Anda di halaman 1dari 20

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1

BAB 5 LABORATORIUM ANALISIS MUTU


Pada setiap PKS laboratorium merupakan salah satu bagian yang penting karena sangat berguna untuk melakukan analisa terhadap mutu yang dihasilkan dan juga untuk menjaga proses berlangsung seperti yang distandarkan. Tugas bagian laboratorium pada dasarnya untuk melaksanakan quality control dari perusahaan terhadap mutu produksi, losses dan mutu air yang digunakan oleh pabrik.

5.1. Analisa Mutu Produksi 5.1.1. Analisa Mutu Terhadap Minyak Spesifikasi mutu produksi minyak sawit (CPO) secara umum adalah adalah sebagai berikut : Tabel 5.1. Standar Mutu Minyak Sawit Parameter Asam lemak bebas Kadar air Kadar kotoran Nilai peroksida (peroxide value) Nilai anisidin (anisidine value) Kandungan besi (iron content) Kandungan tembaga (copper content) DOBI (Deterioration Bleachingability Index) 9. Bilangan Iod 10. Titik cair Sumber : PTPN III Medan No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Produksi (%) 3,50 0,15 0,02 Eksport (%) 5 0,15 0,02 5,00 6,00 3,50 0,05 2,5 5,1 39 41

Analisa mutu minyak produksi dilakukan terhadap minyak yang akan masuk ke storage tank (setiap 1 jam), minyak yang akan masuk ke crude oil tank (setiap 3 jam dan 3 kali dalam 1 shift), serta kadar air minyak yang masuk ke oil tank, oil purifier dan vacuum dryer (setiap 1 jam). Prosedur analisa yang dilakukan adalah sebagai berikut :

5.1.1.a. Analisa Kadar Air Analisa ini dilakukan untuk mengetahui kadar air yang terkandung dalam CPO dimana standarnya adalah maksimum 0,15 %. Pada analisa ini : 1. Alat-alat yang digunakan : Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT. 71

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


a. Timbangan analitik b. Petridish c. Oven d. Desikator 2. Prosedur Kerja a. Timbang sampel sebanyak 10 gram, masukkan ke dalam petridish yang telah diketahui berat kosongnya. b. Sampel dipanaskan dalam oven dengan suhu 110 0C selama 3 jam. c. Dinginkan sampel ke dalam desikator selama 30 menit, kemudian ditimbang. 3. Perhitungan

Kadar air minyak produksi =

berat sampel yang hilang 100% berat sampel semula

5.1.1.b. Analisa Kadar Kotoran Analisa kadar kotoran dilakukan untuk mengetahui kadar kotoran yang terkandung dalam CPO dimana standarnya adalah maksimum 0,02 %. Pada analisa ini : 1. Alat-alat yang digunakan : a. Timbangan analitik b. Kertas saring whatman c. Beaker glass d. Oven e. Corong gelas f. Desikator g. Washing botol 2. Bahan yang digunakan: N-hexane 3. Prosedur Kerja a. Beaker glass 250 ml ditimbang untuk mengetahui berat kosongnya. Sampel minyak dimasukkan sebanyak 20 gram, lalu ditambahkan ke dalam sampel larutan N-hexane sebanyak 200 ml. b. Kertas saring whatman dilipat empat dan ditimbang untuk mengetahui beratnya, kemudian dibilas dengan N-hexane. Selanjutnya kertas saring Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT. 72

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


dipanaskan dalam oven selama 30 menit, lalu didinginkan, ditimbang (misal beratnya x gram) dan diletakkan di atas corong gelas. c. Sampel minyak dalam beaker glass disaring sambil dibilas dengan N-hexane agar mudah melarut. d. Setelah penyaringan selesai, residu yang berada dalam kertas saring dipanaskan dalam oven pada temperature 110 0C selama 1 jam. Kemudian dimasukkan ke dalam desikator selama 30 menit. e. Kertas saring ditimbang untuk mengetahui beratnya (misal y gram). 4. Perhitungan

Kadar kotoran =

berat y - x 100% berat contoh

Gambar 5.1.a. Timbangan Analitik

Gambar 5.1.b. Petridish

Gambar 5.1.c. Oven

Gambar 5.1.d. Proses Ekstraksi minyak

5.1.1.c. Analisa Kadar Asam Lemak Bebas Analisa kadar asam lemak bebas dilakukan untuk mengetahui kadar asam lemak bebas yang terkandung dalam CPO dimana standarnya adalah maksimum 3,5 %. Pada analisa ini : Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT. 73

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


1. Alat-alat yang digunakan Timbangan analitik Erlenmeyer Gelas ukur Buret

Gambar 5.2. Gelas Erlenmeyer 2. Bahan yang digunakan : 1. N-hexane 2. Alkohol 96 % (ethanol = C2H5OH) 3. Indikator thymol blue 4. KOH 3. Prosedur kerja : 1. Timbang sampel sebanyak 3 gram, masukkan ke dalam Erlenmeyer yang telah diketahui beratnya. 2. Ke dalam sampel ditambahkan N-hexane 10 ml dan alkohol 96% sebanyak 20 ml dan 3 tetes indikator thymol blue. 3. Sampel dititrasi dengan larutan KOH 0,1 N (masukkan tetes demi tetes dan sample diaduk) sampai terjadi perubahan warna dari kuning menjadi kehijau-hijauan. 4. Perhitungan

Kadar ALB =

ml KOH 0,1 N N KOH 25,6 100% berat sampel

5.1.2. Analisa Mutu Terhadap Inti sawit Standar mutu inti sawit produksi dapat dilihat pada tabel berikut ini :

Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT.

74

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


Tabel 5.2 Standar Mutu Inti Sawit No. Parameter 1. Asam lemak bebas 2. Kadar air 3. Kadar kotoran 4. Inti pecah 5. Kadar Minyak 6. Berubah warna Sumber: PTPN III Medan Produksi (%) Max. 1,00 Max 7,00 Max. 6,00 Max. 15,0 Max. 49,0 Max. 40 Eksport (%) Max 1,00 Max. 7,00 Max. 6,00 Max.15,0 Max. 49,0 Max. 40

Analisa mutu inti sawit produksi dilakukan pada kernel storage setiap 1 jam sekali.

Gambar 5.3. Nut (biji sawit), Kernel (inti) sawit, dan Cangkang

5.1.2.a. Analisa Kadar Air Cara analisa sama seperti analisa kadar air minyak sawit. Hanya saja untuk inti sawit sampel dirajang-rajang sekecil mungkin.

5.1.2.b. Analisa Kadar Kotoran 1). Alat-alat yang digunakan Timbangan analitik Tempat contoh Pemecah biji

2). Prosedur Kerja : a). Sampel yang akan diperiksa, ditimbang sebanyak 1000 gram. b). Sampel dipisahkan atas inti utuh, inti pecah, nut utuh, nut pecah dan cangkang. Kemudian ditimbang satu per satu untuk mengetahui persentasenya. 3). Perhitungan

Kadar kotoran =

berat cangkang + berat nut utuh + berat nut pecah 100% berat sampel
75

Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT.

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


5.1.2.c. Analisa Kadar Minyak 1). Alat-alat yang digunakan a. Timbangan analitik b. Socklet Extraction c. Oven d. Desikator

Gambar 5.4. Minyak Sawit 2). Bahan yang digunakan : N-hexane 3). Prosedur Kerja : a. Sampel dari analisa kadar air dibungkus dengan kertas saring kemudian diekstraksi selama 6 jam. Ekstraksi dihentikan apabila tidak ada lagi embun yang melekat pada tabung. c). Kemudian dipisahkan antara minyak dengan N-hexane. d). Sampel bersama kock kolf-nya dipanaskan dalam oven selama 30 menit, lalu sampel dimasukkan ke dalam desikator selama 30 menit. Sampel ditimbang untuk mengetahui berat minyak pada sampel. 4). Perhitungan

Kadar minyak inti =

berat minyak pada sampel 100% berat sampel basah

5.1.2.d. Analisa Kadar ALB 1). Alat-alat yang digunakan a. Timbangan analitik b. Buret Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT. 76

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


c. Erlenmeyer d. Gelas ukur 2). Bahan yang digunakan : a. N-hexane b. Alkohol 96% c. Indikator thymol blue 3). Prosedur Kerja : a. Hasil ekstraksi dari analisa kadar minyak ditimbang sebanyak 2 3 gram. b. Kemudian dititrasi dengan larutan KOH 0,1 N sampai terjadi perubahan warna menjadi kebiru-biruan. 5). Perhitungan 6).

Kadar ALB =

volume KOH N KOH 200 100% berat sampel

5.2. Analisa Losses Produksi 5.2.1. Analisa Losses Minyak Produksi Losses minyak sawit terjadi pada : a. Katekopen (USB = Unstrip Bunch) b. Dihitung berdasarkan jumlah buah yang katekopen (USB) untuk setiap 100 janjangan. c. Air kondensat rebusan d. Tandan kosong e. Ampas pressan f. Biji g. Air buangan sludge separator h. Drab akhir Selain USB (unstrip bunch), dilakukan analisa kadar minyak pada sampel yang diambil setiap 3 jam sekali dan 3 kali dalam 1 shift. A. Pengambilan Contoh 1). Pengambilan contoh dilakukan petugas pengambil contoh dari laboratorium yang disaksikan oleh operator stasiun yang bersangkutan. Bukti pengambilan contoh harus diparaf oleh operator stasiun yang bersangkutan. Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT. 77

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


2). Tempat pengambilan contoh diatur sebagai berikut : a. Tandan kosong diambil dari ujung horizontal empty bunch conveyor b. Ampas press dan biji press diambil dari corong setiap press c. Sludge separator, diambil dari lumpur keluarannya yang menuju ke parit d. Drab akhir diambil dari saluran pembuangan fat fit. 3). Jumlah contoh tiap pengambilan adalah : a. Tandan kosong 2 tandan b. Bahan padat 400 gram (ampas press) c. Bahan cair 100 ml B. Pelaksanaan Analisa a. Analisa terhadap contoh-contoh dilakukan tiap shift b. Setiap terjadi penyimpangan dari standar/norma segera dilaporkan kepada asisten pengolahan untuk tindakan perbaikan. C. Metode Analisa 1). Contoh yang diambil Jenis contoh yang sesuai perlakuannya untuk dianalisis angka kerugian minyak sawit adalah sebagai berikut : a. Contoh air rebusan, ditimbang 20 gram b. Janjangan kosong, ditimbang 10 gram c. Ampas press-an, ditimbang 10 gram d. Biji masuk silo, ditimbang 40 gram e. Sludge separator, ditimbang 10 gram f. Drab akhir, ditimbang 20 gram 2). Kadar air Alat yang digunakan : a. Petridish b. Timbangan analitik c. Oven d. Desikator Prosedur kerja : a. Contoh ditimbang sebanyak ketentuan di atas cawan penguap yang dialasi kertas dan telah diketahui berat kosongnya.

Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT.

78

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


b. Contoh dimasukkan ke dalam oven 105 110 0C selama 1 2 jam sampai semua air dalam contoh menguap. c. Contoh didinginkan dalam desikator dan timbang beratnya d. Perlakuan diulangi hingga diperoleh berat konstan Misalnya : Cawan penguapan + contoh basah Cawan penguapan kosong Berat contoh basah Cawan penguapan + contoh kering Berat zat penguap = 53,2721 gram = 43,2612 gram = 10,0109 gram = 49,5781 gram = 3,6940 gram

Kadar air =

berat zat menguap 100 % berat contoh 3,6940 = 100% = 36,90 % 10,0109

3). Kadar minyak Alat yang digunakan : a. Timbangan analitis b. Sochlet extraction apparatus. c. Elektrotermal d. Oven e. Desikator Reagent yang digunakan : N-hexane Prosedur kerja : a. Dari hasil analisa kadar air di atas, contoh kering dalam cawan penguap dimasukkan ke dalam extraction timble dan tutup dengan kapas. b. Berat kosong dari flask extraction ditimbang kemudian diisi dengan pelarut N-hexane sebanyak 200 ml. c. Timble ditempatkan dalam extractor dan dihubungkan dengan flask, kemudian diekstraksi selama 5 6 jam. d. N-hexane dalam flask disuling hingga hampir habis, kemudian flask dimasukkan dalam oven hingga semua N-hexane dalam flask harus menguap. e. Flask didinginkan dalam desikator dan beratnya ditimbang Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT. 79

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


f. Perlakuan diulangi hingga diperoleh berat yang konstan. Misal : Berat contoh basah Berat kandungan air Berat zat kering Flask extraction + minyak Flask extraction Berat minyak = 10,0109 gram = 3,6940 gram = 6,3169 gram = 104,1248 gram = 103,6022 gram = 0,5226 gram

Kadar minyak terhadap contoh =

hasil minyak ekstraksi 100 % berat contoh basah 0,5226 = 100 % = 5,22 % 10,0109

Kadar minyak terhadap zat kering =

hasil minyak ekstraksi 100 % berat contoh kering 0,5226 = 100 % = 8,27 % 6,3169

Tabel 5.3. Hasil analisa kerugian minyak sawit (contoh) No. 1. 2. 3. 4. 5. Uraian Ampas Press Air Darah Tandan Kosong Air Rebusan Biji Jumlah Norma 5,00 6,00 0,40 0,60 1,50 2,20 0,30 0,60 0,30 0,60 % Minyak (Realisasi) 5,76 0,66 2,46 0,79 0,69 Norma (Batasan) 0,62 0,74 0,21 0,35 0,45 0,52 0,03 0,07 Max. 1,65 Kehilangan minyak (%) (Realisasi) 0,71 0,31 0,51 0,08 1,61

5.2.2. Analisa Losses Inti Produksi Losses inti sawit dapat terjadi pada : a. Ampas press b. Cangkang pada LTDS c. Cangkang pada hydrocyclone Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT. 80

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


Pengambilan contoh dilakukan setiap 3 jam dan 3 kali dalam 1 shift. Jumlah contoh yang diambil masing-masing sebanyak 1000 gram. Apabila terjadi penyimpangan, hasil analisa dilaporkan kepada asisten pengolahan untuk tindakan perbaikan. Metode analisa : 1). Alat yang digunakan : timbangan analitik 2). Cara kerja : Contoh ditimbang sebanyak 1000 gram, lalu dipisahkan atas : Inti lepas utuh + pecah, misal 20 gram Inti dalam biji utuh, misal 80 gram Inti dalam biji pecah, misal 30 gram Jumlah kehilangan inti, misal 130 gram Jumlah sampah/cangkang, misal 870 gram = 2% = 8% = 3% = 13 % = 87 %

Tabel 5.4. Contoh hasil analisa kerugian inti sawit (%) No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Uraian Biji Utuh Biji Pecah Inti Lepas Hydrocyclone LTDS I Fibre Cyclone Jumlah Norma 0,50 3,00 0,50 3,00 1,00 4,00 1,50 2,30 2,00 4,00 1,50 2,30 % inti (Realisasi) 2,58 2,31 4,70 4,50 4,32 1,48 Norma (Batasan) 0,01 0,02 0,01 0,02 0,02 0,06 0,10 0,30 0,06 0,08 0,07 0,27 Max. 0,60 Kehilangan inti (%) (Realisasi) 0,32 0,18 0,18 0,68

5.2.3. Analisa Mutu Air Analisa mutu air dilakukan sebanyak 2 kali setiap hari. Pengambilan sampel dilakukan pada raw water, clarifier tank, sand filter, cation dan anion exchanger,

demineralizer tank, dan boiler.

Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT.

81

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


Tabel 5.5. Standar mutu Air Syarat Uraian pH Alkalinitas PI Alkalinitas PR Alkalinitas Total Kesodaan Total DM Value TDS Silika (SiO2) Satuan Air Umpan ppm ppm ppm ppm ppm ppm 7,5 9,5 20 Max. 10 Max. 100 Max. 120 Air Ketel 10,3-11,5 Max. 300 Max. 300 Max. 700 12 16 Max. 2500 -

5.2.3.1. Analisa pH Analisa pH dilakukan untuk mengetahui tingkat keasaman pada air. Alat-alat yang digunakan : a. pH meter Beckman b. Glass Beaker 1000 ml Bahan kimia yang digunakan : a. Tablet pH 7 b. Aquades Prosedur kerja : 1). Bila hendak dioperasikan, jarum pH dilihat apakah telah menunjukkan angka 7 tepat sebagai standar. 2). Elektroda diangkat lalu dibilas dengan aquadest 3). Elektroda dimasukkan ke dalam contoh air yang akan dianalisa 4). Jarum akan menunjukkan angka yang diinginkan kemudian dibaca. 5). Setelah selesai maka elektroda diangkat kembali dan dibilas dengan aquadest, kemudian elektroda direndam dalam larutan pH 7.

3.2.3.2. Analisa TDS Analisa TDS dilakukan untuk mengetahui zat-zat yang terlarut dalam air, misalnya mineral dan garam. Alat-alat yang digunakan antara lain : Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT. 82

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


a. Total dissolved solid Lamotte, 0 350 ppm b. Kertas tissue Prosedur kerja : 1). Atur temperatur pada alat TDS sesuai dengan temperatur laboratorium 2). Alat TDS distandarkan ke angka 5000 ppm 3). Putar arahnya hingga menunjukkan bacaan ON 4). Celupkan elektrodanya ke dalam air contoh sehingga jarumnya menunjukkan angka tertentu. 5). Setelah selesai operasi diputar kembali ke arah OFF dan elektroda dibersihkan dengan tissue.

5.2.3.3. Analisa P Alkalinity Peralatan yang digunakan antara lain : a. Erlenmeyer b. Buret Bahan kimia yang digunakan : a. Indikator phenolphtalein b. Asam sulfat 0,02 N c. Indikator methyl orange Prosedur kerja : 1). Sampel air diambil sebanyak 50 ml dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer. 2). Ke dalam sampel ditambahkan beberapa tetes indikator phenolphtalein hingga air berwarna merah rosa. 3). Sampel dititrasi dengan larutan H2SO4 0,02 N hingga warna merahnya hilang. Perhitungan :

P alkalinity =

vol. H 2 SO 4 0,02 N 1000 50 ml sampel

5.2.3.4. Analisa M Alkalinity

Peralatan yang digunakan antara lain :


a. Erlenmeyer b. Buret Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT. 83

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


Bahan kimia yang digunakan : a. Asam sulfat 0,02 N
b. Indikator methyl orange

Prosedur kerja : 1). Sampel air dari analisa P alkalinity ditambahkan dengan beberapa tetes indikator
methyl orange.

2). Sampel dititrasi dengan larutan H2SO4 0,02 N hingga warna berubah menjadi kemerahmerahan. Perhitungan : M alkalinity = hasil titrasi (P + M.alkalinity)ml 1000 50 ml sampel

5.2.3.5. Analisa Total Hardness

Analisa dilakukan untuk mengetahui kesadahan magnesium dan kalsium yang terdapat dalam air (garam-garam dalam air). Peralatan yang digunakan : a. Tabung uji b. Pipet test kit plastik Bahan kimia yang digunakan : a. Hardness reagent no. 5 b. Hardness reagent no. 6 c. Hardness reagent no. 7 Prosedur kerja : 1). Tabung uji diisi dengan sampel air hingga batas atas. 2). Ke dalam sampel ditambahkan 5 tetes hardness reagentt no. 5 dan aduk hingga rata. 3). Ditambahkan 1 tablet hardness no. 6, kemudian tabung dikocok sampai tablet larut seluruhnya sehingga sampel air akan berubah warna menjadi merah. 4). Dengan pipet ditambahkan satu tetes hardness reagent no. 7, kemudian tabung dikocok. 5). Hardness reagentt no. 7 ditambahkan ke dalam sampel tetes demi tetes sampai warna merah berubah menjadi biru jernih. 6). Jumlah tetes hardness reagent no. 7 dihitung dan dikalikan dengan 10 ppm CaCO3.

5.2.3.6. Analisa Phosphate

Peralatan yang digunakan antara lain :


Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT. 84

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


a. Tabung uji 5 ml b. Pipet test kit plastik Bahan kimia yang digunakan :
VM phosphate reagent (4410 H)

Prosedur kerja : 1). Sampel air ditambahkan sebanyak 15 ml (sampai batas) untuk dianalisa. 2). Ke dalam sampel ditambahkan 1 ml VM phosphate melalui pipet, masukkan ke dalam tabung uji kemudian dikocok. 3). Ditunggu selama 5 menit, setelah itu bandingkan warna yang terbentuk dengan komparator.

5.2.3.7. Analisa Sulfit

Peralatan yang digunakan antara lain : a. Sulfit test Lamotte b. Tabung uji c. Pipet test kit plastik Bahan kimia yang digunakan : a. Sulfit reagent A b. Sulfit reagent B c. Sulfit reagent C Prosedur kerja : 1). Sulfit reagent A dimasukkan sebanyak 10 tetes ke dalam tabung uji. 2). Sampel air yang akan dianalisa dimasukkan ke dalam tabung uji sampai garis batas. 3). Sulfit reagent B dimasukkan sebanyak 5 tetes ke dalam tabung uji dan dikocok. 4). Sulfit reagent C ditambahkan ke dalam sampel tetes demi tetes sampai terbentuk warna biru muda. 5). Jumlah tetes sulfit reagett C dihitung dan dikalikan dengan 5 ppm = kadar sulfit dalam sampel.

5.2.3.7. Analisa Silika

Analisa dilakukan untuk mengetahui kadar silika dalam air. Peralatan yang digunakan antara lain : a. Silika test Kit (Lamotte)
Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT. 85

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


b. Tabung uji c. Tutup plastik Bahan kimia yang digunakan : a. Silika reagent no. 1 b. Silika reagent no. 2 c. Silika reagent no. 3
d. Reducing reagent

Prosedur kerja : 1). Ke dalam tabung uji diisi dengan contoh air hingga batas atas. 2). Silika reagent no. 1 ditambahkan ke dalam sampel sebanyak 7 tetes, kemudian tutup dengan plastik stopper dan aduk (tabung uji dikocok beberapa kali). 3). Silika reagent no. 2 ditambahkan sebanyak 6 tetes, aduk dan tunggu selama 5 menit. 4). Silika reagent no. 3 ditambahkan sebanyak 6 tetes , aduk dan tunggu selama 2 menit. 5). Jika silika terdapat dalam sampel maka sampel akan berubah warna menjadi biru. 6). Tabung uji dimasukkan ke dalam komparator, kemudian dibandingkan warnanya dengan warna standar. 7). Jika warna sampel berada diantara 2 warna standar maka rata-rata kedua nilai warna standar tersebut dipilih sebagai nilai warna sampel. 8). Jika warna sampel sangat gelap maka kadar silikanya sangat tinggi. Oleh karena itu, perlu diadakan uji kembali dengan mengencerkan sampel sampai 10 pengenceran.

5.2.3.8. Analisa Chloride

Analisa

ini

dilakukan

untuk

mengetahui

kadar

kalsium

khlorida

dan

karbondioksida. Peralatan yang digunakan antara lain : a. Chloride Drop Count Test Kit (Lamotte) b. Tabung uji c. Pipet test kit plastik Bahan kimia yang digunakan : a. Chloride reagent no. 1 b. Chloride reagent no. 2
c. Phenolphtalein reagent d. Sulfuric acid reagent

Prosedur kerja : 1). Sampel dimasukkan ke dalam tabung uji hingga batas atas.
Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT. 86

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


2). Ditambahkan 1 tetes phenolphtalein reagent. Jika larutan tidak berubah warna, analisa dilanjutkan ke point selanjutnya. Jika sampel berwarna merah, tambahkan sulfuric acid
reagent tetes demi tetes hingga warna merah hilang.

3). Chloride reagent no. 1 ditambahkan sebanyak 3 tetes sehingga larutan berwarna kuning. 4). Chloride reagent no. 2 ditambahkan tetes demi tetes, kemudian dikocok hingga warna berubah dari kuning menjadi merah ungu. 5). Jumlah tetes chloride reagent no. 2 yang ditambahkan dihitung dan dikalikan dengan 15 ppm = kadar chloride dalam sampel.

5.3. Analisa Limbah

Analisa limbah dilakukan seminggu sekali pada limbah yang masuk ke cooling
tower, di anaerobic pond dan yang keluar dari aerobic pond (menuju land application).

Norma untuk limbah yang masuk ke land application adalah sebagai berikut : a. BOD b. COD c. TDS d. SS e. TS f. pH = 3000 5000 ppm = 6000 10000 ppm < 3500 ppm < 500 ppm < 5000 ppm = 69 = 300 600 ppm = max. 600

g. T. Alkalinity h. Oil grease

5.3.1. Analisa BOD (Biochemical Oxygen Demand)

Peralatan yang digunakan antara lain : a. BOD meter b. Botol sampel 500 cc
c. Magnetic stirrer d. Luberseal

e. Gelas ukur Bahan kimia yang digunakan :


Litium hidroksida

Prosedur kerja : 1). Sampel sebanyak 95 ml dan magnetic stirrer dimasukkan ke dalam botol sampel.
Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT. 87

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


2). Luberseal dioleskan pada sekeliling karet seal botol sebelah bawah dan seal cap, sehingga udara tidak akan masuk ke dalam botol ataupun keluar selama botol beroperasi. 3). Seal diletakkan di bagian atas leher botol dan dimasukkan 1 bungkus litium hidroksida ke dalam seal cap tersebut. Litium hidroksida tidak boleh jatuh ke sampel yang akan dianalisa. Jika jatuh ke dalam sampel, sampel harus dibuang dan diganti kembali. 4). Botol diletakkan pada tempat yang tersedia, lalu hidupkan power-nya. 5). Botol sampel ditutup perlahan-lahan dengan tutup manometer terbuka kemudian letakkan alat tes BOD tersebut ke dalam inkubator pada suhu 20 0C. 6). Agar keseimbangan termal tercapai, ditunggu sampai 30 menit. Kemudian cap botol dibuka dan cap manometer ditutup. Setelah itu cap botol ditutup kembali. Jika keseimbangan termal belum dicapai, mesascury akan naik turun secara cepat. Jika hal ini terjadi, cap manometer dibuka kembali secara perlahan dan kemudian cap manometer ditutup kembali. 7). Skala disesuaikan hingga mesascury menunjukkan angka nol. 8). Angka pembacaan diplotkan pada chart yang diberikan. 9). Kemudian pada chart dituliskan jam start dan tanggal. Setelah 24 jam, angka yang ditunjukkan oleh skala ditulis pada kertas chart. 10). Untuk menentukan analisa BOD, ditunggu selama 48 jam sebagai titik akhir penentuan analisa.

5.3.2. Analisa COD (Chemical Oxygen Demand)

Peralatan yang digunakan antara lain :


a. DR 100 calorimeter b. COD Reactor

c. Pipet 0 2 ml d. Kertas tissue Bahan kimia yang digunakan : Larutan kimia digestion solution

Prosedur kerja : 1). COD reaktor dipanaskan sampai temperaturnya 150 0C. 2). Larutan bahan kimia digestion solution dimasukkan ke dalam alat DR 100 calorimeter sampai jarumnya menunjukkan angka nol kiri dan angka nol kanan.

Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT.

88

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1


3). Sampel di pipet sebanyak 2 ml dan dimasukkan ke dalam bahan kimia digestion
solution perlahan-lahan, kemudian diaduk hingga merata.

4). Sampel dipanaskan di atas alat COD reaktor selama 2 jam dengan temperatur 150 0C. 5). Setelah waktunya tercapai alat COD reaktor dimatikan dan apabila temperatur telah mencapai 120 0C. sampel didinginkan dalam desikator sehingga suhunya mencapai 30
0

C.

6). Sampel dites dengan alat DR 100 calorimeter, sehingga jarum menunjukkan angka tertentu.

Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT.

89

Diktat Mata Kulaih Teknik Pengolahan Kelapa Sawit - 1

DAFTAR PUSTAKA
Laporan Magang/Training di PTPN III Aek Nabara Selatan Ponten Naibaho, 1998, Teknologi Pengolahan Kelapa Sawit, Pusat Penelitian Kelapa Sawit Medan Vademikum Teknik dan Teknologi Kelapa Sawit PTPN IV http://www. Masyarakat Kelapa Sawit Indonesia (MAKSI) http://www. regionalinvestment.com http://www.depperin.go.id http://www.Ditjenbun.go.id http://www.E-learnig unej http://www.ipard.com/ http://www.Journeytoforever.org Berbagai weblog dan situs internet lainnya yang berhubungan.

Disusun Oleh Melvin E. Simanjuntak ST.MT.

90