Depik, 1(1): 10-21 ISSN 2089-7790

Analisa ekonomi budidaya kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) dan kerapu bebek (Cromileptes altivelis) dalam keramba jaring apung di Indonesia Economic analysis for tiger grouper Epinephelus fuscoguttatus and humpback grouper Cromileptes altivelis in commercial cage culture system in Indonesia
Farok Afero
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Aceh, Banda Aceh 23121. Email korespondensi: farokafero@yahoo.com

Abstract. This study presents an economic analysis of tiger and humpback grouper at different production scales in Indonesia. The results highlight the nonviability of small scale tiger grouper, with a 5 years projected negative cumulative cash flow of – Rp. 18.102.650 and a negative net present value (NPV) of – Rp. 22.059.576. An increasing production scale of tiger grouper highlight a marginal viability for medium scale (with a 5 year projected cumulative cash flow of Rp. 198.320.673 and a positive NPV of Rp. 105.578.440; with a benefit cost ratio of 1,25; an internal rate of return (IRR) of 88%; and a payback period of 0,99 year), and an economically viable of large scale cage culture (with a 5 year projected cumulative cash of Rp. 707.746.923; a NPV of Rp. 406.801.749; a benefit cost ratio of 1,33;an internal rate of return of 157%; and a payback period of 0,57 year). The economic analysis of humpback grouper at different production scales highlight positive cumulative cash, a positive NPV, a benefit cost ratio higher than 2, an internal rate of return over 300% and a payback period of less than one year. A sensitivity analysis revealed that increased survival rate up to 80% would increase cumulative cash and NPV of small scale tiger grouper cage culture. Additionally, improved profitability performance was associated with decreased major production costs, increased production and price of the product. Keywords: Tiger grouper, Humpback grouper, Production scale, profitability Abstrak. Penelitian ini menyajikan analisa ekonomi budidaya kerapu macan dan bebek dengan skala produksi yang berbeda. Penelitian menunjukkan bahwa budidaya kerapu macan dalam skala kecil, dengan proyeksi 5 tahun menghasilkan arus kas kumulatif negatif sebesar –Rp. 18.102.650 dan NPV negatif –Rp. 22.059.576. Peningkatan skala produksi (skala menengah) meningkatan keuntungan (proyeksi aliran kas kumulatif selama 5 tahun sebesar Rp. 198.320.673, NPV sebesar Rp. 105.578.440, B/C 1,25; IRR 88%, dan jangka waktu pengembalian modal selama 0,99 tahun), sedangkan untuk skala besar (dengan proyeksi 5 tahun menghasilkan kas kumulatif sebesar Rp. 707.746.923; NPV sebesar Rp. 406.801.749, B/C 1,33; IRR 157%, dan jangka waktu pengembalian modal selama 0,57 tahun). Analisis ekonomi kerapu bebek pada skala produksi yang berbeda menunjukkan kas kumulatif positif, NPV positif, ratio manfaat-biaya (B/C) lebih tinggi dari 2, IRR lebih dari 300% dan jangka waktu pengembalian modal kurang dari satu tahun. Analisis sensitivitas menunjukkan bahwa sintasan kehidupan lebih 80% akan meningkatkan kas kumulatif dan NPV pada budidaya kerapu macan skala kecil. Selain itu, peningkatan profitabilitas berkaitan dengan penurunan biaya produksi, peningkatan produksi dan harga produk. Kata kunci: Kerapu macan, Kerapu bebek, skala produksi, profitabilitas.

10

penggolongan (grading) mingguan dan perendaman ikan di air tawar untuk mencegah penyakit.72% dari total biaya produksi untuk budidaya kerapu macan dan kerapu bebek secara berurutan (DKP. (1991) melaporkan bahwa ikan rucah yang umum digunakan di Indonesia adalah sarden (Sarden lemuru).489.074 MT.3% dari total biaya produksi (Manadiyanto et al. Bali. Lebih lanjut Sugama (2003) melaporan bahwa 3. Lampung. misalnya untuk memotong ikan rucah.000 ton/tahun dengan 15. Pomeroy et al.1000-1200/cm. Kepulauan Riau. Pomeroy et al.5% setiap tahun dan berkontribusi terhadap total produksi makanan ikan laut (FAO. Jawa Timur dan Bali pada tahun 2005 masing-masing sebesar 4. 2003). Tingkat biaya produksi ini dikategorikan masingmasing skala kecil. Jawa Timur. 600-700/cm dan Rp. 116.000 km. 2003).629 ha. dimana produksi ikan kerapu budidaya pada tahun 1999 sebesar 759 ton. meningkat menjadi 6. Biaya produksi adalah salah satu faktor utama yang mempengaruhi profitabilitas pada budidaya kerapu.5% dan 36. 2006) dan ikan rucah sebagai sumber asupan nutrisi. Sejumlah balai benih ikan dibangun baik oleh pemerintah dan swasta untuk memenuhi permintaan benih kerapu itu. sekitar 75% (5.496 ton.8 juta benih ikan kerapu macan dengan ukuran 5-10 cm dihasilkan oleh balai benih ikan di Indonesia pada tahun 2002. Biaya benih.). menengah dan besar. 2002). Ketersediaan benih merupakan komponen penting dalam pengembangan budidaya kerapu. (2006) memperkirakan bahwa input tenaga kerja masingmasing menyumbang 18% dan 7% dari total biaya produksi budidaya kerapu macan dan kerapu bebek. Oleh karena itu. Biaya tenaga kerja adalah biaya terbesar ketiga dan mencapai 12. pakan dan tenaga kerja adalah pengeluaran signifikan pada budidaya kerapu. kuwe (Caranx sp. (2006) melaporkan bahwa benih. Lampung. Tacon et al.000-20. Kawahara & Ismi (2003) melaporkan terdapat 123 unit pembenihan memproduksi benih kerapu macan di seluruh Indonesia. Untuk menilai dan membandingkan dampak dari skala ekonomi pada profitabilitas. pakan dan tenaga kerja mencapai 61-74% dari total biaya produksi usaha budidaya kerapu macan dan kerapu bebek. manajemen biaya produksi yang efisien akan meningkatkan profitabilitas usaha.Depik. Biaya benih adalah biaya terbesar dan mencapai 36. Lombok dan Sulawesi Utara.891. Bahan dan Metode Data diperoleh dari survei yang dilakukan pada November 2009.. Harga beli benih kerapu macan dan bebek masing-masing berkisar Rp. 1(1): 10-21 ISSN 2089-7790 Pendahuluan Kerapu adalah ikan karang yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan telah menjadi komoditas ekspor penting terutama ke Hong Kong.000 ton diperkirakan di ekspor ke Hong Kong (Sadovy et al. 11 . Total perdagangan ikan karang di Asia Tenggara adalah sekitar 30. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menganalisis keuntungan usaha budidaya kerapu macan dan bebek serta memberikan informasi analisa ekonomi untuk pelaku usaha tentang skala ekonomis budidaya kerapu. Budidaya kerapu membutuhkan tenaga kerja intensif. Budidaya kerapu di Indonesia tersebar dari Sumatera sampai Papua dan terkonsentrasi di beberapa provinsi seperti Sumatera Utara. 2001). 2006).000 ton total tangkapan kerapu di Asia dengan nilai 238 juta dollar.8 mill km persegi) dari total luas ditutupi oleh laut. Jawa Timur dan Bali). Jepang..) pepetek (Leiognathus sp. usaha budidaya dikategorikan berdasarkan tiga level biaya produksi: di bawah 100 juta.000 pulau. layang (Decapterus) teri (Engraulis sp. dengan produksi tahunan sebesar 890. Diperkirakan area untuk budidaya laut di sekitar 62. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 13. Lampung.6% dari 52. 388 ton 24 ton dan 180 ton (DKP. Semua data untuk penelitian ini dikumpulkan dari daerah penghasil kerapu di Indonesia (Kepulauan Riau. Indonesia adalah produsen utama kerapu. Total produksi ikan kerapu di Kepulauan Riau. antara 100 dan 200 juta dan lebih dari 200 juta. Pakan merupakan biaya terbesar kedua dan menyumbang 25% dari total biaya produksi (Pomeroy et al. Memiliki garis pantai terpanjang di dunia berkisar 80.. Produksi kerapu budidaya meningkat 1. Diharapkan bahwa hasil penelitian ini akan memberikan teknik kuantitatif untuk membantu produsen memahami dan menafsirkan proses-proses yang saling terkait dalam budidaya serta kendala ekonomi yang dihadapi oleh produsen.493 ton pada tahun 2005 dengan nilai total sekitar Rp.000. Produksi kerapu dari usaha budidaya hanya 8.). Singapura dan Cina.

50% sampai 62% dan ukuran tebar berkisar 10.074. Biaya benih adalah pengeluaran terbesar diikuti oleh 12 . Sebanyak 65 petani ikan diwawancarai dari lokasi pengambilan sampel dan setelah dilakukan pemeriksaan.05 -10.66 4.Depik. Tabel 1.52 492. Biaya tetap pada budidaya kerapu macan berkisar antara 9% sampai 25%. Pakan adalah biaya terbesar kedua pada skala menengah (24%) dan skala besar (32%).00 10.5 ekor/m3) dan skala besar (10 ekor/m3).77 1.19 untuk skala kecil dan 4.27 516.90 3. menengah (8 petani ikan) dan besar (6 petani ikan).00 9.02 dan 13.00 15. menengah dan besar adalah 5.00 Tabel 2.487. 1(1): 10-21 ISSN 2089-7790 Kuesioner terstruktur digunakan untuk mengumpulkan informasi dari produsen kerapu dari tiga skala produksi yang berbeda. Tingkat kelangsungan hidup adalah antara 52. Pada budidaya kerapu bebek kepadatan tebar untuk skala kecil (8 ekor/m3) skala menengah (9.00 66. biaya tetap berkisar antara 10% sampai 13%.19 457.00 10. Sampel terakhir untuk budidaya kerapu macan berdasarkan skala adalah skala kecil (10 petani ikan). Tabel 1 menjelaskan padat tebar budidaya kerapu macan untuk skala kecil (9 ekor/m3).00 13.75 4.05 665.66 cm.00 16.00 60.52. Bobot panen lebih besar dari 400 gram dan periode budidaya berkisar antara 9.27 untuk skala besar. Ringkasan produksi kerapu bebek dengan skala produksi berbeda Variabel Padat tebar (m ) Sintasan kehidupan (%) Ukuran benih (cm) Rasio konversi pakan (FCR) Ukuran panen (gram) Masa pemeliharaan (bulan) Produksi (kg) 3 Kecil 8.89 6.00 72. 48 sampel digunakan untuk analisa lebih lanjut. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan grafik selanjutnya dianalisis secara deskriptif Hasil dan Pembahasan Tabel 1 dan 2 meringkas variabel produksi budidaya ikan kerapu macan dan bebek dengan skala produksi berbeda.70 7.00 cm.66 8. Sementara sampel untuk usaha kerapu bebek adalah skala kecil (11 petani ikan) menengah (9 petani ikan) dan besar (4 petani ikan).25 Besar 19. Konversi pakan pada skala kecil. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa budidaya skala besar memiliki pendapatan lebih baik dari skala menengah dan kecil (Tabel 3). Dalam budidaya kerapu bebek.90-9. 6.50 Menengah 15.89 Besar 10.82 Menengah 9.00 71.262.00 15. Ringkasan produksi kerapu macan dengan skala produksi berbeda Variabel Padat tebar (m ) Sintasan kehidupan (%) Ukuran benih (cm) Rasio konversi pakan (FCR) Ukuran panen (gram) Masa pemeliharaan (bulan) Produksi (kg) 3 Kecil 9.16 462.00 10.50 11.12 4.27 5.44.27-11.66 bulan. berkisar antara 28% dan 42%.54-16.00 3. Ukuran tebar benih kerapu berkisar 7.50 7. skala menengah (15 ekor/m3) dan skala besar (19 ekor/m3). sementara itu biaya tenaga kerja (26%) adalah biaya terbesar kedua usaha skala kecil.146.50 Tabel 3 dan 4 menunjukkan ringkasan pengeluaran budidaya kerapu macan dan bebek. Bobot panen di atas 400 gram dan periode budidaya berkisar antara 15.54 416.00 10.02 468.00 9.44 472.75 bulan (Table 2).00 52. Rasio konversi pakan adalah 3. Biaya variabel menunjukkan bahwa biaya benih adalah komponen pengeluaran terbesar.50 62.

550.576 untuk jangka waktu 5 tahun (Tabel 5).000.4 154.3 20.916.212 20. 1. Ringkasan pengeluaran budidaya kerapu macan dengan skala produksi berbeda Variable 1.2 2.102.000 1.226. Hasil penelitian menunjukkan usaha skala kecil budidaya kerapu macan mengalami kerugian besar baik untuk proyeksi jangka pendek maupun jangka panjang.212.730.350.0 75.000 3. dengan arus kas kumulatif – Rp.824.749.6 23.000 40. Tabel 3.000 24.000 24.7 13.566.900.3 29.059.801.749. 406. 1(1): 10-21 ISSN 2089-7790 biaya pakan kecuali pada skala kecil di mana biaya tenaga kerja adalah biaya kedua terbesar (Tabel 4). Budidaya skala menengah memiliki arus kas kumulatif sebesar Rp. 22.Biaya modal Keramba Peralatan Perahu Total modal 2. 105.375 65.121.200.1 1.000 28.525.952 7.925.965.8 24.500.4 84. 13 .57 tahun) menunjukkan bahwa peningkatan skala produksi menghasilkan kinerja ekonomi yang positif. 18.000 116.000 551.6 2.692.351.7 6.2 2.375.000 66.150.325.973 365.370.597.000 1.655.25 dan IRR sebesar 88% menunjukkan kalayakan usaha budidaya kerapu macan skala menengah.190 15. 85.000 56.000 2.650 pada tahun ke 5.000 510.000 33. Penerapan discount rate 15% menghasilkan NPV negatif .825.Biaya Produksi Biaya tetap Depresiasi Pemeliharaan Izin Total biaya tetap Biaya variable Benih Pakan Buruh Vitamin Solar Lain-lain Total biaya variabel Total biaya produksi 3.600.1 31.250 57.320.009.242 9.000. Skala besar memiliki kas kumulatif sebesar Rp.000.755.000 4.3 3.850.290.769.826) menengah (Rp.192) dan besar (Rp.713 5.000 1.800. Rasio manfaat-biaya (1.5 90.9 13.746.000 1. Penerapan discount rate 15% menghasilkan NPV untuk skala kecil (Rp. 198.000 2.600 48. Rasio manfaat-biaya (B/C) sebesar 1.200.000 790.916.662.5 0.000 1.000 10.242 5.573 42.440.380.952 96.980.4 14.000 119.000 19.578.500 39.124.000 34.000 4.9 25.3 1.000 5.000 9.33).673 dan NPV sebesar Rp.Depik.3 41.500).000 34. 133.121.000 3.000 29.190 3. mengindikasikan bahwa investasi ditolak. IRR (157%) dan periode pengembalian (0.000. 707.783.000 2.Rp.923 dan NPV sebesar Rp.737.600.500 122.000 30.5 1.500 103.000 11.212 Kecil % Menengah % Besar % Analisis indikator keuangan budidaya kerapu macan dan bebek pada skala produksi berbeda dirangkum dalam Tabel 5 dan 6.000. Keuntungan Harga (kg) Total keuntungan 59.380.666. Analisis keuangan budidaya kerapu bebek pada Tabel 6 menunjukkan bahwa semua skala produksi dianggap layak dengan proyeksi arus kas kumulatif selama 5 tahun untuk skala kecil (Rp.848.000 1.3 1.900.500 176.000 3.002) menengah (Rp. 446.000.950.344.660 331.

Selain itu.091 5.660 1.000 467.000 18.625.000 1.404 106.000 344.825.250 15.6 3.4 4.300. Tabel 4.000.606.5 14.067.000 9.Biaya Produksi Biaya tetap Depresiasi Pemeliharaan Izin Total biaya tetap Biaya variable Benih Pakan Buruh Vitamin Solar Lain-lain Total biaya variabel Total biaya produksi 3.100 645.000 39.000 Kecil % Menengah % Besar % Hasil analisa sensitivitas beberapa variabel utama yang mempengaruhi profitabilitas budidaya kerapu macan dan bebek dirangkum dalam tabel 7 dan 8.822.000 34.800 2.000 131.4 21.181.088.1 90.7 2.000. 1.000 151.4 18.4 44.100.775. Keuntungan Harga (kg) Total keuntungan 266.000 5.000 64.000 1.327.000 2.355) selama periode 5 tahun.500 1.0 2. Ringkasan pengeluaran budidaya kerapu bebek dengan skala produksi berbeda Variable 1.888.850.100. 14 .030.000 5.609.818 111.5 3.000 318.9 192.357.Biaya modal Keramba Peralatan Perahu Total modal 2.143.433.0 4.409.500. kedua skala produksi menunjukkan penurunan NPV yang signifikan ketika harga jual turun menjadi Rp.500 12.000 13.000 7.000 1.215.000 44.888.000 15.375) dan skala besar (Rp.200.000 10.000 129.863.000 10.3 3.655.7 86.766.420.000 48.000 422.000 918.000 2.740.400 4.000 (Tabel 7).000 13.000 92.9 13. Hasil analisa sensitivitas pada budidaya kerapu bebek menunjukkan kelayakan ekonomi dengan NPV positif pada semua skala produksi.630 1. IRR lebih besar dari 300% untuk semua skala produksi dan jangka waktu pengembalian modal kurang dari satu tahun.700.000. Peningkatan produksi dan harga terbukti memiliki pengaruh terbesar terhadap profitabilitas pada semua skala produksi (Tabel 8).766.000.000.218 39.050.000.000 2.1 30. 1(1): 10-21 ISSN 2089-7790 286.6 9.Depik.500.718 39.500.500 3. 50.444. Analisis keuangan lebih lanjut menunjukkan rasio manfaat-biaya (B/C) lebih dari 2.983.000.8 3.000.000.444 20.000 41.078 300.9 2.925.672.270 1. Hasil penelitian menunjukkan penurunan produksi sebesar 20% mengakibatkan penurunan NPV dan B/C yang signifikan pada skala produksi menengah dan besar.7 1.000 13.3 27.000 7.727 8.900.563.944.404 42.939. Hasil analisa sensitivitas untuk usaha budidaya kerapu macan skala kecil menunjukkan bahwa tingkat sintasan hidup meningkat memiliki efek berarti dalam hal menghasilkan NPV positif.850.9 17.1 14.7 87.000 17.571.

99 707. Ringkasan indikator keuangan budidaya kerapu macan dengan skala produksi berbeda Perhitungan profitabilitas Kecil Menengah Besar Arus Kas Kumulatif NPV B/C IRR (%) Payback period (tahun) -18.500 1. 2003).212.826 446. FCR pada budidaya kerapu macan dan bebek dalam skala besar masing-masing meningkat 1.576 105. Chou & Wong (1985) memperoleh FCR sebesar 7.34 15 . 2005).52 506% 0.20 1. Tabel 5.923 406.84 1.. Ukuran penebaran 7 sampai 10 cm memiliki tingkat kelangsungan hidup 30 sampai 70% selama dua bulan pertama pemeliharaan (Leong. 2000).320.353 2.749. meningkatkan kualitas benih dan mengurangi kanibalisme dengan cara pemilahan dapat meningkatkan tingkat sintasan kehidupan yang selanjutnya dapat meningkatkan volume produksi.578. sementara Tacon et al. Sih (2006) mengungkapkan bahwa biaya produksi satu kilogram ikan kerapu dengan menggunakan ikan rucah sebagai sumber makanan ikan berkorelasi langsung dengan FCR.69 430% 0. (1991) melaporkan FCR sebesar 3.23 2.375 2. Angka kematian selama pemelihaan adalah 60% atau lebih untuk benih ikan kurang dari 5 cm (Sadovy.692. Yashiro (1999) melaporkan bahwa ukuran minimum benih untuk budidaya dalam KJA berkisar 7-10 cm. Sadovy & Lau (2002) melaporkan bahwa tingkat mortalitas ikan kerapu antara 60-80% selama siklus pemeliharaan..57 Rasio konversi pakan (FCR) pada budidaya kedua kerapu sangat tinggi pada skala produksi yang berbeda. Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan skala produksi akan meningkatkan FCR.088.181. Pakan yang terbuang 2 sampai 4 kali lebih banyak dibandingkan dengan pemberian pellet (Sih et al. Ikan rucah dipotong-potong sesuai dengan bukaan mulut ikan dan diberikan ke ikan sampai kenyang.440 0.57 Tabel 6. Ringkasan indikator keuangan budidaya kerapu bebek dengan skala produksi berbeda Perhitungan profitabilitas Kecil Menengah Besar Arus Kas Kumulatif NPV B/C IRR (%) Payback period (tahun) 133. kepadatan tebar yang lebih rendah seperti pada skala kecil tidak memberikan kontribusi positif pada sintasan kehidupan. (1994) melaporkan bahwa pemberian makan dengan ikan rucah menghasilkan rasio konversi pakan yang buruk.192 85.059. Sementara itu.33 157% 0.749 1.650 198.002 286.102.344.673 -22.5. Penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan ukuran benih seperti pada skala besar tidak meningkatan sintasan kehidupan ikan.5.36 361% 0. 1(1): 10-21 ISSN 2089-7790 Sintasan kehidupan kerapu macan dan bebek pada skala berbeda masing-masing 75% dan 65%.801. Sekitar 30-50% dari ikan rucah diberikan pada ikan terbuang selama proses pemberian pakan.009. Dalam sebuah studi pemberian makan dengan ikan rucah. Peningkatan FCR secara positif akan meningkatkan biaya produksi satu kilogram ikan kerapu. Ukuran benih yang lebih disukai untuk tebar di KJA di atas 7 cm mengingat benih kerapu bersifat kanibalisme (Marte. Ikan kerapu adalah ikan kanibalisme dan hampir dari kematian terjadi pada bulan pertama penebaran ke dalam keramba jaring apung (KJA).Depik.746.25 88% 0.822. Oleh karena itu. Wu et al.. Ikan rucah adalah sumber makanan yang umum digunakan dalam budidaya kerapu karena lebih murah daripada pakan buatan pabrik (pellet). 1997).

NPV positif serta IRR yang lebih tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa persentase biaya tetap menurun dengan meningkatnya skala produksi (Gambar 1).059. Biaya produksi kerapu macan (a) dan kerapu bebek (b) pada skala produksi berbeda Analisis lebih lanjut dilakukan untuk menganalisis kinerja keuangan budidaya kerapu macan dan bebek.34 dibandingkan dengan skala kecil.850. Mereka berasumsi bahwa tingkat kelangsungan hidup adalah 80%. Oleh karena itu. Oleh karena itu.Depik. Proyeksi ini menunjukkan bahwa kerapu macan skala kecil mengalami kerugian besar dan harus ada perubahan besar agar usaha dalam skala ini menjadi layak. Panjang periode budidaya dan skala operasi membuat produsen skala besar kurang mengontrol manajemen pemberian pakan. 66. 77. panen ukuran 600 gram dan harga jual Rp. 1(1): 10-21 ISSN 2089-7790 dan 2.000. peningkatan skala produksi akan meningkatkan biaya variabel kecuali biaya tetap dan tenaga kerja.000. Persentase biaya variabel meningkat dengan meningkatnya skala produksi kecuali untuk biaya tenaga kerja. 18.650 dan NPV negatif-Rp. Budidaya kerapu memerlukan tenaga kerja intensif minimal 3 tenaga kerja untuk pemberian makan dan pemilahan ikan. Penelitian tersebut diproyeksikan bahwa skala kecil menghasilkan Rp.576 (Tabel 5).2 kg dan penjualan harga Rp. Oleh karena itu. Manajemen pemberian pakan pada budidaya kerapu harus di tingkatkan untuk meningkatkan effesiensi pemberian ikan rucah.64 dan IRR sebesar 125% berdasarkan asumsi bobot panen 1. Studi ini menunjukkan bahwa budidaya kedua kerapu dalam skala besar menghasilkan biaya tenaga kerja menjadi rendah.. Dengan proyeksi 5 tahun menghasilkan arus kas negative –Rp. Hasil ini setuju dengan Pomeroy et al. pakan dan tenaga kerja menyumbang lebih dari 65% dari total biaya produksi. Hasil ini sama dengan pendapat Shang (1990) yang menyatakan bahwa input biaya tetap menurun dengan meningkatnya skala produksi.390. B/C 2. meningkatkan ukuran panen dan sintasan kehidupan mungkin dapat meningkatkan profitabilitas pada usaha skala kecil.884. 27. 22. (2006) bahwa budidaya kerapu bebek skala kecil memperoleh arus kas positif untuk proyeksi 5 tahun. Fixed cost Fry Feed Labor (a) 45 40 Fixed cost Fry Feed Labor 45 40 35 (b) 35 Production cost (% ) Production cost (%) 30 25 20 15 10 5 0 Small Medium Scale Large 30 25 20 15 10 5 0 Small Medium Scale Large Gambar 1. kita bisa mengatakan bahwa meningkatnya skala operasi menyebabkan penggunaan rucah yang tidak efisien. 78. Peningkatan unit pembesaran pada skala besar membuat tenaga kerja mampu menangani lebih banyak keramba dan memberikan kontribusi pada rendahnya input tenaga kerja. Penelitian sebelumnya tentang budidaya kerapu dalam skala kecil oleh Sheriff (2004) menjelaskan bahwa usaha skala kecil menghasilkan keuntungan yang memadai dan investasi cukup menguntungkan. Analisis keuangan menunjukkan bahwa usaha budidaya kerapu macan skala kecil tidak layak secara ekonomi. 16 . Biaya variabel utama dalam budidaya kerapu macan dan bebek adalah benih. yang berarti bahwa produsen skala besar membuang pakan lebih banyak dari produsen skala kecil.102. Sedangkan analisis keuangan budidaya kerapu bebek skala kecil menunjukkan arus kas kumulatif positif.000. (2004) memproyeksikan hasil sebesar Rp. Model analisis ekonomi yang dikembangkan oleh Pomeroy et al.

749. Analisis sensitivitas pada usaha kerapu bebek menunjukkan bahwa peningkatan dan penurunan biaya variabel menghasilkan NPV positif pada skala produksi yang berbeda.923 dan NPV sebesar Rp. 70.000/ha/ tahun..673 dan NPV positif sebesar Rp.Depik. Berbeda dengan budidaya kerapu macan skala kecil. Budidaya kerapu menawarkan pendapatan tinggi dan skala besar adalah skala produksi yang paling menguntungkan. 226. 198. 105. Proyeksi usaha kerapu bebek skala besar juga menunjukkan arus kas kumulatif dan NPV tertinggi serta IRR lebih dari 300%. Perbedaan besar profitabilitas antara usaha kerapu dan udang menunjukkan kinerja keuangan yang lebih kuat pada budidaya kerapu. Temuan ini sama dengan analisis ekonomi oleh Pomeroy et al. IRR yang lebih tinggi menunjukkan potensi yang besar pada skala besar dibandingkan kecil dan menengah.2 tahun. harga jual. peningkatan produksi dan pengurangan biaya produksi adalah variabel utama yang berpengaruh pada profitabilitas budidaya kerapu. B/C serta IRR yang lebih tinggi.23.578. DKP (2007) dalam studi budidaya dan analisa ekonomi budidaya udang melaporkan aliran kas bersih sebesar Rp.997/ha/tahun. Peningkatan sintasan kehidupan sampai 80% menyebabkan budidaya kerapu macan skala kecil menjadi layak secara ekonomi. 17 .746. 406. usaha kerapu bebek skala menengah menghasilkan arus kas dan NPV. skala menengah menghasilkan aliran kas positif sebesar Rp.87 dan periode pengembalian modal 1. Analisis juga menggarisbawahi bahwa kenaikan harga menjadi Rp. Penurunan biaya benih dan pakan menghasilkan peningkatan NPV dan IRR yang signifikan dalam usaha skala menengah dan besar. Selain itu. B/C 1. 1(1): 10-21 ISSN 2089-7790 Skala ekonomi jelas terlihat sebagai akibat dari meningkatnya skala produksi kerapu macan dan bebek. B/C 1. Peningkatan sintasan kehidupan sampai 80% memberikan kontribusi positif pada NPV dengan skala produksi yang berbeda.960. 707. 107. Hasil analisis sensitivitas menunjukkan bahwa tingkat sintasan kehidupan. Selain itu. Dibandingkan dengan kinerja keuangan budidaya udang windu yang di estimasi oleh Dwijanti (2004) memperoleh kas bersih sebesar Rp. Kesimpulannya bahwa peningkatkan sintasan kehidupan.801. penurunan produksi dan harga bahkan tidak menghasilkan NPV negatif untuk semua skala produksi. Hasil analisis pada skala besar lebih menekankan skala ekonomi yang penting bagi kelangsungan hidup ekonomi dan potensi keberhasilan pada skala besar. Selain itu. Selain itu. Estimasi ini menyoroti pentingnya skala ekonomi dan potensi kelayakan ekonomi pada tingkat output yang lebih tinggi.000 mengakibatkan peningkatan NPV yang signifikan pada skala menengah dan besar tetapi gagal untuk meningkatkan NPV pada skala kecil.320. IRR 24%. benih yang unggul serta manajemen pakan yang effisien akan menjanjikan keuntungan ekonomi yang besar bagi produsen. Hasil dari analisis ekonomi skala besar kerapu macan menunjukkan aliran kas positif sebesar Rp.440. penurunan produksi sebesar 20% menyebabkan penurunan NPV dan IRR yang signifikan pada skala produksi yang berbeda.992. (2006) bahwa tingkat sintasan kehidupan 80% membuat usaha menjadi layak dan arus kas selama 5 tahun menjadi positif untuk setiap tahun produksi.

423.64 0.80 0.44 1.002 580.452 -15.64 1.45 -1.561 303.936.639.980.897.000 -3.22 1.700 88.040.670.60 0.25 1.752 194.13 0.651 -26.12 1.256 122. 50.020.41 65 116 71 108 105 240 116 216 1.80 0.55 0.448 -18. 1(1): 10-21 ISSN 2089-7790 Tabel 7.862 201.098.229 510.000 Rp.46 70 164 212 0.050.91 0.47 1.038.854.040.99 0.46 0.93 1.500 -14.517.183 0.826.657 231.789 133.740.441 0.985.89 0.068.07 148 51 192 52 0.17 1.118 -37.07 0.50 0.318 125.198 485.052.19 1.597.30 1.563.690.080 681.09 0.99 0.180.220.453.153 513.99 143 29 246 67 0.896 0.415.88 1.269 328.517 49.10 0.41 1.87 1.93 0.910 133.601 439. Ringkasan analisa sensitivitas usaha budidaya kerapu macan dengan skala produksi berbeda Net present value (NPV) Kecil SR 80% Biaya benih +20% -20% Biaya Pakan +20% -20% Biaya Buruh +20% -20% Produksi +20% -20% Harga Rp.82 0.667.20 1.37 1. 70.89 1.623 374.54 -29.67 0.51 47.63 1.759 91.703 77.221.31 1.54 1.20 -28.97 0.999 18.514.65 2.969 85.36 74 104 138 179 1.29 1.34 1.504.51 0.47 1.57 0.Depik.34 1.299 0.74 1.430.688.43 Menengah Besar Benefit cost ratio (B/C) Kecil Menengah Besar IRR (%) Kecil Menengah Besar Payback period Kecil Menengah Besar 18 .076 1.250.266 -40.

701.41 2.20 0.268 1.075.046.51 2.895.109.20 0.669 274.442.22 0.394 291.743.171.45 2.435.419.239.828 749.648.17 3.983 1.705. 250.000 131.511.464.24 0. 1(1): 10-21 ISSN 2089-7790 Tabel 8.16 136.16 0.19 0.96 3.13 2.257 83.181 89.20 0.42 2.19 0.685.109 1.770 86.019 362.826 200.912 1.76 2.022 2.775 3.095 210.27 0.007.27 2.15 0.726.973 1.16 0.48 2.970.013 87.23 82.60 2.62 3.79 1.67 343 378 354 367 409 445 419 435 499 549 507 541 0.129 2.37 2.17 0.16 0.600.622 298.21 3.533.23 0.13 2.30 2.089.77 2.157.000 Rp.21 2.119.13 0.22 0.17 0.270.59 0.24 2.277.044 2.26 0.16 80.310 1.22 0.175 291.379 75.09 Menengah Besar Benefit cost ratio (B/C) Kecil Menengah Besar IRR (%) Kecil Menengah Besar Payback period Kecil Menengah Besar 19 . 350.899.09 2.515 281.73 2.14 0.97 2.149 372.23 0.615.08 477 246 557 299 692 359 0.742 1.519.497.143.126.96 580 668 1028 0.52 2.120 446.24 112.18 0.041.425 281.152 3.618.178.083.722 2.99 557 321 542 314 611 337 0.053.25 0.041 1.Depik.13 0. Ringkasan analisa sensitivitas usaha budidaya kerapu bebek dengan skala produksi berbeda Net present value (NPV) Kecil SR 80% Biaya benih +20% -20% Biaya Pakan +20% -20% Biaya Buruh +20% -20% Produksi +20% -20% Harga Rp.89 2.19 0.567.21 2.484.73 1.289 57.17 0.593.31 0.525 704.61 2.197.60 351 370 420 434 516 532 0.807.

Pengembangan model budidaya kerapu di Batam Riau. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. S. Regional survey for fry/fingerling supply and current practices for grouper mariculture: evaluating current status and long-term prospects for grouper mariculture in South East Asia. R. Primary Ind. Pomeroy. penelitian ini juga menyoroti bahwa usaha kerapu macan skala kecil tidak layak secara ekonomis tetapi peningkatan sintasan kehidupan menjadi 80% dapat memberikan kontribusi positif pada skala ini. Pembesaran kerapu macan (Epinephelus fuscogutattus) dan kerapu tikus (Cromileptes altivelis) di karamba jaring apung. Y. Agbayani. 227: 293-304. Jakarta. 6 (3/4): 177-190. Parks. 2000. F.Depik. Farming the reef: is aquaculture a solution for reducing fishing pressure on coral reef? Marine Policy. 2004. Epinephelus tauvina (Forskal) in floating net cages and fed dry pelleted diet from autofeeds. The financial feasibility of small scale grouper aquaculture in the Philippines. R. T. Final report to the Collaboration APEC grouper research and development network (FWG 01/99).E. Leong. 30: 111-130. 2003. Tajerin. R. Usaha menengah dan besar menghasilkan usaha yang ekonomis. M. Rasio konversi pakan yang lebih besar pada berbagai skala produksi terutama dalam skala besar sehingga manajemen pakan yang lebih baik harus diterapkan untuk mengurangi limbah pakan selama siklus pemeliharaan... Fao. Pomeroy. 2003. Department of Marine Affairs and Fisheries.S.P.. 2000.. Jakarta. December. Selanjutnya. A. Ismi. 20 . Azizi. Pranowo. 30-31 July. Indonesia. Indonesia. Akhirnya. A. Statistik Perikanan Budidaya Indonesia 2005. Marte. R.S. S.M. Pusat Riset Sosial Ekonomi dan Produk Olahan. Aplikasi Best management practices pada budidaya intensif udang windu (Penaeus monodon Fabricius). Y. N..L.H. Produsen perlu memilih benih berkualitas tinggi untuk memastikan tingkat sintasan kehidupan lebih tinggi. 8: 61-83.3. Departemen Kelautan dan Perikanan. 1997.J.A. Singapore J. 2006.. Analisa kelayakan proyek budidaya udang windu Tiger prawn (Penaeus monodon L. www. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. 1(1): 10-21 ISSN 2089-7790 Kesimpulan Hasil dari penelitian ini telah memberikan informasi penting tentang kelayakan ekonomi budidaya kerapu macan dan bebek pada skala produksi yang berbeda. 2002. FAO. Preliminary observation on the growth and dietary performance of grouper. Cited January 2009.asp/. 2007. Aquaculture. Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya. Kawahara. Jakarta. 13: 84-91. Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia. DKP. Duray. kualitas benih perlu mendapat perhatian karena tingkat sintasan kehidupan masih rendah selama periode pemeliharaan. Jakarta. 1985.F.J. R. C. DKP. Balboa. Research Institute for marine aquaculture-Gondol in cooperation with institute for the Lampung marine aquaculture development and the Situbondo brackish water aquaculture development. Sadovy. G. Lau. Wong. Manadiyanto. 2002. S. 2001. Malaysia. Purnomo. Zahri. Kuala Lumpur. Larviculture of marine species in Southeast Asia: current research and industry prospect. Sadovy. 1997. DKP. 2004. Quinitio. Institut Pertanian Bogor. S. Management of marine finfish disease in Malaysia. Grouper seed production statistics in Indonesia 1999-2002. Prospect and problems for marine culture in Hong Kong. 2006. C. P. Aquaculture Economic and Management. 2003. Paper presented at a Seminar on Sustainable Development of Mariculture Industry in Malaysia.) dala rangka pengembangan wilayah pessisir kabupaten Purworejo. FISHSTAT Plus 2.org/fi/statis/fispft/fishplus. Balai Air Payau Jepara. Toledo. Balai Budidaya Laut Lampung. usaha kerapu bebek menghasilkan pendapatan paling besar dibandingkan kerapu macan karena perbedaan pada harga pasar. Dalam hal kegiatan budidaya. J. Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia. Aquaculture Economics and Management. Dwijanti. J. Departemen Kelautan dan Perikanan Indonesia. Daftar Pustaka Chou.

UK. T.Depik. William. and brown-spotted grouper. Sugama. 1991 The food and feeding of tropical marine fishes in floating net cages: Asian seabasss. V. 1990. S. Manila. Bangkok. P. Grouper aquaculture in three Asian countries: farming and economic aspect. Panichsuke. Stirling University. Rumengan. Muldoon. Shang. Aquaculture and Fisheries Management. Indonesia focuses on groupers. 2003. Yeeting. Donaldson. M. 2004. 22: 165-182. M.J. J. Thaiand. Y. 21 . McGilvray. R. K. In: Report of the APEC/NACA Cooperative Grouper Aquaculture Workshop Hat Yai.C.A. P.S.Y.J. M. V. 1(1): 10-21 ISSN 2089-7790 Sadovy. Lates calcarifer (Bloch). Phillips. S.R Graham.G. Y.. Aquaculture economic analysis: An introduction.J.J. Toledo.. A. . F. Rimmer. N. Sugama. Cornelis. Fisher livelihoods in southern Thailand: sustainability and the role of grouper culture. LA. B. Smith. Yam. 38: 115-145. T. 2003. 7-9 April 1999.S. World Aquaculture Society. Bangkok. Collaborative APEC Grouper Research and Development Network (FWG 01/99).Y.C. Deakin University. 27-35. Asia Aquaculture Magazine September-October 2003.S. R.W. K. 2006. I. Network of Aquaculture Centres in Asia Pacific. M. Sih. ADB Pacific Studies Series.J. pp. N. Marine Environmental Research. C. Vatanakul. Kadari. 1994 Impact of marine fish farming on water quality and bottom sediment: a case study in the sub tropical environment.. Sheriff. 2005. Thailand. Mackay. Yashiro. Australia. While stock last: the live reed food fish trade. K. A Practical guide to feeds and feed management for cultured grouper. Thailand. Baton Rouge. K. Status of grouper culture in Thailand. Phillipps. Wu.J. Lam. A. NACA. Lau.S. Sih. Asian Development Bank. Tacon. G.A. Epinephelis tauvina (Forskal).D.. Rimmer.. M. T. Rausin. 1999.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful