Anda di halaman 1dari 3

Anak jalanan adalah bagian dari masalah keterlantaran anak yang timbul akibat kemiskinan keluarga.

Dengan kenyataan seperti itu maka wajar ketika Pasal 34 Ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945 mengamanatkan bahwa Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh Negara. Persoalannya adalah seberapa jauh pemerintah dan masyarakat menganggap penting penyelesaian masalah tersebut. Pada tahun 1999 jumlah mereka sekitar 39.861 orang, di tahun 2002 sebanyak 94.674, dan pada tahun 2004 jumlah anak jalanan menjadi 98.113 orang. Jumlah tersebut jika kita telusuri dari penyebab kemiskinan orang tua, maka disinyalir bahwa jumlah anak jalanan sebagai bagian dari anak terlantar diperkiran lebih besar dan pada tahun 2002 mencapai angka 3.308.642. Jumlah tersebut belum termasuk Anak Balita terlantar sebanyak 1.138.126 orang, Anak Korban Tindak Kekerasan sebanyak 48.526 orang, Anak Nakal sebanyak 189.075 orang, dan anak cacat sebanyak 365.868 orang. Yang lebih mengkhawatirkan lagi ketika pada tahun 2003 Badan Pusat Statistik (BPS), memaparkan data anak-anak berusia antara 6 - 18 tahun sebanyak 36.500.000 jiwa yang masih hidup dalam kategori miskin di 12 kota besar di Indonesia. Perubahan angka dan permasalahan yang dihadapi anak-anak tersebut, khususnya anak jalanan dengan demikian tidak terlepas dari masalah keterlantaran yang dialami anak-anak karena ketidakmampuan dan kemiskinan keluarganya. Berbagai program dan langkah telah dibuat Pemerintah dan masyarakat (LSM/Orsos/Yayasan) untuk mengatasi permasalahan anak jalanan. Tetapi pada kenyataannya masih tidak sebanding dengan gelombang anak-anak yang setiap hari harus bekerja, mengais rizki dan terpaksa hidup di jalan dengan menghadapi banyak resiko hanya karena masalah kemiskinan yang dihadapi para orang tua mereka. Dengan kenyataan tersebut, pada tahun 2005 Departemen Sosial RI. melalui dana Dekonsentrasi sebesar Rp. 46.510.000 yang telah dialokasikan di 12 Propinsi hanya berharap bisa menangani 46.800 anak jalanan. Kondisi seperti itu tidak lantas membuat Pemerintah dan masyarakat harus berhenti untuk memperhatikan dan memenuhi hak-hak anak jalanan. Selanjutnya, ketika diakui kemiskinan dan ketiadaan ruang aktivitas dalam lingkungan keluarga dan masyarakat,

menjadi sebab anak-anak turun ke jalan, maka langkah untuk memberikan ruang aktivitas bersama di suatu tempat yang disediakan khusus, diharapkan dapat membantu mengurangi aktivitas anakanak di jalanan. Sumber: http://masterplan.depsos.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=275

RABU, 12 SEPTEMBER 2012 | 20:42 WIB Anggaran Kesejahteraan Anak Jauh dari Ideal Besar Kecil Normal TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Kesejahteraan Sosial Anak Kementerian Sosial, Nahar mengatakan anggaran untuk kesejahteraan anak belum ideal. Akibatnya, target pemeliharaan anak tidak bertambah secara signifikan dari tahun lalu. Dari target 171 ribu anak tahun lalu, tahun ini hanya bertambah menjadi 172.556 ribu. "Padahal, jumlah anak terlantar di Indonesia ada 4,5 juta," kata Nahar kepada Tempo di selasela peringatan Hari Anak Nasional di Kantor Kementerian Sosial, 12 September 2012. Dana yang disediakan bagi Direktorat Kesejahteraan Sosial Anak tahun ini, kata Nahar, sekitar Rp 300 miliar. Setelah dipotong untuk berbagai penghematan, menjadi Rp 250 miliar. "Tahun depan tak akan bertambah karena target pemeliharaan anak terlantar tetap seperti tahun ini," kata Nahar. Menurut Nahar, idealnya dibutuhkan biaya Rp 1,8 juta per anak per tahun untuk menangani anak-anak terlantar. Sebanyak 172 ribu anak yang menjadi target penanganan kementerian pun, kata Nahar, belum semuanya menerima dana sebesar 1,8 juta. Sebagian masih menerima 1,5 juta orang per tahun. "Bayangkan kalau 4,5 juta anak. Kalikan saja dengan 1,8 juta, berapa itu?" kata Nahar. Padahal, hitungan biaya itu baru sebatas pelayanan sosial dasar seperti makan, sandang dan operasional panti, belum termasuk biaya-biaya pendampingan terhadap anak-anak. Kepala Panti Sosial Marsudi Putra Antasena Magelang, salah satu lembaga pemasyarakatan anak di bawah Kemensos, Bambang Sugeng, membenarkan bahwa dana bagi pemelihatan

kesejahteraan anak belum optimal. "Kalau layanan sosial dasar seperti makan, sandang, kesehatan sih sudah cukup. Tapi kan kebutuhan kami bukan hanya itu," katanya. Menurut Bambang, pihaknya masih membutuhkan dana untuk meningkatkan keterampilan anak binaannya. Di lembaga yang ia pimpin, anak-anak yang berhadapan dengan hukum diberi keterampilan seperti elektro, las, dan otomotif. "Nah, untuk menambah alat kan butuh investasi," ujarnya. Untuk mengatasi keterbatasan-keterbatasan seperti di atas, Nahar menjelaskan, pihaknya bersinergi dengan Kementerian Kesehatan, Kementerian Agama, dan lembaga lainnya yang juga menangani anak. "Sehingga, angka 4,5 juta itu bisa dipersempit," ujarnya.