Anda di halaman 1dari 13

Dilema Nuklir India-Pakistan

Aditya (1006664634) Jurusan Ilmu Hubungan Internasional

Terdapat dua bentuk ancaman keamanan utama India-Pakistan: konflik konvensional dan perang nuklir. Di satu sisi, konflik konvensional sangat mudah tersulut, sementara di sisi lain perang nuklir adalah suatu pilihan yang sangat berat. Harga perang nuklir yang terlampau mahal dapat memunculkan paradoks stabilitas-instabilitas yang menyebabkan kedua negara menganggap konflik konvensional sebagai pilihan yang terjangkau dalam menyerang lawannya.

Dari sekian banyak konflik antarnegara yang terjadi sepanjang sejarah, konflik antara India dan Pakistan bisa dikatakan menjadi salah satu yang tidak kunjung menemukan titik temu perdamaian yang stabil. Konflik antara keduanya sangat volatil; walaupun dialog dan komunikasi antara India dan Pakistan tetap berlangsung normal, sedikit saja terjadi perkembangan negatif pada isu-isu yang sensitif, konflik bisa segera pecah. Isu sensitif tersebut, di antara dan utamanya, adalah isu Kashmir. Wilayah Kashmir, sejak pemisahan kedua negara, menjadi wilayah yang selalu dipermasalahkan oleh India dan Pakistan. Menurut India, Kashmir secara sah berada dalam teritorinya karena maharaja Kashmir telah setuju untuk menggabungkan wilayahnya ke dalam India pada tahun 1947. Pakistan, di sisi lain, menganggap bahwa kepemilikan Kashmir yang absah harus didasarkan pada plebisit, yaitu pemungutan suara dari penduduk Kashmir sendiri; suatu opsi yang dinilai Pakistan selalu dihindari oleh India (Kapur, 2005). Sehubungan dengan argumen yang bertentangan tersebut, keduanya seringkali terlibat konflik militer jika salah satu negara dinilai bertindak sepihak atau melanggar line of control yang disepakati atas wilayah Kashmir. Hubungan yang volatil antara keduanya turut diperkeruh dengan adanya dukungan Pakistan terhadap kelompok-kelompok teror. Pakistan dikenal sebagai salah satu negara yang paling giat dalam mensponsori terorisme yang ditujukan untuk mencapai kepentingan nasionalnya (Riedel, 2008). Salah satu kelompok teror yang didukung oleh Pakistan tersebut adalah kelompok pemberontak Kashmir. Dengan adanya dukungan terhadap elemen pemberontak di wilayah yang diributkan tersebut, Pakistan semacam mendapat tambahan kapabilitas konvensional dalam menghadapi India, di samping kapabilitas konvensional dari militernya. Ini menjadi latar belakang bagi konflik bersenjata antara India dan Pakistan yang sangat mudah tersulut. Akan tetapi, masalah antara keduanya tidak hanya seputar konflik konvensional saja. Di atas segala bahaya yang bisa ditimbulkan dari kemungkinan 1

terburuk konflik atau pun perang konvensional skala besar, terdapat bahaya perang nuklir. Hal ini karena kapabilitas nuklir kedua negara sudah memungkinkan untuk melakukan retaliasi jika salah satunya menyerang terlebih dahulu. Sebagaimana yang dinyatakan Benazir Bhutto (2004), serangan nuklir yang dilakukan salah satu negara hanya akan menjadi tindakan bunuh diri tidak hanya bagi satu, tetapi bagi kedua bangsa (Kapur, 2005, p. 143). Adanya kenyataan tentang kehancuran yang mutual dan pasti (mutually assured destruction) jika salah satu negara memutuskan untuk memulai perang nuklir ini membuat harga perang nuklir antara India dan Pakistan menjadi sangat mahal. Hal ini sepertinya sangat disadari dan membuat keduanya gencar membangun kepercayaan terkait prospek persenjataan nuklir masing-masing negara, sebagaimana tercermin dalam diwujudkannya Lahore Declaration pada tahun 1999 serta berbagai hubungan bilateral terkait pembentukan confidence building measures (CBMs) lainnya. Karenanya, bisa dikatakan bahwa terdapat dua bentuk ancaman keamanan utama India-Pakistan: konflik konvensional dan perang nuklir. Akan tetapi, kedua ancaman tersebut hadir dalam proporsi yang timpang. Di satu sisi, konflik konvensional sangat mudah tersulut, sementara di sisi lain perang nuklir adalah suatu pilihan yang sangat berat. Konflik konvensional memiliki harga yang murah, sementara perang nuklir memiliki harga yang sangat mahal. Adanya ketimpangan harga antara konflik konvensional dan perang nuklir ini bisa mengakibatkan suatu negara memilih untuk membeli ancaman yang lebih murah untuk mencapai kepentingannya. Hal ini lah yang sepertinya terlihat dalam hubungan India-Pakistan. Harga perang nuklir yang terlampau mahal mungkin memunculkan paradoks stabilitas-instabilitas yang menyebabkan kedua negara menganggap konflik konvensional sebagai sesuatu yang terjangkau dan menjadi pilihan dalam menyerang lawannya. Paradoks Stabilitas-Instabilitas Literatur awal yang membahas mengenai fenomena paradoks stabilitasinstabilitas dapat ditemukan dalam tulisan Glenn H. Snyder yang berjudul The Balance of Power and the Balance of Terror.1 Secara umum, teori tentang paradoks stabilitas-instabilitas menyatakan bahwa stabilitas strategis (strategic stability), yaitu kecilnya kemungkinan konflik atau perang konvensional bereskalasi menjadi perang nuklir, akan menurunkan bahaya melakukan serangan konvensional. Akan tetapi, dengan menurunnya harga potensial serangan konvensional, stabilitas strategis juga membuat pecahnya konflik konvensional menjadi lebih mungkin. Dengan kata lain, semakin besar gap antara eskalasi konflik konvensional dengan kemungkinan perang nuklir (stabilitas strategis yang besar), semakin besar pula kemungkinan suatu negara
1

Tentang paradoks stabilitas-instabilitas dapat dilihat dalam Glenn H. Snyder, The Balance of Power and the Balance of Terror, dalam Paul Seabury (ed.), The Balance of Power (Scranton: Chandler, 1965), hlm. 185-201.

terlibat dalam serangan konvensional. Semakin tinggi stabilitas pada level nuklir (bisa diindikasikan dengan tingginya confidence building measures dan komunikasi yang terus terjaga terkait penggunaan senjata nuklir), semakin kecil stabilitas pada level konvensional (diindikasikan dengan konflik konvensional yang mudah pecah). Dengan adanya paradoks stabilitas-instabilitas, walaupun kemungkinan terjadinya perang nuklir dapat sangat diminimalisir, stabilitas keamanan secara keseluruhan masih sering terganggu karena mudah pecahnya konflik pada level-level yang lebih rendah. Penjelasan Robert Jervis dalam The Illogic of American Nuclear Strategy secara umum bisa digunakan untuk memahami logika terjadinya paradoks stabilitasinstabilitas dalam kaitannya dengan pertimbangan rasional negara dalam kebijakan senjata nuklirnya. Jervis (1984) menyatakan, Pada taraf di mana tingkat keseimbangan militer tetap stabil pada level perang nuklir, tingkat keseimbangan pada level kekerasan yang lebih kecil akan menjadi kurang stabil. ... Negara-negara yang saling bermusuhan dan sama-sama memiliki senjata nuklir akan mengeluarkan peringatan untuk mencegah terjadinya perang besar dan pelanggaran ambang batas nuklir. Pada saat yang sama, jaminan akan terjadinya retaliasi serangan nuklir memberi peluang yang besar untuk terlibat dalam tindakan-tindakan yang dapat memicu terjadinya krisis, proxy wars, dan tindak kekerasan lainnya. Sesuai dengan argumen Jervis, untuk mengetahui apakah paradoks stabilitasinstabilitas ini benar-benar bekerja dan menjadi hal yang mendasari terjadinya konflik pada level sub-nuklir dalam hubungan India-Pakistan, kita bisa memperhatikan tingkat stabilitas pada level nuklir kedua negara. Stabilitas tersebut bisa dilihat dari seberapa kecil kemungkinan konflik konvensional bisa bereskalasi menjadi perang nuklir, seberapa besar kepercayaan satu negara kepada negara lainnya terkait penggunaan senjata nuklir, serta seberapa kredibel dan stabil strategi nuclear deterrence yang dilakukan kedua negara. Dengan kata lain, dapat dilihat seberapa mahal harga perang nuklir bagi kedua negara sehingga membuat keduanya cenderung menggunakan kekerasan pada level sub-nuklir. Nuclear Deterrence dalam Hubungan India-Pakistan Berbicara tentang nuklir tidak akan terlepas dari konsep deterrence. Menurut Department of Defense Dictionary (1994), deterrence dapat diartikan sebagai penggunaan ancaman yang kredibel untuk memanipulasi pihak lain sehingga ia tidak melakukan hal yang tidak diinginkan pihak pertama (Morganh, 2003, p.8). Jika deterrence dilakukan dengan sarana nuklir (atau nuclear deterrence), maka arti penting dari kepemilikan senjata nuklir oleh suatu negara bukan lah dalam hal bahwa negara tersebut akan menggunakan senjata nuklir untuk menyerang negara lain, melainkan bahwa senjata nuklir yang dimiliki akan mengurungkan niat negara lain untuk menyerang negara pemilik nuklir karena takut akan dibalas dengan serangan

nuklir yang mematikan. Karena sifat serangannya yang sangat destruktif, senjata nuklir sering dianggap sebagai alat deterrence yang sempurna (perfect deterrence). Akan tetapi, kondisinya akan berbeda jika negara-negara yang saling berkonflik sama-sama memiliki senjata nuklir, apalagi dengan kapabilitas yang setara. Dalam kondisi demikian, jika satu negara mengancam akan meluncurkan nuklir, negara yang satunya mungkin tidak serta-merta tunduk terhadap ancaman tersebut karena ia juga bisa melakukan retaliasi. Akan tetapi, jika kedua negara sama-sama saling melakukan serangan nuklir, tentunya keduanya akan sama-sama hancur sehingga tidak ada yang lebih unggul. Kondisi demikian disebut mutually-assured destruction (MAD), dan menyebabkan senjata nuklir identik sebagai senjata yang tidak akan pernah benar-benar digunakan. Ini mengakibatkan senjata nuklir kebanyakan dimiliki hanya untuk digunakan sebagai alat deterrence. Namun demikian, tentunya suatu negara tidak bisa benar-benar yakin apakah negara lawannya (yang memiliki senjata nuklir) berniat menggunakan senjata tersebut sebagai ancaman saja (sebagai alat deterrence), atau memang berniat meluncurkannya. Ini lah inti masalah strategi nuclear deterrence. Suatu negara yang memiliki senjata nuklir (dimisalkan negara A) yang berniat melakukan deterrence harus bisa membuat lawannya (dimisalkan negara B yang juga memiliki senjata nuklir) cukup yakin bahwa ia memiliki kapabilitas untuk melakukan serangan. Dengan demikian, negara A bisa membuat negara B gentar (deterrence negara A berhasil). Akan tetapi, negara A juga di sisi lain harus menjaga agar ancamannya tidak ditangkap negara B sebagai niat nyata untuk benar-benar melakukan serangan. Mengapa? Karena jika negara B mengalami mispersepsi dan memahami ancaman negara A sebagai niat nyata untuk melakukan serangan nuklir, bisa jadi negara B malah berinisiatif melakukan serangan mendahului negara A, sehingga perang nuklir pun pecah. Dengan kata lain, agar strategi deterrence berhasil, deterrence yang dilakukan harus dijaga agar tetap kredibel dan stabil. Kredibilitas dan stabilitas strategi deterrence akan menjamin agar senjata nuklir tetap diperlakukan sebagai alat deterrence dan tidak benar-benar digunakan. Dengan kata lain, dalam skenario dua negara yang saling bermusuhan dan sama-sama memiliki senjata nuklir, keduanya hanya dapat menganggap serangan nuklir sebagai suatu hal yang sangat mahal (dengan demikian menjaga stabilitas strategis nuklir kedua negara) jika nuclear deterrence yang dilakukan keduanya tetap kredibel dan stabil. Ini membawa pada pertanyaan, seberapa kredibel dan stabil strategi nuclear deterrence yang dilakukan India dan Pakistan?

Kredibilitas Nuclear Deterrence India dan Pakistan

Kredibilitas deterrence mengacu pada seberapa besar kemampuan suatu pihak untuk meyakinkan pihak lain bahwa ia bersedia dan mampu melakukan serangan yang dapat membawa kerusakan signifikan bagi pihak lawan. Dengan demikian, terdapat tiga indikator yang menentukan kredibilitas deterrence suatu pihak, yaitu: (1) kesediaan untuk merealisasikan ancaman; (2) kemampuan yang cukup untuk merealisasikannya; serta (3) kepercayaan pihak lawan bahwa ancaman tersebut nyata (Morganh, 2003). Dalam nuclear deterrence yang dilakukan India dan Pakistan, kesediaan untuk merealisasikan ancaman dapat dilihat dari komitmen kedua negara dalam program nuklirnya. Sejak awal program pengembangan nuklirnya, Pakistan telah berjanji untuk tidak melakukan serangan pertama (no first use) terhadap negara-negara nonsenjata nuklir, namun tidak pernah mengesampingkan kemungkinan penggunaan serangan pertama terhadap India (Arms Control Association, 2012). Komitmen Pakistan tentang kesediaannya untuk merealisasikan serangan nuklir juga tergambar dalam doktrin nuklir yang diadopsinya sejak tahun 2002. Dalam doktrin tersebut, Pakistan menyatakan secara eksplisit kesediaannya untuk melakukan serangan nuklir pertama terhadap India dalam hal terjadi empat kondisi: (1) penyerangan India terhadap Pakistan yang berakibat penguasaan wilayah yang cukup besar; (2) penghancuran angkatan darat atau udara Pakistan oleh India; (3) percobaan sabotase perekonomian Pakistan oleh India; serta (4) percobaan destabilisasi politik domestik Pakistan oleh India (Hagerty, 2005). Di sisi lain, India sedikit kurang agresif dibandingkan Pakistan dalam strategi nuclear deterrence-nya. Namun, tidak berarti India tidak memiliki kesediaan yang cukup untuk merealisasikan serangan nuklir. Menurut Arms Control Association (2012), pejabat pemerintahan India menyatakan bahwa pengembangan persenjataan nuklir India didasarkan untuk menjaga kapabilitas pencegahan minimum yang kredibel (credible minimum deterrent). Walaupun pada Januari 2003 India menyatakan bahwa ia tidak akan menggunakan senjata nuklir terhadap negara nonsenjata nuklir, serta menyatakan bahwa senjata nuklir hanya akan digunakan untuk membalas serangan nuklir lain, pemerintah India mengklaim berhak menggunakan senjata nuklir sebagai balasan atas serangan dengan senjata biologis atau kimia (Arms Control Association, 2012). Memang, sebagaimana tertulis pada Article 4.3 Doktrin Nuklir India yang dirilis pada tahun 2003, India menyatakan ketundukan pada kebijakan no first use, dengan kata lain India tidak akan menginisiasi suatu serangan nuklir (Institute of Peace and Conflict Studies, 2012, p. 5). Akan tetapi, prinsip no first use tersebut juga berarti India berkomitmen tinggi menggunakan senjata nuklir untuk tujuan retaliasi. Indikator kredibilitas deterrence yang kedua, kemampuan yang cukup untuk merealisasikan ancaman, dapat dilihat dari perkembangan senjata nuklir India dan Pakistan dari tahun ke tahun. India diperkirakan memiliki persenjataan sejumlah 80-

100 hulu ledak nuklir dengan inti plutonium (Natural Resources Defense Council, 2007). Menurut Arms Control Association (2012), India terus bekerja untuk memperbanyak armada rudal balistik yang dapat diluncurkan dari daratan, yang berkemampuan untuk meluncurkan senjata nuklir, serta memiliki pesawat tempur yang mampu melakukan misi tersebut. ... Sejak tahun 1984, India juga telah mengembangkan kapal selam rudal balistik bertenaga nuklir yang dinamakan Arihant sebagai salah satu sarana pengiriman hulu ledak nuklir. Menurut Kristensen dan Norris (2012), India terus-menerus memproduksi materi nuklir untuk tujuan persenjataan dan menolak untuk menghentikan produksi sebagai bagian dari rencana kesepakatan kerjasama nuklir sipil Amerika Serikat-India. New Delhi diperkirakan memiliki 520 kilogram plutonium yang tersedia untuk senjata nuklir cukup untuk 100-130 hulu ledak nuklir dan lebih dari 11,5 metrik ton reaktor plutonium yang dapat diproses untuk digunakan sebagai senjata. Kemudian, menurut Mian, Zia, Nayyar, Rajaraman, dan Ramana (2006), diperkirakan India akan dapat meningkatkan produksi materi nuklir untuk persenjataan jika ia dapat lebih mengamankan pengiriman bahan bakar nuklir asing. Sementara itu, Pakistan diperkirakan memiliki persenjataan sekitar 90-110 hulu ledak nuklir dan dinilai dapat mengembangkan persenjataannya lebih cepat dibanding negara lain. Setiap tahunnya, Pakistan memproduksi materi nuklir cukup untuk sekitar 10-21 senjata nuklir (Kristensen dan Norris, 2011). Menurut Institute for Science and International Security (2011), Islamabad juga sedang meningkatkan kemampuan produksinya dengan membangun kapasitas nuklir tambahan, termasuk pembangunan dua reaktor air keras baru di situs nuklir Khushab, yang juga telah memiliki dua reaktor operasional sejak tahun 2009. Jika pembangunan tersebut selesai, jumlah plutonium yang diproduksi Pakistan untuk senjata akan meningkat dua kali lipat, memungkinkannya untuk membangun sekitar 19-26 senjata per tahun. Selain dari perkembangan senjata nuklir kedua negara, kemampuan India dan Pakistan untuk merealisasikan ancaman juga dapat dilihat dari penyebaran hulu ledak nuklir di berbagai wilayah kedua negara. Dari sisi India, instalasi fasilitas senjata nuklir terdapat di Chandigarh, Hyderabad, Kalpakkam, Pokhran, Rattehalli, Tarapur, Thal, dan Trombay. (Nuclear Age Peace Foundation, 2012). Dari sisi Pakistan, instalasi senjata nuklir terdapat di Baghalchur, Chagai Hills, Chasma, Dera Ghazi Khan, Gadwal, Golra Sharif, Issa Khel, Kahuta, Kamra, Karachi, Padang Pasir Kharan, Khushab, Kundian, Lahore, Lakki, Multan, Ras Koh, Rawalpindi, Sihala, Taxila, Tumman Laghari, dan Wah (Nuclear Age Peace Foundation, 2012). Dari lokasi-lokasi tersebut, bisa dilihat bahwa kedua negara pada umumnya meletakkan instalasi nuklir pada lokasi-lokasi terluar wilayahnya yang berbatasan dengan negara lain. Ini turut menambah kemampuan keduanya dalam merealisasikan serangan nuklir, serta turut menambah kredibilitas deterrence yang dihasilkan.

Indikator ketiga, kepercayaan pihak lawan bahwa ancaman nuklir tersebut adalah sesuatu yang nyata, sebenarnya sudah bisa terlihat dari penjelasan-penjelasan sebelumnya. Ketika Pakistan mengeluarkan doktrin nuklir pada tahun 2002, India menyusulnya dengan mengeluarkan doktrin pada tahun 2003. Demikian pula dalam hal tes senjata nuklir. India sepanjang sejarah telah melakukan tiga kali tes senjata nuklir. Yang pertama dilakukan pada 18 Mei 1974, dan yang ketiga dilakukan pada 13 Mei 1998. Sementara itu, Pakistan telah dua kali melakukan tes senjata nuklir. Yang pertama pada 28 Mei 1998, dan yang kedua pada 30 Mei 1998. Dari pengeluaran doktrin nuklir yang mutual dan beriringan, begitu pula dengan tes senjata nuklir yang saling beriringan, sebenarnya bisa dilihat bahwa kedua negara saling percaya akan ancaman serangan nuklir yang bisa dilakukan lawannya. Ketika satu pihak melakukan tes nuklir, maka tak lama kemudian pihak lainnya juga melakukan tes untuk memperlihatkan kemampuan nuklirnya kepada lawan. Begitu pula yang terlihat dari giatnya masing-masing negara dalam produksi materi, instalasi, dan senjata nuklirnya. Dari ketiga indikator yang dipaparkan di atas, bisa disimpulkan bahwa masing-masing negara menjalankan strategi deterrence yang kredibel. Kredibilitas ini tercermin dari kesediaan masing-masing negara untuk melakukan serangan nuklir (baik sebagai first use maupun retaliasi), kemampuan dalam mewujudkan serangan tersebut, dan kepercayaan lawan bahwa serangan tersebut nyata. Akan tetapi, walaupun kredibel, nuclear deterrence yang dilakukan kedua negara memiliki karakter yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat diringkas ke dalam tabel berikut. India Perspektif strategis nuklir India mencakup ruang gerak yang lebih luas dari sekedar Asia Selatan sehubungan dengan potensi strategis yang dimilikinya. India menyatakan no first use sebagai prinsip doktrin nuklirnya. Pakistan Perspektif strategis nuklir Pakistan cenderung spesifik terhadap India saja.

Sistem persenjataan nuklir India adalah TRIAD (rudal balistik di darat yang dilengkapi dengan sarana pengiriman di laut dan udara). Menyatakan bahwa doktrin nuklirnya menjalankan prinsip credible minimum deterrent.

Pakistan cenderung tidak bersedia memberikan jaminan tentang prinsip no first use dalam doktrin nuklirnya karena merasa itu akan mengurangi keunggulan deterrence-nya terhadap India. Sistem persenjataan nuklir Pakistan saat ini hanya berupa rudal balistik di darat dan sarana pengiriman udara. Menyatakan bahwa doktrin nuklirnya menjalankan prinsip credible minimum deterrent, namun hal ini seringkali 7

Mengikutsertakan senjata kimia dan biologis, selain senjata nuklir, yang diluncurkan ke teritorinya, sebagai dasar untuk melakukan retaliasi nuklir besarbesaran. Persenjataan nuklir India berada di bawah Persenjataan nuklir Pakistan berada di kontrol politis sipil. bawah kontrol sipil yang lemah, dan secara de facto berada di bawah kontrol militer dan ISI (Inter Services Intelligence).
Tabel 1 Perbandingan Karakteristik Program Senjata Nuklir India dan Pakistan (Sumber: Society for the Study of Peace and Conflict, 2012)

dipertanyakan karena kapabilitasnya pada beberapa inspeksi lebih dari batas minimum. Tidak memberikan formulasi spesifik tentang serangan apa saja yang akan dibalas dengan retaliasi nuklir besarbesaran.

Stabilitas Nuclear Deterrence India dan Pakistan Strategi deterrence pada intinya digunakan untuk mencegah atau menunda perang, namun di saat yang sama juga beresiko menjadi alasan terjadinya perang. Misalnya saja, dalam kondisi konflik yang terjadi sudah sangat parah dan perang terbuka terancam pecah, strategi deterrence hanya akan membuat pihak lawan mengirimkan serangan pertama dalam skala lebih besar. Selain itu, bila strategi deterrence dilakukan kedua belah pihak, maka peningkatan skala ancaman oleh salah satu pihak dapat menyebabkan pihak lainnya memilih untuk merealisasikan ancamannya terlebih dahulu dalam bentuk serangan pertama. Perang juga dapat terjadi bila salah satu pihak merasa bahwa serangan pertama merupakan strategi terbaik untuk memenangkan peperangan. Dalam hal ini, strategi deterrence menjadi tidak efektif dan stabilitas strategis di level nuklir menjadi terganggu. Karena itu, ancaman yang dimaksudkan sebagai strategi deterrence harus diseimbangkan dengan kelancaran komunikasi yang dilakukan kedua negara yang berkonflik agar permusuhan atau konflik yang ada tidak menjadi semakin intens akibat ancaman tersebut. Ide dasar dari kestabilan deterrence adalah untuk memperingatkan pihak lawan sehingga mereka mempertimbangkan kembali tindakan yang akan dilakukan, namun tanpa memprovokasi atau memperburuk hubungan dengan pihak lawan. Dengan kata lain, selain melancarkan ancaman, strategi deterrence yang berhasil harus distabilkan dengan usaha menjaga kelancaran komunikasi dengan pihak lawan. Melalui komunikasi yang dilakukan, pihak yang melakukan deterrence dapat memberikan petunjuk kepada lawan apakah dirinya benar-benar ingin melakukan serangan atau mengancam saja. Dengan demikian, stabilitas nuclear deterrence yang dilakukan India dan Pakistan dapat diukur dari intensitas komunikasi kedua negara. Komunikasi yang dimaksud tidak perlu dibatasi seputar nuklir saja. Komunikasi dalam bidang-bidang 8

lain pun perlu diperhitungkan, karena dalam kasus kedua negara berkonflik yang sama-sama memiliki nuklir, komunikasi di masalah-masalah lain penting untuk mencegah masalah di suatu bidang bereskalasi ke level nuklir. Untuk itu berikut diberikan rangkuman komunikasi kedua negara yang tercermin dalam joint declaration, joint statement, agreement, maupun pertemuan atau kunjungan pejabat pemerintah kedua negara dalam periode 2007-2010.2 Tahun/Jumlah Komunikasi 2007 11 2008 11 2009 4 2010 4 Topik Bahasan Siachen, Sir Creek, terorisme dan peredaran obat-obatan terlarang, kerjasama ekonomi dan perdagangan, Joint Study Group, keamanan maritim, fasilitasi perdagangan, proyek navigasi Tulbur / bendungan Wullar, conventional CBMs, nuclear CBMs, antiterrorism mechanism Layanan transportasi udara, bus services, Joint Judicial Committee on Prisoners, consular access, composite dialogue antarmenteri luar negeri, anti-terrorism mechanism, pertemuan antarperdana menteri, pertemuan antarmenteri dalam negeri Pertemuan di KTT G-8, pertemuan di perluasan KTT G-8, pertemuan antarperdana menteri, pertemuan di sidang Majelis Umum PBB Pertemuan di KTT SAARC, pertemuan menteri dalam negeri SAARC, kunjungan menlu India ke Pakistan atas undangan menlu Pakistan, konferensi CPA kawasan India

Tabel 2 Komunikasi Bilateral India-Pakistan 2007-2010 (Sumber: website High Commission of India in Islamabad, http://www.india.org.pk/join.html, dan website Kementerian Luar Negeri India, http://www.mea.gov.in/pakistan-in.htm)

Dari rangkuman tersebut, terlihat bahwa komunikasi dan interaksi antara India dan Pakistan tetap berjalan dengan cukup intens di tengah berbagai masalah yang melibatkan kedua negara. Yang menarik juga adalah kenyataan bahwa interaksi yang dilakukan mencakup topik dan isu yang beragam, dan di antaranya adalah isu-isu krusial seperti terorisme. Isu nuklir juga tidak luput menjadi bahasan, seperti pada joint statement di tahun 2007 tentang nuclear confidence building measures (nuclear CBMs). Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa komunikasi dan interaksi yang dilakukan cukup berkontribusi untuk menjadi stabilisator bagi kepemilikan nuklir dan strategi nuclear deterrence yang dilakukan kedua negara. Kesimpulan

Data kronologi interaksi kedua negara sebelum tahun 2007 tidak tersedia karena sudah expired dari website kedutaan dan kementerian luar negeri kedua negara.

Kepemilikan senjata nuklir oleh suatu negara hampir selalu bisa dipastikan ditujukan untuk kepentingan deterrence, bukan untuk benar-benar digunakan. Namun, diberikan kondisi hubungan antarnegara yang terus bergejolak, terutama antarnegara yang sama-sama memiliki senjata nuklir, seringkali dipertanyakan apakah ancaman serangan nuklir yang dilakukan suatu negara cukup menakutkan untuk membuat lawannya mengurungkan niat dari melakukan hal yang tidak diinginkan oleh pihak pertama (pertanyaan kredibilitas), serta apakah ancaman tersebut diterima dengan tepat dan tidak disalahartikan sebagai keinginan untuk benar-benar meluncurkan serangan (pertanyaan stabilitas). Dalam kasus hubungan India-Pakistan, dari analisis dan data-data yang diberikan di atas, dapat dilihat bahwa kedua negara menjalankan strategi nuclear deterrence yang kredibel dan stabil. Kredibilitas dan stabilitas tersebut memberikan jaminan yang tinggi bahwa senjata nuklir yang dimiliki keduanya hanya digunakan sebagai alat deterrence, serta menghindarkan lawannya dari mispersepsi akan suatu serangan nuklir. Artinya, kecil kemungkinan akan terjadi gejolak dalam hubungan kedua negara yang bisa membawa terjadinya eskalasi ke level nuklir; dengan kata lain stabilitas strategis di level nuklir kedua negara tinggi. Mungkin akan timbul pertanyaan mengenai posisi India yang berkomitmen terhadap prinsip no first use dan hanya bersedia menggunakan senjata nuklir untuk tujuan retaliasi; bagaimana itu dapat memberikan dasar stabilitas strategis yang besar bagi kedua negara? Jawabannya sederhana. Justru karena satu pihak hanya berkomitmen untuk retaliasi, maka kredibilitas deterrence akan semakin besar. Jika keduanya berkomitmen untuk melakukan serangan pertama, maka dilema yang dirasakan keduanya akan semakin besar tentang siapa yang akan memulai perang nuklir duluan dalam keadaan eskalasi nuklir yang tinggi. Dengan demikian, posisi India yang eksklusif untuk retaliasi turut berkontribusi terhadap stabilitas strategis yang besar. Dalam kondisi demikian, paradoks stabilitas-instabilitas sangat rentan terjadi. Dunia tentunya masih ingat ketika perdana menteri India, Atal Bihari Vajpayee, dan perdana menteri Pakistan, Nawaz Sharif, melakukan pertemuan pada tahun 1999 yang berujung pada dirumuskannya deklarasi Lahore pada 21 Februari 1999. Deklarasi yang terwujud sebagian besar sebagai respon terhadap perkembangan senjata nuklir kedua negara yang pesat sejak tes nuklir tahun 1998, serta membahas mengenai pembentukan confidence building measures dalam hal senjata nuklir, disambut baik oleh dunia sebagai suatu perkembangan positif dalam hubungan India-Pakistan yang hampir selalu konfliktual. Akan tetapi, ekspektasi tersebut tidak berlangsung lama dan harus runtuh dengan terjadinya Perang Kargil pada Mei 1999. Yang patut disoroti adalah bahwa perang tersebut terjadi sebagai akibat pelanggaran batas wilayah Kashmir oleh militer Pakistan beserta kelompok pemberontak Kashmir yang disponsori Pakistan. Ini sedikit banyak membuktikan bahwa harga konfrontasi dengan menggunakan senjata nuklir sudah menjadi terlalu tinggi dengan adanya

10

stabilitas strategis di level nuklir yang salah satunya ditandai dengan munculnya deklarasi Lahore. Stabilitas di level nuklir kemudian menciptakan paradoks stabilitasinstabilitas dalam bentuk tingginya dorongan untuk menggunakan ancaman konvensional atau sub-nuklir untuk menyerang lawan sebagai ganti senjata nuklir. Terlebih lagi untuk Pakistan yang menggunakan kelompok pemberontak sebagai senjata untuk menyerang India, paradoks stabilitas-instabilitas semakin terbuktikan. Mengapa? Karena kelompok pemberontak bukan lah bagian dari tentara militer resmi suatu negara dan Pakistan juga selalu mengelak bahwa ia memberikan dukungan terhadap kelompok pemberontak Kashmir (Riedel 2008). Artinya, kemungkinan konfrontasi dengan menggunakan kelompok pemberontak tersebut dapat bereskalasi ke level nuklir menjadi lebih kecil. Kelompok pemberontak Kashmir bisa dikatakan sebagai pion yang digunakan Pakistan untuk menyerang India dengan harga yang sangat murah dan memiliki resiko yang kecil untuk bereskalasi ke level nuklir.

11

DAFTAR PUSTAKA BUKU Hagerty, Devin. South Asia in World Politics. Lantham, MD: Rowman and Littlefield, 2005. Jervis, Robert. The Illogic of American Nuclear Strategy. Cornell University Press, 1984. Morganh, Patrick M. Deterrence Now. New York: Cambridge University Press, 2003. ARTIKEL DALAM BUKU Snyder, Glenn H. The Balance of Power and the Balance of Terror. The Balance of Power. Ed. Paul Seabury. Scranton: Chandler, 1965. 185-201. ARTIKEL DALAM JURNAL Kapur, S. Paul. India and Pakistans Unstable Peace: Why Nuclear South Asia is Not Like Cold War Europe. International Security 30:2(2005): 127-152. Kristensen, Hans, dan Robert Norris. Indian Nuclear Forces, 2012. Bulletin of Atomic Scientists Jul. 2012. -----------------------------------------------. Pakistans Nuclear Forces, 2011. Bulletin of the Atomic Scientists Jul./Agu. 2011. Mian, et al. Fissile Materials in South Asia: The Implications of the U.S.-Indian Nuclear Deal. International Panel on Fissile Materials Sep. 2006: 36. Natural Resources Defense Council. Indias Nuclear Forces, 2007. Bulletin of the Atomic Scientists Jul./Agu. 2007: 74. Riedel, Bruce. Pakistan and Terror: The Eye of the Storm. Annals of the American Academy of Political and Social Science Jul. 2008: 31-45. WEBSITE Arms Control Association. 2012. 17 Desember 2012 <http://www.armscontrol.org/factsheets/indiaprofile>. ---------------------------------------------. 2012. 17 Desember 2012 < http://www.armscontrol.org/factsheets/pakistanprofile>. High Commission of India in Islamabad. 2012. 17 Desember 2012 <http://www.india.org.pk/join.html>. Institute for Science and International Security. Pakistan Doubling Rate of Making Nuclear Weapons: Time for Pakistan to Reverse Course. Mei 2011. 17 Desember 2012 <http://isis-online.org/isis-reports/detail/pakistan-doubling-rate-of-makingnuclear-weapons-time-for-pakistan-to-rever/>. Ministry of External Affairs, Government of India. India-Pakistan Relations. 2012. 17 Desember 2012 <http://www.mea.gov.in/pakistan-in.htm>.

12

Nuclear Age Peace Foundation. Special Weapons Facilities. 2012. 17 Desember 2012 <http://www.nuclearfiles.org/menu/key-issues/nuclear-weapons/history/post-coldwar/indiapakistan/background_information/indian_weapons_facilities_print.htm>. Society for the Study of Peace and Conflict. India and Pakistans Nuclear Doctrines: A Comparative Analysis. Oleh Mohammed Badrul Alam. Apr 2012. 17 Desember 2012 <http://www.sspconline.org/opinion/India_Pakistans_NuclearDoctrines_1104201 2>. LAIN-LAIN Institute of Peace and Conflict Studies. Indias Nuclear Doctrine: An Alternative Blueprint. 2012.

13