Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM MIKOLOGI

Disusun oleh : Kelompok 8 Non Reguler 1. APRILIA LEASTIANA 2. DESYANA FATMAWATI 3. MUHAMMAD ARIF 4. TAUFIK ZAINAL (10340044) (10340049) (10340062) (10340076)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN TANJUNG KARANG JURUSAN ANALIS KESEHATAN TAHUN 2012/2013

PENDAHULUAN Banyak istilah yang dipergunakan untuk menyebut jamur atau fungi, seperti cendawan, kapang, lapuk atau khamir. Jamur yang berbentuk filamen disebut kapang, sedangkan khamir biasanya untuk sebutan yang uniseluler dan yang lebih mencolok penampilannya disebut jamur, misalnya jamur merang, jamur kelentos, dan jamur hijau. Untuk mempermudah menyebut digunakan satu kata nama yaitu fungi. Fungi berasal dari bahasa yunani yaitu mykes yang berarti jamur atau fungi. Berikut merupakan ciri-ciri fungi : Merupakan organisme yang tidak berklorofil, oleh karena itu bersifat heterotrof. Hidup sebagai parasit, saprofit, dan ada pula yang bersimbiosis. Bersifat eukarion (mempunyai inti yang sejati), yaitu materi inti dibungkus olah membran inti. Ada yang bersel tunggal dan ada pula yang bersel banyak, yang bersel banyak berbentuk benang atau filamen. Berdasarkan sifat tersebut ukuran jamur sangat bervariasi dari yang sangat kecil (mikroskopis) sampai yang berukuran cukup besar (makroskopis). Berkembang biak secara vegetatif dan generatif. Menyenangi lingkungan yang agak asam, kurang cahaya, terutama di tempattempat lembab yang mengandung zat organik. Fungi hidup di dalam tanah, pada tubuh manusia, binatang, atau tumbuhan yang hidup atau mati, bahkan pada pakaian, sepatu, atau makanan. Fungi yang bersel banyak tubuhnya tersusun dari benang-benang yang disebut hifa, yang berdiameter 5-10 mikrometer. Hifa dapat bercabang-cabang membentuk anyaman yang disebut miselium. Pada beberapa fungi, dinding sel atau dinding hifa mengandung selulosa, tetapi pada umumnya terutama terdiri atas nitrogen organik, yaitu kitin. Pada umumnya fungi lebih tahan terhadap lingkungan yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan mikroorganisme lainnya. Khamir dapat tumbuh dalam kisaran suhu yang luas, fungi saprofit mempunyai optimum 2230oC, sedangkan fungi patogen mempunyai suhu optimum 30-37oC. Beberapa spesies fungi dapat tumbuh pada suhu 0oC, dengan demikian dapat menyebabkan

kerusakan pada bahan makanan yang disimpan dalam lemari pendingin. Beberapa jenis fungi dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Manfaatnya antara lain dapat dimakan, sebagai bahan pengolahan makanan, menghasilkan antibiotik, dan sebagai pengurai dalam ekosistem. Tetapi tidak sedikit spesies fungi yang merupakan penyakit, misalnya pada tumbuhan, hewan, dan manusia. Sampel yang dipergunakan saat praktikum pengamatan kapang dan khamir ini adalah tempe, pakan ayam, beras dan roti. Selain bertujuan untuk mengidentifikasi, praktikum ini juga bertujuan untuk mengetahui hubungan atau keterkaitan mikroba yang dianalisa dengan ketahanan pangan. Selain

mengakibatkan turunnya mutu produk yang terkontaminasi kapang dan khamir, produk yang terkontaminasi juga akan mengandung racun, karena ada beberapa jenis kapang dan khamir yang memiliki sifat toksik. Bahan pangan yang mengandung karbohidrat cukup tinggi biasanya lebih banyak dirusak oleh kapang dan khamir daripada jenis mikroba yang lainnya, karena karbohidrat merupakan substrat yang baik bagi pertumbuhan kapang dan khamir. akan tetapi meskipun termasuk dalam fungi, kapang dan khamir memiliki perbedaan lingkungan hidup yang cukup berlawanan. Kapang membutuhkan air yang lebih sedikit daripada khamir. Untuk dapat menginokulasikan kapang dan khamir, maka diperlukan media yang baik dan sesusai untuk menumbuhkannya. Media yang dipergunakan dalam analisa kapang dan khamir adalah media SDA (Sabouraud Dextrose Agar), media SDA sering dipergunakan untuk menumbuhkan kapang dan khamir. Kapang dan khamir dapat hidup dengan baik pada pH asam, sehingga media yang dipergunakan perlu diatur pH-nya sekitar 3,5 s/d 4,0. Sebelum dipergunakan media harus disterilkan terlebih dahulu dengan menggunakan autoclave pada suhu 121oC selama 15 menit.

MATERI I Tujuan

: KULTUR (ISOLASI JAMUR) : 1. Pengamatan makroskopis : Mempelajari morfologi koloni, karakter pertumbuhan masing-masing jenis kapang pada medium 2. Pengamatan mikroskopis : Mengenal ciri-ciri morfologis secara mikroskopis guna membedakan spesies satu dengan lainnya

Alat dan Bahan : Alat : 1. Scalpel 2. Cawan petri 3. Tabung reaksi 4. Rak tabung 5. Pipet ukur 6. Shaker 7. Pinset 8. Inkubator Bahan : 1. NaCl 2. Media Sabouraud Dextrose Agar Komposisi : Peptone 10 g Dextrose 40 g Agar 15 g Aquades 1000 ml 9. Kapas 10. Ose bengkok 11. Label 12. Selotip 13. Mortar 14. Gunting 15. Objek glass

3. Lactophenol Cotton Blue Komposisi Larutan A : Phenol 10 ml Gliserin 20 ml Lactid acid 10 ml Aquades 10 ml

Komposisi Larutan B : Larutan A + Methilen Blue 0,05 g

4. Gram A Komposisi : Crystal Violet Base Solution 20 ml 1% Amonium Oxalat Sol Aqua 80 ml

5. Gram B Komposisi : Lugol solution : Iodine 1 g Potassium Iodine 2 g DW 300 ml

6. Gram C 7. Ethanol Absolute / Ethyl Alkohol 8. Gram D 9. Safranine Base Solution : Safranine T 2,5 g Ethyl Alkohol 100 ml

10. Safranine Solution : Safranine Base Solution 10 ml Aquades 90 ml

Cara Kerja : A. SAMPEL ROTI 1. Potong roti dengan scalpel 1 mm 2. Letakkan potongan roti di tengah media SDA 3. Petridisk diselotip, dan diberi label 4. Diinkubasi pada suhu 37oC, selama 48 jam

Roti

SDA

Pengamatan Makroskopis: Rhizopus sp. Warna Sifat pertumbuhan Bentuk : putih kekuningan : lama : serabut tipis

Pewarnaan Lactophenol Cotton Blue : Potong koloni jamur 1 mm, letakkan pada objek glass Tetesi dengan Lactophenol Cotton Blue Tutup dengan cover glass Amati dibawah mikroskop, perbesaran 100x

B. SAMPEL TEMPE 1. Potong tempe dengan scalpel 1 mm 2. Letakkan potongan tempe di tengah media SDA 3. Petridisk diselotip, dan diberi label 4. Diinkubasi pada suhu 37oC, selama 48 jam

Potongan tempe

SDA

Pengamatan Makroskopis: Rhizopus sp. Warna Sifat pertumbuhan Bentuk : putih seperti kapas : cepat : bulat cembung

Pewarnaan Lactophenol Cotton Blue : Potong koloni jamur 1 mm, letakkan pada objek glass Tetesi dengan Lactophenol Cotton Blue Tutup dengan cover glass Amati dibawah mikroskop, perbesaran 100x

C. SAMPEL PAKAN AYAM / BERAS 1. 1 gr pakan ayam/beras dihaluskan dalam mortar 2. Siapkan 3 tabung, masing-masing berisi 5 ml NaCl 0,85 % 3. Setelah halus, masukkan sample ke dalam tabung dan homogenkan dengan shaker 4. 1 ml dari tabung 1 dimasukkan ke dalam tabung 2, homogenkan dengan shaker 5. 1 ml dari tabung 2 dimasukkan ke dalam tabung 3, homogenkan dengan shaker 6. Ambil 0,2 ml dari tabung 3. Teteskan ke media SDA, dan diratakan dengan ose bengkok 7. Petridisk diselotip dan diberi label 8. Diinkubasi pada suhu 37oC, selama 48 jam

Pakan ayam/ Beras

1 ml

1 ml

0,2 ml

Media SDA Tabung 1 5 ml NaCl 0,85% Tabung 2 5 ml NaCl 0,85% Tabung 3 5 ml NaCl 0,85%

Cara Kerja : A. Slide Cultur 1. Potong media SDA membentuk persegi dengan scalpel, dan letakkan di atas objek glass 2. Ambil dengan jamur sterilstok jamur, lalu ditusukan di setiap tepi media SDA 1 tusukan, tutup dengan cover glass 3. Masukan ke dalam petridisk yang telah diberi kapas basah, dan dialasi batang korek api, tutup petridisk 4. Beri label 5. Diikubasi pada suhu 370C, selama 48 jam

Gambar :

Kapas basah media SDA

Potongan

Slide dan cover glass

Penetapan Slide Culture secara langsung dengan mengamati slide culture di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x

B. Strik Candida 1. Panaskan ose sampai berpijar 2. Ambil 1 ose stok Candida, goreskan secara zig-zag pada media SDA 3. Peridisk diselotipe, dan diberi label 4. Diinkubasi pada suhu 370C, selama 48 jam Gambar :

Strik Candida

Ose

Media SDA Pengamatan Makroskopis : Candida sp. Warna Sifat pertumbuhan Konsistensi : putih kekuningan : cepat : lunak

Pewarnaan Gram : Ambil 1 koloni pada media SDA, dibuat preparat. Lakukan pengecatan Gram Gram A selama 1 menit Gram B selama 1 menit Gram C selama 30 detik Gram D selama 30 detik

Lihat dibawah mikroskop dengan perbesaran 100x

Materi II : INOKULASI PADA MENCIT Tujuan : Untuk Mengembangbiakan Jamur pada Jaringan Hidup atau Mencit Alat : 1. Scalpel 2. Pinset 3. Syringe 4. Inkubator 5. Kapas 6. Ose 7. Label 8. Selotipe 9. Mortar 10. Gunting 11. Objek glass 12. Petridisk 13. Tabung reaksi 14. Rak tabung 15. Shaker 16. Sentrifuge

Bahan : 1. Cloroform 2. Media Sabouraud Dextrose Agar Komposisi : Pepton 10 gr, Dextrose 40 gr, Agar 15 gr, Aquadest 1000 ml 3. NaCl 0,85% Cara Kerja : 1. Ambil dengan spuit 0,2 ml suspensi organ yang diduga terinfeksi jamur, suntikan pada bagian intraperitonial mencit 2. Masukan mencit ke dalam plastik yang berisi cloroform 3. Setelah mencit mati, dilakukan perbedahan, dan diambil organ paru 4. Organ dihaluskan dengan mortar dan ditambah dengan NaCl 0,85% sebanyak 9 ml 5. Masukan kedalam tabung, sentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 manit 6. Ambil supernatannya sebanyak 2,0 ml 7. Tanamkan pada media SDA ratakan dengan ose bengkok

8. Petridish diselotipe, dan diberi label 9. Diinkubasi pada suhu 370C selama 24 jam Gambar :

HASIL PENGAMATAN : MATERI I : KULTUR (ISOLASI JAMUR)

A. SAMPEL ROTI dan TEMPE (Rhizopus sp.) Makroskopis : Warna : Putih

Sifat pertumbuhan : Cepat Bentuk : Bulat Cembung

Mikroskopis : Spora : Sporangiospora Sporangium muda berisi granula halus Rhizoid

B. SAMPEL PAKAN AYAM/BERAS (Aspergillus niger) Makroskopis : Warna Sifat pertumbuhan Bentuk : Hitam : Lambat : Berserabut

Mikroskopis : Bentuk vesikel Susunan sterigma dan spora Konidiofor tidak berseptum, dibentuk oleh foot cell

Aspergillus flavus Makroskopis : Warna : Hijau Sifat Pertumbuhan : Lambat Bentuk : Berserabut

Mikroskopis : Bentuk vesikel Susunan sterigma dan spora Konidiofor tidak berseptum, dibentuk oleh foot cell

Aspergillus fumigatus Makroskopis : Warna Sifat Pertumbuhan Bentuk : Hijau Kebiruan : Lambat : Berserabut

Mikroskopis : Bentuk vesikel Susunan sterigma dan spora Konidiofor tidak berseptum, dibentuk oleh foot cell

C. Strik Candida Makroskopis : Warna : Putih Kekuningan Sifat Pertumbuhan : Cepat Bentuk : Bulat, Cembung, Tepi bergerigi Konsistensi : Lunak

Mikroskopis : Klamidiospora : Spora membulat, dinding tebal, diameter spora lebih besar dari diameter hifa letak klamidiospora terminal / interkalaris Blastospora : Sel induk dan tunasnya

Bandar Lampung, Mengetahui, Pembimbing 1. Praktikan

Januari 2013

(DRH. Syarifah Alawiyah)

(Aprilia Leastiana)

2.

(Desyana Fatmawati)

3.

(Muhammad Arif)

4.

(Taufik Zainal)