Anda di halaman 1dari 3

REDENOMINASI DAN PELAKSANAANNYA DI INDONESIA

Kata Redenominasi, merupakan satu istilah dalam perekonomian Indonesia yang pasti sudah sangat dikenal dalam kalangan masyarakat. Tetapi, jika dilakukan survey, tidak semua kalangan masyarakat mengetahui apa sebenarnya pengertian dari kata Redenominasi ini, khususnya masyarakat awam. Bahkan, bisa saja ada beberapa persen di kalangan masyarakat awam yang tidak mengenal kata Redenominasi.

Apa Itu Redenominasi? Redenominasi adalah penyederhanaan denominasi (pecahan) mata uang menjadi lebih kecil tanpa mengubah nilai tukarnya. Redenominasi dilakukan dengan cara mengurangi digit angka nol pada setiap pecahan mata uang. Misal, Rp 1.000 menjadi Rp 1, atau Rp 10.000 menjadi Rp 10. Di dalam pelaksanaan Redenominasi terhadap mata uang, biasanya harga barang-barang juga ikut teredenominasi, yang mana tujuannya agar daya beli masyarakat tidak berubah. Jadi jika lebih diperhatikan mengenai Redenominasi, bahwasanya Redenominasi tidaklah menyebabkan suatu kerugian apapun seperti Sanering. Bercerita tentang pengertian Redenominasi, terutama di kalangan masyarakat, pada umumnya sering terjadi kesalahpahaman. Faktanya, masyarakat sering menganggap bahwa Redenominasi adalah Sanering, yaitu pemotongan nilai uang yang mengakibatkan daya beli masyarakat menjadi berkurang. Kesalahpahaman ini diakibatkan oleh karena faktor trauma yang terjadi di masyarakat. Masyarakat pernah mengalami penderitaan yang sangat berat akibat kebijakan Sanering (pemotongan nilai mata uang) yang dilakukan secara tiba-tiba oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1959, yang membuat nilai mata uang yang dipegang oleh masyarakat menjadi menurun tajam, sedangkan harga barang-barang mengalami kenaikan tajam. Jadi jika dilihat dari pengertian Redenominasi, tujuannya hanyalah untuk membuat nominal angka mata uang menjadi lebih kecil. Dengan semakin kecilnya nominal angka suatu mata uang maka akan cenderung tercipta mindset dalam kalangan masyarakat bahwa nilai dari mata uang tersebut turut berkurang. Jadi tidaklah mengherankan, mengapa Redenominasi sering dianggap sebagai Sanering dan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi masyarakat.

Latar Belakang Redenominasi Kebijakan Redenominasi yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terjadi karena dilatarbelakangi oleh beberapa hal, yaitu: 1. Tingginya nominal pecahan mata uang Rupiah, membuat pemakaian digit dalam penulisan jumlah uang menjadi banyak, sehingga mengakibatkan pemakaian mata uang Rupiah menjadi kurang efisien dan nyaman, jika dilakukan dalam satuan milyar atau triliun 2. Adanya anggapan bahwa semakin tinggi nominal pecahan mata uang, maka negara tersebut merupakan negara terbelakang atau negara sedang berkembang

Dari latar belakang tersebut, dapat dilihat bahwa tujuan Redenominasi dilakukan, bukanlah hanya untuk menyederhanakan denominasi mata uang agar lebih efisien dan nyaman dipakai, tetapi juga untuk menyetarakan ekonomi Indonesia dengan negara regional yang dapat membuat harga diri Indonesia lebih terangkat, sehingga dapat lebih bersaing dengan negara-negara yang sudah lebih dahulu maju, seperti, negara-negara yang ada di Benua Eropa dan Amerika. Redenominasi juga dapat meningkatkan kebanggaan nasional akan mata uang Rupiah dan meningkatkan kegiatan perekonomian, serta mengatasi berbagai kendala teknis, seperti : kesalahan dalam proses pembukuan transaksi atau kegiatan statistik lainnya.

Pihak-Pihak Yang Melakukan Redenominasi Di dalam pembuatan dan pelaksanaan Redenominasi, biasanya dalam suatu negara ada pihakpihak yang berwenang dalam melakukannya. Di Indonesia, yang menjadi pihak-pihak yang berwenang melakukannya adalah Bank Indonesia dan Pemerintah Indonesia sendiri. Walaupun hanya kedua pihak tersebut yang menjadi pihak yang berwenang dalam melakukannya, bukanlah berarti kedua pihak tersebut dapat melakukannya dengan sesuka hati. Kedua pihak tersebut juga harus dapat bekerjasama dengan pihak DPR/DPRD untuk bagaimana mensosialisasikan kebijakan tersebut kepada masyarakat, agar pihak-pihak tersebut mendapatkan persetujuan dari masyarakat, sehingga di suatu waktu tidak timbul pertentangan dari masyarakat terhadap kebijakan Redenominasi yang dibuat.

Saat Kapan Redenominasi Itu Perlu Dilakukan? Mengingat tentang pelaksanaan Redenominasi, biasanya suatu negara akan melakukan Redenominasi ketika makro ekonomi suatu negara stabil, pertumbuhan ekonomi suatu negara baik, dan inflasi suatu negara juga terkontrol. Di Indonesia sendiri, beberapa bulan yang lalu sempat tersiar berita mengenai rencana Bank Indonesia yang bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk membuat Kebijakan Redenominasi terhadap nilai mata uang Rupiah, dengan mengurangi tiga digit angka nol dibelakang nominal mata uang. Jika diperhatikan, alasan pemerintah Indonesia akan melakukan kebijakan itu adalah karena pemerintah melihat bahwa tingkat pertumbuhan perekonomian Indonesia sedang membaik, dan makro ekonomi serta inflasi di Indonesia juga stabil dan terkontrol. Hal inilah yang mendorong pemerintah Indonesia ingin melakukan rencana kebijakan tersebut, agar dapat mengefisiensikan pemakaian mata uang Rupiah dan menyetarakan ekonomi Indonesia dengan negara regional yang sudah maju. Tetapi, berita tersebut disambut dengan kurang baik oleh masyarakat Indonesia. Hal tersebut diakibatkan oleh trauma masyarakat di tahun 1959 yang lalu. Masyarakat menganggap itu sebagai suatu Sanering yang akan membuat masyarakat mengalami penderitaan kerugian yang sangat besar. Jadi yang menjadi tantangan sekarang bagi pemerintah Indonesia adalah, bagaimana cara meyakinkan masyarakat bahwa rencana Redenominasi mata uang tersebut bukanlah Sanering.

Cara Pelaksanaan Redenominasi Di dalam membicarakan topik Redenominasi, pasti ada yang namanya pelaksanaan. Menurut pengalaman beberapa negara yang telah melakukan redenominasi, secara garis besar ada empat tahapan besar yang harus ditempuh, yaitu : 1. Tahap Penyiapan, antara lain : Penyusunan blue print langkah-langkah pelaksanaan, dasar hukum yang kuat (dapat berupa UU) atau produk hukum lainnya untuk pelaksanaan program redenominasi, evaluasi atas sistem pembayaran, sistem akuntansi dan TI. Penyusunan strategi komunikasi dan sosialisasi kepada Pemerintah dan Stakeholders serta edukasi kepada masyarakat luas. Rencana pencetakan uang dan strategi distribusinya, dll. 2. Tahap Pemantapan, antara lain meliputi : pelaksanaan komunikasi dan koordinasi dengan Pemerintah, sosialisasi kepada stakeholders dan edukasi kepada masyarakat luas. Penyesuaian infrastruktur sistem pembayaran, akuntansi dan TI, dll. 3. Tahap Implementasi dan Transisi, antara lain : penerbitan uang baru bersama-sama dengan tetap berlakunya uang lama (dual circulation); penerapan dual price tagging serta penarikan uang lama secara bertahap sesuai kebutuhan perekonomian. Penerapan dual book entry/pelaporan apabila diperlukan, dll. 4. Tahap Phasing Out, antara lain : penarikan uang lama dan pernyataan tidak berlakunya uang lama serta penggunaan uang baru sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah. Jadi, di dalam Kajian Program Redenominasi Rupiah tahun 2010, Bank Indonesia dengan Pemerintah Indonesia berencana menggunakan empat tahapan tersebut sebagai cara dalam pelaksanaan Redenominasi di Indonesia. Mekanisme pelaksanaanya akan dilakukan penggantian mata uang Rupiah Lama dengan Rupiah Baru dan seluruh aset dan kewajiban dalam Rupiah Lama (termasuk tabungan di bank), harga-harga jual beli, sewa, dan kontrak (termasuk upah dan gaji) akan diredenominasikan dengan menghilangkan angka nol, misalnya sebanyak 3 angka.

Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Redenominasi http://bunda-bisa.blogspot.com/2013/01/sejarah-redenominasi-di-indonesia-1946.html http://xa.yimg.com/kq/groups/22674391/1610498770/name/Kajian+Redenominasi+Rupiah.pdf

Oleh : Bona Pasius Natanael 120522101 Akuntansi Ekstensi (Group A)