Anda di halaman 1dari 20

IJAZ AL-QURAN DAN KONSEP SHIRFAH PENDAHULUAN Alam yang luas dan dipenuhi makhluk-makhluk allah, gunung-gunung yang

menjulang tinggi, samuderanya yang melimpah, dan daratannya yang menghampar luas, menjadi kecil dihadapan makhluk lemah yaitu manusia. Hal ini disebabkan Allah telah menganugerahkan kepada makhluk manusia ini berbagai keistemewaan dan kelebihan serta memberinya kekuatan berfikir cemerlang yang dapat menembus segala medan untuk menundukkan unsur-unsur kekuatan alam tersebut dan menjadikannya sebagai pelayan bagi kepentingan kemanusiaan. Allah sama sekali tidak akan menelantarkan manusia tanpa memberikan kepadanya sebersit wahyu, dari waktu ke waktu yang membimbingnya kejalan petunjuk sehingga mereka dapat menempuh liku-liku kehidupan ini atas dasar keterangan dan pengetahuan, namun watak manusia yang sombong dan angkuh terkadang menolak untuk tunduk kepada manuisa lain yang serupa dengannya selama manusia lain itu tidak membawa kepadanya sesuatu yang tidak disanggupinya hingga ia mengakui, tunduk dan percaya akan kemampuan manusia lain itu yang tinggi dan berada di atas kemampuannya sendiri. Oleh karena itu Rasul-Rasul Allah disamping diberi wahyu mereka juga dibekali kekuatan dengan hal-hal yang luar biasa yang dapat menegakkan hujjah atas manusia sehingga mereka mengakui kelemahannya dihadapan hal-hal luar biasa tersebut serta tunduk dan taat kepadanya Namun mengingat akal manusia pada awal fase perkembangannya tidak melihat sesuatu yang lebih dapat menarik hati selain mukjizat-mukjizat alamiah yang hissi (inderawi) karena akal mereka belum mencapai puncak ketinggian dalam bidang penegtahuan dan pemikiran maka yang palin relevan ialah jika setiap rasul itu hanya diutus kepada kaumnya secara khusus dan mukjizatnya pun hanya berupa sesuatu hal biasa yang sejenis dengan apa yang mereka kenal selama itu. Hal demikian agar disaat tidak mampu menandinginya, mereka segera tunduk dan percaya bahwa hal mluar biasa itu datang dari kekuatan langit, dan ketika akal mereka mencapai taraf sempurna maka Allah mengumandangkan kedatangan risalah Muhammad yang abadi kepada seluruh umat manusia serta mukjizat bagi risalahnya juga berupa mukjizat yang ditujukan kepada akal manuisa yang telah berada dalam tingkat kematangan dan perkembangannya yang paling tinggi. Bila dukungan Allah kepada rasul-Rasul terdahulu berbentuk ayat-ayat kauniyah yang memukau mata dan tidak ada jalan lai bagi akal untuk menentangnya seperti mukjizat tangan dan tongkat Nabi Musa dan penyembuhan orang buta dan orang sakit sopak serta

menghidupkan yang orang mati dengan izin Allah bagi Nabi Isa as, maka mujizat Nabi Muhammad pada masa kejayaan ilmu pengetahuan ini berbentuk mukjizat aqliyah, mukjizat bersifat rasional yang berdialaog dengan akal manuisadan menantangnya untuk selamanya. Mukjizat tersebut adalah al-Quran dengan segala ilmu dan pengetahuan yang dikandungnya dan segala beritanya tentang masa lalu dan masa yang akan datang. Akal manusia betapapun majunya tidak akan sanggup menandingi al-Quran karena al-Quran adalah ayat kauniyah yang tiada bandingannya, kelemahan akal yang bersifat kekurangan substantif ini merupakan pengakuan akal itu sndiri bahwa al-Quran adalah wahyu Allah yang diturunkan kepada Rasul-Nya dan sangat diperlukan untuk dijadikan sebagai pedoman dan pembimbing. Itulah makna yang diisyaratkan oleh Rasulullah dengan sabdanya: tiada seorang Nabi pun kecuali diberi mukjizat yang dapat membuat manusia beriman kepadanya, namun apa yang diberikaan kepadaku adalah wahyu yang diwahyukan Allah kepadaku, karena itu aku berharap semoga kiranya aku menjadi Nabi yang paling banyak pengikutnya. Demikianlah Allah telah menentukan keabadian mukjizat Islam sehingga kemampuan manusia menjadi tak berdaya menadinginya padahal waktu yang tersedia cukup pnajang dan ilmu pengetahuan pun telah maju pesat. Pembicaraan tentang kemukjizatan al-Quran juga merupakan satu macam mikjizat tersendiri yang di dalamnya para penyelidik tidak bisa mencapai rahasia satu sisi daripadanya sampai ia mendapatkan dibalik sisi itu sisi-sisi lain yang akan disingkap akan rahasia kemukjizatannya oleh zaman.

PEMBAHASAN A. IJAZ QURAN Hikmah Allah yang azali telah bejalan untuk menguatkan para Nabi dan RasulNya yaitu dengan beberpa mukjizat yang nampak, dalil-dalil tanda-tanda yang nyata, serta hujjah dan alasan rasional yang menyatakan bahwa mereka adalah benar dan mereka 2

adalah para Nabi dan rasul Allah SWT. Allah SWT mengistimewakan Nabi kita Muhammad SAW dengan bekal mukjizat yang luar biasa yaitu al-Quranul Karim. Ia adalah nur Ilahi dan wahyu samawy yang diletakkan kedalam lubuk hati Nabi-Nya sebagai Quranan Arabiyyan (bacaan Berbahasa Arab) yang mulus dan lempang yang mana ia dapat menghidupkan semangat generasi dari bahaya kemusnahan, dari generasi yang sudah punah menjadi generasi yang hidup kembali dengan pancaran sinar al-Quran dan menunjukinya dengan jalan yang teramat lurus serta membangkitkannya kembali dari lembah kenistaan menjadi umat terbaik yang ditampilkan untuk ikatan seluruh umat manusia sebagaimana firmannya dalam surah al-Anam ayat 122. 1. Pengertian Al-Ijaaz menurut bahsa ialah ifsbaatul ajaz yang berarti menetapkan, bahwa ia melemahkan lawannya.1 Ada juga yang mengartikan Ijaz itu dengan lemah, yaitu mengakui kelemahan dalam melakukan sesuatu, lawan dari kemampuan. Yang mana apabila kemukjizatan telah terbukti maka nampaklah kemampuan mujiz (sesuatu yang melemahkan). Adapun yang dimaksud dengan ijaz dalam makalah ini adalah menampakkan kebenaran Nabi dalam pengakuannya sebagai seorang Rasul dengan menampakkan kelemahan orang Arab untuk menghadapi mukjizatnya yang abadi yaitu al-Quran.2 Selanjutnya ada juga yang menyatakan bahwa Ijaz adalah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu lawan dari kekuasaan atau kesanggupan. Apabila ijaz telah terbukti, maka nampaklah kekuasaan mujiz. Adapun yang dikehendaki ijaz dalam pembahasan ini ialah:

Memperlihatkan kebenaran Nabi dalam pernyataan sebagai seorang rasul dengan memperlihatkan kelemahan oraang arab dalam menentangnya trhadap mukjizatnya yang kekal yaitu al-Quran dan kelemahan orang-orang yang daang sesudah mereka.3 Sedangkan mukjizat adalah

Drs. H. Kahar Masyhur, Pokok-Pokok Ulumul Quran, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 1992), Hlm. 142. Manaul Qutan, Pembahasana Ilmu Al-Quran, (Jakarta; Rineka Cipta, 1995), Hlm. 70. 3 Tengku Muhammad hasby Ash-Shiddiqy, Ilmu-Ilmu AlQuran, (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2002), Hlm. 317.
2

Suatu urusan yang menyalahi kebiasaan yang disertakan dengan tahaddi dan terlepas dari tantangan4 Di samping itu ada juga ulama yang menyatakan bahwa mukjizat adalah perbuatan luar biasa, yang mana dalam pemahaman syaranya bahwa mukjizat adalah kejadian yang melampaui batas kebiasaan, di dahului oleh tantangan, tanpa ada tandingan.5 Dan ada juga yang menyatakan bahwa mukjizat adalah perbuatanperbuatan yang tidak mampu ditiru oleh manusia. Yang mana mukjizat itu sendiri menurut penjelasan ulama bahwa syarat-syarat mukjizat itu adalah: a. mukjizat harus berupa sesuatu yang tidak sanggup dilakukan oleh siapa pun selain Allah. b. Tidak sesuai dengan kebiasaan. c. Mukjizat harus berupa hal yang dijadikan saksi oleh seorang yang mengaku membawa risalah Illahi sebagai bukti atas kebenaran pengakuannya. d. Terjadi bertepatan dengan pengakuan nabi yang mengajak bertanding menggunakan mukjizat tersebut. e. Tidak ada seorangpun yang dapat membuktikan dan membandingkan dalam pertandingan tersebut.6 Mukjizat ada yang bersifat hisshiyyah yang sering diturunkan sebelum masa Nabi Muhammad SAW yaitu mukjizat yang mampu ditangkap oleh panca indra khususnya indra penglihatan. Dalam indra penglihatan ini semua menusia menemukan gambaran yang sama. Tidak jauh berbeda dalam menterjemahkan apa yang ditangkap oleh indra penglihatan. Ada juga mukjizat yang bersifat aqliyyah yang semuanya direspon oleh daya nalar, mukjizat seperti ini tidak diterima oleh penerimaan yang sama dimana setiap manusia menerimanya sesuai dengan kemampuan daya faham, nalar dan kemampuannya dalam membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Sebagian besar mukjizat yang diturunkan kepada bani israil berbentuk hisshiyyah karena kebebalan dan kurangnya pemahaman mereka. Sedangkan sebagian besar mukjizat yang diturunkan kepada ummat islam melalui Nabi Muhammad bersifat aqliyah karena kecerdasan dan kesempurnaan pemahaman mereka karena syariat ini akan tetap abadi dalam lembaran sejarah umat manusia sampai hari kiamat.7
Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar Asy-Syayuthi, Al-Itqan fi Ulum Al-Quran, (Beirut, Libanon: Dar-Al-Kotob Al-Ilmiyah, 2000), Hlm. 228. 5 Muhammad Kamil Abdushamad, Mukjizat Ilmiah dalam Al-Quran, (Jakarta: Akbar, 2004), hlm. 1 6 Said Agil al Munawar, Al-Quran Membangun Kesalehan Hakiki (Jakarta: Ciputat Pres, 2002), hlm. 32 7 Muhammad Kamil Abdushamad, Op. Cit. Hlm. 2.
4

Al-Quran adalah mukjizat yang bersifat abadi berbeda dengan mukjizat RasulRasul sebelumnya dimana al-Quran merupakan mukjizat ilmiah yang mengajak untuk membahas dan meneliti ayat-ayat dalam rangka menemukan hakikat ilmiah, maka tidaklah mengherankan apabila al-Quran menegaskan pembenaran dan kecocokan terhadap apa yang dihasilkan oleh penemuan-penemuan ilmu pengetahuan saat ini. Mujizat Nabi Muhammad yang tertinggi dan yang paling abadi adalah al-Quran. Generasi-generasi yang hidup setelah Nabi juga tidak sanggup membuat kitab yang dapat menyamai al-Quran, pada zaman Rasulullah banyak masyarakat arab yang tidak mengakui al-Quran dan menganggap lemah al-Quran. Rasulullah pernah mengadakan uji coba yaitu dengan mengadakan pertandingan secara damai untuk menyamai al-Quran tetapi mereka tidak ada yang sanggup untuk menyamainya walaupun sedikit saja, dimana Rasul meminta orang arab untuk menandingi al-Quran dalam tiga marhalah yaitu: 1. Rasulullah mengajak orang Arab untuk menandingi al-Quran dengan uslub yang meliputi seluruh orang arab dan orang lainnya seperti Jin ataupun manusia lainnya. Allah berfirman dalam surah al-Isra ayat 88. 2. Rasulullah meminta mereke untuk mengadakan tantangan sepuluh surah saja, firman Allah dalam surah Hud ayat 13. 3. Rasulullah menantang dengan sebuah surah saja, firman Allah dalam surah Yunus ayat 38.8 Orang-orang arab yang pantang ditantang itu tidak sanggup menantangi al-Quran, mereka menyerah kalah, tidak seorangpun yang mencoba menantanginya, dengan
8

Tengku Muhammad hasby Ash-Shiddiqy, Ibid, Hlm. 319.

demikian terbuktilah kemukjizatan al-Quran. Keijazan al-Qurn tidak saja terhadap bangsa Arab bahkan segala terhadap bangsa lain yang terus-menerus sepanjang masa. al-Quran sampai sekarang meminta orang yang mengingkarinya untuk menentangnya.9 2. Cara-Cara Ke Ijazan Al-Quran Ulama kalam beraneka ragam pendapat dalam menetapkan ke ijazan al-Quran, seperti: 1. An-Nizham dan orang yang mengikutinya dari golongan syiah seperti alMurtadha berpendapat bahwa ke ijazan al-Quran adalah dengan jalan shirfah yakni Allah memalingkan orang arab dari menentang al-quran, padahal mereka sanggup melakukannya.. 2. Segolongan ulama berpendapat bahwasanya al-Quran mukjizat dengan balaghahnya yang belum ada tandingannya. 3. Para ahli bahasa arab dan sastra mengatakan bahwa ke ijazan al-Quran ialah karena mengandung badi yang angat ganjil yang menyalahi apa yang dibiasakan oleh orang-orang arab. 4. Segolongan ulama mengatakan bahwa al-quran mujiz karena mengandung berbagai macam ilmu dan hikmah yang sangat mendalam. Sebenarnya al-Quran mujiz dengan setiap makna yang dapat dipikul oleh lafal, dia mujiz pada lafalnya, pada uslubnya, pada penempatan huruf di dalam kosa kata, pada kosa kata dalam kalimat dan penempatan kalimat dalam hubungan ayat dengan ayat. Dan lain sebagainya.10 3. Kadar Kemukjizatan Al-Quran 1. Golongan mutazilah berpendapat bahwa kemukjizatan itu berkaitan dengan keseluruhan Quran, bukan dengan sebagiannya atau dengan setiap surahnya secara lengkap. 2. Sebagian ulama berpendapat bahwa sebagian kecil atau sebagian besar dari alQuran tanpa harus satu surah penuh juga merupakan mukjizat. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT dalam surah At-Tur ayat 34.

10

Tengku Muhammad hasby Ash-Shiddiqy, Loc. Cit, Hlm. 319. Tengku Muhammad hasby Ash-Shiddiqy, Op. Cit . Hlm. 321.

3. Ada juga ulama yang berpendapat bahwa kemukjizatan itu cukup hanya dengan satu surah lengkap sekalipun pendek, atau dengan ukuran satu surah baik satu ayat maupun beberapa ayat.11 4. Aspek-Aspek Kemukjizatan Al-Quran 1. Aspek kemukjizatan bahasa Para ahli bahasa Arab telah menekuni ilmu bahasa ini dengan segala variasinya sejak bahasa itu tumbuh dimana ahli bahasa mampu mengubah puisi dan prosa, kata-kata bijak dan masal yang tunduk pada aturan bayan dan diekspresikan dalam uslub-uslubnya yang memukau dalam gaya hakiki dan majazi, itnab dan ijaz serta tutur dan ucapnya. Meskipun bahasa itu telah meningkat dan tinggi tetapi dihadapan al-Quran dengan kemukjizatan bahasanya ia menjadi pecahan-pecahan kecil yang tunduk hormat dan takut terhadap uslub al-Quran. Sejarah menyaksikan, ahli-ahli bahsa telah terjun kedalam medan festival bahasa dan mereka memperoleh kemenangan tetapi tidak seorangpun di antara mereka yang berani memproklamirkan dirinya menentang al-Quran melainkan ia hanya mendapatkan kehinaan dan kekalahan.12 Sebenarnya al-Quran itu tidak keluar dari aturan-aturan kalam oran-orang arab baik lafaz, huruf-hurufnya maupun uslubnya akan tetapi kenapa mereka tidak mampu menandinginya ? hal ini dikarenakan al-Quran memiliki jalinan hurufhuruf yang serasi, ungkapannya indah, uslubnya manis, ayat-ayatnya teratur, serta memperhatikan situasi dan kondisi dalam berbagai macam bayannya, baik dalam jumlah ismiah dan filiyahnya dalam nafi dan isbatnya, dalam zikr dan hazfnya, dalam itnab dan ijaznya, dalam umum dan khususnya, dalam mutlaq dan muqayyadnya, dalam nass dan fahwanya maupun dalam hal yang lainnya dimana yang kesemuanya ini manusia tidak sanggup untuk menandinginya. Disamping itu juga kita akan mendapatkan kemukjizatan dalam keteraturan bunyinya yang indah melalui nada huruf-hurufnya ketika orang mendengar harakat dan sukunnya, madd dan ghunnahnya, fasilah dan maqtanya sehingga telinga tidak pernah bosan bahkan ingin senantiasa terus mendengarnya.13 Seperti misalnya yang terjadi pada Khalifah Umar bin Khattab yang terkenal menentang agama islam menjadi
Manna Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Quran, (Jakarta: PT. Pustaka Litera antar Nua, 2002), Hlm.379. 12 Manna Khalil Al-Qattan, Ibid, Hlm. 380. 13 Muhammad Abdul Azim Al-Zarqani, Manahil Fi ulum Al-Quran, (Beirut, Libanon: Darul Kitabag Ilmiyah, 2003) Hlm. 460.
11

memeluk agama islam setelah mendengar adik perempuannya membacakan ayatayat al-Quran. Selain itu juga al-Quran adalah merupakan suatu bukti bahwa gaya bahasa al-Quran telah mencapai puncak yang tertinggi dalam memuatkan ijaz bahasanya sehingga: 1. 2. 3. 4. memukau 5. Terhenti akal berpikir menghadapi ungkapannya.14 Adapun bukti yang dapat kita jadikan contoh adalah dimana telah diriwayatkan dari Ibn Abbas, Walid bin Mughirah datang kepada nabi, lalu nabi membacakan Quran kepadanya, maka hati Walid menjadi lunak karenaya. Berita ini sampai kepada telinga Abu Jahal, lalu ia mendatanginya seraya berkata: Wahai pamanku, Walid, sesungguhnya kaummu hendak mengumpulkanharta benda untuk diberikan kepadamu, tetapi kamu malah datang kepada Muhammad untuk mendapatkan anugerahnya. Walid menjawab: Sungguh kaum Quraisy telah mengetahui bahwa aku adalah orang paling banyak hartanya. Abu Jahal berkata: Kalau begitu, katakanlah tentang dia, kata-kata yang akan kau sampaikan kepada kaummu bahwa kamu mengingkari dan membenci Muhammad. Walid menjawab: Apa yang harus ku katakan? Demi Allah, di antara kamu tak ada seorangpun yang lebih tahu dari aku tentang syair, rajaz dan qasidahnya dan tentang syair-syair jin. Demi Allah, apa yang dikatakan Muhammad itu tidak sedikitpun tidak serupa dengan syair-syair tersebut. Demi Allah, kata-kata yang diucapkannya sungguh manis, bagian atasnya berbuah dan bagian bawahnya mengalirkan air segar. Ucapanya itu sungguh tinggi, tak dapat diungguli, bahkan dapat menghancurkan apa yang ada di bawahnya. Abu jahal menimpali: demi Allah, kaummu tidak akan senang sampai kamu mengatakan sesuatu tentang dia, Walid menjawab: Biarkan aku berpikir sebentar. Maka setelah berpikir, ia berkata: Ini adalah sihir yang dipelajari, ia mempelajarinya dari orang lain, lalu turunlah firman Allah yang berbunyi:
14

Pakar-pakar bahasa arab jadi lemah menghadapinya Membisukan lidah pakar ilmu bayan Pakar-pakar penyair dan natsar jadi terheran-heran

mengahadapinya Akal merasa heran dan dahsyat melihat susunan kaliamat yang

Drs. Kahar Masyhur, Op. Cit. Hlm. 147.

Artinya:

Biarkanlah

Aku

bertindak

terhadap

orang

yang

Aku

telah

menciptakannya sendirian. (Q.S. al-Mudassir ayat 11) Di samping itu contoh di atas pemakalah juga ingin menampilkan satu lagi bukti kemukjiztan al-Quran dari aspek bahasa yaitu dimana diceritakan bahwa Abul Ala al-Maari, Mutanabby dan Ibnul muqoffa berusaha menandingi alQuran tetapi sebelum mereka memulai usaha inii akhirnya mereka merasa malu kemudian mereka pecahkan pena dan menyobek-nyobek kertas. Setelah mendengar seorang anak yang sedang membaca firman Allah yang berbunyi: Artinya: Dan difirmankan: hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah, dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berubah di atas bukit judi, dan dikatakan: binasalah orang-orang yang zhalim (Q.S. hud ayat 44).15 2. Aspek Kemukjizatan secara Ilmiah Al-Qran adalah kitab akidah dan hidayah dimana ia menyeru hati nurani untuk menghidupkan di dalamnya faktor-faktor perkembangan dan kemajuan serta dorongan kebaikan dan keutamaan. Kemukjizatan ilmiah Quran bukanlah terletak pada pencakupannya akan teori-teori ilmiah yang selalu baru dan berubah serta merupakan hasil usaha manuisa dalam penelitian dan pengamatan, tetapi ia terletak pada dorongannya untuk berpikir dan menggunakan akal. al-Quran mendorong manusia agar memperhatikan dan memikirkan alam, ia tidak membatasi aktivitas dan kreativitas akal dalam memikirkan alam semesta, atau menghalanginya dari penambahan ilmu pengetahuan yang dapat dicapainya, dan tidak ada satupun dari kitab-kitab terdahulu yang memberikan jaminan demikian seperti yang diberikan oleh al-Quran. Semua persoalan atau kaidah ilmu pengetahuan yang telah mantap dan menyakinkan merupakan manifestasi dari pemikiran valid yang dianjurkan alQuran dan tidak ada pertentangan sedikitpun dengannya. Ilmu pengetahuan telah
15 Muhammad Ali Al-Shabuny, Al-Tibyan Fi Ulum Al-Quran, (Jakarta: Dinamka Barakah Utama, 1996), Hlm.190.

maju dan telah banyak pula masalah-masalahnya namun apa yang telah tetap dan mantap daripadanya tidak bertentangan sedikitpun dengan salah satu ayat-ayat alQuran. Al-Quran menjadikan pemikiran yang lurus dan perhatian yang tepat terhadap alam dan segala apa yang ada di dalamnya sebagai sarana terbesar untuk beriman kepada Allah diama ia mendorong kaum muslimin agar memikirkan makhluk-makhluk Allah yang ada di langit dan di bumi seperti firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 190-191 yang berbunyi: Artinya: 190. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda(kebesaran allah) bagi orang yang berakal. 191. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata) ya Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan semua ini sia-sia: Maha suci Engkau, lindgilah kami dari azab neraka. Quran mendorong umat islam agar memikirkan dirinya sendiri, Bumi yang ditempatinya dan alam yang mengitarinya (Q.S, Ar-Rum ayat 8, Az-Zariyat ayat 20-21, Al-Ghasiyah ayat 17-20), Quran membangkitkan pada diri setiap muslim kesadaran ilmiah untuk memikirkan, memahami dan menggunakan akal (AlBaqarah ayat 219). Artinya:

10

Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang khamar dan judi. Katakanlah, pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia. Tetapi dosanya lebih besar dari manfaatnya. Dan mereka menanyakan kepadamu (tentang) apa yang (harus) mereka infakkan. Katakanlah kelebihan (dari apa yang diperlukan). Demikianlah allah menerangkan ayat-ayatNya kepadamu agar kamu memikirkan. Demikianlah kemukjizatan al-Quran secara ilmiah ini terletak pada dorongannya kepada umat islam untuk berpikir di samping membukakan bagi mereka pintu-pintu pengetahuan dan mengajak mereka memasukinya, maju di dalamnya dan menerima segala ilmu pengetahuan baru yang mantap dan stabil.16 Contohnya. Di antara segi kemukjizatan al-Quran adalah adanya beberapa petunjuk yang detail mengenai sebagian ilmu pengetahuan umum yang telah ditemukan terlebuh dahulu dalam al-Quran sebelum ditemukan oleh ilmuan modern, teori alQuran itu sama sekali tidak bertentangan dengan teori-teori ilmu pengetahuan modern. Dari segi kemukjizatan ini al-quran telah menunjuk salah satu firmannya yang berbunyi: Artinya: Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kekuasaan kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Quran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagimu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu. (Q.S. Fushshilat ayat 53) Berdasarkan keyakinan kita bahwa al-Quran yang besar itu bukanlah kitab ilmu alam, arsitek dan fisika, tetapi al-Quran adalah kitab petunjuk atau pembimbing dan kitab undang-undang dan perbaikan. Namun demikian ayatayatnya tidak terlepas dari petunjuk-petunjuk yang detail, kebenaran-kebenaran yang samar terhadap beberapa masalah alami, kedokteran, dan geografi yang kesemuanya menunjukkan ats kemukjizatan al-Quran serta kedudukannya sebagai wahyu dari Allah. Yang pasti bahwa Nabi Muhammad saw adalah
16

Manna Khalil Al-Qattan. Op. Cit. Hlm. 394.

11

seorang ummy yang tidak bisa membaca dan menulis. Hal ini adalah merupakan bukti yang sangat jelas bahwa al-Quran bukan ciptaan Muhammad seperti yang diduga oleh golongan orientalis, sesungguhnya al-Quran adalah wahyu dari Allah, diturunkan kepada hati seorang pemimpin utusan dengan bahas Arab yang kuat. Teori modern telah membuktikan dalam pernyataannya bahwa bumi adalah sebagian dari gas yang panas lalu memisah dan mendingin (membeku) kemudian menjadi temapt yang patut dihuni manusia. Tentang kebenaran teori ini mereka berargumentasi adanya volcano-volcano, benda-benda berapi yang berada di dalam perut bumi, dan sewaktu-waktu bumi memuntahkan lahar atau benda-benda volcano yang berpai. Teori moder ini sesuai dengan apa yang ditujukkan alQuran dalam firman Allah sebagai berikut: Artinya: Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian kami pisahkan antara keduanya. Dan daripada air kami jadikan segala sesuatu hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman ? (Q.S Surat al Anbiya ayat 30). Prof. Thabbarah menyatakan: Ini adalah mukjizat al-Quran yang dikuatkan oleh ilmu penegtahuan modern yang menyatakan bahwa alam adalah suatu esatuan benda yang berasal dari gas kemudian memisah menjadi kabut-kabut. Dan matahari terjadi akibat dari pecahan bagian itu. Konteks ini sangat tepat sekali dalam menetapkan kebenaran ilmiah yang rahasianya telah ditemukan para cendikiawan, sebab kebanyakan praktek kimiawai itu membutuhkan air. Air adalah unsur pokok bagi kelestarian hidup intuk semua benda-benda hidup tumbuh-tumbuhan. Sedang air itu sendiri memiliki keistimewaan-keistimewaan lain yang menunjukkan pencipta alam telah memantapkannya dengan sesuatu yang bisa membuktikan adanya Dzat yang mengatur makhluknya.17 3. Aspek Kemukjizatan Tasyriiiy
17

Muhammad Ali Al-Shabuny, Ibid. Hlm. 158.

12

Allah meletakkan dalam diri manusia banyak garizah (naluri, instinct) yang bekerja dalam jiwa dan mempengaruhi kecendrungan-kecendrungan hidupnya. Jika akal sehat dapat menjaga pemiliknya dari ketergelinciran maka arus jiwa yang menyimpang akan mengalahkan kekuasaan akal sehingga akal bagaimanapun tidak akan sanggup menahan lupanya, oleh karena itu maka untuk meluruskan manusia diperlukan pendidikan khusus bagi gazirah-gazirahnya, yang dapat mendidik, mengembangkan serta membimbingnya kearah kebaikan dan keberuntungan. Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang mana dalam memenuhi kebutuhannya ia memerlukan orang lain dan orang lainpun memerlukannya. Kerjasama antar sesama manusia merupakan tuntutan sosial yang diharuskan oleh peradaban manusia, akan tetapi seringkali manusia berlaku zalim terhadap sesamnay, terdorong kecintaan diri dan rasa ingin berkuasa. Maka jika mereka dibiarkan tanpa kendali yang membatasai pergaulannya, mengatur hal-ihwal kehidupannya, menjaga hak-hak dan memelihara kehormatannyam tentu urusan mereka akan mejadi kacau. Dengan demikian maka setiap masyarakat manusia harus mempunyai sistem yang mengatur kendalinya dan dapat mewujudkan keadilan di antara individu-individunya.18 Dengan begitu, maka al-Quran adalah undang-undang dasar syariat yang sempurna yang menjamin tegaknya kemanusiaan dalam bentuk yang terbaik dan teladan yang paling tinggi. Dalam hal ini pemakalah juga ingin menampilkan beberapa contoh tentang kemukjizatan dari aspek tasryi, adapun beberapa contoh tersebut adalah sebagai berikut: a. Dalam urusan pergaulan sesama insan al-Quran mengharamkan memakan harta orang lain dengan cara yang tidak sah, seperti firman-Nya: Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu (Q.S. An-Nisa ayat 29).
18

Manna Khalil Al-Qattan, Hlm. 393.

13

b.

Al-Quran menganjurkan untuk bersaksi ketika mengadakan jual-beli dan

menulis utang piutang, sebagaimana firmannya: Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu berhutang piutang tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannya dengan benar. (Q.S. Al-Baqarah ayat 282).19 4. Ijazul Quran, karena ia dapat Menceritakan yang Ghaib Di antara ijazul Quran ialah karena al-Quran dapat menceritakan hal-hal yang ghaib atau yang diluar yang nyata dan kisah umat-umat terdahulu, hal itu termasuk diluar kemampuan manusia dan tidak ada jalan bagi mereka kearah itu di antaranya ialah apa yang dijanjikan Allah SWT kepda Nabi-Nya SAW bahwa agama Islam akan memenangkan atas semua agama seperti firmannya dalam surah Attaubah ayat 33 yang berbunyi: Artinya:

Dialah yang telah mengutus rasulNya denagan petunjuk (al-Quran) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai. Allah SWT menjanjikan kemenagan kepada Rasul SAW pada perang badar seperti firmannya dalam surah Al-Anfal ayat 7, yang bebunyi:
19

Muhammad Ali Al-Shabuny, Op. Cit. Hlm. 144.

14

Artinya: Dan (ingatlah ketika Allah menajnjikan kepadamu baha salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah untukmu. Tetapi Allah hendak membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir sampai keakar-akarnya. Sselanjutnya al-Quran juga memuat kisah-kisah umat terdahulu yaitu sejak diciptakannya Adam sampai dibangkitkannya kembali. Dan masih banyak lagi bukti bahwa al-Quran mampu mengabarkan hal-hal yang ghaib.20 Dari keterangan di atas dapat diketahui bahwa segi kemukjizatan al-Quran itu terbagi atas: 1. Susunan yang indah, berbeda dengan setiap susunan yang ada dalam bahasa orang-orang arab 2. Adanya uslub yang aneh yang berbeda dengan semua uslub-uslub bahsa arab 3. Sifat agung yang tidak mungkin bagi seorang makhluk untuk mendatangkan sesamanya 4. Bentuk undang-undang yang detail lagi sempurna yang melebihi setiap undang-undang bikinan manusia 5. Mengabarkan hal-hal ghaib yang tidak bisa diketahui kecuali dengan wahyu 6. Tidak bertentangan dengan pengetahuan-pengetahuan umum yang dipastikan kebenarannya 7. Menepati janji dan ancaman yang dikhabarkan al-Quran 8. Adanya ilmu-ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya 9. Memenuhi segala kebutuhan manusia 10. Berpengaruh pada hati pengikut dan musuh

B. Konsep Shirfah Di atas telah dijelaskan sekelumit tentang kemukjizatan al-Quran. Dalam hal ini ada sementara pemikir yang mengakui ketidakmampuan manusia menyusun semacam al20

Drs. Kahar Masyhur, Op. Cit. Hlm. 156.

15

Quran. Menurut mereka, ini bukan disebabkan oleh keistimewaan al-Quran melainkan disebabkan adanya campur tangan Allah dalam menghalangi manusia membuat semacam al-Quran yang mana paham ini menamai mukjizat dengan dengan nama mukjizat Ashsharfah. Ash-Sharfah terambil dari akar kata (sharafa) yang berarti memalingkan; dalam arti Allah memalingkan manusia dari upaya membuat semacam al-Quran sehingga seandainya tidak dipalingkan, manusia akan mampu. Dengan kata lain bahwa kemukjizatan al-Quran dianggap oleh paham ash-sharfah lahir dari faktor eksternal bukan dari al-Quran itu sendiri. Dalam hal ini ada dua pokok alasan kaum ash-sharfah memunculkan paham ini 1. kepada Nabi SAW Masyarakat arab mampu mengucapkan kata dan kalimat-

kalaimat semacam al-Quran, Umar bin Khattab misalnya pernah mengusulkan

Seandainya engkau menjadikan maqm Ibrahim sebagai tempat shalat Usul Umar r.a ini diterima oleh al-Quran dengan turunya surah Al-Baqarah ayat 125 yang antara lain menggunakan redaksi yang sepenuhnya hampir sama dengan redaksi Umar tersebut yaitu

Dan jadikanlah maqam Ibrahim sebagai tempat shalat Suatu ketika Nabi Muhammad mendiktekan kepada Abdullah bin Abi Sarh agar menuliskan ayat-ayat surah al-Muminun yang antara lain berbicara tentang proses kejadian manusia, belum lagi Nabi SAW selesai membacakan keseluruhan ayat Abdullah berkata Maha suci Allah, sebaik baik pencipta Mendengar ini Nabi SAW bersabda Tulis yang engkau ucapkan karena seperti itulah bunyi ayat yang diturunkan.

2.

Ketika terjadi pengumpulan naskah-naskah al-Quran pada

masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar Ash-shiddiq beliau memerintahkan kepada Umar bin Khattab dan Zaid bin Tsabit agar berdiri di pintu mesjid dan tidak menerima 16

naskah kecuali disertai oleh dua orang saksi. Seandainya al-Quran mukjizat dari segi bahasanya tentu kesaksian itu tidak diperlukan, bukankah apabila benar al-Quran merupakan mukjizat maka dengan mudah dia dibedakan dengan karya manusia.21 Disamping itu juga Abu Ishak An-Nazhom dari golongan mutazilah berpendapat bahwa ke Ijazan al-Quran adalah dengan jalan Ash-Shirfah (perobahan/memalingkan) yaknii Allah memalingkan manusia dan lidahnya untuk menentang al-Quran, padahal mereka sanggup menantanginya, kalaulah Allah tidak memalingkan dari hal itu pasti mereka akan bisa mendatangkan sesuatu yang sama dengan al-Quran Imam Murthadha dari golongan syiah berkata: bahkan yang dimaksud dengan arti shirfah atau pemalingan adalah Allah mencabut ilmu-ilmu yang dibutuhkan mereka dalam menentang, agar mereka tidak bisa mendatangkan semisal al-Quran. Seolah-olah ia mengatakan mereka orang-orang Arab adalah sastrawan-sastrawan yang mampu menyamai susunan dan uslub al-Quran.22 Akan tetapi dalam hal ini dapat kita komentari bahwa memang orang-orang arab dapat mengucapkan kalimat-kalimat yang serupa dengan al-Quran, mengenai riwayat yang menyangkut ucapan atau usul Umar bin Khattab yang diabadikan dalam al-Quran tidak ditolak oleh banyak ulama, tetapi semua itu tidak dapat dijadikan bukti bahwa kemampuan orang arab untuk melayani tantangan al-Quran. Ini disebabkan tantangan alQuran tidak menyangkut kalimat-kalimat pendek semacam yang disebutkan di atas tetapi surah-surah yang isinya minimal tiga ayat. Dan seandainya kemampuan menyusun kalimat-kalimat pendek dijadikan bukti kemampuan menyusun surah, maka kita dapat berkata bahwa bangsa Indonesia juga mampu menyusun sajak-sajak seperti gubahan penyair-penyair Indonesia, bahkan kita semua dapat mengucapkan kalimat-kalimat pendek seperti di atas. Sedangkan mengenai dua orang saksi dalam menerima naskahnaskah al-Quran pada masa pemerintahan Abu Bakar r.a, maka tidak seperti dugaan faham Ash-Sharfah yakni untuk membuktikan apakah yang tertera pada naskah itu ayat al-Quran atau bukan, tetapi saksi diperlukan untuk membuktikan bahwa naskah yang dibawa itu benar-benar autentik yang pernah didiktekan oleh Nabi SAW. Nah disinilah letak kerapuhan paham yang menduga bahwa kemukjizatan al-Quran itu bukan keistimewaan yang dimilikinya tetapi dari faktor eksternal padahal ia benar-benar merupakan suatu mukjizat dari Allah SWT.

21 22

M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Quran, (Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007), Hlm. 166. Muhammad Ali Ash-Shabuny, Op. Cit. Hlm.

17

KESIMPULAN

Dari uraian dan penjelasan mengenai konsep diatas dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut: 1. ijaz dalam makalah ini adalah menampakkan kebenaran Nabi dalam pengakuannya sebagai seorang Rasul dengan menampakkan

18

kelemahan orang arab untuk menghadapi mukjizatnya yang abadi yaitu al-Quran.23 Selanjutnya ada juga yang menyatakan bahwa Ijaz adalah ketidakmampuan mengerjakan sesuatu lawan dari kekuasaan atau kesanggupan. Apabila ijaz telah terbukti, maka nampaklah kekuasaan mujiz. 2. Golongan syiah berkata: bahwa yang dimaksud dengan arti shirfah atau pemalingan adalah Allah mencabut ilmu-ilmu yang dibutuhkan mereka dalam menentang, agar mereka tidak bisa mendatangkan semisal al-Quran. Seolah-olah ia mengatakan mereka orang-orang arab adalah sastrawan-sastrawan yang mampu menyamai susunan dan uslub al-Quran 3. Aspek-aspek kemukjizatan al-Quran itu terbagi atas: Aspek kemukjizatan bahasa, aspek Kemukjizatan secara ilmiah, Aspek kemukjizatan tasyriiiy, Ijazul Quran, karena ia dapat menceritakan yang ghaib.

DAFTAR PUSTAKA

Muhammad Abdul Azim Al-Zarqani, Manahil Fi ulum Al-Quran, Beirut, Libanon: Darul Kitabag Ilmiyah, 2003

23

Manaul Qutan, Pembahasana Ilmu Al-Quran, (Jakarta; Rineka Cipta, 1995), Hlm. 70.

19

Tengku Muhammad hasby Ash-Shiddiqy, Ilmu-Ilmu AlQuran, Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2002 Imam Jalaluddin Abdurrahman bin Abu Bakar Asy-Syayuthi, Al-Itqan fi Ulum Al-Quran, Beirut, Libanon: Dar-Al-Kotob Al-Ilmiyah, 2000 Abdushamad, Kamil, Mukjizat Ilmiah dalam Al-Quran, Jakarta: Akbar, 2004 Al Munawar, Said Agil, Al-Quran Membangun Kesalehan Hakiki, Jakarta: Ciputat Pres, 2002 Manna Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Quran, Jakarta: PT. Pustaka Litera antar Nusa, 2002 M. Quraish Shihab, Mukjizat Al-Quran, Bandung: PT Mizan Pustaka, 2007 Masyhur, Kahar, Pokok-Pokok Ulumul Quran, Jakarta: PT Rineka Cipta, 1992 Manaul Qutan, Pembahasana Ilmu, Al-Quran, (Jakarta; Rineka Cipta, 1995 Muhammad Ali Al-Shabuny, Al-Tibyan Fi Ulum Al-Quran, Jakarta: Dinamika Barakah Utama, 1996.

20