Anda di halaman 1dari 10

MODUL 11.

PERPINDAHAN PANAS DASAR

KONVEKSI PADA PENUKAR PANAS (HEAT EXCHANGER) 11. PENDAHULUAN.

1. Pengatar. Masalah pada penggabungan konveksi bebas (natural) dengan konveksi paksa dalam aliran melewati permukaan datar, dengan membahas perpindahan panas dalam sistem konveksi bebas, perhatikan adanya interaksi antara proses konveksi bebas dengan konveksi paksa. Dalam setiap proses perpindahan panas akan terjadi gradient kerapatan dan dengan adanya medan gaya terjadilah arus-arus konveksi bebas. Jika pengaruh konveksi paksa sangat besar, maka pengaruh arus konveksi bebas dapat diabaikan, dan demikian pula, bila gaya-gaya konveksi bebas sangat kuat, maka pengaruh konveksi pasa juga dapat diabaikan. Guna memperoleh petunjuk tentang kebesaran relative efek konveksi bebas dan efek konveksi paksa, kita memperhatikan persamaan diferensial yang menggambarkan aliran seragam melewati sebuah plat datar vertical dengan efek apung dan kecepatan aliran-bebas Uthgg dalam arah yang sama. Keadaan ini terjadi bila plat tersebut dipanaskan dan alirannya ke atas, atau bila plat itu didinginkan dan alirannya ke bawah. Dengan mengambil arah aliran sebagai x dan dengan asumsi bahwa sifat-sifat fisik adalah seragam dengan kekecualian pengaruh temperatur pada kerapatan, maka persamaan lapisan-batas Navier-Stokes untuk aliran satu dimensi dengan konveksi bebas, adalah sebagai berikut: u u u 1 p 2 u +v = + + g (T T ) x y x y 2 [7.45]

Persamaan ini dapat digeneralisasikan, dengan cara yang serupa dengan yang diuraikan dalam uraian sebelumnya. Dengan memasukkan X untuk x/L, Y untuk y/L, zeta untuk (T _ T thgg)/(To Tthgg) , P untuk (p pthgg)/(rho Uthgg2/2 gc, U untuk u/Uthgg dan V untuk v/Uthgg ke dalam persamaan [7.45], kita akan mendapatkan hubungan, sebagai berikut:

11

Perpindahan Panas Ir. Pirnadi, M.Sc.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

MODUL 11. PERPINDAHAN PANAS DASAR

U U 1 P +V = X Y 2 X

2U g L3 (To T + U L 2 + 2 Y

2 U 2 L2

[7.46]

Dalam daerah di dekat permukaan, yakni dalam lapisan batas, deltU/deltx dan U mempunyai orde satu. Karena U berubah dari 1 di x = 0 sampai suatu harga yang sangat kecil di x = 1, dan u mempunyai orde kebesaran yang sama dengan U , maka ruas kiri Persamaan [7.46] mempunyai orde satu. Penalaran yang serupa menunjukkan bahwa kedu suku pertama diruas kanan maupun Zeta (besar) mempunyai orde satu. Akibatnya, efek apung akan mempengaruhi distribusi kecepatan (dan distribusi temperaturpada gilirannya bergantung pada distribusi kecepatan), jika koefisien zeta(bar) berorde satu atau lebih besar, yakni jika : [Pers. 7.47 Kreith 406] Dengan kata lain, perbandingan G r /Re2 memberikan petunjuk kualitatif tentang pengaruh gaya-apung pada konveksi paksa, dan bila bilangan Grashof mempunyai orde kebesaran yang sama dengan atau lebih besar daripada kuadrat bilangan Reynolrs, maka pengaruh konveksi bebas tidak dapat diabaikan, jika dibandingkan dengan konveksi paksa. Demikian pula, dalam proses konveksi-bebas pengaruh konveksi paksa menjadi penting artinya bila kuadrat bilangan Reynolds mempunyai orde kebesaran yang sama dengan bilangan Grashof. Dalam kepustakaan dibahas beberapa hal khusus (24, 25, 26). Sebagai contoh, untuk konveksi paksa melewati sebuah pelat datar vertical Sparrow dan Gregg (24) menunjukkan bahwa untuk bilangan Prandtl antara 0,01 dan 10 pengaruh gaya-apung pada koefisien perpindahan panas rata-rata bagi konveksi paksa murni akan lebih kecil daripada 5 % jika GrL < 0,225 ReL2. Oleh, Acrivos (26) telah menunjukkan bahwa untk bilanan Prandtl antara 0,07 dan 10, konveksi paksa mempunyai pengaruh yang dapat diabaikan terhadap konveksi bebas dari sebuah plat datar vertical jika bilangan Grashof sedikitnya sepuluh kali lebih besar daripada kuadrat bilangan Reynolds. Dalam daerah dmana efek konveksi paksa mempunyai orde kebesaran yang sama, maka erpindahan panas bertambah dikarenakan effek-efek gaya apung yang bekerja dalam

11

Perpindahan Panas Ir. Pirnadi, M.Sc.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

MODUL 11. PERPINDAHAN PANAS DASAR

arah aliran dan erkurang bila gaya apung bekerja dalam arah yang berlawanan. 2. Sistem Aliran Pada Pipa Sistem aliran dalam pipa ini sangat banyak digunakan pada proses penukar panas (heat exchanger), baik menggunakan aliran silang, sejajar, menggunakan baffle (sekat-sekat) maupun tidak. Penggunaan yang sangat positif dari aliran panas melalui berkas pipa ini adalah pada proses penukar panas, untuk berbagai susunan pemipaan yang akan dialiri oleh fluida baik di dalam maupun di luar elemen berkas pipa yang bersangkutan. Penukar panas sendiri adalah suatu alat yang akan menghasilkan perpindahan panas dari satu fluida ke fluida yang lainnya atau sebaliknya, dimana salah satu fluida akan menyerap panas dari fluida yang lain. Adapun jenis penukar panas yang paling sederhana ialah sebuah wadah di mana fluida yang panas dan fluida yang dingin dicampur secara langsung. Dalam sistem demikian kedua fluida akan mencapai suatu temperatur akhir yang sama, dengan jumlah panas yang berpindah dapat diperkirakan dengan mempersamakan kerugian energi dari fluida yang lebih panas dengan perolehannya. Sedangkan tipe aliran yang banyak diminati pada sistem penukar panas cukup banyak, akan diberikan beberapa contoh, seperti:
1. Tipe aliran fluida searah, dimana kedua atau lebih fluida kerja

mengalir dalam arah yang sama. Baik fluida panas maupun fluida dingin, hal ini akan memberikan banyak kerugian, antar lain dimana fluida dingin bertemu dengan fluida yang cukup panas sering terjadi shok (over heat). Hal ini cukup cocok untuk melakukan pemanasan fluida dengan cepat.
2. Tipe aliran fluida berlawanan arah, dimana fluida masuk akan

bertemu dengan fluida dingin pada temperatur tidak terlalu panas, hal ini cocok bila diinginkan pemanasan fluida dengan perlahanlahan. Sedangkan keefektivitasannya lebih bagus daripada sistem yang pertama. Untuk memperbaiki keefektivitasan ini digunakan dengan berbagai sekat agar fluida dapat berkali-kali bersinggungan dan menyerap panas dari fluida panas. 3. Tipe melintang, secara frontal arah aliran kedua fluida kerja berpotongan, hal ini dapat dilakukan dengan berbagai pemipaan dan tabung besar untuk terjadinya pertukaran panas yang

11

Perpindahan Panas Ir. Pirnadi, M.Sc.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

MODUL 11. PERPINDAHAN PANAS DASAR

diharapkan. Metoda ini biasa disebut dengan berkas pemipaan dalam aliran lintang. Penentuan harga konduktansi konveksi antara suatu berkas pipa dan fluida yang mengalir tegak-lurus pada pipa-pipa itu merupakan langkah yang penting dalam rancang-bangun dan analisa unjuk-kerja bebrbagai jenis penukar-panas komersial. Misalnya, terdapat sejumlah besar pemanas gas dimana fluida panas di dalam pipa-pipanya memanaskan gas yang mengalirdi luar pipa-pipa tersebut. Perhatikan Gambar 9.13 hal. 474 yang menunjukkan beberapa usunan pemanas-udara pipa dimana hasil pembakaran, setelah melewati ketel (boiler), ekonomiser dan pemanas-lanjut, dipergunakan untuk prapemanasan udara yang menuju satuan-satuan pembangkit uap. Cangkang pemanas gas ini biasanya berbentuk segi-empat dan gas sebelah-cangkang mengalir di ruangan antara permukaan-luar pipa dan cangkang. Karena luas penampang aliran terus-menerus berubah sepanjang lintasan, maka gas seelah- cangkang mempercepat dan memperlambat alirannya secara periodik. Keadaan yang serupa juga tejadi di dalam beberapa penukar-panas cairan- ke-cairan pipa-pendek tanpa sekat-sekat dimana fluida sebelah-cangkang mengalir melewati pipa-pipa. Dalam satuan-satuan ini susunanpipa serupa dengan susunan di dalam pemanas gas dengan kekecualian bahwa luas penampang cangkang berubah-ubah bila dipakai cangkang yan berbentuk silinder. Perpindahan panas dalam aliran melewati berkas pipa akan

bergantung sebagian besarnya pada pola aliran serta susunan pipapipa. Perhatikan Gmbar 9.14 dan 9.15 menggambarkan pola aliran untuk air yang mengalir dalam daerah turbulen rendah melewati pipapipa yang tersusun bersebaris (inline) dan sigsag. Gambar tersebut diperoleh dengan menebarkan serbuk aluminium halus pada

11

Perpindahan Panas Ir. Pirnadi, M.Sc.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

MODUL 11. PERPINDAHAN PANAS DASAR

permukaan air yang mengalir tegak-lurus terhadap sumbu pipa-pipa yang terpasang vertical. Kita mencatat bahwa pola aliran sekeliling pipa-pipa dalam baris lintang pertama serupa dengan pola aliran untuk aliran sekeliling pipa tunggal. Jika kita pusatkan perhatian kita pada suatu pipa, juga dikenal dengan istilah tabung di baris pertamasusunan yang bersebaris, kita melihat bahwa lapisan-batas berpisah dari kedua sisi pipa dan di belakangnya berbentuk arus-ikut. Arus-ikut yang turbulen berlangsung sampai pipa yang terletak di baris lintang yang kedua. Sebagai akibat tingginya turbulensi di dalam arua-ikut, lapisan batas sekililing pipa-pipa di baris kedua dan seterusnya menjadi semakin tipis. Karenanya tidaklah di luar dugan, bahwa dalam aliran turbulen koefisien perpindahan panas bagi pipa-pipa di baris baris selanjutnya. Sebaliknya, dalam liran laminar telah teramati kecenderungan yang berlawanan (14). Untuk susunan pipa sig-sag yang rapat, perhatikan Gambar [9.15], ukuran arus-ikut turbulen di belakang masing-masing pipa adalah agak ebih kecl daripada dalam hal susunan besebaris yang serupa, tetapi disipasi energi keseluruhan tidak berkurang secara berarti. Percobaan-percobaan pada berbagai jenis susunan pipa, telah menunjukkan, bahwa untuk satuan-satuan dalam praktek, hubungan antara perpindahan panas dan disipasi energi bergantung terutama pada kecepatan fluida, ukuran pipa, dan jarak antara pipa-pipa. Namun dalam daerah peralihan maka unjuk kerja susunan pipa sigsag yang rapat agak lebih baik daripada unjuk-kerja susunan pipa bersebaris yang serupa. Persamaan-persamaan yang tersedia bagi perhitungan koefisien perpindahan panas dalam aliranmelewati berkas pipa didasarkan sepenuhnya pada data eksperimental karena polaalirannya terlampau rumit untuk digarap secara analitik. Percobaan-percobaan telah menunjukkan, bahwa , dalam hal aliran melewati berkas pipa sigsag, peralihan dari aliran laminar ke turbulen mulai pada bilangan

11

Perpindahan Panas Ir. Pirnadi, M.Sc.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

MODUL 11. PERPINDAHAN PANAS DASAR

Reynoldds, yang berdasarkan kecepatan pada luas aliran minimum, sebesar kurang-lebih 200 dan aliran menjadi turbulen penuh pada bilangan Reynolds kurang lebih 6000. Untuk perhitungan perekayasaan, koefisien perpindahan panas ratarata bagi seluruh berkas pipalah yang terutama penting. Data eksperimental untuk perpindahan panas dalam aliran melewati berkas pipa biasanya dikorelasikan dengan persamaan yang berbentuk NuDbar = cont (Re)m (Pr)n, yang di atas telah dipergunakan untuk mengkorelasikan data bagi aliran melewati pipa tunggal. Guna menerapkan persamaan ini pada aliran melewati berkas pipa, kita perlu memilih suatu kecepatan acuan, mengingat kecepatan fluida berubah sepanjang lintasannya. Kecepatan yang digunakan untuk membentuk bilangan Reynodls bagi aliran melewati berkas pipa didasarkan pada luas bebas minimum yang tersedia bagi aliran fluida, tanpa membedakan apakah luas minimum tersebut terjadi pada bukaan melintang atau diagonal. Untuk susunan pipa bersebaris {lihat Gambar 9.16} luas aliran bebas minimum per-panjang satuan pipa Amin adalah selalu Amin = ST Do, dimana ST adalah jarak antara sumbu pipa-pipa dalam baris-baris membujur (longitudinal) yang berdampingan (diukur tagk-lurus terhadap arah aliran), atau jarak-bagi lintang. [dijelaskan saat tatap muka] Gambar 9.16 Tipe susunan pipa bersebaris Untuk susunan sigsag [lihat Gambar 9.17], luas aliran bebas minimum dapat terjadi (lihat kasus di atas), di antara pipa-pipa yang berdekatan dalam satu baris, atau jika SL/ST demikian kecilnya, sehingga akar {St2 + Sl2} < ST + (Do/2), maka luas tersebutterjadi di antara pipapipa yang berhadapan seca diagonal. Dalam hal ini, kecepatan maksimum, Vmaks. Adalah ST / (Akar( SL2 + ST2) _ Do{ x kecepatan aliran bebas yang berdasarkan luas cangkang tanpa pipa. Simbol SL menunjukkan jarak sumbu- ke-sumbu antara baris-baris-lintang pipa yang berdekatan (diukur dalam arah aliran) dan disebut jarak-bagi bujur (longitudinal pitch). [dijelaskan saat tatap muka]

11

Perpindahan Panas Ir. Pirnadi, M.Sc.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

MODUL 11. PERPINDAHAN PANAS DASAR

Gambar 9.17 Tipe susunan pipa sigsag Guna memperhitungkan pengaruh susunan pipa terhadap koefisien perpindahan panas, akan memudahkan jika kita menuliskan persamaan korelasi tanpa-dimensi dalam bentuk, sebagai berikut: [dijelaskan saat tatap muka] {9.7 hal. 478]. Atau dalam bentuk, berikut: [dijelaskan saat tatap muka] [9.8 hal. 478] Dimana hc adalah koefisien perpindahan panas rata-rata untuk berkas pipa dengan 10 atau lebih baris-lintang, Gmaks. Ialah laju aliran massa per satuan luas bebas minimum, Do adalah garis-tengah-luar pipa, CH serta m adalah koefisien-koefisien empiric yang harganya bergantung pada susunan pipa, fii ialah suatu hubungan-fungsi yang bergantung pada susunan pipa, dan indeks s, f, serta b masing-masing menunjukkan keadaan pada permukaan dindng, keadaan film serta keadaan curahan (bulk). Hubungan dari jenis yang ditunjukkan oleh Persamaan 9.8 ternyata mengkorelasikan data dalam daerah aliran laminar (Gmax Do / miub < 200) dan dalam daerah aliran peralihan (200 < Gmax Do/ miub < 6000), sedangkanpersamaan 9.7 dipakai dalam daerah turbulen. Data eksperimental untuk minyak dalam aliran laminar dan aliran peralihan dengan berbagai susunan pipa tyel;ah didapatkan oleh Bergelin dan kawan-kawan (12, 13). Hasil-hasil penelitian ini yang telah diambil harga rata-ratanya ditunjukkan pada Gambar 9.18 dimana kelompok kurva-2 yang di atas menunjukkan data gesekan yang akan kita bahas kemudian, dan kelompokmkurva-kurva yang di bawah menujukkan data perpindahan panas. Ordinat bagi kurva-kurva yang di bawah dalam Gambar 9.18 adalah faktor/Colburn tanpa-dimensi dari pembahasan sebelumnya, dan absisnya adalah bilangan Reynolds curahan, Gmax Do/miub. Pipa-pipa dalam model 1 dan 4 tersusun sigsag dalam segitigasegitiga sama-sisi, dalam model 3, pipa-pipa tersusun dalam bujurbujur sangkar sigsag; dan pipa=pipa dalam model 2 dan 5 tersusun dalam bujur-bujur sangkar yang bersebaris. Garis-tengah luar pipapipa tersebut 3/8 inch; perbandingan jarak-bagi terhadap garis-tengah untuk masing-masing model ditunjukkan bagi masing-masing kurva dalam Gambar 9.18.

11

Perpindahan Panas Ir. Pirnadi, M.Sc.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

MODUL 11. PERPINDAHAN PANAS DASAR

Pemeriksaan terhadap kurva-kurva itu menunjukkan bahwa pada bilangan Reynodls sebesar 200 data eksperimental tersebut mulai menyimpang secara kentara dari garis-garis lurus yang menunjukkan data dalam daerah viskos. Pada bilangan Reynolds kurang-lebih 5000 kurva-kurva perpindahan panas bagi pipa-pipa yang bersebaris dan yang sigsag saling mendekati dan alirannya diasumsikan turbulen pada harga-harga bilangan Reynolds yang lebih tinggi. Dapat dicatat bahwa bentuk kurva untuk pipa-pipa yang bersebaris dan yang sigsag dalam daerah peralihan menunjukkan perbedaan. Bagi kurva-kurva untuk pipa=pipa yang bersebaris terdapat suatu daerah menukik (dip region) yang serupa dengan yang terlihat dalam hal aliran di dalam pipa, tetapi hal ini tidak terjadi dalam hal pipa-pipa sigsag. Diperkirakan bahwa aliran di saluran-saluran bebas di antara arusarus-ikut, lihat Gambar 9.14, pipa-pipa yang bersebaris mirip dengan aliran di dalam pipa atau di dalam saluran dan mulainya turbulensi terjadi di seluruh berkas pipa. Sebaliknya dalam aliran-lintang biasa melewati pipa-pipa sigsag, turbulensi mulai pada ujung lubang-keluar, menjalar ke hulu (upstream) secara berangsur-angsur dengan bnertambahnya aliran, dan akhirnya menyebar ke seluruh berkas pipa. Catatan umum ini hanya berlaku untuk aliran-lintang biasa dan mungkin tidak benar dalam hal susunan yang bersekat. Pengaruh baris-lintang pipa terhadap koefisien perpindahan panas telah diselidiki untuk resim laminar oleh Meece (14) dengan susunan pipa bersebaris bujur-sangkar yang mempunyai satu, dua, empat, enam, delapan, dan sepuluh baris pipa 3/8 inch dengan perbandingan jarak-bagi terhadap garis-tengah sebesar 1,25. Meece menemukan, bahwa untuk bilangan Reynolds tertentu, koefisien perpoindqahanpanas rata-rata bagi baris-tunggal pipa adalah 50 % lebih besar daripada untuk 10 baris. Bagi susunan pipa yag digunakan, berubahnya kofisien perpindahan panas terhadap N, jumlah baris pipa dalam arah aliran, dapat digeneralisasikan dengan persamaan, berikut:

11

Perpindahan Panas Ir. Pirnadi, M.Sc.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

MODUL 11. PERPINDAHAN PANAS DASAR

[9.9 hal. 481 Kreith] Bila alirannya laminar. Gambar 9.18 menunjukkan hasil-hasil untuk 10 baris pipa dan dapat dikombinasikan dengan persamaan 9.9 guna meramalkan koefisien perpindahan panas rta-rata pada bilangan Reynolds di bawah 1000 bila jumlah baris pipa kurang dari 10. Untuk lebih dari 10 baris pipa disarankan agar tidak diterapkan koreksi pada harga hcbar yang diperoleh dari Gambar 9.18. Percobaan-percobaan yang serupa dengan yang telah dibicarakan di atas juga telah dilaksanakan oleh Kays dan kawan-kawan (15, 16) dengan udara yang mengalir melewati berkas pipa dan 3/8 inch dalam berbagai susunan. Bilangan Renolds dalam percobaanpercobaan ini meliputi daerah peralihan dan daerah turbulen rendah, tetapi tidak menjangkau daerah laminar. Dalam daerah peralihan hasil-hasil yang di dapat oleh Kays dan kawan-kawan cukup sesuai dengan hasil-hasil yang ditunjukkan dalam Gambar 9.18 untuk bentuk geometri yang serupa. Ikhtisar mengenai hasil-hasil percobaanpercobaan ini disajikan dalam acuan (17). hitungan engineering, aliran melalui plat datar telah dibahas lebih dulu, di mana untuk aliran laminar berlaku persamaan: [3.18], [3.19] dan untuk aliran turbulen berlaku persamaan [3.26], [3.27], [3.28]. untuk menghitung besarnya koefisien konveksinya, sebagai berikut: [Pers. 3.18] [Pers. 3.19] [Pers. 3.26] [langsung dijelaskan saat tatap muka] [Pers. 3.27] [Pers. 3.28]
3. Aliran ekternal melalui silinder tunggal, dibandingkan dengan aliran

melalui plat datar, ada perbedaan, yaitu: BL tidak saja mengalamitransisi dari laminar ke turbulen, juga biasanya ada separasi aliran. Variasi angular dari Nu pada aliran melalui silinder, perhatikan Gambar 1. [akan dijelaskan saat kuliah] Gambar 1 Variasi Nu terhadap Azimuth yakni dalam lapisan batas, dU/dx dan U mempunyai Catatan: Referensi utama yang digunakan, antara lain: 1. Kreith, F., Black, W.Z. Basic Heat Transfert, Harper & Row Publishers NY, 1980.

11

Perpindahan Panas Ir. Pirnadi, M.Sc.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana

MODUL 11. PERPINDAHAN PANAS DASAR

2. Gebbart, B., Heat Transfert, 2 nd Ed. Tata Mc Graw Hill Pub., Co Ltd, 1971. 3. Bayazitoglu, Y., Ozisik, M., Elements of Heat Transfert Mc GrawHill Co., 1988. 4. Kreith, F.,Principles of Heat Transfer, Intex, NY, 1973. 5. Whitaker, S., Elementary Heat Transfer Analyses, Pegamon, NY., 1976. 6. Schlichting, H., Boundary Layer Theory, 7 th, Ed. MC-Graw-Hill, NY., 1979. Sampai bertemu di Modul ke-11 selanjutnya

11

10

Perpindahan Panas Ir. Pirnadi, M.Sc.

Pusat Pengembangan Bahan Ajar Universitas Mercu Buana