Anda di halaman 1dari 20

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Gas merupakan satu dari tiga wujud zat dan walaupun wujud ini merupakan bagian tak terpisahkan dari studi kimia, bab ini terutama hanya akan membahasa hubungan antara volume, temperatur dan tekanan baik dalam gas ideal maupun dalam gas nyata, dan teori kinetik molekular gas, dan tidak secara langsung kimia. Namun, sifat fisik gas bergantung pada struktur molekul gasnya dan sifat kimia gas juga bergantung pada strukturnya.

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka kami dapat merumuskan masalah sebagai berikut: 1. 2. 3. Bagaimana sejarah oksigen dan belerang? Bagaimana sifat-sifat oksigen dan belerang? Apa saja reaksi-reaksi oksigen dan belerang?

1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan penulis adalah : 1. Mendeskripsikan oksigen dan belerang 2. Menjelaskan sifat-sifat belerang

1.4 Manfaat penulisan 1. Sebagai tambahan pengetahuan khususnya untuk penulis sendiri dan diharapkan untuk orang lain juga. 2 Sebagai usaha menggali kemampuan dan kecermatan dalam memahami oksigen dan belerang 3 Makalah ini diharapkan dapat berguna bagi mahasiswa khususnya dalam proses belajar mengajar serta berguna bagi masyarakat umum.

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Oksigen a. Sejarah Oksigen Oksigen pertama kali ditemukan oleh seorang ahli obat Carl Wilhelm Scheele. Ia menghasilkan gas oksigen dengan mamanaskan raksa oksida dan berbagai nitrat sekitar tahun 1772. Scheele menyebut gas ini udara api karena ia merupakan satu-satunya gas yang diketahui mendukung pembakaran. Ia menuliskan pengamatannya ke dalam sebuah manuskrip yang berjudul Treatise on Air and Fire, yang kemudian ia kirimkan ke penerbitnya pada tahun 1775. Namun, dokumen ini tidak dipublikasikan sampai dengan tahun 1777. Pada saat yang sama, seorang pastor Britania, Joseph Priestley, melakukan percobaan yang memfokuskan cahaya matahari ke raksa oksida (HgO) dalam tabung gelas pada tanggal 1 Augustus 1774. Percobaan ini menghasilkan gas yang ia namakan dephlogisticated air. Ia mencatat bahwa lilin akan menyala lebih terang di dalam gas tersebut dan seekor tikus akan menjadi lebih aktif dan hidup lebih lama ketika menghirup udara tersebut. Setelah mencoba menghirup gas itu sendiri, ia menulis: The feeling of it to my lungs was not sensibly different from that of common air, but I fancied that my breast felt peculiarly light and easy for some time afterwards. Priestley mempublikasikan penemuannya pada tahun 1775 dalam sebuah laporan yang berjudul An Account of Further Discoveries in Air. Laporan ini pula dimasukkan ke dalam jilid kedua bukunya yang berjudul Experiments and Observations on Different Kinds of Air. Oleh karena ia mempublikasikan penemuannya terlebih dahulu, Priestley biasanya diberikan prioritas terlebih dahulu dalam penemuan oksigen. Seorang kimiawan Perancis, Antoine Laurent Lavoisier kemudian mengklaim bahwa ia telah menemukan zat baru secara independen. Namun, Priestley mengunjungi Lavoisier pada Oktober 1774 dan memberitahukan Lavoisier mengenai eksperimennya serta bagaimana ia

menghasilkan gas baru tersebut. Scheele juga mengirimkan sebuah surat kepada Lavoisier pada 30 September 1774 yang menjelaskan

penemuannya mengenai zat yang tak diketahui, tetapi Lavoisier tidak pernah mengakui menerima surat tersebut (sebuah kopian surat ini ditemukan dalam barang-barang pribadi Scheele setelah kematiannya).

Di alam ditemukan di atmosfer bumi (sebesar 21% volume) sebagai molekul diatom (O2); tak berwarna, tak berbau, tak berasa, larut dalam air, dapat bereaksi hampir dengan semua unsur dan menjadi komponen pertama pembakaran. Oksigen juga ditemukan dalam keadaan terikat sebagai senyawa pada kerak bumi (42,9% massa) 2/3 dari masa tubuh manusia, dan 9/10 bagian masa dari air. Dibuat untuk tujuan komersial melalui destilasi bertingkat udara cair. Oksigen alam merupakan campuran dari 3 isotopnya yang stabil, dikenal ada 8 isotop oksigen, dalam wujud cair dan padat berwrna biru muda/pucat dan bersifat paramagnetik. Gas oksigen digunakan dalam bidang medis, untuk pembakaran, untuk pernapasan dan untuk pembuatan banyak senyawa terutama senyawa organik. Bentuk alotrop dari oksigen adalah ozon bersifat sangat reaktif (Mulyono.2008:308).

b. Sifat-sifat Oksigen 1. Sifat fisik oksigen Simbol : O Nomor atom : 8 Massa atom relatif : 15,99999 gram/mol Titik lebur : -218,4 oC Titik didih : -182,96 oC Densitas (gas) : 1,429 gram/ liter Densitas (cair) : 1,14 gram/liter (-182,96oC) Bilangan oksidasi : +2 2. Sifat Kimia Oksigen

Senyawaan oksigen dengan semua unsur kecuali He, Ne dan mungkin Ar dikenal. Molekul oksigen (dioksigen, O2) bereaksi dengan semua unsur lain kecuali halogen, beberapa logam mulia, dan gas-gas mulia baik dalam suhu ruangan atau pada pemanasan. Kimia oksigen menyangkut pemenuhan konfigurasi neon dengan salah satu cara berikut ini (Cotton.2007: 349).

c. Keberadaan dan Alotrop Oksigen memiliki 3 isotop yaitu 16O (99,759%), 17O (0,0374%) dan 18O (0,2039%). dis tilasi bertingkat dari air menyebabkan konsentrat yang mengandung air sampai dengan 97% atom 18O atau sampai dengan 4% atom 17O, dapat dibuat. 18O digunakan sebagai runtutan dalam studi mekanisme reaksi senyawaan oksigen. Meskipun 17O mempunyai spin inti (5/2), kelimpahan yang rendah mempunyai arti bahwa diperlukan akumulasi spektrum dan atau metode Transformasi Fourier, meskipun digunakan contoh yang diperkaya (Cotton.2007: 351). Isotop oksigen 16O (kelimpahan 99.762 %), 17O (0.038%), dan 18O (0.200%). 17O memiliki spin I= 5/2 dan isotop ini adalah nuklida yang penting dalam pengukuran NMR. 18O digunakan sebagai perunut dalam studi mekanisme reaksi. Isotop ini juga bermanfaat untuk penandaan garis absorpsi spektrum IR atau Raman dengan cara efek isotop. Dioksigen O2, dalam keadaan dasar memiliki dua spin yang tidak paralel dalam orbital molekulnya, menunjukkan sifat paramagnetik dan disebut oksigen triplet. Dalam keadaan tereksitasi, spinnya berpasangan dan dioksigen menjadi diamagnetik, disebut oksigen singlet. Oksigen singlet sangat penting untuk sintesis kimia, sebab oksigen singlet ini memiliki kereaktifan karakteristik. Oksigen singlet dihasilkan dalam larutan dengan reaksi transfer energi dari kompleks yang teraktivasi oleh cahaya atau dengan pirolisis ozonida (senyawa O3). Ozon merupakan senyawa yang tidak stabil, gas berwarna biru tua dan bersifat diamagnetik. Titik didih sebesar -112 oC. Trioksigen (O3), dikenal sebagai ozon, merupakan alotrop oksigen yang sangat reaktif dan

dapat merusak jaringan paru-paru Ozon diproduksi di atmosfer bumi ketika O2 bergabung dengan oksigen atomik yang dihasilkan dari pemisahan O2 oleh radiasi ultraviolet (UV). Oleh karena ozon menyerap gelombang UV dengan sangat kuat, lapisan ozon yang berada di atmosfer berfungsi sebagai perisai radiasi yang melindungi planet. Lapisan ozon yang berada dalam atmosfer bumi dapat menyerap radiasi sinar UV ( 255 nm) yang berasal dari matahari sehingga dapat melindungi manusia di bumi. Penggunaan lemari es dan alat elektronik lainnya yang mengandung Chlorofluorocarbons (CFC) akan dapat merobek lapisan ozon sehingga lapisan ozon akan rusak. Molekul O3 simetris dan bengkok, memiliki sudut ikatan sebesar 117o dan panjang ikatan sebesar 1,28 . oleh karena ikatan OO berjarak 1,49 dalam HOOH (ikatan-ikatan tunggal) dan 1,21 dalam O2 (ikatan rangkap dua) nampaknya ikatan OO dalam O3 harus mempunyai sifat ikatan rangkap dua. Dalam bentuk pemerian resonansi hal ini dapat diperhitungkan sebagai berikut (Cotton.2007:351). O3 secara termodinamika tidak stabil dan dapat terdekomposisi menjadi O2. Dekomposisi tersebut berlangsung secara eksotermik dan dapat dikatalis dengan berbagai material. O3 dalam bentuk cair mudah meledak, merupakan oksidator kuat 3PbS + 4 O3 3PbSO4 2NO2 + O3 N2O5 +O2 S + H2O +O3 H2SO4 2 KOH+ 5O3 2 KO3 + 5 O2+ H2O Sifat-sifat Kimia Ozon. O3 memiliki karakteristik berbau tajam, merupakan gas yang beracun. Ozon adalah zat pengoksidasi yang kuat dibandingkan dengan O2 dan bereaksi dengan banyak senyawa dalam kondisi di mana O2 tidak dapat melakukannya. Reaksi;

O3 + 2KI + H2O I2 + 2KOH + O2 Reaksi diatas adalah kuantitatif dan dapat digunakan untuk analisis. Jumlah O3 dalam suatu campuran gas dapat ditentukan dengan

melewatkan sampel gas ke dalam larutan KI yang telah diatur pHnya dengan larutan buffer borat (pH 9,2) kemudian dititrasi dengan natrium tiosulfat. O3 + 2 K+ + 2 I- I2 + 2 KOH+ O2 Ozon digunakan untuk oksidasi senyawaan organik dan dalam pemurnian air. Ozon digunakan untuk oksidasi senyawaan organik dan dalam pemurnian air. Mekanisme oksidasi mungkin melibatkan proses rantai radikal bebas demikian juga intermediet dengan gugus OOH. Dalam larutan asam O3 hanya diungguli dalam kekuatan oksidasinya oleh F2, ion perxentat, atom oksigen, radikal OH, dan sejumlah kecil spesies yang lainnya. Proses lapisan ozon yang melindungi bumi dari sinar UV. Ozon merupakan penyusun utama lapisan atmosfer khususnya stratosfer pada ketinggian 15 sampai 25 km. pada ketinggian ini konsentrasi ozon mencapai 10 ppm. Dibawah ketinggian ini konsentrasi oksigen hanya sebesar 0,04 ppm. Dilapisan ozon ini terbentuk dari oksigen. Mula-mula radiasi ultraviolet dari matahari dengan panjang gelombang kurang dari 255 nm, menguraikan molekul oksigen menjadi atom oksigen. O2 2O Kemudian atom oksigen segera bereaksi dengan molekul oksigen lainnya membentuk ozon. O + O2 O3 Ozon juga menyerap sinar UV namun panjang gelombang yang berbahaya bagi makhluk hidup yaitu panjang gelombang 240 nm sampai 310 nm. Pada penyerapan ini ozon terurai menjadi atom oksigen dan molekul oksigen, dan mengubah energy kinetic dari atom O dan molekul O2 menjadi kalor. Dengan demikian sebagian besar sinar UV dari matahri diserap sebelum sampai ke permukaan bumi. Oleh karena radiasi UV dapat merusak sel makhluk hidup, lapisan ozon melindungi manusia dan tumbuhan dari kerusakan ini (Achmad.2001; 29-30).

Dioksigen. Sifat kimia dioksigen mudah larut dalam pelarut organik, potensial eletroda dalam O2 dalam air netral menunjukkan bahwa O2 adalah oksidator yang cukup baik. Ikatan yang terjadi dalam senyawa dioksigen ini adalah ikatan kovalen

d. Reaksi Oksigen dengan Beberapa Unsur a. Reaksi Pembakaran Reaksi pembakaran dengan definisi yang paling sederhana adalah reaksi dari unsur maupun senyawa dengan oksigen. Reaksi pembakaran ini ditunjukkan dalam pada persamaan dibawah ini: Reaksi pembakaran logam besi 4Fe + 3O2 2Fe2O3 Dari persamaan tampak bahwa reaksi pembakaran ditunjukkan dengan adanya gas oksigen. Contoh lain dari reaksi ini adalah pembakaran dari salah satu campuran bahan bakar : C7H16 + 11O2 7 CO2 + 8H2O Reaksi diatas juga mengindikasikan adanya gas oksigen. Reaksi pembakaran sering juga disebut dengan reaksi oksidasi, dan akan kita bahas secara terpisah.

b. Reaksi Unsur-unsur Golongan I dengan Oksigen Lithium Lithium akan terbakar dengan nyala merah terang jika dipanaskan di udara. Logam ini bereaksi ini dengan oksigen dalam udara menghasilkan lthium oksida yang berwarna putih. Jika bereaksi dengan oksigen murni, nyala biasanya lebih terang.

Lithium juga bereaksi dengan nitrogen di udara menghasilkan lithium nitrida. Lithium merupakan satu-satunya unsur pada Golongan 1 yang dapat membentuk nitrida dengan cara seperti ini.

Natrium Potongan-potongan kecil natrium terbakar di udara dan sering menimbulkan nyala yang sedikit lebih terang dari warna orange. Jika jumlah natrium yang lebih besar digunakan atau jika dibakar di dalam oksigen maka akan menghasilkan nyala orange yang cemerlang. Terbentuk campuran padatan antara oksida dan natrium peroksida. Persamaan reaksi untuk pembentukan oksida sederhana mirip dengan yang terjadi pada lithium. Persamaan reaksi peroksida adalah: Kalium Potongan-potongan kecil kalium yang dipanaskan di udara cenderung hanya melebur dan dengan cepat kembali menjadi campuran kalium peroksida dan kalium superoksida tanpa ada nyala yang terlihat. Jika potongan-potongan kalium yang lebih besar dipanaskan, maka akan terbentuk nyala berwarna pink kebiru-biruan.

Rubidium and cesium Kedua logam ini terbakar di udara dan menghasilkan superoksida yaitu RbO2 and CsO2. Persamaan reaksinya sama seperti persamaan reaksi untuk kalium. Beberapa sumber menyebutkan bahwa kedua superoksida ini berwarna orange atau kuning. Salah satu situs utama menyebutkan superoksida rubidium berwarna coklat tua pada salah satu halaman webnya dan berwarna orange pada halaman web lainnya. Nyala yang terbentuk saat reaksi terjadi belum dicermati lebih lanjut. Tidak bisa dipastikan bahwa nyala yang timbul dari pembakaran logam akan sama dengan warna nyala dari senyawasenyawanya.

c. Reaksi

Unsur-unsur

Golongan

II

dengan

Oksigen

1). Pembentukan oksida sederhana Dengan oksigen, logam-logam Golongan II ini terbakar

membentuk logam oksida sederhana.

Berilium sulit untuk terbakar kecuali dalam bentuk serbuk. Berilium memiliki lapisan berilium oksida yang tipis tetapi kuat pada permukaannya, yang mencegah oksigen baru untuk bereaksi dengan berilium dibawah lapisan tersebut.

X pada persamaan diatas menunjukkan logam Golongan II. Agak mustahil untuk menemukan tren dalam reaksi logam Golongan II dengan oksigen. Karena untuk itu kita harus mendapat logam yang sama-sama bebas dari lapisan oksida, dengan luas permukaan dan bentuk yang setara. Memiliki aliran oksigen yang setara, dan dipanaskan sampai sama-sama mulai bereaksi. Berilium: penulis belum dapat menemukan referensi (internet atau buku teks) mengenai warna api yang dihasilkan dari pembakaran berilium. Mungkin percikan perak seperti yang terjadi pada pembakaran magnesium atau alumunium. Magnesium: pembakarannya menghasilkan api berwarna putih kuat. Kalsium: agak sulit untuk mulai terbakar, tetapi kemudian terbakar cepat, menghasilkan api putih kemudian sedikit merah. Strotium: penulis belum pernah melihat pembakaran

strontium, kemungkinan seperti kalsium, tetapi dengan warna merah yang lebih kuat. Barium: penulis hanya pernah melihat pembakaran barium melalui video, yang meyebutkan api yang dihasilkan adalah berwarna hijau pucat, tetapi yang terlihat api berwarna putih dengan sedikit hijau pucat. e. Pembentukan peroksida Strontium dan barium juga bereaksi dengan oksigen membentuk strontium atau barium peroksida. Strontium membentuk strontium peroksida jika dipanaskan dengan oksigen di bawah tekanan tinggi, tetapi

barium membentuk barium peroksida dengan pemanasan normal dengan oksigen. Pada reaksi ini akan dihasilkan campuran barium oksida dan barium peroksida.

Persamaan reaksi untuk strontium sama seperti persaman di atas. Reaksi dengan udara Reaksi logam-logam Golongan II dengan udara lebih rumit karena selain dengan oksigen, logam ini juga bereaksi dengan nitrogen menghasilkan nitrida. Pada tiap kasus, akan dihasilkan campuran logam oksida dan logam nitrida. Persamaan umum untuk reaksi ini adalah:

Debu putih yang dihasilkan ketika membakar pita magnesium dengan udara adalah campuran magnesium okisida dan magnesium nitrida.

f. Klasifikasi Oksigen

1. Oksida asam Oksida asam adalah oksida dari unsur non logam dan oksida unsur blok d dengan bilangan oksidasi besar (Achmad.2001; 28) SO3 (g) + H2O (l) 2H+ (aq) + SO42- (aq) CO2 (g) + H2O (l) 2 H+ (aq) + CO32- (aq) CrO3 (s) + H2O (l) 2H+ (aq) + CrO42- (aq) 2. Oksida basa Oksida ini bereaksi dengan air membentuk basa (Achmad.2001; 29) CaO (s) + H2O (l) Ca2+ (aq) + 2 OH (aq) Na2O (s) + H2O (l) 2 Na+ (aq) + 2 OH (aq) 3. Oksida amfoter ksida ini dapat bereaksi dengan asam maupun basa (Achmad.2001; 29)

10

ZnO (s) + 2 HCl ZnCl2 (g) + H2O (l) nO (s) + 2 OH (aq) + H2O (g) Zn (OH)42- (aq) Beberapa logam oksida yang bersifat amfoter seperti BeO, Al2O3, Ga2O3, SnO, PbO dan ZnO 4. Oksida netral Oksida ini berikatan kovalen satu sama lainnya dan tidak bereaksi dengan asam maupun basa misalnya, NO,NO2, dan CO.

5. Oksida campuran Oksida ini merupakan campuran dari oksida sederhana misalnya: P3O4 merupakan campuran PbO dan PbO2

6. Hidrogen peroksida (H2O2). H2O2 adalah hidrida oksigen yang tidak stabil, yang mengandung gugus O-O-. lemahnya ikatan antara dua oksigen yang menyebabkan hidrogen peroksida tidak stabil (Achmad.2001: 33). H2O2 murni dalah cairan tidak berwarna (titik didih 152,1 o C titik beku -0,41 oC). H2O2 memiliki sifat mirip dengan air dan bahkan jauh lebih banyak bergabung melalui ikatan hydrogen dan 40 % lebih padat daripada H2O. H2O2 memiliki tetapan dielektrik yang lebih tinggi namun pemanfaatannya sebagai suatu pelarut pengion dibatasi oleh sifat pengoksidasi yang kuat dan kemudahannya terdekomposisi dengan adanya runtutan ion logam berat sesuai dengan reaksi: 2 H2O2 2 H2O + O2 Larutan H2O2 3% dapat dibeli di apotik untuk digunakan sebagai antiseptik. Oleh karena daya pengoksidasinya, H2O2 dapat membunuh bakteri dan penguraiannya dapat dikatalisa oleh darah. Larutan yang lebih pekat dapat dipakai untuk memutihkan baju (Achmad.2001: 33).

11

2.2 Belerang a. Sejarah Belerang Sulfur atau belerang adalah unsur kimia di dalam tabel periodik unsur memiliki simbol S dengan nomor atom 16. Unsur bukan non-logam berwarna kuning muda, padatannya mengkilap, tidak berbau, tidak larut dalam air tetapi larut dalam CS2. Pada berbagai keadaan baik, padat, cair ataupun gas unsure ini mempunyai beberapa bentuk alotrop. Pada suhu kamar, bentuknya yng stabil dalam bentuk rombik, dan di atas 96,50C berunah bentuknya sebagai monoklin (kedua padatan ini mengandung cincin S8). Bentuk lainnya adalah belerang yang mengandung cincin S6 dengan struktur heksagonal, dan dapat diperoleh dengan menambahkan natrium tiosulfat (Na2S2O8) ke dalam larutan HCl, atau pengkristalan pengkristalan belerang dalam toluene. Belerang cair juga memiliki beberapa bentuk, sedikit di atas titik lelehnya berupa cairan kuning yang mengandung cincin S8 dan di atas 1600C berubah menjadi cokelat; jika lelehan belerang (1600C) dituangkan ke dalam air dingin akan diperoleh belerang pastik (Mulyono.2008: 70). Belerang ditemukan sebagai unsur bebas maupun sebagai biji sulfida, FeS2, PbS, ZnS dan sebagai sulfat CaSO4.2 H2O dan MgSO4.7H2O. belerang sebagai unsur biasanya terdapat dalam lapisan kurang lebih 150 m di bawah batu karang, pasir atau tanah liat. Oleh karena itu belerang tidak dapat ditambang seperti dalam pertambangan lainnya (Achmad.2001:35). Pada tahun 1904 Frasch berhasil mengembangkan cara untuk mengekstrak belerang yang dikenal dengan cara Frasch. Pada proses ini pipa logam berdiameter 15 cm yang terdapat 2 pipa konsentrik yang lebih kecil ditanam sampai menyentuh lapisan belerang. Uap air yang sangat panas di pompa dan dimasukkan melalui pipa luar sehingga belerang meleleh. Kemudian dimasukkan udara bertekanan tinggi melalui pipa terkecil sehingga terbentuk busa belerang dan terpompa ke atas melalui pipa ketiga. Kemurnian belerang yang keluar mencapai 99,5% (Achmad.2001:35).

12

Isotop utama belerang adalah 32S (kelimpahan 95.02%), 33S (0.75%), 34S (4.21% dan 36S(0.02%) , dan terdapat juga enam isotop radioaktif. Di antara isotop-isotop ini, 33S (I=3/2) digunakan untuk NMR. Karena rasio isotop belerang dari berbagai lokasi berbeda, keakuratan massa atom terbatas pada 32.07 0.01. Karena kelektronegativan belerang ( = 2.58) lebih kecil dari oksigen ( = 3.44) dan belerang adalah unsur yang lunak, derajat ion ikatan senyawa belerang rendah dan ikatan hidrogen senyawa belerang tidak terlalu besar. Unsur belerang memiliki banyak alotrop, seperti S2, S3, S6, S7, S8, S9, S10, S11, S12, S18, S20, dan S, yang mencerminkan kemampuan katenasi atom belerang. Unsur belerang biasanya adalah padatan kuning dengan titik leleh 112.8 C disebut dengan belerang ortorombik (belerang ). Transisi fasa polimorf ini menghasilkan belerang monoklin (belerang ) pada suhu 95.5 C. Telah ditentukan pada tahun 1935 bahwa belerang-belerang ini mengandung molekul siklik berbentuk mahkota. Karena bentuknya molekular, belerang larut dalam CS2. Tidak hanya cincin yang beranggotakan 8 tetapi cincin dengan anggota 6-20 juga dikenal, dan polimer belerang heliks adalah belerang bundar yang tak hingga. Molekul S2 dan S3 ada dalam fasa gas. Bila belerang dipanaskan, belerang akan mencair dan saat didinginkan menjadi makromolekul seperti karet. Keragaman struktur belerang terkatenasi juga terlihat dalam struktur kation atau anion poli belerang yang dihasilkan dari reaksi redoks spesi yang terkatenasi.

b. Sifat Belerang 1. Sifat fisika belerang: Simbol : S Nomor atom : 16 Ar : 32,06 gr/mol Keelektronegatifan : 2.58 Wujud : padatan

13

Warna : kuning Titik leleh Rombik : 112,80C Monoklin : 1190C Titik didih : 444,70C Densitas (pada suhu 200C) Rombik : 2,03 Monoklin : 1,96 Bilangan oksidasi : -2, +4, +6 Konfigurasi elektron : [Ne] 3s2 3p4 Sulfur terdapat secara luas di alam sebagai unsur, sebagai H2S dan SO2, dalam bijih sulfida logam dan sebagai sufat seperti gipss dan anhidrit (CaSO4), magnesium sulfat dan sebagainya. Sulfur diperoleh dalam skala besar dari gas hidrokarbon alamiah seperti yang ada di Alberta dan kanada yang terdapat sampai 30% H2S. ini dapat dihilangkan melalui interaksi dengan SO2, yang diperoleh dari pembakaran sulfur dalam udara (Cotton.2007: 363). c. Keberadaan Sulfur terdapat secara luas di alam sebagai unsur, sebagai H2S Dan SO2, dalam bijih sulfida logam dan sebagai sulfat seperti gibs. Pada mulanya unsure ini disebut brimstone yang berarti batu yang mudah terbakar Belerang juga terdapat dalam gas alam, minyak bumi, dan batu bara. Atom belerang membutuhkan dua electron agar stabil dan dalam keadaan bebas adalah alotropi ( mempunyai beberapa bentuk kristal) dengan struktur dan sifat yang kompleks, dan belum sepenuhnya dipahami. Ada dua bentuk kristal yang umum, yaitu ortorombik dan monoklin bermolekul S8, yang berstruktur cincin. Pada suhu 25oC, belerang berbentuk ortorombik berwarna kuning, dan pada suhu 95,2oC, berubah menjadi monoklin. Sortorombik Smonoklin H = 0,40 kJ mol-1

Pada suhu 200oC, cincin S8 terbuka sehingga membentuk rantai terbuka

14

dan menjadi cair. Terlihat bahwa atom S ujung mempunyai electron tidak berpasangan dan dapat berikatan dengan ujung molekul yang lain, sehingga membentuk molekul S12, S24,dsb. Hal ini menyebabkan kekentalan cairan bertambah. Pada suhu yang tinggi, gerakan atom makin besar mengakibatkan rantai putus menjadi lebih pendek, sehingga kekentalan berkurang kembali. Dalam wujud gas, belerang akan membentuk molekul lebih kecil, S8, S4, Dan S2 bergantung pada besarnya suhu. Belerang cair bila didinginkan mendadak, misalkan dituangkan ke dalam air, maka atom atomnya tidak sempat membentuk S8, sehingga membentuk amorf. Akibatnya, padatan itu bersifat elastis seperti karet. Tetapi lama kelamaan kembali menjadi S8 yang stabil.

d. Persenyawaan Sulfur Senyawa belerang terdapat dalam berbagai macam bilangan oksidasi -2, +4 dan +6 (Achmad.2001: 37) Bilangan oksidasi Contoh-2 H2S, S20 S8 +4 SO2, H2SO3, SO32+6 SO3, H2SO4, SO42-, H2S2O7, SF6 Persenyawaan halida 1. Sulfur fluoride Fluorinasi langsung S8 menghasilkan terutama SF6 dan runutan S2F10 2. Sulfur tetrafluorida Sulfur tetraflorida sangat reaktif dan terhidrolisis sempurna dengan air menjadi SO2 dan HF. Ia adalah zat flourinasi yang sangat selektif mengubah gugus C=O dan P=O secara lancar menjadi CF2 dan PF2 (Cotton.2007:366). 3. Sulfur heksafluorida Sulfur heksafluorida sangat tahan terhadap penyerangan kimia, keinertan, kekuatan dielektrik yang tinggi dan bobot molekul, ia

15

digunakan sebagai pengisolasi gas dalam generator bertekanan tinggi dan peralatan listrik yang lainnya. Kereaktifan yang rendah dianggap berhubungan dengan suatu faktor penggabungan termasuk kekuatan ikatan S-F yang tinggi, dan kenyataan bahwa sulfur keduanya dijenuhkan secara koordinasi dan terhalang secara sterik. Ini berhubungan dengan faktor kinetik dan bukan karena kestabilan termodinamik (Cotton.2007: 366). 4. Sulfur klorida Sulfur klorida adalah pelarut untuk sulfur, memberikan diklorosulfan sampai dengan S100Cl2 yang digunakan dalam vulkanisasi karet. Mereka juga merupakan zat pengklorinasi sedang (Cotton.2007: 366).

Pembentukan Oksida dari Sulfur 1. Sulfur dioksida (SO2) Sulfur dioksida adalah gas tidak berwarna, berbau khas, memerihkan mata dan dapat merusak saluran pernafasan. SO2 dapat terbentuk dari pembakaran batu bara yang mengandung belerang dan pemanggangan biji sulfida. SO2 dapat larut dengan baik dalam air (Achmad.2001; 39) SO2 (g) + H2O (l) H2SO3 (aq) Sifat sulfur dioksida mudah larut dan menghasilkan asam seperti yang dijelaskan diatas mengakibatkan persoalan lingkungan di daerah dimana digunakan bahan bakar yang mengandung belerang. Jika turun hujan gas ini terlarut dalam air sehingga turun sebagai asam sulfit yang encer (Achmad.2001; 39). SO2 diproduksi secara secara kemersial dalam skala yang besar. Di dalam laboratorium SO2 dapat dideteksi dengan cara: Dengan baunya sendiri Karena adanya perubahan dari kertas filter dengan pengasamkan dengan larutan hijau kalium kromat, hal ini berhubungan dengan terbentuknya Cr3+.

16

K2Cr2O7 + 3SO2 + H2SO4 Cr2(SO4)3 + K2SO4 + H2O

Karena adanya perubahan dari kertas biru kanji iodate (adanya kanji dan I2) 2KIO3 + 5SO2 + 4H2O I2 + 2KHSO4 + 3H2SO4 Metode kuantitatif untuk perhitungan SO2 di atmosfer sangatlah penting karena berhubungan dengan terjadinya hujan asam. Metode tersebut meliputi: Oksidasi menghasilkan H2SO4, penentunya dengan titrasi

Reaksi dengan K2[HgCl4] untuk memberikan kompleks merkuri dengan bereaksi dengan pararosalin dan ditentukan dengan kolorimetri. K2[HgCl4] + 2 SO4 + 2H2O K2[Hg(SO3)2] + 4 HCl Pembakaran dengan api hidrogen di dalam flame photometer dan mengukum spektrum S2. 2. Sulfur trioksida (SO3) Pada suhu kamar belerang trioksida berupa padatan yang terdiri dari satuan SO3 dengan struktur yang rumit. Padatan ini mudah menguap dan fasa gas SO3 terdiri dari molekul planar (Achmad.2001; 40). Molekul diatas melibatkan kedua ikatan p-p dan p-d S-O, yang membentuk polimer dalam keadaan padat (Cotton.2007:369).

Dari hasil eksperimen diperoleh 3 ikatan S-O pada SO3 sama panjang, yaitu 141,8(1) pm. Harga ini dekat dengan panjang ikatan S-O dengan orde ikatan 2 yakni 142 pm sehingga struktur lewis SO3 yang memenuhi adalah sebagai berikut (Effendy.2006: 39). Sulfur trioksida dibuat dengan cara oksidasi belerang dioksida dengan oksigen SO2 (g) + O2 (g) 2 SO3 3. Asam sulfat Gas SO3 bereaksi dengan air membentuk H2SO4.

17

SO3(g) + H2O(l) H2SO4(l) Asam sulfat sangat penting bagi kemakmuran suatu negara industri yang erat kaitannya dengan berbagai-bagai industri. Pabrik asam sulfat memerlukan belerang dioksida yang dapat diperolah dari (Achmad, 2001: 40-41). - Pembakaran belerang S + O2 SO2 - Pirit atau seng sulfida Pada pemanggaman bijih-bijih logam ini dihasilkan sulfur dioksida sebagai hasil samping. 4 FeS2 + 11 O2 2 Fe2O3 + SO2 2 ZnS + 3 O2 2 ZnO + 2 SO2 - Anhidrit CaSO4 CaSO4 + 2 C 2 CO2 + CaS CaS + 3 CaSO4 4 CaO + 4 SO2 Hampir semua asam sulfat dibuat dengan menggunakan metode kontak. Proses ini berlangsung dalam tiga tahap yaitu: Produksi SO2 Belerang dibakar dalam udara kering di ruang pembakar pada suhu 10000C S + O2 SO2 H= -297 kJ mol-1 Gas yang dihasilkan mengandung kurang lebih 10 % volume sulfur dioksida, kemudian setelah didinginkan sampai 4000C dimurnikan dengan cara pe-ngendapan elektrostatik. Konversi SO2 menjadi SO3 Dengan menggunakan katalis (biasanya vanadium (V) oksida), sulfur dioksida direaksikan dengan udara bersih yang berlebuh. Oleh karena reaksi adalah rekasi eksotermis, gas-gas ini direksikan pada 4500C4740C. 2 SO2 + O2 2 SO3 H= -98 kJ mol-1 Gas yang panas ini dialirkan melalui sebuah konverter yang terdiri dari empat lapisan yang dicampur dengan katalis vanadium (V)

18

oksida. Pada lapisan pertama 70% SO2 dapat diubah menjadi SO3. Oleh karena reaksinya adalah reaksi endoterm, gas harus didinginkan terlebih dahulu sebelum mengalami konversi pada lapisan kedua pekerjaan ini diulangi sehingga sampai pada lapisan keempat 98% sulfur dioksida diubah menjadi belerang trioksida. Agar dapat mencapai 99,5% konversi, sulfur trioksida yang dihasilkan didinginkan kemudian dilarutkan dalam asam sulfat 98% sampai 99%. Konversi SO3 menjadi H2SO4 Sulfur trioksida yang dihasilkan didinginkan kemudian dilarutkan dalam H2SO4 98% sehingga menghasilkan asam 98,5% yang diencerkan dengan air. SO3 + H2SO4 H2S2O7 H2S2O7 + H2O 2 H2SO4 Reaksi keseluruhannya adalah H2O + SO3 H2SO4 H= -130 kJ mol-1

4. Asam tiosulfat (H2S2O3) Walaupun asam ini akan dihasilkan bila tiosulfat diasamkan, asam bebasnya tidak stabil. Ion S2O32- dihasilkan dengan mengganti satu oksigen dari ion SO42-dengan belerang, dan asam tiosulfat ini adalah reduktor sedang.

5. Asam sulfit (H2SO3) Garam sulfit sangat stabil namun asam bebasnya belum pernah diisolasi. Ion SO32- memiliki simetri piramida dan merupakan reagen pereduksi. Dalam asam ditionat, H2S2O6, ion ditionat, S2O62-, bilangan oksidasi belerang adalah +5, dan terbentuk ikatan S-S. Senyawa ditionat adalah bahan pereduksi yang sangat kuat.

19

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Dari penjelasan di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa Kecenderungan sifat oksigen dan belerang secara umum dapat disimpulkan sebagai berikut ini: a. Titik didih dari atas ke bawah semakin bertanbah b. Densitas atom dari atas ke bawah semakin bertambah c. Energi ionisasi dari atas ke bawah semakin berkurang d. Afinitas elektron dari atas ke bawah semakin bertambah e. Jari-jari atom dari atas ke bawah semakin bertamba f. Keelektronegatifan atom dari atas ke bawah semakin berkurang Pembentukan oksigen dan belerang adalah sebagai berikut: a. Pembentukan senyawa halida. b. Pembentukan senyawa hidrida. c. Pembentukan senyawa dioksida. d. Pembentukan senyawa oksohalida.

3.2 Saran Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna, oleh sebab itu penulis juga mengharapkan masukan-masukan yang dapat membantu dalam penyusunan makalah berikutnya. Penulis berharap agar makalah ini dapat bermanfaat adanya. Dapat memberikan sedikit pengetahuan kepada yang memerlukan terutama para pelajar.

20