Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

Ileus obstruktif adalah hilangnya pasase isi usus yang menandakan adanya obstruksi akut yang segera memerlukan pertolongan atau tindakan. Dasar pengobatan ileus obstruksi adalah koreksi keseimbangan elektrolit dan cairan, menghilangkan peregangan dan muntah dengan dekompresi, mengatasi peritonitis dan syok bila ada, dan menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali normal. Terapi cairan dibutuhkan pada pasien dengan ileus obstruktif karena tubuh tidak dapat memasukka air, elektrolit serta zat-zat makanan ke dalam tubuh secara oral Dengan terapi cairan kebutuhan akan air da elektrolit akan terpenuhi.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Ileus adalah gangguan atau hilangnya pasase isi usus yang menandakan adanya obstruksi usus akut yang segera memerlukan pertolongan atau tindakan.2,4,6 Ileus Obstruktif adalah ileus yang disebabkan oleh sumbatan mekanik.2,3,6 Di Indonesia ileus obstruksi paling sering disebabkan oleh hernia inkarserata2,4 sedangkan ileus paralitik sering disebabkan oleh peritonitis. Keduanya membutuhkan tindakan operatif.4 Ileus Paralitik adalah hilangnya peristaltik usus untuk sementara waktu.2,4,6 Sebagaimana perdarahan, peradangan (inflamasi), dan perforasi, ileus obstruksi merupakan penyebab akut abdomen (gawat perut).6,7 Kira-kira 6070% dari seluruh kasus akut abdomen yang bukan appendicitis akuta disebabkan oleh obstruksi intestinal. Sebagian kelainan akut abdomen dapat juga disebabkan oleh cedera langsung atau tidak langsung yang mengakibatkan perforasi saluran cerna atau perdarahan.6 Ileus obstruktif berdasarkan letak sumbatannya, terbagi atas : 1. Obstruksi usus halus yaitu obstruksi tinggi dimana obstruksinya mengenai usus halus.1,2 2. Obstruksi usus besar yaitu obstruksi rendah dimana obstruksinya mengenai usus besar.1,2 Ileus lebih sering terjadi pada obstruksi usus halus daripada usus besar. Keduanya memiliki cara penanganan yang agak berbeda dengan tujuan yang berbeda pula.2,4 Obstruksi usus halus yang dibiarkan dapat menyebabkan gangguan vaskularisasi usus dan memicu iskemia, nekrosis, perforasi dan kematian, sehingga penanganan obstruksi usus halus lebih ditujukan pada dekompresi dan menghilangkan penyebab untuk mencegah kematian.2

Obstruksi kolon sering disebabkan oleh neoplasma atau kelainan anatomik seperti volvulus, hernia inkarserata, striktur atau obstipasi. Penanganan obstruksi kolon lebih kompleks karena masalahnya tidak bisa hilang dengan sekali operasi saja. Terkadang cukup sulit untuk menentukan jenis operasi kolon karena diperlukan diagnosis yang tepat tentang penyebab dan letak anatominya. Pada kasus keganasan kolon, penanganan pasien tidak hanya berhenti setelah operasi kolostomi, tetapi membutuhkan radiasi dan sitostatika lebih lanjut. Hal ini yang menyebabkan manajemen obstruksikolon begitu rumit dan kompleks daripada obstruksi usus halus.2 Ada 3 hal yang menarik tentang obstruksi ileus, yaitu : 1. Makin meningkatnya kasus obstruksi ileus.6 2. Diagnosa obstruksi ileus sebenarnya mudah dan bersifat universal tetapi untuk mengetahui proses patologik yang sebenarnya di dalam rongga abdomen merupakan hal yang sulit.6 3. Bahaya strangulasi yang amat ditakuti sering tidak disertai gambaran klinik khas yang dapat mendukungnya.6 Untuk dapat melaksanakan penanggulangan penderita obstruksi ileus dengan cara yang sebaikbaiknya, diperlukan konsultasi antara disiplin yang bekerja dalam satu tim dengan tujuan untuk mencapai 4 keuntungan : 1. Bila penderita harus dioperasi, maka operasi dijalankan pada saat keadaan umum penderita optimal.6 2. Mencegah strangulasi.6 3. Mencegah laparotomi.6 4. Penderita mendapat tindakan operatif yang sesuai dengan penyebab obstruksinya.6 PATOFISIOLOGI Peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa memandang apakah obstruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau

fungsional. Perbedaan utama adalah obstruksi paralitik di mana peristaltik dihambat dari permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanik peristaltik mula-mula diperkuat, kemudian intermitten, dan akhirnya hilang.2,3,6 Lumen usus yang tersumbat secara progresif akan teregang oleh cairan dan gas (70% dari gas yang ditelan) akibat peningkatan tekanan intralumen, yang menurunkan pengaliran air dan natrium dari lumen ke darah. Oleh karena sekitar 8 liter cairan diekskresikan ke dalam saluran cerna setiap hari, tidak adanya absorpsi dapat mengakibatkan penimbunan intralumen dengan cepat. Muntah dan penyedotan usus setelah pengobatan dimulai merupakan sumber kehilangan utama cairan dan elektrolit.2,3,6 Pengaruh atas kehilangan ini adalah penciutan ruang cairan ekstrasel yang mengakibatkan syok hipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan perfusi jaringan dan asidosis metabolik. Peregangan usus yang terus menerus mengakibatkan lingkaran setan penurunan absorpsi cairan dan peningkatan sekresi cairan ke dalam usus. Efek lokal peregangan usus adalah iskemia akibat distensi dan peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai absorpsi toksin-toksin bakteri ke dalam rongga peritoneum dan sirkulasi sistemik untuk menyebabkan bakteriemia.2,3,6 Patofisiologi Obstruksi Usus2 Obstruksi Mekanik Simple Pada obstruksi simple, hambatan pasase muncul tanpa disertai gangguan vaskuler dan neurologik. Makanan dan cairan yang ditelan, sekresi usus, dan udara terkumpul dalam jumlah yang banyak jika obstruksinya komplit. Bagian usus proksimal distensi, dan bagian distal kolaps. Fungsi sekresi dan absorpsi membrane mukosa usus menurun, dan dinding usus menjadi udema dan kongesti. Distensi intestinal yang berat, dengan sendirinya secara terus menerus dan progresif akan mengacaukan peristaltik dan fungsi sekresi mukosa dan meningkatkan resiko dehidrasi, iskemia, nekrosis, perforasi, peritonitis, dan kematian.2,6 Obstruksi Strangulata

Pada obstruksi strangulata, kematian jaringan usus umumnya dihubungkan dengan hernia inkarserata, volvulus, intussusepsi, dan oklusi vaskuler. Strangulasi biasanya berawal dari obstruksi vena, yang kemudian diikuti oleh oklusi arteri, menyebabkan iskemia yang cepat pada dinding usus. Usus menjadi udema dan nekrosis, memacu usus menjadi gangrene dan perforasi.2,6 OBSTRUKSI USUS HALUS Obstruksi usus halus terbagi atas obstruksi sederhana dan obstruksi yang disertai proses strangulasi. Obstruksi sederhana hanya melibatkan lumen usus halus sedangkan obstruksi yang disertai proses strangulasi melibatkan gangguan peredaran darah dan dapat menyebabkan nekrosis dinding usus halus.1 Obstruksi usus halus dapat disebabkan oleh perlekatan usus, hernia, neoplasma, intususepsi, volvulus, benda asing, batu empedu yang masuk ke dalam usus halus melalui fistula kolesisenterik, penyakit radang usus (inflammatory bowel disease), striktur, fibrokistik, dan hematoma.1 DIAGNOSIS Anamnesis (Subyektif) Gejala Utama : 1. Nyeri Kolik Obstruksi usus halus : kolik dirasakan disekitar umbilikus.2,3,6 Obstruksi kolon : kolik dirasakan disekitar suprapubik.2,6 2. Mual4 & muntah2,3,6 Stenosis Pilorus : encer dan asam.2,6 Obstruksi usus halus : berwarna kehijauan.2,3,6 Obstruksi kolon : onset muntah lama.2,6 3. Perut kembung (distensi)2,3,4,6 4. Konstipasi2,3,6 : defekasi dan flatus tidak ada.2,3,4,6 5. Kram perut4

Adanya benjolan di perut, inguinal, dan femoral yang tidak dapat kembali menandakan adanya hernia inkarserata. Invaginasi dapat didahului oleh riwayat buang air besar berupa lendir dan darah. Riwayat operasi sebelumnya dapat menjurus pada adanya adhesi usus. Onset keluhan yang berlangsung cepat dapat dicurigai sebagai ileus letak tinggi dan onset yang lambat dapat menjurus kepada ileus letak rendah.2,3,6 Pemeriksaan Fisik (Obyektif) & Radiologi A. Strangulasi Strangulasi ditandai oleh adanya peritonitis lokal, seperti :2,6 1. Takikardia 2. Pireksia (demam) 3. Lokal tenderness dan guarding 4. Rebound tenderness 5. Nyeri lokal 6. Hilangnya suara usus lokal Untuk mengetahui secara pasti hanya dengan laparotomi. B. Obstruksi Inspeksi Perut distensi, dapat ditemukan darm kontur dan darm steifung. Benjolan pada regio inguinal, femoral dan skrotum menunjukkan suatu hernia inkarserata. Pada invaginasi dapat terlihat massa abdomen berbentuk sosis. Adanya adhesi dapat dicurigai bila ada bekas luka operasi sebelumnya. Palpasi Kadang teraba massa seperti pada tumor, invaginasi, hernia.2,3,6 Perkusi

Hipertimpani.2,3,6 Auskultasi Hiperperistaltik, bising usus bernada tinggi. Pada fase lanjut bising usus dan peristaltik melemah sampai hilang.2,3,6 Rectal Toucher Isi rektum menyemprot : Hirschprung disease2,3,6 Darah (+) : strangulasi, neoplasma2,3,6 Feses mengeras : skibala2,3,6 Feses (-) : obstruksi usus letak tinggi2,6 Ampula rekti kolaps : curiga obstruksi Nyeri tekan : lokal atau general peritonitis Radiologi Foto polos abdomen pada 3 posisi menggambarkan pelebaran udara usus halus atau usus besar dengan gambaran anak tangga dan air-fluid level. Penggunaan kontras dikontraindikasikan adanya perforasi-peritonitis. Barium enema diindikasikan untuk invaginasi, dan endoskopi disarankan pada kecurigaan volvulus. MANIFESTASI KLINIS 1. Obstruksi Sederhana Obstruksi usus halus proksimal memiliki gejala banyak muntah namun jarang muntah fekal meskipun obstruksinya telah berlangsung lama. Nyeri abdomen bervariasi dan sering dirasakan sebagai perasaan tidak enak pada perut bagian atas.1 Obstruksi usus halus bagian tengah dan distal memiliki gejala kejang di daerah periumbilikal. Nyeri abdomen sulit dijelaskan lokasinya. Kejang tersebut hilang timbul dengan adanya fase bebas keluhan. Keluhan muntah akan timbul kemudian, waktunya bervariasi tergantung pada lokasi sumbatan.

Semakin distal lokasi sumbatan, muntah yang dihasilkan semakin fekulen. Obstipasi selalu terjadi, terutama pada obstruksi komplit.1 Awalnya tanda vital normal namun dapat berlanjut menjadi dehidrasi akibat kehilangan cairan dan elektrolit. Suhu tubuh bisa normal dan demam. Distensi abdomen dapat minimal atau tidak ada pada obstruksi usus halus proksimal dan semakin jelas pada obstruksi usus halus distal. Peristaltik usus yang mengalami dilatasi dapat terlihat pada pasien kurus. Bising usus yang meningkat dan metallic sound dapat terdengar sesuai dengan timbulnya nyeri pada obstruksi usus halus distal.1 Awalnya nilai laboratorium normal kemudian dapat berubah menjadi hemokonsentrasi, leukositosis dan gangguan elektrolit.1 Pemeriksaan radiologis pada posisi tegak, terlentang, dan lateral dekubitus menunjukkan gambaran anak tangga pada usus halus yang mengalami dilatasi dengan gambaran air fluid level. Pemberian kontras akan menunjukkan adanya obstruksi mekanis dan letaknya.1 Pada ileus obstruksi letak rendah, jangan lupa melakukan pemeriksaan rektosigmoidoskopi dan pemeriksaan kolon untuk mengetahui penyebabnya. Pemeriksaan kolon bisa dilakukan dengan colok dubur dan pemeriksaan barium in loop. Periksa pula kemungkinan terjadinya hernia.1 2. Obstruksi yang Disertai Proses Strangulasi Gejala obstruksi usus halus yang disertai proses strangulasi mirip obstruksi usus halus sederhana. Perbedaannya adalah gejala obstruksi ini lebih jelas dan gejala nyeri lebih hebat. Hal yang perlu diperhatikan adalah adanya skar bekas operasi dan hernia. Bila ditemukan gejala strangulasi maka diperlukan tindakan operasi segera untuk mencegah terjadinya nekrosis usus.1

PEMERIKSAAN LABORATORIUM Tes laboratorium mempunyai keterbatasan nilai dalam menegakkan diagnosis, tetapi sangat membantu memberikan penilaian berat ringannya dan membantu dalam resusitasi. Pada tahap awal, ditemukan hasil laboratorium yang normal. Selanjutnya ditemukan adanya hemokonsentrasi, leukositosis dan nilai elektrolit yang abnormal. Peningkatan serum amilase sering didapatkan.6 Leukositosis menunjukkan adanya iskemik atau strangulasi, tetapi hanya terjadi pada 38% 50% obstruksi strangulasi dibandingkan 27% - 44% pada obstruksi non strangulata. Hematokrit yang meningkat dapat timbul pada dehidrasi. Selain itu dapat ditemukan adanya gangguan elektrolit. Analisa gas darah mungkin terganggu, dengan alkalosis metabolik bila muntah berat, dan metabolik asidosisbila ada tanda - tanda shock, dehidrasi dan ketosis.6 PENATALAKSANAAN Dasar pengobatan ileus obstruksi adalah koreksi keseimbangan elektrolit dan cairan, menghilangkan peregangan dan muntah dengan dekompresi, mengatasi peritonitis dan syok bila ada, dan menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali normal.6 Terapi cairan ialah tindakan untuk memelihara, mengganti cairan tubuh dalam batas-batas fisiologis dengan cairan infus kristaloid (elektrolit) atau koloid (plasma ekspander) secara intravena. Terapi cairan berfungsi untuk mengganti defisit cairan saat puasa sebelum dan sesudah pembedahan, mengganti kebutuhan rutin saat pembedahan, mengganti perdarahan yang terjadi, dan mengganti cairan yang pindah ke rongga ketiga. Terapi cairan resusitasi Terapi cairan resusitasi ditujukan untuk menggantikan kehilangan akut cairan tubuh atau ekspansi cepat dari cairan intravaskuler untuk memperbaiki perfusi jaringan. Misalnya pada keadaan syok dan luka bakar. Terapi cairan resusitasi

dapat dilakukan dengan pemberian infus Normal Saline (NS), Ringer Asetat (RA), atau Ringer laktat (RL) sebanyak 20 ml/kg selama 30-60 menit. Pada syok hemoragik bisa diberikan 2-3 L dalam 10 menit. Terapi rumatan Terapi rumatan bertujuan memelihara keseimbangan cairan tubuh dan nutrisi. Orang dewasa rata-rata membutuhkan cairan 30-35 ml/kgBB/hari dan elektrolit utama Na+=1-2 mmol/kgBB/haridan K+= 1mmol/kgBB/hari. Kebutuhan tersebut merupakan pengganti cairan yang hilang akibat pembentukan urine, sekresi gastrointestinal, keringat (lewat kulit) dan pengeluaran lewat paru atau dikenal dengan insensible water losses. Untuk anak digunakan rumus Holiday Segar 4:2:1, yaitu :

Table 2. Rumus Holiday Segar Terapi rumatan dapat diberikan infus cairan elektrolit dengan kandungan karbohidrat atau infus yang hanya mengandung karbohidrat saja. Larutan elektrolit yang juga mengandung karbohidrat adalah larutan KA-EN, dextran + saline, DGAA, Ringer's dextrose, dll. Sedangkan larutan rumatan yang mengandung hanya karbohidrat adalah dextrose 5%. Tetapi cairan tanpa elektrolit cepat keluar dari sirkulasi dan mengisi ruang antar sel sehingga dextrose tidak berperan dalam hipovolemik. Dalam terapi rumatan cairan keseimbangan kalium perlu diperhatikan karena seperti sudah dijelaskan kadar berlebihan atau kekurangan dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya. Umumnya infus konvensional RL atau NS tidak mampu mensuplai kalium sesuai kebutuhan harian. Infus KA-EN dapat mensuplai kalium sesuai kebutuhan harian.

Pada pembedahan akan menyebabkan cairan pindah ke ruang ketiga, ke ruang peritoneum, ke luar tubuh. Untuk menggantinya tergantung besar kecilnya pembedahan, yaitu : 6-8 ml/kg untuk bedah besar 4-6 ml/kg untuk bedah sedang 2-4 ml/kg untuk bedah kecil Defisit cairan karena persiapan pembedahan dan anestesi (puasa, lavement) harus diperhitungkan dan sedapat mungkin segera diganti pada masa pra-bedah sebelum induksi. Setelah dari sisa defisit yang masih ada diberikan pada jam pertama pembedahan, sedangkan sisanya diberikan pada jam kedua berikutnya. Kehilangan cairan di ruang ECF ini cukup diganti dengan ciran hipotonis seperti garam fisiologis, Ringer Laktat dan Dextrose. Pada penderita yang karena penyakitnya tidak mendapat nutrisi yang cukup maka sebaiknya diberikan nutrisi enteral atau parenteral lebih dini lagi. Penderita dewasa yang dipuasakan karena akan mengalami pembedahan (elektif) harus mendapatkan penggantian cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam lama puasa. Defisit karena perdarahan atau kehilangan cairan (hipovolemik, dehidrasi) yang seringkali menyertai penyulit bedahnya harus segera diganti dengan melakukan resusitasi cairan atau rehidrasi sebelum induksi anestesi. Jumlah penggantian cairan selama pembedahan dihitung berdasarkan kebutuhan dasar ditambah dengan kehilangan cairan akibat pembedahan (perdarahan, translokasi cairan dan penguapan atau evaporasi). Jenis cairan yang diberikan tergantung kepada prosedur pembedahannya dan jumlah darah yang hilang. 1. Pembedahan yang tergolong kecil dan tidak terlalu traumatis misalnya bedah mata (ekstrasi, katarak) cukup hanya diberikan cairan rumatan saja selama pembedahan.

2. Pembedahan dengan trauma ringan misalnya: appendektomi dapat diberikan cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar ditambah 4 ml/kgBB/jam untuk pengganti akibat trauma pembedahan. Total yang diberikan adalah 6 ml/kgBB/jam berupa cairan garam seimbang seperti Ringer Laktat atau Normosol-R. 3. Pembedahan dengan trauma sedang diberikan cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar ditambah 8 ml/kgBB/jam untuk pembedahannya. Total 10 ml/kgBB/jam.

Usia Dewasa Anak Bayi Neonatus

Jumlah (ml/Kg/Jam) 1,5 2 24 46 3

Kebutuhan

Table 4. Pengganti deficit prabedah Terapi cairan pasca bedah ditujukan terutama pada hal-hal di bawah ini: 1. Pemenuhan kebutuhan dasar/harian air, elektrolit dan kalori/nutrisi. Kebutuhan air untuk penderita di daerah tropis dalam keadaan basal sekitar 50 ml/kgBB/24 jam. Pada hari pertama pasca bedah tidak dianjurkan pemberian kalium karena adanya pelepasan kalium dari sel/jaringan yang rusak, proses katabolisme dan transfusi darah. Akibat stress pembedahan, akan dilepaskan aldosteron dan ADH yang cenderung menimbulkan retensi air dan natrium. Oleh sebab itu, pada 2-3 hari pasca bedah tidak perlu pemberian natrium. Penderita dengan keadaan umum baik dan trauma pembedahan minimum, pemberian karbohidrat 100-150 mg/hari cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan kalori dan dapat menekan pemecahan

protein sampai 50% kadar albumin harus dipertahankan melebihi 3,5 gr%. Penggantian cairan pasca bedah cukup dengan cairan hipotonis dan bila perlu larutan garamisotonis. Terapi cairan ini berlangsung sampai penderita dapat minum dan makan. 2. Mengganti kehilangan cairan pada masa pasca bedah: - Akibat demam, kebutuhan cairan meningkat sekitar 15% setiap kenaikan 1C suhu tubuh - Adanya pengeluaran cairan lambung melalui sonde lambung atau muntah. - Penderita dengan hiperventilasi atau pernapasan melalui trakeostomi dan humidifikasi. 3. Melanjutkan penggantian defisit cairan pembedahan dan selama pembedahan yang belum selesai. Bila kadar hemoglobin kurang dari 10 gr%, sebaiknya diberikan transfusi darah untuk memperbaiki daya angkut oksigen. 4. Koreksi terhadap gangguan keseimbangan yang disebabkan terapi cairan tersebut. Monitoring organ-organ vital dilanjutkan secara seksama meliputi tekanan darah, frekuensi nadi, diuresis, tingkat kesadaran, diameter pupil, jalan nafas, frekuensi nafas, suhu tubuh dan warna kulit.

1. Konservatif2,3 / Resusitasi6 Dalam resusitasi yang perlu diperhatikan adalah mengawasi tanda - tanda vital, dehidrasi dan syok. Pasien yang mengalami ileus obstruksi mengalami dehidrasi dan gangguan keseimbangan ektrolit sehingga perlu diberikan cairan intravena seperti ringer laktat. Respon terhadap terapi dapat dilihat dengan memonitor tanda - tanda vital dan jumlah urin yang keluar. Selain pemberian

cairan intravena, diperlukan juga pemasangan nasogastric tube (NGT). NGT digunakan untuk mengosongkan lambung, mencegah aspirasi pulmonum bila muntah dan mengurangi distensi abdomen.6 Penatalaksanaan konservatif ileus antara lain : Penderita dirawat di rumah sakit & dipuasakan.2,3 Penderita dipuasakan2,3,4 (tidak makan & minum) sampai krisisnya teratasi.4 Biasanya minimal 3 hari, luka operasi pada saluran cerna dapat sembuh.3 Kontrol status airway, breathing and circulation.2,3 Dekompresi dengan nasogastric tube.2,3 Intravenous fluids and electrolyte.2,3,4 Dipasang kateter urin untuk menghitung balance cairan.2,3 Lavement jika ileus obstruksi, dan kontraindikasi ileus paralitik.2 Dekompresi berguna untuk mengurangi tekanan dan peregangan dengan mengeluarkan gas dan cairan. Kadang sebuah selang dimasukkan ke dalam usus besar melalui anus untuk mengurangi tekanan. Sedangkan selang lainnya yang dihubungkan dengan alat penghisap, dimasukkan melalui hidung menuju ke lambung.4 2. Farmakologis Penatalaksanaan farmakologis ileus antara lain : Antibiotik spektrum luas untuk bakteri anaerob dan aerob sebagai profilaksis. Analgesik apabila nyeri. Antiemetik untuk mengurangi gejala mual muntah. 3. Operatif Penatalaksanaan operatif ileus antara lain : Obstruksi usus dengan prioritas tinggi adalah strangulasi, volvulus, dan jenis obstruksi kolon.2,3 Operasi dilakukan setelah rehidrasi dan dekompresi nasogastric untuk mencegah sepsis sekunder2,3,6 atau rupture usus.2,3

Operasi diawali dengan laparotomi kemudian disusul dengan teknik bedah yang disesuaikan dengan hasil explorasi selama laparotomi.2,3,6 Lisis pita untuk band. Herniorepair untuk hernia inkarserata. Pintas usus : ileostomi, kolostomi. Reseksi usus dengan anastomosis. Diversi stoma dengan atau tanpa reseksi. KOMPLIKASI Komplikasi ileus antara lain : 1. Nekrosis usus 2. Perforasi usus 3. Sepsis 4. Syok-dehidrasi 5. Abses 6. Sindrom usus pendek dengan malabsorpsi dan malnutrisi 7. Pneumonia aspirasi dari proses muntah 8. Gangguan elektrolit 9. Meninggal PROGNOSIS Saat operasi, prognosis tergantung kondisi klinik pasien sebelumnya. Setelah pembedahan dekompresi, prognosisnya tergantung dari penyakit yang mendasarinya.2,3 Mortalitas obstruksi tanpa strangulata adalah 5% sampai 8% asalkan operasi dapat segera dilakukan. Keterlambatan dalam melakukan pembedahan atau jika terjadi strangulasi atau komplikasi lainnya akan meningkatkan mortalitas sampai sekitar 35% atau 40%. Prognosisnya baik bila diagnosis dan tindakan dilakukan dengan cepat.6

BAB III KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA 1. Arif Mansjoer, dkk (Editor). 2000. Bedah Digestif dalam Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ke-3, Jilid ke-2. Jakarta : Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

2. Anonymous. 2007. Ileus. http://medlinux.blogspot.com/2007/09/ileus.html.

Akses 15/11/2008.
3. Erlina

Mustika

Febrianti.

2008.

Ileus.

http://kuliahbidan.wordpress.com/2008/07/16/penanganan-pasien-postlaparatomy-atasindikasi-ileus-obstruksi-di-icu/. Akses 15/11/2008.


4. Sumatera Ekspres. 2008. Perut Kembung Waspadai Ileus. Palembang.

http://sumeks.co.id/index.php? option=com_content&task=view&id=1569&Itemid=12. Akses 15/11/2008.


5. dr.

Rachmat M. Mulyana,

Sp. Rad. 2008. Radiologi di Bidang

Kegawatdaruratan. http://medicalanswer.multiply.com/journal/item/6/Radiologi_di_bidang_kega wat_daruratan. Akses 15/11/2008.


6. Anonymous.

2008.

Obstruksi

ileus.

http://adi-

along.blog.friendster.com/2008/10/obstruksiileus/. Akses 15/11/2008.


7. S. Soewandi. 1992. Akut Abdomen pada Alat Pencernaan Orang Dewasa.

Cermin

Dunia

Kedokteran

No.

80.

http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/11_AkutAbdomenpadaAlatPencernaan OrangDewasa.pdf/11_AkutAbdomenpadaAlatPencernaanOrangDewasa.html. Akses 15/11/2008