Anda di halaman 1dari 53

Proposal Riset

Pengaruh Pemberian Pendidikan Seksual Pada Pekerja Seks Komersial Terhadap Penyakit Menular Seksual Di Kompleks Lohoi Harapan Baru Kota Samarinda

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Ajar Riset Dalam Keperawatan Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

DISUSUN OLEH EVA MARLINDA 7220 05S1 0086

YAYASAN RUMAH SAKIT ISLAM KALIMANTAN TIMUR AKADEMI KEPERAWATAN YARSI SAMARINDA 2012

LEMBAR PERSETUJUAN PROPOSAL PENELITIAN

PENGARUH PEMBERIAN PENDIDIKAN SEKSUAL PADA PEKERJA SEKS KOMERSIAL TERHADAP PENYAKIT SEKS MENULAR DI KOMPLEKS LOHOI HARAPAN BARU KOTA SAMARINDA

Yang diajukan oleh :

EVA MARLINDA NIM 7220 05S1 0086

Telah disetujui di Samarinda pada tanggal 25 Juni 2012 oleh Pembimbing Proposal Riset Keperawatan

MUKHRIPAH DAMAYANTI S.Kep., Ns NIDN 11.1103.7601 Mengetahui Koor. MA Riset Keperawatan

NOORFUADI, S.Kep., Ns NIDN. 11.2312.7201

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Allah SWT, karena dengan bimbingan dan petunjuk-Nya maka laporan penelitian dengan judul Pengaruh Pemberian Pendidikan Seksual pada Pekerja Seks Komersial terhadap Penyakit Menular Seksual di Kompleks Lohoi Harapan Baru Kota Samarinda . Dalam penyusunan makalah ini peneliti banyak mengalami hambatan dan kesulitan, namun berkat bantuan dan bimbingan, akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Untuk itu perkenankan kami mengucapkan terima kasih. 1. Ibu Andi Sitti Jamilah, A.Kp., M.Pd, selaku Plt. Direktur AKPER YARSI Samarinda 2. Bapak Norfuadi, S, Pd., S.Kep., Ns., selaku kordinator dan dosen pengajar Riset Dalam Keperawatan. 3. Ibu Mukhripah Damaiyanti, S.Kep Ns, selaku dosen pembimbing Riset Dalam Keperawatan. 4. 5. Seluruh Staf Perpustakaan AKPER YARSI Samarinda. Rekan-rekan mahasiswa AKPER YARSI Samarinda, Jurusan keperawatan yang telah banyak membantu dalam memberikan informasi tentang penyusunan Riset ini.

Akhirnya penulis berharap semoga hasil penelitian ini bermanfaat bagi pembaca khususnya, dan rekan-rekan semua serta bagi profesi keperawatan pada umumnya.

Samarinda, Juni 2012

Peneliti

DAFTAR ISI Halaman Judul ........................................................................................... Lembar Persetujuan ................................................................................. Kata Pengantar ......................................................................................... i Daftar Isi .................................................................................................. ii Daftar Lampiran ....................................................................................... v BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .................................................................................. 1 1.2 Rumusan Masalah ............................................................................. 3 1.3 Tujuan Penulisan .............................................................................. 4 1.4 Manfaat Penulisan ........................................................................... 4 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penyakit Menular Seksual .................... 5 2.1.1 Pengertian Penyakit Menular Seksual ................................ 5 2.1.2 Jenis-jenis Penyakit Menular Seksual ................................ 6 2.1.3 Tanda dan Gejala Penyakit Menular Seksual ...................... 8 2.1.4 Bahaya Penyakit Menular Seksual .................................... 10 2.1.5 Penularan Penyakit Menular Seksual .................................. 10 2.1.6 Hal-hal Yang Tidak Menularkan ........................................ 10 2.1.7 Cara Mencegah Penyakit Menular Seksual ........................ 11 2.1.8 Pengobatan Penyakit Menular Seksual .............................. 11 2.1.9 Risiko Terkena Penyakit Menular Seksual ......................... 12 2.2 Pekerja Seks Komersial .................................................................... 13

2.2.1 Pengertian Pekerja Seks Komersial .................................... 13 2.2.2 Latar Belakang dan Motivasi Pekerja Seks Komersial ....... 14 2.3 Pengetahuan ...................................................................................... 15 2.3.1 Pengertian Pengetahuan ........................................................... 15 2.3.2 Tingkatan Pengetahuan ............................................................ 15 2.4 Pendidikan Kesehatan ....................................................................... 18 2.4.1 Pengertian Pendidikan Kesehatan ............................................ 18 2.4.2 Tujuan Pendidikan Kesehatan ................................................. 19 2.4.3 Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan .................................... 19 BAB 3: KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS 3.1 Kerangka Konsep .......................................................................... 23 3.2 Hipotesis ............................................................................................ 24 BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian atau Rancangan Penelitian...................................... 25 4.2 Lokasi Dan Waktu Penelitian ............................................................ 26 4.2.1 Lokasi Penelitian .................................................................... 26 4.2.2 Waktu Penelitian .................................................................... 26 4.3 Populasi Dan Sample Penelitian ........................................................ 26 4.3.1 Populasi .................................................................................. 26 4.3.2 Sample Dan Sampling ............................................................ 26 4.4 Definisi Oprasional ............................................................................ 28 4.5 Teknik Pengumpulan dan analisa data................................................ 30 4.5.1 Instrumen Penelitian ............................................................... 30

4.5.2 Alat Pengumpulan Data.......................................................... 30 4.5.3 Pengumpulan Data ................................................................. 31 4.5.4 Analisa Data ........................................................................... 31 4.6 Etika Penelitian ................................................................................. 32 4.7 Keterbatasan.................................................... 33 Daftar Pustaka .......................................................................................... 34 Lampiran ...................................................................................................

DAFTAR LAMPIRAN

Permintaan Menjadi Responden ............................................................... 34 Lembar Persetujuan Responden ............................................................... 35 Kuesioner ................................................................................................. 36 Lembar Konsultasi ................................................................................... 43

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Pekerja seks komersial merupakan peristiwa penjualan diri dengan jalan memperjual belikan badan, kehormatan dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu nafsu seks dengan imbalan pembayaran. (Kartono, 2005) Penyakit Menular Seksual (PMS) dapat terjadi pada semua orang, dimasyarakat sangat potensial untuk terjadi penyakit menular seksual apabila ada situasi dan perilaku yang mendukung penularan penyakit menular seksual. Situasi yang beresiko tinggi terjadi penularan penyakit menular seksual, misalnya kasus praktek prostitusi. Perilaku yang mendukung terjadinya penyakit menular seksual biasanya dilakukan para pekerja seks komersial dengan melakukan hubungan seksual yang tidak sehat dan kurang kesadaran para pekerja seks komersial terhadap pencegahan penyakit menular seksual diantaranya adalah sering berganti ganti pasangan, masih terus berhubugan seksua lmeskipun menderita penyakit menular seksual, pengidap penyakit menular seksual tetapi tidak memberitahu pasangannya untuk mendapatkan pengobatan penyakit menular seksual. Peningkatan insidens penyakit menular seksual tidak terlepas dari kaitannya dengan perilaku resiko tinggi. Terdapat beberapa angkap revalensi mengenai penyakit menular seksual sebagai berikut : China 600.000 orang terkena HIV/AIDS, Thailand sebanyak 735.000 orang terkena HIV/AIDS,

Myanmar sebanyak 530.000 orang terkena HIV/AIDS, Kamboja sebanyak 220.000 orang, Vietnam sebanyak 100.000 orang, Indonesia 80.000 - 120.000 dan Laos sebanyak 1.400 orang yang terkena HIV/AIDS. (Chantavanich, Beeseydan Paul, 2000). Di Samarinda jumlah penderita HIV/AIDS berjumlah sebanyak 66 orang. (Komisi Penanggulangan AIDS, 2011) Penyakit Menular Seksual (PMS) dapat disebabkan oleh berbagai virus, bakteri dan jamur yang dapat menyebar melalui hubungan Seksual. Penyakit Menular Seksual (PMS) biasa dialami oleh orang yang aktif melakukan kegiatan Seksual, terutama jika suka gantiganti pasangan. Penyakit Menular Seksual (PMS) terjadi tidak hanya tanpa menggunakan pengaman (kondom) dan melakukan seks secara anal (melalui anus). Namun Penyakit Menular Seksual (PMS) juga bias menular lewat darah, penggunaan jarum suntik yang tidak diganti bias membuat darah sipenderita masuk dalam tubuh dan tidak melakukan pengobatan. ( www.detikhot.com,2005 ). Penyakit Menular Seksual (PMS) yang tidak diketahui dan tidak melakukan pengobatan pada perempuan dapat menyebabkan kanker, kemandulan, gangguan kehamilan, kecacatan, gangguan pertumbuhan janin. (Hakim, 2000). Selain itu Penyakit Menular Seksual (PMS) juga dapat menyebabkan radang saluran kencing, robeknya saluran ketuban sehingga terjadi kelahiran bayi sebelum waktunya (premature). Penyakit Menular Seksual (PMS) juga mengakibatkan radang panggul dan dapat diturunkan kepada bayi yang baru lahir berupa infeksi pada mata yang dapat menyebabkan kebutaan.

(www. bkkbn. go. id). Oleh sebab itu Penyakit Menular Seksual (PMS) memerlukan

penanggulangan dan pencegahan diantaranya perilau Seksual yang aman peningkatan perilaku mencari pengobatan, deteksi dini pada infeksi yang bersifat simtomatik atau asimtomatik, penyuluhan terhadap pasien, penyediaan kondom, konseling, pemberitahuan dan pengobatan mitra. Selain itu KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) sangat penting. Penyuluhan tentang pencegahan Penyakit Menular Seksual (PMS) pada seseorang yang beresiko terhadap penyakit tersebut sangat diperlukan (terutama pekerja seks komersial). Dengan adanya penyuluhan dapat memberikan pengetahuan kepada PSK, sehingga PSK dapat mengurangi resiko-resiko penularan penykit Menular Seksual (PMS) dan mengubah perilaku Seksualnya menjadi pola seksual yang aman. (Depkes RI, 2004). Dengan demikian, penulis bertujuan melakukan penelitian tentang pengaruh pemberian pendidikan seksual pada pekerja seks komersial terhadap penyakit menular seksual.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya adalah apa pengaruh pemberian pendidikan seksual pada pekerja seks komersial terhadap penyakit menular seks ?

1.3 Tujuan Penulisan 1. Tujuan Umum Untuk mengetahui dampak pemberian pendidikan seksual pada pekerja seksual terhadap penyakit menular seksual. 2. Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui pengertian pendidikan seksual 2. Untuk mengetahui pengetian dari pekerja seks komersial 3. Untuk mengetahui penyakit penyakit menular seksual 4. Untuk mengetahui pengaruh pemberian pendidikan seksual pada pekerja seks komersial terhadap penyakit menular seksual

1.4 Manfaat Penulisan 1. Bidang akademik Dapat dijadikan referensi dalam melakukan penelitian selanjutnya, sehingga menambah kejelasan dan kebenaran dari ilmu pengetahuan yang sudah ada dan dapat memperjelas data yang masih belum diyakini keabsahannya. 2. Bidang IPTEK Sebagai pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan pada institusi institusi pendidikan keperawatan dan lahan praktik keperawatan. 3. Masyarakat

Sebagai pengetahuan baru yang dapat dijadikan bahan bacaan dan sumber informasi tambahan yang diharapkan dapat memberikan sumbangan pada penelitian selanjutnya. 4. Bidang profesi keperawatan Sebagai masukan bagi perawat di Unit Pelayanan Keperawatan dalam rangka mengambil kebijakan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan khususnya terhadap penyakit menular seksual.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Penyakit Menular Seksual (PMS) 2.1.1. Pengertian Penyakit Menular Seksual Infeksi menular seksual (IMS) disebut juga penyakit menular seksual (PMS) atau dalam bahasa Inggrisnya Sexually Transmitted Disease (STDs), Sexually Transmitted Infection (STI), Venereal Disease (VD). Dimana pengertian infeksi menular seksual ini adalah infeksi yang sebagian besar menular lewat hubungan seksual dengan pasangan yang sudah tertular. (Ditjen PPM & PL, 1997) Penyakit menular seksual atau Sexually Transmitted Disease adalah suatu gangguan atau penyakit yang ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui kontak hubungan seksual. Penyakit menular seksual yang sering terjadi adalah Gonorrhoe, Sifilis, Herpes, namun yang paling besar diantaranya adalah AIDS karena mengakibatkan sepenuhnya pada kematian pada penderitanya. AIDS tidak bias diobati dengan antibiotik. (Zohra dan Raharjo, 1999) Penyakit menular seksual didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan karena adanya invasi organisme virus, bakteri, parasite dan kutu kelamin yang sebagian besar melalui hubungan seksual, baik yang berlainan jenis ataupun sesame jenis. (Aprilianingrum, 2002)

2.1.2. Jenis-jenis Penyakit Menular Seksual Beberapa penyakit menular seksual yang sering terjadi pada pekerja seks komersial menurut Fahmi (2008) adalah : 1) Gonorrhoe (kencing nanah) Penyakit ini ditularkan melalui hubungan seksual. Penyakit ini menyerang organ reproduksi dan menyerang selaput lender, mukosa, mata, anus dan beberapa organ tubuh lainnya. Bakteri yang membawa penyakit ini adalah Neisseria Gonorrhoeae. Gejala akibat penyakit ini pada wanita antara lain : a. Keputihan kental berwarna kekuningan b. Rasa nyeri dirongga panggul c. Dapat juga tanpa gejala Sedangkan gejala pada laki-laki antara lain : a. Rasa nyeri saat kencing b. Keluarnya nanah kental berwarna kuning kehijauan c. Ujung penis agak merah dan bengkak 2) Sifilis Penyakit ini disebut juga raja singa dan ditularkan melalui hubungan seksual atau penggunaan barang-barang dari seseorang yang tertular (misalnya: baju, handuk, dan jarum suntik). Penyebab timbulnya penyakit ini adanya kuman Treponema pallidum , kuman ini menyerang organ penting lainnya seperti selaput lendir, anus, bibir, lidah dan mulut. Penularan biasanya melalui kontak seksual, tetapi ada bebrapa contoh lain seperti kontak langsung dan kongenital sifilis ( penularan melalui ibu ke anak

dalam uterus). Dengan gejala klinis : luka atau koreng, jumlah biasanya satu, bulat atau lonjong, dasar bersih, dengan perabaan kenyal sampai keras, tidak ada rasa nyeri pada penekanan. 3) Chlamydia Trachomatis Chlamydia trachomatis adalah agen chlamydial pertama yang ditemukan dalam tubuh manusia. Bakteri ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1907. Infeksi ini sering tidak menimbulkan gejala dan sangat beresiko bila terjadi pada ibu-ibu karena dapat menyebabkan kehamilan ektopik, infertilitas dan abortus. Dengan gejala klinis : a. Pada pria duh (secret/cairan) tubuh uretra dapat disertai eritema meatus. b. Pada wanita duh tubuh serviks seropurulen, serviks mudah berdarah. 4) Herpes Genitali Saat ini dikenal dua herpes yaitu herpes zoster yang disebabkan oleh virus Varicella Zoster dan herpes simpleks yang disebabkan oleh herpes simplex Virus (HSV). Gejala klinis yang disebabkan oleh Virus Herpes Simplex sebagai berikut. 1. Herpes genital pertama : diawali dengan bintil lentingan dan luka/erosi berkelompok, diatas dasar kemerahan, sangat nyeri, pembesaran kelenjar lipat paha dan disertai gejala sistemik. 2. Herpes genital kambuhan : timbul bila ada dua factor pencetus yaitu daya tahan tubuh menurun, stress pikiran, senggama berlebihan, kelelahan. 5) Kondiloma akuminata Kutil genitalis (kondiloma akuminata) merupakan kutil di dalam atau di sekeliling vagina, penis atau dubur yang ditularkan melalui hubungan seksual.

Kutil genitalis sering ditemukan dan menyebabkan kecemasan karena tidak enak dilihat, bias terinfeksi bakteri, bias merupakan petunjuk adanya gangguan system kekebalan. Pada wanita, virus papilloma 16 dan 18 yang menyerang leher Rahim tetapi tidak menyebabkan kutil pada alat kelamin luar dan bias menyebabkan kanker leher Rahim. Virus tipe ini dan virus papilloma lainnya bias menyebabkan tumor intra-epitel pada Rahim (ditunjukkan dengan hasil pap smear yang abnormal) atau kanker pada vagina, vulva, dubur, penis, mulut, tenggorokan atau kerongkongan. 6) HIV/AIDS HIV (Human Immuno Deficiency Virus) yaitu sejenis virus yang menyebabakan AIDS. HIV ini menyerang sel darah putih dalam tubuh sehingga jumlah sel darah putih semakin berkurang dan menyebabkan system kekebalan tubuh menjadi lemah. AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrome) merupakan dampak atau efek dari perkembang biakan HIV dalam tubuh makhluk hidup. AIDS timbul akibat melemah atau menghilangnya system kekebalan tubuh karena sel CD4 pada sel darah putih yang banyak dirusak oleh HIV. 7) Ulkus mole Disebabkan oleh Haemophillus Ducreyi, dengan gejala klinis seperti koreng jumlahnya banyak, bentuk tidak teratur, dasar kotor, tepi bergaung, sekitar koreng merah, edema dan sangat nyeri.

2.1.3. Tanda dan gejala penyakit menular seksual Menurut Kusuma (2009), tanda dan gejala penyakit menular seksual pada laki-laki dan perempuan berbeda. Karena bentuk dan letak alat kelamin laki-laki berada di luar tubuh, gejala penyakit menular seksual lebih mudah dikenali, dilihat dan dirasakan. Tanda-tanda penyakit menular seksual pada laki-laki antara lain sebagai berikut. 1) Berupa bintil-bintil berisi cairan. 2) Lecet atau borok pada penis/alat kelamin. 3) Luka tidak sakit. 4) Keras dan berwarna merah pada alat kelamin. 5) Adanya kutil atau tumbuh daging seperti jengger ayam pada alat kelamin. 6) Rasa gatal yang hebat sepanjang alat kelamin. 7) Rasa sakit yang hebat pada saat kencing. 8) Kencing nanah atau darah yang berbau busuk. 9) Bengkak, panas dan nyeri pada pangkal paha yang kemudian berubah menjadi borok. Pada perempuan, sebagian besar tanpa gejala sehingga sering kali tidak disadari. Jika ada gejala biasanya berupa antara lain : 1) Rasa sakit atau nyeri saat kencing atau berhubungan seksual. 2) Rasa nyeri pada perut bagian bawah. 3) Pengeluaran lendir pada vagina / alat kelamin. 4) Keputihan berwarna putih susu, bergumpal dan disertai rasa gatal dan kemerahan pada alat kelamin atau sekitarnya.

5) Keputihan yang berbusa, kehijauan, berbau busuk dan gatal. 6) Timbul bercak-bercak darah setelah berhubungan seksual. 7) Bintil-bintil berisi cairan. 8) Lecet atau borok pada alat kelamin.

2.1.4. Bahaya penyakit menular seksual Berdasarkan UNAIDS (Joints United Nations Programme on HIV/AIDS) dan WHO (1998) ada beberapa bahaya yang dapat ditimbulkan jika seseorang terdeteksi mengidap penyakit menular seksual, yaitu sebagai berikut. 1) Kebanyakan penyakit menular seksual dapat menyebabkan sakit. 2) Dapat menyebabkan kemandulan. 3) Dapat menyebabkan keguguran. 4) Dapat menyebabkan kanker leher rahim. 5) Dapat merusak penglihatan, otak dan hati. 6) Dapat menular pada bayi. 7) Dapat menyebabkan rentan terhadap HIV/AIDS. 8) Ada yang tidak bisa disembuhkan. 9) Dapat menyebabkan kematian seperti HIV/AIDS.

2.1.5. Penularan penyakit menular seksual Menurut Ditjen PPM & PLP (1997), beberapa cara penularan penyakit menular seksual yaitu melalui : 1) Hubungan seks lewat liang senggama tanpa kondom.

2) Hubungan seks lewat dubur tanpa kondom. 3) Hubungan seks oral tanpa menggunakan kondom.

2.1.6. Hal-hal yang tidak dapat menularkan penyakit menular seksual Menurut Sofianty (2009), penyakit menular seksual tidak dapat menular melalui : 1) Duduk disamping orang yang terkena penyakit menular seksual. 2) Menggunakan WC umum. 3) Menggunakan kolam renang umum. 4) Memegang gagang pintu. 5) Salaman 6) Bersin-bersin 7) Keringat

2.1.7. Cara mencegah penyakit menular seksual Menurut Depkes RI (2006), langkah terbaik untuk mencegah penyakit menular seksual adalah sebagai berikut. 1) Menunda kegiatan seks bagi remaja (abstinensi). 2) Menghindari berganti-ganti pasangan seksual. 3) Memakai kondom dengan benar dan konsisten.

2.1.8. Pengobatan penyakit menular seksual Berdasarkan Ditjen PPM & PLP (1997), yang harus dilakukan seseorang jika terkena atau curiga terkena penyakit menular seksual setelah dilakukan laboratorium adalah sebagai berikut. 1) Setiap penyakit menular seksual obatnya berbeda. Jadi periksakan diri ke dokter untuk mengetahui jenis penyakit dan pengobatannya karena tidak sembarangan obat yang bisa dipakai untuk mengobati semuanya. 2) Selalu minum obat yang diberikan dokter sesuai dengan aturan yang diberikan. Habiskan obat yang sudah diberikan walaupun sakitnya sudah berkurang. Karena hal tersebut dapat berbahaya, sering bibit penyakit belum mati sehingga dapat menyebabkan bibit penyakit tersebut kebal terhadap obat yang diberikan. 3) Selama pengobatan jangan melakukan hubungan seks agar luka-luka penyakit seks menular dapat sembuh. Kalaupun berhubungan seks sebaiknya menggunakan kondom. 4) Periksakan diri ke dokter jika obat sudah habis untuk memastikan penyakit seks menular yang diderita benar-benar sudah sembuh. Dan memeriksakan pasangan seksual agar tidak tertular ulang.

2.1.9. Risiko terkena penyakit menular seksual Menurut Ditjen PPM & PLP (1997), perempuan lebih rentan berisiko tertular penyakit menular seksual dibandingkan laki-laki karena :

1) Saat berhubungan seks, dinding vagina dan leher rahim langsung terpapar oleh cairan sperma. Jika sperma terinfeksi penyakit menular seksual, maka perempuan tersebut bisa terinfeksi. 2) Jika perempuan terinfeksi penyakit menular seksual, dia tidak selalu menunjukkan gejala. Tidak munculnya gejala dapat menyebabkan infeksi meluas dan menimbulkan komplikasi. 3) Banyak orang khususnya perempuan dan remaja enggan untuk mencari pengobatan karena mereka tidak ingin keluarga atau masyarakat tahu mereka menderita penyakit menular seksual.

2.2 Pekerja Seks Komersial (PSK) 2.2.1 Pengertian Pekerja Seks Komersial Pekerjaan seks komersial adalah suatu ketetapan atau ketentuan dimana terjadi penukaran layanan jasa seksual untuk memperoleh pembayaran atau untuk memperoleh material. Pekerja seks komersial merupakan istilah baru yang digunakan untuk menggantikan istilah sebelumnya yaitu wanita tunasusila atau pekerja seks komersial. (Wijaya, 2003). Pekerja seks komersial adalah wanita yang kelakuannya tidak pantas dan bisa mendatangkan mala/celaka dan penyakit, baik kepada diri sendiri atau pun orang lain yang bergaul dengan dirinya, maupun kepada dirinya sendiri. Pekerja seks komersial merupakan profesi yang berupa tingkah laku bebas lepas tanpa

kendali dan cabul, karena adanya pelampiasan nafsu seks dengan lawan jenisnya tanpa mengenal batas-batas kesopanan. (Kartono, 2005). Dalam bukunya, Patologi Sosial, Kartono (2005) menuliskan bahwa pekerja seks komersial merupakan peristiwa penjualan diri dengan jalan memperjualbelikan badan, kehormatan dan kepribadian kepada banyak orang untuk memuaskan nafsu-nafsu seks dengan imbalan pembayaran. Kartono juga menyebutkan bahwa pekerja seks komersial ialah perbuatan perempuan ataupun laki-laki yang menyerahkan badannya untuk berbuat cabul secara seksual yang mendapatkan upah. Defenisi tersebut sejalan dengan Subadra (2007) yang menjelaskan bahwa pekerja seks komersial adalah seseorang yang menjual dirinya dengan melakukan hubungan seks untuk tujuan ekonomi. Subadra (2007) juga menjelaskan terdapat dua pelaku pekerja seks komersial yaitu; laki-laki yang sering disebut sebagai gigolo dan perempuan yang sering disebut wanita tuna susila (WTS). Pengertian pekerja seks komersial yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengertian pekerja seks komersial perempuan yang dikemukakan oleh Subadra (2007) yaitu bahwa pekerja seks komersial adalah seseorang yang menjual dirinya dengan melakukan hubungan seks untuk tujuan ekonomi, dalam hal ini seorang perempuan.

2.2.2

Latar Belakang dan Motivasi Pekerja Seks Komersial Vansenbeeck (2001) menjelaskan ada beberapa hal yang menjadi motivasi

maupun latar belakang seseorang bekerja sebagai pekerja seks komersial, antara lain sebagai berikut. 1. Faktor ekonomi, yaitu kesulitan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dirinya maupun keluarganya. Beberapa faktor yang juga termasuk di dalamnya yaitu: kurangnya keterampilan, rendahnya tingkat pendidikan, faktor migrasi, faktor gaya hidup, dan lain-lain. 2. Faktor penipuan, yaitu menjadi korban penipuan oleh pihak-pihak tertentu yang menawarkan pekerjaan lain kepada mereka namun pada akhirnya dipekerjakan sebagai pekerja seks komersial. Beberapa faktor yang juga termasuk di dalamnya yaitu: keluarga bermasalah, rasa ingin tahu, dan lainlain. 3. Faktor kekerasan seksual, yaitu menjadi korban kekerasan seksual terutama pada masa kanak-kanak. Namun faktor ini tidak terlalu banyak ditemukan di antara para pekerja seks komersial.

2.3 Pengetahuan (Knowledge) 2.3.1 Pengertian Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui pancaindera manusia, yakni indera penglihatan,pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan

telinga. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Overt Behaivour).

2.3.2 Tingkatan Pengetahuan Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 (enam) tingkatan. (Notoatmodjo, 2003) 1. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) sesuatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, menyatakan, dan sebagainya. Contoh : Seorang pekerja seks komersial mengetahui apa arti dari infeksi menular seksual. 2. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap

objek yang dipelajari. Contohnya : pekerja seks komersial memahami efekefek yang ditimbulkan bila terkena infeksi menular seksual. 3. Aplikasi (aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Contohnya : seorang pekerja seks komersial menggetahui apa yang dimaksud dengan penyakit menular seksual itu dan mampu menjelaskan dan melaksanakan bagaimana cara mencegah tidak terkena penyakit menular seksual. 4. Analisis (analysis) Analisis adalah kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan sebagainya. Contohnya : pekerja seks komersial tahu jika melakukan pekerjaan tanpa alat pelindung yaitu kondom, dapat terkena penyakit menular seksual. 5. Sintesis (synthesis) Sintetis menunjukkan kepada sesuatu kemampuan untuk menghubungkan bagian-bagian kedalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah kemampuan untuk menyusun, merencanakan, meningkatkan, menyesuaikan dan sebagainya terhadap sesuatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. Contohnya : Seorang pekerja seks komersial mampu menjelaskan bahwa penyakit menular seksual itu dapat dicegah dengan

menggunakan kondom karena penyakit menular seksual dapat menimbulkan kematian. 6. Evaluasi (evaluation) Evaluasi ini dikaitkan dengan kemampuan-kemampuan untuk melakukan identifikasi atau penilaian terhadap sesuatu materi atau objek, penilaianpenilaian ini berdasarkan kriteria yang telah ditentukan sendiri atau menggunakan kriteria yang sudah ada. Contohnya : Mampu menilai atau akibat apabila seorang pekerja seks komersial terjangkit penyakit menular seksual. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara yang menanyakan tentang materi yang ingin di ukur dari subyek penelitian atau responden kedalam hubungan pengetahuan yang ingin kita ketahui. Pendidikan kesehatan adalah suatu upaya atau kegiatan untuk menciptakan perilaku masyarakat yang kondusif untuk kesehatan. Artinya, pendidikan kesehatan berupaya agar masyarakat menyadari atau mengetahui bagaimana cara memelihara kesehatanmereka, bagaimana menghindari atau mencegah hal-hal yang merugikan kesehatan mereka dan orang lain, kemana harus mencari pengobatan bilamana sakit dan sebagainya. (Notoatmodjo, 2003) Indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkatan pengetahuan atau kesadaran terhadap kesehatan, dapat dikelompokkan menjadi : a. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit b. Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat

c. Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan (Notoatmodjo, 2003)

2.5 Pendidikan kesehatan 2.5.1 Pengertian pendidikan kesehatan Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan prilaku yang dinamis, bukan proses pemindahan materi dari seseorang ke orang lain dan bukan pula seperangkat prosedur. (Notoatmodjo, 1997) Pendidikan kesehatan adalah penambahan pengetahuan dan kemampuan seseorang melalui teknik praktik belajar atau instruksi, dengan tujuan mengingat fakta atau kondisi nyata, dengan cara memberi dorongan terhadap pengarahan diri (self direction), aktif memberikan informasi-informasi atau ide baru. (Craven dan Hirnle, 1996) Pendidikan kesehatan merupakan usaha atau kegiatan untuk membantu individu, kelompok dan masyarakat dalam meningkatkan kemampuan baik pengetahuan, sikap, maupun keterampilan untuk mencapai hidup sehat secara optimal. (Herawani, 2001) 2.5.2 Tujuan pendidikan kesehatan Tujuan dari pendidikan kesehatan ialah mengubah prilaku

individu/masyarakat di bidang kesehatan. Tujuan ini dapat diperinci lebih lanjut menjadi :

1. Menjadikan kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai di masyarakat. 2. Menolong individu agar mampu secara mandiri atau berkelompok mengadakan kegiatan untuk mencapai tujuan hidup sehat. 3. Mendorong pengembangan dan penggunaan secara tepat sarana pelayanan kesehatan yang ada. (Notoatmodjo, 1997) Pendidikan kesehatan bertujuan untuk mengubah pemahaman individu, kelompok, dan masyarakat di bidang kesehatan agar menjadikan kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai, mandiri dalam mencapai tujuan hidup sehat, serta dapat menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada dengan tepat dan sesuai. (Herawani, 2001)

2.5.3 Ruang lingkup pendidikan kesehatan Menurut Herawani (2001), ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi antara lain sebagai berikut. 1. Sasaran pendidikan kesehatan Dari dimensi sasaran, ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu : a. Pendidikan kesehatan individual dengan sasaran individu. b. Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok. c. Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat. 2. Tempat pelaksanaan pendidikan kesehatan

Menurut dimensi pelaksanaannya, pendidikan kesehatan dapat berlangsung di berbagai tempat sehingga dengan sendirinya sasaran juga berbeda, misalnya : a. Pendidikan kesehatan di sekolah, dilakukan di sekolah dengan sasaran murid, yang pelaksanaannya diintegrasikan dalam upaya kesehatan sekolah (UKS). b. Pendidikan kesehatan di pelayanan kesehatan, di lakukan di Pusat Kesehatan Masyarakat, Balai Kesehatan, Rumah Sakit Umum maupun Khusus dengan sasaran pasien dan keluarga pasien. c. Pendidikan kesehatan di tempar kerja dengan sasaran buruh atau karyawan. 3. Tingkat pelayanan pendidikan kesehatan Dari dimensi tingkat pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan lima tingkat pencegahan (five levels of prevention) dari Leavel dan Clark, yaitu : a. Promosi Kesehatan (Health Promotion) Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan misalnya dalam kebersihan perorangan, perbaikan sanitasi lingkungan, pemeriksaan kesehatan berkala, peningkatan gizi dan kebiasaan hidup sehat. b. Perlindungan Khusus (Specific Protection) Pada tingkat ini, pendidikan kesehatan diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, misalnya tentang pentingnya imunisasi sebagai cara perlindungan terhadap penyakit pada anak maupun orang dewasa.

Program imunisasi merupakan bentuk pelayanan perlindungan khusus. Contoh lainnya adalah kecelakaan di tempat kerja. c. Diagnose Dini dan Pengobatan Segera (Early Diagnosis and Prompt Treatment) Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan karena rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan kesehatan dan penyakit yang terjadi di masyarakat. Keadaan ini menimbulkan kesulitan mendeteksi penyakit yang terjadi di masyarakat, masyarakat tidak mau diperiksa dan diobati penyakitnya. Kegiatan pada tingkat pencegahan ini meliputi pencarian kasus individu atau massal, survey penyaringan kasus, penyembuhan dan pencegahan berlanjutnya proses penyakit, pencegahan penyebaran penyakit menular dan pencegahan komplikasi. d. Pembatasan Cacat (Disability Limitation) Pada tingkat ini, pendidikan kesehatan diperlukan karena masyarakat sering didapat tidak mau melanjutkan pengobatannya sampai tuntas atau tidak mau melakukan pemeriksaan dan pengobatan penyakitnya secara tuntas. Pengobatan yang tidak layak dan tidak sempurna dapat mangakibatkan orang yang bersangkutan menjadi cacat atau memiliki ketidakmampuan untuk melakukan sesuatu. Hal ini terjadi karena kurangnya pengertian dan kesadaran masyarakat akan kesehatan dan penyakitnya. Pada tingkat ini kegiatan meliputi perawatan untuk menghentikan penyakit, pencegahan komplikasi lebih lanjut serta fasilitas untuk mengatasi cacat dan mencegah kematian.

e. Rehabilitasi (Rehabilitation) Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan karena setelah sembuh dari suatu penyakit tertentu, seseorang mungkin menjadi cacat. Untuk itu memulihkan kecacatannya itu diperlukan latihan-latihan. Untuk

melakukan suatu latihan yang baik dan benar sesuai program yang ditentukan, diperlukan adanya pengertian dan kesadaran dari masyarakat yang bersangkutan.

BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESA

4.1 Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubunganhubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitian-penelitian yang dilakukan. (Notoatmodjo, 2005) Kerangka konseptual adalah abstraksi dari suatu realita agar dapat dikomunikasikan untuk membentuk suatu teori yang menjelaskan keterkaitan antara variable (baik yang diteliti maupun yang tidak diteliti). Kerangka konseptual yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

Input

Proses

Output 1. Mengetahui jenis

Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian pendidikan seksual pada pekerja seks komersial : pengetahuan

penyakit menular Proses memperoleh informasi: 1. Membaca 2. Media elektronik 3. Pendidikan kesehatan seksual 2. Mengetahui penularan penyakit seks menular 3. Mengetahui cara mencegah penyakit seks menular 4. Mengetahui pengobatan penyakit seks menular

Keterangan :

: variable yang diteliti

: variable yang tidak diteliti Input : factor yang mempengaruhi pemberian pendidikan seksual pada pekerja seks komersial Proses : proses pekerja seks komersial untuk memperoleh informasi. Output : hasil yang ingin dicapai.

4.2 Hipotesis Penelitian Hipotesis adalah sebuah pernyataan sederhana mengenai perkiraan hubungan antara variabel-veriabel yang sedang dipelajari. (Dempsey, 2002) Hipotesis penelitian adalah sebuah jawaban sementara penelitian yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian, maka hipotesis dapat benar atau salah, dapat diterima atau tidak.

BAB 4 METODOLOGI PENELITIAN

Metode dan instrumen dalam penelitian ini berkenaan dengan cara memperoleh data yang diperlukan. Metode lebih menekankan kepada strategi, proses dan pendekatan dalam memilih jenis, karakteristik serta dimensi ruang dan waktu dari data yang diperlukan. Sedangkan instrumen menekankan kepada alat atau cara untuk menjaring data yang dibutuhkan. Dalam bab ini peneliti menjelaskan lebih rinci mengenai kerangka kerja, desain penelitian, populasi, sampel, identifikasi variabel, definisi operasional, pengumpulan data dan analisis data, etik dan keterbatasan.

4.1

Desain Penelitian atau Rancangan Penelitian Desain penelitian merupakan bentuk rancangan yang digunakan dalam

melakukan prosedur penelitian (A. Aziz Alimul). Rancangan penelitian yang digunakan penulis adalah deskriptif korelasi, yaitu jenis penelitian yang bertujuan untuk menemukan ada tidaknya hubungan dan apabila ada, sebera erat hubungan tersebut serta berarti atau tidaknya hubungan itu (Arikunta, 2002). Desain deskriftif adalah suatu metode dalam meneliti status kelompok manusia, suatu obyek, suatu situasi kondisi, suatu system pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. (Hadi, 2000).

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1 Lokasi penelitian Lokasi yang digunakan lahan penelitian adalah Kompleks Lohoi Harapan Baru di Kota Samarinda.

4.2.2 Waktu Penelitian Penelitian dilakukan dari bulan Mei sampai dengan bulan Juli.

4.3 Populasi dan Sample Penelitian 4.3.1 Populasi Populasi penelitian adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti. Populasi dibedakan menjadi dua kategori, populasi target dan populasi survei. Populasi target yaitu seluruh unit populasi dimana disini adalah semua pekerja seks komersial di Kompleks Lohoi Harapan Baru di Kota Samarinda. Dan populasi survei yaitu sub unit dari populasi target diamana sub populasi yang diambil adalah pekerja seks komersial di ruang Rosalinda, Patra, Bukit Jaya, Corbia dan Mandiri. Dan populasi yang digunakan dari peneliti adalah populasi survei (sudarwan, 2003) .

4.3.2 Sampel dan Sampling Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan sampling tertentu untuk bisa memenuhi / mewakili populasi (Nursalam, 2001). Sampel

ditentukan oleh peneliti berdasarkan pertimbangan masalah, tujuan, metode, dan instrumen penelitian, sehingga peneliti memperoleh sampel yang representatif. Teknik sampling ini adalah salah satu cara yang ditempuh dalam pengambilan sampel yang benar- benar sesuai keseluruhan objek penelitian (Nursalam, 2001). Rumus untuk menentukan besarnya sample :

S = jumlah sampel yang dikehendaki N= jumlah anggota populasi P = 0,50 D= 1.96 X2 = nilai x dengan df maksimum 30 Anggota populasi sebanyak 230 , jumlah sampel yang ditentukan : N = 230
[ ]

dibulatkan menjadi 36

Berdasarkan perhitungan diatas, maka besar S untuk N = 230 adalah 36 atau S = 16% dari populasi. Masing masing populasi beranggotakan 30, 54, 46, 53, 47 dan S untuk masing-masing subpopulasi : 16% x 30 = 4,8 16 % x 54 = 8,6 16 % x 46 = 7,4 16 % x 53 = 8,5 16% x 47 = 7,5 S = 5+9+7+8+7=36

Teknik sampling yang digunakan oleh peneliti adalah teknik Penarikan sample secara non-probabilitas yaitu penarikan sample secara jatah dengan mengambil sub populasi pekerja seks komersial yang menetap di Kompleks Lohoi Harapan Baru di Kota Samarinda dengan kriteria inklusi yaitu: 1. Pekerja seks komersial yang bersedia menjadi responden. 2. Pekerja seks komersial yang bekerja di ruang Rosalinda,Patra, Bukit Jaya, Corbia dan Mandiri.. Kriteria eksklusi yaitu : 1. Pekerja seks komersial yang tidak bersedia menjadi responden. 2. Pekerja seks komersial yang tidak bekerja di ruang Rosalinda, Patra, Bukit Jaya, Corbia dan Mandiri..

4.4 Definisi Operasional Definisi Operasional Alat ukur Skala Ordinal Skore B =3 S =1 di

1. Pengetahuan Secara garis besar Kuesioner menurut domain (kognitif) Notoatmodjo tingkat (2005)

pengetahuan enam

Kemudian

mempunyai

skor menjadi : 70100 % Baik 36-69 % cukup 0-35% kurang

tingkatan, meliputi: mengetahui, memahami, menggunakan,

menguraikan, menyimpulkan dan mengevaluasi. Ciri pokok dalam taraf pengetahuan adalah ingatan tentang sesuatu yang diketahuinya baik melalui pengalaman, belajar, ataupun informasi yang diterima dari orang lain. 2. Gambaran masyarakat tingkat Pengetahuan Kuisioner penyakit Ordinal

B =3 S =1 di

tentang

menular seksual yang dimaksud dalam penelitian ini adalah sesuatu yang diketahui atau yang mampu dijelaskan secara garis besar

Kemudian

skor menjadi : 70100 % Baik 36-69 % Cukup

tentang apa yang telah diketahui oleh PSK si kompleks Lohoi

Harapan Baru di Kota Samarinda mengenai seksual. Pengetahuan Pengertian ini PMS, meliputi Jenis : penyakit menular

0-35 % Kurang.

PMS,

Tanda & Gejala PMS, Bahaya PMS, Penularan PMS, Cara

mencegah PMS, Pengobatan PMS, dan Risiko PMS.

4.5 Teknik Pengumpulan dan Analisa Data 4.5.2 Instrumen Penelitian Instrumen penelitian merupakan alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data (Arikunta, 2005). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa sejumlah pertanyaan yang disusun peneliti berdasarkan literatur kerangka konsep penelitian. Pertanyaan dibagi menjadi 2 bagian yaitu pertanyaan yang bersifat umum yang terdiri dari 10 pertanyaan dan pertanyaan yang bersifat khusus yang terdiri dari 10 pertanyaan. Pertanyaan yang bersifat umum adalah dengan memberi tanda cek () terhadap jawaban yang benar dan pertanyaan yang

bersifat khusus dengan menggunakan pilihan jawaban Sangat Setuju (SS), Setuju (S), Netral (N), Tidak Setuju (TS) dan Sangat Tidak Setuju (STS).

4.5.2

Alat Pengumpulan Data Alat pengumplan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa angket

kuisioner (sumber : Devi Galindrawaty, 2005). Melalui angket atau kuisioner ini, responden akan diberikan pertanyaan seputaran tentang penyakit menular seksual.

4.5.3 Pengumpulan data Pengumpulan data dilakukan secara langsung pada pekerja seks komersial di Kompleks Lohoi Harapan Baru di Kota Samarinda dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: 1) Setelah proposal mendapat persetujuan dari pembimbing, meminta surat ijin penelitian kepada institusi pendidikan. 2) Menghubungi calon responden. 3) Menjelaskan tujuan penelitian dan hak-hak respondennya. 4) Meminta kesediaan responden untuk menadatangani lembar Persetujuan. 5) Membagi lembar kuisioner. 6) Menyediakan waktu kepada responden untuk mengisi angket selama 5-25 menit. 7) Mengingatkan kepada responden untuk mengisi semua pertanyaan yang ada. 8) Setelah selesai peneliti mengumpulkan kuisioner.

4.5.4

Analisa Data Setelah kuisioner diisi kemudian dikumpulkan langsung oleh peneliti dan

diperiksa kelengkapannya. Apabila belum lengkap maka responden diminta untuk melengkapinya saat itu juga. Kemudian data-data tersebut dianalisa dengan diberi skor berdasarkan pertanyaan yang dijawab, yaitu: Jika pertanyaan dijawab dengan benar, maka diberi skor 3 Jika pertanyaan dijawab dengan salah, maka diberi skor 1

Rumus untuk menghitung rata-rata: fx X = N x 100%

Keterangan:

fx
X N

= Jumlah skor = Jumlah rata-rata = Jumlah skor tertinggi

Dari data kuantitatif yang didapat kemudian data diolah menjadi data kualitatif sehingga dapat dilihat persentasi tingkat pengetahuan sebagai berikut:

Skor 70-100% 36-69% 0-35%

Tingkat Pengetahuan Baik Cukup Kurang

(Iqbal Hasan, Pokok-Pokok Materi Statistik Deskriftif, 1999) Setelah proses pengumpulan data selesai, selanjutnya data-data tersebut akan di gambarkan dan di masukkan ke dalam tabulasi data dan memberi skor.

4.8

Etik Penelitian Sebelum penelitian dilaksanakan, terlebih dahulu peneliti mengajukan

permohonan ijin kepada ketua Kompleks Lohoi Harapan Baru di Kota Samarinda untuk mendapatkan persetujuan dengan menekankan pada masalah etika yang meliputi : 1.Lembar persetujuan diberikan kepada subjek yang akan diteliti dan peneliti menjelaskan maksud serta tujuan riset yag diakukan serta dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah pegumpulan data. Responden harus

menandatangani lembar persetujuan tersebut dan bila responden menolak untuk diteliti maka peneliti tidak akan memaksakan dan tetap menghormati hak haknya. 2.Anonimity ( Tanpa nama ) Untuk menjaga kerahasiaan responden maka tidak harus mencantumkan namanya dan lembar tersebut hanya diberi kode tertentu.

3.Kerahasiaan Kerahasiaan informasi yang diberikan oleh responden dijamin oleh peneliti.

4.9 Keterbatasan Pada penelitian ini penulis mempunyai keterbatasan karena : 1. Penelitian ini dilakukan dalam waktu yang singkat dalam artian waktu yang terbatas. 2. Instrumen dikembangkan sendiri dan tidak di test reliabilitas dan validitas dan tidak dilakukan pilot project sehubungan dengan keterbatasan waktu.

DAFTAR PUSTAKA

Alimul, H. Aziz. 2003. Riset keperawatan dan teknik penulisan ilmiah. Edisi I. Jakarta : Salemba. Dempsey, A. Particia. Riset Keperawatan, Edisi 4, Jakarta : EGC http://journal.unair.ac.id/filerPDF/BIKKK_vol%2020%20no%203_des%202008_Acc_4. pdf http://ekanurmawaty.blogspot.com/2010/03/makalah-pekerja-seks-komersial.html http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/26200/4/Chapter%20II.pdf http://www.docstoc.com/docs/25133226/Gambaran-tingkat-pengetahuan-perempuanpekerja-seks-komersial http://jurnal-humaniora.ugm.ac.id/karyadetail.php?id=326 Herawani, dkk. 2001. Pendidikan Kesehatan Dalam Keperawatan. Jakarta : EGC Notoatmojo, Soekijo.Prof.Dr. Prinsip-prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cetakan ke-2, Mei. Jakarta; Rineka cipta. 2003. Nursalam. 2003. Konsep dan Kenerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Edisi I. Jakarta : Salemba Medika

Lampiran 1 Lembar Permintaan Menjadi Responden

Kepada Yth. Calon Responden Di _ Termpat Dengan Hormat, Saya yang bertanda tangan dibawah ini : Nama Nim Tingkat : Eva Marlinda : 7200 05S1 0086 :2C

Adalah mahasiswa Akper Yarsi Samarinda yang akan melakukan penelitian tentang Pengaruh Pemberian Pendidikan Seksual pada Pekerja Seks Komersial Terhadap Penyakit Menular Seksual Di Kompleks Lohoi Harapan Baru Samarinda . Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pendidikan seksual pada pekerja seks komersial. Dengan ini saudara diharapkan untuk mengisi lembaran pernyataan yang diberikan peneliti, dan penelitian ini tidak akan mengakibatkan kerugian apapun karena semua informasi yang diberikan akan dijamin kerahasiaanya. Apabila saudara bersedia, mohon mendatangani surat persetujuan dan mengisi angket yang disertakan dengan lembar ini. Atas perhatian dan partisipasi saya ucapkan terima kasih.

Samarinda, Juni 2012 Peneliti,

EVA MARLINDA

Lampiran 2 Lembar Persetujuan Responden

Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Inisial Alamat : .. : .. Setelah mendapatkan penjelasan, saya bersedia berpartisipasi sebagai responden penelitian dengan judul Pengaruh Pemberian Pendidikan Seksual Pada Pekerja Seks Komersial Terhadap Penyakit Menular Seksual Di Kompleks Lohoi Harapan Baru Samarinda , yang dilakukan oleh mahasiswa Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda : Nama : Eva Marlinda Nim : 7200 05S1 0086 Saya mengerti bahwa penelitian ini tidak akan berakibat negative pada saya segala informasi yang saya berikan dijamin kerahasiaannya, karena itu maka jawaban yang saya berikan adalah yang sebenar benarnya. Berdasarkan semua penjelasan diatas penjelasan diatas maka dengan ini saya menyatakan secara sukarela bersedia menjadi responden dan berpartisifasi aktif dalam penelitian ini. Samarinda, Juni, 2012 Responden

( . )

QUESIONER PENELITIAN (INSTRUMENT)

Petunjuk Pengisian Quesioner I : 1.Bacalah setiap pernyataan di bawah ini dengan teliti sebelum anda menjawab. 2.Berilah tanda check ( ) pada setiap pilihan jawaban yang tersedia yang anda anggap benar.

I. Data Umum 1.Menurut Saudari apa yang dimaksud dengan Penyakit Menular Seksual (PMS) ? Infeksi yang penularannya melalui hubungan seksual Infeksi yang penularannya melalui hubungan seksual dengan pasangan yang sudah tertular. Tidak tahu

2.Menurut Saudari yang termasuk jenis-jenis dari infeksi menular seksual tersebut adalah ? (bila jawaban 3 diberi skor 3) GO (Kencing nanah) Sifilis (Raja Singa/luka koreng tidak sakit ditekan) Klamidia (keluar cairan/sekret terkadang disertai darah dari kemaluan) Dll, sebutkan .. Tidak tahu

3.Menurut Saudari penularan Penyakit Menular Seksual (PMS) dapat melalui apa? Hubungan seksual lewat liang senggama tanpa pengaman seperti kondom Hubungan seksual lewat dubur tanpa pengaman seperti kondom Seks oral tanpa pengaman seperti kondom Tidak Tahu

4.Menurut Saudari darimana seseorang dapat tertular Penyakit Menular Seksual (PMS)? Melalui cairan sperma pada saat berhubungan seksual Melalui cairan vagina pada saat berhubungan seksual Melalui trasfusi darah Melalui donor darah Tidak tahu

5.Menurut Saudari, hal apa saja yang tidak dapat menularkan Penyakit Menular Seksual (PMS) ? (bila jawaban 3 diberi skor 3) Salaman Berciuman Menggunakan pakaian bergantian Dll, sebutkan .. Tidak Tahu

6. Bagaimana cara supaya saudari terhindar dari Penyakit Menular Seksual (PMS) ? Menggunakan kondom saat melakukan hubungan seksual Memeriksakan kesehatan secara rutin kepada petugas kesehatan Tidak tahu

7. Menurut saudari siapa yang berisiko tertular Penyakit Menular Seksual (PMS) ? Orang yang selalu berganti pasangan Remaja Perempuan Tidak tahu

8.Menurut saudari bagaimana tanda-tanda yang dialami jika pria terkena Penyakit Menular Seksual (PMS)? (bila jawaban 3 diberi skor 3) Gatal disepanjang alat kelamin Lecet atau borok di sekitar alat kelamin (penis) Kencing nanah Dll, sebutkan Tidak tahu

9. Bagaimana pula tanda-tanda Penyakit Menular Seksual (PMS) pada wanita yang Saudari ketahui ? (bila jawaban 3 diberi skor 3) Keputihan berbau busuk Nyeri saat kencing dan berhubungan seksual Lecet atau borok di sekitar alat kelamin Dll, sebutkan Tidak tahu

10. Bahaya apa yang ditimbulkan jika mengidap Penyakit Menular Seksual (PMS) yang saudari ketahui ? (bila jawaban 3 diberi skor 3) Dapat menyebabkan mandul Dapat menyebabkan keguguran Dapat menyebabkan kematian Dll, sebutkan Tidak tahu

QUESIONER PENELITIAN (INSTRUMEN)

Petunjuk Pengisian Quesioner II : 1.Bacalah setiap pernyataan di bawah ini dengan teliti sebelum Saudari menjawab. 2.Berilah tanda check ( ) pada setiap pilihan jawaban yang tersedia yang anda anggap benar, dengan pilihan :

ALTERNATIVE JAWABAN NO PERNYATAAN SS Melakukan 1 pekerjaan ini lebih S N TS STS

beresiko untuk menularkan Penyakit Menular Seksual. Risiko penularan Penyakit Menular Seksual lebih tinggi pada orang yang

2 berganti-ganti pasangan seksual.

Menyarankan

pelanggan

untuk

menggunakan kondom agar terhindar 3 dari penularan Penyakit Menular

Seksual.

Penyakit 4 dicegah Kondom.

menular dengan

Seksual

dapat

menggunakan

Melakukan pemeriksaan Laboratorium untuk mengetahui apakah terkena 5 Penyakit Menular Seksual.

Sangat penting bagi kesehatan untuk melakukan pengobatan jika terkena 6 Penyakit Menular Seksual.

Mengikuti 7

perintah

dokter

dalam

pengobatan Penyakit Menular Seksual.

Melakukan pemeriksaan alat kelamin ke tempat pelayanan kesehatan bila 8 merasakan ada keluhan

Membeli obat sendiri di apotik (tanpa resep 9 penularan Penyakit Menular Seksual ini 10 Tidak akan memberi tahu teman dokter) untuk mencegah

sejawat jika terkena Penyakit Menular Seksual

Keterangan : SS S N TS : Sangat Setuju : Setuju : Netral : Tidak setuju

STS : Sangat Tidak Setuju