Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN ASISTENSI OK

1.

Tanggal / Jam : Santi : 27 tahun

: 16 Oktober 2012 / 08.30 09.30

Nama Usia Diagnosa Tindakan Nama Dokter Asistensi Tindakan selama operasi

: gigi impaksi 3.8 mesioanguler Klas II tipe B : Odontektomi : Drg. Haryadi Mangkuto, Sp.BM : Rahmi Khairani Aulia : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Intubasi Desinfeksi daerah kerja Incisi (Buka Flap) Pembuangan tulang Ekstraksi Spuiling Hecting Spuiling

9. Bersihkan area operasi

Medikamen selama operasi Medikamen post operasi

: Cefotaxim (intravena) : 1. 2. 3. Lyncomycin ( 3x1 ) Neurosanbe ( 1x1 ) Vit. K ( 1x1 )

TELAAH KASUS
1. Definisi impaksi

Impaksi adalah gigi yang jalan erupsi normalnya terhalang atau terblokir, biasanya oleh gigi didekatnya atau jaringan patologis. Impaksi diperkirakan secara klinis apabila gigi antagonisnya sudah erupsi dan hampir bisa dipastikan apabila gigi yang terletak pada sisi yang lain sudah erupsi (Pederson). 2. Etiologi impaksi Penyebab dari gigi impaksi bisa disebabkan oleh faktor lokal dan faktor sistemik. Faktor-faktor tersebut meliputi: Gigi yang berdekatan crowded atau tidak cukup tempat pada lengkung rahang. Padatnya tulang diatas gigi impaksi. Tebalnya jaringan lunak yang meliputi gigi impaksi. Gigi sulung yang mengalami retensi dan ankylosis. Keadaan patologis seperti : gigi supernumerary, odontoma, kista.

3. Klasifikasi impaksi M3 rahang bawah. Klasifikasi gigi molar ketiga impaksi rahang bawah : 1) Berdasarkan angulasinya

Vertikal Horizontal Inverted Mesioangular Distoangular Buccoangular Linguoangular

2) Berdasarkan ruang antara ramus dan sisi distal M2


Kelas I : ukuran mesio-distal gigi molar ketiga lebih kecil dibandingkan jarak antara

distal gigi molar kedua dengan ramus mandibula.


Kelas II : ukuran mesio-distal gigi molar ketiga lebih besar dibandingkan jarak antara

distal gigi molar kedua dengan ramus mandibula.


Kelas III : seluruh atau sebagian besar molar ketiga berada di dalam ramus

mandibula.

3) Berdasarkan relasi antara ramus mandibula dan molar kedua meliputi. 1. Posisi A : bagian tertinggi dari gigi terletak lebih tinggi atau sejajar dengan garis oklusal gigi M2. 2. Posisi B : bagian tertinggi dari gigi terletak diantara garis oklusal dan garis servikal gigi M2. 3. Posisi C : bagian tertinggi dari gigi terletak dibawah servikal line gigi M2.

4. Indikasi dan kontra indikasi Odontektomi gigi impaksi. a. Indikasi dilakukan tindakan odontektomi gigi impaksi yaitu:

Sebagai tindakan pencegahan dari terjadinya infeksi karena erupsi yang terlambat dan abnormal (Perikoronitis), dan mencegah berkembangnya folikel menjadi keadaan patologis (Kista odontegenik dan Neoplasia).

Usia periode emas (akar 1/3 atau 2/3) dan sebelum mineralisasi tulang 25 th).

(15

Bila terdapat infeksi (fokus selulitis). Bila terdapat kelainan Patologis (odontegenik). Maloklusi. Terdapat keluhan rasa sakit atau pernah merasa sakit. Gigi impaksi terlihat mendesak gigi molar kedua. Diperkirakan akan mengganggu perawatan orthodonsia dan pembuatan protesa. Akan mengganggu perawatan di bidang konservasi atau pembuatan mahkota gigi pada gigi molar kedua.

Terdapat keluhan neurologi, misalnya : cephalgia, migrain, pain lokal atau diteruskan (reffered).

Merupakan penyebab karies pada molar kedua karena retensi makanan. Terdapat karies yang tidak dapat dilakukan perawatan. Telah terjadi defek pada jaringan periodontal pada gigi molar kedua.

Karies distal molar kedua yang disebabkan oleh karies posisi gigi molar ketiga.

b. Kontraindikasi odontektomi gigi impaksi yaitu:


Apabila pasien tidak menghendaki giginya dicabut. Bila panjang akar belum mencapai sepertiga atau dua pertiga. Bila tulang yang menutupi gigi yang tertanam terlalu banyak. Bila tulang yang menutupinya sangat termineralisasi dan padat yaitu pada pasien yang berusia lebih dari 26 th atau usia lanjut.

5. Instruksi Pasca Odontektomi.

Gigit tampon 30-60, tampon dapat diganti dengan tampon steril sampai beberapa kali.

Tdk menghisap-hisap luka. Tdk diperkenankan kumur-kumur Fungsi kunyah dikurangi. Kompres es pada pipi untuk 15 setiap setengah jam sampai 4 jam setelah odontektomi, hal ini akan mengurangi perdarahan dan pembengkakan.

Jaga kebersihan luka (pada hari ke-2 post.op.). Diperkenankan makan dengan diet lunak. Setelah makan mulut direndam dengan obat kumur antiseptik dan hanya boleh dipergunakan 24 jam pascaodontektomi.

Menjaga kebersihan mulut dengan tetap menggosok gigi dan dihindari untuk berkumur keras, air hanya dialirkan ke dalam rongga mulut dan hanya dengan menggunakan air matang bukan air kran.

Hindari makan dan minum panas. Tidak diperkenankan merokok. 6. Faktor-faktor penyulit pada saat odontektomi.

Lengkung akar yang abnormal, bengkok, baik dalam arah mesial, distal atau berbentuk seperti kait

Bentuk anatomi misalnya akar terpisah atau mengalami fusi. Gigi ankylosis dan Hipersementosis Kedekatan gigi impaksi dengan kanalis mandibularis. Gigi yang terletak pada zona yang dalam. Ketebalan tulang yang ekstrim, khususnya pada pasien usia tua. Akses yang sulit ke daerah operasi oleh karena : Orbicularis oris yang kecil. Ketidakmampuan pasien membuka mulut lebar. Lidah yang besar dan tidak terkontrol gerakannya. Penderita sensitif terhadap benda asing di dalam rongga mulut. Usia penderita, semakin lanjut usia akan semakin sukar pembedahannya dan semakin beresiko terjadi infeksi pascaoperasi

7. Komplikasi Odontektomi pada saat Pembedahan. Perdarahan Tertekan / putusnya nervus alveolaris inferior

Fraktura : akar, proc. alveolar lingual, tulang rahang bagian lingual, mandibula terutama daerah angulus.

Trauma pada gigi terdekat : rusak, goyang, sampai tercabut. Rusaknya tumpatan atau mahkota pada gigi molar kedua di samping molar ketiga yang dilakukan odontektomi.

Masuknya gigi / sisa akar gigi ke dalam submandibular space, kanalis mandibularis atau spasia regio lingual.

Alergi pada obat-obatan yang diberikan : antibiotika, analgetika maupun anaestesi lokal.

Syok anafilaktik. Patahnya instrument

8. komplikasi Pasca Bedah. Rasa sakit atau pernah mengalami rasa sakit di regio gigi molar ketiga impaksi. Pembengkakan. Perdarahan sekunder. Dry socket (alv. Osteitis). Infeksi pada jaringan lunak maupun tulang. Trismus. Fraktur rahang. Emphysema. Parestesi.

Luka di daerah sudut bibir.

LAPORAN ASISTENSI STASE BEDAH MULUT RS M. DJAMIL

OLEH : RAHMI KHAIRANI AULIA 0810342004

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2013