Anda di halaman 1dari 36

ASKEP ILEUS OBSTRUKSI

BAB II LANDASAN TEORI

A. Konsep Dasar Medis 1. Anatomi fisiologi tentang sistem pencernaan yang meliputi: a. Mulut Mulut adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas 2 bagian yaitu: 1). Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu diruang antara gusi, bibir dan pipi. 2). Rongga mulut/bagian dalam yaitu rongga mulut yang dibatasi sisinya oleh tulang maksilaris, palatum dan mandi bilaris disebelah belakang bersambung dengan faring. b. Faring Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan, merupakan persimpangan jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan didepan ruas tulang belakang. c. Esofagus (kerongkongan) Panjangnya 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak dibawah lambung. Esofagus terletak dibelakang trakea dan didepan tulang punggung setelah melalui thorak menembus diafragma masuk kedalam abdomen ke lambung. d. Gaster (lambung) Merupakan bagian dari saluran pencernaan yang dapat mengembang paling banyak terutama didaerah epigaster. Bagian-bagian lambung antara lain: 1). Fundus ventrikularis, bagian yang menonjol keatas terletak disebelah kiri osteum kardium biasanya berisi gas. 2). Korpus ventrikuli, setinggi osteum kardium, suatu lekukan pada bagian bawah notura minor. 3). Antrum pilorus, berbentuk tebing mempunyai otot tebal membentuk spinkter pilorus. 4). Kurtura minor, terletak disebelah kanan lambung, terdiri dari osteum kordi samapi pilorus. 5). Kurtura mayor, lebih panjang dari kurtura minor terbentang dari sisi kiri osteum kardium melalui fundus kontrikuli menuju kekanan sampai ke pilorus anterior. Fungsi lambung

1). Menampung makanan. 2). Getah cerna lambung yang dihasilkan pepsin, asam garam, renin dan lipak. e. Usus halus Usus halus merupakan bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada pilorus dan berakhir pada sekum panjangnya 6cm, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan obstruksi hasil pencernaan makanan. 1). Duodenum Disebut juga usus 12 jari, panjangnya 25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung kekiri, pada lengkungan ini terdapat pankreas. Pada bagian kanan duodenum terdapat selaput lendir yang nambulir disebut papila vateri. 2). Yeyunum dan ileum Panjangnya sekitar 6 meter. Dua perlima bagian atas adalah yeyunum dengan 2-3 meter dan ileum dengan panjang 4-5 meter. Lekukan yeyunum dan ileum melekat pada dinding abdomen fasterior dengan perantara lipatan peritoneum yang berbentuk kipas disebut mesentrium.

3). Mukosa usus halus Permukaan epitel yang sangat halus melalui lipatan mukosa dan makro villi memudahkan penernaan dan absorpasi. Fungsi usus besar: 1). Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran-saluran limfe. 2). Menyerap protein dalam bentuk asam amino. 3). Karbohirat diserap dalam bentuk monosakarida didalam usus halus. f. Usus besar/interdinum mayor Panjangnya 1 meter, lebar 5-6 cm, fungsinya menyerap air dari makanan, tempat tinggal bakteri koli, tempat feces. Usus besar terdiri atas 7 bagian: 1). Sekum. 2). Kolon asenden. Terletak diabdomen sebelah kanan, membujur keatas dari ileum sampai kehati, panjangnya 13 cm. 3). Appendiks (usus buntu)

Seing disebut umbai cacing dengan panjang 6 cm. 4). Kolon transversum. Membujur dari kolon asenden sampai ke kolon desenden dengan panjang 28 cm. 5). Kolon desenden. Terletak dirongga abdomen disebelah kiri membujur dari anus ke bawah dengan panjangnya 25 cm. 6). Kolon sigmoid. Terletak dalam rongga pelvis sebelah kiri yang membentuk huruf "S" ujung bawah berhubungan dengan rektum. 7). Rektum. Terletak dibawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus. 8). Anus. Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rektum dengan dunia luar. (Drs. Syaifuddin, hal 87-92).

2. Pengertian/Definisi a. Obstruksi usus adalah sumbatan total atau parsial yang mencegah aliran normal melalui saluran pencernaan. (Brunner and Suddarth, 2001). b. Obstruksi usus adalah gangguan isi usus disepanjang saluran usus (Patofisiologi vol 4, hal 403). Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa obstruksi usus adalah sumbatan total atau parsial yang menghalangi aliran normal melalui saluran pencernaan atau parsial yang menghalangi aliran normal melalui saluran pencernaan atau gangguan usus disepanjang usus.

3. Etiologi Adapun penyebab dari obstruksi usus dibagi menjadi dua bagian menurut jenis obstruksi usus, yaitu: a. Mekanis : Terjadi obstruksi intramunal atau obstruksi munal dari tekanan pada usus, contohnya adalah intrasusepsi, tumor dan neoplasma, stenosis, striktur, perlekatan, hernia dan abses. b. Fungsional : Muskulator usus tidak mampu mendorong isi sepanjang usus (Brunner and

Suddarth).

4. Patofisiologi Peristiwa patofisiologi yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa memandang apakah obstruksi usus tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau fungsional. Perbedaan utamanya adalah obstruksi paralitik, paralitik dihambat dari permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanis peristaltik mula-mula diperkuat kemudian intermiten akhirnya hilang. Limen usus yang tersumbat profesif akan terenggang oleh cairan dan gas. Akumulasi gas dan cairan didalam lumen usus sebelah proksimal dari letak obstruksi mengakibatkan distensi dan kehilangan H2O dan elektrolit dengan peningkatan distensi maka tekanan intralumen meningkat, menyebabkan penurunan tekanan vena dan kapiler arteri sehingga terjadi iskemia dinding usus dan kehilangan cairan menuju ruang peritonium akibatnya terjadi pelepasan bakteri dan toksin dari usus, bakteri yang berlangsung cepat menimbulkan peritonitis septik ketika terjadi kehilangan cairan yang akut maka kemungkinan terjadi syok hipovolemik. Keterlambatan dalam melakukan pembedahan atau jika terjadi stranggulasi akan menyebabkan kematian. (Pice and Wilson, hal 404)

Patoflowdiagram

(Price and Wilson, hal 404)

5. Manifestasi klinik a. Nyeri tekan pada abdomen. b. Muntah. c. Konstipasi (sulit BAB). d. Distensi abdomen. e. BAB darah dan lendir tapi tidak ada feces dan flatus (Kapita Selekta, 2000, hal 318).

6. Pemeriksaan diagnostik Adapun pemeriksaan diagnostik yang bisa dilakukan antara lain: a. Pemeriksaan sinar x: Untuk menunjukan kuantitas abnormal dari gas atau cairan dalam usus. b. Pemeriksaan laboratorium (misalnya pemeriksaan elektrolit dan jumlah darah lengkap) akan menunjukan gambaran dehidrasi dan kehilangan volume plasma dan kemungkinan infeksi. c. Pemeriksaan radiogram abdomen sangat penting untuk menegakkan diagnosa obstruksi usus. Obstruksi mekanis usus halus ditandai oleh udara dalam usus halus, tetapi tidak ada gas dalam usus. Bila foto fokus tidak memberi kesimpulan, dilakukan radiogram barium untuk mengetahui tempat obstruksi (Brunner and Suddarth, 2001, hal 1121).

7. Penatalaksanaan a. Pasang selang hidung untuk mengurangi muntah, mencegah aspirasi dan mengurangi distensi abdomen. b. Pasang infus untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit. c. Lakukan pembedahan. (Kapita Selekta, 2000, hal 1318)

8. Komplikasi a. Peritonitis karena absorbsi toksin dalam rongga peritonium sehinnga terjadi peradangan atau infeksi yang hebat pada intra abdomen. b. Perforasi dikarenakan obstruksi yang sudah terjadi selalu lama pada organ intra abdomen. c. Sepsis, infeksi akibat dari peritonitis, yang tidak tertangani dengan baik dan cepat.

d. Syok hipovolemik terjadi akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma. (Brunner and Suddarth, 2001, hal 1122)

B. Konsep Dasar Keperawatan 1. Pengkajian Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan upaya untuk pengumpulan data secara lengkap dan sistematis mulai dari pengumpulan data, identitas dan evaluasi status kesehatan klien. (Nursalam, 2001). Pengkajian khusus anak dengan gangguan sistem pencernaan menurut (Donna L. Wong). a. Gagal untuk tumbuh Tanda : Deselerasi pola pertumbuhan yang ada atau secara konsisten berada dibawah persentil ke-5 grafik pertumbuhan standar untuk tinggi dan berat badan disertai perlambatan perkembangan. b. Muntah dan neguritasi Tanda : 1). Transfer pasif isi lambung kedalam esofagus atau mulut. 2). Ejeksi kuat isi lambung; melibatkan proses kompleks dibawah kontrol sistem saraf pusat yang menyebabkan salirasi, pucat, berkeringat dan takikardia biasa diserta mual. c. Mual Tanda : Rasa tidak enak secara samar menyebar ketenggorokan atau abdomen dengan kecenderungan untuk muntah. d. Kontipasi Tanda : keluarnya feses keras atau padat atau defekasi yang jarang dengan gejala-gejala penyerta seperti kesulitan mengeluarkan feses, feses berbercak darah, dan ketidaknyamanan abdomen. e. Enkopnesic Tanda : Aliran yang berlebihan dari feses inkontinen yang menyebabkan kotor, sering kali karena retensi fekal atau infeksi. f. Diare Tanda : Peningkatan jumlah feses yang disertai dengan peningkatan kandungan air sebagai akibat dari perubahan transpor air dan elektrolit melalui saluran gastrointestinal, dapat bersifat akut atau kronik.

g. Hipoaktif, hiperaktif, atau tidak adanya bising usus Tanda : Bukti masalah motolitas usus yang dapat disebabkan oleh inflamasi atau obstruksi. h. Distensi abdomen Tanda : Kontur menonjol dari abdomen yang mungkin disebabkan oleh perlambatan pengosongan lambung, akumulasi gas atau feses, inflamasi atau obstruksi. i. Nyeri abdomen Tanda : Nyeri yang berhubungan dengan abdomen yang mungkin teralokasi atau menyebar, akut atau kronik, sering disebabkan oleh inflamasi obstruksi atau hemoragi. j. Perdarahan gastrointestinal Tanda : Dapat berasal dari sumber gastrointestinal bagian atas atau bawah dan dapat bersifat akut atau kronik. k. Hematemesis Tanda : Muntah darah segar atau darah yang terdenaturasi yang disebabkan oleh perdarahan disaluran gastrointestinal atas atau dari darah yang tertelan dari hidung atau orofaring. l. Hematohezin Tanda : Keluarnya darah merah lerang melalui rektum, biasanya menunjukkan perdarahan saluran gastrointestinal bawah. m. Makna Tanda : Keluarnya feses warna gelap seperti ter, karena darah yang terdenaturasi, menunjukkan perdarahan saluran gastrointestinal atas atau perdarahan dari kolon kanan. n. Ikterik Tanda : Warna kuning pada kulit atau sklera yang berhubungan dengan disfungsi hati. o. Disfagia Tanda : Kesulitan menelan yang disebabkan oleh abnormalitas fungsi neuromuskular faring atau sfringter esofagus atau oleh gangguan esofagus. p. Disfungsi menelan Tanda : gangguan menelan karena defek sistem saraf pusat atau darah struktural rongga oral, faring, atau esofagus dapat menyebabkan masalah makan atau aspirasi. q. Demam Tanda : Manifestai umum dari penyakit pada anak-anak dengan gangguan gastrointestinal, biasanya berhubungan dengan dehidrasi, infeksi atau inflamasi.

Observasi adanya manifestasi kemungkinan obstruksi paralitik/mekanis. r. Nyeri abdomen kolik Gejala : Terjadi karena peristaltik berusaha mengatasi obstruksi. s. Distensi abdomen Gejala : Terjadi karena akumulasi gas dan cairan diatas daerah obstruksi. t. Muntah Gejala : Seringkali merupakan tanda paling awal dari obstruksi tinggi: Tanda akhir dari obstruksi bawah (mungkin bilius atau fehulen) u. Dehidrasi Gejala : Terjadi karena karena kehilangan cairan dan elektrolit dalam jumlah besar kedalam usus. v. Abdomen kaku Gejala : Akibat dari peningkatan distensi. w. Bising usus Gejala : Secara bertahap berkurang dan berhenti. x. Distres pernapasan Gejala : Terjadi saat diafragma terdorong ke atas masuk ke rongga pleural. y. Syok Gejala : Volume plasma berkurang saat cairan dan elektrolit hilang dari aliran darah masuk kedalam lumen usus. z. Sepsis Gejala : Disebabkan oleh proliferasi bakteri dengan invasi kedalam sirkulasi.

2. Diagnosa keperawatan Sesudah pengumpulan data sebaiknya dilakukan analisa data dengan memperhatikan rumus PQRST (Priharjo, 1996). Setelah itu baru diangkat diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan, resiko perubahan pola hidup) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberi intervensi pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito, 2000). Diagnosa keperawatan merupakan respon klien terhadap adanya masalah kesehatan. Oleh karena itu diagnosa keperawatan berorientasi pada kebutuhan dasar manusia berdasarkan teori

kebutuhan dasar Abraham Maslow (Gaffar, 1996).

Keterangan: a. Kebutuhan fisiologis: O2, Co2, elektrolit, makanan dan seks. Contoh: Udara segar, air, cairan dan elektrolit, makanan dan seks. b. Rasa aman dan nyaman. Contoh: Terhindar dari penyakit, pencurian dan perlindungan hukum. c. Mencintai dan dicintai. Contoh: Kasih sayang, mencintai dicintai dan diterima kelompok. d. Harga diri. Contoh: Dihargai, menghargai (respek dan toleransi). e. Aktualisasi diri. Contoh: Ingin diakui, berhasil dan menonjol.

Adapun diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dengan obstruksi usus adalah sebagai berikut (Doenges, M.E. 2001): a. Gangguan rasa nyaman: Nyeri berhubungan dengan gangguan sistem pencernaan (Dx.ileus obstruksi) b. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. c. Gangguan keseimbangan cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan masukan .

d. Kurang pengetahuan dengan proses penyakit berhubungan dengan kurang informasi. Menurut Wong D.L diagnosa yang sering muncul pada klien dengan gangguan sisitem pencernaan (Dx.ileus obstruksi) adalah a. Gangguan menelan berhubungan dengan nyeri;kerusakan neuromuskular, adanya alat-alat mekanis (misalnya: ET, selang), pemberian makan non oral jangka panjang. b. Resiko tinggi kerusakan volume cairan berhubungan dengan kehilangan yang aktif melalui feses atau muntah. c. Diare berhubungan dengan kesalahan diet, sensitivitas makanan, cacinganm mikroorganisme. d. Konstipasi berhubungan dengan imobilitas, kerusakan neuromuskular, obat-obatan.

3. Perencanaan keperawatan Setelah merumuskan diagnosa keperawatan, langkah berikutnya adalah menetapkan perencanaan pulang. Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi. Beberapa komponen yang perlu diperhatikan untuk mengevaluasi tindakan keperawatan meliputi menentukan prioritas, menentukan kriteria hasil, menentukan rencana tindakan dan dokumentasi (Nursalam, 2001, hal 52) Adapun renana tindakan dari diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan obstruksi usus antara lain: a. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan gangguan sistem pencernaan (Dx.ileus obstruksi) Tujuan : menunjukkan penurunan rasa nyeri berkurang sampai hilang Kriteria hasil : 1). Nyeri berkurang sampai hilang. 2). Ekspresi wajah rileks. 3). TTV dalam batas normal. 4). Skala nyeri 3-0. Intervensi: 2). Kaji status nyeri (lokasi, lamanya intensitas skala nyeri 0-10). Rasional : Informasi memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan atau keefektifan intervensi (Doenges, M. E. 2000). 3). Pantau tanda-tanda vital.

Rasional : Untuk mengenali indikasi kemajuan atau penyimpangan hasil yang diharapkan (Doenges, M.E. 2000). 4). Berikan tindakan kenyamanan atau lingkungan yang nyaman. Rasional : Meningkatkan relaksasi (Doenges, 2000) 5). Berikan obat analgesik sesuai indikasi. Rasional : Untuk penanganan dan memudahkan istirahat adekuat dan penyembuhan (Doenges, 2000). b. Gangguan pemenuhan nutrisi kurangn dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia. Tujuan : Menunjukan berat badan stabil atau peningkatan berat badan sesuai sasaran. Kriteria hasil : 1). Tidak ada tanda-tanda mal nutrisi. 2). Berat badan stabil. 3). Pasien tidak mengalami mual muntah. Intervensi: 1). Kaji status nutrisi. Rasional : Mempengaruhi pilihan untuk intervensi (Doenges, M. E. 2000). 2). Auskultasi bising usus, palpasi abdomen, catat adanya flatus. Rasional : menentukan kembali peristaltik (Doenges, M. E. 2000).

3). Timbang berat badan setiap hari sesuai indikasi. Rasional : Membantu dan mengidentifikasi nutrisi kalori khususnya bila berat badan dan pengukuran kurang dari normal. (Doenges, M. E. 2000). 4). Anjurkan maknan kesukaan atau ketidaksukaan diet diri klien, anjurkan makanan yang tinggi protein dan vitamin. Rasional : Meningkatkan kerjasama klien dengan aturan diet. Protein atau vitamin adalah kontribusi utama untuk pemeliharaan jaringan dan perbaikan (Doenges, M.E, 2000) c. Gangguan pemenhuan cairan kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan penurunan masukan . Tujuan : pasien mempunyai cairan yang normal Kriteria hasil : 1). Anak mendapat cairan yang cukup untuk mengganti cairan yang hilang.

2). Anak menunjukkan tanda-tanda hidrasi yang adekuat. Intervensi: 1). Berikan cairan infuse sesuai indikasi Rasional : untuk mencegah dehidrasi (Wong D.L, 2003). 2). Berikan larutan rehidrasi oral sesuai indikasi Rasional : untuk mencegah dehidrasi (Wong D.L, 2003). 3). Modifikasi diet dengan tepat . Rasional : untuk menurunkan kehilangan cairan dan meningkatkan hidrasi (Wong D.L, 2003). 4). Pantau masukan, keluaran dan berat badan. Rasional : Untuk mengkaji hidrasi (Wong D.L, 2003). 5). Dorong masukan cairan dengan tepat. Rasional : Untuk meningkatkan hidrasi (Wong D.L, 2003). 6). Gunakan tehnik bermain. Rasional : Untuk mendorong masukan cairan (Wong D.L, 2003). d. Kurang pengetahuan tentang tindakan, proses penyakit dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi. Tujuan : pengetahuan keluarga klien tentang penyakit meningkat Kriteria hasil : 1). Klien dan keluarga mengetahui penyakit yang diderita 2). Klien dan keluarga berpartisipasi dalam proses belajar 3). Klien dan keluarga berpartisipasi dalam proses pengobatan Intervensi: 1). Evaluasi kemampuan dan kesiapan untuk belajar dari klien dan keluarga. Rasional : Memungkinkan untuk menyampaikan bahan yang didasarkan atas kebutuhan secara individual (Doenges, 2000). 2). Berikan informasi yang berhubungan dengan klien. Rasional : Membantu dalam menciptakan harapan yang realistis dan meningkatkan pemahaman pada keadaan saat ini dan kebutuhannya (Doenges, M. E, 2000). 3). Ajarkan informasi yang diperlukan, gunakan kata-kata yang sesuai dengan tingkat pengetahuan klien, pilih waktu yang tepat, batasi lesi penyuluhan sampai 30 menit atau kurang. Rasional : Individualisasi rencana penyuluhan meningkatkan pembelajaran (Smeltzer and Bare,

2001). 4). Evaluasi hasil pendidikan kesehatan yang diberikan. Rasional : agar klien dan keluarga dapat bertanya apa yang kurang jelas dari pembelajaran (Doenges, M. E, 2000).

4. Implementasi Pelaksanaan tindakan keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan mencapai tujuan spesifik (Nursalam, 2001). Implementasi sebaiknya dibuat sesuai dengan apa yang direncanakan oleh dan sesuai situasi klien dan peralatan rumah sakit. Dalam pelaksanaan ini, perawat berperan sebagai pelaksanaan keperawatan, memberi support, advokasi, konselor dan penghimpun data (Nursalam, 2001).

5. Evaluasi Tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil dicapai (Nursalam, 2001). Evaluasi terdiri dari 2 jenis yaitu: a. Evaluasi formatif disebut juga evaluasi proses jangka pendek atau evaluasi tindakan keperawatan dilakukan sampai tujuan tercapai. b. Evaluasi sumatif biasa disebut evaluasi hasil, evaluasi akhir dan evaluasi jangka panjang. Evaluasi ini dilakukan di akhir tindakan keperawatan dan menjadi suatu metode dalam memonitor kualitas dan efisiensi tindakan yang diberikan. Bentuk evaluasi ini lazimnya menggunakan metode SOAP (Nursalam, 2001). Tujuan evaluasi ini adalah untuk mendapatkan umpan balik dalam rencana keperawatan nilai serta meningkatkan mutu asuhan keperawatan melalui hasil perbandingan dan standar yang telah ditentukan sebelumnya. Ada 4 kemungkinan yang dapat terjadi dalam tahap evaluasi ini yaitu: Masalah teratasi

sepenuhnya; masalah teratsi; sebagian masalah belum teratasi dan masalah baru.

6. Perencanaan pulang Tujuan rencana pulang adalah untuk mengidentifikasi kebutuhan spesifik untuk mempertahankan atau mencapai fungsi maksimum setelah pulang (Carpenito, 2000). Perencanaan pulang untuk klien dengan gangguan sisitem pencernaan (Dx.Ileus obstruksi) adalah: a. Anjurkan klien dan keluarga untuk mengobservasi tanda seperti muntah, BAB darah dan lendir serta gejala seperti nyeri tekan abdomen, BAB sulit dan distensi. b. Komplikasi dapat dicegah atau dikontrol. c. Pemahaman tentang proses penyakit dan program terapi.

Askep Ileus Obstruktif


BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Obstruksi intestinal merupakan kegawatan dalam bedah abdominalis yang sering dijumpai, merupakan 60--70% dari seluruh kasus akut abdomen yang bukan appendicitis akuta. Penyebab

yang paling sering dari obstruksi ileus adalah adhesi/ streng, sedangkan diketahui bahwa operasi abdominalis dan operasi obstetri-ginekologik makin sering dilaksanakan yang terutama didukung oleh kemajuan di bidang diagnostik kelainan abdominalis. Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi usus (Sabara, 2007). Setiap tahunnya 1 dari 1000 penduduk dari segala usia didiagnosa ileus (Davidson, 2006). Di Amerika diperkirakan sekitar 300.000-400.000 menderita ileus setiap tahunnya (Jeekel, 2003). Di Indonesia tercatat ada 7.059 kasus ileus paralitik dan obstruktif tanpa hernia yang dirawat inap dan 7.024 pasien rawat jalan pada tahun 2004 menurut Bank data Departemen Kesehatan Indonesia. Ada 3 hal yang tetap menarik untuk diketahui/diselidiki tentang obstruksi ileus, ialah : 1. 2. Makin meningkatnya keterdapatan obstruksi ileus. Diagnosa obstruksi ileus sebenarnya mudah dan bersifat universil; tetapi untuk mengetahui proses patologik yang sebenarnya di dalam rongga abdomen tetap merupakan hal yang sulit. 3. Bahaya strangulasi yang amat ditakuti sering tidak disertai gambaran klinik khas yang dapat mendukungnya. Untuk dapat melaksanakan penanggulangan penderita obstruksi ileus dengan cara yang sebaik - baiknya, diperlukan konsultasi antara disiplin yang bekerja dalam satu tim dengan tujuan untuk mencapai 4 keuntungan : 1. Bila penderita harus dioperasi, maka operasi dijalankan pada saat keadaan umum penderita optimal. 2. 3. 4. Dapat mencegah strangulasi yang terlambat. Mencegah laparotomi negatif. Penderita mendapat tindakan operatif yang sesuai dengan penyebab obstruksinya Terapi ileus obstruksi biasnya melibatkan intervensi bedah. Penentuan waktu kritis serta tergantung atas jenis dan lama proses ileus obstruktif. Operasi dilakukan secepat yang layak dilakukan dengan memperhatikan keadaan keseluruhan pasien (Sabiston, 1995).

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka fokus permasalahan dalam makalah ini adalah: 1. 2. Apa yang dimaksud dengan ileus obstruksi? Bagaimana proses keperawatan pada klien dengan ileus obstruksi?

C. Tujuan
Berdasarkan rumusan permasalahan, maka makalah ini bertujuan untuk: 1. 2. Mengetahui apa yang dimaksud dengan ileus obstruksi. Memiliki intelektual dan keterampilan dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan ileus obstruksi.

BAB II PEMBAHASAN

A. Anatomi Fisiologi Sistem Pencernaan


Anatomi fisiologi tentang sistem pencernaan yang meliputi: 1. Mulut adalah permulaan saluran pencernaan yang terdiri atas 2 bagian yaitu: a. b. Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu diruang antara gusi, bibir dan pipi. Rongga mulut/bagian dalam yaitu rongga mulut yang dibatasi sisinya oleh tulang maksilaris, palatum dan mandi bilaris disebelah belakang bersambung dengan faring. 2. Faring Faring merupakan organ yang menghubungkan rongga mulut dengan kerongkongan, merupakan persimpangan jalan nafas dan jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan didepan ruas tulang belakang. 3. Esofagus (kerongkongan) Panjangnya 25 cm, mulai dari faring sampai pintu masuk kardiak dibawah lambung. Esofagus terletak dibelakang trakea dan didepan tulang punggung setelah melalui thorak menembus diafragma masuk kedalam abdomen ke lambung. 4. Gaster (lambung) Merupakan bagian dari saluran pencernaan yang dapat mengembang paling banyak terutama didaerah epigaster. Bagian-bagian lambung antara lain: a. Fundus ventrikularis, bagian yang menonjol keatas terletak disebelah kiri osteum kardium biasanya berisi gas. b. c. d. Korpus ventrikuli, setinggi osteum kardium, suatu lekukan pada bagian bawah notura minor. Antrum pilorus, berbentuk tebing mempunyai otot tebal membentuk spinkter pilorus. Kurtura minor, terletak disebelah kanan lambung, terdiri dari osteum kordi samapi pilorus. Mulut

e.

Kurtura mayor, lebih panjang dari kurtura minor terbentang dari sisi kiri osteum kardium melalui fundus kontrikuli menuju kekanan sampai ke pilorus anterior. Fungsi lambung

a. b. 5.

Menampung makanan. Getah cerna lambung yang dihasilkan pepsin, asam garam, renin dan lipak. Usus halus Usus halus merupakan bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada pilorus dan berakhir pada sekum panjangnya 6cm, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan obstruksi hasil pencernaan makanan.

a.

Duodenum Disebut juga usus 12 jari, panjangnya 25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung kekiri, pada lengkungan ini terdapat pankreas. Pada bagian kanan duodenum terdapat selaput lendir yang nambulir disebut papila vateri.

b.

Yeyunum dan ileum Panjangnya sekitar 6 meter. Dua perlima bagian atas adalah yeyunum dengan 2-3 meter dan ileum dengan panjang 4-5 meter. Lekukan yeyunum dan ileum melekat pada dinding abdomen fasterior dengan perantara lipatan peritoneum yang berbentuk kipas disebut mesentrium.

c.

Mukosa usus halus Permukaan epitel yang sangat halus melalui lipatan mukosa dan makro villi memudahkan penernaan dan absorpasi Fungsi usus halus:

a.

Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran-saluran limfe.

b. c. 6.

Menyerap protein dalam bentuk asam amino. Karbohirat diserap dalam bentuk monosakarida didalam usus halus. Usus besar/interdinum mayor Panjangnya 1 meter, lebar 5-6 cm, fungsinya menyerap air dari makanan, tempat tinggal bakteri koli, tempat feces. Usus besar terdiri atas 7 bagian:

a. b.

Sekum. Kolon asenden.

Terletak di abdomen sebelah kanan, membujur ke atas dari ileum sampai ke hati, panjangnya 13 cm. c. Appendiks (usus buntu) Sering disebut umbai cacing dengan panjang 6 cm. d. Kolon transversum. Membujur dari kolon asenden sampai ke kolon desenden dengan panjang 28 cm. e. Kolon desenden. Terletak dirongga abdomen disebelah kiri membujur dari anus ke bawah dengan panjangnya 25 cm. f. Kolon sigmoid. Terletak dalam rongga pelvis sebelah kiri yang membentuk huruf "S" ujung bawah berhubungan dengan rektum. g. Terletak dibawah kolon sigmoid yang menghubungkan intestinum mayor dengan anus. 7. Anus. Anus adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rektum dengan dunia luar. (Drs. Syaifuddin, hal 87-92). Rektum.

B. Definisi Ileus Obstruktif


Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai gangguan (apapun penyebabnya) aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi usus dapat akut dengan kronik, partial atau total. Obstruksi usus biasanya mengenai kolon sebagai akibat karsino ma dan perkembangannya lambat. Sebahagaian dasar dari obstruksi justru mengenai usus halus.Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup. Ada dua tipe obstruksi yaitu : 1. Mekanis (Ileus Obstruktif) Suatu penyebab fisik menyumbat usus dan tidak dapat diatasi oleh peristaltik. Ileus obstruktif ini dapat akut seperti pada hernia stragulata atau kronis akibat karsinoma yang melingkari. Misalnya intusepsi, tumor polipoid dan neoplasma stenosis, obstruksi batu empedu, striktura, perlengketan, hernia dan abses. 2. Neurogenik/fungsional (Ileus Paralitik)

Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf ototnom mengalami paralisis dan peristaltik usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi sepanjang usus. Contohnya amiloidosis, distropi otot, gangguan endokrin seperti diabetes mellitus, atau gangguan neurologis seperti penyakit parkinson Beberapa pengertian obstruksi usus dan ileus obstruksi menurut para ahli, yaitu: 1. Obstruksi usus adalah sumbatan total atau parsial yang mencegah aliran normal melalui saluran pencernaan. (Brunner and Suddarth, 2001). 2. Obstruksi usus adalah gangguan isi usus disepanjang saluran usus (Patofisiologi vol 4, hal 403). 3. Obstruksi usus adalah gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang traktus intestinal (Nettina, 2001). 4. Obstruksi terjadi ketika ada gangguan yang menyebabkan terhambatnya aliran isi usus ke depan tetapi peristaltiknya normal (Reeves, 2001). 5. Obstruksi usus merupakan suatu blok saluran usus yang menghambat pasase cairan, flatus dan makanan dapat secara mekanis atau fungsional (Tucker, 1998). 6. Ileus obstruktif adalah suatu penyumbatan mekanis pada usus dimana merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup atau menganggu jalannya isi usus (Sabara, 2007). Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa obstruksi usus adalah sumbatan total atau parsial yang menghalangi aliran normal melalui saluran pencernaan atau gangguan usus disepanjang usus. Sedangkan Ileus obstruktif adalah kerusakan atau hilangnya pasase isi usus yang disebabkan oleh sumbatan mekanik.

C.
yaitu: 1.

Etiologi Adapun penyebab dari obstruksi usus dibagi menjadi dua bagian menurut jenis obstruksi usus,

Mekanis : Terjadi obstruksi intramunal atau obstruksi munal dari tekanan pada usus, contohnya adalah intrasusepsi, tumor dan neoplasma, stenosis, striktur, perlekatan, hernia dan abses.

2.

Fungsional : Muskulator usus tidak mampu mendorong isi sepanjang usus (Brunner and Suddarth).

D. Patofisiologi
Peristiwa patofisiologi yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa memandang apakah obstruksi usus tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau fungsional. Perbedaan

utamanya adalah obstruksi paralitik, paralitik dihambat dari permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanis peristaltik mula-mula diperkuat kemudian intermiten akhirnya hilang. Limen usus yang tersumbat profesif akan terenggang oleh cairan dan gas. Akumulasi gas dan cairan didalam lumen usus sebelah proksimal dari letak obstruksi mengakibatkan distensi dan kehilangan H2O dan elektrolit dengan peningkatan distensi maka tekanan intralumen meningkat, menyebabkan penurunan tekanan vena dan kapiler arteri sehingga terjadi iskemia dinding usus dan kehilangan cairan menuju ruang peritonium akibatnya terjadi pelepasan bakteri dan toksin dari usus, bakteri yang berlangsung cepat menimbulkan peritonitis septik ketika terjadi kehilangan cairan yang akut maka kemungkinan terjadi syok hipovolemik. Keterlambatan dalam melakukan pembedahan atau jika terjadi stranggulasi akan menyebabkan kematian. (Pice and Wilson, hal 404)

E. Manifestasi Klinik
1. 2. 3. 4. 5. Nyeri tekan pada abdomen. Muntah. Konstipasi (sulit BAB). Distensi abdomen. BAB darah dan lendir tapi tidak ada feces dan flatus (Kapita Selekta, 2000, hal 318).

F. Pemeriksaan Diagnostik
Adapun pemeriksaan diagnostik yang bisa dilakukan antara lain: 1. 2. Pemeriksaan sinar x: Untuk menunjukan kuantitas abnormal dari gas atau cairan dalam usus. Pemeriksaan laboratorium (misalnya pemeriksaan elektrolit dan jumlah darah lengkap) akan menunjukan gambaran dehidrasi dan kehilangan volume plasma dan kemungkinan infeksi. 3. Pemeriksaan radiogram abdomen sangat penting untuk menegakkan diagnosa obstruksi usus. Obstruksi mekanis usus halus ditandai oleh udara dalam usus halus, tetapi tidak ada gas dalam usus. Bila foto fokus tidak memberi kesimpulan, dilakukan radiogram barium untuk mengetahui tempat obstruksi (Brunner and Suddarth, 2001, hal 1121).

G. Penatalaksanaan Bedah dan Medis


Dasar pengobatan obstruksi usus adalah koreksi keseimbangan cairan dan elektrolit, menghilangkan peregangan dan muntah dengan intubasi dan kompresi, memperbaiki peritonitis dan syok bila ada, serta menghilangkan obstruksi untuk memperbaiki kelangsungan dan fungsi usus kembali normal.

1.

Obstruksi Usus Halus Dekompresi pada usus melalui selang usus halus atau nasogastrik bermamfaat dalam mayoritas kasus obstruksi usus halus.Apabila usus tersumbat secara lengkap, maka strangulasi yang terjadi memerlukan tindakan pembedahan, sebelum pembedahan, terapi intra vena diperlukan untuk mengganti kehilangan cairan dan elektrolit (natrium, klorida dan kalium). Tindakan pembedahan terhadap obstruksi usus halus tergantung penyebab obstruksi. Penyebab paling umum dari obstruksi seperti hernia dan perlengketan. Tindakan pembedahannya adalah herniotomi.

2.

Obstruksi Usus Besar Apabila obstruksi relatif tinggi dalam kolon, kolonoskopi dapat dilakukan untuk membuka lilitan dan dekompresi usus. Sekostomi, pembukaan secara bedah yang dibuat pasa sekum, dapat dilakukan pada pasien yang berisiko buruk terhadap pembedahan dan sangat memerlukan pengangkatan obstruksi. Tindakan lain yang biasa dilakukan adalah reseksi bedah utntuk mengangkat lesi penyebab obstruksi. Kolostomi sementara dan permanen mungkin diperlukan.

H. Komplikasi
1. Peritonitis karena absorbsi toksin dalam rongga peritonium sehinnga terjadi peradangan atau infeksi yang hebat pada intra abdomen. 2. 3. 4. Perforasi dikarenakan obstruksi yang sudah terjadi selalu lama pada organ intra abdomen. Sepsis, infeksi akibat dari peritonitis, yang tidak tertangani dengan baik dan cepat. Syok hipovolemik terjadi akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma.

(Brunner and Suddarth, 2001, hal 1122).

BAB III KONSEP KEPERAWATAN A. Pengkajian Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan upaya untuk pengumpulan data secara lengkap dan sistematis mulai dari pengumpulan data, identitas dan evaluasi status kesehatan klien. (Nursalam, 2001). 1. 2. a. Biodata klien yang penting meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, suku dan gaya hidup. Riwayat kesehatan Keluhan utama .

Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan klien pada saat dikaji. Pada umumnya akan ditemukan klien merasakan nyeri pada abdomennya biasanya terus menerus, demam, nyeri tekan lepas, abdomen tegang dan kaku. b. Riwayat kesehatan sekarang Mengungkapkan hal-hal yang menyebabkan klien mencari pertolongan, dikaji menggunakan pendekatan PQRST : P : Apa yang menyebabkan timbulnya keluhan. Q :Bagaiman keluhan dirasakan oleh klien, apakah hilang, timbul atau terus- menerus (menetap). R : Di daerah mana gejala dirasakan S : Seberapa keparahan yang dirasakan klien dengan memakai skala numeric 1 s/d 10. T :Kapan keluhan timbul, sekaligus factor yang memperberat dan memperingan keluhan. c. Riwayat kesehatan masa lalu Perlu dikaji apakah klien pernah menderita penyakit yang sama, riwayat ketergantungan terhadap makanan/minuman, zat dan obat-obatan. d. Riwayat kesehatan keluarga Apakah ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit yang sama dengan klien. 3. a. Pemeriksan fisik Aktivitas/istirahat Gejala : Kelelahan dan ngantuk. Tanda : Kesulitan ambulasi b. Sirkulasi Gejala : Takikardia, pucat, hipotensi ( tanda syok) c. Eliminasi Gejala : Distensi abdomen, ketidakmampuan defekasi dan Flatus Tanda : Perubahan warna urine dan feces d. Makanan/cairan Gejala : anoreksia,mual/muntah dan haus terus menerus. Tanda : muntah berwarna hitam dan fekal. Membran mukosa pecah-pecah. Kulit buruk. e. Nyeri/Kenyamanan Gejala : Nyeri abdomen terasa seperti gelombang dan bersifat kolik. Tanda : Distensi abdomen dan nyeri tekan dengan

f.

Pernapasan Gejala : Peningkatan frekuensi pernafasan, Tanda : Napas pendek dan dangkal

g. 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) B.

Diagnostik Test Pemeriksaan sinar X: akan menunjukkan kuantitas abnormal dari gas dan cairan dalam usus. Pemeriksaan simtologi Hb dan PCV: meningkat akibat dehidrasi Leukosit: normal atau sedikit meningkat Ureum dan eletrolit: ureum meningkat, Na+ dan Cl- rendah Rontgen toraks: diafragma meninggi akibat distensi abdomen Rontgen abdomen dalam posisi telentang: mencari penyebab (batu empedu, volvulus, hernia) Sigmoidoskopi: menunjukkan tempat obstruktif. (Doenges, Marilynn E, 2000) Diagnosa Keperawatan Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan, resiko perubahan pola hidup) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberi intervensi pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito, 2000). Diagnosa keperawatan merupakan respon klien terhadap adanya masalah kesehatan. Oleh karena itu diagnosa keperawatan berorientasi pada kebutuhan dasar manusia berdasarkan teori kebutuhan dasar Abraham Maslow (Gaffar, 1996). Adapun diagnosa keperawatan yang sering muncul pada klien dengan ileus obstruksi adalah sebagai berikut : (Doenges, M.E. 2001 dan Wong D.L)

1. 2. 3. 4.

Nyeri b/d distensi abdomen dan adanya selang Nasogastrik tube/ usus. Kekurangan volume cairan b/d output berlebihan, mual dan muntah. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrisi. Kurang pengetahuan tentang kondisi/situasi, prognosis dan kebutuhan pengobatan b/d kurangnya pemanjanan/mengingat, kesalahan interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi, keterbatasan kognitif.

C. Rencana Intervensi Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi atau mengoreksi. Beberapa komponen yang perlu diperhatikan untuk mengevaluasi tindakan

keperawatan meliputi menentukan prioritas, menentukan kriteria hasil, menentukan rencana tindakan dan dokumentasi (Nursalam, 2001, hal 52) Adapun renana tindakan dari diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien dengan obstruksi usus antara lain: 1. Nyeri b/d distensi abdomen dan adanya selang Nasogastrik tube/ usus. Tujuan: Nyeri hilang/terkontrol, menunjukkan rileks. Kriteria hasil : a. b. c. d. Nyeri berkurang sampai hilang. Ekspresi wajah rileks. TTV dalam batas normal. Skala nyeri 3-0. Intervensi: a. Selidiki keluhan nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0-10) dan faktor

pemberat/penghilang. Rasional: Nyeri distensi abdomen, dan mual. Membiarkan pasien rentang ketidaknyamanannya sendiri membantu mengidentifikasi intervensi yang tepat dan mengevaluasi keefektifan analgesia. b. Pantau tanda-tanda vital. Rasional: Respon autonomik meliputi perubahan pada TD, nadi dan pernafasan, yang berhubungan dengan keluhan/penghilangan energi. Abnormalitas tanda vitalterus menerus memerlukan evaluasi lanjut. c. Memberikan tindakan kenyamanan. Mis: gosokan punggung, pembebatan insisi selama perubahan posisi dan latihan batuk/bernafas; lingkungan tenang. Anjurkan penggunaan bimbingan imajinasi, tehnik relaksasi. Berikan aktivitas hiburan. Rasional: Memberikan dukungan (fisik, emosional), menurunkan tegangan otot, meningkatkan relaksasi, mengfokuskan ulang perhatian, meningkatkan rasa kontrol dan kemampuan koping. d. Palpasi kandung kemih terhadap distensi bila berkemih ditunda. Tingkatkan privasi dan gunakan tindakan keperawatan untuk meningkatkan relaksasi bila bila pasien berupaya untuk berkemih. Tempatkan pada posisi semi-fowler atau berdiri sesuai kebutuhan. Rasional: Faktor psikologis dan nyeri dapat meningkatkan tegangan otot. Posisi tegak meningkatkan tekanan intra-abdomen, yang dapat membantu dalam berkemih. Kolaborasi

e.

Berikan analgesik, narkotik, sesuai indikasi. Rasional: Mengontrol/mengurangi nyeri untuk meningkatkan istirahat dan meningkatkan kerjasama dengan aturan terapeutik.

f.

Kateterisasi sesuai kebutuhan. Rasional: Kateterisasi tunggal/multifel dapat digunakan untuk mengosongkan kandung kemih sampai fungsinya kembali.

2.

Kekurangan volume cairan b/d output berlebihan, mual dan muntah. Tujuan: Volume cairan seimbang. Kriteria hasil :

a. b.

Klien mendapat cairan yang cukup untuk mengganti cairan yang hilang. Klien menunjukkan tanda-tanda hidrasi yang adekuat. Intervensi:

a.

Pantau tanda-tanda vital dengan sering, perhatikan peningkatan nadi, perubahan TD, takipnea, dan ketakutan. Periksa balutan dan luka dengan sering selama 24 jam pertama terhadap tandatanda darah merah terang atau bengkak insisi berlebihan. Rasional: Tanda-tanda awal hemoragi usus atau pembentukan hematoma, yang dapat menyebabkan syok hipovolemik.

b.

Palpasi nadi perifer, evaluasi pengisian kapiler, turgor kulit dan status membran mukosa. Rasional: Memberi informasi tentang volume sirkulasi umum dan tingkat hidrasi.

c.

Perhatikan adanya edema. Rasional: Edema dapat terjadi kerena perpindahan cairan berkenaan dengan penurunan kadar albumin serum/protein.

d.

Pantau masukan dan haluaran, perhatikan haluaran urine, berat jenis,. Kalkulasi keeimbangan 24 jam, dan timbang berat badan setiap hari. Rasional: Indikator langsung dari hidrasi/perfusi organ dan fungsi. Memberikan pedoman untuk penggantian cairan.

e.

Perhatikan adanya/ukur distensi abdomen. Rasional: Perpindahan cairan dari ruang vaskuler menurunkan volume sirkulasi dan merusak perfusi ginjal.

f.

Observasi/catat kuantitas, jumlah dan karakter drainase NGT. tes pH sesuai indikasi. Anjurkan dan bantu dengan perubahan posisi sering.

Rasional: Haluaran cairan berlebihan dapat menyebabkan ketidakseimbangan eletrolit dan alkalosis metabolik dengan kehilangan lanjut kalium oleh ginjal yang berupaya untuk mengkompensasi. Hiperasiditas, ditunjukkan oleh pH kurang dari 5, menunjukkan pasien beresiko ulkus stres. Pengubahan posisi mencegah pembentukan magenstrase di lambung, yang dapat menyalurkan cairan gastrik dan udara melalui selang NGT kedalam duodenum. Kolaborasi: g. Pertahankan potensi penghisap NGT/usus. Rasional: Meningkatkan dekompresi usus untuk menurunkan distensi/tekanan di garis jahitan dan menurunkan mual/muntah, yang dapat menyertai anastesia,manipulasi usus atau kondisi yang sebelumnya ada, mis: kanker. 3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d gangguan absorbsi nutrisi. Tujuan: Berat badan stabil dan nutrisi teratasi. Kriteria hasil : a. b. c. Tidak ada tanda-tanda mal nutrisi. Berat badan stabil. Pasien tidak mengalami mual muntah. Intervensi: a. Tinjau faktor-faktor individual yang mempengaruhi kemampuan untuk mencerna makanan, mis: status puasa, mual, ileus paralitik setelah selang dilepas. Rasional: Mempengaruhi pilihan intervensi. b. Auskultasi bising usus; palpasi abdomen; catat pasase flatus. Rasional: Menentukan kembalinya peristaltik (biasanya dalam 2-4 hari). c. Identifikasi kesukaan/ketidaksukaan diet dari pasien. Anjurkan pilihan makanan tinggi protein dan vitamin C. Rasional: Meningkatkan kerjasama pasien dengan aturan diet. Protein/vitamin C adalah kontributor utuma untuk pemeliharaan jaringan dan perbaikan. Malnutrisi adalah fator dalam menurunkan pertahanan terhadap infeksi. d. Observasi terhadap terjadinya diare; makanan bau busuk dan berminyak. Rasional: Sindrom malabsorbsi dapat terjadi setelah pembedahan usus halus, memerlukan evaluasi lanjut dan perubahan diet, mis: diet rendah serat. Kolaborasi

e.

Berikan obat-obatan sesuai indikasi: Antimetik, mis: proklorperazin (Compazine). Antasida dan inhibitor histamin, mis: simetidin (tagamet). Rasional: Mencegah muntah. Menetralkan atau menurunkan pembentukan asam untuk mencegah erosi mukosa dan kemungkinan ulserasi.

4.

Kurang pengetahuan tentang kondisi/situasi, prognosi dan kebutuhan pengobatan b/d kurangnya pemanjanan/mengingat, kesalahan interpretasi informasi, tidak mengenal sumber informasi, keterbatasan kognitif. Tujuan: Menyatakan paham terhadap proses penyakitnya. Kriteria hasil :

a. b. c.

Klien dan keluarga mengetahui penyakit yang diderita Klien dan keluarga berpartisipasi dalam proses belajar Klien dan keluarga berpartisipasi dalam proses pengobatan Intervensi:

d.

Diskusikan pentingnya masukan cairan adekuat dan kebutuhan diet. Rasional: Meningkatkan penyembuhan dan normalisasi fungsi usus.

e.

Tinjau ulang perawatan selang gastrostomi bila pasien dipulangkan dengan alat ini. Rasional: Meningkatkan kemandirian dan meningkatkan kemampuan perawatan diri.

f.

Tinjau perawatan kulit disekitar selang. Rasional: Membantu mencegah kerusakan kulit dan menurunkan resiko infeksi.

g.

Identifikasi tanda dan gejala yang memerlukan evaluasi medis, mis demam menetap, bengkak, eritema, atau terbukanya tepi luka, perubahan karakteristik drainase. Rasional: Pengenalan dini dari komplikasi dan intervensi segera dapat mencegah progresi situasi serius dan mengancam hidup.

h.

Tinjau ulang keterbatasan/pembatasan aktivitas, mis: tidak mengangkat benda berat selama 6-8 minggu dan menghindari latihan dan olahraga keras. Rasional: Menurunkan resiko pembentukan hernia.

DAFTAR PUSTAKA Doengoes, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan pasien. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran, EGC.

Muttaqin, Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan System Kardiovaskular dan Hematologi. Jakarta : Salemba Medika. Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : EGC. Setiawan, Wawan. 2010. Intervensi dan Rasional Ileus Obstruktif. (http://wawanjokamblog.blogspot.com/. Diakses tanggal 11 Januari 2011). Zwani. 2007. Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Obstruksi Usus (http://keperawatangun.blogspot.com/2007/07/obstruksi-usus.html. Diakses tanggal 11 Januari 2011). Harnawati. 2008. Obstruksi Usus. (http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/02/21/obstruksi-usus/. Diakses tanggal 11 Januari 2011). Vanilow, Barry. 2010. Askep Ileus Obstruksi . (http://barryvanilow.blogspot.com/. Diakses tanggal 11 Januari 2011).

Browse Home ASKEP Askep Ileus

18 Jan 2011

Askep Ileus

A. PENGERTIAN Ileus adalah gangguan (apapun penyebabnya) aliran normal isi usus sepanjang saluran usus. Obstruksi usus dapat akut dengan kronik, partial atau total. Obstruksi usus biasanya mengenai kolon sebagai akibat karsinoma dan perkembangannya lambat. Sebagaian dasar dari obstruksi justru mengenai usus halus.Obstruksi total usus halus merupakan keadaan gawat yang memerlukan diagnosis dini dan tindakan pembedahan darurat bila penderita ingin tetap hidup.

Ada dua tipe obstruksi yaitu : 1. Mekanis (Ileus Obstruktif) Suatu penyebab fisik menyumbat usus dan tidak dapat diatasi oleh peristaltik. Ileus obstruktif ini dapat akut seperti pada hernia stragulata atau kronis akibat karsinoma yang melingkari. Misalnya intusepsi, tumor polipoid dan neoplasma stenosis, obstruksi batu empedu, striktura, perlengketan, hernia dan abses.

2. Neurogenik/fungsional (Ileus Paralitik) Obstruksi yang terjadi karena suplai saraf ototnom mengalami paralisis dan peristaltik usus terhenti sehingga tidak mampu mendorong isi sepanjang usus. Contohnya amiloidosis, distropi otot, gangguan endokrin seperti diabetes mellitus, atau gangguan neurologis seperti penyakit parkinson.

B. ETILOLOGI 1. Perlengketan : Lengkung usus menjadi melekat pada area yang sembuh secara lambat atau pada jaringan parut setelah pembedahan abdomen. 2. Intusepsi : Salah satu bagian dari usus menyusup kedalam bagian lain yang ada dibawahnya

akibat penyempitan lumen usus. Segmen usus tertarik kedalam segmen berikutnya oleh gerakan peristaltik yang memperlakukan segmen itu seperti usus. Paling sering terjadi pada anaka-anak dimana kelenjar limfe mendorong dinding ileum kedalam dan terpijat disepanjang bagian usus tersebut (ileocaecal) lewat coecum kedalam usus besar (colon) dan bahkan sampai sejauh rectum dan anus. 3. Volvulus : Usus besar yang mempunyai mesocolon dapat terpuntir sendiri dengan demikian menimbulkan penyumbatan dengan menutupnya gelungan usus yang terjadi amat distensi. Keadaan ini dapat juga terjadi pada usus halus yang terputar pada mesentriumnya. 4. Hernia : Protrusi usus melalui area yang lemah dalam usus atau dinding dan otot abdomen. 5. Tumor : Tumor yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau tumor diluar usus menyebabkan tekanan pada dinding usus. 6. Kelainan kongenital

C. TANDA DAN GEJALA 1. Obstruksi Usus Halus Gejala awal biasanya berupa nyeri abdomen bagian tengah seperti kram yang cenderung bertambah berat sejalan dengan beratnya obstruksi dan bersifat hilang timbul. Pasien dapat mengeluarkan darah dan mukus, tetapi bukan materi fekal dan tidak terdapat flatus. Pada obstruksi komplet, gelombang peristaltik pada awalnya menjadi sangat keras dan akhirnya berbalik arah dan isi usus terdorong kedepan mulut. Apabila obstruksi terjadi pada ileum maka muntah fekal dapat terjadi. Semakin kebawah obstruksi di area gastriuntestinalyang terjadi, semakin jelas adaanya distensi abdomen. Jika berlaanjut terus dan tidak diatasi maka akan terjadi syok hipovolemia akibat dehidrasi dan kehilangan volume plasma. 2. Obstruksi Usus Besar Nyeri perut yang bersifat kolik dalam kualitas yang sama dengan obstruksi pada usus halus tetapi intensitasnya jauh lebih rendah. Muntah muncul terakhir terutama bila katup ileosekal kompeten. Pada pasien dengan obstruksi disigmoid dan rectum, konstipasi dapat menjadi gejala satusatunya selama beberapa hari. Akhirnya abdomen menjadi sangat distensi, loop dari usus besar menjadi dapat dilihat dari luar melalui dinding abdomen, dan pasien menderita kram akibat nyeri abdomen bawah.

D. PATOFISIOLOGI Peristiwa patofisiologik yang terjadi setelah obstruksi usus adalah sama, tanpa memandang apakah obtruksi tersebut diakibatkan oleh penyebab mekanik atau fungsional. Perbedaan utamanya pada obstruksi paralitik dimana peristaltik dihambat dari permulaan, sedangkan pada obstruksi mekanis peristaltik mula-mula diperkuat, kemudian intermitten, dan akhirnya hilang. Lumen usus yang tersumbat secara progresif akan teregang oleh cairan dana gas (70 % dari gas yang ditelan) akibat peningkatan tekanan intra lumen, yang menurunkan pengaliran air dan natrium dari lumen usus ke darah. Oleh karena sekitar 8 liter cairan disekresi kedalam saluran cerna setiap hari, tidak adanya absorbsi dapat mengakibatkan penimbunan intra lumen yang cepat. Muntah dan penyedotan usus setelah pengobatan dimulai merupakan sumber kehilangan utama cairan dan elektrolit. Pengaruh atas kehilangan cairan dan elektrolit adalah penciutan ruang cairan ekstra sel yang mengakibatkan hemokonsentrasi, hipovolemia, insufisiensi ginjal, syok-hipotensi, pengurangan curah jantung, penurunan perfusi jaringan, asidosis metabolik dan kematian bila tidak dikoreksi. Peregangan usus yang terus menerus menyebabkan lingkaran setan penurunan absorbsi cairan dan peningkatan sekresi cairan kedalam usus. Efek lokal peregangan usus adalah iskemia akibat distensi dan peningkatan permeabilitas akibat nekrosis, disertai absorbsi toksin-toksin/bakteri kedalam rongga peritonium dan sirkulasi sistemik. Pengaruh sistemik dari distensi yang mencolok adalah elevasi diafragma dengan akibat terbatasnya ventilasi dan berikutnya timbul atelektasis. Aliran balik vena melalui vena kava inferior juga dapat terganggu. Segera setelah terjadinya gangguan aliran balik vena yang nyata, usus menjadi sangat terbendung, dan darah mulai menyusup kedalam lumen usus. Darah yang hilang dapat mencapai kadar yang cukup berarti bila segmen usus yang terlibat cukup panjang.

G. KOMPLIKASI - Peritonitis septikemia - Syok hipovolemia - Perforasi usus

E. PROGNOSIS - Angka kematian keseluruhan untuk obstruksi usus halus kira-kira 10 %.

- Angka kematian untuk obstruksi non strangulata adalah 5-8 %, sedangkan pada obstruksi strangulata telah dilaporkan 20-75 %. - Angka mortalitas untuk obstruksi kolon kira-kira 20 %.

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Laboratorium Peningkatan kadar Haemoglobin (indikasi dari dehidrasi), leukositosis, peningkatan PCO2 / asidosis metabolik 2. Rontgen abdomen 3. Sigmoidescopy 4. Colonoscopy 5. Radiogram barium

H. DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI 1. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual, muntah, demam dan atau diforesis. Tujuan : kebutuhan cairan terpenuhi Kriteria hasil : a. Tanda vital normal b. Masukan dan keluaran seimbang Intervensi : a. Pantau tanda vital dan observasi tingkat kesadaran dan gejala syok. b. Pantau cairan parentral dengan elektrolit, antibiotik dan vitamin c. Pantau selang nasointestinal dan alat penghisap rendah dan intermitten. Ukur haluaran drainase setiap 8 jam, observasi isi terhadap warna dan konsistensi d. Posisikan pasien pada miring kanan; kemudian miring kiri untuk memudahkan pasasse ke dalam usus; jangan memplester selang ke hidung sampai selang pada posisi yang benar e. Pantau selang terhadap masuknya cairan setiap jam f. Kateter uretral indwelling dapat dipasang; laporkan haluaran kurang dari 50 ml/jam g. Ukur lingkar abdomen setiap 4 jam h. Pantau elektrolit, Hb dan Ht i. Siapkan untuk pembedahan sesuai indikasi

j. Bila pembedahan tidak dilakukan, kolaborasikan pemberian cairan per oral juga dengan mengklem selang usus selama 1 jam dan memberikanjumlah air yang telah diukur atau memberikan cairan setelah selang usus diangkat. k. Buka selang, bila dipasang, pada waktu khusus seusai pesanan, untuk memperkirakan jumlah absorpsi. l. Observsi abdomen terhadap ketidaknyamanan, distensi, nyeri atau kekauan. m. Auskultasi bising usus, 1 jam setelah makan; laporkan tak adanya bising usus. n. Cairan sebanyak 2500 ml/hari kecuali dikontraindikasikan. o. Ukur masukan dan haluaran sampai adekuat. p. Observasi feses pertama terhadap warna, konsistensi dan jumlah; hindari konstipasi

2. Nyeri berhubungan dengan distensi, kekakuan Tujuan : rasa nyeri teratasi atau terkontrol Kriteria hasil : pasien mengungkapkan penurunan ketidaknyamanan; menyatakan nyeri pada tingkat dapat ditoleransi, menunjukkan relaks. Intervensi : a. Pertahankan tirah baring pada posisi yang nyaman; jangan menyangga lutut. b. Kaji lokasi, berat dan tipe nyeri c. Kaji keefektifan dan pantau terhadap efek samping anlgesik; hindari morfin d. Berikan periode istirahat terencana. e. Kaji dan anjurkan melakukan lathan rentang gerak aktif atau pasif setiap 4 jam. f. Ubah posisi dengan sering dan berikan gosokan punggung dan perawatan kulit. g. Auskultasi bising usus; perhatikan peningkatan kekauan atau nyeri; berikan enema perlahan bila dipesankan. h. Berikan dan anjurkan tindakan alternatif penghilang nyeri.

3. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan distensi abdomen dan atau kekakuan. Tujuan : pola nafas menjadi efektif. Kriteria hasil : pasien menunjukkan kemampuan melakukan latihan pernafasan, pernafasan yang dalam dan perlahan. Intervensi :

a. Kaji status pernafasan; observasi terhadap menelan, pernafasan cepat b. Tinggikan kepala tempat tidur 40-60 derajat. c. Pantau terapi oksigen atau spirometer insentif d. Kaji dan ajarkan pasien untuk membalik dan batuk setiap 4 jam dan napas dalam setiap jam. e. Auskultasi dada terhadap bunyi nafas setiap 4 jam.

4. Ansietas berhubungan dengan krisis situasi dan perubahan status kesehatan. Tujuan : ansietas teratasi Kriteria hasil : pasien mengungkapkan pemahaman tentang penyakit saat ini dan mendemonstrasikan keterampilan kooping positif dalam menghadapi ansietas. Intervensi : a. Kaji perilaku koping baru dan anjurkan penggunaan ketrampilan yang berhasil pada waktu lalu. b. Dorong dan sediakan waktu untuk mengungkapkan ansietas dan rasa takut; berikan penenangan. c. Jelaskan prosedur dan tindakan dan beri penguatan penjelasan mengenai penyakit, tindakan dan prognosis. d. Pertahankan lingkungan yang tenang dan tanpa stres. e. Dorong dukungan keluarga dan orang terdekat.

F. PENATALAKSANAAN 1. Koreksi ketidakseimbangan cairan dan elektrolit 2. Terapi Na+, K+, komponen darah 3. Ringer laktat untuk mengoreksi kekurangan cairan interstisial 4. Dekstrosa dan air untuk memperbaiki kekurangan cairan intraseluler. 5. Dekompresi selang nasoenteral yang panjang dari proksimal usus ke area penyumbatan; selang dapat dimasukkan dengan lebih efektif dengan pasien berbaring miring ke kanan. 6. Implementasikan pengobatan unutk syok dan peritonitis. 7. Hiperalimentasi untuk mengoreksi defisiensi protein karena obstruksi kronik, ileus paralitik atau infeksi. 8. Reseksi usus dengan anastomosis dari ujung ke ujung.

9. Ostomi barrel-ganda jika anastomosis dari ujung ke ujung terlalu beresiko. 10. Kolostomi lingkaran untuk mengalihkan aliran feses dan mendekompresi usus dengan reseksi usus yang dilakukan sebagai prosedur kedua.

G. EVALUASI Hasil yang diharapkan : a. Sedikit mengalami nyeri. b. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. c. Memperoleh pemahaman dan pengetahuan tentang proses penyakitnya. d. Mendapatkan nutrisi yang optimal. e. Tidak mengalami komplikasi.

Anda mungkin juga menyukai