Anda di halaman 1dari 21

BAB II TINJAUAN TEORI

A. KONSEP DASAR MEDIS


1.

Anatomi dan fisiologi

Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk melekatnya otot-otot yang menggerakkan kerangka tubuh, selain itu tulang juga merupakan tempat memproduksi sel-sel darah dan merupakan tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsium dan fosfat. Komponen-komponen utama dari jaringan tulang adalah mineralmineral dan jaringan organik (kolagen & proteoglikan). Hampir semua tulang berongga dibagian tengahnya. Struktur demikian memaksimalkan kekuatan otot struktur-strukur tulang dengan bahan yang relatif kecil atau ringan. Kekuatan tambahan diperoleh dari susunan kolagen dan mineral dalam jaringan tulang. Jaringan tulang dapat berbentuk anyaman atau lameral. Tulang yang berbentuk anyaman terlihat saat pertumbuhan cepat, seperti sewaktu perkembangan janin atau sesudah terjadinya patah tulang.

Selanjutnya keadaan ini akan diganti oleh tulang yang lebih dewasa yang berbentuk lameral (Price & Wilson, 1991).
2.

Defenisi a. Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang. Kebanyakan fraktur akibat dari trauma, beberapa fraktur sekunder terhadap proses penyakit seperti osteoporosis, yang menyebabkan fraktur-fraktur yang patologis (Barret dan Bryant, 1990). b. Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Price & Wilson, 1991). c. Fraktur terbuka adalah fraktur dimana kulit dari ekstremitas sampai ke membran mukosa telah ditembus (Price & Wilson, 1991). d. Fraktur tertutup merupakan fraktur tanpa luka atau robekan pada kulit (Brunner & Suddarth, 2001).

3.

Etiologi Penyebab fraktur di antaranya adalah tulang dikenai stress yang lebih besar dari yang dapat diabsorpsi, contoh: Pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak, kontraksi otot ekstrem dan keadaan tulang yang patologik.

4. Klasifikasi fraktur Ada beberapa klasifikasi fraktur: a. Menurut tipe fraktur 1). hanya retak. 2). Fraktur komplit, garis fraktur menyilang atau memotong pada seluruh tulang dan fragmen-fragmen tulangnya biasanya tergeser. 3). Fraktur tertutup, fraktur yang tidak disertai robeknya jaringan pada kulit. Fraktur inkomplit, meliputi hanya sebagian retakan pada sebelah sisi tulang, sebagian lagi biasanya

4). terjadinya infeksi. b. Golongan fraktur

Fraktur

terbuka,

fragmen

tulang

mendesak pada otot dan kulit sehingga potensial menimbulkan

1). Gresting, fraktur di mana satu sisi tulang retak dan sisi lainnya bengkok. 2). Tranversal, fraktur yang memotong lurus pada tulang. 3). Spiral, fraktur yang berputar melalui tungkai pada tulang. 4). Oblic/miring, fraktur yang membentuk sudut yang arahnya melintasi tulang. 5). Depresi, fraktur yang terjadi pada sebagian atau beberapa bagian tulang yang tidak digerakan (banyak dijumpai pada tulang tengkorak dan tulang wajah). 6). Avulsi, fraktur tulang tertarik oleh ligament. 7). Dislokasi, fraktur dengan komplikasi keluarnya atau terlepasnya tulang dari sendi. 8). Kompresi, fraktur di mana permukaan tulang terdorong kearah permukaan tulang yang lain. c. Berdasarkan posisinya Sebatang tulang panjang menjadi 3 bagian, yaitu: 1). 1/3 proksimal (1/3 bagian atas) 2). 1/3 medial (1/3 bagian tengah) 3). 1/3 distal (1/3 bagian bawah) 5. Patofisiologi Sewaktu tulang patah (fraktur) megakibatkan terpajannya sum-sum tulang atau pengaktifan saraf simpatis yang mengakibatkan tekanan dalam sum-sum tulang, sehingga merangsang pengeluaran katekolamin yang akan merangsang pembebasan asam lemak kedalam sirkulasi yang menyuplai organ, terutama organ paru sehingga paru akan terjadi penyumbatan oleh lemak tersebut maka akan terjadi emboli dan menimbulkan distress atau kegagalan pernapasan.

Trauma

menyebabkan

fraktur

(terbuka

atau

tertutup)

yang

mengakibatkan pendarahan terjadi disekitar tulang yang patah dan kedalam jaringan lunak disekitar tulang tersebut dan terjadi pendarahan masif yang bila tidak segera ditangani akan mengakibatkan pendarahan hebat, terutama pada fraktur terbuka (syok hipovolemik). Pendarahan masif ini (pada fraktur tertutup) akan mengakibatkan tekanan dalam suatu ruang diantara tepi tulang yang fraktur di bawah jaringan tulang yang membatasi jaringan tulang yang fraktur tersebut, menyebabkan edema sehingga akan menekan pembuluh darah dan saraf disekitar tulang yang fraktur tersebut maka akan terjadi sindrom kompartemen (warna jaringan pucat, sianosis, nadi lemah, nyeri hebat) dan akan mengakibatkan terjadinya kerusakan neuromuskular (4-6 jam kerusakan yang irreversible, 24-28 jam akan mengakibatkan organ tubuh tidak berfungsi lagi). Pendarahan masif juga dapat menyebabkan terjadinya hematoma pada tulang yang fraktur yang akan menjadi bekuan fibrin yang berfungsi sebagai jala untuk melekatkan sel-sel baru. Aktivitas osteoblas segera terangsang dan terbentuk tulang baru imatur yang disebut kalus. Bekuan fibrin direabsorbsi sel-sel tulang baru secara perlahan mengalami remodeling (membentuk tulang sejati) tulang sejati ini akan menggantikan kalus dan secara perlahan mengalami klasifikasi (jadi tulang yang matur).

PATHWAY Trauma Tekanan lebih besar terhadap tulang Fraktur/putusnya kontinuitas tulang

Terpasang traksi Pendarahan Kerusakan Merangsang reseptor integritas kulit saraf bebas bradikinin, serotin, histamin Ekstermitas Gangguan diimobilisasikan keseimbangan cairan Potensial terjadi infeksi dan elektrolit Rangsangan dihantarkan ke Intoleransi aktivitas Kurang informasi/kurang talamus mampu menerima informasi Diantar ke korteks serebri Kurang pengetahuan Nyeri dipersepsikan Hipertermi

Kurang kooperatif

Smeltzer & Bare 2001

6.

Tanda dan gejala a. Nyeri terus menerus dan bertambah berat sampai terjadi imobilisasi. b. Deformitas (cacat bentuk, posisi) dan kerusakan fungsi. c. Pemendekan (pada tulang panjang) dibandingkan dengan sisi lainnya. d. Krepitus: teraba adanya derik tulang akibat gesekan-gesekan pecahan-pecahannya. e. Edema & perubahan warna akibat trauma dan perdarahan.

7.

Pemeriksaan Diagnostik Dalam menegakkan diagnostik pada penderita fraktur adalah: a. Pemeriksaan radiologi. Ronsen. b. Pemeriksaan Laboratorium. Pemeriksaan darah HCT, WBC, golongan darah.

8.

Penatalaksanaan Dalam penanganan pasien yang mengalami fraktur, perlu beberapa tindakan, yaitu: 1) Dextrose 5%. 2) 3) 4) 5) 6) Hentikan pendarahan. Antibiotik, contoh: Cefriaxon. Analgesik, contoh: Tramadol. Vitamin dan mineral, contoh: vitamin D. Immobilisasi. Rehidrasi cairan infus, yaitu Ringer Laktat,

9.

Komplikasi a. b. c. d. e. f. Syok hemoragik/hipovolemik. Sindrom emboli lemak. Kompartemen sindrom. Tromboemboli. Infeksi. DIC.

B. KONSEP DASAR KEPERAWATAN 1. Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan proses yang sistematis dalam pengumpulan data sebagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2001). Tahap pengkajian merupakan dasar utama dalam memberikan askep sesuai dengan kebutuhan individu, sehingga pengkajian akurat, lengkap, sesuai kenyataan dan kebenaran data sangat penting dalam merumuskan diagnosa keperawatan. Dalam tahapan ini dilakukan pengumpulan data yag terdiri dari tiga metode yaitu komunikasi efektif, observasi dan pemeriksaan fisik. Data yang dikumpulkan terdiri atas data dasar dan data fokus (Nursalam, 2001). Untuk membantu klien dalam mengutarakan masalah atau keluhannya secara lengkap, maka perawat dianjurkan menggunakan analisa symptom PQRST. Analisa symptom penguraiannya sebagai berikut: P : Provokatif atau Paliatif Apakah yang menyebabkan gejala? Apa saja yang mengurangi atau memperberatnya? Q : Kualitas atau Kuantitas Bagaimana gejala dirasakan nampak atau terdengar? Sejauh mana anda merasakannya sekarang. R : Regional atau Area Radiasi Di mana gejala terasa? Apakah menyebar?

: Skala keparahan Seberapa keparahan dirasakan dengan skala 1 sampai 10 (paling parah).

: Timing (waktu) Kapan gejala mulai timbul? Seberapa sering gejala terasa? Apakah tiba-tiba atau bertahap? (Priharjo, 1996). Data dikumpulkan dengan menggunakan pola Gordon, yaitu

sebagai berikut: a. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan Data Subjektif 1). Kaji tingkat pengetahuan klien dan keluarga tentang pengobatan dan pemeliharaan kesehatan. 2). Kaji riwayat penyakit yang pernah dialami klien sebelumnya. 3). Apa upaya yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan dan pencegahan penyakit. 4). Apa yang dilakukan bila klien mengalami gangguan kesehatan. Data Objektif 1). 2). Observasi penyampaian-penyampaian dan keadaan fisik klien. Kaji kebersihan klien dan kebutuhan ADL sehari-hari. b. Pola nutrisi metabolik Data subjektif 1). 2). 3). 4). Tanyakan minuman dan makanan sehari-hari dalam 24 jam. Kaji makanan kesukaan dan yang tidak disukai klien. Kaji adanya gangguan menelan, mual dan muntah. Apakah ada alergi atau pantangan terhadap suatu makanan. 5). Tanyakan frekuensi makan dan jumlah makanan yang mampu dihabiskan. Data objektif 1). Observasi dan kaji nilai laboratorium. 2). Timbang berat badan dan catat hasilnya. c. Pola eliminasi

Data subjektif 1). Tanyakan kebiasaan membuang air besar, teratur atau tidak, frekuensi dalam sehari, warna, konsistensi, adakah kesulitan saat membuang air besar dan bagaimana klien mengatasinya. 2). Kaji frekuensi buang air kecil, apakah sering menahan miksi. Data objektif Observasi dan catat intake dan output setiap shift. d. Pola aktifitas dan latihan Data subjektif 1). 2). 1). 2). Kaji tingkat aktifitas klien setiap hari. Tanyakan adanya keluhan lemah, nyeri saat beraktifitas. Data objektif Kaji tingkat aktifitas klien. Kaji kemampuan memenuhi kebutuhan ADL. e. Pola tidur dan istirahat Data subjektif 1). 2). 3). 4). 1). 2). Tanyakan jumlah jam tidur semalam. Tanyakan kebiasaan dan jumlah tidur pada siang hari. Tanyakan kebiasaan sebelum tidur. Adanya kesulitan waktu tidur. Data objektif Observasi keadaan lingkungan yang dapat mengganggu istirahat. Kaji faktor intrinsik klien yang dapat mengganggu istirahat. f. Pola persepsi kognitif Data subjektif 1). Tanyakan apakah klien mengalami nyeri perut, dimana lokasinya, apa yang menjadi pemicu atau yang meredakan. 2). Tanyakan apakah klien menggunakan alat bantu pendengaran /pengelihatan. Data objektif 1). 2). Kaji kemampuan klien mengingat. Kaji tingkat pengetahuan dan pendidikan klien.

g. Pola mekanisme koping Data subjektif 1). 2). 3). 4). Tanyakan apakah klien sering merasa depresi atau cemas. Apakah ada kejadian tertentu yang mempengaruhi masalah ini. Apa yang dilakukan klien untuk menangani cemas atau stres. Siapa dan apa yang dapat membantu klien menangani stres. Data objektif Kaji respon klien terhadap penyakit. h. Pola peran sosial Data subjektif 1). Tanyakan apakah penyakit ini mempengaruhi klien dalam keluarga. 2). Tanyakan apakah hubungan klien dengan keluarga, teman akan mengalami perubahan. Data objektif Kaji interaksi klien dengan klien disebelah kiri, kanan dan dengan tenaga perawat dan dokter. i. Pola persepsi diri-konsep diri Data subjektif 1). Tanyakan kepada klien perasaan terhadap penyakitnya. 2). Bagaimana masalah ini dapat membuat pandangan klien terhadap diri sendiri. Data objektif 1). 2). Kaji adanya ungkapan rendah diri klien. Kaji respon verbal dan nonverbal klien. j. Pola seksual reproduksi Data subjektif Tanyakan apakah masalah ini mempengaruhi cara klien berpikir tentang diri klien sendiri sebagai seorang pria atau wanita. Data objektif 1). 2). Mencatat perubahan kemampuan melakukan aktivitas seksual. Kaji respon verbal dan nonverbal klien.

k. Pola nilai kepercayaan Data subjektif 1). tertentu. 2). Tanyakan kebebasan klien dalam melakukan ibadah. Data objektif Kaji respon verbal dan nonverbal klien. 2. Diagnosa Keperawatan Diagnosa Keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia dan individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan mengubah (Carpenito, 2000). Melalui pengkajian, perawat akan mampu mengidentifikasi respon klien yang aktual/potensial yang memerlukan suatu tindakan. Dalam menentukan perencanaan perlu menyusun suatu sistem untuk menentukan diagnosa yang akan diambil tindakan pertama kali. Sistem yang bisa digunakan adalah hirarki Kebutuhan Dasar Manusia dikutip dari Iyer et. all, 1996 dalam (Nursalam, 2001, hal. 52). Hirarki KDM Abraham Maslow Dalam menentukan prioritas diagnosa mengacu pada teori Abraham Maslow. Tanyakan apakah klien menganut suatu kepercayaan

Nursalam, 2001, hal 52 dikutip dari Abraham Maslow

2)

Hirarki Kalish Kalish (1983) lebih menjelaskan kebutuhan Maslow dengan

membagi kebutuhan fisiologis menjadi kebutuhan untuk bertahan dan stimulasi. Kalish mengidentifikasikan dengan kebutuhan untuk mempertahankan hidup: udara, air, temperatur, eliminasi, istirahat dan menghindari nyeri. Jika terjadi kekurangan kebutuhan tersebut klien cenderung menggunakan semua prasarana untuk memuaskan kebutuhan tertentu. Hanya saja mereka akan mempertimbangkan terlebih dulu kebutuhan yang paling tinggi prioritasnya, misalnya keamanan atau harga diri. dikutip dari Iyer et. all, 1996 dalam (Nursalam, 2001, hal 53). Dari kedua system ini penulis menggunakan hirarki KDM Maslow untuk menentukan diagnosa keperawatan yang mungkin muncul. Langkah-langkah dalam menentukan diagnosa keperawatan yaitu: klasifikasi dan analisa data, interpretasi data, validasi data dan perumusan diagnosa keperawatan.

Menurut Doenges 1999, diagnosa keperawatan yang mungkin muncul adalah sebagai berikut: a. b. c. d. jaringan. e. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan perawatan b.d kurang informasi. Gangguan rasa nyaman: Nyeri b.d spasme otot, gerakan Immobilitas fisik b.d kerusakan rangka neuromuskular, Kerusakan intergritas kulit b.d pemasangan traksi, Resiko tinggi terhadap infeksi b.d kerusakan kulit, trauma fragmen tulang, terpasang traksi. nyeri, terapi restriktif. perubahan sensasi sirkulasi.

3. adalah

Perencanaan Setelah merumuskan diagnosa keperawatan langkah berikutnya menentukan perencanaan keperawatan, dalam menentukan

perencanaan perlu menyusun suatu sistem untuk menentukan diagnosa yang diambil tindakan pertama kali. Sistem yang bisa digunakan adalah hirarki kebutuhan manusia (Nursalam, 2001, hal 52) dikutip dari Iyer et. all, 1996). Tahapan dalam perencanaan ini meliputi: Menentukan prioritas, menentukan kriteria hasil, menentukan rencana tindakan dan pendokumentasian (Nursalam, 2001, hal 54). Terdapat tiga rencana tindakan yaitu: rencana tindakan pelimpahan (medis dan tim kesehatan lain), program atau perintah medis untuk klien yang dalam pelaksanaannya dibantu perawat. Berdasarkan diagnosa keperawatan yang ada, maka dirumuskan adalah sebagai berikut: intervensi yang didapatkan dilakukan untuk masing-masing diagnosa yang telah

a. Tujuan:

Gangguan rasa nyaman: Nyeri berhubungan dengan

spasme otot, gerakan fragmen tulang, terpasang traksi. Nyeri berkurang sampai hilang. Kriteria Evaluasi: Klien menyatakan nyeri hilang. Intervensi: 1) baring. Rasional: Menghilangkan 2) Rasional: Meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema, dan menurunkan nyeri (Doenges, 1999, hal 765). 3) Rasional: Mempertahankan kehangatan tubuh tanpa ketidaknyamanan karena tekanan selimut pada bagian yang sakit (Doenges, 1999, hal 765). 4) Evaluasi keluhan nyeri/ketidaknyamanan, perhatikan lokasi dan karakteristik, termasuk intensitas. Perhatikan petunjuk nyeri non verbal. Rasional: Mempengaruhi pilihan/pengawasan keepektifan intervensi, tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi/reaksi terhadap nyeri. (Doenges, 1999, hal 765). 5) Rasional: Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah sehubungan dengan cedera. Tinggikan penutup tempat tidur, pertahankan linen terbuka pada ibu jari. nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang/tegangan jaringan yang cedera (Doenges, 1999, hal 765). Tinggikan dan dukung ekstermitas yang terkena. Pertahankan imobilisasi bagian sakit dengan tirah

Membantu untuk menghilangkan ansietas, pasien dapat merasakan kebutuhan b. Tujuan: Tidak terjadi kerusakan mobilisasi fisik. Kriteria Evaluasi: Meningkatkan atau mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin. Intervensi: 1) imobilisasi. Rasional: Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktual, memerlukan informasi/intervensi untuk meningkatkan kemajuan kesehatan (Doenges, 1999, hal 770). 2) Rasional: Kontraksi otot isometrik tanpa menekut sendi atau menggerakan tungkai dan membantu mempertahankan kekuatan dan masa otot (Doenges, 1999, hal 770). 3) Rasional: Berguna dalam mempertahankan posisi fungsional ekstermitas, tangan/kaki dan mencegah komplikasi (Doenges, 1999, hal 770). 4) Rasional: Instruksikan atau dorong menggunakan frapeze dan pasca posisi untuk fraktur tungkai bawah. Berikan papan kaki, bebet penggelengan, gulungan tro kariter/ yang sesuai. Dorong penggunaan latihan isometrik mulai dengan tungkai yang tidak sakit. Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan oleh cedera/pengobatan dan perhatikan persepsi pasien terhadap untuk menghilangkan pengalaman kecelakaan (Doenges, 1999, hal 765). Imobilitas fisik b.d kerusakan rangka neuromuskular, nyeri, terapi restriktif.

Memudahkan gerakan selama higiene/perawatan kulit, dan penggantian linen, menurunkan ketidaknyamanan dengan tetap datar ditempat tidur (Doenges, 1999, hal 770). 5) Rasional: Hipotensi postural adalah masalah umum menyertai tirah baring lama dapat memerlukan intervensi khusus contoh miring-miring (Doenges, 1999, hal 770). c. Tujuan: Tidak terjadi kerusakan integritas kulit/jaringan. Kriteria Evaluasi: Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu. Intervensi: 1) Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan, perdarahan, perubahan warna. Rasional: Memberi informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang mungkin disebabkan oleh alat olah/pemasangan traksi, atau pembentukan edema yang membutuhkan intervensi medik lanjut (Doenges, 1999, hal 772). 2) Rasional: Menurunkan 3) Rasional: tekanan pada area yang peka dan resiko abrasi/kerusakan kulit (Doenges, 1999, hal 772). Ubah posisi dengan kering dorong penggunaan trapeze bila mungkin. Masase kulit dan penonjolan tulang, pertahankan tempat tidur kering dan bebas kerutan. Kerusakan integritas kulit b.d pemasangan traksi, perubahan sensasi sirkulasi. Awasi TD dengan melakukan aktivitas, perhatikan keluhan pusing.

Mengurangi tekanan

konstan

pada area yang

sama

dan

meminimalkan resiko kerusakan kulit, penggunaan trapeze dapat menurunkan abrasi pada siku/tumit (Doenges, 1999, hal 772). 4) Rasional: Menurunkan kadar kontaminasi (Doenges, 1999, hal 773). 5) Rasional: Karena immobilisasi bagian tubuh, benjolan tulang lebih dari area yang sakit karena penurunan sirkulasi (Doenges, 1999, hal 773). d. jaringan Tujuan: Tidak terjadi infeksi. Kriteria Evaluasi: Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu. Intervensi: 1) kontinuitas. Rasional: Pen atau kawat harus dimasukan melalui kulit yang terinfeksi, kemerahan, atau abrasi dapat menimbulkan infeksi tulang (Doenges, 1999, hal 774). 2) Rasional: Dapat mencegah kontaminasi silang dan kemungkinan infeksi (Doenges, 1999, hal 774). 3) Rasional: Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi, perubahan warna kulit kecoklatan, bau drainase yang tidak enak. Berikan perawatan steril sesuai prosedur. Inspeksi kulit untuk adanya iritasi atau robekan Resiko tinggi terhadap infeksi b.d kerusakan kulit, trauma Gunakan tempat tidur busa, bulu domba, bantal apung, atau kasur udara sesuai indikasi. Bersihkan kulit dengan air sabun hangat.

Tanda perkiraan infeksi gas ganggren (Doenges, 1999, hal 774). 4) Rasional: Dapat mengidentifikasi terjadinya osteomelitis (Doenges, 1999, hal 774). 5) Rasional: Antibiotik spektrum luas dapat digunakan secara profilaktif atau dapat ditujukan pada mikroorganisme khusus (Doenges, 1999, hal 774). e. Tujuan: Pasien mengerti tentang penyakitnya. Kriteria Evaluasi: Pasien mengatakan pemahaman kondisi, prognosis dan pengobatan. Intervensi: 1) akan datang. Kaji ulang patologi, prognosis, dan harapan yang Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, dan kebutuhan belajar b.d kurang informasi. Beri obat sesuai indikasi, contoh antibiotik. Selidiki nyeri tiba-tiba/keterbatasan gerakan dengan edema lokal/eritmea ekstermitas cedera.

Rasional: Memberikan dasar pengetahuan dimana pasien dapat membuat pilihan informasi (Doenges, 1999, hal 775). 2) Rasional: Banyak fraktur memerlukan gips, bebat, atau penjepit selama proses penyembuhan (Doenges, 1999, hal 775). 3) Buat daftar aktivitas dimana pasien dapat melakukannya secara mandiri dan yang memerlukan bantuan. Beri penguatan metode mobilitas dan ambulasi sesuai intruksi dengan terafi fisik bila diindikasi.

Rasional: Daftar aktivitas dimana pasien dapat melakukannya secara mandiri (Doenges, 1999, hal 775). 4) Rasional: Latihan aktif bertahap dapat membantu pasien aktif (Doenges, 1999, hal 774). 4. Pelaksanaan Iyer et. all, (1996), menyatakan bahwa pelaksanaan tindakan keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Pelaksanaan merupakan aplikasi dari perencanaan keperawatan oleh perawat bersama klien. Hal-hal yang harus kita perhatikan ketika akan melakukan implementasi adalah intervensi yang dilakukan sesuai dengan rencana. Setelah dilakukan validasi, penguasaan keterampilan interpersonal, intelektual dan teknik intervensi harus dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang tepat, keamanan fisik dan psikologi dilindungi dan dokumentasi keperawatan berupa pencatatan dan pelaporan (Nursalam, 2001). Dorong pasien untuk melanjutkan latihan aktif.

5.

Evaluasi Evaluasi adalah salah satu yang direncanakan dan perbandingan yang

sistematis pada status kesehatan klien. Evaluasi terdiri atas dua jenis yaitu evaluasi formatif dan evaluasi sumatif. Evaluasi formatif disebut juga evaluasi proses, evaluasi jangka pendek, atau evaluasi berjalan, dimana evaluasi dilakukan secepatnya setelah tindakan keperawatan dilakukan sampai tujuan tercapai. Sedangkan evaluasi sumatif ini disebut evaluasi hasil, evaluasi akhir, evaluasi jangka panjang. Evaluasi ini dilakukan pada akhir tindakan keperawatan paripurna dilakukan dan menjadi suatu metode dalm

memonitor kualitas dan efisiensi tindakan yang diberikan. Bentuk evaluasi ini lazimnya menggunakan format SOAP. Tujuan evaluasi adalah untuk mendapatkan kembali umpan balik rencana keperawatan, nilai serta meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui hasil perbandingan standar yang telah ditentukan sebelumnya (Nursalam, 1996, hal 64). 6. Perencanaan pulang Pendidikan pasien sebelum pulang dan suvervisi yang adekuat adalah penting. Penyuluhan atau penjelasan kesehatan diberikan untuk perencanaan pulang sebagai upaya melengkapi informasi agar perawatan dirumah dapat terlaksana sesuai dengan pendidikan yang telah diajarkan. Pendidikan kesehatan yang diberikan dapat berupa : a. b. c. d. yang tidak mengalami cedera. e. rumah sakit. Merencanakan pemeriksaan ulang di Penyuluhan Memberikan tentang informasi fraktur dan informasi mengenai perawatannya. mengenai pentingnya nutrisi adekuat pada pasien yang mengalami cedera tulang. Mengajarkan tindakan mengatasi nyeri. Tekhnik mobilisasi diberikan pada tubuh

7.

Dokumentasi Keperawatan Yang menjadi fokus pembahasan pada bagian ini adalah

bagaimana pendokumentasian data dilakukan sesuai dengan tahap-tahap asuhan keperawatan, dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi. Pengkajian dan dokumentasi yang lengkap tentang kebutuhan klien dapat meningkatkan efektivitas asuhan keperawatan yang diberikan, melalui beberapa hal berikut ini: Menggambarkan kebutuhan klien untuk

membuat diagnosa keperawatan dan menetapkan prioritas yang akurat sehingga perawat dapat menggunakan waktunya dengan lebih efektif, memfasilitasi dalam perencanaan, menggambarkan kebutuhan klien dan keluarga yang menunjukkan dengan tepat faktor yang akan meningkatkan pemulihan klien dan menentukan perencanaan pulang dan dokumentasi informasi pengkajian yang bersifat penting. Meskipun format dan metode dapat berubah tapi diagnosa keperawatan tetap menjadi langkah kedua untuk untuk menentukan asuhan keperawatan selanjutnya. Dokumentasi tentang diagnosa biasanya memuat: Saran membuat rencana perawatan, gagasan untuk mempersingkat proses perencanaan perawatan. Dengan perencanaan yang akurat dan menyeluruh, perawat dapat memberikan perawatan yang terindividualisasi. Mengekspresikan rencana perawatan dalam bentuk dokumentasi akan meningkatkan kontinuitas dan konsistensi perawatan yang diberikan. Rencana perawatan yang berdasarkan pengkajian dan diagnosa keperawatan selanjutnya akan memberikan informasi esensial bagi perawat guna memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas tinggi. Dokumentasi tentang perencanaan memuat hal-hal sebagai berikut: Diskusi perencanaan multidisiplin dan deskripsi tentang ciri esensial pendokumentasian tindakan, penyuluhan dan perencanaan pulang. Dokumentasi implementasi meliputi: Catatan intervensi yang dipilih untuk memenuhi kebutuhan klien dan memantau perawatan yang diterima klien. Dalam dokumentasi ini, meliputi hal-hal sebagai berikut: Sistem klasifikasi intervensi keperawatan, dokumentasi kritis yang berhubungan dengan klien jatuh/penggunaan restrein, pendokumentasian perawatan psikososial. Evaluasi merupakan langkah akhir dari proses keperawatan. Berasal dari hasil yang ditetapkan dalam rencana keperawatan, ada lima aspek dokumentasi evaluasi: Mengapa, apa, kapan, dimana dan bagaimana.