Anda di halaman 1dari 4

MODEL SNOWBALL THROWING DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA ACHMAD NADZIR Mahasiswa PPS Universitas Islam

Malang Prodi. Pendidikan Bahasa Indonesa Abstrak: Dalam realitanya siswa dihadapkan pada tingkat kesulitan menemukan masalah pokok berita dalam surat kabar. Siswa dituntut untuk dapat menggali berbagai sumber informasi dari berbagai media elektronik maupun cetak sehingga siswa memiliki wawasan sesuai tuntutan perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi sebagai alternatif dari pemecahan sulitnya meningkatkan kemampuan menemukan isi berita pada surat kabar, penerapan model pembelajaran Snowball Throwing (lempat bola salju) diharapkan proses pembelajaran menjadi lebih aktif, kreafif, edukatif, dan menyenangkan. Penerapan model pembelajaran dengan Model Snowball Throwing diharapkan dapat: (1) meningkatkan prestasi belajar, (2) meningkatkan aktifitas dan minat belajar, (3) menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, (4) meningkatkan kemampuan menemukan masalah dan menyimpulkan isi berita. Kata kunci: Model Snowball Throwing, Kemampuan Membaca Pemahaman.

a. Pendahuluan Dalam realitanya siswa sering dihadapkan pada tingkat kesulitan dalam menemukan masalah-masalah pokok isi berita dalam surat kabar. Kondisi saat ini banyak siswa yang tidak suka pada kegiatan membaca, sehingga membuat siswa mengalami kesulitan dalam memahami suatu wacana. Dengan demikian, tidak heran jika orang menyebutkan bahwa tradisi membaca sebagai ciri khas masyarakat terpelajar sangat menyedihkan. Sebenarnya, sebagai siswa dituntut untuk dapat menggali berbagai sumber informasi dari berbagai media elektronik maupun cetak. Selanjutnya siswa diharapkan mempunyai minat tinggi dalam membaca sumber informasi lain agar wawasan siswa berkembang sesuai tuntutan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tingkatan tertinggi dari kemampuan membaca adalah kemampuan membaca kreatif (Nurhadi, 1989:66). Artinya, seorang pembaca yang baik dalam penerapannya pada tingkatan ini tidak hanya sekedar menangkap makna tersurat (reading the lines), makna di atas baris (reading between the lines), tetapi juga mampu secara kreatif menerapkan hasil membacanya untuk kepentingan kehidupan sehari-hari. Istilah kreatif berupa tindakan lanjut setelah seseorang melakukan kegiatan membacanya. Jika seseorang membaca lalu berhenti pada saat setelah ia menutup buku, maka ia belum membaca kreatif, tetapi bila ada tindak lanjutnya yang akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari atau ditindaklanjuti dengan menemukan isi berita, maka hal tersebut termasuk membaca kritis dan kreatif. Keterampilan membaca kritis dan kreatif di atas, selain bisa diterapkan untuk membaca buku-buku umum juga untuk membaca teks berita surat kabar. Sebagai manifestasi kegiatan tersebut dapat dilihat dari proses menemukan masalah dan memahami isi berita. Teknik Pengembangan Formula Jurnalistik dalam memahami isi berita, merupakan teknik yang banyak digunakan dalam menjawab pertanyaan 5 W dan 1 H (What, Who, When, Where, Why, How). Formula ini mendistribusikan: apa yang terjadi, siapa pelaku peristiwa, kapan terjadi, dimana terjadi, mengapa terjadi dan bagaimana cara terjadinya peristiwa tersebut, sehingga penemuan dan pemahaman isi berita dapat diterima dengan lengkap. Sebagai alternatif dari pemecahan masalah tersebut dapat dilakukan melalui pembelajaran yang menarik. Salah satu pembelajaran yang menarik adalah menggunakan model pembelajaran Snowball Throwing. Istilah lain model pembelajaran ini adalah melempar bola salju. Model ini biasanya dilakukan di luar kelas. Berawal dari paparan di atas, pembelajaran yang menyenangkan sangat perlu dilakukan untuk mencapai tujuan proses pembelajaran yang diinginkan sekaligus untuk meningkatkan minat belajar siswa. Model pembelajaran Snowball Throwing dapat digunakan untuk meningkatkan kemampuan menemukan dan menyimpulkan isi berita. Dengan menggunakan model pembelajaran Snowball Throwing, siswa diharapkan dapat melakukan kegiatan pembelajaran secara baik dan memproleh hasil belajar secara optimal. b. Membaca Pemahaman Pada hakikatnya membaca merupakan proses memahami dan merekonstruksi makna yang terkandung dalam bahan bacaan. Pesan atau makna yang terkandung dalam teks bacaan merupakan interaksi timbal balik, interaksi aktif, dan interaksi dinamis antara pengetahuan dasar yang dimiliki pembaca dengan kalimat-kalimat, fakta, dan informasi yang tertuang dalam teks bacaan. Informasi yang terdapat dalam bacaan merupakan informasi yang kasat mata atau dapat disebut dengan sumber informasi visual. Pengetahuan dasar yang sebelumnya telah dimiliki pembaca merupakan informasi yang tersimpan dalam memori otak/pikiran pembaca atau dapat disebut dengan sumber informasi nonvisual. Kedua macam sumber informasi tersebut perlu dimiliki secara berimbang oleh pembaca. Artinya kemampuan mengenal informasi visual perlu diikuti dengan pengetahuan dasar yang diperlukan untuk memahami suatu teks bacaan. Demikian pula sebaliknya, pengetahuan dasar yang telah dimiliki perlu dilanjutkan dengan kemampuan memahami informasi visual yang

ada pada teks bacaan. Kemampuan penunjang lain yang perlu dimiliki pembaca yaitu kemampuan menghubungkan gagasan yang dimiliki dengan materi bacaan. Dalam kaitannya dengan pemahaman dan perekonstruksian pesan atau makna yang terkandung dalam teks bacaan (Winiasih, 2007: 3) Banyak definisi membaca yang dikemukakan oleh para ahli, baik membaca sebagai aktifitas umum maupun sebagai aspek yang digunakan dalam pembelajaran bahasa. Menurut Smith, 1978 dalam Endang Fauziati, (2002: 139) menerangkan bahwa membaca merupakan suatu proses yang bersifat transformative karena adanya pemindahan informasi dari penulis kepada pembaca. Ia menjelaskan bahwa membaca secara pragmatic adalah sebagai suatu pengertian pengiriman pesan oleh penulis melalui informasi visual dan nonvisual. Membaca merupakan kegiatan pemahaman terhadap pesan yang disampaikan oleh pengirim kepada si penerima. Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa, maka pendekatan pembelajaran muncul berdasarkan hakikat bahasa itu sendiri. Ada berbagai pandangan tentang bahasa, antara lain 1) bahasa adalah alat komunikasi; 2) bahasa terdiri atas beberapa keterampilan (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis), dan 3) bahasa memiliki unsur-unsur pembentuk yaitu unsur kebahasaan. Dari pandangan pertama muncul pendekatan komunikatif, pandangan kedua memunculkan pendekatan integratif, dan pandangan ketiga mengajukan pendekatan struktural bagi pembelajaran bahasa. Selain berbagai pendekatan yang menjadi pijakan pembelajaran bahasa, diperlukan pula model dan teknik yang sesuai dalam pembelajaran bahasa. Penggunaan pendekatan, model, dan teknik dalam pembelajaran bahasa sebaiknya secara bervariasi, artinya dalam pembelajaran bahasa digunakan lebih dari satu pendekatan, model, dan juga teknik. Pembelajaran membaca dengan pendekatan terpadu dilaksanakan dengan cara memadukan pelajaran membaca dengan pelajaran keterampilan berbahasa yang lain yaitu menyimak, berbicara, atau menulis. Dengan diintegrasikannya keempat keterampilan berbahasa dalam pembelajaran membaca, guru lebih dapat memanfaatkan aktivitas memperoleh informasi (information getting) melalui membaca dan mendengarkan, dan berbagi informasi (information sharing) dalam kegiatan menulis dan berbicara. Melalui kegiatan membaca dan mendengarkan siswa berlatih menangkap informasi dan melalui kegiatan berbicara dan menulis siswa berlatih berinteraksi dengan orang lain. Banyak model yang dapat digunakan dalam melaksanakan pembelajaran membaca, yang tentu saja harus dipilih berdasarkan keseuaian dengan komponen-komponen pembelajaran membaca yang satu dengan lainnya salaing terkait. Komponen-komponen tersebut adalah: perkembangan atau tingkat berpikir siswa (jenjang kelas), tujuan, materi, pendekatan, model, teknik, dan media pembelajaran sebagai media pendukung pencapaian tujuan pembelajaran. Sehubungan dengan langkah-langkah pembelajaran, Ruddel (1978) seorang ahli pengajaran khususnya bidang keterampilan membaca menyatakan bahwa dalam menuntun anak didik untuk mencapai tingkat pemahaman yang berdaya guna, seorang guru harus mengupayakan agar anak didiknya dapat menguasai langkah-langkah berikut: a) Menangkap rincian yang meliputi kemampuan menngidentifikasi, membandingkan, dan mengklasifikasikan gagasan-gagasan yang dituangkan penulis; b) Menangkap urutan (sequence) gagasan yang dipergunakan penulis untuk mendukung pokok-pokok pikirannya; c) Menemukan sebab akibat; d) Menemukan gagasan pokok dan gagasan penunjang; e) Meramalkan konsekuensi-konsekuensi yang bakal muncul pada bagian berikutnya dari bacaan; f) Menilai maksud yang dikemukakan; g) Berlatih memecahkan masalah yang dilemparkan oleh penulis. Setelah Anda melaksanakan pembelajaran membaca dengan menggunakan strategi pembelajaran membaca yang tepat seperti yang diuraikan di atas, dan untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran harus melakukan tahap Evaluasi. Evaluasi adalah suatu proses yang bertujuan mengukur keberhasilan suatu kegiatan yang telah dilakukan, dalam hal ini adalah kegiatan pembelajaran membaca. Evaluasi pembelajaran dilakukan dalam proses yang disebut dengan evaluasi proses dan pada akhir pembelajaran yang disebut dengan evaluasi hasil. Evaluasi proses dilaksanakan selama kegiatan pembelajaran berlangsung dengan menggunakan alat atau instrumen yang lebih menekankan pada instrumen non-tes. Aspek-aspek yang dinilai melalui instrumen nontes untuk pembelajaran membaca dapat berupa; motivasi, minat/antusias, dan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran. Evaluasi hasil yang dilakukan pada akhir pembelajaran mendapat penekanan pada hasil kegiatan membaca, oleh karena itu alat yang digunakan berupa tes yang meliputi aspek-aspek yang dibicarakan dalam bacaan. Tes bisa berupa tertulis dan lisan yang tidak keluar dari isi bacaan. c. Model Snowball Throwing Model pembelajaran memiliki makna yang lebih luas daripada suatu strategi, model, atau prosedur. Model pembelajaran mencakup suatu pendekatan pembelajaran yang luas dan menyeluruh (Joyce, Weil, dan Shower. 1992). Misalnya, problem-based model of instruction (model pembelajaran berdasarkan masalah) meliputi kelompok-kelompok kecil siswa bekerjasama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati bersama, siswa seringkali menggunakan berbagai macam keterampilan dan prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Jadi satu model pembelajaran dapat menggunakan sejumlah keterampilan metodologis dan prosedural. Model pembelajaran mempunyai empat ciri khusus: (1) rasional teoritik yang logis yang disusun oleh para pencipta atau pengembangnya,(2) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar, (3) tingkah

laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat terlaksana/ berhasil; dan (4) lingkungan belajar yang kondusif. Model dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi yang penting, apakah yang dibicarakan adalah tentang mengajar di kelas, atau praktek mengawasi siswa. Model pembelajaran diklasifikasikan berdasarkan tujuan pembelajarannya, sintaks (pola urutan), dan sifat lingkungan belajarnya. Berkaitan dengan cara mengajar, guru harus mempunyai berbagai variasi dalam melaksanakan pembelajaran yang selanjutnya disebut dengan model-model pembelajaran. Salahsatu contoh dari beberapa strategi/ model pembelajaran yang ada berupa model pembelajaran Snowball Throwing dan cara penerapannya. Snowball Throwing merupakan model pembelajaran yang dilakukan dengan cara: (1) Dibentuk kelompok yang diwakili ketua kelompok untuk (2) mendapat tugas dari guru kemudian (3) masing-masing siswa membuat pertanyaan yang dibentuk seperti bola (kertas pertanyaan) lalu (4) dilempar ke siswa lain yang (5) masingmasing siswa menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh. d. Penerapan Model Snowball Throwing Langkah-langkah Metode Pembelajaran Snowball Throwing sebagai berikut: (1) Guru menyampaikan materi yang akan disajikan, (2) Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masing-masing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang materi, (3) Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masing-masing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh guru kepada temannya, (4) Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok, (5) Kemudian kertas tersebut dibuat seperti bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama 15 menit, (6) Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian, (7) Guru memberikan kesimpulan, (8) Evaluasi, dan (9) Penutup. e. Kesimpulan Berdasarkan uraian dapat disimpulkan bahwa penggunaan model pembelajaran Snowball Throwing dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan sehingga dapat meningkatkan aktivitas proses pembelajaran siswa khususnya dalam memahami isi berita buku pelajaran maupun surat kabar sehingga siswa dapat membangun sendiri pengetahuan dan pengalamannya, dan dapat meningkatkan kemampuan menemukan pokok berita dan menyimpulkan isi pokok berita. Hal ini membuktikan bahwa metode pembelajaran Snowball Throwing dapat menciptakan pembelajaran yang menyenangkan sehingga dapat meningkatkan aktivitas proses pembelajaran dan peningkatan hasil belajar siswa. Diharapkan dari uraian ini model pembelajaran dengan Snowball Throwing dapat digunakan oleh guru/ pendidik, agar pembelajaran bisa berjalan lebih menarik, kreatif dan menyenangkan. f. Saran Model pembelajaran Snowball Throwing dapat meningkatkan aktivitas, minat belajar dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia, berikut disampaikan saran-saran: 1. Dalam kegiatan pembelajaran guru diharapkan menjadikan pembelajaran model pembelajaran Snowball Throwing sebagai suatu alternatif dalam mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia untuk meningkakan aktivitas dan hasil belajar siswa. 2. Karena kegiatan ini sangat bermanfaat khususnya bagi guru dan siswa, maka diharapkan kegiatan ini dapat dilakukan secara berkesinambungan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesaia maupun pelajaran lain. 3. Disarankan kepada guru bisa mengembangkan model pembelajaran ini baik dari langkah-langkah pembelajarannya maupun digunakan untuk mata pelajaran yang lainnya.

DAFTAR RUJUKAN Dahar, R. W. (1996). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga Hasibuan, J. J., Ibrahim, dan Tolience, A. J. E. (1988). Proses Belajar Mengajar Keterampilan Dasar Pengajaran Mikro. Bandung: Remadja Karya. Munandar, dkk. 1984. Memupuk Bakat dan Kreativitas Siswa Sekolah Menengah.Jakarta: Gramedia. Nurhadi. 1989. Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Membaca?. Malang: Sinar Baru Bandung dan YA3 Malang.

Pukur Balitbang Depdiknas. 2003. Model-model Pembelajaran Efektif. (www.puskur_balitbang_depdiknas.com).upadate 20 Maret 2010. Rustaman, N., Rochintaniawati, D., Nurjihani, M. K., subekti, R., Redjeki, S., Adi Yudianto, S., Dirdjosoemarto, S., H, Yanti., dan achmad, Y. (2001). Strategi Belajar mengajar. JICA IMSTEP: Tidak diterbitkan. Silberman,Melvin L.Active Learning.101 Cara Belajar Siswa Aktif. Bandung: Nusa Media.