Anda di halaman 1dari 7

PERALATAN AVIONIK PESAWAT TERBANG

PENGERTIAN AVIONIK Avionics berasal dari kata Aviation (penerbangan) dan Electronics (elektronika), sehingga dapat didefinisikan sebagai penggunaan elektronika untuk kepentingan penerbangan atau avionik merupakan penggunaan segala macam peralatan elektronika di dalam pesawat terbang dan menjadi bagian integral dari system pesawat terbang. PERALATAN AVIONIK Dilihat dari fungsinya, peralatan avionik dapat dibagi menjadi beberapa system antara lain : A. COMMUNICATION SYSTEM 1. Radio komunikasi. Radio komunikasi di pesawat terbang digunakan untuk menyampaikan Voice information antar pesawat ke pesawat lain maupun pesawat ke menara pengawas. Klasaifikasi radio komunikasi pesawat terbang dibuat berdasarkan Bandatau rentang frekwensi yaitu: a. Radio Komunikasi HF: secara umum bekerja pada frekwensi 3-30 MHz dan menggunakan Amplitudo Modulasi. Sifat pancarannya Surface Wave sehingga perambatannya berada diatas dan sejajar dengan lengkung bumi. Radio jenis ini banyak di gunakan untuk komunikasi jarak jauh terutama dengan Single Side Band (SSB). b. Radio Komunikasi VHF: Secara umum bekerja pada frekwensi 30-300 MHz dan menggunakan Amplitudo Modulasi. Sifat pancarannya Surface Wave, radio jenis ini banyak di gunakan untuk komunikasi jarak pendek atau dari poin ke poin karena gelombang pada band sifatnya line of sight dan radiasinya terbatas. c. Radio Kominikasi UHF: Secara umum bekerja pada frekwensi 300-3000 MHz dan menggunakan Amplitudo Modulasi. Sifat pancarannya line of sight dengan demikian radiasi pancarannya terbatas, namun semakin bertambah apabila pesawat terbang makin tinggi.] 2. Intercom. Adalah jenis peralatan komunikasi di dalam pesawat terbang yang tidak menggunakan prinsip radio. Peralatan ini berfungsi sebagai alat komunikasi antara awak pesawat terbang.

3. Public Adrees. Peralatan ini digunakan sebagai sarana komunikasi dari penerbang / awak pesawat yang ditujukan kepada penumpang yang berada di dalam pesawat guna memberikan pengumuman atau informasi tertentu. 4. Emergency Locketter Transmiter (ELT). Digunakan pada saat pesawat dalam keadaan darurat dengan tujuan memberikan informasi keberadaan pesawat sehingga mempermudah tim SAR dalam proses penyelamatan.

B. NAVIGATION SYSTEM 1. Instrumen Landing System (ILS). ILS adalah alat bantu pendaratan pesawat terbang yang bekerjanya dengan memanfaatkan display dari instrumen di pesawat berdasarkan informasi pemancar yang ada di landasan. ILS merupakan sebuah sistem yang bekerja secara integral dan terdiri dari tiga bagian yaitu: Glide Slope, Localizer dan Marker Beacon.

2. Glide Slope. Bagian dari ILS yang berfungsi untuk mengarahkan pesawat agar dapat mendarat pada sudut luncur tertentu secara aman sehingga terhindar dari kemungkinan Overshoot maupun Undershood. Pemancar glide slope yang berada modulasi amplitude dengan frekwensi 90 Hz dan 150 Hz. 3. Localizer. Bagian dari ILS yang berfungsi untuk mengarahkan pesawat agar dapat mendarat tepat di garis tengah Run way (Course Line). Pemancar Localizer memancarkan gelombangbdengan siknal pembawa 108 111,5 MHz. 4. Marker Beacon. Bagian dari ILS yang berfungsi untuk memberikan peringatan kepada penerbang tentang kedudukan pesawat terutama jarak dari pesawat terhadap Run way dimana pesawat akan melakukan pendaratan. di dekat run way memancarkan informasi dengan frekwensi pembawa (329,15 335 MHz). Siknal ini memakai

Marker beacon dipasang pada jarak yang tetap dari ambang landasan pacu untuk memberikan jarak dan check ketinggian sepanjang glideslope dengan cara memberikan signal audio dan lampu- lampu. Sekitar 8,3 km (4,5 mil) dari ambang , outer marker (OM) memancarkan getaran 75 MHZ yang dimodulasi dengan getaran 400 hz. Tergantung dari kondisi geografis bandara, jarak dari beacon ke ambang/threshold dapat bervariasi antara 7,4 dan 11,3 km ( 4 7 mil ). Sekitar 1066 meter (3500 feet) dari threshold, middle marker (MM) memancarkan carrier yang dimodulasi dengan getaran 1300 hz pada getaran 75 Mhz, ketinggian pesawat pada titik ini sekitar 61 meter (200 ft) (category 1 decision height). Sekitar 300 meter (1000 feet) dari threshold, inner marker (IM) memancarkan getaran 75 Mhz yang dimodulasi dengan getaran 3000 hz, ketinggian pesawat pada titik ini sekitar 30 meter (100 feet) (category 2 decision height) Fan marker (A), yang juga memancarkan signal yang dimodulasi dengan getaran 3000 hz berada sepanjang jalur penerbangan untuk memberikan jarak yang tetap. Warna dari lampu-lampu adalah : OM (400 hz) ---- biru MM ( 1300 hz) ---- amber I(A)M (3000 hz)----- putih. Sistim Marker Beacon terdiri dari : - penerima marker beacon pada rak radio - antenna marker beacon dibawah badan pesawat - lampu-lampu marker beacon ( pada panel instrument utama) - Hi-Lo test pada panel diatas kepala. - Switch Hi-Lo dan switch test pada pedestal Cara Kerja Penerima marker beacon bekerja pada getaran 75 Mhz, Tergantung dari jalur dari OM,MM atau IM audio output dari penerima akan terdengar 400hz,1300 hz atau 3000 hz.

Audio ini, melalui penguat audio, disalurkan ke sistim audio terpadu pesawat terbang.Audio juga disalurkan ke penyaring audio. Penyaring audio terdiri dari 3 penyaring yang ditala berturutturut 400 hz, 1300 hz, dan 3000 hz dan juga 3 switch lampu. Selama pada jalur OM, penerima akan memperdengarkan nada 400 hz dan penyaring akan meloloskan signal ini ke sakelar lampu. Sakelar lampu akan menyalakan lampu biru. Pada MM ( 1300HZ) ATAU im (3000 HZ) PENERIMA MARKER BEACON BEKERJA DENGAN CARA YANG SAMA. Bila switch HI_LO berada pada posisi LO, kepekaan penerima dikurangi, sehingga selama terbang pada jalur ini lampu hanya menyala pada signal yang kuat untuk mengetahui dengan baik posisi marker.Bila antenna yang baru harus dipasang, kepekaannya harus diatur dengan menggunakan signal generator 75 Mhz.

Test Untuk mengecheck kerja marker beacon, tombol TEST harus ditekan, Test generator 75 Mhz pada penerima akan bekerja dan signal test akan dimodulasi dengan 400hz, 1300 hz atau 3000 hz. Harus diperiksa pada tiap posisi lampu dan suara yang benar akan terdengar pada headset.Untuk fungsional check diperlukan sebuah marker beacon ramp tester.

5. VHF Omni Range adalah beacon kesegala arah dan memancarkan getaran pembawa yang dimodulasi dengan cara khusus dengan 2 signal audio, signal referensi 30 hz dan signal variable 30 hz. Modulasi dilakukan dengan cara, bila diterima pada beacon pada utara magnit, kedua signal 30 hz menjadi sephase.Sebelah timur dari beacon kedua signal 90 derajat out of phase, selatan dari beacon

180 derajat out of phase, barat dari beacon 270 derajat out of phase. Pada kenyataannya beacon memancarkan sejumlah garis-garis yang disebut radial. Bila sebuah pesawat masuk dalam daerah pancaran beacon, kedua signal 30 hz terdeteksi oleh penerima. Variable 30 hz (Var) dan signal referensi 30 hz (ref) diteruskan ke phase detector, yang signal outputnya berbentuk digital radial kemana pesawat terbang. Signal digital radial diberikan ke pointer driver. Pada RMI, bearing ke beacon ditunjukan oleh kartu azimuth yang berputar, kombinasi dari informasi radial dan heading digunakan untuk menempatkan penunjuk pada RMI. Signal digital radial diubah menjadi signal synchro dan dikirim ke CI, dimana informasi radial sebenarnya dibandingkan dengan course yang telah dipilih. Bila terdapat perbedaan antara kedua signal ini, resolver akan memberikan output ke deviation detector dalam penerima,yang memberikan penyimpangan lateral ke penunjuk pada CI. Signal penyimpangan lateral ini sebanding dengan perbedaan antara posisi pesawat sebenarnya dan course yang dipilih sebelumnya. Penunjuk TO-FROM menunjukan arah dari station terhadap penunjuk course, apabila pesawat pada atau dekat dengan course yang dipilih sebelumnya. Bila getaran VOR telah dipilih, penunjuk glideslope dan flag/bendera pada receiver akan hilang dari pandangan. Test Untuk Setiap sistim VHF NAV ada 2 test kerja, test ILS dan Test VOR. Test ILS dapat dilakukan, bila sistim ditala pada getaran ILS. Bila tombol test ILS pada kontrol panel VHF NAV ditekan baik UP/LT (atas dan kiri) atau pada DN/RT (bawah dan kanan) test signal diberikanke penerima VOR/LOC dan penerima GS sampai penunjuk penyimpangan lateral bergerak satu tiik kekiri atau kanan dan penunjuk glideslope bergerak satu titik keatas atau kebawah. ILS test start dengan VOR/LOC dan bendera GS akan muncul dan kemudian akan menghilang selama 20 detik dan muncul kembali. Test VOR dapat dilakukan bila sistim ditala pada getaran VOR. Bila tombol test VOR ditekan penunjukan 0 derajat radial akan disimulasikan dan nada 900hz untuk pegechekan audio dapat

didengar. Test VOR dimulai dengan munculnya bendera VOR/LOC, kemudian akan menhilang selama 20 detik dan muncul kembali. Untuk pengetestan fungsional diperlukan ramp tester dimana dapat disimulasikan beacon darat ILS dan VOR.

C. ARMAMENT SYSTEM Kelompok Senjata : 1 Senjata Darat. Pengertian senjata darat yang disyahkan belum ada, namun secara informal pengertian senjata darat adalah senjata yang berkaliber besar maupun kecil yang dapat ditembakkan/ dioprasikan dari landasan yang ada di darat. 2. Senjata Udara. Semua senjata yang dapat dioperasikan dari landasan yang berada di media udara atau senjata yang dapat di tembakkan dengan menggunakan system pada pesawat terbang. 3. Peluru Kendali. Peluru kendali termasuk dalam golongan senjata besar, menurut sifat dan operasinya senjata jenis ini menggunakan teknologi yang kompleks terutama dalam bidang pengendaliannya yang banyak menggunakan teknologi elektronika kendali dan otomatisasi. Materil Senjata Udara : 1. Amunisi. Materil senjata yang masuk dalam golongan amunisi adalah: Peluru, Bomb, Rocket, Fuse, Granat, CAD/PAD, Balisting, dan Squibs. 2. Bahan Peledak dan Piroteknik. Materil senjata yang masuk dalam golongan bahan peledak adalah : High explosive, Low explosive, dan Piroteknik. 3 Sistem Senjata. Materil senjata yang masuk dalam golongan Sistem Senjata adalah : Senjata udara, Senjata darat, Pylon persenjataan, Rack persenjataan, Sistem pembidikan, dan Sistem listrik/ elektronik persenjataan.

D. RADAR SISTEM 1. weather radar