Anda di halaman 1dari 29

Perpajakan

Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP )


PTKP ini berlaku bagi WPOP. Bagi WPOP Pria. Bagi WP sendiri Tambahan karena kawin Tambahan atas tanggungan Yang sah maks 3 orang @ Bagi WP Wanita Bujangan Bagi WP sendiri Tambahan atas tanggungan Yang sah maks 2 orang @

Rp15.840.000 setahun Rp1.320.000 setahun Rp1.320.000 setahun

Rp15.840.000 setahun Rp1.320.000 setahun

Bagi WP Wanita Kawin yg dapat menunjukkan surat keterangan dari Pemda serendah-rendahnya Camat bahwa suaminya tidak mempunyai penghasilan apapun. Bagi WP sendiri Rp15.840.000 setahun Tambahan karena kawin Rp1.320.000 setahun Tambahan atas tanggungan Yang sah maks 3 orang @ Rp1.320.000 setahun Bagi WP Wanita Kawin yg tidak dapat menunjukkan surat keterangan dari Pemda serendah-rendahnya Camat bahwa suaminya tidak mempunyai penghasilan apapun. Bagi WP sendiri Rp15.840.000 setahun Yang dimaksud dengan tanggungan yang sah adalah: Anak kandung, anak angkat dengan keputusan pengadilan, orang tua kandung dan mertua dengan catatan bahwa orang tua kandung atau mertua menjadi satu kartu keluarga dengan WP dan dapat menunjukkan surat keterangan dari Pemda serendah-rendahnya Camat bahwa orang tua atau mertuanya tersebut tidak mempunyai penghasilan apapun. 1

Perpajakan

PTKP berdasar keadaan pada awal tahun takwim .

Perpajakan Penghasilan Wanita Kawin Seluruh penghasilan atau kerugian bagi wanita yang sudah kawin dianggap sebagai penghasilan atau kerugian SUAMINYA, kecuali: 1. penghasilan tersebut diperoleh dari satu pemberi kerja yang telah dipotong PPh pasal 21, dan 2. pekerjaan tersebut tidak ada hubungannya dengan usaha atau pekerjaan bebas suaminya atau anggota keluarga lainnya. Penghasilan Suami-Istri bisa dipisah apabila 1. suami-istri hidup terpisah 2. dikehendaki secara tertulis oleh suami-istri berdasarkan perjanjian pemisahan harta dan penghasilan. Meskipun ada perjanjian pisah harta, dalam menghitung PPh, penghasilan neto suami-istri harus digabung dulu, kemudian dihitung pajaknya. Selanjutnya pajak terutang dialokasikan kepada suami-istri berdasarkan perbandingan penghasilan neto masing-masing.

Perpajakan NORMA PENGHITUNGAN PENGHASILAN NETO Norma penghitungan adalah pedoman untuk menentukan besarnya peredaran bruto dan besarnya penghasilan neto yang diterbitkan oleh Dirjen Pajak dengan berpedoman pada suatu pegangan yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan dan disempurnakan terus menerus. Norma penghitungan ada dua macam yaitu Norma Penghitungan Bruto dan Norma Penghitungan Neto. Norma Penghitungan Bruto merupakan pedoman untuk menaksir peredaran bruto. Penggunaan norma penghitungan bruto pada dasarnya dilakukan dalam hal-hal: 1. Tidak terdapat dasar penghitungan yang lebih baik, yaitu pembukuan atau catatan peredaran bruto yang lengkap, atau 2. Pembukuan atau catatan peredaran bruto WP ternyata diselenggarakan secara tidak benar. Sementara itu Norma Penghitungan Neto adalah pedoman untuk menaksir laba/penghasilan neto usaha. Untuk dapat menerapkan Norma Penghitungan Neto, mutlak harus diketahui peredaran brutonya. Menurut pasal 28 UU RI No. 16 tahun 2000 tentang KUP dikatakan: Ayat (1) : Wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dan wajib pajak badan wajib menyelenggarakan pembukuan. Ayat (2) : Dikecualikan dari kewajiban menyelenggarakan pembukuan tetapi wajib melakukan pencatatan adalah wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang diperbolehkan menggunakan norma penghitungan penghasilan neto. Hal ini diatur 4

Perpajakan dalam pasal 14 UU RI No. 17 tahun 2000 tentang PPh ayat (2) YANG SUDAH DIUBAH, yang menyatakan: Wajib Pajak Orang Pribadi yang peredaran brutonya dalam satu tahun tidak lebih dari Rp4.800.000.000 boleh menghitung penghasilan netonya dengan menggunakan Norma penghitungan Neto dengan syarat sekurangkurangnya 3 bulan pertama dari tahun pajak yang bersangkutan sudah memberitahukan kepada Dirjen Pajak. Ayat (7) : Pembukuan sekurang-kurangnya terdiri dari catatan mengenai harta, kewajiban, modal, penghasilan dan biaya, serta penjualan dan pembelian, sehingga dapat dihitung besarnya pajak terutang. Ayat (9) : Pencatatan terdiri dari data yang dikumpulkan secara teratur tentang peredaran atau penerimaan bruto atau penghasilan bruto. Norma penghitungan penghasilan neto disusun sedemikian rupa berdasarkan hasil penelitian atau data lain, dengan memperhatikan perkembangan jaman dan situasi ekonomi. Norma Penghitungan Penghasilan Neto dinyatakan dalam angka prosentase yang dibuat dan disempurnakan terus menerus oleh Dirjen Pajak.

Perpajakan

KASUS PENERAPAN PTKP, PKP, NORMA PENGHITUNGAN DAN PENGHITUNGAN PPh BAGI WPOP (BUKAN PEGAWAI)
Hitunglah besarnya PTKP soal-soal berikut: 1. TK/0, TK/1, TK/2, K/0, K/1, K/2, K/3, K/I/2 2. Amir pada tanggal 1/1/08 berstatus bujangan bekerja pada PT Bima. Pada tanggal 10/5/08 ia kawin. Pada tanggal 12/8/09 istrinya melahirkan anak kembar. Berapa PTKP pegawai untuk tahun 08, 09, dan 10? 3. wati pada tanggal 1/1/08 berstatus bujangan bekerja pada PT Arya. Pada tanggal 1/2/08 kedua orang tuanya menjadi satu rumah dan satu kartu keluarga dengannya. Ada keterangan dari Camat setempat bahwa orang tuanya tidak mempunyai penghasilan apapun. Pada tanggal 1/2/09 ia kawin, suaminya seorang pegawai pada PT Karna. Pada tanggal 15/9/10 ia melahirkan seorang anak. Pada tanggal 3/3/11 suaminya kena PHK dan ada keterangan dari Camat setempat bahwa suaminya tidak mempunyai penghasilan apapun. Berapa PTKP pegawai untuk tahun 08, 09, 10, 11 dan 12? Hitunglah berapa besarnya pajak terutang untuk kasus-kasus berikut ini. Kasus 1 Bapak A. kawin dengan 2 anak mempunyai usaha dagang hasil bumi. Peredaran bruto (penjualan) selama tahun 2010 sebesar Rp4.900.000.000,00, biaya-biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan sebesar Rp3.500.000.000,00. Dalam kasus ini, Bapak A. adalah wajib pajak orang pribadi yang mempunyai kegiatan usaha dengan perdedaran bruto lebih dari Rp4.800.000.000,00. Karena itu wajib menyelenggarakan pembukuan. 6

Perpajakan Kasus 2 CV Jaya adalah sebuah perusahaan dagang hasil bumi. Peredaran bruto (penjualan) selama tahun 2010 sebesar Rp2.500.000.000,00, biaya-biaya untuk mendapatkan, menagih dan memelihara penghasilan sebesar Rp2.000.000.000,00. CV Jaya adalah badan. Oleh karena itu, walaupun peredaran brutonya kurang dari Rp4.800.000.000,00, CV Jaya wajib menyelenggarakan pembukuan. Kasus 3 Bapak B kawin dengan 2 anak mempunyai usaha dagang hasil bumi. Peredaran bruto (penjualan) selama tahun 2010 sebesar Rp700.000.000,00, norma penghitungan untuk menghitung penghasilan neto (misalnya ditetapkan 30%). Bapak B adalah wajib pajak orang pribadi yang mempunyai kegiatan usaha dengan peredaran bruto tidak lebih dari Rp4.800.000.000,00. Karena itu Bapak B boleh hanya menyelenggarakan pencatatan dan menggunakan norma penghitungan neto untuk menghitung penghasilan kena pajak usahanya. Kasus 4 Bp Budi K/2 adalah pengusaha elektronik. Peredaran bruto th 2010 sebesar Rp3.000.000.000. beban usaha sesuai aturan pajak sebesar Rp2.500.000.000. Istri Budi pengusaha toko, tokonya memiliki peredaran bruto th 2010 sebesar Rp4.000.000.000. beban usaha sesuai aturan pajak sebesar Rp3.700.000.000. kedua usaha sudah diperbolehkan menggunakan norma penghitungan neto masing-masing adalah 30% dan 20%. Kasus 5 Misalkan dari kasus 4 di atas suami-istri telah memiliki perjanjian pisah harta. Selain total pajak hitung pula pajak mereka masing-masing.

Perpajakan

Kasus 6 Bp Ari pada tanggal 1-1-10 berstatus kawin tanpa anak, adalah seorang pengusaha elektronik. Peredaran bruto th 2010 sebesar Rp5.000.000.000. beban usaha sesuai aturan pajak sebesar Rp3.500.000.000. Istri Ari pengusaha toko, tokonya memiliki peredaran bruto th 2010 sebesar Rp6.000.000.000. beban usaha sesuai aturan pajak sebesar Rp4.700.000.000. Bila menggunakan norma penghitungan neto, norma masing-masing adalah 30% dan 20%. Pada tanggal 10-06-10 istrinya melahirkan seorang anak. Kasus 7 Misalkan dari kasus 6 di atas suami-istri telah memiliki perjanjian pisah harta. Selain total pajak hitung pula pajak mereka masing-masing.

Perpajakan

KOREKSI FISKAL Setiap kali terjadi pengakuan pendapatan di satu sisi dan biaya di sisi yang lain, apapun bentuknya, ada kemungkinan yang diakui oleh akuntansi dan pajak berbeda. Perbedaan-perbedaan yang terjadi dapat berupa perbedaan yang bersifat tetap ada pula perbedaan yang bersifat temporer. Perbedaan tetap misalnya masalah sumbangan. Sampai saat ini pihak pajak tidak mengakui biaya yang terjadi karena penyerahan sumbangan, di sisi lain akuntansi akan mengakui sumbangan sebagai unsur biaya. Perbedaan temporer misalnya terjadi dalam perhitungan depresiasi aktiva tetap, akuntansi umumnya menaksir umur aktiva tetap berdasar umur ekonomis, sementara pajak berdasar kelompok aktiva. Perbedaan-perbedaan tersebut akan mengakibatkan terjadinya koreksi fiskal. Koreksi fiskal ada dua macam yaitu koreksi fiskal positif dan negatif. Koreksi fiskal positif adalah koreksi terhadap perhitungan/perlakuan akuntansi yang berakibat menambah laba/penghasilan kena pajak, sedang koreksi fiskal negatif adalah koreksi terhadap perhitungan/perlakuan akuntansi yang berakibat mengurangi laba/penghasilan kena pajak. PENGAKUAN PENDAPATAN DALAM PENJUALAN TUNAI, PENJUALAN KREDIT, DAN KONSINYASI Penjualan tunai adalah penjualan yang pada saat penyerahan barang disertai dengan pembayaran. Perlakuan pengakuan atas penjualan tunai ini antara akuntansi keuangan dengan fiskal adalah sama. Pendapatan akan diakui pada saat terjadinya realisasi transaksi jual beli. Penjualan kredit adalah transaksi penjualan yang pada saat penyerahan barang tidak diikuti dengan pembayaran. Pembayaran dapat dilakukan sesuai dengan kesepakatan antara penjual dengan pembeli. Perlakuan pengakuan pendapatan atas penjulan kredit ini baik akuntansi keuangan ataupun fiskal adalah sama. Pendapatan diakui saat penyerahan barang oleh penjual kepada pembeli. Penjualan konsinyasi adalah penjualan atas barang yang dititipkan kepada komisioner. Untuk penjualan ini, perlakuan pengakuan pendapatan dilakukan setelah adanya laporan penjualan dari komisioner. PENGAKUAN PENDAPATAN KONTRAK JANGKA PANJANG Metode-metode yang dapat diterapkan dalam pengakuan kontrak jangka panjang adalah: 1. Metode Kontrak Selesai 9

Perpajakan Metode kontrak selesai adalah metode yang mengakui penghasilan saat pekerjaan kontak tersebut selesai. Metode ini tidak akan mengakui pendapatan setiap periode. Sedangkan biaya-biaya yang terjadi diakui sebagai biaya periode yang bersangkutan. Sehingga selama kontrak tersebut belum selesai maka setiap periode tersebut hanya akan mengakui kerugian. Karena konsep matching tidak terpenuhi dalam metode ini, maka fiskal tidak menggunakan metode ini sebagai alat pelaporan fiskal. 2. Metode Prosentase Penyelesaian Metode prosentase penyelesaian adalah metode yang secara proporsional mengakui penghasilan sesuai dengan tingkat penyelesaiannya. Prosentase penyelesaian dapat ditentukan dengan 2 (dua) cara yaitu: Rasio biaya yang terjadi terhadap taksiran seluruh biaya penyelesaian kontrak. Tingkat penyelesaian proyek berdasarkan penghitungan teknis. Fiskal mensyaratkan pengakuan kontrak jangka panjang adalah menggunakan metode prosentase penyelesaian. TUKAR MENUKAR HARTA (AKTIVA TETAP) Dalam hal terjadi tukar menukar harta, maka nilai perolehan harta menurut ketentuan pajak adalah jumlah yang seharusnya dikeluarkan atau diterima berdasarkan harga pasar. Aktiva PT ABC Rp100.000.000,00 Rp150.000.000,00 Aktiva PT DEF Rp110.000.000,00 Rp170.000.000,00

a. b.

Nilai Buku Harga Pasar

PT ABC dan PT DEF saling menukarkan hartanya. Dalam kasus ini, PT ABC dan PT DEF mendapatkan keuntungan sebesar selisih dari kelebihan harga pasar dengan nilai buku. Keuntungan yang harus diakui menurut ketentuan pajak bagi PT ABC dan PT DEF: Harga pasar Harga buku Laba PT ABC Rp150.000.000,00 Rp100.000.000,00 Rp 50.000.000,00 PT DEF Rp170.000.000,00 Rp110.000.000,00 Rp 60.000.000,00

Laba tersebut terutang pajak, tidak peduli yang dipertukarkan aktiva sejenis atau tidak. 10

Perpajakan

PENGALIHAN HARTA KARENA HIBAH, BANTUAN ATAU SUMBANGAN, DAN WARISAN Menurut Undang-undang Republik Indonesia No. 17 tahun 2000, tidak semua hibah atau sumbangan merupakan penghasilan. Keuntungan yang terjadi karena pengalihan harta berupa hibah, bantuan atau sumbangan merupakan obyek pajak, kecuali yang diberikan kepada keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh menteri keuangan, sepanjang tidak ada hubungannya dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan atau penguasaan antara pihak-pihak yang bersangkutan. 1. Bantuan atau sumbangan termasuk zakat yang diterima oleh badan amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah dan para penerima zakat yang berhak.

2.

Harta hibahan yang diterima oleh keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat, dan oleh badan keagamaan atau badan pendidikan atau badan sosial atau pengusaha kecil termasuk koperasi yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan. Sepanjang tidak ada hubungan dengan usaha, pekerjaan, kepemilikan, atau penguasaan antara pihakpihak yang bersangkutan.

PENGALIHAN HARTA TERMASUK SETORAN TUNAI YANG DITERIMA OLEH BADAN SEBAGAI PENGGANTI PENYERTAAN MODAL Penyertaan modal dapat berupa harta ataupun setoran tunai. Fiskal dalam hal ini menggunakan dasar nilai pasar dari harta yang dialihkan sebagai pengganti penyertaan modal. Kasus 1: Wajib Pajak A menyerahkan sebuah kendaraan yang nilai bukunya sebesar Rp75.000.000,00 kepada PT DEF sebagai pengganti penyertaan sahamnya dengan nilai nominal Rp60.000.000,00. Harga pasar saham tersebut pada saat transaksi adalah Rp85.000.000,00. Karena harga pasar saham sebesar Rp85.000.000,00 dipertukarkan dengan kendaraan, maka dapat disimpulkan bahwa harga pasar kendaraan juga Rp85.000.000,00. 11

Perpajakan Wajib Pajak A harus melaporkan laba yang terutang pajak sebesar: Harga pasar kendaraan Rp85.000.000,00 Nilai buku Rp75.000.000,00 Laba Rp10.000.000,00 Sedangkan bagi PT DEF kelebihan harga pasar kendaraan di atas nilai nominal saham merupakan agio saham yang tidak dikenai pajak. Kasus-2 Penghasilan dari Pengalihan Perusahaan (Likuidasi-Bagi yang Diambil Alih) Neraca PT X Per 31 Agustus 2010(dalam ribuan rupiah) Aktiva Kas Piutang Persediaan Tanah Gedung Akumulasi Depresiasi Total Aktiva Jumlah aktiva Jumlah utang Kekayaan Bersih 10.000,00 30.000,00 40.000,00 50.000,00 35.000,00 (15.000,00) 150.000,00 150.000,00 45.000,00 105.000,00 Utang dan Modal Utang Modal saham biasa Laba ditahan Jumlah utang & Modal 45.000,00 90.000,00 15.000,00 150.000,00

Pada tanggal 31 Agustus 2010 PT X diambil alih oleh PT Z dengan nilai Rp160.000.000,00. Menurut ketentuan pajak, PT X mendapat laba sebesar Rp160.000.000,00 - Rp105.000.000,00 = Rp55.000.000,00. Laba ini terutang pajak. TRANSAKSI HUBUNGAN ISTIMEWA Hubungan istimewa adalah suatu keterikatan atau ketergantungan antara wajib pajak. Keterikatan atau ketergantungan ini dapat berupa kepemilikan dan penyertaan modal ataupun penguasaan melalui manajemen ataupun penguasaan teknologi. Berdasarkan pasal 18 ayat 4 Undang-undang No. 17/2000, yang dimaksud dengan hubungan istimewa apabila: a. Wajib pajak mempunyai penyertaan modal langsung atau tidak langsung paling rendah 25% pada wajib pajak lain, atau hubungan antara wajib Pajak dengan penyertaan paling rendah 25% pada dua wajib pajak atau lebih, demikian pula hubungan antar dua wajib pajak atau lebih yang disebut terakhir. 12

Perpajakan b. Wajib pajak menguasai wajib pajak lainnya atau dua atau lebih wajib pajak berada di bawah penguasaan yang sama baik langsung maupun tidak langsung. c. Terdapat hubungan keluarga baik sedarah maupun semenda dalam garis keturunan lurus dan atau kesamping satu derajad. Transaksi yang terjadi karena hubungan istimewa menimbulkan suatu konsekuensi terhadap pelaporan pajak. Konsekuensi tersebut dapat berupa koreksi terhadap pendapatan ataupun biaya yang diakui dan dibebankan dalam periode yang bersangkutan. Transaksi hubungan istimewa dapat mengakibatkan kekurangwajaran terhadap harga jual dan pembebanan biaya. Hal ini terjadi karena dalam transaksi hubungan istimewa harga ataupun biaya yang dibebankan berbeda dengan harga ataupun biaya yang dibebankan jika transaksi tersebut tidak ada hubungan istimewa. Atau dengan kata lain, harga ataupun biaya yang dibebankan dalam transaksi hubungan istimewa tidak sesuai dengan harga wajarnya. Sehingga transaksi-transaksi demikian menimbulkan koreksi terhadap laporan pajak. TRANSFER PRICING Transfer pricing adalah penentuan harga sehubungan dengan penyerahan barang, jasa, atau pengalihan teknologi antar perusahaan yang mempunyai hubungan istimewa. Sehingga transfer pricing ini sering digunakan oleh WP yang memiliki hubungan istimewa untuk melakukan manipulasi terhadap pajak. Dirjen Pajak dalam hal ini melakukan antisipasi dengan pasal 18 ayat 3, 3a Undang-undang No. 17/2000, yang memberikan: 1. Wewenang kepada Dirjen Pajak untuk menentukan kembali besarnya penghasilan dan pengurangan serta menentukan utang sebagai modal untuk menghitung besarnya penghasilan kena pajak bagi wajib pajak yang mempunyai hubungan istimewa. 2. Melakukan perjanjian dengan wajib pajak dan bekerjasama dengan pihak otoritas pajak negara lain untuk menentukan harga transaksi antara pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa. Peraturan perpajakan menekankan bahwa jumlah rupiah pendapatan harus didasarkan harga pasar yang berlaku. Dengan demikian penjualan kepada pihak-pihak tertentu seperti anak perusahaan, cabang, dan lain-lain yang menggunakan harga khusus/transfer price dibawah harga pasar harus dikoreksi ke harga pasar. Kasus-1 Pada tahun 2010 PT A menjual 100 ton barang dagangan dengan harga pasar Rp100.000,00/ton dan menjual 10 ton barang kepada kantor cabang dengan harga Rp90.000,00/ton Jumlah penjualan menurut pembukuan 13

Perpajakan 100 ton x Rp 100.000,00 10 ton x Rp90.000,00 (harga transfer) Jumlah penjualan menurut pembukuan Jumlah penjualan menurut pajak 110 ton x Rp100.000,00 Dapat pula dinyatakan sebagai berikut: Jumlah penjualan menurut pembukuan Koreksi fiskal positif (menambah penghasilan kena pajak) (Rp100.000,00-Rp90.000,00) x 10 ton Jumlah penjualan menurut pajak Rp Rp Rp Rp Rp 10.000.000,00 900.000,00 10.900.000,00 11.000.000,00 10.900.000,00 100.000,00 11.000.000,00

Dalam kertas kerja penyusunan laporan laba rugi komersiil menuju laporan laba-rugi pajak koreksi fiskal dapat dinyatakan sebagai berikut: Keterangan Akuntansi KF Positif KF Negatif Pendapatan/Penjualan 10.900.000,00 100.000,00 /Penghasilan Bruto KF: Koreksi Fiskal. Kasus-2 Pada tahun 2010 PT A menjual 100 ton barang dagangan dengan harga pasar Rp100.000,00/ton dan menjual 10 ton barang kepada perusahaan anak dengan harga 15 % lebih rendah dibanding harga pasar.
Menurut pembukuan Penjualan kepada umum : Penjualan kepada agen : Total penjualan Menurut pajak Penjualan 100 ton x Rp100.000,00 10 ton x Rp100.000,00 x 85% Rp 10.000.000,00 850.000,00 10.850.000,00 11.000.000,00

110 ton x Rp100.000,00

Rp

Terjadi koreksi fiskal positif karena penjualan menurut pajak lebih besar disbanding menurut akuntansi. Keterangan Penjualan/peredaran bruto/penghasilan bruto Akuntansi 10.850.000,00 KF Positif 150.000,00 KF Negatif

Kasus-3 Pada tahun 2010 PT A menjual 100 ton barang dagangan termasuk di dalamnya penjualan 10 ton kepada agen dengan harga 20 % lebih rendah dibanding harga pasar. Harga pasar per ton sebesar Rp100.000,00. 14

Perpajakan
Menurut pembukuan Penjualan kepada umum : 90 ton x Rp100.000,00 Penjualan kepada agen : 10 ton x Rp100.000,00 x 80% Total penjualan Menurut pajak Penjualan 100 ton x Rp100.000,00 Rp Rp Rp 9.000.000,00 800.000,00 9.800.000,00 10.000.000,00

Dapat dinyatakan sebagai berikut: Keterangan Akuntansi Penjualan/peredaran 9.800.000,00 bruto/penghasilan bruto Kasus-4

KF Positif 200.000,00

KF Negatif

PT B memiliki sebuah kendaraan dengan harga perolehan Akumulasi depresiasi/penyusutan s/d 31-8-2010 Nilai buku kendaraan

Rp100.000.000,00 80.000.000,00 20.000.000,00

Kendaraan tersebut dijual ke kantor cabang dengan harga Rp20.000.000,00, bila dijual kepada umum harga pasarnya Rp30.000.000,00. Menurut pembukuan tidak diakui laba penjualan kendaraan, tetapi menurut pajak harus diakui laba penjualan kendaraan sebesar Rp30.000.000,00 Rp20.000.000,00 = Rp10,000,000,00. Dapat dinyatakan sebagai berikut: Keterangan Laba Penjualan Kendaraan Akuntansi 0 KF Positif 10.000.000,00 KF Negatif

PENGHASILAN DARI BUNGA Penghasilan dari bunga dibedakan menjadi dua yaitu bunga yang diperoleh karena menyimpan uang di bank dan bunga yang diperoleh dari sumber lain, misalnya bunga karena memberi pinjaman pada kantor cabang. Bunga yang diperoleh dari Bank sudah dipotong PPh Final sebesar 20 %. Sehingga penghasilan bunga dari bank dikeluarkan dari perhitungan penghasilan keseluruhan agar tidak terkena pajak ganda. Misalkan PT D pada akhir tahun 2010 mendapat penghasilan bunga Rp800.000,00 dari sebuah bank (sudah dipotong PPh final 20%), maka perlakuannya adalah Keterangan Pendapatanbunga (neto) Akuntansi 800.000,00 KF Positif KF Negatif 800.000,00

Jenis bunga kedua adalah bunga yang diperoleh dari pihak non bank/lembaga keuangan, misalkan dari kantor cabang. Dalam hal ini kantor cabang tidak diwajibkan memotong PPh final atas bunga. Karena itu jumlah penghasilan 15

Perpajakan bunga yang diperoleh harus temasuk ke dalam penghasilan keseluruhan. Misalkan PT D pada akhir tahun 2010 juga mendapat bunga dari kantor cabang sebesar Rp500.000,00. Jumlah ini belum terkena pajak, maka perlakuannya adalah:
Keterangan Pendapatan/penghasilan bunga Akuntansi 500.000,00 KF Positif KF Negatif -

PENGHASILAN DARI PENERIMAAN DIVIDEN Penerimaan dividen atau pembagian laba atau apapun namanya, pada prinsipnya adalah penghasilan yang harus dikenai pajak. Namun demikian ada dividen yang dikecualikan sebagai obyek pajak yaitu dividen atau pembagian laba yg diperoleh oleh perseroan terbatas sebagai wajib pajak dalam negeri, Koperasi, BUMN, BUMD, dari penyertaan modal pada badan usaha yang didirikan dan bertempat kedudukan di Indonesia dengan syarat: 1. Dividen berasal dari laba ditahan 2. Bagi perseroan terbatas, BUMN, BUMD, kepemilikan saham pada badan usaha yang memberikan dividen, minimum 25 % dari modal yang disetor 3. Harus mempunyai usaha aktif di luar kepemilikan saham tersebut. Kasus 1 CV Karya memperoleh dividen dari PT Ardi sebesar Rp400.000,00.
Keterangan Pendapatan/penghasilan dividen Akuntansi 400.000,00 KF Positif KF Negatif -

Kasus 2 PT Jaya adalah wajib pajak dalam negeri memiliki modal disetor Rp100.000.000,00. Perusahaan membeli saham PT Rapi seharga Rp30.000.000,00. Dalam tahun 2010 PT Jaya mendapat dividen dari PT Rapi Rp1.000.000,00. PT Jaya mempunyai usaha pokok dalam perdagangan hasil bumi. Diperoleh keterangan bahwa PT Rapi dalam tahun 2010 memperoleh laba Rp7.000.000 dan membagi dividen total Rp4.000.000,00. Dalam kasus ini penghasilan dividen yang diterima oleh PT Jaya dikecualikan dari penghasilan karena memenuhi syarat di atas.
Keterangan Pendapatan/penghasilan dividen Akuntansi 1.000.000,00 KF Positif KF Negatif 1.000.000,00

LABA SELISIH KURS MATA UANG ASING Berdasar Undang-undang Republik Indonesia No. 17/2000 pasal 4 ayat 1 huruf (l) yang menyebutkan bahwa keuntungan karena selisih kurs mata 16

Perpajakan uang asing merupakan obyek pajak penghasilan, maka wajib pajak diharuskan melaporkan jika dalam usahanya terdapat keuntungan karena selisih kurs mata uang asing. Perlakuan perpajakan tidak berbeda dengan perlakuan akuntansi dalam hal pengakuan laba selisih kurs mata uang asing. Kasus: Pada tanggal 1 Oktober 2010 PT A mengekspor barang ke Amerika senilai $15.000 termin n.2 bulan. Saat itu kurs US$1 = Rp8.000,00. Pada tgl 1 Desember 2010 PT A menerima pembayaran $15.000 saat itu kurs US$1 = Rp10.000,00. Dengan demikian pada 1 Desember 2010 PT A memperoleh laba selisih kurs sebesar US$10.000 x (Rp10.000,00-Rp8.000,00) = Rp30.000.000,00. Laba selisih kurs ini oleh PT A dilaporkan di laporan akuntansi dan laporan pajak, sehingga tidak terdapat koreksi fiskal atas penghasilan karena keuntungan selisih kurs mata uang asing.
Keterangan Laba selisih kurs mata uang asing Akuntansi 30.000.000,00 KF Positif 0 KF Negatif 0

PENGHASILAN DARI SELISIH LEBIH KARENA PENILAIAN KEMBALI AKTIVA TETAP Selisih Lebih karena penilaian kembali aktiva tetap bagi akuntansi bukanlah pendapatan. Berdasar Undang-undang No. 17/2000 pasal 4 ayat 1 huruf (m) selisih lebih karena penilaian kembali aktiva merupakan obyek pajak penghasilan, sehingga harus dilaporkan dalam laporan pajak. Misalkan gedung dengan harga perolehan Rp100.000.000,00 sudah didepresiasi selama 20 tahun dengan akumulasi depresiasi Rp75.000.000,00, sehingga nilai bukunya Rp25.000.000,00 dinilai kembali menjadi Rp90.000.000,00. Dalam hal ini perusahaan dianggap memperoleh penghasilan sebesar selisih lebih antara nilai penilaian kembali dengan nilai bukunya, atau sebesar: Rp90.000.000,00 Rp25.000.000,00 = Rp65.000.000,00. Sehingga selisih tersebut harus dilaporkan dalam laporan pajak. Karena selisih tersebut tidak dilaporkan dalam laporan akuntansi tetapi harus dilaporkan dalam laporan pajak, maka terjadi koreksi fiskal sebagai berikut:
Keterangan Pendapatan/penghasilan penilaian kembali AT Akuntansi KF Positif 65.000.000,00 KF Negatif

17

Perpajakan PENGURANGAN BIAYA YANG DIPERBOLEHKAN MENURUT KETENTUAN FISKAL Berdasar Undang-undang Republik Indonesia no 17/2000 pasal 6 ayat 1, besarnya Penghasilan Kena Pajak (PKP) bagi wajib pajak dalam negeri dan BUT, ditentukan berdasarkan penghasilan bruto dikurangi: a. Biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, termasuk biaya pembelian bahan, biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang, bunga, sewa, royalty, biaya perjalanan, biaya pengolahan limbah, premi asuransi, biaya administrasi, dan pajak kecuali pajak penghasilan. b. Penyusutan atas pengeluaran untuk memperoleh harta berujud dan amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun. c. Iuran kepada dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan. d. Kerugian karena penjualan atau pengalihan harta yang dimiliki dan digunakan dalam perusahaan atau yang dimiliki untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan. e. Kerugian dari selisih kurs mata uang asing. f. Biaya penelitian dan pengembangan perusahaan yang dilakukan di Indonesia. g. Biaya bea siswa, magang, dan pelatihan. h. Piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih, dengan syarat: 1. Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial. 2. Telah diserahkan perkara penagihannya kepada pengadilan negari atau Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN) atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan. 3. Telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus 4. Wajib pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada Dirjen Pajak. 5. yang pelaksanaannya diatur lebih lanjut dengan keputusan Dirjen Pajak. i. Apabila terjadi kerugian, maka kerugian tersebut dapat dikompensasi dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya berturut-turut sampai dengan 5 (lima) tahun. 18

Perpajakan Berdasar pasal 9 Undang-undang Republik Indonesia no. 17/2000, tentang biaya yang tidak diperkenankan mengurangi penghasilan bruto adalah: a. Pembagian laba dengan nama dan dalam bentuk apapun seperti dividen, termasuk dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi kepada pemegang polis, dan pembagian sisa hasil usaha koperasi. b. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi pemegang saham, sekutu, atau anggota. c. Pembentukan atau pemupukan dana cadangan kecuali cadangan piutang tak tertagih untuk usaha bank dan sewa guna usaha dengan hak opsi, cadangan untuk usaha asuransi, dan cadangan biaya reklamasi untuk usaha pertambangan, yang ketentuan dan syarat-syaratnya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. d. Penggantian atau imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa yang diberikan dalam bentuk natura dan kenikmatan, kecuali penyediaan makanan dan minuman bagi seluruh pegawai serta penggantian atau imbalan dalam bentuk natura dan kenikmatan di daerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan. e. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham atau kepada pihak yang mempunyai hubungan istimewa sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan. f. Harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana dimaksud dalam pasal 4 ayat 3 huruf a dan b, kecuali zakat atas penghasilan yang nyata-nyata dibayarkan oleh wajib pajak orang pribadi pemeluk agama Islam dan atau wajib pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah. g. Pajak Penghasilan. h. Biaya yang dibebankan atau dikeluarkan untuk kepentingan pribadi wajib pajak atau orang yang menjadi tanggungannya. i. Gaji yang dibayarkan kepada anggota persekutuan, firma, atau perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham. j. Sanksi administrasi berupa bunga, denda, dan kenaikan serta sanksi pidana berupa denda yang berkenaan dengan pelaksanaan perundang-undangan di bidang perpajakan.

19

Perpajakan KOMPENSASI KERUGIAN Menurut Undang-undang No. 17/2000 pasal 6 ayat 1 huruf (i) apabila penghasilan bruto setelah pengurangan biaya-biaya yang diperkenankan terjadi kerugian, maka kerugian tersebut dapat dikompensasikan dengan penghasilan mulai tahun pajak berikutnya sampai dengan 5 (lima) tahun. Kasus: PT A dalam tahun 20011 menderita rugi (fiskal) Rp1.200.000.000. Dalam 5 tahun berikutnya laba atau rugi fiskal yang diperoleh PT A adalah sebagai berikut: 2002 laba 200.000.000,00 2003 rugi (300.000.000,00) 2004 laba nihil 2010 laba 100.000.000,00 2006 laba 800.000.000,00 Perhitungan kompensasi kerugian: 2001 Rugi 2002 Laba Sisa rugi 2001 2003 Rugi Sisa rugi 2001 2004 Laba Sisa rugi 2001 2010 Laba Sisa rugi 2001 2006 Laba Sisa rugi 2001 1,200,000,000 200,000,000 1,000,000,000 (300,000,000) 1,000,000,000 nihil 1,000,000,000 100,000,000 900,000,000 800,000,000 100,000,000

BIAYA KERUGIAN PIUTANG Dalam akuntansi keuangan dikenal 2 cara pencatatan kerugian piutang, yaitu: 1. Metode langsung 2. Metode cadangan Metode langsung adalah satu metode pancatatan kerugian piutang yang langsung mengakui kerugian atas piutang yang tidak tertagih pada saat realisasi tak tertagih. Misalkan pada tahun 2010 terjadi piutang yang dihapus sebesar Rpxxx, maka jurnal yang dibuat adalah: Biaya Kerugian Piutang Piutang dagang xxxx xxxx 20

Perpajakan Metode cadangan adalah metode pencatatan kerugian piutang yang akan mengakui jumlah kerugian sebesar taksiran prosentase tertentu. Dengan metode cadangan, pada tahun terjadinya penjualan kredit harus diakui kerugian piutang sebesar taksiran tertentu, jurnal penyesuaian pada akhir tahun yang bersangkutan adalah: Biaya Kerugian Piutang xxxx Cadangan Kerugian Piutang xxxx

Sementara itu bila dikemudian hari terjadi piutang yang dihapus, jurnalnya adalah: Cadangan Kerugian Piutang Piutang Dagang xxxx xxxx

Ketentuan pajak tidak mengenal adanya pengakuan kerugian piutang dengan menggunakan metode cadangan. Pajak akan mengakui piutang yang tidak tertagih sebesar realisasinya. Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 17/2000 pasal 6 ayat 1 huruf h, piutang yang nyata-nyata tidak dapat ditagih dapat diakui sebagai biaya yang mengurangi penghasilan bruto, dengan syarat: a. Telah dibebankan sebagai biaya dalam laporan laba rugi komersial. b. Telah diserahkan perkara penagihannya kepada pengadilan negari atau Badan Urusan Piutang dan Lelang Negara (BUPLN) atau adanya perjanjian tertulis mengenai penghapusan piutang/pembebasan utang antara kreditur dan debitur yang bersangkutan. c. Telah dipublikasikan dalam penerbitan umum atau khusus d. Wajib pajak harus menyerahkan daftar piutang yang tidak dapat ditagih kepada Dirjen Pajak. Karena pajak tidak mengenal metode cadangan, maka jika wajib pajak badan menggunakan metode cadangan dalam pengakuan kerugian piutangnya, maka akan terjadi koreksi fiskal. Kasus: PT X menerapkan metode cadangan dalam penentuan kerugian piutangnya. Besar cadangan kerugian piutang yang dibentuk adalah 2 % dari total penjualan kredit. Penjualan kredit tahun 2010 Rp 100.000.000,00. Pada tahun 2010 diketahui bahwa piutang yang benar-benar tidak dapat ditagih sejumlah Rp1.000.000,00. Besarnya biaya kerugian piutang dalam laporan laba rugi akuntansi sejumlah Rp2.000.000. Karena fiskal hanya menggunakan metode 21

Perpajakan langsung, maka terjadi koreksi atas pengakuan biaya kerugian piutang menurut akuntansi sejumlah Rp2.000.000,00 menjadi Rp1.000.000,00 sesuai dengan ketentuan pajak. Sehingga terjadi koreksi fiskal sebagai berikut: Keterangan Biaya Kerugian Piutang Akuntansi 2.000.000,00 KF Positif 1.000.000,00 KF Negatif

HARGA POKOK PENJUALAN Menurut Undang-undang Republik Indonesia No. 10/1994 pasal 10 ayat 6, persediaan dan pemakaian persediaan untuk penghitungan harga pokok dinilai berdasarkan harga perolehan yang dilakukan secara rata-rata atau dengan cara mendahulukan persediaan yang diperoleh pertama. Metode penghitungan harga pokok persediaan ini harus dilakukan secara konsisten. Apabila dalam pelaksanaannya, ternyata yang diterapkan dalam akuntansi menggunakan metode yang lain yang diperbolehkan berdasar standar akuntansi keuangan, sedangkan dalam pelaporan pajak harus menyajikan berdasar metode yang diperbolehkan dalam perpajakan, maka kondisi demikian mengakibatkan perlunya koreksi fiskal atas penghitungan harga pokok persediaan. Kasus: PT A menggunakan metode masuk terakhir keluar pertama dalam penghitungan harga pokok persediaan. Persediaan yang tersedia awal tahun 2010 sejumlah 1.000 unit dengan harga Rp1.000,00 per unit, atau sebesar Rp1.000.000,00. Jika menggunakan metode masuk pertama keluar pertama nilai persediaan awal periode seharga Rp1.050,00 per unit, atau sebesar Rp1.050.000,00. Pembelian selama tahun 2010: Kuantitas Harga/unit 500 Rp1.200,00 200 Rp1.250,00 300 Rp1.300,00 100 Rp1.400,00 Penjualan selama tahun 2010 sejumlah 1.900 unit. Jika diasumsikan wajib pajak menggunakan metode fisik dalam mencatat persediaan, maka penghitungan persediaan akhir berdasar metode masuk terakhir keluar pertama adalah:

22

Perpajakan Total persediaan tersedia untuk dijual: Persediaan awal periode Total pembelian Penjualan Jumlah persediaan akhir periode
Persediaan akhir 200 u x Rp1.000,00 = Rp200.000

1.000 unit 1.100 unit 2.100 unit 1.900 unit 200 unit

Karena pajak mewajibkan menggunakan metode masuk pertama keluar pertama atau menggunakan metode rata-rata, maka nilai persediaan akhir berdasarkan penghitungan akuntansi tersebut harus disesuaikan dengan metode yang diperbolehkan menurut pajak. Asumsikan jika dipilih metode masuk pertama keluar pertama, maka nilai persediaan akhir periode adalah: Kuantitas 100 unit 100 unit 200 unit Harga/unit Rp1.300,00 Rp1.400,00 Total Rp130.000,00 Rp140.000,00 Rp270.000,00

Koreksi fiskal yang terjadi karena perbedaan penilaian persediaan tersebut adalah sebagai berikut: Persediaan awal menurut pajak (MPKP/FIFO) Persediaan awal menurut akuntansi (MTKP/LIFO) Koreksi fiskal negatif Persediaan akhir menurut pajak (MPKP/FIFO) Persediaan akhir menurut akuntansi (MTKP/LIFO) Koreksi fiskal positif
Rekening HPP Persediaan (awal periode) Pembelian Barang Tersedia Dijual Persediaan (akhir periode) HPP Akuntansi Rp1.000.000,00 1.380.000,00 2.380.000,00 200.000,00 Rp2.180.000,00

1.050.000,00 1.000.000,00 50.000,00 270.000,00 200.000,00 70.000,00


KF Negatif 70.000,00 50.000,00 -

KF Positif

PENYUSUTAN AKTIVA TETAP Penyusutan aktiva tetap merupakan salah satu biaya yang diperbolehkan mengurangi penghasilan menurut undang-undang perpajakan. Penyusutan aktiva tetap diatur berdasar Undang-undang Republik Indonesia No. 17/2000 pasal 11 ayat 1 sampai dengan 11. Pada ayat 1 dan ayat 2 23

Perpajakan disebutkan bahwa penyusutan dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar selama masa manfaat yang telah ditentukan bagi harta tersebut. Selain bangunan, penyusutan dapat juga dilakukan dalam bagian-bagian menurun selama masa manfaat, yang dihitung dengan cara menerapkan tarif penyusutan atas nilai buku, dan pada akhir masa manfaat nilai sisa buku disusutkan sekaligus, dengan syarat dilakukan secara taat asas. Dengan kata lain, penyusutan menurut ketentuan pajak dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu metode garis lurus atau metode saldo menurun ganda. Dalam perpajakan, aktiva tetap yang disusut tidak mengenal adanya nilai sisa, sehingga penyusutan dengan metode garis lurus tidak berpedoman kepada harga perolehan yang dapat disusut (cost depreciable) tetapi berdasar harga perolehan. Berdasar Undang-undang no 17/2000 pasal 11 ayat 3 dan 4, penyusutan aktiva tetap dimulai sejak bulan dilakukannya pengeluaran, kecuali untuk harta yang masih dalam pengerjaan, penyusutannya dimulai pada bulan selesainya pengerjaan harta tersebut. Wajib pajak juga diperkenankan melakukan penyusutan mulai pada bulan harta tersebut digunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan atau pada bulan harta yang bersangkutan mulai menghasilkan. Untuk menghitung penyusutan, masa manfaat dan tarif penyusutan harta berujud ditetapkan sebagai berikut:
Kelompok Harta Berujud I. Bukan bangunan Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 II. Bangunan Permanen Tidak permanen Masa Manfaat 4 tahun 8 tahun 16 tahun 20 tahun 20 tahun 10 tahun Tarif Penyusutan Garis Lurus Saldo Menurun Ganda 25 % 12,5 % 6,25 % 5% 5% 10 % 50 % 25 % 12,5 % 10 %

Kasus: PT A memiliki sebuah kendaraan dengan harga Rp50.000.000,00 yang digunakan mulai tanggal 1 Juli 2010. Taksiran umur ekonomis kendaraan tersebut 5 tahun dengan nilai sisa Rp5.000.000,00. Berdasarkan aturan pajak, kendaraan tersebut termasuk dalam kelompok 1. Metode depresiasi yang digunakan untuk akuntansi adalah garis lurus, sedangkan pajak menggunakan saldo menurun ganda.

24

Perpajakan Penghitungan penyusutan menurut akuntansi: Tahun Penghitungan 2010 6/12 x {(50.000.000 5.000.000) / 5} 2006 (50.000.000 5.000.000) / 5 2007 (50.000.000 5.000.000) / 5 2008 (50.000.000 5.000.000) / 5 2009 (50.000.000 5.000.000) / 5 2010 6/12 x {(50.000.000 5.000.000) / 5} Penghitungan penyusutan menurut pajak: Tahun Penghitungan 2010 6/12 x 50% x 50.000.000 2006 6/12 x 50% x 50.000.000 6/12 x 50% x 25.000.000 Penyusutan 4.500.000 9.000.000 9.000.000 9.000.000 9.000.000 4.500.000

Penyusutan 12.500.000 12.500.000 6.250.000 18.750.000 2007 6/12 x 50% x 25.000.000 6.250.000 6/12 x 50% x 12.500.000 3.125.000 9.375.000 2008 6/12 x 50% x 12.500.000 3.125.000 6/12 x 6.250.000 3.125.000 6.250.000 2009 6/12 x 6.250.000 3.125.000 Jika penyusutan pajak menggunakan metode garis lurus maka penghitungan yang dilakukan adalah: Tahun 2010 2006 2007 2008 2009 Penghitungan 6/12 x 25% x 50.000.000 25% x 50.000.000 25% x 50.000.000 25% x 50.000.000 6/12 x 25% x 50.000.000 Penyusutan 6.250.000 12.500.000 12.500.000 12.500.000 6.250.000

AMORTISASI AKTIVA TIDAK BERUJUD DAN AKTIVA SUMBER ALAM Berdasar Undang-undang Republik Indonesia No. 17/2000 pasal 11A, amortisasi atas pengeluaran untuk memperoleh harta tak berujud dan pengeluaran lainnya termasuk biaya perpanjangan hak guna bangunan, hak guna usaha, dan hak pakai yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) tahun yang dipergunakan untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan, dilakukan dalam bagian-bagian yang sama besar atau dalam bagian-bagian yang menurun selama masa manfaat, yang dihitung dengan cara menerapkan tarif amortisasi atas pengeluaran tersebut atau atas nilai sisa 25

Perpajakan buku dan pada akhir masa manfaat diamortisasi sekaligus dengan syarat dilakukan secara taat asas. Untuk menghitung amortisasi, masa manfaat dan tarif amortisasi ditetapkan sebagai berikut:
Kelompok Harta Tak Berujud Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4 Masa Manfaat 4 tahun 8 tahun 16 tahun 20 tahun Tarif Amortisasi berdasarkan metode Garis Lurus 25 % 12,5 % 6,25 % 5% Saldo Menurun Ganda 50 % 25 % 12,5 % 10 %

KASUS SOAL KOREKSI FISKAL PT Perjuangan bergerak di bidang perdagangan umum, laporan laba rugi untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2010 adalah sebagai berikut:
PT PERJUANGAN LAPORAN LABA RUGI Untuk periode yang berakhir 31 Desember 2010 PENJUALAN HARGA POKOK PENJUALAN Persediaan awal Pembelian Ongkos angkut pembelian Barang tersedia untuk dijual Persediaan akhir Harga Pokok penjualan LABA BRUTO BIAYA USAHA Biaya gaji Biaya iklan Biaya perjalanan Penyusutan kendaraan Penyusutan inventaris kantor Penyusutan Gedung Biaya listrik Pajak bumi dan bangunan Biaya asuransi gedung Biaya telepon dan telegram Rp960.000.000 30.750.000 437.000.000 28.400.000 496.150.000 110.750.000 Rp385.400.000 Rp574.600.000 125.000.000 7.500.000 15.000.000 14.375.000 6.000.000 28.750.000 20.000.000 5.000.000 5.000.000 7.000.000

26

Perpajakan
Biaya pemeliharaan gedung Biaya macam-macam Biaya kerugian piutang Jumlah biaya usaha LABA USAHA 2.000.000 20.000.000 3.000.000 Rp 239.625.000 Rp 334.975.000

Informasi untuk membuat koreksi fiskal 1. Penjualan termasuk didalamnya penjualan kepada anak perusahaan sebesar Rp20.000.000,00. Harga pasar jika dijual kepada langganan Rp35.000.000,00. 2. Biaya advertensi termasuk pemasangan iklan selama satu minggu untuk pengenalan produk baru sejumlah Rp3.000.000,00. 3. Biaya Gaji termasuk tunjangan kesehatan Rp5.000.000,00, iuran pensiun untuk pegawai kepada dana pensiun yang pendiriannya sudah disahkan oleh Menteri Keuangan Rp2.500.000,00, pembelian sembako untuk karyawan Rp17.500.000,00 dan bea siswa untuk pegawai yang sedang menjalankan pendidikan Rp10.000.000,00. 4. Biaya perjalanan termasuk jamuan makan untuk keluarga Rp2.000.000,00 dan pembayaran tiket pesawat untuk istri direktur yang menyertai perjalanan Rp750.000,00. 5. Perusahaan memiliki dua kelompok kendaraan. Kelompok I dibeli pada tanggal 1 Januari 2004 dengan cost Rp90.000.000,00. Umur ekonomis ditaksir 6 tahun dan nilai residu 15.000.000,00. Kelompok II dibeli tanggal 1 Oktober 2010 dengan cost 80.000.000,00 dan taksiran umur ekonomis 10 tahun dengan nilai residu Rp5.000.000,00. Penyusutan menggunakan metode garis lurus. Untuk kepentingan SPT menggunakan saldo menurun ganda. 6. Gedung dibeli bulan Oktober tahun 2003 merupakan bangunan permanen. Cost ketika itu sebesar Rp500.000.000,00. Umur ekonomis ditaksir selama 16 tahun dan disusut dengan menggunakan metode garis lurus dengan nilai residu 40.000.000,00 7. Inventaris kantor (harta kelompok II) dibeli pada tanggal 1 Juli 2004. Cost seluruhnya pada saat itu adalah Rp50.000.000,00. Umur ekonomis ditaksir 8 tahun dengan nilai residu Rp2.000.000,00. Penyusutan menggunakan metode garis lurus. Untuk kepentingan penyusunan SPT menggunakan saldo menurun ganda. 8. Kerugian piutang yang nyata-nyata terjadi tahun 2010 sebesar Rp2.600.000,00. 9. Biaya telepon termasuk didalamnya telepon rumah dinas para manajer Rp2.500.000,00. 10. Macam-macam biaya kantor termasuk di dalamnya: 27

Perpajakan Biaya makan siang karyawan Rp2.000.000,00 Sumbangan Rp3.000.000,00 Biaya pembelian perlengkapan Rp5.000.000,00 Persediaan dihitung menggunakan metode LIFO. Persediaan awal menurut LIFO 1.500 unit @ RP20.500,00 sedangkan menurut FIFO 1.500 unit @ Rp19.000,00 Untuk penghitungan SPT menggunakan metode FIFO. Data pembelian dan penjualan: Pembelian Bulan April 4.000 Unit @ Rp20.000,00 Bulan Juni 5.000 Unit @ Rp21.000,00 Bulan Agustus 6.000 Unit @ Rp22.000,00 Bulan Oktober 5.000 Unit @ Rp24.000,00 Penjualan selama tahun 2010 sebanyak 16.000 unit

11.

Diminta:

Hitunglah pajak penghasilan yang terutang PT Perjuangan 2010 (sertakan perhitungan yang diperlukan).

28

Perpajakan

29