Anda di halaman 1dari 25

http://gudangklazhie.blogspot.com/2012/12/laporan-evaluasi-proyek-akbar-nasir.

html LAPORAN EVALUASI PROYEK AKBAR NASIR KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahnya selama berlangsungnya Praktek Lapang Evaluasi Proyek Perikanan hingga tersusunnya laporan lengkap ini. Laporan lengkap ini dibuat sebagai salah satu syarat dalam mata kuliah Evaluasi Proyek Perikanan. Laporan lengkap ini dapat tersusun dengan baik setelah praktek lapang berakhir. Oleh karenanya, pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu hingga tersusunnya laporan Lengkap ini, khususnya kepada teman-teman. Penyusun sangat menyadari bahwa laporan lengkap Evaluasi Proyek Perikanan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, saran maupun kritik yang sifatnya membangun kami akan terima dengan segala kerendahan hati. Akhirnya penyusun berharap kiranya laporan lengkap ini dapat bermanfaat bagi yang menggunakan.

Makassar, November 2012

Wassalam

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i HALAMAN SAMPUL .... ii LEMBAR NILAI .. iii LEMBAR PENGESAHAN iv KATA PENGANTAR . v DAFTAR ISI vi DAFTAR TABEL ................................................................................. DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................... BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang .. 1 B. Tujuan . C.Manfaat 3 BAB II. TINJAUAN PUSTAKA A. B. C. D. Pengertian Evaluasi Proyek.............. 5 Aspek Aspek Studi Kelayakan Investasi........ Jenis-jenis biaya.............................................. 6 9 3 vii viii

Analisis Kriteria Investasi..................................................... 11

BAB III. METODOLOGI PRAKTEK A. Waktu dan Tempat . 15 B. Sumber data............................................................................... 15 C. Metode pengambilan data 15 D. Analisis Data. 16 BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Kondisi Umum Lokasi Praktek .. 17 B. Sarana dan prasarana . 17

C. Data Responden................................. 18 D. Analisis Data................................................ 18

BAB V. PENUTUP A. Kesimpulan ... 21 B. Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 21

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Indonesia memiliki 8 potensi perikanan yang sangat besar, manakala dilihat dari sisi luasnya perairan lautan, letak geografis, wilayah maupun panjang garis pantai. Sebagai negara kepulauan, hampir dua pertiga wilayahnya adalah lautan. Luas lautnya sekitar 3,1 juta km2, yang terdiri dari perairan laut nusantara 2,8 juta km2, dan perairan laut territorial 0,3 km2. Bila ditambah dengan perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), maka secara keseluruhan luas perairan laut Indonesia adalah 5,8 juta km2,. Sementara itu, garis pantai yang dimiliki Indonesia mencapai 81.800 km. Garis pantai ini termasuk salah satu garis pantai yang paling panjang di dunia (Kompasiana, 2012) Potensi ekonomi sumber daya pada sektor perikanan diperkirakan mencapai US$ 82 miliar per tahun. Potensi tersebut meliputi: potensi perikanan tangkap sebesar US$ 15,1 miliar per tahun, potensi budidaya laut sebesar US$ 46,7 miliar per tahun, potensi peraian umum sebesar US$ 1,1 miliar per tahun, potensi budidaya tambak sebesar US$ 10 miliar per tahun, potensi budidaya air tawar sebesar US$ 5,2 miliar per tahun, dan potensi bioteknologi kelautan sebesar US$ 4 miliar per tahun. Selain itu, potens lainnya pun dapat dikelola, seperti sumber daya yang tidak terbaharukan, sehingga dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi pembangunan Indonesia (Kompasiana, 2012) Potensi sektor perikanan Provinsi Sulsel meliputi perikanan laut dan perikanan darat (tambak air payau, kolam, sawah, danau, sungai, dan rawa). Berdasarkan data produksi perikanan menurut kabupaten/kota di Sulsel pada tahun 2005 menunjukkan, secara keseluruhan produksi perikanan laut mencapai 315.734 ton dengan daerah pengahasil terbesar adalah Kabupaten Bone sebesar 67.707,9 ton. Kemudian menyusul Kabupaten Jeneponto dengan 43.670,7 ton, Kabupaten Takalar sebesar 39.543,5 ton.

Sementara produksi perikanan darat secara keseluruhan mencapai 425.753,44 ton yang meliputi tambak 391.745,40 ton, kolam 13.798,90 ton, sawah 37,442 ton, danau 14.252,40 ton, dan sungai 2.091,4 ton, dan produksi perikanan rawa mencapai 5.919,30 ton (batukar, 2012). Sekitar 70 persen potensi ikan tangkap atau sekitar 600 ribu ton dari 900 ton total sumber daya ikan tangkap di Sulawesi Selatan belum dimanfaatkan. Fenomena itu menunjukkan jika pengelolaan sumber daya ikan laut sebagian besar masih tradisional dan menggunakan peralatan yang sederhana, misalnya kapal kayu yang berkapasitas kecil, termasuk menggunakan perahu tradisional "jolloro" (Kompasiana, 2012). Dengan melihat latar belakang diatas maka perlu diadakan praktek lapang untuk mengumpulkan data faktor produksi, analisis data, dan interprestasi data sesuai teori evaluasi proyek.

B. Tujuan & Manfaat Tujuan dilaksanakannya praktek lapang Evaluasi Proyek Perikanan yaitu : 1. Untuk mengetahui suatu kegiatan proyek perikanan 2. Untuk mengetahui aspek-aspek studi kelayakan suatu proyek perikanan 3. Untuk mengetahui aspek finansial studi kelayakan proyek perikanan Kegunaan dilaksanakannya praktek lapang Evaluasi Proyek Perikanan untuk membandingkan materi yang didapatkan dibangku kuliah dengan keadaan di lokasi praktek.

TINJAUAN PUSTAKA

A.

Pengertian Evaluasi Proyek

Evaluasi merupakan penilaian dan analisis, apakah pekerjaan atau proyek dapat dilaksanakan ( dilanjutkan ) atau tidak.Proyek adalah segala kegiatan atau aktivitas yang diharapkan memperoleh keuntungan atau kegunaan dalam waktu tertentu. Evaluasi proyek adalah kegiatan penilaian dan analisis, apakah suatu kegiatan pekerjaan atau proyek yang dilaksanakan ( dilanjutkan ) dapat memperoleh kegunaan atau keuntungan dalam suatu waktu

tertentu atau dalam waktu yang di rencanakan. Keputusan yang dihasilkan dalam evaluasi proyek adalah : Menerima atau menolak seluruh proyek tersebut.

Memilih satu atau beberapa proyek yang memungkinkan menghasilkan laba dan sesuai dengan dana yang tersedia. Memilih skala prioritas, dari beberapa proyek yang layak.

Manfaat dari proyek adalah : 1. Manfaat secara langsung yang diterima sebagai akibat adanya suatu kegiatan proyek, seperti naiknya nilai produksi dan jasa. 2. Manfaat tidak langsung, dimana manfaat yang timbul sebagai akibat dan bersifat multiplier. Contoh : Pendirian mall, mengakibatkan timbulnya manfaat dari penduduk di sekitar dari adanya mall tersebut. 3. Manfaat tidak kentara yang timbul karena adanya proyek tersebut dan tidak dapat diukur dengan uang. Seperti pemikiran masyarakat yang sudah maju, sebagai akibat timbulnya pusat bisnis di daerah tersebut. Oleh karena itu, bagi pebisnis sangat dimungkinkan untuk melakukan evaluasi proyek bagi setiap pendirian perusahaan atau bisnis. Hal ini dilakukan, agar dapat menilai apakah proyek tersebut sudah layak dilakukan dan sangat menghasilkan keuntungan di masa yang akan datang, karena bisnis bukan hanya untuk sekarang, tetapi untuk jangka panjang dan ke depan B. Aspek Aspek Studi Kelayakan Investasi 1. Aspek Produksi Analisis teknis berkenaan dengan kegiatan produksi dan operasi yang dijalankan. Penilaian kelayakan diukur secara kuantitatif dengan menggunakan kuisioner untuk melihat apakah menurut pelaku usaha kegiatan teknis produksi dan operasi yang dijalankan telah layak secara ekonomi. Faktor-faktor yang yang menjadi pertimbangan dalam aspek produksi seperti sebagai berikut: lokasi usaha, fasilitas produksi, bahan baku, tenaga kerja, teknologi, proses produksi, jumlah, jenis dan mutu, produksi optimum, kendala produksi.

2. Aspek Pasar Analisis usaha dapat dilakukan secara kualitatif atau deskriptif kuantitatif untuk mengetahui aspek pasar dan pemasaran. Secara umum, titik tolak dalam alur pikir tersebut adalah penyusunan aspek pemasaran dapat dilakukan setelah pengusaha mempunyai rencana pengembangan bisnis. Pengembangan bisnis dapat diarahkan dalam rangka meningkatkan

omset atau volume penjualan dan untuk meningkatkan efisiensi. Peningkatan omset penjualan dapat dicapai melalui pilihan strategi bisnis yaitu, penetrasi pasar, pengembangan pasar, pengembangan produk dan differensiasi produk. Setelah ditetapkan strategi bisnis yang akan dikembangkan, selanjutnya dilakukan analisis pasar untuk mengetahui kelayakan aspek pasar. Hasil yang diinginkan adalah sampai seberapa besar potensi dan peluang pasar yang tersedia serta risiko pemasaran apa yang mungkin muncul apabila rencana bisnis tersebut dapat diimplementasikan. Hasil tersebut diharapkan sebagai bahan untuk menyususn target penjualan dan strategi pemasaran yang akan dikembangkan. Strategi pemasaran meliputi kombinasi antara kebijakan mengenai produk, tempat, harga dan promosi yang disesuaikan dengan kajian risiko pemasaran dan target penjualan yang diinginkan. Potensi dan peluang pasar dapat diketahui melalui kajian pasar yang ada saat ini dan pasar potensial. Pasar efektif saat ini, antara lain dapat diketahui melalui identifikasi mengenai jumlah dan karakteristik pelanggan, volume penjualan yang ada, tingkat dan perkembangan harga, cara pembayaran, tingkat persaingan, kontinuitas penjualan dan permintaan yang belum terpenuhi serta faktor lainnya yang mempengaruhi potensi pasar efektif. Pada umumnya sumber informasi untuk mengkaji pasar efektif berasal dari data primer (pengusaha dan pihak terkait lainnya). Sedangkan pasar potensial antara lain dapat dikaji melalui data makro permintaan, hambatan pemasaran yang bersifat kebijakan dan non kebijakan seperti monopoli, pangsa pasar dan lain-lain. Pada umumnya sumber informasi untuk mengkaji pasar potensial berasal dari data sekunder dari lembaga terkait. Berikut ini faktor-faktor yang menjadi pertimbangan dalam melihat aspek pasar adalah sebagai berikut: permintaan, penawaran dan persaingan pasar, harga, jalur pemasaran, kendala pemasaran, pemilihan pola usaha, market size dan market share, segmentasi, positioning dan targeting.

3. Aspek Finansial Dalam aspek finansial ini akan disajikan informasi tentang biaya investasi, modal kerja, cash flow dan biaya operasional yang terdiri dari fixed cost dan variable cost. Sebelum menyusun analisis kelayakan finansial maka perlu dibuat ihktisar biaya investasi. Cashflow merupakan aliran kas dari suatu usaha yang terdiri dari penerimaan usaha (inflow) dan pengeluaran usaha (outflow). Aliran kas disusun untuk menunjukan perubahan kas selama satu periode tertentu serta memberikan alasan mengenai perubahan kas tersebut dengan menunjukkan dari mana sumber-sumber kas dan penggunaanpenggunaannya (Umar, 2003: 179). Berdasarkan jenis transaksinya menurut Haming dan Basamalah (2003: 67), kas dalam cash flow dibagi menjadi dua macam, yaitu: Arus kas masuk (cash Inflow), yaitu arus kas menurut jenis transaksinya yang mengakibatkan terjadinya arus penerimaan kas. Inflow yang ada pada industri kecil terdiri dari penerimaan penjualan,

manfaat tambahan, dan nilai sisa. Ketiga penerimaan tersebut yang paling utama adalah penerimaan penjualan karena penerimaan ini bersifat rutin. Arus kas keluar (cash outflow) adalah arus kas menurut jenis transaksinya yang mengakibatkan terjadinya pengeluaran dana kas. Outflow usaha dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu biaya investasi, biaya tetap, dan biaya tidak tetap (biaya variabel). Kelayakan investasi dapat diukur dari berbagai kriteria, yang dalam hal ini menggunakan; analisis break even point, benefit/cost ratio, payback periods, net present value, profitability index, internal rate of return dan rentabilitas ekonomi.

C. Biaya Tetap dan Biaya Variabel Biaya tetap adalah biaya yang umumnya selalu konstan, bahkan di masa sulit. Biaya tetap tidak terpengaruh oleh perubahan-perubahan dalam aktivitas operasi sampai pada kondisi tertentu, kondisi dimana sesuai dengan kapasitas yang tersedia (Wordpress, 2012)

Biaya variabel atau juga disebut variable cost adalah biaya yang umumnya berubah-ubah sesuai dengan volume bisnis. Makin besar volume penjualan, makin besar pula biaya yang harus di keluarkan.Contohnya adalah biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja dalam pembuatan sebuah produk adalah biaya variable (Wordpress, 2012).

D. Analisis Kriteria Investasi 1) Net Present Value (NPV) Nilai bersih sekarang atau net present value (NPV) dari suatu proyek merupakan nilai sekarang (Present value) dari selisih antara benefit (manfaat) dengan Cost (biaya) pada discount rate atau DF tertentu. Net Present Value (NPV) yaitu menunjukkan kelebihan benefit (manfaat) dibanding dengan cost (biaya). Salah satu kekuatan metode NPV sebagai sarana mengevaluasi kelayakan rencana investasi barang modal adalah penggunaan nilai waktu uang untuk menghitung nilai senyatanya cash flow yang diperoleh pada masa yang akan datang. Dengan demikian akan diperoleh benefitabilitas proyek yang lebih mendekati kenyataan. Sedangkan kekuatan metode evaluasi proyek ini adalah digunakan suku bunga kredit yang dipinjam investor untuk membiayai proyek sebagai faktor pendiskonto. Adapun rumus NPV adalah: NPV = {(Bt Ct) / (1 i)t}atauNPV = {(Bt Ct) x DF}

Dimana: Bt Ct n = Benefit (manfaat) pada tahun ke-t = Cost (biaya) pada tahun ke-t = Jangka waktu umur proyek (tahun)

DF atau i = discount Faktor ( bunga yang berlaku) Kriteria: NPV > 0, maka proyek suatu usaha menguntungkan NPV = 0, maka proyek tidak untung dan tidak rugi NPV < 0, maka proyek suatu usaha merugikan 2) Analisis Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Pertumbuhan Analisis ini merupakan kelanjutan dari analisis NPV.Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio) adalah perbandingan antara jumlah NPV positf dengan jumlah NPV negatif. Hal ini menunjukkan bahwa besarnya benefit berapa kali besarnya biaya dan investasi untuk memperoleh suatu manfaat. Rumus analisis Net Benefit Cost Ratio adalah :

Dimana: NPV (+) = Total nilai PV of Net Benefit yang berjumlah positif NPV (-) = Total nilai PV of Net Benefit yang berjumlah negatif Kriteria: Net B/C > 1, maka usaha layak untuk di lanjutkan Net B/C = 1, maka usaha impas Net B/C < 1, maka usaha tidak layak untuk dikembangkan. 3) Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C) Gross B/C merupakan perbandingan antara Present Value Benefit dengan Present Value Cost. Apabila Gross B/C > 1, proyek layak untuk dilaksanakan. Sebaliknya Gross B/C < 1, proyek tidak layak untuk dilaksanakan.

Perbedaannya dalam perhitungan Net B/C, biaya tiap tahun dikurangkan dari benefit tiap tahun untuk mengetahui benefit netto yg positif dan negatif. Kemudian jumlah present value positif dibandingkan dengan jumlah present value yang negatif. Sebaliknya, dalam perhitungan Gross B/C, pembilang adalah jumlah present value arus benefit (bruto) dan penyebut adalah jumlah present value arus biaya (bruto). Semakin besar Gross B/C, semakin besar perbandingan antara benefit dengan biaya. Artinya proyek relatif semakin layak. Sebaliknya, dalam perhitungan Gross B/C, pembilang adalah jumlah present value arus benefit (bruto) dan penyebut adalah jumlah present value arus biaya (bruto). Semakin besar Gross B/C, semakin besar perbandingan antara benefit dengan biaya. Artinya proyek relatif semakin layak.

Indikator Gross B/C : Jika Gross B/C > 1, maka proyek layak (go) utk dilaksanakan Jika Gross B/C < 1, maka proyek tdk layak (not go) utk dilaksanakan

4)

Internal rate of return (IRR)

Internal rate of return (IRR) merupakan tingkat diskonto yang menyebabkan NPV investasi sama dengan nol. IRR dapat juga dianggap sebagai tingkat keuntungan atas investasi bersih dari suatu usaha, sepanjang setiap benefit bersih diperoleh secara otomatis ditanamkan kembali pada tahun berikutnya dan mendapatkan tingkat keuntungan yang sama dan diberi bunga selama sisa umur usaha. Sebuah investasi layak jika nilai IRR melebihi tingkat return yang dipersyaratkan. IRR dapat menggambarkan besarnya suku bunga tingkat pengembalian atas modal yang diinvestasikan. Dalam kriteria investasi IRR harus lebih besar dari OCC atau opportunity cost of capital agar rencana atau usulan investasi dapat layak dilaksanakan (Sofyan 2002: 178). Rumus yang digunakan untuk IRR adalah sebagai berikut:

dimana: IRR i i = Tingkat pengembalian internal = Bunga diskonto yang menghasilkan NPV positif = Bunga diskonto yang menghasilkan NPV negatif

NPV = Nilai sekarang yang positif NPV = Nilai sekarang yang negative

5). Payback Period Merupakan jangka waktu /periode yang diperlukan untuk membayar kembali semua biaya-biaya yang telah dikeluarkan dalam investasi suatu proyek.Indikator Payback Periods : Semakin cepat kemampuan proyek mampu mengembalikan biaya-biaya yang telah dikeluarkan dalam investasi proyek maka proyek semakin baik (satuan waktu). Perhitungan payback belum memperhatikan time value of money :

dimana : I = besarnya biaya investasi Ab = benefit bersih yg diperoleh setiap tahunnya

METODOLOGI PRAKTEK

A. Waktu dan Tempat Praktik lapang Evaluasi Proyek Perikanan diadakan pada hari Jumat sampai Minggu, tanggal 09 11 November 2012 di Desa Pajukukang, Kecamatan Pajukukang, Kabupaten Bantaeng Sulawesi Selatan.

B. Sumber Data Sumber data pada Praktik lapang Evaluasi Proyek Perikanan yaitu : 1. Data primer (menggunakan kuisioner), merupakan data yang diperoleh secara langsung di lapangan melalui wawancara dan observasi. 2. Data Sekunder, merupakan data yang diperoleh dari instansi pemerintah setempat. 3. Studi pustaka, merupakan data yang diperoleh dari literatur. C. Metode Pengambilan Data 1. Observasi adalah teknik penelitian dengan melihat langsung dan kondisi daerah sekitar. 2. Wawancara adalah teknik penelitian dengan wawancara langsung dengan masyarakat setempat

D. Analisis Data Analisis Kriteria Investasi yang akan digunakan dalam Evaluasi Proyek ada 5 yaitu : 1. Net Present Value (NPV) Adapun rumus NPV adalah: NPV = {(Bt Ct) / (1 i)t}atauNPV = {(Bt Ct) x DF} Dimana: Bt Ct n = Benefit (manfaat) pada tahun ke-t = Cost (biaya) pada tahun ke-t = Jangka waktu umur proyek (tahun)

DF atau i = discount Faktor ( bunga yang berlaku) Kriteria: NPV > 0, maka proyek suatu usaha menguntungkan NPV = 0, maka proyek tidak untung dan tidak rugi NPV < 0, maka proyek suatu usaha merugikan

2. Analisis Net Benefit Cost Ratio (Net B/C) Rumus analisis Net Benefit Cost Ratio adalah :

Dimana: NPV (+) = Total nilai PV of Net Benefit yang berjumlah positif NPV (-) = Total nilai PV of Net Benefit yang berjumlah negatif Kriteria: Net B/C > 1, maka usaha layak untuk di lanjutkan Net B/C = 1, maka usaha impas

Net B/C < 1, maka usaha tidak layak untuk dikembangkan.

3. Analisis Internal Rate of Return (IRR) Adapun formulasi dari analisis IRR adalah sebagai berikut :

Dimana : i adalah DF dengan NPV positif i adalah DF dengan NPV negatif NPV adalah nilai NPV positif NPV adalah nilai NPV negatif Bt Ct n = Benefit (manfaat) pada tahun ke-t = Cost (biaya) pada tahun ke-t = Jangka waktu umur proyek (tahun)

DF atau i = discount Faktor ( bunga yang berlaku)

Kriteria: IRR > tingkat suku bunga yang berlaku, maka usaha layak untuk di kembangkan IRR < tingkat suku bunga yang berlaku, maka usaha tidak layak untuk dikembangkan. 4. Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C) Adapun rumus yang digunakan untuk menghitung Gross B/C ratio adalah sebagai berikut :

Indikator Gross B/C : Jika Gross B/C > 1, maka proyek layak (go) utk dilaksanakan Jika Gross B/C < 1, maka proyek tdk layak (not go) utk dilaksanakan 5. Payback Period Perhitungan payback belum memperhatikan time value of money :

dimana : I = besarnya biaya investasi Ab = benefit bersih yg diperoleh setiap tahunnya IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A.

Keadaan Umum Lokasi

Kabupaten Bantaeng adalah sebuah kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Terletak dibagian selatan provinsi Sulawesi Selatan. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 395,83 km atau 39.583 Ha yang dirinci berdasarkan Lahan Sawah mencapai 7.253 Ha (18,32%) dan Lahan Kering mencapai 32.330 Ha. Secara administrasi Kabupaten Bantaeng terdiri atas 8 kecamatan yang terbagi atas 21 kelurahan dan 46 desa. Jumlah penduduk mencapai 170.057 jiwa. Kabupaten Bantaeng terletak di daerah pantai yang memanjang pada bagian barat dan timur sepanjang 21,5 kilometer yang cukup potensial untuk perkembangan perikanan dan rumput laut, (bantaengsulsel, 2012). Desa Pa Jukukang memiliki luas daerah sebesar 11.9 km2.Desa ini terletak di kecamatan Pa Jukukang kabupaten Bantaeng dengan jumlah penduduk sekitar 4.016 jiwa.Di desa Pa Jukukang terbagi atas 8 dusun.Adapun batas-batas wilayah dari desa Pa Jukukang adalah sebagai berikut : Sebelah Timur berbatasan dengan desa Borongloe Sebelah Utara berbatasan dengan desa Tomboloe Sebelah Barat berbatasan dengan desa Nipa-Nipa Sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Flores

Pada umumnya mata pencaharian warga sebagai petani budidaya rumput laut, namun ada juga masyarakat yang memiliki perkerjaan tambahan sebagai nelayan tangkap, tukang kebun, dan petani. Pada tahun 2007 dana yang dialokasikan untuk masyarakat tersebut berdampak positif pada awalnya. Tetapi seiring berjalannya waktu pendapatan masyarakat semakin menurun. Penyebab utamanya adalah manajemen dana yang buruk (Kepala Desa).

B.

Data Responden : Sappara : 42 tahun : SMP

Nama Umur Pendidikan

Tanggungan : 3 Orang Usaha : Penangkapan ikan

Nama Usaha : Modal : Modal Sendiri

Tujuan Usaha : Sebagai Pekerjaan Pokok

C.

Analisis Data

a). Net Benefit Cost Ratio (Net B/C)

Net B/C

= = 186 / -152,2 = 1,22

Adapun Net B/C yang diperoleh adalah 1,22. Nilai tersebut diperoleh dengan cara membagi nilai NPV+ dengan NPV- Jadi, dapat disimpulkan bahwa usaha budidaya rumput laut yang dilakukan responden layak untuk dilaksanakan karena >1 maka, Benefit yang diperoleh 1,22 kali lipat dari cost yng dikeluarkan.

b). Gross Benefit Cost Ratio (Gross B/C) Gross B/C = 1,141

Adapun Gross B/C yang diperoleh adalah 1,141. Nilai tersebut diperoleh dengan cara membagi nilai PV Benefit dengan PV Cost Jadi, dapat disimpulkan bahwa usaha budidaya rumput laut yang dilakukan responden layak untuk dilaksanakan karena >1.

c). Interest Rate of Return (IRR) IRR = i + NPV / NPV NPV (i-i) = 18% + (20% - 18%) = 17, 13% Jadi, usaha budisaya rumput laut oleh responden Layak dilaksanakan karena nilai IRR yaitu 17,13% > suku bunga yang berlaku yaitu 15%.

d). Profitability Ratio (PR) PR = = = 3,77

Nilai PR didapatkan dari PV Net Benefit dibagi dengan PV Investasi dan didapatkan hasilnya sebesar 3,77.

Tahun Benefit Cost NPV (18%) 0 1 2 3 4 5 0 10 25 35 45 55 110 70 15 30 20 15

Net Benefit DF (20%) -100 -60 10 5 25 40 1 0,87

DF (15%) NPV (20%) -100 -522 0 8,7 18,9

NPV (15%)

PV (B) PV (C) DF (18%)

100 60,9

-100

-100

0,847 -50,82 0,833 -49,98 0,694 6,94

0,756 7,56 0,658 3,29 0,572 14,3

11,34 0,718 7,18

23,03 19,74 0,609 3,045 0,579 2,895 25,74 11,44 0,516 12,9 0,482 12,05

0,497 19,88 27,335 7,455 0,437 17,48 0,402 16,08

6 7 8 9 10

70 75 100 120 180

15 15 20 18 20

55 60 80 102 160 377

0,432 23,76 30,24 6,48 0,376 22,56 28,2 0,327 26,16 32,7 5,64 6,54

0,37

20,35 0,335 18,425 16,8

0,314 18,84 0,28

0,266 21,28 0,233 18,64

0,284 28,97 34,08 5,112 0,225 22,95 0,194 19,788 0,247 39,52 44,46 4,94 6,019 -436 273,385 0,191 30,56 0,162 25,92 239,587 5,493 3,765 5,194

Jumlah 715 338 -12,442

Net Benefit Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Tahun 6 Tahun 7 Tahun 8 -> 0 100 = -100 -> 10 70 = -60 -> 25 15 = 10 -> 35 30 = 5 -> 45 20 = 25 -> 55 15 = 40 -> 70 15 = 55 -> 75 15 = 60 -> 100 20 = 80

Tahun 9 Tahun 10

-> 120 18 = 102 -> 180 20 = 160

NPV (15%) Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Tahun 6 Tahun 7 Tahun 8 Tahun 9 Tahun 10 -> -100 x 1 = -100 -> -60 x 0.87 = -52.2 -> 10 x 0.756 = 7.56 -> 5 x 0.658 = 3.29 -> 25 x 0.572 = 14.30 -> 40 x 0.497 = 19.88 -> 55 x 0.432 = 23.76 -> 60 x 0.376 = 22.56 -> 80 x 0.327 = 26.16 -> 102 x 0.284 = 28.97 -> 160 x 0.247 = 39.52

PV (B)

Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Tahun 6 Tahun 7 Tahun 8 Tahun 9 Tahun 10

-> 0 x 1 = 0 -> 10 x 0.87 = 8.7 -> 25 x 0.756 = 18.9 -> 35 x 0.658 = 23.03 -> 45 x 0.572 = 25.74 -> 55 x 0.497 = 27.335 -> 70 x 0.432 = 30.24 -> 75 x 0.376 = 28.2 -> 100 x 0.327 = 32.7 -> 120 x 0.284 = 34.08 -> 180 x 0.247 = 44.46

PV (C) Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Tahun 6 Tahun 7 Tahun 8 Tahun 9 Tahun 10 -> 100 x 1 = 100 -> 70 x 0.87 = 60.9 -> 15 x 0.756 = 11.34 -> 30 x 0.658 = 19.74 -> 20 x 0.572 = 11.44 -> 15 x 0.497 = 7.455 -> 15 x 0.432 = 6.48 -> 15 x 0.376 = 5.64 -> 20 x 0.327 = 6.54 -> 18 x 0.284 = 5.112 -> 20 x 0.247 = 4.94

NPV (18%) Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Tahun 6 Tahun 7 Tahun 8 Tahun 9 Tahun 10 -> -100 x 1 = -100 -> -60 x 0.847 = -50.82 -> 10 x 0.718 = 7.18 -> 5 x 0.609 = 3.045 -> 25 x 0.516 = 12.9 -> 40 x 0.437 = 17.48 -> 55 x 0. 37 = 20.35 -> 60 x 0.314 = 18.84 -> 80 x 0.266 = 21.28 -> 102 x 0.225 = 22.95 -> 160 x 0.191 = 30.56

NPV (20%) Tahun 0 Tahun 1 Tahun 2 -> -100 x 1 = -100 -> -60 x 0.833 = -49.98 -> 10 x 0.694 = 6.94

Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Tahun 6 Tahun 7 Tahun 8 Tahun 9 Tahun 10

-> 5 x 0.579 = 2.895 -> 25 x 0.482 = 12.05 -> 40 x 0.402 = 16.08 -> 55 x 0.335 = 18.425 -> 60 x 0.28 = 16.8 -> 80 x 0.233 = 18.64 -> 102 x 0.194 = 19.788 -> 160 x 0.162 = 25.92

D. Biaya Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang, yang telah terjadi, sedang terjadi atau yang kemungkinan akan terjadi untuk tujuan tertentu. Adapun total biaya yang dikeluarkan untuk usaha penangkapan di Desa Pajukukang yaitu dapat dilihat pada tabel 1 : Tabel 1. Total BiayaTahun Total Cost 0 1 2 3 4 5 100.000.000 70.000.000 15. 000.000 30. 000.000 20. 000.000 15. 000.000

6 7 8 9 10

15. 000.000 15. 000.000 20. 000.000 18. 000.000 20. 000.000

Jumlah 338. 000.000

Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2012 Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui bahwa total biaya yang dikeluarkan selama 10 tahun terakhir untuk melakukan usaha penangkapan yaitu Rp. 338.000.000. E. Penerimaan Penerimaan adalah perkalian antara produksi yang diperoleh dengan harga jual. Adapun penerimaan yang diperoleh dari suatu usaha berdasar dari penjualan produk-produk hasil produksi dan dipasarkan ke konsumen dalam jumlah yang telah disepakati bersama(kedua belah pihak). Sehingga penerimaan yang diperoleh merupakan hasil kali antara jumlah produk yang dihasilkan dengan tingkat harga yang berlaku. Penerimaan yang diperoleh dalam usaha penangkapan didesa Pajukukang dapat dilihat dari tabel berikut : Tabel 2. PenerimaanTahun Benefit 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 10. 000.000 25. 000.000 35. 000.000 45. 000.000 55. 000.000 70. 000.000 75. 000.000 100. 000.000 120. 000.000

10

180. 000.000

Jumlah 715. 000.000

Sumber: Data Primer yang telah diolah, 2012 Dari tabel diatas dapat diketahui nilai total penerimaan dari usaha penangkapan yaitu sebesar Rp. 715.000.000. dimana pendapatan dari Tahun 0 yaitu Rp. 0 kemudian mengalami peningkatan pendapatan selama 10 tahun terakhir. F. Keuntungan

Keuntungan yang diperoleh pada hasil penangkapan pada waktu tertentu atau tiap kali produksi tidak sama. Hal tersebut dapat terjadi karena pendapatan tergantung pada hasil penangkapan, karena semakin banyak hasil yang ditangkap maka semakin bayak pula jumlah produksi yang dihasilakn dari usaha penangkapan. Nilai keuntungan usaha desa Pajukukang dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 3. KeuntunganTahun 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 0 100.000.000 Pendapatan (TR) -100.000.000 -60.000.000 10. 000.000 5. 000.000 25. 000.000 40. 000.000 55. 000.000 60.000.000 80. 000.000 102. 000.000 160.000.000 377. 000.000 Biaya (TC) Keuntungan (TR-TC)

10. 000.000 25. 000.000 35. 000.000 45. 000.000 55. 000.000 70. 000.000 75. 000.000 100. 000.000 120. 000.000 180. 000.000

70.000.000 15. 000.000 30. 000.000 20. 000.000 15. 000.000 15. 000.000 15. 000.000 20. 000.000 18. 000.000 20. 000.000 338. 000.000

Jumlah 715. 000.000

Sumber : Data Primer yang telah diolah, 2012

Dari tabel keuntungan yang diperoleh dari usaha penangkapan yang dilakukan mengalami peningkatan setiap tahunnya yang dimulai dari 0-10 dengan jumlah total keuntungan selama 10 tahun yaitu Rp. 377. 000.000. V. A. PENUTUP Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil pengamatan pada usaha penangkapan di Desa Pajukukang kec. Pajukukang Kab. Bantaeng dapat disimpulkan bahwa : 1). Keuntungan yang didapat selama 10 tahun sebesar Rp. 377.000.000. Dapat dilihat bahwa usaha tersebut mengalami peningkatan tiap tahunnya, artinya besarnya tingkat keuntungan tergantung dari besarnya tingkat penerimaan yang diperoleh dengan besarnya biaya yang dikeluarkan. 2). Pada usaha penangkapan dapat dinyatakan layak dengan kriteria Net B/C Ratio yang didapatkan sebesar 1 > 0, Gross B/C Ratio sebesar 1,141 >1 dan Internal Rate Of Return (IRR) sebesar 17,13% (lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku di Bank yaitu 15%), kemudian Probability Ratio sebesar 3,77.

B. Saran Berdasarkan dari hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat disarankan bahwa : 1. Diharapkan agar para nelayan dapat semakin meningkatkan keuntungan dan pendapatan dan tidak merusak ekosistem yang ada dan tidak melakukan over fishing. 2. Perlunya di lakukan penelitian secara berkelajutan.

DAFTAR PUSTAKA Kompasiana.2012.Diakses.http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2012/06/16/sumber-dayaperikanan-sebagai-tulang-punggung-perekonomian-indonesia. Pada tanggal 14 November 2012. Nila, 2011.Diakses dari situs http://nilamahandika.blogspot.com/2011/07/kriteriainvestasi.html.Pada tanggal 13 November 2012.

Wartapedia.2012.Diakses dari situs http://wartapedia.com/bisnis/potensi/903-minapolitan-potensiperikanan-di-sulawesi-selatan.html. Pada tanggal 14 November 2012.

Wordpress.2009.Diakses dari situs http://lilis08.wordpress.com/2009/11/13/biaya-variabel-dan-biayatetap/. Pada tanggal 14 November 2012.