletonema.Didapatkan 2 genus yang sama tercatat dalam hasil praktikum ini yaitu Nitzchia, sebenarnya genus-genus dari Divisi Bacillariophyta sering ditemukan dalam praktikum. Bacillariophyta (diatom) kata bacil yang berarti batang, sehingga sebagian besar genus dari Bacillariophyta berbentuk seperti batang. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fitoplankton yaitu; Cahaya, Salinitas, Turbiditas, Nutrien,Suhu

5.2 Saran 1. Pada saat pengidentifikasian banyak sampel yang rusak, jadi pada saat sampling lebih baik sampel plankton yang didapatkan langsung dimasukkan kedalam botol sampel dan larutan yang digunakan berupa formalin 4 % sehingga sampel plankton tidak rusak karena sampel yang berupa fitoplankton mudah rusak. 2. Pastikan alat dalam keadaan baik, sehingga tidak mengganggu dalam pelaksanaan praktikum ini. 3. Hati-hati dalam menggunakan alat. 4. Sebaiknya praktikan di ajak dalam proses pengambilan sampel sehingga dapat mengetahui habitat dari fitoplankton tersebut.

36

LAPORAN PRAKTIKUM OSEANOGRAFI BIOLOGI FITOPLANKTON

Nama Nim

Oleh : : TIARA ASMIKA SARI : K2E009019

Asisten : Dalas Pure Delaware (K2D 007 018) Reysa Sinestiyanti (K2D 007 071) Anisa Asri Hardini (K2D 606 002)

PROGRAM STUDI OSEANOGRAFI JURUSAN ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO 2011

37

Daftar Pustaka Nybakken, J., W. 1992.Biologi Laut; Suatu Pendekatan Ekologis.Jakarta:PT. Gramedia Pustaka Utama. http://ohmyluna.blog128.fc2.com/blog-entry-18.html,(diakses tanggal 6 Mei 2011 pukul 17.01) http://maruf.wordpress.com/2005/12/22/mengenal-diatom/,(diakses tanggal 6 Mei 2011 pukul 17.01) http://rhariyati.blogspot.com/2008/01/protista-autotrof-eukariotikpyrrophyta.html,(diakses tanggal 6 Mei 2011 pukul 17.02) http://mikhsanamin.blogspot.com/2009/04/cyanophyta.html,(diakses Mei pukul 12.24) tanggal 8