Anda di halaman 1dari 24

1

METODE PENELITIAN UNTUK KAJIAN LINGKUNGAN: RANCANGAN, INSTRUMEN DAN VARIABEL


Diabstraksikan dan dirangkum oleh: Prof Dr Ir Soemarno MS Bahan kajian dalam MK Metode Penelitian Kajian Lingkungan PM-PSLP PPSUB 2011

PENDAHULUAN

Data dan informasi ilmiah yang termaktub dalam khasanah pengetahuan dan ilmu semata-mata merupakan hasil rekayasa manusia yang semula diawali kekaguman manusia terhadap lingkungan di sekitarnya . Kekaguman ini menimbulkan keinginan manusia untuk mengetahui dan selanjutnya bagaimana alam dapat dikuasai manusia. Fenomena dan kejadian alam dapat dipelajari karena lazimnya hal-hal yang terjadi secara alamiah akan berlangsung menurut hukum keteraturan dan konsistensi. Lazimnya suatu "Ilmu" disusun berdasarkan pengalaman manusia dari hasil pengamatan manusia terhadap alam, semula menghubungkan satu fenomena satu dengan lainnya yang bilamana diketahui manusia disebut pengetahuan (knowledge). Pengamatan adalah suatu tindakan manusia dalam usaha memahami suatu kejadian (gejala), dan dari hasil pengamatannya manusia berusaha menarik kesimpulan umum (generalisasi). Pada prinsipnya ada dua pokok kegiatan mental manusia yang memungkinkan tersusunnya ilmu pengetahuan, yaitu (1) pengamatan, dan (2) inferensia. Keduanya merupakan komponen dari metoda penelitian ilmiah (scientific research). Scientific research: kegiatan manusia yang membutuhkan kecer dikan (astute), pengamatan atau persepsi obyektif dan dan daya evaluasi dan generalisasi yang tajam. Tujuan dari penelitian ilmiah adalah untuk memperoleh pengertian terhadap suatu fenomena atau proses dalam penyelidikan spesifik untuk dapat memprediksikan dengan akurat mengenai apa yang terjadi dalam proses itu sendiri atau memodifikasikan proses atau dalam mengembangkan proses baru seperti metoda produksi (teknologi) yang lebih efisien. Dilihat dari segi metodologi, seluruh ilmu pengetahuan didasarkan pada: (1). Pengamatan dan pengalaman manusia yang terus menerus; dan pengumpulan data yang sistematis. (2). Analisis yang digunakan dalam bentuk berbagai cara, antara lain: (a). Analisis langsung (direct analysis), (b). Analisis perbandingan (comparative analysis), (c). Analisis matematis dengan meng gunakan model matematis. (3). Penyusunan model-model atau teori, serta pemuatan peramalan-peramalan dengan menggunakan model itu. (4). Penelitian-penelitian untuk menguji ramalan-ramalan tersebut, hasilnya mungkin benar atau mungkin salah.

Proses penelitian juga dapat diartikan sebagai usaha manusia yang dilakukan secara sadar dan terencana dengan pentahapan proses secara sistematik untuk : (1) memecahkan masalah dan menjawab pertanyaan praktis di lapang, atau (2) menambah khasanah ilmu penge tahuan, baik berupa penemuan teori-teori baru atau penyempurnaan yang sudah ada. Dengan demikian penelitian juga dapat digunakan sebagai tolok ukur kemajuan suatu negara, karena melalui penelitian inilah ilmu pengetahuan dan teknologi baru dapat dihasilkan. Secara umum penelitian (research), dalam pengertian umum dapat dibedakan antara survai (survey) atau studi kasus (case study) di satu pihak dan penelitian (experiment) di pihak lain. Untuk dapat melaksanakan penelitian secara baik, diperlukan penguasaan yang memadai tentang metode penelitian itu sendiri, baik yang menyangkut pengetahuan teoritikal, ketrampilan dalam praktek dan juga pengalaman-pengalaman. Lebih dari itu, cara pelaksanaan penelitian yang baik saja sering dirasa belum mencukupi bila kita tidak berhasil menyebar luaskan dan meyakinkan akan kegunaan hasil penelitian tersebut kepada masyarakat, melalui publikasi-publikasi dan pertemuan ilmiah. Sementara orang seringkali mencampur-adukkan pengertian "metode penelitian" dan "metodologi penelitian". Metodologi penelitian membahas konsep teoritik berbagai metode, kelebihan dan kelemahannya, serta pemilihan metode yang akan digunakan dalam suatu penelitian. Sedangkan "metode penelitian" mengemukakan secara teknis tentang metode-metod yang dipakai dalam suatu penelitian. Seringkali metodologi penelitian diperkenalkan dalam maknanya yang teknis belaka, misalnya langsung membahas tentang populasi, teknik sampling, merumuskan masalah, mendisain dan merancang instrumen kuantifikasi data, dan sebagainya. Selain itu, banyak peneliti telah tenggelam pada berbagai teknik sampling, teknik instrumentasi, teknik analisis, tanpa menyadari bahwa dia telah menjadi penganut filsafat ilmu tertentu. Pengguna metodologi seperti biasnaya akan cenderung menolak cara-cara kerja lainnya sebagai spekulatif, subyektif, dan sebagainya. Sebaliknya para penganbut filsafat ilmu yang berbeda memberi cap "bohong", "munafik" pada lanbgkahlangkah kerja penelitian yang memulai tulisannya dengan "alasan pemilihan judul", dan lainnya. Mereka ini lupa atau tidak tahu bahwa ada metodologi penelitian berbeda yang menggunakan dasar filsafat ilmu yang lain, yang memang menuntut langkah kerja seperti itu. Berdasarkan uraian di atas maka seyogyanya seorang peneliti mengetahui dan menyadari bahwa dia menggunakan landasan filsafat ilmu yang mana untuk metodologi penelitian yang digunakannya; sehingga dia menyadari kelebihan dan kelemahan metodologi yang digunakannya, dan sadar pula bahwa ada metodologi epenelitian lain yang menggunakan landasan filsafat ilmu yang berbeda. Metodologi penelitian merupakan ilmu yang mempelajari metode-metode penelitian, ilmu tentang alat-alat untuk penelitian. Di lingkungan filsafat, logika dikenal sebagai ilmu tentang alat untuk mencari kebenaran, dan kalau disusun secara sistematis, metodologi penelitian merupakan bagian dari logika. Kita mengenal lima macam model logika, yaitu (1) logika formal Aristoteles, (2) Logika matematika deduktif, (3) Logika matematika induktif, (4) Logika matematik probabilistik, dan (5) Logika reflektif. Logika formal Aristoteles berupaya menyusun struktur hubungan antara sejumlah proposisi. Untuk membuat generalisasi, logika Aristoteles mengaksentuasikan pada prinsip-prinsip relasi formal antar proposisi. Proposisi merupakan penegasan tentang relasi antar jenis , proposisi juga dapat dimaknakan sebagai hubungan antar konsep. Logika matematika deduktif membangun konstruksi pembuktian kebenaran mendasarkan pada proposisi-proposisi kategorik seperti Logika tradisional Aristoteles.

Bedanya ialah kalau Logika Aristoteles mendasarkan pada kebenaran formalnya, sedangkan Lohgika Matematik deduktif mendasrakan pada kebenaran materiil. Logika Aristoteles menguji kebenaran formal dari proposisi khusus (yang disebut sebagai premis minor) berdasar kebenaran proposisi universal (disebut sebagai premis mayor). Kontradiksi antar keduanya berarti premis minor ditolak. Konstruksi keseluruhan pembuktiannya menggunakan silogisme: bahwa kalau a termasuk dalam b dan b dalam c, maka a termasuk dalam c. Logika matematik deduktif menguji kebenaran materiil kasus berdasarkan dalil, hukum, teori, atau proposisi umum universal lain. Logika Aristoteles menuntut dipenuhi syarat formal, logika matematika deduktif melihat kebenaran materiil. Proposisi universal dikenal dengan nama-nama: asumsi, aksioma, postulat, teori, dan tesis. Asumsi merupakan proposisi universal yang "self evident" benar dan tidak memerlukan pembuktian. Aksioma merupakan pernyataan tentang sejumlah sesuatu yang mempunyai hubungan tertentu dan benar; kebenaran ini kalau perlu dapat dibuktikan. Setara dengan "aksioma", dalam ilmu-ilmu sosial dikenal istilah "postulat". Tesis merupakan pernyataan yang telah diuji kebenarannya lewat evidensi, mungkin berlandaskan empoiris, atau berdasarkan argumentasi tergantung pada teori yang dianut. "Teori" merupakan suatu konstruksi pernyataan yang integratif yang didalamnya terkandung asumsi, aksioma/postulat, sejumlah tesis, dan sejumlah proposisi. Teori yang valid memuat lebih banyak tesis daripada proposisi. Logika matematik induktif dapat dibedakan menjadi dua, yaitu logika matematika induktif kategorik dan logika matematik probabilistik. Keduanya membangun generalisasi secara induktif berdasarkan empiri. Logika kategorik menetapkan kebenaran dengan penetapan yang implisit dan eksplisit terhadap ketegorisasi yang ditetapkan; sedangkan Logika probabilistik menamplkan proposisi universal relatif yang memberi peluang atas kemungkinan benar dan salah dalam proposisinya. Untuk menguji dan memperoleh kebenaran logika reflektif bergerak mondarmandir antara induksi dan deduksi. Untuk hal-hal yang deterministik digunakan logika reflektif kategorik, sedngkan untuk hal-hal yang indeterministik digunakan logika reflektif probabilistik.

POPULASI DAN SAMPEL

Dalam suatu penelitian survei, sumber informasi diperlukan untuk menjawab permasalahan penelitian. Sumber informasi ini dapat dibedakan menjadi sumber informasi utama (primair) dan sumber informasi pendukung (sekunder). Sumber informasi utama lazimnya juga dikenal sebagai "POPULASI". Dalam konteks ini "populasi" diartikan sebagai himpunan semua hal yang ingin diketahui, dan biasanya juga disebut sebagai "universum'. Populasi ini dapat berupa lembaga, individu, kelompok, dokumen, atau konsep. Dalam penentuan populasi ada empat faktor yang harus diperhatikan, yaitu (a) Isi, (b) satuan, (c) cakupan (skope), dan (d) waktu. Suatu teladan adalah : ISI SATUAN CAKUPAN WAKTU Semua murid yang berumur 14 tahun Yang bersekolah di SLTP Di Jawa Timur Pada tahun 1995.

Populasi juga dapat diartikan sebagai jumlah keseluruhan unit analisis yang ciricirinya akan diduga (akan dianalisis). Dalam konteks ini dapat dibedakan antara POPULASI TARGET dan POPULASI SURVEI. Populasi target adalah populasi yang telah kita tentukan sesuai dengan permasalahan penelitian, dan hasil penelitian dari populasi ini akan disimpulkan. Populasi survei merupakan populasi yang terliput dalam penelitian. Secara ideal kedua populasi ini sehatrusnya identik, tetapi pada kenyataannya seringkali berbeda. SAMPEL atau CONTOH adalah sebagian dari populasi yang diteliti/diobservasi dan dianggap dapat menggambarkan keadaan atau ciri populasi. Dalam teknik penarikan sampel dikenal dua jenis, yaitu penarikan sampel probabilita dan non probabilita. Sampel probabilita adalah teknik poenarikan sampel dimana setiap anggota populasi diberi/disediakan kesempatan yang sama untuk dapat dipilih menjadi sampel. 1. Sampel Probabilita Ada empat macam cara yang lazim: (1). Penarikan sampel Secara Acak Sederhana (Simple Random Sampling) Sampel acak sederhana adalah sampel ayang diambil sedemikian rupa sehingga anggota populasi mempunyai kesempatan/peluang yang sama untuk dipilih menjadi sampel. (2). Penarikan Sampel Sistematis (Systematic Random Sampling) Metode pengambilan sampel dimana anggota sampel dipilih secara sistematis dari daftar populasi. Daftar populasi harus berada dalam keadaan acak atau membaur. (3). Penarikan Sampel Stratifikasi (Stratified Random Sampling) Apabila kita akan mengkaji hubungan antar variabel, atau kita melibatkan variabel bebas dan variabel tidak bebas (terikat), maka diperlukan metode penarikan sampel berlapis atau berstrata. Suatu kriteria yang jelas harus ditetapkan untuk membatasi strata. Penarikan sampel dari setiap strata dapat dilakukan secara pro porsional atau tidak proporsional. Keuntungan dari cara penarikan sampel ini adalah (a) semua ciri populasi yang heterogen dapat terwakili, (b) dapat dikaji hubungan antar strata, atau memban dingkannya. (4). Penarikan Sampel Secara Bergerombol (Cluster Sampling) Dalam praktek seringkali kita tidak mempunyai daftar populasi yang lengkap. Dalam kondisi seperti ini diperlukan "POPULASI MINI" yang sifat dan karakternya sama dengan seluruh POPULASI. Populasi mini seperti ini disebut CLUSTER atau GEROMBOL. Setelah cluster ditetapkan, barulah memilih sampel secara acak. Kelemahan cara ini adalah sulit mengetahui bahwa setiap gerombol menggambarkan sifat populasi secara tuntas. 2. Sampel Tidak Probabilita (1). Penarikan Sampel Secara Kebetulan (Accidental Sampling) Peneliti dapat memilih orang atau responden yang terdekat dengannya, atau yang pertama kali dijumpainya dan seterusnya. (2). Penarikan Sampel Secara Sengaja (Purposive Sampling) Peneliti telah menentukan responden menjadi sampel penelitiannya dengan anggapan atau menurut pendapatnya sendiri. (3). Penarikan Sampel Jatah (Quota Sampling)

Populasi dibagi menjadi ebberapa strata sesuai dengan fokus pene litian. Penarikan sampel jatah dilakukan kalau peneliti tidak mengetahui jumlah yang rinci dari setiap strata populasinya. Dalam kondisi ini peneliti menentukan jatah untuk setiap strata yang kurang-lebih seimbang. (4). Penarikan Sampel Bola Salju (Snowball Sampling) Bola salju dibuat dengan menggulung salju yang bertebaran di atas rumput, dari sedikit menjadi banyak dan besar. Pertama kali ditentukan satu atau beberapa responden untuk diwawancarai, sehingga berperan sebagai titik awal penarikan sampel. Responden selanjutnya ditetapkan berdasarkan petunjuk dari responden sebelumnya. Cara ini sering digunakan dalam penelitian-penelitian pemasaran.

PREPOSISI PENELITIAN

1. Konsep dan Variabel KONSEP adalah merupakan ide-ide, penggambaran hal-hal atau benda-benda atau gejala sosial, yang dinyatakan dalam istilah atau kata. Konsep dapat dibentuk dengan jalan abstraksi atau generalisasi. ABSTRAKSI adalah proses menarik intisari dari ide-ide, hal-hal, benda-benda, atau gejala sosial. Sedangkan GENERALISASI adalah menarik kesimpulan umum dari sejumlah ide- ide, hal-hal, benda-benda, atau gejala sosial yang khusus. Ciri dari suatu konsep adalah bersifat umum. Contoh yang mudah dipahami adalah konsep tanaman, ternak, "meja", "kursi", "masyarakat", "organisasi", "asimilasi", "kebahagiaan" dan lainnya. Konsep ber-fungsi untuk menyederhanakan pemikiran terhadap ide-ide, hal-hal, benda-ben-da, atau gejala sosial. Dalam konteks ini konsep harus didefinisikan dengan jelas dan tegas. Definisi merupakan pernyataan yang dapat mengartikan atau memberi makna suatu istilah atau konsep tertentu. Tiga hal pokok dalam membuat definisi adalah (1) apa yang mendefinisikan sebaiknya tidak mengandung istilah atau konsep yang didefinisikan, atau mengandung istilah sinonim, atau istilah yang erat bergantung pada apa yang didefinisikan; (2) definisi tidak dirumuskan dalam kalimat negatif, dan (3) definisi sebaiknya dalam bahasa yang sederhana dan jelas serta terperinci agar mudah dimengerti oleh orang lain dan komunikatif. Dalam penelitian empiris, konsep yang abstrak harus dapat diubah menjadi suatu konsep yang lebih konkrit agar dapat diamati dan diukur. Konsep yang lebih konkrit ini lazim dikenal sebagai VARIABEL, yaitu suatu konsep yang mempunyai variasi nilai. Misalnya konsep "BADAN" dan variabel "BERAT BADAN". 2. Jenis Preposisi Preposisi adalah suatu pernyataan yang terdiri dari satu atau lebih dari satu konsep atau variabel. Preposisi yang hanya terdiri atas satu konsep atau variebal disebut UNIVARIAT. Preposisi yang menyangkut hubungan antara dua konsep atau variabel disebut BIVARIAT, dan lebih dari dua konsep atau variabel disebut MULTIVARIAT. Beberapa jenis preposisi yang lazim digunakan adalah Aksioma, Postulasi, Teori, Hipotesis, dan Generalisasi Empiris.

Jenis Preposisi Generalisasi Empiris Hipotesis Teori Postulasi Aksioma.

Bagaimana dibuat Dibuat dari data Dibuat secara deduksi atau dari data Dibuat dari aksioma atau postulasi Dianggap benar Benar berdasarkan definisi

Dapat langsung diuji atau tidak ya ya ya tidak tidak

3. Teori dan Jenis Teori Suatu teori berusaha untuk menjawab pertanyaan "mengapa" dan "bagaimana". Teori adalah serangkaian konsep dalam bentuk preposisi-preposisi yang saling berkaitan, bertujuan memberikan gambaran yang sistematis tentang suatu gejala. Untuk melihat apakah suatu teori dirumus kan secara baik dapat dievaluasi melalui halhal (a) dapat diuji, (b) satuan analisis, (c) kesederhanaan, (d) dapat menjelaskan atau memprediksi suatu gejala. 4. Sekala Variabel Ciri-ciri atau karakteristik dari nilai variabel pada dasarnya dapat dibedakan menjadi empat tingkatan skala, yaitu SEKALA NOMINAL, SEKALA ORDINAL, SEKALA INTERVAL, dan SEKALA RASIO. Sekala Nominal hanya sekedar membedakan satu kategori dengan kategori lainnya dari suatu variabel. Dasar perbedaannya adalah penggo longan yang tidak saling tumpang tindih antar kategori. Sekala ordinal mempunyai sifat membedakan dan mencerminkan adanaya tingkatan. Misalnya jenjang kepangkatan meliter "Mayor", "Kapten", "Letnan". Sekala interval mempunyai sifat membedakan, mempunyai tingkatan dan mempunyai jarak yang pasti antara satu kategori dengan kategori lainnya. Misalnya variabel "umur". Sekala rasio mempunyai sifat membedakan, mempunyai tingkatan dan jarak, dan setiap nilai variabel diukur dari suatu keadaan atau titik yang sama (titik nol mutlak). Misalnya variabel "berat badan", keadaan tanpa bobot dapat dipakai sebagai titik nol mutlaknya. Sifat Sekala Membedakan ( =; #) Urutan (<;>) Jarak (+; -) Nol mutlak (x; :) Nominal ya Ordinal ya ya Interval ya ya ya Rasio ya ya ya ya

Dalam penelitian, selain "sekala" kita lazim mengenal istilah "indeks", yaitu ukuran gabungan untuk suatu variabel. Dari beberapa variabel kita menggabungkannya dengan cara etertentu untuk megukur suatu variabel atau konsep baru. Dalam proses penggabungan ini dapat digunakan pembobot yang sama atau berbeda untuk setiap variabel yang digabungkan. Dalam penggabungan ini dapat digunakan cara (1) Summated Rating, (2) Sekala Likert, dan (3) Sekala Guttman. Summated Rating: yaitu suatu cara pengelompokkan variabel dengan sekedar menjumlahkan skor dari nilai sejumlah variabel yang akan dikelompokkan. Sekala

Guttman atau Sekalogram: sekala yang bersifat unidimensional dan pernyataan/pertanyaan/variabel yang tercakup dalam sekala ini mempunyai bobot yang berbeda. Sekala Likert: suatu ukuran gabungan yang berusaha untuk mengurangi akibat dari ukuran yang multidimensional, dengan tujuan untuk memperoleh ukuran yang unidimensional. 5. Pengukuran Variabel Indikator adalah hal-hal yang digunakan sebagai kriteria untuk menunjukkan dan mengukur suatu konsep. Misalnya konsep "status sosial ekonomi" mempunyai indikatro-indikator "pendidikan", "peker-jaan", dan "penghasilan". Operasionalisasi konsep: upaya untuk men-jabarkan pengertian suatu konsep yang abstrak dengan menu-runkannya pada tingkatan yang lebih konkrit, dengan bantuan beberapa variabel sebagai indikator yang dapat menunjukkan dan mengukur konsep tersebut.

Dunia konsep (abstrak)

-------------------- X -------------------------

Operasionalisasi

X1

X2

X3

Dunia nyata/ empiris konkrit X1.1 X1.2

X2.1 X2.2

X3.1

X3.2

Keterangan: X = Status sosial ekonomi X1 = Pendidikan; X2 = pekerjaan; X3 = penghasilan X1.1 = jenjang pendidikan terakhir X1.2 = lama waktu pendidikan X2.1 = jenis pekerjaan utama; X2.2 = jenis pek. sampingan X3.1 = jumlah penghasilan utama; X3.2 = jumlah penghasilan sampingan X1,X2, dan X3 adalah indikator untuk X X1.1 dan X1.2 adalah indikator untuk X1. Definisi operasional merupakan petunjuk tentang suatu variabel yang diukur, sangat membantu dalam komunikasi antara peneliti. Misalnya, "Penduduk yang tergolong miskin adalah mereka yang mempunyai tingkat pengeluaran senilai kurang dari 320 kg beras per kapita per tahun untuk penduduk pedesaan dan 480 kg untuk perkotaan."

6. Hubungan antar variabel

Hubungan antara variabel berdasarkan sifat hubungannya dapat dibedakan menjadi hubungan simetris dan hubungan asimetris; berdasar kan jumlah variabel yang terlibat menjadi bivariat dan multivariat; berdasar kan bentuk hubungannya menjadi linear dan tidak linear; berdasarkan kondisi hubungannya menjadi hubungan yang perlu, hubungan yang cukup dan hubungan yang perlu dan cukup. Kaitan antara teori dengan hipotesis dan konsep dengan variabel dapat diabstraksikan sbb: . Tingkatan teori Teori KONSEP <-----------------------------> KONSEP

Tingkatan empiris

Hipotesis VARIABEL <---------------------------> VARIABEL

Dalam hubungan antar variabel seringkali ditemukan adanya variabel antara sbb:

Variabel bebas

Variabel antara

Var tidk bebas

X --------------------------> Z ---------------------------------> Y

Variabel bebas X1 Variabel antara Var tdk bebas Z ----------------------------------------- > Y Variabel bebas X2

Variabel kontrol: variabel yang berperan mengontrol hubungan antara dua variabel, yaitu hubungan semu atau sejati. Hubungan semu adalah hubungan antara dua variabel yang hanya ada dalam data, tetapi secara logika sebenarnya tidak ada hubungan. Hubungan ini ada karena terdapat variabel ke tiga yang berhubungan secara positif dengan kedua variabel. Ada-tidaknya kebun binatang hubungan positif Tingkat Y kejahatan hubungan positif Z Besar-kecilnya kota

7. Validitas (Keabsahan) dan Reliabilitas (keterandalan) Dalam usaha untuk memperoleh kejelasan tentang konsep atau hubungan antar konsep yang sedang diteliti, langkah penting yang harus dilakukan adalah mengadakan pengukuran. Dalam konteks pengukuran inilah muncul masalah keabsahan dan keterandalan. "Apakah anda betul mengukur apa yang hendak anda ukur?" Suatu penelitian disebut valid (absah) apabila peneliti memang menukur konsep yang digunakan dalam penelitiannya sesuai dengan apa yang hendak diukur dan konsep itu diukur secara tepat. Dengan kata lain keabsahan menyatakan tingkat kesesuaian antara konsep dan hasil pengukuran atau antara konsep dengan kenyataan empiris. Keterandalan mencerminkan kecepatan dan kemantapan alat ukur dalam mengukur suatu konsep, sehingga yang dipermasalahkan adalah kesesuaian antara hasil-hasil pengukuran di tingkatan kenyataan empiris.

10

RANCANGAN PENELITIAN:
RUMUSAN PERMASALAHAN, TUJUAN DAN KEGUNAAN, KERANGKA TEORI DAN KONSEPSI, HIPOTESIS

1. Pendahuluan Jika peneliti ingin usulan yang ditulis dapat bersaing maka ikutilah petunjuk format penulisan proposal yang diberlakukan. Mengapa harus diikuti ? Karena usul penelitian itu akan dievaluasi, yang pertama dinilai apakah format telah sesuai; jika tidak sesuai maka usul penelitian akan gagal memasuki babak penilaian akademis berikutnya yang menilai mengenai isi usul penelitian. Beberapa hal penting dalam penyusunan usul penelitian ialah (1) Rumusan permasalahan, (2) tujuan dan kegunaan, (3) kerangka teori dan konseptual dan (4) Hipotesis. Outline usul penelitian secara umum adalah sbb: judul, latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan, kerangka teori dan konseptual, hipotesa, metodologi: teknik pengambilan contoh, instrumen penelitian (untuk survey) rancangan percobaan (untuk experimen), metoda analisis - kalau ada model statistik. Urutan itu tidak baku, tetapi komponen-komponen itu harus ada. Para calon peneliti dan peneliti hendaknya menyadari bahwa penyusunan rancangan penelitian bukan hanya berguna bagi diri peneliti sendiri. Akan tetapi, juga bermanfaat bagi orang lain baik untuk memperoleh masukan, atau meyakinkan pihak pemberi dana. Rancangan penelitian yang diusulkan pada pihak lain, disebut usulan penelitian (research proposal). Sampai sejauh manakah kelengkapan penulisan rancangan penelitian ? A good research proposal is a final report minus data. Dalam keinginan yang ideal ini, berarti segala kegiatan dari tahapan penelitian harus ada dikemukakan dalam rancangan penelitian. Dari rancangan penelitian, pembaca dapat memprakirakan hasil dan kualitas penelitian yang akan dihasilkan. Hal ini tidak berarti rancangan penelitian tidak dapat dirubah, penyesuaian atau revisi rancangan dalam pelaksanaan penelitian selalu dapat dilakukan, demi tercapainya tujuan penelitian. Adalah tidak dapat dibenarkan apabila seorang peneliti beranggapan, model atau konsep analisis data itu tidak perlu dicantumkan dalam usul (proposal) penelitian . Analisis data itu adalah urusan belakang, nanti pasti akan dilakukan jika data telah terkumpul. Bilamana hal ini dilakukan oleh peneliti, seringkali penyelesaian laporan penelitian terlambat, karena (i) peneliti masih mereka-reka bagaimana menganalisa data, (ii) karena tidak mantap dalam konsep analisis, maka kurang rinci pula data yang dikumpulkan. Seringkali tujuan akan tidak tercapai karena setelah sampai pada analisis - ternyata data yang dikumpulkan tidak memadai. 2. Hakekat Penelitian IPTEK, ilmu pengetahuan atau sains dan teknologi adalah hasil dari kegiatan penelitian. Dengan demikian, penelitian itu pada hakekatnya adalah untuk menghasilkan sains dan teknologi. Kejadian alam dapat kita pelajari karena kejadian itu beraturan. Dari hasil mengamati kejadian alamiah ini timbullah apa yang disebut pengetahuan. Jadi pengetahuan lahir sebagai hasil pengalaman manusia. Ilmu pengetahuan (scientific knowledge) yang sering disebut sains (science) terdiri dari pengetahuan-pengetahuan ilmiah. Pengetahuan manusia yang telah tersusun dalam suatu kumpulan pengetahuan yang sistimatis disebut ilmu atau

11

science. Pengetahuan pada hakekatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang sesuatu obyek atau fenomena tertentu. Tidak semua pengetahuan disebut pengetahuan ilmiah. Sesuatu pengetahuan dapat disebut ilmiah jika telah dapat diterangkan terjadinya fenomena itu. Bilamana sesuatu kejadian belum diketahui penyebabnya, bukan berarti fenomena itu terjadi tanpa sebab, melainkan manusia belum mengetahui. Ketidaktahuan itu selalu menjadi tantangan bagi peneliti. Oleh karena itu, seni, agama, misalnya tidak tergolong pengetahuan ilmiah, karena kepercayaan, seni itu tidak dapat diterangkan dengan logika teori dan fakta. Bagi kita di Indonesia yang masih belum banyak mampu berperan dalam menghasilkan sains dan teknologi, masih dijumpai banyak hambatan dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Beberapa kelemahan yang ada pada staf akademik, antara lain kemampuan untuk mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan kedua tidak cukup waktu untuk mencurahkan waktunya dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan. Syarat peneliti yang baik, yaitu memiliki bekal teori cukup yang berkaitan dengan problematik penelitian ialah : (1) Kesungguhan dan kejujuran, dan berbudaya akademik; dan (2) Pengalaman melaksanakan penelitian. Dengan demikian, belajar meneliti tidak mungkin hanya dengan membaca buku teori metoda penelitian, atau "pertemuan di dalam kelas", belajar meneliti akan jauh lebih efektif jika melaksanakan "praktek meneliti". Para peneliti seringkali dalam menyusun rancangan atau melakukan penelitian tidak membaca hasil penelitian orang lain. Hal ini menyebabkan, penelitian yang ia laksanakan seolah-olah tidak pernah dilaksanakan orang lain. Bagaimana mungkin seorang peneliti akan mampu memberikan sumbangan pada tumpungan IPTEK, kalau dia tidak mengetahui sampai dimana sebenarnya IPTEK frontier ? Mereka harus belajar dari kegagalan atau keberhasilan dari peneliti lain dalam usaha memberikan sumbangan pada IPTEK. 2.1. Pengertian Ilmiah dan Metoda Ilmiah (Saintifik) Sesuatu yang ilmiah harus memenuhi dua syarat, yaitu: (1) fenomena itu dapat dijelaskan secara logis, dapat diterima oleh akal berda sarkan teori yang telah ada, dan (2) dapat dibuktikan secara empiris (data). Benda yang dilepaskan dari ketinggian tertentu diatas bumi akan jatuh ke bumi. Ini merupakan fakta empiris. Fenomena ini masih belum cukup disebut pengetahuan ilmiah bilamana belum dapat diterangkan alasan mengapa benda itu jatuh ke bumi itu. Setelah manusia mengetahui adanya gaya gravitasi bumi, maka pengetahuan jatuhnya benda ke bumi itu disebut pengetahuan ilmiah. Berkembangkan hukum benda jatuh. Berdasarkan pengetahuan ilmiah tersebut, kemudian manusia mampu memprakirakan kecepatan benda jatuh pada ketinggian, besarnya benda, dsb-nya. Teknologi merupakan hasil dari penelitian yang biasa disebut percobaan. Teknologi merupakan perpanjangan dari ilmu pengetahuan. Yakni penerapan ilmu pengetahuan dalam bentuk alat produksi dan konsumsi, barang konsumsi yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Pupuk, TV, bibit unggul, challenger dllnya adalah teknologi yang merupakan produk dari penelitian. 2.2. Metoda Ilmiah (Saintifik) Pengetahuan ilmiah hanya dapat diperoleh dengan melalui prosedur tertentu, yang disebut "Metoda ilmiah". Metoda ilmiah adalah searah dengan alur berfikir ilmiah yang terdiri dari urutan berfikir dari perumusan masalah, hipotesis, pengujian hipotesis dengan cara analisis data, dan kemudian pengambilan kesimpulan. Penelitian adalah kegiatan manusia yang sistematis untuk mencari kebenaran objektif, ditujukan untuk memberikan sumbangan pada khasanah Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, atau mencari jawaban terhadap permasalahan praktis.

12

Dilihat dari segi metodologi, perkembangan semua ilmu pengeta huan didasarkan pada: 1. Pengamatan dan pengalaman manusia yang terus menerus. 2. Pengumpulan data yang terus menerus dilakukan secara sistematis; 3. Analisis data yang ditempuh dengan berbagai cara, antara lain: (a). analisa langsung (direct analysis), (b). analisa perbandingan (com parative analysis); (c). analisa matematis dengan menggunakan model-model matematis. 4. Penyusunan model dan teori, serta penyusunan ramalan sehubungan dengan model itu, 5. Hasil percobaan mungkin berhasil atau tidak berhasil sesuai dengan teori. Jika terbukti tidak berhasil, terbuka kemungkinan untuk memperbaiki. Tetapi peneliti akan mampu memperbaiki bilamana mengetahui apa yang salah. Dengan demikian dalam perkembangan ilmu pengetahuan terjadi built-in self corrective system, yang memungkinkan disingkirkannya kesalahan demi kesalahan secara bertahap untuk menuju kearah kebenaran. 3. Penggolongan Penelitian Penelitian di perguruan tinggi digolongkan menurut tujuannya yaitu: a. Penelitian latihan yang ditujukan untuk meningkatkan kemam puan meneliti, b. Penelitian pengembangan dan penerapan ilmu dan teknologi (PIT), penelitian ini ditujukan untuk memberikan sumbangan pada ilmu pengetahuan dan menghasilkan teknologi, c. Penelitian kelembagaan yang ditujukan untuk pengembangan pendidikan tinggi sebagai suatu lembaga, d. Penelitian untuk memberikan sumbangan pada pembangunan regional. Penelitian latihan diperlukan untuk menghasilkan tenaga peneliti yang bermutu. Penelitian ini ditujukan dalam rangka upaya menguasai ilmu pengetahuan atau mengusai metoda penelitian. Penelitian golongan ke dua itu adalah untuk memenuhi fungsi perguruan tinggi/lembaga penelitian sebagai produsen IPTEK. Penelitian yang kedua ini dapat berbentuk penelitian dasar (basic research) yaitu penelitian yang ditujukan untuk memberikan sumbangan pada ilmu pengetahuan tanpa memperhatikan applikasinya, dan penelitian terapan (applied research) adalah penelitian yang ditujukan untuk memenuhi tujuan applikasi tertentu. Batas antara penelitian terapan dan dasar dapat bersifat tipis sekali, karena hasil penelitian dasar juga dapat secara tidak langsung bermanfaat untuk memberikan pemecahan masalah yang sifatnya terapan. Dalam situasi ini penelitian dasar memiliki aspek terapan. Ada pelbagai macam penelitian dalam kenyataan yang dapat dilakukan, a. Penelitian Diskriptif: Penelitian golongan ini derajatnya dipandang lebih rendah diban dingkan dengan golongan penelitian lainnya. Misalnya penelitian mengenai prevalensi penyakit tertentu di daerah A, pendapatan dari petani di daerah A. Banyak contoh yang lain, misalnya, judul penelitian adalah: Jumlah bakteri awal di dalam air susu sapi perah di kabupaten A. Tujuan penelitian untuk mengetahui jumlah bakteri awal yang terdapat di dalam air susu sapi perah pada perusahaan susu maupun peternakan sapi perah milik rakyat di wilayah kabupaten A. Kesimpulan penelitian, (a) jumlah bakteri awal di dalam air susu perah di kab. A lebih banyak dipengaruhi oleh faktor penanganan, dan (b) jumlah bakteri awal air susu sapi perah di kab. A termasuk dalam kategori susu yang diperoleh dengan banyak komtaminasi.

13

Contoh lain ialah penelitian prevalensi penyakit tanaman tertentu di suatu daerah atau monitoring populasi hama tanaman di suatu daerah. Penelitian semacam ini tidak lain hanya bersifat inventarisasi. Kualifikasi penelitian semacam ini mutunya kurang dibandingkan dengan penelitian yang analitis. Data yang dihasilkan inventarisasi ini memang tidak diragukan pentingnya bagi pengambil kebijakan, atau dalam penelitian selanjutnya. Hal penting yang dipermasalahkan bukan pentingnya data yang dikumpulkan, tetapi kualifikasi ditinjau dari proses penelitian kurang memadai. Penelitian itu hanya mampu menjawab "what" belum sampai pada "how" dan "why". b. Penelitian Analitis Dapat dibedakan dua macam yaitu diskriptif analitis dan analitis kuantitatif. Perbedaan antara dua macam penelitian ini terletak pada analisa yang dipakai, yang pertama menggunakan analisis tabuler, sedangkan yang kedua menggunakan metoda kuantitatif persamaan /model-model matematis. Keunggulan penelitian analisis kuantitatif, dapat digunakan untuk memprediksikan. 4. Rumusan Masalah Penelitian Dalam pengalaman melaksanakan kursus penelitian, saya seringkali ditanya mengenai isi yang harus dicantumkan dalam "heading" latar belakang dan masalah penelitian. Yang seharusnya dicantumkan dalam latar belakang adalah memberikan alasan mengapa peneliti memilih topik tertentu. Setiap peneliti, mahasiswa ataupun dosen yang sedang mencari obyek penelitian, seringkali mengalami kesulitan untuk merumuskan masalah penelitian. Titik tolak munculnya idea penelitian harus dimulai dengan masalah. Selanjutnya penelitian akan diarahkan untuk mencari jawaban terhadap masalah yang dikemukakan. Para mahasiswa bilamana ditanya, apa masalah penelitian mereka, pada umumnya mereka menyebutkan topik (judul) penelitian. Topik memang berkaitan dengan masalah penelitian, tetapi masalah penelitian harus dimunculkan terlebih dahulu, bukan judul penelitian ditentukan terlebih dahulu kemudian merumuskan problematik penelitian. Menyatakan masalah penelitian, dalam kenyataannya memang tidak selalu mudah. Para mahasiswa seharusnya dilatih untuk menyatakan permasalahan penelitiannya dengan singkat. Masalah penelitian harus dirumuskan dengan jelas, akurat. Rumusan masalah penelitian berguna untuk beberapa kepen tingan, yaitu (a) justifikasi atau alasan mengapa penelitian dilakukan bisa dilihat dari pentingnya permasalahan. Problematik penelitian hendaknya juga mencakup "What" "whom", "where", and "when", (b) mampu mengarahkan penelitian. 4.1. Peranan Teori dalam Perumusan Masalah Rumusan masalah itu lebih rinci diberikan dalam Kerangka Teori dan Konsepsi, pada bagian ini dicoba diungkapkan masalah, simplifikasi, dirumuskan dalam variabelvariabel yang dapat diamati. Jika penelitian berupa percobaan, dikemukakan teoriteori yang akan mendukung metodologi pelaksanaan percobaan. 4.2. Bagaimana mengungkapkan permasalahan ? Kata "masalah" memang mempunyai arti yang berbeda-beda, dapat berarti bidang cakup - atau mengenai. Seorang dokter yang didatangi pasien, selalu dihadapkan pada masalah untuk mengetahui mengapa orang itu sakit. Masalah penelitian dapat berupa pertanyaan yang muncul karena ketidak tahuan atau kesenjangan. Rumusan pertanyaan yang lebih spesifik akan lebih mudah dijawab daripada pertanyaan umum. Ada beberapa cara untuk mengetahui apakah rumusan masalah

14

telah dapat terungkap dengan baik. Difinisi permasalahan yang dimaksud dalam penelitian mempunyai arti yang spesifik. 4.3. Sumber Memperoleh Masalah Penelitian. Masalah penelitian dapat diperoleh dari beberapa sumber. Yang pertama, berasal dari teori yang sudah ada. Jika teori akan diangkat oleh peneliti, berarti ia akan menguji kebenaran teori itu dalam lingkungan yang sama atau dalam lingkungan yang berbeda, di mana sesuatu teori telah diterima. Dalam keadaan seperti itu, teori dalam penelitian tertentu berubah menjadi hipotesa, dan penelitian itu bertujuan untuk menguji hipotesa. Sumber yang kedua: berasal pengamatan di lapangan. Dalam situasi seperti itu, peneliti terpanggil untuk menjawab permasalahan praktis. Penelitian dapat ditujukan untuk mengisi kekosongan penge tahuan mengapa terjadi perbedaan antara "what is" (apa yang terjadi) dan "what should be" (apa yang seharusnya terjadi). Seorang peneliti dapat membuat percobaan untuk mengha silkan teknologi baru, misalnya beberapa penelitian yang dilakukan oleh Fakultas Teknik Unibraw, berupaya mengembangkan "konstruksi ulir", menampung kebisingan yang terjadi di pabrik untuk menjadi enersi, sehingga mampu menghemat enersi. Sebagai peneliti tentunya ingin berhasil menghasilkan teknologi seperti yang ia inginkan. Percobaan dilakukan. Penelitian itu tidak selalu berhasil mencapai tujuan, sukses menghasilkan teknologi. Penelitian untuk menghasilkan teknologi baru itu, bukan berhasil atau tidaknya yang menjadi ukuran. Pada tahapan tertentu, jika ia gagal, mampu menjelaskan kegagalannya, bila ia sukses ia juga mempu menjelaskan kesuksesan yang diraih. Seorang Peneliti berupaya melakukan penelitian percobaan bawang putih di dataran rendah. Rumusan masalah yang dikemukakan: "Produksi bawang putih di dalam negeri tidak cukup memenuhi kebutuhan, sehingga harus impor. Lahan dataran tinggi yang dapat ditanami bawang putih dengan produktif terbatas, untuk meningkatkan produksi dipandang perlu untuk mencoba menanam bawang putih di lokasi yang lebih rendah. Pertanyaan penelitian, apakah tanaman bawang putih dapat ditanam dengan menguntungkan di dataran rendah ?" Dalam diri peneliti paling tidak ada pengetahuan mengenai teori agronomi yang menyebabkan ia tertarik mencoba atau mencari peluang untuk menumbuhkan bawang putih di dataran rendah. Mungkin pada penelitian pendahuluan, peneliti masih mencoba-coba menanam di dataran rendah. Ada dua kemungkinan hasil yang akan diperoleh, bawang putih di dataran rendah memberikan keuntungan atau tidak menguntungkan bagi yang mengusahakan. Bilamana penelitian berhenti sampai disini, saya menganggap kualifikasi penelitian kurang berbobot. Kualifikasi penelitian akan menjadi lebih tinggi bilamana peneliti mampu menjelaskan mengapa bawang putih itu berhasil atau tidak berhasil ditanam di dataran rendah dengan menggunakan teori pelbagai ilmu agronomi, tanah, atau lainnya. Jika peneliti tidak mampu menjelaskan kegagalan atau kesuksesan penelitiannya, tidak ada bedanya dengan petani yang hanya coba- coba menanam tanaman yang tidak biasa ditanam. Jika ia gagal maka selesailah percobaan yang dilakukan, karena ia tidak mampu menggunakan teori untuk memperbaiki percobaannya lebih lanjut. Demikian pula seseorang insinyur teknik yang gagal atau sukses melakukan percobaan tertentu, tetapi ia tidak mampu menjelaskan kesuskesannya atau kegagalannya, berarti penelitian semacam ini belum memenuhi penelitian ilmiah (scientific research). Seringkali masalah penelitian tidak spesifik dirumuskan, hal ini menyebabkan penelitian tidak atau kurang terarah dalam upaya menjawab masalah. Contoh rumusan masalah yang tidak spesifik ialah "Indonesia pada saat ini kekurangan produksi

15

kedele, produktifitas kedele per hektar masih rendah, sebagian kedele masih diimpor". Rumusan masalah yang tidak spesifik itu akan memberikan arah penelitian yang berbeda-beda. Banyak sekali kemungkinan-kemungkinan rumusan yang dapat diformulasikan. Rumusan lebih lanjut yang lebih spesifik dapat diberikan untuk setiap bidang disiplin ilmu, agronomi, sosial-ekonomi, proteksi tanaman, teknologi. Teladan rumusan yang lebih spesifik ialah: Hasil penelitian padi unggul telah disebarkan oleh Dinas Pertanian Tanaman Pangan, walaupun petani telah menggunakan bibit unggul produktifitas kedele masih jauh lebih rendah daripada produktifitas yang yang dicapai oleh hasil Balai Percobaan" . Kedelai sebagai salah satu macam komoditi yang diusahakan petani, pasti mempunyai kaitan dengan tanaman lainnya. Oleh karena itu masalah rendahnya produksi kedele, bukan hanya berada dalam sistem tanaman kedele itu sendiri, melainkan pada sistem dari tanaman secara keseluruhan. Seseorang peneliti yang berupaya meningkatkan produksi jagung di Madura, tidak cukup berupaya memperkenalkan cara bercocok tanam varietas jagung unggul. karena umur jagung yang dikehendaki adalah umur pendek, walaupun ia tahu praktek kultur-teknis, hambatannya pada pola tanam secara kseluruhan. Rumusan yang terlalu spesifik, tanpa dimulai menganalisis sistem komoditi kedele akan mengakibatkan hasil penelitian dapat tidak ada gunanya untuk keperluan praktek. Misalnya, a. Peneliti dengan disiplin agronomi, tanpa memberikan justifikasi terlebih dahulu, langsung sampai pada rumusan permasalahan penelitian yang spesifik, yang dicerminkan dalam judul penelitian: Pengujian jarak tanam untuk meningkatkan produksi kedele. Tujuan penelitian semacam ini adalah sangat jelas, yaitu untuk mengetahui jarak tanam optimal, yang barangkali dikaitkan dengan kondisi lingkungan tertentu. b. Peneliti ekonomi pertanian ingin mengetahui penggunaan atau faktor produksi sumberdaya, yang diprakirakan merupakan salah satu sebab dari rendahnya produksi. Tujuan penelitian juga jelas, adalah untuk mengetahui alokasi penggunaan pupuk, tenaga kerja yang optimal. Pada akhir penelitiannya, peneliti menyimpulkan bahwa alokasi penggunaan faktor produksi belum optimal; disarankan supaya petani dapat menambah penggunaan faktor produksi. Penelitian (b) itu belum mampu menjawab permasalahan praktis dengan tuntas, karena banyak faktor yang menyebabkan tidak optimalnya penggunaan sumberdaya. 4.4. Masalah Praktis Perlu dirumuskan Lebih sederhana Prosedur Menganalisis Masalah: 1. Menemukenali penampilan masalah. Temukenali sosok masalah (performance problem), yaitu perbedaan antara "what should be done" dan "what is actually being done". 2. Mendiskripsikan Sosok Masalah. a. Where: Dimana masalah itu terjadi ? Apakah masalah itu terjadi di mana sesuatu pekerjaan itu dilaksanakan atau hanya pada lokasi tertentu ? b. WHO: Apakah masalah itu terjadi pada semua individu atau hanya sebagian individu ? c. WHOM: Adanya masalah itu berakibat pada siapa ? d. WHEN: Kapan masalah itu terjadi dan seberapa sering terjadi ? Kapan masalah itu mulai terjadi ?

16

Data pendahuluan memang diperlukan dalam men-diskripsikan masalah. Masalah dapat dilihat dari magnitude dan distribusi kejadian. Misalnya dalam dunia kedokteran menghadapi masalah dalam pelaksanaan Keluarga Berencana, akibat sterilisasi. Informasi yang diperlukan dalam merumuskan masalah adalah sbb: a. Siapa yang meninggal: apakah yang meninggal hanya terjadi pada wanita, atau lakilaki juga banyak meninggal karena vasectomi ? b. Dimana kematian itu terjadi ? Apakah terjadi di semua kabupaten atau provinsi ? c. Kapan kematian itu terjadi, apakah bersifat musiman, atau jika dikaitkan dengan pelaksanaan operasi pada saat apa kematian itu terjadi. d. Bagaimana pasien itu meninggal; apa yang menyebabkan kematian - apakah dapat dihindari. Jika beberapa informasi itu tidak tersedia, tidak berarti peneliti harus mulai penelitiannya dari awal. Gunakanlah teori-teori yang sudah ada untuk digunakan dalam menentukan variabel-variabel yang perlu diteliti. Jika informasi point (b) tidak tersedia, bukan berarti peneliti harus mulai dengan inventarisasi jumlah kematian yang terjadi. Upayakan mengenali kemungkinan sebab-sebab dari sosok masalah. Inventarisasi jawaban ini merupakan sumber hipotesa. Untuk itu peneliti harus menggunakan teori-teori yang relevan yang dapat membe rikan arah untuk menemukan variabel sebab-sebab terjadinya masalah. Paling tidak ada tiga kemungkinan terjadinya masalah ketidak lancaran tugas, yaitu (a) kesenjangan pengetahuan dan keakhlian, (b) kesenjangan motivasi, (c) hambatan. Tugas dari seorang peneliti adalah memperoleh bukti-bukti empiris sehingga dapat meng identifikasi sebab- sebab terjadinya masalah. Apakah pelaksana tahu cara melaksanakan tugas dengan baik ? Dengan kata lain apakah ia tahu cara melaksanakan pekerjaan ? Jika ia mampu maka sebab-sebab terjadinya masalah bukanlah disebabkan "skill and knowledge", harus dicari sebab- sebab lainnya. Jika masalah itu timbul karena adanya kesenjangan "skill and knowledge", pertanyaan berikut revelan untuk memperoleh informasi untuk memecahkan masalah: Apakah tugas dapat disederhanakan ? Apakah pelaksana pernah mahir melaksanakan tugas dengan baik, ternyata ia sekarang tidak mampu melaksanakannya ? Bilamana demikian apakah perlu praktek lebih sering karena keakhlian dapat hilang jika jarang dipraktekkan. Pertanyaan berikutnya mengapa terjadi penurunan kemampuan ? Langkah-langkah penyelesaian merupakan hipotesis, yang juga dapat diuji dengan melakukan ekperimen dalam upaya menyelesaikan permasalahan. Dengan menggunakan kerangka pemikiran ini, proble matik penelitian secermat mungkin dengan menggunakan kerangka permikiran yang relevant. 5. Tujuan dan Kegunaan. 5.1. Tujuan Penelitian Umumnya pernyataan tujuan penelitian dimulai dengan kalimat sebagai berikut: (1) untuk menentukan . . . . . . . dst.nya, (2) untuk memperoleh . . . . . . dst.nya, Dalam tujuan penelitian itu, dimaksudkan untuk menyatakan secara spesifik apa yang akan dilakukan dalam penelitian, dan dengan demikian dari pernyataan itu akan jelas nampak apa yang akan dihasilkan oleh penelitian. Jika tujuan itu telah dirumuskan dengan baik, akan sangat mudah bagi pembaca - bukan saja untuk mengetahui apa yang akan dicapai oleh peneliti, tetapi pembaca laporan penelitian akan segera dapat dengan mudah mengetahui apakah peneliti dengan laporan penelitiannya itu telah mencapai tujuan. 5.2. Kegunaan atau Manfaat:

17

Menyatakan manfaat apa yang diperoleh jika tujuan penelitin itu telah tercapai ? Apakah akan memberikan sumbangan pada ilmu pengetahuan ataukah berguna untuk menjawab persoalan dalam dunia praktek ? Jika peneliti mengatakan penelitian yang dikerjakan itu akan memberikan sumbangan pada ilmu pengetahuan, perlu dispesifikasi sumbangan itu dalam hal pengetahuan apa. Adalah tidak logis jika ia akan menyumbangkan pada khasanah ilmu pengetahuan, sedangkan ia sendiri tidak mengetahui penge tahuan frontier. Perlu diingat kembali bahwa penelitian yang dilaksanakan oleh seseorang peneliti biasanya merupakan salah satu bagian dari permasalahan dunia nyata. Masalah itu merupakan bagian atau komponen dari masalah-masalah lainnya. Fungsi merumuskan permasalahan adalah upaya mengkaitkan dunia nyata yang sangat komplek itu dengan permasalahan yang diteliti. Dunia nyata sangat komplek, kaitan antara masalah penelitian dengan dunia nyata telah dirumuskan dalam permasalahan penelitian. Jika masalah diangkat dari dunia praktek untuk menjawab perma salahan di lapangan, terjadi proses penyederhanaan dari permasalahan praktis menjadi permasalahan penelitian(researchable question). Oleh karena itu, pada akhir penelitian seringkali dicantumkan Implikasi penelitian terhadap kebijaksanaan. Pada bab inilah peneliti mencoba untuk mengem balikan kesimpulan hasil penelitian dengan kebijaksanaan yang diper lukan. Antara kesimpulan hasil penelitian dan implikasi bagi kebijakan, mungkin masih ada lompatan-lompatan, dalam hal mana peranan peneliti berupaya menyambung antara keduanya. Contoh: Petunjuk menulis tujuan penelitian dari penelitian untuk memecahkan permasalahan praktis: a. Seperti diatas: rumuskan permasalahan penelitian. b. Tuliskan secara ringkas "what - sosoh masalah dan diskripsikan alternatif tindakan atau kebijakan yang dapat dilakukan untuk menye lesaikan masalah. c. Tuliskan pernyataan yang menerangkan "kondisi" yang ada atau diperlukan untuk masing-masing alternatif yang dapat dilakukan. Tuliskan pula apakah tindak yang dapat dilakukan itu dapat menyelesaikan permasalahan. 5.3. Tinjauan Pustaka Tinjauan pustaka itu sengaja diletakkan setelah "tujuan penelitian" bukan sesudah hipotesa, dengan alasan peneliti atau pembaca dapat diarahkan bacaan yang diperlukan. Dalam tinjauan pustaka, dikemukakan hasil penelitian lain relevant yang pernah dilaksanakan oleh peneliti lain dalam pendekatan permasalahan penelitian: teori, konsep-konsep, analisa, dan kesimpulan, kelemahan dan keunggulan pendekatan yang dilakukan orang lain. Peneliti harus belajar dari peneliti lain, untuk mengindari duplikasi dan pengulangan penelitian, atau kesalahan yang sama seperti yang dibuat oleh para peneliti sebelumnya. Hal ini hanya mungkin dilakukan bilamana cukup banyak membaca hasil penelitian orang lain. Tidak semua bahan sitasi yang diambil dari tulisan orang lain Pustaka selalu pantas dimasukkan dalam tinjauan pustaka. Saya seringkali menjumpai, dalam rancangan penelitian, keadaan daerah penelitian dicantumkan dalam tinjauan pustaka, dengan alasan diperoleh dari pustaka. Ini tidak benar. 6. Teori dan Kerangka Konsepsi. Teori

18

Teori adalah unsur informasi ilmiah atau pengetahuan ilmiah yang berlaku paling umum. Tetapi teori dapat diangkat menjadi "hipotesa", yaitu bilamana kita akan mengetes berlakunya suatu teori dalam lingkungan yang berbeda. Jika teori diangkap menjadi hipotesa, mungkin teori itu masih belum operasional dipetakan di daerah penelitian terpilih. Biasanya teori itu harus dioperasionalkan supaya dapat diuji secara empiris. Teori terdiri dari konsep-konsep dan variabel, yang harus didifiniskan dengan baik, dicantumkan dalam metoda penelitian. Model merupakan bagian dari teori. Model merupakan abstraksi dan simplifikasi dari dunia nyata, dapat berbentuk model statistik berupa persamaan atau bagan. Yang pertama, hubungan fungsionil dinyatakan dalam fungsi matematis, misalnya: fungsi respon antara produksi dan masukan. Untuk menyusun ini perlu pengetahuan statistik, dalam ekonomi ekonometrika, dalam biologi - biometrika, dalam sosiologi - sosiometri, teopri dirumuskan dalam pernyataan matematis) + statistika (alat untuk inferensia - proses generalisasi) + matematik (diperlukan dalam analisa kuantitatif). Konsep Konsep merupakan salah satu komponen dasar dalam teori, contoh misalnya aliran air, pertumbuhan tanaman, manusia, ternak; tingkat fertilitas, ketajaman pendengaran seseorang, kebisingan dalam lingkungan industri, ketahanan varietas terhadap kekeringan. Konsep yang disebut itu adalah abstrak. Tugas seorang peneliti pada tahapan pembuatan rancangan penelitian adalah menterjemahkan konsep abstrak itu menjadi empirical konsep yang dapat diamati di lapangan, baik dalam percobaan atau survey. Komponen dari konsep yaitu simbol dan makna. Setiap ilmu mempunyai simbol tersediri, yang mungkin hanya dimengerti oleh para ilmuan di lingkungannya sendiri. tetapi tidak semua fenomena dapat diukur secara kuantitatif diperlukan instrument lain untuk mewakilinya. 7. Hipotesis Apakah dalam penelitian selalu harus ada hipotesa ? Jawaban: ya. Tetapi tidak selalu perlu dirumuskan dalam bentuk kalimat dalam rancangan penelitian. Hipotesa adalah suatu perkiraan atau dugaan me ngenai fakta-fakta yang diperoleh atau jawaban sementara mengenai suatu gejala atau hubungan antara dua gejala impiris. Hipotesa harus didasari oleh teori - untuk menghindari hubungan palsu. Peneliti dapat sampai pada kesimpulan yang menyesatkan, karena kesimpulan yang diperoleh itu didukung dengan data tetapi tidak mempunyai dasar teori. Dengan demikian, peneliti tidak boleh memberikan hipotesa seenaknya, mencoba-coba menghubungkan satu konsep (variabel) dan konsep (variabel) lainnya. Hipotesa ilmiah adalah sesuatu hubungan antar konsep (variabel) yang dapat diterima oleh logika berdasarkan kerangka logika dengan menggunakan teori yang ada - tetapi belum dapat dipastikan kebenaran secara empiris. Teori dapat diangkat menjadi hipotesa yang akan diuji secara empiris dalam suatu lingkungan tertentu. Hasil uji hipotesa dapat mendukung teori atau dapat menolak teori. Oleh karena itu, hasil penelitian tidak perlu sesuai dengan hipotesa baik hipotesa yang diangkat dari teori ataupun hasil pengamatan lapang. Setiap tahap pengembangan pemikiran ilmiah dibuat dengan memperkirakan kejadian dengan mengembangkan hipotesa (yang diusahakan untuk dibuktikan) yang seringkali dimulai dengan dasar yang tidak kuat. Pemikiran ilmiah itu dapat diangkat jadi hipotesa, untuk dibuktikan dengan data empiris. Jika peneliti menolak atau mendu-

19

kung pemikiran ilmiah itu berarti ia telah berhasil memperluas khasanah dunia ilmu pengetahuan. 7.1. Prosedur perumusan hipotesis Penelitian yang baik yaitu penelitian yang menguji hipotesis hasil rumusan yang baik sangat diperlukan dalam proses pembangunan dengan dua alasan umum. Pertama, peranan kualitas sumberdaya manusia menjadi vital dalam program pembangunan yang sedang berjalan dan yang akan datang. Kenyataan ini mengakibatkan perhatian banyak diberikan pada kualitas sumberdaya manusia belakangan ini. Hal ini berkaitan dengan tingkat kesulitan masalah yang dihadapi dalam pelaksanaan program pembangunan tersebut semakin tinggi. Keadaan demikian memang tidak dapat dihindari karena merupakan sifat dari proses pembangunan itu sendiri yang terus mengalami perubahan kemajuan dengan waktu. Pada program pembangunan sebelumnya, perhatian banyak dicu rahkan pada pembangunan ekonomi khususnya sektor pertanian. Tujuan pembangunan tersebut yaitu peningkatan produksi untuk mencapai terutama swasembada pangan dapat diwujudkan dengan peningkatan perluasan areal tanam, penggunaan pupuk, pemeliharaan tanaman yang intensif dan pembangunan jaringan irrigasi. Penerapan tindakan ini dan penggunaan varietas unggul yang umumnya dihasilkan dari tehnik pemuliaan konvensional (seleksi dan hibridisasi) membawa kepada peningkatan produksi pada taraf swasembada. Apabila semua faktor-faktor produksi ini sudah diterapkan pada tingkat optimum, maka kendala upaya peningkatan produksi pangan lebih lanjut tentu tidak lagi terletak pada faktor-faktor ini. Keadaan sekarang membutuhkan pengetahuan yang lebih luas dan dalam. Sebagai kiasan, penciptaan varietas unggul tidak lagi dapat hanya mengandalkan pemuliaan tanaman konvensional, karena tehnik ini membutuhkan waktu yang lama khususnya untuk tanaman tahunan. Penciptaan suatu varietas unggul tanaman tahunan dapat menghabiskan waktu puluhan tahun dengan tehnik hibridisasi. Tehnik hibridisasi juga sulit diterapkan karena mengandung sifat untung-untungan (gambling) dalam proses rekonstitusi operon genetik yang diinginkan. Rekonstitusi operon genetik akan lebih mudah dilakukan, apabila pengetahuan mengenai biologi molekuler dan rekayasa genetik dikuasai. Ini tentu membutuhkan manusia yang berkualitas tinggi, karena pengetahuan ini tidak akan dapat dikuasai hanya dengan pendidikan biasa. Kualitas sumberdaya manusia yang telah menyelesaikan tingkat pendidikan tinggi sekalipun (setara S1) mungkin tidak banyak mengusai hal tersebut. Kesadaran akan masalah pemuliaan tanaman diatas mengakibatka ilmu-ilmu dasar seperti biologi molekuler and rekayasa genetik (genetic engineering) mendapat banyak perhatian. Persoalan yang sama juga dijumpai pada bidang ilmu pengetahuan biologi lain seperti kedokteran, peternakan dan perikanan. Alasan kedua adalah kebutuhan akan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi tidak dapat digantungkan pada sumber manca negara, karena selain tidak selalu tersedia sehubungan dengan persoalannya yang spesifik negara atau bahkan daerah, tetapi adanya pembatasan akibat keterlibatan unsur kompetisi. Sistem pendidikan struktural yang formal juga tidak dapat diharapkan dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia secara terus-menerus karena sifatnya yang terbatas. Seseorang yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi/tertinggi dapat meningkatkan kualitasnya hanya dengan penelitian. Ironisnya, banyak ilmuwan tidak tertarik melakukan penelitian sehingga kualitasnya tidak banyak berkembang, dan karenannya kelompok ini tidak memberikan sumbangan kepada perkembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan. Di pihak lain, ilmuwan yang ingin melakukan penelitian tidak begitu menguasai bagaimana membuat penelitian yang baik. Beberapa diantaranya melakukan penelitian hanya sekedar "partisipasi" atau untuk kenaikan pangkat, sehingga topik penelitian tidak jarang mengada-ada. Ini tercermin dari kenyataan bahwa banyak usulan penelitian yang ditolak dengan berbagai alasan antara lain (i) subjek yang diteliti tidak

20

relevan atau "mengigit", (ii) metodenya tidak sesuai dan (iii) kepakarannya tidak memadai. Kalau berbicara terus-terang, tidak sedikit orang membuat penelitian yang berulang dengan tujuan yang tidak jelas. Penelitian demikian tentu tidak dapat diharapkan memberikan sumbangan kepada perkembangan ilmu pengetahuan atau pembangunan. Di lain pihak, banyak usulan penelitian yang sifatnya coba-coba (trial and error) atau untung-untungan. Penelitian ilmiah adalah sesuatu yang direncanakan secara cermat mengikuti metode ilmiah untuk memecahkan masalah yang dipertimbangkan. Pada hakekatnya, penelitian ditujukan untuk menjawab pertanyaan yang diajukan dalam bentuk hipotesis. Prosedur perumusan hipotesis untuk diuji dalam suatu penelitian akan dibicarakan berikut ini. Uraian tersebut ditujukan pada penelitian yang menyangkut tanaman, tetapi pendekatan yang digunakan dapat diadaptasikan untuk penelitian bidang lain khususnya yang menyangkut biologi. 7.2. Konsep Perumusan Hipotesis 7.2.1. Prinsip Dasar Seorang ilmuan sejati dicirikan oleh sikap ilmiah (scientific attitute) yaitu suka bertanya (inquiring) and kritis (critical). Modal dasar ini berlaku bagi semua bidang ilmu pengatahuan dan harus dimiliki bila ingin mendapatkan rumusan hipotesis yang baik dan penelitian yang baik. Banyak pertanyaan yang harus dijawab dalam kehidupan ini, jika mutu kehidupan ingin ditingkatkan yaitu apa, dimana, kapan dan bagaimana. Ilmuan tidak akan berhenti pada pertanyaan ini tetapi menyakan lebih lanjut mengapa. Ini harus disadari bahwa proses perumusan hipotesis yang dimulai dengan pengajuan pertanyaan tidak selalu berjalan mulus. Ada dua keingin yang dapat bertentangan dalam perumusan hipoteisis yaitu perumusan yang berorientasi ilmiah, yang berasal dari pihak peneliti atau ilmuwan, dan yang berorientasi praktis, yang berasal dari pihak pemberi dana. Keadaan ini dapat berakhir pada hipotesis atau topik penelitian yang kelihatannya seperti dicari-cari dan mengada-ada. Karena kebuntuan mengakomodasi kedua keinginan tersebut, jalan pintas diambil yaitu jalur yang umum ditempuh peneliti terdahulu dengan sedikit perubahan disana-sini. Penelitian demikian dapat berulang- ulang dilakukan hanya karena perbedaan waktu, tempat dll., dengan alasan penelitian demikian belum pernah dilakukan. Prinsip dasar lain yang harus dipegang untuk mendapatkan topik penelitian adalah hukum sebab dan akibat. Semua fenomena yang terjadi di alam ini berasal dari hubungan sebab dan akibat yang sesuai dengan pepatah tiada asap kalau tiada api. Dengan perkataan lain suatu fenomena pasti ada sebanya, dan penyebanya ini dapat diketahui apabila fakta-fakta mengenai hal itu dicari dan dikumpulkan dengan cermat. Generalisasi dari fakta-fakta yang dikumpulkan kemudian dapat dirumuskan yang memberikan penjelasan kepada fakta atau observasi. Inilah suatu ciri penelitian ilmiah yaitu mencari hubungan sebab dan akibat. Generalisasi tersebut dapat berguna untuk memberikan arahan pada penelitian selanjutnya. Dalam banyak peristiwa, informasi mengenai akibat lebih sering tersedia, sehingga penelitian akan berfungsi untuk mencari penyebabnya. Tanaman mangga yang umumnya tidak berbunga atau berbuah pada musim penghujan tentu merupakan akibat dari proses dan faktor penyebabnya. Seseorang yang berfikiran ilmiah tidak akan menerima keadaan itu sebagaimana adanya, tetapi mengajukan pertanyaan; apa yang menyebakan demikian ?. 7.2.2. Observasi Berdasarkan uraian diatas, sumber masalah dalam penelitian menjadi sangat penting dalam perumusan hipotesis. Banyak peneliti yang akan melakukan suatu penelitian tidak dapat menjawab dengan tegas bila ditanyakan apa masalahnya ?.

21

Permasalahan diperoleh melalui observasi (pengamatan) yang dilakukan dengan metode ilmiah. Observasi ini sekaligus akan menjadi batasan domain (wawasan atau ruang lingkup) ilmiah. Jadi pembatasan sebaiknya jangan dilakukan terlebih dahulu, seperti dengan pendekatan komoditi, sebelum mendapatkan permasalahan karena tindakan demikian akan mempersempit perolehan masalah. Kemudian sesuatu yang tidak dapat diamati tidak dapat diteliti secara ilmiah, dan pengamatan tidak harus bersifat langsung. Misalnya inti atom atau magnit tidak dapat dirasakan secara langsung melalui panca indera, tetapi pengaruhnya dapat diamati dengan alat. Ini sama halnya dengan jalan pikiran manusia yang tidak dapat diamati langsung, tetapi pengaruhnya yang diwujudkan dalam tingkah laku dapat diamati. Observasi merupakan suatu seni, dan observasi yang jeli diharapkan dapat menghasilkan permasalahan yang menarik, hipotesis yang berbobot dan akhirnya topik penelitian yang "mengigit". Untuk itu. observasi harus dilakukan berdasarkan metode ilmiah yang dicirikan oleh hasilnya yang dapat diulangi. Kalau hasil observasi tidak dapat diulangi, maka itu hanyalah suatu kebetulan yang sulit diketahui proses yang menghasilkannya dan akhirnya faktor-faktor penyebabnya. Keadaan demikian akan membawa kesulitan atau bahkan ketidak-mungkinan dipelajari melalui penelitian. Karena itu pengamatan yang dilakukan dengan tepat menjadi sangat penting dan merupakan bagian yang paling sulit dalam kerangkan penelitian ilmiah. Pengamatan dapat dilakukan melalui semua panca indera; penglihatan, pendengaran, perasaan dll, tetapi panca indera sering bekerja secara bias yang menjadi kendala sebagian besar dalam mendapatkan permasalahan penelitian yang baik atau sesungguhnya. Pengamatan tidak selalu berarti kompleks, pengamatan yang sederhana sering menghasikan permasalahan yang berbobot. Newton yang duduk dengan santai dapat melakukan pengamatan yang sangat berarti dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan. Pengamatan yang tidak disengaja tentang kejatuhan sebuah appel membawa Newton mengembangkan hukum gravitasi yaitu setiap benda dalam jagat raya tarik-menarik satu sama lain oleh kekuatan yang semakin besar semakin besar massa benda. Hukum ini kemudian dapat menjelaskan pergerakan bulan pada orbit mengitari bumi dan bumi serta planit lain pada masing-masing orbitnya mengitari matahari. Bagaimana Newton membuat penemuan ilmiah besar hanya dari hasil pengamatan sederhana, banyak keadaan demikian sering dihubungkan dengan naluri ilmiah. Naluri ilmiah tentu tidak datang begitu saja, tetapi merupakan integrasi dari berbagai faktor termasuk tingkat penguasaan ilmu pengetahuan. Sir Isaac Newton adalah seorang ahli matematika dan menerbitkan suatu karya tulis berjudul Principia Mathematica yang dipertimbangkan kemungkinan sebagai karya tulis paling penting dalam ilmu pengetahuan alam. Suatu catatan yang dapat dibuat dari uraian diatas adalah bahwa banyak penemuan besar dihasilkan dari pengamatan yang tidak direncanakan. Ini sulit diterapkan dan hanya orang yang jeli atau mempunyai naluri pengamat yang beruntung dapat membuat penemuan besar dari pengamatan yang tidak disengaja, karena kita tidak tau kapan peristiwa demikian terjadi dihadapan kita. Kendalan lain dalam pengamatan adalah bahwa manusia pada umumnya cenderung melihat apa yang ingin dilihat atau apa yang dipikirkan untuk dilihat. Memang apa yang ada sesungguhnya sangat sulit diperoleh akibat pengetahuan yang terbatas. 7.2.3. Perumusan Masalah Setelah hasil pengamatan diperoleh, langkah kedua dari metode ilmiah adalah perumusan masalah yang berfungsi untuk membatasi dan menegaskan permasalahan. Pemikiran yang kritis diperlukan dalam proses ini untuk menilai hasil observasi, dan ini dapat dilakukan dengan mengajukan pertanyaan mengenai hasil pengamatan tersebut. Pertanyaan awal yang perlu dijawab adalah apa masalahnya ? dan apakah masalah itu cukup logis ?. Untuk memperjelas jawaban pertanyaan kedua, terutama bila hasil

22

pengamatan tersebut diperoleh dari penelitian, pertanyaan berikut dapat diajukan yaitu (i) bagaimana hal itu terjadi dan (ii) apa yang menyebabkannya. Pengajuan pertanyaan demikian membedakan ilmuwan dengan orang awam; setiap orang dapat melakukan pengamatan, tetapi tidak setiap orang mempunyai kuriositas. Suatu kenyataan adalah bahwa tidak semua orang melihat adanya kemungkinan hubungan dari suatu masalah dengan hasil suatu observasi. Sebagaimana diketahui, benda pada ketinggian tertentu yang tidak ditopang akan jatuh ke bumi diterima begitu saja selama ribuan tahun. Ilmuwan tidak menerima sesuatu begitu saja, tetapi menanyakan bahkan dengan risiko menjengkelkan dan tidak disenangi orang lain. Seorang yang sering mengajukan pertanyaan yang kritis dapat mendapat kesulitan besar karena dapat dipandang sebagai orang yang tidak manusiawi. Tetapi seseorang harus terus mengajukan pertanyaan jika ingin tetap menjadi ilmuwan, dan orang lain harus bersedia menerima pertanyaan yang menjengkelkan jika ingin mempunyai ilmu pengetahuan. Setiap orang dapat mengajukan pertanyaan, tetapi pertanyaan yang baik, seperti melakukan observasi yang baik, adalah suatu seni tersendiri. Agar mempunyai nilai ilmiah, suatu pertanyaan harus relevan dan dapat diuji (testable). Kesulitannya adalah bahwa sering sangat sulit atau tidak mungkin mengatakan sebelumnya apakah suatu pertanyaan relevan atau tidak relevan, dan dapat diuji atau tidak dapat diuji. Jika seseorang jatuh pingsan ditengah jalan, dan seseorang yang lewat dan ingin membantunya dan mengajukan pertanyaan apakah dia sudah makan. Orang yang tidak mempunyai pengalaman dalam hal ini tidak dapat memutuskan mengenai relevansi pertanyaan ini dengan peristiwa yang terjadi, bahkan dapat mengatakan orang yang mengajukan pertanyaan gila. Pada umumnya, pertanyaan ilmiah dimulai dengan bagaimana (how) atau apa/apakah (what). Pertanyaan yang dimulai dengan mengapa (why) adalah yang paling sering menyulitkan. 7.3. Rumusan Hipotesis Setelah pertanyaan diajukan, tahap berikutnya - yang kelihatanya tidak bersifat ilmiah - adalah melakukan penebakan (guessing). Ilmuwan harus melakukan penebakan jawaban dari perta nyaan yang diajukan, jawaban ini dapat berupa pertanyaan yang dapat dirubah kemudian ke dalam bentuk kalimat normal yang kemudian menjadi bagian dari hipotesis. Pengertian hipotesis dibatasi sebagai prinsip umum yang dapat diterima secara ilmiah yang ditawarkan untuk menjelaskan fenomena; atau hasil analisis sejumlah fakta dalam hubungan satu sama lain. Hipotesis dapat hanya berupa pernyataan umum yang diterima begitu saja atau pernyataan yang dibuat untuk diuji yang dikenal dengan hipotesis kerja (working hypothesis). Jadi hipotesis dapat timbul dari dua cara yaitu suatu fenomena diamati diikuti dengan pemeriksaan melalui pengumpulan fakta untuk menjelaskan fenomena tersebut yang melahirkan hipotesis. Cara lain adalah sejumlah fakta terkumpul dan kemudian dianalisis dan disintesis menjadi suatu pernyataan umum yang merangkum semua fakta tersebut dalam bentuk hipotesis. Cara pertama lebih banyak diterapkan dalam dunia penelitian, karena lebih terarah untuk mendapatkan permasalahan. Jarang orang mengum pulkan fakta tanpa tahu tujuannya seperti pada cara kedua. Banyak orang berhenti hanya pada pengamatan atau pengajuan pertanyaan. Beberapa ingin mengetahui jawaban pertanyaan tersebut, dan inilah yang dapat dikelompokkan sebagai ilmuwan. Kemungkinan jawaban dari suatu pertanyaan dapat beberapa atau bahkan ribuan. Pembatasan jawaban yang dianggap paling tepat perlu dilakukan karena pengujian beberapa apalagi ribuan pertanyaan tidak mungkin. Jawaban yang didukung oleh fakta yang paling banyak yang diperoleh dari acuan literatur menjadi kandidat hipotesis. Sampai tahap ini, seseorang tidak akan mengetahui apakah jawaban ini benar atau tidak sampai pengujian melalui penelitian

23

(percobaan) diselesaikan. Penebakan dan pengujian tebakan jitu (hipotesis) dapat berlangsung bertahun-tahun tanpa pernah mendapatkan jawaban yang benar. Kepercayan diri, naluri dan keberuntungan mempunyai peranan penting dalam penentuan tebakan jitu. Sebagai contoh, seorang petani yang pertama kali menanam tanaman tembakau pada suatu lahannya menghadapi masalah dalam pertumbuhan tanaman tersebut. Petani ini yang sudah berhasil nenanam tanaman lain pada lahan tersebut dan tembakau pada lahan lain mendatangi ahli pertanian dan menanyakan; apa yang salah pada tanaman tembakau saya. Ahli ini, setelah melakukan pemeriksaan di lapangan dan menerapkan pengatahuannya tetang tanaman serta membaca hasil-hasil penelitian serta bahan acuan lain yang berhubungan dengan tembakau, dapat mempersempit permasalahan kepada pertanyaan; Apakah kekurangan unsur hara dalam tanah menyebabkan penghambatan pertumbuhan batang dan daun tanaman tembakau tersebut ?. Sebelum sampai kepada pertanyaan itu, ahli tersebut telah mempertimbangkan berbagai kemungkinan lain seperti penyakit, air, cahaya dan bahkan metode budidaya tanaman tembakau. Tetapi fakta yang tersedia membawa kepada pertanyaan tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Cochran,W.G. dan G.M. Cox. 1957. Experimental Designs. John Wiley and Sons, New York. DP4M. 1993. Pedoman Pengelolaan dan Pelaksanaan Penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat. DP4M DIKTI, Jakarta. DRN. 1996. Petunjuk Penyusunan Proposal Riset Unggulan Terpadu (RUT) VI. MENRISTEK-DRN, Jakarta. DRN. 1997. Petuntuj Penyusunan Proposal Riset unggulan Kemitraan. MENRISTEKDRN, Jakarta Federer, W.T., 1963. Experimental design. Theory and Application. The Mcmillan Co., New York. Meyer, B.S., Anderson, D.B. and Bohning, R.H., 1964. Introduction to plant physiology. D. Van Nostrand, Princenton, New Jersey. Mutsaers, H.J.W., N.M. Fisher, W.O.Vogel, dan m.C.Palada. 1986. A Field Guide for on-Farm Research. Farming Systems Program, IITA, Ibadan nigeria. Semaoen, I. 1995. Rumusan Permasalahan, Tujuan dan Kegunaan, Kerangka Teori dan Konsepsi. Bahan Penataran Kiat Merancang, Menyusun dan

24

Mengkomunikasikan Usul Penelitian yang handal dan mampu bersaing. Lembaga Penelitian, Unibraw. .