Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penyakit karena cacing (helminthiasis) banyak tersebar di seluruh dunia terutama di daerah tropis. Hal ini berkaitan dengan faktor cuaca dan tingkat sosio-ekonomi masyarakat. Sebagian cacing memerlukan vertebrata atau invertebrata tertentu sebagai host, misalnya ikan, siput, crustacea atau serangga, dalam siklus atau lingkaran dalam hidupnya. Di daerah tropis host-host ini juga banyak berhubungan dengan manusia, karena tidak adanya pengendalian dari masyarakat setempat. Dalam hal ini, salah satu cacing yang bersifat parasit pada manusia adalah golongan cacing bulat (Nemathelmintes) (dr. Indan Entjang, 2003). Pada phylum Nemathelmintes, cacing dewasa merupakan

kelompok cacing dengan bentuk bulat memanjang seperti benang. Tandatanda lainnya yaitu kulit luar tidak bersegmen, kutipula licin, kadangkadang bergaris, memiliki rongga badan serta jenis kelamin terpisah. Dari phylum ini yang bersifat parasit bagi hewan dan manusia termasuk dalam kelas Nematoda (Djaenudin, 2009). Nematoda (cacing bulat) mempunyai bentuk panjang dan tidak bersegmen. Mempunyai jenis kelamin jantan dan betina. Cacing jantan lebih kecil daripada cacing betina dan melengkung ke arah ventral. Ukurannya bervariasi dari beberapa milimeter (misalnya Trychinella spiralis) sampai 35 cm (misalnya Ascaris lumbricoides) bahkan ada yang mendekati 1 meter (misalnya Dracunculus medinensis). Bentuk telurnya bermacam-macam tergantung jenis cacingnya (dr. Indan Entjang, 2003).

B. Tujuan a. Mengetahui tentang klasifikasi pada Nematoda parasit usus.

b. Mengetahui tentang epidemiologi, distribusi geografik dan kondisi penyakit terkini pada Nematoda parasit usus. c. Mengetahui tentang morfologi pada Nematoda parasit usus. d. Mengetahui tentang siklus hidup pada Nematoda parasit usus. e. Mengetahui patologi pada pada Nematoda parasit usus. f. Mengetahui pencegahan dan pengendalian pada pada Nematoda parasit usus.

BAB II ISI

Cacing merupakan salah satu parasit yang sering menyerang usus masusia, salah satunya adalah dari kelas Nematoda, karena yang diserangnya adalah usus maka cacing ini biasa juga di sebut Nematoda Usus. spesies cacing yang terbasuk ini diantaranya adalah Ascaris lumbricoides, Enterobius vermicularis (Cacing Kremi), Ancylostoma duodenale dan Necator americanus, Ancylostoma branziliense dan Ancylostoma caninum, Trichinella spiralis, Toxocara canis dan Toxocara cati, Trichuris trichiura dan Strongyloides stercoralis 1. Ascaris lumbricoides a. Klasifikasi Kingdom Phylum Sub Phylum Kelas Sub Kelas Ordo Family Genus Species : Animalia : Nemathelminthes : Ascaridoidea : Nematoda : Secernantea : Ascaridida : Ascaridae : Ascaris : Ascaris lumbricoides

b. Epidemiologi Telur A.lumbricoides berkembangbiak pada


o

tanah

liat

yang

mempunyai kelembaban tinggi dan pada suhu 25-30 C pada kondisi ini, telur tumbuh menjadi bentuk infektif (mengandung larva) dalam waktu 23 minggu (Entjang, 2011). Parasit ini ditemukan kosmopolitik. Survei yang dilakukan dibeberapa tempat di indonesia menunjukkan bahwa prevalensi A.lumbricoides masih cukup tinggi, sekitar 60-90%.

c. Morfologi Cacing betina panjangnya 20 35 cm, sedangkan cacing jantan 15-30 cm. Cacing dewasanya hidup di usus halus. Pada cacing jantan ujung posteriornya melengkung ke arah ventral, dan dua buah spekulen berukuran 2 mm, sedangkan pada cacing betina bagian posteriornya membulat dan lurus, dan pada anterior tubuhnya terdapat cincin kopulasi, tubuhnya berwarna putih sampai kuning kecoklatan. Telur mempunyai empat bentuk, yaitu tipe dibuahi (fertilized), tidak dibuahi (afertillized), matang,dan dekortikasi. Telur yang dibuahi besarnya 60x45 mikron, dinding tebal terdiri dari dua lapis. Lapisan luarnya terdiri dari jaringan albuminoid, sedangkan lapisan dalam jernih. Telur yang tidak dibuahi berbentuk lonjong dan lebih panjang dari pada tipe yang dibuahi, besarnya 90x40 mikron,dan dinding luarnya lebih tipis. Telur matang berisi larva (embrio). Telur yang dekortikasi tidak dibuahi tetapi lapisan luarnya (albuminoid) sudah hilang (Entjang, 2011).

d. Patologi Pada infeksi ringan, terjadi kerusakan kecil karena penetrasi melalui dinding mukosa usus oleh larva yang baru menetas (L2). Terjadi respon peradangan (inflamatory respons) pada saat larva bermigrasi yaitu pada organ limpa, hati, kelenjar limfe dan otak. Hal tersebut juga terjadi pada saat larva bergerak dari kapiler paru ke sistem respirasi sehingga menyebabkan perdarahan kecil (foci haemoragik). Sedangkan pada infeksi berat, terjadi bila sejumlah besar larva penetrasi melalui dinding usus sehingga menimbulkan perdarahan pada dinding usus dan pada waktu bermigrasi ke paru akan menimbulkan pneumonia pada area yang luas sehingga dapat menyebabkan kematian (Ascaris pneumonitis). Bilamana sejumlah cacing dewasa ada dalam usus, dapat menimbulkan gejala sakit perut, asthma, insomnia dan sakit pada mata. Disamping itu akan menimbulkan respon alergi bilamana cacing mengeluarkan bahan ekskresi maupun sekresi. Sejumlah cacing dewasa

dalam usus akan menyumbat saluran usus yang mengakibatkan cacing dewasa menembus dinding usus atau apendiks usus. Hal tersebut menyebabkan peritonitis yang mengakibatkan kematian pada penderita. Bila cacing masuk ke dalam apendiks dapat menimbulkan perdarahan local (Entjang, 2011).

e. Siklus Hidup

Sumber: http://www.dpd.odc.gov Cacing dewasa hidup dalam usus halus (usus kecil), memakan sari makan dalam usus (diduga menembus mukosa usus untuk menghisap darah). Kopulasi (kawin) terjadi dalam usus. Cacing betina dapat memproduksi telur sampai 27 juta butir/ekor, dengan ukuran telur 60-70 m X 40-50 m. Kulit telur transparan dengan diselaputi lendir albumin yang berwarna kecoklatan. Telur yang dibuahi membentuk zigot dan keluar bersama feses. Zigot berkembang pada suhu optimun (15,5-30oC), mati pada suhu 38oC. Pada kondisi alamiah telur berkembang dalam tanah aerobic dan membentuk larva didalam telur selama 10-14 hari (pada fase ini bila tertelan tidak menyebabkan infeksi). Tetapi bila bentul L1 berkembang dan membentuk L2dalam telur, maka telur tersebut menjadi telur infektif. Bilamana telur infektif tertelan maka L2 menetas dan secara aktif menembus dinding mukosa usus dan terbawa kehati melalui saluran limfe usus atau venula usus. Dari hati larva terbawa ke bilik kanan jantung dan

kemudian ke paru-paru melalui arteri paru-paru. Larva biasanya tinggal dalam paru selama beberapa hari dan tumbuh bergerak melewati kapiler masuk ke dalam alveoli. Kemudian bergerak ke bronchioli, bronchi, trachea menuju glottis. Penderita terbatuk dan larva tertelan dan masuk ke dalam saluran pencernaan menuju usus halus kemudian menjadi dewasa. Selama proses migrasi tersebut larva tumbuh dari ukuran 200 m sampai 300 m. Ecdysis terjadi dalam usus halus dalamselang waktu 2529 hari setelah larva tertelan. Hanya larva yang mencapai moulting yang ke 4 yang dapat hidup menjadi dewasa (Onggowaluyo, 2000).

f. Pencegahan & Pengendalian Upaya pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
1. 2. 3.

Hendaknya pembuangan tinja (feses) pada W.C. yang baik. Pemeliharaan kebersihan perorangan dan lingkungan. Penerangan atau penyuluhan melalui sekolah, organisasi

kemasyarakatan oleh guru-guru dan pekerja-pekerja kesehatan.


4.

Hendaknya jangan menggunakan tinja sebagai pupuk kecuali sudah dicampur dengan zat kimia tertentu. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan memutus

siklus hidup Ascaris lumbricoides. Pemakaian jamban keluarga dapat memutus rantai siklus hidup Ascaris lumbricoides ini. Kurang disadarinya pemakaian jamban keluarga oleh masyarakat dapat menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja disekitar halaman rumah, di bawah pohon dan di tempat-tempat pembuangan sampah. Upaya pengendalian juga dapat dilakukan dengan memberikan obat-obatan seperti yang diberikan secara perorangan maupun massal. Obat lama yang pernah digunakan adalah piperasin, tiabendasol, heksilresorkimol, dan hetrazam (Entjang, 2011).

2. Enterobius vermicularis (Cacing Kremi)

Hospes definitif Enterobius vermicularis hanya pada manusia. Enterobius vermicularis dewasa hidup di sekum dan dekat apendiks. Nama penyakitnya Enterobiasis/oksiuriasis. a. Klasifikasi Kingdom Filum Kelas Sub kelas Ordo Famili Genus Species : Animalia : Nematoda : Secernentea : Spiruria : Oxyurida : Oxyuridae : Enterobius : Enterobius vermicularis

b. Epidemiologi Penyebaran Enterobius vermicularis lebih luas daripada cacing lain. Penularan dapat terjadi pada keluarga atau kelompok yang hidup pada satu lingkungan yang sama (asrama, rumah piatu). Telur cacing ini dapat diisolasi dari debu di ruangan sekolah atau kafetaria sekolah dan menjadi sumber infeksi bagi anak-anak sekolah. Di berbagai rumah tangga dengan beberapa anggota keluarga yang mengandung cacing kremi, telur cacing dapat ditemukan (92%) di lantai, meja, kursi, bufet, tempat duduk kakus (toilet seats), bak mandi, alas kasur, pakaian dan tilam. Hasil penelitan menunjukkan angka prevalensi pada golongan manusia 3%-80%. Penelitian di daerah jakarta timur melaporkan bahwa kelompok usia terbanyak yang menderita enterobiasis adalah kelompok uisa 5-9 tahun yaitu pada 46 anak (54,1%) dari 85 anak yang diperiksa. Parasit ini cosmopolit tetapi lebih banyak ditemukan di daerah dingin daripada didaerah panas. Hal itu mungkin disebabkan pada umumnya orang di daerah dingin jarang mandi dan mengganti baju dalam. Penyebaran cacing ini juga di tunjang oleh eratnya hubungan manusia satu dengan yang lainnya serta lingkungan yang sesuai.

c. Morfologi Enterobius vermicularis betina berukuran 8-13 mm x 0,4 mm. Pada ujung anteriorada pelebaran kutikulum seperti sayap yang disebut alae. Bulbus esogfagus jelas sekali, ekornya panjang dan runcing. Uterus cacing yang grafid melebar dan penuh telur. Cacing jantan berukuran 2-5mm, juga memiliki sayap dan ekornya melingkar sehingga bentuknya seperti tanda tanya (?).

d. Siklus hidup

Sumber: http://www.dpd.odc.gov Habitat cacing dewasa biasanya di rongga sekum, usus besar dan usus halus. Makanannya adalah isi usus. Cacing betina yang gravid mengandung 11.000 15000 butir telur, bermigrasi ke daerah perianal untuk bertelur dengan cara kontraksi uterus dan vaginanya. Telur jarang dikeluarkan di usus sehingga jarang ditemukan di dalam tinja. Telur akan menjadi matang dalam waktu 6jam setelah dikeluarkan. Telur resistan terhadap desinfektan dan udara dingin. Dalam keadaan lembab telur dapat hidup sampai 13 hari. Kopulasi cacing jantan dan betina mungkin terjadi di sekum. Cacing jantan mati setelah kopulasi dan cacing betina mati setelah bertelur. Waktu yang diperlukan untuk daur hidupnya, mulai dari tertelannya telur sampai menjadi cacing dewasa gravid yang bermigrasi ke daerah perianal, barlangsung 2 minggu sampai 2 bulan. Mungkin daurnya hanya berlangsung 1 bulan karena telur cacing dapat ditemukan kembali pada anus paling cepat 5 minggu setelah pengobatan. Infeksi pada cacing kremi dapat sembuh sendiri (self limited). Bila tidak ada reinfeksi, tanpa pengobatanpun infeksi dapat berakhir.

e. Patologi Enterobiasis relatif tidak berbahaya, jarang menimbulkan lesi yang berarti. Gejala klinis yang menonjol disebabakan iritasi disekitar anus, perineum dan vagina oleh cacing betina gravid yang bermigrasi ke daerah

anus dan vagina sehingga mengakibatkan pruritus lokal. Karena cacing bermigrasi ke daerah anus dan menyebabkan pruritus ani, maka penderita menggaruk disekitar anus sehingga timbul luka garuk disekitar anus. Keadaan ini sering terjadi pada waktu malam hari sehingga penderita terganggu tidurnya dan menjadi lemah. Kadang kadang cacing dewasa muda dapat bergerak ke usus halus bagian proksimal sampai ke lambung, esofagus dan hidung sehingga menyebabkan gangguan di daerah tersebut. Cacing betina gravid menggembara dan dapat bersarang di Vagina dan di Tuba Fallopii sehingga menyebabkan radang di saluran telur. Cacing sering ditemukan di apendiks tetapi jarang menyebabkan apendisitis. Beberapa gejala infeksi Enterobius vermicularis yaitu kurang nafsu makan, berat badan turun, aktivitas meninggi, enuresis, cepat marah gigi menggeretak, insomnia dan mastrbasi, tetapi kadang sulit untuk membuktikan hubungan sebab dengan cacing kremi.

f. Pencegahan dan Pengendalian Pencegahan terjadinya penyakit cacing kremi dapat dilakukan dengan menjaga diri dan selalu berperilaku hidup bersih. Sangat penting untuk menjaga kebersihan pribadi, dengan menitikberatkan kepada mencuci tangan setelah buang air besar dan sebelum menyiapkan makanan. Pakaian dalam dan seprei penderita sebaiknya dicuci sesering mungkin dan dijemur di bawah sinar matahari secara langsung. Sedangkan untuk mengendalikan tersebar luasnya infeksi cacing kremi ini dapat dilakukan langkah-langkah umum meliputi; 1. Mencuci tangan sebelum makan dan setelah buang air besar 2. Memotong kuku dan menjaga kebersihan kuku 3. Mencuci seprei minimal 2 kali/minggu 4. Mencuci jamban setiap hari 5. Menghindari penggarukan daerah anus karena bisa mencemari jari-jari tangan dan setiap benda yang dipegang/disentuhnya 6. Menjauhkan tangan dan jari tangan dari hidung dan mulut.

10

3. Ancylostoma duodenale dan Necator americanus a. Klasifikasi Ilmiah Kingdom : Animalia Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Nematoda : Secementea : Strongilodae : Ancylostomatidae : Necator/Ancylostoma : Necator amirecanus Ancylostoma duodenale

b. Epidemiologi Infeksi ini menyebar secara kosmopolit, terutama di area tropis dan subtropis. Lingkungan yang paling cocok sebagai habitatnya (larva rabditiform dan filariform), yaitu daerah dengan suhu dan kelembapan tinggi (perkebunan dan pertambangan). Insidennya cukup tinggi di Indonesia dan banyak ditemukan di pedesaan (pekerja perkebunan dan pertambangan yang kontak langsung dengan tanah). Habitat yang cocok untuk pertumbuhan larva ialah kondisi tanah yang gembur (humus dan pasir). Suhu optimum untuk perkembangan larva N.americanus berkisar 28-32C, sedangkan untuk A.duodenale berkisar 23-25C(Muslim, 2009). Penyebaran cacing ini di seluruh daerah katulistiwa dan di tempat lain dengan keadaan yang sesuai, misalnya di daerah pertambangan dan perkebunan. Prevalensi di indonesia tinggi, terutama di daerah pedesaan sekitar 40%.

c. Morfologi Telur Necator Americanus dan Ancylostoma duodenale sulit dibedakan, keduanya memiliki morfologi ujung membulat tumpul, selapis kulit hialin tipis transparan. Kedua spesies berbeda dalam hal ukuran. Ukuran A.duodenale betina antara 10-30mm diameter 0,60mm dan

11

ukuran jantan antara 8-11mm dengan diameter 0,45mm. Ukuran N.americanus betina yaitu antara 9-11mm dengan diameter 0,35mm dan ukuran jantan antara 5-9mm dengan diameter 0,30mm. Bentuk dari N.americanus seperti huruf S, memiliki gigi 3 pasang dengan ujung ekor jantan yang bursa kapularitek dan ujung ekor betinanya lancip. Bentuk A.duodenale seperti huruf C, memiliki gigi 2 pasang, ujung ekor jantannya bursa kapularitek dan ujung ekor betinanya lancip (Muslim, 2009).

d. Siklus hidup Cacing betina hidup di usus manusia menghasilkan telur, dan keluar bersama feces menjadi larva rabditiform, selama 1-2 hari berganti kulit menjadi larva filariform yang siap menginfeksi dan masuk menembus pori-pori kulit. Selanjutnya mengikuti aliran darah menuju jantung, paruparu, trakea, kerongkongan, dan masuk ke lambung. Perkembangan menjadi dewasa di usus halus(Muslim, 2009).

12

Sumber: http://www.dpd.odc.gov

e. Patologi Infeksi cacing tambang pada hakikatnya adalah infeksi menahun sehingga sering tidak menunjukkkan gejala akut. Kerusakan jaringan dan gejala penyakit dapat disebabkan baik oleh larva maupun oleh cacing dewasa. Larva menembus kulit membentuk maculopapula dan critem, sering disertai rasa gatal yang hebat, disebut ground itch atau dew itch. Waktu larva berada dalam aliran darah dalam jumlah banyak atau pada orang yang sensitif dapat menimbulkan bronchitis bahkan pneumonitis. Cacing dewasa melekat dan melukai mukosa usus, menimbulkan perasaan tidak enak di perut, mual, diare. Seekor cacing dewasa mengisap darah 0,2-0,3ml sehari sehingga dapat menimbulkan anemi yang

13

progresif, hipokromi, mikrositer, tipe defisiensi besi. Infeksi Ancylostoma duodenale lebih berat dari N.americanus (Djaenudin,2009).

f. Pencegahan dan Pengendalian Untuk menghindari infeksi cacing tambang dapat dilakukan dengan menggunakan alas kaki (sepatu/sendal) dan pencegahan penularan infeksi cacng tambang dilakukan dengan menghindari defekasi di sembarang tempat. Untuk pengendalian infeksi akibat cacing tambang dapat dilakukan dengan mengadakan sosialisasi mengenai pola hidup bersih dan sehat.

4. Ancylostoma branziliense dan Ancylostoma caninum

a. Klasifikasi Kingdom : Animalia Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Nematoda : Secementea : Strongilodae : Ancylostomatidae : Ancylostoma : Ancylostoma branziliense Ancylostoma caninum

b. Epidemiologi Kucing dan anjing merupakan hospes definitif A.braziliense dan A.caninum. Kedua parasit ini ditemukan di daerah tropik dan subtropik, juga ditemukan di Indonesia. Pemeriksaan di Jakarta menunjukkan bahwa pada sejumlah kucing ditemukan 72% A.braziliense, sedangkan pada sejumlah anjing terdapat 18% A.braziliense dan 68% A.caninum (Muslim, 2009).

14

Kedua parasit ini ditemukan di daerah tropik dan sub tropik; juga di temukan di indonesia. Permeriksaan di jakarta menunjukkan bahwa pada sejumlah kucing ditemukan 72% a. Branziliense, sedangkan pada sejumlah anjing terdapat 18% A.branziliense dan 68% A.caninum.

c. Morfologi A.braziliense mempunyai dua pasang gigi yang tidak sama besarnya. Cacing jantan panjangnya antara 4,7-6,3 mm, yang betina 6,1-8,4 mm. A.caninum mempunyai tiga pasang gigi: cacing jantan panjangnya kirakira 10 mm dan cacing betina kira-kira 14 mm (Muslim, 2009).

d. Siklus Hidup

Telur keluar bersama feses dan beberapa ada yang sudah menjadi larva yang keluar melalui air susu dari hospes. Telur dalam tanah dengan suhu dan kelembaban yang sesuai akan berkembang menjadi larva. Larva yang terinjak atau menempel pada kulit hospes akan menginfeksi hospes. Larva berkembang menjadi cacing dewasa dalam otot dan kemudian menetap di usus sebagai parasit yang menghisap darah dan melakukan reproduksi (Muslim, 2009).

e. Patologi

15

Pada manusia, larva tidak menjadi dewasa dan menyebabkan kelainan kulit yang disebut creeping eruption, creeping disease atau cutaneous larva migrans. Creeping eruption adalah suatu dermatitis dengan gambaran khas berupa kelaianan intrakutan serpiginosa, yang antara lain disebabkan Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum. Pada tempat larva filariform menembus kulit terjadi papel keras, merah dan gatal. Dalam beberapa hari terbentuk terowongan intrakutan sempit yang tampak sebagai garis merah, sedikit menimbul, gatal sekali dan bertambah panjang menurut gerakan larva didalam kulit. Sepanjang garis yang berkelok-kelok terdapat vesikel-vesikel kecil dan dapat terjadi infeksi sekunder karena kulit di garuk (Djaenudin,2009). f. Pencegahan dan Pengendalian Penularan bisa dicegah dengan menghindari kontak dengan tanah yang tercemar oleh tinja anjing dan kucing. Pengendalian dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan lingkungan serta menjaga kebersihan tubuh (Djaenudin, 2009).

5. Trichinella spiralis

a. Klasifikasi Kingdom Phylum Class Subclass Ordo Famili Genus Species : Animalia : Nemathelminthes : Nematoda : Adenophorea : Enoplida : Trichinelloidea : Trichinella : Trichinella spiralis

16

b. Epidemiologi Cacing ini tersebar diseluruh dunia kecuali di kepulauan Pasifik dan Australia. Frekuensi trikonosis pada manusia ditentukan oleh temuan larva dan kista di mayat atau melalui tes intrakutan. Frekuensi ini banyak ditemukan di negara yang penduduknya gemar memakan daging babi. Di daerah tropis dan subtropis frekuensi trikinosis sedikit. Infeksi pada manusia tergantung pada hilang atau tidak hilangnya penyakit ini dari babi. Dilihat dari daur hidupnya, ternyata babi dan tikus memelihara infeksi di alam. Infeksi pada babi terjadi karena babi makan tikus yang mengandung larva infektif dalam ototnya, atau karena babi makan sampah dapur dan sampah penjagalan (garbage) yang berisi sisa-sisa daging babi yang mengandung larva infektif. Sebaliknya, tikus mendapat infeksi karena makan sisa daging babi di penjagalan atau di rumah dan juga karena makan bangkai tikus. Frekuensi trikonosis pada manusia tinggi di daerah tempat orang banyak makan babi yang diberi makanan dari sisa penjagalan. Infeksi T. spiralis pada manusia tergantung dari lenyapnya penyakit ini pada babi, misalnya dengan sisa penjagalan yang mengandung potongan-potongan mentah. Pengolahan daging babi sebelum dimakan oleh manusia juga penting. Home made sausage dapat lebih berbahaya. Hendaknya dilakukan pula pendidikan pada ibu rumah tangga dalam cara memasak daging babi yang baik. Larva mati pada suhu kira-kira 60o C atau pada suhu jauh dibawah titik beku. Larva tidak mati dalam daging yang diasin atau diasap. (Entjang, 2011) Cacing ini kosmopili, tetapi di negeri beragama islam parasit ini jarang ditemukan pada manusia. Di eropa dan amerika serikat parasit ini banyak di temukan karena penduduknya mempunyai kebiasaan makan daging babi yang dimasak kurang matang.

17

c. Patologi Kelainan patologis pada trikinosis mulai terjadi akibat adanya invasicacingdewasa yang berasal dari perkembangan larva kedalam mukosa usus. Gejala dan keluhan penderita terjadi dua hari sesudah tertelan nyakista larva yang infektif. Penyakit trikinosisiniterbagi dalam 3 stadium klinis sesuai dengan periode dalam siklus hidupnya yaitu : Invasi usus oleh cacing dewasa Timbul gejala intestinal dini 1-2 hari setelah memakan daging babi yang kurang matang, berupa tidak enak perut serta diare. Migrasi larva Timbul 7-28 hari setelah memakan daging babi yang kurang matang. Gejala yang timbul berupa oedema terutama sekitar mata, myalgia (nyeri otot), sakit sendi, cefalgia (nyeri kepala), demam yg menetap selama perjalanan penyakit menyerupai demam pada typhus abdominalis.Pada perode ini mungkin disertai gejala gangguan paruparu berupa pneumonia atau gangguan cerebral atau kardiak. Pada infeksi berat kematian terjadi pada minggu ke 2-3, tetapi pada kasus biasa, kematian pada minggu ke 4-8. Kematian terjadi karena serangan pada alat vital. Sebelum gejala pada periode (2) ini timbul, didahului oleh eosinofil yg mulai timbul pada minggu ke 2, sampai mencapai puncaknya minggu ke 3-4, kemudian turun untuk mencapai normal kembali pada bulan ke enam. Proses pembentukan kista dan penyembuhan. Dimulai pada bulan ke 3 sejak larva tertelan hospes. Pada periode ini timbul kelemahan umum (malaise). Kadang-kadang orang yang sembuh dari penyakit ini, dalam beberapa tahun masih merasakan gejala-gejala sisa berupa sakit sendi, kelemahan, kaku, kehilangan kelincahan (Entjang, 2011).

d. Siklus Hidup

18

Sumber: http://www.dpd.odc.gov

Awal infeksi pada manusia terjadi dengan memakan daging karnivora dan omnivora mentah atau tidak dimasak dengan sempurna. Daging tersebut mengandung kista yang berisi larva infektif yang berjumlah mencapai 1500 buah. Daging dicerna di dalam lambung sehingga terjadi ekskistasi (larva keluar). Larva masuk kedalam mukosa usus kemudian masuk ke dalam limfa dan peredaran darah, lalu disebarkan ke seluruh tubuh, terutama otot diafragma, iga, lidah, laring, mata, perut, rahang, leher, bisep dan lain lain. Kurang lebih awal minggu ke 4 larva yang telah tumbuh hanya menjadi kista dalam otot bergaris lintang. Panjang kista 0,8-1 mm. Larva dalam kista dapat bertahan hidup sampai beberapa tahun. Kista dapat hidup di otot selama kurang lebih 18 bulan, kemudian terjadi perkapuran dalam waktu 6 bulan sampai 2 tahun. Infeksi terjadi bila daging babi yang mengandung larva infektif yang terdapat dalam kista dimakan. Di usus halus bagian proksimal dinding kista dicernakan dan dalam waktu beberapa jam larva dilepaskan dan segera masuk ke mukosa kemudian menjadi dewasa dalam waktu 1,5-2 hari (Onggowaluyo, 2000).

19

e. Pencegahan & Pengendalian Selalu melakukan pemeriksaan daging babi yang dijual, serta memasak daging babi dengan sempurna sebelum dimakan dapat mengurangi penyebaran trikinosis. Pembekuan daging babi dan daging lainnya hingga -35C dapat membunuh kista cacing. Selain itu mengupayakan agar babi yg diternakkan selalu diberimakanan yg dipanasi lebih dahulu, dan menjauhkan tikus dari lingkungan peternakan babi. Pencegahan dapat juga dilakukan dengan memusnahkan sisa potongan-potongan daging mentah yang banyak ditemukan di penjagalan, tidak memberi makan babi dengan daging sisa penjagalan, memasak daging babi dengan matang sempurna serta menghindari pengolahan daging babi yang diasap atau diasinkan. Diperlukan obat analgetik untuk menghilangkan sakit kepala dan nyeri otot (Entjang, 2011).

6. Toxocara canis dan Toxocara cati a. Klasifikasi Kingdom Phylum Class Subclass Ordo Famili Genus Species : Animalia : Nemathelminthes : Nematoda : Secernentea : Ascaridida : Ascarididae : Toxocara : Toxocara canis

Klasifikasi Toxocara cati Kingdom Phylum Class Subclass Ordo Famili : Animalia : Nemathelminthes : Nematoda : Secernentea : Ascaridida : Ascarididae

20

Genus Species

: Toxocara : Toxocara cati

b. Epidemiologi Toxocara canis dan Toxocara cati tersebar secara kosmopolit dan

ditemukan juga di Indonesia. Di Jakarta prevalensi pada anjing 38,3% dan pada kucing 26,0%. Prevalensi toxocariasis pada anjing dan kucing pernah dilaporkan di Jakarta masing-masing mencapai 38,3 % dan 26,0 %.

c. Morfologi Toxocara canis jantan mempunyai ukuran panjang 3,6-8,5 cm sedangkan yang betina 5,7-10 cm, Toxocara cati jantan mempunyai ukuran 2,5-7,8 cm, sedangkan yang betina berukuran 2,5-14 cm. Bentuknya

menyerupai Ascaris lumbricoides muda. Pada Toxocara canis terdapat sayap servikal yang berbentuk seperti lanset, sedangakan pada Toxocara cati bentuk sayap lebih lebar, sehingga kepalanya menyerupai kepala ular kobra. Bentuk ekor kedua spesies hampir sama; yang jantan ekornya berbentuk seperti tangan dengan jari yang sedang menunjuk (digitiform), yang betina ekornya bulat meruncing.

d.

Siklus Hidup

21

Sumber: http://www.dpd.odc.gov Gambar siklus hidup Toxocara canis dan Toxocara cati Telur yang keluar bersama tinja anjing atau kucing akan berkembang menjadi telur infektif di tanah yang cocok. Hospes definitif dapat tertular baik dengan menelan telur infektif atau dengan memakan hospes paratenik yang tinggal di tanah seperti cacing tanah dan semut. Penularan larva pada anak anjing atau kucing dapat terjadi secara transplasental dari induk anjing yang terinfeksi atau melalui air susu dari induk kucing yang terinfeksi telur tertelan manusia (hospes paratenik) kemudian larva menembus usus dan ikut dalam peredaran darah menuju organ tubuh (hati, jantung, paru, otak, dan mata). Di dalam orang larva tersebut tidak mengalami perkembangan lebih lanjut. e. Patologi Pada manusia larva cacing tidak menjadi dewasa dan mengembara di alat-alat dalam. Kelainan yang timbul karena migrasi larva dapat berupa perdarahan, nekrosis, dan peradangan yang didominasi oleh eosinofil. Larva dapat terbungkus dalam granuloma kemudian dihancurkan atau tetap hidup selama bertahun-tahun. Kematian larva menstimulasi respon imun immediate-type hipersisentivity yang menimbulkan penyakit visceral larva migrans (VLM), dengan gejala demam, perbesaran hati, dan limfa, gejala saluran nafas bawah seperti bronkhouspasme. Kelainan pada otak menyebabkan kejang, gejala neuro psikitrik/ensefalopati. Berat ringannya gejala klinis dipengaruhi oleh jumlah larva dan umur penderita. Umumnya penderita VLM adalah anak usia di bawah 5 tahun karena mereka banyak bermain di tanah atau kebiasaan memakan tanah (geofagia atau pica) yang terkontaminasi tinja anjing atau kucing.

f. Pencegahan dan Pengendalian

22

Pencegahan dan pengendalian infeksi dilakukan dengan mencegah pembuangan tinja anjing atau kucing peliharaan secara sembarangan terutama di tempat bermain anak-anak dan kebun sayuran. Pada manusia, pencegahan dilakukan dengan pengawasan terhadap anak yang

mempunyai kebiasaan makan tanah, peningkatan kebersihan pribadi seperti, kebiasaan mencuci tangan sebelum makan, tidak makan daging yang kurang matang dan membersihkan secara seksama sayur lalapan. 7. Trichuris trichiura a. Klasifikasi Trichuris trichiura Phylum Class Subclass Ordo Famili Genus Species b. Epidemiologi Manusia adalah hospes utama Trichuris trichiura, akan tetapi cacing tersebutjuga pernah dilaporkan di dalam kera dan babi. Frekuensi infeksi dengan cacing cambuk adalah tinggi, tetapi biasanya ringan. Frekuensi yang ditemukan di daerah-daerah dengan hujan lebat, iklim subtropik, dan tanah dengan kontaminasi banyak tinja (Brown, 1979). Kerusakan mekanikdi mukosa usus oleh cacing dewasa dan respons alergi disebabkan oleh jumlah cacing yang banyak, lama infeksi, usia, dan status umum hospes. Infeksi berat dan menahun terutama terjadi pada anak-anak (Muslim, 2009). Cacing ini bersifat kosmopolit; terutama ditemukan didaerah panas dan lembab seperti di indonesia. :Nemathelminthes :Nematoda :Adenophorea :Enoplida :Trichinelloidea :Trichuris :Trichuris trichiura

23

c. Morfologi Bagian anterior seperti cambuk dan meruncing, tigaperlima daripada seluruhnya dilalui oleh oesophagus yang sempit sempit yang menyerupai rantai merjan Bagian posterior yang lebih tebal, duaperlima dari seluruhnya berisi usus dan seperangkat alat reproduksi Panjang cacing jantan 30-45 mm dan yang betina 35-50 mm Bagian posterior betina membulat tumpul dan bagian posterior cacing jantan melingkar dengan satu spikulum dan sarung yang retraktil Telur , dengan ukuran 50-54 x 23 berbentuk seperti tempayan (gentong) dengan semacam tutup yang jernih dan menonjol pada kedua kutub. (Brown, 1979)

d. Siklus hidup Telur yang keluar bersama tinja, dalam keadaan belum matang (belum membelah), tidak infektif.telur demikian ini perlu pematangan pada tanah selama 3-5 minggu sampai berbentuk telur infektifyang berisi embrio didalamnya. Manusia mendapat infeksi jika telur yang infektif tertelan. Selanjutnya di bagian proksimal usus halus, telur menetas, keluar larva, menetap selama 3-10 hari. Setelah dewasa, cacing akan turun ke usus besar dan menetap dalam beberapa tahun. Waktu yang diperlukan waktu yang dibutuhkan sejak telur yang infektif tertelan sampai cacing betina menghasilkan telur adalah 30-90 hari (Djaenudin dan Ridad, 2009).

24

Sumber: http://www.dpd.odc.gov

e. Patologi Infeksi oleh cacing ini disebut Trichiuriasis, trichosephaliasis, atau infeksi cacing cambuk. Cacaing ini paling sering menyerang anak usia 1-5 tahun. Infeksi ringan biasanya tanpa gejala, ditemukan secara kebetulan saat pemeriksaan tinja rutin. Infeksi oleh Trichuris trichiura kadang-kadang terjadi bersama infeksi parasit usus lain. Parasit lain yang menyertainya adalah Ascaris lumbricoides, cacing tambang dan Entamoeba histolystica (Djaenudin dan Ridad, 2009). Trichiuris terutama hidup di coecum manusia, akan tetapi dapat ditemukan juga di dalam appendix dan ileum bagian distal. Pada orang dengan infeksi berat, cacing ini tersebar diseluruh colon dan rektum, dan kadang-kadang terlihat pada mukosa rektum yang mengalami prolapsus yang merupakan akibat mengejan pada waktu defekasi yang sering. Meskipun Trichiuris tersebar luas dan frekuensinya tinggi di banyak daerah, infeksi itu biasanya ringan (Brown, 1979).

25

f. Pecegahan dan pengendalian 1. Pencegahan a) Individu Mencuci tangan sebelum & sesudah makan; Mencuci sayuran yang dimakan mentah; Memasak sayuran di air mendidih;

b) Lingkungan Menggunakan jamban ketika buang air besar; Tidak menyiram jalanan dengan air got; Tidak jajan di sembarang tempat, pastikan bahwa penjual makanan memperhatikan aspek kebersihan dalam mengolah makanan 2. Penanganan atau Pengobatan a) Mebendazol Bentuk sediaan : tablet, sirup 100 mg/ 5ml (botol 30 ml) Cara kerja obat : memiliki khasiat sebagai obat kecacingan yang mempunyai jangkauan luas terhadap cacing-cacing parasit. Aturan pemakaian 100 mg, 2 kali sehari selama3 hari Efek yang tidak diinginkan : kadang-kadang terjadi nyeri perut, diare, sakit kepala, demam, gatal-gatal, ruam kulit Tidak boleh digunakan pada anak-anak balita dan wanita hamil. b) Albendazol; dosis tunggal 400 mg c) Oksantel pirantel pamoat; dosis tunggal 10-15 mg/kgBB

26

8. Strongyloides stercoralis a. Klasifikasi Phylum : Nematoda Kelas : Secernentea Ordo : Strongylida

Family : Strongyloididae Genus : Strongyloides Species : Strongyloides stercoralis b. Epidemiologi Daerah yang panas, kelembaban yang tinggi dan sanitasi kurang, sangat menguntungkan cacing strongiloides sehingga terjadi daur hidup yang tidak langsung. Tanah yang baik untuk pertumbuhan larva ini adalah tanah gembur, berpasir dan humus. Nematoda ini terutama terdapat di daerah tropik dan subtropik sedangkan d daerah yang beriklim dingin jarang ditemukan. c. Morfologi Cacing betina kecil, langsing seperti benang dan ukurannya kira-kira 2mm, dengan kedua ujungnya runcing. Cacing jantan lebih besar. Saluran pencernaan terdiri dari kapsul bukal kecil, esofagus panjang memanjang melalui pertigaan anterior tubuh, dan usus yang tipis. Larva rabditiform berukuran 225x16 mikron, sedangkan larva filariform ramping dan berukuran 630x16 mikron. Telur berbentuk lonjong, dinding tipis dan berukuran 50-58x30-34 mikron (Muslim, 2009) d. Daur hidup

27

Sumber: http://www.dpd.odc.gov Ditemukan tiga macam siklus hidup, yaitu (1) siklus langsung; (2) siklus tidak langsung (siklus bebas); dan (3) hiperinfeksi dan auto infeksi. Pada siklus langsung sama seperti sikus hidup cacing tambang, sesudah 2-3 hari larva yang berada dalam tanah, berubah menjadi larva filariform yang infektif. Jika menyentuh kulit manusia, menembus kulit tersebut, masuk ke kapiler dara dan terbawa aliran darah. Perjalanan yang selanjutnya sama dengan perjalanan cacing tambang, yang akhirnya tertelan sampai ke usus halus.waktu yang dibutuhkan larva filariform menembus kulit hospes sampai didapatkan larva rabditiform dalam tinja + 2-3 minggu. Pada sikus tidah langsung/ siklus bebas, larfa rhabditiform yang keluar bersama tinja, ditanah berubah menjadi cacing dewasa jantan dan betina. Setelah mengadakan kopulasi, cacing betina bertelur, diikuti menetasnya telur tersebut dengan mengeluarkan larva rabditiform, selanjutnya akan terjadi perkembangan dibawah ini. Sebagian akan mengulang siklus bebas cacing jantan dan betina diatas. Sebagian lagi, larva rhabditiform berubah menjadi larva filariform. Larva ini menembus kulit hospes, masuk kedalam siklus langsung seperti uraian sebelumnya. Hiperinfeksi dan autoinfeksi. Larva rhabditiform yang berada dalam lumen usus, menuju anus, berubah menjadi larva filariform yang dapat masuk kembali ke dalam tubuh hospes setelah menembus mukosa kolon.

28

Hiperinfeksi atau auto infeksi internal terjadi jika larva filariform menembus mukosa colon sebelum sampai di anus, sedangkan auto infeksi atau autoifeksi eksternal terjadi jika larva filariform melewati anus dan menembus kulit perianal. Baik hiperinfeksi maupun auto infeksi, keduanya akan sampai pada kapiler darah, kemudian masuk siklus langsung sehinga infeksi cacing ini dapat berlangsung terus menerus seumur hidupnya hospes (Djaenudin dan Ridad, 2009). e. Patologi Penyakit akibat cacing ini dikenal dengan strongyloidiasis,

strongyloidosis, diare chocin Cina. Pada gejala infeksi ringan biasanya tidak ditemukan gejala sehingga tidak diketahui hospes, sedangkan pada infeksi sedang , cacing dewasa betina ditemukan bersarang di mokosa duodenum, menyebabkan perasaan terbakar, seperti ditusuk-tusuk di daerah epigastrium, disertai rasa mual, muntah, diare yang bergantian dengan konstipasi. Akhirnya pada infeksi berat dan kronis, mengakibatkan berkurangnya berat badan, anemi, disentri menahun, serta demam ringan yang diakibatkan infeksi bakteri sekunder ke dalam lesi usus. infeksi berat yang disertai infeksi sekunder dapat menyebabkan kematian, disebabkan cacaing betina bersarang hampir di seluruh epitel usus, meliputi lambung sampai colon bagian distal (Djaenudin dan Ridad, 2009). f. Pencegahan dan penanganan Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi akibat cacing ini diantaranya adalah : menghindari kontak dengan tanah, tinja atau genangan air yang diduga terkontaminasi oleh larva infektif. Tindakan pencegahannya dilakukan sesuai dengan pencegahan penularan infeksi cacing tambang pada umumnya seperti memakai alat-alat yang menyehatkan untuk pembuangan kotoran manusia dan memakai sepatu atau alas kaki waktu bekerja di kebun. Upaya pencegahan juga dapat dilakukan dengan cara memberikan penyuluhan kepada masyarakat

29

mengenai cara penularan, cara pembuatan serta pemakaian jamban sehat (Shintawati, - ) Pengendalian bisa dilakukan yaitu apabila diketahui seseorang positif terinfeksi, orang itu harus segera diobati. Pengobatan dilakukan dengan menggunakan obat mebendazol, pirantel pamoat dan levamisol walaupun hasilnya kurang memuaskan. Saat ini obat yang banyak dipakai adalah tiabendazol.

30

BAB III PENUTUP

A. Simpulan Nematoda usus merupakan cacing yang kosmopolit yang juga merupakan jenis cacing parasit yang dapat mengganggu kesehatan hospesnya. Hospes dari cacing ini umumnya manusia, tapi ada juga yang menyerang hewan seperti anjing dan kucing. Spesies cacing yang termasuk Nematoda usus diantaranya Ascaris lumbricoides, Enterobius vermicularis (Cacing Kremi), Ancylostoma duodenale dan Necator americanus, Ancylostoma branziliense dan

Ancylostoma caninum, Trichinella spiralis, Toxocara canis dan Toxocara cati, Trichuris trichiura dan Strongyloides stercoralis Cacing parasit ini masih banyak terdapat di Indonesia. Hal ini disebabkan Indonesia memiliki iklim tropis yang cendelung merupakan kondisi dimana cacing ini dapat bertahan hidup, selain itu di Indonesia juga masih terdapat masyarakat yang memiliki sanitasi pembuangan tinja yang kurang baik, pendidikan yang rendah, sarana jamban sehat yang minim, serta kesadaran masyarakat untuk menerapkan PHBS yang rendah. B. Saran Agar tidak terinfeksi parasit nematoda usus ini dapat di cegah dengan menerapkan PHBS, terutama menggunakan jamban sehat. Selain menjaga kesehatan perorangan, menjaga sanitasi lingkungan dan juga hewan (ternak) juga sangat penting untuk menghindari infeksi cacing ini.

31

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Trichuris trichiura. http://pintarsains.blogspot.com/2011/09/klasifikasi-trichuris-trichiuracacing.html diakses pada 8 Maret 2013 Entjang, Indan. 2011. Mikrobiologi dan Parasitologi. Bandung : PT. Citra Aditya Bakti Muslim, 2009, parasitologi untuk keperawatan, Jakarta: EGC Natadisastra, Djaenudin. 2009. Parasitologi kedokteran. Jakarta: EGC Onggowaluyo, Jangkung Samidjo. 2000. Parasitologi Medik 1. Jakarta: EGC Shintawati, Rita. -. Nematoda Usus http://file.upi.edu/ diakses pada 8 Maret 2013 Staf Pengajar Departemen Parasitologi FK UI. 2008. Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

32

Anda mungkin juga menyukai