Anda di halaman 1dari 20

Oleh :

DRS. MARJONI RACHMAN, M.Si

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS 17 AGUSTUS 1945
SAMARINDA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jika kita mempelajari ilmu-ilmu sosial, maka kita akan mempunyai

kesimpulan yang sama tentang obyek dari ilmu-ilmu sosial tersebut, yaitu

bahwa semua ilmu sosial pada hakikatnya mempunyai obyek yang sama

yakni masyarakat. Masyarakat merupakan sekumpulan individu yang

tinggal dalam suatu wilayah yang membentuk suatu komunitas di dalam

kehidupan sosial. Kumpulan individu yang membentuk komunitas

tersebut mempunyai karakteristik tersendiri yang membedakan antara

masyarakat yang satu dengan masyarakat lainnya.

Ilmu-ilmu sosial mencoba memahami, menelaah, meneliti, mencari

persamaan dan perbedaan antara masyarakat yang satu dengan yang

lain. Ilmu sosial mencoba memahami perilaku individu dalam masyarakat

dan sebaliknya perilaku masyarakat sebagai kumpulan individu dengan

kelompok masyarakat lainnya. Ilmu sosial mencoba memahami, meneliti

dan menemukan perbedaan serta persamaan interaksi individu dalam

masyarakat dan interaksi masyarakat dengan kelompok masyarakat

lainnya.

Dari uraian di atas, maka akan timbul pertanyaan : dimana letak

perbedaan antara ilmu sosial yang satu dengan ilmu sosial lainnya ?

1
Perbedaannya adalah terletak pada dimensi atau sudut pandang yang

digunakan oleh masing-masing ilmu sosial untuk memahami, menelaah

dan mencermati masyarakat itu secara khusus. Ilmu Ekonomi mencoba

memahami kehidupan individu dan masyarakat dalam usahanya

memenuhi kebutuhan hidup mereka. Usaha-usaha tersebut merupakan

usaha manusia dalam memproduksi, mendistribusikan dan mengkonsumsi

barang dan jasa yang terbatas dalam masyarakat.

Sementara itu Ilmu Politik memahami tentang hak dan wewenang,

kekuasaan, proses pembuatan keputusan dalam masyarakat serta konflik

yang terjadi sebagai akibat dari distribusi dan alokasi barang dan jasa

yang dianggap mempunyai nilai oleh masyarakat menjadi tidak seimbang.

Sedangkan sosiologi mencoba memahami tentang struktur sosial,

lembaga sosial, lapisan sosial, perubahan sosial, interaksi sosial, mobilitas

sosial dan modernisasi.

Dari uraian tersebut di atas maka timbul pertanyaan baru apakah

ketiga disiplin ilmu tersebut, yaitu sosiologi, politik dan ekonomi

mempunyai hubungan satu sama lain ? Jika ada bagaimana bentuk

hubungan itu ? Apakah hubungan tersebut hanya sekedar kesamaan

obyek yang diteliti ?

Disiplin ilmu sosiologi, politik dan ekonomi mempunyai hubungan

satu sama lain. Ketiga disiplin ilmu tersebut saling memberikan dukungan

bail pada tingkat teoritis maupun pada tingkatan implementasinya.

Hubungan ketiganya dapat dijelaskan sebagai berikut.

2
Pertama, bahwa ketiga disiplin ilmu tersebut membicarakan dan

menelaah obyek yang sama, yaitu manusia baik sebagai individu maupun

kelompok masyarakat. Ketiganya membicarakan tentang perilaku individu

maupun kelompok dalam masyarakat serta berbagai gejala sosial sebagai

akibat dari interaksi, serta status dan peran mereka dalam masyarakat.

Kedua, karena membicarakan tentang obyek yang sama, maka

munculnya ketiga disiplin ilmu tersebut sesungguhnya di dasarkan pada

sudut pandang atau point view yang berbeda tentang tingkah laku

manusia itu berikut gejala-gejala sosial yang ditimbulkannya. Jika kita

mecermati secara lebih mendalam lagi sesungguhnya gejala-gejala sosial

yang muncul ke permukaan di dasarkan pada “kepentingan” atau alasan

yang saling berkaitan satu sama lain. Misalkan seorang pengusaha yang

akan pergi ke tempat pemungutan suara dalam pemilihan umum

(peristiwa politik), secara rasional si pengusaha akan memilih partai politik

yang mendukung kegiatan bisnisnya (peristiwa ekonomi). Sementara itu

kegiatan bisnis yang dilakukan oleh seorang pengusaha menentukan

status dan peran sosialnya (gejala sosiologis) sebagai pengusaha di

dalam masyarakat.

Ketiga, hubungan ketiga disiplin ilmu ini menghasilkan disiplin ilmu

baru. Hubungan antara sosiologi dan politik menghasilkan cabang ilmu

sosiologi politik. Cabang sosiologi politik dengan tokoh utamanya Maurice

Duverger membicarakan tentang basis-basis sosial dari kekuasaan dalam

masyarakat. Hubungan antara sosiologi dan ekonomi menghasilkan

3
cabang ilmu sosiologi ekonomi dan hubungan antara ekonomi politk

menghasilkan cabang ilmu ekonomi politik. Untuk lebih jelas lagi

mengenai hubungan ketiga disiplin ilmu tersebut dapat dilihat pada

gambar berikut ini.

Sosiologi

I II
IV

III Ekonomi
Politik

Gambar-1. Hubungan Sosiologi, Politik dan Ekonomi

Keterangan :

I : Sosiologi Politik
II : Sosiologi Ekonomi
III : Ekonomi Politik

Dari gambar tersebut di atas maka semakin jelas hubungan antara

disiplin ilmu sosiologi, politik dan ekonomi. Dalam kaitannya dengan mata

kuliah ini maka bidang/area yang akan menjadi pembahasan kita adalah

4
pada bidang/area I yaitu Sosiologi Politik. Untuk memudahkan kita di

dalam memahami tentang Sosisologi Politik maka berikut itu akan

diuraikan terlebih dahulu konsep dasar dari masing-masing bidang, yaitu

konsep dasar mengenai sosiologi dan konsep dasar mengenai politik.

B. Konsepsi Dasar Sosiologi

Secara etimologis kata sosiologi berasal dari bahasa Latin Socius

dan Logos. Socius artinya masyarakat dan Logos artinya ilmu. Jadi

sosiologi adalah ilmu tentang masyarakat. Para ahli kemudian mencoba

memberikan definisi yang lain tentang sosiologi, walaupun pada intinya

definisi yang mereka kemukakan tidak berbeda jauh dengan arti secara

etimologis. Perbedaannya terletak pada sudut pandang yang dilihat oleh

masing-masing pakar/ahli. Ada yang menekankan pada aspek interaksi

sosial, struktur sosial dan ada pula yang menekankan pada fakta-fakta

sosial, perubahan sosial dan lain sebagainya.

Soerjono Soekanto (1983) mengatakan bahwa sosiologi adalah

ilmu yang mempelajari struktur sosial, proses sosial termasuk perubahan-

perubahan sosial dan masalah sosial. Sementara itu Roucek dan Waren

mengatakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan

antara manusia dalam kelompok.

William F. Ogburn dan Meyer F. Nimkoff mengatakan bahwa

sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial.

Sedangkan Emile Durkheim mengatakan bahwa sosiologi adalah ilmu

5
yang mempelajari fakta-fakta sosial, yaitu fakta-fakta yang berisikan cara

bertindak, berfikir dan merasakan yang mengendalikan individu tersebut.

Dari berbagai pendapat para ahli tersebut di atas terlihat bahwa

pada umumnya mereka sepakat bahwa sosiologi merupakan ilmu

pengetahuan yang mempelajari mengenai interaksi manusia di dalam

kehidupan sosialnya. Sehubungan dengan itu ada suatu ungkapan yang

berbunyi sebagai berikut : Jika anda tertarik untuk mempelajari lingkungan

sosial dan melakukan penemuan-penemuan baru serta mencapai

pengertian-pengertian baru mengenai lingkungan sosial tersebut, maka

dalam sosiologi tersedia tempat bagi anda.

Dari uraian tersebut di atas maka dapat dikatakan pula bahwa

sosiologi berfokus pada interaksi manusia – khususnya pada pengaruh

timbal balik diantara dua orang atau lebih dalam hal perasaan, sikap, dan

tindakan. Dengan kata lain bahwa sosiologi tidak begitu difokuskan pada

apa yang terjadi di dalam manusia (area psikologi), melainkan pada apa

yang berlangsung di antara manusia. Oleh sebab itu fokus pengkajian

sosiologi adalah pada orang selaku makhluk sosial.

Jika sosiologi dikatakan sebagai ilmu pengetahuan yang

mempelajari interaksi manusia dalam konteks kehidupan sosialnya, maka

interaksi ini sesungguhnya tidak terbatas, ruang lingkupnya sedemikian

tersebar dan padat sehingga kita sukar mengertinya. Untuk lebih

memahami pola interaksi manusia di dalam kehidupan sosial, maka ada

beberapa teori yang menjelaskan mengenai hal tersebut yaitu : teori

6
struktur-fungsi, teori konflik, teori pertukaran sosial dan teori

interaksionisme simbolis.

Teori Struktur Fungsi beranggapan bahwa ada persamaan yang

cukup signifikan antara organisme biologi dengan kehidupan sosial. Teori

ini mengasumsikan bahwa “masyarakat itu laksana suatu organisme”. Inti

perspektif ini adalah faham mengenai suatu sistem.

Tubuh manusia diibaratkan sebagai sebuah sistem yang terdiri dari

sejumlah organ yang saling berhubungan (jantung, paru-paru, ginjal, otak,

dans sebagainya). Setiap organ menjalankan fungsinya masing-masing

untuk kelangsungan hidup organisme tersebut.

Institusi-institusi dipandang oleh para ahli sosiologi sebagai analog

dengan organ. Struktur-struktur sosial ini memenuhi kebutuhan utama

yang perlu untuk kelanjutan hidup dan pemeliharaan masyarakat.

Institusi-institusi sosial diklasifikasikan menurut fungsi utama yang

dijalankannya : institusi perekonomian difokuskan pada produksi dan

distribusi barang dan jasa. Sementara institusi politik berfungsi

memberikan perlindungan kepada warga negara terhadap warga lain dan

terhadap musuh asing serta memberikan perlindungan terhadap hak-hak

politik seluruh warga negara.

Teori Konflik berasumsi bahwa dalam kehidupan sosial terdapat

beberapa hal yang ditetapkan sebagai “barang” (goods) yang langka dan

dapat dibagi-bagikan, sehingga semakin banyak suatu fihak memperoleh

barang tersebut, maka semakin sedikit baranbg itu tersedia bagi orang

7
lain. Kekayaan, kekuasaan, status, dan kekuasaan atas suatu wilayah

merupakan contoh mengenai hal ini.

Manusia secara khas berusaha untuk lebih banyak memperoleh

apa yang mereka tetapkan sebagai sesuatu yang berharga atau

dikehendaki. Pada saat satu kelompok manusia menganggap diri mereka

mempunyai hak khusus dan sah atas hal-hal tertentu yang menyenangkan

walaupun kelompok itu memperoleh hak tersebut dengan cara merugikan

pihak lain, maka pada saat itulah akan terjadi konflik. Konflik berarti

pertentangan mengenai nilai atau tuntutan hak atas kekayaan, kekuasaan,

status dan lain-lain yang terjadi antara satu pihak dengan pihak lain, baik

sebagai individu maupun kelompok, dengan tujuan untuk menyisihkan

salah satu pihak.

Para ahli sosiologi masa kini melihat bahwa konflik bukan saja bisa

terjadi antar individu atau antar kelompok, tetapi juga mereka melihat

konflik yang terjadi antar banyak kelompok, seperti ras lawan ras, agama

lawan agama, konsumen lawan produsen, penghuni pusat kota lawan

penghuni daerah luar kota dan lain sebagainya. Para ahli sosiologi

tersebut memperhatikan bahwa suatu tema yang selalu kembali di dalam

hidup manusia adalah pertanyaan : “Keinginan siapakah yang akan

berlaku : keinginanmu ataukah keinginanku ?”

Teori Pertukaran Sosial. Sebagian besar rasa kepuasan kita

bersumber pada tindakan manusia lain. Kepuasan di dalam cinta,

rangsangan intelektual, persahabatan, kebutuhan ekonomi, keamanan

8
dan banyak tujuan lain dalam hidup kita hanya dapat dicapai dengan

menggerakkan orang lain agar berperilaku tertentu terhadap kita.

Anggapan ini merupakan dasar teori pertukaran sosial, yaitu teori yang

berpandangan bahwa manusia mengatur hubungan dengan orang lain

dengan cara semacam membuat pembukuan mental yang mencatat

imbalan, biaya dan laba.

Teori pertukaran sosial berasumsi bahwa orang memasuki dan

meneruskan pola interaksi dengan orang lain karena mereka menganggap

interaksi demikian itu menguntungkan, apapun yang menjadi alasannya.

Tetapi di dalam proses mencari imbalan, orang pasti akan memikul biaya.

Biaya menunjuk pada pertimbangan negatif seperti kewajiban, kelelahan,

kebosanan, kecemasan, keprihatinan dan sebagainya, atau pada unsur

positif yang dikorbankan dengan jalan tetap meneruskan hubungan.

Keuntungan yang diperoleh dari pertukaran sosial menggambarkan

perbedaan antara imbalan dengan biaya.

Peter Blau (1967), seorang ahli teori pertukaran sosial,

mengemukakan bahwa jika manusia mau memperoleh manfaat dari

hubungan dengan orang lain, mereka harus menawarkan cukup banyak

hal kepada partner mereka agar yang bersangkutan merasakan adanya

manfaat untuk tetap memelihara hubungan. Artinya bahwa seseorang

harus memberikan penawaran yang lebih banyak secara timbal balik

kepada orang lain untuk dapat memperoleh persahabatan. Dengan pola

seperti ini prinsip penawaran dan permintaan menjamin bahwa orang

9
hanya akan memperoleh partner yang sama layaknya dengan apa yang

mereka pantas peroleh.

Teori Interaksionisme Simbolis. Sustau premis dasar sosiologi

adalah bahwa manusia merupakan makhluk sosial : kita tidak dapat

menjadi manusia secara sendiri. Para ahli sosiologi penganut teori

interaksionisme simbolis mengatakan bahwa komunikasi atau pada

khususnya simbol, merupakan kunci untuk mengerti kehidupan sosial.

Simbol merupakan tindakan atau obyek yang secara sosial telah dianggap

mewakili sesuatu yang lain.

Teori Interaksionisme Simbolis beranggapan bahwa manusia

mengembangkan kemampuan untuk berinteraksi dengan orang lain

melalui penggunaan simbol yang dimiliki bersama. Melalui simbol yang

dimiliki bersama itu manusia memberikan “makna” pada kegiatan mereka,

dengan “makna” tersebut mereka menjelaskan situasi dan menafsirkan

perilaku.

C. Konsepsi Dasar Politik

Secara etimologis politik berasal dari bahasa Yunani yaitu polis,

yang berarti nagara kota. Orang yang mendiami polis disebut polites yang

berarti pula warga negara. Politikos berarti kewarganegaraan. Dari istilah

ini muncullah politike techne yang berarti kemahiran politik, ars politica

yang berarti kemahiran tentang masalah kenegaraan, dan politike

10
episteme yang berarti ilmu politik. Berasal dari kata inilah perkataan politik

yang kita gunakan saat ini.

Politik memiliki definisi yang banyak, tergantung sudut pandang

yang digunakan oleh si pembuat definisi. Miriam Budiardjo (1993)

mendefinisikan politik sebagai berbagai macam kegiatan yang terjadi di

suatu negara, yang menyangkut proses menentukan tujuan dan

bagaimana cara mencapai tujuan itu. Disini Miriam Budiardjo mengartikan

politik sebagai tindakan yang beraneka ragam yang dilakukan oleh

penguasa maupun masyarakat yang berkaitan dengan proses

menetapkan tujuan dan bagaimana cara pencapai tujuan itu.

Sementara itu Hoogerwerf mendefinisikan politik sebagai

pertarungan kekuasaan. Hans J. Morgentahu mendefinisikan politik

sebagai usaha mencari kekuasaan (struggle for power) dan David Easton

mengartikan politik sebagai semua aktivitas yang mempengaruhi

kebijakan dan cara kebijakan itu dilaksanakan.

Dari uraian-uraian di atas maka dapat diambil beberapa konsep

pokok di dalam politik, yaitu : (1) politik berkaitan dengan negara (state),

(2) kekuasaan (power), (3) pengambilan keputusan (decission making),

dan (4) kebijakan umum (public policy).

Roger F. Soltou mengatakan bahwa ilmu politik adalah ilmu yang

mempelajari negara, tujuan-tujuan negara dan lembaga-lembaga negara

yang akan melaksanakan tujuan-tujuan tersebut, hubungan antara negara

dengan warga negara dan hubungan antara negara yang satu dengan

11
negara yang lain. Negara, menurut Miriam Budiardjo merupakan integrasi

dari kekuasaan politik. Negara juga dekatakan sebagai agen (alat)

masyarakat yang mempunyai kekuasaan untuk mengatur hubungan-

hubungan manusia dalam masyarakat dan menertibkan gejala-gejala

kekuasaan dalam masyarakat.

Soltou mengatakan pula bahwa negara sebagai alat atau

wewenang yang mengatur atau mengendalikan persoalan-persoalan

bersama atas nama rakyat. Negara juga dikatakan oleh Harold Laski

sebagai alat untuk mengatur tingkah laku manusia. Oleh sebab itu negara

memiliki wewenang yang bersifat memaksa dan yang secara sah lebih

tinggi daripada individu atau kelompok. Sementara itu Max Weber

mengatakan bahwa negara sebagai suatu masyarakat yang mempunyai

monopoli dalam penggunaan kekuasaan fisik secara sah dalam suatu

wilayah.

Dari paparan yang telah diungkapkan tersebut di atas, maka negara

memiliki beberapa sifat dasar yaitu :

1. Memaksa : agar semua peraturan perundangan yang berlaku ditaati

demi terciptanya ketertiban baik dalam masyarakat maupun

pemerintahan. Menurut Max Weber, dalam hal ini negara memiliki alat

paksa fisik yang sah (legitimate physical compulsion), seperti polisi,

tentara, kejaksaan dan badan kehakiman yang menegakkan semua

peraturan yang ada.

12
2. Monopoli : negara memonopoli dalam menetapkan tujuan bersama

dari masyarakat. Dalam hal ini negara memiliki wewenang untuk

melarang hidup dan menyebarluaskan suatu aliran kepercayaan atau

aliran politik yang dipandang mengganggu kepentingan umum dan

bertentangan dengan tujuan masyarakat umum.

3. Mencakup semua : semua peraturan perundangan berlaku untuk

semua orang tanpa kecuali.

Kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau sekelompok orang

untuk mempengaruhi tingkah laku orang lain atau kelompok lain agar mau

mengikuti keinginan dari si pemilik pengaruh. Harold D. Lasswell dan A.

Kapplan mengatakan bahwa ilmu politik mempelajari pembentukan dan

pembagian kekuasaan dalam masyarakat, yaitu mengenai hakikat, dasar,

proses-proses, ruang lingkup dan hasil-hasilnya. Fokus utama dari ilmu

politik adalah perjuangan untuk mencapai dan mempertahankan

kekuasaan, melaksanakan kekuasaan atau pengaruh atas orang lain.

Deliar Noer mengatakan bahwa ilmu politik memusatkan perhatiannya

pada masalah kekuasaan dalam kehidupan bersama atau masyarakat.

Sementara itu Ossip K. Flechtheim mengatakan bahwa ilmu politik adalah

ilmu sosial yang khusus mempelajari sifat dan tujuan negara sejauh

negara merupakan organisasi kekuasaan, beserta sifat dan tujuan dari

gejala-gejala kekuasaan yang tidak resmi, yang dapat mempengaruhi

negara.

13
Sementara itu keputusan sesungguhnya suatu proses membuat

pilihan diantara beberapa alternatif. Pengambilan keputusan sebagai

suatu konsep politik yang menyangkut keputusan-keputusan yang diambil

secara kolektif dan yang mengikat seluruh masyarakat. Keputusan itu

menyangkut tujuan masyarakat dan kebijakan-kebijakan yang dibuat

untuk mencapai tujuan itu. Joyce Mitchel mengatakan bahwa politik

merupakan pengambilan keputusan kolektif atau pembuatan kebijakan

umum untuk masyarakat. Karl W. Deutsch mengatakan bahwa politik

adalah pengambilan keputusan melalui sara umum, dalam arti keputusan

itu dilakukan oleh sektor publik (negara) dan menyangkut barang-barang

publik (public goods).

Konsepsi pokok yang terakhir dari ilmu politik adalah kebijakan,

yaitu kumpulan keputusan yang diambil oleh seorang pelaku atau

sekelompok elit politik dalam usaha mencapai tujuan-tujuan dan cara-cara

mencapai tujuan itu. Kebijakan itu biasanya ditetapkan oleh pihak yang

berwenang, dalam hal ini adalah para pejabat yang diberi kewenangan

untuk itu. Hoogerwerff mengatakan bahwa obyek dari ilmu politik adalah

kebijakan dari pemerintah, proses terbentuknya serta akibat-akibatnya.

14
BAB II

KONSEPSI SOSIOLOGI POLITIK

A. Pendahuluan

Seperti telah dikemukakan pada pembahasan terdahulu bahwa

sosiologi merupakan ilmu pengetahuan mengenai masyarakat dengan

fokus perhatian terletak pada interaksi manusia, karena suatu masyarakat

dapat terbentuk jika ada interaksi antara manusia yang satu dengan

manusia lainnya. Oleh sebab itu ada pengaruh timbal balik antara dua

orang atau lebih dalam hal perasaan, sikap dan tindakan. Dengan

perkataan lain, sosiologi tidak begitu difokuskan pada apa yang terjadi di

dalam diri manusia, melainkan pada apa yang berlangsung diantara

manusia. Demikian fokus pengkajian sosiologi adalah pada manusia

selaku makhluk sosial (homo socius, social animal, zoon politicon) dan

tingkah laku manusia dalam konteks sosial.

Sementara itu aspek-aspek masyarakat yang menjadi pusat

perhatian studi politik, khususnya adalah lembaga-lembaga sosial seperti

badan legislatif dan eksekutif, partai politik dan kelompok-kelompok

kepentingan. Oleh sebab itu para ilmuwan pada umumnya sepakat

bahwa titik sentral perhatian ilmu politik adalah kekuasaan dan

penyelesaian konflik-konflik yang ada pada manusia.

15
Jika pada pembahasan terdahulu kita telah mendefinisikan sosiologi

sebagai studi mengenai tingkah laku manusia dalam hubungannya

dengan masalah kemasyarakatan, maka penting untuk ditekankan bahwa

masalah kekuasaan tersebut di dalam konteks masyarakat yang sama.

Dengan demikian maka usaha untuk menggambarkan esensi politik

menjuruskan kita pada suatu bidang studi khusus, yaitu sarana-sarana

dengan mana manusia memecahkan permasalahannya bersama-sama

dengan manusia lainnya. Dari aspek ini ilmu politik mencakup pula studi

mengenai permasalahan manusia, perlengkapan yang dikembangkan

untuk memecahkan permasalahan tersebut, faktor-faktor yang

mempengaruhi keputusan manusia dan lebih daripada itu adalah ide yang

mempengaruhi manusia untuk mengatasi permasalahan itu.

Ada anggapan bahwa ilmu politik itu sebagai bagian integral dari

sosiologi, namun secara akademis ilmu politik telah berkembang sebagai

suatu disiplin ilmu yang terpisah. Oleh sebab itu para ilmuwan politik telah

lama mengakui pentingnya sosiologi bagi studi politik. Diakui pula bahwa

tidak ada satupun sistem politik, lembaga politik dan seorang politikus

yang bisa bekerja dalam suatu ruang vakum. Oleh sebab itu studi

sosiologis telah banyak memberikan wawasan berharga kepada

lingkungan masyarakat dalam mana politik itu melakukan fungsinya.

Dalam proses demikian inilah banyak sekali muncul dan berkembang

studi-studi atau karya-karya yang secara sah bisa dikategorikan sebagai

bidan “Sosiologi Politik”, yaitu berupa penelitian mengenai hubungan

16
antara masalah-masalah politik dan masyarakat, antara struktur sosial dan

struktur politik, dan antara tingkah laku sosial dengan tingkah laku politik.

B. Skema Konseptual

Telah dijelaskan pada uraian di atas bahwa bidang kajian sosiologi

politik merupakan mata rantai antara politik dan masyarakat, antara

sturktur-struktur sosial dengan struktur-struktur politik, dan antara tingkah

laku sosial dan tingkah laku politik. Dengan demikian kita melihat bahwa

sosiologi politik merupakan jembatan teoritis dan metodologis antara

sosiologi dengan ilmu politik, atau sering pula disebut sebagai “hybrid

inter-disipliner”.

Dalam pembahasan sosiologi politik, skema konsepsi kita

dilandaskan pada 4 (empat) konsepsi dasar, yaitu : Sosialisasi Politik,

Partisipasi Politik, Perekrutan Politik, dan Komunikasi Politik. Semua

konsepsi itu sifatnya interdependen, satu sama lain saling mempunyai

ketergantungan dan saling berkaitan.

Sosialisasi Politik adalah proses dimana seorang individu bisa

mengenali sistem politik, yang kemudian menentukan sifat persepsinya

mengenai politik serta reaksi-reaksinya terhadap gejala-gejala politik.

Sosialisasi politik mencakup pemeriksaan mengenai lingkungan kultural,

lingkungan politik, dan lingkungan sosial dari individu yang bersangkutan;

juga mempelajari sikap-sikap politik serta penilaian-penilaiannya terhadap

17
politik. Oleh sebab itu sosialisasi politik merupakan mata rantai paling

penting diantara sistem-sistem sosial dengan sistem-sistem politik.

Partisipasi Politik adalah keterlibatan individu sampai pada

bermacam-macam tingkatan di dalam sistem politik. Aktivitas politik itu

bisa bergerak dari ketidakterlibatan sampai dengan aktivitas jabatannya.

Oleh sebab itu partisipasi politik berbeda antara masyarakat yang satu

dengan yang lainnya. Perlu pula ditekankan bahwa partisipasi politik bisa

menumbuhkan motivasi untuk meningkatkan partisipasinya, termasuk di

dalamnya tingkatan paling atas dari partisipasi – dalam bentuk pengadaan

berbagai macam jabatan – dan tercakup di dalamnya proses perekrutan

politik.

Perekrutan Politik adalah proses dimana individu-individu

mendaftarkan diri untuk menduduki suatu jabatan. Perekrutan ini

merupakan suatu proses dua arah dan sifatnya bisa formal maupun tidak

formal. Merupakan proses dua arah karena individu-individunya mungkin

mampu mendapatkan kesempatan, atau mungkin didekati oleh orang lain

dan kemudian bisa menjabat posisi tertentu. Dengan cara yang sama,

perekrutan bisa disebut formal jika para individu direkrut dengan terbuka

melalui cara institusional berupa seleksi ataupun pemilihan. Disebut

informal jika para individunya direkrut secara prive (sendirian) tanpa

melalui atau sedikit sekali melalui cara institusional.

Komunikasi Politik adalah proses dimana informasi politik yang

relevan diteruskan dari satu bagian sistem politik kepada bagian lainnya.,

18
dan diantara sistem-sistem sosial dengan sistem-sistem politik. Kejadian

tersebut merupakan proses yang kontinyu, melibatkan pula pertukaran

informasi diantara individu-individu dengan kelompok-kelompoknya pada

semua tingkatan masyarakat. Disamping itu tidak hanya mencakup

pandangan-pandangan serta harapan-harapan para anggota masyarakat,

tetapi juga merupakan sarana dimana pandangan-pandangan, usul-usul

dan anjuran-anjuran pejabat yang berkuasa diteruskan kepada anggota

masyarakat dan selanjutnya juga melibatkan reaksi anggota masyarakat

terhadap pandangan-pandangan, janji-janji dan saran-saran dari para

penguasa. Maka dengan demikian komunikasi politik memainkan

peranan yang sangat penting di dalam sistem politik; komunikasi politik

juga menentukan komponen dinamis dan menjadi bagian menentukan

dari sosialisasi politik, partisipasi politik dan perekrutan politik.

19