Anda di halaman 1dari 3

BioSMART

ISSN: 1411-321X

Volume 5, Nomor 2 Halaman: 131-133

Oktober 2003

Hubungan antara Lingkar Genggam bagian Luar, Tinggi Badan, dan Ukuran Panjang Telapak Kaki Orang Indonesia di Surakarta

The relation between an antropometric of outer fist cicumference, body height and sole of foot length of Indonesia living in Surakarta

DIDIK TAMTOMO

Laboratorium Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sebelas Maret Surakarta 57126

Diterima: 8 Januari 2003. Disetujui: 28 Juli 2003

ABSTRACT

The aim of the research was to investigate the relation between antropometric of outer fist cicumference, body height and sole of foot length of Indonesia living in Surakarta. This was a cross sectional study involving 206 adolescent people of Surakarta. The independent variables were fist cicumference and body height, while the dependent variable was foot length. The typical analysis were Pearson correlation and multiple regression analysis with confident Interval of 95%. The statistical analysis shows that there was significant correlation (p=0.000) between outer fist cicumference, body height and foot length (r LGL-PTK =0.780 dan r TB-PTK = 0.490).

Key word: antropometric, outer fist cicumference, body height, sole of foot length.

PENDAHULUAN

Tubuh manusia memiliki bagian-bagian tubuh yang dapat diukur. Ukuran-ukuran tersebut sering dipakai dalam menentukan kondisi lingkungan hidup manusia, seperti panjang liang kubur, tinggi pintu rumah, panjang lingkar

topi, dan jarak anak tangga pada bangunan bertingkat. Hal

ini tidak terlepas dari ilmu antropologi, baik antropologi

ragawi maupun antropologi budaya. Satuan ukuran dalam antropologi ragawi, antropometri, semakin lama semakin

banyak dimanfaatkan dalam ilmu-ilmu biologi seperti anatomi kedokteran dan kedokteran kehakiman (medical forensic) (Gray, 1973). Satuan ukuran bagian badan yang sering digunakan

antara lain lebar telapak, jengkal hasta, dan panjang depa.

Di beberapa kebudayaan tertentu, ukuran-ukuran tersebut

sudah dibakukan secara tradisional. Sehingga sangat me- narik mengetahui ukuran-ukuran antropometri tradisional yang dipakai dalam kehidupan sehari-hari di berbagai daerah. Sebagian besar ukuran-ukuran antropometri tersebut sudah banyak ditinggalkan atau diabaikan, karena masuknya alat-alat ukur yang lebih modern, namun ukuran antropometri sangat baik untuk ditelusuri (Gray, 1973). Dalam peradaban modern, antropometri bermanfaat di berbagai bidang, seperti ergonomi, forensik, dan lain-lain. Permasalahan ergonomi antara lain diterapkan pada ukuran tinggi pada kursi, meja, ukuran pegangan (grip) berbagai alat/perkakas misalnya pisau, kemudi, alat rumah tangga maupun alat olah raga. Perkakas impor yang dibuat dengan ukuran negara barat kadang-kadang tidak sesuai dengan ukuran orang Indonesia. Di sisi lain pengetahuan antropometri sangat membantu di bidang forensik, seperti

penentuan tinggi badan mayat korban mutilasi, ataupun penetapan postur tubuh korban ledakan bom (Gray, 1973). Secara tradisional dipakainya ukuran antropometri menunjukan kemungkinan adanya hubungan antara ukuran bagian badan yang satu dengan dengan yang lain, atau kesamaan antara ukuran yang satu dengan yang lain. Hal ini terlihat di beberapa daerah, misalnya jika orang membeli celana, yang dipakai ukuran adalah panjang tangan bagian bawah mulai dari siku sampai dengan genggaman telapak tangan, atau ukuran kaos kaki dapat dipergunakan Lingkar genggam bagian luar. Bertitik tolak dari pengamatan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Lingkar genggam bagian luar, tinggi badan, dan panjang telapak kaki manusia dari individu yang sama.

BAHAN DAN METODE

Penelitian ini dilakukan di kota Surakarta dengan sampel orang Indonesia dewasa. Penelitian dilakukan pada tahun 2001 dengan pendekatan cross sectional (Sastroasmoro dan Ismael, 1995), dengan jumlah sampel sebanyak 206 orang. Dalam penelitian ini, variabel terikat adalah panjang telapak kaki; varibel bebas adalah panjang lingkar genggam bagian luar dan tinggi badan. adapun jenis kelamin responden tidak dibedakan. Lingkar genggam bagian luar adalah panjang lingkaran genggam bagian luar yang diukur melalui articulationes metacarpophalangeaes dalam satuan centimeter, pengukuran dilakukan dengan pita ukur standard. Tinggi badan adalah panjang tubuh pada saat responden dalam posisi berdiri tegak di atas

© 2003 Jurusan Biologi FMIPA UNS Surakarta

132

BioSMART

Vol. 5, No. 2, Oktober 2003, hal. 131-133

tongkat ukur tinggi badan, pengukuran dilakukan dengan tongkat ukur tinggi badan standard. Panjang badan diukur mulai dari vertex (bagian kepala yang paling tinggi) sampai ke calcaneus (tumit), pengukuran dilakukan dengan dengan pita ukur standard dalam satuan centimeter. Panjang telapak kaki adalah ukuran panjang dari jari II sampai ujung belakang calcaneus (tumit) dalam satuan centimeter. Hasil pengamatan diuji dengan analisis regresi dan korelasi dengan tingkat kepercayaan 95% untuk menguji hubungan fungsional antar variabel dan analisis.

HASIL DAN PEMBAHASAN

fungsional antar variabel dan analisis. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 1. Boxplot data. A. lingkar genggam luar

Gambar 1. Boxplot data. A. lingkar genggam luar (LGL), B. tinggi badan (TB), dan C. panjang telapak kaki (PTK).

Hasil Dari sejumlah 206 sampel yang diambil secara acak sederhana diperoleh data diskripsi statistik yang dapat diamati pada Tabel 1. Dari Tabel 1 dapat diamati bahwa data responden untuk Lingkar genggam bagian luar responden maksimum 29 cm dan minimum 21 cm, sedangkan untuk tinggi badan tercatat tinggi maksimum 188 cm dan minimum 146 cm. Untuk panjang telapak kaki diperoleh nilai

maksimum 28 cm dan minimum 21 cm. Dari pengamatan data yang terkumpul dapat dijelaskan sebaran data yang digambarkan dengan menggunakan boxplot (Gambar 1.). Dari gambar tersebut bahwa distribusi data responden untuk Lingkar genggam bagian luar menunjukkan sebagian besar berada di sekitar nilai median dengan rentang antara 24 cm sampai dengan 27 cm. Dari gambar 1b terlihat bahwa distribusi data responden untuk tinggi badan menun-jukkan sebagian

besar berada di sekitar nilai median dengan rentang antara di atas 140 cm dan kurang dari 170 cm. Dari gambar

1c terlihat bahwa distribusi data responden untuk panjang

telapak kaki menunjukkan sebagian besar berada di sekitar nilai median dengan rentang antara di atas 22,5

cm dan kurang dari 25,5 cm. Untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antar variabel dilakukan analisis korelasi Pearson (Tabel 2.). Dari hasil analisis korelasi terlihat adanya hubungan antara Lingkar genggam bagian luar dan Tinggi Badan dengan Panjang Telapak Kaki (r LGL-PTK = 0,790) dan (r TB-PTK = 0,490). Korelasi antara Lingkar genggam bagian luar dengan Panjang Telapak Kaki Lebih besar daripada korelasi antara Tinggi Badan dengan Panjang Telapak Kaki. Untuk lebih meyakinkan korelasi antara variabel bebas dengan variabel terikat perlu dilakukan uji dengan menggunakan analisis regresi ganda dan analisis regresi tunggal (Tabel 3 dan 4). Penelitian menggunakan dua variabel bebas dan sebuah variabel terikat, untuk itu perlu dilakukan analisis regresi tunggal (Tabel 3). Dari Tabel 3 terlihat adanya hubungan antara variabel bebas Lingkar genggam bagian luar dan tinggi badan dengan variabel terikat panjang telapak kaki yang

Tabel 1 . Deskripsi statistik lingkar genggam bagian luar, tinggi badan, dan panjang telapak kaki.

Variabel

N

Mean

Median

Tr Mean

St Dev

SE Mean

Min

Max

LGL

206

25,364

25,000

25,366

2,045

0,143

21,00

29,00

TB

206

159,12

159,00

159,58

12,60

0,880

146,0

188,0

PTK

206

24,148

24,000

24,121

1,256

0,087

21,00

28,00

Keterangan: LGL: lingkar genggam bagian luar, TB: tinggi badan, PTK:

panjang telapak kaki.

ditunjukkan dengan nilai probabilitas yang lebih kecil dari α = 0,05 (p = 0,000). Kedua variabel bebas mempunyai hubungan dengan variabel terikat. Kemudian untuk mengetahui hubungan dari masing-masing variabel bebas secara bersama dengan variabel terikat dilakukan analisis regresi ganda (Tabel 4.).

Tabel 2. Hasil uji korelasi Pearson.

Variabel

Tinggi badan

Panjang telapak kaki

Lingkar genggam

bagian luar

0,410

0,780

Tinggi badan

-

0,490

Tabel 3. Hasil analisis regresi tunggal antara variabel bebas lingkar genggam bagian luar dan tinggi badan terhadap panjang telapak kaki.

Nilai probabilitas dengan variabel bebas Lingkar genggam

bagian luar

Tinggi badan

Variabel terikat

Panjang telapak kaki

0,000

0,000

Tabel 4. Hasil analisis regresi ganda antara variabel bebas lingkar genggam bagian luar dan tinggi badan terhadap panjang telapak kaki.

 

Nilai probabilitas dengan variabel bebas

Variabel terikat

Lingkar genggam

Tinggi

Secara

bagian luar

badan

bersama

Panjang telapak kaki

0,000

0,000

0,000

TAMTOMO – Hubungan genggaman luar, tinggi badan, dan telapak kaki

133

Dari Tabel 4 terlihat adanya hubungan antara variabel bebas Lingkar genggam bagian luar dan tinggi badan dengan variabel terikat panjang telapak kaki yang ditunjukkan dengan nilai probabilitas yang lebih kecil dari α = 0,05 (p = 0,000).

Pembahasan Hasil yang diperoleh dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara lingkar genggam bagian luar dan Tinggi Badan dengan Panjang Telapak Kaki. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya kesesuaian kesimpulan dengan penelitian yang dilakukan Giles dan Vallandigham (1991) yang mengungkapkan penetapan persentase baru, serta regresi liner untuk penentuan tinggi badan dari panjang telapak kaki. Kemudian penelitian lain (Van Bogaert, 1999), yang menyimpulkan adanya korelasi antara panjang kaki dengan dengan tinggi badan. Kesamaan hasil yang diperoleh dari penelitian ini dengan penelitian di luar negeri membuktikan bahwa pengukuran salah satu bagian badan secara antropometri dapat digunakan sebagai indikator ukuran bagian badan lain. Demikian juga penelitian Cheng et al., (1998) di Hong Kong, yang menyimpulkan adanya korelasi linier bermakna antara tinggi badan, panjang lengan dan panjang kaki dengan koefisien korelasi 0,90-0,99, baik untuk pria maupun wanita. Penelitian antropometri di Amerika untuk keperluan penerbangan angkasa luar (Clauser, 1980), menunjukkan bahwa tinggi badan dan panjang telapak kaki merupakan faktor penting dalam rancangan pesawat terbang serta pakaian untuk para antariksawan. Penelitian antropometri sangat diperlukan sebagai data base pengembangan peralatan, baik militer maupun non militer. Data pengukuran antropometri mempunyai banyak kegunaan khususnya pada aplikasi rekayasa teknik (Emanual et al, 1979). Efisiensi dari data antropometri secara detil dapat dipergunakan untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan human engineering. Sistem antropometri mendeskripsi dimensi badan secara statistik yang terkait dengan fisiologi. Selain itu data dari pengukuran antropometri juga dapat digunakan sebagai ukuran sederhana mengenai status nutrisi seseorang yang sangat diperlukan bagi program kesehatan masyarakat. Damon et al. (1983) mengungkapkan bahwa pengu- kuran antropometri pada lingkar genggam bagian luar merupakan salah satu indikator untuk rancangan bentuk sarung tangan baik untuk pekerja lapangan maupun petinju. Penelitian lain yang membedakan jenis kelamin (Peker et al., 1997) menyimpulkan bahwa berdasarkan analisis

statistik antara panjang kaki dan Ankle Circumference Calf Circumference (p <0,05), pria memiliki korelasi yang lebih besar dari wanita. Hal ini kemungkinan karena secara fisiologi aktivitas pria lebih banyak bertumpu pada kaki dibandingkan wanita. Namun, hasil yang diperoleh dalam penelitian ini berbeda dengan penelitian Sforza et al (2000) yang menyimpulkan tidak adanya keterkaitan yang konsisten antara panjang telapak kaki yang simetris, dengan usia, berat badan, dan tinggi badan. Perbedaan ini kemungkinan disebabkan karena pola hidup dan konsumsi makanan dari responden.

KESIMPULAN

Dari hasil analisis dapat disimpulkan: (i) Adanya korelasi antara Lingkar genggam bagian luar dan Tinggi Badan dengan Panjang Telapak Kaki, dengan (r LGL-PTK =0,780 dan r TB-PTK = 0,490); (ii) Adanya hubungan antara lingkar genggam bagian luar, tinggi badan, dan panjang telapak kaki, baik secara analisis tunggal maupun ganda (p = 0,000).

DAFTAR PUSTAKA

Cheng, J.C., S.S. Leung, B.S. Chiu, P.W. Tse, A.K. Chan, G. Xia, A.K. Leung, and Y.Y. Xu. 1998. Can we predict body height from segmental bone length measurement? Journal of Pediatry and Orthopedi 18 (3): 387-393. Clauser, C.E. 1980. The role of comparative antropometry in aerospace antropology. Aerosp. Medical Journal 3 (4): 658-664. Giles, E. and P.H. Vallandigham. 1991. Height estimation from foot and shoeprint length. Journal of Forensic Science 36 (4): 1134-1151. Damon, A., H.W. Stoudt, and R.A. McFarland. 1983. Antropometric, Human Engineering Guide to Equipment Design. New York:

McGraw-Hill. Emanuel, L., N. Alexander, E. Cxhurchill, and B. Truett. 1979. A Height - Weight Sizing System for Flight Clothing. Daytona: Wright Air Development Centre Gray, H. 1973. Anatomy of Human Body. 29th ed. Philadelphia: Lea and Febiger. Peker, T., H.B. Turgut, A. Anil, and S.C. Ulukent. 1997. An examination of relationship between footlength, T1, T2, T3,T4, T5 (toe lengths) ankle circumference and calf circumference of Turkish University student aged between 17 and 25. Morphologie 81 (254):13-18. Sastroasmoro, S. dan S. Ismael. 1995. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak, FKUI. Sforza, C., N. Fragnito, G. Serrao, dan V.F. Ferrario. 2000. Harmonic analysis of footprint symetriy in healthy adolescent. Anat Anz 182 (3):

285-291.

Van Bogaert, L.J. 1999. The relation between height, foot length, pelvic adequacy and model of delivery, European Journal of Obstetry, Gynaecology, and Reproduction Biology 82 (2): 195-198.