Anda di halaman 1dari 9

1.

Jelaskan macam-macam bakteri pada sistem Gastroenterohepatologi: a. Gambaran mikroskopis & Klasifikasi (Ordo,Family,Class)? Jawab:

Yersinia Enterocolitica

Vibrio

Staphylococcus aureus

Shigella sp

Salmonella sp

Clostridium Perfringers

Clostridium Botulinum

Bacillus anthracis

Bacillus cereus

Campylobacter jejuni

Listeria Monocytogenes

Escherichia coli

1.

2.

3.

4.

b. Penyakit yang disebabkan & gejala klinisnya? Bacillus cereus Keracunan pangan yang diakibatkan oleh Bacillus sp ditunjukkan dari gejala diare, kejang (kram) perut, dan muntah. Bakteri yang telah diisolasi dari baso adalah B. peptonificans yang menyerupai B. cereus. B. cereus menyebabkan dua jenis penyakit yang dibedakan atas waktu timbulnya gejala dan sindroma penyakit. Penyakit pertama, waktu timbulnya gejala penyakit relatif lambat dengan sindroma diare, sedangkan pada penyakit yang kedua, gejala cepat timbul dengan sindroma emetik. O: Bacillales C: Cocci F: Bacillacea Bacillus anthracis Bakteri ini bersifat aerob dan non-motil merupakan bakteri pertama yang terbukti sebagai agen penyebab penyakit antrax yang mematikan. Antrax memang awalnya menyerang hewan, namun karena sifat sporanya yang tahan pada situasi yang kurang menguntungkan maka apabila daging hewan ternak yang terserang antrax tidak diproses dengan benar maka spora antrax akan tetap ada dan akan hidup pada manusia yang memakannya. Proses infeksinya bisa melalui 3 cara, melalui kulit, pernafasan, dan gastrointestinal. Spora antrax dapat tahan hidup di tanah selama sepuluh tahun, manusia biasanya terinfeksi karena menghirup spora antrax. O: Bacillales C: Bacilli F: Bacillaceae Campylobacter jejuni Penyebab enteritis dan bakteremia akut pada manusia. Bakteri mempunyai antigen O yang stabil panas. Terdapat 3 spesies Campylobacter yaitu C. jejuni, C. coli, C. laridis. Gejala yang ditimbulkan adalah sakit perut, demam (kadang-kadang > 40oC), dan diare, kadang-kadang diikuti muntah-muntah, diare berair, kadang-kadang berdarah. Pada gejala mirip disentri, darah segar, mukus dan leukosit ditemukan pada tinja. O: Campylobacterales C: Epsilon proteobacteria F: Campylobacteroceae Clostridium botulinum penyebab penyakit dan kematian oleh konsumsi sosis (botulus) dan penyakitnya disebut botulisme. Toksinnya bersifat tidak tahan panas (80oC, 10), tetapi sangat toksik (10-8 g mengakibatkan kematian). Sifat-sifat mikrobanya adalah Gram positif, motil (flagela peritrichous), anaerobik obligat, berbentuk m) dengan spora berbentuk oval. Botulisme pada manusia batang (2 10 disebabkan oleh tipe A, B, E. Pertumbuhan pada pH minimum adalah 4.7, penting untuk industri pengalengan.

Gejala dikelompokkan menjadi botulisme asal makanan (foodborne), botulisme pada bayi dan botulisme yang menimbulkan luka. Gejala botulisme pada makanan dapat muncul beberapa jam atau beberapa hari seperti lemas, fatig, vertigo, pandangan buram, kesulitan berbicara dan menelan akibat sarafnya terserang dan gagal bernapas yang dapat menimbulkan kematian. Pada botulisme tipe E, menimbulkan mual dan muntah-muntah dan mortalitas rendah. O: Clostridiales C: Clostridia F: Clostridiaceae 5. Clostridium perfringens Clostridium perfringens adalah bakteri Gram positif, batang anaerobik (mikroaerofilik) dan non-motil. Spora diproduksi segera dalam usus, memproduksi kapsul, memfermentasi laktosa, mereduksi nitrat dan toksin). Gejala penyakitmempunyai aktivitas lesitinase (aktivitas yang timbul meliputi sakit perut, mual dan diare akut, 8-24 jam setelah menelan sejumlah besar organisme. Penyakit berlangsung singkat, sembuh sendiri (self limiting), dan pulih dalam waktu 24-48 jam. C. perfringens dikelompokkan dalam lima tipe (A - E) sesuai dengan eksotoksin yang diproduksi; Tipe A, C dan D bersifat patogen untuk manusia. Tipe A dan C merupakan penyebab diare akut. Galur-galur tipe A menyebabkan gas gangren, radang usus besar, demam daerah perifer (tangan dan kaki) dan peradangan menyeluruh (septikemia). O: Clostridiales C: Clostridia F: Clostridiaceae Escherichia coli Enteropatogenik E. coli bersifat spesifik terhadap inang (host) dan menyebabkan diare tanpa darah. Enterohemoragik E. coli (O157:H7) menyebabkan hemoragik dan diare berdarah, enteroinvasif E.coli (EIEC) menyebabkan diare berdarah dengan gejala mirip disentri (Shigella), sedangkan enterotoksigenik E. coli (ETEC) menyebabkan diare pada bayi (infantile diarrhea) dan diare pada orang yang sedang bepergian dengan gejala mirip kolera. O: Enterobacteriales C: Gamma proteobacteria F: Enterobacteriaceae Listeria monocytogenes penyebab infeksi manusia adalah Listeria monocytogenes. Sepertiga infeksi manusia adalah perinatal, melibatkan wanita hamil, bayi dalam kandungan atau baru lahir. Duapertiga infeksi terjadi pada orang dewasa tidak hamil. Kebanyakan infeksi listeriosis terjadi pada orang yang daya tahannya menurun karena umur, kondisi seperti kanker, transplantasi organ, pemakai kortikosteroid, atau AIDS (acquired immunity deficiency syndrome). Gejala hanya demam ringan tanpa atau dengan gastroenteritis atau gejala mirip-flu, tetapi akibatnya pada janin atau bayi baru lahir dapat fatal. Gejala paling umum adalah septikemia, kadang-kadang disertai meningitis, juga terlihat luka pada kulit. Kebanyakan listeriosis disebabkan karena infeksi melalui makanan; tetapi luka pada kulit dapat sebagai penyebar mikroba O: Bacillales C: Bacilli F: Listeriaceae Salmonella sp Gejala penyakit yang ditimbulkan oleh salmonelosis manusia adalah demam enterik setelah infeksi oleh galur-galur tifus atau paratifus atau gastroenteritis/kolitis nontifus yang dapat berlanjut menjadi infeksi

6.

7.

8.

sistemik yang lebih serius. Manusia terutama peka terhadap infeksi oleh S. typhi dan S. paratyphi A, B, dan C, karena kemampuan galur-galur ini untuk menyerang dan berkembang biak dalam jaringan sel inang. Gejala klinis muncul 7 sampai 28 hari setelah pemaparan. Gejala klinis dapat berupa diare berair, atau jarang, sembelit (konstipasi), demam, sakit perut, pusing, mual, lesu, dan bercak-bercak merah di pundak, toraks, atau perut. Komplikasi demam enterik meliputi pendarahan usus atau perforasi usus. Gejala salmonelosis nontifus adalah mual, kejang perut, diare dengan air dan darah, demam singkat (< 48 jam), dan muntah yang muncul 8 sampai 72 jam setelah terpapar oleh bakteri. Makanan yang terkait dengan salmonelosis adalah telur, daging ayam, ikan, susu, daging sapi, susu bubuk tanpa lemak (S. Newbrunswiek), es krim, kelapa kering, air terkontaminasi, salad kentang dan permen cokelat. O: Psilotates C: Psilopsida F: Psilotacea 9. Shigella sp Shigella merupakan penyebab disentri basiler yang ditemukan oleh ahli mikrobiologi Jepang Kiyoshi Shiga pada tahun 1898. Terdapat 4 spesies yaitu Sh. dysenteriae yang umum terjadi di negara tropis (berat), Sh. flexneri, Sh. boydii (sedang) dan Sh. sonnei (ringan).Gejala yang timbul meliputi sakit perut, muntah, demam, diare berdarah, yang menyertai diare yang dapat berkisar dari gejala disentri klasik tinja berdarah, dalam kasus Sh. dysenteriae, Sh. flexneri, Sh. boydii sampai diare berair dengan Sh. sonnei. Penyakit berlangsung selama 3 hari sampai 14 hari dalam sebagian kasus dan tahap kerier (pembawa penyakit) dapat berlangsung selama beberapa bulan. Bentuk penyakit yang lebih ringan bersifat sembuh sendiri dan tidak memerlukan pengobatan, tetapi infeksi Sh. dysenteriae sering memerlukan penggantian cairan dan elektrolit serta terapi antibiotik. O: Enterobacteriales C: Gamma proteobacteria F: Enterobactericeae

10. Staphylococcus aureus O: Bacillales C: Cocci F: Staphylococcuceae 11. Vibrio Penyebab kolera adalah V. cholerae biotipe klasik yang menjadi penyebab KLB kolera. Kolera adalah infeksi non-invasif dimana organisme mengkolonisasi lumen usus dan menghasilkan enterotoksin (toksin kolera) yang kuat. Pada kasus yang parah, hipersekresi natrium, kalium, klorida dan bikarbonat yang diinduksi oleh enterotoksin menghasilkan diare pucat, berair, mengandung serpihan mukus, dan disebut diare air beras. Diare dapat mencapai 201 hari dan mengandung sebayak 103 vibrio per ml, disertai muntah, tetapi tanpa mual atau demam. Bila hilangnya cairan dan elektrolit tidak diganti maka tekanan dan volume darah dapat turun, viskositas darah naik, gagal ginjal dan sirkulasi terhenti. Pada kasus fatal kematian terjadi dalam beberapa hari. O: Vibrionales C: Gamma proteobacteria F: Vibrionaceae 12. Yersinia enterocolitica

Bakteri ini bisa menyebabkan penyakit yersiniosis yaitu infeksi enteritis, dangastrointestinal dengan gangguan-gangguan seperti ileitis terminal, serta dikenal sebagai penyakit usus buntu semu (pseudoappendicitis), limfadenitis mesenterik. Gejala-gejala penyakit meliputi demam, sakit perut, diare, mual, muntah yang akan pulih dengan sendirinya.Kebanyakan yersiniosis pada manusia melibatkan 4 serotipe yaitu O:3; O:5,27; O:8; dan O:9. Virulensi dikaitkan dengan adanya plasmid. Adhesi dan invasi tidak tergantung pada adanya plasmid, tetapi kemampuan untuk tetap hidup dan berkembang biak tergantung plasmid. O: Enterobacteriales C: Gamma proteobacteria F: Enterobacteriaceae

Medium yang digunakan untuk mengisolasi bakteri tersebut? Jawab : medium yang digunakan untuk isolasi bakteri adalah transport medium a/ enrichment medium medium transport : Stuart medium,dipakai untuk transportasi spesimen yg mengandung bakteri positif dan negatif gram Carry and Blair medium,dipakai untuk transportasi tinja atau apusan rektum yg dicurigai mengandung vibrio atau enterobacteriaceae yg patogen Medium Enrichment Selenite broth,hanya bs ditumbuhi subur oleh salmonella atau shigella dari tinja atau usap rektum Medium empedu,dipakai untuk mempersubur pertumbuhan salmonella dalam darah Air pepton alkalis,hanya bs ditumbuhi subur oleh vibrio

c.

2.

Sebutkan dan Jelaskan tujuan beserta interpretasinya dari masing-masing tes Biokimia?

Medium Semi Solid (Agar Miring)

TSI (Triple Sugar Iron)


Tujuan: untuk melihat kemampuan bakteri meragikan gula tertentu dengan menghasilkan asam dan gas atau asam saja Indikator pH : phenol red yg ada pd pH asam akan menjadi kuning Hasil : -kuning=asam -merah=alkali

-gas +/-H2S +/-

Tes Katalase
Tujuan: melihat kemampuan bakteri menghasilkan enzim katalase Indikator : H2O2 5% Interpretasi: (+) apabila ada gelembung udara pada tabung (-) apabila tak ada gelembung udara

Tes Urea
Tujuan: melihat apakah bakteri yang dites menghasilkan urease atau tidak. PH indikator : Neutral Red Interpretasi: (+) : Pink/merah (-) : Kuning

Tes Citrat
Tujuan: melihat kemampuan bakteri menggunakan citrat sebagai satu- satunya sumber energi. Indikator: Bromthymol Blue Interpretasi: (+) : BIRU (-) : Hijau

Medium Cair MR_VP

Methyl-Red

Voges-Proskaeur

Tes Glukosa (tes Gula-gula)

SIM (Sulfur Indol Motility)

KETERANGANNYA DI SLIDE KARIF


3. Jelaskan macam-macam medium Differential: a. Jenisnya Eosin methylene biru (EMB) MacConkey (MCK) mannitol salt agar (MSA) X-gal plates

b.

Fungsinya

Eosin methylene biru (EMB), yang merupakan diferensial untuk fermentasi laktosa dan sukrosa MacConkey (MCK), which is differential for lactose fermentation MacConkey (MCK), yang merupakan diferensial untuk fermentasi laktosa

mannitol salt agar (MSA), which is differential for mannitol fermentation manitol salt agar (MSA), yang merupakan diferensial untuk fermentasi manitol X-gal plates, which are differential for lac operon mutants X-gal piring, yang diferensial untuk operon lac mutan.

4. Cari gambar dari macam-macam medium! Stuart medium,dipakai untuk transportasi spesimen yg mengandung bakteri positif dan negatif gram

Carry and Blair medium,dipakai untuk transportasi tinja atau apusan rektum yg dicurigai mengandung vibrio atau enterobacteriaceae yg patogen

Medium Enrichment Selenite broth,hanya bs ditumbuhi subur oleh salmonella atau shigella dari tinja atau usap rektum

Medium empedu,dipakai untuk mempersubur pertumbuhan salmonella dalam darah

Air pepton alkalis,hanya bs ditumbuhi subur oleh vibrio

5.

Sebutkan sedimen/specimen yang diperiksa pada praktikum sistem GEH? Jelaskan bakteri yang didapat? . Darah: Salmonella typhi, Shigella dysenthriae, H. pylori . Feses: Shigella dysenthriae, Salmonella typhi, Vibrio cholera . Urine: Salmonella typhi . Usapan rektum: Shigella dysenthriae Sumber : Mikrobiologi Kedokteran Ed.2