Anda di halaman 1dari 6

I.

Dekongestan 1. adrenoseptor agonis agonis bayak digunakan sebagai dekongestan nasal pada pasien rinitis alergika atau rinitis vasomotor dan pada pasien infeksi saluran napas atas dengan rinitis akut. Obat-obat ini menyebabkan venokonstriksi dalam mukosa hidung melalui reseptor -1 sehingga sehingga mengurangi volume mukosa dan dengan demkian mengurangi volume mukosa dan demikian mengurangi penyumbatan hidung (Setiabudy, 2011). Reseptor -2 terdapat pada arteriol yang membawa suplay makanan bagi mukosa hidung. Vasokonstriksi arteriol ini oleh -2 agonis dapat menyebabkan kerusakan struktural pada mukosa tersebut. Pengobatan dengan dekongestan nasal seringkali menimbulkan hilangnya efektivitas, rebound hiperemia dan memburuknya gejala pada pemberian kronik atau bila obat dihentikan. Mekanismenya belum jelas, tetapi mungkin melibatkan desensitisasi reseptor dan kerusakan mukosa. -1 agonis yang selektif lebih kecil kemungkinannya untuk menimbulkan kerusakan mukosa (Setiabudy, 2011). Untuk indikasi ini, -agonis dapat diberikan peroral atau secara topikal. Efedrin oral sering menimbulkan efek samping sentral. Pseudoefedrin adalah stereoisomer dari efedrin yang kurang kuat dalam menimbulkan takikardi, peningkatan tekanan darah, dan stimulasi SSP dibanding efedrin. Fenilpropanolamin mirip dengan pseudoefedrin. Obat-obat ini harus digunakan dengan sangat hati-hati pada pasien hipertensi dan pada pria dengan hipertrofi prostat (Setiabudy, 2011). Dekongestan topikal terutama berguna untuk rinitis akut karena tempat kerjanya yang lebih selektif, tetapi obat-obat ini cenderung untuk digunakan secara berlebihan oleh pasien , sehingga menimbulkan penyumbatan yang erlebihan (rebound congestion). Dekongestan oral jauh lebih kecil kemungkinannya untuk menimbulkan rebound congestion tetapi lebih besar risikonya untuk menimbulkan efek samping sistemik (Setiabudy, 2011). 2. Kortikosteroid Penggunaannyan secara trakeal (melalui tenggorok) sebagai dosis aerosol dan juga secara nasal (melalui hidung) untuk profilaksis dan terapis rhinitis alergis.

Kortikosteroid bekerja dengan efektivitas antiinflamasi, sebagian terjadi karena hambatan produksi sitokin inflamasi (Katzung, 2001). Efek samping dari penggunaan kortikosteroid berupa penurunan ketahanan lokal dari mukosa terhadap infeksi dengan akibat timbulnya infeksi ragi. Kandidiasis di mulut dan suara parau akibat iritasi tenggorok dan pita suara. Risiko infeksi ini dapat dihindarkan bila berkumur dengan air setelah setiap kali menyemprotkan obat inhalasi. Pada inhalasi nasal juga bisa terjadi kandidiasis, disamping bersin, perdarahan dan atrofia mukosa hidung (Katzung, 2001). 3. Antihistamin Obat-obat ini memblokir reseptor-histamin. Antihistamin sangat efektif terhadap sejumlah gejala rinitis alergika (Miller, 2004). a. Farmakodinamik Antagonisme terhadap histamin, menghambat efek histamin pada pembuluh darah, bronkus dan bermacam-macam otot polos. Peninggian permeabilitas kapiler dan edema akibat histamin dapat dihambat dengan efektif (Miller, 2004). b. Farmakokinetik Setelah pemberian histamin secara oral dan parenteral efek 15-30 menit setelah pemberian maksimal setelah 1-2 jam. Kadar tertinggi terdapat pada paru-paru sedangkan pada limpa, ginjal, otak, otot dan kulit kadarnya lebih rendah. Tempat utama biotransformasi ialah di hati, tetapi dapat juga pada paru-paru dan ginjal. Antihistamin diekskresi melalui urin setelah 24 jam, terutama dalam bentuk metabolitnya (Miller, 2004). c. Indikasi Antihistamin berguna untuk pengobatan simptomatik berbagai penyakit alergi (Miller, 2004). d. Efek samping Pada dosis terapi, semua antihistamin menimbulkan efek samping walaupun jarang bersifat serius dan kadang-kadang hilang bila obat diteruskan. Efek samping yang paling sering adalah sedasi, terutama untuk antihistamin yang generasi lama. Astemizol, terfenadin, loratadin tidak atau kurang menimbulkan sedasi. Efek samping lain yang mungkin timbul

adalah mulut kering, disuria, palpitasi, hipotensi, sakit kepala, rasa berat dan lemah pada tangan (Miller, 2004). II. Antitussiva Obat ini menghambat penerusan rangsangan batuk ke pusat batuk. Penggolongan dapat dilakukan menurut titik-kerjanya, yaitu dalam otak (SSP) atau diluar SSP, yakni zat-zat sentral dan zat-zat perifer (Rahardja, 2007). 1. Zat-zat sentral kebanyakan antitussiva bekerja sentral dengan menekan pusat batuk di sumsum lanjutan dan mungkin juga bekerja terhadap pusat-saraf lebih tinggi (di otak) dengan efek menenangkan. Dengan demikian zat-zat ini menaikan ambang bagi impuls batuk. Dapat dibedakan antara zat-zat yang dapat menimbulkan adiksi dan zat-zat yang bersifat non-adiktif (Rahardja, 2007). a. Zat adiktif Contoh obatnya adalah kodein. Zat ini termasuk dalam kelompok obat yang disebut opioid, yakni obat-obat yang memiliki (sebagian) sifat farmakologi dari candu (opium) atau morfin. Berhubung adanya resiko ketagihan yang agak besar, candu kini tidak digunakan lagi. Kodein hanya dalam dosis tinggi dan bila digunakan untuk jangka waktu lama merupakan risiko akan adiksi (Rahardja, 2007). 1) Farmakodinamik Alkaloida candu ini memiliki sifat yang menyerupai morfin, tetapi efek analgesia dan meredakan batuknya jauh lebih lemah, begitu pula efek depresinya terhadap pernapasan. Obat ini banyak digunakan sebagai pereda batuk dan penghilang rasa sakit, biasanya dikombinasi dengan asetosal yang memberikan efek potensiasi (Rahardja, 2007). 2) Farmakokinetik Dalam hati ini zat ini diuraikan menjadi norkodein dan 10% menjadi morfin yang mungkin memegang peranan atas efek analgetisnya. Metabolismenya diekskresikan sebagai glukuronida melalui kemih, bersama 5-15% dalam keadaan utuh (Rahardja, 2007). 3) Efek samping Efek samping jarang terjadi pada dosis biasa dan terbatas pada obstipasi, mual dan muntah, pusing dan temangu-mangu. Pada anak kecil dapat terjadi konvulsi dan depresi pernapasan. Dosis tinggi dapat

menimbulkan efek sentral tersebut. Walaupun kurang hebat dan lebih jarang daripada morfin, obat ini dapat pula mengakibatkan ketagihan (Rahardja, 2007).

b. Zat non-adiktif Contoh obatnya adalah dekstrometorfan. Obat ini termasuk dalam narkotika, bahkan diperjualkan bebas tanpa resep (Rahardja, 2007). 1) Mekanisme kerja Berkhasiat menahan rangsangan batuk, yang sama kuatnya dengan kodein, tetapi bertahan lebih lama. Tidak berkhasiat analgesik, sedatif, sembelit atau adiktif, maka tidak termasuk daftar narkotika. Mekanisme kerjanya berdasarkan peningkatan ambang pusat batuk di otak (Rahardja, 2007). 2) Efek samping Hanya ringan dan terbatas pada rasa mengantuk, termangu-mangu, pusing, nyeri kepala dan gangguang lambung dan usus (Rahardja, 2007). 2. Zat-zat perifer, obat-obat ini bekerja di luar SSP (di perifer) (Rahardja, 2007). III. Ekspektoransia Zat-zat ini memperbanyak produksi dahak (yang encer) dan dengan demikian mengurangi kekentalannya, sehingga mempermudah pengeluarannya dengan batuk. Mekanisme kerjanya adalah merangsang reseptor-reseptor di mukosa lambung yang kemudian meningkatkan kegiatan kelenjar-sekresi dari saluran lambung-usus dan sebagai refleks memperbanyak sekresi dari kelenjar yang berada di saluran napas (Rahardja, 2007). 1. Kaliumiodida a. Mekanisme kerja Menstimulasi sekresi mukus di cabang tenggorok dan mencairkannya, tetapi sebagai obat batuk (hampir) tidak efektif. Namun obat ini banyak digunakan dalam sediaan batuk, khususnya pada asma, meskipun risiko akan efek samping besar sekali (Rahardja, 2007). b. Efek samping Kuat dan berupa gangguan tiroid, struma, urtikaria, dan iod-acne, juga hiperkalemia (pada fungsi ginjal buruk) (Rahardja, 2007).

c. Dosis pada batuk oral 3 kali sehari 0,5-1 gr, maksimal 6 gr sehari. Bagi pasien yang tidak boleh diberikan kalium, obat ini dapat diganti dengan natriumiodida dengan khasiat yang sama (Rahardja, 2007). 2. Amoniumklorida a. Mekanisme kerja Berdaya duretis lemah yang menyebabkan acidosis, yakni kelebian asam dalam darah. Keasaman ini akan merangsang pusat pernapasan, sehingga frekuensi napas meningkat dan gerakkan cilia di saluran napas distimulasi. Sekresi dahak juga meningkat. Maka senyawa ini banyak digunakan dalam sediaan sirup batuk (Rahardja, 2007). b. Efek samping Hanya terjadi pada dosis tinggi dan berupa acidosis (khusus pada anakanak dan pada pasien ginjal) dan gangguan lambung (mual, muntah), berhubung sifatnya yang merangsang mukosa (Rahardja, 2007). c. Dosis Oral 3-4 kali seharinya 100-150mg, maksimal 3 gram seharinya (Rahardja, 2007). 3. Guaifenesin (Gliserilguaikolat) a. Mekanisme kerja Derivat guaikol yang banyak digunakan sebagai ekspektoran dalam berbagai jenis sediaan batuk populer. Pada dosis tinggi bekerjamerelaksasi otot, seperti mefenesin (Rahardja, 2007). b. Efek samping Kadang kala berupa iritasi lambung (mual, muntah) yang dapat dikurangi bila diminum dengan segelas air(Rahardja, 2007). c. Dosis Oral 3-4 kali seharinya 100-150 mg, maksimal 3 gram seharinya (Rahardja, 2007). Daftar Pustaka : Katzung, B.G., 2001, Farmakologi Dasar & Klinik, Ed.I, Jakarta: Salemba Medika Rahardja, K. 2007. Obat Obat Penting. Jakarta : PT Elex Media Komputindo Kelompok Kompas-Gramedia.

Setiabudy, Rianto. 2011. Farmakologi dan Terapi FKUI Edisi 5. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Miller; Keane. 2004. Encyclopedia and Dictionary of Medicine. California: Nursing and Allied Health Seventh

Anda mungkin juga menyukai