Anda di halaman 1dari 5

Nama : Yuanita Rahmah NPM : 240210100057 Kelompok 1B TIP 2010

VI. PEMBAHASAN Asam sianida atau HCN adalah zat yang bersifat racun. Sifat toksisitas HCN terletak pada kemampuannya untuk menghentikan proses oksidasi protoplasma dari jaringan. Asam sianida merupakan zat cair yang memiliki titik didih 26,5 oC dan titik beku -13,3 oC, tidak berwarna dan berbau tidak menyengat atau sangat lemah. Asam sianida mudah larut dalam air. Dalam keadaan murni HCN tahan lama, namun apabila terlarut dalam air pada suhu kamar maka dapat terurai sendiri menjadi ammonium formiat dan zatzat amorf yang tidak dapat larut. Pengukuran kadar HCN pada suatu bahan pangan dapat dilakukan dengan sampel yang dilihat banyak kandungan HCN seperti ketela pohon, umbi gadung, jengkol, maupun kluwek. Sampel yang digunakan pada praktikum kali ini adalah singkong dan petai. Pegujian HCN dapat dilakukan terhadap sifat kualitatif maupun kuantitatif bahan pangan yang akan diujikan kadar HCNnya. Prinsip dari penentuan kadar hidrosianida (HCN) secara kuantitatif adalah mendestilasi HCN pada sampel yang ditangkap menggunakan larutan AgNO3. Prosedur yang dilakukan untuk penentuan kadar HCN secara kuantitatif yaitu sampel dihaluskan dengan cara digerus, cara ini ditunjukkan untuk mengeluarkan HCN dari sampel tertama dari bagian glucoside amygdaline. Beracuan pada sifat HCN yang sangat mudah larut dalam air, sehingga perendaman sangat diperlukan untuk mengurangi racun HCN dan agar semua HCN dalam sampel teruapkan. Selanjutnya 50 ml AgNO3 0,1 N. Penambahan AgNO3 dengan maksud untuk menangkap HCN dengan baik dan AgNO3 termasuk basa yang digunakan untuk menghidrolisis HCN dengan reaksi yang terjadi adalah : HCN + AgNO3 AgCN + HNO3 Setelah perlakuan tersebut dilaksanankan, hal selanjutnya adalah menambahkan 1 ml HNO3 dan ditambahkan indikator sebanyak 3 tetes. Tujuan penggunaan indikator ini adalah sebagai penjelas hasil akhir titrasi agar mudah terlihat. Hasil akhir titrasi menunjukkan perubahan warna yaitu menjadi warna merah bata yang artinya telah terjadi reaksi antara indikator dengan NH4CNS pada reaksi berikut. Metode ini dinamakan metode titrasi tidak langsung karena bukan HCN yang

Nama : Yuanita Rahmah NPM : 240210100057 Kelompok 1B TIP 2010

dititrasi secara langsung namun AgNO3 sisa yang akan bereaksi dengan HCN dengan reaksi : AgNO3 + NH4CNS AgCNS + NH4NO3 Setelah didapatkan volume NH4CNS dan volume blanko dari hasil titrasi maka kadar HCN dalam sampel dengan menggunakan rumus sebagai berikut : Mg HCN = ( volume blanko volume sampel ) x N AgNO3 x BE HCN Prinsip penentuan kadar HCN secara kualitatif yaitu dimana keberadaan HCN dideteksi oleh asam pikrat jenuh dan Na2CO3 membentuk kompleks dan berwarna merah. Prosedur yang harus dilakukan yaitu sampel dihaluskan sebanyak 50 gram, kemudian ditambahkan 10 ml larutan asam tartrat 5%. Celupkan sepotong kertas saring dalam larutan asam pikrat jenuh dan keringkan. Basahi kertas saring tersebut dengan larutan Na2CO3 8% kemudian gantungkan kertas pada leher erlenmeyer berisi sampel dan ditutup rapat menggunakan kertas alumunium foil. Panaskan erlenmeyer di penangas air pada suhu 50oC selama 15 menit. Jika warna kertas asam pikrat berubah menjadi merah, berarti dalam sampel tersebut terdapat asam sianida. Tabel 1. Hasil Pengamatan Kadar HCN secara Kualitatif dan Kuantitatif Kelompok 1&6 2&7 3&8 4&9 5 & 10 Sampel Petai Petai Singkong Singkong Blanko Berat sampel 50,1175 g 30,3879 g 50,1384 g 50,0625 g Volume titrasi 18,15 ml 24,5 ml 27 ml % HCN 0,095% 0,027% Keterangan Positif (+) Positif (+) -

(dokumentasi pribadi, 2012)

Berdasarkan hasil pengamatan didapatkan persentase kadar HCN dalam sampel singkong adalah 0,027%. Hasil ini lebih kecil dibandingkan kadar HCN dalam sampel petai yaitu sebesar 0,095%. Pengujian kadar HCN secara kualitatif untuk kedua sampel yaitu petai dan singkong keduanya dinyatakan positif mengandung senyawa sianida. HCN yang bersifat toksik terdapat dalam singkong ataupun petai dapat saja dikurangi kadarnya atau bahkan dihilangkan dengan berbagai macam perlakuan, seperti proses penjemuran pada sinar matahari dapat menguraikan

Nama : Yuanita Rahmah NPM : 240210100057 Kelompok 1B TIP 2010

HCN 80%. Pengupasan kulit perlu dilakukan karena justru dalam kulit ini terdapat HCN dengan konsentrasi mencapai 15 kali lebih besar dari konsentrasi HCN di dalam daging umbinya.

Nama : Yuanita Rahmah NPM : 240210100057 Kelompok 1B TIP 2010

VII. KESIMPULAN Pengujian kadar HCN dalam sampel menggunakan metode destilasi uap dan titrasi tidak langsung yang menggunakan sisa AgNO3 berlebih yang akan bereaksi dengan HCN HCN mudah larut dalam air pada suhu kamar sehingga digunakan destilasi uap air. HCN dalam sampel apabila masuk ke dalam tubuh bersifat toksik Kadar HCN secara kuantitatif didapatkan singkong yaitu sebesar 0,027% dan kadar HCN dalam petai adalah 0,095%. Kadar HCN dilakukan secara kualitatif bahwa sampel singkong dan petai mengandung asam sianida.

Nama : Yuanita Rahmah NPM : 240210100057 Kelompok 1B TIP 2010

DAFTAR PUSTAKA Apriantono, A. dan D. Fardiaz 1989. Analisa Pangan. Bogor : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Dirjen Pendidikan Tinggi PAU Pangan dan Gizi IPB. Rahmat Rukmana, Ir. 1997. Ubi Kayu, Budi Daya dan Pasca panen. Kanisius, Yogyakarta. Sudarmaji,S. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. PAU Pangan dan Gizi UGM, Yogyakarta. Winarno, F.G. 1997. Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Gramedia.

Anda mungkin juga menyukai