Anda di halaman 1dari 17

LEPTOSPIROSIS

Chrisnina Novelina Imelda Sari Elinsa Sihotang Isri Rezta Prianty

(101000 (101000 (101000 (101000

Latar Belakang
Leptospirosis termasuk penyakit zoonosis yang paling sering terjadi di dunia, terutama di daerah beriklim tropis dan subtropis yang memiliki curah hujan tinggi. Penyakit ini pertama kali dilaporkan pada tahun 1886 oleh Adolf Weil sehingga disebut sebagai Weil's Disease. Di Indonesia, gambaran klinis leptospirosis dilaporkan pertama kali oleh Van der Scheer di Jakarta pada tahun 1892. International Leptospirosis Society (2001) menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan kejadian leptospirosis tinggi dan menempati peringkat ke-3 di dunia untuk mortalitas (16,7 %) setelah Uruguay dan India. KLB leptospirosis tercatat terjadi di Riau (1986), DKI Jakarta (2002), Bekasi (2002), dan Semarang (2003).

Definisi
Leptospirosis adalah suatu penyakit zoonosis yang disebabkan oleh mikroorganisme berbentuk spiral dan bergerak aktif yang dinamakan Leptospira. Penyakit ini dikenal dengan berbagai nama seperti Mud fever, Slime fever (Shlamnfieber), Swam fever, Autumnal fever, Infectious jaundice, Field fever, Cane cutter dan lain-lain (WHO, 2003).

Etiologi
penyebab penyakit adalah leptospira interrogans masa inkubasi 4 19 hari, rata-rata 10 hari bentuk spiral dan pilinan yang rapat dan ujung-ujungnya bengkok

seperti kait
gerakan leptospira sangat aktif, baik gerakan berputar sepanjang

sumbunya, maju mundur maupun melengkung


leptospira peka terhadap asam dan dapat hidup dalam air tawar

selama kurang lebih satu bulan, tetapi dalam air laut, air selokan dan air kemih yang tidak diencerkan akan cepat mati (DepKes., 2005)

Klasifikasi
Menurut berat ringannya, leptospirosis dibagi menjadi dua, yaitu : 1. Leptospirosis anikterik

Patogenesis
Gambaran Klinis Leptospirosis dibagi atas 3 fase, yaitu : 1. Fase Leptospiremik atau Fase Septisemik Pada stadium ini, penderita akan mengalami gejala mirip flu selama 4-7 hari, ditandai dengan demam, kedinginan, dan kelemahan otot. Gejala lain adalah sakit tenggorokan, batuk, nyeri dada, muntah darah, nyeri kepala, takut cahaya 2. Fase Imun Terbentuknya IgM dalam sirkulasi darah. Gambaran klinis bervariasi dari demam tidak terlalu tinggi, gangguan fungsi ginjal dan hati, serta gangguan hemostatis dengan manifestasi perdarahan spontan.

3. Fase Penyembuhan Fase ini terjadi pada minggu ke 2 - 4 dengan patogenesis yang belum jelas. Gejala klinis berupa demam dengan atau tanpa muntah, nyeri otot, ikterik, sakit kepala, batuk, hepatomegali, perdarahan dan menggigil serta splenomegali.

Cara Penularan
Menurut Saroso (2003) penularan leptospirosis dapat secara langsung dan tidak langsung yaitu :

a. Penularan secara langsung


1. Melalui darah, urin atau cairan mengandung kuman leptospira. tubuh lain yang

2. Dari hewan ke manusia merupakan peyakit akibat pekerjaan, terjadi pada orang yang merawat hewan, menangani organ tubuh hewan atau seseorang yang tertular dari hewan peliharaan. 3. Dari manusia ke manusia dapat terjadi melalui hubungan seksual pada masa atau dari ibu penderita leptospirosis ke janin melalui plasenta dan air susu ibu.

b. Penularan secara tidak langsung 1. Genangan air. 2. Sungai atau badan air. 3. Danau. 4. Selokan saluran air dan lumpur yang tercemar urin hewan. 5. Jarak rumah dengan tempat pengumpulan sampah.

Determinan
a. Faktor Agen (Agent Factor) Leptospirosis oleh bakteri patogen yang disebut Leptospira intterogans. b. Faktor Pejamu (Host Factor) leptospirosis pada manusia dapat terjadi pada semua kelompok umur dan jenis kelamin. c. Faktor Lingkungan (Environmental Factor) 1. Lingkungan fisik, seperti : keberadaan sungai yang membanjiri lingkungan sekitar rumah, keberadaan parit atau selokan yang airnya tergenang, keberadaan genangan air, dan jarak rumah dengan tempat pengumpulan sampah.

2. Lingkungan biologik, seperti : Keberadaan tikus di dalam dan sekitar rumah Keberadaan hewan piaraan sebagai hospes perantara, seperti kucing, anjing, kambing, sapi, kerbau, dan babi. 3. Lingkungan sosial, seperti : Lama pendidikan Pendidikan masyarakat yang rendah akan membawa ketidaksadaran terhadap berbagai risiko paparan penyakit yang ada di sekitarnya, sehingga meningkatkan risiko terkena leptospirosis. Jenis pekerjaan Jenis pekerjaan yang berisiko terjangkit leptospirosis, antara lain : petani, dokter hewan, pekerja pemotong hewan, tukang sampah, pekerja selokan dan pekerjaan yang selalu kontak dengan binatang. Kondisi tempat bekerja Kondisi tempat bekerja yang terkontaminasi urin tikus ataupun hewan lain yang terinfeksi leptospira menjadi mata rantai penularan penyakit leptospirosis. Jika standar kebersihan suatu tempat kerja terpenuhi, maka akan mengurangi insidensi penyakit leptospirosis.

Distribusi
A. Distribusi menurut orang

Usia 2. Jenis Kelamin menurut data International Leptospirosis Society, kasus leptospirosis pada laki-laki sebesar 62%, pada perempuan sebesar 38%
1.

3. Pekerjaan
2500

2000

1500

1000

500

Sumber : International Leptospirosis Society (ILS) Worldwide Survey 2000

B. Distribusi menurut tempat


HIGHEST INCIDENCE 2000
Country India Thailand India France India USA Brazil Uruguay Indonesia Region Andaman Incidence Per 100.000 Mortality (%) 21.0 2.5 10.1 0 12.3 100 16.7

50.0 23.1 Chennai 10.5 Ile de la Reunion 6.0 Kerala 5.6 Hawaii 4.0 Sao Paulo 1.9 1.6 Semarang 1.2

Sumber : International Leptospirosis Society (ILS) Worldwide Survey 2000

Sumber : Profil Ditjen PP dan PL Tahun 2012

C. Distribusi menurut waktu

Sumber : Profil Ditjen PP dan PL Tahun 2012

Pencegahan

Beri Nilai