Anda di halaman 1dari 6

TEKNIK MEMBUAT KAJIAN

Agra Dhira Narendraputra


DISAMPAIKAN PADA ACARA : Latihan Kepemimpinan dan Managemen Mahasiswa ISMKI Wilayah 4 Makassar, 13 Juni 2011

1. Mengapa Harus Membuat Kajian? 1.1. Posisi mahasiswa di tengah kehidupan bangsa Mahasiswa berada di tengah-tengah, di antara golongan atas (birokrat, cendekiawan, professor, DPR, dll.) dan golongan bawah (rakyat jelata, petani, pedagang, buruh, dll.). Sebagai calon cendekiawan, mahasiswa mempunyai modal dalam hal intelektual. Di samping itu, posisi mahasiswa yang belum mempunyai tanggungan (keluarga) membuatnya dalam posisi bebas dari kepentingan. Mahasiswa seharusnya dalam bergerak hanya membawa kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia, bukan kepentingan pribadi (agar dipandang hebat) maupun kepentingan golongan. Dalam mengemban posisinya ini mahasiswa punya tanggung jawab untuk mengkritisi kerja pemerintah, birokrat, dan golongan atas lainnya agar bekerja sebaik-baiknya untuk kesejahteraan rakyat. Tanggung jawab yang lain adalah untuk mencerdaskan masyarakat (golongan bawah) yang notabene tidak seberuntung mahasiswa untuk bisa menikmati pendidikan tinggi. Kedua fungsi ini harus berjalan seimbang, sehingga ketiga komponen bangsa bisa bersamasama membangun bangsa Indonesia menjadi bangsa yang besar dan bermartabat.

1.2. Agent of health Menjadi mahasiswa kedokteran sudah menjadi kewajiban kita untuk mengkampanyekan gaya hidup sehat. Dimulai dari diri kita sendiri. Kita harus bisa mencerdaskan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih nyaman, indah dan sehat untuk dihuni. Isu-isu makanan yang mengandung formalin, boraks, MSG dan bahan-bahan berbahaya lain adalah salah satu PR bagi mahasiswa kedokteran. Selain itu, menjadi mahasiswa kedokteran juga berarti menjadi pengabdi masyarakat. Mahasiswa kedokteran harus sejak sedini mungkin melatih diri dalam kepekaan dan kepedulian. Rasa peka terhadap penderitaan rakyat. Hal inilah yang membuat dokter-dokter pribumi menggerakkan Kebangkitan Nasional untuk yang pertama kalinya di tahun 1908. Masakkan lebih dari 100 tahun sesudahnya dokter Indonesia hanya terkenal dengan kampus yang mewah, tongk.rongan di kafe, dan tunggangan mobilnya? Seharusnya kita miris melihatnya 1.3. Agent of change Terlalu banyak yang harus diubah dari negeri ini. Negeri yang kita cintai terlalu banyak mempunyai persoalan klasik yang hingga kini belum terselesaikan, bagaikan emboli yang siap menggelinding dan menyumbat pembuluh-pembuluh otak dan mengakibatkan serangan stroke. Tugas kita sebagai mahasiswa adalah terus berkontribusi, menyumbang pemikiran-pemikiran cerdas kita yang bisa menjadi pengikis bagi emboli tersebut. Bahkan bukan cuma sekedar pemikiran, namun harus dilaksanakan dengan aksi yang bisa menyadarkan berbagai pihak bahwa ada yang salah di negeri ini. 1.4. Agent of development Sesuatu yang berhasil kita ubah dalam peran kita sebagai agent of change sudah selayaknya kita pertahankan. Selain itu kita juga sepatutnya membangun hasih reformasi yang kita cita-citakan tersebut. Inilah peran agent of development. Kita wajib mengambil bagian dalam agenda pembangunan nasional bangsa kita. Yang selanjutnya adalah terus berusaha mengembangkan diri dalam segala aspek. Akademis, moral-etika, profesionalisme, softskill, entrepreneurship, dll. sehingga pada waktu yang ditentukan nanti ilmu yang kita miliki dapat diaplikasikan di masyarakat. Niscaya masyarakat akan lebih sejahtera dan makmur.

2. Langkah-langkah Membuat Kajian 2.1. Pengumpulan Isu Tahap ini dapat dikatakan sebuah fase brainstorming, dimana kita murni mengumpulkan isu-isu yang ada tanpa analisa lebih lanjut. Hal ini berguna untuk memperluas jangakauan pemikiran sehingga dapat menghindari adanya isu-isu yang luput. Tetapi, dalam pengumpulan isu ini sebaiknya kita mencari sumbersumber yang valid dan diklarifikasi. 2.2. Klasifikasi Isu yang telah kita list pada tahap sebelumnya dapat kita klasifikasikan dengan berbagai cara sesuai dengan kebutuhan yang ada. Misalnya: Ruang lingkup, komponen yang terlibat, tema, kepentingan dlsb. Berdasar: Ruang lingkup: global, nasional, regional, internal Tema: kesehatan, pendidikan kedokteran, kebijakan publik terkait kesehatan, kemiskinan, lingkungan, dll. Stakeholder: presiden, kemenkes, dinkes, IDI, KKI, dekanat, rektorat

2.3. Filterisasi Tahap Filterisasi merupakan tahap paling esensial dalam manajemen isu. Karena pada tahap inilah kita melakukan screening isu hingga menghasilkan isu-isu strategis yang benar-benar layak untuk diangkat dan diperjuangkan. Dalam proses Filterisasi ini, kita dapat melihat dari beberapa sudut pandang, sbb.: Strategic relevance Actionability Criticality Urgency

(W. R. King, 1982. Strategic Issue Management) Growth

2.4. Hipotesis: membuat dugaan tentang sebab dan akibat sebuah isu

2.5. Cari Data dan Referensi Sumber data dapat dicari dari:

Media cetak (buku, koran, majalah, jurnal, dll.) Media elektronik (internet, web, forum) Wawancara langsung dengan pakar Audiensi dengan pemangku kebijakan

2.6. Analisis 2.7. Rekomendasi (Kertas Posisi), format:

1. Latar Belakang 2. Identifikasi Masalah 3. Pembahasan a. Analisa Penyebab b. Analisa Efek c. Analisa Pihak-pihak yang terlibat 4. Rekomendasi Solusi 5. Penutup a. Kesimpulan b. Pernyataan Sikap

2.8. Follow UP Kertas posisi tidak akan bermakna bila tidak diperjuangkan kepada pemangku kebijakan. Setelah melakukan audiensi dan pernyataan sikap kastrat harus senantiasa melakukan follow up kepada pihak-pihak yang berkaitan dalam suatu isu. Sebagai contoh adalah ketika FMB ke-3 yang dilaksanakan di FK Unair pada bulan November 2010. Pada waktu itu isu yang dibahas adalah internship. Setelah FMB tersebut selesai dibentuk tim 7 yang akan terus melakukan follow up kepada KKI terkait kebijakan internship ini. 3. Tips Membuat Kajian yang Baik 3.1. PBL / research Kajian bisa diibaratkan sebuah sesi PBL (Problem Based Learning) di kuliah kita. Alur pembuatan kajian kurang lebih sesuai dengan alur PBL.

3.2. Team work Kajian yang baik disusun dari pemikiran beberapa orang yang disatukan menjadi rekomendasi bersama. Dengan pembagian tugas dan wewenang pembuatan kajian akan lebih efektif dan cepat terlaksana. Tentu saja kuncinya harus ada komitmen dari setiap anggota tim kajian untuk melaksanakan tugasnya. 3.3. Say No to Apatis Menjadi seorang kastrat secara otomatis akan mendekatkan diri kita ke TV, internet, dan berbagai media massa lain. Bedanya dengan mahasiswa biasa, kastrat haruslah peka mencari isu-isu sexy yang bisa dikaji dan juga harus berperan menjadi penikmat berita yang produktif. 3.4. Perkaya Wawasan Meskipun sebagai mahasiswa kedokteran tidak ada salahnya kita mempelajari disiplin ilmu lain. Apalagi sebagai kastrat, yang akan banyak berkutat dengan kebijakan publik, isu-isu, dan fenomena yang menuntut kepekaan dan pemikiran kritis. Memperkaya wawasan adalah nyawa seorang kastraters. Ilmu-ilmu yang harus dikuasai kastraters antara lain: hukum, komunikasi, politik, tata Negara, ekonomi, dll. Apabila perlu bantuan dari mahasiswa antar disiplin ilmu, jangan ragu-ragu untuk jalan-jalan ke BEM fakultas lain, menjalin relasi dengan kastrat disana dan berdiskusi mengenai sebuah kebijakan kesehatan. 3.5. Kuatkan Idealisme Membuat kajian dan analisis isu adalah pekerjaan yang membutuhkan keteguhan idealisme. Idealisme adalah harta terakhir yang dimiliki mahasiswa. Dengan idealisme mahasiswa tidak akan dengan mudah diombang-ambingkan oleh kepentingan semu, kepentingan golongan tertentu, dan motif-motif lain selain daripada cita-cita kesejahteraan rakyat. Sebagai mahasiswa, hendaknya selalu menjaga cita-cita luhur pendiri bangsa dan menjaga pilar-pilar Proklamasi, NKRI, UUD 45, dan Bhineka Tunggal Ika. 4. Karakter pribadi yang mencerminkan seorang kastrat yang berkualitas: a. Berketuhanan Yang Maha Esa b. Berkemanusiaan yang adil dan beradab c. Menjaga persatuan Indonesia d. Berwawasan kerakyatan dan mengedepankan musyawarah, mufakat e. Berkeadilan sosial f. Menjunjung semangat Bhineka Tunggal Ika g. Nasionalis h. Patriotis i. Kritis j. Solutif k. Sabar dan cermat

l. m. n. o. p. q. r. s.

Jujur Berani membela kebenaran Cerdas Merakyat Peduli Kreatif Berkomitmen Berkemampuan memimpin