Anda di halaman 1dari 21

IDEOLOGI MEDIA MASSA

MAKALAH Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia yang dibina oleh Bapak Sony Sukmawan

Oleh: ALVI SYAHRI RAMADHAN NST DAVISCO HUTAJULU MHD FIDEL G.GULTOM GUNTUR HENDRIWIYANTO TIO FANNY 125020304111026 125020300111076 125020300111053 125020304111018 125020300111073

UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS JURUSAN AKUNTANSI Desember 2012

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur atas rahmat Tuhan Yang Maha Esa sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Banyak rintangan yang telah kami lalui untuk menyelesaikan makalah ini, tetapi tetap tidak menyurutkan niat yang sudah bulat untuk menyelesaikannya. Dalam penulisan makalah ini, penulis berkesempatan menyampaikan tema Ideologi Media Massa. Setiap penggunaan bahasa bersifat ideologis bahkan, bahasa sendiri bersifat ideologi. Ideologi dikenal dan tersebar di masyarakat melalui bahasa. Bergeraknya zaman menuju era teknologi memunculkan kendaraan ekstra bagi ideologi. Ideologi dikemas bahasa menghasilkan nilai tambah yang tinggi melalui media komunikasi/internet ataupun yang biasa disebut media massa menjadikannya sebagai suatu komoditas dengan perilaku konsumen yang beraneka ragam pula dalam meresponnya. Media massa meliputi media cetak, media televisi, ataupun media audio sederhana dalam hal ini gelombang radio. Media massa telah menjelma sebagai katalisator bahkan akselerator yang berperan dalam penyebaran ideologi ke tengah-tengah masyarakat. Tak ayal, suatu ideologi yang dahulunya ditolak khalayak, melalui media massa akhirnya tercipta suatu apologi masyarakat dan menjadi suatu prinsip yang terealisasi secara nyata. Begitu pentingnya media massa, sehingga barang siapa yang

menguasainya mampu menguasai dan membentuk opini publik. Berdasarkan uraian singkat di atas, penulis berharap melalui penulisan makalah ini mampu memberikan ulasan singkat serta contoh penjelasan terkait ideologi media massa. Tak ada gading yang tak retak, penulis sadar kesempurnaan masih sangat jauh dari penulisan makalah ini. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan masukan berupa kritik dan saran untuk perbaikan makalah ini di kemudian hari. Akhir kata, penulis berharap agar karya tulis ini bermanfaat bagi semua pihak.

Malang, 10 Desember 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang Bahasa memperlihatkan kepada kita ekspresi estetis tentang manusia dan kebudayaan manusia itu sendiri. Di dalamnya mencakup kompleksitas ideologi, politik, norma hidup, etika, tradisi, pandangan dunia luar, variasi dan tingkah laku manusia. Selain sebagai alat komunikasi, bahasa juga dapat dimaknai sebagai representasi budaya, serta pandangan politik dan ideologi dari kelompok tertentu. Dalam hal ini, ideologi adalah gagasan atau keyakinan yang sesuai akal sehat (commonsensical) dan tampak normal. Gagasan atau keyakinan itu telah menjadi bawah sadar masyarakat. Maka, jika masyarakat tidak menyadari ideologi (dalam) bahasa yang dipakainya, itu membuktikan ideologi sedang efektif bekerja. Menuju era globalisasi, nampaknya ideologi tumbuh dan tersebar tidak terbatas melalui ucapan bahasa dari mulut ke mulut semata, lebih dari itu telah muncul kekuatan baru sebagai kendaraan yang mengantarkan ideologi ke benak masing-masing penganutnya ataupun siapapun yang hendak menjadi sasaran tembak ideologi. Kekuatan baru tersebut tidak lain adalah media komunikasi. Media komunikasi berupa media cetak ataupun media elektronik dengan sebutan populernya adalah media massa. Saat ini media komunikasi dan informasi dunia memang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan manusia. Media merupakan sarana, alat komunikasi bagi manusia diseluruh dunia, yang terletak antara 2 pihak atau sebagai perantara dan penghubung. Media merupakan alat komunikasi yang efektif bagi perkembangan kehidupan manusia, dari media semua informasi dapat diakses dengan mudah dari manapun. Seiring kemajuan teknologi di era Globalisasi ini, media menjadi sesuatu yang tidak dapat ditinggalkan manusia, hingga media sekarang sudah bisa ada di genggaman tangan maka semakin mudah dalam mencari informasi dari manapun. Ideologi media di Indonesia jika kita pelajari tentu akan banyak kita temukan ideologi yang berbeda-beda pada eranya, dimulai dari era kolonialisme

media pribumi sangat dibatasi oleh penjajah dalam menyampaikan informasi kepada publik. Sama saja halnya pada era orde lama, media yang seakan sarat dengan partai politik, sehingga pada era ini pembentukan opini publik sangat erat dengan penyampaian ideologi partai politik untuk mengelabuhi publik. Pada era orde baru semuanya berbeda karena media sangat ditutup rapat oleh pemerintahan, sehingga di era ini adalah era matinya kebebasan Pers. Menuju era reformasi, media sudah dapat sepenuhnya melakukan penggalian dan penyampaian informasi sebebas-bebasnya. Ibarat keluar dari mulut singa masuk ke mulut buaya begitulah penggambaran dari kondisi media massa saat ini. Meski tidak lagi menjadi corong penguasa akan tetapi media massa tidak pernah lepas dari intervensi sang pemilik modal yang dikuasai oleh segelintir orang yang nota bene memiliki beragam kepentingan seperti kepentingan ekonomi, politik dan ideologi tertentu Perkembangan media komunikasi dan informasi yang sangat pesat membuat semuanya mudah dilakukan termasuk kegiatan penyebaran ideologi, penyebaran ideologi melalui media dapat membahayakan kepentingan individu dan antar negara, karena sekarang banyak orang yang membuat berita di dalam sebuah situs yang dimana berita itu belum bisa atau bahkan sama sekali tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, sehingga hal itu akan membahayakan orang yang membacanya dan kemudian mempercayainya. Pada dasarnya ideologi bersifat lebensraum atau ingin mempunyai ruang gerak yang luas dalam menjalankan ideologinya dan itu semua dimanfatkan secara negatif oleh kaum yang tidak bertanggung jawab dalam menyebarkan ideologinya melalui media komunikasi dan informsi di era Globalisasi ini. Karena di era seperti ini manusia tidak mau susah dan tidak mau kritis di semua hal maka manusia menjadi budak media komunikasi dan informasi ini, dan dengan mudahnya manusia mempercayai apa yang ada di dalam informasi itu tanpa mencari tahu kebenaran dan keakuratan berita tersebut. Dengan demikian itu semua akan menguntungkan kaum yang tidak bertanggung jawab dalam menyebarkan ideologinya melalui informasi yang dipublikasikan lewat media yang bisa saja itu palsu atau tidak benar adanya.

Namun, tidak bisa hanya menyalahkan orang yang tidak bertanggung jawab tersebut. Karena setiap orang memiliki ideologi yang bisa saja menurut orang itu ideologinya benar kemudian dia menyebarkan informasi dengan menuruti ideologinya yang kemudian ada orang lain yang membaca kemudian mempercayai informasi itu yang jelas-jelas informasi yang dibacanya itu tidak benar menurut ideologinya, itu juga merupakan kesalahan pembaca yang tidak bisa mempercayai ideologinya secara kuat dan berpegang teguh. Jadi, baik kita menjadi penulis dan pembaca informasi juga harus sadar akan adanya perbedaan ideologi setiap orang sehingga kita juga harus tetap berhati-hati dalam menulis dan membaca informasi yang ada di media komunikasi dan informasi didunia ini.

Rumusan Masalah Rumusan permasalahan yang akan dibahas melalui penulisan makalah ini adalah: 1. Definisi ideologi 2. Definisi media massa 3. Ideologi media massa

BAB II PEMBAHASAN

Definisi Ideologi Ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan. Kata ideologi sendiri diciptakan oleh Destutt de Tracy pada akhir abad ke-18 untuk mendefinisikan "sains tentang ide". Ideologi dapat dianggap sebagai visi yang komprehensif, sebagai cara memandang segala sesuatu (bandingkan Weltanschauung), secara umum (lihat Ideologi dalam kehidupan sehari hari) dan beberapa arah filosofis (lihat Ideologi politis), atau sekelompok ide yang diajukan oleh kelas yang dominan pada seluruh anggota masyarakat. Tujuan utama di balik ideologi adalah untuk menawarkan perubahan melalui proses pemikiran normatif. Ideologi adalah sistem pemikiran abstrak (tidak hanya sekadar pembentukan ide) yang diterapkan pada masalah publik sehingga membuat konsep ini menjadi inti politik. Secara implisit setiap pemikiran politik mengikuti sebuah ideologi walaupun tidak diletakkan sebagai sistem berpikir yang eksplisit.(definisi ideologi Marxisme). Terdapat banyak definisi tentang ideologi. Raymond William sebagaimana dikutip Eriyanto mengklasifikasikan penggunaan ideologi dalam tiga area. Pertama, sebuah sistem kepercayaan yang dimiliki kelompok atau kelas tertentu. Ideologi sebagai seperangkat sikap yang dibentuk dan diorganisasikan dalam bentuk yang koheren. Kedua, ideologi merupakan sebuah sistem kepercayaan yang dibuat (ide atau kesadaran palsu) yang bisa dilawankan dengan pengetahuan ilmiah. Ideologi dalam pengertian ini adalah seperangkat kategori yang dibuat dan kesadaran palsu di mana kelompok yang berkuasa atau dominan menggunakannya untuk mendominasi kelompok lain yang lemah. Perangkat ideologi yang digunakan kelompok dominan terhadap kelompok lain akan mengakibatkan hubungan yang terjalin tampak natural dan diterima sebagai kebenaran. Di sini, ideologi disebarkan melalui berbagai instrumen yang salah satunya adalah media massa. Ketiga, ideologi diartikan sebagai proses produksi makna dan ide. Ideologi bekerja merumuskan makna secara eksklusif yang merepresentasikan kepentingan kelompok tertentu yang dominan. Melalui perumusan makna ini, ideologi

mengkonstruksi dan memproduksi makna suatu realitas secara sewenang-wenang untuk kepentingan partisan. Secara ringkas dapat disimpulkan bahwa ideologi adalah pemikiran yang mencakup konsepsi mendasar tentang kehidupan dan memiliki metode untuk merasionalisasikan pemikiran tersebut berupa fakta, metode menjaga pemikiran tersebut agar tidak menjadi absurd dari pemikiran-pemikiran yang lain dan metode untuk menyebarkannya.

Definisi Media Massa Media massa adalah alat yang digunakan dalam penyampaian pesan-pesan dari sumber kepada khalayak (menerima) dengan menggunakan alat-alat komunikasi mekanis seperti surat kabar, film, radio, TV (Cangara, 2002). Media massa adalah faktor lingkungan yang mengubah perilaku khalayak melalui proses pelaziman klasik, pelaziman operan atau proses imitasi (belajar sosial). Dua fungsi dari media massa adalah media massa memenuhi kebutuhan akan fantasi dan informasi (Rakhmat, 2001). Media menampilkan diri sendiri dengan peranan yang diharapkan, dinamika masyarakat akan terbentuk, di mana media adalah pesan. Jenis media massa yaitu media yang berorentasi pada aspek (1) penglihatan (verbal visual) misalnya media cetak, (2) pendengaran (audio) semata-mata (radio, tape recorder), verbal vokal dan (3) pada pendengaran dan penglihatan (televisi, film, video) yang bersifat verbal visual vokal (Liliweri, 2001). Effendy (2000), media massa digunakan dalam komunikasi apabila komunikasi berjumlah banyak dan bertempat tinggal jauh. Media massa yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari umumnya adalah surat kabar, radio, televisi, dan film bioskop, yang beroperasi dalam bidang informasi, edukasi dan rekreasi, atau dalam istilah lain penerangan, pendidikan, dan hiburan. Keuntungan komunikasi dengan menggunkan media massa adalah bahwa media massa menimbulkan keserempakan artinya suatu pesan dapat diterima oleh komunikan yang jumlah relatif banyak. Jadi untuk menyebarkan informasi, media massa sangat efektif yang dapat mengubah sikap, pendapat dan perilaku komunikasi.

Media massa adalah alat-alat dalam komunikasi yang bisa menyebarkan pesan secara serempak, cepat kepada audience yang luas dan heterogen. Kelebihan media massa dibanding dengan jenis komunikasi lain adalah ia bisa mengatasi hambatan ruang dan waktu. Bahkan media massa mampu menyebarkan pesan hampir seketika pada waktu yang tak terbatas (Nurudin, 2007). Media massa memberikan informasi tentang perubahan, bagaimana hal itu bekerja dan hasil yang dicapai atau yang akan dicapai. Fungsi utama media massa adalah untuk memberikan informasi pada kepentingan yang menyebarluas dan mengiklankan produk. Ciri khas dari media massa yaitu tidak ditujukan pada kontak perseorangan, mudah didapatkan, isi merupakan hal umum dan merupakan komunikasi satu arah. Peran utama yang diharapkan dihubungkan dengan perubahan adalah sebagai pengetahuan pertama. Media massa merupakan jenis sumber informasi yang disenangi oleh petani pada tahap kesadaran dan minat dalam proses adopsi inovasi (Fauziahardiyani, 2009).

Ideologi Media Massa Dalam konteks media massa berita diproduksi dari ideologi dominan tertentu yang berasal tidak hanya dalam arti ide-ide besar, tetapi juga bisa bermakna politik penandaan dan pemaknaan. Sementara Gramsci mengemukakan bahwa hubungan pemilik modal dan pekerja yang dalam konteks media massa antara wartawan dan pemilik industri media merupakan hubungan yang bersifat hegemonik. Melalui hubungan hegemonik ini, pemilik media melakukan kontrol atas produksi berita yang dijalakan oleh media agar tetap memberikan kepastian bagi ideologi dan kepentingan kapitalnya. Selain ideologi sebagai perangkat internal media, kekuatan lain yang secara massif membentuk kecenderungan kepentingan dan keberpihakkan media adalah sumber berita (news source), pengiklan (advertiser), konsumen berita (news consumers), dan publik (the general public). Produksi berita sesungguhnya berada dalam pertarungan antara pihak-pihak yang berkepentingan dengan isi berita. Secara umum, pihak yang menguasai kapital berpeluang paling besar mendominasi proses produksi berita. Dalam konteks media massa, pengiklan (advetiser) merupakan pihak yang dominan menentukan kecenderungan dan

keberpihakkan media. Hal ini terjadi karena media massa di Indonesia telah mengalami pergeseran yang disebakan pola produksi yang berubah. Dalam dunia bisnis, hal penting adalah kepuasan konsumen atas komoditas yang ditawarkan. Dalam konteks media massa komoditas tersebut adalah berita. Agar kepentingan bisnis media massa terjaga, maka komoditas dalam bentuk berita harus mampu memberikan kepuasan bagi konsumen. Orientasi kepuasan pelanggan ini dalam beberapa titik bertentangan dengan idealisme media massa. Dalam prakteknya seringkali kepentingan bisnis mendominasi idealisme media massa sehingga secara paradigmatik menggeser cara pandang (ideologi) media massa ke arah yang lebih kapitalistik. Ideologi media massa yang takluk di bawah cengkeraman kapitalisme membentuk sikap dan perilaku pekerja pers yang memposisikan informasi semata-mata sebagai komoditas. Informasi tanpa bobot komoditas dinilai jauh dari rasa ingin tahu (sense of curiosity). Padahal, pemenuhan keingintahuan manusia itu pada umumnya sangat bergantung kepada kemauan baik pengelola lembaga media massa dalam menyajikan informasi. Jika tak dapat disebut bertentangan, bisnis media dan ideologi media/pers sesungguhnya tak pernah seiring-sejalan. Keduanya, jelas, memiliki kepentingan yang tak dapat diseiringkan. Tak pula disejalankan. Di satu sisi, bisnis media berkepentingan meraih keuntungan ekonomis sebesar-besarnya. Ideologi

komersial, begitu lebih tepatnya. Maka, informasi atas sebuah fakta diperlakukan sebagai komoditas yang (harus) bernilai jual. Di sisi lain, media massa menyuarakan tujuan aktivitas jurnalistiknya untuk kepentingan publik. Pengabdian pada kebenaran dan kepentingan publik, kata Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, merupakan prinsip dasar jurnalisme. Hal demikian yang kemudian disebut ideologi media/pers. Karena itu, tidak tepat jika dikatakan bahwa tak ada pertentangan antara bisnis dengan ideologi media, seperti pendapat Amir Effendi Siregar dalam Bisnis dan Ideologi Media (Kompas, 24 April 2010). Menjalankan ideologi media, menurutnya, bukan berarti harus mengorbankan bisnis media. Sebab, bisnis yang baik adalah yang dijalankan sesuai dengan ideologi yang bermanfaat buat masyarakat.

Masalahnya, hal yang dianggap bermanfaat bagi masyarakat tak sertamerta menjadi kebaikan atau dapat dijalankan oleh bisnis media. Kebenaran dan kepentingan publik --yang merupakan prinsip dasar jurnalisme-- tak niscaya menjadi kemanfaatan (ekonomis) bagi bisnis media. Sebab, informasi atas sebuah kebenaran atau kepentingan publik harus memiliki kriteria bernilai jual lantaran ia adalah komoditas. Pengertian sederhananya: buat apa membuat berita jika korannya tak dibeli masyarakat, atau stasiun televisinya tak dapat pasokan iklan. Sebuah informasi yang benar (sesuai fakta) dan menyangkut kepentingan publik dapat menjadi komoditas yang baik untuk masyarakat, pun untuk bisnis industri media. Syaratnya, ia harus bernilai jual (lazimnya berkarakter kontroversial, menghebohkan, provokatif). Namun, tak semua informasi yang benar dan menyangkut kepentingan publik bernilai jual, sehingga bukan komoditas yang baik dan dapat mendatangkan keuntungan ekonomis bagi industri media. Lebih dari itu, penyampaian sebuah berita ternyata menyimpan subjektivitas penulis. Bagi masyarakat biasa, pesan dari sebuah berita akan dinilai apa adanya. Berita akan dipandang sebagai barang suci yang penuh dengan objektivitas. Namun, berbeda dengan kalangan tertentu yang memahami betul gerak pers. Mereka akan menilai lebih dalam terhadap pemberitaan, yaitu dalam setiap penulisan berita menyimpan ideologis/latar belakang seorang penulis. Seorang penulis pasti akan memasukkan ide-ide mereka dalam analisis terhadap data-data yang diperoleh di lapangan. Misalnya, analisis tentang Ekonomi Pancasila. Ekonom yang memiliki ideologi sosialis akan menulis dengan analisis yang dibumbui ideologi si penulis. Demikian pula dengan penulis yang memiliki latar belakang kapitalis. Meskipun keduanya memiliki data-data yang sama, tapi hasil analisis keduanya pasti akan memiliki cita rasa ekonomi sosialis dan kapitalis. Persoalan di masa mendatang adalah persoalan menghadapi informasi yang melebihi kapasitas kita untuk sekedar mengingatnya. Kalau mengingat

informasi saja sudah menjadi masalah, pasti menjadi problema juga pada pencernaan informasi.

Informasi yang hadir bukan hanya sebuah fakta. mengandung ideologi.

Informasi juga

Terutama ideologi dari yang punya atau pemilik dari

penyebar informasi. Pemilik surat kabar, majalah, radio, atau televisi. Pemilik akan sangat berpengaruh terhadap informasi yang disajikan. Jika ideologi mempengaruhi tampilan berita, maka kita juga jangan termakan mentah-mentah oleh ideologi mereka. Kita harus mampu memilah

berita atau lebih kerennya mengkritisi setiap berita. Melihat dengan jernih. Nalar akan mengantarkan kita pada ketaktersesatan di belantara berita. memahami setiap berita, bahkan memahami pula kenapa begitu. Kita akan

Contoh-contoh Ragam Ideologi Media Massa 1. Budaya kekerasan pada media massa Media massa memiliki pengaruh yang besar dalam pembentukan sikap dan perilaku khalayak. Oleh karena itu seyogyanya media massa bertanggung jawab dalam menjaga nilai-nilai moral, tata susila, budaya dan kepribadian bangsa. Belakangan ini marak kejadian-kejadian seperti tawuran antar pelajar, pelecehan seksual dan tindak kekerasan yang melanggar hukum. Contoh yang masih hangat adalah tawuran antara SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta. Akibat kejadian ini satu orang siswa SMAN 6 meninggal dunia. Secara disadari atau tidak media televisi turut mensosialisasikan tindakan kekerasan, seperti publikasi teroris yang berlebihan, tawuran yang terjadi di beberapa daerah lain dengan memperlihatkan adegan tindakan brutal bagaimana cara menghancurkan dan membakar. Kejadian kekerasan seperti pembunuhan maupun bunuh diri digambarkan secara detail, sehingga membuat penonton mempelari langkah-langkah pembunuhan dengan mudah. Ekspose pelaku kejahatan yang berlebihan. Tidak salah, adanya anggapan bahwa media massa khususnya televisi dapat mempengaruhi sikap pelajar, karena televisi merupakan sosial media yang paling akrab dan dekat di masyarakat, selain daya tariknya yang memikat.

2.

Budaya konsumtif dan hedonisme pada media massa Media massa juga berpengaruh atas terbentuknya budaya konsumtif dan hedonis pada masyarakat, sebagai akibat dari iklan-iklan pada media massa yang menawarkan berbagai kebutuhan atas produk dan membangkitkan keinginan masyarakat untuk terus membeli. Media massa khususnya televisi adalah sarana yang paling efektif untuk
menjual produk. Tampilan program dan iklan yang bisa dilihat dan didengar menjadikannya mudah diterima dan diikuti oleh masyarakat. Berbagai tayangan sinetron, iklan, yang menggambarkan kehidupan konsumtif, glamour dan hedonis berpotensi ditiru oleh masyarakat pengguna media, walaupun mereka hidup dalam kondisi ekonomi yang pas-pasan. Untuk memenuhi keinginan membeli suatu barang, mereka terpaksa mengikuti skema kredit atau menggunakan kartu kredit. Berbagai program seperti sinetron dan tayangan iklan di televisi banyak diterima oleh masyarakat dan secara tidak sadar ikut membentuk gaya hidup hedonis dan kebiasaan membeli. Media massa menjadi sarana komunikasi yang efektif untuk membentuk budaya konsumtif.

3.

Ideologi-ideologi tersembunyi dalam berita kasus pornografi di media massa Dalam berita kasus pornografi di media massa sering ditemukan beberapa ideologi, yaitu: 1) Liberalisme Ideologi Liberalisme adalah paham yang menolak adanya pembatasan, khususnya dari pemerintah dan agama. Liberalis memuat hak asasi manusia, yaitu manusia memiliki persamaan. Ideologi Liberalisme yang sering muncul dalam berita kasus pornografi di media massa yaitu setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan dan setiap manusia memiliki kebebasan serta hak asasi yang sama dengan manusia lain. 2) Sekularisme Ideologi Sekularisme adalah paham atau pandangan yang berpendirian bahwa moralitas tidak perlu didasarkan pada ajaran agama. Ideologi Sekularisme yang sering muncul dalam berita kasus pornografi di media massa yaitu media massa menilai moralitas berkaitan dengan kasus pornografi tidak perlu didasarkan pada ajaran agama. 3) Islamisme Ideologi Islamisme adalah proses berpikir dalam sistem politik yang berdasar pada akidah agama Islam yang diajarkan pada kitab suci AlQuran. Ideologi Islamisme yang sering muncul dalam berita kasus pornografi di media massa yaitu media massa menyampaikan wacana agar pelaku kasus pornografi dihukum dengan hukuman rajam.

4.

Ideologi gender khususnya dalam media massa anak


Budaya kita adalah budaya patriarkhi, yang melihat dan mencitrakan sesuatu menggunakan sudut pandang laki-laki. Budaya perempuan mungkin tumbuh, namun dalam ukuran yang kerdil dan inferior, sehingga tidak memiliki daya atau kuasa menentukan, sehingga baik kaum laki-laki maupun perempuan, termasuk di dalamnya anak-anak, dalam budaya kita berpikir dengan sudut pandang tunggal, laki-laki. 'Kepercayaan' atau 'kebenaran' yang sudah terlanjur

bertumbuh kembang dalam masyarakat adalah bahwa perempuan tidak memimpin, tidak berani, tidak bertempur dan laki-laki tidak merawat dan tidak menjadi objek. Oleh sebab itu sangat jarang kita temukan tulisan-tulisan cerpen

maupun cerita bergambar di dalam media massa anak yang menggunakan sudut pandang perempuan. Secara umum tokoh-tokoh perempuan dalam tulisan-tulisan cerpen maupun cerita bergambar di dalam media massa anak memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Tidak dominan 2) Menempati wilayah yang terlindungi 3) Pasif 4) Lemah 5) Bergantung 6) Tidak cerdas 7) Tidak memiliki kekuatan tawar 8) Banyak terlibat dalam kegiatan domestik 9) Citra yang dibangun adalah citra lembut dan rapih

5.

Alay, ideologi dan budaya baru pemuda Indonesia Budaya ini lahir dari pengaruh media massa yang merupakan akar dari globalisasi. Arus globalisasi yang semakin tak dapat dikendalikan merusak masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda. Seperti budaya alay ini, dapat kita lihat di mana-mana remaja telah terkontaminasi oleh budaya tersebut. Seakan-akan telah lupa dengan budaya asli. Padahal kita ketahui bersama bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai budayanya sendiri. Hal ini terlihat pada gaya bicara alay yang berlebihan. Budaya alay itu sendiri muncul tak jelas kapan, ada yang menyebutkan barubaru ini namun tidak pasti kapannya dan siapa pencetus pertamanya atau pendirinya pun masih merupakan misteri. Cara melihatnya hanya dapat ditelusuri dari dampak-dampak yang dibawa budaya tersebut. Budaya alay ini awalnya berkembang di dunia maya, namun seiring dengan waktu, tak hanya di dunia maya, di dunia nyata pun budaya ini pun berkembang. Fenomena alayers (sebutan bagi kaum alay) ini merebak di segala kalangan masyarakat, khususnya remaja dan termasuk di dalamnya pada mahasiswa. Banyak disekitar kita para mahasiswa yang mengadopsi bahasa ini dan dipakai di kehidupan sehari-hari. Mulai dari gaya bahasa yang sengaja dilebih-lebihkan sampai pada perubahan tingkah laku. Hal ini tak

luput dari pengaruh media massa. Seperti di televisi, terdapat beberapa selebritis atau presenter yang kerap berprilaku dan berbahasa alay. Sehingga para penonton yang tidak dapat menyaring pesan-pesan yang disampaikan langsung mengadopsi pesan tersebut, walaupun mereka tahu bahwa kebudayaan itu dapat mengikis budaya asli. Bahasa Indonesia misalnya. Terkadang bila kita terlampau berbahasa Indonesia yang baik dan benar dianggap tidak gaul atau kampungan. Sedangkan bila menggunakan bahasa gaul atau bahasa alay dianggap generasi bangsa masa kini. 6. Ideologi keberpihakkan media massa Keberpihakkan media massa pada ideologi dominan merupakan hal yang tidak bisa dihindari. Hal ini karena pada masa industrialisasi, media massa dituntut untuk mampu membiayai dirinya sendiri. Praktik ekonomi industri berlangsung dalam dimensi tunggal yaitu perdagangan atau lebih tepatnya jual beli. Untuk terlibat menjadi pelaku pada praktik ekonomi industri, seseorang, kelompok atau lembaga harus memiliki komoditas yang ditransaksikan. Sementara itu, produk utama media massa adalah berita sehingga dalam konteks ekonomi industri ia harus dikelola sebagai komoditas yang ditransaksikan. Namun jika media massa berpraktik ekonomi layaknya organisasi yang didesain industrial akan dianggap tidak etis dan menyalahi mandat sosial yang diterima. Pilihan rasional yang dipilih media massa adalah berbisnis dengan cara lain tanpa mengingkari mandat sosial yang diterimanya. Salah satunya adalah berjejaring dan bekerjasama dengan lembaga atau pelaku bisnis ekonomi industri. Bagi pelaku industri, masyarakat atau publik merupakan konsumen yang keberadaannya menjamin bagi keberlangsungan bisnisnya. Sementara bagi media massa, publik merupakan klien utama yang menjadi aset terbesar dan keberadaannya sangat sentral. Dalam pola hubungan industrial inilah media massa dan pelaku ekonomi industri terbangun. Kebutuhan kapital sebagai instrumen pendukung operasional media massa disediakan oleh pelaku ekonomi industri, sementara kebutuhan pasar bagi industri disediakan oleh media massa. Hubungan yang saling bergantung ini berpengaruh besar bagi performa media massa di

hadapan publik. Berita sebagai produk utama didesain bukan hanya berisi informasi tetapi juga seperangkat nilai yang beroperasi secara ideologis untuk mendukung kepentingan tertentu. Kepentingan yang didukung adalah kekuatan yang mendominasi praktik-praktik media massa yang pada umumnya didasarkan atas kontribusi kapital. Keberpihakkan media massa di Indonesia dalam pemberitaan dapat dicontohkan pada pemberitaan mengenai kasus Lumpur Lapindo pada saluran televisi TVOne. Semburan lumpur panas di Dusun Balongnongo Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur sejak tanggal 29 Mei 2006 tersebut terjadi karena kegiatan pengeboran yang dilakukan oleh PT Lapindo Brantas di wilayah tersebut. PT Lapindo Brantas dan TVOne sendiri adalah anak perusahaan dari PT Bakrie & Brothers Tbk yang dimiliki oleh keluarga Aburizal Bakrie, oleh karena itu TVOne selalu berpihak dalam memberitakan kasus Lumpur Lapindo. Keberpihakkan TVOne dalam pemberitaan kasus Lumpur Lapindo dapat dilihat dari beberapa contoh sebagai berikut: 1) Dalam penggunaan istilah TVOne tidak mau menggunakan sebutan yang umumnya dipakai untuk kasus lumpur ini, yakni Lumpur Lapindo. TVOne selalu menggunakan sebutannya sendiri, Lumpur Sidoarjo karena sebutan Lumpur Lapindo dianggap mempunyai makna PT Lapindo Brantas-lah yang menyebabkan bencana itu terjadi. 2) Pemberitaan bencana Lumpur Lapindo pada TVOne dapat menyesatkan penonton yang menyaksikannya. Pada tayangan berita Kabar Petang di TV One (Senin, 28 Mei 2012) ditampilkan berita tentang 6 tahun bencana Lumpur Lapindo yang memperlihatkan kunjungan Aburizal Bakrie ke Ciamis, Jawa Barat bertemu dengan sejumlah anak-anak sekolah, namun teks yang tercantum pada tayangan tersebut adalah Ical: Kewajiban di Wilayah Peta Terdampak Sudah Tuntas. Teks tersebut tidak relevan dengan berita yang sedang ditayangkan.

3) Dalam pemberitaan mengenai bencana Lumpur Lapindo pada TVOne selalu menggunakan sudut pandang yang berbeda dengan media massa lainnya. Pada tayangan berita Kabar Petang di TV One (Senin, 28 Mei 2012) ditampilkan gambar sejumlah korban lumpur Lapindo dengan teks di bawahnya: Warga Berharap Pemerintah Bayar Lahan Mereka. Dari tayangan tersebut terkesan bahwa masyarakat korban bencana Lumpur Lapindo telah diprovokasi, sehingga tayangan tersebut mendorong korban bencana Lumpur Lapindo untuk menyerukan kepada pemerintah agar membayar ganti kerugian kepada mereka, bukannya menuntut kepada pihak PT Lapindo Brantas. 7. Tempo, media paling independen dalam pemberitaan korupsi dan mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. Tempo adalah majalah berita mingguan Indonesia yang umumnya meliput berita dan politik. Tempo juga merupakan majalah pertama yang tidak memiliki afiliasi dengan pemerintah. Edisi pertama Tempo diterbitkan pada tanggal 6 Maret 1971. Majalah ini pernah dilarang terbit oleh pemerintah pada tanggal 21 Juni 1994 dan kembali beredar pada tanggal 6 Oktober 1998. Pelarangan terbit majalah Tempo tersebut tidak pernah jelas penyebabnya, namun banyak orang yang meyakini bahwa Menteri Penerangan saat itu, Harmoko, mencabut Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) Tempo karena laporan majalah ini tentang impor kapal perang dari Jerman yang dianggap membahayakan stabilitas negara. Selain itu, pada bulan Juni 2010 menerbitkan edisi 28 Juni 4 Juli 2010 dengan sampul berjudul Rekening Gendut Perwira Polisi yang

menggambarkan seorang polisi sedang membawa celengan berbentuk babi. Edisi ini menceritakan beberapa jenderal polisi yang memiliki rekening berisi uang miliaran rupiah. Polri kemudian memprotes sampul tersebut dan meminta Majalah Tempo untuk meminta maaf. Pada 8 Juli 2010 kedua pihak akhirnya sepakat untuk berdamai di luar jalur pengadilan.

BAB III PENUTUP Kesimpulan Ragam bahasa berkembang sepanjang sejarah manusia. Semakin komplek perkembangan tersebut diikuti pula oleh penciptaan ideologi. Ideologi mengandung pengertian sistem tata keyakinan yang dipegang dan menjadi pondasi serta prinsip kehidupan suatu masyarakat yang membedakannya dengan komunitas masyarakat lainnya. Didalamnya, ideologi merepresentasikan sosial budaya, ekonomi, politik dan aspek kehidupan masyarakat lainnya. Lambat laun, ideologi tidak hanya terbatas pada suatu komunitas masyarakat akan tetapi lebih mengarah pada suatu penataan ideologi kebangsaan/kenegaraan. Ideologi sebagai suatu pemikiran mampu tegak dan eksis tidak lain karena memiliki subjek penggerak. Dan sangat tidak mungkin apabila subjek disini hanyalah beberapa jumlah manusia saja. Ideologi berpengaruh dan menjadi suatu prinsip dan pola hidup manakala kebanyakan orang atau bahkan sebagian besar masyarakat pada suatu negara/bangsa bersikap pro atas suatu ideologi tersebut. Ideologi tidaklah diartikan sempit dan hanya terbatas pada ideologi politik suatu negara atau bangsa. Lebih dari itu, ideologi merupakan suatu konsepsi dalam kerangka pikir tentang bagaimana memandang dan menjalani setiap alur kehidupan manusia. Berubahnya era komunikasi, ideologi sampai ke masing-masing objeknya tidak hanya melalui bahasa lisan face to face semata lebih dari itu ideologi telah menemukan suatu transportasi baru yang mengantarkannya sebagai suatu komoditas kepada konsumennya dengan lebih cepat dan dan tentunay lebih persuasif. Kendaraan tersebut adalah media komunikasi/media massa baik cetak maupun eletronik. Ideologi media massa tidak semata berdasarkan ideologi kebenaran faktual melalui pembuktian berdasarkan kode etik jurnalistik, tetapi terkadang media massa juga diwarnai ideologi dan minat para penguasa atau pemilik modal. Melalui berita media massa, ideologi tersamarkan dan tanpa sadar telah menjadi konsumsi serta mendarah daging bagi pembacanya.

Ideologi tersamarkan pada media massa tentunya harus kita filter melalui timbangan intelektualitas. Sebagai pembaca media massa, sikap selektif sangatlah diperlukan. Kesadaran bahwa media massa memiliki posisi sentral dalam permainan ideologi (ideology games) mengharuskan kita lebih cerdas dalam membina relasi dengan media. Media bukanlah hidup di ruang vacum tanpa kepentingan apa-apa. Sebuah upaya memberikan kesadaran kepada masyarakat yang merasa dirinya nyaman untuk terus hidup dalam ketidaksadaran. Terhipnotis oleh budaya belanja, kartu kredit, dan dugem ria. Semuanya diperantarai secara kognitif oleh kemegahan dan hedonisme media massa.

DAFTAR PUSTAKA

http://hanharsa.blogspot.com/2009/10/media-massa-dan-ideologi.html http://kopikental.blogspot.com/2012/09/ideologi-komersial-dan-ideologimedia.html\ http://antikorupsijateng.wordpress.com/2012/05/19/ideologi-media-vs-gerakanantikorupsi/ http://sosbud.kompasiana.com/2012/06/29/pengaruh-perkembangan-mediakomunikasi-dan-informasi-pada-penyebaran-ideologi/ http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id= 10612:media-dalam-lingkaran-ideologi-jalan-tengah&catid=21:khas&Itemid=190 http://www.jurnas.com/news/73893/Tempo_Media_Paling_Independen_dalam_P emberitaan_Korupsi?/1/Sosial_Budaya/Humaniora http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/pemberitaan-korupsi-perlu-tapibelum-berimbang http://rizaldp.wordpress.com/2010/09/21/peran-media-sebagai-pembentuk-opinipublik/ http://politik.kompasiana.com/2012/06/13/pengaruh-media-massa-dalampembentukan-opini-publik-terhadap-kasus-kenaikan-harga-bbm-470501.html http://stupidforwriting.blogspot.com/2010/05/media-massa-menjadi-penggerakopini.html http://indikatorsurvey.wordpress.com/2012/03/27/media-politik-dan-opini-publik/ http://www.setkab.go.id/artikel-6367-.html http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt504bfa5920bf2/quo-vadispemberantasan-korupsi-broleh--gede-aditya-pratama http://media.kompasiana.com/mainstream-media/2011/12/21/infotainment-politikkonspirasi-dibalik-kasus-korupsi/ http://islamemansipatoris.blogspot.com/2010/03/ideologi-industri-televisi.html http://kampus.okezone.com/read/2012/10/27/367/709869/alay-ideologi-barupemuda-indonesia http://www.unisosdem.org/article_detail.php?aid=3030&coid=2&caid=25&gid=4 http://dunia.pelajar-islam.or.id/dunia.pii/arsip/kotak-hitam-ideologi.html

http://blogs.unpad.ac.id/padekan/2010/02/18/ideologi-rating-televisi/ http://tukangngarang.wordpress.com/2011/12/30/media-massa-antara-industridan-ideologi/ http://id.scribd.com/doc/28417277/Konstruksi-Ideologi-Surat-Kabar-MediaIndonesia-Dan http://www.kursikayu.com/2011/11/artikel-surat-kabar-antara-informasi.html http://phesolo.wordpress.com/2012/03/07/merdeka-vs-harian-rakyat-manipol-danideologi/ http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=225 616:peran-media-dalam-demokrasi-tergerusbisnis&catid=46:analisis&Itemid=128 http://dumalana.com/2012/04/05/ideologi-di-balik-berita/ http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/2060385-pengertian-media-massa/ http://karyailmiah.tarumanagara.ac.id/index.php/S1FI/article/view/3626 http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2012/09/07/kita-jadi-lupa-dengan-kasuskorupsi/