Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOLOGI II

PERCOBAAN DASAR
CARA DAN RUTE PEMBERIAN OBAT PADA HEWAN PERCOBAAN (MENCIT)

Disusun oleh : Nama No. Mahasiswa Tgl. Praktikum Hari Dosen Pembimbing : 09.0047 : 28 April 2011 : Kamis

: Prastiwi Ari Isnaini

: Margareta Retno Priamsari, S.Si.,Apt.

LABORATORIUM FARMAKOLOGI AKADEMI FARMASI THERESIANA SEMARANG 2011 PERCOBAAN DASAR


CARA DAN RUTE PEMBERIAN OBAT PADA HEWAN PERCOBAAN (MENCIT)

1. TUJUAN PRAKTIKUM Mahasiswa dapat mengenal cara dan rute pemberian obat secara per oral, subcutan, intraperitoneal, dan intravena, mengetahui pengaruh rute pemberian obat terhadap efek farmakologi, memahami konsekuensi praktis dari pengaruh rute pemberian obat, mengenal manifestasi berbagai efek obat (Phenobarbital / Luminal) yang diberikan. 2. DASAR TEORI Di dalam tubuh, obat akan mengalami beberapa fase yaitu fase farmasetik, fase farmakokinetik dan fase farmakodinamik. Cara pemberian obat sangat penting artinya karena setiap obat berbeda penyerapannya oleh tubuh dan sangat bergantung pada lokasi pemberian. Rute pemberian obat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efek obat, terutama laju penyerapan obat. Hal ini disebabkan karena perbedaan karakteristik lingkungan fisiologis, anatomi dan biokimiawi pada daerah kontak permulaan obat dan tubuh. Perbedaan karakteristik ini mengakibatkan perbedaan jumlah obat yang dapat mencapai tempat kerja pada rentang waktu tertentu sehingga mengakibatkan perbedaan onset (mula kerja obat) dan durasi (lama kerja obat). Pemilihan rute pemberian obat tergantung dari tujuan terapi, sifat obat serta kondisi pasien. Bentuk sediaan obat yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan efek terapi obat. Bentuk sediaan obat dapat memberikan efek local maupun sistemik. Efek sistemik diperoleh jika obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah, sedangkan efek lokal adalah efek obat yang bekerja setempat. (Anief,M, 1994)

Fenobarbital (Fenobarbiton, Luminal) Senyawa hipnotik ini terutama digunakan pada serangan grand mal dan status epilepticus berdasarkan sifatnya yang dapat memblokir pelepasan muatan listrik di otak. Untuk mengatasi efek hipnotiknya, obat ini dapat dikombinasi dengan kofein. Tidak boleh diberikan pada absences karena justru 2

dapat memperburuknya. (Tjay, T.H., 2007) Resorpsinya di usus baik (70-90%) dan lebih kurang 50% terikat pada protein. Plasma T -nya panjang, lebih kurang 3 - 4 hari, maka dosisnya dapat diberikan sekaligus sehari. Kira kira 50% dimetabolisme menjadi p -hidroksifenobarbital yang diekskresikan lewat urin dan hanya 10% - 30% dalam keadaan utuh. (Tjay, T.H., 2007) Efek sampingnya berkaitan dengan efek sedasinya yakni pusing, mengantuk, ataksia dan pada anak-anak mudah terangsang. Efek samping ini dapat dikurangi dengan mengkombinasikannya dengan obat-obat lain. (Tjay, T.H., 2007) Interaksi. Bersifat menginduksi enzim dan antara lain mempercepat penguraian kalsiferol (Vitamin D2) dengan kemungkinan timbulnya Rachitis (penyakit Inggris) pada anak kecil. Penggunaannya bersama dengan valproat harus hati-hati, karena kadar darah fenobarbital dapat ditingkatkan. Di lain pihak kadar darah fenitoin dan karbamazepin serta efeknya dapat diturunkan oleh fenobarbital. (Tjay, T.H., 2007) Dosisnya adalah 1 - 2 d d 30 mg - 125 mg, maksimal 400 mg (dalam 2 kali). Pada anak-anak 2 - 12 bulan 4 mg/kg berat badan sehari. Pada status epilepticus dewasa 200 mg - 300 mg. (Tjay, T.H., 2007) Efek utama barbiturat ialah depresi SSP. Fenobarbital dan Barbital bekerja panjang dengan durasi 10 - 12 jam. Barbital diekskresi terutama oleh ginjal. Fenobarbital dimetabolisme oleh enzim P450 di hati. Fenobarbital menginduksi enzim P450 yang menyebabkan peningkatan metabolisme banyak obat. Fenobarbital digunakan secara klinis sebagai antikonvulsan. Barbiturat secara oral diabsorpsi cepat dan sempurna. Bentuk garam natrium lebih cepat diabsorpsi dari bentuk asamnya. Mula kerja bervariasi antara 10 - 60 menit, bergantung kepada zat serta formula sediaan, dan dihambat oleh adanya makanan di dalam lambung. Secara intra vena, Barbiturat digunakan untuk mengatasi status epilepsi, dan menginduksi serta mempertahankan anesthesia umum. Dosis Phenobarbital / Luminal Untuk manusia BB 50 kg = 300 mg 600 mg (Anonim, 1979)

UJI HAYATI Pada uji hayati, pengujian dilakukan menggunakan system hayati sebagai sarana pengujian. Kemudian yang diamati atau diukur adalah respon system hayati akibat perlakuan terhadapnya yang ditimbulkan zat uji, sediaan uji, sediaan baku atau sediaan pembanding. Pada azasnya, jika mungkin untuk keseluruhan pengujian terhadap zat uji atau sediaan uji terhadap respon sistem hayati sama yang ditimbulkan sediaan baku atau sediaan pembanding. Yang harus diperhatikan adalah bahwa pengujian terhadap zat uji atau sediaan uji dan pengujian terhadap sediaan baku atau sediaan pembanding harus dilakukan dalam kondisi yang dapat dibandingkan dengan seksama. (Anonim,1979) Dengan demikian dapatlah dianggap bahwa, deviasi sistematik yang terutama disebabkan salah penimbangan dan salah pengenceran tidak lagi merupakan sumber deviasi yang berarti, sehingga deviasi yang masih tertinggal hanyalah deviasi rawu yang disebabkan faktor naluri sistem hayati dan kondisi perlakuan terhadapnya. (Anonim,1979) Naluri sistem hayati bervariasi sesuai dengan biakan murni pilihan, kelamin, umur, bobot, jenis, suku dan asal usul. Sungguh pun cara dan prosedur yang disebutkan monografi dipilih yang paling tepat digunakan dalam pengujian, hasil pengujiannya akan memuaskan, jika dipenuhi semua syarat yang disebut monografi, terutama sistem hayati dan sediaan baku atau sediaan pembanding. Sistem hayati Sistem hayati meliputi hewan, jaringan hewan dan kuman. (Anonim,1979) HEWAN PERCOBAAN Hewan biakan murni pilihan karena alasan ekonomi, biakan murni pilihan hewan yang digunakan masih belum dapat diberikan spesifikasi yang dikehendaki atau petunjuk dimana biakan murni pilihan hewan itu dapat diperoleh. Karena itu, biakan murni pilihan yang dimaksud dalam bab ini barulah pengertian hewan yang diketahui asal usulnya dan bersumber dari satu induk. Jika syarat ini sukar dipenuhi, hewan lain dapat digunakan untuk pengujian asalkan sekurangnya 2 minggu sebelum pengujian dilakukan hewan itu sudah harus dipelihara dan dirawat dengan sebaik-baiknya. Jenis hewan yang digunakan dalam pengujian harus sesuai dengan 4

yang

disebutkan

dalam

monografi.

Masing-masing

bobot,

kecuali

dinyatakan lain, adalah sebagai berikut : Tabel 1 Mencit Tikus Marmut Kelinci Merpati Kucing (Anonim,1979) KONDISI HEWAN Hewan harus sehat, pertumbuhannya normal, tidak mengalami kelainan yang berarti, deviasi bobot pemeliharaan tidak lebih dari 10%, suhu badan normal berdeviasi suhu tidak lebih dari 10 , pemeriksaan tinja tidak menunjukan kelainan flora ususnya seperti terdapat parasit usus. (Anonim,1979) RUANGAN HEWAN Sehari sebelum pengujian dilakukan, hewan sudah harus dimasukkan kedalam ruangan hewan. Ruangan hewan harus berventilasi baik dengan ukuran luas untuk masing-masing hewan tidak kurang dari ukuran berikut ini : Tabel 2 Mencit Tikus Marmut Kelinci Kucing 450 cm2 700 cm2 900 cm2 7500 cm2 11000 cm2 17 gr 25 gr 150 gr 200 gr 300 gr 500 gr 1,5 kg 2 kg 100 gr 200 gr Tidak kurang dari 2,5 kg

Makanan hewan. Makanan hewan harus disesuaikan dengan jenis hewannya, sebaliknya makanan yang diberikan harus komposisi yang jelas dan tetap. Untuk menghilangkan parasit yang tidak dikehendaki, sayuran dicuci dengan larutan kalium permanganat P 2% b/v. (Anonim,1979)

PERLAKUAN Perlakuan terhadap hewan harus dilakukan dengan lemah lembut sesuai dengan kebiasaan hewan masing-masing. Kucing harus diangkat dengan memegang kulit bagian atas leher dibantu dengan tangan lain mengangkat badannya. Mengangkat kelinci sama dengan kucing, jangan diangkat dengan cara memegang kedua telinganya. Tikus, mencit, dan marmut diangkat dengan memegang ekornya. Sedapat mungkin usahakan menghindarkan perlakuan yang kasar, karena dapat menimbulkan keresahan pada hewan yang dapat mengakibatkan kenaikan suhu badannya. (Anonim,1979) MENCIT (Mus musculus) Kingdom Filum Kelas Ordo Family : Animalia : Chordata : Mamalia : Rodentia : Muridae Mencit (Mus musculus) adalah anggota Muridae (tikus tikusan) yang berukuran kecil. Mencit dewasa memiliki berat badan 25 40 g (betina) dan 20 - 40 g (jantan). Mencit mudah dijumpai di rumah rumah dan dikenal sebagai hewan pengganggu. Mencit sangat mudah menyesuaikan diri dengan perubahan yang dibuat manusia. Mencit percobaan (laboratorium) dikembangkan dari mencit melalui proses seleksi. Sebagian besar tikus diperoleh dari peternak hewan laboratorium untuk digunakan dalam penelitian biomedis, pengujian, dan pendidikan. Sekarang mencit juga dikembangkan sebagai hewan peliharaan. (id.wikipedia.org/wiki/Mencit) Mencit adalah binatang asli Asia, India, dan Eropa Barat. Jenis ini sekarang ditemukan di seluruh dunia karena pengenalan oleh manusia. Mencit peliharaan memiliki periode kegiatan selama siang dan malam. Mencit adalah hewan percobaan yang sering digunakan dalam laboratorium farmakologi dalam berbagai bentuk percobaan. Hewan ini mudah ditangani dan bersifat penakut, fotofobik, cenderung berkumpul dengan sesamanya, bersembunyi dan lebih aktif beraktivitas pada malam hari. 6

Kehadiran manusia akan mengganggu aktivitasnya. Laju respirasi normal 163 tiap menitdan suhu tubuh normal 36C. (id.wikipedia.org/wiki/Mencit) Cara Memegang Mencit o Ujung ekor mencit diangkat dengan tangan kanan. Letakkan pada suatu tempat yang permukaannya tidak licin (misal ram kawat pada penutup kandang), sehingga jika ditarik, mencit akan mencengkeram. o Telunjuk dan ibu jari tangan kiri kanan. o Posisi mencit dibalikkan, sehingga permukaan perut menghadap kita dan ekor dijepitkan di antara jari manis dan kelingking tangan kiri. Jika cara penanganan mencit tidak sesuai, biasanya mencit akan buang air besar atau buang air kecil. Hal ini terjadi karena mencit merasa stres atau ketakutan. Selain itu juga merupakan pertahanan diri untuk melindungi dirinya dengan mengeluarkan fecesnya. (andiscientis.blogspot.com) Nutrisi Mencit harus diberi makan pelleted komersial tikus atau hewan pengerat diet dan air lib iklan. Ini diet yang bergizi lengkap dan tidak memerlukan suplemen. Asupan makanan sekitar 15 g/100 g BB / hari sedangkan asupan air sekitar 15 ml/100 g BB / hari. (id.wikipedia.org/wiki/Mencit) 3. ALAT DAN BAHAN Alat : 1. Beaker glass 2. Jarum oral 3. Jarum suntik - 1 inchi (No. 27) 4. Timer (jam / stopwatch) 5. Spuit menjepit kulit tengkuk, sedangkan ekornya dipegang dengan tangan

6. Wadah kaca (akuarium) untuk hewan percobaan (mencit) 7. Timbangan analitik 8. Spidol permanen 9. Labu takar 10. Pipet 11. Kapas Bahan : 1. Hewan percobaan (mencit jenis kelamin jantan) 2. Sediaan injeksi Luminal Natrium 3. Alkohol 70% 4. Aqua pro injection 4. CARA KERJA 1. Buat larutan stok ( lakukan pengenceran) Ambil sediaan injeksi Phenobarbital 50 mg/2 ml Pecah vial, masukkan larutan dalam labu takar 50 ml Encerkan dengan aqua pro injeksi sampai batas volume Gojog 2. Penimbangan dan Penandaan Mencit Ambil mencit (pegang bagian ekornya)

Tandai ekor mencit dengan spidol permanent

Masukkan mencit dalam beker, timbang

Catat berat mencit 3. Rute Pemberian Obat secara Oral Ambil larutan stok (Phenobarbital)dengan jarum oral

Pegang mencit pada bagian tengkuknya

Masukkan jarum oral ke mulut mencit melalui langit-langit masuk esofagus

Dorong larutan obat tersebut ke dalam esofagus

Catat waktu pemberian obat, mulai timbulnya efek (onset) dan hilangnya efek 4. Rute Pemberian Obat secara Subcutan Ambil larutan stok dengan jarum suntik

pegang mencit

tarik kulit di bagian tengkuk mencit

Suntikkan larutan obat di bawah kulit tengkuk

Catat waktu pemberian obat, mulai timbulnya efek (onset) dan hilangnya efek 5. Rute Pemberian Obat secara Intravena Ambil larutan stok (Phenobarbital) dengan jarum suntik [ - 1 inchi (No. 27)]

Lakukan dilatasi pada ekor mencit dengan cara mengoleskan alkohol pada ekornya

Cari vena, suntikkan larutan obat ke dalamnya (bila terasa ada tahanan / bila piston ditarik tidak ada darah yang keluar berarti jarum tersebut tidak memasuki vena)

Bila harus dilakukan penyuntikan ulang maka lakukan pengulangan

dimulai dari bagian distal ekor.

Catat waktu pemberian obat, mulai timbulnya efek (onset) dan hilangnya efek 6. Rute Pemberian Obat secara Intra Peritonial Ambil larutan stok (Phenobarbital) dengan jarum suntik [ - 1 inchi (No. 27)]

Pegang mecit pada bagian tengkuknya hingga posisi abdomen lebih tinggi dari kepala mencit

Suntikkan larutan obat ke dalam abdomen bawah dari mencit di sebelah garis midsagital

Catat waktu pemberian obat, mulai timbulnya efek (onset) dan hilangnya efek 5. HASIL DAN PENGOLAHAN DATA SERTA GRAFIK A. Konversi Dosis Dosis Phenobarbital menurut FI III Untuk manusia BB 50 kg = 300 mg 600 mg Untuk manusia BB 70 kg = 70/50 x (300 - 600)mg = 420 mg 840 mg Untuk mencit BB 20 g Dsetengah = (420 mg 840 mg) x 0,0026 = 1,092 mg 2,184 mg = (1,092 mg 2,184 mg) : 2 = 1,638 mg B. Pembuatan Larutan Stock Sediaan awal Phenobarbital = 50 mg/2 ml V1 . C1 8 ml . 50 mg = = V2 . C2 50 ml . C2

10

C2

400/50 = 8 mg 8 mg/50 ml

C. Perhitungan Dosis Mencit Penimbangan Mencit 1. 2. 3. 4. Mencit 1 Mencit 2 Mencit 3 Mencit 4 = 25,3 g = 24,4 g = 21,8 g = 23,6 g

Dosis mencit 1. Mencit I (Per Oral) Dosis = 25,3 g x 1,638 = 2,07216 mg 20 g Volume = 2,0721 mg x 1 ml = 0,26 ml 8 2. Mencit II (Sub Cutan) Dosis = 24,4 g x 1,638 = 1,9984 mg 20 g Volume = 1,9984 mg x 0,5 ml = 0,25 ml 8 3. Mencit III (Intra Peritoneal) Dosis = 21,8 g x 1,638 = 1,7854 mg 20 g Volume = 1,7854 mg x 1 ml = 0,22 ml 8 4. Mencit IV (Intra Vena) Dosis = 23,6 g x 1,638 = 1,9328 mg 20 g Volume = 1,9328 mg x 0,5 ml = 0,12 ml 8

D. Tabel Dosis No 1. Rute Pemberian Per Oral (PO) BB(Kg) 25,3 g Dosis 2,072 mg Larutan stock 8 mg/50 ml Vol.yg disuntik 0,26 ml 11

2. 3. 4.

Subcutan (SC) Intraperitoneal (IP) Intravena (IV)

24,4 g 21,8 g 23,6 g

1,998 mg 1,785 mg 1,933 mg

0,25 ml 0,22 ml 0,12 ml

E. Data Onset dan Durasi Kelp. 1 2 3 4 5 6 P.O Onset Durasi 63 21 65 43 62 50 70 24 62 51 31 29 S.C Onset Durasi 23 53 15 93 19 75 81 31 29 14 I.P Onset Durasi 22 62 22 39 24 73 44 11 14 I.V Onset Durasi 65 10 45 63 39 40 61 14 56 15 30

F. Uji Anova Onset Kelp. 1 2 3 4 5 6 X n total = 24 Xpo2 = 632 + 652 + 622 + 702 + 622 + 312 Xsc2 Xip2 Xiv2 XT XT2 = 21743 = 8833 = 3797 = 14853 = 954 = 232 + 152 + 192 + 812 + 312 + 142 = 222 + 222 + 242 + 442 + 112 + 142 = 652 + 452 + 392 + 612 + 562 + 152 = 353 + 183 + 137 + 281 P.O 63 65 62 70 62 31 353 S.C 23 15 19 81 31 14 183 I.P 22 22 24 44 11 14 137 I.V 65 45 39 61 56 15 281

= 21743 + 8833 + 3797 + 14853 = 49226

Taraf nyata = = 5 % = 0,05 Jumlah kuadrat total = XT2 - (XT)2 n total = 49226 (954)2 24 = 49226 37921,5 = 11304,5 12

Jumlah kuadrat rute pemberian = [ Xpo2 + Xsc2 + Xip2 + Xiv2 ] [ XT2 ] npo nsc nip niv n total = [ (353)2 + (183)2 6 6 = 4716,51 Jumlah kuadrat galat = jumlah kuadrat total jumlah kuadrat rute pemberian obat = 11304,5 4716,51 = 6587,99 G. Tabel Anova Onset Sumber Variasi Perlakuan JK 4716,51 dk 3 Kuadrat ratarata (JK/dk) 1572,17 F.hitung = Kuadrat rata2 rute pemberian Kuadrat rata-rata galat = 1572,17 329,4 Galat Total 6587,99 11304,5 20 23 329,4 491,5 = 4,77 + (137)2 6 + (281)2 ] [(954)2 ] 6 24

= [20768,17 + 5581,5 + 3128,17 + 13160,17] 37921,5

dk. rute pemberian obat dk galat dk total Kriteria uji F. Kritis

= jumlah rute pemberian - 1 = 4 - 1 = 3 = n total jumlah rute pemberian = 24 4 = 20 = n total 1 = 24 - 1 = 23

= F ( ; dk perlakuan ; dk galat) = F ( 0,05 ; 3 ; 20 ) = 3,10

F hitung 4,77

> >

F kritis 3,10 Berbeda bermakna 13

H. Uji Anova Durasi Kelp. 1 2 3 4 5 6 P.O 21 43 50 24 51 29 Xpo = 218 S.C 53 93 75 29 Xsc = 250 I.P 62 39 73 Xip = 174 I.V 10 63 40 14 30 Xiv = 157

n total = 24 6 = 18 Xpo2 = 212 + 432 + 502 + 242 + 512 + 292 Xsc2 Xip2 Xiv2 XT XT2 = 532 + 932 + 752 + 292 = 622 + 392 + 732 = 102 + 632 + 402 + 142 + 302 = 218 + 250 + 174 + 157 = 8808 = 17924 = 10694 = 6765 = 799

= 8808 + 17924 + 10694 + 6765 = 44191

Taraf nyata = = 5 % = 0,05

Jumlah kuadrat total = XT2 - (XT)2 n total = 44191 (799)2 18 = 44191 35466,722 = 8724,278 = 8724,3 Jumlah kuadrat perlakuan rute pemberian = [ Xpo2 + Xsc2 + Xip2 + Xiv2 ] [ XT2 ] npo nsc nip niv n total = [ (218)2 + (250)2 6 4 = 38567,47 35466,7 14 + (174)2 3 + (157)2 ] [(799)2 ] 5 18

= [7920,67 + 15625 + 10092 + 4929,8] 35466,7

= 3100,77 Jumlah kuadrat galat = jumlah kuadrat total jumlah kuadrat rute pemberian obat = 8724,3 3100,77 = 5623,53 I. Tabel Anova Durasi Sumber Variasi Perlakuan JK 3100,77 dk 3 Kuadrat ratarata (JK/dk) 1033,59 F.hitung = Kuadrat rata2 rute pemberian Kuadrat rata-rata galat = 1033,59 401,68 Galat Total F. Kritis 5623,53 8724,3 14 17 401,68 513,19 = 2,57

= F ( ; dk perlakuan ; dk galat) = F ( 0,05 ; 3 ; 14 ) = 3,34

F hitung 2,57

< <

F kritis 334 Berbeda tidak bermakna

6. PEMBAHASAN Dalam praktikum ini digunakan injeksi Phenobarbital 50 mg / 2 ml yang diberikan pada hewan percobaan (mencit) untuk mengetahui onset dan durasi obat. Phenobarbital adalah senyawa hipnotik yang digunakan sebagai antikonvulsan, anti epilepsi dan hipnotik / sedatif. Tetapi karena yang akan dilihat adalah onset dan durasinya maka efek yang lebih diutamakan adalah efek hipnotik sedativenya. Sediaan injeksi phenobarbital terlebih dulu diencerkan konsentrasinya hingga volume 50 ml sehingga diperoleh konsentrasi obat 8 mg / 50 ml. Dosis yang disuntikkan pada mencit harus disesuaikan dengan berat badan masing masing mencit. Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih. Hewan ini digunakan sebagai hewan percobaan karena memiliki struktur dan sistem 15

organ yang hampir mirip dengan struktur organ yang ada di dalam tubuh manusia. Mencit memiliki karakteristik mudah ditangani dan bersifat penakut, fotofobik, cenderung berkumpul dengan sesamanya, bersembunyi dan lebih aktif beraktivitas pada malam hari. Mencit yang digunakan adalah mencit yang berjenis kelamin jantan, karena mencit jantan tidak memiliki siklus menstruasi seperti mencit betina. Perbedaan hormon saat mensturasi pada mencit betina dapat mempengaruhi efek obat pada mencit. Sehari sebelum praktikum dilakukan, mencit harus dipuasakan terlebih dahulu agar sistem / saluran pencernaannya kosong sehingga tidak akan mempengaruhi absorpsi obat. Dalam praktikum ini, obat diberikan dengan 4 cara yaitu : per oral, obat diberikan melalui mulut mencit dengan menggunakan jarum oral. Jarum oral memiliki ujung yang tumpul sehingga tidak akan melukai mencit. Pemberian obat dengan jarum oral harus dipastikan bahwa jarum sudah mencapai rahang mencit, karena jika tidak, obat yang diberikan akan dimuntahkan kembali oleh mencit tersebut. Pastikan jarum oral tidak masuk ke saluran pernafasan mencit. Subcutan, obat disuntikkan di jaringan bawah kulit tengkuk mencit. Intravena, obat disuntikkan melalui pembuluh darah vena di ekor mencit dimana terdapat banyak pembuluh darah. Lakukan dilatasi pada ekor mencit dengan cara mengoleskan alkohol pada ekornya sehingga pembuluh darah vena lebih jelas terlihat. Intraperitoneal, obat disuntikkan ke rongga perut mencit.

16

Berdasarkan cara cara pemberian obat di atas, urutan terjadinya onset adalah : intra vena, pemberian obat secara intravena memiliki onset paling cepat karena obat yang disuntikkan akan langsung masuk ke sistem peredaran darah dan beredar ke suluruh tubuh mencit sehingga cepat menghasilkan efek. intraperitonial subcutan per oral, pemberian obat secara per oral memiliki onset paling lama ( 1 jam). Hal ini disebabkan karena obat harus mengalami proses absorbpsi di saluran pencernaan (lambung dan usus) baru kemudian akan di distribusikan ke seluruh tubuh agar menghasilkan efek. Cara ini adalah cara pemberian obat yang paling banyak digunakan karena relatif mudah, aman, dan murah. Saat mengambilan larutan stock phenobarbital dengan menggunakan spuit, pastikan jangan sampai terdapat gelembung udara pada larutan di dalam spuit karena dapat menyembabkan thrombo emboli pada mencit. Onset (mula kerja obat) dihitung saat pada menit dimana mencit mulai diam, tertidur atau tidak menunjukan respon / aktivitas. Sedangkan durasi (lama obat bekerja di dalam tubuh) dihitung saat mencit mulai sadar / terbangun dari tidur akibat hilangnya efek hipnotik sedative dari phenobarbital. Dari data percobaan yang diperoleh data onset dan durasi sebagai berikut : Data Kelompok I

17

P.O Onset 63 Durasi 21 Onset 23

S.C Durasi 53 Onset 22

I.P Durasi 62 Onset 65

I.V Durasi 10

Data Kelas Kelp. 1 2 3 4 5 6 P.O Onset Durasi 63 21 65 43 62 50 70 24 62 51 31 29 S.C Onset Durasi 23 53 15 93 19 75 81 31 29 14 I.P Onset Durasi 22 62 22 39 24 73 44 11 14 I.V Onset Durasi 65 10 45 63 39 40 61 14 56 15 30

Dari data percobaan di atas, pemberian secara per oral menunjukkan onset yang paling lama tetapi memiliki durasi paling cepat. Tetapi pada praktikum ini terjadi penyimpangan hasil. Seharusnya pemberian obat secara intravena menunjukkan onset yang paling cepat dibandingkan pemberian obat cara lain. Tetapi pada percobaan ini, intravena justru menunjukkan hasil sebaliknya. Efek hipnotik sedative intravena justru tampak pada menit yang lebih lama dari pemberian obat secara per oral, intraperitoneal, dan subcutan. Penyimpangan ini dapat dipengaruhi beberapa faktor, antara lain : a. Cara pemberian obat yang salah Kesalahan teknis saat pemberian obat dapat mempengaruhi efek obat. Cara penyuntikan yang salah sehingga cairan obat banyak yang keluar atau karena penyuntikan yang ragu ragu sehingga obat tidak masuk dalam sekali suntik. b. Pengenceran salah Kesalahan dalam pembuatan larutan stok juga dapat mempengaruhi dosis obat. Hal ini mungkin terjadi saat meng-adkan larutan hingga batas cincin pada labu takar. c. Faktor internal mencit Faktor faktor yang mempengaruhi kondisi mencit antara lain adalah kebisingan di laboratorium, frekuensi perlakuan terhadap mencit, dan lain lain. Dalam menangani mencit, semua hal yang menjadi faktor internal dan

18

eksternal dalam penanganan hewan percobaan harus optimal, untuk menjaga kondisi mencit tersebut tetap pada keadaan normal. Hasil percobaan yang menyimpang mungkin dikarenakan kondisi mencit yang terganggu sehingga ia merasa terancam, ketakutan dan stress, mencit terlalu agresif/ kurang agresif sehingga dosis yang diberikan tidak berefek. Mencit yang akan digunakan untuk praktikum harus dipuasakan sehari sebelumnya, hasil yang menyimpang juga dapat terjadi karena mencit memakan sekam sekam yang tersisa di kandangnya sehingga ia tidak puasa sepenuhnya. Pada percobaan ini didapatkan hasil berbeda bermakna untuk onset dan berbeda tidak bermakna untuk durasi. 7. KESIMPULAN
Pada percobaan ini didapatkan hasil berbeda bermakna untuk onset dan berbeda tidak bermakna untuk durasi. Cara pemberian obat sangat penting artinya

karena setiap obat berbeda penyerapannya oleh tubuh dan sangat bergantung pada lokasi pemberian. Rute pemberian obat merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi efek obat, terutama laju penyerapan obat. Perbedaan rute pemberian obat mengakibatkan perbedaan jumlah obat yang dapat mencapai tempat kerja yang akan berakibat pada perbedaan onset (mula kerja) dan durasi (lama kerja) obat. Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit jantan karena mencit jantan tidak memiliki siklus menstruasi seperti mencit betina. Sehari sebelum praktikum dilakukan, mencit harus dipuasakan terlebih dahulu agar sistem / saluran pencernaannya kosong sehingga tidak akan mempengaruhi absorpsi obat. Berdasarkan cara cara pemberian obat di atas, urutan terjadinya onset adalah intra vena , intraperitonial, subcutan dan per oral. Faktor faktor yang mempengaruhi efek obat sehingga praktikum menunjukkan hasil yang menyimpang adalah karena Cara pemberian obat yang salah, pengenceran larutan stock salah dan faktor faktor pada mencit misalnya mencit merasa terganggu / stress, mencit terlalu agresif / kurang agresif. Mencit memakan sekam sekam yang tersisa di kandangnya sehingga 19

ia tidak puasa sepenuhnya. 8. DAFTAR PUSTAKA Tjay, T.H., 2007, Obat-Obat Penting, Edisi VI, Penerbit Elex Media Komputindo, Jakarta.
Anief M., 1994, Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktek, UGM Press, Yogyakarta.

Anonim, 1979, Farmakope Indonesia, Edisi III, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta. http:// id.wikipedia.org/wiki/Mencit http:// andiscientis.blogspot.com

Semarang , Mei 2010 Praktikan

Prastiwi Ari Isnaini

20